Đang tải thông tin quảng bá...
Yang Tersisa Setelah Segalanya Usai
Setelah pulang dari perjalanan dinas, Karina menggenggam erat hasil pemeriksaan kehamilannya saat ia mencari suaminya di sebuah ruang VIP di klub. Dia tak sabar ingin memberikan kejutan bahagia itu. N...
Chương (1)
第1章
Setelah pulang dari perjalanan dinas, Karina menggenggam erat hasil pemeriksaan kehamilannya saat ia mencari suaminya di sebuah ruang VIP di klub. Dia tak sabar ingin memberikan kejutan bahagia itu.
Namun, tepat saat dia hendak mendorong pintu, langkahnya terhenti oleh suara-suara yang terdengar dari celah.
“Jadi, Jerry, waktu itu kamu menikahi Karina hanya demi melindungi Yuna?”
Darah di seluruh tubuh Karina seketika membeku. Dia membatu di tempatnya.
Bab 1
Setelah pulang dari perjalanan dinas, Karina menggenggam erat hasil pemeriksaan kehamilannya saat ia mencari suaminya di sebuah ruang VIP di klub. Dia tak sabar ingin memberikan kejutan bahagia itu.
Namun, tepat saat dia hendak mendorong pintu, langkahnya terhenti oleh suara-suara yang terdengar dari celah.
“Jadi, Jerry, waktu itu kamu menikahi Karina hanya demi melindungi Yuna?”
Darah di seluruh tubuh Karina seketika membeku. Dia membatu di tempatnya.
Suara Jerry, dingin, tegas, dan sama sekali tak pernah dia dengar sebelumnya, “Ya. Kecelakaan waktu itu ... Ayah Karina melindunginya dan meninggal di tempat. Yuna hanya luka ringan.”
“Untungnya, aku segera mengubah bukti dan memberikan kesaksian palsu. Kalau nggak, tuduhan mabuk saat menyetir akan menghancurkan karier Yuna di dunia hiburan.”
“Keluarga Lazuardi hanya tinggal menyisakan Karina seorang. Dia cinta mati padaku. Jadi aku beri dia status sebagai Nyonya Jerry, agar tetap di bawah pengawasanku. Dengan begitu, dia nggak akan curiga dan mengganggu Yuna lagi.”
Seseorang menimpali dengan pujian, “Hebat! Strategimu keren banget! Tapi ... apa kamu nggak takut kalau istrimu tahu?”
Jerry tertawa dengan nada rendah. “Dia? Jadi istri yang baik saja udah cukup. Nikmati hidup tenang dan kaya yang aku berikan.”
“Sedangkan Yuna ... semua yang aku miliki, selain status, bisa aku berikan untuknya.”
“Jaga mulut kalian. Jangan sampai bicara macam-macam di depan Karina.”
Setiap kata Jerry seperti duri tajam yang menusuk ke sekujur tubuh Karina, lalu disayat tanpa ampun.
Penglihatannya menggelap. Dia bersandar pada dinding dingin untuk tetap berdiri.
Hasil pemeriksaan kehamilan yang tadi dipenuhi harapan dan kebahagiaan kini hancur lebur di tangannya, diremas hingga lecek tak berbentuk.
Di pemakaman ayahnya, Jerry memeluknya erat dan berbisik dengan suara parau,
“Karina, mulai sekarang aku adalah keluargamu.”
Saat berlutut dan melamarnya, kembang api di langit malam terpantul di matanya yang seolah hanya memuat satu orang, yaitu dirinya. “Karina, aku berjanji akan membawa pelaku kecelakaan itu ke pengadilan dan memenangkan kasusnya.”
Setiap kali pulang larut malam, dengan tubuh penuh hawa dingin, Jerry selalu memeluknya lebih dulu. “Karina, aku kangen banget. Hanya kalau memelukmu, aku merasa hidup kembali.”
Semua kehangatan itu, semua perhatian, cinta, dan janji bahwa dia adalah "satu-satunya"...
Ternyata hanyalah ilusi. Tempat yang dia kira sebagai pelabuhan aman, nyatanya adalah benteng yang melindungi pembunuh ayahnya.
Ponsel di sakunya bergetar. Di layar, kata yang muncul adalah “Suami”. Kini terasa begitu menusuk.
Karina menarik napas panjang dan berlari ke tangga darurat yang kedap suara.
Dengan jari gemetar, dia menjawab panggilan itu.
“Karina?”
“Aku baru selesai rapat penting soal akuisisi lintas negara. Pusing banget. Beberapa hari ke depan aku harus fokus persiapan, jadi nggak bisa pulang.”
“Kamu yang baik-baik, ya, jangan lupa makan. Jangan tunggu aku pulang, oke?”
Suaranya terdengar dalam dan lembut, penuh perhatian seperti biasa.
Terdengar samar denting gelas dari latar belakang.
Karina menggigit bibirnya kuat-kuat hingga terasa darah di mulut, agar suaranya tetap terdengar tenang.
“Ya ... baiklah.”
“Baik-baik ya sayang.” Suaranya jadi lebih santai. “Nanti kalau kasus ini selesai, aku akan ajak kamu ke pelelangan itu. Aku sudah dapat kabar tentang Mangkuk Kerajaan yang kamu bicarakan terus itu.”
“Dan juga, malam hari mulai dingin, tangan kakimu selalu dingin. Jangan lupa pakai selimut elektrik, ya. Jangan sampai kedinginan.”
Jerry sangat perhatian, hampir tak bercela.
Dari balik telepon terdengar candaan, “Wah, Kak Jerry sedang laporan ke istri, ya? Suami idaman banget!”
Nada Jerry mendadak berubah serius, “Jaga mulut kalian. Karina itu sensitif, jangan asal bicara di depannya.”
Namun sedetik kemudian, saat kembali bicara dengannya, suara lembutnya kembali seperti biasa.
“Karina, tidur lebih awal, ya. Aku sayang kamu.”
Sambungan terputus. Suara nada sibuk menggema hampa di telinganya.
Bab 2
Karina bersandar lemah pada dinding yang dingin. Tubuhnya perlahan meluncur turun seperti kehilangan seluruh kekuatannya. Dia terduduk di lantai yang licin dan bersih, tapi dinginnya menusuk hingga ke tulang.
Tawa samar yang terdengar dari dalam ruang VIP bagai jarum-jarum halus yang menusuk langsung ke jantungnya.
Semua kenangan manis yang pernah dia simpan berubah menjadi ejekan paling kejam, merobek-robek setiap kenangan dan perasaan yang dulu dia anggap tulus.
Ternyata, selama ini dia hidup dalam sebuah kebohongan yang dirancang dengan sangat rapi.
Dia menyerahkan pernikahannya, cintanya yang tulus, hanya untuk dijadikan alat pelindung bagi cinta sejati di hati suaminya.
Karina pulang ke rumah dengan langkah sempoyongan, seperti tubuh tanpa jiwa. Kesedihan yang begitu dalam dan rasa tak percaya hampir mengoyaknya habis-habisan.
Beberapa hari kemudian.
Bunyi notifikasi ponsel memecah keheningan.
"Ting." Bunyi dari ponsel Karina.
Karina secara refleks membuka layar.
Status terbaru dari Yuna di media sosial, diposting lima belas menit lalu.
Tanpa keterangan, hanya sebuah gambar bergerak dengan komposisi yang sangat diperhatikan.
Di bawah cahaya lampu yang hangat, di atas piring porselen mewah di sebuah restoran bintang lima, tampak seekor udang yang sudah dikupas dengan rapi.
Sebuah tangan pria, jari-jari panjang, bersih, dengan cincin kawin melingkar di jari manis, sedang menarik diri dari tepi piring.
Di kolom komentar, Yuna menulis penjelasan dengan gaya santai tapi penuh makna:
[Sudah mendarat! Nggak ada yang lebih membuat tenang selain ada yang menjemput. Terima kasih untuk seseorang sudah yang rela menunggu tiga jam!]
Ternyata, “rapat penting soal akuisisi lintas negara” yang membuatnya tak bisa pulang hari itu, hanyalah alasan untuk menjemput Yuna yang baru kembali dari luar negeri.
Ternyata, janji “kalau sudah selesai, aku akan menemanimu” hanyalah cara untuk menenangkan dirinya, si istri yang patuh, agar Jerry bisa dengan tenang menemani orang yang sebenarnya ingin dia temani.
Hatinya benar-benar sudah mati rasa.
Sisa-sisa harapan yang coba dia pertahankan kini padam total karena satu gambar itu.
Dia harus pergi.
Pikiran itu datang dengan sangat jelas dan kuat, memenuhi seluruh kesadarannya.
Dia membuka aplikasi di ponselnya dan mulai mengisi formulir pengajuan paspor.
Prosesnya diperkirakan butuh tujuh hari kerja.
Masih ada waktu.
Kemudian, dia membuka situs rumah sakit ibu dan anak swasta. Matanya terhenti pada pilihan menu [Reservasi Tindakan Penghentian Kehamilan].
Tanpa ragu, dia menekan [Konfirmasi Reservasi].
Sebuah kotak notifikasi berwarna hijau muncul di layar. Dingin dan formal.
Karina mengangkat tangannya, menyentuh lembut perutnya yang masih datar.
Di situlah, dulu dia letakkan semua harapan terindah untuk masa depan.
Namun kini, di tengah tumpukan kebohongan Jerry, semuanya runtuh jadi puing-puing.
Maafkan mama, Nak. Mama nggak bisa membiarkanmu lahir ke dunia ini dalam kebohongan dan tipu daya. Mama juga nggak bisa membiarkanmu punya ayah seperti itu.
Dan soal ayahnya yang meninggal, Karina juga bersumpah, pelaku sebenarnya tidak akan lolos begitu saja.
Di rumah sakit, dokter menatap hasil pemeriksaannya lalu menghela napas pelan.
“Nona Karina, kecelakaan dulu menyebabkan kerusakan cukup serius di area panggul Anda. Kehamilan kali ini adalah sebuah keajaiban. Jika Anda tetap melanjutkan tindakan ini, kemungkinan besar Anda tidak akan bisa punya anak lagi di masa depan.”
Kata-kata terakhir itu “tidak akan bisa punya anak lagi”, terasa seperti palu yang menghantam sisa kekuatan terakhir di hatinya.
Sekilas keraguan muncul, halus, tapi nyata. Sebuah naluri keibuan yang muncul begitu saja tanpa bisa ditahan.
Anak ini, mungkinkah ini satu-satunya anak yang akan dia miliki seumur hidupnya?
Benarkah dia akan ... membunuh keajaiban ini dengan tangannya sendiri?
Karina berjalan linglung keluar dari rumah sakit.
Matahari siang terasa menyilaukan. Dia refleks menundukkan kepala, mencoba menghindar dari sinar itu.
Namun, justru saat itulah ia melihat sebuah layar LED raksasa di ujung jalan.
Siaran berita hiburan sedang berlangsung, gambar sangat jernih.
Di atas karpet merah sebuah acara gala amal, Jerry tampak gagah dalam setelan jas gelap yang elegan. Tubuhnya tegap, wajahnya serius saat mendengarkan Yuna yang tersenyum menawan di sisinya.
Yuna mengenakan gaun merah terang yang mencolok. Riasannya sempurna dan tatapannya penuh kelembutan serta ketergantungan saat memandang pria di sebelahnya.
Mereka berdiri berdampingan. Tampak serasi dan sempurna. Bagaikan pasangan dari cerita roman.
Teks berjalan di bawah layar menusuk seperti pisau beracun.
[Bintang hukum Jerry dan aktris top Yuna menghadiri malam amal XX bersama!]
[Teman masa kecil, hubungan mereka membuat banyak orang iri!]
Komentar netizen, [Ini baru pasangan serasi! Aku jadi penggemar mereka!]
Sementara dirinya, istri sah Jerry secara hukum, dalam dunia yang dibangun pria itu, seolah tak pernah ada.
Karina merasa mual. Dia berpegangan pada tiang lampu dingin, ingin muntah, tapi yang keluar hanya rasa asam di kerongkongan.
Dadanya seolah dijejali batu besar yang dingin dan berat. Sulit bernapas.
Benar.
Dia hanyalah perisai untuk melindungi pembunuh ayahnya.
Hanya seorang istri dalam dokumen, tapi tak pernah ada di hati.
Dan pada akhirnya ... hanya menjadi sebuah lelucon yang menyedihkan.
Bab 3
Saat Karina pulang ke rumah dengan langkah gontai, langit sudah gelap.
Yang mengejutkan, lampu ruang tamu menyala. Jerry ternyata ada di rumah.
Melihatnya datang, Jerry meletakkan tablet di tangan dan berdiri menghampiri, secara naluriah ingin mengambil tas Karina.
“Sudah pulang? Wajahmu kenapa pucat sekali?”
Karina menghindar dari tangannya, suara yang keluar dari bibirnya kering dan kasar, seakan ada pasir di tenggorokannya. “Yuna di mana?”
Gerakan Jerry sempat terhenti, tapi segera dia menjawab, “Oh, Yuna baru pulang dari luar negeri. Dia bilang nggak ada yang menemaninya ke acara gala, kebetulan aku lagi kosong, jadi aku temani sebentar.”
“Apartemen barunya masih dalam tahap penghilangan bau cat, tinggal di hotel juga tidak nyaman. Jadi, aku izinkan dia tinggal sementara di vila kita di pinggiran kota.”
“Kamu tahu, ‘kan, dia seorang diri di luar negeri selama ini, apalagi dia adalah selebriti …”
Jerry berhenti sejenak, memerhatikan ekspresi Karina, lalu menambahkan, “Tenang saja, hanya beberapa hari. Nggak akan lama.”
Karina mendongak dengan tiba-tiba. Suaranya bergetar, “Tinggal di vila pinggiran kota?”
“Itu rumah pernikahan kita, Jerry! Rumah yang kita pilih bersama, kita desain bersama! Kamu bahkan nggak bertanya satu kata pun padaku, lalu langsung membiarkan dia tinggal di sana?”
Setiap perabot, setiap sudut vila itu, menyimpan semua impiannya tentang pernikahan dan masa depan.
Akhir-akhir ini, demi kenyamanan kerja Jerry, mereka pindah ke apartemen kecil di pusat kota. Karina tak pernah mengeluh, dengan sabar bolak-balik tinggal di antara dua tempat.
Dan kini, Jerry dengan begitu mudahnya mengizinkan wanita lain tinggal di tempat yang menjadi satu-satunya "rumah" bagi Karina. Satu-satunya tempat yang masih terasa seperti miliknya sendiri.
Sebuah kilatan tak sabar muncul di mata Jerry, lalu digantikan oleh tatapan kecewa yang dalam.
“Yuna hanya tinggal di kamar tamu beberapa hari. Kita tumbuh besar bersama. Dulu keluarganya banyak membantuku. Sekarang dia kesulitan, apa aku nggak boleh membantunya?”
“Jangan terlalu cemburu.”
“Cemburu?”
Karina seolah mendengar lelucon paling menyakitkan dalam hidupnya. Air mata langsung menggenang, tapi dia paksa kembali ke dalam.
Rasa dingin di dadanya menjalar hingga ke ujung jari, membuat seluruh tubuhnya mati rasa.
Dia memandangi pria di depannya. Begitu dikenalnya, tapi juga terasa asing.
Tatapan kecewa itu, bukan tertuju pada situasi, tapi padanya.
Seakan, dia yang salah.
Dia yang terlalu sempit hati.
Dia yang bersikap tidak masuk akal.
Semua amarah, kesedihan, dan rasa tak rela, membeku seketika di mata kecewa itu.
Karina bahkan tak punya tenaga lagi untuk berdebat.
Di mata Jerry, bahkan emosi Karina pun tak layak untuk ada.
Saat larut malam.
Setelah mandi, Jerry naik ke tempat tidur. Mengira Karina masih marah, dia memeluk Karina dari belakang seperti biasa, mencoba meredakan suasana dengan suara lembut dan manja.
Tiba-tiba, layar ponsel di nakas menyala terang, mencolok di tengah gelapnya kamar.
Yuna menelepon.
Dia segera turun dari ranjang. Karina samar-samar mendengar suaranya yang ditahan pelan tapi tetap hangat, “Yuna? Kenapa?”
“Rumahnya terlalu besar dan kamu takut? Baiklah, jangan takut. Aku akan segera ke sana.”
Langkah kaki menjauh perlahan. Pintu kamar utama terbuka pelan.
Dia berjalan ke ranjang, membungkuk, dan mencium kening Karina. Nafasnya hangat.
“Aku ada urusan kerja yang harus diselesaikan. Jangan tunggu aku. Tidurlah dulu.”
Pintu kembali tertutup perlahan. Langkah kakinya menghilang dalam keheningan.
Dalam kegelapan, Karina membuka matanya.
Menatap langit-langit tanpa makna, kosong.
Ciuman di kening tadi, terasa seperti besi panas yang membakar kulitnya.
Di depan Yuna, keberadaan dan perasaan Karina sebagai istri tak ada artinya.
Dia duduk tegak dengan tiba-tiba, menarik koper dari bawah ranjang.
Dia tidak menyentuh satu pun barang mewah yang dibelikan Jerry. Gaun mahal, perhiasan berkilau, tak ada satu pun yang dia bawa.
Dengan gerakan seperti mesin, pelan-pelan, dia memasukkan semua barang miliknya sendiri. Satu per satu, ke dalam koper, dalam diam dan teliti.
Selesai mengemas, dia menyeret koper itu ke dalam ruang ganti pakaian.
Kemudian, dia kembali duduk di ujung ranjang yang dingin. Diam menunggu cahaya pagi menembus jendela kamar yang tertutup tirai tebal.
Fajar tiba.
Cahaya abu-abu menyusup perlahan dari celah tirai tebal. Jerry tidak pulang semalaman.
Karina berjalan tanpa alas kaki di lantai yang dingin, menuju sudut ruangan yang hampir tak pernah dia datangi, yaitu ruang kerja Jerry.
Di sana ada brankas milik suaminya.
Entah kenapa saat memasukkan kode, jarinya secara otomatis mengetik tanggal pernikahan mereka.
"Klik."
Brankas terbuka.
Jantungnya seakan hampir meledak.
Rasa sakitnya nyaris seperti mengiris diri sendiri.
Bab 4
Di dalam brankas itu tidak ada tumpukan uang tunai, hanya ada satu map kertas cokelat dan sebuah album foto.
Karina terlebih dahulu membuka map itu. Ternyata berisi laporan investigasi kecelakaan lalu lintas yang merenggut nyawa ayahnya.
Matanya segera menyapu baris-baris kalimat yang datar dan kaku.
Beberapa baris kunci kalimat itu, seperti besi panas yang membakar matanya.
[Setelah peninjauan ulang. Ditemukan bahwa konsentrasi alkohol dalam darah pengemudi sangat tinggi, jauh melebihi batas hukum untuk mengemudi dalam keadaan mabuk.]
Semua dokumen dan bukti itu lengkap, rapi, dan tak terbantahkan.
Jari-jari Karina gemetar hebat saat menggenggam lembaran kertas itu. Buku-bukunya sampai berbunyi karena terlalu kaku.
Jerry, dengan segala keahlian dan koneksi hukum yang dimilikinya, telah memalsukan bukti-bukti secara sistematis. Demi membebaskan Yuna, pelaku tabrak lari yang mabuk, dari tanggung jawab pidana.
Semua ini dia lakukan demi menjaga masa depan gemilang “teman masa kecilnya.”
Karina teringat ayahnya di ranjang kematian, menggenggam tangan Jerry erat-erat, dengan mata keruh penuh harap, “Jerry... Aku titipkan Karina padamu... Lindungi dia, seumur hidup...”
Waktu itu, Jerry berlutut di samping ranjang. Matanya merah, suaranya serak namun penuh tekad, “Paman tenang saja! Aku, bersumpah akan melindunginya dengan nyawaku. Aku tidak akan mengecewakan kepercayaan ini, seumur hidupku!”
Sumpah itu masih terngiang di telinga Karina.
Namun, kenyataannya yang Jerry lindungi adalah pembunuh ayahnya!
Yang tidak ingin dia kecewakan adalah masa depan Yuna.
Kecelakaan tragis yang merenggut ayahnya, menghancurkan hidup Karina. Di mata Jerry hanya ‘masalah’ yang menghalangi karier sang kekasih.
Kesedihan dan rasa tak percaya menelan Karina seperti tsunami.
Dadanya terasa nyeri hingga kejang. Dia menekan kuat dadanya, tapi tak bisa menahan rasa sakit yang memenuhi tenggorokannya.
Dengan gerakan kaku, dia menyalin dan memotret semua dokumen sebagai bukti.
Kemudian, dia mengambil album foto dari dalam brankas.
Saat dibuka, di dalamnya penuh dengan foto-foto Jerry dan Yuna, dari masa sekolah hingga saat ini, penuh kemewahan dan sinar lampu sorot.
Di setiap foto, Yuna tersenyum cerah di samping Jerry, bersandar manja seperti pasangan yang sempurna.
Foto paling baru diambil bulan lalu, latarnya pantai sebuah destinasi liburan mewah di luar negeri.
Yuna mengenakan bikini seksi, kedua tangannya memeluk leher Jerry, dan meninggalkan bekas ciuman di pipinya.
Sementara Jerry, tidak menghindar dan tidak marah, bahkan tersenyum lembut. Bibirnya terangkat dan mata yang memandang Yuna penuh kelembutan dan nyaman. Ekspresi yang tak pernah ditunjukkannya pada Karina.
Seperti diserang ribuan paku es menusuk jantungnya berulang-ulang, rasa sakit itu membuatnya tumpul hingga akhirnya mati rasa. Yang tersisa hanyalah kehampaan yang dingin.
Semua keraguan dan lukanya mendapat pembenaran paling kejam.
Rumah ini tak ubahnya seperti penjara.
Dengan sisa tenaga terakhir, Karina menyeret tubuhnya ke studio di pusat kota. Satu-satunya tempat yang masih benar-benar miliknya sendiri.
Baru beberapa menit duduk, keributan terdengar dari luar studio.
Bab 5
Dari balik jendela kaca besar, Karina melihat sebuah pemandangan yang benar-benar aneh.
Lebih dari selusin bodyguard bersetelan jas hitam dan sarung tangan putih berdiri berjajar di depan studionya. Masing-masing mengangkat barang-barang mewah yang tertutup kain beludru dengan hati-hati, seperti pameran museum berjalan.
Pemimpinnya mengetuk pintu dengan sopan. Di bawah tatapan dingin Karina, mereka mulai menyusun barang-barang itu di area tamu.
Saat kain beludru disingkap, tampak jelas. Semuanya adalah barang antik dan seni kelas atas dari rumah lelang bergengsi dunia.
“Nona Karina, ini semua adalah hadiah dari Tuan Jerry,” kata pemimpin, dengan suara datar dan profesional. “Beliau bilang, mengetahui Anda semalam tidak bisa tidur dan sedang murung, jadi beliau berharap benda-benda kecil ini bisa membuat Anda sedikit senang.”
Keributan itu menarik perhatian orang-orang di studia sekitar. Mereka mulai berdatangan untuk melihat.
“Astaga! Itu ‘kan Guci Dolbi dari Rumah Lelang Solbis bulan lalu yang harganya selangit! Baik sekali Pak Jerry !”
“Hanya karena istrinya murung? Manja sekali!”
“Karina beruntung banget, ya! Suaminya tampan, kaya, setia, dan omantis!”
“Aku iri sekali. Seandainya suamiku punya sepersepuluh perhatiannya Pak Jerry, aku sudah puas.”
.....
Karina berdiri di tengah barang-barang mewah itu, semua menyebarkan aura dingin.
Suara pujian di luar terasa seperti pisau yang menyayat telinganya.
Raut wajahnya datar tanpa ekspresi. Matanya kosong, seperti danau mati yang tak memantulkan apa pun.
Akhirnya, dia melangkah ke pintu.
“Brak!”
Di tengah tatapan bingung para pengawal dan penonton, dia menutup pintu dengan keras, menguncinya, lalu menarik turun tirai jendela.
Dunia mendadak sunyi.
Seorang pengawal dengan ragu-ragu menghubungi Jerry untuk memberi laporan.
Begitu menerima kabar, Jerry langsung membatalkan seluruh agenda pentingnya untuk beberapa hari ke depan dan pulang lebih awal.
Karina duduk diam di dekat jendela besar. Siluet tubuhnya tipis seperti kertas, seolah bisa diterbangkan angin kapan saja.
“Karina.” Jerry mendekat dengan suara lembut, berusaha memeluknya dari belakang.
Namun, Karina menghindar. Dia tetap tenang, tanpa sepatah kata pun.
Tangan Jerry terhenti di udara. Dia lalu duduk di kursi tunggal di sebelahnya.
“Masih marah karena semalam? Aku hanya ....”
“Aku kangen ayahku.” Karina tiba-tiba bicara. Suaranya lirih, nyaris seperti dibisikkan angin.
Jerry menelan ludah, suaranya mengencang sedikit, tak sadar mengatakan, “Paman, di alam sana pasti ingin kamu bahagia. Jangan berpikir yang macam-macam.”
Ingin cepat mengganti topik, Jerry segera mengeluarkan rencana lain.
“Oh ya, aku sudah pesan perjalanan tiga hari naik Kapal Pesiar Zangar. Kamar suite di dek atas. Merasakan angin laut pasti menyegarkan.”
“Kita bisa lihat matahari terbit dan membuang semua kesedihan ke laut, bagaimana?”
Di matanya ada harapan, bahkan mungkin permohonan yang tak Jerry sadari.
Karina kembali menatap ke luar jendela. Diam.
Jerry mengira itu artinya setuju.
.......
Kapal Pesiar Zangar mulai berlayar, membelah laut biru.
Di dek atas yang mewah, beberapa teman Jerry sudah menunggu.
Saat melihat Karina, wajah mereka langsung berseri-seri dengan senyum penuh kepura-puraan.
“Akhirnya datang juga, Kak Karina! Beberapa hari ini Kak Jerry sampai stres, rambutnya hampir memutih demi menyenangkanmu!”
Salah satu dari mereka menyuruh pelayan membawa beberapa kotak hadiah mewah.
“Kami dengar, kamu membuang beberapa barang dari rumah. Kak Jerry sampai panik! Makanya kami keliling kota cari versi terbaru dan terbaiknya. Kak Karina, Coba lihat, masih kurang apa?”
Kotak-kotak itu berkilauan diterpa matahari, menyilaukan hingga menusuk mata Karina.
Bab 6
Karina menatap mereka tanpa ekspresi.
“Kakak sungguh beruntung, ya.” Sebuah suara manja dan nyaring memotong suasana.
Yuna datang sambil mengenakan gaun ketat berhias payet menyilaukan, gemerlap seperti burung merak yang sedang mengembangkan bulunya. Dia berjalan menggoda, melenggak-lenggok mendekat.
Dia merangkul lengan Jerry dengan akrab, tatapannya penuh iri dan dengki yang tak bisa disembunyikan. Namun, wajahnya tersenyum manis seolah tulus.
“Kak Jerry baik sekali pada Kakak. Aku iri banget! Kalau pacarku nanti bisa setengah perhatian saja sepeti Kak Jerry, aku pasti akan selalu bersyukur setiap hari.”
Dia sengaja menekankan kata “pacarku nanti”.
Kerumunan pun tertawa, riuh dan ramai.
Angin laut yang asin dan dingin membuat dada Karina sesak. Dia tak tahan lagi dan memutuskan kembali ke kamar untuk mengambil napas.
Namun, saat sampai di belokan lorong, dia melihat pemandangan yang membuat langkahnya terhenti.
Yuna menarik Jerry masuk ke dalam ruang istirahat.
Karina diam-diam mengikuti dengan langkah ringan. Dari celah pintu, terlihat Yuna melilitkan tubuhnya seperti ular pada Jerry. Kedua tangan melingkari leher Jerry, bibir merah nyaris menempel di telinganya.
“Kak Jerry, aku takut,” suara Yuna bergetar, seperti mau menangis. “Tatapan Kak Karina padaku dingin sekali. Dia ... dia tahu nggak, ‘kan, sebenarnya akulah yang menabrak ayahnya sampai mati? Kalau tahu, dia akan balas dendam, nggak?”
Karina menggenggam telapak tangannya erat-erat. Kuku jarinya menancap ke kulit, tapi tak terasa sakit sedikit pun.
Tubuh Jerry tampak tegang sejenak, lalu dia mengangkat tangannya, menepuk-nepuk punggung Yuna dengan lembut.
“Tenang, Yuna. Selama ada aku, dia nggak akan pernah tahu kebenarannya.”
“Aku sudah bersumpah untuk melindungimu dan aku akan menepatinya. Dia nggak akan menyakitimu.”
Mendengar janji itu, Yuna langsung tersenyum manja, lalu mengelus-ngelus tubuhnya ke arahnya.
“Kak Jerry, kamu memang yang terbaik! Maka dari itu, aku juga punya kejutan untukmu.”
Dia menatap Jerry dengan tatapan menggoda, lalu meletakkan tangannya di perutnya sendiri.
“Selamat, Kak. Kamu akan jadi Ayah!”
Tubuh Jerry langsung membeku. Matanya membelalak.
Yuna melihat reaksi itu, lalu berpura-pura kecewa, cemberut dengan suara yang menyayat, “Apa ... anak kita hanya pantas jadi anak haram yang tak diakui? Aku sedih sekali.”
Setelah beberapa detik hening, Jerry tampak seperti mengambil keputusan besar.
Dia menggenggam wajah Yuna, suaranya datar, tapi menenangkan.
“Tenang, Yuna. Lahirkan anak ini.”
“Kalau Karina benar-benar tidak bisa menerimanya, aku akan beri dia uang kompensasi dalam jumlah besar dan menceraikannya.”
“Kamu dan anak ini, akan kuurus baik-baik. Kalian nggak akan menderita.”
“Kak Jerry, kamu yang terbaik!” Yuna mengangkat roknya dan kembali berpelukan mesra dengan Jerry.
Ruangan itu segera dipenuhi hawa panas dan aura yang memabukkan.
Setiap kata yang mereka ucapkan, seperti jarum baja yang dipanaskan, menusuk dan mengoyak jantung Karina tanpa ampun.
Kebenaran tentang kematian ayahnya, janji busuk Jerry, kehamilan Yuna, dan keputusannya untuk mengakhiri pernikahan mereka dengan selembar cek uang.
Semua itu seperti belati beracun, menyayat hati Karina yang telah hancur hingga tak bersisa.
Baru sekarang dia benar-benar mengerti.
Di papan catur Jerry, dirinya hanyalah pion yang bisa dibuang dengan uang.
Cinta yang dia beri selama bertahun-tahun, bahkan nyawa ayahnya, semua tak berarti apa-apa bagi pria itu.
Sakit yang luar biasa mencabik dadanya. Dia menutup mulutnya erat-erat agar jeritan putus asa tak keluar dari tenggorokannya.
Hatinya mati. Hancur, tak bersisa.
Bab 7
Karina berlari ke tepi kapal, berdiri di balik pagar dek.
Angin laut menusuk tulang, meniup tubuhnya yang kurus kedinginan.
Dia tak tahu sudah berdiri di sana berapa lama.
“Sendirian melihat laut. Kesepian sekali, Kak.”
Suara menjijikkan Yuna terdengar dari belakang, manja dan penuh rasa kemenangan.
Karina tak menoleh.
Yuna berjalan melenggok ke sampingnya, mendekat dengan sengaja. Lalu berbisik penuh racun, “Jangan mimpi, Kak. Orang yang Jerry cintai dari awal sampai akhir hanya aku.”
“Dan ayahmu yang sial itu, haha!” Dia tertawa sinis, lalu mendekatkan bibir merahnya.
“Itu salah dia sendiri. Mobilku yang semewah itu datang, dia nggak bisa lihat? Mati juga pantas. Setidaknya dia ngggak menghalangi jalanku lagi.”
Setiap kata itu seperti besi panas, menempel di luka terdalam Karina, membakar habis sisa-sisa kewarasan.
Gambaran sang ayah yang mendorongnya ke tepi untuk menyelamatkannya, langsung menyeruak. Seluruh kebencian, rasa sakit, dan dendam meledak seketika.
“Yuna!” Karina membelalak, mata merah menyala, tubuhnya gemetar.
“Kau pembunuh!”
Dipenuhi amarah yang mengaburkan akal sehat, dia mengangkat tangan dan menampar wajah Yuna sekuat tenaga.
Namun di mata Yuna, kilatan licik muncul. dia tak menghindar, bahkan menangkap pergelangan tangan Karina secara tepat.
Lalu dengan gerakan yang direncanakan, Yuna menjatuhkan tubuhnya ke belakang secara dramatis, berteriak keras, “Ah! Kakak jangan dorong aku! Tolong!”
Semuanya terjadi dalam sekejap mata.
Karina, yang masih dipegang, kehilangan keseimbangan dan ikut tertarik keluar pagar kapal.
Tubuhnya menggantung, aroma laut yang dingin dan menyengat menyapu wajahnya.
“Yuna!”
Teriakan penuh panik terdengar. Jerry datang seperti peluru.
Dia mengulurkan tangan dan menarik Yuna.
Dengan sekuat tenaga, Jerry memeluk Yuna erat-erat, memastikan wanita itu aman.
Karina, yang kehilangan tumpuan terakhir, jatuh dari kapal seperti daun gugur yang ditiup badai dan langsung menuju laut gelap nan dingin.
“Byur!”
Air laut dingin menyambut tubuhnya dengan mematikan.
Setiap tetesnya seperti jarum tajam yang menembus kulit hingga tulang.
Tubuhnya kehabisan napas karena hentakan, paru-parunya seperti terbakar.
Namun yang paling menghancurkan hatinya adalah perut bagian bawahnya berdenyut nyeri luar biasa. Rasa sakit tajam yang menusuk hingga ke tulang.
Lalu, dia merasakan hangat yang mengalir dari dalam tubuhnya, perlahan menyebar menjadi warna merah di air laut yang beku.
Dia meronta. Pandangannya kabur.
Pandangan terakhirnya adalah ....
Jerry memeluk Yuna di dek kapal, matanya penuh ketakutan dan rasa sayang pada wanita itu.
Dia bahkan tidak menoleh ke arah Karina yang terjatuh ke laut.
Dingin, gelap, dan sakit. Itulah yang terakhir menyelimuti dirinya sepenuhnya.
Bab 8
Karina kembali sadar di sebuah kamar perawatan rumah sakit yang berbau menyengat disinfektan.
Seorang perawat sedang mengganti infusnya.
“Sudah sadar? Anakmu nggak bisa diselamatkan. Tubuhmu luka cukup parah, jadi istirahatlah dengan baik.”
Jerry masuk dengan tergesa-gesa, wajahnya tampak kelelahan, bahkan sedikit panik.
Dia berusaha menggenggam tangan Karina yang tergeletak di luar selimut, dingin dan tak bernyawa.
Karina tiba-tiba menarik tangannya menjauh. Tatapannya datar dan mati, seperti air yang sudah lama menggenang tanpa riak.
Tangan Jerry membeku di udara. Dia berkata dengan suara serak, “Karina, bagaimana keadaanmu? Maaf, saat itu aku benar-benar nggak melihatmu yang juga jatuh.”
“Karena sudut pandangnya, aku hanya melihat Yuna yang akan jatuh. Aku panik, jadi .…”
Karina tersenyum tipis, sebuah senyuman yang lebih menyakitkan dari tangisan.
Perasaan dingin di dada menyebar luas, menjalar ke seluruh tubuh. Termasuk ke rahimnya yang kini kosong.
Bahkan kebohongannya terlihat jelas dan seadanya. Apa lagi yang tersisa untuk Karina katakan?
“Kamu istirahat dulu. Aku akan minta dokter cek ulang seluruh kondisi tubuhmu.”
Dia gelisah melihat Karina tak merespons sama sekali.
Lalu, ponselnya bergetar. Dia refleks melihat layar, alisnya langsung berkerut.
“Yuna, lengannya sedikit terluka. Emosinya juga labil. Aku ke sana sebentar, ya. Nanti aku akan kembali lagi untuk menemanimu.”
Tanpa menunggu jawaban, Jerry langsung pergi. Bahkan tanpa sempat tahu bahwa anak mereka telah ikut terkubur dalam “kecelakaan” itu.
Begitu pintu menutup, keheningan kembali menelan seluruh ruangan.
Layar ponsel Karina menyala. Pesan dari Yuna.
Terkirim beberapa foto, satu video pendek berdurasi belasan detik.
Dalam foto, Jerry sedang duduk di samping ranjang Yuna. Dia membungkuk, mengoleskan salep ke luka kecil di lengannya dengan lembut.
Dalam video itu, mereka berdua berpelukan erat dan bermesraan. Wajah Jerry jelas terlihat meski cahaya remang dan suara manja Yuna menggema. Terlihat terlalu akrab, terlalu menjijikkan.
Karina menatap layar itu mati-matian. Perutnya mual seketika.
Dia membuka selimut, mencabut jarum infus dari punggung tangannya.
Darah langsung merembes keluar. Namun, dia tak merasa sakit.
Tubuhnya lemah dan limbung, tapi dia menggigit bibir. Menahan diri, bertumpu pada dinding, selangkah demi selangkah, meninggalkan rumah sakit dengan pakaiannya sendiri.
Setiap langkah terasa seperti menginjak pisau, tapi juga membuat pikirannya semakin tajam dan tekadnya semakin kuat.
Matahari siang menyilaukan.
Dia membuka ponsel, mengirim semua bukti pemalsuan keterangan dan perlindungan Jerry terhadap Yuna ke pengacaranya.
Mata Karina bersinar terang, penuh dengan keputusan terakhir.
‘Setelah aku selesaikan proyek klien terakhir ini, aku akan putus semua hubungan dengannya besok. Dengan membawa paspor, aku akan pergi sejauh mungkin.’
Dia pulang ke studio miliknya, satu-satunya tempat yang masih bisa dia sebut miliknya sendiri.
Di tengah ruangan besar itu, berdiri rangka penopang khusus setinggi hampir empat meter, menopang satu lukisan kuno yang sangat langka dan hampir selesai diperbaiki.
Hanya tinggal menyempurnakan warna di bagian kecil.
Karina mengganti bajunya, menarik napas dalam dan perlahan naik ke atas rangka perbaikan itu.
Setiap gerakannya, menarik luka yang belum pulih. Keringat dingin membasahi dahinya. Namun, tangannya tetap stabil, matanya sangat fokus.
Seolah di dunia ini, hanya tersisa dia dan lukisan itu.
Sementara itu, Yuna yang tahu Karina telah meninggalkan rumah sakit, langsung datang ke studio.
Dia menatap sosok Karina yang lemah tapi kuat, yang sebentar lagi akan menyelesaikan karya besarnya.
Saat itu juga, melihat semua karya Karina dan mendengar Jerry makin tak tenang belakangan ini, rasa benci dan iri di hati Yuna semakin membesar.
Dia berjalan mengendap-endap masuk, seperti ular berbisa, tatapannya menatap satu titik, yaitu pada bagian sambungan rangka yang menopang tubuh Karina.
Ada beberapa baut di sana yang sudah mulai longgar.
Dengan memakai sarung tangan, Yuna diam-diam melonggarkan baut-baut itu hingga ke batas terakhir.
Karina masih sepenuhnya fokus pada sentuhan kuas di ujung jarinya.
Lalu, “Krak!”
Suara retakan kayu yang membuat bulu kuduk berdiri.
Bagian rangka penopang tempat Karina berpijak ambruk dan langsung jatuh.
Bab 9
“Ah!”
Karina tiba-tiba terjatuh, tak sempat bereaksi.
Di detik-detik saat akan jatuh, satu-satunya pikirannya bukan menyelamatkan diri, melainkan untuk menyelamatkan lukisannya!
Dia menggulingkan tubuh ke arah sebaliknya, menabrakkan badannya pada rangka perbaikan agar tidak mengenai lukisan.
“Brak!”
Rangka itu bergoyang hebat, lalu bersama tubuh Karina, terhempas keras dari ketinggian beberapa meter.
Rangka perbaikan itu menghantam dadanya dengan keras, mengenai bahu dan tulangnya. Suara tulang retak terdengar mengerikan.
Sakitnya seperti badai menyapu seluruh tubuh. Darah menyembur dari mulutnya.
Suara keras yang luar biasa menarik perhatian orang berdatangan dan Karina akhirnya tenggelam dalam gelap.
Di rumah sakit. Lagi-lagi melihat cahaya putih yang menyilaukan dan bau disinfektan menguar tajam.
Karina perlahan membuka matanya, seolah terangkat dari dasar laut beku.
Setiap sudut tubuhnya sakit dan setiap bernapas terasa seperti disayat.
Dia memutar matanya. Melihat Jerry yang duduk di samping ranjang, wajahnya panik dan lelah.
Di sebelahnya, Yuna sedang menangis tersedu.
“Karina, kamu sudah sadar? Kamu ... bagaimana keadaanmu?” tanya Jerry dengan suara bergetar, yang sulit dia kenali.
Namun Karina menatap lurus ke arah Yuna, yang wajahnya basah penuh air mata.
“Kamu, yang mengutak-atiknya, ya?” Setiap kata yang keluar dari mulut Karina bercampur rasa asin darah.
“Kakak! Kok bisa ngomong seperti itu?” Yuna menangis semakin keras, penuh kepura-puraan.
“Aku tahu kakak membenciku, tapi … aku datang hanya mau minta maaf karena soal kapal itu. Kak Jerry, percayalah padaku!”
Air mata mengalir dari wajah Yuna yang sempurna dirias, menambah aura lemah dan menyedihkan.
Jerry menatap Karina yang sekarat di ranjang, lalu memandangi Yuna yang menangis memelas dan mata penuh kepolosan.
Tatapannya ragu. Ada rasa bersalah, tapi hanya sebentar.
Akhirnya, dia memeluk Yuna erat-erat, lalu berkata pada Karina dengan suara berat, “Karina, aku tahu kamu marah, tapi kamu nggak bisa asal menuduh Yuna hanya karena kamu membencinya.”
“Dia bilang dia hanya mau minta maaf. Ini cuma kecelakaan. Mungkin karena rangka perbaikannya memang nggak kokoh.”
Dia terdiam sejenak, menatap wajah pucat Karina dan bahunya yang sudah diperban.
Nada suaranya melunak. Dia berkata, “Kamu jangan stres dulu. Fokus pada kesembuhanmu. Soal lukisan yang rusak, biar aku ganti rugi, tiga kali lipat.”
Kata-kata itu, seperti belati beku yang menusuk jantung Karina.
Setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana tubuhnya berdarah dan hampir mati dan setelah Jerry lagi-lagi memilih tanpa ragu untuk melindungi pelaku pembunuhan, yang Jerry berikan pada Karina hanyalah kalimat datar, “Aku akan ganti rugi saja.”
Dalam nilai dan pandangan Jerry, keyakinan yang selama ini dipertahankan Karina, bahkan dirinya sendiri, hanyalah sesuatu yang bisa ditukar dengan uang.
Dan air mata Yuna, adalah satu-satunya “kebenaran” yang layak dipercaya dan dilindunginya.
Karina perlahan menutup mata, tak lagi menatap dua sosok yang sedang berpelukan itu.
Diam menyelimuti seluruh kata-kata yang tak terucap, memisahkan dirinya dari dunia yang sesak itu.
Sudah cukup. Akhirnya ... benar-benar bisa mengakhiri semuanya.
Keesokan paginya.
Sinar matahari menembus tirai jendela. Jerry membawa sebuah kotak makan tertutup yang cantik dan perlahan mendorong pintu kamar perawatan.
Dia sengaja bangun sangat pagi, memasak bubur biji-bijian yang paling disukai Karina sendiri dan menyiapkan beberapa lauk yang ringan.
“Karina?” Dia melangkah pelan ke samping tempat tidur, suaranya sengaja dibuat terdengar lembut, “Aku membawakanmu sarapan, ini ....”
Saat dia membuka tirai pembatas, kata-katanya tiba-tiba terhenti. Di tempat tidur itu, Seprai terasa dingin, kosong, tak ada seorang pun.