Kau Ingkar Janji, Kunikahi Kakakmu!

Đang tải thông tin quảng bá...

Kau Ingkar Janji, Kunikahi Kakakmu!

GoodNovel Hoàn thành

Nayla menjalin cinta selama lima tahun dan penuh gairah. Seluruh lingkaran elit Kota Hanka mengetahuinya, tetapi pada hari pengurusan surat nikah, dia malah dicampakkan. Dia langsung bersumpah untuk p...

Chương (1)

第1章

Nayla menjalin cinta selama lima tahun dan penuh gairah. Seluruh lingkaran elit Kota Hanka mengetahuinya, tetapi pada hari pengurusan surat nikah, dia malah dicampakkan. Dia langsung bersumpah untuk putus dan menjadikan tunangannya sebagai mantan pacar. Namun, karena sebuah telepon dari seseorang, Nayla yang diliputi amarah malah mengurus surat nikah dengan Simon, kakak kandung dari mantan pacarnya yang selalu memiliki hubungan dingin dengannya. ... Simon terkenal sebagai pewaris keluarga terkaya di Kota Hanka, juga mendirikan kerajaan finansial di luar negeri, seorang raksasa keuangan yang ditakuti banyak orang. Setelah menikah, dia sangat memanjakan Nayla dengan selalu menuruti segalanya. Nayla dihina oleh mantan pacarnya dengan mengatainya tidak berguna sama sekali. Simon langsung melayangkan pukulan hingga lawan jatuh, lalu berkata, "Istriku ini mutiara di telapak tanganku, harta di hatiku. Bagaimanapun dia, aku tetap akan memanjakannya. Kalau berani menghinanya lagi, enyah kamu dari silsilah Keluarga Jatmiko!" Bertahun-tahun kemudian, Nayla baru tahu bahwa pria yang dulu dia takuti ini sudah diam-diam mencintainya selama 10 tahun, sebuah rencana cinta yang sudah lama dipendam... Bab 1 "Kamu ini, Tuan Muda Hans, hari ini 'kan hari kamu dan Nayla daftarkan pernikahan. Kamu nggak ke sana, nggak takut dia marah?" "Siapa sih yang nggak tahu Nayla itu lengket kayak plester? Meski tahu kamu nggak pergi demi Karin, dia juga nggak bakal berani marah." "Benar, mana mungkin Nayla lebih penting dari Karin, Tuan Muda Hans dari kecil sayang sama Karin…" ... Karin yang mereka bicarakan bernama Karin Jatmiko, "adik angkat" Hans Jatmiko. Nayla Tanu sedang berdiri di pintu ruang VIP hotel, darahnya terasa membeku. Inilah pria yang dia cintai bertahun-tahun, sehebat ini kebejatannya. Dia mengepalkan tangan hingga ujung jarinya menekan dalam ke telapak tangannya. Namun, rasa sakit fisik tidak sebanding dengan luka batin. Dia menarik napas panjang, lalu mendorong pintu. Duk! Ruang yang riuh seketika sunyi. "Nayla…" Semua orang terkejut. Di pintu berdiri wanita berkulit putih, cantik, berkaki jenjang. Gaun merah mudanya membentuk lekuk pinggang sempurna, dengan rambut setengah diikat gaya Korea yang menonjolkan cantik memukau. Namun, tatapannya dingin saat menatap Hans dan Karin, lalu mengejek, "Hans, jadi ini alasanmu nggak datang ke dukcapil?" Wajah tampan Hans sempat berkedip gugup, lalu dia mendekat. "Kapan pun kita bisa daftar. Jarang-jarang Karin pulang, sebagai kakak keduanya, wajar aku menyambutnya." Nayla menyindir, "Setahun cuma ada satu hari jadi, itu juga nggak penting?" "Apa kamu nggak tahu, kalau nggak daftar sekarang harus tunggu tahun depan?" Ini adalah kesepakatan mereka berdua. Dari hari jadi pacaran diganti jadi hari jadi pernikahan, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Namun, jelas Hans tidak mau menikah dengannya. Yang benaran ingin Hans nikahi adalah Karin. Kekasih masa kecilnya! Mungkin merasa situasi gawat, Hans pun hendak menariknya. "Jangan ribut, nanti kujelaskan." Nayla menepis Hans. Pada saat ini... Karin bicara, "Nayla, maaf, ini salahku, aku nggak tahu kalian bakal daftarkan pernikahan hari ini." Dia menunduk minta maaf, tampak tersudut seolah-olah dirinya adalah korban. Nayla tidak menanggapi karena memang selalu muak padanya. Karin mengangkat kepala dengan mata berkaca-kaca. "Nayla, maafkan aku, aku tulus merestui kamu dan Kak Hans." Restu? "Bisa berhenti pura-pura? Kalau sungguh merestui, kamu nggak akan balik," sindir Nayla. Wajah Hans menggelap. "Nayla, jangan sekasar itu." "Kenapa? Tersinggung begitu aku mengatai si kesayanganmu?" Tatapan Nayla sedingin menatap orang asing. Ekspresi Hans makin buruk, "Nayla, kalau ngomong itu kan harus tahu situasi, jangan asal ngomong!" Tuh, 'kan? Begitu membela adik kesayangannya. Karena Hans sebegitu membelanya, maka Nayla akan merestui mereka, "Sudah terlanjur dilakukan, kenapa takut digosipi orang?" Karin pun berkaca-kaca. "Nayla, aku dan Kak Hans nggak kayak yang kamu pikir. Bisa nggak kamu jangan salah paham kayak dulu?" "Kalau tahu kepulanganku kali ini bakal bikin kalian bertengkar, aku nggak bakal pulang." Suaranya bergetar hendak menangis, penampilannya juga tampak menyayat hati. Orang-orang tidak tahan melihat Karin "terluka", lalu menyerang Nayla. "Nayla, tindakanmu ini salah. Tuan Muda Hans dan Karin itu kakak-adik, masa kamu juga cemburu?" "Benar. Tiga tahun ini karena kamu nggak terima Karin, dia sampai ke luar negeri demi kalian. Mau pakai trik lama lagi?" "Awas mainnya kebablasan, nanti Tuan Muda Hans buang kamu!" ... Nayla menatap dingin pada mereka yang tampak marah, dengan sikap tetap sangat tenang. Dulu karena Hans, dia sangat menahan diri pada "teman-teman" ini. Dia pura-pura tidak dengar saat mereka membicarakannya di belakang dengan Hans. Namun kali ini, jangan harap. Tatapan Nayla setajam pisau. "Seorang adik tiap hari menempel pada kakaknya, itu masih bisa dibenarkan?" "Otak kalian rusak atau memang suka lihat cinta terlarang? Aku nggak keberatan mundur, biar mereka 'main’ di depan kalian." Semua terperangah. Mereka tidak menyangka Nayla yang biasanya penurut bisa setajam ini. Ucapannya terlalu pedas. "Nayla, kenapa kamu menghinaku?" Karin hampir menangis dengan mata memerah. "Kamu nggak suka aku ya sudah, tapi Kak Hans sangat sayang sama kamu, sudah banyak berkorban, kenapa kamu masih nggak puas?" Nayla mengernyit kuat. Orang lain mungkin tidak tahu, tapi dia paham betapa lihainya Karin berpura-pura. Hans dan Nayla saling kenal selama 10 tahun, lalu pacaran selama 5 tahun. Tahun pertama, di ulang tahun Nayla, cuma karena telepon Karin, Hans langsung pergi, katanya kecelakaan. Valentine kedua, Karin putus cinta, menelepon sambil menangis katanya mau bunuh diri. Ketiga kali, keempat kali… Karin selalu punya seribu alasan memanggil Hans. Setiap kali, Hans memilih meninggalkan Nayla. Hingga tiga tahun lalu, Karin tiba-tiba mengajukan diri pergi ke luar negeri. Hans dan teman-temannya beranggapan bahwa Nayla yang memaksanya. Dengan tatapan dingin dan sinis, Nayla menatap Karin. "Hubungan kakak-adik yang normal bakal mengorbankan urusan daftar nikah sepenting ini?" "Jelas-jelas yang satu murahan, satu genit, sekarang malah balik menyalahkanku dan menyuruhku berbesar hati? Atas dasar apa?" "Atas dasar nggak tahu malu kalian?" Wajah Karin memerah menahan malu. Dia tidak bisa membalas, cuma menangis dengan tetesan air mata bak untaian mutiara putus. Hans yang tidak tahan pun membentak Nayla dengan wajah marah, "Nayla, cukup! Kamu nggak merasa konyol?" "Cuma daftar nikah. Kalau nggak bisa di hari jadi, ganti ke ulang tahunmu. Apa susahnya, sih? Kenapa nggak bisa lebih bermurah hati?" Murah hati? Bisa, tentu dia bisa. Hati Nayla sedingin air mati. "Hans, kita putus." Semua terkejut. Hans terpaku beberapa detik, lalu dengan raut suram berucap, "Putus lagi? Tiga tahun lalu juga karena kamu bilang putus, Karin takut kita pisah makanya ke luar negeri. Kamu belum puas, mau usir dia lagi?" "Nayla, licik banget kamu. Aku sudah setuju daftar nikah, kamu masih juga nggak bisa terima Karin? Kamu mau memaksanya sampai mati? Kalau kamu tetap sejahat ini, aku nggak akan mau daftar nikah!" Karin menikmati rasanya dibela. Dia menunduk sambil menyembunyikan kilat puas. Nayla yang mendengar ucapan Hans pun tersenyum bak mawar mekar. "Oke, nggak usah daftarkan nikah. Pernikahan ini batal." Usai bicara demikian, Nayla pun berbalik pergi. Hans menatap punggung Nayla sambil mengancam, "Nayla! Kalau hari ini kamu berani keluar tanpa minta maaf ke Karin, aku nggak akan memaafkanmu!" Semua bertaruh Nayla pasti melunak, lalu minta maaf. Toh dia sangat mencintai Hans. Benaran sesuai dugaan. Nayla berhenti, menoleh untuk menatap mereka, lalu bersumpah, "Kebetulan kalian semua ada. Dengar baik-baik, aku, Nayla Tanu bersumpah. Mulai hari ini aku putus dengan Hans, nggak mungkin nikah sama dia. Kalau kulanggar, biar dia seumur hidup nggak berketurunan dan mati mengenaskan!" Setelah melempar sumpah pedas, Nayla mengabaikan semua yang ternganga dan pergi dengan tegas. Entah bagaimana Nayla naik taksi online, lalu memblokir semua kontak terkait Hans. Sampai dering ponsel menariknya kembali dari lamunan. Dia melirik nomor yang asing namun familier, yang membuat detak jantungnya seolah berhenti sejenak. Panggilan tersambung, suara pria yang berat dan merdu terdengar, "Mau nikah? Kenapa nggak pertimbangkan aku saja?" Bab 2 Suara bercanda masuk ke telinga Nayla, baru setelah beberapa saat dia tersadar, "Kak Simon, adikmu baru saja mempermainkanku, sekarang giliranmu juga, begitu?" Orang di ujung telepon adalah Simon Jatmiko, kakak kandung Hans. Saat Nayla baru bersama Hans, Simon tidak pernah bersikap ramah padanya. "Sudah sekali ditinggalkan, masih takut yang kedua?" Suara Simon penuh ejekan. "Ini nggak kayak sifatmu yang dulu selalu besar kepala." Nayla punya temperamen keras, jadi tidak tahan dipancing. Dia berkata dengan kesal, "Ayo pergi, siapa takut. Tapi meski aku ikut kamu, dukcapil sekarang juga sudah tutup." Simon menjawab dengan nada datar, "Hal beginian nggak usah kamu khawatirkan." Dua puluh menit kemudian. Nayla kembali tiba di depan dukcapil. Sosok tinggi Simon pun muncul di hadapannya. Wajahnya luar biasa tampan, begitu memukau hingga sulit diungkapkan. Terutama aura kuat dari tubuhnya, penuh tekanan. Hans memang sudah termasuk tampan, tapi tetap tidak bisa dibandingkan dengan Simon. "Benaran berani datang?" Ujung bibir Simon terangkat, matanya penuh dengan sedikit aura jahat. Saat berhadapan dengannya, Nayla tidak lagi seenaknya seperti saat menelepon, wajar jika terlihat sedikit lemah. "Datang juga percuma, pintu dukcapil sudah hampir tutup." Simon mengangkat alis, menatap pintu di belakangnya, suaranya dalam, "Benar mau nikah denganku? Sudah pikirkan baik-baik?" Nayla tidak mau kalah. "Kalau kamu saja nggak takut, apa yang perlu aku takutkan?" Menurutnya, kalaupun ada yang harus takut, seharusnya itu Simon. Bagaimanapun, dia dan Hans adalah kakak-adik kandung. "Berani juga kamu." Di mata Simon terlihat sekilas rasa kagum yang sulit ditangkap, lalu dia menggenggam pergelangan tangan Nayla dan menariknya masuk. Nayla terkejut, benaran ... benaran masuk? Dia tiba-tiba berhenti yang membuat Simon menoleh sambil mengangkat alis. "Kenapa? Takut?" Nayla ragu sejenak. "Kok kamu mau menikah denganku?" Padahal jelas, Simon tidak menyukainya. Simon terkekeh sinis. "Gimanapun juga harus menikah, 'kan? Daripada buang waktu cari orang lain, lebih baik pilih yang disukai keluarga." Nayla pun tidak bertanya lagi. Mungkin karena kedua keluarga memang sudah bersahabat lama. Orang tua Keluarga Jatmiko, bahkan kakek Keluarga Jatmiko, sangat menyukai Nayla. Jadi, tindakan Simon ini masih bisa dianggap wajar. ... Tidak sampai sepuluh menit. Keduanya keluar dari dukcapil dengan masing-masing memegang buku nikah. Nayla tampak melamun menatap akta nikah, kemudian suara dingin Simon terdengar, "Menyesal pun percuma, meski sekarang masuk buat urus cerai, tetap harus menunggu beberapa waktu sampai proses selesai." Sial! Baru saja menikah sudah bicara cerai, siapa yang mau cerai! Nayla memutar bola mata, tapi suaranya sopan, "Kak Simon jangan sampai menyesal saja sudah cukup." Saat dia berjalan turun tangga, Simon tiba-tiba mengulurkan tangan dan menariknya ke dalam pelukan. Nayla menempel erat di dadanya, meski tinggi badan Nayla 167 cm, tetap jauh lebih pendek dari Simon. Aroma cedar yang harum dari tubuh Simon memenuhi hidung Nayla, membuat detak jantung Nayla tiba-tiba mengencang. Wajahnya pun merona. "Mau ke mana?" Suara magnetis Simon terdengar di atas kepalanya. Nayla butuh waktu lama untuk menenangkan diri, lalu berkata, "Ya pulang." "Baru menikah, sudah mau berpisah dengan suami?" Simon menunduk menatap Nayla, melihat bulu mata hitam Nayla yang bergetar, wajah putihnya merona merah muda, penampilan polos namun menggoda, dipadu dengan aura dingin yang memikat. "... Aku lupa." Nayla mendongak, bertemu tatapan mata Simon tanpa menyadari kedalaman gelap di matanya. Simon tanpa ekspresi mengalihkan pandangan, lalu melepaskannya. "Ikut aku." Setelah berkata demikian, dia berjalan turun lebih dulu, Nayla tanpa banyak pikir pun mengikutinya. Bagaimanapun, mereka sudah pasangan sah, masa pria itu bisa menjualnya begitu saja? Lagi pula, membuat mantan pacar jadi adik ipar, dipikir saja sudah terasa lega. ... Terletak di Casaya Bay, sebuah rumah mewah di setengah bukit yang setiap jengkal tanahnya mahal, desainnya tampak sederhana tapi penuh kemewahan. Nayla berdiri di tengah ruang tamu, menatap Simon dengan bingung. "Ini apa?" Simon menjawab singkat, "Rumah pernikahan, mulai sekarang kamu tinggal di sini." "Lalu kamu?" Nayla hampir spontan bertanya. Simon mengangkat alis, tatapannya dingin. "Terlalu kaget sampai jadi bodoh? Arti rumah pernikahan saja nggak paham?" Maksudnya jelas, tentu saja Simon juga tinggal di sini. Nayla tersenyum canggung, dalam hati menggerutu bahwa Simon memang selalu berlidah tajam. Sama seperti sepuluh tahun lalu saat pertama kali bertemu, ucapan Simon selalu pedas dan tajam. Sama sekali tidak menyenangkan! ... Simon menyuruh pembantu, Bibi Dila untuk mengenalkannya pada rumah, sementara tubuh tingginya berjalan ke atas. Nayla akhirnya bisa lega, wajah dinginnya seperti orang yang sedang tagih utang. Setelah berkeliling dengan Bibi Dila, Nayla baru sadar rumah mewah ini sangat besar. Ada lima lantai, dilengkapi lift, dengan sepuluh pelayan yang baru ditempatkan. Dari mulut Bibi Dila, dia tahu bahwa pagi ini Simon baru kembali dari luar negeri. Nayla terkejut, baru pulang sudah tahu Nayla ditinggalkan Hans saat daftar nikah? Mungkinkah Simon menikahinya cuma untuk membalas dendam atas kejadian tiga tahun lalu? Nayla ingin bertanya langsung, tapi dia diberi tahu Simon sedang sibuk di ruang kerja. Dia cuma bisa menunggu, lalu akhirnya tertidur di sofa kamar utama. Hingga terasa ada gerakan di tubuhnya, Nayla terbangun setengah sadar, sontak wajah tampan Simon muncul tepat di depannya. "Kamu ngapain?" Nayla tertegun sambil menutupi dadanya dengan waspada. Simon menarik jarinya dari selimut, lalu bibir dinginnya bergerak, "Tenang saja, aku nggak segitu hausnya sampai tertarik pada tubuhmu yang belum berkembang." Api kemarahan Nayla menyala. "Aku sudah bukan tiga tahun lalu, sudah berkembang, tahu!" Dia menggenggam tangan besar Simon dan hendak menaruhnya ke dadanya... Di detik terakhir, dia tersadar. Kemudian dia buru-buru menghentikan gerakan dan melepaskan tangan Simon. Sungguh gila. Pacaran dengan Hans lima tahun, mereka bahkan tidak pernah berciuman. Barusan dia hampir saja... Wajah Nayla yang tampak merona sampai telinga membuat Simon tersenyum tipis, lalu sengaja menggoda, "Kenapa berhenti, takut ketahuan nggak memuaskan?" Wajah Nayla panas sekali, lalu dengan kesal mendorongnya. "Kalau pun belum berkembang juga nggak ada hubungannya denganmu." Dia bangkit hendak pergi, tiba-tiba ditekan kembali hingga punggungnya menempel di sofa. Dia berusaha bangkit lagi, tetapi tubuh tinggi Simon membungkuk menekannya, auranya yang kuat menyelimuti. "Nayla..." Suara magnetis Simon penuh godaan sensual. "Punya nyali nikah denganku, tapi nggak berani melakukannya?" Wajahnya tampan, auranya elegan, menutupi sempurna sisi jahat di matanya. Kerah kemejanya terbuka, memperlihatkan jakun yang seksi. Dalam benak Nayla sekilas melintas adegan tiga tahun lalu. Meski tidak pernah merasakan tubuh pria, masa tidak pernah melihat tubuh pria? Karena dorongan hati yang tiba-tiba, dia menarik kerah Simon, lalu mengecup bibir tipisnya. Nayla membuka mulut langsung menggigit, pura-pura lihai, tapi gerakannya kaku, beberapa kali menabrak giginya. Mata Simon gelap, wajahnya tampak menahan diri dengan suaranya menekan emosi, "Nayla, kamu tahu sedang ngapain?" "Tentu saja tahu, aku lagi menggodamu." Nayla masih kesal, masih ingin menggigit. "Kenapa? Takut?" Nayla menatap menantang, yakin bahwa Simon masih sama seperti tiga tahun lalu yang sengaja mempermainkannya. "Jangan sampai menyesal." Simon menunduk, berbalik mengambil alih. Dia memperdalam ciuman, merampas udara dari mulut Nayla, sampai tubuh panasnya membakar Nayla. Suaranya serak, matanya yang hitam penuh hasrat. "Kenapa nggak kita selesaikan saja apa yang tiga tahun lalu belum selesai?" Bab 3 Nayla tertegun, jantungnya berdegup kencang. Saat Simon menunduk hendak menciumnya lagi, tubuhnya tanpa sadar bergetar. Menyadari reaksinya, gerakan Simon berhenti, mata dalamnya penuh dengan kendali diri. "Kenapa, takut?" Nayla masih belum sadar sepenuhnya. Simon menggesek hidung Nayla dengan telunjuknya, lalu terkekeh, "Cuma bercanda, jangan dianggap serius." Lalu, Nayla merasakan tubuhnya jadi ringan. Simon sudah bangkit dari tubuhnya, berjalan ke kamar mandi untuk mandi. Nayla akhirnya lega saat melihat punggung Simon. Dia menepuk dadanya pelan meski wajahnya masih panas. Barusan dia kira akan terjadi "itu"... Sebenarnya dia tidak terlalu konservatif, tapi bagaimanapun Simon adalah kakak kandung Hans. Simon dulu selalu bersikap serius padanya, jelas cuma lebih tua beberapa tahun, tapi seperti kakek muda. Perasaan ini sangat canggung. Terutama tiga tahun lalu, dia dan Simon pernah mengalami hal yang memalukan itu... Sudahlah. Nayla menggeleng, tidak mau melanjutkan pikirannya. Saat Simon selesai mandi, Nayla sudah menerima kenyataan tinggal bersamanya, lalu ikut mandi juga. Mandi, perawatan kulit, dan losion tubuh menghabiskan satu setengah jam. Dia kira Simon pasti sudah tidur. Tidak disangka, saat pintu kamar mandi dibuka, suara menggoda Simon terdengar, "Kupikir kamu mau tinggal di dalam." Mulutnya memang tetap setajam racun. Nayla sudah terbiasa. Dia berdiri di ujung ranjang lalu bertanya dengan hati-hati, "Aku... tidur di mana?" Simon mengangkat alis di wajah tampannya, "Nayla, bukankah buku nikah kita diurus secara sah?" "Iya." Nayla sempat tidak paham. "Jadi, kamu pernah lihat pasangan sah, pengantin baru tidur terpisah?" Simon berhasil membuat Nayla terdiam. Sudahlah. Nayla menyerah untuk membantah. "Sini." Simon menepuk tempat di sampingnya. Kali ini, Nayla menurut lalu berjalan mendekat. Baru saja berbaring, telinganya mendengar suara menggoda Simon, "Istri Simon, ranjang sudah kusiapkan buat menghangatkanmu." Nayla menoleh. Dia akhirnya tidak tahan saat melihat tatapan aneh Simon. "Simon, kamu selalu membenciku, kali ini mendadak memaksaku menikah, lebih baik jujur, apa maumu?" Simon tersenyum geli. "Kamu bilang aku benci kamu?" "Memangnya nggak?" Nayla yakin dalam hati. "Otakmu ini..." Simon dengan nada magnetis yang panjang sambil tersenyum miring. "Memang nggak terlalu pintar." Orang yang suka Hans bisa sepintar apa? "Apa maksud..." Belum sempat melanjutkan ucapannya, Nayla sudah dipeluk erat Simon, suara seraknya terdengar di atas kepalanya. "Patuh saja, tidur dulu." "Kamu dan aku sudah suami istri, nanti ada banyak waktu untuk saling mengenal." Suaranya terdengar lelah dan napasnya makin dalam. Nayla merasakan hangat tubuhnya saat dipeluk di dada pria itu. Nayla mendengar detak jantungnya dan mencium aromanya, membuat jantung Nayla berdetak makin cepat... ... Pada saat yang sama. Tengah malam, di ruang VIP karaoke. Hans tampak gelisah dan semalaman terus melihat ponselnya. Dulu kalau Nayla marah, paling lama setengah hari sudah akan mencari dia. Hari ini soal gagal menikah, meski Nayla marah sampai bersumpah, biasanya dalam tiga jam, Nayla akan mencari Hans untuk minta maaf. Namun, kini sudah larut, bahkan satu pesan pun tidak ada. Sungguh makin berani dia. "Kak, lagi nungguin telepon dari Kak Nayla?" Karin duduk di sampingnya, wajah penuh rasa bersalah. "Gimana kalau kamu cari Kak Nayla saja? Dia pasti sangat marah sekarang." "Semua ini salahku, aku nggak seharusnya kembali hari ini. Kalau nggak, pasti nggak akan ganggu kalian menikah, juga nggak buat Kak Nayla marah." Karin sangat paham Hans yang selalu menjaga gengsi. Makin dia bicara begitu, Hans akan makin marah. Benar saja. Hans menanggapi dengan santai, "Dia itu memang temperamennya macam putri, sebentar lagi pasti akan kembali sendiri, nggak usah dipedulikan." "Selain itu, Karin, ini bukan salahmu. Menikah bisa kapan saja. Kamu sudah lama di luar negeri dan baru balik, tentu aku harus menyambutmu." Setelah Hans bicara, teman-temannya ikut menyahut. "Benar Karin, tiga tahun ini kamu nggak ada, Tuan Muda Hans sangat merindukanmu." "Kalau bukan karena Nayla, tiga tahun lalu kamu juga nggak akan ke luar negeri." "Nayla itu terlalu kekanak-kanakan, marahnya nggak pada tempatnya. Tuan Muda Hans, kali ini kamu harus benaran memberinya pelajaran." Hans dengan wajah dingin mendengkus, "Kalau kali ini dia nggak minta maaf baik-baik pada Karin, aku nggak akan balikan dengannya." Karin langsung tersenyum bahagia. Dia merangkul lengan Hans dengan manja dan bersandar padanya. "Makasih Kak, kamu nggak tahu betapa aku takut kembali kali ini. Kalau Kak Nayla marah, mungkin aku harus pergi lagi." "Nggak mungkin, kali ini aku nggak akan biarkan dia menang. Kamu tinggal saja di Hanka, aku akan melindungimu." Hans berjanji sambil membalikkan ponselnya. Senyum di wajah Karin makin lebar, "Kak, kamu benaran baik, di keluarga ini cuma kamu yang paling sayang padaku." Jauh lebih baik daripada kakak pertama. Kakak pertama, Simon, selalu memasang wajah masam padanya, seolah dia adalah musuh Simon. ... Nayla yang berada di vila sedang mendengarkan napas tenang Simon, kemudian akhirnya ikut tertidur. Tidur kali ini lebih nyenyak dari sebelumnya. Keesokan paginya. Nayla membuka mata, langsung bertemu dengan sepasang mata yang dalam dan indah. Pemilik mata itu, Simon, juga sedang menatapnya dengan lembut. "Istrinya Simon, tidurmu semalam nyenyak?" Nayla mengangguk. "Cukup nyenyak." Setelah tidur bersama semalaman, ternyata tidak terlalu canggung. Simon tersenyum samar. "Kayaknya aku sebagai suami masih cukup membuatmu puas." Nayla mengernyit. Apa hubungannya dengan itu? Saat itu Simon sudah turun dari ranjang, dia berjalan ke kamar mandi sambil berkata, "Ada rapat pagi, aku nggak bisa sarapan denganmu." Nayla cuma menggumam setuju. Sesuatu yang tidak didapatnya selama 7 tahun pacaran dengan Hans, dia juga tidak berharap dari Simon. Apalagi, ini pernikahan kilat. ... Saat Simon keluar dari ruang ganti, dia sudah mengenakan jas rapi. Nayla yang sedang pakai perawatan kulit di meja rias, melihat bayangan Simon lewat cermin. Jas gelap itu menonjolkan auranya yang elegan, alisnya tegas, dengan aura kuat yang menyelimuti, melangkah mendekatinya. "Beli saja lebih banyak yang kamu suka, barang-barang di sana nggak perlu lagi." Simon berhenti di sampingnya, meletakkan kartu hitam di meja rias. "Nyonya Simon." Nayla mendongak untuk menatap Simon. Penampilan Simon yang murni dan terhormat membuat Nayla mengira sosoknya yang sinis dan penuh aura jahat semalam hanyalah ilusi. "Siap." Nayla menerima kartu itu dengan tenang, berarti juga menerima identitas sebagai Nyonya Simon. Bagaimanapun juga, menikah dengan salah satu dari dua bersaudara itu, tetap akan dipanggil Nyonya. Bedanya, mantan pacar kini berubah menjadi adik ipar. Hm, bisa berada satu tingkat lebih tinggi dari Hans, rasanya lumayan juga. Simon yang melihat Nayla melamun pun tiba-tiba menunduk, bibir hangatnya mendekat di telinga Nayla. "Nyonya Simon, semoga kamu cepat terbiasa dengan identitas ini. Hubungan suami istri yang kuinginkan itu bisa melakukan apa yang seharusnya dilakukan pasangan." Wajah Nayla langsung merona hingga ke telinganya… Bab 4 Untungnya suara dering ponsel berbunyi, menyelamatkan Nayla dari situasi canggung. "Halo?" Jantung Nayla berdegup makin kencang, jadi dia buru-buru mengangkat panggilan. Dari seberang terdengar suara menggoda sahabat sekaligus super model Amanda, "Gimana, Nona Nayla, kemarin sudah urus surat nikah, apa malamnya nggak sabar langsung malam pertama? Suara dari gagang telepon cukup keras. Nayla teringat Simon masih ada, jadi buru-buru menoleh. Untung Simon sudah berjalan ke pintu dan keluar. "Surat nikah sudah diurus." Nayla lega. "Belum ada malam pertama." "Setelah pacaran selama 5 tahun, paling banter cuma kayak anak ayam ciuman, bahkan nggak pernah benaran menyentuh…" Amanda menjerit, "Jangan-jangan malam setelah urus surat nikah baru ketahuan suamimu tidak bisa menghamili?" Amanda terlalu bersemangat hingga suaranya makin keras. Kebetulan Simon membuka pintu masuk, dan samar-samar mendengar kalimat terakhir, "Suamimu tidak bisa…" Seketika ekor matanya terangkat untuk melirik Nayla. Dia tidak bisa menghamili? Nayla yang mendengar suara itu menoleh ke pintu. Saat melihat Simon, napasnya langsung terhenti. Amanda tidak sadar suasana di sini, dia masih memberi saran, "Nggak bisa begitu, harus cepat ke rumah sakit periksa." "Kalau nggak bisa sembuh, kamu harus pikir baik-baik, bisa terima cinta yang hanya bersifat emosional, nggak?" Kepala Nayla panas, lalu buru-buru memutus telepon. Ujung bibirnya kaku. "Kok kamu balik lagi?" "Ambil jam." Simon segera mengambil sebuah jam mekanik dari ruang pakaian, sambil memakainya, dia berjalan ke arah Nayla. Setelah terpasang, lengannya terjulur melewati depan Nayla hingga hampir mengurungnya di dadanya. Simon menunduk, wajahnya mendekat, napas hangat terembus. "Bisa atau nggak, nanti malam coba saja, kamu pasti tahu." Tubuh Nayla menegang kaku, dia dengan tidak wajar berkedip dua kali. "Bukan aku yang bilang." Sudut bibir Simon terangkat. "Nyonya Simon, tunggu aku pulang, kita coba bisa atau nggak?" Tanpa memberi Nayla kesempatan menjelaskan, Simon melangkah keluar kamar dengan kaki panjangnya. Nayla menghela napas, lalu menelepon Amanda, "Kamu salah paham." "Salah paham apa?" "Kamu barusan tutup teleponku, marah ya?" "Cuma karena aku bilang Hans nggak bisa?" Amanda seperti bendungan jebol, pertanyaan dan keluhan meluap keluar. Nayla menarik napas dalam. "Bukan Hans, tapi Simon." Takut disalahpahami lagi, dia pun menambahkan, "Kemarin, yang nikah denganku itu Simon…" "Apa?" Amanda terkejut. Sepuluh menit kemudian… Setelah mendengar penuturan Nayla, Amanda memaki Hans dan Karin habis-habisan. Makian itu kasar sekali. Setelah melampiaskan amarah, Amanda merasa lega, lalu menghiburnya, "Memang harus gitu, biar dia menyesal, gagal jadi suami, jadikan saja adik ipar." "Nayla, kali ini seleramu meningkat pesat, Simon itu CEO Grup Jatmiko, tampan, kaya tanpa skandal, jauh lebih baik dari Hans, cuma saja…" "Dia menikahimu cuma supaya nggak dipaksa menikah dan merasa kamu cocok. Kalian tanpa dasar perasaan, dulu juga nggak akur, apa bakal..." Meski kalimat itu tidak selesai, Nayla paham maksudnya. "Nggak apa-apa, saling ambil untung saja." Nayla menunduk. Kemarin surat nikah diurus karena emosi, hari ini dia sudah berpikir jernih. Yang penting sudah memenuhi wasiat ayahnya, soal bercerai atau tidak sudah tidak penting. "Oke, kalau begitu, aku kirim kamu hadiah pernikahan, tunggu saja." "Hadiah apa?" tanya Nayla. Amanda tidak menjawab karena didesak syuting iklan, lalu dengan tegas menutup telepon. Nayla pun terdiam. Amanda memang orang super sibuk. ... Kantor pusat Grup Jatmiko. Kantor CEO di lantai teratas. Setelah rapat, Simon duduk di meja kerjanya. Duduknya tegak, setelan gelapnya menonjolkan wibawa anggun dan tekanan aura. Tanpa mengangkat kepala, dia memerintahkan asistennya, Ben, "Pilihkan aku sepasang cincin kawin, juga siapkan kontrak pemberian saham." Ben mengangguk hormat. "Baik, Pak." Dia tidak segera pergi, membuat Simon menatap sekilas. "Ada apa lagi?" Ben pun berucap, "Pak Markus tahu kamu sudah pulang, jadi meneleponku buat minta kamu malam ini pulang ke rumah lama untuk makan malam." Tatapan Simon meredup. "Pergilah, aku yang urus." Ben pun keluar kantor. Simon menelepon balik. Belum sempat bicara, dari seberang terdengar bentakan, "Makin hebat kamu, pulang ke Hanka nggak bilang padaku, orangnya juga nggak ketemu! Sekarang aku mau ketemu pun harus buat janji dulu?" "Kakek jangan marah, semalam jet lag, belum sempat kasih kabar." Jari panjang Simon dengan tulang sendi jelas mengetuk meja ringan. Pak Markus mendengkus berat, "Jangan bantah, tiga tahun ini sudah sering kukatakan." "Kalau kembali ke Hanka, harus segera menemukan pasangan, menikah, punya anak…" "Jangan sampai lupa!" Pengingat dari Kakek membuat Simon teringat sesuatu, seberkas cahaya lembut melintas di matanya. "Kakek tenang saja, aku ingat jelas." Bibir tipisnya terangkat setengah senyum. "Pasti kubuat Kakek puas." ... Hans akhirnya terbangun dari mabuk. Dengan mata setengah terbuka, tangannya meraba-raba kasur. Akhirnya dia menemukan ponsel di bawah bantal. Waktu yang tampak di layar sudah sore, membuat kantuknya hilang hingga dia bangun terduduk. Pagi ada rapat, Nayla ternyata tidak menelepon untuk mengingatkannya. Saat ini asistennya buru-buru masuk, melihat dia sudah bangun duduk di tempat tidur, asisten itu menunduk. "Pak Hans…" "Kenapa baru datang?" tegur Hans. Ponselnya ada beberapa panggilan tak terjawab yang semua dari asistennya. "Aku kira Anda ada urusan penting, jadi nggak berani ganggu." Asisten menjelaskan, dia sebenarnya datang untuk memberi tahu kalau Simon sudah pulang. Namun, sebelum sempat bicara, Hans dingin bertanya, "Nayla mana?" Asisten tertegun, lalu menggeleng. Bagaimana dia bisa tahu? Lima tahun ini, urusan rapat penting selalu Nayla yang langsung mengingatkan CEO ini, tanpa perlu sang asisten khawatir. Hal ini sudah jadi kebiasaan bagi Hans. Tidak peduli kapan pun. Bahkan saat Nayla sakit, Nayla selalu menelepon satu jam lebih awal untuk membangunkan Hans. Dalam hal kecil ini, Nayla tidak pernah mengecewakan Hans. Kali ini, cuma karena masalah mengurus surat nikah, Nayla malah sengaja bersikap dingin padanya. Tampaknya selama ini Hans terlalu memanjakannya. Dengan wajah muram, Hans menelepon Nayla. Namun baru sekali berdering, panggilan otomatis terputus. Dia coba lagi, hasilnya sama. Itu artinya nomor dia sudah diblokir! Wajah Hans makin gelap. Dia kirim pesan WA, tapi tidak terkirim, hanya muncul centang satu... Bagus! Bagus sekali! Mata Hans dipenuhi amarah dingin. Kali ini dia tidak akan memanjakan Nayla lagi. Kalau ingin balikan, harus hapus dulu sifat sok jadi putri itu. ... Matahari mulai terbenam di barat. Vila Casaya Bay. Nayla yang berada di tempat tidur sedang duduk bersila di jendela menjorok, laptop di pangkuan, jari-jarinya mengetik cepat di keyboard. Seharian dia tidak pergi ke mana pun, di rumah memikirkan naskah. Sebagai penulis skenario, naskahnya pernah difilmkan jadi drama online dua kali dengan jumlah tayangan menengah. Bukan drama hit, tetapi juga tidak gagal total. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, dia melirik nomor penelepon, lalu menjawab manis, "Kakek." "Nak, sudah lama nggak jenguk Kakek. Kemarin sudah urus surat nikah, ya? Cari waktu buat jenguk Kakek, ajak Hans juga…" Nayla terdiam beberapa detik, lalu berkata jujur, "Kakek, aku sudah putus sama Hans." Dari seberang terdengar tawa, jelas Pak Dio sudah terbiasa. "Kenapa? Dia bikin ulah lagi, bikin kamu marah, ya?" Sikap Kakek tiba-tiba membuat Nayla teringat masa lalu, hatinya terasa getir. "Kakek, kali ini benaran," ucap Nayla dengan getir. Setelah terdiam sejenak, Nayla melanjutkan, "Aku sudah putus dengan Hans, terus nikah sama Simon." Simon yang ada di luar kamar mendengar kata-kata Nayla, tangannya terhenti di udara, sorot matanya dalam. Bab 5 Ucapan Nayla membuat Pak Dio tidak percaya. Setelah memastikan lagi dan lagi, dia tertawa lebih lepas dari sebelumnya. "Bagus, bagus sudah nikah. Kapan-kapan kamu bawa dia ke sini untuk makan malam bersama Kakek ya." Nayla dengan patuh menjawab, "Baik, Kakek." Setelah menutup telepon, pintu kamar tidur terbuka. Simon memasuki kamar, melangkah lebar dengan kakinya yang panjang menghampirinya. Sikapnya terhormat dan anggun, dengan alis yang tajam dan mata yang berkilau seperti bintang, dia terlihat sangat tampan. Napas Nayla tercekat, dia mendongak menatap Simon. "Kamu sudah pulang?" Simon berdeham, suaranya serak. "Sebagai pengantin baru, aku kembali untuk menemanimu makan." Hati Nayla tiba-tiba merasa hangat. "Makasih." Dulu saat pacaran dengan Hans, dia bisa membuat Nayla menunggu sia-sia selama berjam-jam di restoran. Baru belakangan Nayla tahu kalau Hans dipanggil oleh Karin. Karin bersin saja, Hans akan dengan cemas membawanya ke rumah sakit. Nayla selalu menjadi orang yang ditinggalkannya. Dia marah, tapi Hans malah menganggapnya berlebihan dan rewel. Nayla menarik kembali pikirannya. Dia menutup laptop, lalu meletakkannya di ambang jendela, dan berdiri sambil tersenyum tipis padanya. "Tapi kamu nggak perlu repot-repot pulang buat menemaniku, nggak apa-apa." Pernikahan kilat ini memang berdasarkan kebutuhan masing-masing. "Menemanimu sudah hal yang seharusnya." Simon menatap Nayla, lalu berkata dengan lembut, "Aku sudah bilang, aku inginkan pernikahan di mana kita bisa hidup dan tidur bareng." Hati Nayla dipenuhi kehangatan, tapi dia malah tidak terlalu memikirkannya. Dia tahu bahwa Simon memang dewasa dan tenang, Simon tidak bersikap istimewa padanya. Jadi, dia mengangguk. "Oke, aku cuci tangan dulu, lalu menemanimu turun untuk makan." Nayla berjalan menuju kamar mandi. Simon mengawasinya, menatap punggungnya, tatapan matanya menjadi makin dalam. ... Di ruang makan lantai satu, mereka duduk berhadapan di meja persegi, cahaya lembut menerangi mereka. Pria tampan dan wanita cantik, itu adalah pemandangan yang sangat hangat. Ada beberapa hidangan di meja makan, semuanya adalah makanan favorit Nayla. Tidak disangka, selera mereka sama. Nayla duduk tegak, makan dengan tenang. Tiba-tiba... Simon mengambil sepotong iga goreng dan meletakkannya di mangkuk Nayla. "Makanan favoritmu, makan yang banyak." Nayla mengangkat kepala dengan bingung. "Gimana kamu tahu aku suka makan ini?" "Kalau ingin tahu, bukan hal sulit." Simon menatap Nayla dengan mata yang dalam, suaranya pelan dan seolah wajar. "Kita ini suami istri, aku akan berusaha untuk lebih mengenalmu." Ucapan ini sukses membuat hidung Nayla terasa perih. Jadi, kalau benaran ingin mengenal seseorang, ada banyak cara. Hingga kini, Hans belum pernah mengingat apa yang Nayla suka makan dan minum. Nayla alergi mangga. Namun, Hans memesankan Nayla segelas manisan mangga. Itu minuman favorit Karin. "Simon..." Suara Nayla menjadi serak. Simon menjawab dengan lembut, "Aku di sini." Nayla menatapnya lekat-lekat sejenak, lalu memberanikan diri bertanya. "Kamu nggak benci aku? Kenapa tiba-tiba kamu begitu baik padaku?" Membenci? Ternyata Nayla berpikir begitu. Intensitas di mata Simon perlahan menghilang, dia mengangkat sudut bibirnya dan tersenyum misterius. "Suami bersikap baik pada istrinya, bukannya itu wajar?" Nayla tidak mendapat jawaban, jadi dia memutuskan untuk berhenti bertanya. Namun, dia mendengar Simon berkata dengan tajam, "Lagian, kamu yang dulu terlalu bodoh, buat orang sebal." Nayla hanya diam. Seharusnya Nayla tidak bertanya. Setelah itu, mereka menyelesaikan makan malam dengan tenang, tidak ada yang berbicara lagi. Setelah selesai makan, Simon kembali ke ruang kerja. Malam harinya, Nayla membawa cangkir termos berisi teh yang dibuat oleh Bibi Dila, lalu dia mengetuk pintu ruang kerja. Mengenai urusan pulang menemui Kakek, dia ingin meminta pendapat Simon. "Masuk." Suara Simon yang dalam terdengar dari dalam. Nayla mendorong pintu, masuk, lalu meletakkan teh panas di sisi kanan meja kerjanya. "Minum tehnya." "Baik." Simon menyesapnya, lalu tiba-tiba mengangkat kelopak matanya. Sebuah senyuman menggoda muncul di matanya. "Teh murbei putih dan gugija. Apa Nyonya Simon kasih isyarat?" Wajah Nayla merona, dia teringat masalah tidak bisa menghamili, dan buru-buru menjelaskan, "Bukan, ini dibuatkan Bibi Dila." Begitu menjawab, dia menyesal lagi. 'Apa aku terlalu mengerti hal ini?' Simon melihat rona merah di wajah Nayla, seperti kelinci kecil yang mudah terkejut, begitu menggemaskan sehingga Simon tidak tega untuk terus menggodanya. Dia seolah berbelas kasih, tidak lagi melanjutkan topik itu. Simon tiba-tiba berdiri. Tubuhnya yang tinggi menjulang di depan Nayla, lalu dia memberi Nayla sebuah kotak beludru hitam. "Untukmu." "Ini?" Nayla bertanya dengan bingung, dia menerima kotak itu dan membukanya. Nayla terkejut begitu melihat cincin pasangan di dalam kotak. Suara Simon yang rendah dan magnetis terdengar, "Kemarin kita buru-buru daftarkan nikah, ini cincin lamaran pengganti." "Kamu suka?" Dia bertanya lagi dengan tatapan yang terlalu fokus. Napas Nayla menjadi cepat. Meski ini pernikahan kilat, dia tidak bisa menahan perasaan diperhatikan seperti ini. Dia mengangguk dengan kuat. "Suka." Simon menarik tangan Nayla, mengeluarkan cincin berlian wanita dan memakainya di jari manis Nayla. Ucapannya sedikit dominan. "Pakai ini mulai sekarang." Nayla menundukkan kepalanya. Dari dekat wajah Simon terlihat lebih tegas dan dalam. Nayla tanpa sadar menahan napas, jantungnya berdetak kencang. Simon tidak mendengar jawaban Nayla untuk waktu yang lama, dia kira Nayla menolak, membuat matanya menjadi sedikit suram. "Nggak mau?" Nayla dengan cepat menggelengkan kepala. "Bukan, aku mau." Wajah Simon kembali rileks. Dia mengulurkan tangan kirinya, jari-jarinya panjang dan setiap buku jarinya terlihat jelas. "Kalau gitu, Nyonya Simon, tolong pakaikan cincinnya padaku." Nayla merasa itu hal yang wajar. Dia dengan patuh mengambil cincin pria dan memasangkannya dengan lembut di tangannya. Jari-jari Simon lembut dan halus. Sentuhan kulit jari Simon ke kulitnya membuat suasana menjadi intim. Simon tiba-tiba melingkarkan tangannya di pinggang ramping Nayla, lalu menarik Nayla ke dalam pelukannya. Dia menundukkan kepalanya untuk menatap Nayla. "Sekarang, bukannya kita harus melakukan hal-hal yang seharusnya dilakukan pasangan suami istri?" Ucapan Simon membuat jantung Nayla berdetak lebih cepat. Pikirannya kosong sesaat. Setelah beberapa saat, dia baru bisa menemukan suaranya. "A-apa?" Simon mengangkat tangan, ibu jarinya mengusap pipi Nayla yang lembut. Matanya bergelora panas. "Nyonya Simon, jangan-jangan kamu belum pernah coba hubungan intim?" Dia menunduk untuk mencium Nayla. Namun, Nayla terlalu gugup hingga tubuhnya sedikit gemetar. Nayla secara naluriah mencondongkan wajah ke belakang. Api di mata Simon perlahan mereda karena penolakan Nayla, kemudian melepaskan Nayla. "Nggak apa-apa, aku bakal kasih kamu waktu." Nayla tertegun. Apa maksudnya, Simon tidak akan menyentuh Nayla tanpa persetujuan Nayla? Entah kenapa, Nayla merasa Simon yang dulu terlihat dingin dan tidak mudah didekati, sekarang malah memiliki kelembutan yang tidak bisa dijelaskan. Nayla tidak bisa memahami kenapa. Dia merasa menyesal atas kejadian barusan, lalu menunduk. "Maaf, aku belum siap." Sudut bibir Simon sedikit terangkat. Dia mengusap kepala Nayla dengan lembut. "Untuk hal sekecil ini juga minta maaf?" "Aku sudah bilang akan kasih kamu waktu, tapi jangan biarkan aku menunggu terlalu lama." Seketika, Nayla merasa dimanjakan. Ini adalah hal yang tidak pernah Nayla rasakan saat bersama Hans. Setelah beberapa saat, Nayla mengangguk patuh dan berkata, "Baik". Tiba-tiba, Nayla teringat hal penting. "Oh ya, kakekku ingin bertemu denganmu, kamu bisa menemaniku pulang untuk bertemu dengannya?" "Bisa, tapi..." Mata Simon yang dalam, mencondongkan tubuh ke telinga Nayla, suaranya magnetis dan memesona. "Nyonya Simon, bisa cium dulu?" Bab 6 Nayla yang diliputi emosi, digoda olehnya hingga wajahnya memerah. Dia menggigit bibir dalamnya. Setelah itu berjinjit untuk mencium pipi Simon. "Sudah?" Setelah satu ciuman, dia ingin pergi. Pupil mata Simon perlahan melebar, bagian bawah matanya mencair seperti es. Dia mengulurkan tangan dengan cepat untuk menarik Nayla ke dalam pelukannya. Tangan besarnya menahan bagian belakang kepala Nayla, lalu menunduk. Napasnya yang hangat dan lembap serta memikat berembus di pipi Nayla. "Mana bisa satu ciuman saja cukup?" Setelah itu, Simon menundukkan kepalanya lebih rendah. Bibirnya yang tipis hampir menempel dengan bibir Nayla yang merah muda dan berkilau, napas keduanya bercampur. Tatapan Simon sangat panas, seperti binatang buas yang mengincar mangsa untuk waktu yang lama. Nayla menahan napas. Pipi Nayla terasa panas, jantungnya terasa seperti akan melompat keluar dari dada. Saat dia hampir mati lemas, Simon akhirnya melepaskannya. Jantung Nayla berdetak kencang. Dia menatap Simon dengan mata berkabut, seperti anak kucing yang baru saja diintimidasi. Nayla pun bertanya dengan lemah, "Jadi, kamu sudah setuju?" Mata Simon terlihat menahan diri, sudut bibirnya sedikit terangkat. "Permintaan istriku tentu saja akan aku penuhi." Setelah mendengar jawaban Simon, Nayla mengalihkan pandangan dan buru-buru melarikan diri. Barusan, Nayla merasa ada panas yang asing di tubuh, seolah-olah ada reaksi... Simon melihatnya melarikan diri, lalu tertawa. Matanya menjadi makin gelap. Gadis ini, biasanya seperti anak kucing liar yang ketakutan, tetapi di dalam dirinya adalah domba kecil yang mudah diintimidasi. Penampilan luar hanyalah cara dia melindungi diri. ... Dua hari kemudian, Nayla membawa Simon kembali ke Keluarga Tanu. "Kakek." Nayla mengenakan gaun berwarna terang. Dia berdiri dengan patuh di depan Pak Dio dengan kedua kaki rapat sambil memperkenalkan, "Ini Simon yang aku sebutkan padamu." Pak Dio melihat Simon yang ada di sampingnya, tersenyum puas dan mengangguk. "Bagus, bagus." Simon tampak tampan, terhormat, dan sopan. "Kakek, ini sedikit hadiah untuk pertemuan pertama." Ben membawa hadiah-hadiah itu satu per satu, meletakkannya di meja panjang, lalu keluar. Meja itu segera dipenuhi dengan suplemen mahal dan minuman beralkohol terkenal. Jelas, dia sangat memikirkan pilihan hadiahnya. Pak Dio yang mengenakan pakaian tradisional berwarna merah tua, tertawa lepas. "Kamu dan Nayla sudah menikah, sudah jadi keluarga sekarang, nggak perlu terlalu formal." "Itu sudah seharusnya. Tata krama nggak boleh kurang." Saat berbicara, Simon menunjukkan kesopanannya. Hanya dengan satu pandangan, Pak Dio tahu bahwa Nayla telah memilih orang yang tepat kali ini. Saat itu, ayah Nayla, Yono Tanu, sakit parah. Khawatir Nayla tidak ada yang menjaga di masa depan, ayahnya menitipkannya pada teman lamanya dan juga mitra bisnisnya, Geri Jatmiko, bahkan berniat untuk menjodohkan. Tahun itu, Nayla berusia 18 tahun dan baru saja berpacaran dengan Hans. Sebelum meninggal, Yono memintanya untuk terus bersama dengan Hans. Hans bahkan berjanji di depan Yono bahwa dia akan menyayangi Nayla seumur hidup. Tak disangka, kedua keluarga tetap menikah. Namun, pasangan itu berubah dari adik menjadi kakaknya, Simon. Pak Dio menyuruh, "Nayla. pergi ke kuil leluhur, bakar dupa untuk Nenek dan orang tuamu. Kakek akan mengobrol dengan Simon." Nayla memandang Simon dengan khawatir, dia tidak segera menjawab. Kakek biasanya suka mempersulit orang. Hans sering kali dibuat susah olehnya. Hans tidak cuma takut pada Kakek, tetapi juga menolaknya. Setelah beberapa hari berinteraksi dengan Simon, meskipun terkadang dia sinis, dia adalah orang yang teliti dan pilihan suami yang baik. Apalagi ini adalah pernikahan kilat, Nayla tidak ingin merepotkannya. Pak Dio yang melihat sikap Nayla pun mengejek, "Kamu ini, kamu takut aku akan mempersulit suamimu?" Wajah Nayla langsung merona. Simon tertawa pelan. Dia menoleh dan berkata kepada Nayla, "Nggak apa-apa, aku akan mengobrol dengan Kakek. Pergi saja." Nayla baru mengangguk, lalu pergi ke kuil leluhur untuk membakar dupa, memberi penghormatan. Setelah menancapkan dupa, Nayla mengambil saputangan bersih untuk menyeka papan nama ibunya. Sejak kecil, Nayla selalu dimanjakan oleh keluarganya. Ibunya selalu mengelus kepalanya dengan lembut dan berkata penuh kasih, "Nayla adalah permata keluarga kita. Kamu harus hidup bahagia dan tanpa beban..." "Dia layak mendapatkan semua hal terbaik di dunia, dia harta berharga keluarga kita." Ya... Nayla adalah harta berharga keluarga, tapi Hans selalu membuatnya sedih. Dia tidak suka dan jijik dengannya. Nayla merasa dirinya sangat tidak berbakti. Kalau mereka melihatnya begitu rendah di depan Hans, bak anak anjing yang mengemis, mereka pasti akan sangat sedih. Nayla tidak bisa menahan matanya yang memerah karena teringat hal ini. Air mata menetes di papan nama. "Ibu, aku nggak berguna..." Nayla sangat sedih. Dia memeluk papan nama itu sambil berjongkok. Dia menangis seperti anak kecil. Karena tidak kunjung melihat Nayla kembali, Simon meminta pelayan untuk membawanya mencari Nayla, dia kebetulan melihat adegan ini. Mendengar tangisan Nayla yang begitu sedih, jantung Simon terasa sakit. Dia bergegas membantu Nayla berdiri, lalu memeluk Nayla dengan erat. "Nayla, jangan menangis, jangan sedih." Simon mengira Nayla sangat merindukan mereka, jadi dia membujuk Nayla dengan penuh kasih, "Mulai sekarang, aku akan menjagamu dengan baik, dan menyayangimu sebagai pengganti mereka, oke?" Nayla menangis lebih kencang setelah mendengarnya. Simon mengembalikan papan nama itu ke tempatnya, lalu memeluk Nayla lebih erat, merasa seperti ada kekosongan di hatinya. Sampai Nayla lelah menangis, seluruh tubuhnya bersandar pada Simon dengan lemah. Simon membungkuk dan membawanya keluar dari kuil, lalu meninggalkan Keluarga Tanu. Sebelum pergi, Simon secara khusus menyuruh pelayan untuk menyembunyikan kejadian tadi, agar Pak Dio tidak khawatir. Di dalam mobil, Nayla akhirnya tenang. Hidung dan mata Nayla merah karena menangis, dan suaranya masih bergetar. "Simon, terima kasih." Simon duduk di sisi kiri Nayla, matanya menatap Nayla dengan lembut. "Kalau kamu benaran ingin berterima kasih, berbahagialah." "Kebahagiaan, itu yang paling penting." Mendengar perkataan itu, Nayla seolah terbangun dari mimpi. Dulu, Hans berkata pada Nayla, "Nayla, nggak ada yang bisa memanjakanmu selamanya. Kamu harus belajar mengalah dan bersabar. Kalau nggak, cepat atau lambat kita akan putus." Nayla mengangguk lega. Tiba-tiba dia menyadari bahwa Simon yang dulu ditakutinya, jauh lebih baik daripada Hans. ... Setelah kembali ke vila, Nayla mandi lebih dulu. Saat Simon sedang mandi di kamar mandi, ponsel Nayla berdering. Ada panggilan dari nomor tidak dikenal dalam kota. Tanpa pikir panjang, dia menggeser layar untuk menjawab. Suara Hans yang marah terdengar. "Nayla, sudah selesai ributmu?" "Telepon diblokir, WA diblokir, bahkan kamu nggak pulang. Kamu sebenarnya maunya apa?" Setelah beberapa hari tidak berhubungan, begitu berkomunikasi lagi, Nayla sangat membenci suaranya. "Jangan lupa, kita sudah putus." "Mau aku pulang atau nggak, apa hubungannya denganmu?" Hans tertegun sejenak. Dulu, perang dingin tidak pernah lebih dari beberapa jam. Asalkan Hans sedikit membujuk Nayla, semuanya akan baik-baik saja. Sikap Nayla kali ini membuat Hans sedikit tidak tenang. Dia melunakkan suaranya. "Baiklah, aku akui nggak datang buat daftarkan pernikahan memang aku agak berlebihan." "Aku minta maaf padamu. Berhenti buat masalah, oke?" "Kamu nggak paham bahasaku? Kita sudah putus, jangan hubungi aku lagi," ucap Nayla dengan nada dingin. "Nayla, jangan keterlaluan!" bentak Hans. Nayla terlalu malas untuk menggubris Hans, jadi dia ingin menutup telepon. Pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka. Nayla mendengar suara itu dan menoleh. Dia melihat Simon keluar cuma dengan handuk yang melilit tubuh bagian bawahnya, dengan otot perut yang indah, membuatnya langsung lupa untuk menutup telepon. "Telepon dari siapa?" Simon mendekat, alisnya terangkat dingin, lalu dia melirik layar ponselnya sambil pura-pura bertanya. Mata Nayla terpaku pada otot dada Simon yang tegas, dia tidak bisa langsung bereaksi. Sebaliknya, Hans di seberang telepon mendengar suara pria itu, otaknya langsung meledak. Dia berteriak pada Nayla, "Nayla, apa ada pria di sisimu? Siapa dia?!" Simon mengambil ponsel dari tangan Nayla, kilatan cahaya dingin muncul di matanya. "Jangan buru-buru, kamu bakal segera tahu siapa aku."