Đang tải thông tin quảng bá...
Jika Hidupmu Tinggal 72 Jam
Hari ketika aku memutuskan untuk mendonorkan tubuhku untuk kajian ilmiah, keluargaku justru berkumpul mengelilingi adik angkatku, Halida, merayakan diterimanya dia dalam sebuah program perawatan ekspe...
Chương (1)
第1章
Hari ketika aku memutuskan untuk mendonorkan tubuhku untuk kajian ilmiah, keluargaku justru berkumpul mengelilingi adik angkatku, Halida, merayakan diterimanya dia dalam sebuah program perawatan eksperimental paling canggih.
Seharusnya akulah yang menderita kanker otak. Tapi Halida menggunakan posisi suamiku, Zafran, di rumah sakit untuk menukar catatan medisnya yang sehat dengan diagnosis terminalku, merebut satu-satunya kesempatan yang kupunya untuk bertahan hidup.
Dan bagian terburuknya, semua orang bersorak mendukungnya.
Rasanya sakit sekali. Aku berusaha tetap kuat, sampai tanpa sengaja mendengar para perawat berbisik, "Bagus sekali Dokter Zafran bisa mengamankan tempat itu untuk Halida. Mereka bilang dia hanya punya tiga hari lagi."
Jadi, dalam 72 jam terakhir hidupku, aku perlahan melepaskan segalanya.
Ketika aku memberikan naskah asli novel-novelku yang sudah kutuang seluruh hati dan jiwaku kepada Halida, ayah dan saudaraku menatapku dengan senyum puas.
Ketika Zafran memutuskan untuk memenuhi permintaan terakhir Halida dengan menikahinya, dia menyerahkan surat cerai padaku. Aku menandatanganinya tanpa ragu sedikit pun. Dia menghela napas dan memuji aku karena akhirnya bisa berpikir begitu rasional.
Dan ketika akulah yang membujuk putri kami, Olivia untuk memanggil Halida Ibu, Olivia justru berseri-seri mengatakan bahwa ibu barunya adalah yang terbaik.
"Jangan khawatir." Zafran menenangkanku. "Kami hanya menjaganya untuk sementara. Setelah dia tiada, semuanya akan kembali padamu."
Aku memberikan pada Halida segalanya yang kupunya, persis seperti yang mereka mau. Lalu kenapa, ketika mereka akhirnya tahu semua ini hanyalah kebohongan kejam Halida, mereka datang padaku sambil menangis, berkata akulah yang mereka inginkan sejak awal?
Bab 1
Tubuhku seperti hancur perlahan, rasa sakitnya ada di mana-mana sekaligus tak bisa kutunjuk.
Dengan tangan gemetar, aku mengambil keluar sisa terakhir obat penghilang rasa sakit dari tas kecilku.
Tiga hari untuk hidup. Bagus. Harusnya cukup.
Pil itu larut di bawah lidahku, memberiku secuil kekuatan. Aku memanggil taksi menuju vila pinggir laut.
Begitu kudorong pintu dan masuk, aku tertegun. Halida sedang berbaring di sofa putih ruang tamu. Ayah duduk di sampingnya mengupas apel, sementara kakakku merapikan bantalnya.
Aku berdiri di ambang pintu, tiba-tiba sadar betapa asingnya posisiku di rumah ini.
Saat itu juga, ponselku berdering. Pusat donasi menelepon untuk mengonfirmasi pengaturan. Zafran yang mendengar ikut menoleh, keningnya berkerut.
"Donor organ? Untuk siapa?"
Aku memaksakan senyum lemah dan getir. "Untuk aku."
Kata-kata itu belum selesai keluar sepenuhnya, ketika tawa kering penuh ejekan memotong udara. Itu suara kakakku, Adrian.
"Clara, kamu sudah selesai berpura-pura jadi korban?"
"Kalau kamu mau terus berpura-pura begini, seharusnya kamu tidak usah pulang sama sekali."
Ayah menatapku dingin lalu melemparkan sapu ke kakiku.
"Jangan membongkar aib keluarga di depan orang lain," katanya tajam. "Entah dari mana sifat dengki ini muncul, sejak kecil kamu iri sama Halida. Dan sekarang? Masih tega melawan dia demi tempat di uji klinis yang bisa menyelamatkan nyawanya?"
"Kalau kamu masih punya tenaga untuk pura-pura sakit, berarti kamu juga punya tenaga untuk melakukan hal berguna. Sapu lantai sana."
"Apa dosaku hingga punya adik seperti kamu?" Kakakku mencibir sambil menunjukku. "Harusnya kamu pergi bersama Ibu dulu waktu ada kesempatan."
Halida sambil berpura-pura lemah, sempat melemparkan senyum mengejek penuh kemenangan tepat ketika ayah dan kakakku memalingkan muka.
Aku hanya menundukkan kepala tak mengatakan apa pun.
Aku sudah terlalu sering mendengar kata-kata seperti itu. Dari ayah dan kakakku sejak kecil, dan kemudian dari Zafran.
Di mata mereka, akulah yang cemburu, akulah yang kejam.
Kali ini, Zafran bahkan sampai membawa Halida ke sini, ke vila pinggir laut tempat kisah cinta kami dulu dimulai.
Aku yang dulu pasti sudah menangis histeris. Aku akan berteriak, berusaha membuka topeng Halida di depan semua orang.
Meski sebenarnya tidak ada satu pun yang pernah percaya dengan kata-kataku.
Tapi sekarang, aku sudah tidak punya tenaga lagi. Lagi pula, bagi seorang wanita yang sekarat, semua itu sudah tidak ada artinya.
"Tapi karena kamu di sini, ada sesuatu yang perlu kita bicarakan," kata ayahku.
Aku tersenyum getir. "Ayah, aku juga punya sesuatu untuk disampaikan."
"Halida mau hak penerbitanku, kan? Aku sudah pikirkan. Akan kuberi padanya."
Ayah dan kakakku menatapku kaget.
Tepat saat itu Zafran masuk, tertegun mendengar kata-kataku. "Clara, kamu serius? Kamu benar-benar setuju dengan ini?"
Aku hanya tersenyum tipis dan mengangguk.
Aku bisa mengerti kenapa mereka begitu terkejut dan terus-menerus bertanya.
Halida sudah lama menginginkan hak penerbitanku. Ayah dan kakakku sudah mencoba segala cara, membujuk, mengancam, supaya aku menyerahkan bisnis yang susah payah kubangun.
Lebih tepatnya, mereka selalu berharap aku menyerahkan semua milikku kepada adik tersayangku, Halida, tanpa imbalan apa pun.
Tapi novel-novel itu adalah sesuatu yang sudah kucurahkan darah, keringat, dan air mata bersama ibuku, dan aku tidak pernah goyah, apa pun yang mereka katakan.
Sekarang semuanya tidak lagi penting.
Yang tersisa hanya rasa bersalah karena aku telah mengecewakan Ibu.
Melihat aku sungguh-sungguh, kerutan di kening Zafran mengendur. Dia melangkah mendekat lalu memelukku. "Luar biasa, Clara!"
"Terima kasih sudah melakukan ini untuk Halida."
"Meskipun dia masih dalam perawatan, aku tahu dia akan mengelolanya dengan baik."
Aku melepaskan diri dari pelukannya dan menyerahkan surat perjanjian pengalihan pada Halida.
Setelah Halida menandatanganinya, ayah dan kakakku berseri-seri, menggenggam tanganku dan terus memujiku sebagai anak yang baik.
Aku diliputi oleh rasa tak masuk akal.
Suamiku, ayahku, dan kakakku, orang-orang yang paling kucintai hanya mau tersenyum padaku ketika aku menyerahkan segalanya pada Halida.
Tapi aku juga penasaran. Nanti, ketika mereka akhirnya melihat siapa Halida sebenarnya, dan ketika mereka sadar akulah yang benar-benar sudah tiada... apakah mereka akan menyesal?
Obatnya sudah tidak mampu menahan sakit itu lagi, dan keringat dingin mulai membasahi dahiku.
Aku berbalik dan masuk ke kamar tidur.
Saat terbangun, putriku, Olivia sudah pulang dari sekolah. Dia duduk diam di samping ayahnya di ruang tamu.
Tubuhku yang sudah tinggal kulit dan tulang membuat langkahku tak bersuara di lantai. Mereka begitu asyik sampai tidak menyadari kehadiranku.
Zafran sedang melakukan panggilan video dengan Halida, menjelaskan beberapa tindakan pencegahan operasi dan detail medis terkait. Olivia mendengarkan dengan serius di sisinya, matanya fokus dan patuh.
"Sebelum operasi, jangan coba-coba makan tengah malam atau minum apa pun, ya? Kamu harus benar-benar kosong supaya operasinya berjalan maksimal. Kuharap kamu dalam kondisi terbaik."
Ironis sekali. Aku sudah hampir mati, dan baru sekarang aku melihat sisi suamiku yang sabar dan penuh perhatian pada seorang pasien.
Aku teringat dulu pernah sekali meminta dia berbagi pengetahuan medis profesional untuk sebuah detail di novel baruku.
Dan apa yang dia katakan waktu itu?
"Clara, novel cengeng yang kamu tulis itu tidak butuh akurasi ilmiah sampai segitunya." Dia bahkan tidak menoleh dari pekerjaannya.
Dia tidak pernah membaca satu kata pun dari tulisanku, selalu menyepelekannya sebagai hobi yang tidak berharga.
Awalnya, aku berusaha tidak terlalu memikirkannya. Aku bilang pada diriku sendiri, aku hanya perlu percaya pada karyaku.
Tapi kemudian tibalah hari ketika aku melihat Olivia berdiri di atas tumpukan bukuku yang sudah diterbitkan, berusaha meraih sebuah kotak musik di rak yang tinggi. "Aku mengambilnya untuk Tante Halida," katanya dengan polos.
Saat itu, rasa tidak berharganya begitu menghancurkan.
Aku sudah mencurahkan hati dan jiwaku untuk keluarga ini, tapi tidak mendapat secuil pun rasa hormat.
Dulu mungkin aku akan jadi histeris, tapi sekarang, aku hanya berjalan tenang melewati mereka dan duduk di sofa, merapikan berkas-berkas di tasku.
Melihat aku diam saja, Zafran berhenti bicara. Dia terhenti sejenak, lalu berjalan mendekat.
"Clara, ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu hari ini."
Zafran mengusap hidungnya, itu kebiasaannya kalau gugup. DIa ragu-ragu sebelum bicara.
"Ini tentang adikmu, Halida."
Jantungku langsung merosot, firasat buruk menusukku.
Dan detik berikutnya, kata-kata Zafran membuatku terpaku.
"Beberapa hari terakhir Halida sangat rapuh. Ayah dan kakakmu berpikir... yah, mereka berharap aku menikahinya. Untuk mewujudkan keinginannya jadi seorang pengantin sebelum ajal."
Bab 2
"Kita harus bercerai dulu," kata Zafran, suaranya dingin tanpa kehangatan.
Dering tajam memenuhi telingaku, seolah-olah jiwaku sedang dicabik keluar dari tubuh.
Butuh waktu lama sebelum akhirnya aku bisa menemukan kembali suaraku.
"Jadi... itu yang ingin kamu sampaikan padaku?"
Zafran tidak berani menatap mataku. Dia hanya menghela napas panjang.
"Clara, aku tahu Halida bukan saudara kandungmu, tapi ayahmu sudah mengadopsinya. Dia sudah hidup bersamamu sejak lama. Dia bagian dari keluarga."
"Ini cuma formalitas. Memenuhi permintaan terakhirnya adalah hal yang benar untuk dilakukan."
"Lagipula, bahkan dengan uji klinis itu, waktunya tidak banyak. Setelah dia pergi, aku tetap akan jadi suamimu."
Sebelum aku sempat bereaksi, Olivia menghampiri dan menarik ujung lenganku. "Anggap saja ini seperti sebuah sandiwara, oke? Demi mimpinya Tante Halida."
Suara polos anak kecil itu menusuk hatiku bagai pisau.
Aku menatap ayah dan anak yang ada di depanku.
Pria ini, yang dulu pernah memelukku erat dan bersumpah akan mencintaiku selamanya.
Anak ini, yang dulu selalu meringkuk di pelukanku dan memanggilku Ibu.
Aku tidak pernah mengkhianati siapa pun. Tidak pernah menyakiti siapa pun.
Aku sudah berusaha sekuat tenaga jadi anak yang baik, adik yang baik, istri yang baik, ibu yang baik. Aku sudah memberikan segalanya untuk keluarga ini. Tidak ada yang perlu aku sesali.
Dan sekarang, orang-orang terdekatku justru bersatu untuk merampas segalanya dariku.
Cinta, keluarga, bagi mereka semua itu hanya sesuatu yang bisa diinjak sesuka hati.
Tapi saat ini, kalau Halida mau semuanya, biarlah.
Aku sudah tidak menginginkan apa pun lagi.
Bibirku kering pecah-pecah, tenggorokanku tercekat, tapi aku hanya mengangguk.
"Baiklah."
Zafran jelas tidak menyangka aku akan setuju begitu mudah. Sekilas ada bayangan terkejut, bahkan sedikit lega di matanya.
"Kamu serius?"
Tanpa membuang waktu, dia menarik sebuah map dari tas kerjanya dan menaruhnya di meja ruang tamu.
Dia memang sudah menyiapkan surat cerai dari awal.
Aku tertawa dengan nada mengejek.
Dokter Zafran Pratama, ahli bedah terbaik di kota ini...
Begitu tergesa ingin bercerai sampai tidak repot-repot lagi untuk berpura-pura.
Tanda tanganku untuk terakhir kalinya menggores kertas dan berhenti di samping miliknya.
Zafran menatapku menandatangani, wajahnya campuran rumit antara lega, rasa bersalah, dan secuil kebebasan yang tak bisa ia sembunyikan.
"Clara," katanya dengan suara jernih. "Sayang, begitu Halida tiada, kita akan menikah lagi. Aku bersumpah akan menebus semuanya."
"Kamu sudah berubah. Kamu sekarang jauh lebih pengertian. Aku dulu terlalu egois, terlalu sibuk kerja, tidak pernah benar-benar menjagamu."
"Setelah semua ini selesai, aku akan memperbaikinya."
Olivia bertepuk tangan riang. "Ibu, kamu yang terbaik! Jadi sekarang aku boleh panggil Tante Halida Ibu juga, kan?"
Kalimat itu menghancurkan sisa tipis harapanku.
Aku tidak lagi punya ekspektasi apa pun pada keluarga ini.
Sekarang, yang tersisa hanyalah menunggu kematian dengan tenang.
Aku berdiri, berharap menemukan sedikit kedamaian dengan mencuci piring di dapur.
Tepat ketika aku menyalakan keran, setetes hangat jatuh di punggung tanganku.
Itu darah. Merah terang.
Aku menyentuh hidungku, dan jariku berlumur merah.
Dunia berputar. Gelombang pusing menghantamku, dan lantai menyambut tubuhku sebelum aku sempat meraih pegangan apa pun.
Dalam detik terakhir kesadaranku, wajah panik Zafran terlihat kabur di pandanganku.
Saat aku sadar kembali, bau debu menusuk hidung.
Aku masih terbaring di lantai dingin.
Alis Zafran berkerut, matanya berkilat jengkel.
"Clara, kamu melakukan ini lagi?"
"Mimisan, pingsan... bisakah kamu berhenti kekanak-kanakan? Kamu tidak perlu begini hanya untuk menghindari pekerjaan rumah."
Olivia mundur sambil mencubit hidungnya. "Ibu, kita semua tahu kamu pura-pura! Norak banget kamu niru-niru Tante Halida."
Zafran berlutut, sorot matanya penuh kekecewaan.
"Clara, menandatangani berkas-berkas ini tidak berarti aku tidak mencintaimu. Kamu tidak perlu membuat drama kecil seperti ini hanya untuk mengujiku."
Aku hanya diam, menyeka hidung dengan tisu.
Darah cepat berhenti.
Dan saat itu aku mengerti.
Obat penghilang rasa sakit tidak hanya menahan perih, tapi juga menghapusnya, membuatku terlihat sehat di luar.
Selama tiga hari ini, aku tampak seperti orang normal.
Bahkan jika gejala sesekali muncul, mereka akan menganggapnya sekadar ledakan emosional.
Obat ini jauh lebih manjur dari perkiraanku.
Begitu manjur, sampai mereka sama sekali tidak akan curiga.
"Aku sudah lihat hasil patologi kamu. Kamu baik-baik saja. Ayahmu dan kakakmu lagi bawa Halida jalan-jalan, aku mau jemput mereka sekarang."
Sekilas ekspresi Zafran sempat berubah, tapi lenyap secepat kilat.
Aku berusaha bangkit, lututku lemah tapi masih bisa menopang.
"Mungkin karena gula darah rendah. Aku baik-baik saja."
Aku membersihkan tanganku dan menatap Zafran.
"Kalau Halida sudah kembali..." ucapku dengan senyum dingin di bibir. "Aku akan memberikan vila ini padanya. Biar dia mati dengan bahagia."
Bab 3
Begitu mendengar ucapanku, Zafran sampai begitu terkejutnya hingga lupa menyambut ayahku, kakakku, dan Halida yang baru saja kembali.
Dia buru-buru menghampiriku, menggenggam lenganku, wajahnya penuh ketidakpercayaan.
"Clara, kamu benar-benar mau memberikan vila itu pada Halida?"
Aku bingung.
Mereka selalu berpihak pada Halida, selalu menuruti apa pun yang dia inginkan seolah-olah mereka rela memetikkan bintang di langit untuknya.
Setiap kali aku berbeda pendapat, mereka tidak pernah mau peduli padaku.
Lalu kenapa sekarang, ketika aku sendiri yang rela memberikan vila, simbol dari hari-hari paling murni dalam cintaku dengan Zafran, justru mereka yang tidak bisa memahaminya?
Ayah dan kakakku segera mengelilingiku.
Tangan ayah menepuk pundakku, begitu berat sampai aku hampir terhuyung.
"Clara, aku tahu kamu memang yang paling baik dan paling murah hati!" katanya dengan suara bergetar haru. "Jangan khawatir, kita cuma meminjamkan rumah ini ke Halida sebentar saja. Setelah dia pergi..."
Kakakku menggenggam tangan Halida, matanya berkaca-kaca.
"Halida, dengar itu? Clara juga memberikan rumahnya padamu. Inilah arti keluarga, saling membantu."
Saling membantu?
'Ayah, Kak... apa kalian benar-benar percaya Halida pernah membantuku?'
Kalian tidak pernah melihat apa yang tersembunyi di balik topeng palsunya.
Seperti sekarang, duduk di kursi rodanya, dia justru mengacungkan jari tengah padaku dengan senyum kemenangan di wajahnya.
Zafran langsung mengeluarkan ponselnya.
"Johan? Ini Zafran Pratama. Datanglah ke vila sekarang. Kita mau tanda tangan."
Dia begitu tergesa, seolah takut aku akan berubah pikiran kapan saja.
Rasa logam dari darah naik ke tenggorokanku. Aku meraih gelas air di meja, tapi tanganku mulai gemetar hebat.
Gelas itu terlepas, pecah berhamburan di lantai, serpihannya beterbangan.
"Clara, kenapa kamu ceroboh sekali? Katanya penulis, lihat dirimu, tanganmu gemetar begitu parah sampai hampir tidak bisa pegang pena! Memberikan hak penerbitan ke Halida memang keputusan terbaik!" ucap Adrian dengan dahi berkerut.
Aku menatap tanganku yang gemetar, lalu akhirnya tak kuasa menahan diri, aku menoleh pada mereka.
"Ayah, Kak..." bisikku lirih. "Kalau aku yang sekarat... kalian akan peduli padaku juga?"
Tapi kakakku hanya melambaikan tangan seakan menepis.
"Kamu cuma stres belakangan ini. Tenanglah! Lihat dirimu, wajahmu segar sekali, sehat-sehat saja."
"Justru Halida yang harus kamu khawatirkan. Lihat dia yang makin kurus. Rasanya hati remuk melihatnya."
Sambil berkata begitu, ayah mengusap kepala Halida.
"Betul sekali!" seru Olivia. "Ibu kan kuat dan sehat. Tante Halida yang benar-benar butuh dijaga!"
Mendengar Olivia mengulang kata-kata mereka, langkahku goyah. Zafran pasti mengira aku akan membuat keributan.
"Setelah kamu tanda tangan, lebih baik periksa ke rumah sakit. Aku suruh salah satu anak magang yang periksa."
Betapa ironis. Seorang ahli bedah ternama, menyuruh istrinya diperiksa oleh anak magang.
Tak apa. Aku tidak akan merepotkan kalian lebih lama.
Aku berbalik pada Olivia, tersenyum samar.
"Olivia, karena vila ini sekarang untuk Tante Halida, gimana kalau kamu pilihkan kamar untuknya?"
"Mau kamar utama yang menghadap laut, atau kamarmu sendiri?"
Mata Olivia berbinar penuh semangat. "Aku benar-benar boleh pilih?!"
Aku memberinya senyum tipis.
"Kalau kamu sudah memilih kamar, kamu bisa bersama Tante Halida setiap hari. Dia bisa selalu ada di dekatmu."
"Pikirkan baik-baik kamar mana yang kamu mau."
Olivia melompat kegirangan. "Aku mau kamar utama yang menghadap laut! Itu yang paling cantik! Ibu memang terbaik!"
Lalu dia melepaskan tanganku dan berlari ke arah Halida. "Tante Halida, mulai sekarang kita boleh tinggal di kamar yang menghadap laut, kan?"
Ayah, kakakku, dan Zafran menatap adegan itu dengan wajah penuh persetujuan.
Aku berbalik, mengambil satu pandangan terakhir.
Ayah dan kakakku bersama Halida memanjakan Olivia, sementara Zafran berdiri tersenyum puas.
Aku bertanya-tanya apakah dia bahkan masih ingat bahwa dia membeli rumah ini sejak awal karena aku yang bilang ingin tinggal di tepi laut.
"Lewat sini, Clara," katanya waktu itu dengan mata yang penuh cinta. "Supaya kamu bisa melihat laut kesayanganmu setiap hari."
Tapi kini, tak ada lagi diriku di matanya.
Aku menutup pintu vila dan melangkah pergi.
Dengan hanya 24 jam tersisa dalam hidupku, aku tidak punya tempat tujuan.
Udara lembap bercampur asin dari laut menyapu wajahku.
Aku menaiki feri menuju pulau kecil di seberang Teluk Aruna.
Pusing semakin menjadi-jadi, pandanganku gelap bergelombang.
Aku tahu waktuku tidak lama lagi.
Sebelum kegelapan menelanku sepenuhnya, aku mengambil tas, mencari ponsel.
Dengan sisa tenaga terakhir, aku melakukan satu panggilan terakhir.
Lalu segalanya menjadi gelap. Setelah itu aku tak sadar lagi..
Bab 4
Hal pertama yang kulihat saat aku terbangun adalah langit-langit yang penuh noda air.
Udara terasa pekat dengan bau disinfektan yang menusuk.
Aku melirik jam di dinding.
Enam jam lagi sebelum aku mati.
"Clara? Clara, Sayang, kamu bisa dengar aku?"
Sebuah suara, begitu akrab namun terasa jauh menarikku kembali dari kegelapan.
Aku berusaha memutar kepala, dan pandanganku jatuh pada wajah yang tak pernah aku sangka bisa kulihat lagi.
Itu ibuku.
Wajahnya tampak lelah karena perjalanan, matanya merah berair saat ia menggenggam tanganku yang dingin seperti es.
Orang tuaku bercerai sejak aku kecil. Ibu adalah seorang ilmuwan brilian dan sebuah proyek super rahasia membawanya pergi untuk waktu yang terasa seperti selamanya.
Dia ingin membawaku bersamanya.
Tapi di hari ketika ia seharusnya pergi, ayah dan kakakku memelukku erat sambil menangis, memohon agar aku tidak ikut, bersikeras bahwa keluarga kami tidak akan bertahan tanpaku.
Hatiku hancur melihat mereka, jadi aku memilih untuk tinggal.
Sejak hari itu, kenangan tentang ibuku terasa seperti kehampaan yang menusuk di dadaku, sebuah kerinduan yang terus-menerus. Sangat menyakitkan.
Dialah satu-satunya orang di dunia yang pernah benar-benar mencintaiku.
Aku tahu seharusnya aku tidak menariknya keluar dari fase paling krusial dalam pekerjaannya, tapi aku sudah tidak punya siapa pun lagi.
"Astaga, Clara! Bagaimana kamu bisa membiarkan ini terjadi?"
Suara ibu bergetar, sarat dengan amarah yang panasnya seakan bisa membakar. "Bajingan itu, Zafran dan ayahmu serta kakakmu yang tolol! Bagaimana mereka bisa membiarkan ini menimpamu?"
"Bukankah kalian selalu pamer hidup sempurna di Instagram? Dan sekarang dokter bilang kamu sekarat? Apa-apaan ini?"
Aku mengerjap lemah, gelombang kesedihan dalam menyapu diriku. Dia benar. Aku bertahan demi mereka, dan mereka menyeretku langsung ke neraka.
Tenggorokanku terlalu perih untuk bersuara. Dengan sisa tenaga yang ada, aku hanya menggerakkan mata ke arah meja kecil di samping ranjang.
Ibu langsung mengerti. Dia membuka tas tanganku dan setelah mencari sebentar, lalu menemukan dokumen hukum itu.
Wajahnya membeku saat membaca lembar-lembar itu. Dengan hati-hati dia menyimpannya kembali, sementara kesedihan di matanya tampak seperti badai yang siap meledak.
Tiga jam tersisa.
Aku sudah menolak semua tindakan medis untuk menyelamatkan nyawa.
Ibu mengangkat ponselku. Sebuah pesan baru dari Halida muncul di layar.
Dalam foto itu, Halida sedang bersandar manja di pelukan Zafran, sementara putriku, ayah, dan kakakku berdiri di samping mereka.
Itu potret keluarga profesional, dan semuanya tersenyum bahagia.
Di bawah foto itu ada deretan pesan:
[Menyerahlah, Clara. Semua yang kamu miliki sekarang sudah jadi milikku. Hak penerbitanmu, studiomu, suamimu, putrimu. Bahkan keluargamu. Aku juga punya laporan patologi milikmu. Wkwkwk. Sekarang kamu bisa mati dengan tenang! :)]
Membaca pesan itu, seluruh tubuh ibu mulai bergetar karena marah.
Ia menggigit bibirnya menahan tangis, genggamannya di tanganku menguat seakan hendak menuangkan seluruh hidupnya padaku.
Aku tertawa kering, getir, lalu terhenti di tenggorokan.
Aku hanya punya dua penyesalan dalam hidup, tidak ikut pergi bersama ibuku, dan memperkenalkan Halida pada keluargaku.
Aku pertama kali bertemu Halida di sebuah konferensi penulis muda. Dia baru saja ketahuan melakukan plagiarisme, dan semua orang mengucilkannya.
Saat dia melewati meja kami, aku mendengar seseorang berbisik, "Itu dia. Si tukang jiplak."
Seorang penulis lain terkekeh. "Tidak disangka dia masih berani muncul."
Tak lama kemudian, kulihat beberapa penulis senior menghadangnya di dekat meja kopi. "Jadi, kali ini kamu mau menjiplak karya siapa untuk mahakaryamu berikutnya?" Salah satunya menyindir.
Saat itu, aku sudah mulai mendapat perhatian karena novel debutku, jadi ketika aku ikut campur, orang-orang langsung diam. "Cukup," kataku, suaraku lebih tajam dari yang kupikirkan.
"Apa pun salahnya, kalian tetap tidak berhak berlaku seperti kawanan serigala yang mengincar mangsa."
Aku membelikannya kopi setelah itu, dan dia pun menangis, mengaku kalau dia melakukannya hanya karena keluarganya bangkrut dan dia benar-benar butuh uang dari lomba itu.
Aku bisa merasakannya. Aku pun mulai membantunya dengan uang, dan setelah membaca beberapa karya aslinya, aku melihat secercah bakat.
Bukan jenius, tapi juga bukan sampah. Aku memberinya catatan, mengenalkannya pada agensiku.
Sejak saat itu, aku adalah satu-satunya temannya.
Aku mengenalkannya pada keluargaku. Aku mengundangnya makan malam di rumah.
Dia selalu terlihat begitu pemalu dan manis, terus berbisik, "Terima kasih, Clara."
Aku merasa bangga setiap kali ada orang memuji sejauh mana dia sudah berkembang.
Lalu, perlahan, ada sesuatu yang mulai terasa... tidak beres.
Teman-temanku mulai menjauh dariku, tiba-tiba memperlakukan Halida seperti sahabat baru mereka.
Anak-anak lelaki yang dulu naksir padaku mendadak berubah dingin, sibuk memuja Halida.
Bahkan ayah dan kakakku semakin sering mengundangnya ke rumah, sampai akhirnya memberinya kamar sendiri di rumah kami.
Dan aku begitu bodoh karena mengira itu hal yang baik.
Aku pikir Halida akhirnya benar-benar jadi bagian dari hidupku, bahwa kami bisa menjadi seperti saudara sungguhan.
Sampai hari itu, ketika aku mendengarnya berbicara di telepon dengan tawa sinis yang menusuk telinga.
"Kamu sama sekali tidak tahu..." Dia terkekeh. "Clara yang bodoh itu benar-benar percaya aku berterima kasih padanya."
"Dia sok menasihatiku tentang menemukan gayaku sendiri, seolah-olah ceritanya yang remeh itu bisa disebut karya seni tingkat tinggi."
"Tunggu saja. Aku tidak hanya akan jadi penulis yang lebih baik darinya. Aku akan merebut agennya, penerbitnya, para penggemarnya, semuanya. Aku akan mengambil hidupnya dan menjalaninya lebih baik daripada dia."
Aku berdiri membeku di luar pintunya, merasakan dingin merayap di tulang belakangku.
Saat itu aku mengerti. Persahabatan yang dengan hati-hati kubangun, kebaikan yang kubanggakan, semua hanyalah lelucon baginya.
Aku pikir aku bisa mengusir Halida.
Aku pikir aku bisa membuat keluargaku dan Zafran melihat siapa dia sebenarnya.
Tapi aku terlalu naif.
Aku meremehkan kelicikan Halida. Aku sama sekali tidak menyadari betapa dalamnya Zafran, ayahku, kakakku, bahkan putriku, Olivia, telah terperangkap oleh pesonanya.
Aku benar-benar kalah.
Sembilan menit sebelum aku mati.
Kesadaranku merosot, pandanganku berangsur kabur di sekelilingku.
Tapi aku masih bisa melihat layar ponselku di tangan Ibu. Pesan-pesan baru dari Ayah terus bermunculan. Jelas dia sama sekali tidak tahu kalau Ibu ada di sini, atau kalau aku sedang sekarat.
[Clara, kami mengecat ulang kamarmu jadi pink. Itu warna favorit Halida! Lalu, Halida ingin ganti ke keyboard yang lebih nyaman untuk mengetik, jadi kami berikan punyamu. Toh kamu sudah tidak memakainya lagi, kan?]
Bahkan di ranjang kematianku, yang ayah dan kakakku pikirkan hanyalah membuat Halida bahagia.
Bagi mereka, aku bukan lagi seorang anak perempuan atau seorang saudara.
Hanya penghalang bagi kebahagiaan Halida, sebuah sumber yang bisa dikuras habis untuk keuntungan dirinya.
Barulah saat itu aku benar-benar mengerti betapa bodohnya aku.
Aku menyerahkan satu-satunya orang di dunia yang benar-benar mencintaiku, hanya demi keluarga yang sudah busuk sampai ke akarnya.
Samar-samar aku mendengar suara ibuku di telinga, menjerit memanggil namaku. Dia selalu begitu kuat, tapi sekarang dia terisak seperti anak kecil.
Tidak ada gunanya. Kata-kata itu hanya terdengar seperti kebisingan. Aku tidak bisa menangkap artinya.
Beberapa tahun terakhir ini... aku sudah begitu, begitu lelah.
Tapi menggenggam tangan Ibu di detik-detik terakhirku... setidaknya aku masih punya ibuku.
Akhirnya... aku bisa beristirahat dengan tenang...
[26 Januari]
[Sertifikat kematian diterbitkan: Klinik Bainbridge Island.]
[Nama: Clara Kusuma]
[Usia: 29 tahun]
Kali ini, aku akhirnya hanya menjadi putri ibuku, bukan istri atau ibu dari siapapun.
Aku menciptakan kisah dengan akhir yang bahagia untuk tokoh-tokohku, sesuatu yang tak pernah kualami dalam hidupku sendiri.
Tapi pada akhirnya, sama seperti mereka, aku menemukan kebebasanku.