Đang tải thông tin quảng bá...
Saat Aku Bukan Lagi Pilihanmu
Demi menguji kesetiaan kekasih masa kecilnya, saudara tiriku memberinya obat bius. Lalu, saudara tiriku mendorongku masuk ke dalam kamarnya. Aku tidak tega melihat Bram menderita dan menjadi obat pena...
Chương (1)
第1章
Demi menguji kesetiaan kekasih masa kecilnya, saudara tiriku memberinya obat bius.
Lalu, saudara tiriku mendorongku masuk ke dalam kamarnya.
Aku tidak tega melihat Bram menderita dan menjadi obat penawar dengan sukarela.
Saudara tiriku pun marah dan pergi menikah dengan bos mafia yang kejam.
Setelah aku hamil, Bram terpaksa menikahiku, dan mulai membenci diriku.
Selama 10 tahun pernikahan, Bram sangat dingin terhadap aku dan putraku.
Namun, ketika Bram pergi keluar negeri, dia terkena banjir. Dia berjuang sekuat tenaga untuk menyelamatkanku dan anak kami.
Tapi aku tidak bisa meraih tangannya. Sebelum tenggelam, dia menatapku untuk yang terakhir kalinya dan berkata, "Kalau semuanya bisa diulang, jangan pernah jadi obat penawarku lagi."
Hatiku terkoyak dan aku pun pingsan.
Ketika aku membuka mata, aku kembali ke hari saudara tiriku memberi obat bius kuat pada Bram dan mengurung kami dalam satu kamar.
Bab 1
Demi menguji kesetiaan Bram, Wenny memberinya obat, lalu mendorongku masuk ke dalam kamarnya.
"Anita … " Bram terengah pelan dan matanya kabur saat menatapku.
Aku tahu, Bram selalu menyukai Wenny.
Namun, sebelum menikah, Bram tidak tega menyentuh Wenny.
Demi bertahan hidup, Bram hanya bisa mundur selangkah dan mengorbankanku.
Di kehidupan sebelumnya, aku tidak mampu menahan perasaan yang aku pendam terhadap Bram sejak kecil. Akhirnya aku dan Bram memadu kasih semalam.
Keesokan paginya, ketika Wenny melihat bekas ciuman di leherku, dia menangis, dan tidak ingin nikah lagi selamanya.
Setelah dicegah, Wenny pun marah, dan menikah dengan bos mafia dari Negara H.
Tidak lama kemudian, dia menjadi istri keempat yang wafat di tangan pria itu.
Setelah aku hamil, Bram menikahiku hanya untuk bertanggung jawab. Dia memperlakukanku dan anakku seperti orang asing.
Aku tahu Bram marah padaku karena membiarkan Wenny mengetahui kejadian malam itu.
Apabila Wenny tidak tahu, dia tidak akan pergi.
Setelah teringat akan hal itu, aku mengambil penawar, dan segelas air dingin. Aku memberikannya pada Bram dan mengompres dahinya.
Lagi pula, di kehidupan sebelumnya Bram mengorbankan nyawanya demi melindungiku. Jadi aku akan membalas kebaikannya.
"Di mana Wenny?"
Kesadaran Bram mulai pulih setelah diberi obat penawar dan dikompres.
Bram tidak memanggil namaku dengan terengah-engah lagi. Begitu membuka mata, dia langsung menanyakan Wenny dengan cemas.
"Nggak perlu khawatir. Sopir sudah antar Wenny pulang."
"Oke. Kejadian malam ini … "
"Tenang saja. Aku nggak akan mengatakannya pada siapa pun. Lagi pula, kita juga nggak melakukan apa-apa, 'kan?"
Tatapan Bram kepadaku dipenuhi keheranan. Karena dia tahu, aku bukanlah orang yang seperti ini.
Aku adalah seorang gadis kecil yang selalu mengekor di belakangnya, sambil memanggil "Kak Bram" dengan manja.
Dua puluh tahun berlalu dalam sekejap dan kami pun tumbuh dewasa.
Namun, aku tidak pernah menyembunyikan rasa sukaku pada Bram.
Sikap dingin dan kemampuanku menahan diri malam ini benar-benar melampaui perkiraan Bram.
Melihat aku tidak antusias dan aktif seperti dulu, Bram berbalik dengan kesal.
Aku pun meninggalkan kamar dan memberi tahu pelayan Bram untuk merawatnya.
Begitu sampai di rumah, Wenny sedang sibuk memilih gaun baru musim ini.
Begitu melihatku pulang, Wenny tersenyum penuh penuh arti. "Kak, Kak Bram nggak menahanmu, 'kan?"
"Jangan memanggilku seperti itu." Aku menjawab dengan dingin.
Seakan sudah tahu aku akan berkata seperti itu, Wenny melangkah mendekat ke arahku, dan berbisik dengan pelan, "Aku panggil kamu begitu untuk menghormatimu. Terus kenapa kalau kamu itu putri sulung Keluarga Limbardi? Ibumu sudah mati, ayahmu nggak sayang sama kamu. Aku dan ibuku adalah penguasa rumah ini."
"Dan Bram. Kamu sangat menyukainya, 'kan? Malam ini kamu bahkan dikirim ke hadapannya. Tapi jadi penawarnya pun, kamu nggak pantas."
"Emang apa yang bisa kamu gunakan buat melawanku?"
Aku menatap wajah angkuh Wenny dan tersenyum samar.
"Aku nggak perlu bersaing sama kamu. Semua yang kamu miliki, semuanya berasal dariku."
Tiba-tiba terdengar suara dari pintu. Ayah sudah pulang.
Wenny langsung menutupi ekspresi penuh kebencian di wajahnya. Dia menampar dirinya sendiri dengan keras hingga terjatuh ke lantai.
Ketika Ayah masuk dan melihat kejadian itu, dia langsung menganggap aku menindas Wenny.
"Anita, sampai kapan kamu akan bersikap keras kepala? Beberapa tahun ini, kamu nggak pernah membuatku tenang!"
"Tenang? Sejak dia dan ibunya masuk ke rumah ini dan memaksa ibuku mati, rumah ini nggak akan pernah membuatmu tenang."
Ayah tidak menghiraukan air mataku. Dia justru membantu Wenny berdiri dengan iba.
"Aku akan menikah dengan bos mafia Negara H." Aku menyerahkan surat perjodohanku pada Ayah.
"Aku sudah menulis namaku di atasnya. Ayah nggak perlu cari cara agar aku pergi."
Ayah menatapku dengan gembira dan terkejut.
Kekuatan mafia Negara H sangat besar. Ayah tidak berani melanggar perjanjian itu, tetapi dia juga tidak rela putri bungsu kesayangannya menikah dengan bos mafia yang sudah kehilangan tiga istri.
Wenny menatapku dengan penuh kebencian.
Seperti biasa, Wenny ingin mengejar kekuasaan dan kemewahan, tetapi dia tidak mau menanggung risiko apa pun.
Wenny berkata dengan penuh kepiluan, "Ayah, Kakak nggak benar-benar mau pergi menikah ke Negara H. Semalam, aku lihat dia kasih Kak Bram obat, lalu di kamar yang sama mereka berdua … "
Aku baru saja hendak membantah, tamparan Ayah yang keras sudah mendarat di pipiku.
"Nggak terjadi apa-apa antara aku sama Bram."
"Anita, jangan kira aku nggak tahu apa yang ada dalam hatimu. Kepergianmu menikah di Negara H sudah jadi keputusan yang nggak bisa diubah. Jangan berpikir untuk membatalkan hal itu dengan menggunakan Bram. Lagi pula, Bram sedari awal tidak pernah menyukaimu."
Wenny melirikku dengan penuh kemenangan.
"Karena kamu begitu nggak tahu malu, hadapi hukuman keluarga."
Aku membawa surat perjodohan, berlutut di depan pintu vila, dan membiarkan teriknya matahari membakar tubuhku.
Menurut aturan Keluarga Limbardi, apabila mengakui kesalahan harus berlutut selama dua jam, apabila tidak mengakui kesalahan, hukumannya adalah seharian penuh.
Ketika lututku perih terbakar, Bram datang dengan tergesa-gesa. Dia melirikku sekilas, dan masuk.
Ketika dia keluar, ekspresi Bram tidak sepanik tadi. Dia justru berlutut di sampingku.
"Anita, aku tahu tahu ibumu dan ibuku sudah menjodohkan kita sejak kecil."
"Tapi saat ini, aku nggak bisa menikah sama kamu. Aku nggak bisa biarkan Wenny pergi ke Negara H."
Aku hanya bisa tertawa getir dalam hati. Ternyata dia masih belum tahu bahwa orang yang akan menikah di luar negeri itu aku?
"Kalau dia nggak pergi, maka akulah yang akan pergi."
Bab 2
"Aku akan berlutut di sini dan memohon sama Paman. Keluarga Gunawan akan berusaha sebaik mungkin agar urusan ini bisa diselesaikan dengan cara lain."
Ketika Bram melihat surat perjodohan yang ada di tanganku, dia tersenyum. "Anita, kamu ingin memohon Paman menikahkanmu denganku? Paman pasti kesal dan menyuruhmu berlutut."
"Pulanglah. Setelah aku berhasil melindungi Wenny, aku akan menepati janji pernikahan kita."
"Kamu nggak perlu mengkhawatirkan hal ini lagi."
Usai mengatakan itu, Bram menatapku dan menepuk punggung tanganku dengan lembut.
Sama seperti waktu kita masih kecil.
Ketika kami tumbuh bersama, Bram mungkin pernah menyukaiku meski hanya sesaat.
Namun, apabila tidak pernah menjalani kehidupan sebelumnya, aku mungkin tidak tahu bahwa cinta sejati Bram adalah Wenny.
Kami pun akhirnya saling menyakiti dan tidak ada yang berakhir bahagia.
"Kamu nggak perlu khawatirkan masalahku." Aku menyingkirkan tangannya.
Bram mengerutkan kening. Dia berusaha mengambil surat perjodohan yang ada di tanganku dan hendak membacanya.
"Anita, kamu bicara apa? Bukankah dari kecil aku sudah banyak membantu menyelesaikan masalahmu?"
Benar. Sejak kecil aku dan Bram memang sudah dijodohkan dan tumbuh besar bersama.
Setelah ibu meninggal, aku makin bergantung padanya.
Namun, aku sudah terbangun dari mimpi itu sekarang.
Aku menekan tangan Bram, lalu mengambil surat perjodohan itu. "Bram, kita sudah tumbuh besar. Kali ini, kita berdua akan mendapatkan apa yang kita inginkan."
"Kamu lagi bicara apa? Bukankah perjodohan kita sudah ditetapkan. Selain kamu, siapa lagi yang bisa menikah denganku?"
Aku menoleh dan menatapnya tanpa mengatakan apa pun.
Di kehidupan ini, apabila aku memilih untuk pergi, Bram tidak akan mati dalam bencana banjir itu.
Meskipun aku aku tahu mimpi kehidupan sebelumnya hanyalah kesalahan, aku masih belum sanggup meredam rasa cinta dan ketergantunganku pada Bram.
Akhirnya, di bawah terik yang membakar, tubuhku tidak sanggup lagi bertahan.
Sebelum aku kehilangan kesadaran, aku melihat Bram memelukku dengan cemas.
Ketika tersadar, aroma desinfektan rumah sakit langsung menusuk hidungku.
Bram tertidur di tepi ranjang. Tangannya terulur menyentuh ujung selimutku.
Melihat Bram seperti ini …
Apabila bukan karena perkataan terakhir di kehidupan sebelumnya, aku pasti akan yakin bahwa Bram juga mencintaiku.
Seakan merasakan sesuatu, Bram pun terbangun, lalu berkata sambil mengerutkan kening, "Apa yang kamu lakukan? Sudah kubilang, jangan terburu-buru. Kamu malah berlutut hingga pingsan karena kepanasan."
"Dari kecil tubuhmu lemah. Kamu sendiri juga tahu, ‘kan?"
"Bram."
"Iya?"
"Taman hiburan yang sering kita kunjungi waktu kecil, kamu masih ingat nggak?"
"Tentu saja ingat. Waktu pertama kali naik komidi putar itu, kamu menangis. Kalau aku nggak belikan kamu permen, kamu nggak akan berhenti menangis."
Aku menatapnya sambil tersenyum. "Maukah kamu menemaniku ke sana sekali lagi?"
Bram berbicara dengan ekspresi agak kesal. "Kenapa kamu bicara begitu? Setelah kamu menikah denganku, kita bisa pergi sebanyak mungkin yang kamu mau."
'Kita tidak akan bersama.' Aku berpikir dalam hati, tapi tidak mengatakan apa pun.
Ketika Wenny menikah dengannya, harusnya itu akan menjadi sebuah kejutan besar.
"Malam ini saja. Aku sudah merasa jauh lebih baik."
"Oke. Hanya kali ini saja. Setelah itu aku masih harus menyelesaikan masalah perjodohan keluargamu dengan mafia Negara H."
Bram tidak tinggal begitu lama. Dia kembali ke perusahaan untuk mengurus pekerjaan dan berjanji untuk bertemu denganku malam ini di gerbang taman hiburan.
Aku pulang ke apartemen untuk membereskan beberapa barang.
Sejak ibu meninggal, ayah membawa ibunya Wenny dan Wenny tinggal di vila, sementara aku memilih untuk pindah.
Sebelum Wenny muncul, di setiap ulang tahunku, Bram selalu membuatkan sebuah ukiran giok untukku.
Bentuk ukiran giok itu beraneka ragam. Ada yang berupa anjing kecil yang pernah aku pelihara, ada yang menyerupai bunga indah, bahkan ada yang diukir menyerupai foto aku bersama ibuku.
Bram terus membuatkan ukiran giok hingga ulang tahunku yang ke-18, yaitu saat Wenny kembali.
Sejak saat itu, Bram hanya membuatkan ukiran giok untuk Wenny. Dia hanya menyuruh asistennya membelikan hadiah seadanya untukku.
Aku mengenakan ukiran giok berbentuk aku dan ibuku, sementara barang lainnya sudah aku kirim.
Setelah menyiapkan segalanya, aku berdiri di tempat yang sudah ditentukan, dan menunggu Bram.
Tapi sampai semua lampu di taman hiburan padam, Bram pun tidak kunjung datang.
Ponselku juga tidak mendapat telepon dan pesan singkat.
Hujan turun. Aku tidak membawa payung dan tidak ada sopir yang datang menjemputku.
Hujan membasahi pakaianku dan rambutku hingga basah kuyup. Aku teringat kembali kejadian banjir besar di kehidupan sebelumnya.
Rasa sakit di dadaku seolah terulang lagi.
Aku menoleh ke taman hiburan yang ada di belakang, tempat yang penuh kenangan indahku dan Bram.
'Sampai jumpa lagi, Bram. Semoga di kehidupan ini, kita tidak pernah bertemu lagi. Semoga kamu panjang umur dan bahagia.'
Namun, sebelum aku menoleh, sebuah hantaman keras mendarat di punggungku.
Bab 3
Ketika aku kembali tersadar, mataku sudah ditutup kain hitam. Aku tidak bisa melihat cahaya sedikit pun.
Kaki dan tanganku diikat. Rasa sakit yang tajam menyebar di punggungku.
Ketika tali di belakang tubuhku ditarik, kedua kakiku pun masuk ke dalam air yang sangat dingin.
Air itu perlahan-lahan naik hingga melewati dadaku, akhirnya kepalaku pun tenggelam.
Aku tidak bisa bernapas. Suara untuk meminta tolong pun tidak bisa keluar.
Ketika aku berjuang dengan seluruh tenaga, tali itu ditarik lagi ke atas.
Aku menghirup udara dalam-dalam dan batuk tanpa mengeluarkan suara. Setelah itu, orang di tepi berbicara dengan perlahan-lahan.
"Kamu baru saja menyinggung orang yang nggak seharusnya kamu singgung. Jadi, seseorang mengirimku untuk menyiksamu."
Tanpa menungguku berbicara, tubuhku dihempaskan kembali ke air yang dalam.
Ini dilakukan berkali-kali. Setiap kali aku hampir tenggelam, aku ditarik kembali ke permukaan.
Akhirnya, aku pun dilempar ke tepi. Orang yang ada di tepi menelepon, "Bos, semuanya sudah beres."
Dari ujung telepon aku mendengar suara Bram. "Kalian cepat pergi. Sisanya biar aku yang urus."
Tidak lama kemudian, terdengar langkah kaki yang tergesa-gesa dari kejauhan. Ikatan di tubuhku pun dilepas dan jatuh ke dalam pelukan yang hangat.
Sebelum aku benar-benar tersadar, aku melihat mata Bram memerah.
"Maaf, Anita. Aku juga nggak tega melukaimu. Tapi, kamu nggak seharusnya menyakiti Wenny. Aku cuma menghukummu sekali ini. Semoga kamu bisa belajar."
Orang yang menyakitiku adalah kamu. Kenapa pada akhirnya kamu berlagak seolah tidak rela?
Seperti kehidupan lampau kita yang penuh konflik.
Bram membawaku kembali ke apartemen.
Sejak ibuku meninggal, Bram sering datang untuk merawatku. Aku bahkan pernah memberinya kunci rumah.
Bram memanggil dokter keluarga untuk memastikan bahwa kondisiku tidak terlalu parah. Dia duduk di samping ranjang dan menemaniku sepanjang malam.
"Anita, maaf. Setelah kita melangsungkan pernikahan, aku pasti akan menebus semuanya."
Saat fajar menyingsing, aku mendengar Bram berkata seperti itu sebelum pergi.
'Tidak akan ada pernikahan,' pikirku dalam hati.
Aku duduk meski kepalaku masih berdenyut.
Karena bekas jeratan tali, kaki kananku pincang saat berjalan.
Aku meraba saku bajuku. Ukiran giok berbentuk aku dan ibuku masih ada.
Syukurlah.
Saat ini pintu apartemenku tiba-tiba ditendang dengan keras hingga terbuka. Wenny berdiri di hadapanku.
Di belakang Wenny, ada beberapa anak orang kaya yang selalu mengikutinya.
Ketika melihat keadaanku yang begitu berantakan, Wenny tertawa terbahak-bahak. "Kak, kenapa bisa seperti ini?"
Aku malas menjawabnya dan berniat untuk segera pergi. Namun, dia berkata, "Kamu tahu kenapa kamu hampir mati semalam?"
"Kak Bram juga nggak menemanimu ke taman hiburan, 'kan?"
"Sayang sekali, Bram nggak tahu kamu akan menikah di luar negeri. Semalam kamu cuma mau mengucapkan perpisahan ke dia."
"Aku kasih tahu dia, kalau kamu pulang ke rumah, kamu bersikap manja. Kamu dorong aku ke kolam renang. Jadi, dia suruh orang menculikmu dan menghukummu. Tapi, aku tambahkan bayaran agar mereka menyiksamu dan menenggelamkanmu. Kak, kamu sungguh menyedihkan!"
"Diam! Kamu nggak takut Bram tahu kebenarannya? Dia tidak suka dibohongi."
Wenny tertawa dengan sangat gembira. "Dia mana mungkin tahu? Kamu segera pergi ke luar negeri. Bos mafia itu sudah membunuh tiga istrinya. Kamu juga nggak akan berumur panjang."
Wenny memberi isyarat dengan matanya. Setelah beberapa gadis yang ada di belakangnya menahanku, Wenny mengambil ukiran giok yang ada di tanganku.
"Bukankah kamu bilang semua milikku berasal darimu?"
Ketika mengatakan itu, Wenny mengangkat tangannya.
"Kalau begitu, biar aku tunjukkan padamu bagaimana aku menghancurkan semua milikmu."
"Jangan!" Aku berteriak dengan keras.
Namun, semuanya sudah terlambat. Ukiran giok itu jatuh dan pecah hingga tak berbentuk.
Sebelum aku sempat memungut ukiran giok itu, Wenny sudah menyuruh pengawal untuk menyeretku masuk ke dalam mobil, dan mengantarku ke bandara.
Setelah Bram menyelesaikan pekerjaan di kantor, dia datang ke apartemen untuk menemuiku, dan menemukan bahwa apartemenku gelap gulita.
Firasat tidak enak seketika menyeruak di dadanya. Bram segera bergegas ke vila Keluarga Limbardi.
"Paman, di mana Anita?"
"Anita? Sekarang dia pasti sudah tiba di Negara H."
Jantung Bram berdetak kencang. Dia berkata dengan suara gemetar, “Kenapa dia bisa pergi ke sana?"