Diperlakukan Bak Orang Asing Oleh Suami Anakku

Đang tải thông tin quảng bá...

Diperlakukan Bak Orang Asing Oleh Suami Anakku

GoodNovel Hoàn thành

Demi Ricardo dan putri kami, aku rela mengorbankan segalanya dan menjadi ibu rumah tangga penuh waktu. Namun, sejak kekasih lamanya resmi bercerai, semuanya pun berubah. Suamiku mulai muak padaku. Put...

Chương (1)

第1章

Demi Ricardo dan putri kami, aku rela mengorbankan segalanya dan menjadi ibu rumah tangga penuh waktu. Namun, sejak kekasih lamanya resmi bercerai, semuanya pun berubah. Suamiku mulai muak padaku. Putriku memperlakukanku bagaikan seorang pembantu. Hatiku hancur tak bersisa. Aku menandatangani surat cerai, melepaskan semua hak dan meninggalkan segalanya untuk pergi sejauh mungkin. Namun, kenapa sekarang mereka malah menyesal? Bab 1 "Bu Eva, silakan baca kembali surat perjanjian cerai ini dengan saksama. Sebulan setelah Anda menandatanganinya, hubungan pernikahan Anda akan resmi berakhir." Suara sang pengacara terdengar dari ujung telepon. Eva berdiri di kamar mandi sambil menatap kosong ke depan dan menjawab pelan, "Baik, saya mengerti. Terima kasih." Begitu menutup panggilan, dia menatap bayangan dirinya di cermin. Di pipi kanannya ada bekas luka yang cukup mencolok dan dengan luka itu, dia selalu merasa rendah diri. Tiba-tiba terdengar notifikasi dari ponsel. Eva membuka pesan dan mendapati foto keluarga yang dikirim oleh putrinya. Wajahnya terlihat tanpa ekspresi. Dalam foto itu, wajah Ricardo terlihat tampan dan penuh senyum. Senyuman itu bahkan tidak pernah ditunjukkannya selama delapan tahun pernikahan mereka. Sementara Ivany, putri yang dia besarkan sepenuh hati, tampak gembira dan matanya berbinar bahagia. Yang paling menyedihkan adalah, dalam foto yang mereka sebut sebagai foto keluarga, posisi yang seharusnya diduduki oleh sang istri bukan milik Eva, melainkan Fiona, mantan kekasih pertama Ricardo dan wanita yang selalu menjadi sosok tak tergantikan di hatinya. Foto itu adalah hasil karya Ivany, putri mereka, yang sengaja menyindir dan mempermalukan Eva. Sejak Fiona kembali setelah perceraiannya tiga bulan lalu, Eva merasa dirinya seperti orang asing di rumahnya sendiri. Di mata ayah dan anak itu, dia hanyalah bayangan yang tak lagi diinginkan. Hari ini adalah ulang tahun pernikahan kedelapan mereka dan juga ulang tahun Eva. Namun, alih-alih merayakan bersama, Ricardo malah marah besar padanya hanya karena masakannya dianggap tidak enak. Dia meninggalkan Eva sendirian di rumah, lalu pergi bersama Ivany. Eva baru mengetahui dari unggahan Fiona di media sosial bahwa Ricardo dan Ivany ternyata pergi mencarinya. Ketiganya bahkan menghabiskan hari di taman laut bersama. Beberapa video berdurasi 30 detik yang diunggah Fiona seolah-olah ditujukan khusus untuk menyakiti Eva. Namun, yang benar-benar membuat hatinya hancur adalah video terakhir. Ricardo yang selama ini sangat enggan bersentuhan dengan orang lain, malah menggendong Fiona di punggungnya, lalu menyeka sisa krim di sudut bibir wanita itu menggunakan jarinya dan memasukkannya ke mulutnya sendiri. Saat itu, Eva merasa seperti terjatuh dalam jurang es yang sangat dalam. Dia telah begitu banyak berkorban demi rumah tangga ini, bekerja keras setiap hari untuk menjaga keluarga tetap utuh, hanya untuk menyaksikan semuanya diberikan kepada orang lain. Betapa menyedihkannya dirinya. Eva terduduk lemas di kursi sambil menatap kue ulang tahun rasa stroberi yang hampir meleleh di depannya. Jiwanya perlahan-lahan tenggelam dalam kekecewaan. Waktu terus berjalan. Pukul tiga dini hari, lampu rumah tiba-tiba menyala. Ricardo dan Ivany akhirnya pulang. Begitu melihat Eva, sebersit rasa jijik melintas di mata mereka. Ricardo melepas dasinya dan melemparkannya ke arah Eva. "Kamu tahu aku nggak suka jahe, tapi kenapa masakan tadi malah banyak sekali jahenya? Lain kali pakai otak sedikit!" Setelah itu, dia melemparkan sebuah kantong kado ke arah Eva seolah-olah dia sangat bermurah hati. "Itu hadiah ulang tahunmu." Eva melirik isi tas itu dan hanya bisa tertawa dalam hati. Hadiah itu hanyalah suvenir yang tidak bernilai, yaitu sepasang anting kecil berbentuk lebah. Sedangkan kalung kristal angsa bertatahkan berlian yang mahal itu sudah dipamerkan Fiona di media sosialnya sejak tadi sore. Melihat Eva tetap diam dan tidak bereaksi, Ricardo langsung mengernyitkan alis dan suaranya penuh amarah. "Aku setiap hari kerja banting tulang dari pagi sampai malam, sementara kamu enak-enakan di rumah. Sudah nggak bisa bantu apa pun, sekarang malah berani pasang wajah masam segala! Kalau aku tahu kamu bakal berubah jadi seberantakan ini dan nggak feminin sama sekali, aku pasti nggak akan pernah menikahimu!" "Malam ini kamu tidur di halaman! Selama belum sadar diri dan tahu salahmu, jangan harap aku akan maafkan kamu!' Usai berkata demikian, Ricardo langsung berbalik dan masuk ke kamar, tanpa menoleh sedikit pun. Sementara itu, Ivany menatap Eva dengan pandangan jijik, lalu mengambil kue stroberi yang sudah meleleh di meja dan melemparkannya ke kepala Eva. Wajahnya tampak sangat puas saat dia berseru sombong. "Aku dan Tante Fiona hari ini senang banget main di taman laut! Kamu itu cuma pembantu di rumah ini! Cepat cerai sama papaku dan keluar dari sini! Aku mau Tante Fiona jadi mamaku! Aku nggak mau punya Mama jelek kayak kamu!” Eva terpaku menatap putrinya. Anak yang selama ini dia rawat dengan penuh cinta sejak kecil, kini mengucapkan kata-kata sejahat itu padanya, seolah-olah dia hanya sebuah sampah. Hatinya benar-benar hancur. Ternyata selama ini, dia telah membesarkan seorang pengkhianat yang tidak tahu berterima kasih. Ivany yang dulu, adalah anak yang manis, penurut, dan sangat menyayangi dirinya. Semua berubah sejak Fiona kembali tiga bulan lalu. Sejak mereka beberapa kali bertemu, sikap Ivany terhadapnya berubah total. Eva tahu, pasti Fiona telah mengadu domba hubungan ibu dan anak itu. Dia tidak peduli dengan ucapan dari orang luar seperti Fiona. Namun, yang membuat hatinya benar-benar dingin adalah kenyataan bahwa semua cinta dan pengorbanannya selama bertahun-tahun ... ternyata tidak mampu menandingi kehadiran Fiona selama tiga bulan saja. Hatinya semakin dipenuhi kesedihan. Eva merasa dirinya seperti seorang yang menyedihkan dan tidak berharga. Dia dibuang oleh anak yang telah dia besarkan dan diabaikan oleh suami yang semakin hari semakin dingin dan penuh kebencian. Bahkan Ricardo juga terang-terangan membiarkan sikap putri mereka yang tak lagi menganggapnya sebagai seorang ibu. Dengan ekspresi datar, Eva berdiri dan melangkah ke kamar mandi. Dia membersihkan krim kue yang masih menempel di kepalanya. Saat itu juga, hatinya telah mati rasa. Dia tidak lagi menaruh harapan apa pun pada ayah dan anak itu. Dari bawah wastafel, Eva mengeluarkan sebuah map berisi dokumen. Dia mengambil pulpen, lalu membubuhkan tanda tangannya tanpa ragu. Beberapa hari yang lalu, setelah pertengkaran karena Fiona, Ricardo sempat melemparkan surat cerai kepadanya dengan sikap congkak. Dia sangat yakin bahwa Eva begitu mencintainya dan anak mereka, jadi mustahil Eva akan berani menceraikannya. Dengan pemikiran itu, Ricardo merendahkan Eva dengan berbagai cara sebagai bentuk hiburan baginya. Demi mempertahankan rumah tangga yang hampir runtuh, Eva menahan semua luka dan penghinaan, bahkan sampai rela berlutut dan memohon dengan sangat rendah hati agar Ricardo memaafkannya. Namun hari ini, dia akhirnya benar-benar tersadar. Hati manusia sangat kejam. Seberapa besarnya pun dia mengalah dan mengorbankan diri, semuanya tetap sia-sia. Kalau begitu, biarlah dia lepaskan semuanya. Baik itu suami maupun putrinya, dia tidak menginginkannya lagi semuanya .... Bab 2 Eva mengenakan jaket tipis, lalu membaringkan diri di bangku panjang di halaman rumah. Musim gugur telah memasuki puncaknya, udara malam semakin dingin dan suhu turun drastis. Angin malam berembus, membuat tubuhnya menggigil. Eva memeluk erat tubuhnya sendiri, mencoba menghangatkan diri dengan jaket yang melekat di tubuhnya. Setiap kali mereka bertengkar, Ricardo selalu menggunakan cara ini untuk "menghukum" Eva. Katanya agar dia bisa belajar dari kesalahan. Namun Eva tahu, semua itu hanyalah bentuk lain dari penghinaan. Akan tetapi, malam ini hatinya benar-benar tenang. Tidak ada lagi gejolak ataupun amarah. Dia hanya bertanya dalam hati, untuk apa semua pengorbanan dan keteguhannya selama ini? Apakah itu semua layak diperjuangkan? Saat rasa kantuk mulai menyerang dan matanya hampir terpejam, tiba-tiba sepasang tangan menyusup ke dalam pakaiannya. Eva langsung tersentak bangun dan mendapati Ricardo menatapnya dengan mata penuh hasrat. Napas panasnya terasa di wajah Eva, tetapi hati wanita itu tetap tenang. Kalau ini terjadi dulu, Eva pasti akan menyambutnya dengan hangat, berusaha menyenangkan suaminya dan memenuhi keinginannya tanpa ragu. Namun malam ini, rasa jijik justru menyeruak dalam dirinya. Dia menolak dan tubuhnya menegang. Ricardo pun menyadari perubahan sikapnya dan mengernyitkan alis. "Kamu kenapa?" Eva menepis tangannya dan menjawab seadanya, "Lagi nggak enak badan." Sikapnya yang dingin dan enggan membuat Ricardo murka. "Kamu masih ngambek soal Fiona? Sudah aku bilang berkali-kali, sekarang aku dan dia cuma teman. Bisa nggak pikiranmu jangan sesempit ini?" Eva tidak tertarik untuk meladeni omelannya. Dia memejamkan mata, tidak berniat membalas sepatah kata pun. Melihat Eva berani diam dan mengabaikannya, amarah Ricardo langsung menyala. "Dasar nggak tahu diri! Fiona memang benar, aku terlalu baik sama kamu. Sekarang malah berani melawan, ya? Lihat saja nanti, aku masih mau sentuh kamu lagi nggak!" Dengan suara pintu dibanting keras, Ricardo menghilang ke dalam rumah. Eva perlahan membuka mata. Dulu, setiap kali menyadari Ricardo sedang marah, dia akan langsung merendahkan diri dan memohon maaf meski bukan salahnya, asalkan rumah tangga mereka tetap utuh. Namun sekarang, dia sudah memutuskan untuk melepaskan semuanya. Karena itulah, dia tidak perlu lagi peduli. Keesokan paginya. Saat Eva membuka mata, dia tidak lagi bergegas seperti biasanya untuk menyiapkan sarapan bergizi bagi suami dan putrinya. Tidak ada lagi roti panggang hangat, telur rebus setengah matang, atau jus buah segar yang ditata rapi di atas meja makan. Kali ini, dia hanya membuka kulkas dan mengambil sebungkus susu, lalu duduk dengan santai sambil menikmatinya perlahan. Surat cerai sudah dia tandatangani. Sekarang, yang perlu dia lakukan hanyalah menunggu semuanya sah. Setelah itu ... kebebasan sepenuhnya akan menjadi miliknya. Memikirkan hal itu, sudut bibir Eva terangkat. Tanpa sadar, sebuah senyuman muncul di wajahnya. Dia tidak menyangka, melepaskan semuanya ternyata terasa begitu ringan dan menyenangkan. Justru kini dia sadar, betapa bodohnya dirinya dulu telah memaksakan diri mempertahankan sesuatu yang jelas-jelas tak lagi layak diperjuangkan. Di media sosial, Fiona mengunggah sebuah video berdurasi lima menit disertai dengan kalimat manis. [ Di saat aku paling membutuhkannya, dia selalu hadir di sisiku. Ditemani oleh orang yang kita cintai itu memang hal terindah. ] Dalam video tersebut, terlihat Ricardo sedang mengenakan celemek dan sibuk memasak di dapur dengan senyum cerah menghiasi wajahnya. Dia terlihat seperti seorang suami idaman yang penuh kasih. Eva merasa tertegun. Ricardo biasanya selalu mengeluh soal bau minyak di dapur. Pria yang selama bertahun-tahun tidak pernah mau memasak untuk dirinya sekali pun, kini malah muncul di dapur rumah Fiona dan memasakkan sesuatu untuk wanita itu dengan bahagia. Eva hanya melirik sekilas, lalu melempar ponselnya ke sofa. Dia bahkan tidak peduli bagaimana video itu berakhir. Entah Ricardo sengaja ingin menyakiti hatinya karena penolakan semalam atau dia memang sudah tidak sabar ingin menyingkirkan Eva demi bisa bersama kekasih lamanya ... semua itu tidak penting lagi. Jika Ricardo tiba-tiba datang dan meminta cerai, Eva akan menyetujuinya tanpa berpikir panjang. Tak lama kemudian, Ivany turun dari lantai atas. Tanpa menyapa ibunya sedikit pun, dia langsung menuju meja makan. Namun ketika tidak mendapati sarapan seperti biasanya, dia melotot ke arah Eva. "Kamu berani-beraninya malas hari ini? Cepat masak! Aku lapar!" Eva menatapnya tanpa ekspresi. Dia tahu, dirinya tidak punya posisi sama sekali dalam hati putrinya. Bahkan, kedudukannya mungkin lebih rendah dari seorang pembantu. Memikirkan semua itu, Eva hanya bisa tersenyum sinis. Tatapannya terlihat asing saat menatap Ivany. "Lapar? Di dapur masih ada apel dan roti. Makan saja itu." Ivany tertegun sejenak. Dia belum pernah melihat ibunya bersikap begitu dingin dan tak acuh. Sekilas, muncuk perasaan tidak nyaman menyelinap dalam hatinya. Namun, dia buru-buru menepisnya. Ivany kembali menunjukkan senyum congkak, lalu berkata dengan penuh ejekan. Dalam hatinya telah memikirkan cara untuk menghukum ibunya. "Masak itu memang tugasmu. Kamu tahunya cuma ongkang-ongkang kaki setiap hari dan hidup enak dari uang Papa. Kalau bukan karena Papa, kamu pasti sudah jadi gelandangan di jalan! Cepat masak! Kalau nggak, aku bakal ngaduin kamu ke Papa!" Eva menatapnya beberapa saat, lalu menjawab dengan datar, "Cari Fiona saja sana. Bukannya kamu ingin dia jadi ibumu?" Tanpa menunggu reaksi Ivany, Eva melangkah masuk ke kamar. Dia membuka lemari dan menatap pakaian-pakaian yang tersusun rapi. Semuanya adalah hadiah dari Ricardo, tetapi itu pun hanya dari tahun-tahun awal pernikahan mereka. Sudah bertahun-tahun belakangan ini Ricardo tidak pernah lagi membelikan apa pun untuknya. Uang hasil kerjanya pun sepenuhnya dipegang sendiri oleh Ricardo. Untuk kebutuhan rumah tangga, Eva hanya diberi uang belanja secukupnya. Bila membutuhkan sesuatu, Eva harus meminta dan setiap permintaannya selalu dianggap boros, tidak tahu diri, dan tidak pandai mengatur keuangan. Memikirkan hal ini, Eva merasa sangat konyol. Hadiah yang diberikannya pada Fiona mencapai puluhan juta, sedangkan saat Eva meminta beberapa ratus ribu untuk mengganti oven saja dianggap boros oleh Ricardo. Eva memasukkan pakaian-pakaian itu ke dalam kantong tanpa ekspresi sedikit pun, lalu membawanya turun untuk dibuang. Begitu keluar dari pintu, dia berpapasan dengan Ricardo yang baru pulang. Di tangannya masih tergenggam seikat bunga mawar. Eva sama sekali tidak menggubris kehadirannya. Dia berjalan lurus menuju tong sampah dan membuang seluruh isi kantong berisi pakaian ke dalamnya. Karena kantongnya transparan, isi di dalamnya terlihat jelas. Ricardo langsung mengenali pakaian-pakaian itu sebagai hadiah darinya untuk Eva. Begitu mendekat, ekspresinya berubah kesal dan dia berseru, "Apa maksudmu ini? Itu semua pakaian yang aku belikan untukmu! Kenapa kamu buang begitu saja? Fiona tadi malam telepon aku mendadak karena demam, makanya aku pergi menemuinya. Kamu jangan ...." Eva memotong ucapannya karena malas mendengarkan lebih lanjut. "Pakaiannya sudah kekecilan. Aku bahkan sudah lama nggak bisa pakai!" Ekspresinya tetap datar, tatapannya dingin dan tampak asing. Di hati Ricardo timbul perasaan ganjil yang tak bisa dijelaskan dan samar-samar merasa tidak tenang. Bab 3 Setelah kembali ke dalam rumah, Ricardo meletakkan seikat mawar merah di atas meja. "Suasana hatiku memang lagi buruk semalam, tapi kamu juga nggak seharusnya sempit hati dan membuat Fiona malu. Bunga ini kubelikan khusus untukmu saat pulang tadi. Nanti kamu minta maaf sama Fiona dan urusan ini selesai. Dia bukan orang yang pendendam, pasti akan memaafkanmu!" Sudah lama Ricardo tidak memberikan apa pun kepada Eva dan dia yakin Eva akan sangat tersentuh kali ini. Namun, Eva hanya menatap mawar yang kelopaknya sebagian sudah mulai mengerut itu dengan senyum dingin di dalam hati. Apakah dirinya serendah itu? Sampai-sampai harus dihina seperti ini? Bukankah ini bunga yang sama dengan yang diberikan Ricardo pada Fiona? Eva sudah melihatnya di video yang diunggah Fiona hari ini. Barang yang sudah diberikan pada orang lain, kini dilempar padanya seperti pemberian murahan. Apa dia dianggap tak lebih dari tempat sampah? Eva hanya duduk diam, tak mengucapkan sepatah kata pun. Ricardo langsung murka. "Jangan keterlaluan! Aku sudah kasih jalan keluar untukmu, tahu diri sedikit. Kalau terus bikin ribut, kamu juga yang rugi!" Eva menutup mulut dan hidung dengan tangannya, lalu berkata dengan nada menolak, "Aku alergi serbuk bunga." Ricardo tertegun mendengar itu, lalu kemudian dia baru teringat bahwa memang Eva punya alergi terhadap bunga. Dia bukan tipe orang yang biasa meminta maaf. Saat masih sibuk berpikir hendak memberi penjelasan apa, matanya malah melihat sorot dingin Eva. Kemarahannya pun langsung meledak. Ricardo merasa dirinya telah cukup menghargai Eva, tetapi Eva malah berani menunjukkan sikap seperti itu, sehingga dia pun naik pitam. Dengan amarah yang meluap, dia meraih buket mawar di atas meja dan melemparkannya ke wajah Eva. Sekali demi sekali dilemparkannya. Tak ada sedikit pun niat untuk menahan diri. Eva menunduk dan menutupi wajahnya dengan tangan, tetapi tetap saja menghirup banyak serbuk bunga. Ruam-ruam merah muncul di kulitnya. Wajahnya memerah dan napasnya mulai sesak. Ricardo mencibir sinis saat melihat kondisi Eva. "Kamu pikir dengan bersikap seperti itu aku akan percaya? Menurutmu aku ini sebodoh apa? Lihat wajahmu yang jelek itu, mana bisa dibandingkan sa,a Fiona?" "Aku belum menceraikanmu saja sudah bentuk belas kasih terbesar dariku! Jangan jadi orang yang nggak tahu diri. Kalau suatu hari nanti aku menendangmu keluar, mau kamu berlutut memohon pun tetap nggak akan ada gunanya!" Di saat itu, Ivany pun berlari menghampiri dan memunguti kelopak bunga yang berserakan di lantai, lalu melemparkannya ke wajah Eva sambil bertepuk tangan. "Seru banget! Papa bantu Tante Fiona balas dendam!" Melihat ekspresi ceria putrinya, Ricardo menggandeng tangannya. Dia sama sekali tidak peduli pada Eva yang masih tergeletak di lantai dan hanya meninggalkan sebuah ancaman, "Anggap ini pelajaran buatmu. Kalau berani ulangi lagi, pikir baik-baik apa akibatnya!" Ayah dan anak itu pun langsung pergi. Tak ada satu pun dari mereka yang peduli apakah Eva masih hidup atau tidak. Dengan napas tersengal dan dada sesak, Eva berjuang sekuat tenaga menyeret tubuhnya ke arah sofa. Dengan sisa-sisa kekuatannya, dia meraih ponsel dan menekan nomor sahabatnya, Martha. Saat membuka mata lagi, Eva sudah berada di rumah sakit. Meski dia sudah memutuskan untuk menyerah pada semua yang menyakitinya, pikirannya tetap diliputi rasa pedih saat mengingat perlakuan Ricardo. Berulang kali dia meyakinkan dirinya sendiri, tahan sedikit lagi, sebentar lagi semuanya akan berakhir. Sebentar lagi dia akan terbebas dan menyambut hari yang baru. Martha masuk ke kamar rawat sambil menyilangkan tangan dan berdiri di depan jendela sambil memandang ke arah ranjang. "Kamu hampir mati karena alergi serbuk bunga. Aku telepon Ricardo, lalu kamu tahu nggak gimana selanjutnya? Bukan cuma nggak peduli, dia malah ngomong macam-macam yang menyakitkan. Mana ada suami macam dia?!" Eva tersenyum getir. "Begitu surat cerai itu sah, kami nggak akan punya hubungan apa pun lagi." Ucapan itu cukup membuat Martha terkejut. Namun, dia segera mengangguk mantap. "Bagus. Akhirnya kamu sadar juga. Dari dulu aku sudah bilang kamu harus cerai, tapi kamu terus bertahan. Sekarang lihat, tubuhmu hancur begini." Eva tidak menjawab. Dia hanya kembali berkata dalam hatinya, tahan sedikit lagi. Sebentar lagi semuanya akan selesai. Sebentar lagi, dia akan keluar dari neraka ini. Bab 4 Eva dirawat di rumah sakit selama satu minggu penuh, tetapi Ricardo sama sekali tidak muncul. Bahkan satu panggilan telepon pun tidak dia berikan. Sambil mengupas apel, Martha terus menggerutu, "Ricardo itu benar-benar nggak pantas jadi suami. Keputusanmu buat cerai itu sudah sangat tepat. Tapi kamu nggak boleh menyesal lagi, jangan sampai balik lagi dan berkorban demi dia, paham?" Eva pernah beberapa kali bertengkar hebat dengan Ricardo. Bahkan sempat terpikir untuk bercerai. Namun entah mengapa, setiap kali selalu berakhir dengan dia yang berlutut minta maaf dan menyalahkan diri sendiri. Mengingat semua itu sekarang, Eva merasa dirinya sungguh menyedihkan dan konyol. "Nggak akan. Setelah bertahun-tahun begini ... bahkan kalau aku pelihara anjing pun pasti sudah punya rasa sayang. Tapi bagi Ricardo, mungkin aku bahkan nggak sebanding dengan seekor anjing." Mendengar Eva berkata seperti itu tentang dirinya sendiri, Martha merasa iba. "Jangan pikirin yang jelek-jelek. Laki-laki itu banyak, dunia ini bukan cuma punya Ricardo seorang." Hari kedelapan, Eva akhirnya keluar dari rumah sakit. Namun begitu teringat bahwa dia harus kembali ke rumah yang selama ini membuatnya sesak, dadanya langsung terasa berat. Begitu membuka pintu, aroma busuk menyambutnya. Bau makanan basi yang menyengat hidung. Di lantai, seikat mawar yang dulu dilemparkan padanya sudah mengering dan menghitam. Eva langsung mengerti, Ricardo pasti membawa putrinya pergi menemui Fiona. Itulah cara yang selalu dipakai Ricardo setiap kali mereka bertengkar. Dia pergi bersama Ivany ke sisi perempuan lain dan membiarkan Eva merasakan kehampaan dan luka yang dalam di rumah. Ricardo tahu betul bahwa Eva sangat mencintai dirinya dan anak mereka. Semakin dia memperlakukan Eva seperti itu, semakin dalam penderitaan yang ditanamkan. Bayangan wajah kasar Ricardo hari itu muncul kembali di benak Eva. Sosok itu terasa begitu asing. Bukan pria yang dulu dia kenal. Wajah itu benar-benar menakutkan. Tiba-tiba, suara notifikasi ponsel mengalihkan pikirannya. Eva mengambil ponsel dan melihat notifikasi pesan masuk. Itu dari Fiona. Isinya adalah sebuah cuplikan video berdurasi singkat. Dalam video itu, Ivany sedang lahap menikmati es krim dengan wajah puas. "Tante Fiona, kamu mau jadi ibuku nggak? Soalnya si jelek itu nggak pernah ngasih aku makan yang enak. Tiap hari cuma suruh aku makan makanan sampah. Aku sampai mau muntah. Kamu jauh lebih baik, bisa kasih aku makan apa pun yang aku mau!" "Dia datang ke pertemuan wali murid, tapi bajunya lusuh sekali, di wajahnya juga ada bekas luka. Aku sampai malu sendiri untuk ngaku kalau itu mamaku. Jadi aku bilang ke teman-teman, dia cuma pembantu di rumah. Aku nggak mau punya ibu yang menyedihkan kayak dia!" Di dalam video itu, Fiona tampak begitu puas. Namun tetap saja, dia memasang wajah manis yang penuh dengan tipu daya dan bertanya, "Tapi, aku mana bisa dibandingkan sama ibumu? Dia jauh lebih hebat dari aku. Kalau nggak, mana mungkin ayahmu menikahinya dulu?" Ivany mendongak dengan wajah jijik. "Dia itu jelek sekali! Mana bisa dibandingin sama Tante Fiona? Papa cuma kasihan sama dia, makanya nikahin dia!" "Luka di wajahnya itu gara-gara selamatkan aku. Coba saja waktu itu dia langsung ketiban rak kayu dan mati. Biar nggak nyangkut terus di rumahku dan nggak mau pergi!" Eva menarik napas dalam-dalam, dadanya terasa seperti ditusuk. Meskipun dia sudah lama berhenti berharap apa pun dari anaknya, tetap saja kata-kata itu membuat hatinya terasa sangat dingin. Semua kebaikan dan ketulusan yang pernah dia curahkan, ternyata semua hanyalah bahan olok-olok yang memalukan di mata anaknya. Tak lama setelah itu, Fiona mengirimkan sebuah pesan teks pendek. [ Mau itu anakmu ataupun suamimu, mereka semua sangat membencimu. Kamu pikir kamu pantas bersaing denganku? ] Eva mematikan layar ponselnya. Dia tidak membalas ataupun bereaksi. Dia menarik napas panjang. Keputusannya sudah bulat. Jika dia telah memutuskan untuk meninggalkan segalanya, tidak ada lagi alasan untuk bersedih atau kecewa terhadap orang-orang yang bahkan tak layak menerima air matanya. Masih ada belasan hari lagi hingga surat perceraian mereka resmi berlaku. Eva memanfaatkan waktu yang tersisa itu dengan pergi ke wilayah Tibet bersama sahabatnya, Martha. Mereka mengunjungi biara demi biara untuk berziarah dan berdoa. Dari tubuh hingga batinnya, Eva seperti melalui proses penyucian. Semua yang dulu begitu pedulikan, kini terasa sangat kecil dan tidak berarti. Perjalanan itu seperti membawa ketenangan ke dalam dirinya. Hati yang selama ini tak pernah menemukan tempat berlabuh, akhirnya mendapatkan ketenangannya sendiri. Selama waktu itu, Ricardo tidak pernah menghubunginya sekali pun. Eva tahu betul, Ricardo sedang mencoba menghukumnya dengan sengaja bersikap dingin dan mengabaikannya. Dulu, perlakuan semacam itu akan membuat hatinya hancur. Dia merasa seperti orang paling kesepian di dunia, seolah-olah seluruh semesta membuangnya. Namun sekarang, hatinya tetap tenang. Tidak ada lagi luka untuk sepasang ayah dan anak itu. Mereka tidak lagi memiliki tempat dalam hidupnya. Sepulang dari perjalanannya ke Tibet, Eva tidak langsung pulang ke rumah. Dia malah pergi ke sebuah restoran hotpot. Dulu, dia selalu merasa kesepian saat makan sendirian di luar. Namun kini, dia benar-benar menikmati momen itu. Dengan wajah penuh kepuasan, dia menyantap irisan daging domba yang baru saja direbus. Namun, saat matanya tanpa sengaja melirik sekilas sebuah meja di kejauhan, ekspresinya langsung berubah. Bab 5 Ricardo duduk bersama Fiona dan Ivany, dikelilingi beberapa orang lain yang tidak dikenali oleh Eva. Hari ini adalah ulang tahun Fiona. Di kepalanya terpasang topi ulang tahun dan dia duduk manja bersandar di sisi Ricardo. Orang-orang di meja itu bercanda dengan riang. "Pak Ricardo dan Fiona benar-benar pasangan serasi! Pria tampan dan wanita cantik, bagaikan jodoh dari surga. Kira-kira kapan nih kami bisa minum di pesta pernikahan kalian?" Fiona tersipu malu, sesekali melirik Ricardo dengan tatapan manja. Melihat Ricardo tidak menyangkal apa pun, bahkan tampak mengiyakan dengan tenang, senyum di wajah Fiona semakin semringah. Meja itu dipenuhi gelak tawa dan suasana hangat. Tak satu pun dari mereka menyadari bahwa tak jauh dari sana, Eva sedang duduk seorang diri dan diam-diam menyaksikan semuanya. Namun, hati Eva tetap tidak terpengaruh. Tak ada lagi rasa sakit ataupun kemarahan. Ketiga orang itu memang terlihat seperti satu keluarga yang harmonis. Ketika Fiona menoleh ke belakang, dia menangkap sosok Eva. Dengan sengaja, Fiona memiringkan kepala dan bersandar manja di bahu Ricardo, lalu berkata dengan suara manja, "Terima kasih, kamu sudah memberiku ulang tahun yang tak terlupakan." Ricardo menatapnya dengan penuh kelembutan. "Di antara kita, nggak perlu pakai kata terima kasih." Saat Ricardo berbicara, Fiona berpura-pura mabuk, lalu melingkarkan tangannya ke leher pria itu. Matanya setengah tertutup, penuh hasrat dan kemesraan. bOrang-orang di sekitar mulai bersorak riuh, menggoda dan ikut membuat suasana semakin meriah. Ricardo tak ragu sedikit pun, dia langsung menunduk dan mencium Fiona. Ciuman yang panjang dan penuh gairah. Dia memeluk Fiona erat, seolah dunia hanya milik mereka berdua. Sorak-sorai dan siulan dari teman-teman di meja semakin keras menyemangati mereka. Sementara itu, Eva hanya menyaksikan semuanya dengan tatapan datar. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, dia bangkit dan beranjak pergi. Namun tanpa sengaja, dia menyenggol sebuah gelas di meja. Gelas itu jatuh ke lantai dan pecah dengan suara yang cukup nyaring sehingga menarik perhatian semua orang di restoran. Ricardo tidak sengaja melirik ke arah suara pecahan gelas itu dan seketika matanya membelalak. Dia terpaku sesaat, terlihat jelas ada kegugupan melintas di sorot matanya. Dia tidak menyangka bahwa Eva akan berada di tempat itu juga. Ketika dia menatap ke arah kepergian Eva, Fiona yang menyadarinya menahan rasa cemburu di hatinya. Dia pura-pura bersikap perhatian dan berkata dengan lembut, "Kak Ricardo, sepertinya tadi itu Eva, ya? Apa dia melihat kita barusan? Maaf, tadi aku agak mabuk, mungkin dia salah paham. Bisa jadi dia akan marah dan mulai ribut lagi sama kamu." Ricardo mendengus pelan, lalu berusaha bersikap tenang. "Lalu kenapa kalau dia lihat? Kalau kita memang ada apa-apa, masa iya kita akan tunjukkan di depan banyak orang?" Ricardo berbicara seakan tidak peduli, lalu menenggak minumannya dengan santai. Namun saat pergi ke toilet, dia diam-diam mengirim pesan ke Eva. [ Kamu lagi makan hotpot? ] Kalau itu dulu, Eva pasti akan langsung membalas dalam satu menit setelah pesan dikirim. Namun sampai acara makan selesai, balasan itu tak pernah datang. Ricardo pulang ke rumah bersama Ivany. Saat sedang berganti sepatu di pintu, dia sudah bersiap-siap mengira Eva pasti akan menangis, marah, atau paling tidak protes dengan nada tinggi. Namun ketika masuk ke ruang tamu, dia malah melihat Eva sudah duduk sambil meringkuk di sofa. Dia tidak mengatakan sepatah kata pun, bahkan tak menoleh sedikit pun ke arah Ricardo. Eva yang seperti ini terasa sangat berbeda. Bab 6 Setelah acara makan malam berakhir, Ricardo menolak halus ajakan Fiona untuk mampir ke rumahnya dan minum teh. Dalam hati, dia merasa bersalah. Awalnya, dia berniat pulang untuk menghibur Eva agar luluh. Namun tak disangka, Eva sama sekali mengabaikannya. Seketika, kemarahan meledak dalam dirinya. "Hari ini ulang tahun Fiona! Aku dan Ivany cuma menemaninya merayakan ulang tahun! Tapi kamu malah menguntit ke sana?! Luar biasa sekali kamu, Eva. Nggak tahu malu!" Eva tetap tidak menoleh ataupun menatapnya sama sekali. Di matanya, pria ini benar-benar berengsek luar dalam. Jelas-jelas dia yang berselingkuh dengan wanita lain, tapi malah melemparkan kesalahan pada dirinya. Pintar sekali melempar tanggung jawab. Ricardo menatap Eva tajam dan alisnya berkerut rapat. Kalau ini dulu, hanya dengan menunjukkan sedikit kekesalan saja, Eva pasti sudah buru-buru minta maaf dan menunduk mengaku salah. Bahkan meski yang salah adalah Ricardo, dia bisa seenaknya marah dan memanipulasi Eva dengan mudah. Namun sekarang, cara itu tak lagi mempan. Perubahan sikap Eva ini membuat Ricardo merasa tidak tenang. Ada kegelisahan yang merayap diam-diam di dadanya, membuatnya gusar tanpa sebab. "Sudah berapa kali aku harus bilang? Aku dan Fiona itu cuma teman, nggak ada hubungan apa-apa! Bisa nggak sih kamu fokus ke diri sendiri, jangan terus awasi aku?!" Eva masih tak menatapnya, lalu berkata, "Kamu benar. Aku memang seharusnya mulai fokus pada diriku sendiri." Ucapan itu benar-benar membuat Ricardo murka. Di matanya, Eva sedang sengaja mengabaikannya dan menyindirnya dengan kata-kata sinis seperti ini. Dalam ledakan emosi, Ricardo membalikkan piring buah dan gelas di atas meja, semuanya jatuh dan berantakan di lantai. Namun, Eva tetap tidak bergerak. Dia hanya duduk tenang sambil menonton televisi seolah tak terjadi apa-apa. Wajah Ricardo memerah, matanya menyala penuh kemarahan. Dia mengepalkan tangannya, berusaha menahan diri. "Aku kerja keras setiap hari dari pagi sampai malam! Sementara kamu enak-enakan di rumah hidup mewah seperti nyonya besar. Masih belum cukup juga? Kalau bukan karena aku kasihan sama Ivany dan nggak mau dia kehilangan ibunya, aku sudah ceraikan kamu, dasar perempuan jelek!" Lagi-lagi, dia menggunakan trik lama dengan memanipulasi mental untuk mengendalikan Eva. Namun, Eva hanya menjawab datar, "Aku sudah bilang dengan sangat jelas. Aku nggak peduli dan juga nggak marah." Ucapannya itu membuat Ricardo merasa seperti emosinya tidak bisa tersalurkan. Meski begitu, dalam benaknya yakin bahwa Eva hanya sedang berpura-pura. Apa pun isi hati wanita itu, Ricardo sudah pasti tidak akan membiarkan hal ini berlalu begitu saja. "Masalah Fiona ... kamu harus minta maaf langsung padanya dan minta dia memaafkanmu. Kalau nggak, kamu akan terus tidur di halaman!" Usai berkata demikian, Ricardo naik ke lantai atas dengan langkah penuh amarah. Eva tetap duduk di tempat tanpa bereaksi. Di hatinya, tidak ada lagi sedih ataupun marah, yang tersisa hanya ketenangan. Tak lama kemudian, Ivany berlari turun dari lantai atas dan berhenti di hadapan Eva. "Kamu bikin Papa marah lagi! Kamu jelek, nggak pantas jadi istri Papa. Aku maunya Tante Fiona jadi mamaku! Kamu cepat pergi dari rumah ini!" Eva menatap Ivany dengan tenang dan tersenyum tipis. "Tenang saja. Tante Fiona kesayanganmu itu sebentar lagi akan jadi ibumu." Usai bicara, dia berbalik dan melangkah ke arah halaman. Namun baru sampai di ambang pintu, suara Ivany kembali terdengar dan menyuruh dengan nada tinggi. "Aku mau makan mi daging sapi! Cepat masakkan! Jangan lupa kasih telur ceplok setengah matang!" Eva tidak menoleh ataupun menjawab, dia hanya melemparkan sebuah kalimat sebelum melangkah pergi. "Suruh Tante Fiona-mu yang masak." Dari belakang, terdengar suara makian Ivany yang kasar dan jahat. Bahkan, sulit dipercaya bahwa kata-kata seperti itu bisa keluar dari mulut anak yang baru berusia enam tahun. Akan tetapi, Eva tidak peduli lagi. Dia sudah tidak ingin lagi menjadi ibu dari anak seperti Ivany. Seperti apa gadis itu akan tumbuh besar nanti, bukan lagi urusannya. Karena itulah, tak ada alasan lagi baginya untuk peduli. Hari-hari berikutnya, Ricardo tetap seperti sebelumnya. Dia membawa anaknya pergi dan tidak pulang ke rumah. Dia ingin menggunakan cara ini untuk menyiksa mental Eva. Bahkan saat pergi pun, Ricardo masih sempat melemparkan ancaman. Jika Eva tidak mau berlutut dan meminta maaf langsung pada Fiona, dia dan Ivany tidak akan pernah kembali ke rumah. Eva nyaris tertawa mendengarnya. Bukannya takut, dia justru berharap bisa sejauh mungkin dari kedua orang itu. Dia sama sekali tidak tertarik membuang waktunya yang berharga untuk mereka. Malam harinya, Fiona mengirimkan sebuah video. Dalam video itu, terlihat dirinya duduk di atas ranjang sambil memijat punggung Ricardo yang bertelanjang dada. Tanpa sepatah kata pun, video itu sudah cukup jelas. Tujuan Fiona tak lain adalah untuk menyakiti Eva dan menunjukkan bahwa wanita yang tak bisa mempertahankan suaminya tak layak dihormati. Namun, Eva hanya menatap layar sebentar, lalu mematikan suara ponselnya agar tidak terganggu. Bukan hanya itu, Ricardo yang biasanya tidak pernah aktif di media sosial, kini mulai diam-diam memamerkan berbagai unggahan manis, seolah ingin menunjukkan pada dunia bahwa dia tengah dimabuk cinta. Bagi Eva, semua itu terlihat lucu. Sangat lucu. Nggak masalah. Sedikit lagi, dia akan bebas. Waktu berjalan cepat dan tanpa terasa, hanya tersisa dua hari lagi. Eva tidak lagi membiarkan pikirannya dipenuhi oleh kedua orang itu. Saat pikirannya terlepas dari beban mereka, dia menyadari bahwa dirinya mulai memiliki lebih banyak waktu untuk dirinya sendiridan melakukan hal-hal yang dia inginkan. Ricardo pernah meremehkannya habis-habisan, seolah dirinya tak punya kemampuan apa pun. Namun Eva ingat betul, saat perusahaan baru dirintis dulu, dia sendiri yang turun tangan mencari dan menegosiasikan banyak proyek penting. Begitu bisnis mulai stabil dan dia hamil, Eva memutuskan mundur dari dunia kerja dan fokus mengurus keluarga. Meski begitu, sepertiga saham perusahaan tetap atas namanya. Itu adalah haknya dan juga satu-satunya pegangan yang akan dia jaga dengan baik sebelum benar-benar pergi dari hidup Ricardo. Sembari menyusun langkah-langkah ke depan dalam diam, tiba-tiba Ricardo dan Ivany pulang ke rumah. Bab 7 Saat melihat mereka pulang, tidak ada gelombang emosi apa pun di hati Eva. Tak ada lagi rasa benci seperti dulu. Lagi pula, hanya tinggal dua hari tersisa. Setelah itu, kemungkinan besar mereka tidak akan pernah bertemu lagi. Maka, biarlah semuanya berakhir dengan tenang dan damai. Sikap Eva yang seperti itu justru membuat Ricardo merasa tidak nyaman. Ada perasaan aneh dalam dirinya yang tak bisa dia jelaskan dengan kata-kata. Dulu, jika dia dan Ivany pergi dari rumah selama dua hari saja, Eva pasti akan menelepon puluhan kali, mengirim ratusan pesan, meminta maaf, dan memohon mereka pulang. Namun kali ini, mereka sudah meninggalkan rumah selama hampir dua minggu, tetapi Eva tidak menghubungi sama sekali, bahkan tidak menanyakan kabar. Ricardo berusaha mencari pembenaran untuk kegelisahan dalam hatinya. Dia mengatakan pada dirinya sendiri bahwa dia hanya merasa kasihan pada Eva yang kesepian di rumah. Hanya rasa iba, tak lebih. Dia terlalu percaya diri. Selama ini, dia yakin Eva mencintainya sampai kehilangan arah, sampai mengorbankan dirinya sendiri. Karena itulah dia merasa bisa terus-menerus menyiksanya dengan cara seperti ini. Menurut Ricardo, kepulangannya hari ini adalah bentuk kemurahan hati. Dia merasa sedang memberi Eva kesempatan. Namun saat melihat wajah Eva yang tetap sedingin es, Ricardo mulai kehilangan kendali. "Apa maksudmu? Kami pulang, tapi kamu malah nggak senang?" hardiknya, wajahnya mulai menggelap. Eva tidak ingin membuang waktu untuk berdebat. Lagi pula, tinggal dua hari lagi dan dia benar-benar tidak tertarik memulai pertengkaran yang tak akan ada akhirnya. Dia langsung membuka pintu dan melangkah keluar ke halaman, tanpa sepatah kata pun. Melihat punggungnya yang pergi begitu saja, justru membuat hati Ricardo mencelos. Perasaannya mendadak jadi rumit. Dia teringat dulu saat hidupnya paling sulit, Eva yang selalu ada di sisinya, menemani dan mendukung tanpa pamrih. Ketika Eva kembali masuk untuk mengambil minum, dia terkejut melihat suasana ruang tamu telah berubah. Lantai dipenuhi kelopak bunga. Di meja, tertata rapi makan malam romantis dengan lilin dan porsi berdua. Eva berdiri terpaku sejenak, lalu tersenyum getir. Baginya semua ini tak lebih dari lelucon kejam. Dia sudah tidak membutuhkan semua ini. Lalu, untuk apa? Eva mengerutkan dahi dan menutup hidung dan mulut dengan tangan. Melihat reaksinya, Ricardo buru-buru menghampiri dengan ekspresi khawatir. "Kamu nggak enak badan?" Eva menoleh dengan tenang dan menjawab singkat, "Aku alergi serbuk bunga." Eva memang tidak pernah menyukai bunga, terlebih lagi bunga mawar. Itu adalah kesukaan Fiona, bukan miliknya. Ricardo awalnya hampir meledak marah, tetapi ketika mengingat perubahan Eva belakangan ini, dia akhirnya menahan diri. Kini Eva terasa semakin sulit ditebak. Dia bukan lagi wanita yang bisa dia kendalikan sepenuhnya dan itu membuat Ricardo diam-diam merasa kehilangan kuasa. Hatinya mulai timbul kecemasan tanpa dia sadari, Mungkin selama ini dirinya memang terlalu dingin dan kejam. Apalagi jika mengingat segala perjuangan dan kebersamaan mereka di masa lalu .... Pada akhirnya, dia memilih untuk tidak melontarkan kata-kata menyakitkan yang sudah sampai di ujung lidahnya. Keheningan Ricardo itu membuat Eva sedikit terkejut. Pria yang biasanya mudah tersulut emosi itu, tidak berkata apa-apa untuk pertama kalinya. Saat Eva masih terdiam, Ricardo tiba-tiba mengeluarkan dua lembar tiket perjalanan malam dengan kapal pesiar. "Ulang tahunmu dan hari jadi kita ... semua itu aku lewatkan. Aku ingin menebus semuanya. Ayo kita rayakan bersama sebagai satu keluarga." Eva hanya berdiri menatapnya. Dia tidak bergerak untuk menerima tiket itu. Dalam hati, dia bertanya-tanya, apakah perubahan sikapnya sudah cukup mencolok sampai-sampai Ricardo mulai curiga? Apakah itu sebabnya dia tiba-tiba menunjukkan perhatian? Namun, apa pun alasan di balik sikapnya sekarang, Eva sudah terlalu letih untuk tertipu. Perhatian yang datang terlambat tidak berharga sama sekali. Saat itu, Fiona muncul tiba-tiba, membawa es krim kesukaan Ivany. Gadis kecil itu langsung berlari dengan penuh semangat dan menggenggam tangan Fiona. "Terima kasih, Mama! Mama memang yang terbaik!" Wajah Ricardo seketika menggelap. "Jangan asal panggil orang." Namun, Ivany mengabaikannya dan tetap bersikeras. "Aku memang mau Tante Fiona jadi mamaku! Aku nggak mau lagi sama perempuan jelek itu!" Tanpa berkata apa-apa, Ricardo langsung menggendong Ivany dan membawanya naik ke atas, hendak memberinya pelajaran. Begitu ayah dan anak itu menghilang ke lantai atas, Fiona mengedarkan pandangannya ke seluruh ruang tamu. Tatapannya akhirnya berhenti pada dua lembar tiket kapal pesiar di meja. Dia tertawa sinis. "Sia-sia saja kamu terus menempelinya. Sebentar lagi akan kutunjukkan dengan jelas, siapa yang sebenarnya dicintai Kak Ricardo!" Bab 8 Eva tahu benar, setiap kata yang diucapkan Fiona itu dimaksudkan untuk memancing emosinya. Akan tetapi, wajahnya tetap tenang dan tidak menunjukkan reaksi apa pun. "Aku sudah memutuskan untuk melepaskan semuanya. Aku nggak akan rebut apa pun darimu," ucap Eva dengan datar. Fiona tertawa sinis. "Sudahlah, kalau memang mau pergi, kamu pasti sudah pergi dari dulu. Tapi kamu masih saja ngotot bertahan sampai sekarang, 'kan? Bukankah itu semua cuma karena uang? Oh ya, bagaimana kelopak mawar yang aku minta Ricardo kirimkan padamu kemarin? Wanginya enak, 'kan?" Ucapan itu langsung membuat raut wajah Eva menjadi rumit. Bahkan Fiona saja tahu soal alergi serbuk bunga yang dia derita, malah suaminya sendiri tidak tahu apa-apa. Masih bisa-bisanya mengantarkan bunga pemberian wanita lain tanpa menyadari bahwa itu justru menyakitinya. Ricardo bahkan ikut membantu mempermalukan dirinya sendiri. Saat itu juga, Eva benar-benar yakin. Dalam hati pria itu, tak pernah ada tempat untuknya. Tak lama kemudian, Ricardo keluar bersama Ivany. Dia melirik ke arah Eva dan berkata datar, "Anak itu masih kecil dan belum tahu apa-apa. Sudah aku tegur. Nanti kita bertiga naik kapal pesiar ya." Mendengar itu, Fiona buru-buru mengeluarkan dua lembar tiket konser dari tasnya. "Kak Ricardo, ini konser terakhir dari band yang kita sukai sejak kuliah. Hari ini penampilan mereka yang terakhir." Ricardo terdiam sejenak, tampak ragu. Kalau ini dulu, dia pasti akan langsung memilih Fiona, menyetujui permintaannya dan menyingkirkan Eva begitu saja. Namun sekarang, ada kegelisahan yang tak bisa dia abaikan. Dia sadar ada sesuatu yang berbeda dari Eva. Perubahan sikap Eva membuatnya resah, membuatnya merasa kehilangan kendali atas wanita yang dulu begitu tunduk. Justru karena itulah, dia berusaha mengimbanginya. Dia ingin memperbaiki sesuatu atau setidaknya mempertahankannya. Jika dia kembali memilih Fiona, dia khawatir Eva akan benar-benar pergi. Meskipun dia selalu yakin Eva mencintainya dan tidak akan mungkin meninggalkannya, rasa khawatir itu tetap menghantuinya. "Maaf," katanya pada Fiona. "Aku sudah nggak tertarik lagi sama band itu. Lagi pula, aku sudah janji sama Eva untuk naik kapal pesiar." Tanpa menunggu balasan, Ricardo berbalik masuk ke dalam untuk berganti pakaian. Fiona tidak pernah menyangka situasinya akan berubah menjadi seperti ini. Biasanya Ricardo selalu menyetujui permintaannya. Namun hari ini, Ricardo malah menolaknya demi wanita jelek ini. Ekspresinya tampak beringas saat menatap ke arah Eva. "Wanita jalang! Apa yang telah kamu lakukan?!" Eva malas membuang waktu untuk menjawab, dia tidak ingin menghabiskan tenaga bicara dengan wanita itu. Namun, sikap diam Eva justru membuat Fiona merasa dirinya sengaja diprovokasi. Lantaran terlalu marah sampai kehilangan akal, Fiona meraih seikat besar bunga mawar di atas meja, lalu menghantamkannya ke kepala Eva berkali-kali dengan penuh tenaga. Eva menghirup terlalu banyak serbuk sari bunga sehingga menimbulkan reaksi alergi parah. Wajahnya memerah dan napasnya mulai tersengal-sengal. Fiona tampak puas dan tersenyum sinis. "Kita lihat sekarang, siapa yang akan dipilih oleh Ricardo!" Usai bicara, dia tiba-tiba terjatuh ke lantai sambil memegangi perut dan mengerang kesakitan. Tak lama kemudian, Ricardo keluar dari kamar dan mendapati dua wanita yang tergeletak di lantai. Satu adalah istrinya dengan wajah yang merah padam dan kesulitan bernapas. Satunya lagi, Fiona, menjerit kesakitan sambil memegangi perutnya. Ricardo panik menatap keduanya bergantian, tidak tahu harus memilih siapa. Eva tahu betul, jika tidak segera dibawa ke rumah sakit, nyawanya mungkin tidak akan tertolong. Dia tidak peduli lagi dengan harga diri atau gengsi, yang penting sekarang adalah menyelamatkan diri. "Ricardo, cepat antar aku ke rumah sakit, aku sudah nggak kuat!" Ricardo tersentak sadar. Dia segera mengangguk dan hendak membantunya bangkit, tapi Fiona tiba-tiba menarik kakinya sambil menjerit, "Ricardo, perutku sakit sekali! Rasanya seperti ditusuk-tusuk pisau! Aku juga nggak kuat!" Ivany berlari ke sisi Fiona dan berjongkok, lalu menunjuk Eva sambil berteriak, "Ini semua salah perempuan jelek itu! Dia sengaja memancing emosi Tante Fiona sampai jatuh sakit! Dia cuma mau lihat siapa yang lebih kamu pedulikan! Dia cuma pura-pura! Cepat kita bawa Tante Fiona ke rumah sakit!" Wajah Ricardo perlahan menggelap, matanya dipenuhi kemarahan saat menatap Eva. "Kamu benar-benar nggak tahu malu sampai segininya .... Eva, kamu ini bukan manusia!" Ricardo tidak peduli sedikit pun pada nasib Eva, dia hanya menggendong Fiona dan pergi begitu saja. Di dalam hati Eva hanya tersisa keputusasaan. Betapa konyolnya dirinya yang masih berharap dan memohon belas kasihan dari Ricardo. Dengan susah payah, dia meraih telepon di atas sofa, lalu menekan nomor Martha. Setelah itu, dia pun jatuh pingsan. Saat tersadar kembali, dirinya sudah terbaring di ranjang rumah sakit. Martha berdiri di sisi tempat tidur, menatapnya dengan kesal dan penuh kekecewaan. "Kamu ini sudah nggak sayang nyawa ya? Kalau aku datang lebih telat sedikit saja, kamu sudah mati sekarang!" Eva terdiam, tidak mengatakan apa pun. Kali ini, dia tidak tinggal lama di rumah sakit. Tepat di hari ketika surat cerai resmi berlaku, dia langsung mengurus proses keluar dari rumah sakit. Seperti sebelumnya, Ricardo sama sekali tidak peduli dengan keadaannya. Saat pulang ke rumah, Eva melihat kelopak bunga yang sudah mengering berserakan di lantai, persis seperti pernikahannya yang sudah usai dan tak tersisa apa-apa. Dia membereskan barang-barangnya, lalu meletakkan surat cerai di tempat yang paling mencolok di atas meja. Dengan koper kecil yang tak seberapa, Eva melangkah pergi tanpa menoleh ke belakang. Tempat yang sudah dia tinggali selama bertahun-tahun ini, tidak bisa disebut rumah. Tempat ini lebih mirip sebuah kurungan. Baginya, pergi dari tempat ini bagaikan seekor burung yang akhirnya terbang keluar dari sangkar. Mulai saat ini, dia bisa terbang bebas. Eva sudah memesan tiket pesawat jauh-jauh hari, sehingga dia langsung menuju bandara. Saat menunggu di ruang keberangkatan, ponselnya tiba-tiba berdering menunjukkan panggilan dari Ricardo. Eva tidak mengangkatnya, malah langsung menekan tombol "tolak" lalu mematikan ponselnya. Mulai sekarang, sejauh langit dan laut memisahkan mereka, dia dan Ricardo tak akan pernah ada hubungan lagi.