Dilema Pernikahan bersama Presdir Dingin

Đang tải thông tin quảng bá...

Dilema Pernikahan bersama Presdir Dingin

GoodNovel Hoàn thành

Pada ulang tahun pernikahan kelima Kyna dan Aldrian, cinta pertama Aldrian pulang ke dalam negeri. Malam itu, Kyna mendapati Aldrian melepaskan hasratnya di kamar mandi sambil menggumamkan nama cinta ...

Chương (1)

第1章

Pada ulang tahun pernikahan kelima Kyna dan Aldrian, cinta pertama Aldrian pulang ke dalam negeri. Malam itu, Kyna mendapati Aldrian melepaskan hasratnya di kamar mandi sambil menggumamkan nama cinta pertamanya itu. Ternyata, inilah alasan Aldrian tidak menyentuhnya selama lima tahun pernikahan mereka. Aldrian berkata, "Kyna, Nara yang pulang sendirian kasihan banget. Aku cuma bantu dia sebagai seorang teman." Kyna menjawab, "Aku mengerti." Aldrian berkata, "Kyna, aku pernah janji ke Nara untuk rayakan ulang tahunnya di pulau. Aku cuma penuhi janjiku." Kyna menjawab, "Oke." Aldrian berkata, "Kyna, aku butuh seseorang yang cakap untuk hadiri pesta malam ini. Nara lebih cocok daripada kamu." Kyna menjawab, "Emm, pergilah." Ketika Nara berhenti marah, menangis, dan membuat keributan, Aldrian malah merasa bingung dan bertanya, "Kyna, kenapa kamu nggak marah?" Kyna tentu saja tidak marah lagi. Sebab, dia juga akan segera pergi. Dia sudah bosan dengan pernikahan mereka yang monoton. Jadi, dia diam-diam belajar bahasa asing, mengikuti tes kemampuan bahasa asing, dan diam-diam mengajukan aplikasi studi ke luar negeri. Pada hari visanya disetujui, Kyna melemparkan surat kesepakatan cerai ke hadapan Aldrian. Aldrian berujar, "Jangan bercanda lagi. Mana mungkin kamu bisa bertahan hidup tanpa aku?" Namun, Kyna tidak peduli pada tanggapan Aldrian dan membeli tiket pesawat ke Yuropiah. Sejak saat itu, kabarnya tak pernah terdengar lagi. Aldrian baru mendengar berita tentang Kyna lagi ketika video Kyna yang mengenakan gaun merah dan menarikan tarian tanah air di negeri asing viral di seluruh internet .... Dia menggertakkan giginya dan bergumam, "Kyna, nggak peduli di mana pun kamu bersembunyi, aku akan bawa kamu kembali!" Bab 1  Suara air mengalir terdengar dari dalam kamar mandi. Aldrian Wibowo sedang mandi. Jam menunjukkan pukul tiga dini hari. Aldrian baru saja pulang. Kyna Jurnadi berdiri di depan pintu kamar mandi karena ingin membicarakan sesuatu dengan Aldrian. Dia sedikit gugup dan bertanya-tanya apakah pria itu akan menyetujui apa yang hendak dia katakan. Saat sedang memikirkan bagaimana cara membuka mulut, Kyna tiba-tiba mendengar suara aneh dari dalam kamar mandi. Setelah mendengarkan dengan saksama, dia akhirnya mengerti. Pria itu sedang melepaskan hasratnya .... Setiap tarikan napas dan erangan Aldrian terasa bagaikan serangkaian pukulan palu yang tak henti-hentinya menghantam jantung Kyna. Rasa sakit melanda hatinya dan membuatnya kesulitan bernapas. Hari ini adalah ulang tahun pernikahan mereka yang kelima, tetapi mereka tak pernah berhubungan intim. Ternyata, pria ini lebih memilih untuk melepaskan hasratnya sendiri daripada menyentuhnya? Seiring dengan napasnya yang makin cepat, Aldrian tiba-tiba mengeluarkan gumaman pelan yang nyaris tak tertahan, "Nara ...." Sepatah kata itu memberikan pukulan terakhir yang fatal bagi Kyna. Dia merasa seperti mendengar suara ledakan, lalu sesuatu di dalam dirinya hancur berkeping-keping. Kyna menutup mulutnya dengan kuat untuk meredam isak tangisnya, lalu berbalik dan berlari pergi. Namun, dia malah langsung tersandung pada langkah pertamanya dan menghantam wastafel sebelum jatuh ke lantai. "Kyna?" Suara Aldrian masih belum kembali seperti semula. Dia jelas berusaha mengendalikan diri, tetapi napasnya masih sangat berat. "A ... aku mau pakai toilet. Aku nggak tahu kamu lagi mandi ...," jawab Kyna. Dia melontarkan kebohongan yang buruk sambil meraih wastafel dengan panik agar bisa berdiri. Namun, makin terburu-buru, makin menyedihkan pula tampang Kyna. Bagaimanapun juga, lantai dan wastafel dibasahi air. Ketika dia akhirnya berhasil berdiri, Aldrian juga telah keluar. Jubah mandi putihnya dikenakan secara asal karena tergesa-gesa, tetapi ikat pinggangnya terpasang rapi. "Kamu jatuh? Ayo kubantu berdiri," ucap Aldrian sambil bergerak untuk memapah Kyna. Rasa sakit membuat Kyna berlinang air mata, tetapi dia tetap menepis tangan Aldrian. Meskipun terlihat menyedihkan, dia menjawab dengan tegas, "Nggak usah, aku bisa sendiri." Setelah hampir terpeleset lagi, Kyna melarikan diri ke kamar dengan tertatih-tatih. Kata "melarikan diri" memang sangat tepat untuk mendeskripsikannya. Selama lima tahun menikah dengan Aldrian, Kyna terus-menerus melarikan diri. Dia melarikan diri dari dunia luar, dari tatapan aneh semua orang, serta dari rasa kasihan dan simpati Aldrian. Istri Aldrian adalah seorang pincang. Bagaimana mungkin seorang pincang layak mendampingi Aldrian yang gagah dan sukses? Namun, dulu Kyna juga memiliki sepasang kaki yang indah .... Aldrian mengikutinya keluar, lalu bertanya dengan suara yang lembut dan penuh kekhawatiran, "Apa kamu terluka? Coba kulihat." "Nggak, aku baik-baik saja." Kyna menyelimuti dirinya dengan erat untuk menyembunyikan keadaannya yang menyedihkan. "Kamu benar-benar baik-baik saja?" Aldrian benar-benar khawatir. "Emm." Kyna mengangguk kuat dengan membelakanginya. "Jadi, kamu sudah mau tidur? Bukannya kamu mau pakai toilet?" "Nggak lagi. Ayo tidur," bisik Kyna. "Emm. Ngomong-ngomong, hari ini hari peringatan pernikahan kita. Aku belikan kamu hadiah. Bukalah hadiahnya besok dan lihat kamu suka atau nggak." "Oke." Hadiah itu ada di meja samping tempat tidur dan Kyna sudah melihatnya. Akan tetapi, dia tahu isinya tanpa perlu membukanya. Setiap tahun, kotak hadiah itu berukuran sama dan isinya juga adalah jam tangan yang sama persis dengan tahun-tahun sebelumnya. Di dalam laci, jika dihitung bersama dengan hadiah ulang tahunnya, sudah ada sembilan jam tangan yang identik. Ini yang kesepuluh. Percakapan mereka berakhir di sana. Aldrian memadamkan lampu, lalu berbaring di atas tempat tidur. Aroma sabun mandinya seketika memenuhi udara. Namun, Kyna hampir tidak merasakan tempat tidur di sampingnya tenggelam. Sebab, tempat tidur itu selebar dua meter. Dia berbaring di satu sisi, sedangkan Aldrian berbaring di paling pinggir sisi lainnya. Di antara mereka, terdapat ruang yang cukup untuk ditiduri tiga orang lagi. Tak satu pun dari mereka yang mengungkit nama Nara, apalagi tentang apa yang dilakukan Aldrian di kamar mandi tadi. Semuanya seolah-olah tidak pernah terjadi. Kyna berbaring kaku dan hanya merasa matanya sangat perih. Nara yang nama lengkapnya Anara Chandra adalah teman kuliah, sekaligus cinta pertama dan wanita idaman Aldrian. Setelah lulus kuliah, Anara pergi ke luar negeri dan mereka pun putus. Aldrian sangat terpukul dan menenggelamkan diri dalam alkohol setiap harinya. Di sisi lain, Kyna dan Aldrian adalah teman SMA. Dia mengakui bahwa dirinya memang diam-diam menyukai Aldrian saat SMA. Saat itu, Aldrian adalah siswa populer dan peraih juara umum yang terkenal dingin. Sementara itu, Kyna adalah murid seni. Meskipun dia juga cantik, ada banyak gadis cantik di sekolah. Pada masa SMA, di mana nilai adalah segalanya, murid seni tidak begitu menarik perhatian dan bahkan ada yang berprasangka buruk terhadap mereka. Oleh karena itu, Kyna hanya diam-diam menyukai Aldrian. Dia tidak pernah membayangkan dirinya memiliki kesempatan untuk berinteraksi dengan Aldrian. Sampai dia lulus dari jurusan seni tari, lalu pulang ke rumah pada liburan musim panas dan baru bertemu dengan Aldrian yang patah hati. Malam itu, Aldrian mabuk dan berjalan terhuyung-huyung di jalanan. Dia tidak melihat lampu lalu lintas saat menyeberang jalan, sedangkan sebuah mobil yang melaju kencang ke arahnya tidak sempat mengurangi kecepatan. Kyna yang khawatir pada Aldrian mengikutinya sepanjang jalan. Ketika menyaksikan hal ini, dia mendorong Aldrian, tetapi dirinya malah tertabrak mobil. Kyna adalah seorang mahasiswi tari, juga sudah berhasil mendapatkan rekomendasi untuk melanjutkan program pascasarjana tanpa harus mengikuti ujian masuk. Namun, kecelakaan ini telah membuatnya pincang. Dia tidak bisa menari lagi. Setelah itu, Aldrian berhenti minum-minum dan memutuskan untuk menikahi Kyna. Dia akan selalu merasa bersalah dan berterima kasih, bertutur kata lembut, bersikap acuh tak acuh, juga menghujani Kyna dengan hadiah dan uang. Namun, dia tidak akan pernah mencintai Kyna. Kyna mengira waktu akan menghangatkan semua luka dan memudarkan segala rasa. Tak disangka, meskipun lima tahun telah berlalu, Aldrian masih mengingat nama "Nara" dengan begitu jelas. Aldrian bahkan memanggil nama itu saat sedang melepaskan hasratnya. Pada akhirnya, Kyna yang terlalu naif dan bodoh .... Kyna tidak tidur semalaman. Dia membaca e-mail di ponselnya paling tidak 100 kali. Itu adalah tawaran melanjutkan studi pascasarjana dari universitas luar negeri, juga sesuatu yang awalnya ingin dibicarakan Kyna dengan Aldrian malam itu. Dia ingin meminta izin berkuliah di luar negeri untuk mendapatkan gelar master. Sekarang, dia sepertinya tidak perlu membicarakan hal ini dengan Aldrian. Setelah lima tahun pernikahan dan begitu banyak malam penuh kegelisahan, dari detik ini, Kyna akhirnya bisa mulai menghitung mundur menuju perpisahan. Ketika Aldrian bangun, Kyna masih berpura-pura tidur. Dia mendengar Aldrian berbicara dengan pembantu bernama Sani di luar. "Aku akan hadiri acara bisnis malam ini. Beri tahu Nyonya untuk nggak perlu tunggu aku dan tidur saja lebih awal." Setelah memberi instruksi itu, Aldrian kembali ke kamar untuk memeriksa Kyna lagi. Kyna berada di balik selimut dan bantalnya telah dibasahi air mata. Biasanya, Kyna selalu sudah menyiapkan pakaian kerja Aldrian dan meletakkannya di samping. Aldrian hanya tinggal mengenakannya. Namun, Kyna tidak melakukannya hari ini. Aldrian pun pergi ke ruang ganti untuk berganti pakaian, lalu pergi ke perusahaan. Setelahnya, Kyna baru membuka matanya yang bengkak. Alarm ponselnya berbunyi. Ini adalah waktu yang telah dia tetapkan untuk bangun dan belajar bahasa asing. Sejak menikah, karena cedera kakinya, Kyna menghabiskan 90% waktunya di rumah. Dia tidak lagi keluar rumah dan hanya bisa membagi harinya menjadi beberapa segmen, lalu mencari kegiatan untuk melewati hari. Kyna mengambil ponselnya, lalu mematikan alarm dan membuka berbagai aplikasi tanpa tujuan. Pikirannya kacau balau dan dia tidak mampu menyerap informasi apa pun, sampai dia tiba-tiba menemukan sebuah video di sebuah aplikasi. Orang di video itu sangat familier .... Nama akunnya Narachan. Rekomendasi ini benar-benar .... Video itu diposting semalam. Kyna mengklik video itu dan segera mendengar alunan musik yang meriah, diikuti seruan seseorang. "Satu, dua, tiga! Selamat atas kepulangan Nara! Cheers!" Itu suara Aldrian. Bab 2  Aldrian melanggar janjinya dan minum alkohol lagi. Dinilai dari suaranya, dia jelas sudah sedikit mabuk. Namun, Aldrian ternyata juga bisa berseru seperti itu? Dalam kesan Kyna terhadap Aldrian, saat SMA, Aldrian adalah sang juara umum yang dingin. Dia bukan hanya serius saat mengerjakan soal, tetapi juga mengabaikan gadis-gadis yang suka menawarinya air di lapangan olahraga. Setelah menjadi suaminya, Aldrian bersikap sangat sopan. Emosinya begitu stabil hingga bisa dibilang tak beremosi. Dia tidak pernah tersenyum ataupun marah, hanya selalu bersikap acuh tak acuh. Hingga ketika tidak sengaja menyentuh jari-jarinya sesekali, Kyna merasa tubuhnya juga terasa dingin. Kamera menyorot wajah semua orang dalam video. Kyna melihat sosok Aldrian yang agak mabuk, tetapi matanya berbinar. Dia mengangkat gelasnya dan tersenyum lebar ke arah kamera. "Selamat datang kembali ke rumah, Nara." Ternyata Aldrian juga bisa tersenyum, bersikap antusias, dan memberi nama panggilan kepada seorang gadis. Hanya saja, dia tidak akan pernah tersenyum ataupun bersikap antusias pada Kyna, apalagi memberinya nama panggilannya. "Nyonya sudah bangun?" Terdengar suara Sani dari luar pintu. Setiap hari, jadwal Kyna sangat teratur. Berhubung Kyna belum keluar dari kamar, Sani khawatir Kyna mungkin membutuhkan bantuannya. Bagaimanapun juga, kakinya Kyna memang bermasalah. Kyna meletakkan ponselnya dan menyahut dengan suara yang terdengar serak dan tercekat, "Sudah. Aku akan keluar sekarang juga." Sani membuatkan pangsit kuah, tetapi Kyna hanya makan sesuap. "Nyonya mau makan apa untuk siang dan malam hari?" tanya Sani sambil memberinya segelas susu. "Terserah. A ..." Kyna awalnya ingin menjawab "apa saja yang Tuan suka" seperti biasa, tetapi tiba-tiba diam. Namun, Sani mengerti. Bagaimanapun juga, Kyna selalu memberi jawaban yang sama setiap hari. Dia segera berujar, "Tuan bilang, dia nggak akan pulang untuk makan malam hari ini. Dia mau hadiri acara bisnis." Kyna mengangguk. Aldrian tentu saja tidak akan pulang untuk makan malam. Melalui postingan di media sosial, Kyna tahu bahwa Anara telah membuat daftar siapa yang akan mentraktir semua orang selama seminggu ke depan dan apa yang ingin dia makan. [ Hubungan yang terjalin di masa kuliah memang paling tulus. Aku ini si manis yang dimanjakan begitu banyak kakak! ] Kyna biasanya belajar bahasa asing selama dua jam di siang hari, lalu mempelajari teori seni untuk beberapa jam. Jika tidak menyibukkan diri, bagaimana dia bisa menghabiskan waktu yang panjang ini? Tidak mungkin dia menghabiskan seluruh hidupnya untuk menunggu kepulangan seseorang, 'kan? Kyna pernah menunggu sebelumnya .... Perasaan menunggu itu terlalu menyakitkan. Namun, jadwal Kyna hari ini berbeda dengan sebelumnya. Tawaran ini mungkin merupakan bagian dari penerimaan siswa baru gelombang terakhir. Dia perlu mengonfirmasinya sesegera mungkin. Jadi, hal pertama yang dia lakukan hari ini adalah membayar biaya konfirmasi ke pihak kampus. Ketika masuk notifikasi tentang pemotongan uang dari rekening banknya, Kyna menghela napas lega. Hari perpisahannya dengan Aldrian terasa selangkah lebih dekat lagi. Malam harinya, Kyna berganti pakaian dan bersiap untuk keluar rumah. Sani pun bertanya dengan terkejut, "Nyonya mau ke mana?" Kyna hampir tidak pernah keluar rumah tanpa ditemani Aldrian. "Oh, teman kuliahku lagi manggung di sini dan ajak aku ketemuan," jawab Kyna. Sebenarnya, dia berencana untuk menginap di hotel dekat lokasi ujian. Besok pagi, dia akan menjalani tes kemampuan bahasa asing. Dia takut terjebak macet dan terlambat menghadiri ujian. Terakhir kali Kyna mengikuti ujian itu adalah beberapa bulan yang lalu, tetapi dia tidak mencapai skor yang diinginkan. Hanya saja, batas waktu pengajuan aplikasi studi ke luar negeri sudah tiba. Jadi, dia terlebih dahulu mengajukan permintaan itu. Berhubung tidak menyangka dirinya akan diterima, Kyna baru menjadwalkan ujian ulang pada besok pagi. Untungnya, pihak kampus memperbolehkan penyerahan hasil tes kemampuan bahasa asing belakangan. "Tapi ...." Sani melirik kakinya dan bertanya, "Gimana kalau aku temani Nyonya?" "Nggak usah. Ini acara kumpul-kumpul teman dekat. Orang lainnya nggak akan nyaman kalau ada tambahan orang," sahut Kyna dengan tenang. "Kalau begitu, aku akan beri tahu Tuan." Sani benar-benar mengkhawatirkan Kyna dan tidak sanggup bertanggung jawab jika terjadi sesuatu. "Nggak perlu. Biarkan saja dia hadiri acara sosialnya dengan tenang. Jangan ganggu dia. Aku akan telepon dia setelah acaranya selesai, lalu suruh dia jemput aku." Seusai berbicara, Kyna meraih tasnya dan berjalan keluar. Mengingat cedera kaki Kyna, Aldrian membeli sebuah apartemen satu lantai yang besar sebagai rumah mereka. Setelah keluar rumah, Kyna pun naik lift ke bawah. Begitu melangkah ke bawah sinar matahari, Kyna secara naluriah menunduk dan membungkuk. Dia juga memakai topi dan menaikkan kerahnya. Sejak menjadi pincang, Kyna yang selalu tampil percaya diri dan bersemangat di atas panggung telah lenyap. Kyna yang pincang pun kehilangan keberanian untuk muncul di depan umum. Sani selalu menyuruh Kyna untuk mengajak Aldrian apabila ingin keluar. Aldrian juga selalu mengatakan bahwa Kyna sebaiknya tinggal di rumah jika bukan keluar dengan ditemaninya. Namun, mereka berdua tidak tahu bahwa Kyna paling takut keluar bersama Aldrian. Itu lebih menakutkan daripada keluar sendirian. Sebab, semua orang yang melihat mereka seperti sedang berpikir kenapa pria seunggul itu bisa memiliki istri yang pincang. Kyna memanggil taksi dan melaju menuju hotel. Di dalam taksi, dia diam-diam memandangi pemandangan jalan di luar jendela. Tiba-tiba, dia melihat mobil Aldrian terparkir di suatu tempat. "Tunggu, tolong berhenti sebentar," ucapnya dengan terburu-buru kepada sopir. Mobil Aldrian terparkir di depan sebuah restoran. Kemarin, salah satu teman masa kecil Aldrian yang mentraktir. Hari ini baru giliran Aldrian. Itulah yang ditulis Anara di platform media sosial. Kyna keluar dari taksi tanpa sadar. Setibanya di restoran, dia langsung berkata, "Sudah ada reservasi tempat atas nama Aldrian." Dia juga menyebut empat digit terakhir nomor telepon Aldrian. Kemudian, pelayan itu mengantar Kyna ke depan pintu sebuah ruang privat. "Di sini tempatnya." "Terima kasih," ucap Kyna kepada pelayan itu. Sebenarnya, Kyna tidak tahu untuk apa dirinya datang ke tempat ini. Ketika masih berada di rumah, dia tidak berhenti terdorong untuk melakukan tindakan impulsif. Namun, setelah benar-benar berdiri di tempat ini, dia bahkan tidak punya keberanian untuk membuka pintu. Dari dalam, terdengar suara percakapan orang-orang. "Aku nggak bisa pulang kemalaman, juga nggak boleh minum-minum lagi. Waktu pulang dalam keadaan mabuk semalam, istriku sangat marah," ujar salah satu teman masa kecil Aldrian. "Apa kamu masih bisa disebut kakakku? Dulu kamu pernah janji, nggak peduli apa pun yang terjadi, aku akan selalu jadi prioritasmu. Sekarang, kamu begitu takut sama istrimu? Memang tetap Kak Aldri yang adalah teman sejati." Yang berbicara adalah Anara. Suaranya terdengar lembut dan manja. Ternyata kepribadian Anara seperti ini. Jadi, Aldrian menyukai gadis dengan kepribadian seperti ini? Sayangnya, kepribadian Kyna benar-benar tidak seperti itu. Dia bahkan tidak mampu bersandiwara menjadi orang seperti itu. Di dalam ruang privat, teman masa kecil Aldrian melanjutkan, "Memangnya aku bisa dibandingkan sama Aldri? Kyna mana berani tegur dia?" "Oh iya." Anara berbicara lagi, "Aldri, dengar-dengar, istrimu pincang? Kenapa?" Tidak ada yang menjawab pertanyaan Anara. Hati Kyna pun menegang. Kemudian, teman-teman Aldrian mulai berbicara. "Aldri, kami benar-benar kasihan sama kamu. Kamu punya uang, tampan, dan sukses. Kamu bisa menikahi siapa saja, tapi kenapa kamu nikah sama orang pincang?" "Aldri, jujur saja, kamu itu cowok paling unggul di antara kami. Sekarang, kamu sudah nikah sama Kyna. Tapi entah itu rapat, acara sosial, konferensi pers, atau acara apa pun yang harus bawa istri, dia juga nggak bisa dibawa keluar. Memangnya kamu nggak merasa rugi?" Ternyata begitu .... Aldrian selalu mengatakan bahwa Kyna tidak perlu terlibat dalam urusannya. Kyna hanya perlu tinggal di rumah dan menunggu Aldrian menghasilkan uang untuknya. Keluarga Kyna memuji habis-habisan Aldrian yang seperti ini. Semua orang mengatakan bahwa dia sangat bahagia. Akan tetapi, alasannya ternyata karena Aldrian merasa malu untuk menunjukkannya di depan umum .... Suara getir Aldrian menggema dari dalam ruang privat. "Dia sudah selamatkan nyawaku. Aku berutang budi padanya." "Kamu sudah beri dia begitu banyak uang, itu sudah cukup untuk balas budi!" "Benar! Dulu, kamu seharusnya kasih uang ke dia dan langsung putus hubungan sama dia. Buat apa kamu korbankan kebahagiaanmu seumur hidup?" "Menurutku, sebaiknya kamu pertimbangkan baik-baik. Dengan berdoa tulus setiap hari, kamu mungkin masih bisa diberkati dengan keberuntungan. Tapi, apa gunanya kamu nikahi orang seperti itu?" "Makanya, apa yang bisa dia lakukan untukmu? Dia nggak bisa dibawa keluar untuk hadiri acara sosial, bahkan juga nggak bisa bawa secangkir air dengan baik di rumah. Aldri, ayo minum air .... Begini, begini, atau begini?" Dalam seketika, tawa pun meledak di ruang privat itu. Sambil tertawa terbahak-bahak, Anara bertanya, "Aldri, apa benar istrimu jalannya begitu?" Kyna yang menguping di dekat pintu pun merasa darahnya mendidih. Rasa marah dan malu membuatnya kehilangan kendali. Kemudian, dia membuka pintu ruang privat itu. Ruangan itu dipenuhi tawa riuh. Salah satu teman masa kecil Aldrian yang bernama William sedang memegang segelas air dan berjalan tertatih-tatih secara dramatis. Dia juga meninggikan suaranya dan berujar, "Aldri, ayo minum air. Aldri, ah ... aku jatuh. Aldri, peluk ...." Kyna menatap Aldrian dan berharap suaminya, yang juga merupakan orang yang paling dicintainya itu bisa membelanya di saat seperti ini. Bab 3 Namun, pertunjukan yang berlebihan itu justru membuat semua orang di dalam ruang privat tertawa makin keras. Anara yang duduk di sebelah Aldrian tertawa terbahak-bahak hingga bersandar di bahu Aldrian. Sementara itu, Aldrian tetap diam membisu .... William berbalik sambil tersenyum. "Aldri, benar begi ...." Sebelum sempat menyelesaikan pertanyaannya, William melihat Kyna berdiri di ambang pintu dan senyumnya membeku. "Kak ... Kak Kyna ...." Semua orang menoleh ke arah pintu dan tercengang. Anara mengangkat kepalanya dari bahu Aldrian, lalu tersenyum dan berkata, "Oh, ini istri Aldri yang legendaris itu? Halo! Masuklah, aku teman baik Aldri." Kyna menatap semua orang di ruang privat itu dengan hati yang terasa dingin. Aldrian akhirnya berdiri dan berjalan ke arahnya. "Kyna, kok kamu ada di sini? Mereka cuma bercanda, jangan dimasukkan ke hati." Kyna menatap Aldrian dan merasa pria itu benar-benar asing, bahkan lebih asing dari sebelumnya. Jadi, ketika orang lain mengejek istrinya, dia ternyata berpihak pada mereka? "Benar, Kak Kyna .... Maaf, aku cuma bercanda. Jangan marah, ya." William meminta maaf sambil meletakkan gelasnya. "Kyna." Aldrian berjalan ke hadapan Kyna, lalu berniat merangkulnya. Namun, Kyna tiba-tiba teringat Anara yang tertawa dan bersandar di bahu Aldrian, juga teringat bagaimana dia memuaskan diri dengan tangannya di kamar mandi dan menyerukan nama "Nara" ketika mencapai klimaks. Dalam seketika, Kyna langsung merasa tangan Aldrian benar-benar kotor dan segera menghindar. "Kyna." Aldrian menatap tangannya yang kosong dengan terkejut, lalu menghela napas. "Aku gantikan mereka minta maaf. Jangan marah, ya? Aku akan belikan kamu hadiah setelah pulang nanti. Beli saja apa pun yang kamu mau." Anara memelototi William dengan ekspresi jenaka dan berseru, "Kenapa kamu masih nggak minta maaf setelah buat istrinya Aldrian marah? Kamu kira semua orang seperti aku yang begitu cuek, ceroboh, nggak peka, dan bisa diajak bercanda seenaknya?" Kyna mencibir dalam hati. Ucapan Anara benar-benar munafik. Namun, sangat jelas bahwa sekelompok pria ini tidak mengerti. Mereka justru sangat senang mendengarnya. William pun protes setelah dipelototi, "Aku sudah minta maaf! Aku juga nggak tahu Kak Kyna akan tiba-tiba datang. Aku benar-benar cuma bercanda." "Sebuah candaan baru bisa dianggap sebagai candaan kalau orang yang diolok-olok menganggapnya lucu," ujar Kyna dengan tangan gemetar. Dia nyaris telah mengerahkan seluruh keberaniannya. Kyna memang pincang dan tidak cukup baik untuk Aldrian. Kesadaran ini telah menghantuinya seperti kutukan selama lima tahun terakhir. Bahkan tatapan penuh tanda tanya atau mengejek orang lain juga bisa menyakitinya. Setelahnya, dia akan bersembunyi dan diam-diam menyembuhkan lukanya untuk waktu yang sangat lama. Setelah mendengarnya, William bergumam. "Tapi aku sudah minta maaf!" "Aku ... aku nggak terima ...." Kyna gemetar makin hebat. Ini pertama kalinya dia menghadapi ejekan orang secara langsung. "Lalu, apa maumu?" tanya William dengan tampang cemberut. Kyna juga tidak tahu apa yang diinginkannya. Dia hanya menggelengkan untuk menunjukkan penolakannya. Dia tidak dapat menerima ejekan teman-teman suaminya, juga tidak terima suaminya yang berpihak pada teman-temannya. "Sudahlah, jangan ngomong lagi." Aldrian berdiri di antara Kyna dan William. Aldrian adalah pemimpin kelompok ini. Setelah lulus kuliah, dengan mengandalkan kemampuan bisnis dan keterampilan eksekusinya yang luar biasa, dia memimpin kelompok ini untuk membangun perusahaan yang berkembang sesukses sekarang. Oleh karena itu, selama dia buka suara, tak seorang pun berani membantah. "Kyna." Tatapan Aldrian terlihat setenang biasa dan sangat kontras dengan matanya yang berbinar di video Anara. "Mereka semua temanku sejak kecil. Mereka nggak bermaksud jahat, cuma bercanda. Demi aku, maafkanlah mereka. Mau aku suruh sopir antar kamu pulang dulu?" "Kak Kyna ...." Anara memasang tampang cemberut dan berdiri di samping Aldrian. "Kalau kamu benar-benar marah, marahlah padaku. Jangan abaikan Aldri. Mereka adakan pertemuan hari ini untuk menyambut kepulanganku .... Aldri, gimana kalau kamu ajak istrimu makan bareng kita? Aku akan bersulang dengannya sebagai bentuk permintaan maaf." Heh, wanita ini benar-benar munafik. "Maaf." Kyna menatap Aldrian. Anara berani berbicara begitu karena memiliki dukungan Aldrian! Dia menahan kepahitan di hatinya dan melanjutkan, "Aku nggak minum alkohol, apalagi alkohol yang baunya asam." Anara langsung memasang tampang hampir menangis. Dia menatap Aldrian dan berujar, "Aldri, dia lagi memakiku? Aku ...." Kemudian, dia bersikap seolah-olah sedang berusaha menahan air mata dan menambahkan, "Nggak apa-apa. Kak Kyna cuma salah paham sama aku. Nggak masalah juga meski dia memakiku. Jangan salahkan dia ...." Ekspresi Aldrian berubah serius. "Kyna, Nara juga bermaksud baik. Kenapa kamu begitu kasar?" Bermaksud baik? Hanya orang bodoh yang akan merasa Anara berniat baik. Apakah Aldrian bodoh? Tidak, dia tidak bodoh. Dia hanya memilih untuk menutup sebelah mata ketika disuruh memilih antara yang benar dan salah. Terhadap siapa hati itu berdetak, pihak itu pula yang benar. Kyna menatap dua orang di depannya dan beberapa orang di belakang mereka. Dia merasa seolah-olah ada jurang yang tak terlewati di antara mereka. Mereka semua berada di pihak yang sama dan merupakan kelompok yang berhubungan erat, sedangkan Kyna hanyalah orang luar yang telah menyusup ke dunia mereka. Tidak, dia sebenarnya tidak pernah benar-benar memasuki dunia mereka. Dia hanya selalu berada di pinggiran dan merupakan orang yang tidak disambut. Kyna berusaha menahan air matanya, lalu berdecak pelan dan berbalik untuk pergi. Di belakangnya, terdengar suara Anara berkata, "Aldri, Kak Kyna ...." "Nggak apa-apa. Dia sangat pengertian. Aku akan menghiburnya setelah pulang nanti. Ayo, kita lanjutkan acaranya. Nggak usah pedulikan dia." Aldrian diam-diam melirik sosok Kyna yang menjauh, lalu mengirim pesan kepada sopir dan memintanya untuk mengantar Kyna pulang. Kyna ingin berjalan dengan lebih tenang dan mantap, tetapi tidak bisa. Makin marah dia, makin goyah pula langkahnya. Saat ini, bukankah tampangnya yang menyedihkan dan panik ini sama persis seperti yang ditirukan William? Mereka pasti akan lanjut menertawakannya setelah dia pergi, 'kan? Kyna menyeka air matanya dengan kasar, lalu berjalan makin cepat dan tertatih-tatih .... Saat sopir Aldrian mengejarnya, sosok Kyna sudah lenyap. Dia pun kembali dan memberi tahu Aldrian. Aldrian sedikit mengernyit, lalu menelepon Kyna. Akan tetapi, Kyna bukan saja tidak menjawab, bahkan menolak panggilannya. Dia mencoba menelepon lagi, tetapi ponsel Kyna telah dinonaktifkan. William yang pada dasarnya sudah agak kesal pun berkomentar, "Aldri, kamu terlalu manjakan Kak Kyna, makanya tabiatnya jadi begitu buruk. Dengan status dan penampilanmu sekarang, siapa pun yang menikah sama kamu pasti akan perlakukan kamu dengan baik. Tapi, dia malah berani marah sama kamu. Kamu benar-benar sabar." Aldrian tetap diam. Yang lain menimpali, "Yang dikatakan William benar. Kamu sudah berkorban begitu banyak untuknya dan keluarga kalian. Kamu bekerja keras di luar, tapi dia nggak paham atau perhatian ke kamu. Cuma karena masalah sepele seperti ini, dia langsung ngambek sama kamu. Apa itu sepadan?" "Makanya! Dia seharusnya merasa bersyukur karena kamu menikahinya. Kalau nggak, siapa yang mungkin terima orang pincang sepertinya? Kalau bukan kamu, dia cuma bisa nikah sama orang cacat." Bab 4  Anara mengamati situasi, lalu menyela di saat yang tepat, "Aldri, jangan nggak senang karena semua orang menjelek-jelekkan Kak Kyna. Mereka juga benar-benar peduli sama kamu. Coba pikir, kalian sudah saling kenal selama bertahun-tahun. Kalaupun mereka ngomong sesuatu yang nggak sepantasnya, biarkan saja dan jangan dimasukkan ke hati!" "Aku nggak marah." Aldrian menyimpan ponselnya dan melanjutkan, "Sudahlah, dia juga nggak bisa ke mana-mana. Ayo lanjut." Bagaimanapun juga, selain berada di rumah selama lima tahun terakhir, Kyna tidak pernah pergi ke mana pun, juga tidak memiliki tempat yang bisa dikunjunginya. William melirik Anara dan bergumam, "Memang Nara yang paling murah hati. Andaikan saja kalian berdua nggak putus waktu itu ...." "Apa yang kamu bicarakan?" Anara memelototi William dan lanjut berkata, "Kamu nggak bisa jaga mulutmu! Asyik bicara omong kosong saja! Aldri sudah menikah. Nggak sepantasnya kamu ngomong begitu ...." Kemudian, dia menatap Aldrian dengan mata penuh kesedihan dan menambahkan, "Aku kembali tanpa minta apa-apa. Asal kalian masih mau terima aku dan tetap temani aku, aku sudah puas ...." "Omong kosong apa yang kamu bicarakan? Kamu akan selalu jadi kesayangan kami. Siapa pun yang berani menindasmu, kami nggak akan ampuni dia! Benar nggak, Aldri?" ujar William sambil menepuk dadanya dengan penuh keyakinan. Aldrian tak banyak bicara, hanya menggoyangkan gelas anggurnya secara perlahan. Pemandangan ini terasa familier. Bertahun-tahun yang lalu, Aldrian juga seperti ini. Dia suka melihat sekelompok temannya ini bergaul dengan Anara. Hanya ketika keadaannya menjadi tak terkendali dan mereka datang meminta pendapatnya, dia baru menegakkan "keadilan". Berhubung ditanyai pendapat lagi saat ini, Aldrian pun tersenyum tipis dan menjawab, "Tentu saja." ... Kyna tidak pulang ke rumah. Dia menetap di hotel yang telah dipesannya. Semua keluhan dan rasa sakit yang ditahannya langsung meledak begitu pintu kamar hotel tertutup. Bayangan William yang meniru langkah pincangnya terus berkelebat di depan matanya. Tawa orang-orang itu juga menggema di telinganya seperti kutukan. Sebenarnya, Kyna sudah tahu sejak awal apa yang dibicarakan sahabat-sahabat Aldrian tentang dirinya di belakangnya. Akan tetapi, dia tidak pernah membahasnya dengan Aldrian. Mereka adalah sahabat Aldrian selama bertahun-tahun, dia mengerti. Dia juga mengetahui kesulitan Aldrian bekerja di luar. Jadi, dia tidak ingin menimbulkan masalah bagi Aldrian, apalagi membuat Aldrian berselisih dengan sahabat-sahabatnya karena dirinya. Dinilai dari keadaan sekarang, Kyna sepertinya sudah berpikir terlalu banyak. Bagaimana mungkin Aldrian bisa berselisih dengan sahabat-sahabatnya karena dirinya? Mereka telah berteman selama bertahun-tahun! Siapa itu Kyna? Dia hanyalah orang yang terpaksa dinikahi Aldrian karena merasa bersalah dan demi membalas budi. Dia juga merupakan beban bagi Aldrian. Tanpa dirinya, hidup Aldrian akan lebih bahagia. "Dia sudah pincang! Siapa yang masih menginginkannya kalau kamu nggak menikahinya?" "Apa lagi yang bisa buat si pincang itu nggak puas setelah nikah sama orang seperti Aldri?" "Kalau aku itu Aldri, lebih baik aku jadi pincang karena ditabrak mobil, daripada nikah sama orang pincang dan ditertawakan orang lain." "Presdir perusahaan lain punya istri yang dihormati orang-orang, tapi Aldri bahkan nggak bisa bawa keluar istrinya." ... Berbagai gosip yang didengar Kyna selama lima tahun terakhir membanjiri pikirannya seperti pusaran air yang bergejolak dan hendak menenggelamkannya. Dia tidak bisa bernapas, sedangkan hatinya terasa sangat sakit. Dengan tangan gemetar, Kyna membuka album foto di ponselnya, yang tak berani dibukanya selama lima tahun terakhir. Album itu berisi rekaman latihan dan penampilannya selama kuliah. Berhubung tidak bisa lagi tampil di panggung, dia menyegel semua foto dan video menarinya dengan kata sandi, lalu tidak pernah membukanya lagi. Pada saat ini, ujung jarinya yang gemetar tanpa sengaja menekan sebuah video. Kyna berputar, bersalto, dan melakukan split di udara dengan mengikuti alunan musik. Pada saat itu, dia juga terlihat berseri-seri, lincah, dan bermandikan tepuk tangan meriah .... Jadi, apakah menyelamatkan orang adalah sebuah kesalahan? Namun, bahkan saat menyelamatkan Aldrian, Kyna juga tidak pernah berpikir untuk menikahinya. Aldrian yang mengatakan ingin menikahi Kyna, juga merencanakan lamaran yang megah. Pria itu berlutut di hadapannya dengan cincin berlian besar dan memberinya harapan .... Dengan tangan gemetar, Kyna menonaktifkan ponselnya dengan susah payah. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, dia menangis tak terkendali di atas tempat tidur. Kyna menangis sangat lama. Begitu lama hingga dia merasa lelah, hingga tak ada lagi air mata yang mengalir, hingga yang tersisa hanyalah rasa sakit di dadanya yang memberikan sensasi terbakar. Namun, justru rasa sakit inilah yang memungkinkannya untuk menemukan sedikit kejernihan setelah terombang-ambing dalam pusaran yang menyesakkan ini. Makin sakit hatinya, makin jernih pula pikirannya. Kyna pergi ke kamar mandi dan membasuh wajahnya berkali-kali untuk menenangkan diri. Melihat bayangannya yang tak bernyawa di cermin, dia diam-diam berkata pada dirinya sendiri, "Kyna, nangis sekali saja sudah cukup. Nggak boleh nangis lagi. Sekarang, kamu cuma perlu makan dengan baik, istirahat cukup, lalu ujian yang baik besok." Satu-satunya hal yang disyukuri Kyna adalah, selama lima tahun pernikahan yang panjang ini, dia mengisi waktu dengan belajar setiap hari. Bukan karena dia punya ambisi besar, melainkan karena dia punya begitu banyak waktu luang dan terlalu bosan. Kegiatan Kyna hanya menunggu Aldrian pulang. Namun, Aldrian selalu pulang sangat larut. Awalnya, dia mengira Aldrian sibuk bekerja. Setelahnya, dia menyadari bahwa Aldrian hanya tidak ingin pulang terlalu cepat untuk menghadapinya. Ini adalah sesuatu yang didengar Kyna sendiri. Saat itu, dia merasa kasihan pada Aldrian karena harus bekerja begitu keras. Dia pun memberanikan diri untuk memberi Aldrian perhatian dengan membuatkan makanan istimewa dan membawanya ke kantor. Namun, dia malah tak sengaja mendengar percakapan yang seharusnya tidak didengarnya. Itu adalah percakapan Aldrian dengan teman masa kecilnya di dalam kantor. Temannya bertanya kenapa dia belum pulang juga. Di waktu selarut itu, sudah hampir tidak ada orang yang tinggal di perusahaan, tetapi sang presdir malah bekerja lembur. Aldrian menjawab, "Aku nggak tahu harus gimana hadapi antusiasme Kyna setelah pulang." Pada saat itu, Kyna yang naif tidak memahami maksud di balik kata-kata Aldrian. Akan tetapi, teman Aldrian itu langsung paham. Dia pun berseru kaget, "Yang benar saja? Aldri, jangan bilang kalau kalian nggak pernah berhubungan intim?" Aldrian tidak menjawab. Itu adalah fakta. Aldrian tidak pernah menyentuh Kyna. Dia pernah memberi kode, bahkan mengambil inisiatif tanpa malu. Namun, Aldrian selalu menolak dengan berbagai alasan. Contohnya, "kamu lagi nggak enak badan", atau "aku kecapekan akhir-akhir ini". Kyna tidak bodoh. Secara perlahan, dia menyadari bahwa Aldrian hanya tidak ingin menyentuhnya karena tidak mencintainya. Namun, mendengar Aldrian mengatakannya secara pribadi membuat hatinya terasa seperti disayat pisau. Rasa sakit itu sangat luar biasa hingga dia nyaris tidak dapat bernapas. Kemudian, teman itu bertanya lagi dengan setengah bercanda, "Aldri, apa tubuhmu sama sekali nggak bereaksi waktu melihatnya? Gimanapun, dia juga tergolong wanita yang sangat cantik." Jawaban Aldrian seolah-olah adalah jarum yang tertancap sangat dalam di hati Kyna, dan menusuknya selama bertahun-tahun. Setiap kali memikirkannya, hatinya akan terasa sangat sakit. Pada saat itu, Aldrian menjawab, "Aku sudah pernah coba untuk punya hubungan pernikahan yang normal dengannya. Tapi begitu melihat kakinya, aku ... aku langsung kehilangan minat." Ternyata begitu .... Di mata Aldrian, kaki Kyna yang terluka dan mengecil karena menyelamatkannya terlihat menjijikkan dan membuatnya kehilangan minat .... Pada akhirnya, Kyna juga tidak mengetuk pintu kantor lagi. Dia membuang makanan yang disiapkannya ke tong sampah perusahaan. Sejak saat itu, dia tidak pernah menginjakkan kaki ke perusahaan Aldrian lagi. Bab 5  Sejak kejadian itu, Kyna pun mulai belajar. Saat itu, dia tidak berpikir terlalu banyak. Dia hanya ingin diam-diam menambahkan secercah harapan ke dalam hidupnya yang suram. Memiliki sesuatu untuk dilakukan akan mencegahnya larut dalam kesedihan setiap mengingat kalimat itu. Siapa yang bisa menebak bahwa harapan-harapan ini akan menjadi penyelamatnya? Besok, Kyna harus ujian dengan baik. Dia ingin meninggalkan tempat ini dan pergi sejauh mungkin. Memikirkan hal ini, hatinya masih terasa sangat sakit .... Dia bahkan tidak tahu apakah rasa sakit ini karena Aldrian atau karena dirinya salah memercayai orang selama lima tahun. Namun, itu tidak penting lagi. Yang paling penting adalah, dia tidak akan membiarkan dirinya terpuruk dalam rasa sakit ini lebih lama lagi. Sekalipun rasa sakit itu membutuhkan waktu lama untuk disembuhkan, dia harus secara aktif menyembuhkan dirinya sendiri. Kyna memesan makan malam yang ringan dan baju ganti sekali pakai. Kemudian, dia menelepon resepsionis dan memberi tahu mereka bahwa dia ingin dibangunkan besok pagi. Setelahnya, dia memaksakan diri untuk tidur. Mungkin karena sudah bergadang semalaman, Kyna tidur lumayan nyenyak malam ini. Keesokan harinya, dia bangun tepat waktu dan menyalakan ponselnya. Ada begitu banyak pesan masuk sehingga ponselnya bergetar tanpa henti. Semua pesan itu dari satu orang, yaitu Aldrian. Kyna tidak membacanya karena takut akan memengaruhi ujiannya. Setelah sarapan di hotel dan menyiapkan segalanya, dia pun berangkat menuju tempat ujian. Hotel itu dekat dengan pusat tes, mungkin hanya sekitar lima menit dengan berjalan kaki. Saat melangkah keluar hotel, ponsel di tangan Kyna bergetar. Yang menelepon adalah Aldrian. Dia pun panik dan hampir menjatuhkan ponselnya. Kemudian, dia cepat-cepat menggeser layar untuk menolak panggilan dan menonaktifkannya lagi. Ketika keluar dari ruang ujian, jantung Kyna masih berdebar kencang. Namun, itu karena gembira. Ujiannya berjalan lancar. Saat tes percakapan, guru itu tersenyum pada Kyna sepanjang waktu. Dia juga memahami sebagian besar isi tes pendengaran, bahkan dapat menyelesaikan tes membaca dan menulis dengan lancar. Dia tidak berani memperkirakan skornya, tetapi dia setidaknya telah menyelesaikan semuanya. Dia tidak sebodoh itu! Kyna berjalan sendirian di trotoar dengan kepala tertunduk. Dia tidak berhenti memikirkan setiap detail ujiannya hari ini hingga sepasang sepatu kulit muncul di hadapannya. Dia tidak menyangka akan ada orang yang sengaja menghalangi jalannya. Jadi, dia tak sempat berhenti dan menabrak orang itu. Jika orang itu tidak menangkapnya, Kyna pasti sudah jatuh. Hanya saja, itu adalah orang yang tak ingin dia temui, Aldrian. "Kyna!" Kyna tahu Aldrian sangat marah, tetapi berusaha keras menahan amarahnya. "Kyna, kenapa kamu nggak pulang?" tanya Aldrian sambil memegang bahu Kyna. Suaranya melembut dan terdengar seperti biasanya. Kyna berpikir dalam hati, 'Memangnya kamu nggak tahu kenapa aku nggak pulang?' Namun, Kyna tidak ingin berdebat dengan Aldrian. Tasnya jatuh ke lantai akibat tabrakan tadi, sedangkan tutupnya terbuka sehingga ujung pulpen ujiannya menyembul keluar. Dia tidak ingin Aldrian tahu dirinya mengikuti tes kemampuan bahasa asing. Kyna menepis tangan Aldrian dengan kuat, lalu berjongkok, dan cepat-cepat memasukkan pulpen itu ke dalam tasnya sebelum menutupnya dengan rapat. "Apa itu?" tanya Aldrian sambil menunduk untuk melihat tasnya. "Bukan apa-apa, cuma sebuah pulpen," jawab Kyna dengan berpura-pura tenang. Jari-jarinya mencengkeram tas begitu erat hingga memutih. "Berikan padaku," kata Aldrian. Tidak, dia tidak boleh membiarkan Aldrian melihat pena itu. Kyna pun memeluk tasnya dengan lebih erat lagi dan bertanya, "Buat apa kamu mau pulpen itu?" "Berikan ponselmu padaku," ucap Aldrian. Kyna ragu sejenak, lalu mengeluarkan ponselnya dari tas dan menyerahkannya kepada Aldrian. Ponselnya sedang berada dalam keadaan non aktif. Setelah meliriknya, Aldrian mengembalikan ponsel itu dan berujar, "Aku sudah telepon kamu berkali-kali, juga kirim begitu banyak pesan kepadamu. Kenapa kamu nggak balas? Kamu masih marah?" Kyna menggenggam ponselnya dan diam-diam merasa lega. Dia khawatir Aldrian akan memeriksa ponselnya Bagaimana jika Aldrian menemukan e-mail tentang ujiannya .... Jika hanya itu yang ingin diketahui Aldrian .... Kyna berpikir sejenak, lalu memutuskan untuk tidak marah lagi. Dia hanya ingin melarikan diri sejauhnya. Pikiran ini makin kuat saat bertemu lagi dengan Aldrian. Melihat Kyna diam saja, Aldrian berasumsi bahwa Kyna masih marah dan menghela napas. "Kyna, bukannya kamu biasanya sangat pengertian? Kenapa kali ini kamu bahkan sampai nggak pulang ke rumah karena masalah sepele?" Kyna bersumpah dia benar-benar tidak ingin marah lagi karena hal-hal seperti itu. Akan tetapi, bahkan orang yang paling sabar sekalipun juga seharusnya akan marah setelah mendengar ucapan Aldrian. "Jadi, apa yang terjadi kemarin tetap salahku? Aku yang nggak pengertian? Aku seharusnya masuk, lalu puji William dengan bilang dia sangat hebat karena bisa meniruku dengan begitu mirip?" sahut Kyna. Dia sudah kehilangan kesabaran. Aldrian terlihat agak canggung. "Bukan itu maksudku. Maksudku, kamu nggak bisa kontrol ucapan orang lain. Jadi, kamu nggak perlu masukin ke hati ...." "Aku memang nggak bisa kontrol, tapi kamu bisa!" Kyna menatap Aldrian dan melanjutkan, "Tapi, apa yang kamu lakukan waktu itu? Kamu dan Nara-mu malah berpelukan dan ketawa bareng." "Kyna!" Ekspresi Aldrian langsung dipenuhi amarah yang tidak pernah muncul sebelumnya. Kyna akhirnya mengerti. Nama "Nara" adalah titik lemah Aldrian, juga bagaikan ladang ranjau yang tak boleh disentuh. Apa lagi yang perlu mereka bicarakan? Kyna memeluk tasnya, lalu berjalan melewati Aldrian. Namun, Aldrian malah mengulurkan tangan dan memeluk erat pinggangnya. "Maaf, Kyna, itu salahku. Aku nggak seharusnya meninggikan suaraku tadi." Aldrian berujar dengan pelan, "Aku cuma nggak mau kamu salah paham soal Nara. Kami cuma teman biasa, sama seperti orang lainnya. Aku anggap dia sebagai sahabatku. Lagian, dia belum menikah. Apa yang kamu katakan tentangnya akan berpengaruh ke reputasinya." Kyna tidak mengerti. Bukankah mereka memang berbuat begitu? Anara sendiri yang bersandar pada Aldrian dengan begitu berani, tetapi malah takut digosipkan setelah berbuat begitu? Namun, Kyna hanya menjawab dengan acuh tak acuh, "Oh." "Kyna ...." Aldrian dapat merasakan kedinginan Kyna dan berujar, "Kenapa kamu masih marah? Kamu sudah nginap di hotel sendirian dan nggak pulang ke rumah, tapi aku nggak bilang apa-apa. Sekarang, kamu masih mau merajuk?" 'Iya, iya, semuanya salahku,' cibir Kyna dalam hati. "Kyna, jangan marah lagi. Ayo kita makan siang dulu. Habis itu, aku akan temani kamu belanja. Oke?" Kyna berpikir sejenak dan setuju. Memang ada yang perlu dibicarakannya dengan Aldrian. Aldrian membawa Kyna ke restoran terdekat. Saat memasuki restoran dan bertemu pandang dengan pelayan, karena kebiasaan, Kyna secara refleks ingin menunduk dan menaikkan kerah bajunya, lalu bersembunyi di belakang Aldrian sambil bergerak perlahan agar langkahnya yang pincang tidak terlalu terlihat. Namun, Kyna segera berpikir terbuka. Dia tidak peduli meskipun orang lain merasa dirinya tidak pantas mendampingi Aldrian. Lagi pula, dia memang tidak berniat untuk mendampingi Aldrian lagi. Setelah duduk, Aldrian memesan makanan. Ketika semua pesanan sudah keluar, Aldrian menyerahkan peralatan makan kepada Kyna sambil berkata dengan lembut, "Kyna, makanlah. Ini semua makanan favoritmu." Kyna melirik hidangan-hidangan yang semuanya pedas. Dia pun diam-diam tersenyum getir. Aldrian tidak tahu bahwa dirinya tidak bisa makan pedas. Makan malam mereka di rumah selalu pedas karena Aldrian menyukainya. "Aldrian, aku nggak lapar. Ada yang mau kubicarakan denganmu," ucap Kyna tanpa makan. "Apa?" Aldrian tersenyum tipis dan berujar, "Aku akan temani kamu pergi ke mana pun yang kamu mau. Hari ini, aku senggang seharian. Aku akan temani kamu jalan-jalan sore ini, lalu kita bisa pulang ke rumah Ayah dan Ibu untuk makan malam." Kyna menatap senyum Aldrian yang hampir tak terlihat itu, lalu memikirkan apa yang ingin dikatakannya. Kepahitan yang mendalam pun membuncah di dalam hatinya. Bab 6 "Aldrian ...," panggil Kyna dengan suara tercekat. "Hmm? Kyna?" Aldrian menggenggam tangan Kyna dan bertanya, "Ada apa? Pengen nangis? Kalau begitu, nangis saja. Jangan ditahan." Suaranya begitu lembut, persis seperti ketika Kyna baru keluar dari ruang operasi pada tahun itu. Setelah mendorongnya kembali ke kamar rawat inap bersama perawat, Aldrian tetap berjaga di samping tempat tidurnya dan berbicara dengan suara selembut ini, "Kyna, sakit? Kalau sakit, nangis saja. Jangan ditahan ...." Saat itu, Kyna hanya merasa bahwa perhatian dan kelembutan Aldrian adalah obat mujarab untuk menghilangkan rasa sakit. Sayangnya, butuh bertahun-tahun baginya untuk sepenuhnya paham bahwa kelembutan dan perhatian seorang pria tidak akan pernah bisa berubah menjadi cinta .... "Aldrian, kita cerai saja," tutur Kyna dengan pelan sambil menarik tangannya. Rasa sakit yang menyengat membuatnya berlinang air mata hingga pandangannya perlahan-lahan kabur. Aldrian mengerutkan kening. Sangat jelas bahwa dia tidak menyangka Kyna akan melontarkan hal seperti itu. Setelah terdiam sejenak, dia meminta mangkuk bersih dari pelayan, mengambil sepotong ikan, dan dengan hati-hati memilih tulangnya. Pada saat yang sama, Aldrian juga berkata, "Kyna, aku tahu kamu masih marah. Tapi, mengungkit tentang perceraian itu nggak rasional. Apa yang akan kamu lakukan setelah bercerai denganku? Gimana kamu bisa hidup sendiri?" Napas Kyna mulai memburu. Selama lima tahun, di mata semua orang, dia adalah orang yang bergantung pada Aldrian. Tanpa Aldrian, dia adalah orang menyedihkan yang tak diinginkan siapa pun, juga tak mampu bertahan hidup. Aldrian juga berpikir begitu. "Aku bisa!" Untuk pertama kalinya, Kyna menunjukkan sisi keras kepalanya dan ingin membela diri. Namun, Aldrian hanya tersenyum dan masih menganggap Kyna hanya merajuk. Dia meletakkan ikan tanpa tulang itu di depan Kyna dan menyahut, "Makanlah. Kamu boleh marah sebentar, tapi kamu nggak boleh marah lagi seusai makan." "Aku nggak marah. Aku benar-benar mau cerai!" balas Kyna. Apa yang harus dilakukannya untuk membuat Aldrian mengerti bahwa dia ingin bercerai bukan karena merajuk, tetapi serius? "Kyna." Aldrian meletakkan peralatan makannya, lalu berujar, "Sudah cukup. Hari ini, aku batalkan dua rapat dan satu negosiasi bisnis demi temani kamu. Aku belum tentu punya waktu sebanyak ini lagi besok atau lusa." "Kutegaskan sekali lagi, Nara itu teman baik kami semua, juga salah satu anggota dari kelompok pertemanan kami. Aku memperlakukannya sama seperti aku perlakukan William dan yang lain. Dia juga suka banget sama kamu dan selalu ingin jadi temanmu. Dengan sikapmu ini ... gimana aku bisa kenalin dia ke kamu?" "Kalau begitu, nggak usah kenalin dia ke aku," sahut Kyna. Dia tidak merasa Anara benar-benar ingin berteman dengannya. "Kyna!" tegur Aldrian dengan agak marah. Kyna tahu bahwa setiap ada hal yang berkaitan dengan Anara, tabiat Aldrian tidak akan sebaik itu. "Cepat makan. Habis makan, kita pergi belanja. Beli saja apa yang kamu suka. Nanti, kita makan malam di rumah Ayah dan Ibu. Sudah berapa lama kamu nggak jenguk orang tuamu?" ujar Aldrian sambil lanjut menaruh makanan ke mangkuk Kyna. Kyna tidak ingin menyakiti dirinya sendiri. Jadi, dia pun mulai makan. Apa pun yang terjadi, dia harus memastikan dirinya sehat dulu. Tak ada gunanya dia melampiaskan amarahnya pada dirinya sendiri. "Begitu dong." Suara Aldrian melembut lagi. "Jangan pernah ungkit soal cerai lagi." Kyna tertegun sejenak, lalu lanjut makan dengan kepala tertunduk. Seusai makan, dia tidak ingin berbelanja, tetapi Aldrian bersikeras dan langsung menyetir ke mal. Selama lima tahun pernikahan mereka, Aldrian hanya pernah menemaninya berbelanja beberapa kali. Lebih tepatnya, mereka jarang sekali muncul bersama di depan umum. Lampu mal sangat terang, bahkan di siang hari. Kyna merasa sedikit tidak nyaman. Dia berjalan dengan hati-hati di belakang Aldrian sambil mencengkeram tasnya erat-erat. Lantai pertama dipenuhi konter yang memajang tas, jam tangan, dan perhiasan desainer. "Mau beli apa?" tanya Aldrian sambil menoleh ke arah Kyna. Kyna tidak ingin membeli apa pun. Dia hanya ingin pulang. Namun, sebelum dia sempat mengucapkan sepatah kata pun, seseorang di kejauhan memanggil, "Pak Aldrian." "Itu mitra kerja yang baru aku kenal belakangan ini. Aku pergi sapa dia dulu." Aldrian berpesan, "Kamu jalan-jalan saja dulu. Aku akan mencarimu nanti." Kyna tidak mengenal satu pun klien Aldrian. Melihat Aldrian berjabat tangan dengan seorang pria tak jauh darinya, dia berdiri terpaku di tempat. Tak ada satu pun barang mewah yang ingin dibelinya. "Nona, sudah giliranmu," ucap seorang pramuniaga. Kemudian, Kyna baru menyadari bahwa dia secara tidak sengaja berdiri di antrean toko mewah. "Oh, nggak usah, terima kasih," balas Kyna dengan cepat. Kemudian, dia segera pergi. Kyna berjalan tanpa tujuan di mal. Tiba-tiba, dia melihat sosok yang familier di konter jam tangan desainer. Orang itu tidak lain adalah Anara. Ketika melihat merek jam tangan itu, perasaan gelisah perlahan-lahan menyelimuti Kyna. Dia tanpa sadar berjalan menuju konter tersebut. William sedang menemani Anara melihat-lihat jam tangan. Saat Kyna berjalan mendekat, percakapan mereka terdengar lebih jelas. "Beli saja kalau kamu suka," kata William. Anara menjawab, "Nggak deh. Harganya terlalu mahal. Aldri memang sudah kasih kartu tambahannya kepadaku, juga bilang aku boleh menggeseknya sesuka hati. Tapi, aku tetap malu pakai kartu itu untuk beli barang semahal ini!" Langkah Kyna seketika terhenti. Kakinya terasa terlalu berat untuk lanjut melangkah. Hatinya juga terasa seberat kakinya. Kartu tambahan .... Kartu tambahan Aldrian .... "Dia kasih ke kamu, ya supaya kamu bisa pakai. Memangnya Aldri itu orang bermuka dua? Kita sudah berteman selama bertahun-tahun, apa kamu masih nggak paham sama karakternya? Dia tulus memberikannya kepadamu," lanjut William. "Iya sih ...." Anara mulai menggerakkan pergelangan tangannya dan menunjukkannya kepada William. Kyna juga melihatnya. "Cantik nggak? William? Aku suka banget sama jam tangan ini bahkan sejak zaman kuliah. Waktu itu, Aldri juga pernah janji akan membelikannya untukku setelah lulus. Setelahnya ...." Setelahnya? Kyna pun tersenyum getir dan mengejek. Setelahnya, setiap tahun di hari ulang tahun dan hari peringatan pernikahan, Aldrian menghadiahkan jam tangan itu kepadanya. Awalnya, Kyna mengira bahwa meskipun Aldrian tidak menaruh perasaan apa pun terhadapnya, setidaknya Aldrian mengingat hari ulang tahun dan hari peringatan pernikahan mereka. Tidak peduli seasal apa pun hadiah yang dipilih Aldrian, setidaknya itu adalah barang mahal. Namun, Aldrian ternyata bukan tidak berperasaan ataupun asal memilih hadiah. Sebaliknya, dia justru sangat peduli. Hanya saja, yang terukir di hatinya bukanlah Kyna .... "Kalau begitu, Aldri termasuk sudah tepati janjinya sekarang. Kamu boleh beli apa pun yang kamu mau. Asal kamu suka, dia mampu membelinya," kata William untuk menyemangati Anara. "Kalau begitu, aku gesek, ya?" Sangat jelas bahwa Anara sangat ingin melakukannya. Di sisi lain, Aldrian telah selesai berbasa-basi dengan rekan bisnisnya. Orang itu ternyata datang untuk menjemput istrinya yang telah selesai berbelanja. Mengetahui Aldrian juga sedang menemani istrinya, rekan bisnis itu menawarkan diri untuk menyapa. Melihat Aldrian yang berjalan mendekat, Kyna segera bersembunyi di balik pilar. Sementara itu, Anara telah melihat Aldrian dan melambaikan tangannya sambil berseru, "Aldri, aku ada di sini. Kemarilah!" Kyna mengintip dari balik pilar dan melihat Aldrian berjalan ke arah Anara bersama rekan bisnisnya. Anara menggenggam tangan Aldrian, lalu mengguncangnya sambil bertanya, "Aldri, aku mau beli jam tangan ini. Boleh?" "Tentu saja." Aldrian menatap Anara dengan begitu lembut. Cahaya dalam matanya membuat seluruh wajahnya terlihat hidup. Penampilannya sangat berbeda dengan keacuhan yang ditunjukkannya ketika bersama Kyna di rumah. "Makasih, Aldri! Aku akan pergi gesek kartunya sekarang juga!" tutur Anara sambil melambaikan kartu tambahan yang diberikan Aldrian. Menyaksikan hal ini, rekan bisnis itu tersenyum dan berkomentar, "Pak Aldrian, kamu dan istrimu benar-benar mesra. Ini sungguh mengharukan." Istri? Aldrian dan Anara sama-sama terkejut, tetapi tak satu pun dari mereka yang menyangkalnya .... Bab 7  Kyna memperhatikan Aldrian dan Anara. Setelah canggung sesaat, mereka dengan cepat beradaptasi dengan peran baru mereka. Keduanya mengobrol dengan gembira dengan mitra bisnis itu. Mereka terlihat sangat serasi .... Kyna diam-diam memotret mereka. Saat berbalik untuk pergi, "jarum" yang tertancap di jantungnya masih terasa menusuk. Rasa sakit yang tajam dengan cepat menyebar ke dadanya, bahkan nyaris membuatnya menangis. "Kyna!" Tiba-tiba, seseorang memanggil namanya tepat saat Kyna hendak meninggalkan mal. Dia menoleh dan melihat seseorang berdiri di eskalator yang menurun. Orang itu melambaikan tangan ke arahnya dengan penuh semangat. Itu adalah Sonia, guru akademi tari ketika Kyna berkuliah dulu. "Bu Sonia!" seru Kyna dengan gembira. Sonia segera menuruni eskalator, lalu menghampiri Kyna dan menggenggam tangannya. Dia juga terlihat gembira. "Aku awalnya masih ragu aku salah kenali orang atau nggak. Setelah panggil, ternyata memang kamu! Gimana kabarmu? Sudah lima tahun kita nggak ketemu." Kyna merasa agak sedih. Lima tahun telah berlalu, tetapi dia malah menjadi orang yang tidak berguna. Bagaimana mungkin dia dapat menghadapi gurunya? "Lagi sibuk nggak? Kalau nggak, ayo kita ngobrol di kafe," ucap Sonia sambil menggenggam tangan Kyna. Kyna tidak sibuk. Jika itu sebelumnya, dia mungkin akan terus mengasingkan diri dan menolak semua orang dari dunia tari karena merasa rendah diri. Namun, sejak membuka album foto tari di ponselnya, dia merasa seperti sudah ada celah di langit gelapnya. Dia tiba-tiba mendambakan ada secercah cahaya yang dapat bersinar masuk. Kyna mengangguk, "Oke, Bu Sonia." Entah kenapa, air mata menggenang di mata Kyna. Sonia menggenggam tangan Kyna, lalu membawanya ke sebuah kafe yang menjual afternoon tea ala bangsawan zaman dulu. "Bu Sonia, gimana kabar teman-teman lainnya sekarang?" Kyna sudah terlalu lama terpisah dari dunianya sendiri. Dia juga telah meninggalkan semua obrolan grup teman kampusnya. Sonia meliriknya dengan tajam dan bertanya, "Kamu benar-benar mau tahu?" Sonia mengetahui situasi Kyna. Awalnya, Kyna berencana melanjutkan studi pascasarjana, tetapi tiba-tiba menyerah. Sonia tentu saja menanyakan alasannya. Setelahnya, Sonia bahkan sengaja datang ke Kota Hatam untuk mengunjungi Kyna. Kyna mengangguk penuh semangat. Sonia pun mulai bercerita. Lima tahun benar-benar cukup untuk mengubah hidup seseorang. Sebagian teman-teman Kyna itu telah bergabung dengan kelompok tari dan menjadi penari utama. Ada juga yang melanjutkan studi di luar negeri dan lulus dengan gelar doktor, sedangkan ada beberapa yang menjadi guru supaya bisa mengembangkan bakat-bakat baru. Semua orang mengambil lompatan besar dalam perjalanan hidup mereka. Hanya dia yang .... Akan tetapi, mulai hari ini, Kyna juga akan menjadi seseorang yang berbeda. Dia akan berusaha mengejar ketertinggalan. Meskipun tidak bisa menari lagi, dia akan menemukan tempatnya di bidang lain! "Bu Sonia, aku ... akhirnya juga bisa berikan jawabanku padamu," kata Kyna dengan berlinang air mata. Saat ini, dia benar-benar merasa bersalah karena sudah mengecewakan harapan gurunya. "Apa?" Sonia masih tersenyum seperti biasa. Kyna berbisik di telinga Sonia mengenai rencananya untuk kuliah di luar negeri. "Baguslah! Sudah kutahu nggak ada muridku yang lemah!" seru Sonia sambil menggenggam tangan Kyna. "Oh iya, kebetulan kami juga akan adakan pertunjukan keliling Yuropiah. Kamu bisa ikut untuk merasakan suasana dan biasakan diri dengan kehidupan di sana!" "Tapi aku ...." Apakah kakinya akan sanggup? Kyna tidak akan pernah bisa menari lagi. Dia bahkan berjalan lebih lambat daripada orang lain. Program pascasarjana yang diambilnya juga adalah bidang teori. "Nggak ada yang mustahil! Kalau bukan karena kecelakaan itu, kamu pasti sudah jadi anggota tim tari muda. Kali ini, kamu ikut saja sebagai staf yang tangani urusan belakang panggung atau penata rias!" ujar Sonia dengan tegas. Dia sama sekali tidak menganggap Kyna sebagai orang cacat. Kyna tak kuasa menahan tawa. Dia menyukai perasaan tidak diperlakukan seperti orang cacat. Dia tidak bisa menari, tetapi masih bisa melakukan hal-hal lain. Dia bukannya langsung menjadi orang yang tidak berguna karena tidak bisa menari lagi .... Baru saja Sonia selesai berbicara, ponselnya bergetar dan sebuah pesan masuk. "Ini pesan dari suamiku. Kamu keberatan nggak kalau dia gabung sama kita?" tanya Sonia untuk meminta pendapat Kyna. "Tentu saja nggak," jawab Kyna sambil tersenyum. Sebenarnya, Kyna agak takut. Setelah mengisolasi diri selama lima tahun, dia sudah tidak terbiasa bertemu orang asing. Akan tetapi, bukankah dia tetap harus mengambil langkah pertama? "Kalau begitu, aku akan suruh dia datang," jawab Sonia. Hanya saja, yang sangat mengejutkan Kyna adalah, suami Sonia ternyata adalah rekan bisnis baru Aldrian yang dilihatnya tadi. "Dia datang ke Kota Hatam untuk urusan bisnis. Aku juga ikut datang liburan beberapa hari. Tak disangka, aku malah ketemu sama kamu di sini. Kita benar-benar berjodoh ...." Sambil berbicara, Sonia memperkenalkan suaminya. Namun, Kyna malah memperhatikan Aldrian, Anara, dan suami Sonia yang berjalan menuju meja mereka. Akhirnya, mereka sampai di depan meja. Kyna duduk diam sambil memperhatikan perubahan ekspresi dramatis Aldrian dan Anara. "Ayo duduk. Ini istriku, Sonia. Dia itu seorang guru tari." Suaminya Sonia memperkenalkan mereka, "Ini Pak Aldrian, rekan bisnisku. Itu istrinya." Kata "istri" itu membuat tangan Aldrian gemetar sejenak, sedangkan Anara juga terlihat gelisah. Mereka merasa serbasalah dan menatap Kyna dengan gugup. Namun, Kyna hanya menatap mereka dan tersenyum tipis. Sonia juga memperkenalkan suaminya kepada Kyna, "Ini suamiku, namanya Evan." Kemudian, Sonia menunjuk Kyna dan lanjut berkata, "Ini muridku yang dulunya punya peluang terbesar untuk raih Piala Tari Nasional." Ketika mendengar kata "Piala Tari Nasional", mata Aldrian meredup sepenuhnya. Dia mengalihkan pandangannya ke bawah, seolah-olah ingin melihat kaki Kyna. Kyna menyadarinya. Pada saat ini, mata Aldrian dipenuhi penderitaan. Benar juga, bagaimana mungkin Aldrian tidak menderita? Jika bukan karena kakinya menjadi pincang, Aldrian tidak akan menikahinya, sedangkan wanita di sampingnya sekarang bisa menjadi istri sahnya. Kyna tersenyum dan berujar, "Bu Sonia, Pak Evan, sebenarnya akulah ...." "Ah!" seru Anara di waktu yang tepat untuk menyela kata-kata Kyna. Kyna pun berhenti berbicara. Anara menumpahkan teh yang begitu panas hingga membasahi tangan dan pakaiannya. "Ma ... maaf. A ... aku benar-benar nggak sopan." Anara segera mengambil tisu untuk menyeka teh yang tumpah itu. "Nggak apa-apa." Sonia yang tidak menyadari apa-apa bahkan memberinya tisu. Secangkir teh yang tumpah sudah menghentikan Kyna untuk mengungkapkan kebenaran. Namun, jika Kyna ingin lanjut berbicara, apakah Anara bisa menghentikannya? Di seberang, Aldrian menatap Kyna dengan penuh permohonan dan menggeleng pelan. Dia seolah-olah sedang bergumam dalam hati, 'Jangan ngomong, jangan ngomong.' Cih! Kyna sebenarnya juga tidak ingin mengungkapkannya. Dia hanya ingin membuat mereka panik. Selama berada di kafe, ada orang yang terlihat tegang, sedangkan ada juga yang tenang. Saat Kyna mengangkat cangkir tehnya, Sonia tiba-tiba memperhatikan tangannya dan bertanya, "Kyna, itu cincin kawin? Siapa suamimu?" Pertanyaan itu terasa bagaikan guntur di langit cerah yang mengejutkan Aldrian dan Anara di seberang. Ekspresi mereka seketika berubah drastis. Kyna menatap tangan Aldrian yang sedang memegang cangkir teh dan tersenyum mengejek. Aldrian tidak pernah memakai cincin kawin. Begitu resepsi pernikahan mereka berakhir, dia langsung melepas cincin kawin itu. Sejak saat itu, cincin kawin itu entah disimpan di mana. "Iya, aku sudah nikah selama lima tahun. Suamiku bermarga Wibowo," jawab Kyna dengan santai. "Kebetulan sekali? Dia juga bermarga Wibowo?" tanya Aldrian. Implikasinya sudah jelas. Dia ingin Kyna berhenti bicara. "Ya, dia bermarga Wibowo, juga seorang pebisnis. Tapi, bisnisnya nggak sebesar bisnis Pak Aldrian," jawab Kyna sambil menyesap tehnya. Dari balik cangkir teh, Kyna melihat dengan jelas Aldrian menghela napas lega. "Kebetulan sekali. Lain kali, ajak suamimu keluar juga. Kita bisa minum teh bareng," ucap Evan. Berhubung Kyna adalah murid Sonia, dia bersikap sangat hormat kepada Kyna. Ekspresi Aldrian berubah lagi. Kyna benar-benar merasa lucu. Dalam lima tahun pernikahan mereka, perubahan ekspresi Aldrian selama ini bahkan tidak sebanyak satu sore ini. Berhubung situasinya begitu canggung, Aldrian juga tidak berniat untuk menghabiskan waktu terlalu lama di kafe ini. Setelah mengobrol sebentar, dia mengatakan bahwa dirinya masih ada urusan dan harus pergi. Namun, karena khawatir Kyna akan mengatakan sesuatu yang tidak pantas jika ditinggal sendiri, dia memberi isyarat agar Kyna juga segera pergi. Bab 8  Pada saat ini, Sonia juga kebetulan menerima panggilan telepon. Dari percakapan itu, sepertinya ada orang yang mencarinya. Kyna yang tidak ingin mengganggu waktu Sonia benar-benar juga harus pergi. Aldrian menawarkan, "Pak Evan, Bu Sonia, kalian tinggal di mana? Aku akan antar kalian." Mereka menginap di hotel sebelah dan tidak membutuhkan tumpangan. Akan tetapi, Sonia mengkhawatirkan Kyna dan bertanya di mana Kyna tinggal. Kyna melirik Aldrian dan menyebutkan nama jalan dan kompleks apartemennya. "Evan, aku naik taksi saja. Kamu antarkan Kyna pulang, ya," kata Sonia. Aldrian memanfaatkan kesempatan itu untuk berbicara, "Kami tinggal di area yang sama dengan Kyna. Biar kami saja yang mengantarnya." "Ini ...." Sonia merasa sedikit ragu. Namun, Kyna langsung setuju, "Oke. Kalau begitu, repotin Pak Aldrian, ya." Kyna sengaja menekankan kata-kata "Pak Aldrian". Mendengar ini, Aldrian pun mengerutkan kening. Akan tetapi, Kyna pura-pura tidak memperhatikannya. Setelah itu, Aldrian, Kyna, dan Anara naik lift ke tempat parkir bawah tanah. Setibanya di tempat parkir, Anara tidak melangkah lebih jauh. Dia berdiri di pintu masuk, lalu tersenyum manis dan berkata dengan manja, "Sudahlah, Aldri. Kalian pulang saja. Aku bisa naik taksi sendiri. Kyna, kukembalikan posisi istrinya Aldrian ke kamu, ya." Apa maksudnya mengembalikan posisi itu? Kapan dia setuju untuk meminjamkannya? Anara menggenggam erat lengan Kyna dan mengguncangnya dengan manja, "Kyna, jangan marah. Kesalahpahaman hari ini nggak disengaja. Aldri sangat pentingkan kerja sama ini. Hubungan Pak Evan dengan istrinya sangat baik. Kalau hubungan suami istri mitranya juga baik, itu bisa jadi nilai plus bagi proyek ini. Jadi, kami pun nggak menjelaskannya. Lagian, kamu ...." Anara melirik kaki Kyna, lalu lanjut merangkul lengan Kyna dan menambahkan, "Kyna, kamu nggak akan marah sama kami, 'kan?" "Kami?" Kyna mencibir, "Siapa kami yang kamu maksud?" Raut wajah Anara langsung berubah. Kyna tidak suka orang asing menempel padanya, terutama Anara. Seusai berbicara, dia langsung menarik lengannya. Dia bersumpah dia hanya menarik lengannya, juga tidak mengerahkan tenaga atau mendorong Anara. Namun, Anara malah jatuh ke lantai. "Kyna!" tegur Aldrian dengan suara kuat. Anara terlihat lebih bersemangat daripada siapa pun. Dia segera berdiri, lalu mengadang di depan Aldrian. Dia menempelkan seluruh tubuhnya ke arah Aldrian sambil membujuk, "Aldri, jangan marah. Jangan salahkan Kyna juga. Aku sendiri yang ceroboh. Kyna cuma mendorongku dengan pelan. Aku yang nggak berdiri dengan baik. Aldri, kalian jangan bertengkar gara-gara aku, ya. Aku mohon. Kalau nggak, aku akan sedih ...." Seharusnya hanya Aldrian seorang yang percaya pada akting buruk Anara itu, 'kan? Apalagi, sambil menghalangi Aldrian, Anara juga sengaja menunjukkan pergelangan tangannya yang lecet. Oh, di pergelangan tangan itu, ada juga jam tangan yang baru saja dibelinya. Kyna memiliki sepuluh jam tangan itu. Aldrian mengerutkan kening ketika melihat pergelangan tangan Anara yang lecet. Matanya dipenuhi rasa sakit hati. "Kyna! Ada apa denganmu? Bukannya biasanya kamu begitu lembut dan pengertian. Kenapa kamu berprasangka begitu buruk terhadap Nara?" "Aku, berprasangka buruk terhadapnya?" Kyna terkekeh. "Prasangka apa yang mungkin kumiliki terhadapnya? Lagian, dia sudah jadi istrimu. Apa aku punya hak untuk keberatan?" "Kamu ...." Aldrian tidak dapat berkata-kata. Dia menatap Anara dan bertanya, "Sakit?" "Nggak ...," jawab Anara dengan nada manja. Dia mengatakan tidak sakit, tetapi malah mendekatkan pergelangan tangannya ke dagu Aldrian. Bab 9 Aldrian menunduk dan meniup pergelangan tangan Anara dengan lembut. "Nanti jangan lupa oleskan obat biar nggak tinggalkan bekas." Kyna belum pernah melihat tatapan Aldrian yang seperti itu. Bahkan ketika kakinya lumpuh dan tubuhnya dipenuhi bekas luka dalam kecelakaan itu, Aldrian juga tidak pernah menunjukkan rasa sakit hati yang mendalam seperti ini. Aldrian memang pernah dengan lembut bertanya apakah dia sakit dan dia boleh menangis jika merasa sakit. Namun, itu bukan karena rasa sakit hati, melainkan rasa bersalah. Aldrian tidak akan pernah membelai luka Kyna dengan lembut. Dalam menghadapi penampilannya yang penuh bekas luka, Aldrian memilih untuk melarikan diri, menghindar, dan menolak untuk melihat. "Nggak apa-apa. Aku benar-benar nggak sakit!" Suara Anara menjadi makin manja. "Kyna." Aldrian menatap Kyna dan berujar, "Lihat betapa pengertiannya Nara. Cepat minta maaf." "Kenapa aku harus minta maaf?" Entah sejak kapan, rasa sakit telah menyerang mata Kyna dan mengaburkan pandangannya. Dia tidak bisa lagi melihat wajah Aldrian dengan jelas. "Dia sudah ngaku jadi istri suamiku. Aku masih harus minta maaf ke dia?" "Kyna! Kenapa kamu jadi berlidah tajam sekarang! Bukannya Nara sudah menjelaskannya padamu? Pak Evan salah paham dan kami cuma lanjutkan kesalahpahaman itu demi proyek! Kenapa kamu masih menyimpan dendam?" Aldrian marah lagi. Selama Kyna "menyinggung" Nara-nya, dia pasti marah. Kyna tersenyum dan menggeleng. "Nggak, Aldrian. Kamu salah. Aku sama sekali nggak ingin menyimpan dendam. Aku bahkan nggak ekspos kebohongan kalian berdua tadi. Aku nggak peduli siapa yang mau duduki posisi sebagai istrimu. Aldrian, aku sudah bilang mau cerai. Sebaiknya kamu setuju secepatnya. Setelah itu, semuanya akan kembali ke jalan seharusnya." Kyna tidak mengungkap kebohongan Aldrian dan Anara karena itu memang tidak diperlukan. Lagi pula, dia dan Aldrian akan segera bercerai. Untuk apa dia menambah masalah bagi dirinya sendiri? Saat bertemu dengan Sonia kelak, dia malah harus menjelaskan hubungannya dengan kedua orang ini. Itu sungguh tidak sepadan dengan kerepotan yang akan dihadapinya. "Kyna! Tabiatmu makin keterlaluan saja!" Aldrian makin marah dan berseru, "Mau merajuk juga ada batasnya. Cepat minta maaf pada Nara sekarang juga!" "Nggak!" Kyna berbalik dan hendak pergi. "Berhenti!" Aldrian menerjang ke depan dan mencengkeram tangan Kyna. "Mau ke mana kamu? Kamu sudah dorong Nara sampai jatuh dan lengannya lecet, tapi nggak mau minta maaf?" Kyna menatap tangan yang mencengkeram pergelangan tangannya. Keputusasaan menerpanya bagai gelombang pasang. Dia menatap mata Aldrian dan menekankan kata demi kata, "Ya, aku cuma pincang, sedangkan tangannya sudah lecet ...." Kyna melihat kilatan sakit yang mendalam di mata Aldrian. Pada saat yang sama, Aldrian melonggarkan cengkeramannya dan mundur dua langkah. Saat mendapatkan kembali kebebasannya, Kyna berbalik dan berlari menuju lift. Benar, dia berlari. Betapa menyedihkan pun penampilannya sekarang, dia tidak peduli. Dia benar-benar tidak ingin membiarkan Aldrian melihat dirinya menangis. Sejak Kyna terluka sampai mereka menikah, dan selama lima tahun pernikahan mereka, ini adalah pertama kalinya dia menggunakan cedera kakinya untuk melukai Aldrian. Sebelumnya, Kyna sangat berhati-hati dan selalu melindungi perasaan Aldrian. Dia takut Aldrian akan merasa bersalah, khawatir, atau menyalahkan diri sendiri. Oleh karena itu, dia tidak pernah menyinggung tentang kakinya, apalagi kecelakaan mobil lima tahun lalu. Meskipun tidak berhenti digosipkan dan diejek orang lain, Kyna memendam semuanya dan diam-diam mencernanya seorang diri. Dia hanya berharap Aldrian bisa memberinya sebuah keluarga yang hangat, nyaman, dan tenang. Dia hanya berharap cintanya akan bersemi indah seiring berjalannya waktu. Sayangnya .... Bab 10  Apakah Aldrian juga merasa sakit? Kyna mengerti. Aldrian akan menanggung beban ini seumur hidupnya tanpa bisa melepaskan diri. Bagaimana mungkin Aldrian tidak merasa sakit? Orang yang paling dicintainya ada di sampingnya, tetapi karena keberadaan Kyna, mereka tidak bisa bersama secara terbuka. Bagaimana mungkin dia tidak merasa sakit? Hati nurani dan keinginan untuk melepaskan diri itu tidak berhenti menyiksa jiwanya. Bagaimana mungkin itu tidak menyakitkan bagi Aldrian? 'Jadi, Aldrian, lepaskanlah aku. Oke?' pikir Kyna. Kyna pulang ke rumah sendiri, lalu mengeluarkan sepuluh kotak jam tangan itu. Dia menatap kotak-kotak jam tangan itu dan tenggelam dalam pikirannya untuk waktu yang sangat lama. Untuk sesaat, Kyna terdorong untuk membanting setiap kotak jam tangan itu ke dinding. Namun, dia mengurungkan niatnya. Tindakan gegabah tidak bisa menyelesaikan masalah. Setelah akhirnya tenang, Kyna membuka aplikasi jual-beli barang bekas dan mulai mencari penjual yang membeli barang-barang mewah. Dia segera menemukan satu di dalam kota dan menyuruh orang itu untuk datang mengambil barangnya pada jam 10 pagi besok. Pukul 10 pagi adalah waktu Sani pergi berbelanja. Setelah menangani masalah ini, Kyna menyalakan laptop dan mulai fokus dalam urusan pengajuan visa. Rombongan Sonia akan berangkat sebulan lagi. Hitungan mundur sampai kepergiannya benar-benar sudah dimulai. Kyna duduk di depan laptop dan berkonsentrasi membaca postingan demi postingan. Hatinya berdebar kencang. Baginya, dunia tidak pernah sedamai tetapi semenyenangkan ini. Tanpa disadarinya, malam ini telah berlalu. Dia begitu fokus hingga tak menyadari kepulangan Aldrian. Sampai terdengar suara seseorang bertanya "lagi ngapain kamu?" dari balik pintu di belakangnya, Kyna baru buru-buru menutup laptopnya. Aldrian telah kembali dan bersikap lembut seperti biasa, seolah-olah tidak ada yang terjadi. Dia berjalan ke samping Kyna dan bertanya dengan suara lembut, "Lagi nonton drama? Drama apa yang begitu bagus sampai-sampai kamu belum tidur?" Aldrian hanya sedang memaksakan percakapan. Kyna menekan tangannya erat-erat ke laptop. Halaman webnya masih terbuka. "Drama yang nggak kamu suka." "Aku belum nonton. Gimana kamu tahu aku nggak suka?" Aldrian mengulurkan tangan untuk membuka laptopnya. Tidak, Kyna tidak ingin Aldrian melihat halaman web yang sedang dia baca. Dia pun menekan laptopnya erat-erat. Aldrian berasumsi Kyna masih marah. Dia berhenti berebutan dengan Kyna, lalu berjongkok dan memandangi profil wajahnya. "Masih ngambek?" "Nggak." Kyna merasakan banyak perasaan. Dari kekecewaan, keputusasaan, amarah, tetapi dia tidak merajuk. Merajuk berarti selama Aldrian menghiburnya, semuanya akan baik-baik saja dan dia masih menaruh harapan pada pernikahan ini. Namun, Kyna tidak lagi menaruh harapan pada pernikahan ini .... Lima tahun benar-benar sudah cukup. "Kyna, aku dan Nara benar-benar nggak punya hubungan apa-apa. Kami cuma teman kuliah. Dia baru kembali dari luar negeri, makanya kami semua adakan pesta untuk menyambutnya. Kesalahpahaman di mal hari ini murni nggak disengaja. Kamu harus percaya padaku." Saat ini, Aldrian telah kembali menjadi orang yang penuh kesabaran dan kelembutan seperti biasa. Melihat Kyna diam saja, dia melanjutkan, "Kita seharusnya makan malam di rumah orang tuamu hari ini, tapi nggak jadi. Gimana kalau kita pergi ke sana lain hari?" Kyna menggeleng. Dia tidak ingin pulang untuk makan malam. Setelah pulang, orang tua dan adik laki-lakinya hanya akan mengatakan bahwa dia seharusnya merasa sangat bersyukur karena Aldrian bersedia menikah dengan orang pincang sepertinya. "Nggak pengen pulang? Sudah lebih dari sebulan kita nggak kunjungi orang tuamu. Kamu nggak rindu sama mereka?" Suara Aldrian terdengar makin lembut. Kyna menatap mata Aldrian, tetapi tidak menemukan antusiasme di balik kelembutan itu. Kelembutan itu bagaikan program yang sudah terpasang di tubuh Aldrian dan akan otomatis aktif begitu diinginkan. "Aldrian." Kyna bertanya, "Kamu nggak capek?" Aldrian tertegun dan sepertinya tidak mengerti apa yang Kyna maksud. Kyna tersenyum getir dan bertanya, "Ada orang lain di hatimu, tapi kamu harus hadapi aku setiap hari. Kamu nggak capek?"