Đang tải thông tin quảng bá...
Dulu Kau Permainkan Aku, Kini Aku Istri Sultan
Kiana Liman dan Yovan Sumargo telah menikah selama tiga tahun, tetapi saat merencanakan ulang tahun pernikahan mereka yang ketiga, Kiana baru menyadari bahwa akta nikah yang dimilikinya palsu... Nyony...
Chương (1)
第1章
Kiana Liman dan Yovan Sumargo telah menikah selama tiga tahun, tetapi saat merencanakan ulang tahun pernikahan mereka yang ketiga, Kiana baru menyadari bahwa akta nikah yang dimilikinya palsu...
Nyonya Sumargo yang asli ternyata adalah sahabatnya sendiri!
Sudah tiga tahun. Mereka dan semua anggota Keluarga Sumargo memperlakukannya seperti orang bodoh serta menipunya selama tiga tahun.
Penyebabnya karena rahim Kiana cedera akibat kecelakaan mobil dan tidak bisa memiliki anak.
Namun, alasan dia bisa terluka parah juga karena dia menyelamatkan Yovan!
Yovan: "Aku mencintaimu. Aku hanya menginginkan seorang anak!"
Rachel: "Aku nggak ingin menghancurkan hubungan kalian. Aku hanya ingin bergabung dengan kalian!"
Kiana: "Otak kalian bermasalah ya?"
…
Lantaran mereka menganggap ini menarik, Kiana akan bermain-main dengan mereka.
Merebut proyek dari tangannya?
Nggak masalah! Kiana langsung menikah dengan tuan muda dari keluarga kaya dan berubah menjadi pihak A dalam proyek tersebut.
Tidak memberinya acara penikahan?
Keluarga kaya memberikan ratusan triliun sebagai mas kawin dan acara pernikahannya menggemparkan seluruh kota.
Keberatan karena Kiana tidak bisa punya anak?
Kiana melahirkan anak kembar dan menertawakan kecemburuan mereka.
…
Berita pernikahan tuan muda dari keluarga kaya menyebar seperti api, tetapi semua orang merasa kasihan terhadap istrinya.
Semua orang di lingkaran tahu kalau tuan muda memiliki cinta sejati. Meski cinta sejatinya sudah menikah, dia masih tidak bisa melupakan wanita itu.
Konon di hari pernikahan cinta sejatinya, tuan muda begitu patah hati hingga mencoba bunuh diri.
Bahkan, ada orang yang melihat tuan muda menonton film yang dibintangi cinta sejatinya berulang kali, sambil menangis tak terkendali.
Setelah Kiana melahirkan anak dan berpikir sudah waktunya untuk menyatukan tuan muda dengan cinta sejatinya, tuan muda justru memeluknya dan mengatakan dia difitnah.
"Siapa yang menyebarkan rumor tentangku?! Sayang, kamu harus percaya padaku!"
Bab 1
"Nona Kiana, buku nikah Anda palsu."
Kiana Liman memperhatikan resepsionis mengembalikan buku nikahnya. Meski sikap resepsionis masih hormat, raut wajahnya sudah menunjukkan sarkasme.
Kiana menerimanya sambil tersenyum. "Untuk apa aku bawa buku nikah palsu untuk menipu kalian?"
"Mungkin karena promosi diskon untuk pasangan menikah yang diadakan oleh restoran kami?" kata resepsionis sambil cemberut.
Kiana terdiam. Dia sama sekali tidak tahu promosi apa yang dimaksud resepsionis itu. Alasan dia memilih merayakan ulang tahun ketiga pernikahannya dengan Yovan Sumargo di restoran ini semata-mata karena dia menyukai restoran konsep taman mereka.
"Kamu juga nggak boleh asal menyebut buku nikahku ini palsu, 'kan? Aku bisa menggugatmu." Sikap Kiana berubah sedikit dingin.
Saat mendengar perkataan itu, resepsionis merasa seakan mendengar lelucon. Dia hanya menggelengkan kepalanya dengan tidak berdaya.
Melihat sikap resepsionis itu, Kiana mengerutkan kening. "Kenapa kamu begitu yakin?"
Resepsionis menundukkan kepalanya sambil memainkan jari-jarinya di papan ketik, lalu mengarahkan layar komputer ke Kiana.
"Saat saya memasukkan nomor identitas suami Anda tadi, sistem sudah memiliki informasi identitas suami Anda."
"Jadi?"
"Dia juga buat reservasi untuk promosi ulang tahun pernikahan di restoran kami."
Mendengar itu, Kiana agak terkejut. "Dia juga buat reservasi?"
Resepsionis menatap Kiana seolah-olah dia orang bodoh. "Tuan Yovan memang sudah buat reservasi, tapi nggak ada hubungannya dengan Anda."
"Maksudnya?"
"Itu berarti istri Tuan Yovan adalah orang lain, bukan Anda."
Kiana terdiam sekaligus merasa geli. Dia membungkuk untuk memeriksa lagi, tetapi dia hanya melihat nama yang tertera di kolom Nyonya Sumargo adalah Rachel Winata.
Sahabat terbaiknya, Rachel?
Apa yang terjadi sebenarnya?!
"Selain itu, Tuan Yovan dan istrinya sedang merayakan ulang tahun pernikahan ketiga mereka di bagian atap restoran kami saat ini…"
Sebelum resepsionis selesai berbicara, Kiana sudah berlari ke atas.
Suaminya dan sahabat terbaiknya sedang merayakan ulang tahun pernikahan ketiga mereka?
Pasti ada kesalahpahaman di sini! Pasti!
Namun, begitu sampai di bagian atap dan melihat dua orang saling berpelukan, Kiana langsung terpaku.
Pria jangkung itu mengenakan setelan jas dan dasi kupu-kupu. Dia tampak tenang dan tampan. Sementara, si wanita mengenakan gaun malam merah. Dia juga tampak cantik dan menawan. Mereka saling memandang dengan penuh kasih sayang.
Ada layar besar di bagian belakang. Saat musik diputar, beberapa kata muncul di layar: [Kotak Musik Waktu.]
Diikuti dengan foto-foto yang mulai diputar. Foto pertama diambil dari sudut candid. Rachel sedang mengangkat ponselnya. Dia tampak malu-malu berdiri di bingkai yang sama dengan Yovan di kejauhan.
Lalu, keduanya saling mengenal dan foto bersama, tetapi masih tampak canggung.
Kemudian, mereka punya kesempatan untuk makan malam bersama. Keduanya sangat gembira.
Selain itu, di mobil Yovan, Rachel duduk di kursi di mana Kiana selalu menganggapnya sebagai tempat duduk khusus miliknya.
Kemudian, keduanya melakukan perjalanan bisnis dan jalan-jalan bersama. Keduanya bahkan pulang ke kampung halaman Rachel.
Sebagai istri Yovan dan sahabatnya Rachel, Kiana sama sekali tidak tahu semua hal ini.
Keduanya berciuman di bawah matahari terbenam. Keduanya saling tersenyum di tempat tidur. Bahkan, ada foto yang diambil setelah bercinta, di mana Rachel berbaring di pelukan Yovan dengan wajah kacau. Keduanya tidak mengenakan sehelai pakaian pun...
Sampai foto terakhir, di mana Yovan memasangkan cincin berlian di tangan Rachel.
Bersamaan dengan adegan itu, Yovan juga mengambil sebuket besar bunga mawar di atas meja dan berlutut di hadapan wanita itu.
"Nyonya Sumargo, kamu sangat cantik malam ini!"
Rachel menerima bunga mawar itu. Setelah Yovan berdiri, dia melemparkan dirinya ke dalam pelukan pria itu, lalu mendongakkan kepalanya dan mencium dagu pria itu.
Yovan membelai kepalanya dengan lembut. Matanya penuh cinta.
Kiana memperhatikan mereka berdua dengan saksama. Mungkin hanya mirip, mungkin juga bukan, tetapi...
Dia tidak buta!
Dua orang yang tidak jauh darinya adalah Yovan dan Rachel. Yang satu adalah suami tercintanya dan yang satunya lagi adalah sahabat yang paling dipercayainya!
Kiana memaksa dirinya untuk tenang, lalu pergi ke koridor untuk menelepon.
Tak lama kemudian, orang itu meneleponnya kembali.
"Nona Kiana, sudah diselidiki. Tuan Yovan memang menikah pada tanggal 6 Juni tiga tahun yang lalu."
Tanggal 6 Juni?
Namun, dia dan Yovan mendaftarkan penikahan mereka pada tanggal 16 Juni.
"Siapa nama pasangannya?"
"Rachel Winata."
Tenggorokan Kiana tercekat. "Kamu… salah lihat nggak?"
"Nggak mungkin salah."
Hati Kiana hancur.
Jadi, suaminya bukanlah suaminya, melainkan suami dari sahabat 'terbaiknya'…
Suara biola tiba-tiba terdengar. Kiana melihat ke luar dengan lesu.
Langit berbintang, bunga-bunga, dan alunan biola berpadu indah. Yovan menggenggam tangan Rachel. Keduanya menari anggun mengikuti alunan musik romantis.
Foto lain muncul lagi di layar besar. Foto itu diambil di kapal pesiar.
Kiana juga punya foto ini. Hanya saja, awalnya itu foto mereka bertiga, tetapi sekarang dirinya di dalam foto itu sudah dipotong.
Lucu sekali. Apalagi, Kiana sendiri yang mengatur acara jalan-jalan itu…
Astaga!
Kemarahan hampir menelan Kiana. Dia mengepalkan tangannya erat dan maju ke depan dengan langkah besar.
Dia ingin membongkar mereka dan ingin mereka menjelaskan padanya. Mengapa mereka tega memperlakukannya seperti ini?
Tepat di saat ini, Rachel tiba-tiba mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan melambaikannya di depan Yovan.
Mata Yovan melebar. Pria itu buru-buru mengambilnya dan melihatnya dengan saksama, lalu memperlihatkan ekspresi gembira.
Langkah Kiana terhenti. Tangan Rachel sedang memegang alat tes kehamilan. Kiana telah menggunakannya beberapa kali, tetapi hasilnya selalu kecewa.
"Aku sudah mau jadi ayah! Aku sudah mau jadi ayah!"
Yovan yang biasanya selalu bersikap tenang dan teguh, kini berteriak kegirangan. Pria itu seakan berharap membagikan kabar baik ini ke seluruh dunia.
Sebaliknya, Kiana sepertinya sudah tahu alasannya…
Dua jam kemudian, Kiana naik mobil untuk mengikuti Yovan dan Rachel kembali kediaman Keluarga Sumargo.
Begitu Rachel keluar dari mobil, ibunya Yovan bergegas keluar untuk menyambutnya.
"Rachel, menantuku sayang. Yovan barusan meneleponku dan bilang kamu hamil. Astaga, ini kabar gembira! Dulu aku nggak mengizinkan Yovan menikah dengan Kiana karena dia mengalami kecelakaan mobil dan rahimnya terluka. Jadi, dia nggak bisa punya anak!"
Rachel memegang tangan ibunya Yovan sambil berkata, "Aku nggak merasa dirugikan, kok."
"Anak baik, inilah yang paling Ibu suka darimu. Kamu sangat bijaksana."
Kiana menatap ibu mertuanya yang selalu bersikap dingin padanya. Ibu mertuanya kini memegang tangan Rachel dengan tatapan penuh kasih sayang dan memanggilnya 'menantu sayang' serta membawanya masuk ke kediaman Keluarga Sumargo.
Benar saja. Lantaran rahim Kiana terluka dan sulit baginya untuk hamil, jadi Keluarga Sumargo tidak menyukainya.
Namun, dia bisa terluka parah sepenuhnya karena menyelamatkan Yovan!
Keluarga Sumargo tidak ingin disebut sebagai orang yang tidak tahu berterima kasih, jadi mereka memberinya buku nikah palsu…
Tiga tahun. Mereka memperlakukannya seperti orang bodoh selama tiga tahun!
Tepat di saat itu, ponsel Kiana berdering. Dari orang yang dia anggap gila selama ini.
Kiana menarik napas dalam-dalam dan bertanya, "Apa kamu sudah lama tahu kalau pernikahanku dengan Yovan adalah palsu?"
Keluarga Januar adalah keluarga kaya paling bergengsi di Kota Yasel. Orang yang meneleponnya adalah kepala Keluarga Januar.
Berkat kerja sama dengan Grup Thevas, Kiana mendapat kehormatan bertemu dengan Pak Ishan Januar.
Kiana tidak tahu Pak Ishan menemuinya bukan untuk bekerja sama, tetapi karena ingin Kiana menikah dengan putranya.
"Asalkan Nona Kiana bersedia menikahi putraku dan melahirkan seorang cucu laki-laki atau cucu perempuan untuk Keluarga Januar, semua aset Keluarga Januar akan jadi milikmu kelak!"
Saat pertama kali mendengar hal itu, Kiana mengira Pak Ishan sudah pikun.
Bagaimana wanita yang sudah menikah seperti Kiana menikahi putra Pak Ishan? Bukankah ini konyol?
Namun setelah dipikir-pikir sekarang, sepertinya sebelum muncul ide seperti ini, Pak Ishan sudah menyelidikinya. Beliau tahu Kiana sudah ditipu.
"Nona Kiana, maaf karena kenyataan ini sudah menyakitimu. Tapi kalau harus memilih penipuan yang jahat atau kebenaran yang kejam, aku rasa kamu pasti akan memilih yang terakhir."
"Kamu sudah menyelidikiku, jadi seharusnya kamu tahu kalau aku pernah mengalami kecelakaan mobil dan sulit untuk hamil."
"Aku kenal seorang dokter pengobatan tradisional. Dia pernah memeriksa denyut nadimu dan bilang dia bisa membuatmu hamil. Aku percaya padanya."
Kiana tidak tahu siapa dokter pengobatan tradisional yang dibicarakan Pak Ishan atau kapan dokter itu memeriksa denyut nadinya, tetapi setelah kejadian ini, dia tidak lagi meragukan kemampuan Pak Ishan.
Kiana melirik kediaman Keluarga Sumargo lagi. Rumah itu terang benderang. Dulunya itu adalah rumahnya.
Namun, sekarang…
"Baik. Aku akan menikah dengan putramu!"
"Baguslah!"
"Tapi aku ingin acara pernikahan yang besar dan mewah, juga harus cepat!"
"Tentu saja. Acara pernikahan Keluarga Januar tentu harus membuat heboh seluruh kota!"
Pernikahan butuh waktu persiapan. Jadi, dijadwalkan sebulan kemudian.
Bab 2
Dalam sebulan ini, Kiana bisa bermain-main dengan anggota Keluarga Sumargo.
Kiana menyimpan ponselnya, lalu melangkah menuju kediaman Keluarga Sumargo.
Dia membunyikan bel pintu. Tak lama kemudian, pelayan, Bi Ida Marsya, datang membukakan pintu. Dia terkejut saat tahu siapa yang kembali.
"Kiana, bukankah kamu sedang perjalanan bisnis? Kenapa tiba-tiba kembali?"
Kiana tidak menggubrisnya. Dia berjalan mengitari Bi Ida dan masuk ke dalam.
Lantaran tidak bisa menghentikannya, Bi Ida langsung berteriak, "Nyonya, Nyonya! Nona Kiana sudah kembali dari perjalanan bisnis!"
Ketika Kiana berjalan sampai di tangga, ibunya Yovan bergegas keluar dari dapur sambil membawa semangkuk sup ayam untuk menghentikannya.
"Kenapa kamu…"
"Yovan ada di atas, 'kan?"
"Nggak, dia nggak di rumah…"
"Aku cari dia di atas."
Tanpa mendengarkan apa yang dikatakan ibunya Yovan, Kiana langsung naik ke atas.
"Kiana, Kiana, jangan naik ke atas." Ibunya Yovan bergegas menyusul dari belakang.
Kiana naik ke atas dan langsung menuju kamar mereka. Dia ingin tahu bagaimana keduanya akan menjelaskan begitu kepergok berada di kamar yang sama.
Kiana mendorong pintu hingga terbuka. Dia melihat Yovan yang baru saja keluar dari ruang ganti.
Melihat Kiana masuk, jelas ada kepanikan yang muncul di matanya. Pria itu refleks mundur selangkah, seakan mencoba menutupi sesuatu.
"Kiana, kamu…"
"Kenapa aku tiba-tiba pulang dari perjalanan bisnis? Betul, nggak?" Kiana berjalan mendekati Yovan sambil mengerutkan keningnya. "Kenapa kalian semua menanyakan hal yang sama padaku? Apa aku seharusnya nggak pulang?"
Yovan mengerutkan bibirnya dan berkata, "Seharusnya kamu meneleponku dulu."
Kiana tersenyum dan berkata, "Aku ingin memberimu kejutan."
Yovan terpaku.
"Tapi mengapa kamu terkejut dan nggak senang?"
Yovan menghela napas. "Mana mungkin? Aku sangat merindukanmu."
Selesai berbicara, Yovan ingin maju dan memeluknya.
Kiana langsung menghindar dan berjalan menuju ruang ganti.
"Kiana!"
Suara Yovan berubah karena panik. Pria itu mencoba menahannya.
Namun, Kiana sudah masuk. Meski tidak ada seorang pun di sana, dia bisa melihat ada ujung rok tersangkut di pintu lemari.
Rachel bersembunyi di dalam lemari!
Huh. Demi membohonginya, Rachel bahkan beradaptasi dalam berbagai situasi.
Kiana memang sudah dibutakan selama tiga tahun, tetapi sekarang dia sudah melihat semuanya dengan jelas.
Dia melangkah menuju lemari. Tangannya mencengkeram gagang pintu dengan erat.
"Kiana!" Yovan buru-buru meraih tangan Kiana. "Aku dengar dari Rachel, kamu sedang mempersiapkan ulang tahun pernikahan kita?"
Saat mendengar itu, Kiana menoleh.
Yovan dan Rachel bahkan membicarakan masalah ini.
Keduanya pasti sangat bangga karena berhasil mempermainkan ketulusannya dan menipunya.
Namun sekarang, Yovan benar-benar panik.
Pria itu menatap tangan Kiana yang mencengkeram gagang pintu lemari. Napasnya menjadi cepat dan ada lapisan tipis keringat muncul di dahinya.
Dia takut Kiana tahu. Keluarga Sumargo juga takut.
Kiana sengaja memegang gagang pintu dan berpura-pura ingin membuka pintu lemari. Hal itu membuat Yovan makin panik.
Ternyata, melihat reaksi orang yang tertipu sangatlah menarik.
Kiana pun melepaskan gagang pintu dan berpura-pura marah. "Ini rahasia. Kenapa dia malah memberitahumu?"
"Dia keceplosan, tapi aku nggak begitu suka Restoran Baroya."
Tentu saja Yovan tidak suka. Lantaran jika mereka pergi ke Restoran Baroya lagi, Kiana akan tahu bahwa buku nikah mereka palsu!
"Kalau begitu, ganti restoran lain saja. Tapi ini kejutan, jadi nggak boleh tanya-tanya lagi."
"Oke." Yovan menghela napas lega.
"Oh ya, mana baju luaranku yang warna cokelat muda? Aku ingat aku membawanya dalam perjalanan bisnis kali ini, tapi kenapa nggak ada di dalam koperku? Aku jadi penasaran. Apa aku meninggalkannya di rumah?"
Sembari berbicara, Kiana berpura-pura ingin membuka lemari lagi.
"Yang mana?" Yovan terkejut lagi dan buru-buru menariknya.
"Itu yang dibelikan Ibu. Aku sangat menyukainya. Jangan sampai hilang."
"Nggak ada di lemari. Mungkin di kantorku."
"Benarkah?"
"Iya, aku pernah lihat."
Yovan menarik Kiana keluar dari ruang ganti. Kebetulan berpapasan dengan ibunya yang bergegas masuk ke kamar.
"Kamu, kamu…"
"Bu, Kiana lagi cari baju luaran cokelat muda yang Ibu belikan untuknya. Ibu ada lihat nggak?"
Ibunya Yovan mengerjap beberapa kali. Setelah itu, dia baru menyadari apa yang terjadi. "Oh, cari baju ya? Baju luaran itu?"
"Ibu ada lihat nggak?" tanya Kiana dengan tenang.
"Nggak, nggak lihat. Bukankah hanya sepotong pakaian? Ibu akan belikan untukmu nanti."
Kiana tersenyum. "Ibu sangat baik padaku."
Wajah ibunya Yovan agak kaku. Untuk sesaat, dia tidak tahu harus mengatakan apa.
"Ini sup ayam yang Ibu masak untukku, 'kan? Terima kasih, Bu!"
Kiana berjalan maju sambil tersenyum, lalu merebut semangkuk sup ayam dari ibu mertuanya.
"Ini, ini…"
"Sup ayam ini bukan untukku?"
Ibunya Yovan membuka mulutnya beberapa kali. Terakhir, dia hanya bisa mengangguk datar.
Kiana mulai meneguk sup itu di depan mereka. Dia sesekali memuji keterampilan memasak ibu mertuanya. "Sup buatan Ibu enak sekali."
Selesai minum sup, Kiana tidak langsung pergi. Dia bilang dia lelah, lalu mengusir Yovan keluar kamar dan berbaring di atas kasur.
Kiana melirik ke lemari pakaian. Meringkuk di lemari sempit seperti itu pasti membuat Rachel tidak mampu meregangkan kakinya dan merasa pengap. Sahabatnya pasti sangat tersiksa.
Memikirkan hal ini, Kiana tidak kuasa menahan tawa.
Menarik sekali.
Dalam sebulan ini, Kiana berencana mengolok-olok dengan mereka.
Saat ayahnya Yovan pulang di malam hari, Kiana baru turun untuk makan malam bersama Keluarga Sumargo.
Grup Thevas didirikan oleh ayahnya Yovan. Dia telah bekerja keras untuk seluruh perusahaan selama bertahun-tahun. Usianya belum 60 tahun, tetapi rambutnya sudah memutih.
Kiana selalu menghormati ayah mertuanya. Pria itu bukan hanya seorang pengusaha yang cerdik, tetapi juga seorang tetua yang jujur dan murah hati.
Namun, ayah mertuanya jelas juga tahu tentang Yovan dan Rachel.
"Bagaimana perkembangan proyek pusat perbelanjaan Grup Januar?" tanya ayahnya Jovan sambil menatap Kiana.
Perjalanan bisnis Kiana kali ini adalah untuk membahas proyek tersebut. Itu juga sebuah kolaborasi yang krusial bagi Grup Thevas.
Melalui proyek inilah, Kiana bertemu dengan Pak Ishan, yang kemudian memicu berbagai kejadian berikutnya.
"Sudah hampir selesai. Langkah selanjutnya adalah membahas detail kerja sama dan kemudian menandatangani kontrak," jawab Kiana dengan nada datar.
Mendengar itu, ayah mertuanya mengangguk puas.
Namun, dia kemudian teringat sesuatu. Setelah terdiam sejenak, dia pun berkata, "Kamu sudah berusaha keras dalam proyek ini. Perusahaan akan memberimu bonus. Besok pergilah ke kantor untuk serah terima pekerjaan dan biarlah orang lain yang menangani proyek ini. Aku punya rencana lain untukmu."
Kiana mengerutkan keningnya.
Dia telah mempersiapkan proyek tersebut selama setengah tahun. Sekarang begitu tiba saat menuai hasil, dia diminta untuk menyerahkan tugas ini kepada orang lain?
"Serah terima sama siapa?" tanya Kiana.
"Rachel. Dia juga berkontribusi dalam proyek ini. Apalagi, dia juga teman baikmu. Seharusnya kamu nggak keberatan, 'kan?"
Kiana diam-diam tersenyum sinis.
Benar saja, hanya menantu sah yang dianggap sebagai keluarga. Wajar saja, mereka khawatir proyek sepenting itu dipegang olehnya.
Hanya saja, yang tidak mereka ketahui adalah seluruh Grup Januar akan segera menjadi milik Kiana.
Dia bisa memutuskan proyek ini berhasil atau tidak!
Bab 3
"Aku keberatan." Kiana mengangkat alisnya dan tersenyum.
Wajah ayahnya Yovan menjadi gelap. Dia tidak menyangka Kiana akan menolaknya secara langsung.
"Kiana, Ayah pasti punya alasan sendiri. Ikuti kata Ayah saja," bisik Yovan pada Kiana.
"Alasan apa?"
Yovan tercengang.
Kiana dulunya sangat menuruti perkataan Yovan dan tidak akan balik bertanya seperti sekarang ini.
"Bukannya kamu capek? Bagaimana kalau besok bahas di kantor…"
"Aku memang kecapekan. Lantaran aku harus berurusan dengan Grup Januar, menegoisasikan kerja sama, dan bergegas pulang untuk memberimu kejutan."
"Kalau begitu…"
"Tapi aku masih ingin tahu alasan Ayah melakukan hal ini."
Kiana tetap tersenyum. Nadanya masih lembut, tetapi dia tidak mundur.
"Hmph!" Ayah Yovan mendengus.
Kiana menatapnya dan berkata, "Ayah, aku sudah mempersiapkan proyek ini selama hampir enam bulan. Dalam sebulan, aku menghabiskan setengah waktuku untuk perjalanan bisnis, lembur sampai dini hari, bahkan tidur di kantor sudah jadi hal biasa. Sekarang proyek ini sudah hampir selesai. Kenapa Ayah ingin menggantikanku? Sudah seharusnya aku minta penjelasan, 'kan?"
"Kamu harus punya perspektif yang luas!"
"Perspektif luas seperti apa?"
"Kamu menantu Keluarga Sumargo. Cepat atau lambat, aset Keluarga Sumargo akan menjadi milikmu dan Yovan. Proyek seperti itu bukanlah apa-apa. Aku melakukan semua ini juga demi kebaikanmu."
Kiana tertawa.
Bisa-bisanya CEO Grup Thevas berbohong tanpa merasa bersalah sedikit pun.
"Kamu masih berani tertawa!" Ibunya Jovan sudah menahan emosinya dari tadi. Namun, dia tidak bisa bersabar lagi sekarang. "Kalau bukan karena kamu menantu kami, ayahmu juga nggak perlu bernegosiasi denganmu! Dia bisa mengusirmu kapan saja. Emangnya kamu berani mengundurkan diri?"
"Bu!" Yovan memanggil ibunya dengan suara rendah tapi penuh amarah.
"Aku sudah lama bersabar padanya!" Ibunya Yovan menggebrak meja. "Menantu siapa yang tiap hari nggak di rumah? Bukan hanya nggak tahu cara melayani mertuanya, bahkan nggak bisa mengurus suaminya sendiri? Apa gunanya Keluarga Sumargo punya menantu seperti itu?"
"Aku nggak berguna?" Kiana mendengus dingin. "Tahun lalu, aku mendapatkan dua proyek untuk perusahaan dan menghasilkan laba bersih 200 miliar, 'kan?"
"Kamu kira perusahaan akan bangkrut tanpa proyek darimu?" Ibunya Jovan menunjuk hidung Kiana. "Kamu bisa mendapatkan proyek itu berkat bantuan ayah mertuamu dan juga Yovan. Terakhir, kamu malah mengambil begitu banyak bonus! Kamu sudah banyak mendapat keuntungan. Jangan nggak tahu berterima kasih!"
"Cukup!" teriak ayahnya Jovan dengan marah. "Apa satu keluarga perlu perhitungan sampai begitu jelas?"
"Ayah, Ibu, jangan marah. Aku akan membujuk Kiana nanti…"
"Nggak perlu membujukku!" Kiana menyela Yovan, "Aku akan mundur!"
Mendengar itu, Yovan menghela napas lega, lalu tersenyum dan memeluk Kiana. "Kiana, aku tahu kamu paling bijaksana."
Kiana melepaskan diri dari Jovan dan mencibir. "Aku paling bijaksana, jadi aku juga yang paling mudah ditipu."
Jovan mengerutkan kening. "Kiana, apa maksudmu?"
"Aku bilang kamu menipuku."
"Kapan aku menipumu?"
Kiana sengaja cemberut dan pura-pura marah. "Waktu kita pergi daftar nikah, kamu bilang mau kasih aku acara pernikahan yang megah, tapi kita sudah menikah tiga tahun dan kamu masih belum menepati janjimu!"
"Kamu mau acara pernikahan?"
"Permintaan ini nggak keterlaluan, 'kan?"
"Tentu saja keterlaluan!" Ibunya Jovan menyela lagi, "Kalian berdua sudah menikah, apalagi sudah tiga tahun. Buat apa mengadakan acara pernikahan sekarang? Sayang sekali!"
"Kalau aku nggak melangsungkan acara pernikahan, bagaimana orang luar bisa tahu kalau aku menantu Keluarga Sumargo, istrinya Yovan? Bagaimana kalau ada yang berpura-pura jadi aku? Apa aku harus diam saja?"
"Omong... omong kosong apa yang kamu bicarakan!"
"Kalian boleh minta aku mundur, tapi aku ingin acara pernikahan megah yang diketahui semua orang di Kota Yasel. Kalau nggak, jangan harap!"
"Sepertinya keluarga kami sudah terlalu memanjakanmu. Kamu…"
Tanpa menunggu ibunya Jovan selesai berbicara, Kiana langsung membanting piring dan sendoknya.
Dengan sekali sentakan, wajah tiga anggota Keluarga Sumargo itu langsung membiru.
Kiana dulu sudah terlalu baik pada mereka. Itu sebabnya, mereka berani menipu dan menghinanya seperti ini!
"Kamu…"
"Aku nggak selera makan. Aku mau ke atas dulu!"
Selesai berbicara, Kiana pun bangkit dan berjalan ke lantai atas.
Tidak seperti dulu. Sekalipun sudah selesai makan, dia akan menjadi orang terakhir yang bangkit dari meja makan. Dulu dia akan membantu Bi Ida mencuci piring, memotong buah untuk keluarga, dan mengobrol dengan mereka meskipun sudah mengantuk...
Sementara itu, di lantai atas. Bi Ida sedang memegang kunci dan mencoba membuka pintu kamar Kiana dengan Yovan.
Kiana menggerakkan sudut mulutnya dan melangkah maju.
"Bi Ida, apa yang kamu lakukan?"
Bi Ida terkejut. Dia langsung mendongakkan kepalanya dan buru-buru menyembunyikan kunci di tangannya ke belakang punggungnya.
"Aku… aku cuma mau membereskan kamarmu, tapi entah kenapa pintunya terkunci."
"Aku yang kunci."
"Hah?"
Kiana mengeluarkan kunci dari sakunya dan membuka pintu di depan Bi Ida.
"Duduklah di ruang tamu sebentar. Aku akan segera membereskannya."
Bi Ida baru saja ingin melangkah masuk, tetapi Kiana masuk lebih dulu dan menghalangi pintu.
"Aku capek dan mau tidur lebih awal. Jadi, nggak perlu dibereskan lagi."
Selesai berbicara, tanpa menunggu respons dari Bi Ida, Kiana langsung membanting pintu hingga tertutup.
Dia membalikkan badannya. Dengan bantuan sedikit cahaya dari jendela, dia bisa melihat sesosok bayangan panik yang berlari ke ruang ganti.
Menarik sekali!
Siapa bilang hanya istri sah yang bisa muncul di depan umum? Bukankah di sini juga ada istri sah, tetapi masih harus bersembunyi seperti tikus?
Kiana sengaja tidak menyalakan lampu dan keluar masuk ruang ganti. Si 'tikus' hanya bisa meringkuk dan bersembunyi di dalam lemari, tanpa berani bersuara sedikit pun.
Bahkan di saat mandi, Kiana juga sengaja membiarkan pintu terbuka.
Setelah keluar dari kamar mandi, dia mendapati pintu lemarinya sedikit terbuka. Dia menduga udara di dalamnya cukup pengap dan si 'tikus' juga butuh udara segar.
Dia mengenakan piamanya dan berbaring di tempat tidur sambil menatap lemari dengan tenang.
Dia dan Rachel berkenalan sewaktu di SMA. Awalnya mereka hanya teman satu meja, lalu berkembang menjadi teman. Hubungan mereka makin lama makin baik. Mereka diterima di universitas yang sama dan menjadi sahabat.
Mereka selalu membicarakan segala hal, saling membantu, dan melewati masa kuliah bersama.
Kemudian, Kiana masuk ke Grup Thevas untuk magang. Salah satu teman magangnya adalah Yovan.
Saat itu, dia tidak tahu Yovan adalah putra Keluarga Sumargo. Dia mengira Yovan hanya anak dari keluarga biasa seperti dirinya.
Keduanya ditempatkan dalam tim yang sama. Mereka mengerjakan proyek bersama dan lembur bersama. Secara perlahan, perasaan keduanya berkembang dan kemudian mereka pun berpacaran.
Setelah tiga tahun menjalin hubungan, di saat kecelakaan mobil terjadi, dia baru tahu Yovan adalah putra Keluarga Sumargo.
Memikirkan hal ini, Kiana menyentuh perut bagian bawahnya.
Ada bekas luka yang dalam di sana.
Waktu itu, mereka berdua sedang duduk di kursi belakang taksi. Ketika pipa besi dari truk di depan menerobos jendela depan dan masuk dengan cepat, Kiana secara naluriah berdiri di depan Yovan. Kemudian, pipa besi itu menembus tubuhnya dan melukai rahimnya...
Selama masa pemulihannya, dia memperkenalkan Rachel untuk masuk ke Grup Thevas.
Jika dihitung-hitung, hanya dalam waktu setengah tahun, dia dan Yovan sudah mendaftarkan pernikahan mereka.
Sahabatnya memang pandai memainkan trik.
Tok, tok, tok…
Yovan mengetuk pintu dari luar kamar.
"Kiana, buka pintu. Aku mau masuk."
Bab 4
"Sikapku barusan nggak benar. Aku minta maaf."
"Istriku, kamu tega membiarkanku tidur di kamar tamu? Tolong biarkan aku masuk. Aku ingin memelukmu."
Memikirkan Yovan yang baru saja bermesraan dengan Rachel dan sekarang masih ingin menyentuhnya, Kiana mendadak merasa jijik.
"Aku capek. Besok baru dibicarakan lagi."
"Istriku, sudah seminggu aku nggak memelukmu. Apa kamu nggak menginginkanku?"
Kiana merasa sangat jijik sampai-sampai hampir muntah.
"Bukannya kamu ingin menuruti perkataan orang tuamu? Kalau begitu, tidur saja sama mereka!"
Suasana di luar hening sejenak, lalu terdengar suara langkah kaki menjauh.
Yovan punya sifat pemarah. Dulu, saat mereka berdua bertengkar, Kiana selalu berusaha sebaik mungkin untuk menuruti pria itu.
Kalau mereka bertengkar, kemungkinan besar Kiana-lah yang akan mengalah lebih dulu.
Dia sangat mencintai Yovan…
Cih. Sekarang malah terdengar konyol sekali…
Kiana bilang dia ingin beristirahat, jadi dia pun berbaring dan menutup matanya, seolah-olah dia benar-benar tertidur.
Namun, Rachel masih sangat berhati-hati. Sampai tengah malam, dia baru berjinjit keluar dari lemari.
Mungkin karena sudah terlalu lama meringkuk di dalam, kakinya terasa mati rasa dan dia hampir terjatuh ke bawah.
Dia menutup mulutnya dan tidak berani bersuara. Dia membungkuk, berjalan ke pintu, lalu membukanya dengan hati-hati.
Di saat pintu tertutup, Kiana juga membuka matanya.
Di ruang tamu di lantai dua, ibunya Yovan memapah Rachel duduk dan memijat kakinya dengan prihatin.
"Anak baik, kamu sudah menderita. Siapa sangka dia akan pulang tiba-tiba?" Sembari berbicara, ibunya Yovan juga mendengus.
"Bu, aku nggak apa-apa. Ibu nggak perlu khawatir."
Rachel memang bilang begitu, tetapi wanita itu mengusap perutnya dan tampak kesakitan.
Melihat hal itu, ibunya Yovan langsung panik.
"Tapi bagaimana dengan kondisi cucuku? Kita ke rumah sakit ya?"
"Nggak apa-apa, nggak apa-apa. Aku akan baik-baik saja setelah beberapa saat," ucap Rachel dengan patuh.
"Kiana memang pantas dibenci. Kalau terjadi sesuatu pada cucuku, aku akan mengulitinya hidup-hidup!"
"Sudahlah, jangan ganggu dia di saat krusial seperti ini," kata ayahnya Yovan sambil duduk di sofa di seberangnya.
"Tapi Rachel baru menantu keluarga kita, apalagi sekarang dia lagi hamil. Nggak mungkin kita biarkan dia terus tinggal di luar. Sebaliknya, menantu palsu justru menguasai rumah kita!"
"Ini hanya sementara. Setelah kontrak dengan Grup Januar ditandatangani, kita akan mengusirnya."
Ibunya Yovan mendengus. "Kalau begitu, biarlah dia tinggal di rumah kita beberapa hari lagi."
Rachel melengkungkan sudut mulutnya, tetapi saat pandangannya tertuju pada Yovan, pria itu tampak mengerutkan kening. Sepertinya pria itu tidak setuju dengan apa yang dilakukan orang tuanya.
Rachel menundukkan kepalanya dan berkata dengan suara rendah, "Kiana dan aku berteman baik. Meski harus menderita, aku nggak keberatan kok. Biarlah dia yang tinggal di rumah."
"Kamu memperlakukannya sebagai teman baik dan tulus padanya, tapi dia nggak begitu. Kalau nggak, dia nggak akan memperebutkan proyek ini denganmu."
Usai berbicara, ibunya Yovan melihat Rachel masih menundukkan kepala. Terakhir, dia baru menatap putranya. Dia menyadari putranya masih belum mengungkapkan pendapatnya.
"Yovan, bagaimana menurutmu?"
Yovan mengusap dahinya dan berkata, "Aku mencintai Kiana dan nggak ingin menyakitinya."
"Tapi istrimu yang sesungguhnya adalah Rachel!"
"Aku sudah mengecewakan Rachel, jadi aku nggak ingin mengecewakan Kiana lagi!"
"Nggak, ini bukan salahmu," kata Rachel sambil buru-buru berdiri.
Yovan menghampirinya dan memeluknya.
"Beri aku waktu lagi. Aku akan jelaskan semuanya kepada Kiana. Dia begitu mencintaiku. Aku yakin dia pasti akan menerimamu dan anak kita."
Rachel mengangguk. "Aku nggak akan menghancurkan hubunganmu dengannya. Aku tahu kamu mencintainya, tapi aku ingin kamu membagi sedikit cinta dan perhatian padaku dan anak kita."
"Terima kasih sudah memahamiku."
Orang tua Yovan menatap Rachel dengan penuh pengakuan dan penghargaan di mata mereka. Berbeda dengan sikap kasar mereka terhadap Kiana.
Kiana bersandar di koridor. Dia tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.
Benarkah ini abad ke-21? Bisa-bisanya orang zaman sekarang punya pemikiran melayani satu pria dengan dua wanita?
Tidak, mereka bukan hanya memiliki pemikiran tersebut, tetapi mereka sudah mewujudkannya.
Astaga. Dia sudah 'menikah' dengan keluarga macam apa ini?
Otak mereka pasti bermasalah!
"Tapi perut Rachel makin hari makin membesar. Aku khawatir kita nggak bisa menyembunyikannya dari Kiana lagi," kata ibunya Yovan dengan cemas.
Ayahnya Yovan berpikir sejenak, lalu berkata, "Aku akan tugaskan dia ke tempat lain dulu."
Saking emosinya, Kiana tidak bisa tidur sama sekali malam itu.
Keesokan paginya, Kiana baru saja turun dari lantai atas dan melihat Yovan datang membawa buket besar mawar.
"Sayang, kamu yang baru bangun pagi sangatlah cantik."
Yovan meletakkan buket bunga mawar itu ke dalam pelukan Kiana, lalu melingkarkan lengannya di bahu wanita itu dan ingin menciumnya, tetapi Kiana langsung mengelak.
"Kamu nggak ganti baju tadi malam? Badanmu bau keringat."
Yovan mengantar Rachel pulang tadi malam dan mungkin baru kembali di pagi harinya. Pria itu kemudian membeli buket mawar ini untuk menebus sedikit rasa bersalah yang mungkin timbul.
"Benarkah?" Yovan mengendus pakaiannya. "Oh ya, aku pergi ke kebun bunga di pinggiran kota tadi malam dan menunggu sampai mereka buka. Aku beli beberapa mawar segar untukmu."
Kiana ingin memutar bola matanya.
Bunga ini jelas dibeli dari toko bunga di seberang jalan. Apalagi, nama toko bunga itu jelas tertera di kertas kadonya.
Kiana juga tidak mengeksposnya. Dia hanya tersenyum manis. "Terima kasih, Sayang."
"Tunggu sebentar. Aku naik ke atas dan mandi dulu. Setelah itu, aku akan bawa kamu ke suatu tempat," kata Yovan.
"Tapi aku masih harus ke kantor hari ini."
"Kantor masih bisa beroperasi meski kamu nggak datang. Sebaliknya, kita berdua sudah lama nggak berkencan."
"Tapi hari ini…"
"Tunggu aku."
Sebelum Kiana berbicara lebih lanjut, Yovan sudah naik ke atas.
Melihat punggung pria itu, sudut bibir Kiana terangkat sedikit. Pria itu sengaja menunda keberangkatannya ke kantor.
Oke. Kiana akan meladeni mereka. Dia mau lihat trik baru apa yang bisa mereka mainkan.
Satu jam kemudian, Yovan membawanya ke sebuah gang di kota tua.
Kalau mau dideskripsikan dengan kata-kata yang enak didengar, tempat ini penuh dengan kehidupan, tetapi kalau mau terus terang, terlalu banyak pembangunan ilegal di sana.
Sanitasi tidak sesuai standar, dan ketertiban lalu lintas nyaris tidak ada.
Namun tiga tahun lalu, mereka tinggal di sini.
Saat itu, Kiana tidak tahu identitas Yovan. Mereka berdua bekerja di departemen proyek Grup Thevas dan menerima gaji biasa. Untuk menghemat uang, mereka menyewa rumah di kota tua yang jauh dari perusahaan.
Satu kamar tidur dan satu ruang tamu. Biaya sewanya 1,6 juta.
Di gang berantakan inilah mereka tinggal dulu. Mereka melewati pagi-pagi yang tak terhitung jumlahnya, menghadap cahaya pagi, bergandengan tangan, seolah-olah mereka bukan pergi melakukan pekerjaan berat, melainkan menuju masa depan yang cerah.
Itulah yang dirasakan Kiana saat itu.
Agar bisa menetap di kota ini bersama Yovan dan membeli rumah mereka sendiri, dia penuh energi setiap hari.
Mobil berhenti. Yovan menariknya ke sebuah gedung yang menghadap ke jalan.
Tidak ada lift, jadi mereka hanya bisa naik tangga. Pegangan tangga tertutup minyak dan kotoran yang menumpuk selama bertahun-tahun. Dindingnya berbintik-bintik dan cat-cat mengelupas.
Begitu sampai di lantai lima, Yovan mengeluarkan kunci dari sakunya, lalu tersenyum misterius pada Kiana dan membuka pintu.
Perabotan di ruangan itu masih tetap sama. Saat Kiana masuk, dia merasa seakan kembali ke tiga tahun lalu.
Saat itu, dia sangat suka mendekorasi rumah kecilnya. Hanya saja, rumah itu sudah tua. Tidak peduli bagaimana mendekorasinya, tetap saja terlihat lusuh, kecuali direnovasi secara besar-besaran.
Sebenarnya, Kiana tidak pernah menganggap tempat ini sebagai rumahnya. Dia percaya, berdasarkan kemampuannya, dia pasti bisa membeli rumah besar di lokasi strategis.
"Aku sudah beli tempat ini," kata Yovan sambil menatapnya.
"Uh?"
Beli tempat ini?
"Buat kamu."
Kiana sampai tidak tahu harus berkata apa.
Yovan masuk dan duduk di sofa kecil, yang mana dulunya adalah tempat favoritnya.
"Masih ingat, nggak? Waktu itu, kamu masak di dapur dan aku membaca buku di sini. Meski kita sibuk dengan urusan masing-masing, kita sesekali akan saling memandang dan tersenyum."
Wajah Yovan dipenuhi kebahagiaan saat mengenang masa lalu.
"Aku harap masa depan kita juga akan seperti ini."
Kiana mendengus dingin.
Dia bangun pagi-pagi untuk memasak, sementara Yovan masih tidur.
Dia menyiapkan makanan. Sebaliknya, Yovan duduk di meja makan sambil menunggu Kiana mengambilkan makanan untuknya.
Selesai makan, Yovan pergi berganti pakaian. Sedangkan, Kiana sibuk mencuci piring dan panci.
Kiana sibuk di perusahaan sepanjang hari. Karena status Yovan sebagai tuan muda, pria itu diberi pekerjaan ringan dan menghabiskan sepanjang hari minum kopi di kantor.
Malam harinya, Kiana masih harus memasak meski kelelahan. Sementara, Yovan akan membaca buku seperti yang barusan dikatakannya.
Baru saja Kiana bisa berbaring di tempat tidur, Yovan datang mengusiknya lagi. Pria itu mengeluhkan dirinya tidak cukup antusias...
Memikirkan hal ini, Kiana ingin menampar wajahnya sendiri beberapa kali.
Dia pasti sudah gila waktu itu. Bagaimana dia bisa menoleransi Yovan memperlakukannya seperti itu?
Yovan jelas-jelas bisa membelikannya apartemen besar atau vila sekarang, tetapi pria itu justru membelikannya rumah kumuh ini. Pria itu bahkan tersentuh dengan tindakannya sendiri.
"Aku nggak suka rumah ini. Kalau kamu suka, tinggal saja sendiri."
Usai melontarkan kata-kata itu, Kiana langsung berbalik dan pergi.
Begitu sampai di lantai bawah, Yola Winata, seorang rekan satu timnya, meneleponnya.
"Ketua, apa yang terjadi? Rachel dipindahkan ke tim kita. Katanya dia akan mengambil alih pekerjaanmu."
Bab 5
Yovan marah karena Kiana tidak mau menerima rumah itu.
Dalam perjalanan pulang, pria itu tidak mengucapkan sepatah kata pun padanya.
Sesampainya di rumah, melihat putranya tidak senang, ibunya Yovan langsung memelototi Kiana.
Kiana tidak menggubris ibunya Yovan dan langsung naik ke atas untuk berganti pakaian.
Malam harinya, Kiana baru turun untuk makan. Ayahnya Yovan dan Yovan tidak makan di rumah. Ibunya Yovan sedang duduk sendirian di meja makan, tetapi tidak ada piring dan sendok untuk Kiana.
"Sepertinya kamu lagi emosi. Jadi, mungkin kamu nggak lapar. Itu sebabnya, aku nggak minta Bi Ida menyiapkan makanan untukmu."
"Benarkah?"
Melihat Bi Ida keluar dari dapur membawa sepiring makanan, Kiana langsung pergi mengambilnya.
Dulu, dia akan menyiapkan makan malam bersama Bi Ida, jadi Bi Ida mengira Kiana ingin membantu dan langsung memberikannya kepadanya.
Kiana pura-pura tidak mengambilnya, lalu menarik tangannya kembali. Piring berisi makanan itu pun terjatuh ke lantai.
Saat melihat hal itu, ibunya Yovan langsung membentak Kiana, "Apa yang terjadi denganmu?! Kamu bahkan nggak bisa melakukan hal-hal kecil seperti menyajikan hidangan. Keluarga Sumargo benar-benar rugi punya menantu sepertimu!"
"Aku nggak sengaja."
Kiana berpura-pura sedih. Dia bergegas ke dapur untuk mengambil piring baru. Setelah itu, dia memungut makanan yang terjatuh ke lantai, lalu menaruhnya kembali ke piring, dan meletakkannya di depan ibunya Yovan.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Makanlah. Jangan mubazir."
"Kamu suruh aku makan sampah yang jatuh di lantai?"
"Bukankah sampah paling pas dengan seleramu?"
"Kamu!"
'Karena kamu memang sampah!'
Melihat ibunya Yovan begitu marah hingga wajahnya membiru, Kiana mencuci tangannya dan naik ke atas dengan gembira.
Keesokan harinya. Begitu sampai di kantor, Yola sedang menunggunya di pintu lift.
"Ketua, apa yang terjadi sebenarnya? Aku khawatir sekali! Bukankah Rachel temanmu? Kenapa dia mau mencuri proyekmu? Apalagi, kontraknya sudah hampir ditandatangani dan kita akan segera menuai hasilnya. Bukankah ini termasuk intimidasi?"
Yola dipromosikan olehnya dan berpihak padanya.
Kiana menepuk bahunya dan berkata, "Jangan khawatir, aku punya persiapan."
"Persiapan apa?"
Kiana hanya memberinya senyum nakal, tetapi tidak menjelaskan.
Yola merangkul lengan Kiana sambil berkata, "Apa pun yang terjadi, kamu nggak boleh menelantarkanku!"
Usia Yola tiga tahun lebih muda darinya. Yola sudah seperti adiknya sendiri. Dia sering memeluk Kiana dan bertingkah manja di depannya.
Kiana menepuk dahi Yola dan berkata, "Aku tahu."
Begitu sampai di departemen proyek, semua rekannya menatapnya dengan cemas, seakan ingin tahu apa yang telah terjadi.
Kiana tersenyum pada mereka untuk meyakinkan mereka.
"Kiana, akhirnya kamu datang ke kantor juga. Ayo ikut aku pergi menemui CEO." Rachel mengenakan setelan jas, tetapi dia memakai sepatu datar. Jadi, dia terlihat jauh lebih pendek sewaktu berjalan ke depan Kiana.
Dia meraih tangan Kiana dan menuju ke ruangan CEO.
"CEO tiba-tiba memintaku untuk mengambil alih proyek ini. Bagaimana aku bisa mengambil hasil kerja kerasmu begitu saja? Aku ingin menolak, tapi sikap CEO sangat tegas. Aku terpaksa hanya bisa setuju. Aku pikir begitu kamu datang ke kantor, kita akan menemui CEO dan membahasnya bersama."
Rachel jelas sengaja mengucapkan kata-kata ini agar didengar oleh semua rekan kerja.
Dia bukan tipe orang yang akan mengkhianati teman. Dia lebih suka mengorbankan kepentingannya sendiri demi mendukung temannya.
Setelah mendengar apa yang dikatakannya, semua rekan lainnya menunjukkan ekspresi kagum.
Kiana menatap Rachel.
Sejak kapan sahabatnya menjadi begitu munafik?
Atau mungkin dia yang belum pernah melihat wajah Rachel yang sesungguhnya...
Jika dia mendengarkan perkataan Rachel dan pergi menemui ayahnya Yovan sekarang, alhasil ayahnya Yovan hanya akan mengusirnya dengan tegas dan memaksa Rachel untuk mengambil alih proyek tersebut.
Dengan begitu, semua rekan kerja tidak akan berpikir bahwa Rachel yang mencuri proyek teman baiknya. Sebaliknya, akan menduga ada yang salah dengan Kiana sendiri. Itu sebabnya, CEO bisa menendang Kiana keluar dari proyek tersebut.
Mereka sekeluarga benar-benar bekerja sama dengan baik.
"Hais, perusahaan ingin menyingkirkanku begitu selesai dimanfaatkan. Tentu saja aku nggak setuju, tapi kalau kamu yang mengambil alih, aku akan lebih tenang." Kiana menggenggam tangan Rachel. "Lagian, kita berteman baik. Kamu akan menuai hasil jerih payahku, jadi kamu tentu akan mengingat kebaikanku."
Kata 'perusahaan ingin menyingkirkanku begitu selesai dimanfaatkan' telah menjelaskan semuanya.
Kata 'kamu akan menuai hasil jerih payahku' juga membuktikan hasil kerja keras Kiana. Sebaliknya, Rachel hanyalah orang yang menuai hasil instan saja.
Bagaimana rekan kerja dalam satu tim bisa dengan tulus menerima seseorang yang hanya tahu cara menuai hasil?
Rachel tidak bisa tertawa. "A… aku nggak bisa mengambil alih proyek ini."
"Jadi, kamu mau mengundurkan diri?"
"Aku…"
"Tentu saja aku tahu kamu nggak tega."
Kiana tersenyum tipis. Dia tampak toleran dan murah hati. Hal ini seketika membuat Rachel kelihatan picik dan berpikiran sempit.
Dia tidak membiarkan Rachel mengikutinya, tetapi dia pergi ke kantor ayahnya Yovan sendirian.
Ayahnya Yovan tahu dia akan datang. Dia juga sudah memikirkan rencana untuk mengatasinya.
"Kiana, kamu harusnya tahu aku selalu menghargaimu. Waktu aku pensiun nanti, Yovan akan mengambil alih perusahaan. Saat itu, kamu pasti akan menjadi istri yang baik dan tangan kanannya. Selagi aku masih memimpin perusahaan, aku harap kamu bisa memperluas wilayah kekuasaan Keluarga Sumargo. Anak muda butuh lebih banyak pengalaman untuk memikul tanggung jawab besar."
Bentuk manipulasi psikologis seperti ini sangat cocok untuk mahasiswa yang baru saja bergabung di perusahaan, tetapi sayangnya Kiana kini sudah menjadi veteran.
"Apa maksud Bapak? Aku nggak mengerti."
"Ada proyek di Kota Hairos yang ingin aku serahkan padamu. Proyek ini juga sangat penting dan aku hanya percaya padamu."
Heh! Menugaskan dirinya ke tempat lain agar Rachel bisa kembali ke kediaman Keluarga Sumargo dan merawat kehamilannya dengan baik.
Mereka sekeluarga hidup berbahagia. Sebaliknya, Kiana bukan hanya hidup dalam kegelapan, tetapi juga harus bekerja seperti budak untuk Keluarga Sumargo.
Semua taktik ini patut untuk diberi acungan jempol.
"Aku nggak akan pergi ke Kota Hairos. Seperti yang aku katakan sebelumnya, aku akan mundur dari proyek Januar, tapi kalian harus memberiku acara pernikahan yang megah."
Ayahnya Yovan mengerutkan kening. "Aku bicara baik-baik padamu sekarang karena kamu menantuku. Kalau nggak, hmph!"
Kiana mengangkat alisnya. "Kalau nggak, kenapa?"
"Aku juga bisa pecat kamu langsung!"
Memecatnya?
"Oh, baiklah. Kalau begitu, pecat saja aku! Aku bisa minta acara pernikahan pada Yovan, tapi kamu harus memberiku bonus untuk proyek ini. Kalau nggak, aku nggak akan serah terima!"
Ayahnya Yovan menghela napas berat. "Kiana, kenapa kamu jadi egois sekali sekarang? Aku sangat kecewa."
Kiana berdiri dan berkata, "Aku percaya kerja keras akan membuahkan hasil. Ini bukan egois, tapi sudah sepantasnya aku dapatkan."
Agar serah terima proyek berjalan lancar, ayahnya Yovan meminta Departemen Keuangan untuk mentransfer bonus pada Kiana di saat itu juga.
Ini bukan jumlah yang sedikit. Wajah ayahnya Yovan tampak tidak senang.
Meski wajah ayahnya Yovan tidak senang, wajah Kiana tampak sangat senang.
Setelah keluar dari ruangan ayahnya Yovan, Kiana pergi ke atap dan menelepon manajer di Grup Januar yang bertanggung jawab atas proyek ini.
"Pak Ishan sudah memberitahumu, 'kan?"
"Ya, kamu akan menjadi penanggung jawab utama proyek ini ke depannya. Departemen kami akan menuruti perkataanmu."
"Orang dari Grup Thevas akan datang besok untuk menandatangani kontrak."
"Kontraknya sudah kami buat."
"Sobek saja."
"Hah?"
"Aku merasa ada beberapa masalah dengan desain mereka. Kamu tinggal tunjuk beberapa poin kecil dan minta mereka untuk mengubahnya."
"Baik, aku mengerti. Aku akan melakukannya sesuai perintahmu."
Setelah menutup telepon, Kiana tertawa sinis.
Benar saja, mengerjai orang lain memang sangat menyenangkan.
Bab 6
Saat kembali ke departemen proyek, semua rekan memandang Kiana dengan khawatir.
Kiana mengangkat bahu dan berkata, "Aku dipecat."
Rekan-rekan kerjanya menghela napas. Ada beberapa yang bingung dan ada beberapa yang marah. Yola bahkan berlari menghampiri dan berteriak, "Ketua sudah menyelesaikan begitu banyak proyek besar untuk perusahaan. Dia adalah penyumbang terbesar kesuksesan perusahaan saat ini. Bagaimana mungkin dia dipecat begitu saja? Ini jelas..."
Menyingkirkan orang begitu selesai dimanfaatkan.
Yola tidak mengatakannya, tetapi kata itu langsung muncul di pikiran setiap orang.
Semua orang setuju dengan perkataan Yola. Sebelum Kiana mengambil alih departemen proyek, perusahaan mengalami krisis keuangan karena kekurangan proyek. Setelah dia mengambil alih, dia mengupayakan perubahan. Dia menjauh dari ambisi yang tidak realistis. Dimulai dengan proyek-proyek kecil, dia secara bertahap membangun kembali kepercayaan pada Thevas. Hal ini terjadi hingga dia berhasil mendapatkan proyek Pusat Perbelanjaan Sagara, yang langsung mengubah Thevas sepenuhnya.
Namun, pahlawan yang pernah membalikkan situasi ini, hasil kerja kerasnya malah direbut dan disingkirkan begitu saja?
Kiana menepuk bahu Yola sambil berkata, "Kebetulan, aku juga capek. Aku mau istirahat baik-baik."
"Tapi aku marah untukmu!" Yola cemberut.
Kiana bertepuk tangan dan menyemangati semua orang. "Begini saja, aku akan traktir kalian semua makan malam nanti. Pertama, untuk merayakan pengunduran diriku. Kedua…"
Melihat Rachel keluar dari ruangannya, Kiana pun tersenyum padanya.
"Kedua, aku mau merayakan teman baikku, Nona Rachel, yang resmi mengambil alih departemen proyek dan menjadi ketua baru kalian!"
Selesai berbicara, Kiana terus bertepuk tangan, tetapi rekan-rekannya tidak begitu antusias.
Atasan mereka telah diganti. Apa kehidupan mereka akan nyaman seperti sebelumnya?
Tidak ada yang tahu.
Kiana mulai membereskan barang-barang di ruangannya.
Dia telah menggunakan ruangan itu selama lima tahun dan memiliki banyak barang. Tak lama kemudian, dia telah mengemasnya ke dalam kotak besar.
Kiana menatap Rachel dan berkata dengan nada ringan, "Aku tinggalkan mesin kopi ini untukmu. Jujur saja, kopi instan di pantri nggak senikmat kopi yang digiling mesin kopi ini."
Bibir Rachel sedikit melengkung ke atas. Dia mengira Kiana hanya memaksakan diri untuk tersenyum. Hati Kiana pasti tidak enak sekarang.
"Kiana, bagaimana kalau aku bicara dengan CEO dan minta dia mengizinkanmu tinggal di departemen proyek? Dengan begitu, aku juga bisa menjagamu."
Kiana menghela napas. "Benar saja, roda kehidupan terus berputar. Dulu aku yang menjagamu. Sekarang kamu yang harus menjagaku."
"Kiana!"
"Bercanda saja!" Kiana tersenyum. "Aku bilang aku ingin istirahat. Aku serius kok. Aku sudah terlalu sibuk beberapa tahun terakhir ini dan nggak punya waktu untuk menemani suamiku. Aku takut dia akan mencari wanita jalang di luar sana."
Mendengar itu, Rachel mendadak merasa tidak nyaman.
"Tentu saja, aku percaya dia nggak akan. Lagian, wanita jalang mana yang secantik diriku. Benar, nggak?"
Rachel tertawa datar. "Benar."
"Oh ya, besok kamu mau pergi ke Grup Januar untuk menandatangani kontrak Thevas. Biar aku serah terima proyek ini kepadamu dulu."
Rachel berpikir sejenak. "Kiana, kamu dipecat dan pasti marah. Kamu nggak akan dengan sengaja memberiku informasi yang salah dan membuatku nggak bisa menandatangani kontrak besok, 'kan?"
Kiana tersenyum nakal. "Kalau orang lain, mungkin aku akan melakukan hal itu, tapi kamu itu sahabatku. Kita sudah bersumpah nggak akan mengecewakan satu sama lain, jadi aku tentu saja nggak akan menyakitimu. Tapi apa kamu pernah melakukan hal yang mengecewakanku?"
Rachel mengerutkan bibirnya dan berkata, "Tentu saja nggak."
Kiana memeluk bahu Rachel. Matanya menjadi gelap. "Aku percaya padamu!"
Sore harinya, Kiana pergi berbelanja di mal. Dia membeli beberapa pakaian, menata rambutnya, dan memakai riasan cerah.
Saat Kiana yang mengenakan gaun merah, rambut panjang bergelombang, dan berkacamata hitam itu sampai di hotel, orang-orang yang lewat menatapnya dengan curiga. Bahkan, ada yang berbisik pada teman-temannya, apa orang yang lewat barusan seorang artis?
Begitu sampai di ruang VIP, semua rekannya sudah ada di sana, termasuk Rachel. Saat mereka melihat penampilan Kiana, mereka semua menunjukkan ekspresi terkejut.
"Ketua, ternyata kamu biasanya nggak memakai riasan dan hanya memakai setelan jas hitam putih, sebenarnya demi kami juga. Kamu takut kami akan terlalu fokus melihatmu sampai-sampai nggak bisa fokus pada pekerjaan kami."
"Ketua, aku rasa ada bagusnya kamu diberhentikan dari perusahaan. Dengan begitu, kamu bisa masuk ke industri hiburan. Aku mendukungmu."
"Ketua, aku penasaran sama suamimu. Kok dia bisa begitu beruntung dan menikahimu? Pas mimpi di malam hari, aku rasa dia juga bakal tersenyum, 'kan?"
Meski hubungan mereka biasanya mencakup atasan-bawahan, Kiana selalu akur dengan rekan-rekannya dan akrab dengan mereka. Itu sebabnya, mereka berani bercanda dengannya.
Kiana melepas kacamatanya dan menggoda semua orang. "Sayang sekali, kalian nggak akan bisa bertemu dengan wanita cantik ini lagi."
Rekan-rekannya langsung meratap dan meminta Kiana untuk membawa mereka bersamanya juga.
Namun terlepas dari candaannya, Kiana tetap mengingatkan mereka agar tidak memanggilnya 'ketua' lagi ke depannya.
Kiana memegang bahu Rachel dan berkata dengan murah hati pada semua orang, "Ini baru ketua baru kalian. Dia sahabatku. Perlakukan dia sebaik kalian memperlakukanku."
Rachel pada dasarnya sudah seperti orang luar. Tidak, dia lebih seperti penyusup.
Meski orang-orang ini tersenyum padanya, dia merasa tidak ada kehangatan dalam senyuman mereka, bahkan ada sedikit sarkasme.
Rachel berdiri, berusaha tenang, dan sesantai mungkin.
"Rekan-rekan semuanya, aku sangat senang bergabung dengan departemen proyek. Aku harap kita bisa bekerja sama dan menciptakan kejayaan yang lebih besar bersama di masa depan!" Dia mengangkat gelasnya dan bersulang untuk semua orang.
Semua orang juga berdiri, lalu mengangkat gelas mereka, dan minum.
Hanya Yola yang tidak begitu ingin melakukannya. Wajahnya tampak cemberut dan dia hanya menyesap sedikit minumannya.
Rachel bersulang. Sebagai seorang atasan, dia merasa dirinya sudah sangat perhatian. Saat dia hendak mengatakan sesuatu, Kiana meletakkan tas anyaman di atas meja.
"Ketua, senjata apa yang kamu taruh di tasmu ini?"
Seorang rekan kerja bercanda karena tas itu tampak sangat berat. Kiana juga kesulitan membawanya dan menimbulkan bunyi 'gedebuk' saat dia meletakkannya di atas meja.
Kiana tampak misterius. "Coba tebak?"
Semua orang mulai membuat tebakan dan suasana menjadi sangat riuh.
Saat Kiana membuka tas itu, mata semua orang terbelalak.
Di dalam tas itu ada gepokan uang seratus ribu yang bertumpuk-tumpuk…
Kiana memandangi rekan-rekan yang telah menemaninya selama ini. Rekan-rekan yang lembur dan begadang bersamanya, yang ikut khawatir bersamanya, yang telah menangis dan tertawa bersamanya. Sejak memutuskan untuk meninggalkan Thevas, hanya merekalah yang tidak rela dia tinggalkan.
"Apa pun hasil akhir proyek Januar, aku sudah menyelesaikannya dengan sempurna. Bonus dari proyek ini nggak boleh aku ambil sendiri, melainkan milik bersama."
Sambil berbicara, dia mendorong uang itu ke tengah meja, lalu bertepuk tangan, dan berkata sambil tersenyum, "Ini semua ada dua miliar. Dua ratus juta per orang. Ayo cepat diambil!"
Namun, tidak seorang pun mengambilnya. Mereka semua menatap Kiana.
Saat ini, yang ada hanya kesedihan dan keengganan.
"Kelak kita masih bisa ketemu, 'kan? Jadi, nggak perlu seperti ini. Cepat ambil uang kalian. Aku susah payah bawa karung seberat sembilan kilo bukan untuk bikin kalian nangis, tapi biar kalian senang terima bonus."
Yang tertua di antara rekan-rekan berdiri lebih dulu dan mengambil uang itu. "Ketua, nggak ada yang perlu dikatakan di antara kita."
Kiana mengangguk dan tersenyum. "Ya, nggak perlu."
Yang lainnya berdiri satu demi satu. Masing-masing menerima setumpuk uang. Setelah uang dibagikan, semua orang berdiri untuk bersulang pada Kiana. Mereka mendoakan agar karier Kiana makin sukses ke depannya.
Saat semua orang mengangkat gelas mereka, kecuali Rachel yang tidak memenuhi syarat, dia telah sepenuhnya menjadi latar belakang Kiana.
Inilah efek yang diinginkan Kiana. Dengan adanya dirinya sebagai panutan, jika Rachel tidak tampil sebaik dirinya, perusahaan dan rekan kerja akan memiliki opini negatif tentangnya.
Huh! Tidak semua orang bisa menggantikan posisinya!
Bab 7
Pesta berakhir dan semua rekan pulang dengan gembira.
Hanya Yola yang tersisa. Rambutnya pendek sebahu. Dia memakai jaket kulit dan suka mengendarai sepeda motor. Ditambah lagi dengan ekspresi dinginnya, yang membuat orang-orang berpikir dia adalah tipe cewek yang keren. Nyatanya, Yola suka memeluk Kiana dan bertingkah manja di depannya.
Kini Yola menggenggam lengannya dan tidak mau melepaskannya. "Ketua, bawa aku bersamamu. Apa gunanya aku hidup kalau nggak bisa bertemu denganmu setiap hari?"
Kiana menepuk dahi Yola dengan tidak berdaya. "Sudah berapa usiamu?"
"Yang penting lebih kecil darimu."
"Iya, kamu lebih kecil dariku. Kelak kalau kamu mengalami kesulitan, ingatlah untuk meneleponku."
Mata Yola memerah, tetapi dia tetap mengangkat kepalanya dan menahan air matanya.
Yola mendekatinya, lalu berbisik, "Ketua, sahabatmu itu bukan orang baik. Kamu harus hati-hati dengannya."
Kiana mengangguk. "Aku tahu."
"Jangan anggap remeh kata-kataku."
"Aku nggak bodoh."
"Ketua, kamu tentu saja nggak bodoh. Sebaliknya, kamu sangat pintar, tapi kamu nggak bisa menghalangi orang-orang di sekitarmu mengkhianatimu."
Tak disangka, Yola bisa mengamati segalanya dengan jelas. Ini mungkin karena orang yang berada di sekitar bisa melihat lebih jelas daripada orang yang terlibat.
Setelah mengantar Yola pergi, Rachel pun keluar. Dia yang melunasi tagihan mereka malam ini. Apalagi, itu direbutnya dari tangan Yola. Namun, Kiana sudah memberikan bonus dua miliar, jadi berapa banyak yang bisa dimenangkan Rachel hanya dengan membayar sedikit tagihan ini?
"Kiana, kamu naik taksi pulang?" tanya Rachel sambil menghampirinya.
Kiana tidak menjawabnya, tetapi mengangkat alisnya dan berkata, "Kamu nggak minum anggur malam ini. Saat bersulang dengan mereka, kamu hanya minum air putih."
Rachel terdiam sejenak. "Aku… aku nggak begitu ingin minum."
"Nggak, kamu pasti menyembunyikan sesuatu dariku."
"Aku bisa punya hal apa yang…"
"Jangan-jangan kamu hamil?"
Rachel terkejut. Dia tidak menyangka Kiana bisa menebaknya dengan tepat.
Melihat ekspresinya, Kiana langsung berkata dengan nada yang bertambah yakin, "Kamu hamil sungguhan!"
"Aku…"
"Kamu berencana menyembunyikannya dariku?"
Rachel buru-buru menjelaskan, "A… aku ingin memberitahumu, tapi aku belum punya kesempatan."
Kiana berpura-pura mendengus. "Sekarang sudah nggak ada orang lain lagi. Kamu harus jujur padaku. Anak siapa itu?"
"Nggak penting siapa ayah anak ini."
"Tentu saja penting!"
Rachel jelas belum memikirkan kata-kata yang tepat untuk membohongi Kiana, jadi dia hanya bisa memutar otak.
"Um, sebenarnya itu anak Ken."
Kiana menyipitkan matanya. Ken Lowis adalah mantan pacar Rachel. Demi menipunya, Rachel bahkan berani berbohong.
"Bukannya kamu sudah putus dengannya tiga tahun yang lalu?"
"Aku bertemu dengannya lagi beberapa waktu lalu. Aku pergi ke hotel dalam keadaan linglung dan bermalam di sana."
"Kamu malah…"
Tatapan mata Kiana menjadi tajam. Dia mengangkat tangannya dan menampar Rachel. Kini yang terdengar hanya suara nyaring.
Rachel menutupi wajahnya dan menatap Kiana dengan kaget.
"Kenapa… kenapa kamu memukulku?"
"Karena aku bertemu Ken dalam perjalanan bisnis kali ini. Dia sudah menikah!" Kiana berpura-pura sangat marah dan menunjuk Rachel. "Nggak kusangka, kamu malah jadi simpanan orang!"
"Aku…" Rachel tercengang.
"Apa kamu begitu nggak tahu malu? Bagaimana kamu bisa menghancurkan rumah tangga orang lain?"
"Aku nggak tahu…"
"Aku kecewa sama kamu."
Pukul sudah, marah sudah. Kiana berbalik dan pergi dengan suasana hati gembira.
Kiana masuk ke dalam taksi. Melalui kaca spion, dia bisa melihat Rachel yang menutupi wajahnya dengan tangan dan kelihatan sangat sedih. Kiana kemudian mengeluarkan ponselnya dan menelepon.
Kiana melengkungkan bibirnya dan menyuruh sopir untuk memutar ke pintu belakang hotel.
Setelah keluar dari taksi, Kiana datang ke lobi dan melihat Rachel masih berdiri di luar. Sepertinya, dia sedang menunggu seseorang.
Tak lama kemudian, sebuah Bentley hitam melaju dan berhenti pintu masuk hotel. Yovan keluar dari kursi pengemudi. Tepat di saat pria itu berjalan ke depan mobil, Rachel sudah berlari menghampirinya sambil menangis, lalu menghambur ke pelukan pria itu.
Rachel mengatakan sesuatu. Yovan memeluk bahunya dengan simpati.
Hati Kiana masih terasa sakit. Bagaimanapun, Yovan adalah pria yang pernah dicintainya. Rachel sendiri juga orang yang pernah dia anggap sebagai sahabat. Siapa yang mendadak bisa menerima pengkhianatan seperti itu?
Namun, Kiana tidak mau kalah. Dia tidak merasa langit telah runtuh dan dia tidak sanggup hidup lagi. Dia hanya punya satu keyakinan, yaitu usahanya harus dihargai. Jika tidak dihargai, atau dikhianati seperti ini, dia akan mencari keadilan untuk dirinya sendiri.
Setelah mengambil napas dalam-dalam, Kiana berdiri dan melangkah keluar.
"Sayang?"
Mendengar suara itu, keduanya langsung membeku. Yovan bereaksi lebih dulu dan langsung mendorong Rachel.
Rachel terkejut. Karena didorong oleh Yovan, tubuhnya sempat terhuyung.
"Ka... kalian?" Kiana berpura-pura tidak tahu apa-apa.
"Aku… aku datang menjemputmu. Aku bertemu Rachel di depan pintu. Dia sedang menangis, jadi aku…"
"Kamu memeluknya dan menghiburnya?"
Yovan bergegas ke sisi Kiana sambil berbisik, "Dia menghambur ke pelukanku. Aku baru saja mau mendorongnya, tapi kamu sudah datang."
"Benarkah?"
"Apa kamu nggak percaya padaku?"
Kiana terdiam sejenak. "Tentu saja aku percaya padamu dan juga percaya pada Rachel."
Sembari berbicara, dia berjalan mendekati Rachel dan meraih tangannya serta menggenggamnya.
"Hatiku juga nggak enak pas menamparmu tadi, tapi aku ingin kamu sadar. Jangan sampai menghancurkan rumah tangga orang lain dan menjadi seorang simpanan. Apa kamu mengerti niat baikku?"
Wajah Rachel masih terasa sakit, tetapi dia hanya bisa berkata dengan gugup, "A… aku sungguh nggak tahu dia sudah menikah. Kalau aku tahu, aku pasti nggak melakukan hal itu dengannya."
"Hais. Aku barusan cuma emosi sesaat. Mana mungkin aku nggak tahu kamu itu orang seperti apa? Kamu orangnya menjaga diri, jujur, dan baik. Mana mungkin kamu melakukan hal yang nggak tahu malu seperti itu? Salahkan saja Ken, si berengsek itu. Dia sudah punya istri, tapi masih saja berhubungan dengan perempuan lain. Sungguh menjijikkan."
Kiana secara tidak langsung telah memaki mereka berdua hanya dengan beberapa patah kata. Raut wajah Rachel tampak jelek. Raut wajah Yovan sendiri lebih jelek lagi.
"Kamu berencana melahirkan anak itu?"
"Uh?"
"Aku tanya kamu mau melahirkan anak itu ya?"
Rachel melirik Yovan, lalu menjawab, "Tentu saja, aku akan melahirkan anak ini."
Kiana memeluk Rachel. Wajahnya tampak sedih. "Sebagai sahabatmu, tentu saja aku mendukung semua keputusanmu. Karena kamu ingin melahirkan anak itu, lahirkan saja. Mau itu pemeriksaan kehamilan, masa nifas, ataupun menjaga anak, aku pasti akan membantumu."
"Te… terima kasih."
"Begini saja. Biarlah aku jadi ibu angkat anakmu."
"Hah?"
"Kalau begitu, suamiku akan jadi ayah angkat anakmu. Menarik sekali."
Kiana kegirangan sendiri. Sebaliknya, Yovan dan Rachel tidak bisa tersenyum sama sekali.
Kiana dengan antusias mendorong Rachel ke dalam mobil. Dia bilang mau mengantar Rachel pulang dulu. Setelah itu, Kiana pun duduk di kursi depan.
Yovan menyetir. Awalnya, dia merasa sedikit tidak nyaman. Namun tak lama kemudian, dia sudah terbiasa. Lagi pula, mereka bertiga pernah bepergian bersama sebelumnya. Dia sudah lama melupakan rasa bersalah ataupun penyesalan.
Rachel sendiri lebih cepat beradaptasi. Dia bahkan cemburu pada Kiana yang duduk di kursi depan.
Dia baru Nyonya Sumargo yang sesungguhnya. Tempat duduk itu seharusnya miliknya.
Kiana hanya berpura-pura tidak tahu dan bersenda gurau bersama mereka di sepanjang jalan.
Tepat di saat mobil berhenti dan menunggu lampu hijau, Kiana menunduk untuk mengambil sesuatu dari bawah. Wajahnya seketika menjadi gelap.
"Yovan, kamu membiarkan wanita lain duduk di kursi ini? Apa kamu punya simpanan di luar?"
Kiana mengangkat lipstik di tangannya dan berteriak pada Yovan dengan marah.
Bab 8
Yovan terkejut dan refleks melirik Rachel melalui kaca spion.
Rachel menundukkan kepalanya dengan rasa bersalah dan tidak berani berkomentar.
"Asistenku menggunakan mobil ini beberapa hari yang lalu. Kurasa dia membiarkan orang lain duduk di kursi ini. Aku pasti akan memarahinya nanti," ujar Yovan berpura-pura tenang.
"Sungguh?"
"Bagaimana kalau aku minta asistenku menemuimu besok untuk menjelaskannya?"
"Nggak usah."
"Sayang, kamu boleh mencurigai pria lain berselingkuh, tapi kamu nggak boleh mencurigaiku, karena aku paling mencintaimu."
"Paling mencintaiku? Jadi, selain aku, kamu juga mencintai orang lain?"
"Kata yang aku gunakan salah. Seharusnya, aku hanya mencintaimu."
Kiana berpura-pura berhasil dibujuk, lalu dengan senang hati mengamati lipstik itu.
"Eh, merek ini sering dipakai Rachel."
Rachel terperanjat. "Be… benarkah?"
"Hm, sepertinya pacar Pak Steven Andrea punya selera yang bagus."
Begitu sampai di kompleks perumahan mewah, di mana Rachel tinggal, Kiana bilang dia khawatir dan meminta Yovan untuk mengantar sahabatnya sampai ke atas.
Setelah keduanya naik ke atas, Kiana memiringkan kepalanya dan melihat ke jendela rumah Rachel, yang segera menjadi terang benderang.
Dia menyipitkan matanya. Apa yang akan mereka berdua lakukan di sana?
Mungkin keduanya akan berpelukan dan saling menenangkan. Lagian, dia sudah membuat keduanya ketakutan di sepanjang perjalanan. Mungkin keduanya sudah basah oleh keringat.
Namun, demi mencegah Kiana curiga, Yovan tidak tinggal lama dan langsung turun.
Mobil meluncur dan membawa keduanya pulang ke rumah. Saat mobil berhenti di garasi bawah tanah, Kiana membalikkan badan dan duduk di atas kaki Yovan.
"Sayang, sudah berapa lama kita nggak melakukan itu?"
Rambut panjangnya tergerai dan mengenai wajah Yovan.
Yovan memegang pinggang Kiana dengan kedua tangannya. Pria itu langsung tersentuh.
"Kiana, aku mencintaimu."
"Aku tahu."
Yovan mengulurkan tangannya ke bawah rok Kiana. Namun, baru saja Yovan menyentuh kakinya, dia langsung dicengkeram oleh Kiana.
"Ada apa?" Napas pria itu agak memburu.
Kiana berusaha menahan rasa jijik. Dia tersenyum pada Yovan, lalu bergerak mendekati leher pria itu, dan hendak menciumnya...
Yovan mengeratkan cengkeraman di pinggang Kiana, seakan menunggu untuk diberi hadiah oleh wanita itu. Seluruh tubuhnya melonjak kegirangan. Detik berikutnya…
"Sayang, kenapa ada bekas di lehermu? Apa karena terbentur? Eh, kalau terbentur, seharusnya bukan seperti ini. Tunggu sebentar, aku foto pakai ponselku."
Kiana buru-buru mencari ponselnya di tasnya. Yovan tiba-tiba teringat sesuatu. Dia merasa marah, cemas, dan juga bersalah.
"Mu... mungkin itu gigitan nyamuk. Ayo kita ke atas dulu."
Tanpa menunggu Kiana mengatakan apa pun, Yovan bergegas membuka pintu mobil dan keluar lebih dulu.
Kiana mencibir dalam hati. Rachel sudah diprovokasi olehnya malam ini. Tak disangka, Rachel berani berinisiatif membongkar kebenaran, tetapi Kiana tidak akan termakan tipuannya.
Setelah kembali ke rumah, ayahnya Yovan sudah beristirahat, jadi mereka berdua langsung naik ke atas.
Yovan mandi di kamar tamu. Selesai mandi, dia bilang dia masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan, jadi dia meminta Kiana untuk tidur lebih dulu. Pria itu pun pergi ke ruang kerja.
Kiana berbaring di tempat tidur. Dia menggunakan ponselnya untuk melihat rekaman CCTV di ruang kerja.
Yovan memasuki ruang kerja. Pria itu menendang kursi dengan marah, tetapi dengan cepat meluruskannya karena takut mengejutkan Kiana. Pria itu kemudian mengeluarkan ponselnya dan menelepon Rachel. Begitu Rachel mengangkat telepon, pria itu langsung menggeram. "Rachel, kamu sengaja melakukannya, 'kan? Kamu sengaja meninggalkan bekas di leherku agar Kiana sadar dan membongkar hubungan kita berdua?"
Entah apa yang dikatakan Rachel di ujung sana, Yovan langsung memukul meja dengan marah. "Sudah kubilang, aku akan jujur pada Kiana. Jadi, kamu nggak usah ikut campur!"
"Aku sudah menikah denganmu dan membiarkanmu memiliki anak, apa kamu masih belum puas? Yang kuberikan pada Kiana hanyalah cinta. Kamu masih ingin merebutnya?"
"Jangan gunakan trik seperti ini lagi. Kalau nggak, aku nggak akan segan-segan lagi!"
Selesai berbicara, Yovan menutup telepon. Pria itu duduk di kursi dan mengepalkan tangannya dengan marah.
Kiana merasa geli sekaligus tidak tahu harus berkata apa. Benarkah Yovan mencintainya? Ya, tentu saja. Namun seperti yang Yovan katakan, itu tidak menghalanginya untuk menikah dengan wanita lain dan punya anak dengannya.
Bab 9
Cinta seperti ini terlalu tidak berharga dan tidak tahu malu. Kiana sama sekali tidak membutuhkannya.
Rachel juga sama tidak tahu malunya. Dia mengaku sebagai sahabatnya, tetapi Rachel justru mengkhianatinya dari belakang.
Kiana mau dua orang ini menanggung akibat dari perbuatan mereka!
Keesokan paginya, Kiana sarapan bersama Keluarga Sumargo.
Ibunya Yovan memelototinya beberapa kali. Melihat Kiana tidak merespons, dia pun berkata dengan nada sinis, "Ada orang yang begitu nggak tahu diri. Dia kira perusahaan nggak akan bisa bertahan tanpa dirinya."
"Huh. Jangan-jangan dia menunggu kita memintanya kembali bekerja?"
"Kita sudah terlalu memandang tinggi dirinya. Itu sebabnya, dia punya pemikiran konyol seperti itu."
"Bu!" Yovan menggelengkan kepalanya pada ibunya. "Jangan bicara lagi. Makan saja."
"Sebagai ibu mertuanya, apa salahnya aku menegurnya? Aku lagi mengajarinya cara bersikap!"
"Terima kasih untuk ajarannya." Kiana menatap ibunya Yovan sambil tersenyum. "Aku nggak berguna. Aku nggak pernah memberikan proyek besar apa pun untuk perusahaan. Aku juga belum pernah menghasilkan uang untuk perusahaan. Sudah sepantasnya Ayah memecatku."
"Huh. Anggap kamu masih punya kesadaran diri." Ibunya Yovan tampak bangga.
"Oh ya, aku masih punya setumpuk dokumen yang belum kuserahkan, seperti proyek jalan komersial Grup Sagara, proyek vila mewah Gravias, oh ya, dan juga pusat perbelanjaan Januar." Kiana menatap ayah mertuanya. "Ayah, apa aku masih perlu pergi serah terima? Lagian, ini semua bukan proyek besar."
Wajah ayahnya Yovan menjadi gelap. "Tentu saja harus serah terima. Itu adalah tugasmu!"
Kiana menatap ibunya Yovan lagi. "Ibu mungkin belum pernah mendengar tentang proyek-proyek ini. Benar juga. Ibu kebanyakan menghabiskan waktu dengan menonton serial TV atau berkebun di rumah. Jadi, wajar saja Ibu nggak tahu proyek-proyek ini."
"Kamu!"
"Aku dipecat Ayah, jadi aku punya banyak waktu luang sekarang. Aku akan tinggal di rumah, menemanimu nonton acara TV, menanam bunga dan rumput. Kita berdua jadi orang santai saja, oke?"
Tekanan darah ibunya Yovan melonjak karena emosi. Apa yang terjadi dengan Kiana? Meski Kiana dulunya tidak begitu menyanjungnya, dia juga tetap menghormatinya. Kenapa setiap kata yang diucapkannya sekarang penuh duri?
Yovan terdiam beberapa saat, lalu menatap ayahnya dan berkata, "Ayah, biarlah Kiana kembali ke perusahaan. Meski bukan departemen proyek, departemen lain juga bisa."
Ayahnya Yovan melirik putranya dan berkata dengan dingin, "Departemen logistik kekurangan staf bersih-bersih. Memangnya dia mau?"
Yovan menatap Kiana lagi dan berkata, "Kiana, kamu bisa pergi ke departemen logistik untuk sementara. Nanti kalau ada lowongan di departemen lain, Ayah pasti akan mengatur agar kamu pergi ke departemen lain."
Mata Kiana berkedip beberapa kali. "Kamu mau aku jadi staf bersih-bersih?"
"Hanya untuk sementara saja."
Kiana berkata dengan nakal, "Kalian nggak takut aku menuangkan air bekas menyiram toilet ke dalam teko, lalu membiarkan kalian membuat teh atau kopi?"
Ayahnya Yovan langsung memperlihatkan ekspresi jijik. "Coba saja kalau kamu berani!"
"Aku hanya bercanda. Kalian malah menganggapnya serius?"
Lelucon ini tidak lucu. Berdasarkan temperamen Kiana, mungkin-mungkin saja dia melakukannya.
Yovan berpikir sejenak dan berkata, "Sebaiknya kamu beristirahat di rumah saja."
Setelah ayahnya Yovan dan Yovan berangkat kerja, Kiana kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian. Dia belum menyelesaikan serah terima, jadi dia harus kembali ke perusahaan. Hanya saja, kapan dia berangkat kerja dan kapan dia pulang kerja, semua itu tergantung pada suasana hatinya.
Tepat di saat dia meninggalkan rumah, Pak Ishan meneleponnya.
"Kiana, cepat datang ke kantor. Aku sudah lama memohon pada putraku. Akhirnya, dia mau bertemu denganku. Ini kesempatan bagus agar kamu bisa bertemu dengannya juga."
"Putramu begitu sibuk?"
Bahkan, ayahnya sendiri harus memohon agar bisa bertemu dengannya?
"Tentu saja. Putraku sangat sibuk."
Kiana merasa lucu. Dia ingin bertemu putra Pak Ishan, yang sangat sibuk itu.
Pak Ishan bilang, putranya begitu tampan sampai-sampai membuat orang jengkel. Hanya perlu lihat sekali saja, Kiana pasti akan jatuh cinta padanya.