Sahabat Masa Kecil Suamiku Adalah Pelakor

Đang tải thông tin quảng bá...

Sahabat Masa Kecil Suamiku Adalah Pelakor

GoodNovel Hoàn thành

Di malam ketika Peter menikah dengan wanita lain, Nindy menghancurkan rumah tempat mereka bersama selama delapan tahun!

Chương (1)

第1章

Di malam ketika Peter menikah dengan wanita lain, Nindy menghancurkan rumah tempat mereka bersama selama delapan tahun! Bab 1 Pukul dua dini hari, Nindy terbangun karena sakit perut yang menusuk. Sambil meraba ranjang di sebelahnya yang dingin, Nindy baru sadar suaminya, Peter, masih belum pulang. Rasa nyeri di perut bagian bawah semakin parah. Dengan tubuh bergetar, Nindy menelepon Peter. Nada tunggu berlangsung lama, hingga akhirnya telepon tersambung. Belum sempat Nindy membuka mulut, suara seorang gadis terdengar di seberang. "Kak Nindy, Peter sudah tidur. Kalau ada apa-apa, kamu cari dia besok saja, ya. Aku tutup dulu." "Tunggu ... tunggu sebentar ...." Perut yang terus meliuk-liuk kesakitan membuat setiap kata yang keluar dari bibir Nindy terasa seperti siksaan. Namun, lawan bicara sama sekali tidak peduli dan langsung memutuskan telepon. Saat dia mencoba menelepon lagi, hanya terdengar pesan kalau ponsel sudah dimatikan. Nindy terengah-engah, perasaan seperti akan mati membuat seluruh tubuhnya gemetar hebat, air matanya mengalir dengan tak terbendung. Dia tidak ingin mati. Dia masih berusia 26 tahun, masih punya ayah dan ibu, masih punya Peter. Dengan sekuat tenaga, Nindy menekan nomor darurat, lalu merangkak ke ruang tamu untuk membuka pintu utama. Sebelum kehilangan kesadaran, dia samar-samar mendengar suara sirene ambulans menggema di seluruh kompleks apartemen. Diagnosis awal dokter adalah hamil ektopik dan harus segera dioperasi. Petugas medis perlu menghubungi keluarga, tetapi nomor Peter tetap tidak bisa tersambung. "Kamu punya keluarga atau teman lain yang bisa dihubungi?" tanya seorang perawat muda sambil menatap Nindy yang pucat pasi dengan tatapan penuh rasa iba. Nindy tersenyum pahit dan menggeleng pelan. Orang tuanya tidak tinggal di Kota Rubia, bahkan jika naik penerbangan paling pagi, mereka baru bisa sampai besok sore. Apalagi, kondisi ibunya lemah karena penyakit jantung. Dia tidak sanggup menerima berita yang syok. Sahabat terbaiknya, Elvi, memang ada di kota ini. Namun, Elvi sedang hamil besar dan sudah masuk masa persalinan, Nindy tidak tega merepotkannya. "Formulir persetujuan operasi ... biar aku saja yang tanda tangan," katanya lirih. Operasi dilakukan semalaman. Saat Nindy tersadar, hari sudah berganti pagi. Seorang perawat segera menuangkan segelas air hangat begitu melihatnya membuka mata. "Bu Nindy, akhirnya kamu sadar. Kamu nggak tahu betapa berbahayanya keadaanmu. Dokter bilang posisi kehamilan ektopikmu sangat buruk. Kalau operasinya terlambat sedikit saja, mungkin nyawamu sudah nggak bisa diselamatkan." Nindy menyentuh perutnya, hati dipenuhi rasa sedih dan kecewa. Dua tahun dia dan Peter berusaha untuk hamil. Saat akhirnya berhasil, ternyata kandungannya adalah kehamilan ektopik. Nindy menggenggam ponselnya erat-erat, air matanya berderai tiada henti. Setelah semalaman berlalu, Peter tidak pernah menelepon, bahkan tidak mengirim satu pesan pun. Anak mereka sudah tiada, tapi ayah dari anak itu seharusnya tahu. Nindy pun menelepon Peter. Kali ini, Peter sendiri yang mengangkat. "Sayang, aku ...." "Nindy, aku tahu akhir-akhir ini aku mengabaikanmu, tapi aku benar-benar capek. Bi Bonita kemarin mengalami reaksi penolakan, kondisinya sangat buruk. Soal Sofie, nggak ada apa-apa di antara kami. Dia itu adikku, nggak mungkin mengancam posisimu sebagai istriku. Jangan ribut lagi, bisa nggak?" Suara Peter terdengar sangat tidak sabar. Nindy terdiam menggenggam ponselnya. Dia tidak tahu harus berkata apa. Setelah hening beberapa detik, Peter kembali bersuara, "Kenapa kamu diam saja? Nindy?" "Aku ... aku hamil ektop ...." Belum sempat Nindy menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara Sofie dari seberang yang panik bercampur isakan. "Peter, cepat datang lihat ibuku!" "Sudah, sampai sini dulu." Telepon langsung diputus. Nindy menatap langit-langit. Mata yang sedari tadi sudah bengkak, kini kembali dibasahi air mata. Delapan tahun ... dia bersama Peter delapan tahun lamanya. Delapan tahun itu mereka lewati bersama. Dari tahun terakhir SMA, bertahan dengan hubungan jarak jauh selama empat tahun kuliah, hingga akhirnya dua tahun lalu resmi menikah. Mereka pernah berjanji akan berusaha menyambut hadirnya seorang bayi bersama-sama. Namun kini, hanya karena sahabat kecilnya yang baru pulang tiga bulan, Nindy seketika berubah menjadi istri pencemburu yang tak tahu diri di mata Peter. "Hah!" Nindy tertawa getir. Sambil menutup matanya, dia tertawa dan menangis dalam waktu bersamaan. Bab 2 Nindy sangat paham apa arti Sofia dan ibunya bagi Peter. Saat Peter masih kecil, orang tuanya sibuk bekerja dan sering lembur. Hampir setiap hari Peter makan di rumah tetangganya, Bonita. Bonita adalah seorang ibu tunggal yang membesarkan Sofie seorang diri. Sejak kecil hingga remaja, Peter dan Sofie selalu dipandang orang-orang sebagai sepasang kekasih masa kecil yang serasi. Semua orang yakin bahwa mereka berdua akan melangkah dari status teman masa kecil ke jenjang pernikahan. Di tahun terakhir SMA, Sofie ikut ibunya pindah ke luar negeri dan kepergian itu berlangsung selama delapan tahun. Hingga tiga bulan lalu, Sofie kembali bersama ibunya yang divonis kanker pankreas, lalu mereka mencari Peter. Sejak keduanya kembali, Peter mulai sering tidak pulang ke rumah. Jika ditanya alasannya, jawabannya selalu sedang di rumah sakit. Karena memahami hubungan Peter dengan Sofie dan ibunya, Nindy tidak pernah mengeluh. Dia selalu percaya bahwa hubungan mereka berdua sangat kokoh, tidak akan terguncang hanya karena hadirnya sahabat kecil itu kembali. Awalnya, Nindy bahkan ikut membantu menghubungi para ahli medis. Namun lambat laun, keberadaannya justru membuat Peter dan Sofie merasa tidak senang. Perlahan-lahan, setiap kali Nindy muncul, Sofie akan menangis dengan wajah penuh rasa tersakiti. Akhirnya, Peter meminta Nindy untuk tidak lagi datang ke rumah sakit. Nindy benar-benar tidak mengerti apa kesalahannya. Dia tidak marah, tidak ribut, hanya menunggu dengan sabar hingga semuanya selesai. Dia berharap setelah Peter menyelesaikan semua urusan ini, mereka bisa kembali ke keadaan semula. Namun, sikap Peter saat operasi kehamilan ektopiknya membuat keyakinan itu mulai goyah. Sambil mengembuskan napas panjang, Nindy mengirim pesan singkat kepada Peter. Dia bahkan melampirkan hasil medis tentang kehamilan ektopiknya. Di rumah sakit yang sama, Peter menatap layar ponselnya dengan dahi berkerut. Sofie yang duduk di sampingnya ikut mendekat untuk melihat. Belum sempat Peter mengatakan apa pun, mata Sofie langsung memerah. Air matanya jatuh deras dan suaranya tercekat. "Maaf, Peter, aku nggak seharusnya menghubungimu. Aku tahu Kak Nindy takut aku merebutmu darinya, jadi dia sengaja mengarang alasan yang nggak masuk akal ini. Aku dan Ibu yang sudah merusak hubungan kalian berdua. Maafkan aku." Tadi sempat ada sekelebat rasa cemas di hati Peter, tapi setelah dipikir lagi, tiga bulan terakhir ini dia memang jarang pulang karena merawat Bonita yang sakit. Dia dan Nindy sudah lama tidak berhubungan sebagai suami istri. Peter juga mengenal Nindy dan tahu betul bahwa Nindy tidak mungkin berselingkuh. Jadi, menurutnya, ini hanyalah ulah Nindy yang sedang mencari perhatian karena ingin membuktikan bahwa dirinya masih dicintai. Peter mengusap kepala Sofie dengan halus, suaranya terdengar begitu lembut. "Ini bukan salahmu. Aku yang terlalu memanjakannya, sampai-sampai bisa mengarang kebohongan seperti ini." "Terima kasih, Peter. Kalau bukan karena kamu, aku benar-benar nggak tahu harus bagaimana." Dengan air mata masih mengalir, Sofie langsung terjun ke pelukan Peter. Peter menepuk lembut punggung Sofie, memberikan kenyamanan dan kepastian. Setelah cukup lama menenangkan Sofie, barulah Peter sempat membalas pesan Nindy. [ Nindy, umur Bi Bonita nggak lama lagi. Kamu tahu sendiri dia banyak menjagaku waktu aku masih kecil. Tolong kamu lebih pengertian. ] [ Jangan lagi membuat keributan, apalagi mengatakan kebohongan kejam yang mengutuk dirimu sendiri dan anak kita di masa depan. Setelah semua ini berakhir, aku pasti akan menebusnya padamu. ] Bab 3 Kekecewaan yang datang berkali-kali, pada akhirnya hanya butuh sebuah penyelesaian untuk benar-benar menjadi akhir dari sebuah cerita. Nindy menghapus air matanya, lalu membalas pesan Peter hanya dengan satu kata. [ Mm. ] Namun dalam hatinya, dia sudah membuat keputusan. Tiga hari kemudian, Nindy keluar dari rumah sakit. Selama waktu itu, Peter tidak mengirimkan kabar sedikit pun dan Nindy juga tidak lagi mencarinya. "Bu Nindy, meskipun ini kehamilan ektopik, kamu tetap harus menjalani masa pemulihan seperti nifas. Setelah pulang nanti jangan kena air dingin, banyak makan makanan bergizi, dan istirahat yang cukup ya," pesan perawat dengan penuh perhatian. Nindy menahan rasa perih di hatinya, lalu tersenyum tipis sambil berterima kasih. "Terima kasih, Bu. Saya akan menjaga diri." Setelah berpamitan, Nindy melangkah keluar sendirian. Belum berjalan jauh, tiba-tiba terdengar suara memanggil dari belakang. "Nindy?" Nindy menoleh dan melihat sahabat baiknya, Elvi, dengan perut yang sudah besar. "Kamu ngapain di rumah sakit? Wajahmu pucat sekali," tanya Elvi cemas. "Aku hamil," jawab Nindy datar, ekspresinya tenang seperti biasa. Elvi sempat ingin mengucapkan selamat, tetapi Nindy melanjutkan, "Tapi kehamilannya ektopik. Sudah dioperasi. Hari ini aku keluar dari rumah sakit." "Kenapa kamu nggak bilang sama aku?!" Elvi sedikit kesal, tapi rasa kesalnya segera berubah jadi iba. Dia langsung menggenggam erat tangan Nindy. "Eh? Terus Peter mana?" Di mata teman-teman mereka semua, Peter selalu digambarkan sebagai sosok suami ideal yang sangat menyayangi istri dan tidak pernah tega membuat Nindy menderita. Melihat Nindy sendirian, Elvi jadi sangat terkejut. "Dia lagi temani ibu Sofie di rumah sakit. Katanya nggak sempat mengurusku." "Apa?" Elvi terbelalak. Dia memang pernah mendengar kabar soal Peter dan sahabat kecilnya itu, tapi bagaimanapun juga, istrinya baru saja menjalani operasi kehamilan ektopik. Masalah sebesar ini ... kenapa dia malah tidak muncul? "Sudahlah, semuanya sudah lewat," Nindy memaksa tersenyum tipis. "Kamu sendiri kenapa sendirian?" "Hari ini jadwal kontrol terakhir, Kemal lagi ke kasir buat bayar," jawab Elvi. Elvi sebenarnya masih ingin menanyakan soal hubungan Nindy dan Peter, tapi melihat wajah sahabatnya yang begitu pucat, dia menahan diri. Mobil online yang dipesan Nindy sudah hampir tiba, Elvi pun bersikeras menemaninya turun. Begitu pintu lift terbuka, pemandangan di depan mata membuat mereka berdua sama-sama tertegun. Sofie berdiri di sana, merangkul erat lengan Peter. Keempat pasang mata itu saling bertemu. Keheningan hanya berlangsung sekejap. Peter buru-buru menepis tangan Sofie dari lengannya, wajahnya langsung menggelap. "Nindy, aku sudah bilang dengan jelas di pesan. Kamu terus-terusan menguntit dan mengawasiku, apa kamu nggak capek? Sejak kapan kamu jadi nggak rasional begini?" "Ka ... Kak Nindy, tolonglah." Suara Sofie pecah, lalu dia tiba-tiba berlutut di hadapan Nindy di tengah ramainya lobi rumah sakit. Air matanya bercucuran, isak tangisnya menggema. "Sofie, bangun! Kenapa kamu sampai berlutut begitu?" Peter langsung menunduk dengan panik dan ingin menariknya. "Peter, jangan halangi aku. Aku dan Ibu yang salah sama Kak Nindy. Tapi Kak Nindy, ibuku sudah hampir meninggal ... tolong kasihanilah, izinkan aku meminjam Peter selama waktu ini," Sofie terisak, bahkan mencoba menundukkan kepala hendak bersujud di depan Nindy. Peter tidak berhasil menghentikannya, wajahnya justru semakin marah. Dia berbalik menatap Nindy dengan tajam. "Nindy! Sofie dan Bi Bonita nggak pernah berbuat salah padamu, mereka bahkan nggak pernah menjelekkanmu sekali pun. Tapi kamu malah berbuat begini, mana hati nuranimu? Kamu benar-benar membuatku jijik!" Bab 4 Orang-orang yang berkerumun semakin banyak. Bisikan-bisikan, tatapan mencela, dan jari-jari yang menunjuk, semuanya mengarah ke Nindy. Tanpa berpikir panjang, Elvi maju selangkah dan langsung menampar wajah Peter dengan keras. "Peter, kamu sudah gila ya?!" Seumur hidupnya, Peter belum pernah dipukul orang. Matanya langsung menyala marah dan menatap Nindy seolah dialah pelakunya. "Bagus sekali! Kamu bahkan bawa wanita hamil untuk membantumu membuat keributan. Nindy, di mana sopan santunmu?!" Elvi masih ingin melayangkan tamparan kedua, tapi Nindy buru-buru menahan tangannya. "Sudahlah, ayo pergi. Mobilku sudah datang." Tanpa melirik Peter ataupun Sofie yang masih bersimpuh di lantai berperan seperti korban, Nindy menarik Elvi dan berbalik hendak pergi. Peter yang selama ini selalu merasa dirinya menjadi pusat perhatian, tidak pernah diabaikan begitu saja oleh Nindy. Dadanya naik turun penuh amarah. Dia buru-buru menarik pergelangan tangan Nindy dengan kasar. "Berhenti! Minta maaf sama Sofie!" Melihat Nindy diam, Peter menekan genggamannya lebih keras. "Aku suruh kamu minta maaf sama Sofie!" Rasa sakit dari pergelangan tangan itu tidak seberapa dibanding luka di hati. Nindy menarik napas panjang, lalu menoleh dan menatap Peter dengan tatapan sedingin es. "Kenapa aku harus minta maaf? Apa aku bicara sesuatu? Apa aku berbuat sesuatu? Lagi pula, memangnya rumah sakit ini milik keluargamu? Kamu boleh datang, kenapa aku nggak boleh? Profesor Peter, boleh aku tanya, di mana letak pendidikan dan martabatmu?" Tatapan Nindy begitu asing dan dingin, seakan-akan Peter hanyalah orang yang sama sekali tidak dikenalnya. Peter mematung. Entah mengapa, ada hawa dingin yang menyusup ke dadanya. Genggamannya melemah dan perlahan melepaskan pergelangan tangan Nindy. Nindy tidak ingin lagi berdebat. Dia menggandeng Elvi dan melangkah mantap keluar dari rumah sakit. Melihat wajah Peter yang tampak gelisah, Sofie menggenggam tangannya dengan hati-hati, lalu berkata dengan suara bergetar, "Peter, apa aku bikin masalah lagi?" Peter tersadar, lalu buru-buru menepuk tangan Sofie dan berusaha menenangkan, "Bukan salahmu. Ini salahku. Akhir-akhir ini aku terlalu mengabaikannya." Ya, hanya itu. Semua ini hanya karena dia terlalu sibuk dan lelah. Karena itu Nindy jadi tersinggung, hatinya tidak enak, lalu membuat keributan. Tidak apa-apa. Dia tahu Nindy paling pengertian, paling mudah dibujuk. Kalau nanti dia pulang dan bicara baik-baik, lalu membujuknya sedikit, pasti semua akan kembali seperti semula. Setelah menenangkan diri dan meyakinkan hatinya, Peter menepis rasa tidak enak yang sempat muncul. Dia lalu menggandeng Sofie masuk ke dalam lift. Malam harinya, Peter akhirnya memutuskan untuk pulang. Dalam perjalanan, dia bahkan sengaja membeli setangkai tulip merah muda yang merupakan bunga favorit Nindy. Begitu pintu rumah terbuka, Peter melihat Nindy sedang berbicara di telepon. "Oke, kamu siapkan draf perjanjiannya lalu kirimkan ke aku. Hmm, secepatnya." Selesai bicara, Nindy langsung menutup telepon. "Perjanjian apa?" tanya Peter, berusaha bersikap biasa saja, seolah pertengkaran di rumah sakit siang tadi sama sekali tidak pernah terjadi. "Urusan kerja," jawab Nindy datar. Dia bahkan tidak menoleh pada Peter, lalu melangkah pergi. Peter buru-buru menyusul, lalu memeluk Nindy dari belakang. "Sayang, aku pulang." Dulu, Nindy pasti akan berbalik dan menatap wajah Peter dengan senyum hangat, lalu menyentuh pipinya dengan penuh kasih dan bahkan memberi sebuah ciuman ringan. Namun sekarang, Nindy bahkan tidak sudi membuka mulut. Dia mendorong kuat kedua lengan Peter yang melingkar di tubuhnya, kemudian berjalan masuk ke kamar tidur dan menutup pintu rapat-rapat. Peter tertegun dan berdiri kaku di tempat. Dia benar-benar tidak mengerti. Bukankah dia sudah pulang? Lalu mengapa Nindy masih memperlakukannya seperti orang asing? Diopname tiga hari di rumah sakit benar-benar menyiksa Nindy. Setiap kali memejamkan mata, yang muncul hanya bayangan Peter yang mati-matian membela Bonita dan Sofie, sementara dirinya tergeletak sendiri. Tak lama kemudian, dengan tubuh masih lembap setelah mandi, Peter masuk ke kamar. Dia langsung menyibakkan selimut, lalu berbaring di samping Nindy. Dengan lengan panjangnya, dia memeluk pinggang Nindy dari belakang dan wajahnya menempel di lekuk leher Nindy. "Nindy, beberapa bulan ini aku memang mengabaikanmu. Kamu pasti kangen aku, 'kan?" bisiknya, seraya mencoba mencium Nindy, sementara tangannya mulai bergerak menggerayangi di balik selimut. Namun, rasa jijik langsung merayapi tubuh Nindy. Dia menghindar dari ciuman itu dan menepis keras tangannya, lalu menoleh dengan tatapan penuh kebencian. "Jangan sentuh aku." Bab 5 Peter merasa dirinya sudah cukup merendah. Dia tidak mengerti apa lagi yang membuat Nindy begitu marah. "Nindy, sebenarnya kamu masih mau aku gimana? Semua pesan yang kamu kirim ke Sofie sudah aku lihat. Iya, aku memang tumbuh besar bersama Sofie, tapi perasaanku padanya hanya sebatas kakak dan adik." "Kenapa kamu harus selalu memikirkan kami seolah-olah hubungan kami kotor? Soal Bi Bonita, dia sama seperti ibuku sendiri. Aku bahkan nggak marah waktu kamu bohong soal kehamilan ektopik. Kamu datang ke rumah sakit memata-matai aku, aku pun masih bisa memaafkanmu. Bisa nggak kamu berhenti membuat masalah tanpa alasan?" "Aku lelah. Pergilah," jawab Nindy dengan suara datar. "Kamu ... suruh aku pergi?" Peter tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Ini rumah mereka berdua. Jika dia diusir, harus pergi ke mana lagi? Namun belum sempat dia bertanya lebih lanjut, ponselnya yang tergeletak di samping berbunyi nyaring. Peter menahan emosinya, lalu segera mengangkat. "Peter, ibuku muntah darah ... cepatlah datang, aku takut sekali!" Suara Sofie di ujung telepon terdengar panik dan menangis. Peter langsung bangkit dari ranjang. "Jangan takut, aku segera ke sana." Nindy hanya mendengarkan suara Peter sibuk memakai pakaian, lalu suara pintu dibuka dan ditutup rapat. Dia menutup matanya, seolah kelelahan sudah menelan seluruh tubuhnya. Di rumah sakit, Peter menggenggam erat tangan Bonita, wajahnya dipenuhi kekhawatiran. Bonita membuka mata yang sudah keruh dan menatap Peter dengan pandangan memohon. "Peter ... satu-satunya hal yang nggak bisa membuatku tenang sebelum mati adalah Sofie. Aku tahu permintaan ini terlalu berlebihan, tapi aku mohon ... bisakah kamu menikahi Sofie, lalu menjaganya seumur hidup?" Kata-kata itu membuat Peter tertegun. Dia memang bisa berjanji menjaga Sofie, tapi bagaimana mungkin dia menikahinya? Bukankah dia pernah bersumpah, tak akan pernah meninggalkan Nindy? Melihat Peter tampak ragu, Bonita mendadak batuk hebat. Darah segar sekali lagi memenuhi tisu yang disodorkan Peter. Sofie menangis keras sambil berusaha menenangkan ibunya, "Ibu, Peter sudah nikah, jangan persulit dia lagi ...." "Tapi jelas-jelas ... kalian berdua itu jodoh dari lahir. Semua salah Ibu, salah Ibu yang dulu bawa kamu ke luar negeri ... salah Ibu ...." Melihat Bonita terengah-engah dan emosinya semakin tak terkendali, Peter akhirnya tidak ragu lagi. Dia menggenggam erat tangan Sofie dan berkata, "Bi Bonita, aku janji. Aku akan menikah dengan Sofie dan menjaganya seumur hidup." "Kamu ... kamu sumpah ... kamu harus sumpah ...." Entah dari mana datangnya tenaga, Bonita mencengkeram kerah kemeja Peter dengan kuat. Peter tidka punya pilihan, dia pun mengangkat tiga jari. "Aku bersumpah, aku akan menikahi Sofie. Kalau aku mengingkari kata-kata ini, biarlah aku mati mengenaskan." Mendengar ucapannya, wajah tua Bonita yang penuh keriput akhirnya tersenyum lega. "Hidupku sudah nggak lama lagi ... kalian harus menikah sebelum aku pergi ...." Begitu selesai bicara, Bonita kembali jatuh pingsan karena terlalu banyak menguras tenaga. Di luar rumah sakit, Peter duduk di bangku panjang. Jarang sekali dia terlihat merokok seperti sekarang. Sofie datang membawa dua gelas kopi, lalu duduk di sampingnya. "Peter, aku tahu permintaan ibuku terlalu berlebihan. Tapi dia sebentar lagi pergi, aku nggak mau dia mati dengan penyesalan. Tenang saja, ini hanya pernikahan palsu. Aku sendiri yang akan jelaskan pada Kak Nindy." Peter menggeleng pelan. "Nggak usah, aku yang akan bicara. Nindy itu baik, dia nggak akan marah." "Dia benar-benar nggak akan marah? Tapi ... dia ...." Sofie menggantungkan kalimatnya. "Ada apa dengan dia? Dia kirim pesan lagi ke kamu?" Sebelum Sofie sempat menjawab, Peter meraih ponselnya dan membuka aplikasi WhatsApp. [ Nindy: Sofie, dasar wanita hina. Kenapa ibumu belum mati juga? ] Membaca pesan itu, Peter hampir saja membanting ponsel. Dia tidak percaya Nindy bisa sekejam ini. Nindy bukanlah orang seperti itu. "Peter, jangan marah ... Kak Nindy cuma terlalu mencintaimu." Sofie terisak, wajahnya dibasahi oleh air mata. Peter mematikan rokoknya, lalu langsung menarik Sofie ke dalam pelukannya. "Dia sudah keterlaluan. Aku akan pastikan dia minta maaf padamu." Sofie mengangguk pelan dengan suara serak. Namun di balik bahunya, mata Sofie berkilat penuh kemenangan. Bab 6 Efisiensi kerja pengacara Nindy sangat cepat, draf perjanjian cerai sudah jadi keesokan harinya. Nindy hanya membaca sekilas dan merasa puas. Dia dan Peter tidak punya banyak aset bersama. Satu-satunya properti adalah apartemen luas yang dibeli Peter sebelum menikah. Namun untuk renovasi, dari desain, pengerjaan interior, hingga dekorasi, semuanya ditangani Nindy. Uang yang dia keluarkan tidak kalah besar dari harga rumah itu sendiri. Itu bukan sekadar rumah, melainkan sarang cinta tempat dia menaruh seluruh impian. Setiap sudut dipenuhi harapannya untuk kehidupan pernikahan mereka. Termasuk kamar bayi yang sudah dia siapkan sejak lama. Itu adalah mahakarya yang paling dia banggakan seumur hidup. Namun sekarang, saat menatap semuanya, dia hanya merasa geli dan pahit. Tak mau lagi terjebak dalam kenangan, Nindy memutuskan mengakhiri masa cuti dan kembali bekerja, sekaligus menyiapkan surat pengunduran diri. Dia ingin berhenti dari pekerjaannya di kota asing ini, lalu pulang ke sisi kedua orang tuanya. Begitu mobilnya berhenti di depan kantor, Nindy langsung melihat dua sosok yang paling tidak ingin dia jumpai. Peter berdiri dengan wajah penuh kekecewaan, sementara Sofie berdiri di belakangnya dengan mata berkaca-kaca. "Nindy, aku harap kamu bisa meminta maaf dengan tulus sama Sofie. Aku yakin, kata-kata kejam itu bukan sungguh-sungguh keluar dari hatimu." Peter datang bukan hanya untuk menuntut permintaan maaf, tapi juga ingin membicarakan soal permintaan terakhir Bonita agar Nindy mengerti mengapa dia harus menikahi Sofie. Menatap mata Peter yang penuh tuduhan, Nindy malah tersenyum tipis dan merasa semuanya lucu. "Aku bicara apa memangnya? Apa yang sampai membuat Profesor Peter repot-repot jauh-jauh datang ke sini menemuiku?" "Kamu masih mau menyangkal? Sofie, keluarkan ponselnya." Sofie menggigit bibir, wajahnya penuh kepura-puraan. Dia menggeleng pelan, lalu tiba-tiba berjalan mendekat dan meraih erat lengan Nindy. "Kak Nindy, kamu mau marah-marah ke aku, maki-maki aku, terserah. Aku nggak peduli. Tapi ibuku ... ibuku sudah nggak lama lagi. Keinginannya cuma satu, dia mau melihat aku menikah dengan Peter sebelum meninggal ...." "Tunggu sebentar." Nindy menepis kasar tangan Sofie dan memotong ucapannya, "Memangnya aku maki kamu apa? Ngomong yang jelas." "Aku ...." Wajah Sofie seketika pucat, tubuhnya gemetar bagaikan kelinci kecil yang ketakutan. Dia buru-buru bersembunyi di belakang Peter. Melihat Sofie seperti itu, Peter langsung merasa Nindy telah bersalah. Dia maju selangkah untuk melindungi Sofie di belakangnya. "Nindy, kamu benar-benar sudah keterlaluan! Sofie masih berusaha menjaga harga dirimu, apa lagi yang kamu inginkan? Kamu tega mengutuk ibunya supaya cepat mati, memaki dia sebagai wanita hina dan pelakor. Nindy, apa belasan tahun pendidikanmu itu sia-sia? Orang tuamu mengajarimu jadi seperti ini?" Plaaak! Tamparan keras mendarat di wajah Peter. Nindy mengerahkan seluruh tenaganya. Peter terbelalak. Dia sama sekali tidak menyangka Nindy akan memukulnya. Matanya penuh keterkejutan. "Kamu berani mukul aku?" "Iya." Nindy tersenyum dingin. "Sakit, ya?" "Lalu kenapa? Ya, aku yang bilang dia itu wanita hina, aku yang bilang dia pelakor. Aku juga memang berharap ibunya cepat mati. Memangnya kenapa? Itu bukan ibuku, nggak ada hubungannya denganku sedikit pun." "Tadi dia bahkan minta aku merestui kalian. Nggak masalah, ayo. Ke kantor catatan sipil saja, aku punya waktu kapan pun." Tanpa memberi Peter satu pun tatapan lagi, Nindy langsung berbalik dan pergi dengan langkah mantap. Peter hanya bisa terpaku menatap punggung ramping itu yang semakin jauh. Entah kenapa, hatinya dilanda kepanikan. Kenapa wajah Nindy terlihat begitu dingin dan tak acuh? Kenapa ketika mendengar kabar dia akan menikahi Sofie, Nindy bisa setenang itu, bahkan menyetujuinya tanpa perlawanan? Apakah ini masih wanita yang dulu selalu manja padanya, selalu tersenyum hanya untuknya? Sofie mendekat dan mengelus lembut pipi Peter dengan penuh kepura-puraan. "Peter, Kak Nindy cuma terlalu mencintaimu. Pasti dia nggak sengaja menamparmu. Kata-kata yang dia ucapkan juga pasti hanya karena marah." "Nanti kalau suasana sudah reda, biar aku sendiri yang menemui Kak Nindy. Aku akan menjelaskandan meminta maaf padanya. Kalian pasti bisa kembali seperti dulu." Suaranya lembut, hangat, dan menenangkan. Kata-katanya membuat suasana hati Peter yang tegang, berangsur-angsur kembali tenang. Dia pun mengangguk percaya. Dalam hatinya, Peter yakin, bagaimanapun juga, Nindy tidak mungkin benar-benar menceraikannya. Bab 7 "Sudah benar-benar dipikirkan?" Herlina memegang surat pengunduran diri Nindy, masih merasa sayang jika dia pergi. Nindy tersenyum sambil mengangguk. "Iya, aku satu-satunya anak perempuan, sementara kondisi orang tuaku juga kurang baik. Jadi, aku tetap memutuskan untuk kembali ke kampung halaman dan mengembangkan diri di sana." "Lalu bagaimana dengan Pak Peter? Bagaimana dengan pekerjaannya?" Herlina tahu tentang hubungan Nindy. Empat tahun pacaran jarak jauh di universitas, setelah lulus Nindy menikah jauh di Kota Rubia. Bisa dibilang pasangan muda ini dulu hubungannya sangat kuat. Terutama karena Peter adalah profesor termuda di Universitas Jaya, masa depannya cerah. Dia jelas tidak mungkin berhenti dari pekerjaannya. "Aku akan bercerai." "Cerai?" Melihat ekspresi terkejut Herlina, Nindy hanya tersenyum tipis. "Iya, prosesnya sedang berjalan." Kepribadian Nindy tenang dan dewasa, serta terlihat ramah, tetapi dia punya pendirian sendiri. Jika sudah memutuskan sesuatu, dia tidak akan menoleh ke belakang lagi. "Baiklah, kalau begitu aku doakan masa depanmu cemerlang." Herlina tidak berusaha membujuk lagi, lalu menandatangani surat pengunduran diri itu. Selama seharian penuh, Nindy sibuk menyelesaikan proses serah-terima pekerjaan. Malam harinya, perjanjian perceraian dikirim cepat ke kantornya. Setelah membaca semua pasal dengan teliti, Nindy langsung menandatangani tanpa ragu. Malam itu, Herlina mengajak semua orang makan bersama untuk memberi perpisahan kepada Nindy. Setelah makan, ada yang mengusulkan pergi ke karaoke. Nindy tidak menolak dan ikut bergabung juga. Dulu, karena Peter tidak suka, Nindy jarang sekali ikut acara kumpul dengan rekan kerja. Dia selalu menghormati semua keinginan Peter, tapi pada akhirnya berakhir dengan begitu menyedihkan. Seolah pas sekali dengan suasana, perpisahan itu berakhir dengan sebuah lagu "Perceraian Lara" yang dinyanyikan salah satu rekan. Ketika Nindy pulang ke rumah, waktu sudah lewat tengah malam. Begitu membuka pintu, dia melihat Peter duduk di sofa sedang merokok. Mendengar suara Nindy pulang, Peter buru-buru mematikan rokok dan berdiri, lalu menunjukkan wajah penuh penyesalan. "Maaf, aku nggak tahan dan akhirnya merokok di rumah." "Nggak apa-apa." Nindy yang bahkan sudah tidak menginginkan rumah ini, tentu tidak akan peduli lagi apakah Peter merokok di ruang tamu atau tidak. Setelah berganti sepatu, Nindy berjalan menuju kamar mandi. Namun, Peter mengadangnya. Malam itu, dia bersikeras ingin bicara baik-baik dengan Nindy. "Nindy, ada hal yang ingin kubicarakan denganmu." Nindy merasa lelah dam tidak punya tenaga lagi untuk bertengkar. Dia berdiri di tempat dan menatap Peter dengan tenang. "Iya, bilang saja." Peter sempat mengira, sikapnya pagi tadi akan membuat Nindy marah dan tidak mau peduli padanya. Ditambah Nindy pulang larut malam, dia mengira Nindy sedang mengambek. Namun ternyata, Nindy begitu tenang. Meski dalam hatinya masih ada rasa gelisah, tapi perkara ini tidak bisa ditunda lagi. "Bi Bonita sudah dikeluarkan surat peringatan kondisi kritis, dokter bilang bisa pergi kapan saja. Dia ... dia punya satu permintaan terakhir, dia berharap ...." Peter merasa dirinya tidak salah, tapi kalimat berikutnya dia benar-benar tidak tahu bagaimana harus mengatakannya. Bagaimana dia bisa mengatakan pada istrinya bahwa dia harus menikahi wanita lain? "Dia berharap kamu menjaga Sofie seumur hidup, ingin melihat kalian menikah?" Kata-kata yang diucapkan Sofie tadi siang masih membekas di ingatan Nindy. Saat itu dia memilih diam, berharap Peter sendiri yang mengatakannya. Namun ternyata, Peter tahu sendiri kalau kalimat itu memang menyakitkan. "Kamu sudah tahu?" Peter agak terkejut. Namun sejak kata-kata itu keluar, dia hanya bisa mencoba menjelaskan dengan tenang. "Nindy, waktu kecil orang tuaku sibuk sekali. Pernah suatu kali aku sakit dan Bi Bonita yang menggendongku ke rumah sakit di malam hujan deras. Dia menjagaku tiga hari tiga malam tanpa tidur. Dia berjasa besar padaku, aku nggak tega melihatnya meninggal dengan penyesalan. Jadi, bisakah kamu ...." Belum selesai Peter bicara, Nindy sudah memotong, "Kamu nggak perlu lanjutkan, aku setuju." Selesai berkata, Nindy bahkan tersenyum sedikit. Senyum itu membuat awan gelap di hati Peter seketika berkurang. Dengan gembira, dia langsung meraih Nindy ke dalam pelukannya. "Aku tahu, kamu pasti akan mengerti aku. Nindy-ku memang yang paling dewasa." "Oh iya Nindy, aku dan Sofie hanya akan menikah secara formalitas, cukup lewat sebuah upacara saja. Aku nggak akan mengundang banyak teman. Tapi kalau ada orang yang bergosip, aku berharap kamu bisa membantuku menjelaskan." Bab 8 Dalam tiga hari berikutnya, Peter tidak pernah pulang lagi. Nindy sudah membereskan semua barang-barangnya, lalu mengirimkannya ke rumah ibunya. Setelah ragu cukup lama, akhirnya Nindy tetap menelpon ibunya. "Bu, beberapa hari lagi aku akan pulang." "Hah? Kamu cuti? Peter ikut pulang juga?" Di seberang telepon, ibu Nindy terdengar sangat gembira. "Nindy, bagaimana persiapan kalian untuk program hamil? Kamu harus banyak makan yang bergizi, tubuh sehat, supaya janinnya juga bisa kuat. Lalu bilang sama Peter, jangan merokok, jangan minum alkohol, juga jangan sering bergadang." "Kamu nggak tahu nih, tetangga kita setiap hari pamer cucunya, katanya cucunya cantik. Hmph, anak Ibu juga secantik ini, menantu Ibu juga tampan, nanti kalau kamu punya bayi, pasti jauh lebih cantik dari cucunya itu." Setiap kali menelpon, ibunya selalu punya banyak hal untuk diceritakan pada Nindy. Namun kali ini, mendengar celoteh dan nasihat ibunya, mata Nindy justru memerah. Seakan mendengar isak tangis putrinya, suara ibu Nindy tiba-tiba berubah. "Nindy, kenapa? Kamu menangis? Ada apa sebenarnya?" Nindy mengusap air matanya, lalu berkata jujur, "Bu, aku berencana cerai sama Peter." Begitu kata-kata itu keluar, telepon di seberang sana hening sangat lama. Setelah sekian lama, barulah terdengar suara lembut ibunya lagi. "Kalau begitu, pulanglah. Ibu baru beli satu set seprai baru, motifnya pasti kamu suka." "Baik, Bu." Nindy merasa tidak sanggup lagi, dia berkata masih ada urusan lalu menutup telepon. Sambil bersandar di sofa, matanya menatap foto pernikahannya dengan Peter yang tergantung di dinding. Air matanya mengalir dengan dingin. Lihatlah, Peter. Sekalipun tanpamu, di dunia ini masih ada orang yang mencintaiku tanpa syarat. Tiba-tiba terdengar bunyi notifikasi pesan yang menarik kembali pikirannya. Saat dibuka, ternyata itu adalah foto yang dikirim oleh Sofie. Foto itu adalah foto pernikahan adat Sofie dan Peter. Sofie mengenakan gaun tradisional berwarna emas, dia tampak manis saat bersandar di sisi Peter. Peter juga memakai pakaian adat yang sama, seluruh tubuhnya memancarkan aura anggun dan berwibawa. Nindy kembali mendongak menatap foto pernikahannya sendiri dengan Peter di dinding. Hatinya penuh dengan kepahitan. Delapan tahun hubungan yang dibinanya, ternyata hanyalah sebuah lelucon besar. Dulu saat mereka menikah, Nindy juga pernah mengusulkan untuk mengambil foto pernikahan adat. Namun Peter menolak, katanya terlalu rumit dan dia tidak cocok memakai pakaian itu. Namun sekarang, dia bukan hanya memakainya, bahkan dengan senang hati berpose untuk difoto. Benar saja, itulah bedanya antara "peduli" dan "tidak peduli". Notifikasi kembali berbunyi, kali ini pesan lagi dari Sofie. [ Kak Nindy, besok aku dan Peter menikah. Awalnya ingin mengundangmu, tapi emosi ibuku sedang nggak stabil, dia nggak ingin melihatmu. Jadi besok lebih baik kamu jangan datang. Nanti setelah selesai, aku dan Peter akan mengundangmu makan. ] Betapa jelasnya cara pamer serta provokasinya itu. Nindy hanya menanggapinya dengan senyum dingin, lalu membalas. [ Selamat ya. ] Setelah mengirim balasan itu, Nindy langsung memasukkan Sofie ke dalam daftar blokir. Kemudian, dia menelepon sebuah perusahaan pembongkaran yang pernah bekerja sama dengannya. Segala sesuatu di rumah itu adalah cinta dan jerih payahnya. Kini karena dia akan pergi, semua itu sudah tidak ada artinya lagi untuk ditinggalkan. Keesokan harinya, di lokasi pernikahan. Yang datang hanyalah kerabat dan teman-teman keluarga Sofie. Peter terus mencari sosok Nindy di antara para tamu. Namun dari awal upacara hingga selesai, dia tidak pernah melihat Nindy muncul. Malam harinya, setelah mengantar Bonita kembali ke rumah sakit, Peter berniat pulang ke rumah. Sofie juga ingin ikut dengannya, katanya dia ingin mengucapkan terima kasih secara langsung pada Nindy. Peter tidak menemukan alasan untuk menolak. Dalam pikirannya, dia dan Sofie bersih dan tidak ada yang perlu ditutupi. Namun begitu Peter membuka pintu rumah, tubuhnya seakan disambar petir. Seluruh ruangan rumah yang dulunya hangat itu kini kosong melompong. Semua dekorasi dan perabot sudah hilang, menyisakan dinding dan lantai kusam berwarna semen. Hanya ada beberapa kotak besar berisi barang-barang pribadi milik Peter yang diletakkan di tengah ruang tamu. Di bawah tatapan terkejut Sofie, Peter berjalan mendekati kotak itu. Dengan tangan bergetar, dia mengambil sebuah amplop yang diletakkan di atasnya. Ketika dibuka, di dalamnya ada surat perjanjian cerai yang sudah ditandatangani Nindy beserta rekam medis operasi kehamilan ektopik miliknya.