Đang tải thông tin quảng bá...
Anak Suamiku yang Dirahasiakan
Tahun ketujuh pernikahan, Dhea baru tahu kalau suaminya punya seorang anak laki-laki berusia enam tahun. Dia bersembunyi di balik perosotan TK, melihat Yordan sedang membungkuk menggendong seorang ana...
Chương (1)
第1章
Tahun ketujuh pernikahan, Dhea baru tahu kalau suaminya punya seorang anak laki-laki berusia enam tahun.
Dia bersembunyi di balik perosotan TK, melihat Yordan sedang membungkuk menggendong seorang anak kecil sambil bermain dengannya.
"Papa, sudah lama banget Papa nggak datang lihat aku."
Suaminya mengusap kepala anak itu. "Anak pintar, Papa sibuk kerja. Kamu harus nurut sama Mama ya."
Duar! Suara itu seakan-akan meruntuhkan dunia Dhea. Kepalanya langsung kosong.
Papa? Mama?
Sosok besar dan kecil itu memiliki wajah yang mirip 70%. Semuanya jelas sekali mengatakan bahwa pria yang dulu bersumpah akan mencintainya seumur hidup, ternyata sudah selingkuh sejak lama!
Mereka tumbuh bersama sejak kecil, saling mencintai bertahun-tahun. Dhea bahkan pernah ditusuk di perut demi menyelamatkan Yordan. Akibatnya, dia bukan hanya kehilangan anak, tetapi juga tak bisa punya keturunan seumur hidup.
Saat itu, Yordan berlutut di sampingnya dengan mata merah dan berkata, "Aku nggak butuh anak. Aku cuma butuh kamu seorang!"
Suara bergetar Yordan yang sampai sekarang masih terngiang-ngiang di benak Dhea, kini hancur tak bersisa karena pemandangan di depan mata!
Bab 1
Dhea terhuyung mundur, hatinya seperti dicabik-cabik ribuan pisau sampai berdarah-darah. Dia tak berani lagi melihat, takut dirinya tak bisa menahan diri untuk langsung berteriak dan bertanya, lebih takut terlihat seperti badut yang menyedihkan. Dia pun berbalik, berlari terbirit-birit.
Di depan TK, sahabatnya, Naira, sudah lama menunggu. Melihat wajah Dhea yang pucat pasi, dia langsung keluar dari mobil. "Dhea, kamu kenapa? Lauren bilang barangmu ketinggalan, jadi pulang lagi. Sebenarnya ada apa?"
Lauren adalah anak Naira. Hari ini memang Naira yang meminta Dhea menemaninya ikut rapat orang tua murid.
Wajah Dhea benar-benar pucat, air mata menggenang di pelupuknya. "Naira, tolong bantu aku selidiki seseorang."
"Siapa?"
"Yordan ...." Dhea menelan ludah, suaranya serak. "Dia punya anak."
....
[ Sayang, aku masih seminggu baru bisa pulang. Kamu kangen aku nggak? ]
Dhea menatap pesan dari Yordan, air matanya jatuh tanpa henti.
Setiap bulan Juli, Yordan selalu bilang harus dinas dua minggu untuk inspeksi cabang luar negeri. Selama enam tahun penuh, Dhea tak pernah curiga.
Namun, kenyataan menamparnya dengan keras, mentertawakan kebodohannya. Yordan bukannya dinas, tetapi pergi menemani selingkuhannya dan anak mereka!
Kalau bukan karena kejadian tak terduga hari ini, mungkin dia masih dibodohi sampai sekarang.
Dhea menyiksa diri sendiri, berkali-kali menatap foto di tangannya. Di luar hujan deras, sesekali kilat menyambar, menerangi wajahnya yang pucat pasi.
Mungkin sebenarnya, dia seharusnya sadar sejak awal. Keluarga Furama adalah keluarga tradisional, mana mungkin mereka menerima seorang perempuan mandul? Kecuali, semua sudah diatur sejak awal! Lantas, Yordan yang katanya begitu mencintainya, sebenarnya mengambil peran apa?
Hati Dhea seperti diremas. Sejak kecil mereka tumbuh bersama. Semua orang bilang, di kehidupan ini, Dhea dan Yordan pasti akan selalu bersama.
Di usia delapan tahun, saat Dhea jatuh dari pohon, Yordan menahan tubuhnya tanpa peduli bahaya. Tulangnya patah, tetapi dia masih tersenyum dan mengatakan tidak sakit.
Di usia 12 tahun, saat Dhea pertama kali menstruasi dan menodai roknya, Yordan yang tahu apa yang terjadi malah tetap ketakutan, sampai menangis dan mengatakan mau mati bersamanya.
Di usia 18 tahun, Yordan diam-diam ikut balapan liar, bahkan nyaris kehilangan nyawa hanya untuk memenangkan sebuah cincin. Setelah itu, dia menyatakan perasaannya kepada Dhea, "Dhea, aku akan mencintaimu seumur hidup."
Cinta remaja selalu murni dan membara, sudah lama menawan hati Dhea.
Menjelang pernikahan, Dhea pernah diculik musuh Yordan, disekap tiga hari tiga malam. Ketika ditemukan, dia sudah hampir mati.
Demi menyelamatkannya, Yordan dipukuli sampai tiga tulang rusuknya patah. Saat itu, Dhea juga menahan sebilah pisau untuknya, membuatnya kehilangan hak sebagai seorang ibu.
Setelah tahu, ibu Yordan, Anindya, sempat ingin memisahkan mereka. Namun, dengan tubuh penuh luka, Yordan berlutut tiga hari di aula leluhur Keluarga Furama, mogok makan, bersikeras berkata, "Aku rela kehilangan Keluarga Furama, asal tetap bersama Dhea."
Akhirnya, Anindya tak bisa menolak lagi.
Setelah luka Yordan sembuh, mereka segera menikah. Seluruh ibu kota menjadi saksi cinta mereka yang mengharukan.
Namun, pada akhirnya Yordan tetap mengkhianatinya.
Tiba-tiba, ponsel berdering. Di layar tertulis kata "Suami". Betapa ironisnya.
Dengan kaku, Dhea menekan tombol terima. Suara lembut pria pun terdengar. "Sayang, selama sendirian di rumah, kamu ada makan dengan teratur nggak? Kamu kangen aku nggak?"
Kalau dulu, pasti Dhea sudah larut dalam manisnya cinta, tak sabar membalas. Namun, sekarang dia takut sekali kalau membuka mulut, tangisannya akan pecah.
"Sayang? Ada apa? Jangan takut, aku langsung pulang sekarang!" Suara Yordan terdengar panik. Dia bahkan langsung berdiri untuk pulang.
Namun, Dhea sama sekali tak ingin menemuinya.
"Aku nggak apa-apa." Dhea berusaha menahan diri, tetapi suaranya tetap serak, "Aku nggak apa-apa, kerjaanmu lebih penting. Jangan pulang. Aku cuma flu ringan."
Ini pertama kalinya dia berbohong pada Yordan.
Pria itu tak menyadari sama sekali. Meskipun terdengar seperti terganggu oleh sesuatu, tetap saja dia khawatir, menasihatinya panjang lebar, "Kalau begitu, kamu cepat istirahat. Ingat telepon aku, jangan bikin aku khawatir."
Dhea hanya menjawab lirih, "Ya."
Baru saja hendak menutup panggilan, tiba-tiba terdengar suara perempuan dari seberang. Suara itu sangat menggoda. "Yordan, Rafael sudah tidur. Kita bisa ...."
Dhea jelas mendengar napas Yordan semakin berat, lalu telepon langsung terputus. Dia menggenggam ponsel erat-erat, buku jarinya memutih, tetapi tetap tak mampu menahan hawa dingin yang menusuk hati.
Yordan dan wanita itu sedang bersama .... Dia tak berani lagi meneruskan pikirannya!
Tangisan Dhea pecah, seperti ada tangan besar yang mencengkeram jantungnya, perih sampai tak tertahankan.
Pernah terpikir, mungkin Yordan terpaksa demi anak itu. Namun sekarang, jelas dialah yang memilih!
Naira yang sadar ada yang tak beres langsung masuk ke kamar, lalu melihat Dhea dengan wajah putus asanya. Naira memiliki kepribadian yang berapi-api, tetapi kali ini dia sampai tak berani maju.
"Dhea, demi seorang laki-laki itu nggak sepadan."
Air mata jatuh menetes di foto, menimbulkan suara kecil.
Naira sakit hati melihat sahabatnya seperti itu. Dia langsung memeluk Dhea sambil menggertakkan gigi dan memaki, "Dhea, Yordan benar-benar berengsek!"
"Waktu melamar kamu, semua janji manis dia keluarkan. Sekarang berani-beraninya dia diam-diam punya selingkuhan dan anak!"
Dhea memejamkan mata, membiarkan air mata mengalir deras. Dalam hati, dia sudah membuat keputusan ....
Bab 2
Keesokan paginya, hujan reda dan langit cerah kembali. Dhea tidak tidur semalaman.
Dia memikirkan banyak hal sepanjang malam. Dia pernah melihat cinta yang paling murni, jadi bagaimana mungkin dia bisa menerima hati yang sudah berubah?
Dia adalah Dhea, perempuan yang sungguh-sungguh mencintai Yordan, sekaligus putri sulung Keluarga Prawita. Dia tidak bisa menerima sedikit pun kesalahan dalam hidupnya.
Dengan pikiran itu, dia menelepon orang rumah. "Ayah, aku ingat Keluarga Prawita berencana mengembangkan bisnis di Inlandia. Kebetulan suaminya Naira berasal dari keluarga kekaisaran di sana. Setengah bulan lagi dia akan kembali bersama anaknya, aku mau ikut ke sana lihat-lihat."
Mahesa terdengar heran. "Yordan yang suruh kamu telepon Ayah?"
"Bukan, kali ini aku sendiri yang mau pergi." Dhea tersenyum pahit. Semua orang menganggap dirinya dan Yordan adalah satu kesatuan, bahkan ayahnya pun begitu.
Mahesa terkejut. Putrinya yang biasanya tak rela berpisah dari Yordan, tiba-tiba ingin pergi sejauh itu?
"Dhea, apa Yordan melakukan kesalahan padamu?" Nada Mahesa berubah serius.
Dhea menggigit bibir, akhirnya memilih menyembunyikan lebih dulu. "Ayah, jangan tanya dulu. Setelah aku sampai Inlandia, aku akan ceritakan semuanya."
Keluarga Furama dan Keluarga Prawita memang sahabat lama, apalagi setelah adanya hubungan pernikahan. Dhea tak ingin keluarganya terseret masalah karenanya.
Akhirnya, Mahesa tak bisa menolak keinginan putrinya. "Oke. Nanti kamu datang ke Grup Prawita sebentar, kenali dulu urusan-urusan yang berkaitan."
Dhea mengangguk. Setelah menutup telepon, dia bangkit untuk mencuci wajah. Saat menatap cermin, dia mendapati matanya bengkak seperti kenari, membuat hatinya semakin getir.
Pengacara sudah menyiapkan surat cerai dan mengirimkan kepadanya, tetapi dia masih tak tahu bagaimana harus mengatakannya kepada Yordan. Bagaimanapun, hubungan mereka sudah bertahun-tahun. Mana mudah diputuskan begitu saja?
Dhea menutupi kesedihannya dengan riasan, mengenakan setelan kerja yang penuh wibawa, lalu keluar kamar.
Di bawah, Naira sedang menemani Lauren sarapan. Sepertinya, kondisi Dhea kemarin benar-benar membuat Lauren ketakutan.
"Bibi sudah bangun!" Lauren berlari dengan kaki mungilnya, menggenggam tangan Dhea, lalu meniupkan napas ke telapak tangan itu. "Mama bilang kemarin hati Bibi sakit. Aku tiup biar nggak sakit lagi."
Anak enam tahun memang polos. Dhea mengelus pipinya. "Lauren anak baik. Bibi sudah nggak sakit lagi, ayo kembali ke meja makan."
Lauren mengangguk polos, lalu berlari ceria ke pelukan Naira. Melihat itu, Dhea kembali teringat senyuman dan tawa Yordan bersama anak itu kemarin. Kalau saja anak mereka hidup, mungkin usianya lebih besar daripada Rafael.
Dhea menarik napas panjang, menekan kegetirannya, lalu pamit sebentar sebelum pergi. Namun, baru saja keluar dari gerbang vila, dia melihat di dekat mobil Maybach, berdiri satu sosok.
Itu adalah Yordan. Wajahnya lelah, sebatang rokok terselip di bibir, asap mengepul mengelilinginya membuat wajahnya tampak samar.
Dhea terkejut. Menurut informasi, ulang tahun Larissa dan anaknya jatuh di bulan Juli. Ulang tahun Larissa sudah lewat, sementara Rafael belum. Lantas, kenapa dia pulang mendadak?
Mungkin karena tatapannya terlalu panas, Yordan menyadari, lalu menoleh. Ketika melihat Dhea, mata yang semula redup itu tiba-tiba bersinar.
Yordan melangkah cepat menghampiri, langsung menarik Dhea ke dalam pelukannya. Pelukan itu masih sama hangatnya, tetapi kali ini membuat tubuh Dhea gemetar.
"Sudah agak baikan belum? Suaramu kemarin terdengar aneh, jadi aku langsung buru-buru pulang Sampai rumah nggak lihat kamu, aku tahu pasti di tempat Naira." Nada suara Yordan penuh kekhawatiran, tampak tulus tanpa dibuat-buat.
Dhea masih tak mengerti. Bagaimana mungkin pria yang dulu begitu mencintainya, bisa tenang-tenang bersama wanita lain sampai punya anak?
Bibirnya bergetar, menelan rasa pahit yang menyumbat tenggorokan. Dhea ingin bertanya, tetapi akhirnya hanya menyahut pelan, "Aku nggak apa-apa. Tadi juga memang mau pulang."
Yordan menghela napas lega. "Kalau sakit, jangan sembunyiin dari aku. Aku bisa khawatir setengah mati."
Suaranya lembut, dalam, membuat Dhea hampir percaya pada kehangatan semu itu. Namun, dari sudut matanya, dia melihat sosok ramping berdiri di bawah pohon.
Larissa. Wanita itu sedang menelepon. Tak lama kemudian, ponsel Yordan berdering.
Yordan menunduk melihat layar, wajahnya tampak kikuk. "Perusahaan ada urusan mendesak, aku harus urus sebentar."
Dhea tertegun. Dia jelas melihat nama itu sekilas, Larissa. Kegetiran di hatinya hampir meluap. Dia menahan diri, lalu berkata, "Pergilah, urusan perusahaan memang penting."
Tatapan Yordan dipenuhi rasa bersalah. Dia masih sempat mencium kening Dhea, lalu buru-buru masuk mobil dan pergi.
Begitu Yordan masuk mobil, Larissa menutup panggilannya. Sambil berlenggak-lenggok, dia berjalan mendekat. "Halo, Bu Dhea. Aku Larissa, aku ...."
Kalimatnya terhenti. Melihat bibir Dhea yang terkatup rapat, dia memahami sesuatu. "Sepertinya kamu sudah tahu tentang keberadaanku dan Rafael. Kalau begitu ... kita lihat saja nanti."
Bab 3
Dhea menghentikan sebuah taksi, mengikuti Larissa dari belakang.
Di rumah sakit, dia berdiri di depan pintu ruang rawat, menyaksikan semua yang terjadi di dalam. Sakit yang tajam menusuk hatinya hingga nyaris membuatnya tak bisa bernapas.
Dhea menggigit bibir kuat-kuat, menahan diri agar tidak mengeluarkan suara apa pun.
Saat ini, Rafael sedang diinfus. Wajah mungilnya tampak sangat lemah, membuatnya terlihat begitu menyedihkan.
Yordan gelisah setengah mati, mondar-mandir di ruang rawat sambil marah-marah, "Kalian ini kerja apa sih! Anak demam begini saja nggak bisa ditangani!"
Dokter yang sedang sibuk di samping adalah Josh, sahabat baik Yordan. Dhea mengenalnya.
"Anakmu cuma masuk angin, demam, dan pilek. Dirawat sendiri saja nggak becus, malah marah-marah sama rekan kerjaku!"
"Yordan, aku benar-benar nggak ngerti apa maumu. Bukannya dulu kamu bilang setelah perempuan itu melahirkan, kamu bakal kasih uang, lalu suruh pergi? Sekarang baru demam kecil sudah manggil aku ke sini. Kalau Dhea tahu, gimana?"
Setelah terdiam sejenak, suara Yordan akhirnya terdengar, lelah dan penuh ketidakberdayaan. "Aku bisa apa? Ikatan batin ibu dan anak terlalu kuat. Setiap kali menyuruh Larissa pergi, Rafael selalu menangis tanpa henti. Masa aku tega biarin anak terus-terusan menangis?"
Josh mendengus dingin. "Heh, sebenarnya anak yang nggak rela atau kamu yang nggak rela? Kamu sendiri tahu jawabannya."
Wajah Yordan semakin tegang. Dia memijat keningnya yang berdenyut sakit. "Jangan sembarangan! Seumur hidup ini aku hanya mencintai Dhea. Tapi Keluarga Furama nggak bisa tanpa pewaris. Kamu harus bantu aku merahasiakan ini dari Dhea, aku nggak mau dia terluka."
"Bagaimanapun juga, Larissa sudah melahirkan anakku. Aku nggak bisa menelantarkannya."
Mendengar itu, Larissa masuk sambil menangis tersedu-sedu. "Yordan, ini salahku yang nggak menjaga Rafael dengan baik. Semalam setelah kamu pergi, dia demam dan nangis ingin bertemu kamu. Aku takut mengganggumu dan Bu Dhea, jadi aku nggak bilang ...."
Yordan mengelus pipi anaknya yang panas, menghela napas. Hatinya melunak. Dia memeluk Larissa, menenangkan, "Jangan nangis lagi. Aku nggak bermaksud menyalahkanmu. Rafael anak kita, justru aku yang sebagai ayah yang nggak becus."
Larissa menarik kerah baju Yordan, lalu jarinya menyapu dada Yordan dengan lembut. "Yordan, aku tahu aku nggak sebanding dengan Bu Dhea. Tapi aku nggak tega melihat anak kita menderita ...."
Tatapan Yordan menjadi tajam. "Nggak akan ada yang berani menyakiti anakku. Kamu sendiri yang harus jaga kesehatan. Lihat, wajahmu sampai bengkak karena nangis."
Dia mengangkat tangannya, dengan lembut menghapus air mata di sudut mata Larissa. Adegan mesra itu menusuk hati Dhea hingga sakitnya tak tertahankan.
Dhea mengepalkan tangannya, membiarkan kuku-kukunya mencengkeram telapak tangannya hingga berdarah. Namun, rasa sakit itu tak ada apa-apanya dibandingkan rasa sakit di hatinya.
Hujan deras kembali turun. Dhea meninggalkan rumah sakit, berjalan di tengah guyuran hujan. Air hujan mengalir di pipinya, membuat pandangannya kabur. Namun, itu tetap nggak mampu mencuci bersih kehancuran di hatinya.
Saat sampai di Grup Prawita, pergelangan kakinya sudah lecet berdarah karena sepatu hak tingginya.
Penampilannya membuat resepsionis terkejut dan buru-buru mendekat. "Bu Dhea! Ada apa? Perlu aku telepon Pak Yordan? Kalau Pak Yordan lihat Ibu seperti ini, pasti dia sangat khawatir."
Hati Dhea sudah mati rasa. Ya, semua orang selalu percaya Yordan mencintainya, tanpa terkecuali.
Namun, mereka tidak tahu seberapa banyak kebohongan dan pengkhianatan yang tersembunyi di balik cinta itu.
Dia menepis tangan resepsionis yang hendak memapahnya, suaranya serak. "Aku nggak apa-apa. Tadi tiba-tiba turun hujan. Tolong belikan aku pakaian bersih, antar ke sini."
Dhea menyerahkan kartu hitam, lalu mengurung diri di ruang rapat terdekat. Begitu pintu tertutup, dia tak bisa lagi menahan tangisannya. Dia mengira setelah melihat foto-foto itu, hatinya sudah kebal.
Namun, ketika menyaksikan sendiri kebersamaan Yordan, Larissa, dan Rafael, luka terdalamnya kembali terkoyak habis-habisan.
Ruang rapat yang luas bergema oleh isakannya yang memilukan. Dia begitu ingin bertanya kepada Yordan, kenapa dulu dia yang bersumpah setia, kini malah bermesraan dengan wanita lain dan punya anak?
Sampai suara ketukan pintu terdengar, Dhea baru tersadar. Orang yang mengetuk sudah pergi. Hanya ada pakaian baru, kartu hitam, dan segelas air hangat yang ditaruh di depan pintu. Di bawah gelas, ada secarik catatan tulisan tangan.
[ Bu Dhea, tenang saja. Aku nggak menghubungi Pak Yordan. Aku tahu Ibu nggak ingin membuatnya khawatir. ]
Perasaan Dhea campur aduk. Akhirnya dia merobek catatan itu dan membuangnya ke tong sampah.
Dia mengganti pakaian di ruang rias. Sesaat kemudian, sosok tegar dan berwibawa Dhea sudah kembali, seolah-olah tidak ada yang bisa membuatnya gentar.
Dengan sepatu hak tingginya, dia melangkah ke ruang CEO. Hari itu, dia menenggelamkan diri dalam pekerjaan sepanjang hari.
Selama itu, Yordan mengirim banyak pesan, tetapi satu pun tak dia buka, apalagi balas.
Sampai sore, Dhea pulang ke vila dengan tubuh lelah, berniat berkemas dan berangkat besok pagi. Namun, begitu membuka pintu, tawa riang seorang anak terdengar dari ruang tamu. Di sana, Larissa berdiri tepat di hadapannya!
Bab 4
Wanita itu mengenakan pakaian pelayan dari rumah lama Keluarga Furama. Tak jauh darinya ada seorang anak laki-laki yang membuat ruang tamu berantakan.
Begitu melihat Dhea masuk, Larissa bangkit dari sisi Yordan, lalu tersenyum lembut dan sopan. "Nyonya sudah pulang, aku adalah pelayan yang dikirim dari rumah lama untuk merawat Tuan Muda."
Dhea refleks menggigit bibirnya, bahkan napasnya terasa sulit. Yordan ... berani sekali dia! Tega sekali dia membawa kedua orang ini ke rumah mereka!
Melihat ekspresi Dhea berubah, Yordan buru-buru menjelaskan, "Sayang, tadi siang aku sudah kirim pesan, mungkin kamu nggak lihat. Rafael adalah anak yang Ibu bawa dari panti asuhan, katanya dia berjodoh dengan kita."
Semua rasa sakit hati sudah Dhea luapkan di ruang rapat kosong itu. Kini, yang tersisa di dada Dhea hanyalah amarah yang menggelegak. Orang-orang ini benar-benar menganggapnya bodoh!
"Yordan, kamu sengaja ingin menyakitiku?" Suara Dhea bergetar, jelas sekali dia sangat marah.
Mendengar itu, Yordan sedikit mengernyit. Dia tak menyangka Dhea akan menolak begitu keras. Dia pun panik dan menjelaskan, "Sayang, jangan marah."
"Kamu tahu Keluarga Furama nggak bisa tanpa penerus. Aku juga lihat kamu masih sedih karena anak kita yang meninggal itu, jadi aku terpaksa menyetujui permintaan Ibu. Kalau kamu nggak suka, aku akan segera suruh orang mengirimnya kembali!"
Semua orang tahu Yordan sangat mencintai Dhea. Prinsipnya selalu Dhea adalah yang utama. Seperti sekarang, meskipun itu adalah anak kandungnya sendiri, selama Dhea tidak suka, dia akan langsung mengusirnya.
Namun, justru sikap pilih kasih semacam itu yang membuat Dhea benar-benar muak. Dia baru akan berbicara, tetapi anak bernama Rafael itu tiba-tiba cemberut dan menangis keras.
"Dasar wanita jahat! Papa, kenapa Papa bersama wanita jahat ini? Papa sudah nggak mau sama aku lagi ya?"
Tangisan anak itu begitu nyaring, membuat kepala Yordan berdenyut. Dia langsung membentak, "Rafael! Siapa yang mengajarimu bicara omong kosong begitu! Kalian semua sudah mati ya? Cepat bawa dia kembali ke kamar!"
Beberapa pelayan segera maju, dengan gugup membawa Rafael yang menangis tak henti masuk ke kamar.
Larissa juga terlihat panik, buru-buru meminta maaf, "Tuan, semua ini salahku. Tolong jangan salahkan Tuan Muda."
Sambil berbicara, dia melirik Yordan dengan tatapan penuh rasa iba, seolah-olah cukup untuk membuat pria itu luluh.
Yordan menghela napas, nada suaranya melunak. "Aku nggak menyalahkannya. Dia masih anak-anak, nggak ngerti apa-apa. Cepat urus dia."
Semua itu terlihat jelas oleh Dhea dan hatinya semakin membeku. Dia menepis tangan Yordan, lalu langsung naik ke lantai atas, menutup pintu kamar, dan membiarkan Yordan terhalang di luar.
Yordan berdiri di depan pintu. Hatinya penuh rasa frustrasi, tetapi dia tetap mencoba menenangkan dengan sabar, "Sayang, semua salahku. Besok pagi aku akan mengirim anak itu pergi. Kalau kamu nggak ingin aku menemanimu, nggak apa-apa. Kamu istirahat saja, besok kita bicara lagi."
Dhea duduk bersandar di balik pintu, mendengar langkah Yordan menjauh. Rasa sakit di dadanya sudah tak terasa. Dikirim pergi atau tidak, apa bedanya? Ikatan darah tidak mungkin terputus. Pada akhirnya, yang seharusnya pergi adalah dirinya!
Dhea tak menjawab, hanya mengunci pintu. Bersandar sendirian pada pintu yang dingin, mendengar langkah kaki pria itu menjauh. Tubuhnya akhirnya tak kuat lagi dan dia jatuh terduduk ke lantai.
Dia hanya merasa lelah, tubuh dan hatinya sama-sama hancur. Tak tahu berapa lama kemudian, ponselnya berbunyi. Dia membuka layar dengan ekspresi datar, lalu mendapati ada permintaan pertemanan dari orang asing. Itu dari Larissa.
[ Nyonya, karena kamu yang mengusir suamimu dari kamar, jangan salahkan dia kalau datang ke tempatku. ]
Mata Dhea terbelalak. Dia segera bangkit dan melangkah keluar kamar. Dari kejauhan, terlihat cahaya redup dari ruang kerja di ujung lorong lantai dua.
Pintu sedikit terbuka, dari celah terdengar suara manja seorang wanita. "Yordan, sakit lho ...."
Kemudian, terdengar dengusan seorang pria dan suara beratnya. "Takut sakit, tapi masih berani menggodaku? Kamu ini sudah punya anak, tapi masih nakal."
Seketika, tubuh Dhea dingin membeku. Darahnya seolah-olah berhenti mengalir. Tak pernah dia duga, Yordan begitu tidak sabar!
Suara dari dalam terus berlanjut. Larissa menahan desahan sambil berucap, "Aku cuma lihat kamu dibuat kesal sama istrimu, jadi aku ingin menghiburmu."
"Kalau memang genit, jangan cari alasan. Ingat, kalau mau Rafael tetap tinggal di Keluarga Furama, jangan bikin istriku marah."
Dhea tak sanggup lagi mendengarkan. Dia bahkan tak tahu bagaimana dirinya bisa kembali ke kamar.
Begitu masuk, dia langsung berlari ke kamar mandi, berpegangan di wastafel, lalu muntah dengan hebat. Perutnya sampai sakit. Setelah itu, dia perlahan menegakkan tubuh, menatap pantulan dirinya yang tampak berantakan di cermin.
Air matanya sudah habis. Dia adalah putri sulung Keluarga Prawita. Statusnya sangat tinggi. Dia tidak seharusnya sampai di titik serendah ini.
Dhea tak tahu berapa lama dirinya berdiam di kamar mandi. Hingga fajar menyingsing, barulah dia kembali ke ranjang. Kali ini, giliran dia yang tak lagi menginginkan pria itu.
Bab 5
Keesokan paginya saat Dhea turun, dia melihat Larissa sedang berdiri di depan meja makan, sibuk menata peralatan makan.
Setelah semalam berusaha keras, akhirnya Larissa berhasil mengganti pakaian pelayan. Kini, dia mengenakan terusan ketat yang menonjolkan lekuk tubuhnya. Ditambah lagi wajahnya yang sedikit mirip dengan Dhea, tidak heran Yordan akan memilihnya.
Melihat Dhea muncul, Larissa menyapa dengan hangat, "Nyonya sudah bangun, ayo sarapan."
Dia tampak seolah-olah tidak sengaja memiringkan tubuhnya, memperlihatkan bekas ciuman di lehernya. Di pergelangan tangan yang ramping, ada sebuah gelang giok berwarna hijau bening.
Dhea langsung mengenalinya. Itu adalah milik Anindya, pusaka turun-temurun Keluarga Furama.
Dia pernah mendengar Anindya bercerita, Yordan juga pernah memintanya, tetapi Anindya menolak dengan alasan Dhea tidak bisa melahirkan. Kini, benda itu malah dipakai oleh Larissa.
Dhea mengepalkan tangannya erat-erat, tiba-tiba merasa semua yang selama ini dia pertahankan begitu konyol.
Awalnya, dia masih memikirkan hubungan lama antara dua keluarga agar tidak memperkeruh keadaan. Namun, pada akhirnya Larissa justru menjadi menantu yang diakui Anindya.
Bahkan kemarin di rumah sakit, sahabat baik Yordan pun sudah tahu keberadaan Larissa. Hanya dia yang seperti orang bodoh, ditipu habis-habisan oleh janji kosong Yordan.
Dhea tidak bisa menahan tawa getir. Jika Yordan dulu benar-benar ingin punya anak dan berpisah darinya, dia juga sanggup melepaskannya dan tidak akan lagi terikat dengan hubungan ini.
Setiap kali teringat kejadian semalam di ruang kerja, dadanya kembali terasa seperti ditusuk ribuan jarum. Dia begitu ingin menampar Yordan.
Namun, itu bukan hasil yang dia inginkan. Yang dia mau adalah membuat Yordan menyesal seumur hidup.
Saat ini, Yordan turun dari lantai atas. Tubuhnya segar bugar, sama sekali tak terlihat lelah setelah bermain semalaman.
Ketika melewati Larissa, jelas terlihat tatapan penuh makna di antara mereka berdua, membuat Larissa tersipu hingga menunduk.
Begitu berbalik, barulah Yordan melihat wajah Dhea yang pucat. Dia langsung panik. "Sayang, kamu sakit karena kemarin kehujanan? Gimana kalau aku nggak ke kantor hari ini dan temani kamu di rumah saja?"
Saat ini, Dhea justru ingin dia segera pergi. Setiap menit dan detik bersama Yordan membuatnya merasa sesak, bahkan jijik.
"Nggak perlu," tolak Dhea. "Urusan di kantor lebih penting, aku bisa istirahat di rumah."
Yordan mengerutkan alis, hatinya tiba-tiba diliputi kegelisahan. Biasanya, Dhea justru selalu ingin dia berada di sisinya. Kini, sikapnya benar-benar berbeda.
Namun, Yordan mengenal Dhea dengan baik. Dia tahu sekali Dhea sudah mengambil keputusan, tak ada yang bisa mengubahnya. Jadi, dia hanya bisa berpesan kepada para pelayan, "Kalian jaga Nyonya baik-baik."
Para pelayan saling memandang, seolah-olah sudah terbiasa dengan kemesraan tuan dan nyonya mereka. Mereka hanya mengangguk patuh.
Tiba-tiba, Larissa berdiri dan berjalan ke arah Yordan. Dia merapikan kerah jas Yordan dengan lembut. "Kerahmu kurang rapi, biar kubetulkan."
Yordan pun refleks menunduk, membiarkannya. Gerakan tanpa sadar itulah yang paling menusuk hati.
Para pelayan yang melihatnya langsung tertegun, menahan napas, diam-diam melirik ke arah Dhea.
Barulah Yordan menyadari ada yang salah. Dia buru-buru mundur selangkah, menjaga jarak dari Larissa, lalu berterima kasih secara sopan.
"Aku ke kantor dulu." Yordan mendekati Dhea, menunduk, lalu mengecup keningnya. Setelah itu, dia meneruskan dengan lembut, "Sayang, tunggu aku pulang."
Nada penuh kasihnya persis dengan yang terdengar semalam di ruang kerja.
Bab 6
Di meja makan, Dhea menatap sarapan panas di depannya. Rasanya hambar seperti mengunyah lilin.
Kelembutan penuh perhatian Yordan, ditambah provokasi Larissa, semuanya terus terngiang di benak Dhea, membuatnya benar-benar tak bisa menelan makanan.
Dhea langsung berbalik dan naik ke lantai atas, mulai membereskan barang-barangnya. Vila ini menyimpan terlalu banyak kenangan mereka, dia harus membuang satu per satu dengan tangannya sendiri.
Entah sejak kapan, Larissa sudah berdiri di belakangnya. "Benar-benar bisa menahan diri ya. Rafael adalah penerus masa depan Keluarga Furama dan aku adalah ibu kandung penerus itu. Di rumah ini, kamu nggak punya tempat."
Dhea menoleh, menatapnya dengan senyuman tipis yang dingin. "Terus, kenapa?"
Reaksi tenang itu membuat Larissa sedikit tak berdaya. Dia mengerutkan kening, lalu melanjutkan, "Aku tahu kamu nggak mau cerai, tapi kamu nggak bisa seegois itu. Kamu menahan posisi Nyonya Furama tanpa mau melepaskannya. Keluarga Furama nggak sudi menerima seorang wanita yang nggak bisa melahirkan."
Dhea mencibir, sorot matanya penuh ejekan. "Posisi Nyonya Furama? Kalau kamu suka, ambil saja."
Sambil berkata begitu, dia langsung mengeluarkan surat perjanjian cerai dari tasnya, lalu menyerahkannya ke Larissa.
"Kamu tahu gimana perasaan Yordan padaku. Buat dia setuju bercerai itu bukan perkara mudah.
Sekarang aku kasih surat perjanjian cerai ini ke kamu. Kalau kamu mampu, suruh dia tanda tangan, lalu kirimkan padaku. Kalau nggak mampu, ya siap-siap seumur hidup jadi wanita tanpa status!"
Wajah Larissa langsung berseri-seri. Dia cepat-cepat merebut dokumen itu. Melihat tanda tangan Dhea sudah tertera di atasnya, ekspresinya menjadi penasaran. "Kamu benar-benar rela meninggalkan Yordan?"
Hati Dhea sedikit bergetar. Ketika cinta pada seseorang sudah mengisi hampir seluruh hidupnya, mendengar kata "meninggalkan" itu jelas mustahil membuatnya benar-benar tenang.
Dia perlahan menutup mata, menekan rasa getir yang meluap di hatinya. Saat kembali membuka mata, yang tersisa hanyalah ketenangan. "Aku nggak sudi berebut laki-laki dengan orang lain!"
Dia bisa saja mengorbankan nyawa untuk Yordan, tetapi pengkhianatan adalah sesuatu yang tidak bisa dia terima.
Larissa terkekeh-kekeh, merasa Dhea hanya keras kepala. Namun, dia tetap membawa surat perjanjian cerai itu pergi.
Dhea menatap ruang ganti yang dipenuhi hadiah-hadiah pemberian Yordan. Hatinya terasa hampa.
Dia mulai berkemas. Pakaian, dokumen, barang-barang penting, semua dimasukkan ke koper, tidak ada yang tertinggal.
Adapun semua hadiah dari Yordan, dia tidak menyisakan satu pun. Semuanya dikemas rapi, lalu dikirim ke balai lelang. Karena sudah memutuskan pergi, dia harus membereskan semua hingga bersih.
Para pelayan diam-diam memperhatikan dari jauh, saling berbisik tentang apa yang sebenarnya terjadi. Dhea malas menjelaskan apa pun.
Setelah semuanya selesai dibereskan, waktu sudah sore. Dhea duduk di ruang tamu dengan koper yang sudah siap, menunggu Naira datang menjemputnya.
Saat ini, Dhea baru tersadar. Seharian ini dia tidak melihat Rafael sama sekali. Apa benar anak itu sudah dikirim pergi?
Ketika dia masih dipenuhi tanda tanya, tiba-tiba Yordan bergegas pulang. Di belakangnya ada Larissa dan Anindya.
"Nyonya, kumohon, katakan padaku Rafael ada di mana?" Larissa berlari ke arahnya sambil menangis. Kedua tangannya mencengkeram lengan Dhea dan mengguncangnya keras-keras.
Guncangan mendadak itu membuat Dhea terhuyung mundur, lalu tak sengaja membentur sudut meja di belakangnya. Rasa sakit yang tajam langsung menyerang.
Dia kesakitan sampai menarik napas dalam-dalam. "Kamu gila ya? Mana aku tahu dia ada di mana."
Larissa malah menangis semakin keras. Dia langsung meraih pisau buah di meja makan dan menempelkannya ke leher Dhea.
"Nyonya! Aku tahu kamu nggak suka Rafael, tapi kamu nggak boleh diam-diam mengirimnya pergi tanpa izin Tuan! Kembalikan Rafael kepadaku!"
Bab 7
Rafael benar-benar hilang?
Dhea terpaku di tempat, tidak berani bergerak. Pisau buah itu sudah meninggalkan goresan tipis di lehernya, rasanya perih menusuk.
"Sadar sedikit, aku nggak tahu di mana anakmu!" pekik Dhea.
Larissa seperti orang yang kehilangan akal sehat. Tangan yang menggenggam pisau bergetar hebat.
"Nggak mungkin! Cuma kamu yang nggak suka sama Rafael. Hari ini kamu juga memanggil begitu banyak mobil untuk mengangkut barang-barangmu. Kalau bukan kamu, siapa lagi?"
Matanya merah, benar-benar terlihat seperti ibu yang kehilangan anak. Suaranya sudah serak karena menangis, tetapi dia masih bersikeras berkata, "Nyonya, aku mohon kembalikan Rafael kepadaku. Dia satu-satunya sandaran hidupku."
Usai berbicara, Larissa langsung melemparkan pisau buah di tangannya, lalu jatuh berlutut di depan Dhea. "Nyonya, Rafael adalah nyawaku ...."
Dhea akhirnya terbebas dari cengkeraman. Mendengar itu, dia merasa sangat ironis. Dia tak kuasa untuk bertanya, "Kembalikan? Dia cuma anak yatim piatu yang diadopsi, apa hubungannya sama kamu? Kenapa harus kukembalikan?"
"Dia itu ...." Larissa hampir keceplosan, tetapi segera sadar, lalu buru-buru berhenti. Dia hanya bisa terisak lirih.
Kali ini, giliran Dhea yang tidak mau melepaskan. Semua terlihat jelas di matanya. Matanya berkilat, dia sengaja memancing Larissa, "Dia itu siapamu, hah? Coba kamu bilang!"
"Cukup!" hardik Yordan dengan suara dingin. "Dhea, jangan terlalu mendesaknya."
Mata Dhea bergetar hebat. Dia menatap Yordan dengan tidak percaya. Sejak kecil mereka tumbuh bersama, Yordan tidak pernah tega mengucapkan satu kata kasar padanya. Barusan ketika Larissa menyanderanya, Yordan pun tidak membantunya sama sekali.
Ini pertama kalinya Yordan berbicara padanya dengan nada keras, demi melindungi selingkuhan dan anak haramnya!
Kecewa .... Semua emosi menumpuk dalam benaknya berkumpul menjadi satu kata itu. Kini, Dhea benar-benar kecewa pada Yordan.
Yordan bisa melihat perubahan ekspresinya. Merasa kata-katanya barusan terlalu berlebihan, dia buru-buru melembutkan nadanya. "Dhea, aku nggak bermaksud menyalahkanmu. Sejak diadopsi, Rafael dirawat sama dia. Tadi dia cuma terbawa emosi ...."
Dhea menyela dengan dingin, "Nggak perlu dilanjutkan lagi, aku nggak mau dengar. Yordan, aku ulangi sekali lagi, aku nggak tahu di mana anakmu. Kalau memang hilang, lapor saja ke polisi."
Tatapannya tanpa sedikit pun emosi, tenang sampai membuat Yordan gelisah. Bahkan saat Dhea mengatakan Rafael adalah anak Yordan, Yordan tidak sadar.
Saat ini, asisten buru-buru masuk. "Pak, anaknya sudah ditemukan. Dia ada di sebuah truk yang mau ke luar kota. Untung truknya belum jalan jauh. Sekarang sudah dalam perjalanan pulang."
Semua orang di ruangan menghela napas lega, hanya Dhea yang tidak bisa ikut lega. Hari ini memang dia memanggil beberapa mobil untuk mengirim barang ke balai lelang dan ini jelas membuat semua kecurigaan mengarah padanya.
Anindya duduk di sofa, mendengus dingin. "Kamu sendiri nggak bisa melahirkan. Sudah kuberikan seorang anak pun masih nggak puas. Menurutku, kamu memang mau membuat Keluarga Furama nggak punya keturunan."
Ucapan Anindya sangat menusuk, seolah-olah merobek luka lama Dhea dan menaburkan garam di atasnya.
Secara refleks, dia menoleh ke arah Yordan, lalu mendapati Yordan justru menatap Larissa dengan sorot mata tajam, tidak tahu sedang memikirkan apa.
Dhea merasakan sesak di dadanya, napasnya tertahan. Dia mentertawakan dirinya sendiri. "Benar, dulu aku seharusnya nggak mempertaruhkan nyawaku untuk menyelamatkan Yordan. Seharusnya aku biarkan saja dia mati."
Begitu kata-kata itu dilontarkan, hatinya hancur berkeping-keping.
Yordan kaget, menoleh menatapnya, melihat kesedihan di mata Dhea. Goresan merah di lehernya semakin mencolok, membuat hati Yordan mencelos. "Dhea, jangan bicara kalau lagi marah."
Dia buru-buru melangkah maju, ingin meraih tangan Dhea, tetapi Dhea menghindar. Tidak ada kesedihan yang lebih dalam daripada hati yang sudah mati. Teringat tangan itu semalam masih menyentuh tubuh Larissa, Dhea merasa sangat jijik!
Dhea tidak lagi menoleh padanya, hanya menunduk bermain ponsel, bertanya kepada Naira berapa lama lagi dia bisa sampai. Namun, balasan yang ditunggu tak kunjung datang.
Vila seketika sunyi, hanya tersisa suara tangisan Larissa yang tersendat-sendat.
Tak lama kemudian, Rafael dibawa pulang. Begitu melihat Dhea, dia langsung bersembunyi di belakang Yordan, menunjuk ke arah Dhea sambil berseru, "Papa, dia yang mau buang aku! Dia pelakunya!"
Mendengar itu, Anindya segera berdiri, wajahnya serius. "Dhea, apa lagi yang bisa kamu katakan? Rafael masih kecil, apa dia bisa berbohong?"
Sementara itu, tatapan Yordan bergetar. Saat mata mereka bertemu, Dhea langsung menangkap emosi yang tersembunyi di dalam sorot matanya. Pria ini sedang mencurigainya.
Bab 8
Dhea sontak merasakan ketidakberdayaan di hatinya. Dia menarik bibirnya yang terasa pahit, lalu menyahut dengan suara berat, "Sudahlah, terserah kalian mau pikir apa. Lagi pula, apa pun yang kukatakan tetap nggak ada gunanya."
"Papa, lihat! Perempuan jahat itu sudah mengakuinya. Papa harus menghukumnya!" Rafael menarik-narik lengan baju Yordan, sementara matanya diam-diam melirik ke arah Larissa.
Saat tatapan keduanya bertemu, Larissa mengangguk ringan. Barulah wajah tegang Rafael sedikit mengendur.
Yordan berjongkok, mengusap lembut kepala anaknya. Tatapannya penuh kasih. "Anak baik, Papa pasti akan melindungimu."
Segera setelah itu, suaranya menjadi dingin. "Bawa Nyonya ke aula leluhur di rumah lama untuk dihukum berlutut. Tanpa izinku, dia nggak boleh keluar!"
Keputusan Yordan sudah bulat, tak ada ruang untuk perubahan. Selesai berbicara, dia memapah Larissa berdiri, lalu mereka bertiga berjalan keluar begitu saja. Dari awal sampai akhir, dia tidak melirik Dhea sedetik pun.
Sebaliknya, Larissa justru menatapnya dengan sikap menantang. Sorot mata penuh ambisi itu menusuk hati Dhea.
Melihat mobil di luar menyala dan melaju pergi, Anindya akhirnya merasa puas. Dia mengangkat dagu tinggi-tinggi, memperlihatkan sikap seorang senior, melambaikan tangan agar para pelayan segera menyeret Dhea pergi.
Para pelayan yang sudah bertahun-tahun bekerja di sana tampak tak tega, bahkan sempat berbisik untuk menenangkan, "Nyonya jangan khawatir, kami semua percaya Nyonya bukan orang seperti itu. Tuan mungkin punya alasan yang sulit diucapkan. Dia sangat mencintai Nyonya, pasti nggak akan benar-benar membiarkan Nyonya menderita."
Dhea hanya tersenyum getir. Sudahlah, toh sebentar lagi dia juga akan pergi. Semua ini tak ada lagi artinya.
Dia berlutut di aula leluhur selama tiga hari tiga malam. Hari-hari itu jauh lebih sulit dari yang dia bayangkan.
Para pelayan rumah lama jelas sudah diberi perintah. Cacian dan hinaan tak terhitung jumlahnya, lalu setiap beberapa jam sekali dia harus menerima hukuman pukulan. Tongkat menghantam tubuhnya, tetapi Dhea tetap menahan diri tanpa mengeluarkan suara.
Dia menggigit bibir sampai bau amis darah terasa di mulutnya, keputusasaan di hatinya semakin dalam.
Mendadak, dia teringat tujuh tahun lalu, ketika Yordan berlutut di aula leluhur Keluarga Furama selama tiga hari tiga malam demi menikahinya. Tulang rusuk yang patah dan baru tersambung hampir membuat Yordan cacat seumur hidup.
Bukan hanya Anindya yang memaksa Yordan, sebenarnya Naira dan orang tua Dhea juga terus menasihati. Semua orang tahu betapa pentingnya garis keturunan bagi Keluarga Furama.
Saat itu, Dhea merasa kasihan pada Yordan, percaya bahwa cinta mereka akan abadi. Dia pun menanggung tekanan besar dan menikah dengannya.
Kini, apakah ini balasan karena dia mencintai orang yang salah? Dia bersumpah akan membuat Yordan menyesal!
Hingga pagi hari keempat, pintu aula leluhur perlahan terbuka dan Yordan masuk. "Sayang, aku datang menjemputmu," ucapnya dengan suara parau dan wajahnya terlihat lelah.
Dhea seolah-olah tidak mendengarnya, hanya menatap barisan papan leluhur di depan dengan tatapan kosong.
Ya, aula leluhur Keluarga Furama sangat lengkap. Setiap generasi penguasa dipuja di sana dan asap dupa tak pernah berhenti. Dia benar-benar terlalu naif, sampai berani percaya bahwa Yordan akan rela melepaskan anak itu.
Akhirnya, semua ini hanyalah kesalahannya sendiri.
Dhea tidak menjawab, hanya perlahan berdiri. Kakinya sudah mati rasa karena terlalu lama berlutut, belum lagi setiap gerakan membuat luka di punggungnya semakin perih.
Begitu berdiri, tubuhnya langsung terjatuh. Untung Yordan segera meraihnya agar tubuhnya tidak membentur lantai lagi.
"Dhea, kalau kamu berbuat salah, kamu harus menerima hukuman. Kalau nggak, gimana memberi contoh pada anak? Lagi pula, ini hanya hukuman berlutut."
Hanya hukuman berlutut? Lantas, luka-luka di tubuhnya ini apa?
Dhea tersenyum pahit, lalu mendorongnya menjauh. "Yordan, dulu kamu bilang, selama aku nggak suka, kamu akan mengirim anak itu pergi."
Yordan berkerut, menghela napas penuh rasa tak berdaya. "Dhea, Keluarga Furama nggak bisa tanpa penerus. Anak itu pilihan terbaik. Kita ini suami istri, kamu juga harus mempertimbangkan untukku."
Ucapan ini sudah berkali-kali dia dengar sampai merasa bosan. Dhea hanya bisa mengejek, "Begitu ya? Kalau aku nggak tahu, aku pasti kira dia anak kandungmu."
Napas Yordan tercekat, matanya sedikit menghindar. "Mana mungkin. Sayang, seumur hidupku aku hanya akan mencintaimu. Tapi Rafael anak yang baik, dia sangat penurut."
Apakah itu cinta atau bukan, Dhea sudah tidak ingin memperdebatkan lagi. Namun, rasa tertekan yang dipendam bertahun-tahun kini hampir pecah.
"Yordan, kamu masih mau ...." Menipuku sampai kapan?
Belum sempat kata-kata itu selesai, Larissa tiba-tiba masuk. "Yordan, Rafael merengek ingin pergi ke taman hiburan. Kita pergi bersama ya."
Kemudian, dia melirik Dhea. "Tapi wajah Nyonya terlihat begitu pucat, mungkin sebaiknya ...."
"Dia nggak ikut," potong Yordan dingin, langsung membuat keputusan untuk Dhea. Tatapannya tanpa ekspresi ketika menoleh pada Dhea. "Besok ulang tahun Rafael. Keluarga Furama akan mengadakan pesta ulang tahun di rumah lama, sekaligus mengumumkan identitasnya. Sebagai ibunya, kamu harus mempersiapkan diri dengan baik."
Dhea hanya tertawa dingin dalam hati. Menjadi ibunya Rafael? Hanya mendengarnya saja sudah membuatnya muak.
Dia keluar dari aula leluhur dengan tertatih-tatih. Dari jauh, dia melihat Naira yang sedang cemas menunggunya.
Tanpa ragu, Dhea melangkah mendekat, tidak ingin menoleh, meskipun suara Yordan terdengar di belakang. "Dhea, aku akan temani Rafael ke taman hiburan. Malam ini aku nggak pulang. Istirahatlah dengan baik, besok pagi aku akan menyuruh orang menjemputmu."
Dhea tidak menoleh, hanya menjawab lirih, "Hmm."
Entah kenapa, melihat sosoknya yang semakin jauh, hati Yordan tiba-tiba diliputi rasa panik. Namun, dia menekan dirinya agar jangan bersikap terlalu lembek lagi. Dia tahu betul sikap keras kepala Dhea. Kalau Rafael ingin diakui, perpecahan ini memang tak bisa dihindari.
Yordan percaya, Dhea mencintainya. Setelah melewati penolakan awal, pada akhirnya Dhea pasti akan mengalah.
Di sisi lain, Dhea akhirnya duduk di mobil dengan bantuan Naira. "Dhea, koper yang kamu siapkan sudah kubawa. Terus, ini map dari Larissa."
Dhea membuka map itu. Di dalamnya adalah surat perjanjian cerai dan di akhir tertera tanda tangan Yordan.
Melalui jendela mobil, ia menatap keluarga kecil itu menaiki mobil dengan riang dan melaju pergi. Tatapannya membeku. "Naira, ke bandara. Kita pergi sekarang juga."
'Yordan, kali ini saat aku harus memilih, aku memilih untuk meninggalkanmu.'