Luka Yang Sisa Kenangan

Đang tải thông tin quảng bá...

Luka Yang Sisa Kenangan

GoodNovel Hoàn thành

Pada tahun keempat pernikahan dengan Rocky Riyandi, Luna Gozali hamil. Dia membawa dokumen pernikahan ke rumah sakit untuk membuat catatan kehamilan, tapi saat verifikasi data, perawat memberitahunya ...

Chương (1)

第1章

Pada tahun keempat pernikahan dengan Rocky Riyandi, Luna Gozali hamil. Dia membawa dokumen pernikahan ke rumah sakit untuk membuat catatan kehamilan, tapi saat verifikasi data, perawat memberitahunya bahwa akta nikahnya palsu. Luna terkejut dan bertanya, “Palsu? Mana mungkin?” Perawat menunjuk cap di atasnya, “Lihat, stempelnya miring dan nomor serinya juga salah.” Luna tidak menyerah. Dia segera pergi ke kantor catatan sipil untuk memastikan, tapi jawabannya tetap sama. “Pak Rocky sudah menikah, nama pasangan sahnya adalah Paula Gozali….” Paula Gozali? Seperti disambar petir, otak Luna seketika menjadi kosong! Paula adalah kakak tirinya dan juga cinta pertamanya Rocky. Dulu, demi mengejar mimpinya, kakaknya memilih pergi keluar negeri untuk melanjutkan studi. Dia kabur di hari pernikahan dan tega meninggalkan Rocky begitu saja. Namun sekarang, malah dia yang tercatat sebagai istri sah Rocky! Bab 1 Keluar dari kantor catatan sipil, Luna seperti mayat berjalan. Tatapannya hampa, langkah kakinya lemah tak berdaya. Hingga duduk di taksi yang berhenti di depannya, barulah air mata yang dia tahan sepanjang jalan turun tanpa suara. Empat tahun lalu, demi menjaga nama baik dua keluarga, dia terpaksa menggantikan kakaknya yang kabur di hari pernikahan untuk menikah dengan Rocky. Awalnya, Rocky bersikap dingin padanya. Namun, Luna tak pernah mengeluh, malah mengurus segala kebutuhan hidupnya dengan penuh perhatian. Perlahan, di bawah pendampingannya hari demi hari, Rocky mulai melonggarkan pertahanannya. Rocky mulai membiarkan Luna mengganggu jadwalnya. Mau bersabar mendengar lelucon garing yang Luna ceritakan. Bahkan dokumen-dokumen rahasia pekerjaan pun dipercayakan padanya. Sikap Rocky pun semakin baik padanya. Rocky memberinya kartu hitam tanpa batas, mengajaknya mencicipi semua restoran michelin. Bahkan saat tengah malam Luna ingin makan kue kacang di ujung kota, Rocky rela mengendarai mobil menempuh setengah kota untuk membelikannya, lalu mencubit pipinya sambil menggeleng pasrah dan berkata, “Aku belum pernah lihat ada kucing kecil yang begitu rakus sepertimu.” Luna kira dirinya akhirnya berhasil menghangatkan hati Rocky. Sampai dua bulan lalu, saat Paula yang didiagnosis kanker kembali ke dalam negeri. Malam itu, ayahnya, Jihan mengadakan kumpulan keluarga. Dengan wajah serius, dia memberitahu Luna, “Kanker kakakmu sudah stadium akhir, hidupnya paling lama tinggal setengah tahun. Penyesalan terbesarnya adalah nggak bisa menikah dengan Rocky. Jadi, untuk sementara kamu mundur dulu. Setelah pernikahan selesai dan kakakmu sudah tiada, Rocky tetap akan menjadi milikmu.” Ibu tirinya, Dewi memohon dengan suara bergetar, “Paula itu kakak kandungmu, mengalahlah sekali saja untuk dia!” Paula juga menangis pilu, “Ini satu-satunya keinginanku sebelum meninggal, kumohon kabulkanlah.” Luna tak percaya dengan telinganya sendiri. Seketika, mata Luna berkaca-kaca. Setiap kata yang dia ucapkan seakan berlumuran darah, “Waktu itu kalian yang mendorongku seperti boneka untuk menggantikan kakak menikah. Sekarang kalian malah ingin menyuruh Rocky untuk menikahi Kakak? Sebenarnya kalian menganggapku apa? Aku nggak setuju!” Namun, ayahnya tidak menggubris tuduhannya. Dia langsung mengurung Luna di rumah dan bilang baru akan melepaskannya kalau dia sudah setuju. Hari ketiga, Luna mendengar kabar bahwa Rocky marah besar hingga membanting cangkir teh di depan ayahnya. Hari ketiga belas, ponselnya menampilkan berita heboh, Rocky secara terang-terangan mengumumkan [Istri Rocky Riyandi hanya Luna seorang]. Hari kedua puluh delapan, Rocky langsung membekukan semua kerja sama bisnis dengan Keluarga Gozali, memaksa mereka menyerahkan istrinya! Hingga sebulan kemudian, pintu kamar yang terkunci akhirnya dibuka. Mengingat semua yang telah Rocky lakukan demi dirinya selama ini, mata Luna langsung bergenang air mata. Dia bahkan tak sempat mengenakan sandal dan langsung berlari terhuyung-huyung masuk ke pelukannya. Namun, detik berikutnya, dia malah mendengar suara serak Rocky, “Luna, maafkan aku.” “Orang tuamu sangat keras kepala, bahkan sampai berlutut memohon padaku. Demi menjaga hubungan dua keluarga, aku terpaksa menemani Kakakmu menjalani sandiwara ini.” “Tapi tenang, itu hanya pernikahan palsu. Istriku hanya kamu seorang.” Saat itu, Luna merasa jantungnya seakan jatuh ke dasar jurang, setiap helaan napasnya terasa penuh rasa sakit yang menusuk. Luna terdiam selama dua detik, kemudian dengan hati yang penuh kepedihan mengusap pipi Rocky yang tampak kurus. Lalu dengan menahan air mata, dia berkata, “Kamu sudah berusaha sebaik mungkin.” Kemudian, Luna hanya bisa menyaksikan dengan mata kepala sendiri, Rocky menyematkan cincin berlian ke jari Paula di depan semua orang, memberi kakaknya sebuah pernikahan yang mewah. Setelah itu, sikap Rocky pada Luna tetap sama, penuh perhatian. Hanya saja, waktu yang dihabiskan bersama Paula semakin banyak. Dari sekadar sesekali menjenguk, hingga tak pulang berhari-hari. Setiap kali Luna ngambek, Rocky dengan sabar menjelaskan, “Aku tak mencintainya, hanya menemaninya sebagai seorang teman, sampai akhir hidupnya.” Luna pun percaya pada Rocky. Tak disangka, kebenaran justru menampar wajahnya begitu keras. …. Saat mobil berhenti di depan gedung kantor Grup Riyandi, Luna sudah berusaha mengendalikan emosinya. Di tangannya, dia menggenggam erat akta pernikahan palsu itu. Begitu sampai di lantai paling atas, dia berpapasan dengan sekretaris Rocky. Sekretaris itu tampak canggung begitu melihatnya. “Bu Luna, kenapa kamu datang ke sini?” “Aku datang mencari Rocky.” “Pak Rocky lagi rapat, nggak ada waktu sekarang….” Luna tak peduli dengan halangan sekretaris, dia langsung melangkah cepat menuju pintu ruang kantor. Baru hendak mendorong pintu, terdengar suara Paula dari dalam. “Rocky, lihat mataku dan jawab.” Tangan kiri Paula menarik dasi Rocky, tangan kanannya menekan dada pria itu, lalu melanjutkan, “Kamu nggak pernah benar-benar menghapusku dari hatimu, ‘kan?” Jakun Rocky bergerak naik turun, napasnya sempat tertahan karena sentuhan jari Paula yang panas, tapi suaranya tetap dingin, “Kamu kepedean.” “Aku kepedean?” Paula terkekeh pelan. “Dulu kamu dan Luna pura-pura menikah, bukankah hanya untuk menungguku kembali? Sekarang aku baru saja pulang ke dalam negeri, kamu langsung membuat akta pernikahan denganku.” “Belum lagi semuanya yang kamu tulis dalam buku harianmu.” “Kamu bilang setuju Luna menggantikan aku menikah, hanya untuk memaksa aku berbalik kembali padamu… um!” Belum selesai Paula bicara, tiba-tiba Rocky menahan bagian belakang lehernya. Semua kata yang tadinya mau diucapkan, sekarang terkunci dalam ciuman yang begitu brutal. Mata Rocky membara, dia menggertakkan setiap katanya, “Iya, aku memang belum melupakanmu. Jadi Paula, bagaimana kamu mau membayar semua hutangmu padaku?” Luna berdiri di luar pintu, seluruh tubuhnya serasa terendam dalam air es, mati rasa hingga hampir kehilangan kesadaran. Dia teringat beberapa hari lalu, Rocky masih memeluknya erat, mengecup rambutnya sambil berkata, “Luna, Kakakmu sudah menjadi masa lalu. Sekarang hanya kamulah yang pantas menerima ketulusanku.” Betapa ironisnya. Ternyata yang disebut ketulusan itu, hanyalah kebohongan yang penuh kepalsuan. Pernikahan mereka memang palsu sejak awal. Luna perlahan menutup matanya, berusaha keras menahan air mata agar tidak jatuh. Jika ini memang pilihan Rocky…. Maka dirinya akan merelakannya. Membiarkan Rocky bersama perempuan yang benar-benar dia cintai dan hidup bahagia selamanya! Bab 2 Luna melangkah masuk ke lift dengan pikiran kosong. Begitu sadar kembali, lift sudah berhenti di lantai bawah tanah. Seorang anak magang menyapanya dengan penuh semangat, “Kamu datang untuk melihat pameran lukisan Paula, ya? Silakan ikut denganku.” Barulah Luna tersadar, dia lupa menekan tombol lantai. Entah kenapa, kakinya malah berjalan masuk ke ruang pameran. Anak magang itu berjalan di belakangnya, sambil bersemangat menjelaskan, “Pameran kali ini didanai oleh Pak Rocky. Setelah ini juga akan ada tur pameran keliling seluruh negeri.” Akhirnya, tatapan Luna tertuju pada sebuah lukisan cat minyak. Itu adalah punggung seorang pria tanpa busana, dengan otot yang tegas dan bekas luka khas di bagian pinggang belakang. Luna pernah berkali-kali meraba bekas luka itu dalam kegelapan, tentu saja dia tahu betul siapa pria dalam lukisan itu. Paula melukis banyak sekali potret Rocky, dengan tanggal yang tercatat di pojok kanan bawah, jelas dan menyakitkan mata. 20 Juni, Rocky berdiri di dapur sibuk memasak, punggungnya diselimuti cahaya hangat. Itu adalah hari ketiga dirinya dikurung, saat dirinya menolak makan sampai maagnya kambuh dan pingsan, sementara Rocky malah memasakkan bubur untuk Paula. 1 Juli, sepasang tangan dengan ruas jari yang jelas sedang merapikan gaun tidur sutra yang ada bordiran bunga, cincin nikah di jari manisnya berkilau dingin. Itu adalah hari ketiga belas Luna dikurung. Dia memprotes dengan menyayat pergelangan tangannya menggunakan silet, darah membasahi setengah ranjang, sementara Rocky justru dengan teliti merapikan pakaian Paula. 15 Juli, Rocky berjalan di jalanan yang rindang sambil memegang payung. Di tepi bingkai lukisan, samar-samar terlihat dia menggandeng seseorang erat-erat. Itu adalah hari kedua puluh delapan Luna dikurung. Dia dipaksa mundur dengan rantai yang mengikat tubuhnya di ranjang. Demam tinggi membuatnya menggigil, tubuh kecilnya meringkuk di seprai yang basah oleh keringat dingin. Sedangkan Rocky sedang menggandeng tangan Paula, jalan santai menikmati sinar pagi hari. Setiap lukisan di hadapannya bagaikan jarum yang menusuk dalam ke hatinya. Ternyata selama sebulan penuh yang kelam itu, Rocky sama sekali bukan sedang berjuang, melainkan selalu berada di sisi Paula! Dia memecahkan cangkir di depan ayahnya, berpura-pura menunjukkan cinta, membatalkan kerja sama dengan Keluarga Gozali, semuanya hanya kedok semata. Luna mengepalkan tangan sekuat tenaga, kukunya menancap ke telapak tangannya, tapi dia sama sekali tak merasakan sakit. Luna tak sanggup melihatnya lagi, lalu berbalik meninggalkan ruang pameran. …. Luna sudah menjadwalkan operasi aborsi seminggu kemudian. Setelah itu, dia pergi ke rumah tua, berniat membawa barang peninggalan ibunya. Namun, baru saja dia pulang, ayahnya langsung melemparkan selembar tiket pesawat padanya. “Aku sudah berdiskusi dengan tantemu, kami mau membiarkan Paula tinggal bersama Rocky sebelum dia pergi.” “Ini tiket pesawat sepuluh hari lagi, kamu bisa jalan-jalan sebentar, anggap saja untuk melepas penat.” Luna menggenggam tiket itu erat, bibirnya terkatup rapat. Luna tahu, ayahnya ingin dirinya memberikan ruang untuk Rocky dan Paula. Bagaimanapun, hanya dengan dirinya pergi, mereka baru bisa berduaan dengan tenang. “Luna, jangan salah paham. Kami hanya ingin Paula bisa melewati hari-hari terakhirnya dengan baik….” ujar ibu tiri sambil menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Alasan klise yang sudah diulang berkali-kali hingga membuat telinganya muak mendengarnya. Luna hanya memotong dengan datar, “Iya, aku tahu. Aku bakal pergi.” Rocky, dia tak mau lagi. Keluarga ini, dia juga tak butuh lagi. Ayahnya agak terkejut, tak menyangka Luna akan langsung menyetujuinya, mengira sifat keras kepalanya akhirnya terkikis habis. Suaranya pun sedikit melunak, “Kami mengadakan sebuah acara perpisahan untuk Paula, ingat datang tiga hari lagi.” “Iya.” … Luna pulang ke rumah, mengangkat sebuah kardus, lalu mulai membereskan semua barang yang berhubungan dengan Rocky. Ada gelas pasangan yang diberikan Rocky saat ulang tahun. Ada juga potongan tiket dari film pertama yang mereka tonton bersama. Dan foto dari photobooth yang dulu dia paksa Rocky untuk foto berdua. Saat barang-barang itu hampir selesai dibereskan, terdengar suara dari arah pintu masuk. Rocky pulang. Melihat kardus yang penuh dengan barang-barang, jantung Rocky menegang dan segera melangkah cepat ke arahnya. “Luna, kamu sedang apa?” Bab 3 Luna menundukkan kepala, kelopak matanya bahkan tidak terangkat sedikit pun. “Bukannya Paula bakal tinggal di sini? Aku hanya merapikan barang-barang supaya dia nggak merasa terganggu melihatnya.” Rocky menggenggam pergelangan tangannya, lalu menariknya ke dalam pelukan. “Kamu masih marah padaku?” “Nggak.” “Luna, kamu sangat nggak pandai berbohong.” Rocky mencubit dagunya dan mengangkatnya, memaksanya untuk menatap dirinya. “Aku sudah bilang berkali-kali, aku hanya sekadar menemani dia bermain sandiwara. Kalau benar-benar mau menikahinya, aku pasti sudah menangkapnya pulang dengan paksa empat tahun lalu.” Luna menatap matanya, lalu tiba-tiba tersenyum. “Rocky.” Suaranya sangat pelan, tapi setiap katanya terdengar sangat jelas, “Kamu sendiri yang paling tahu siapa sebenarnya yang mau kamu nikahi.” Baru saja selesai bicara, tiba-tiba terdengar dering ponsel yang menenggelamkan suara Luna. Rocky melihat layar ponsel, lalu cepat-cepat mengangkat panggilan itu. Setelah menjawab panggilan itu, Rocky pun hanya berkata, “Aku ada urusan di kantor.” Lalu, bergegas pergi. Menatap sosoknya yang menjauh, Luna mendadak merasa perlu atau tidaknya dirinya berterus terang dengannya sudah tak penting lagi. Ada hubungan yang sama saja seperti permen yang sudah kadaluwarsa. Luarnya terlihat utuh, tapi sesungguhnya sudah berubah di dalamnya. Meski ditelan paksa, yang tersisa hanya kepahitan. Tak lama setelah Rocky pergi, sebuah pesan whatsapp dari Paula masuk. Foto itu memperlihatkan Rocky sedang berlutut dengan satu kaki, jemarinya yang panjang memegang pergelangan kaki Paula, dengan penuh perhatian mengikatkan tali merah untuknya. Tiba-tiba, Luna teringat dulu dirinya pernah mengajak Rocky ke kuil. Luna berlutut lama di depan kios kecil, memilih tali merah, lalu menoleh dan mendapati Rocky berdiri berdiri tiga langkah jauhnya, wajahnya terlihat penuh ketidaksabaran sambil melirik jam tangan, “Kamu percaya hal-hal takhayul begini?” Saat masih melamun, pesan lain dari Paula masuk. [Aku hanya bilang sekilas kalau aku kurang enak badan, Rocky langsung pergi ke kuil untuk minta tali merah yang paling manjur, lalu memberikannya padaku.] [Pernahkah dia melakukan hal ini padamu?] [Luna, sadarlah. Rocky nggak pernah mencintaimu.] Luna menggenggam ponsel erat-erat, cahaya dingin dari layar membekukan sisa hangat di matanya. Iya. Rocky memang tak pernah mencintainya. Mulai sekarang, dirinya pun tak akan lagi mengharapkan cintanya. …. Dua hari berikutnya, Rocky tidak pulang. Hingga hari ketiga, Luna baru melihatnya lagi di acara perpisahan Paula. Rocky mengenakan setelan jas hitam yang rapi, mendorong kursi roda perlahan di antara kerumunan. Paula duduk di atas kursi roda, selimut menutupi kainnya, tampak begitu lemah bagaikan bunga yang mudah layu. Paula hanya dengan sedikit mendongak, Rocky langsung membungkuk dan bertanya apakah dirinya tidak nyaman. Sudut bibir Luna terangkat, membentuk senyuman sinis. Katanya hanya bersandiwara dengan Paula. Namun, tatapan mata itu jelas sama penuh perasaan seperti empat tahun lalu. Tak lama kemudian, acara perpisahan pun resmi dimulai. Ayahnya mengumumkan kondisi Paula dengan mata berkaca-kaca, “Putriku memang nggak beruntung, tapi juga termasuk beruntung. Hidupnya singkat, tapi dia punya keluarga yang menyayanginya dan juga seorang kekasih yang setia….” Layar besar menyala, menampilkan foto-foto Paula sejak kecil hingga dewasa. Saat ulang tahun pertama, dikelilingi kedua orang tuanya. Saat berusia sepuluh tahun, ayahnya mengajarinya bermain piano. Usia delapan belas tahun, diwisuda sambil dipeluk hangat seluruh keluarga. Di setiap momen itu, Luna hanyalah latar belakang samar, yang diam-diam menyaksikan kebahagiaan yang tak pernah menjadi miliknya. Gambar berganti, sosok di samping Paula kini adalah Rocky. Rocky membawa bunga untuknya saat menang lomba. Menjadi model yang diam saat Paula melukis. Berpelukan mesra di pernikahan…. Dari masa berseragam sekolah hingga menikah, waktu terus berganti, tapi ketulusan di mata Rocky tak pernah berubah. Saat semua orang larut dalam haru, tiba-tiba foto-foto itu hilang dan berganti menjadi tulisan merah berdarah di atas latar hitam! [Paula, dasar jalang yang pantas masuk neraka!] [Merebut suamiku! Kamu sama saja dengan ibumu! Wanita murahan yang kerjanya hanya merebut suami orang!] [Aku doain semoga kamu mati tak tenang dan tak akan pernah bisa bereinkarnasi!] Suasana langsung hening beberapa detik. Lalu, ruangan pun gempar! Bab 4 Semua orang pun menoleh ke arah Luna. Luna terdiam di tempat, belum sempat menyadari apa yang terjadi, tiba-tiba terdengar suara teriakan kaget ibu tirinya. “Paula!” Paula pingsan karena ketakutan mendengar kutukan itu. Seketika, raut wajah Rocky pun berubah. Dia langsung membungkuk dan menggendong Paula, lalu bergegas menuju ruang medis. Otak Luna kosong, sampai sebuah tamparan keras mendarat di wajahnya, barulah dia tersadar. “Bagaimana bisa aku melahirkan anak sekeji kamu?!” marah ayahnya, urat di pelipisnya sampai menonjol. “Kakakmu sudah sakit parah, tapi kamu masih tega mengutuknya?!” Luna terhuyung-huyung mundur setengah langkah, hingga tak sengaja menabrak menara sampanye di sampingnya. Airnya berceceran ke lantai. Dia pun terjatuh di atas pecahan kaca, menahan rasa sakit sambil menjelaskan, “Bukan aku!” “Diam!” bentak ayahnya. “Dari awal aku sudah tahu, kamu iri karena kami memperlakukan kakakmu dengan baik. Tapi dia itu sudah sekarat, kamu sama sekali nggak punya rasa kasihan sedikit pun padanya?” “Cepat, kurung anak durhaka ini!” …. Luna dilempar ke sebuah ruangan gelap yang sempit. Sejak kecil dia takut gelap, ditambah lagi dirinya menderita klaustrofobia. Begitu pintu tertutup, napasnya langsung terengah-engah. Kegelapan seperti ombak besar yang menyerbu dari segala arah. Dia memukul-mukul pintu dengan sekuat tenaga, darah di telapak tangannya meninggalkan bekas merah menyala di papan kayu, “Buka pintunya! Kumohon lepaskan aku!” Namun, hanya ada kesunyian di luar sana. Tenaganya pun habis, dirinya merosot duduk di lantai. Napasnya semakin tersengal dan pandangannya berangsur gelap. Entah sudah berapa lama berlalu. Saat kesadarannya hampir hilang, akhirnya pintu terbuka. Dia pun buru-buru merangkak keluar. Namun, detik berikutnya…. “Husssh!” Satu ember penuh darah kental yang busuk disiramkan tepat ke tubuhnya! Disusul ember kedua dan ketiga…. Luna tersedak dan hampir tak bisa bernapas. Dalam pandangan yang kabur, samar-samar dia melihat sosok yang sangat dikenalnya berdiri di ambang pintu. Itu Rocky. Pria itu berdiri di antara cahaya dan kegelapan, tatapan matanya dingin menatap bawahannya yang terus menyiramkan ember-ember darah ke arahnya, tanpa sekalipun menghentikan mereka. Hingga ember terakhir disiramkan. Barulah Rocky melangkah perlahan ke depan Luna, membungkuk, lalu mengusap wajahnya dengan sapu tangan sutra. Tapi, nada bicaranya sangat dingin. “Paula sudah bangun. Dia nggak menyalahkanmu karena mengutuknya, malah memohon agar kamu dimaafkan. Katanya kamu hanya kerasukan, bukan benar-benar sekejam itu.” “Aku yang menyuruh orang menyiapkan darah anjing hitam ini, untuk mengusir roh jahat.” Rocky terhenti sejenak, lalu melanjutkan lagi, “Tapi kalau mau ada hasilnya, kamu harus berendam di sini tiga hari tiga malam.” Mata Luna pun dipenuhi rasa takut. Dia meronta dan mencengkeram tangan Rocky, menjelaskan, “Benar-benar bukan aku yang mengutuknya, percayalah padaku….” “Luna.” Rocky melepaskan jarinya satu per satu, gerakannya pelan, tapi kejam. Dia melanjutkan, “Melakukan kesalahan itu harus menerima hukuman. Anak umur tiga tahun bahkan tahu itu.” Merasa kehangatan di jari-jarinya semakin menghilang, Luna membuka mulutnya dan perjuangan terakhirnya pun berubah menjadi sebuah permohonan yang begitu tak berdaya. “Kumohon jangan tinggalkan aku di sini, aku takut gelap….” “Lalu bagaimana dengan Paula?” Tatapan Rocky dingin, melanjutkan, “Saat mengutuknya, kamu pernah berpikir dia juga takut?” Luna terdiam. Dia teringat pada malam hujan badai dulu, saat listrik di rumah padam, dirinya hanya bisa meringkuk di sudut ruangan dengan tubuh gemetar. Saat itu, Rocky menyalakan lilin-lilin hingga seluruh ruangan bercahaya, lalu memeluknya erat sambil mengusap lembut punggungnya dengan telapak tangan yang hangat, “Jangan takut, Luna. Ada aku di sini.” Namun kini, pria yang sama justru hendak mendorongnya masuk ke dalam kegelapan yang tak berujung. Tiba-tiba, rasa sakit seperti terkoyak meledak dari perutnya. Luna reflek memegang perutnya, merasakan cairan hangat mengalir dari bawah tubuhnya. Saat menyadari kemungkinan dirinya keguguran, tangannya yang gemetar mencengkeram ujung celana Rocky, nada suaranya bahkan sudah berubah. “Rocky, perutku sakit sekali. Sepertinya aku keguguran… kumohon, tolong antar aku ke rumah sakit….” Rocky tampak menegang sesaat, lalu mengernyit dan menjawab, “Kamu nggak hamil, bagaimana mungkin keguguran?” Luna kesakitan hingga pandangannya menggelap, “Benaran… aku mengandung anakmu….” “Cukup!” Rocky jelas tidak percaya dan hanya meninggalkan kalimat dingin, “Aku akan menjemputmu tiga hari lagi.” Kemudian, dia pun berbalik badan dan pergi. Luna hanya bisa mengeluarkan erangan lirih seperti anak binatang yang terluka, ujung jarinya mencengkeram lantai sekuat tenaga. Tapi, tetap tak mampu menahan sosok pria yang semakin menjauh. Jari-jari yang kejang mencoba menggapai udara, akhirnya hanya bisa terjatuh lemas. Luna terkapar lemas di genangan darah. Sebelum kesadarannya hilang, senyuman miris muncul di bibirnya. Rocky…. Kali ini, aku benar-benar kenal siapa dirimu sebenarnya. Bab 5 Luna tersadar kembali dan mendapati dirinya sudah terbaring di ranjang rumah sakit. “Akhirnya kamu sadar juga,” ujar dokter menghela napas. Lalu menatapnya dengan tatapan iba dan melanjutkan, “Kamu keguguran dan mengalami pendarahan hebat. Kalau terlambat beberapa menit saja, bahkan dewa pun tak bisa menyelamatkanmu.” Dari mulut dokter, Luna baru tahu kalau dirinya ditemukan pingsan oleh anak buah yang mengantarkan makanan keesokan harinya, makanya nyawanya bisa terselamatkan. “Keluargamu juga keterlaluan. Bagaimana bisa mereka memperlakukanmu seperti ini? Terutama suamimu, teleponnya nggak pernah diangkat. Tunggu dia datang ke rumah sakit, aku bakal menegurnya habis-habisan.” “Dok,” panggil Luna memotongnya, jari-jarinya meremas erat seprai dan melanjutkan, “Jangan kasih tahu dia soal kehamilanku.” Lagipula, dia juga tak akan percaya. Hati Rocky sudah tidak ada padanya. Dirinya pun tak ingin lagi punya urusan apapun dengannya. Dokter hanya terdiam, lalu akhirnya menggelengkan kepala dan pergi. Selama Luna dirawat di rumah sakit, Rocky tidak pernah muncul sama sekali. Sebaliknya, di postingan instagram Paula, sosoknya malah terlihat di mana-mana. Hari pertama, unggahan semangkuk sup ayam dengan caption, [Sepuluh tahun berlalu, tetap rasa kesukaanku.] Hari kedua, foto seorang pria tertidur di tepi ranjang dengan caption, [Tadi malam aku mimpi buruk lagi, untung saja saat membuka mata langsung melihatmu.] Tiba-tiba Luna teringat saat dirinya sakit dulu, Rocky juga selalu memasakkan sup ayam untuknya. Saat dirinya demam, pria itu juga pernah setia duduk di samping ranjang, menggenggam tangannya erat tanpa melepas. Hingga sekarang, barulah dirinya mengerti. Semua kelembutan itu memang bukan untuk dirinya sejak awal. Rocky hanya mencintai orang lain melalui dirinya. Di hari dirinya keluar dari rumah sakit, akhirnya Rocky menelepon. “Ada urusan mendadak di kantor, aku sudah menyuruh sopir menjemputmu.” Luna tidak bertanya, tidak marah, tidak histeris. Dia hanya menjawab datar, “Iya.” Begitu telepon ditutup, tangannya pun menyentuh pelan perut yang kini kembali rata. Baginya sekarang, Rocky hanyalah sebuah nama di kontak telepon yang akan dihapus sebentar lagi. Luna tidak lagi punya sedikit pun harapan terhadapnya. …. Luna pulang ke rumah. Begitu masuk, dia melihat Paula sedang memegang papan gambar, mencoret-coret dinding ruang tamu sesuka hati. Foto pernikahannya dengan Rocky, termasuk polaroid mereka, semua dilempar ke lantai dan terciprat cat warna-warni. Melihat Luna, Paula tersenyum manis dan menyapa, “Luna, kamu sudah pulang?” “Aku merasa dinding itu terlalu membosankan, jadi aku berpikir untuk mendekorasinya ulang. Kamu nggak keberatan, ‘kan?” Luna hanya menyapu pandangan ke seluruh ruangan yang berantakan, lalu menjawab datar, “Terserahmu.” Bagi dirinya, rumah ini sudah tak ada artinya. Dan ke depannya, nyonya rumah di sini pun bukan dirinya lagi. Tiba-tiba, Rocky keluar dari dapur sambil membawa sepiring buah yang sudah dipotong. Saat melihat Luna hendak naik ke atas, Rocky langsung menghadang jalannya. “Paula berniat baik ingin mencairkan suasana denganmu, ini sikapmu?” “Jadi harus bagaimana?” Wajah pucat Luna terlihat sangat lelah. “Haruskah aku berlutut, lalu berterima kasih karena dia sudah menghancurkan foto-fotoku?” Paula segera menyela untuk melerai, “Rocky, jangan salahkan dia. Luna juga bukan sengaja….” “Bukan sengaja? Lalu bagaimana dengan kutukan kejamnya?” usai bicara, Rocky menatap Luna dengan tatapan yang asing. “Luna, kamu benar-benar mengecewakanku.” Luna tak punya tenaga untuk berdebat lagi. Dia melabrak bahu pria itu dan berjalan lurus naik ke atas. Tubuhnya masih lemah setelah menjalani operasi keguguran. Namun, baru saja berbaring sebentar, pintu kamar langsung terbuka. Paula berdiri di ambang pintu, wajah lembutnya sudah lenyap, berganti dengan tatapan sinis yang tak disembunyikan. “Melihat Rocky membelaku barusan, hatimu sakit, ‘kan?” Bibir Paula melengkung mengejek, “Sudah kubilang sejak awal, dia hanya mempermainkanmu. Nggak kusangka kamu sebodoh ini sampai benar-benar percaya.” Luna membalikkan badan, malas menanggapinya dan menarik selimut menutupi kepala. Namun, Paula malah mendekat dan tak berhenti menyindirnya. “Kamu tahu apa kata orang-orang di luar sana tentangmu?” “Mereka bilang kamu tidur dengan suami kakakmu sendiri selama empat tahun, tapi pada akhirnya tak mendapatkan apapun. Malah kalah berharga dibanding wanita murahan di klub malam yang ada tarifnya.” “Luna, sadarlah.” “Keluarga Gozali nggak butuh kamu, begitu juga dengan Rocky. Kamu sama saja seperti ibumu, beban yang nggak diinginkan siapapun!” Begitu mendengar ibunya disebut, Luna tak bisa menahan diri lagi. Dia langsung mendongak dan tatapan matanya setajam pisau. “Kamu begitu panik, apa karena takut kalau sebenarnya dia sudah jatuh cinta padaku selama empat tahun ini?” Paula sempat terdiam, lalu tertawa pelan. “Jatuh cinta padamu? Kalau dia benar-benar jatuh cinta padamu, bagaimana mungkin aku masih bisa berdiri di sini dan menghinamu sesuka hati?” ujarnya dengan penuh sindiran. Sesaat kemudian, terdengar suara pintu ditutup dengan keras. Luna menggenggam seprai erat-erat dan merasa tubuhnya semakin dingin. Syukurlah, dirinya akan pergi sebentar lagi. Dia tak perlu lagi melihat wajah-wajah menjijikkan itu. Bab 6 Sehari sebelum berangkat keluar negeri, Luna pergi ke sebuah kuil yang dikelilingi pepohonan raksasa. Sejak keguguran, setiap malam dirinya selalu bermimpi seorang bayi mungil berlumuran darah yang menangis pilu ke arahnya. Karena itu, dia pun menghubungi seorang biksu untuk melakukan doa pelepasan arwah. Tak disangka, baru saja tiba di kuil, dia langsung melihat seorang pria bertubuh tinggi tengah berlutut di tengah aula. Dia sangat kenal dengan sosok itu. “Kalian tahu nggak? Demi kekasihnya yang mengidap penyakit kritis, Pak Rocky rela datang ke sini hanya untuk meminta jimat perlindungan. Dia bersujud sepanjang jalan dari kaki gunung sampai ke sini….” “Jalan terakhir sangat curam, dia nyaris jatuh ke jurang dan nggak akan kembali!” Bisik-bisik orang sekitar masuk ke telinga Luna. Langkah Luna pun terhenti. Di hadapannya, lengan pria itu berbalut perban, lukanya masih meneteskan darah. Luna ingat jelas, Rocky itu seorang atheis. Dia tidak pernah masuk kuil, apalagi memuja dewa. Pernah saat acara tahunan perusahaan, dia mendapat jimat dari kuil terkenal di Kota Valey, tapi langsung dilemparkan ke asistennya. Bahkan saat Luna ingin bersembahyang untuk ibunya, Rocky hanya dengan dingin mematikan rokok dan berkata, “Orang mati sudah mati, mau bakar berapa banyak kertas pun, itu hanya sekadar penghibur untuk yang masih hidup.” Namun kini, pria itu berlutut di hadapan patung dewa, kening menempel erat pada lantai yang dingin, penuh ketulusan hingga terlihat begitu merendahkan diri. Sudut bibir Luna terangkat, rasa getir memenuhi dadanya. Jadi, ternyata Rocky bukan tidak percaya pada dewa. Hanya saja, dulu belum ada yang pantas membuatnya melakukan itu. …. Saat Luna keluar dari kuil di atas gunung, hari sudah hampir senja. Angin lembah berembus cukup dingin. Dia merapatkan bajunya. Baru saja hendak menuruni tangga batu, tiba-tiba sebuah bayangan hitam melesat dari balik pohon dan menghadangnya di depan. Gerakan itu begitu cepat, Luna bahkan belum sempat berteriak, mulut dan hidungnya sudah dibekap hingga pingsan. Saat kembali membuka mata, dia bersandar pada sebuah pohon besar. Beberapa tenaga medis tampak panik berlari sambil membawa tandu menuju tepi jurang. “Cepat, korban ada di bawah jurang!” Luna berusaha bangkit dengan bertumpu dengan tangan. Belum jelas apa yang sebenarnya terjadi, sebuah sosok tinggi datang menghampirinya bersama hembusan angin dingin. “Luna, aku kira kamu hanya mengutuk Paula untuk melampiaskan emosi. Tak kusangka, kamu benar-benar mendorongnya ke jurang!” Tangan Rocky yang kekar langsung mencekik lehernya, membanting tubuhnya ke batang pohon di belakang. “Untung saja dia masih beruntung, terhenti di atas batu. Kalau nggak, aku pasti akan menguburmu bersamanya!” Napas Luna tercekat. Begitu menatap mata Rocky yang penuh amarah, dia langsung sadar. Dengan suara serak, dia berusaha berkata, “Aku… nggak….” “Masih mau beralasan? Kamu dan Paula muncul di tempat yang sama dan sekarang dia ada di bawah jurang. Luna, menurutmu mana mungkin ada kebetulan seperti itu?” ujar Rocky dengan nada suara yang dingin menusuk. Luna berusaha menyingkirkan tangan yang mencekiknya, napasnya semakin sesak. Tepat saat pandangannya mulai mengabur, asistennya datang tergesa-gesa dan melaporkan, “Pak Rocky, sudah berhasil diselamatkan!” Mendengar itu, Rocky buru-buru melepaskan Luna dan berlari ke arah Paula. Luna terhuyung, membungkuk sambil berbatuk keras. Di balik air mata yang mengaburkan pandangan, dia melihat Paula yang sedang berbaring di tandu, menggenggam erat lengan Rocky dengan wajah ketakutan, “Rocky, aku takut….” Rocky menggenggam tangannya lebih erat dan menenangkan, “Selama ada aku, nggak ada orang yang bisa menyakitiku.” Dengan penuh kehati-hatian, Rocky mengantar Paula naik ke ambulans, kemudian membisikkan sesuatu pada asistennya. Detik berikutnya, asisten itu berbalik mendekati Luna, mencengkeram pergelangan tangannya, lalu berkata, “Maaf, Nona Luna.” Usai bicara, dia langsung menyeret Luna ke tepi jurang, lalu mendorongnya ke bawah! Karena kehilangan keseimbangan, Luna terhempas keras ke sebuah batu, rasa nyeri menusuk hingga ke tulang-tulangnya. Asisten yang berdiri di ketinggian, berkata dengan dingin, “Pak Rocky bilang kamu sudah keterlaluan kali ini. Ini adalah hukuman untukmu, biar kamu juga merasakan penderitaan yang dialami Nona Paula.” Suara langkah semakin lama semakin menjauh, meninggalkan Luna sendirian di tempat. Seluruh tubuhnya sakit luar biasa, dia berulang kali mencoba bangkit dengan menahan rasa sakit, tapi tetap gagal. Akhirnya, Luna meringkuk di antara bebatuan yang dingin, rasa putus asa menyapu dirinya seperti gelombang besar. Dia ingin bertanya pada Rocky, Paula bahkan sudah sekarat, apa alasan dirinya harus melukainya? Namun, yang lebih dingin dari angin gunung ini adalah jawaban yang sejak lama sudah dirinya ketahui…. Bagi Rocky, dirinya tidak akan pernah bisa dibandingkan dengan Paula. Dan Rocky tidak akan pernah memercayai dirinya. …. Di atas gunung tidak ada sinyal, Luna tahu dirinya tak bisa hanya pasrah menunggu mati. Dengan sisa tenaga, dia mulai bangkit. Kuku-kukunya mencengkeram celah batu, telapak tangannya terkelupas hingga berdarah. Dia jatuh berkali-kali dan memanjat lagi berkali-kali. Begitu terus tanpa henti, sampai tubuhnya penuh luka berdarah. Akhirnya, Luna berhasil naik ke atas. Sayangnya, kereta gantung sudah berhenti beroperasi. Dia pun terpaksa berjalan menuruni gunung dengan tubuh yang terhuyung. Saat akhirnya sampai di rumah, fajar sudah menyingsing. Dia memaksakan diri untuk membersihkan luka, lalu meringkuk di atas ranjang dan tertidur lelap. Dalam keadaan setengah sadar, pintu kamarnya tiba-tiba terhempas keras. Detik berikutnya, tubuhnya langsung ditarik paksa dan dilempar ke lantai yang dingin. Bab 7 “Luna, kamu hampir saja membunuh Paula, malah masih bisa tidur?!” Dengan susah payah, Luna mengangkat kepalanya, melihat ayahnya yang tampak penuh amarah. Di sampingnya, ibu tirinya menundukkan kepala dan terus-menerus terisak. “Luna….” panggil ibu tirinya dengan suara serak. Air matanya tak henti-hentinya menetes, “Kakakmu sudah nggak punya banyak waktu lagi, kenapa kamu masih nggak mau melepaskannya? Masalah di acara perpisahan kami sudah nggak mempermasalahkannya, tapi kali ini… kamu benar-benar mau mengambil nyawanya?!” Luna mencengkeram erat seprainya, sudah tak sanggup lagi melihat kepalsuan ibu tirinya. Dia memaksakan diri untuk berdiri, lalu dengan tegas berkata, “Bukan aku yang menaruh kutukan di acara perpisahan kemarin, aku juga nggak mendorongnya jatuh ke jurang. Kamu terus membiarkan Paula menjebakku berulang kali, kamu nggak takut akan kena karma suatu hati nanti?!” “Plak!” Sebuah tamparan mendarat keras di wajahnya. Luna terhuyung mundur setengah langkah, darah keluar dari sudut bibirnya. “Anak kurang ajar!” Ayahnya sampai gemetar karena marah, “Dulu ibumu juga begitu, selalu menyalahkan orang lain! Dan sekarang kamu pun sama….” “Jihan, jangan marah!” ujar ibu tiri menenangkannya, menepuk-nepuk punggung suaminya, “Ini semua salahku, aku yang nggak berhasil mendidik Luna….” “Bukan salahmu!” ujar ayahnya memotong dengan tegas. Lalu menatap Luna dengan tatapan tajam, “Kalau kamu memang sehebat itu, mulai hari ini, kamu bukan lagi putri Keluarga Gozali!” Usai bicara, dia langsung menggandeng istrinya membanting pintu dan pergi. Pada saat yang sama, kilat membelah langit dan hujan deras mengguyur. Luna jatuh terduduk di lantai, tubuh kurusnya meringkuk, wajahnya terbenam di lutut, air mata mengalir tanpa suara. Di tengah kebingungan, dia kembali mendengar perkataan ibunya sebelum meninggal. Tangan yang kurus kering itu menggenggamnya erat, napasnya lemah, tapi kata-katanya terdengar jelas, “Luna, perjalanan ke depan… harus dijalani baik-baik… ibu akan selalu… melihatmu dari langit….” Selama ini, Luna memaksakan diri untuk makan dan tidur dengan teratur. Hanya agar ibunya bisa melihat di surga, meski tanpa kasih sayang ayah, dia tetap bisa hidup dengan baik. Namun sekarang? “Ibu….” gumam Luna, air matanya membasahi kain di bagian lututnya. “Aku yang sekarang pasti membuatmu sangat kecewa, ya….” Di luar jendela, hujan masih turun deras. Luna tetap memeluk dirinya sendiri, sampai akhirnya tertidur dalam tangis. …. Saat bangun lagi, dia mendapati dirinya entah sejak kapan sudah dipindahkan ke sofa ruang tamu. Di perapian, kayu bakar berderak-derak. Rocky duduk di sebelahnya, jari-jarinya yang panjang menjepit rokok, asap tipis berterbangan di udara. “Rocky….” panggil Luna dengan lemah, tenggorokannya kering dan sakit. Pria itu menoleh. Tatapan yang dulu lembut, sekarang hanya tersisa dingin yang menusuk. “Sudah bangun?” “Kok aku di sini?” Luna mau duduk, tapi badannya benar-benar lemas tak bertenaga. Rocky tidak menjawab, hanya berbicara santai, “Kemarin aku mau jemput kamu, tapi pameran lukisan Paula tiba-tiba kebakaran, semua lukisannya habis nggak bersisa.” Seketika, jantung Luna langsung menegang. Dia langsung paham maksud tersiratnya, buru-buru menjelaskan, “Bukan aku yang membakarnya! Bukan aku yang melakukan semua itu, kamu bisa menyelidikinya….” “Luna,” potong Rocky dengan pelan. Tatapannya asing dan membuat Luna panik, “Impian terbesar Paula adalah jadi pelukis. Lukisan-lukisan itu adalah semua hidupnya, dia nggak mungkin menghancurkan karyanya sendiri.” Jari-jari Luna mulai gemetar, “Apa yang sebenarnya mau kamu katakan?” “Masalah kamu membakar pamerannya, aku nggak bilang pada ayahmu dan juga Paula.” Rocky berdiri dan menatapnya dari atas, “Tapi ini nggak bisa dianggap selesai begitu saja.” “Kamu juga harus merasakan, bagaimana rasanya ketika sesuatu yang paling berharga dihancurkan. Barulah saat itu Luna sadar, Rocky sedang memegang boneka yang dibuat ibunya dulu. “Aku tahu ini barang paling berharga buat kamu.” Jari-jari Rocky mengeras, membuat boneka itu berubah bentuk di genggamannya, “Kalau aku menghancurkannya, kamu juga bakal sedih sekali, ‘kan?” “Jangan!” Luna hampir terguling dari sofa, lalu terhuyung berlari menghampirinya. Boneka itu adalah peninggalan ibunya, dijahit sendiri dengan tangan yang sudah sakit-sakitan saat dirinya berusia sepuluh tahun. Saat itu, ibunya begitu lemah sampai-sampai jarum pun sulit digenggam, tapi tetap memaksakan diri menyelesaikannya. Di saat-saat terakhir hidupnya, dia menyerahkannya ke dalam genggaman Luna, sambil berbicara lembut, “Luna, ibu nggak bisa menemanimu lagi. Kalau nanti kamu rindu dengan ibu, lihat saja boneka ini….” Kemudian, Luna diam-diam memasukkan abu kremasi ibunya ke dalam boneka itu. Setiap malam dia tidur dengan memeluknya, melewati malam-malam yang berat. Dan sekarang, Rocky malah mau menghancurkannya?! “Sudah kubilang, setelah Paula pergi, semuanya akan kembali seperti dulu.” “Masalahnya, kamu nggak patuh.” Usai bicara, Rocky mengangkat tangan dan melemparkan boneka itu ke dalam perapian yang menyala. “Jangan…!” Luna menjerit sekuat tenaga, lalu nekat menerjang ke arah api. Lidah api yang menyengat menjilat lengannya, tapi dia seperti tak merasakan sakit sama sekali. Dia memaksa meraih boneka yang sudah hangus terbakar dari dalam perapian. Dengan tubuh gemetar, dia memeluk erat boneka yang telah rusak parah itu. Air matanya menetes deras, membasahi kain yang sudah hangus. Di belakangnya, terdengar langkah kaki menjauh. Rocky melewatinya dan pergi meninggalkan ruang tamu tanpa menoleh sedikit pun. …. Malam itu, Luna menangis sampai pagi sambil memeluk boneka itu. Saat fajar baru menyingsing, dia memeluk boneka rusak itu, menarik koper dan melangkah keluar dari vila. Namun, di jalan menuju gerbang, tiba-tiba kursi roda Paula menghadangnya. “Awas,” ujar Luna dengan suara serak. “Luna, kenapa galak sekali?” Paula terkekeh, “Begitu pergi kali ini, kita mungkin akan sulit bertemu lagi. Bagaimanapun, di mata ayah dan Rocky kamu sudah benar-benar dianggap berhati kejam. Mereka nggak akan membiarkanmu kembali ke negara ini.” “Oh begitu? Justru itu yang kuinginkan.” Luna menatapnya dengan dingin, “Lagipula, kamu juga bakal mati sebentar lagi. Jadi, kita memang nggak akan bertemu lagi.” Mendengar itu, Paula malah tertawa. “Luna oh Luna, kamu benaran mengira aku kena penyakit mematikan?” Tiba-tiba, Paula berdiri dari kursi roda dan mendekati Luna pelan-pelan, “Itu hanya akting untuk menipu Rocky saja. Coba tebak, kalau nanti aku bilang salah diagnosis, dia bakal seberapa senang?” “Oh iya, biar kukasih tahu satu rahasia lagi padamu.” Paula berbisik di telinganya, “Sebenarnya, akta nikah kamu dan Rocky itu palsu. Akulah istri sahnya.” Usai bicara begitu, Paula mencoba mencari ekspresi terpuruk di wajah Luna. Namun, hasilnya tidak sesuai harapan. Jari-jari Luna memegang koper erat-erat sampai ujung jarinya memucat, tapi wajahnya tetap tenang, “Kalau begitu, semoga kalian bisa langgeng sampai tua.” Usai bicara, Luna berjalan ke gerbang tanpa menoleh ke belakang. Di pinggir jalan, mobil hitam Rocky pelan-pelan berhenti di sampingnya. Rocky menurunkan kaca dan bertanya, “Sudah mau pergi?” Luna hanya menjawab, “Iya.” “Kita coba sama-sama tenangkan diri dulu.” Rocky berbicara dengan suara berat, “Setelah kamu balik, baru kita bicarakan baik-baik masalahnya.” Luna tidak menjawab dan langsung naik taksi. Sambil melihat mobil Rocky menjauh, Luna berbicara dalam hati, Rocky, semoga kamu nggak menyesal setelah tahu kebenarannya suatu hari nanti. Saat taksi mulai jalan, Luna menatap vila yang menyimpan semua cinta dan bencinya itu untuk terakhir kali. Tatapan matanya sangat tenang. Akhirnya, Luna pun mengalihkan pandangannya dan berkata pelan, “Pak, ke bandara.” Dua mobil itu jalan ke arah yang berbeda. Seperti hidup mereka yang mulai sekarang tidak akan berhubungan lagi.