Đang tải thông tin quảng bá...
Cinta Memang Begitu
Setelah aku meninggal, orang tuaku menandatangani surat persetujuan donor organ dan memberikan retina mataku kepada anak angkat kesayangan mereka, Emma Moore. Emma pun menikah dengan kakak kandungku. ...
Chương (1)
第1章
Setelah aku meninggal, orang tuaku menandatangani surat persetujuan donor organ dan memberikan retina mataku kepada anak angkat kesayangan mereka, Emma Moore.
Emma pun menikah dengan kakak kandungku. Mereka hidup bahagia sebagai keluarga yang utuh.
Seumur hidup, aku selalu bersaing dengannya, tetapi ujung-ujungnya aku kehilangan segalanya dan berakhir tragis.
Setelah terlahir kembali, aku memilih menjalani hidup tanpa memikirkan siapa pun dan justru itulah awal dari kebahagiaan yang tak pernah kuduga.
Bab 1
Aku terlahir kembali, tepat di hari saat Emma datang ke rumahku.
Andai aku bereinkarnasi sedikit lebih awal, mungkin aku bisa mencegah kematian orang tua kandung Emma atau setidaknya memaksa orang tuaku agar tidak mengadopsinya.
Sekarang, dia sudah ada di rumah, mau bagaimanapun juga, semuanya sudah terlambat.
Emma adalah putri dari guru yang sangat dihormati ayahku, seorang pelukis terkenal yang baru punya anak di usia tua. Sejak kecil, Emma selalu dimanja seperti putri raja. Emma punya bakat luar biasa dalam melukis, tetapi menderita penyakit mata misterius, penglihatannya kadang membaik kadang memburuk, bahkan bisa buta kapan saja.
Karena itu, kedua orang tua Emma membawa Emma berobat ke sana-sini, tetapi sebuah kecelakaan merenggut nyawa mereka berdua, meninggalkan Emma yang masih kecil seorang diri.
Masa kecil Emma sangat menyedihkan. Jadi, begitu orang tuaku melihatnya, mereka langsung memutuskan untuk menganggapnya seperti anak sendiri, bahkan menganggapnya lebih penting daripada aku, anak kandung mereka.
"Aubrey, bukannya kamu selalu ingin punya kakak perempuan? Mulai sekarang, Emma akan jadi kakak kandungmu. Kamu senang, 'kan?" Ayah dan ibu memandangku dengan penuh kasih sayang, berharap aku benar-benar mau menerima kakak angkat ini.
Di kehidupan sebelumnya, aku yang baru berusia tujuh tahun memang sangat senang. Aku pikir aku punya anggota keluarga baru yang hangat dan rela membagi kasih sayangku pada kakak yang terlihat lembut itu. Namun, tak terpikirkan olehku kalau Emma itu serakah. Dia tak pernah berniat untuk berbagi, melainkan merebut semuanya untuk dirinya sendiri.
"Aubrey, Ayah tahu kamu anak yang pengertian. Kak Emma kesehatannya kurang baik. Meskipun kamu adalah adiknya, kamu harus bantu Ayah dan Ibu merawatnya. Bisa, 'kan?"
Sebelum aku sempat menjawab, mata Emma sudah berkaca-kaca.
"Aku tahu Aubrey pasti sulit menerimaku. Siapa sih yang mau berbagi kasih orang tua dengan orang lain? Aubrey, jangan cemas, aku akan kembali ke panti asuhan."
Kadang aku curiga kalau Emma juga sudah bereinkarnasi. Mana ada anak delapan tahun yang begitu licik? Aku bahkan belum sempat menolak, dia sudah lebih dulu menudingku pencemburu.
Ibuku langsung mengusap air mata Emma dengan penuh rasa iba.
"Emma, jangan menangis. Itu nggak baik buat matamu."
"Kenapa masih memanggil kami Paman dan Bibi? Sudah kubilang, mulai sekarang kami adalah orang tuamu."
Emma mendongakkan wajah mungilnya. Air matanya yang bening masih menggantung di bulu matanya. Dia tampak begitu terkejut sekaligus bahagia, membuat siapa pun yang melihatnya pasti akan merasa iba.
"Huhu. Sekarang aku punya orang tua!"
Seketika itu juga, mereka bertiga berpelukan sambil menangis. Tak seorang pun mengingat untuk bertanya padaku. Emma memang selalu bisa menarik hati semua orang.
Malam itu, orang tuaku memintaku tidur sekamar dengan Emma. Aku berbaring diam, tak bisa tidur. Otakku terus memikirkan cara agar bisa segera mandiri dan meninggalkan rumah ini.
Pengalamanku di kehidupan sebelumnya membuatku sadar bahwa sejak Emma masuk ke keluarga ini, seluruh perhatian ayah, ibu, dan kakak hanya tertuju padanya.
Menjelang tengah malam, Emma diam-diam bangkit dari tempat tidur. Aku pura-pura tidur dan diam-diam mengintip saat dia berjalan menuju kamar orang tuaku.
Bab 2
"Hiks, hiks. Ayah, Ibu, ini gelap sekali. Mataku sakit. Aku takut."
Orang tuaku yang pikirannya sudah dikuasai rasa iba, bahkan tidak memikirkan, kalau matanya mendadak sakit, bagaimana Emma bisa sampai ke kamar mereka dengan lancar di rumah asing ini?
Namun, mereka hanya memeluk Emma dengan penuh kasih sayang, hampir menangis karena panik.
"Jangan takut, Emma. Ayah dan Ibu ada di sini."
Dengan tubuh bergetar, Emma makin meringkuk di pelukan ibuku, tampak sangat ketakutan.
"Ayah, Ibu ... Aku benaran boleh tinggal di rumah ini? Hiks, hiks ... Barusan Aubrey ...."
Mendengar ini secara diam-diam, hatiku langsung mencelos. Detik berikutnya, ayahku langsung menerobos masuk ke kamarku, menarikku dari tempat tidur saat aku masih pura-pura tidur.
"Kamu bilang apa ke Emma? Kenapa kamu begitu nggak tahu diri? Emma dari kecil sudah sakit-sakitan, hidupnya juga malang. Apa kamu nggak bisa mengalah sedikit?"
"Sudahlah, jangan begitu. Aubrey masih kecil. Ajari saja, nanti juga mengerti."
Meskipun ibuku bicara seolah menenangkan ayahku, tangan ibuku tetap memeluk Emma erat-erat, sama sekali tidak ada niat untuk membelaku.
Akhirnya, mereka membawa Emma ke kamar mereka, sementara aku yang masih pakai piyama tipis, ditinggal di luar. Dulu, ibuku selalu datang tengah malam untuk memastikan aku tidur nyenyak dan menyelimutiku sebelum pergi. Namun, kini, mereka seolah lupa kalau aku masih anak berusia tujuh tahun, yang juga takut gelap, takut dingin, dan butuh kasih sayang orang tua.
Di kehidupan sebelumnya, Emma juga sering begitu. Awalnya, pura-pura penyakit matanya kambuh, lalu memanfaatkan rasa iba orang tuaku untuk mengarang cerita bohong untuk menjelekkanku.
Aku yang masih kecil mulai sadar akan ancaman ini. Sejak dia datang, di mata orang tuaku, aku yang tadinya anak manis dan menggemaskan mulai berubah jadi anak nakal.
Lalu, aku mulai bersaing diam-diam dengan Emma, tak mau kalah dalam hal apa pun. Apa pun yang dia punya, aku juga harus punya. Emma sangat pandai berpura-pura di depan orang lain, selalu tampak lembut, pemalu, dan penuh pengertian. Itu membuat orang tuaku jadi makin merasa bersalah padanya.
Aku habiskan hidupku untuk bersaing dengannya, tetapi tetap tak bisa menang. Bahkan kakak laki-lakiku, yang dulu begitu menyayangiku, akhirnya jatuh hati pada Emma.
Di dunia seni, semua orang tahu bahwa Keluarga Moore memiliki seorang anak angkat genius yang tampak rapuh nan memikat bernama Emma dan seorang putri kandung yang kasar, iri hati, dan bodoh bernama Aubrey.
Di kehidupanku kali ini, aku memutuskan untuk tidak lagi bersaing dengan Emma. Aku ingin hidup sesuai keinginanku sendiri.
Keesokan paginya, terdengar tawa riang Emma bersama orang tuaku dari ruang makan. Saat aku turun ke bawah diam-diam, aku melihat Emma duduk di kursiku, menggunakan peralatan makan favoritku.
Begitu aku muncul, suasana hangat itu langsung berubah, seolah akulah orang asing yang menyusup ke dalam keluarga mereka.
Raut wajah ibuku sempat terlihat canggung.
"Aubrey, kenapa kamu bangun sepagi ini? Emma belum punya peralatan makan sendiri, jadi dia pakai punyamu dulu. Kamu pakai punyanya kakakmu, ya?"
"Nggak mau. Aku nggak suka mengambil barang orang lain."
Begitu aku mengatakan ini, semua orang langsung sadar bahwa aku sedang menyindir Emma. Ayahku tampak masih kesal karena penindasanku terhadap Emma kemarin. Raut wajahnya yang biasanya ramah langsung berubah muram.
Aku melirik ke makanan di meja. Di sana ada susu, roti lapis, dan telur goreng dengan daging sapi asap. Itu semuanya adalah makanan kesukaan Emma. Aku sendiri tidak bisa minum susu, jadi biasanya sarapan dengan bubur.
Bab 3
"Aduh, Ibu lupa, kamu nggak bisa minum susu. Nanti Ibu buatkan kamu susu kedelai, ya." Ibuku buru-buru bicara untuk meredakan ketegangan, takut ketahuan kalau dia lebih sayang ke anak angkatnya daripada ke aku.
Brak! Ayahku membanting gelas ke meja dengan suara keras. Dia berbicara dengan nada kesal dan membentak.
"Kenapa sih harus ribet begitu? Kamu itu kebiasaan memanjakannya! Masih kecil sudah dimanja sampai nggak tahu aturan! Sebentar lagi kita harus urus pindahan sekolahnya Emma. Jangan buang-buang waktu!"
Kalau aku yang dulu, pasti sudah sakit hati dan mengamuk habis-habisan. Namun, sekarang, aku sudah mati rasa.
Aku duduk diam di ujung meja, melihat Emma yang terus menunduk makan sambil menyunggingkan senyum puas di bibirnya. Namun, saat mendongak, ekspresinya sudah dipenuhi kesedihan.
"Ayah, jangan bilang begitu ke Aubrey. Aubrey beda denganku. Dia dari kecil selalu dilindungi dan dimanja. Kalau dia agak manja, itu wajar kok. Itu tandanya kalian sangat menyayanginya."
Seperti biasa, orang tua yang sok suci itu lagi-lagi tersentuh sampai menitikkan air mata. Di dunia ini, bagaimana mungkin ada gadis kecil berhati malaikat seperti dia? Dibandingkan dengannya, aku yang sudah punya segalanya sejak kecil, tetapi tetap keras kepala, menjadi terlihat sangat tidak tahu diri. Tatapan mereka ke arahku kembali dipenuhi kekecewaan.
Namun, aku tidak peduli. Di kehidupanku yang sebelumnya, aku dan orang tuaku nyaris putus hubungan. Aku juga sudah tidak peduli bagaimana pandangan mereka padaku.
Aku bisa saja pura-pura menyenangkan Emma, berperan sebagai adik yang bodoh dan mudah dikendalikan. Dengan begitu, aku akan tetap jadi anak kesayangan dan bisa ikut menikmati sedikit sisa perhatian yang mereka berikan ke Emma.
Akan tetapi, aku akan membuat Emma sadar bahwa semua kasih sayang dan cinta yang dia rebut dengan susah payah itu, tidak ada nilainya di mataku.
Begitu mereka bertiga selesai mengurus kepindahan sekolah Emma dan pulang ke rumah, aku sudah mengosongkan kamar lamaku dan memindahkan semua barangku ke kamar pelayan yang tidak terpakai.
Bukan karena ingin menyerahkan kamar itu ke Emma, aku hanya ingin menjaga ruang privasiku sendiri.
Ayahku mengelus kepalaku dengan lembut dan berkata.
"Aubrey memang anak yang pengertian, pantas jadi anak kesayangan Ayah."
Kalau anak kecil lain mungkin akan senang bukan main mendengar kalimat itu. Namun, aku yang sudah hidup lagi tahu betul makna tersembunyi di baliknya. Aku hanya bisa jadi anak kesayangan mereka jika ikut bersikap seperti mereka yang selalu kasihan pada Emma dan mengorbankan kebahagiaanku demi dia.
Emma tiba-tiba masuk ke kamarku tanpa izin dan mulai melihat-lihat. Saat melihat perlengkapan menggambar lengkap yang dulu dibelikan orang tuaku, wajahnya mendadak pucat, lalu menangis manja sambil memeluk ibuku.
"Huhu. Aku juga ingin seperti Aubrey yang bisa menggambar dengan bebas dan tanpa beban."
Ibuku memandangku dengan canggung. Dia ragu-ragu cukup lama sebelum akhirnya angkat bicara.
"Maaf, ya, Aubrey. Demi menjaga perasaan Emma, bisa nggak kamu simpan dulu semua perlengkapan menggambarmu?"
Lagi-lagi seperti ini. Sejak kemunculan Emma, ruang gerakku makin lama makin sempit, sampai-sampai aku bahkan tidak berhak memiliki hobi dan impianku sendiri.
Di kehidupan sebelumnya juga sama. Karena mata Emma lemah dan tidak bisa menggambar terlalu lama, aku pun harus terus mengurangi waktu menggambarku.
Padahal aku adalah putri seorang pelukis, tetapi aku tidak bisa bebas membeli perlengkapan seni, tidak boleh ikut kelas pelatihan, cuma karena itu bisa membuat Emma bersedih.
Namun, Emma bisa meringkuk manja di pelukan Ayah, belajar menggambar langsung darinya. Semua hasil karyanya dibingkai dengan indah, sementara gambarku hanya bisa kusimpan diam-diam di dasar kotak lukis.
Bab 4
Bahkan saat kami mengikuti ujian masuk universitas seni, Emma tiba-tiba mengalami gangguan penglihatan dan tidak bisa menyelesaikan ujian. Saat mengumpulkan hasil ujian, dia diam-diam menukar nama di lembar gambar kami.
Ketika hasil pengumuman keluar, aku langsung mengenali bahwa karya terbaik yang tertulis atas nama Emma sebenarnya adalah milikku. Aku memohon pada orang tuaku untuk membelaku, tetapi mereka malah hanya memeluk Emma yang menangis tersedu-sedu dan menasihatiku untuk berbesar hati.
"Aubrey, kamu bisa ikut ujian lagi tahun depan, tapi waktu Emma terbatas. Kamu 'kan tahu dia bisa buta kapan saja!"
"Sejak kecil hidup Emma sudah menyedihkan, kamu mengalah saja! Kamu pasti bisa lolos tahun depan!"
Mudah bagi mereka untuk mengatakannya, tetapi mereka tidak tahu betapa kerasnya aku berlatih diam-diam karena bakatku tidak sebaik Emma. Setiap malam aku menggambar dalam gelap, nyaris membutakan mataku sendiri karena kelelahan.
Akhirnya, emosiku meledak dan berteriak.
"Dia sudah merebut Ayah dan Ibu dariku, sekarang mau merebut hidupku juga? Kembalikan posisi itu padaku, kalau nggak, aku akan pergi dari rumah ini selamanya."
Perlawanan itu tidak membuat orang tuaku menyesal, malahan membuat ayahku marah dan menamparku.
"Kalau bukan karena mata Emma yang sakit, kamu pikir kamu bisa menang darinya? Kamu tuh nggak punya bakat menggambar. Masuk universitas seni pun kamu cuma jadi peringkat terakhir!"
Aku memegangi pipiku yang terasa panas karena tamparan itu. Aku tak percaya ucapan seperti itu keluar dari mulut ayah kandungku sendiri.
Akhirnya, Emma tetap menggantikan posisiku di universitas seni. Sedangkan aku, jadi bahan tertawaan semua orang, kalah dari anak angkat yang matanya bermasalah. Mimpiku kandas dan aku pun menjalani hidup biasa-biasa saja.
Di kehidupan keduaku ini, aku sudah kehilangan semangat untuk menggambar, jadi aku membuang perlengkapan gambarku ke tempat sampah tepat di depan orang tuaku. Ekspresi ayahku langsung muram, tetapi karena mereka tahu mereka bersalah, mereka pergi begitu saja bersama Emma dengan kesal.
Saat musim liburan tiba, kakak kandungku, Miles Moore, yang biasanya belajar di luar negeri pun pulang ke rumah. Tujuan utamanya karena ingin bertemu langsung dengan adik baru yang katanya luar biasa, Emma.
Sama seperti kehidupan sebelumnya, Miles langsung jatuh hati dan tergila-gila pada Emma saat pertama kali melihatnya. Saat itu, Emma menutupi wajahnya dengan kain, berjalan menyusuri ruang tamu layaknya orang buta, lalu "kebetulan" jatuh ke pelukan Miles yang baru pertama kali Emma temui.
Emma pun tersipu malu dan berkata dengan suara manja.
"Aku nggak tahu kapan mataku akan benar-benar buta. Jadi, aku ingin belajar hidup dalam gelap lebih dulu, supaya nanti nggak merepotkan Ayah, Ibu, dan Kakak."
Emma memang pandai bicara. Dengan kalimat yang terdengar lembut, dia berhasil menyisihkan aku sebagai adiknya, sekaligus memberi kesan bahwa hubungan kami tidak akur di mata Miles.
Miles, yang masih muda dan mudah terpengaruh, tak bisa berkata-kata. Gadis di hadapannya tampak seperti tokoh utama drama TV yang polos dan rapuh, membuat orang ingin melindunginya. Saat itu juga, Miles bersumpah dalam hati akan menjaga Emma seumur hidupnya.
Orang tuaku mengusulkan agar kami sekeluarga pergi bersenang-senang sehari penuh, sebagai penyambutan kepulangan Miles. Aku jelas tidak mau ikut. Mereka berempat begitu akrab dan harmonis, apa hubungannya denganku, si anak bungsu yang manja, pencemburu, keras kepala, dan tak dicintai?
Namun, Emma tetap saja sengaja membuatku makin kesal. Dia pura-pura sedih sambil menangis di sudut ruangan.
"Ayah, Ibu, kalian ajak Kak Miles dan Aubrey saja. Saat kalian sekeluarga berkumpul, kehadiranku malah merusak suasana."
Miles langsung panik dan buru-buru menyeka air mata Emma dengan lembut.
Bab 5
"Kenapa kamu bicara begitu? Bukankah kita sudah jadi keluarga?"
Emma berpura-pura menghindar dari tangan Miles, lalu melirikku dengan tatapan penuh rasa takut, seolah diam-diam menuduhku.
Miles langsung melemparkan tatapan garang ke arahku.
"Aubrey! Kenapa kamu jahat banget sama Emma? Kenapa kamu berubah jadi seperti ini? Dulu kamu nggak begini!"
Aku yang berubah? Justru kalian semua yang berubah. Ibu yang dulu selalu memikirkan aku, ayah yang dulu tegas, tetapi lembut, dan kakak yang selalu melindungiku, sekarang kalian semua sudah berubah jadi orang asing.
Aku hanya tertawa dingin, lalu menatap mata Miles dan menjawab.
"Coba kamu tanya langsung ke Emma, apa aku jahat sama dia? Kamarku saja sudah aku kasih ke dia. Apalagi yang dia mau?"
Pertanyaanku membuat Emma merasa bersalah. Dia refleks menghindari pandanganku. Sikap takutnya itu malah makin membuat Miles ingin melindunginya. Miles membentakku tanpa pikir panjang.
"Itu karena sikapmu yang sok superior itu yang menyakitinya! Emma baru pindah ke rumah kita, kamu mestinya mengalah dong!"
Tiba-tiba aku jadi musuh yang harus dilawan, sementara dia, Miles, jadi pangeran yang melindungi sang putri.
Orang tua yang sok suci itu cuma tahu ikut campur dan membela satu pihak.
"Aubrey, kakakmu itu jarang pulang, jangan buat dia marah. Cepat minta maaf ke kakakmu dan Emma."
Aku menatap keluarga yang begitu berat sebelah ini, lalu menjawab dengan tegas, kata demi kata.
"Apa pun yang Emma mau, aku bisa kasih. Aku nggak membutuhkannya. Tapi, kalau disuruh minta maaf, jangan harap!"
Setelah berkata begitu, aku mengunci diri di kamar, membiarkan teriakan penuh amarah Miles tertahan di luar pintu. Hari itu, mereka berempat menghabiskan waktu bersenang-senang seharian. Tak ada yang ingat untuk meneleponku, bahkan sekadar membawakanku makanan pun tidak.
Kalau ini adalah diriku yang dulu, aku pasti sudah merasa sangat sedih, bahkan mungkin akan mogok makan atau kabur dari rumah demi membuat orang tuaku merasa bersalah. Namun, diriku yang sekarang tahu kalau semua itu sia-sia dan cuma akan menyiksa tubuhku sendiri.
Aku memasak semangkuk mi instan yang kaya isi untuk diriku sendiri. Sambil makan, aku membuka buku latihan yang dulu diam-diam kubeli.
Sejak terlahir kembali, aku sangat rajin belajar dan terus berusaha untuk berkembang. Aku tidak pernah berani bermalas-malasan walau sehari pun. Di kehidupan ini, aku harus sukses dengan usahaku sendiri. Setelah kupikirkan baik-baik, aku memutuskan untuk belajar kedokteran.
Walaupun aku baru tujuh tahun, otakku masih menyimpan pengetahuan waktu aku umur dua puluhan dulu. Jadi, soal belajar, aku jelas lebih unggul dari Emma. Cara-cara manja dan sok lugu ala Emma mungkin manjur buat orang tuaku yang sok baik itu, tetapi itu tidak berlaku buat guru-guru di sekolah. Nilai jelek, ya tetap saja jelek.
Waktu ujian akhir, aku meraih peringkat pertama seangkatan, sedangkan Emma ada di posisi terbawah. Setiap kali dipanggil guru karena nilainya buruk, Emma pasti selalu menangis dan bilang tekanan belajar membuat matanya kambuh. Namun, dia tetap bersikeras tidak mau pindah ke sekolah khusus. Setiap kali musim ujian tiba, rumah pasti dibuat kacau olehnya.
Demi memahami perasaan Emma dan supaya dia tidak diremehkan teman-temannya karena status anak angkat, orang tua sok suci itu memutuskan untuk datang ke pertemuan orang tua Emma, walaupun jadwal pertemuan kami berdua diadakan di hari yang sama.
Orang tua sok suci itu jelas-jelas tahu kalau aku diejek dan ditindas teman-temanku karena mereka pilih kasih. Katanya, aku ini anak yang punya orang tua, tetapi tidak dicintai.
Bab 6
Setiap kali mereka harus mengorbankanku demi Emma, mereka selalu mengulang kalimat cuci otak yang telingaku kebal mendengarnya.
"Emma tuh sakit-sakitan dan hidupnya juga menyedihkan. Kamu mengalah saja ya."
Namun, aku tak peduli. Belajar adalah kekuatan terbesarku. Aku memanfaatkan waktu luang untuk belajar lebih giat dari yang lain. Di usia dua belas tahun, aku sudah loncat kelas jadi siswi SMA termuda dalam sejarah kota kami. Namaku langsung terkenal ke mana-mana. Semua orang tahu Keluarga Moore punya anak perempuan genius.
Setiap hari telepon ayahku tak berhenti berdering. Orang-orang dari kalangan elit ingin aku berteman dengan anak mereka, bahkan ingin menjodohkan kami. Namun, demi menjaga perasaan Emma, ayahku menolak semuanya tanpa pikir panjang. Dia tak pernah memikirkan bahwa hubungan semacam itu sangat berpengaruh besar untuk masa depanku.
Benar juga, aku mana bisa dibandingkan dengan anak kesayangannya, Emma.
Saat hari pengumuman kelulusan, kepala sekolah dan wartawan datang langsung ke rumah untuk menyerahkan surat penerimaan. Namun, yang mereka lihat hanya punggung orang tuaku yang pergi tergesa-gesa. Emma tak akan membiarkanku jadi pusat perhatian. Jadi, dia cukup berpura-pura sakit kepala dan orang tuaku langsung panik lalu membawanya ke rumah sakit, sampai lupa menyapa kepala sekolah.
Meski aku sudah lama kecewa dengan orang tuaku yang sok suci itu, tetap saja saat itu aku merasa sedih dan tak berdaya. Kepala sekolah menatapku dalam-dalam, lalu berkata dengan nada serius.
"Sekolah kami memang nggak menyediakan asrama, tapi kalau kamu mau tinggal di sekolah, ajukan saja. Biar aku yang atur."
Sentuhan lembut di kepalaku dari kepala sekolah membuatku terharu. Sudah lama aku tak merasakan perhatian hangat seperti itu dari orang dewasa. Air mataku langsung jatuh tanpa bisa kutahan.
Karena air mata itulah yang akhirnya mempertemukanku dengan dua orang terpenting dalam hidupku.
Menjelang masuk sekolah, aku tidak sabar meninggalkan rumah, yang tidak pernah memberiku kehangatan, untuk pindah ke asrama. Saat aku pergi, orang tuaku lagi-lagi sibuk mengantar Emma ke rumah sakit.
Miles sebenarnya sedang libur di rumah, tetapi dia sama sekali tidak berniat membantuku berkemas. Dia hanya menatapku dengan dingin saat aku sibuk bolak-balik, lalu berkata dengan acuh tak acuh.
"Akhirnya, rumah ini tenang juga."
Aku mengangkat tas terakhir ke taksi tanpa menoleh sedikit pun pada Miles. Kamar yang disiapkan kepala sekolah sangat bagus, sepertinya diubah dari asrama guru yang kosong. Bisa dibilang itu apartemen kecil yang layak huni.
Seharian penuh aku merapikan kamar sampai bersih dan rapi, lalu pergi ke toko buku untuk membeli banyak buku pelajaran tambahan. Karena begitu masuk SMA, berarti beban belajar akan makin berat, jadi aku harus berusaha lebih keras. Aku ingin menjadi yang paling unggul dari semuanya.
Di hari pertama masuk sekolah tiba, seperti yang kuduga, aku langsung dijauhi oleh siswa-siswa lain. Mereka mendengar bahwa kepala sekolah secara khusus memberiku kamar asrama dan langsung melabeli aku sebagai anak orang dalam, tanpa memberiku kesempatan menjelaskan.
"Wah, lihat tuh! Si genius umur 12 datang juga."
"Anak ajaib tinggal sendirian di asrama, berani nggak tuh? Jangan-jangan nanti malam nangis cari ibunya."
"Kasih dia tempat di sebelah dispenser saja, siapa tahu pas istirahat dia mau buat susu bubuk anak-anak."
Mereka menjauhiku karena merasa kehadiranku membuat mereka kehilangan sorotan. Buat remaja biasa, omongan mereka mungkin menyakitkan. Namun, bagiku yang telah terlahir kembali, semua itu terasa kekanak-kanakan dan konyol.
Walau usiaku masih muda, tubuhku cukup tinggi. Jadi, aku langsung memilih duduk di tengah kelas tanpa ragu. Tentu saja, komentar sinis kembali terdengar.
Bab 7
"Anak orang dalam memang beda. Duduknya harus di tengah."
"Kalau duduk bareng dia, pasti diawasi guru terus. Siapa yang tahan?"
Semua siswa segera menjauh, menyisakan aku duduk sendirian di bangku paling tengah. Aku duduk tegak, mengabaikan ejekan mereka, lalu membuka buku pelajaran dengan tenang.
Saat itulah, seseorang langsung menarik kursi dan duduk di sebelahku. Tangannya yang ramping dan indah itu terulur ke arahku.
"Hai, kamu Aubrey, 'kan? Kenalkan, aku Nathan. Boleh nggak aku duduk bareng kamu?"
Aku meliriknya dengan tanpa ekspresi. Anak ini terlihat rapi dan ramah, jelas tipe yang disukai banyak orang.
"Kamu yakin? Duduk bareng aku bisa-bisa kamu dikira anak orang dalam, lho."
Dia tertawa lepas, lalu mengedipkan matanya dan berbisik di telingaku.
"Haha, mereka nggak akan berani macam-macam. Aku ini anak kepala sekolah."
Baru saat itulah aku sadar kalau wajah Nathan memang mirip dengan kepala sekolah. Mungkin kepala sekolah khawatir aku kesulitan berbaur, jadi sengaja meminta Nathan untuk menjagaku.
Ada rasa hangat menyelimuti hatiku. Sekalipun karena permintaan kepala sekolah, aku akan berusaha menjalin hubungan baik dengan Nathan.
Setelah ujian mingguan pertama, aku membungkam semua orang yang meragukanku dengan nilai yang jauh di atas yang lain. Tak lama setelah itu, beberapa dari mereka mulai mendekat dan bertanya padaku soal pelajaran. Kehidupan SMA yang awalnya terasa berat pun perlahan jadi nyaman.
Saat akhir pekan tiba, rasanya hanya aku seorang yang tersisa di sekolah yang begitu luas. Awalnya, aku ingin belajar di perpustakaan, tetapi Nathan malah datang mengetuk pintu asramaku.
Dia dan kepala sekolah tahu aku tidak pulang saat akhir pekan. Mereka khawatir aku kesepian, jadi mereka sengaja datang mengajakku makan siang. Karena tumbuh besar di Keluarga Moore yang pilih kasih dan sering diabaikan, setiap kebaikan dari orang lain selalu terasa sangat berharga bagiku.
Kepala sekolah yang ramah, Nathan yang lucu dan mudah diajak bicara, membuatku kembali merasakan hangatnya sebuah rumah. Ternyata, di dunia ini memang ada orang yang benar-benar peduli dan memikirkan diriku.
Sejak aku masuk sekolah, aku selalu menghabiskan setiap akhir pekan bersama keluarga kepala sekolah. Beliau mengatakan bahwa tekun belajar itu memang bagus, tetapi kalau terlalu tegang malah bisa menghambat penyerapan ilmu. Sedangkan Keluarga Moore, kupikir mereka pasti hidup lebih tenang tanpa kehadiranku, bahkan mereka tak sekali pun meneleponku untuk menyuruhku pulang.
Bersama keluarga kepala sekolah, aku mulai lebih terbuka dan bisa merasakan kembali keceriaan yang seharusnya aku miliki di usiaku. Pernah suatu kali, kepala sekolah menatapku dengan penuh kasih dan berkata.
"Aku selalu ingin punya anak perempuan. Andaikan kamu anak perempuanku, pasti luar biasa."
Tak seorang pun tahu seberapa dalam kata-kata ini menyentuh hatiku. Itu karena di kehidupan sebelumnya aku pernah tanpa sengaja mendengar percakapan antara ayahku dan Emma.
"Emma, kamu punya bakat menggambar yang luar biasa. Alangkah baiknya kalau kamu yang jadi anak kandungku."
Kenangan menyakitkan itu membuat mataku kembali berkaca-kaca. Nathan langsung panik seperti cacing kepanasan. Dia buru-buru menyeka air mataku dengan lengan bajunya.
"Itu cuma bercanda kok. Aku nggak benaran mau menculikmu ke rumahku. Jangan nangis, dong."
Namun, kepala sekolah bisa menangkap perasaanku yang sebenarnya. Dia tak tahan untuk bertanya apa yang sebenarnya terjadi antara aku dan keluargaku. Setelah mendengar kisah tentang Emma, Nathan sampai melongo tak percaya.
"Orang tuamu meninggalkan anak kandung sehebat kamu demi anak angkat yang hobinya cari perhatian? Mereka kena guna-guna, ya?"
Bab 8
"Dia cuma punya masalah di mata, bukan buta total. Kenapa harus terus-menerus mengalah padanya?"
Kepala sekolah menepuk kening Nathan, memperingatkannya agar lebih hati-hati dalam bicara. Setelah itu, beliau memelukku erat seperti seorang ibu dan mengelus punggungku dengan lembut.
"Kalau begitu, mulai sekarang kamu jadi anak angkatku saja. Anak baik sepertimu, kalau mereka menolakmu, aku yang akan menerimamu."
Aku menangis tersedu-sedu di pelukan kepala sekolah, sementara Nathan hanya bergumam lirih.
"Kalau dia jadi anakmu, berarti kita kakak adik dong."
Masa SMA adalah masa paling santai dalam hidupku. Bahkan saat liburan, aku sering tinggal di asrama dengan alasan belajar.
Orang tuaku pun tak sempat mengurusku. Kudengar mereka sibuk membawa Emma berobat dan memasukkannya ke berbagai les tambahan, sampai bisnis keluarga pun terbengkalai. Uang sakuku ikut terpotong. Untung saja, aku sudah mencapai kebebasan finansial sejak lama, jadi tanpa bantuan Keluarga Moore pun hidupku tetap nyaman.
Sejak kecil, aku punya insting bagus dalam investasi karya seni. Namun, di kehidupan sebelumnya, aku termakan omongan ayah dan Emma yang mengatakan bahwa mengaitkan seni dengan uang adalah hal memalukan.
Padahal mereka sendiri diam-diam menjual karya yang aku pilih demi keuntungan, tanpa pernah memberiku sepeser pun. Di kehidupan ini, aku sudah bisa melihat siapa mereka sebenarnya, jadi aku hanya mempercayakan investasiku pada kepala sekolah yang paling kupercaya. Melihat angka di buku tabungan terus bertambah, aku merasakan rasa aman yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Memang benar, kemampuan menghidupi diri sendiri adalah hal paling penting.
Akhir pekan ini, kepala sekolah dan Nathan sengaja meluangkan waktu untuk mengajakku piknik di taman dekat sini. Kepala sekolah pergi memarkir mobil, sedangkan aku dan Nathan lebih dulu mencari tempat di lapangan rumput. Awalnya, aku sangat menantikan hari ini, tetapi semua itu sirna begitu melihat Keluarga Moore datang dari arah berlawanan.
Emma berjalan di depan sambil menggandeng lengan Miles, diikuti kedua orang tuaku yang sudah lama tak kulihat. Begitu mereka melihatku, senyum cerah di wajah mereka pun langsung hilang.
Begitu Emma melihatku, dia langsung ketakutan dan bersembunyi di belakang Miles, seakan-akan aku akan memakannya. Sikap manja ala bunga yang rapuh itu langsung membuat Miles memasang ekspresi garang dan memandangku dengan tajam.
"Katanya sibuk belajar, ternyata cuma bohong, ya."
Melihat Nathan berdiri di sebelahku, Emma menggigit bibirnya dengan kesal.
"Aubrey, kamu lagi kencan sama pacar, ya? Ayah dan Ibu sangat khawatir sama kamu, tapi kamu bahkan nggak pulang pas liburan dan malah bohongi kami. Sejak masuk SMA, kamu memang sudah berubah."
Orang tuaku yang sok suci itu juga menatapku dan Nathan dengan terkejut.
"Aubrey, kamu masih kecil, tapi sudah membohongi orang tuamu demi seorang pria. Kamu mau lihat kami mati karena marah, ya?"
"Kapan kamu bisa menurut dan bersikap manis seperti Emma?"
Mereka berempat langsung menyerangku dengan tuduhan tanpa henti, bahkan tak memberiku kesempatan untuk menjelaskan. Meskipun Nathan sudah pernah dengar betapa pilih kasihnya Keluarga Moore, Nathan tetap saja bingung menghadapi serangan bertubi-tubi mereka.