Đang tải thông tin quảng bá...
Luka Seorang Ibu Rumah Era 80-an
"Lina, apa sudah kamu pikirkan baik-baik, setengah bulan lagi kita berangkat ke ibu kota?" Lina Watson menjawab pelan, tetapi tegas, "Ya." "Baguslah! Guru dan istri guru sudah menunggumu di ibu kota."...
Chương (1)
第1章
"Lina, apa sudah kamu pikirkan baik-baik, setengah bulan lagi kita berangkat ke ibu kota?"
Lina Watson menjawab pelan, tetapi tegas, "Ya."
"Baguslah! Guru dan istri guru sudah menunggumu di ibu kota."
Di seberang telepon, guru tidak tahan untuk bertanya lagi, "Tapi kudengar kamu sudah berkeluarga di sana selama delapan tahun, apa kamu benaran rela meninggalkan ayah dan anak itu? Lalu bagaimana dengan Alan? Kudengar anak itu lebih dekat dengan ayahnya. Apa dia mau ikut denganmu?"
Lina tersenyum getir. "Alan sudah nggak mengakui aku sebagai ibunya, mana mungkin dia mau ikut denganku. Aku akan membawa Alicia."
Sang guru di seberang hanya bisa menghela napas. "Kalau begitu, karena kamu sudah memutuskan, kita bertemu setengah bulan lagi di stasiun kereta ibu kota."
Bab 1
"Lina, apa sudah kamu pikirkan baik-baik, setengah bulan lagi kita berangkat ke ibu kota?"
Lina Watson menjawab pelan, tetapi tegas, "Ya."
"Baguslah! Guru dan nyonya guru sudah menunggumu di ibu kota."
Di seberang telepon, guru tidak tahan untuk bertanya lagi, "Tapi kudengar kamu sudah berkeluarga di sana selama delapan tahun, apa kamu benaran rela meninggalkan ayah dan anak itu? Lalu bagaimana dengan Alan? Kudengar anak itu lebih dekat dengan ayahnya. Apa dia mau ikut denganmu?"
Lina tersenyum getir. "Alan sudah nggak mengakui aku sebagai ibunya, mana mungkin dia mau ikut denganku. Aku akan membawa Alicia."
Sang guru di seberang hanya bisa menghela napas. "Kalau begitu, karena kamu sudah memutuskan, kita bertemu setengah bulan lagi di stasiun kereta ibu kota."
Setelah kembali mengucapkan terima kasih, Lina menutup telepon dan menggendong putrinya menuju rumah yang terasa asing.
Begitu memasuki kompleks perumahan, dia langsung ditahan tetangganya.
"Eh, acara kumpul-kumpul pabrik sudah dimulai. Lina, kenapa kamu malah pulang? Ayo, ikut lihat, banyak yang sudah menyiapkan penampilan."
Lina refleks ingin menolak, "Pekerjaan rumahku belum selesai..."
"Ah, pekerjaan apa? Acara kumpul-kumpul pabrik cuma setahun sekali. Meskipun kamu nggak mau menonton, Alicia pasti ingin lihat keramaian, bukan begitu, Alicia?"
Lina menatap putrinya yang kecil dan kurus.
Dia teringat bahwa Alicia yang tumbuh bersamanya di desa, tidak pernah melihat dunia luar.
Hatinya terasa perih. "Kalau begitu, ayo kita lihat sebentar."
Lina menggendong putrinya dan mengikuti tetangganya yang memimpin jalan. Belum juga masuk ke aula, suara riuh dari dalam sudah terdengar.
"Pak Sam dan Lili benar-benar pasangan serasi!"
"Lili, kapan Pak Sam mengundang kita ke pesta pernikahannya? Mumpung hari ini banyak orang, suruh saja dia bilang padamu di depan semua orang!"
"Pak Sam, kalian sudah berpacaran cukup lama, kapan mengundang kami makan di pesta pernikahan kalian?"
Lina memeluk erat putrinya dan berniat berbalik keluar.
Namun, tetangganya segera menariknya. "Lina, mau ke mana? Cepatlah, ayo kita juga lihat keseruan kepala pabrik dengan pacarnya!"
Lina menundukkan kepala, wajahnya menampilkan senyum getir.
Seluruh orang di pabrik kendaraan berat itu tahu bahwa Lili Fraser adalah kekasih Sam Houston.
Sementara dirinya hanyalah seorang wanita malang yang tidak bisa bertahan hidup di kampung halaman, lalu datang bersama putrinya untuk bergantung pada Sam.
Semua itu berkat kebaikan Sam. Dia memberi Lina pekerjaan sebagai pembantu di Rumah Keluarga Houston, sehingga memberi Lina jalan untuk bertahan hidup.
Tidak ada yang tahu bahwa dia dan Sam sebenarnya sudah menikah selama delapan tahun.
Di desa, Lina melahirkan dan membesarkan anak-anak, serta merawat mertuanya.
Baru setelah kedua mertuanya meninggal dunia satu per satu dan putrinya Alicia sudah cukup umur untuk bersekolah, Lina membawa anaknya datang menemui Sam.
Di dalam aula, Lili menundukkan kepala dengan wajah memerah.
Suara riuh orang-orang makin keras. "Ayo cepat katakan! Lili adalah putri mantan kepala pabrik, jadi para pekerja di pabrik kendaraan ini bisa dianggap keluarganya. Kalau hari ini kamu nggak mengatakan dengan jelas, jangan harap bisa lolos!"
Sam tertawa lebar dan berkata dengan lantang, "Lili, aku berencana mengadakan perjamuan pernikahan di kantin pabrik pada tanggal 22 bulan dua belas. Kita menikah, lalu bersama-sama merayakan tahun baru. Bagaimana menurutmu? Setelah menikah, kita hidup bahagia selamanya!"
Aula seketika bergemuruh dengan sorak-sorai.
Wajah Lili makin memerah, dia memandang Sam dengan malu-malu.
Kemudian, Sam berdiri di atas bangku dan berkata, "Hari ini semua orang jadi saksi. Kalau suatu hari nanti aku, Sam, melakukan sesuatu yang menyakiti Lili, kalian boleh langsung menghukumku. Aku nggak akan melawan bila dipukul, dan nggak akan membalas bila dimaki."
"Bagus!"
"Mendengar ucapanmu, kami jadi tenang."
"Lili, kamu pasti senang, 'kan? Pak Sam benar-benar baik padamu, dia memberimu pekerjaan ringan, di rumah juga ada pembantu supaya kamu nggak perlu bekerja. Pria sebaik ini bisa-bisanya kamu yang mendapatkannya."
Lina memeluk erat putrinya dan hendak pergi.
Alicia yang kini berusia lima tahun, sejak tiba di pabrik kendaraan selalu merasa takut.
Sekarang, melihat ayahnya hendak menikahi wanita lain, dia tidak sanggup lagi menahan diri dan langsung menangis keras.
Suara tangis anak itu membuat semua orang menoleh.
Di tengah kerumunan, Sam melototi Lina dan berkata dengan marah, "Untuk apa kamu membawanya ke sini? Hari ini semua orang sedang bahagia, kenapa kalian berdua malah sengaja bikin orang jengkel?"
Lina sibuk menenangkan putrinya dan tanpa sadar menjelaskan, "Alicia belum pernah lihat acara kumpul-kumpul, makanya kubawa ke sini."
Wajah Sam sekelebat menunjukkan rasa bersalah, tetapi itu segera lenyap.
Dia mengerutkan kening dan menegur dengan nada kesal, "Kalau datang ya datang saja, kenapa malah menangis! Di hari besar kayak gini malah membawa sial. Kalau kamu nggak bisa mengurus anak, jangan bawa dia ke tempat ramai untuk mempermalukan diri. Cepat pulang, sapu lantai dan lap meja!"
Apa Sam benar-benar tidak tahu alasan anaknya menangis?
Hati Lina terasa beku. Harapan terakhirnya terhadap Sam pun benar-benar sirna.
Masih ada setengah bulan lagi.
Bab 2
Akhirnya, Lina tetap saja menggendong putrinya meninggalkan aula.
Di perjalanan pulang, Alicia terisak dan bertanya, "Ibu, ayah mau menikah dengan orang lain. Itu artinya dia nggak menginginkan kita lagi, 'kan?"
Lina membelai wajah putrinya yang dingin, hatinya dipenuhi rasa perih.
Sejak kecil, Alicia tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah.
Kini, begitu bertemu, Sam sudah memiliki calon istri yang siap dinikahinya.
Sam justru makin menghindari Alicia, takut orang lain mengetahui bahwa anak itu adalah darah dagingnya.
Alicia telah menanggung terlalu banyak kepedihan.
Lina menempelkan wajahnya pada wajah putrinya dan berbisik, "Alicia, maafkan Ibu. Sam bukanlah ayah yang baik. Mari kita tinggalkan dia, ya?"
Sebenarnya, Lina sendiri pun tidak mengerti. Bagaimana mungkin pria yang dalam ingatannya jujur dan baik, bisa berubah menjadi seperti sekarang?
Lina tumbuh besar hanya bersama kakeknya.
Dia memiliki wajah yang cantik. Sejak berusia 15 tahun, para pemuda di desa suka mendekatinya.
Namun, Sam berbeda dengan para pemuda yang hanya pandai berbasa-basi.
Diam-diam, dia sering datang membantu di Rumah Keluarga Watson.
Mengangkat air, membelah kayu, mencuci pakaian, memasak, bahkan pekerjaan berat di ladang, semuanya Sam kerjakan.
Ketika kakek Lina terjatuh saat mencari obat di gunung, Sam segera menggendongnya dan berjalan puluhan kilometer menuju klinik.
Karena itu, ketika Lina berusia 20 tahun dan Keluarga Houston datang melamar, Lina tidak menolak.
Tiga bulan kemudian, dia menikah dengan Sam.
Saat itu, Sam sudah menjadi tentara. Pernikahan mereka berlangsung ketika dia pulang dengan cuti mengunjungi keluarga.
Lina masih mengingat jelas, pada malam pernikahan, Sam menggenggam tangannya dan bersumpah akan memperlakukannya dengan baik seumur hidup.
Lina pun memercayainya.
Sam berjuang di luar, sementara dia di desa melahirkan dan membesarkan anak-anak, serta merawat orang tua.
Waktu pun berlalu, putra mereka, Alan, sudah berusia lima tahun.
Ketika Sam keluar dari tentara dan beralih pekerjaan, dia menjadi kepala pabrik kendaraan berat di Alverton.
Hal pertama yang dilakukan Sam adalah menjemput Alan. Katanya, dia ingin bertanggung jawab sebagai ayah, membimbingnya agar rajin bersekolah, agar kelak menjadi orang yang sukses.
Sam membawakan Lina hadiah sebuah cangkir teh, satu handuk baru, dan sepuluh pasang sarung tangan kerja.
Sam memandangi tangan kasar Lina dengan sedih, lalu berkata bahwa selama beberapa tahun ini di desa, Lina telah menggantikannya berbakti kepada orang tua serta membesarkan anak-anak dengan susah payah.
Lina tidak pernah berpikir bahwa Sam akan berpindah hati.
Hanya dalam dua tahun.
Setelah ibu mertuanya meninggal, Lina membawa putrinya yang berusia lima tahun menempuh perjalanan jauh ke Alverton.
Kata pertama yang diucapkan Sam padanya justru sebuah pertanyaan dingin, "Untuk apa kamu datang?"
Seakan mendapat tamparan keras, hati Lina yang penuh sukacita seketika terasa setengah beku.
Lina hanya terdiam, membiarkan Sam memberinya status sebagai seorang pembantu.
Orang-orang di kompleks perumahan mengatakan bahwa Pak Sam adalah orang yang baik. Dia sudah berhasil, tetapi tidak lupa menolong wanita malang dari desanya.
Lina hanya bisa tersenyum getir.
Genggaman tangan putrinya yang dingin membuatnya kembali tersadar.
Alicia menghapus air mata di wajah ibunya dengan hati-hati, lalu dengan suara polos berkata, "Ibu, ayah membuat kita berdua menangis. Dia bukan orang baik, ayo kita tinggalkan dia."
Lina mengangguk. "Benar, kita nggak butuh dia lagi."
Dia menyuruh putrinya duduk di dekat jendela, sementara dirinya mulai membereskan barang-barang.
Kali ini, Lina ingin membuang semua kenangan lama yang dibawanya dari desa, termasuk pria itu.
Tiba-tiba, suara Alan terdengar dari luar pintu.
"Ayah! Tarian Tante Lili benar-benar bagus! Setengah bulan lagi dia akan menjadi ibuku, 'kan?"
Lina seketika terhenti.
Langkah kaki Sam dan Alan terdengar makin dekat.
Tidak lama, suara Lili juga menyusul, "Sam, Alan, tunggu!"
Lili berlari kecil ke pintu, lalu berkata, "Kalian tadi hanya sibuk menonton pertunjukan dan hampir nggak makan apa pun. Kalian pasti lapar, 'kan? Aku sudah membawa kue kacang sama bolu kukus. Cepat makan."
Tiga orang itu masuk bersama.
Alan tampak gembira sekali. "Tante Lili, kamu baik banget! Aku paling suka makan kue kacang sama bolu kukus."
Lili tersenyum pada Lina dan Alicia, lalu berkata, "Lina, kamu sama Alicia mau ikut makan?"
Alan langsung meraih kantong berisi kue kacang dan bolu kukus, lalu menatap Lina dan putrinya dengan jijik. "Nggak boleh! Mereka orang kampung, nggak pantas makan kue kacang sama bolu kukus!"
Lina hanya diam menatap Sam.
Sam pura-pura marah dan menegur Alan, "Bagaimana bisa kamu bicara seperti itu? Alan, cepat minta maaf."
Alan tampak tidak terima. "Aku nggak salah, kenapa harus minta maaf! Mereka memang orang kampung, pembawa sial! Semua orang juga bilang begitu!"
"Tante Lili, aku benar, 'kan?"
Lili mengusap kepalanya. "Sekalipun benar, kamu nggak boleh bicara seperti itu. Mengerti, Alan?"
Alan menjawab dengan enggan, "Kalau Tante Lili bilang begitu, ya sudah, lain kali aku nggak bilang seperti itu lagi."
Alan memeluk erat kantong plastik. "Tapi kue kacang sama bolu kukus ini tetap nggak akan kukasih ke mereka!"
Lili dan Sam berdiri berdampingan, wajah mereka memamerkan senyum basa-basi. "Lina, maaf ya, Alan memang terlalu dimanjakan. Kamu sudah dewasa, harap maklum."
Lina sudah terbiasa dengan sikap Alan. Dia hanya menarik sudut bibirnya membentuk senyum tipis. "Nggak apa-apa, kami memang nggak pantas memakannya."
Dia segera menggendong Alicia dan masuk ke kamar kecil, meninggalkan ruang tamu untuk mereka.
Setelah menenangkan Alicia di tempat tidur, dia melanjutkan membereskan barang-barang.
Di luar, ketiganya berbincang sebentar. Setelah itu, Lili pergi, sementara Alan dengan enggan mengantarnya.
Sam kemudian mendorong pintu dengan keras, lalu menuding dengan marah. "Lina, kamu sengaja, ya? Di aula pabrik tadi kamu membuatku kesal, pulang malah cemberut dan bicara dengan nada sinis. Sebenarnya apa maumu?"
"Kamu tiba-tiba datang dengan Alicia tanpa bilang apa-apa. Aku sudah menyiapkan tempat tinggal untuk kalian, kalian juga nggak perlu bekerja sedikit pun, aku yang menafkahi kalian berdua. Apa lagi yang membuatmu nggak puas?"
"Kamu mau aku berhenti jadi kepala pabrik, lalu ikut denganmu kembali ke desa terpencil, menjadi petani tua yang kerja membanting tulang di sawah sepanjang hidup, baru kamu senang?"
Alicia yang ketakutan, memeluk erat ibunya.
Lina menggendongnya putrinya dan berkata dengan datar, "Itu salahku. Nggak akan terulang lagi."
Mata Sam sempat menunjukkan sedikit keterkejutan. Lalu, dia berkata dengan canggung, "Bagus kalau kamu tahu siapa yang menafkahimu. Mulai sekarang, bersikaplah baik. Jangan cari masalah."
Lina tidak membantah.
Setengah bulan kemudian, Sam menikah dengan Lili.
Sementara itu, Lina membawa putrinya pergi ke ibu kota.
Antara dirinya dan Sam, tidak ada lagi masa depan.
Bab 3
Lina berkata bahwa dia akan membawa Alicia pergi bersamanya.
Anak itu sama sekali tidak merasa sedih, dia hanya menghitung dengan jarinya berharap hari keberangkatan itu segera tiba.
Lina menenangkannya. "Alicia, kalau kamu sudah melihat matahari terbenam dua belas kali lagi, kita bisa pergi."
"Kalau begitu aku mau lihat matahari!"
Alicia berlari dua langkah ke depan, lalu tiba-tiba berhenti.
Lina mengangkat kepalanya, dia melihat Sam dan Lili berjalan mendekat, masing-masing menggenggam tangan Alan dari sisi kiri dan kanan.
Wajah Alan memerah karena terlalu gembira.
Orang-orang di kompleks perumahan tersenyum sambil berkomentar, "Wah, lihat betapa harmonisnya keluarga kecil ini!"
"Banyak orang khawatir kalau jadi ibu tiri itu sulit, tapi Lili bisa begitu akrab dengan Alan, jadi nggak perlu khawatir."
Sam menatap Lina, lalu berkata dengan nada memerintah, "Lili ingin makan kue kurma, jangan keluyuran di luar. Cepat pulang dan kukus satu loyang."
Lina tertegun dan memandangnya dalam diam.
Semasa hidup, kakeknya paling menyukai kue kurma, sehingga Lina paling mahir membuatnya.
Saat kakeknya meninggal, Lina menangis sampai rasanya hampir mau mati.
Ketika itu, Sam sangat iba padanya dan sejak saat itu Sam tidak pernah membiarkan Lina membuat kue kurma lagi.
Ibu mertuanya juga suka memakannya, tetapi Sam dengan tegas memaksanya mengubah kesukaannya.
Sam pernah berkata, seumur hidupnya dia tidak akan membiarkan Lina bersedih.
Namun, sekarang, dia justru memintanya membuat kue kurma untuk wanita lain.
Sam berkata dengan nada tidak sabar, "Lina! Kenapa melamun? Cepat kembali masak. Apa hal sepele seperti ini saja nggak bisa kamu lakukan?"
Lina mengiyakan pelan, lalu menggandeng tangan Alicia menuju rumah.
Lina segera mengeluarkan kue kurma yang harum dari kukusan dengan cekatan.
Alicia menatapnya dengan penuh harap, tetapi dengan pengertian dia tidak meminta.
Lina merasa iba lalu berkata, "Ibu mengukus agak banyak, nanti Alicia juga bisa makan."
Ketika Lina hendak membawa piring itu keluar, begitu berbalik dia melihat Lili berdiri di ambang pintu dapur.
Di wajahnya tersungging senyum mengejek. "Kamu nggak benar-benar mengira aku mau makan masakanmu, 'kan?"
Dia meludah dengan jijik. "Bau amis tanah."
Saat Lina lengah, dia segera merebut piring itu lalu melemparkannya ke lantai. Dengan sengaja, Lili menjatuhkan diri ke belakang hingga membentur pintu dengan keras.
Lili menjerit sambil menutup tangannya dengan kesakitan, "Ah!"
Detik berikutnya, Sam dan Alan bergegas masuk.
Lili menahan napas sambil berkata dengan susah payah, "Lina nggak sengaja..."
Sam menatap Lina dingin. "Kalau nggak mau melakukannya bilang saja. Kenapa harus merusak barang! Kita baru bisa makan kenyang beberapa tahun belakangan ini, kamu malah mendorong Lili. Lina, jangan paksa aku sampai harus memukul wanita."
Alan juga ikut mendorongnya. "Wanita jahat! Kamu menyakiti Tante Lili, keluar dari rumahku!"
Lina menatap Sam dengan wajah kosong.
Tanpa bertanya sepatah kata pun, dia sudah langsung menjatuhkan vonis bersalah pada Lina.
Lili memasang wajah penuh penderitaan. "Sam, tanganku sakit sekali..."
"Aku antar kamu ke klinik."
Sam menggendong Lili keluar, tetapi dia masih sempat melontarkan ancaman kepada Lina. "Kalau tangan Lili benar-benar cedera, tunggu saja akibatnya!"
Alan menendang Lina dengan keras. "Dasar sampah masyarakat! Wanita jahat! Enyahlah dari rumahku!"
Alicia berlari keluar dan mendorong Alan sekuat tenaga. "Nggak boleh memukul Ibu! Dasar anak nakal!"
Alan mengangkat tangannya dan hendak menampar Alicia, tapi Lina dengan cepat menahannya.
Lina menatap dingin pada anak yang lahir dari rahimnya sendiri, yang telah dia besarkan dengan susah payah hingga berusia lima tahun itu.
Alan sempat menciut sesaat, lalu melompat sambil memaki, "Kalian berdua sampah masyarakat, nggak tahu malu! Aku akan suruh ayah mengusir kalian!"
Sambil berteriak, dia segera berlari mengejar Sam dan Lili.
"Tante Lili, aku kasih semua permenku untukmu. Kalau makan permen, sakitnya akan hilang!"
Lina mendekap erat putrinya dan menenangkan. "Alicia, jangan takut. Kita sebentar lagi pergi. Kita naik kereta ke ibu kota. Mereka nggak akan bisa menyakiti kita lagi."
Alicia terisak dan bertanya, "Ibu, kenapa ayah sama kakak membela orang lain?"
Lina terdiam sejenak, lalu menjawab pelan, "Karena mereka sudah bukan ayah dan kakakmu lagi."
Dia dan Alicia tidak lagi menginginkan mereka.
Dalam dua belas hari lagi, mereka berdua akan lenyap sepenuhnya dari dunia mereka.
Bab 4
Sam dan mereka pergi, lalu tidak kembali.
Setelah menenangkan Alicia, Lina makan siang bersama putrinya.
Kemudian, dia membawa putrinya pergi ke klinik pabrik kendaraan untuk mengurus pengunduran dirinya
Lina pernah belajar ilmu pengobatan dari kakeknya.
Sejak dia menyadari Sam telah berubah, Lina langsung melamar kerja di klinik.
Awalnya, pihak klinik tidak mau menerimanya.
Namun, karena dia setiap hari datang membantu, bekerja cekatan, dan memang bisa mengobati orang.
Klinik akhirnya mengizinkan Lina bekerja sebagai tenaga lepas.
Dokter Dean yang bekerja di klinik itu pernah terang-terangan berkata, selama Lina bisa memperoleh sertifikat pengobatan tradisional dan izin praktik.
Dia bisa mengajukan Lina untuk diangkat sebagai karyawan tetap pabrik.
Lina sudah memperoleh sertifikat pengobatan tradisional.
Namun, karena dia hendak pergi, tentu tidak mungkin melanjutkan pekerjaan itu.
Sesampainya di klinik, Lina menunggu Dokter Dean selesai bekerja baru berbicara, "Dokter Dean, mulai sekarang aku nggak akan datang..."
Ucapannya belum selesai, tiba-tiba terdengar suara Sam dari pintu. "Dokter Dean, hari ini juga kamu berhentikan Lina. Dia nggak punya ijazah maupun izin praktik. Bekerja di klinik pabrik kita jelas melanggar aturan. Kalau sampai terjadi masalah dalam mengobati pasien, siapa yang akan bertanggung jawab?"
Lina menoleh dan melihat tangan kanan Lili terbalut perban, sementara Sam dan Alan berdiri rapat di sisinya.
Dokter Dean berkata dengan ragu, "Tapi klinik memang kekurangan tenaga, dan kemampuan pengobatan Lina cukup baik..."
Sam berwajah muram. "Kalau memang kekurangan tenaga, aku akan cari cara melaporkannya ke pimpinan di kota agar segera menugaskan seseorang ke sini. Urusan mengobati orang nggak bisa diserahkan pada orang yang nggak jelas asal-usulnya. Kalau terjadi masalah, kita semua nggak akan sanggup menanggung akibatnya."
Lina menundukkan kepala, berusaha keras mengabaikan rasa sakit di hatinya.
Dulu, Sebelum Sam pergi menjadi tentara, setiap kali demam atau pusing dia selalu minta diobati oleh Lina.
Sekarang, di mata Sam, Lina sudah dianggap orang yang tidak benar.
Dokter Dean menoleh kepada Lina.
Lina tersenyum dan berkata, "Dokter nggak perlu merasa serba salah, mulai sekarang, aku memang nggak akan datang lagi."
Setelah keluar dari klinik, Sam mendengus dingin. "Tangan Lili terluka, beberapa hari ke depan pasti masih akan terasa sakit! Orang berhati kejam sepertimu, mana pantas mengobati dan menolong orang."
Sam masih hendak melanjutkan kata-katanya ketika seseorang datang dengan tergesa-gesa.
"Pak Sam, ada orang menunggu Anda di kantor, dia utusan dari kota."
Sam menjawab singkat, lalu menasihati Lili dengan nada lembut, "Beberapa hari ini kamu istirahat saja di rumah. Semua pekerjaan biar Lina yang kerjakan. Jangan bersikap lunak, dia sudah melukaimu. Membiarkannya menggantikan pekerjaanmu saja sudah terlalu baik untuknya!"
Setelah Sam pergi.
Lina menggendong Alicia keluar.
Lili menggandeng Alan menyusul di belakang.
Sesampainya di tempat sepi, Lili menghadang Lina dan berkata dengan penuh kemenangan, "Selama aku mau, kamu nggak akan bisa dapat pekerjaan. Lina, mulai sekarang, kamu hanya bisa berharap belas kasihan dari Sam dan aku, untuk menghidupi dirimu dan anakmu."
Mata Lili yang dingin menatap Alicia. "Jangan salahkan aku bersikap kejam. Siapa suruh kamu datang membawa anakmu untuk mengganggu kami. Hari-hari yang menanti kalian berdua masih panjang."
Alicia gemetar ketakutan.
Lina menatap Lili dengan tenang dan berkata, "Kalau kamu berani menyakiti Alicia, aku nggak akan melepaskanmu."
Lili mundur sedikit, lalu dengan sengaja berkata, "Alan, dia menakut-nakuti aku."
Seperti peluru kecil, Alan berlari ke depan dan menendang Lina dengan keras. "Kalau kamu berani menyakiti Tante Lili, aku nggak akan melepaskanmu!"
Rasa sakit menjalar di betis Lina, tetapi rasa sakit itu tidak sebanding dengan nyeri yang menusuk di dadanya.
Saat pertama kali datang, Lina sangat ingin tahu apa yang sebenarnya telah dilakukan Sam...
Hingga membuat Alan yang dia besarkan dengan tangannya sendiri bisa berubah seperti ini.
Namun, kini, Lina sudah tidak ingin tahu lagi.
Bab 5
Dalam perjalanan pulang, setiap orang yang ditemui Lina menatapnya dengan pandangan aneh, sambil berbisik-bisik menunjuknya.
"Bagaimana bisa ada orang sekejam itu! Pak Sam sudah menolongnya, bukannya berterima kasih, malah berbalik melukai tunangan Pak Sam. Huh, dasar kurang ajar!"
"Menurutku dia pasti punya niat yang nggak-nggak! Mau jadi istri kepala pabrik! Kalau nggak, kenapa harus melukai Lili?"
"Nggak sadar diri, memangnya dirinya itu siapa? Pantas atau nggak! Pak Sam sudah menolong seekor ular berbisa, kalau dibiarkan tinggal di rumah, entah apa lagi yang akan dia lakukan nanti."
"Ayo kita laporkan pada Pak Sam, pabrik kendaraan ini nggak bisa menampung orang sekejam itu! Cepat usir dia pergi."
Lina tidak berkata apa-apa. Mereka pun terus mengikutinya sampai ke rumah.
Dia menggendong Alicia di dalam rumah.
Sementara orang-orang di luar terus mencibir dan menyindir dengan kata-kata pedas.
Menjelang siang barulah mereka pergi.
Tidak lama kemudian, Sam juga pulang.
Lili dan Alan berjalan mengikutinya dari belakang.
Sam melangkah cepat ke arah Lina. "Alan bilang kamu tadi sore menakut-nakuti Lili? Sepertinya membuat orang-orang di pabrik tahu kamu melukai Lili masih terlalu ringan sebagai hukuman."
Sam berkata dengan dingin, "Pergi masak. Lili mau makan kue ubi talas. Kalau nggak bisa membuatnya, keluar dari rumahku."
Di luar hari sudah gelap. Sam tahu betul bahwa Lina yang menggendong Alicia tidak punya tempat untuk pergi.
Sam juga tahu, saat umur 12 tahun Lina pernah hampir mati karena alergi parah saat mengupas ubi talas.
Seluruh tubuh Lina terasa dingin, tatapannya kosong tidak berjiwa.
Tanpa sepatah kata, dia berdiri dan menggendong Alicia masuk ke dapur.
Saat kue ubi talas dimasukkan ke dalam kukusan, kedua tangan Lina memerah dan bengkak, sementara seluruh tubuhnya gatal hingga membuatnya gemetar tidak terkendali.
Alicia ketakutan dan menangis keras.
Alan melihatnya, lalu tertawa sambil membuat wajah mengejek. "Cengeng! Pembawa sial!"
Lili berdiri di pintu dan berkata dengan manja, "Sam, aku nggak jadi mau makan kue ubi talas. Aku mau makan iga tumis kentang."
Sam langsung mengiyakan, lalu berseru ke arah dapur, "Lina, kamu dengar nggak? Lili mau makan iga tumis kentang."
Baru sekitar pukul sepuluh malam, Lili akhirnya puas, lalu duduk untuk makan.
Lina yang sudah bekerja keras berjam-jam tidak diizinkan ikut makan. Dia hanya duduk di dekat kompor, menyuapi Alicia dengan kue ubi talas yang tidak disentuh Lili.
Alicia menangis sampai cegukan. "Ibu, aku nggak mau makan. Ibu masih sakit, ya? Kita pergi ke Om Dean untuk minta obat, ya?"
Wajah Lina sudah sangat bengkak. Dengan susah payah, dia tersenyum dan menenangkan putrinya. "Ibu nggak apa-apa. Ayo makan, habiskan supaya kamu nggak lapar lagi."
Lina berusaha menenangkan putrinya agar mau makan. Namun, dirinya sendiri sudah beberapa hari tidak bisa makan dengan benar, perutnya pun mulai terasa perih.
Setelah Sam dan yang lain selesai makan di ruang tamu, mereka memerintahkan Lina untuk membersihkan rumah.
Lina menuruti perintah dengan tenang, dia menggulung lengan baju dan mulai mencuci piring.
Lili membawa Alan bermain di halaman, sesekali terdengar tawa lepas Alan.
Sam berdiri di pintu dapur dan berkata kepada Lina dengan suara berat, "Apa kamu sudah menyadari kesalahanmu?"
Lina tidak mengangkat kepala dan hanya menjawab, "Ya."
Sam mengangguk puas. "Nanti segera minta maaf ke Lili, pastikan nggak mengulanginya lagi."
Lina terdiam beberapa detik, lalu berkata dengan pelan, "Kalau aku nggak setuju?"
Sam menjawab dingin, "Kalau begitu, bawa Alicia pergi. Kembalilah saat kamu siap mengakui kesalahanmu."
Terdengar suara tetesan, air mata Lina jatuh ke air cucian piring dan langsung lenyap tanpa jejak.
Dia menarik napas dalam-dalam, lalu berkata dengan tenang, "Aku minta maaf."
Akhirnya Sam merasa puas. "Cepat selesaikan cuci piringnya, lalu ke sini."
Setelah merapikan dapur dan mendudukkan Alicia di depan kompor, Lina langsung menuju ke halaman.
Waktu itu masih sekitar jam makan, saat halaman ramai-ramainya.
Banyak orang berkumpul.
Melihat Lina keluar, semua orang menatap dengan ekspresi penasaran.
Lina tahu ini memang trik Sam, dia melangkah ke depan Lili, lalu membungkuk dalam-dalam. "Maafkan aku, aku seharusnya nggak membuatmu terluka. Aku janji nggak akan mengulanginya lagi, tolong maafkan aku."
Halaman menjadi sunyi senyap.
Sam berkata lembut kepada Lili, "Lili, dia sudah mengakui kesalahan dan mendapat hukuman. Maafkan dia, ya?"
Lili tersenyum manja. "Hanya masalah kecil, aku memang nggak pernah menyalahkan Lina."
"Pak Sam dan keluarganya memang baik hati."
"Inilah yang disebut keluarga sebenarnya."
Semua orang memuji Sam dan keluarganya. Mereka membalas dengan senyuman dan halaman pun kembali riuh.
Seperti arwah yang kesepian, Lina diam-diam kembali ke dalam rumah.
Keesokan harinya, Lina mengeluarkan semua barang yang pernah dia anggap berharga, cangkir teh, handuk, serta sarung tangan kerja. Kemudian, dia memberikannya ke warga lansia termiskin di luar kompleks perumahan.
Semua barang lama yang dibawanya dari desa pun dibuang ke tempat sampah.
Seperti halnya dia harus melepaskan perasaan yang telah bertahan hampir sepuluh tahun.
Bab 6
Hari-hari berikutnya, Lina tidak lagi memperdulikan apa pun.
Dia hanya menunggu dengan penuh harap hari keberangkatan ke ibu kota.
Apa pun yang dikatakan Sam dan Lili, dia terima saja.
Hari pernikahan mereka makin dekat. Warga kompleks perumahan mulai menyiapkan suvenir, kue, dan perlengkapan pernikahan.
Orang-orang yang terampil membuat dekorasi di halaman. Setiap kali satu dekorasi selesai dibuat, yang lain segera memasangnya.
Seluruh pabrik kendaraan dipenuhi suasana meriah.
Tiga hari sebelum pernikahan, Sam membawa Lili ke studio foto untuk memotret foto pernikahan pada siang hari.
Saat kembali di malam hari, Sam memberikan Lina sebuah syal kotak-kotak.
Dia berkata dengan nada agak canggung, "Cuaca lagi dingin, aku lihat telingamu kedinginan. Aku melihat syal ini cocok untukmu, jadi kubelikan. Terimalah."
Lina tidak ingin menimbulkan keributan dan diam-diam menerimanya.
Sam merasakan sesuatu yang aneh di hatinya. Dia menahan Lina dengan memanggilnya, "Apa kamu nggak ingin mengatakan apa-apa?"
Lina menggeleng.
Sam kembali merasa marah. "Kamu!"
Namun, dia berkata dengan nada menahan emosi, "Lina, aku tahu aku bersalah padamu, kamu pasti kecewa, tapi aku nggak punya pilihan. Menikahi Lili dan tetap menanggungmu, ini sudah yang terbaik yang bisa kulakukan. Kuharap kamu bisa mengerti."
Kesedihan melintas di mata Lina. Dia tidak menoleh dan hanya berkata dengan tenang, "Aku tahu, aku nggak menyalahkanmu."
Namun, dia memutuskan untuk tidak menginginkan pria itu lagi.
Sam tampaknya masih merasa tidak puas.
Setelah terdiam sesaat, dia berbalik dan melangkah pergi.
Keesokan harinya, setelah menikmati sarapan buatan Lina, seperti biasa, Sam pergi bekerja, sementara Alan segera keluar untuk menemui Lili.
Lina dan putrinya tetap tinggal di rumah. Dia kembali mengecek barang-barang yang akan dibawa.
Alicia ikut menghitung bersama, seperti ekor kecil yang selalu menempel.
Barang-barang mereka berdua tidak banyak, hanya beberapa pakaian lama.
Lina menyembunyikan tiket kereta, lalu membawa Alicia keluar untuk membeli bahan makan siang.
Saat kembali ke rumah, matanya langsung menangkap pintu kamar kecilnya terbuka.
Perasaan tidak enak muncul di hati Lina, dia hendak bergegas masuk untuk memeriksa.
Namun, terdengar suara Lili dari samping.
"Alan, Tante ajari kamu. Batu giok ini kualitasnya buruk dan nggak berharga. Nanti jangan sampai ditipu orang, jangan bodoh menganggap barang sampah sebagai harta."
Lina segera menoleh.
Dia melihat Lili memegang liontin giok yang sudah sangat dikenalnya dan mengayunkannya di depan Alan.
Ekspresi Lina langsung berubah, dia tidak bisa menahan amarahnya lagi. "Kembalikan padaku!"
Lina berusaha merebutnya.
Lili menghindar sambil tersenyum. "Aku sudah bilang, barang ini nggak berharga, bahkan kalau dikasih pun aku nggak mau. Alan hanya ingin menunjukkannya padaku sebentar, nanti juga dikembalikan. Kenapa buru-buru begitu?"
Lina mengepalkan tangan kuat-kuat. "Alan Houston! Kenapa diam-diam mengambil barangku?"
Alan tekejut sejenak, lalu membantah dengan keras, "Siapa yang mencuri? Ini rumahku, aku boleh mengambil apa saja yang kuinginkan!"
Alan menatap Lina dengan marah. "Aku melihat sendiri, ayah diam-diam memberikan syal padamu di belakang Tante Lili dan kamu menerimanya! Dasar nggak tahu malu!
Lina menatapnya dengan pandangan yang membuat Alan gemetar hingga bersembunyi di belakang Lili.
Lili mencemooh, "Gimana? Berani berbuat, tapi nggak berani bertanggung jawab?"
Dia mengayunkan liontin giok itu sambil mengejek, "Aku akan menikah dengan Sam besok. Kamu diam-diam menerima barangnya, wajar kalau aku marah ke kamu. Sudah untung wajahmu nggak kupukul sampai hancur. Cepatlah berterima kasih padaku!"
Lina menarik napas dalam-dalam. "Lili, aku nggak ingin berdebat denganmu. Aku akan kembalikan syal itu, kembalikan liontin giokku."
Lili tersenyum mengejek. "Berdebat denganku? Kamu punya hak apa? Menukar syal dengan liontin giok? Oke, ambillah."
Lina berbalik dan dengan cepat mengambil syal yang diberikan semalam.
Lili tersenyum sinis. "Ambil gunting, potong menjadi potongan kecil."
Lina mengambil gunting dan tanpa ragu memotong syal itu hingga hancur.
"Cukup?"
Lili mengangguk. "Oke, ini untukmu."
Belum selesai berbicara, dia melempar liontin giok itu keluar jendela.
Wajah Lina pucat pasi. Dia segera berlari keluar dan menemukan liontin giok putihnya sudah hancur berkeping-keping, hanya tali merah yang memudar yang tetap utuh.
Lina berlutut dan tangannya gemetar memandangi pecahan-pecahan itu. Air matanya jatuh satu demi satu.
Seseorang bertanya, "Apa yang pecah?"
Lina meraih pecahan-pecahan itu ke telapak tangannya, tiba-tiba dia menengadah, lalu mengambil sebuah batu bata dan menerjang Lili.
Lili menjerit, "Ada pembunuhan! Tolong!"
Namun, Lina sudah mencapai batas kesabarannya. Satu-satunya warisan kakeknya telah hancur.
Saat itu, dia hanya ingin bertarung habis-habisan. Matanya memerah, seperti orang gila.
Semua orang ketakutan.
Lina menerjang ke arah Lili, batu bata di tangannya siap menghantam Lili.
Orang-orang di sekeliling menjerit ketakutan.
Tepat satu detik sebelum batu bata menghantam Lili, tangan Lina ditahan.
Sam berkata dengan suara berat, "Lina, apa yang kamu lakukan?"
Lina mencoba melepaskan beberapa kali, tetapi cengkeraman Sam makin kuat dan hampir hampir mematahkan pergelangan tangannya.
Dia sadar kekuatannya kalah jauh dari Sam. Akhirnya, Lina terpaksa melepaskan batu bata itu.
Lina mengulurkan tangan lainnya, serpihan giok putih di telapak tangannya melukainya hingga berdarah.
Lina berkata dengan suara gemetar, "Dia menghancurkan satu-satunya warisan kakekku."
Sam terkejut dan reflek membela, "Lili pasti nggak sengaja..."
Lina menutup mata sejenak, saat membukanya, tatapannya pada Sam seperti menatap orang asing.
Dia tidak berkata sepatah kata pun, lalu berbalik pergi.
Di belakang, Sam memanggil dengan gelisah, "Lina..."
Lina pura-pura tidak mendengar dan berjalan tanpa menoleh.
Lili sudah meringkuk ke pelukan Sam. "Sam, aku kaget sekali, untung kamu datang! Aku memang nggak sengaja. Besok kita kasih dia suvenir yang banyak, dan gaji bulan ini kita tambah sepuluh ribu sebagai permintaan maaf..."
Lina mendengar Sam menjawab, "Besok kita menikah. Lili, kamu harus tidur lebih awal malam ini."
Lina menutup pintu.
Alicia memeluknya. "Ibu, jangan menangis. Di sini penuh orang jahat. Besok kita pergi dan jangan kembali lagi!"
Lina memeluk putrinya erat, sambil terisak mengangguk.
Malam itu, Sam mengetuk pintu lagi.
Lina tidak menanggapi.
Dia berdiri di pintu dan berkata dengan suara pelan, "Lina, satu-satunya warisan kakekmu hilang. Aku mengerti perasaanmu, aku juga sedih. Nanti aku akan menggantinya dengan yang lebih baik, oke? Jangan marah pada Lili, dia nggak sengaja."
"Syalmu rusak, nanti kubelikan yang baru, tanpa sepengetahuan Alan."
Itulah kompensasinya.
Lina tersenyum sinis.
Lina tidak tidur semalaman, sambil menunggu waktu tiba. Saat waktunya tiba, Lina membawa bungkusan barang dengan satu tangan dan menggendong Alicia dengan tangan lainnya. Lina meninggalkan Rumah Keluarga Houston tanpa menoleh ke belakang.
Dia berjalan cepat menuju stasiun kereta.