Kesetiaan Yang Dikhianati

Đang tải thông tin quảng bá...

Kesetiaan Yang Dikhianati

GoodNovel Hoàn thành

Saat pernikahan aku dan David berjalan sembilan tahun, ayah kandungnya meninggal dunia. Butir pertama dalam wasiatnya adalah David harus punya seorang anak bersama Elvy. Genap sebulan kelahiran anak i...

Chương (1)

第1章

Saat pernikahan aku dan David berjalan sembilan tahun, ayah kandungnya meninggal dunia. Butir pertama dalam wasiatnya adalah David harus punya seorang anak bersama Elvy. Genap sebulan kelahiran anak itu akan menjadi hari resmi untuk David mewarisi harta peninggalan ayahnya. Aku mengetahuinya saat memergoki mereka sedang berduaan di ranjangku bersama David dan David yang bilang sendiri padaku. Malam itu, sambil merokok setelah bercinta, David berbisik pelan, “Lily, sabarlah sebentar lagi. Begitu warisan cair, aku akan menikahimu.” Sejak saat itu, setiap kali David ingin bertemu dengan Elvy di rumah kami, dia akan menggantungkan sebuah lonceng di pintu. Sejak kematian ayahnya hingga kini, lonceng itu sudah berbunyi sembilan puluh sembilan kali. Bab 1 Setelah kali ke sembilan puluh sembilan itu, terdengar kabar bahwa Elvy hamil, sekaligus diumumkan tanggal pertunangan mereka. Putriku melihat itu, lalu dengan ragu bertanya padaku, “Ibu, kok ada nama ayah di sini?” Aku tersenyum paksa, lalu merapikan kembali kepangan rambutnya yang berantakan. “Ayah akan menikah dengan orang yang dia cintai dan ibu juga harus membawamu pulang.” David tidak tahu, aku sama sekali tak pernah peduli surat pernikahan itu. … Hari ini, David mengajakku makan. Rapatnya belum selesai, aku lebih dulu tiba di ruang VIP yang sudah dipesan. Sambil menunggu, aku membuka ponsel, memeriksa ulang tiket pulang. Tepat musim liburan, jadi penerbangan terdekat pun baru ada sepuluh hari lagi. Sepuluh hari lagi, tepat di hari ulang tahunku. Juga bertepatan dengan tanggal pertunangan David dan Elvy. Kebetulan sekali, aku tak akan mengganggu di hari kebahagiaannya. Tiba-tiba, David mendorong pintu masuk. Aku reflek mematikan layar ponsel. Ruangannya cukup besar, tapi dia justru memilih duduk di sampingku dan menggenggam tanganku dengan akrab. Seketika, aku seolah kembali ke sembilan tahun lalu, di hari kami menikah diam-diam. Malam itu, dia memanjat jendela masuk ke kamarku, menggenggam tanganku, lalu dengan hati-hati mengecupnya. David yang masih muda begitu polos. Dengan suara bergetar, dia berjanji akan menemaniku seumur hidup. Namun kini, di jarinya jelas melingkar sebuah cincin. Aku mengenali merek itu, David hanya boleh memiliki sepasang cincin itu seumur hidupnya. Begitu tak sabarnya ingin terikat dengan Elvy? Permukaan cincin yang berkilau memantulkan cahaya lampu restoran, menusuk mataku hingga terasa perih. Mungkin menyadari tatapanku, David pun tersenyum canggung dan buru-buru melepas cincin itu. “Maaf… aku lupa melepaskannya.” Raut wajahku tetap tenang, tanpa gelombang emosi, “Kenapa harus dilepas? Itu memang punyamu.” David tertegun sejenak. Belum sempat bicara, ponselnya pun berdering. Dia mengangkatnya dan tak lama kemudian, raut wajahnya berubah muram. “Ditabrak dari belakang? Nggak parah katamu? Apa kata dokter? Tunggu aku! Aku ke sana sekarang!” Setelah menutup telepon, dia menatapku dengan wajah penuh keraguan. “Elvy ditabrak dari belakang saat menyetir, aku harus pergi melihatnya. Kamu juga tahu, dia sedang hamil, perlu dijaga. Kamu makan sendiri saja dulu, nanti biar aku gantikan lagi kencan ini, ya?” Tiba-tiba, aku merasa semuanya begitu membosankan. Aku pun merapikan tas, lalu berdiri, “Aku juga ada urusan mendadak, jadi pergi dulu.” David buru-buru menahan lenganku, “Kamu mengambek lagi? Lily, coba lebih pengertian sedikit, sebentar lagi semua ini akan berakhir!” Aku tak menjawab, hanya melepaskan genggamannya dan melangkah menuju pintu. “Lily! Lily! Tunggu!” Aku menarik napas panjang, lalu menoleh padanya, “David, aku benaran buru-buru.” “Aku sudah nggak sanggup menunggu lagi.” Sudah cukup, David. Aku melangkah cepat keluar ke jalanan, mendongakkan kepala, menelan kembali butiran air mata yang hampir tak terlihat. David, sepuluh hari lagi. Saat itu kita benar-benar akan berjalan di jalannya masing-masing. Bab 2 Putriku sakit, jadi aku meminta izin cuti dari kantor dan membawanya ke rumah sakit. Saat memesan taksi, aku terbiasa menyebutkan sebuah alamat. Begitu turun, baru kusadari itu adalah rumah sakit milik keluarga David. Putriku sedang menjalani proses pengambilan darah di samping, wajah mungilnya meringis kesakitan. Aku mengusap lembut kepalanya dengan hati pilu, sambil menenangkannya. Tiba-tiba, rumah sakit mendadak ramai. Aku menoleh dan melihat sosok yang sangat familiar berjalan ke arahku. Itu David. Aku baru teringat, beberapa hari lalu Elvy sempat kecelakaan dan ibu David langsung memutuskan agar dia masuk rumah sakit lebih awal untuk beristirahat. Dan sekarang, dia ada di lantai atas. David tampak baru saja menyadari keberadaan kami berdua, matanya pun membelalak. “Stella kenapa? Kenapa nggak bilang ke aku?” Aku mendengus dingin, lalu mengeluarkan ponsel dan membuka ruang obrolan kami, menunjukkan pesan yang kukirim tiga jam yang lalu. David terlihat canggung dan tidak berkata apa-apa. Setelah beberapa saat, tiba-tiba dia mengalihkan topik, “Kebetulan, ibuku menyuruhmu naik ke atas.” Aku menggendong putriku, memberi isyarat agar David menunjukkan jalan. Kamar Elvy berada di lantai teratas, kamar tunggal khusus keluarga David. Begitu masuk, aku langsung melihat Elvy sedang menahan perut besarnya dengan susah payah untuk turun dari ranjang. David segera menghampiri, memapahnya dengan wajah penuh kasih sayang. Tatapan ibu David menusuk ke arahku, penuh dengan ketidakpuasan seperti biasanya. Sejak awal, orang tua David memang tidak pernah mengakui keberadaanku. Meski aku sudah menjelaskan kalau nikah tanpa ikatan resmi adalah adat di daerahku, mereka tetap bersikeras menuduhku tak punya tanggung jawab dan wanita yang murahan. Begitu menoleh melihat Elvy, sikap ibu David langsung berubah total. Senyumannya begitu lebar. “Beberapa waktu lalu Elvy sempat trauma, untung saja ibu dan bayinya nggak apa-apa.” “Kalau begitu, semuanya sudah harus diputuskan.” Dia menepuk pundak putranya, lalu melirikku dengan pandangan yang jijik. “Putri dari wanita murahan juga tak mungkin jadi benih yang baik, hanya akan merusak nama keluarga.” “Di luar, cukup akui anak dalam kandungan Elvy itu anakmu.” David langsung mengernyit, “Ibu, ini keterlaluan. Bagaimanapun juga, Lily….” Aku menarik napas dalam, lalu menggendong putriku dan berjalan ke depan David. “Stella, ingat ya. Mulai sekarang panggil dia om, jangan panggil ayah lagi.” Lalu aku menoleh melihat ibu David dan berkata pelan, “Seperti keinginanmu.” David pun terdiam dan menatapku dengan panik. Stella yang tidak mengerti apa-apa hanya bisa memonyongkan bibirnya dan menangis. Aku tidak melihat ke arah David, hanya mencubit pipi Stella dan mencoba menenangkannya. Elvy tersenyum malu-malu dan menoleh padaku. “Kak Lily, waktu itu aku benar-benar takut, bayi ini hampir saja nggak selamat.” Dia menyeka ujung matanya, tampak begitu menyedihkan. “Aku dengar David bilang gelangmu itu bisa menenangkan dan menjaga kandungan, kamu juga memakainya waktu melahirkan Stella dulu.” Tatapan Elvy jatuh pada pergelangan tanganku, maksudnya jelas. Itu adalah hadiah peringatan hubungan kami yang ketiga dari David untukku. Bab 3 Aku tak berkomentar dan melepas gelang itu, tapi masih menggenggamnya erat di telapak tanganku. Seketika, suasana membeku. Lalu tiba-tiba aku tersenyum tipis, mengangkat gelang giok itu, lalu menyerahkan pada Elvy. David hanya menundukkan kepala tanpa sepatah kata pun sejak tadi. Menyedihkan sekali. Barusan aku masih berharap dia akan mengenali gelang ini, lalu menghentikan Elvy. Ternyata aku yang terlalu banyak berharap. Aku tersenyum dan berkata, “Kamu pasti terlihat cantik memakainya.” Kemudian aku menggendong Stella lebih erat, berbalik dan melangkah pergi. “Eh, Lily….” panggil David menahanku, tapi langsung dipotong oleh ibunya. “Biar saja dia pergi! Wanita seperti itu nggak ada gunanya di sini, malah nggak baik untuk si bayi….” Di sampingnya, Elvy terkejut dan berkata, “David, sepertinya bayinya gerak!” “Apa? Biar kurasakan….” Aku berjalan cepat, suara mereka makin lama makin jauh, hingga akhirnya tak terdengar lagi. Sampai di rumah, Stella masih belum bisa menerima kenyataan kalau dirinya sudah kehilangan sosok ayahnya. Wajah mungilnya tetap mengerut, air mata masih menempel di ujung mata, pipinya memerah karena terlalu banyak menangis. Dia menarik tanganku, berbicara dengan suara yang serak bercampur tangis, “Aku mau ayah merayakan ulang tahunku….” Hatiku ikut perih mendengarnya. Aku menyibakkan poni basahnya ke samping telinga, lalu menggendongnya ke pangkuanku. Kemudian, dengan lembut aku mengoreksi, “Stella, kamu harus panggil om sekarang. Dia bukan ayahmu lagi.” “Ikut ibu pulang ke rumah, ya?” “Tapi, bukannya ini rumah Stella?” tanya putriku dengan suara yang hampir serak karena menangis. “Ini rumah Om David, bukan rumah ibu dan Stella.” “Tunggu sebentar lagi, ibu membawamu pulang ke rumah, ya.” Mata Stella yang masih basah menoleh ke sudut ruang tamu, ke arah piano hitam. Itu adalah hadiah ulang tahunnya tahun lalu dari David. Saat itu, Stella begitu gembira. Seharian penuh berlarian sambil bersorak, merengek ingin diajari bermain piano oleh ayahnya. Lalu berkata dirinya adalah putri Stella paling bahagia di dunia. Saat itu, David tertawa dan terlihat tatapan matanya yang penuh kasih sayang seorang ayah untuk putrinya. Namun, semua itu sudah berlalu. “Bolehkah aku merayakan ulang tahun bersama ayah sekali lagi?” Dia masih begitu kecil, belum bisa memaksanya untuk mengganti panggilan. Aku pun tidak memarahinya, hanya mengusap lembut kepalanya dan menjawab, “Iya, nanti ibu bilang pada Om David.” Stella sudah ikut terseret ke dalam pertikaian orang dewasa yang penuh air mata. Yang bisa kulakukan hanyalah sebisanya memberi dia sedikit kebahagiaan yang utuh. Bab 4 Stella bangun lebih pagi dari biasanya di hari ulang tahunnya, lalu memilih gaun putri kesayangannya. Belajar dari pengalaman sebelumnya, aku sudah mengirim pesan pada David sejak tiga hari sebelumnya, tapi tidak ada balasan sama sekali. Stella baru saja selesai memainkan sebuah lagu di piano, lalu menoleh padaku dengan penuh harap. Dia sudah menyiapkan diri untuk memainkan lagu twinkle twinkle little star yang diajarkan David tahun lalu padanya dan beberapa hari ini dia selalu beratih berkali-kali. Namun, hanya satu tatapan di antara kami, seolah dia pun mengerti semuanya. Bocah kecil itu pun menunduk, lalu perlahan menutup tutup piano. “Ayah sibuk, nggak sempat datang.” Stella membuka kotak kue, memotong sepotong kue kecil. “Ibu, nggak apa-apa. Kita bisa dapat lebih banyak kalau hanya makan berdua.” Ketegaran hatinya yang dipaksakan itu, serasa menusuk dadaku dalam-dalam. Tiba-tiba, aku merasa begitu tak berguna. Bahkan tak mampu memenuhi satu keinginan kecil putriku. Aku menarik napas, lalu kembali membuka ruang obrolanku dengan David. [Stella hanya ingin merayakan ulang tahun sekali ini saja bersamamu.] [Kamu bahkan nggak bisa memenuhi keinginan sekecil ini?] Lima menit kemudian, terdengar suara notifikasi. [Kalian mulai saja dulu, aku bakal rayakan ulang tahun susulan untuk Stella.] Belum sempat aku marah, pesannya langsung ditarik, kemudian dia mengirim satu pesan baru. [Aku ke sana sekarang.] Bab 5 Mataku langsung berbinar dan meraih Stella ke dalam pelukanku. “Om David ingat! Dia bakal datang sebentar lagi!” Seketika, Stella langsung ceria kembali dan membuka lagi tutup pianonya. Lantunan piano pun mulai terdengar memenuhi ruangan. “Ayah pernah bilang kalau aku bisa memainkan lagu twinkle twinkle little star, berarti aku anak pintar!” “Ayah pasti akan sangat terkejut nanti!” Sejak mendapat kabar itu, Stella terus bergumam penuh semangat, senyuman bahagia terukir di wajahnya. Setengah jam kemudian, bel rumah berbunyi. Stella meloncat-loncat kegirangan, berlari membuka pintu dan langsung terjun ke pelukan David. “Ayah!” Namun, Elvy berdiri di samping David, sementara di belakang mereka masuk rombongan besar tamu undangan, para tokoh terpandang di kalangan elit. “Kok ada anak kecil yang asal memanggil orang ayah di rumah pernikahan David?” “Siapa wanita itu? Bisa-bisanya masuk ke sini?! Cepat usir keluar!” “Benar-benar sial….” Satu per satu komentar pedas itu masuk ke telingaku. Tak lama kemudian, beberapa pengawal mendekat dan siap menyeretku pergi. Hatiku langsung diliputi firasat buruk. David benar-benar tega menyingkirkan kami dengan cara seperti ini? Jantungku berdetak kencang. Aku menatapnya lekat-lekat, seolah tak peduli dengan hiruk-pikuk di sekeliling. Dengan suara nyaris berbisik, aku memanggilnya, “David?” Namun, David reflek menyingkirkan Stella dari pelukannya, lalu menatapnya dengan marah, “Siapa yang menyuruhmu asal panggil begitu?!” Setelah itu, dia menghindari tatapanku dan berkata pada semua orang, “Kami memang pernah bertemu, tapi nggak kenal. Mereka mungkin hanya sengaja datang untuk cari masalah.” Entah sengaja atau tidak, Elvy sibuk memainkan gelang giok di pergelangan tangannya. Dadaku serasa dihantam batu yang keras, seakan seluruh isi tubuhku ikut remuk. Sembilan tahun kebersamaan dan kini hanya digantikan dengan ‘mencari masalah’. Stella terdorong ke belakang hingga hampir terjatuh. Matanya langsung berkaca-kaca. Dia menarik napas tersengal, lalu dengan hati-hati mengganti panggilannya, “Om David….” Dengan langkah terhuyung, Stella kembali ke arah piano dan duduk di bangkunya. Dia berkata dengan suara pelan, “Ayah… Om David, aku mau mainkan lagu untukmu.” Stella sangat ingin bisa merayakan ulang tahun bersama ayahnya. Dan dengan kepolosannya, dia percaya kalau menghidupkan kembali kenangan kecil itu, ayahnya akan kembali seperti dulu. Namun, belum sempat jarinya menyentuh tuts pertama, sebuah tangan sudah menahan gerakannya. Pergelangan tangan yang putih dan ramping itu seakan mudah sekali dipatahkan. Elvy tersenyum penuh kemenangan. Dengan sikap layaknya nyonya rumah, dia berkata, “Anak haram jangan mengacau di rumah pernikahan kami.” Wajah Stella langsung pucat. Air matanya pun jatuh dan menetes ke lantai. Namun, tidak ada seorang pun yang menunjukkan belas kasihan. Melihat air mata putriku, tiba-tiba amarahku meledak. Aku berhasil melepaskan diri dari cengkeraman beberapa pengawal bertubuh besar, meraih vas kaca di samping dan menghantamkannya ke arah David. David tak sempat menghindar, sudut tajam pecahan kaca itu menyayat keningnya, meninggalkan luka berdarah. “Apa-apaan, berani-beraninya ganggu anak kecil!” Napasku terengah-engah dan dengan mata berkaca-kaca, aku menatap David tanpa berkedip. Kebenarannya cukup sederhana. Pesan itu sama sekali bukan dari David. Itu ulah Elvy yang sengaja ingin memanfaatkan tangan David untuk mempermalukanku habis-habisan di depan semua orang. Dengan begitu, David pun bisa dipaksa benar-benar memutuskan hubungan dengan kami. Namun, aku tak berniat ikut dalam drama keluarga ini. Bab 6 Tiba-tiba, sekeliling menjadi sunyi, semua orang terkejut sampai tak bisa berkata-kata. Mereka berpikir, berani-beraninya wanita aneh ini menantang putra mahkota ini, benar-benar cari mati. Sementara David hanya menutup luka di keningnya dan bibirnya terkatup erat. Elvy panik, sambil menopang perutnya, dia melototiku, tak peduli dengan citra anggunnya, lalu mengibaskan tangan dan berteriak, “Beraninya kamu! Bisa-bisanya memukul David?! Cepat! Hajar dia!” Para pengawal langsung serempak menyerbu, memukul dan menendangku. Aku berusaha melawan, tapi tubuh perempuan tak mungkin bisa menahan serangan beberapa pria kekar. Aku ditekan terungkup di lantai, hanya bisa meringkuk erat melindungi bagian tubuh yang vital. Stella menjerit, lalu menangis keras sambil berlari ke arahku. Dia mencoba menahan hujan pukulan itu dengan tubuh mungilnya. Aku memanggil namanya dengan lemah, tapi tak punya tenaga untuk mendorongnya. Aku hanya bisa memaksa menggulingkan badan, menutupi tubuh kecilnya dengan tubuhku sendiri. Dengan sisa tenaga yang ada, aku membuka mata sedikit, menatap David yang berdiri tak jauh dari sana. Bibirnya bergetar, tapi tak ada sepatah kata pun yang keluar. Aku menutup mata dengan pasrah, membiarkan rasa sakit setiap pukulan itu menembus tulangku. Aku bahkan sudah kehilangan tenaga untuk membenci. David, mulai sekarang, kita sudah tidak ada hubungan apapun lagi. Tangisan Stella yang begitu pilu, seolah menggoyahkan David, membuatnya tersadar dari kebekuannya. “Cukup! Hentikan! Elvy, suruh mereka berhenti!” bentak David dengan suara tajam. Barulah setelah itu, Elvy melambaikan tangan, mengisyaratkan mereka untuk berhenti. Aku terengah-engah, beberapa kali mencoba bangun dari lantai, tapi tak berhasil. Sikut tanganku bergesekan dengan lantai sampai lecet, darah pun mengalir. Luka itu tampak jauh lebih serius dibanding goresan di kepala David. Akhirnya, Stella memapahku berdiri. Untung saja, karena aku melindunginya tadi, dia tidak mengalami luka yang serius. Elvy berdiri di tengah kerumunan, dikelilingi banyak orang, tapi wajahnya masih tampak tidak puas. Seakan-akan dialah yang terluka paling parah. Seluruh tubuhku terasa kaku, seperti besi berkarat. Tapi, aku tetap berusaha menggenggam erat tangan Stella. Mulai sekarang, kami hanya bisa hidup saling bergantung satu sama lain. Aku terakhir kali berinisiatif menatap mata David, tapi yang kulihat hanyalah kehampaan tanpa gelombang. Aku pun berkata, “Maaf semuanya, kami yang sudah mengganggu.” Aku menundukkan kepala sedikit sebagai tanda permintaan maaf, lalu menegakkan punggung dan perlahan melangkah keluar dari rumah itu. Stella tidak melawan kali ini, hanya bertanya padaku dengan pelan, “Ibu, kita nggak ambil koper?” Aku menggeleng. “Anggap saja sudah kebakaran dan semuanya habis terbakar.” Larut malam begini, pilihan untuk bermalam tidak banyak. Jadi, aku terpaksa memesan kamar hotel seadanya. Untungnya kamarnya cukup bersih. Kebetulan juga, ulang tahunku dan ulang tahun Stella hanya beda sehari. Besok adalah ulang tahunku. Akhirnya, sudah waktunya pulang. Tiba-tiba, ponselku menyala dua kali. Aku membuka dan terlihat pesan dari David. [Beberapa hari ini jangan pulang dulu. Besok Elvy ada jadwal periksa kandungan, aku harus menemaninya.] [Nanti bakal kujelaskan padamu.] Aku menatap layar cukup lama, berkali-kali mengetik dan menghapus. Akhirnya, hanya mengirim satu kalimat.