Tak Mau Lagi Menjadi Bayang-bayang Semu

Đang tải thông tin quảng bá...

Tak Mau Lagi Menjadi Bayang-bayang Semu

GoodNovel Hoàn thành

Karena satu kalimat yang terucap setelah pacarnya demam, Keisha berlutut menaiki 999 anak tangga di Gunung Forel demi memohon sebuah jimat keselamatan yang diyakini bisa mengusir segala bencana untukn...

Chương (1)

第1章

Karena satu kalimat yang terucap setelah pacarnya demam, Keisha berlutut menaiki 999 anak tangga di Gunung Forel demi memohon sebuah jimat keselamatan yang diyakini bisa mengusir segala bencana untuknya. Tanpa peduli lututnya yang lecet hingga berdarah karena gesekan dengan batu, dia tetap membawa jimat itu dan bergegas kembali ke rumah sakit sepanjang malam. Namun, sebelum sempat melangkah masuk ke ruang rawat, dia sudah mendengar suara tawa terbahak-bahak dari dalam. "Memang kamu yang paling jago, Kak Presley. Cuma asal bicara kalau jimat keselamatan bisa mengusir bencana, Keisha si bodoh itu benar-benar pergi berlutut!" "Semua prosesnya sudah kuabadikan dengan drone. Ckckck ... punggung Keisha yang teguh itu bahkan membuatku terharu. Kalau digunakan untuk menipu orang tuamu, pasti nggak akan ada masalah!" Di dalam ruangan, Presley yang semula bersandar di ranjang rumah sakit, langsung duduk tegak. Dia menerima ponsel itu dan menontonnya dengan saksama. Sepasang matanya yang dalam menatap layar tanpa berkedip. Mendengar suara kening membentur anak tangga yang tercampur dengan derai hujan dalam video itu, kedua kaki Keisha bergetar tanpa kendali. Napasnya terengah. Dia menatap ke arah sekelompok orang di dalam ruangan itu melalui celah pintu dengan ekspresi tak percaya. Bab 1 "Tenang saja, Kak Presley. Yang terekam cuma punggungnya, nggak akan ketahuan. Ini sudah video ke-96, sebentar lagi sudah cukup." "Iya, tapi leluhur keluarga Kak Presley memang terlalu keras. Calon menantu wanita harus melakukan 99 kali pengorbanan demi suaminya baru bisa masuk catatan silsilah keluarga." "Kak Presley nggak tega melihat Kak Lara menderita, jadi dia mencari Keisha yang punggungnya persis sama untuk dijadikan pengganti. Setelah 99 video pengorbanan terkumpul, Kak Lara tinggal menggantikannya saja." "Haeh, tapi kalau dipikir-pikir, Keisha ini kasihan juga. Waktu itu Kak Presley bilang perusahaan sedang butuh relawan uji coba obat baru, dia rela menggunakan tubuhnya sendiri untuk mencoba demi Kak Presley. Tapi akhirnya malah alergi dan harus dirawat di rumah sakit." "Sebelumnya lagi, waktu Kak Presley berkelahi di pinggir jalan, dia khawatir reputasi Kak Presley tercemar, jadi dia rela menggantikan masuk tahanan beberapa hari. Terlihat jelas kalau dia benar-benar mencintai Kak Presley. Sayang sekali, hati Kak Presley sudah ada orang lain." Video pun selesai diputar. Presley melemparkan kembali ponsel itu kepada salah satu dari mereka, lalu hanya memuji singkat, "Bagus juga rekamannya." Lalu, tatapannya yang dingin beralih kepada orang yang barusan membela Keisha, "Apa yang patut dikasihani darinya? Kalau bukan karena punggungnya mirip sama Lara, seumur hidup pun dia nggak mungkin bisa pacaran sama aku. Setelah semuanya selesai, aku juga akan memberinya imbalan besar. Dia nggak rugi." Saat kata-kata itu dilontarkan, kilatan meremehkan di mata Presley tertangkap oleh Keisha. Tubuhnya seketika mematung seolah tersambar petir. Rasa sakit yang tak terlukiskan menghantam dadanya. Ternyata, hubungan yang dia anggap begitu berharga, hanyalah sebuah kebohongan. Presley memilih bersama Keisha, hanya untuk mewakili cinta sejatinya menerima penderitaan. Dia menjadikan Keisha sebagai batu loncatan di jalan menuju pernikahan mereka .... "Eh, Kak Presley, sepertinya jam segini Keisha seharusnya sudah datang mengantarkan jimatnya, bukan? Mau kulihatin nggak?" Suara langkah kaki terdengar dari dalam ruangan. Keisha yang takut ketahuan, buru-buru menahan tubuhnya yang lemah dan gemetar untuk bersembunyi. Dia menyelinap ke tangga darurat dengan tergesa-gesa, tetapi lututnya yang sudah tergores kembali mengeluarkan darah dan membasahi pakaian yang dikenakannya. Namun, semua rasa sakit itu tidak ada apa-apanya dibanding rasa perih di hatinya. Ucapan Presley tadi terus menggema di kepalanya. Ternyata bagi Presley, bersedia membiarkan Keisha berpacaran dengannya saja sudah dianggap sebagai anugerah tak ternilai. Hidung Keisha terasa panas, matanya basah oleh rasa pedih yang nyaris menyesakkan. Keisha memang sudah lama menyukai Presley. Sejak Presley menyelamatkannya dari truk yang hilang kendali saat tahun ketiga kuliah, perasaan itu terus tumbuh dan tak pernah padam .... Sebenarnya, bahkan sebelum itu pun, Keisha sudah sering mendengar nama Presley. Namun saat pertama kali melihat adik tingkat itu secara langsung, dia tetap dibuat terpesona. Presley adalah putra tunggal Keluarga Hanoman di Kota Nordam. Dengan mengandalkan wajahnya yang tampan dan latar belakang keluarga yang gemilang, ada banyak gadis yang berusaha mendekatinya. Namun, dia selalu bersikap dingin terhadap siapa pun. Waktu itu juga sama. Setelah menyelamatkannya, Presley segera melepaskan genggamannya lalu berkata dengan dingin, "Lain kali kalau jalan di jalan raya, perhatikan keselamatanmu." Keisha yang masih syok, hanya bisa meminta maaf dengan terbata-bata sebelum beranjak pergi. Namun saat membalikkan badan, dia selalu merasa ada sepasang mata yang menatap punggungnya, lama sekali .... Sejak saat itu, dia mulai sering "kebetulan" bertemu dengan Presley di kampus. Kadang di minimarket dan kadang di gedung olahraga. Beberapa waktu kemudian, Presley juga masuk ke organisasi mahasiswa dan ditempatkan di divisi yang sama dengannya. Mereka pun sering berinteraksi, baik sengaja maupun tidak. Karena setiap hari bertemu, Keisha tak mampu lagi menyembunyikan perasaannya. Hingga suatu malam, ketika keduanya sibuk menyiapkan acara di kantor mahasiswa sampai larut malam, listrik tiba-tiba padam. Dalam kegelapan, Keisha merasakan tubuhnya tiba-tiba terkurung dalam pelukan, lalu terdengar suara Presley yang dingin di telinganya, "Kak, kamu suka sama aku nggak? Kalau kamu memang suka, kenapa nggak coba mengejarku? Siapa tahu ... aku mau menerimanya." Jantung Keisha berdetak kencang, pikirannya kacau karena kata-kata Presley barusan. Akhirnya, dia nekat memberanikan diri. Dalam kegelapan itu, dia mencondongkan tubuh dan mencium bibir Presley. Malam itu juga, keduanya resmi menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Namun, Presley memberi satu syarat, yaitu hubungan mereka tidak boleh diketahui orang lain. Alasan yang dia berikan adalah karena keluarganya melarang keras berpacaran sebelum meraih kesuksesan. Keisha pun mengangguk dan setuju. Sejak itu, berbagai masalah kecil selalu muncul di sekitar Presley dan setiap kali, Keisha yang harus menanggung akibatnya. Mulai dari mengantarkan makanan tengah malam, menyelam di bak cuci untuk mengambil kalung, menjadi "kelinci percobaan" untuk uji obat, bahkan pernah menggantikan dia di ruang tahanan. Bahkan kini, dia rela berlutut menapaki 999 anak tangga di tengah hujan deras, hanya demi mendoakan keselamatan Presley. Keisha tidak pernah mengeluh. Karena di matanya, Presley bagaikan bulan di langit yang tak terjamah. Hanya dengan melakukan lebih banyak hal untuknya, Keisha baru bisa merasa sedikit lebih dekat dengan Presley. Namun, percakapan yang baru saja dia dengar barusan bagaikan tamparan tak kasat mata yang menyadarkannya. Tubuh Keisha seketika terasa menggigil. Padahal, keluarganya juga tidak buruk. Sejak kecil, dia dibesarkan bak putri kecil yang selalu diperlakukan dengan penuh kasih sayang. Namun demi Presley, dia memilih menetap jauh di Kota Nordam dan mengorbankan segalanya tanpa ragu. Kini Keisha sadar, semua pengorbanannya ternyata hanya demi mempermulus jalan orang lain. Bahkan saat dipikir kembali, mungkin pertolongan Presley waktu itu pun bukanlah ditujukan padanya, melainkan karena dia salah mengira punggung Keisha sebagai milik orang lain. Tiba-tiba, nada dering ponsel memutus lamunannya. Panggilan masuk itu dari ibunya yang berada jauh di Kota Souta. "Keisha, aku dan ayahmu sudah memutuskan. Kalau kamu benar-benar nggak mau pulang, biar kami saja yang datang menemanimu di Kota Nordam." Mendengar itu, hati Keisha makin terasa perih. "Nggak usah, Bu. Aku sudah memutuskan untuk pulang dan menerima pernikahan perjodohan itu. Mulai sekarang, putrimu akan selalu tinggal di sisi kalian." Bab 2 "Keisha, kamu sebelumnya begitu keras kepala ingin tetap tinggal di Kota Nordam, kenapa tiba-tiba memutuskan pulang? Apa terjadi sesuatu?" Keisha sudah tidak punya tenaga lagi untuk menjelaskan. Dia mengangkat tangan untuk menghapus air mata di sudut matanya, lalu berkata dengan nada tegas, "Aku nggak apa-apa, hanya saja ... aku kangen rumah." "Kalau begitu, cepatlah pulang. Ayah dan Ibu sedang menunggu di rumah. Soal perjodohan, kami nggak akan memaksa. Nanti setelah kamu pulang, ketemu dulu sama calon pasangan itu. Kalau kamu suka, baru bisa dibicarakan lebih lanjut." Setelah itu, sang ibu masih menasihatinya panjang lebar, sebelum akhirnya menutup panggilan dengan berat hati. Keisha mengusap bersih sisa air mata, lalu melangkah keluar dari tangga darurat. Belum berjalan jauh, dia berpapasan dengan salah satu sahabat Presley. "Kakak Ipar, akhirnya kamu balik juga! Cepatlah masuk lihat Presley, dia khawatir sama kamu sampai nggak bisa tidur ...." Tanpa sepatah kata pun, Keisha hanya mengikuti langkahnya menuju kamar rawat Presley. Begitu masuk, dia langsung melihat Presley bersandar di kepala ranjang dengan senyum di wajahnya dan menatap dirinya penuh makna. Beberapa sahabat di sekitarnya pun ikut menyapanya dengan hormat, "Kakak Ipar, halo!" Andai saja dia tidak mendengar percakapan barusan, mungkin Keisha takkan pernah menyangka bahwa mereka semua bisa menunjukkan sisi seperti itu. "Keisha, terima kasih sudah repot-repot memanjat tangga demi meminta jimat keselamatan buatku ...." Kalimat Presley mendadak terhenti ketika matanya jatuh pada celana Keisha yang penuh bercak darah. Dia langsung bangkit dari ranjang, lalu bergegas menghampiri dan mengangkat tubuh Keisha ke tempat tidur. Dengan tergesa-gesa, dia menggulung lengan bajunya untuk memeriksa luka di lututnya. "Kenapa lututmu sampai luka begini? Kalian, cepat panggil dokter jaga malam ini!" Sahabatnya segera berpencar mencari dokter. Sementara itu, Presley menatap luka di lutut Keisha dengan hati-hati, seakan takut sentuhannya akan memperparah rasa sakit Keisha. Namun, di dalam hati Keisha hanya tersisa kegetiran. 'Presley, Presley ... bukankah semua ini terjadi karena ulahmu? Kamu berpura-pura sampai setulus itu, mungkin kamu sendiri juga sampai percaya sama sandiwaramu ya?' Ketika dokter datang dan mulai membersihkan luka, Presley berusaha mengalihkan perhatian Keisha dengan suaranya yang lembut, "Keisha, sebelum kamu kembali tadi, aku sempat meneleponmu. Tapi di layar muncul tanda sibuk. Apa kamu sedang ngobrol dengan teman?" Keisha menundukkan mata dan menggelengkan kepala perlahan, lalu sengaja berkata, "Itu ibuku, dia mendesakku untuk menanyakan kapan kita berencana menikah." Begitu kata-kata itu dilontarkan, seluruh ruang rawat seketika hening. Para sahabatnya saling berpandangan dan bertukar tatapan yang penuh arti. Setelah diam sejenak, Presley menunjukkan ekspresi tak berdaya, "Keisha, kamu tahu, sebelum aku meraih kesuksesan dalam karier, keluargaku nggak mengizinkan aku untuk jatuh cinta apalagi menikah." "Tolong kasih aku waktu sedikit lagi, ya? Setelah proyek baru perusahaan selesai, aku akan cari kesempatan untuk memperkenalkanmu pada mereka." Kata-kata itu terdengar tulus sekali. Namun Keisha tahu, alasan Presley tidak mau membawanya bertemu orang tuanya sebenarnya karena Keisha hanyalah seorang pengganti. Kalau identitasnya terbongkar, bagaimana mungkin Presley bisa menjadikan 99 rekaman video itu sebagai bukti bahwa semua dilakukan orang lain? Lagi pula, di hati Presley, mereka berdua tidak akan pernah memiliki masa depan bersama .... Setelah dokter selesai membalut luka Keisha, Presley bersikeras agar Keisha dirawat di rumah sakit beberapa hari untuk memantau kondisi kakinya. Karena semuanya terlalu mendadak, pihak rumah sakit tidak punya kamar rawat tambahan. Presley pun memutuskan membiarkan Keisha tidur di ranjangnya, sementara dia sendiri tidur seadanya di sofa. Kali ini, Keisha tidak menolak. Menjelang tengah malam, ketika Presley sudah terlelap, Keisha perlahan mendekatinya dan mengambil ponsel yang tergeletak di meja. Presley tidak pernah waspada terhadap Keisha. Sebab dia tahu, Keisha tidak akan pernah berani melakukan sesuatu yang bisa membuatnya tidak senang. Ponsel itu mudah sekali terbuka. Keisha membuka WhatsApp dan melihat orang yang dipasangnya sebagai kontak teratas adalah seorang gadis bernama Lara. Lara ... sepertinya memang dialah orangnya. Kemudian, Keisha menemukan sebuah album pribadi yang dipasangi kunci. Nama albumnya adalah "Segera Nikahi Lara (96/99)". Di dalamnya terpampang tepat 96 rekaman video. Meskipun Keisha tidak bisa melihat isi video-video itu, dia sudah tahu persis apa yang ada di dalamnya. Ternyata, tiga tahun yang dia jalani, semua pengorbanan yang dia lakukan demi cinta .... Bagi Presley, semua itu hanyalah sebuah deretan angka tanpa perasaan, sekadar progres bar yang terus berjalan. Bab 3 Pada hari Keisha pulih dan keluar dari rumah sakit, Presley menyiapkan sebuah pesta perayaan untuknya. Sebenarnya, Presley selalu begitu selama tiga tahun terakhir. Setiap kali Keisha berkorban untuknya, beberapa hari kemudian Presley akan menyenangkannya. Dengan cara seperti itu, dia menggantungkan hati Keisha dan membuatnya tidak bisa berhenti. Jadi, setiap kali Presley mengajukan permintaan baru, Keisha rela melakukannya tanpa ragu. Namun kini, setelah tahu kebenarannya, Keisha tidak lagi merasa berbunga-bunga. Yang tersisa di hatinya hanyalah kehampaan. "Sudahlah, aku nggak mau pergi ke pesta perayaan apa pun. Kalian saja yang merayakan." Dia masih harus sibuk pulang untuk mengemasi barang-barangnya, sibuk memesan tiket pesawat, sibuk ... meninggalkan Presley. Presley akhirnya menyadari ada sesuatu yang aneh dengan emosi Keisha. Dia mengulurkan tangan untuk meraba dahinya. "Kenapa? Kamu kurang sehat? Biasanya di saat seperti ini kamu selalu senang." Keisha melangkah mundur setengah langkah untuk menghindari tangan Presley yang hendak menempel di keningnya. Belum sempat dia membuka mulut untuk menjawab, tiba-tiba terdengar suara seorang wanita yang manis. "Presley, kamu sedang apa?" Keisha menoleh mengikuti suara itu dan melihat seorang gadis cantik dengan postur hampir mirip dirinya berjalan mendekat. Begitu Presley melihat gadis itu, dia segera menarik kembali tangannya, lalu melangkah cepat ke arahnya. "Bukannya sudah kubilang untuk menungguku di mobil? Anginnya kencang di luar." Sambil bicara, Presley melepas mantelnya dan menyampirkannya di pundak gadis itu. Gadis itu membiarkannya melakukan itu, lalu menoleh ke arah Keisha, sambil menyapanya, "Kamu pasti Keisha, ya? Halo, aku Lara, teman kecilnya Presley." Sambil berkata demikian, dia meneliti Keisha dari atas ke bawah dengan tatapan santai. Keisha seketika merasa tubuhnya menegang. Jadi inilah Lara, wanita yang sudah diputuskan Presley untuk dinikahinya. Apakah Lara juga tahu tentang 99 kali pengorbanan yang diminta Presley padanya? Saat itu, angin dingin kembali berembus. Presley merengkuh Lara ke dalam pelukannya dengan cepat. Lalu dengan tangan lainnya, dia menggenggam Keisha dan segera menariknya masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan, Presley dan Lara duduk di kursi depan sambil terus mengobrol, membuat Keisha yang duduk sendirian di kursi belakang tampak seperti seorang asing di antara mereka. Dari percakapan keduanya, Keisha baru tahu bahwa ternyata Lara sudah pergi ke luar negeri tidak lama setelah dia dan Presley mulai berpacaran dulu dan kini baru kembali. Bahkan pesta perayaan yang disebut-sebut Presley hari ini, rupanya dipilih di restoran favorit Lara, dengan menu yang semuanya adalah makanan kesukaannya. Di ruang VIP dengan meja bundar, sekelompok sahabat Presley sudah duduk melingkar. Begitu melihat Lara datang, mereka langsung berkerumun menyambutnya masuk. "Lara, beberapa tahun ini kamu ke luar negeri, kita cuma bisa jadi teman online saja. Sekarang lihat wajah kami, masih bisa ingat kami siapa nggak?" "Eh, kenapa aku merasa Lara setelah keluar negeri malah makin cantik, ya?" "Ya jelas makin cantik! Kalau nggak, mana mungkin bisa bikin Presley sampai mabuk kepayang begitu!" Semua orang tertawa terbahak-bahak. Namun, setelah sadar apa yang baru saja mereka ucapkan, tawa itu pun langsung padam. Mereka buru-buru menoleh dengan hati-hati ke arah Keisha. Lara tersenyum lalu berdeham pelan, kemudian berjalan ke sisi Keisha dan menariknya untuk duduk di sampingnya. "Maaf ya, Kak Keisha. Aku dan Presley memang dari kecil tumbuh bersama, jadi mereka sering bikin gosip tentang kami. Kamu jangan tersinggung." Keisha hanya tersenyum lemah. "Mm, nggak masalah." Mana mungkin dia punya hak untuk peduli, kalau pada dasarnya dia hanyalah seorang pengganti? "Baguslah kalau begitu ...." Seolah teringat sesuatu, Lara lalu menoleh ke Presley. "Aku dengar dari Kevin, katanya hubunganmu dengan Kak Keisha baik sekali. Katanya beberapa hari lalu waktu kamu sakit, dia bahkan pergi ke Gunung Forel, sampai berlutut melewati 999 anak tangga demi memohonkan jimat keselamatan untukmu. Benarkah itu?" Demi menjaga perasaan Keisha, Presley mengangguk. "Benar. Aku pernah bilang kalau jimat dari Gunung Forel bisa mengusir segala malapetaka. Hari itu juga dia langsung pergi mencarikannya untukku." Nada bicara Lara dibuat terkejut dengan berlebihan, "Bisa mengusir segala malapetaka? Wah, sehebat itu, ya? Kalau aku juga bisa punya satu, pasti bagus sekali." Presley menatapnya dengan senyum penuh kasih sayang, "Kalau kamu mau, biar aku berikan punyaku padamu." Sambil berkata demikian, Presley segera mengeluarkan ponselnya. Dia menelepon seseorang untuk pergi ke rumah mengambil jimat keselamatan dan mengantarkannya ke tempat itu. Tak lama kemudian, terdengar ketukan pintu. Seseorang masuk dan menyerahkan jimat itu ke tangan Presley, lalu Presley langsung menyerahkannya kepada Lara. Setelah itu, orang yang datang tadi menundukkan kepala dan membisikkan sesuatu di telinga Presley. Sambil mendengarkan, kening Presley perlahan berkerut dan pandangannya juga terarah pada Keisha. Dia menundukkan mata dan termenung sejenak, lalu mengangguk. "Oke, aku tahu. Kamu boleh kembali dulu." Begitu orang itu pergi, Presley segera menarik tangan Keisha dan berdiri. "Keisha, di sebelah ada beberapa klien juga sedang makan. Temani aku sebentar untuk menyapa mereka." Bab 4 Keisha sebenarnya tidak ingin ikut. Namun sebelum sempat menolak, Lara juga berdiri sambil berkata, "Aku juga ikut lihat, ya." Tak disangka, Presley langsung menekannya kembali ke kursi dengan nada yang tak bisa dibantah, "Jangan ikut campur, duduk manis saja di sini dan makan. Kami akan segera kembali." Selesai berkata demikian, dia pun menarik Keisha keluar. Keisha dibawa sampai ke depan sebuah ruang VIP. Begitu pintu dibuka, ternyata di dalam duduk para klien asing. Melihat pemandangan itu, bahkan Presley sempat tertegun. Namun dia segera kembali tenang dan menggandeng Keisha masuk, lalu mulai berbicara dengan mereka dalam bahasa Prancis. Tak lama kemudian, Presley menuangkan segelas penuh minuman keras dan menyerahkannya pada Keisha. Dia sendiri juga mengambil segelas, lalu bersulang bersama para klien itu. Keisha terpaksa ikut minum. Setelah itu, Presley kembali menuntunnya untuk minum beberapa putaran. Kepala Keisha mulai pusing. Pikirannya melayang-layang dan pandangannya kabur. Yang tampak hanyalah sekelompok pria asing yang terus-menerus menyodorkan gelas ke tangannya dengan bahasa yang tidak dia mengerti dan memaksanya menenggak habis. Dalam keadaan setengah sadar, Keisha panik mencari Presley. Namun, dia tidak menemukan sosok Presley. Dia merasa sendirian dan tanpa perlindungan. Dengan terpaksa, dia berkata dalam bahasa Inggris bahwa dia tidak bisa minum lagi dan hendak pergi. Dengan langkah goyah, Keisha berdiri dan hampir berhasil membuka pintu ruangan. Namun tepat sebelum keluar, rambutnya tiba-tiba ditarik dengan kasar dan dia terhuyung jatuh kembali ke dalam. Pria-pria asing itu sudah mabuk berat. Tanpa malu-malu, mereka bahkan berani menarik gaun Keisha. Keisha yang ketakutan, menjerit sekuat tenaga sambil meraih sebuah botol dan mengangkatnya tinggi-tinggi, "Jangan sentuh aku! Pergi!" Sayangnya, mereka tidak mengerti bahasanya. Sebaliknya, mereka malah semakin bersemangat mendekat. Keisha tahu dia tidak mungkin melawan sekelompok pria mabuk itu. Dalam keputusasaan, dia hanya bisa melakukan sesuatu yang bisa membuat mereka mundur, yaitu melukai dirinya sendiri. Sambil menggertakkan gigi, dia menghantamkan botol itu dengan keras ke kepalanya sendiri. "Prang!" Suara pecahan botol membuat beberapa pria itu sontak ketakutan. Pandangan Keisha semakin gelap. Dalam keadaan setengah sadar, dia seperti melihat lampu merah kecil di kamera pengawas ruangan yang sedang merekam dirinya. Ketika tersadar kembali, Keisha sudah tidak lagi berada di restoran. Dia mendapati dirinya terbaring di kamar tidur rumahnya. Kepala Keisha terasa seperti hendak pecah, seluruh kepalanya dibalut rapat dengan perban. Saat itu, dari luar pintu dia mendengar suara beberapa orang sedang berbisik. Dengan tubuh lemah, dia menahan diri untuk berjalan ke arah pintu dan mengintip keluar. Presley sedang marah besar di ruang tamu, sementara beberapa sahabatnya berdiri di depannya dengan wajah penuh ketakutan. "Kak Presley, kali ini Keisha sudah berkorban untukmu lagi dengan menemani klien minum sampai mabuk. Rekaman videonya juga sudah kami siapkan, wajahnya nggak terlihat. Sekarang cuma tersisa dua video lagi supaya genap 99. Kenapa kamu masih marah ...." Presley membanting meja dengan keras, wajahnya dipenuhi amarah. "Kalian ini cari orang macam apa! Klien asing itu terlalu kasar, hampir saja Keisha dinodai mereka!" Salah satu dari mereka berkata dengan nada tak paham, "Justru karena mereka orang asing yang kasar, efeknya lebih nyata, 'kan? Kak Presley, bukannya kamu memang ingin setelah 99 video ini jadi, bisa tunjukkan ke orang tuamu? Begitu mereka lihat, mereka pasti langsung setuju dan kamu bisa segera menikahi Lara." Orang lain menyipitkan mata, menambahkan dengan nada menggoda, "Kak Presley, dilihat dari caramu melindunginya ... jangan-jangan kamu benar-benar suka sama Keisha?" "Diam!" Presley berteriak, lalu berdiri dengan tangan di pinggang. Dia mondar-mandir gelisah di ruang tamu, sebelum akhirnya menekan pelipisnya dan berkata dengan nada berat. "Aku cuma khawatir, kalau kali ini membuatnya terlalu menderita, gimana kalau dia nggak mau bekerja sama lagi nanti? Kalian harus tahu batas kalau melakukan sesuatu! Sekarang tinggal selangkah terakhir, jangan sampai semuanya hancur gara-gara kecerobohan!" Salah satu dari mereka tertawa rendah, "Baguslah kalau begitu, Kak Presley. Jadi ... kapan kita rekam video berikutnya? Tinggal dua lagi dan semua misi selesai. Benar-benar bikin bersemangat kalau dipikirkan." Presley menutup rapat bibir tipisnya, lalu terdiam lama dalam renungan. Kemudian dia baru berkata, "Akhir-akhir ini aku harus menenangkan emosinya dulu. Soal rekaman video ... tunggu saja dulu." Keisha merasa kepalanya berdengung hebat. Dia tidak sanggup lagi mendengar sepatah kata pun. Presley dan gengnya ini ... semuanya terlalu menakutkan. Tubuhnya gemetar hebat. Dia kembali ke ranjang, lalu menyusup masuk ke dalam selimut dan membungkus dirinya erat-erat. Bab 5 Beberapa hari berikutnya, Presley kembali bersusah payah memperlakukan Keisha dengan baik, sama seperti setiap kali sebelumnya. Dia membelikan perhiasan mahal untuknya di sebuah lelang, menyalakan kembang api di seluruh kota pada hari biasa, dan menciptakan berbagai macam kejutan. Namun, suasana hati Keisha tetap tidak kunjung membaik. Hari itu, ketika Keisha keluar dari kamar tidur, dia melihat Presley ternyata sedang duduk bersama Lara di ruang tamu menunggunya. Lara maju dengan penuh semangat dan hendak merangkul lengan Keisha, tetapi Keisha buru-buru menghindar. Lara hanya bisa tersenyum canggung, "Kak Keisha, apakah efek samping dari kejadian waktu itu masih belum hilang? Jangan takut, aku nggak akan menyakitimu." "Hari ini adalah pesta ulang tahunku. Aku dengar dari Presley belakangan ini suasana hatimu kurang baik, jadi aku ingin mengundangmu ikut bersenang-senang, supaya bisa rileks sedikit!" Presley juga ikut membujuk, "Ayo, Keisha. Lara sudah khusus datang menjemputmu." "Lagian, aku juga merasa belakangan ini ada yang berbeda dari kamu. Aku lihat kamu sering membuka aplikasi tiket pesawat, bahkan sudah mulai membereskan banyak barang-barang kita. Kamu mau pindah dan tinggal di tempat lain?" Mendengar pertanyaan itu, jantung Keisha langsung berdebar keras. Apa Presley sudah mulai curiga? Presley masih menunggu dua rekaman terakhir untuk menipu dirinya. Jika Presley sampai tahu rencana Keisha untuk pergi, dengan kekuatan Presley di Kota Nordam, mustahil bagi Keisha untuk melarikan diri. Menyadari hal itu, Keisha menggertakkan giginya lalu menjawab, "Kamu salah paham. Kebetulan aku juga ingin menenangkan diri, jadi ayo pergi." Setidaknya, ini adalah pesta ulang tahun Lara. Mengingat seberapa berartinya Lara bagi Presley, dia pasti tidak akan berbuat macam-macam pada hari penting seperti ini. Mendengar jawaban itu, Lara tersenyum anggun sambil berkedip misterius. "Bagus sekali. Kebetulan nanti di pesta ulang tahun, aku akan mengumumkan sebuah hal penting. Kak Keisha juga harus dengar, ya." Akhirnya, Keisha pun naik mobil dan dibawa ke pesta ulang tahun mewah itu. Seluruh tempat pesta dipenuhi mawar merah muda kesukaan Lara, dengan aroma lembut yang menguar. Dipadukan dengan alunan musik dari orkestra profesional, semua itu mencerminkan kemegahan sekaligus ketelitian dalam setiap detail. Lara tampak sudah terbiasa dengan pemandangan semewah itu. Dia menoleh sekilas pada Keisha, lalu berkata santai, "Semua ini dipersiapkan Presley khusus untukku. Cuma untuk pesta ulang tahun yang kecil saja, dia bisa mengatur segila ini. Kalau hari ulang tahun Kak Keisha, seharusnya bisa sampai mengguncang seluruh kota, ya?" Keisha menundukkan kepala, hanya menampilkan senyum samar. Dalam tiga tahun terakhir, ulang tahunnya selalu dihabiskan dengan melompat ke sungai hanya untuk mencari kalung yang terjatuh, atau menembus badai salju demi membelikan sarapan untuk Presley. Presley tidak pernah peduli apakah ulang tahunnya berarti atau tidak. Dia hanya peduli bagaimana merekam pengorbanan Keisha demi dirinya. Sebab, hanya dengan begitu dia bisa cepat menyelesaikan "tugas keluarga" dan akhirnya menikahi Lara. Melihat wajah Keisha yang tampak mati rasa, Lara pun kehilangan minat. Dia segera beralih dan berbaur dengan orang-orang lain sambil minum-minum. Presley memang berdiri di samping Keisha, tapi pandangannya terus menempel pada Lara. Setiap kali melihat Lara bersentuhan dengan pria lain sedikit saja, keningnya akan langsung berkerut dan gelas anggurnya digenggam semakin erat. Tak lama kemudian, semua tamu pesta sudah berkumpul. Lara mengambil mikrofon sambil berdiri di tengah ruangan dengan senyum penuh kemenangan. Kemudian, dia mulai mengumumkan hal penting yang sempat dia sebutkan sebelumnya. "Pertama-tama, terima kasih banyak untuk semua yang hadir di pesta ulang tahunku ini. Tentu saja, terima kasih pada sahabat baikku, Presley, yang sudah menyiapkan pesta indah ini untukku." Saat mengucapkan kata "sahabat baik", Lara menekankan suaranya dengan sengaja. Tatapannya yang penuh provokasi diarahkan langsung pada Keisha, sebelum akhirnya melanjutkan dengan suara lantang. "Sebenarnya, aku masih punya satu hal penting untuk diumumkan di sini. Itu adalah ... aku akan segera menikah!" Bab 6 Orang-orang di bawah panggung sontak terkejut dan menahan napas dengan desisan rendah. Sekelompok sahabat Presley saling bertukar pandang tak mengerti. Sementara itu, Presley sendiri langsung membeku di tempat. Tangannya bergetar. Bahkan saat anggur merah tumpah ke jasnya pun, dia sama sekali tak sadar. Lara mengangkat tangan kanannya dan memperlihatkan cincin berlian yang berkilauan di jari manisnya. "Tunanganku sudah melamarku dan orang tuaku juga setuju. Aku sebentar lagi akan menikah dengannya. Dia sangat lembut dan memperlakukanku dengan baik. Aku yakin semua orang di sini pasti akan memberi doa restu ...." Keisha bisa merasakan hawa dingin menyelimuti seluruh tubuh Presley yang berdiri di sampingnya. Tak lama kemudian, Presley tak mampu lagi menahan diri. Dia menerjang naik ke panggung dan merebut mikrofon dari tangan Lara, lalu menariknya turun dengan kasar. Suasana pesta langsung membeku dan mencekam. Beberapa orang yang tahu tentang situasi sebenarnya, melirik ke arah Keisha dengan tatapan penuh ejekan, seolah ingin melucuti seluruh martabatnya. "Aku ... aku ke toilet dulu." Dada Keisha bergerak naik-turun dengan hebat dan dia segera berlari keluar ruangan. Namun baru berjalan beberapa langkah, telinganya menangkap suara pertengkaran sengit dari sudut lorong. Suaranya yang begitu familier dan penuh kemarahan, tak lain adalah suara Presley. "Ngomong yang jelas, siapa yang mengizinkanmu menikah? Siapa yang kasih cincin ini padamu? Lara, kamu anggap aku apa?" Lara menjawab dengan tenang, "Harusnya aku yang nanya seperti itu padamu. Tiga tahun lalu, kamu bilang mau mencari seorang pengganti untuk membantuku menyelesaikan aturan keluarga yang konyol itu." "Aku pun pergi ke luar negeri dan menunggumu tiga tahun penuh. Tapi sekarang apa? Kamu masih saja berhubungan sama perempuan itu. Sudah tiga tahun, Presley, kamu masih belum menyelesaikannya?" Presley panik membela diri, "Bukan begitu! Mengumpulkan 99 video itu nggak semudah yang kamu bayangkan. Tapi sekarang cuma tinggal dua lagi. Beri aku sedikit waktu, aku akan segera membawamu menemui orang tuaku! Lara, kamu nggak boleh menikah sama orang lain!" Presley takut Lara benar-benar akan menikah, fia menggenggam pergelangan tangannya dengan erat. Namun, Lara melepaskan genggamannya dengan paksa, lalu mencopot cincin di jarinya dan melemparkannya tepat ke arah Presley. "Oke, aku nggak keberatan memberitahumu. Cincin pertunangan ini palsu. Tapi aku sudah nggak mau menunggu lagi. Aku ingin jawaban yang jelas sekarang, sebenarnya aku harus menunggu sampai kapan?" Tangan Presley mengepal semakin kencang, tapi tetap saja dia tidak bisa memberi jawaban pasti pada Lara. Dia sendiri tidak tahu mengapa, padahal kemenangan sudah ada di depan mata. Namun begitu teringat bahwa setelah 99 rekaman pengorbanan selesai, dia harus mencampakkan Keisha, dadanya terasa sesak. Keisha selalu begitu hati-hati di hadapannya, tidak pernah selancang Lara. Mungkin ... mungkin karena dalam hati kecilnya dia merasa kasihan pada Keisha. Selama bertahun-tahun bersamanya, wanita itu sudah terlalu banyak menanggung penderitaan. Setelah semuanya selesai nanti, dia akan mencari cara untuk sedikit menebusnya. Namun bagaimanapun juga, wanita yang kelak akan dia nikahi ... tetaplah Lara. Dengan pikiran itu, Presley akhirnya berkata, "Aku akan mempercepat semuanya dan menikah denganmu ...." Barulah senyum kembali muncul di wajah Lara. Dia melangkah maju, menempelkan bibirnya dan mencium pipi Presley dengan manja. Semua itu terlihat jelas oleh Keisha. Wajahnya sudah pucat pasi, tubuhnya bergetar tak terkendali. Ingatan tentang malam mengerikan bersama para klien asing yang memaksanya minum hingga hampir menghancurkan kehormatannya itu kembali menghantam benaknya. Itu adalah pengalaman yang tidak akan pernah bisa dia lupakan. Dua rekaman terakhir yang masih tersisa ... seperti apa lagi penderitaan yang menunggunya? Keisha tidak berani membayangkannya. Dengan pikiran yang kosong, Keisha berlari terhuyung-huyung keluar dari pesta itu dan kembali ke rumah. Sekitar satu jam kemudian, Presley baru menelepon untuk menanyakan keberadaannya. Keisha buru-buru mencari alasan, "Aku merasa nggak enak badan, jadi pulang lebih dulu. Sepertinya aku agak demam. Beberapa hari ini jangan datang menemuiku dulu, takutnya menularimu." Di seberang telepon hanya terdengar keheningan. Keisha langsung menutup panggilan, lalu segera mengunci pintu kamarnya dari dalam. Keesokan paginya, Keisha pergi ke kantor untuk mengurus pengunduran dirinya. Dengan membawa sebuah kotak berisi barang-barang pribadinya, dia berjalan keluar gedung dan berencana meninggalkan Kota Nordam malam ini juga. Namun di luar dugaan, Presley ternyata sudah berdiri di depan kantornya. Dia bersandar santai di pintu mobil, menatap Keisha sambil tersenyum tipis. Tangan Keisha bergetar. Kotak di pelukannya pun terlepas, barang-barang di dalamnya berserakan ke tanah. Presley segera melangkah cepat dan membungkuk membantu memungut barang-barang itu sambil bertanya, "Kamu bilang lagi demam, kenapa nggak istirahat di rumah? Malah datang ke kantor beres-beres. Apa ini berarti kamu mengundurkan diri?" Keisha terdiam sejenak, menggigit bibir lalu mengangguk pelan. "Ya, aku nggak mau kerja lagi." Presley sudah selesai merapikan kotak itu, lalu menaruhnya ke bagasi mobil. Dengan nada santai, dia berkata, "Ya sudah kalau nggak mau kerja lagi, biar aku yang menanggungmu." Presley menoleh dan menggandeng lengan Keisha dengan paksa. "Ayo, aku ajak kamu jalan-jalan, sekalian merayakan pengunduran dirimu." Tanpa memberi kesempatan untuk menolak, Presley mendorong Keisha masuk ke kursi pengemudi. "Keisha, pergelangan tanganku agak sakit. Kamu yang nyetir saja, aku yang tunjukkan jalan." Sambil berkata demikian, dia sendiri duduk di kursi penumpang depan, kemudian mulai memberi arahan pada Keisha. Mobil melaju setengah perjalanan, tiba-tiba Presley menyuruh berhenti. Dia berkata ingin membeli sesuatu di minimarket dan menyuruh Keisha menunggu di dalam mobil. Namun setelah menunggu lama, Keisha tidak juga melihat sosok Presley kembali. Mendadak, speaker mobil yang tersambung Bluetooth menyala otomatis. Suara asing bergema di dalam kabin, "Ayo ayo ayo, rekaman ke-98 sebentar lagi akan dimulai. Kevin, di pihakmu rekaman videonya terlihat normal, 'kan?" Bab 7 Tubuh Keisha langsung bergetar hebat ketika melihat kamera tersembunyi di kursi penumpang depan menyala, lampu merahnya berkedip dua kali. Detak jantungnya berpacu kencang. Dia buru-buru meraih gagang pintu, tapi baru sadar, entah sejak kapan pintu mobil sudah terkunci rapat dari luar. "Rekaman bisa jalan, tapi suaranya nggak masuk, Kak Tono. Masih ada waktu buat aku atur lagi nggak?" "Sudahlah, nggak sempat. Bisa rekam gambar saja sudah cukup." Keisha mematung ketakutan. Presley menjebaknya di sini ... sebenarnya apa lagi yang ingin dia lakukan padanya?! Tiba-tiba dari arah trotoar, seorang pria muda yang tinggi dan tegap melewati jalan itu dan masuk ke mobil yang berhenti tepat di depan mobil Keisha. Tak lama kemudian, speaker Bluetooth mobil kembali menyala, "Eh eh, Harlan datang! Kali ini biar Keisha menabrakkan mobil ke mobilnya, sekalian bantu Presley kasih pelajaran buat pesaingnya. Lumayan, satu lagi pengorbanan buat koleksi. Kak Presley memang cerdas, hahaha!" "Aku di sini sudah mulai rekaman, bisa dimulai sekarang!" Setetes keringat dingin mengalir dari pelipis Keisha. Mereka mau merekam apa? Tabrakan? Mana mungkin dia bisa melakukannya? Namun seketika, mobilnya malah bergerak sendiri. Mesin menyala tanpa kendali dan kecepatan melonjak tajam. Mobil melaju lurus menabrak mobil di depannya. "Brak!" Suara benturan keras mengguncang seluruh tubuh Keisha. Airbag meletup dan menghantam Keisha hingga dia kehilangan kesadaran. Ketika membuka mata lagi, yang pertama dia lihat hanyalah ruangan yang putih dan terang. Dia berusaha bangkit, lalu menyadari dirinya sudah berada di rumah sakit. Ingatannya yang kacau perlahan kembali. Saat mengingat detik-detik sebelum pingsan, jantung Keisha kembali berdebar keras dan perasaan takut menyapu seluruh tubuhnya. Di saat itulah, pintu diketuk. Seorang pria dengan pakaian pasien rumah sakit melangkah masuk. Keisha segera mengenalinya, itu adalah pria yang tadi duduk di mobil yang ditabraknya. Harlan. Wajahnya memang sedikit pucat dan lengannya masih terbalut perban, tetapi sorot mata yang tegas dan ketampanan di raut wajahnya sama sekali tidak bisa ditutupi. Tatapan Harlan tertuju pada Keisha, lalu dia berkata dengan suara jernih, "Aku dengar dari pacarmu, mobilmu rusak makanya menabrak mobilku. Jadi itu bukan kesengajaan. Karena itu, aku nggak akan menuntutmu. Jangan khawatir." Keisha sempat tidak langsung mengerti maksud ucapannya, "Jadi maksudmu ...." "Aku ingin bilang, kalau memang masalahnya ada pada mobil, berarti kita sama-sama korban. Jadi kamu nggak perlu merasa terbebani. Selain itu, aku juga ingin memastikan keadaanmu." Sambil berkata demikian, Harlan benar-benar meneliti kondisi Keisha sejenak. Akhirnya dia menyimpulkan, "Kalau masih bisa duduk, berarti lukanya nggak terlalu parah. Rawat dirimu baik-baik. Kita pasti akan bertemu lagi." Setelah berkata demikian, Harlan berbalik dan meninggalkan ruangan. Sebaliknya, Keisha masih lama terdiam, bahkan setelah sosok Harlan lenyap dari pandangan. Tak lama kemudian, telepon di samping ranjang berbunyi. Keisha melirik sekilas, ternyata nomor ibunya. "Halo, Bu." Begitu membuka mulut, suaranya terdengar serak dan kering. "Keisha, kenapa suaramu serak sekali? Kamu sakit, ya?" Mendengar pertanyaan itu, hidung Keisha terasa perih menahan tangis. "Bu, aku nggak apa-apa. Aku akan segera pulang. Jangan khawatir." Dari seberang, ibunya menghela napas panjang, "Keisha, kamu boleh pulang kapan pun kamu mau. Tapi yang paling penting adalah menjaga kesehatanmu." "Oh iya, Keisha, soal calon pasangan perjodohan yang Ibu sebutkan terakhir kali itu ... belakangan ini dia juga ada di Kota Nordam. Dia bilang ke Ibu, kalau kamu butuh apa pun, kamu bisa langsung menghubunginya. Ibu kasih kontaknya, ya. Orangnya baik, namanya Harlan." "Baik, Bu." Ibu Keisha mendengar jelas nada lelah dalam suara putrinya. Setelah berulang kali berpesan agar Keisha beristirahat dengan baik, dia pun menutup telepon. Namun bagi Keisha, yang dia rasakan bukan sekadar lelah, melainkan kehampaan yang begitu menusuk. Presley pasti benar-benar mencintai Lara, ya? Kalau tidak, mana mungkin dalam waktu sesingkat itu dia bisa merancang sebuah "kecelakaan", memalsukan seolah-olah Keisha sengaja menabrak mobil pesaingnya, lalu menjadikannya sebagai rekaman ke-98? Di mata Presley, keselamatan Keisha jelas bukan sesuatu yang patut dipertimbangkan. Keisha hanya bisa menunduk dan tersenyum getir, lalu menggelengkan kepala dengan perasaan pahit. Tepat saat itu, pintu kamar rawatnya kembali diketuk. Orang yang masuk, tak lain adalah Presley. Bab 8 Melihat Keisha yang seperti kehilangan jiwa, Presley segera mendekat, lalu menggenggam erat kedua tangannya. Suaranya penuh rasa bersalah. "Maaf, Keisha, aku nggak nyangka mobil itu tiba-tiba mengalami kerusakan, bahkan sampai membuatmu terluka dan harus dirawat di rumah sakit. Tenang saja, mobil itu sudah aku kirim ke tempat pembongkaran dan aku jamin hal seperti ini nggak akan pernah terjadi lagi!" Mendengar kata-kata itu, Keisha hanya ingin tertawa. Buru-buru membuang mobil itu? Pasti karena takut dirinya menemukan kebenaran, 'kan? Kalau saja hari itu bluetooth mobil tidak kebetulan rusak hingga membuatnya mendengar rencana busuk mereka, mungkin Keisha benar-benar akan tertipu oleh ucapannya. Sekarang, dia tidak akan pernah percaya lagi pada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Presley. Presley kembali berkata, "Keisha, dokter bilang luka-lukamu nggak parah, sebentar lagi kamu bisa keluar. Besok kita langsung urus kepulanganmu, lalu aku akan bawa kamu naik kapal pesiar. Anggap saja sebagai kompensasi dariku, gimana?" Keisha mengernyit, tak percaya. Kemudian, dia menarik tangannya dari genggaman Presley. "Presley, lukaku saja belum sembuh, tapi kamu sudah mau bawa aku naik kapal pesiar? Apa kamu begitu terburu-buru?" Saat menanyakan itu, bibir Keisha sampai bergetar. Pria ini begitu terburu-buru membawanya untuk merekam video ke-99 itu ya? Presley pun agak terkejut dengan reaksi Keisha. Setelah keterkejutan singkat, dia segera menimpali, "Keisha, kamu bicara apa? Aku cuma ingin ajak kamu bersantai, itu saja. Lagian, kapal pesiar sudah kupesan, aku yakin kamu bakal suka. Tolong jangan tolak aku ya?" Keisha menoleh, memejamkan mata dengan pasrah. Harapan terakhirnya pada Presley benar-benar lenyap. Pria ini memang sudah tak sabar menikahi Lara. Beberapa saat kemudian, Keisha berkata pelan, "Baiklah." Melihat Keisha yang begitu patuh, Presley seketika merasa cemas. Tadi dia mengira Keisha sudah mengetahui rencananya sehingga tiba-tiba menanyakan hal seperti itu. Namun, dia segera menepis pikiran itu. Selama tiga tahun ini, dia berhasil menipu Keisha. Karena cinta Keisha yang tulus tanpa kecurigaan sedikit pun, Keisha tak pernah menyadari ada yang salah. Kali ini pun pasti sama. Besok adalah yang terakhir. Dia sudah menyiapkan semuanya, membuat semuanya terlihat seperti kecelakaan di kapal pesiar, lalu merekam video ke-99 itu. Setelah besok, dia akan berhasil menyelesaikan tugasnya, mengucapkan selamat tinggal pada Keisha, dan menikahi Lara. Kecemasan tadi mungkin hanya karena memikirkan akan segera berpisah dengan Keisha, makanya timbul rasa tak terbiasa. Sudahlah, setelah semuanya selesai, dia akan memilih cara yang paling lembut untuk berpisah. Kompensasi untuk Keisha juga tak akan berkurang sedikit pun. Semua ... hanya menunggu besok. Setelah berpikir sejenak, Presley menunduk, mendaratkan sebuah ciuman lembut di kening Keisha. "Keisha, istirahatlah. Besok aku akan jemput kamu tepat waktu. Kita naik kapal pesiar bersama." Kemudian, dia menyelimuti Keisha, bangkit, dan melangkah pergi. Saat Presley hampir sampai di pintu, Keisha tiba-tiba memanggilnya, "Presley, apa kamu tahu? Aku dulu benar-benar sangat mencintaimu." Presley sempat tertegun, tetapi segera tersenyum. "Kenapa tiba-tiba bicara begitu? Aku juga benar-benar mencintaimu, Keisha. Istirahatlah baik-baik. Sampai jumpa besok." Begitu melihat bayangan Presley benar-benar lenyap dari ruang rawat, pandangan Keisha meredup. Dia mengambil ponsel, lalu menekan nomor yang baru saja dikirimkan ibunya. "Halo, Pak Har. Ibuku bilang kamu sudah janji akan membantuku dalam hal apa pun. Apa benar?" Tanpa ragu, pria di seberang menjawab, "Benar, apa pun yang kamu butuhkan, bisa langsung beri tahu aku." Keisha menarik napas dalam-dalam, lalu berbicara dengan tenang, "Aku ingin kamu membantuku pergi dari sini besok pagi, sebelum siapa pun mengetahuinya. Lebih baik jangan sampai ada orang yang sadar." Pukul 5 dini hari, sekelompok pengawal berpakaian hitam masuk ke ruang rawat Keisha. Mereka mengawalnya melalui jalur rahasia, keluar dari rumah sakit, lalu naik mobil menuju bandara. Sesaat sebelum pesawat lepas landas, Keisha mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan pesan singkat untuk Presley. [ Presley, kamu sudah menipuku 98 kali. Untuk yang ke-99 ini, silakan cari orang lain. ] Setelah mengirimkan pesan itu, dia langsung menghapus semua kontak Presley. Pesawat perlahan lepas landas, membawanya menuju Kota Souta, ke arah rumahnya.