Đang tải thông tin quảng bá...
Menutup Pintu Masa Lalu
Di hari ulang tahunku, pacarku yang sudah bersamaku selama enam tahun malah melamar cinta pertamanya. Seketika, semua perasaan sirna. Aku pun tersadar dan memilih pergi untuk menjalani perjodohan kel...
Chương (1)
第1章
Di hari ulang tahunku, pacarku yang sudah bersamaku selama enam tahun malah melamar cinta pertamanya.
Seketika, semua perasaan sirna.
Aku pun tersadar dan memilih pergi untuk menjalani perjodohan keluarga….
Bab 1
Di tahun keenam kami berpacaran, aku menemukan sebuah kotak kecil berisi cincin lamaran di saku mantel pacarku, Peter.
Di hari ulang tahunku, aku datang dengan penuh harap, tapi malah melihat foto dirinya bersama gadis lain sedang makan di restoran mewah khusus pasangan di postingan instagram.
Aku buru-buru naik taksi menuju restoran itu, lalu menyaksikan dengan mata kepala sendiri, dia berlutut di depan gadis itu dan melamarnya. Sementara orang-orang di sekeliling bersorak menyuruh mereka untuk bersama.
Kekecewaan yang menumpuk membuatku tidak lagi bereaksi seperti dulu, tidak berteriak atau membuat keributan. Aku hanya diam dan menekan nomor ayahku.
“Ayah, aku setuju dengan perjodohan Keluarga Nick. Persiapkan saja pernikahannya.”
…
Ayah sempat terdiam, lalu suaranya terdengar penuh kegembiraan,
“Putriku sayang, akhirnya kamu sadar juga. Dalam pernikahan yang terpenting adalah kesepadanan keluarga. Hidangan sederhana di luar boleh saja dicicip, tapi kita tak mungkin hidup selamanya hanya dengan bubur polos!”
Aku hanya mengiyakan pelan, berdiri sendirian di lobi restoran pasangan, menatap Peter dan gadis itu berciuman di tengah riuh sorak-sorai orang banyak.
Semua orang bersorak untuk mereka, hanya aku yang berdiri kaku seperti boneka kayu, tak mampu bergerak sedikit pun.
Ayahku pun mendengar keramaian dari balik telepon, dia mendesakku, “Lalu kapan kamu pulang ke rumah untuk bertemu dengan Nick? Mereka sudah lama menunggu kabar untuk pertunangan ini.”
“Tiga hari lagi, setelah urusan di sini selesai, aku bakal langsung pulang.”
Setelah menutup telepon, aku melihat Peter menyematkan cincin ke jari gadis itu dengan tangan gemetar. Mungkin karena aku terlalu asing di tengah keramaian yang penuh sorak-sorai, begitu Peter berdiri, pandangannya langsung tertuju padaku.
Kami saling berpandangan dari kejauhan, Peter tampak sedikit terkejut melihatku di sana. Alisnya sempat berkerut, lalu akhirnya menggandeng tangan gadis itu dan kembali ke tempat duduk.
Mawar, sampanye, alunan piano romantis, ditambah makan malam bercahaya lilin….
Enam tahun bersama dengannya, aku bahkan belum pernah sekalipun makan di tempat seperti ini.
Aku pun berbalik pergi. Semua sahabat baik Peter juga hadir. Foto yang kulihat sebelumnya juga berasal dari salah satu unggahan mereka di instagram.
Sebelum pergi, aku mendengar mereka bersiul dan bertepuk tangan sambil berseru, “Kalian berdua benar-benar pasangan serasi, setelah sekian lama akhirnya bisa bersama juga!”
“Ayo, angkat gelasnya semua! Kita beri selamat untuk pasangan baru ini! Semoga cintanya bisa langgeng selamanya!”
Aku hanya bisa tersenyum getir. Enam tahun bersama dengan Peter, tak ada satu pun sahabatnya yang tahu tentang hubungan kami, tapi semua orang justru tahu kisah cintanya dengan gadis itu.
Rasa perih merayap ke dalam hatiku.
Hari ini adalah ulang tahunku. Rasa terharu saat menemukan kotak cincin di saku mantel miliknya tadi, kini semuanya berubah jadi racun yang menggerogoti hati.
Setelah naik taksi, aku kembali pulang. Di depan pintu rumah, aku melihat kurir makanan mengantarkan kue ulang tahun. Ada kartu ucapan yang menempel di kotaknya, tertera tulisan tangan Peter, [Selamat ulang tahun, sayangku. Semoga tercapai semua keinginanmu].
Kurir itu tersenyum padaku dan dengan nada iri, dia berkata, “Nona, pacarmu benar-benar baik sekali. Ini kue termahal di toko kami dan kartu ucapannya pun ditulis langsung olehnya!”
Aku membuka pintu, meletakkan kue itu begitu saja di atas meja. Ternyata dia masih ingat hari ini hari ulang tahunku. Tapi, apa yang telah dia lakukan hari ini?
Dengan lemas aku merebahkan diri ke sofa. Menatap kosong ke ruangan yang sepi, tanpa sadar mataku berkaca-kaca.
Setiap sudut ruangan masih menyimpan jejak kehidupan kami berdua. Tapi, pacarku malah membeli cincin pertunangan untuk melamar wanita lain?
Kini, melihat kue itu saja, aku hanya merasa mual dan muak.
Aku duduk di sofa cukup lama hingga hampir lupa waktu, sampai akhirnya tiba-tiba pintu apartemenku terbuka.
Bab 2
Peter pulang dengan wajah letih, tangannya masih menenteng seikat bunga segar.
Dia berjalan mendekatiku tanpa sedikit pun rasa bersalah di wajahnya, “Aurel, aku bawakan bunga lisianthus kesukaanmu.”
Lisianthus, bunga yang melambangkan kesetiaan dan cinta yang tunggal. Tapi saat ini, berada di genggamannya, rasanya seperti sebuah lelucon.
Aku menerima bunga itu, Peter mengira emosiku sudah mereda. Dia pun mulai menjelaskan, “Rosa didiagnosis kanker tulang. Satu-satunya keinginannya itu menikah denganku. Kami tumbuh besar bersama, aku tak tega mengabaikan keinginannya. Jadi, tiga hari lagi aku bakal bertunangan dengannya.”
“Kamu selalu pengertian, pasti bisa memahami aku, ’kan?”
Nada bicaranya bukan seperti penjelasan, lebih mirip pemberitahuan.
Tiga hari lagi bakal bertunangan dengan Rosa?
Kebetulan, tiga hari lagi aku juga sudah berniat pergi.
Aku hanya mengangguk pelan.
Dulu, Peter paling tidak tahan dengan sifat manja dan keras kepalaku.
Katanya, aku selalu mencari-cari perhatian darinya setiap ada masalah kecil, berkali-kali menanyakan apakah dia masih mencintaiku.
Lama-kelamaan, aku pun berubah dan belajar menahan diri.
Kini, aku tidak marah, tidak ribut dan juga tidak menuntut jawaban soal cinta darinya. Peter malah tampak heran dan melirikku.
“Aku bakal pindah ke rumah Rosa besok. Beberapa bulan ke depan, kamu mungkin harus terbiasa sendirian.”
“Rosa lagi sakit. Dibandingkan kamu, dia yang lebih membutuhkan aku sekarang.”
Aku tersenyum dan meletakkan bunga itu. Melihat aku tidak menolak, Peter mendekat dan hendak menyentuh wajahku.
Aku menolak dengan halus. Di kerah kemejanya masih menempel jelas bekas lipstik, aroma parfum manis menusuk hidungku, membuat perutku terasa mual.
Peter yang ditolak olehku pun naik pitam. Dia tak berbicara lagi, lalu bergegas pergi dari rumah.
Sementara aku, langsung membuang bunga dan kue itu ke tempat sampah, lalu mulai membereskan barang-barangku.
Aku tak menginginkan bunga itu, begitu juga dengan Peter.
Bahkan rumah yang kutinggali enam tahun ini, tak lagi menyisakan sedikitpun alasan untuk kupertahankan.
Bab 3
Keesokan harinya, saat kembali ke kantor, aku duduk di meja kerjaku dan sudah mencetak surat pengunduran diri.
Aku dan Peter saling mengenal dan jatuh cinta sejak kuliah. Setelah dia masuk kerja di perusahaan teknologi ini, aku pun ikut bergabung ke sini, menolak rencana orang tuaku dan memilih menemaninya berjuang dari posisi karyawan biasa.
Selama bersama Peter, aku pernah secara halus menyinggung soal pernikahan. Tapi, dia selalu sibuk bekerja, beralasan belum punya pencapaian apa-apa, takut orang tuaku tidak rela menyerahkan putri kesayangan mereka padanya.
Harus berkarir dulu baru berumah tangga, begitu katanya padanya.
Sementara aku, demi tidak menambah beban, hanya bisa diam-diam menenangkan orang tuaku, bahkan menyembunyikan latar belakangku agar dia tidak makin tertekan.
Kini, dia sudah menjadi wakil direktur perusahaan. Saat menemukan cincin di sakunya, aku sempat berharap itu pertanda dia akhirnya siap melamarku.
Namun, ternyata semua itu hanyalah khayalanku sendiri.
Seorang rekan kerja lewat dan melihat surat pengunduran diri di komputerku, dia pun terkejut dan bertanya, “Kak Aurel, sebentar lagi kamu mau dipromosikan jadi direktur teknik. Kok malah tiba-tiba mau mengundurkan diri?”
Aku tersenyum dan menjawab, “Aku mau menikah sebentar lagi, nanti mungkin akan pindah ke perusahaan lain.”
Rekan kerjaku, Lina ikut tersenyum sambil memberi selamat, “Belakangan ini banyak kabar gembira ya. Tadi malam aku juga lihat postingan instagram Pak Peter, katanya diam mau tunangan!”
“Harus diakui, Pak Peter dan pacarnya benar-benar serasi sekali. Kudengar mereka sahabat sejak kecil, benar-benar cinta pertama di hati satu sama lain.”
Senyuman di wajahku perlahan menghilang. Aku membuka ponsel, baru sadar Peter sudah memblokirku dari akun utama maupun akun kecilnya.
Akun utamanya untuk pribadi, sejak semalam dia keluar rumah langsung memblokirku. Akun kecilnya untuk urusan kerja dan saat kubuka, percakapan kami hanya tersisa obrolan formal atasan bawahan.
Tiba-tiba, Peter masuk ke kantor bersama Rosa.
Mereka berjalan berdekatan, wajah Rosa merona dengan senyuman ceria, sama sekali tak terlihat seperti orang yang sedang sakit.
Lalu, Peter pun memperkenalkan pada semuanya, “Ini calon direktur teknik baru perusahaan. Mulai sekarang, kita semua akan bekerja bersama, jadi tolong jaga hubungan baik.”
Lina tampak kaget, pandangan bergantian antara aku dan Rosa. Akhirnya dia tetap menunduk sopan dan menyapa, “Salam kenal, Bu Rosa!”
Aku tidak berbicara, hanya menggenggam surat pengunduran diriku erat-erat. Tapi, Peter malah memandangku dengan kesal, “Aurel, semua orang sudah menyapa direktur baru, kok sikap kamu malah begitu?”
Rosa terkekeh pelan, lalu mengulurkan tangan padaku, “Mulai sekarang kita akan bekerja di kantor yang sama, mohon bimbingannya, ya.”
Aku baru hendak menyambut tangannya, tiba-tiba Peter menarik tangan Rosa kembali, “Kamu itu direktur, nggak perlu terlalu ramah dengan karyawan kecil. Ayo, aku bawa kamu keliling untuk mengenal lingkungan kerja.”
Mereka pun pergi bersama, meninggalkanku sendirian dengan tangan yang masih terulur kaku di udara. Aku terdiam di tempat, terlihat tak ada bedanya seperti badut.
Bab 4
Lina menarikku duduk dan mulai bergosip di meja kerja, “Kak Aurel, kamu sudah lihat, ‘kan? Barusan itu tunangannya Pak Peter?!”
“Kalung berlian di lehernya itu hadiah dari Pak Peter kemarin, katanya harganya sampai miliaran!”
“Tapi, cara Pak Peter menempatkan orang itu terlalu terang-terangan! Kamu sudah kerja di perusahaan ini lima tahun, semua orang tahu kemampuanmu. Dia malah dengan enteng kasih posisi yang seharusnya jadi milikmu ke orang lain!”
Aku hanya mengangguk tanpa semangat. Memang dari awal aku sudah berniat mengundurkan diri dan kedatangan Rosa hari ini hanya membuatku semakin cepat sadar akan posisiku di hati Peter.
Aku mengambil berkas-berkas dan surat pengunduran diri, lalu mengetuk pintu kantor Peter.
“Masuk,” jawab Peter dengan dingin.
Aku meletakkan semua dokumen, termasuk berkas-berkas untuk serah terima pekerjaan setelah keluar nanti.
Peter membolak-balik berkas-berkas itu, semakin dilihat wajahnya semakin muram.
Akhirnya, dia mengangkat pandangan, menatapku dengan senyuman tipis yang penuh ejekan.
“Aurel, aku kira kamu sudah berubah baik kemarin dan nggak akan sembarangan melampiaskan emosi. Ternyata hari ini sifat aslimu muncul lagi?”
Usai bicara, dia langsung melemparkan berkas-berkas itu ke arahku.
Aku cepat-cepat menghindar, lalu menunduk, memunguti satu per satu berkas yang berserakan di lantai.
Peter masih saja bicara, “Bukannya hanya masalah promosi jabatan? Bidang Rosa itu sama denganku, aku percaya kemampuannya, makanya posisi direktur teknik kuberikan padanya. Kamu punya hak apa untuk marah-marah?!”
Aku menumpuk berkas dengan rapi, meletakkannya di hadapannya, lalu dengan tenang berkata, “Aku nggak sedang marah, hanya mau mengajukan pengunduran diri.”
Rosa memang satu jurusan denganmu, kamu tahu kemampuannya, lalu bagaimana denganku?
Aku kuliah jurusan desain perhiasan, tapi demi Peter, aku sampai ambil kuliah tambahan lintas jurusan. Bertahun-tahun aku kerja keras siang malam demi bisa mengikuti langkahnya.
Ternyata, semua usahaku tidak ada harganya sama sekali di matanya.
Peter menatapku dari atas, merendahkan, “Kamu sendiri nggak tahu batas kemampuanmu sampai mana? Aku sudah menempatkanmu di bawah Rosa. Mulai sekarang belajarlah baik-baik dengannya.”
Aku tersenyum, “Waktuku juga berharga. Aku nggak akan belajar hal yang nggak kusukai lagi.”
“Bagus! Kalau begitu pergi saja! Aku mau lihat perusahaan mana yang mau menerimamu!” ujar Peter sambil bangkit dari kursinya, menatapku seperti iblis yang siap menerkam.
Sedangkan aku hanya berbalik dan langsung keluar dari ruangannya.
Waktu enam tahun bersamanya, anggap saja sudah terbuang sia-sia.
Aku tidak akan lagi hidup mengitari dirinya, apalagi dia malah mau aku berputar mengelilingi Rosa.
Bab 5
Siang itu, aku kembali ke meja kerjaku untuk membereskan barang-barang.
Di atas meja masih terletak pajangan kecil berbentuk planet yang dulu diberikan oleh Peter saat lulus kuliah.
Waktu itu, dia bahkan bersumpah dengan penuh keyakinan bahwa akulah seluruh dunianya.
Aku tersenyum miris, lalu menatapnya sekali lagi. Lalu akhirnya memutuskan untuk tetap membawanya pergi.
Saat aku memeluk kotak berisi barang-barang dan bersiap meninggalkan kantor, tiba-tiba Rosa masuk dengan wajah cemas.
“Maaf teman-teman, sepertinya kalung yang kupakai hari ini hilang. Bisa tolong kerja samanya untuk diperiksa?”
Seketika, suasana kantor menjadi ramai dan penuh bisik-bisik.
“Tadi aku sempat lihat kalung Bu Rosa, berlian di kalungnya besar sekali dan sangat berkilau!”
“Aku rasa Bu Rosa sengaja bicara halus begitu. Bisa jadi memang ada orang yang lihat kalung itu dan timbul niat jahat untuk mencurinya!”
“Astaga! Berarti ada pencuri di kantor kita? Pantas saja akhir-akhir ini cemilan di mejaku sering hilang!”
Peter berdiri di samping Rosa, lalu memerintahkan sekuriti perusahaan untuk menutup pintu dan memeriksa semua orang satu per satu.
Saat giliranku tiba, aku meletakkan kotak dan bekerja sama pada Peter untuk diperiksa.
Pandangan matanya langsung tertuju pada pajangan kecil berbentuk planet yang ada di paling atas. Dia sempat terdiam sesaat, tapi akhirnya tetap memerintahkan orang untuk mengeluarkan semua isi kotak.
Benda-benda berjatuhan ke lantai dengan suara berisik. Pajangan itu hancur berkeping-keping, seperti hubunganku dengan Peter selama enam tahun, begitu muncul retakan, tak akan pernah bisa kembali utuh.
Beberapa sekuriti menggeledah barang-barang di lantai, tiba-tiba Rosa menutup mulut sambil berseru kaget, “Itu kalungku!”
Semua orang di ruangan sontak terdiam mendengar seruan itu, lalu semua mata langsung tertuju padaku. Di belakangku, bisik-bisik tuduhan terus bermunculan.
“Ya ampun! Ternyata Aurel yang mencuri kalung direktur baru?! Kalau saja Pak Peter nggak menutup pintu kantor, dia pasti sudah kabur dengan kalung itu sekarang!”
“Tak kusangka Aurel ternyata orang seperti ini. Benar-benar sifat tak bisa dinilai dari tampang wajah. Hanya gara-gara posisinya direbut direktur baru, dia malah sampai kecil hati begitu!”
“Sempit hati sekali Aurel! Ternyata dia orang yang suka mencuri. Untung saja dia sudah mengundurkan diri, kalau nggak, aku jadi agak takut kalau harus satu ruangan dengannya!”
Seketika, wajahku menjadi pucat. Aku yakin sekali bukan aku yang menyentuh kalung itu. Saat aku pergi menyerahkan surat pengunduran diri, pasti ada yang sengaja mengutak-atik barang-barangku.
Dengan wajah muram, Peter mengangkat kalung berlian dari tumpukan barangku.
Peter menggenggam kalung itu, wajahnya tampak penuh kekecewaan menatapku, “Aurel….”
Dia membentak menyebut namaku, sementara aku menunduk dan melihat barang-barang milikku yang sudah diinjak-injak di bawah kakinya. Bahkan, dia dengan sengaja menghancurkan pajangan berbentuk planet pemberiannya hingga remuk.
Begitu aku mendongak, Peter tanpa banyak bicara langsung menamparku. Dia berkata, “Cepat minta maaf pada Rosa! Kenapa kamu harus mencuri kalung yang kuberikan padanya?!”
Saat itu juga, hatiku benar-benar hancur.
Peter menggenggam kalung berlian bernilai miliaran yang berikan untuk Rosa, sementara di kakinya, dia menginjak barang murahan yang pernah dia berikan padaku, yang bahkan nilainya tak sampai sepersekian dari kalung itu.
Seketika, air mataku menetes. Dibanding salah paham dari rekan-rekan sekantor, tamparan Peter, pria yang menemaniku selama enam tahun jatuh lebih membuat hatiku sakit.
Dia benar-benar tak percaya padaku?
Melihatku diam, Peter kembali menarikku dengan kasar layaknya menyeret sampah. Lalu melemparkanku ke depan Rosa, “Cepat minta maaf pada Rosa! Jelaskan kenapa kamu mencurinya?!”
Tatapan puas sempat berkilat di mata Rosa, tapi dengan cepat dia pura-pura mengerutkan kening, lalu mengulurkan tangan seolah ingin menolongku berdiri dari lantai yang dingin.
Aku menepis tangannya, menyisakan sedikit harga diri, lalu berdiri dengan kekuatanku sendiri.
Meski pandanganku kabur dipenuhi air mata, tubuhku tetap tegak dan menjawab, “Aku nggak mengambilnya! Di kantor ada CCTV, aku akan memeriksa rekamannya untuk membuktikan kalau aku nggak bersalah!”
Lalu, aku menatap mata Rosa lekat-lekat dan dengan tegas berkata, “Hanya kalung berlian seperti itu, aku nggak tertarik sama sekali!”
Bab 6
“Cukup! Jangan ribut lagi!”
Peter menutup mulutku, lalu menyeretku keluar dari ruang kantor. Telapak tangannya menekan hidung dan mulutku begitu kuat, seakan ingin membuatku benar-benar mati lemas.
Setelah itu, aku mendengar Rosa dengan ramah berkata pada rekan-rekan di dalam ruang kantor, “Barangnya sudah ditemukan sekarang, aku juga nggak ada kerugian apa-apa. Lagipula, kita juga sesama rekan kerja. Aku nggak akan mempermasalahkannya lagi! Nanti sore aku traktir kalian semua makan cemilan sore sebagai ucapan terima kasih!”
Peter seolah sangat takut kalau aku akan membongkar hubungan kami di depan semua orang, jadi dia buru-buru menyeretku ke ruang pantry.
“Katakan saja, apa yang sebenarnya mau kamu lakukan? Marah pun harus ada batasnya!” katanya sambil menekan pelipis, tampak sangat pusing dengan semua ini.
Aku terengah-engah, wajahku masih memerah karena bekas jari-jarinya.
“Sejak kapan kamu berubah jadi seperti ini? Untung saja Rosa berlapang dada dan mau memaafkanmu. Sekarang juga, kamu harus minta maaf padanya!”
“Aku nggak akan minta maaf! Aku nggak melakukannya, kenapa harus mengakuinya?!”
Aku menatapnya dengan dingin. Dia bilang aku sudah berubah, aku juga ingin bertanya padanya, sejak kapan dia berubah jadi orang yang begitu asing bagiku?
Kemudian, Rosa masuk ke pantry, mengambil segelas air panas dan menyodorkannya padaku.
“Adik Aurel, minumlah sedikit air biar lebih tenang. Aku tahu kamu menyimpan rasa kesal padaku, tapi lain kali jangan terlalu gegabah.”
Aku tidak menerima gelas itu, tapi entah bagaimana Rosa malah tersiram air panas gelas itu dan sebagian air itu tumpah ke lenganku.
“Aaa! Panas sekali….” teriak Rosa kesakitan karena beberapa tetes air panas mengenai jarinya. Peter buru-buru membawanya ke wastafel untuk dibilas.
Sementara aku hanya mengenakan kemeja sifon tipis, begitu tersiram air panas, lenganku terasa seperti terbakar, bahkan uap putih pun mengepal dari kulitku.
Aku pergi sendiri ke kamar mandi untuk mengobati luka bakar itu, tak lama kemudian pergelangan tangan kiriku memerah dan timbul lepuhan.
Saat aku menahan sakit dan kembali ke meja kerja untuk membereskan barang-barang, tiba-tiba Peter keluar dan meraih tanganku.
“Aaaa….” teriakku kesakitan.
Peter terkejut dan buru-buru melepaskan.
Dengan nada yang agak kaku, dia bertanya, “Kamu nggak apa-apa?”
Aku hanya merasa ironis. Bekas tamparan di wajahku hari ini adalah hadiah darinya, luka bakar di pergelangan tanganku juga jelas ulah Rosa yang disengaja.
Melihat Peter yang berpura-pura peduli, aku malah merasa mual.
Aku menepis tangannya, lalu menyapu bersih barang-barangku yang berserakan ke dalam tempat sampah.
Dia seakan ingin bicara sesuatu, tapi akhirnya hanya berbalik pergi dan meninggalkan kalimat, “Kamu terlalu gegabah hari ini.”
Setelah membereskan kekacauan itu, aku langsung menuju ruang monitor CCTV perusahaan. Aku tidak mungkin menerima begitu saja tuduhan mereka yang tanpa bukti.
Namun di ruang monitor, aku berdebat dengan staf yang bertugas.
Aku meminta untuk melihat rekaman CCTV kantor pagi ini, tapi mereka malah menghalangiku dengan alasan hanya karyawan internal yang berhak mengaksesnya.
Saat melihat akun karyawanku tiba-tiba sudah dihapus, aku langsung paham ini pasti ulah Peter.
Hanya dia yang bisa dengan cepat menyuruh orang untuk mengatur penghapusan akun kerjaku.
Dia jelas-jelas berpihak pada Rosa dan sudah sepenuhnya menganggap aku sebagai pencuri kalung itu.
Namun, aku langsung teringat. Perusahaan teknologi ini sebenarnya masih di bawah naungan Keluarga Nick. Karena itu, aku memutuskan untuk segera pulang dan menemui putra mahkota Keluarga Keluarga Nick, Jason Nick.
Sesampainya di apartemen yang kutinggali selama enam tahun, aku membawa pergi semua barangku.
Sekalian menyudahi hubungan ini dari hidupku, sebersih dan setegas seperti membuang sampah.
Malamnya, seorang kurir datang lagi. Kali ini mengantarkan obat salep luka bakar dari apotek.
Aku meletakkan salep itu di atas meja, menatap sekali lagi rumah kosong ini sebelum akhirnya melangkah pergi.
Keesokan harinya, aku memesan tiket pesawat untuk kembali ke Kota Malaya.
Semua pekerjaan yang belum sempat kuselesaikan, sudah kuserahkan semuanya pada penggantiku.
Lusa harinya, aku menarik koper sendirian memasuki bandara. Sebelum naik pesawat, untuk pertama kalinya aku mengirimkan pesan putus lewat akun kecil Peter yang selalu dia gunakan untuk urusan pribadi.