Đang tải thông tin quảng bá...
Amnesia Palsu, Tapi Melepaskannya Sungguh-sungguh
Setelah mengalami kecelakaan, aku sengaja berpura-pura amnesia untuk menggoda suami dan putraku. "Kalian siapa?" Mata putraku berbinar gembira saat menarik seorang wanita yang berdiri di luar kamar ru...
Chương (1)
第1章
Setelah mengalami kecelakaan, aku sengaja berpura-pura amnesia untuk menggoda suami dan putraku.
"Kalian siapa?"
Mata putraku berbinar gembira saat menarik seorang wanita yang berdiri di luar kamar rumah sakit untuk masuk ke dalam.
Dia berkata, "Tante, aku dan orang tuaku ke sini untuk menjengukmu."
Suamiku berdiri diam di sampingnya, diam-diam menyetujui perkataan putraku.
Bab 1
"Tante, aku dan orang tuaku hanya ingin menjengukmu." Suara manis kekanakan itu bergema lembut di dalam kamar rumah sakit.
Kepalaku masih dibalut perban. Aku menunduk untuk melihat putraku yang berusia lima tahun, Zavier Pahlevi, yang kedua tangannya sedang menggandeng salah satu tangan dua orang dewasa tersebut. Senyum licik terpatri di wajahnya.
Suamiku, Rayan Pahlevi, yang berpakaian sangat rapi itu sama sekali tidak berniat mengoreksi panggilan 'tante' dari putraku. Sebaliknya, dia hanya menatapku dengan sorot ingin tahu.
Wanita yang digandeng oleh Zavier mengenakan gaun panjang berwarna putih, terlihat anggun dan lembut. Saat tatapanku tertuju padanya, dia terlihat sedikit gugup dan segera menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.
Zavier menyadari tatapanku pada Yuki Wisam dan segera berdiri dengan waspada di hadapanku. Bersikap seperti pelindung.
Kalau aku benar-benar amnesia, mungkin aku akan mengira mereka bertiga adalah keluarga kecil yang bahagia nan harmonis.
Zavier menarik pelan tangan Rayan dan berbisik, "Ayah, karena Ibu amnesia, apa kalian sekarang bisa bercerai?"
Meski dia sedang berbisik, suaranya diatur sedemikian rupa agar aku bisa mendengarnya dengan jelas.
Aku tahu ini hanyalah trik kecilnya. Dia sedang menghukumku karena aku kemarin menegurnya dan membuatnya malu di depan orang lain. Dia marah.
Ini memang gaya jahil Zavier yang biasa. Dia senang mempermainkanku.
Namun, aku tidak ingin terus bermain dalam sandiwara kecilnya lagi.
Karena aku sudah mengatakan kalau aku amnesia, maka aku akan terus pura-pura melakukannya.
Berpura-pura kalau aku tidak punya anak dan suami ini.
"Maaf … kalian siapa?"
Zavier sedikit terkejut, suaranya terdengar agak panik, "Kamu benar-benar nggak ingat aku? Nggak mungkin kamu lupain aku. Aku ini … aku ini anak yang paling kamu sayangi."
Rayan mengernyitkan alisnya heran, sorot matanya makin tajam. Suaranya terdengar tidak sabar, "Natania, jangan pura-pura. Dokter bilang kamu hanya mengalami gegar otak ringan, nggak parah. Jangan kira kamu bisa menghindari perceraian dengan pura-pura amnesia."
"Benar! Jangan pura-pura lagi! Kamu sangat mencintai kami! Mana mungkin kamu bisa melupakan kami begitu saja!" Ekspresi marah dan sinis Zavier terlihat sangat mirip dengan Rayan.
Aku merasa rasa sakit di kepalaku datang lagi.
Belum sempat aku mengatakan apa pun, seorang perawat di depan pintu mengetuk dan berkata, "Pasien butuh istirahat. Mohon yang tidak berkepentingan untuk keluar terlebih dahulu."
Rayan dan Zavier segera pergi tanpa mengatakan apa pun, membawa serta Yuki.
Tak lama kemudian, seorang perawat muda masuk ke kamar dan berkata padaku, "Suami Anda baru saja datang, sekarang dia keluar sebentar untuk membelikan bubur."
"Suami saya?"
Kepalaku rasanya agak kacau. Bukankah 'suami' ku barusan sudah kamu usir?
Perawat muda itu berkedip dan menjelaskan, "Benar, sebenarnya saya dulu bekerja di bidang kebidanan dan kandungan empat tahun lalu. Saya beberapa kali melihat kalian. Kalian berdua sangat tampan dan cantik, jadi sangat sulit dilupakan."
Empat tahun lalu aku memang menjalani pemeriksaan kehamilan di rumah sakit ini, tetapi Rayan tidak pernah sekalipun menemaniku.
Perawat itu melanjutkan, "Dan suami Anda adalah orang yang jarang bermain ponsel sepanjang waktu. Dia menunggu Anda diperiksa sampai selesai dengan cemas di depan pintu."
"Dia tinggi, tampan juga sangat perhatian dan berdedikasi. Membuat kami para perawat percaya dengan cinta lagi!"
"Oh iya! Pria dewasa dan anak kecil tadi itu siapa? Memang tampan sih, tetapi wajah mereka seram seperti rentenir."
Aku terkekeh mendengar perkataannya.
Dari empat belas kali pemeriksaan kehamilan, Rayan memang tidak pernah datang sekalipun. Orang yang menemaniku adalah Samudra.
Dia adalah adik laki-lakiku. Dia lima tahun lebih muda dariku, saat itu usianya masih delapan belas tahun.
Aku tidak ingin repot-repot menjelaskan hubungan antara aku, Rayan dan Zavier. Lagipula, sebentar lagi kami memang tidak akan ada hubungan apa-apa.
Tak lama kemudian, Samudra masuk ke kamar membawa kotak makanan sambil terengah-engah.
Aku memang sudah lapar sejak tadi. Seharian ini aku belum makan apa-apa, perutku mulai terasa nyeri.
Bab 2
Samudra segera membuka bubur dan meletakkannya di meja kecil. Dia menata sendok, lap dan gelas kertas dengan rapi
"Ini air hangat dan ini adalah telur rebus kesukaanmu, sekaligus bubur daging. Kamu makan saja dulu, aku akan mengupaskan telurnya."
Aku menerima perhatiannya tanpa sungkan.
Sejak pertama kali aku bertemu Samudra, seorang anak yang dibawa kakekku saat aku berusia 15 tahun, dia menjadi pelayanku yang paling setia.
Aku merasa nyeri perutku berkurang setelah makan beberapa sendok penuh bubur.
Saat aku mendongak, aku melihat mata Samudra merah dan bengkak.
"Kamu nggak tahu betapa paniknya aku mendengarmu mengalami kecelakaan." Bibirnya bergetar, suaranya tercekat karena emosi.
Hidungku tiba-tiba terasa sakit, mataku mulai terasa panas.
Siapa yang tidak takut mengalami kecelakaan?
Aku hanya beruntung karena aku tidak mengalami luka parah.
Awalnya aku hanya ingin bercanda, berpura-pura amnesia untuk mengerjai Rayan dan Zavier agar mereka sedikit khawatir.
Namun, apa mungkin orang yang tak punya hati akan khawatir terhadapku?
Aku keluar dari rumah sakit setelah beberapa hari.
Aku bersikeras menjelaskan kepada dokter bahwa aku hanya tidak bisa mengingat siapa Rayan dan Zavier. Selain mereka, semua orang dan kejadian lainnya masih kuingat dengan jelas.
Setelah keluar dari rumah sakit, dokter memberitahu Rayan bahwa amnesia yang kualami disebabkan oleh gegar otak ringan dan bersifat sementara. Saat kondisiku membaik, ingatanku mungkin akan perlahan kembali.
Aku pun kembali ke rumah, rumah yang kutinggali bersama Rayan.
Begitu masuk, suara merdu alunan piano terdengar dari ruang tamu.
Yuki dan Zavier sedang memainkan piano berdua. Empat tangan di atas tuts, bermain dengan kompak.
Begitu lagu selesai, Yuki mengacungkan jempol sambil memuji, "Pianis kecil kita sangat hebat!"
Zavier tersipu, pipinya memerah, lalu tertawa dan berkata, "Itu karena kamu mengajariku dengan baik!"
Pemandangan yang sangat 'hangat'. Seperti ibu dan anak yang saling menyayangi.
Aku langsung naik ke lantai atas tanpa menghiraukan mereka.
Begitu Zavier melihatku, senyum di wajahnya langsung menghilang.
Yuki segera berdiri dan berkata, "Nyonya Natania, bagaimana kondisi tubuh Anda sekarang?"
Aku berdiri di tangga, mengangguk padanya sambil berkata tenang, "Aku sudah hampir pulih. Kalian bisa lanjutkan bermain."
Aku tidak membenci Yuki, aku hanya merasa cemburu padanya.
Yuki bukanlah orang ketiga dalam pernikahanku dengan Rayan.
Dia adalah cinta pertama Rayan yang tidak bisa pria itu lupakan.
Meskipun aku dan Rayan sudah menikah, ada satu kalimat yang sangat tepat yaitu yang tidak dicintai, dialah orang ketiga yang sebenarnya.
Saat Rayan berusia delapan belas tahun, di puncak karirnya, aku pertama kali melihat bagaimana dia mencintai seseorang dengan begitu hebat dan penuh semangat untuk pertama kalinya.
Bulan lalu, Keluarga Wisam mengumumkan kebangkrutan dan Yuki pun terpaksa kembali ke dalam negeri.
Seluruh tabungan Yuki habis untuk membayar utang keluarganya. Namun dengan latar belakang pendidikan musik, tidak mudah baginya menemukan pekerjaan dengan gaji tinggi di sini.
Rayan lalu mencarinya dan mempekerjakannya sebagai guru piano untuk Zavier, dengan bayaran 1.2 miliar satu bulan.
"Ibu baru sangat baik! Aku paling sayang dengan Ibu baru!" Suara Zavier terdengar lantang dari ruang tamu.
"Anu… Tuan Muda Zavier, aku bukan … jangan panggil aku begitu lagi." Yuki tampak sedikit canggung menatap Zavier.
Zavier tampak tidak senang dengan panggilan itu, lalu memeluk kaki Yuki dengan manja dan berkata, "Kalau kamu terus manggil aku Tuan Muda Zavier, aku marah, lho. Kamu harus panggil aku Vier!"
"Kamu jauh lebih baik dari Ibu. Aku paling menyukaimu!"
Dia melirik ke arah lantai atas, ke arah kamar untuk memastikan aku belum keluar. Lalu dia lanjut berkata dengan suara keras, "Apa kamu bisa tinggal di rumahku? Aku ingin begitu bangun tidur bisa langsung melihatmu. Ayah juga sudah setuju, lho. Kenapa kamu nggak mau tinggal di sini? Rumahku mewah, kamu bisa dapat apa saja."
Sebenarnya, Rayan memang sudah pernah mengusulkan agar Yuki tinggal di rumah ini. Kamar di rumah ini banyak dan Yuki tidak perlu pergi bolak-balik. Apalagi sekarang wanita itu benar-benar tidak punya uang.
Namun, Yuki bersikeras untuk menyewa tempat tinggal sendiri di luar dan menolak tawaran Rayan.
"Tuan Muda Za… Vier, kamu harus melanjutkan latihan piano lagi."
Zavier menggeleng dengan keras kepala, tampak tak ingin menyerah sampai dia berhasil membujuk Yuki untuk tinggal.
"Apa kamu takut dengan Ibu? Tenang aja, aku dan Ayah akan melindungimu. Ibu sangat menurut dengan Ayah. Dia nggak akan macam-macam."
Zavier memang anakku. Dia sangat cerdas dan dia paling tahu harus berkata apa untuk menusuk ke bagian paling sakit di hatiku.
Bab 3
Aku mengenakan anting mutiara, lalu dengan langkah santai berjalan keluar dari kamar.
Begitu melihatku turun, Yuki terlihat agak canggung dan berkata, "Nyonya, saya ….."
"Tidak apa-apa, Yuki. Kamu tinggal saja di sini. Aku tahu kamu butuh waktu tiga jam pulang-pergi naik bus setiap hari."
Aku menerima sepatu dari pelayan dan berkata, "Kamu nggak perlu merasa terbebani. Aku juga senang kamu bisa kembali."
Zavier agak terkejut dan terdiam.
Dulu, kalau ayahnya mabuk lalu menyebut nama 'Yuki', kedua mata ibunya pasti langsung menangis.
Ya, kedatangan Yuki ke rumah bulan lalu sebenarnya bukan pertama kalinya Zavier bertemu dengannya.
Dia pernah diam-diam melihat foto-foto wanita yang disimpan ayahnya dengan sangat hati-hati di laci, juga nama wanita lain yang disebut ayahnya saat mabuk.
Itulah sebabnya Zavier merasa dia telah menemukan senjata terbaik untuk menghukum ibunya.
Namun, sekarang sepertinya senjata itu sudah tidak mempan.
"Aku mau es krim! Ambilkan dua, nggak, aku mau sepuluh!"
Yang terdengar hanyalah bunyi pintu tertutup.
Selama dirawat di rumah sakit, aku selalu terlihat kusut dan tak terurus. Sekarang akhirnya keluar juga, aku harus segera ke salon untuk perawatan kulit.
Supir sudah lama menunggu di luar.
Sementara itu, di dalam rumah, Zavier perlahan menghapus ekspresi di wajahnya.
"Tuan Muda, ini es krim-nya," kata pelayan yang buru-buru mengambil dari kulkas.
"Siapa yang mau makan eskrim?!" Dia membuang es krim itu ke lantai.
Matanya menatap lurus ke arah pintu yang baru saja tertutup rapat.
Apa … Ibunya benar-benar sudah tidak mengingatnya?
Ibu Rayan, Zara Liam, mengetahui bahwa Yuki telah kembali ke negara ini dan putranya mempekerjakannya sebagai guru piano untuk Zavier. Tanpa banyak bicara, dia segera datang membawa beberapa kantong besar berisi barang-barang mewah.
Di atas sofa, wanita bangsawan yang tampak anggun dan berkelas itu menggenggam tangan Yuki dengan penuh kasih. "Yuki, anak baik … kamu sudah sangat menderita."
"Coba dulu kamu bisa bersama Rayan sejak awal, pasti Grup Wisam nggak akan bangkrut. Dengan bantuan Rayan, semua urusan bisnis pasti bisa ditangani dengan mudah."
Yuki terlihat gugup dan buru-buru menolak, "Tante Zara, tolong jangan bicara seperti itu. Semua itu sudah masa lalu. Aku sudah sangat berterima kasih Karena Pak Rayan bersedia mempekerjakan."
"Apa yang salah dengan omongan tante? Tante merasa sangat tenang karena Zavier dititipkan padamu." Zara menepuk tangannya dengan puas.
Dengan suara pelan, Zara berkata, "Kamu tahu Rayan akan bercerai, 'kan? Kamu baru saja kembali dan dia langsung ingin bercerai. Apa itu belum cukup menjadi bukti?"
"Tenang saja, bahkan Vier juga sangat menyukaimu. Di rumah kami, kamu nggak akan diperlakukan dengan buruk dan Rayan pasti juga akan membantu Keluarga Wisam bangkit lagi."
Saat Zara datang, wanita itu tidak memberitahuku, tidak juga memintaku untuk menjamunya, padahal dia jelas tahu aku ada di rumah.
Aku pun tahu diri, tidak keluar dan tidak mengganggu reuni mereka.
Bukan hanya Rayan dan Zavier yang menyukai Yuki, bahkan ibu mertuanya, Zara, juga sangat menyukainya.
Bahkan jauh sebelum aku dan Rayan menikah, Zara sudah menginginkan Yuki menjadi menantunya.
Yuki berasal dari keluarga terpelajar, sepadan secara status dan latar belakang dengan Keluarga Pahlevi.
Kebetulan juga, Rayan jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Yuki, hal ini membuat Zara makin senang. Dia pun langsung mulai merancang rencana untuk menjodohkan mereka dan menyatukan kedua keluarga lewat pernikahan.
Sayangnya, Yuki tidak memiliki perasaan yang sama. Dia dengan tegas menolak pernyataan cinta Rayan dan kemudian memilih untuk melanjutkan studinya ke luar negeri demi mengejar impiannya di bidang musik.
Meski Zara merasa sedikit kecewa, dia justru makin menyukai Yuki. Baginya, Yuki adalah perempuan yang punya prinsip dan ambisi.
Sedangkan aku, lahir dari keluarga sederhana, terobsesi akan kemewahan dan status. Demi bisa menikah dengan Rayan, aku mengerahkan segala cara.
Aku tahu betul, Zara sebenarnya memandang rendah diriku, bahkan mungkin membenciku. Tetetapi, karena pendidikan dan sopan santunnya, dia tak pernah menunjukkannya secara gamblang.
Kadang aku berpikir, jika sejak awal yang menikah dengan Rayan adalah Yuki, mungkin semua orang akan merasa bahagia dan segalanya akan berjalan sempurna.
Ponselku bergetar. Aku membuka layar dan melihat sebuah notifikasi pesan masuk.
Itu pesan dari pihak asuransi, uang ganti rugi kecelakaan terakhirku sudah ditransfer.
Kupikir, rasa takutku akan membuatku perlahan-lahan melupakan apa yang sebenarnya terjadi di hari kecelakaan itu.
Bab 4
Namun saat menutup mata, semuanya seolah terjadi kemarin.
Hari itu hujan deras, aku dan Rayan sedang berada di jalan tol.
Seseorang menelepon Rayan dan suara dari seberang telepon terdengar sangat jelas olehku.
"Pak Rayan, ada sekelompok rentenir yang akan membuat keributan di rumah Keluarga Wisam. Mereka sedang mencari masalah dengan putri pertama Keluarga Wisam."
Rayan menoleh sekilas padaku.
Aku tahu, dia bukan sedang meminta persetujuanku, melainkan memberitahuku bahwa dia akan pergi ke rumah Keluarga Wisam untuk mencari Yuki.
Arah yang kami tuju sekarang justru berlawanan dengan arah menuju rumah Keluarga Wisam.
Dengan suara pelan aku berkata, "Turunkan aku di area peristirahatan depan saja, aku akan naik taksi sendiri pulang."
Begitu turun dari mobil, aku tetap basah kuyup meskipun sudah cepat-cepat membuka payung.
Tubuhku terkena cipratan mobil Bentley hitam yang melaju kencang melewatiku. Perasaan yang telah berkarat, basah terkena hujan.
Karena sudah tua, taksi yang kunaiki malah tergelincir di jalan tol.
Di detik mobil kehilangan kendali, seluruh tubuhku seolah mati rasa. Aku buru-buru mengenakan sabuk pengaman di kursi belakang.
Jantungku berdebar kencang, pikiranku kosong.
Dengan suara benturan yang sangat keras, kepalaku terbentur jendela mobil dengan hebat.
Saat itu, waktu seakan melambat.
Pikiranku tanpa kendali mulai berkelana menelusuri kembali setengah hidupku sebelumnya, dan semuanya berpusat pada kenangan tentang Rayan.
Saat aku berusia sepuluh tahun, orang tuaku memaksakan diri mengambil pinjaman demi membeli vila di kawasan paling elite di Bijai dan di sanalah aku mengenal Rayan.
Orang tuaku bilang aku harus sangat hati-hati dan berusaha menyenangkan pria itu, karena dia adalah 'Pangeran' di kalangan elite Bijai.
Rayan memiliki wajah yang sangat tampan dan aku senang bermain dengannya. Aku mengikuti dia kemanapun selama tujuh tahun.
Saat aku berumur tujuh belas tahun, sepertinya aku mulai menyukainya, tetapi dia sangat membenciku. Selama setahun aku mencintainya sepenuh hati, aku malah dicaci maki oleh teman-temannya sebagai 'anjing penjilat', dan orang-orang di sekitarku memanggilku 'badut kecil'.
Saat aku berusia delapan belas tahun, Rayan jatuh cinta pada Yuki. Aku melihatnya membuntuti wanita itu lalu melihatnya terpuruk setelah patah hati.
Saat berusia dua puluh satu tahun, Rayan mabuk dan menindihku di ranjang. Dia menciumku sambil berulang kali memanggil nama Yuki.
Seharusnya aku mendorongnya dan menamparnya saat itu juga, tetapi tanganku justru ragu.
Saat itu, perusahaan ayahku sedang kesulitan keuangan dan butuh suntikan dana besar.
Dan bersama Rayan adalah harapan yang telah aku dan orang tuaku pegang selama lebih dari sepuluh tahun.
Aku menanggung semuanya dalam diam. Selama Rayan 'menghancurkanku', selama itu pula dia memanggil nama Yuki.
Tak lama kemudian, kakek Rayan mengetahui hubungan kami. Keluarga Pahlevi adalah keluarga yang sangat tradisional dan dia memaksa Rayan menikahiku. Aku akhirnya menikahi Rayan seperti yang aku inginkan.
Saat berusia dua puluh dua tahun, aku hamil. Bayinya sangat aktif dan menyulitkanku. Selama kehamilan aku mengalami mual dan muntah parah, proses persalinannya pun sangat sulit
...
Ingatan seperti jalinan rasa sakit yang kusut.
Saat aku kembali membuka mata, aku sudah terbaring di ranjang rumah sakit.
Seluruh tubuhku terasa sakit dan kepalaku rasanya mau pecah.
Saat berusia dua puluh tujuh tahun, di depan ranjangku, putraku memanggil Yuki 'ibu' dan suamiku membiarkannya.
Aku pura-pura tak peduli, tetapi momen yang tak terhitung jumlahnya terus menyakitiku.
Orang yang paling tak ingin aku lepaskan justru berharap aku cepat pergi.
Aku memilih diam. Mungkin kebahagiaan memang tidak ditakdirkan untukku.
"Apa kalian juga akan berkata kasar pada orang yang kalian cintai?" Aku sangat ingin menanyakan pertanyaan itu pada Rayan dan Zavier.
Tetapi, ketika mereka melihat Yuki, aku rasa aku sudah tahu jawabannya.
Rayan jatuh cinta pada Yuki pada pandangan pertama.
Dan Zavier juga langsung menyukai Yuki pada pandangan pertama. Itulah kali pertama putranya menunjukkan ketertarikan pada seseorang.
Manusia memang cenderung terobsesi pada hal-hal yang mereka pilih sejak pandangan pertama.
Zavier makin mirip dengan ayahnya, baik dari segi penampilan, kepribadian, maupun kesukaannya.
Mereka sama-sama menyukai Yuki.
Aku tidak pernah menganggap wanita itu sebagai orang ketiga.
Karena sejak malam itu, akulah yang mencuri sesuatu yang seharusnya milik Yuki.
Manusia menderita karena mengejar sesuatu yang salah.
Tampaknya pernikahan ini memang sudah berakhir.
Sudah waktunya mengembalikan Rayan dan Zavier pada Yuki.
Sebenarnya, Rayan sudah menyiapkan surat cerai sejak hari Yuki kembali.
Bab 5
Rayan sudah sejak lama ingin bercerai denganku dan kembali mengejar Yuki.
Sesuai keinginannya, aku memberi tahu pengacara Keluarga Pahlevi dan pergi bersama ke perusahaan Rayan.
"Aku setuju untuk bercerai," kataku dengan tenang sambil menatapnya.
Rayan tampak sedikit terkejut.
Pak Tio menyerahkan satu salinan surat cerai kepada masing-masing dari kami.
Aku segera menandatangani surat tersebut atas namaku.
Namun, saat giliran Rayan menandatangani surat itu, dia justru terdiam sejenak. Ujung jarinya memutih karena terlalu keras memegang pena.
Pak Tio membuka suara dengan ragu, "Pak Rayan, Anda bisa mempertimbangkannya lebih dulu sebelum menandatanganinya."
Aku tahu bagaimana perasaan pria itu.
Memelihara anjing saja bisa membangkitkan emosi.
Apalagi aku, yang sudah mengikutinya selama enam belas tahun.
"Zavier ikut denganku," katanya sambil menatapku dengan tatapan menyelidik.
Aku mengangguk.
Aku tak menginginkan mereka berdua lagi.
Dia kembali menatapku dengan dalam, seolah ingin melihat kesedihan, patah hati atau rasa tidak rela di wajahku.
Tetapi, tidak ada.
Dia menggenggam pena erat-erat, menandatangani namanya dengan penuh amarah. Tanda tangannya dalam dan kasar.
Sementara aku hanya fokus membaca dokumen pembagian harta, lalu pergi dari kantor Rayan dengan perasaan sangat puas.
Di kantor yang kosong dan sunyi itu Pak Tio gemetar. Dia merasa seluruh tubuh Rayan tengah memancarkan hawa dingin.
"Pak Rayan, apa Anda ingin mengumumkan berita perceraian Anda dan Nyonya ke publik?"
"Nggak perlu. Dia hanya sedang merajuk." Rayan seperti menenangkan dirinya sendiri dengan berkata begitu, bahkan kerutan di dahinya perlahan mengendur.
"Jangan sampai berita ini bocor. Dia akan kembali sendiri."
'Dia hanya amnesia dan melupakan aku dan Zavier'.
'Dia sangat mencintaiku dan sangat mencintai Zavier. Dia pasti akan segera mengingat semuanya'.
'Dokter juga bilang, amnesia ini hanya sementara'.
'Saat ingatannya kembali, dia pasti akan menangis dan berlari kembali memohon padaku untuk bisa kembali bersama'.
'Perceraian ini anggap saja sebagai hukuman karena telah melupakan kami begitu saja'.
'Nanti, saat dia kembali sambil menangis meminta maaf, aku akan memaafkannya lalu menikahinya kembali'.
Perasaan gelisah Rayan seketika sirna. Dia mengambil secangkir kopi dari atas meja dan meminumnya.
Pak Tio berkeringat dingin lalu mengeluarkan tisu untuk menyeka peluh di dahinya.
Surat cerai sudah ditandatangani, pembagian harta juga sudah selesai. Apa masih bisa menyebut Nyonya 'merajuk'?
Saat aku hendak pergi, aku pikIr aku akan merasa sedih. Bagaimanapun juga, rumah ini sudah kutinggali selama enam tahun.
Namun ternyata tidak. Aku justru merasa sangat lega, seolah beban telah lepas dari tubuhku.
Aku bukan lagi istri atau ibu bagi siapa pun.
Aku tak perlu lagi berusaha menyenangkan orang lain, tak perlu lagi takut kalau-kalau ada yang tidak menyukaiku.
Saat Rayan dan Zavier tidak ada di rumah, aku memanggil tiga truk pindahan, menghabiskan puluhan juta untuk memesan jasa pindahan rumah dari tiga perusahaan pindahan Jarataka.
Aku mengemasi semua tas mewahku, baju, perhiasan dan produk perawatan kulit untuk kubawa pergi.
Aku juga membawa peralatan membuat kueku. Satu lemari penuh peralatan makan mewah khusus yang kupilih dengan hati-hati. Beberapa perabotan favoritku, serta hiasan rumah yang dulu kubeli.
Bahkan hadiah-hadiah mahal yang kubelikan untuk Rayan dan Zavier pun kubawa. Hadiah-hadiah yang tidak pernah mereka sukai dan hanya ditaruh di sudut lemari. Mungkin mereka tidak akan menyadarinya meski kubawa.
Kalau begitu, lebih baik kujual saja barang-barang itu sebagai barang bekas, setidaknya masih bernilai.
Toh kami sudah bercerai. Kalau mereka melihat barang-barang itu lagi, mungkin malah akan merasa terganggu.
Barang yang harus dibawa sangat banyak, untung aku memesan tiga jasa pindahan jadi ada banyak orang. Semua selesai dikemas dan dimuat ke truk dalam waktu kurang dari dua jam.
Rumah itu langsung terasa kosong. Saat Rayan pulang nanti, dia pasti akan merasa rumah ini jadi lebih bersih dan rapi.
Dia memang tidak suka rumah yang terlalu banyak barang. Sekarang semuanya sudah tidak ada.
Aku bahkan dengan penuh pengertian meninggalkan cukup ruang untuk nyonya rumah yang baru nanti.
Sebelum keluar dari halaman, aku menoleh sekali lagi, memandangi vila itu untuk terakhir kalinya.