Cinta Dalam Keheningan

Đang tải thông tin quảng bá...

Cinta Dalam Keheningan

GoodNovel Hoàn thành

Sejak lahir, Aria sudah bisu dan tak diinginkan siapa pun. Namun, dia tanpa sengaja masuk ke Keluarga Kurnia dan menjadi nyonya keluarga tersebut. Dia tahu betul, Ian sama sekali tidak mencintainya. S...

Chương (1)

第1章

Sejak lahir, Aria sudah bisu dan tak diinginkan siapa pun. Namun, dia tanpa sengaja masuk ke Keluarga Kurnia dan menjadi nyonya keluarga tersebut. Dia tahu betul, Ian sama sekali tidak mencintainya. Setelah Letty, cinta pertama Ian, kembali dari luar negeri, Ian kembali menjalin hubungan dengannya. Aria menyembunyikan hasil tes kehamilannya dan sadar bahwa sudah waktunya dia mundur. Bab 1 Aria menggenggam hasil tes kehamilan saat melangkah masuk ke ruang VIP. Saat itu juga, dia melihat Letty sedang menyuapkan sepotong kue ke mulut Ian. Ian memakannya dengan senyuman di wajah, tanpa sedikit pun penolakan. Sebagai istrinya, Aria tahu betul bahwa Ian tidak pernah makan makanan yang disuapkan orang lain. Namun, prinsip itu tampaknya tak berlaku ketika yang melakukannya adalah Letty, cinta pertamanya. "Aria, kamu datang ya? Kenapa nggak telepon dulu biar aku jemput di luar? Ah ... maaf, aku lupa kamu nggak bisa bicara," ujar Letty dengan senyuman tenang, ekspresinya santai seolah-olah tak ada yang salah. Aria menarik sudut bibirnya, lalu duduk tanpa berkata apa-apa. Letty tiba-tiba berkata, "Oh ya, kemarin aku ketemu pamannya Ian. Dia kelihatannya sangat menantikan anak kalian." Suasana di meja makan seketika membeku. Ian tertawa dengan nada sinis. "Aku nggak akan biarin wanita bisu lahirin anakku. Gimana kalau anakku juga bisu nanti?" Sejak kecil, Aria sudah terbiasa mendengar berbagai ucapan diskriminatif karena cacatnya. Akan tetapi, justru sindiran acuh tak acuh dari Ian adalah yang paling menyakitkan. Dia menyentuh perut bagian bawahnya, teringat hasil pemeriksaan tadi. Seketika, hatinya terasa getir. Dia hamil. Satu bulan. Awalnya dia ingin memanfaatkan kehadiran anak ini untuk memperbaiki hubungan mereka sebagai suami istri. Namun, sekarang dia merasa tak ada gunanya memberi tahu Ian. Aria diam-diam menyembunyikan hasil tes kehamilannya. Sebulan lalu, Ian mabuk berat dan memaksanya untuk berhubungan. Hanya sekali, tetapi langsung terjadi kehamilan. Dokter bilang kondisi tubuh Aria sangat khusus. Jika kandungan ini digugurkan, kemungkinan besar dia tidak akan bisa hamil lagi. Ian pasti tidak akan mengizinkan anak ini lahir, tetapi Aria tidak tega untuk menggugurkannya. Dia merasa sudah waktunya untuk pergi. Letty melirik sejenak lalu tersenyum, "Kok begitu? Orang tua kalian pasti sudah nggak sabar ingin gendong cucu. Kalau kamu mikir seperti itu, berarti kamu mesti cari orang lain buat lahirin anakmu dong?" Nada bicaranya penuh arti dan tatapan menggoda di matanya pun tak bisa disembunyikan saat dia menatap Ian. Seperti yang diduga, Ian pun membalas tatapannya dengan sorot mata membara. "Kamu bisa?" tanya Ian. Mengatakan hal seperti itu di depan istri sendiri, menyuruh perempuan lain melahirkan anaknya, sudah cukup disebut penghinaan, bahkan kekejaman. Letty menahan senyuman di sudut bibirnya, lalu berpura-pura malu. "Jangan bercanda deh, istrimu masih di sini lho." Sambil berkata begitu, dia kembali menyuapi Ian tanpa melanjutkan topik itu. Dia sengaja merayu tanpa benar-benar menolak, cara yang licik tetapi efektif. Begitu mendengar kata "istri", Ian melirik Aria sekilas. Melihat wanita itu masih dengan ekspresi lemah dan tidak bersuara sedikit pun, dia pun mencibir. Aria tahu apa yang ditertawakan Ian, karena pernikahan mereka memang hanya sebuah kecelakaan. Setengah tahun yang lalu, Ian bersikeras ingin menikahi Letty. Namun, Keluarga Kurnia yang terpandang menentang keras karena Letty berasal dari keluarga biasa. Setelah berkali-kali ditolak dan dicemooh oleh ibu Ian, Letty akhirnya pergi ke luar negeri dengan harga diri yang terluka. Kebetulan pada saat itu, paman Ian jatuh di jalan dan tak ada yang berani menolong. Hanya Aria yang membawanya ke rumah sakit. Sang paman terkesan dengan Aria, jadi memperkenalkannya kepada Ian. Dalam emosi sesaat, Ian pun menikahi Aria, si gadis bisu yang tak berguna, hanya untuk membangkang pada keluarganya. Faktanya, rencananya berhasil. Orang tua Ian sangat marah dan sejak itu memilih tak ikut campur dalam urusan percintaan anaknya. Aria selalu merasa dirinya seperti pencuri yang telah mencuri kebahagiaan orang lain. Dia sebenarnya adalah gadis yang lemah lembut dan agak penakut. Jika bukan demi biaya pengobatan adiknya, dia tak akan pernah berani menerima lamaran itu. Tiba-tiba, sebuah pikiran terlintas di benaknya. Bagaimana kalau dia pergi saja? Dengan begitu, Ian dan Letty bisa bersama dan kehamilannya juga tidak akan terbongkar. Meskipun Aria punya perasaan pada Ian, dia sadar betul Ian sangat membencinya. Aria menunduk. Kepergiannya sudah tak bisa ditunda lagi. Namun ... bagaimana dengan adiknya? Bab 2 Setelah makan siang, Ian pergi mengambil mobil lebih dulu. Letty dan Aria berdiri di depan restoran menunggunya. Aria menunduk menatap ujung sepatunya saat Letty tiba-tiba bertanya, "Kamu tahu 'kan, Ian menikahimu hanya karena emosi sesaat?" Aria mengangkat kepala, lalu mengangguk dengan ragu. Letty mengangkat dagunya sedikit. Sikap lembut yang ia tampilkan di depan Ian tadi menghilang sepenuhnya, berganti dengan keangkuhan. "Kalau begitu, kamu juga tahu dulu dia sampai berselisih dengan keluarganya demi aku, bahkan bilang nggak mau menikahi wanita lain selain aku?" Aria tetap mengangguk tanpa menunjukkan reaksi lain. Sikap tenangnya justru membuat Letty semakin geram. Dulu saat Letty memutuskan ke luar negeri, dia ingin Ian mengejarnya. Siapa sangka, tak lama kemudian Ian malah menikahi wanita lain dan itu adalah seorang wanita bisu! Letty sama sekali tak bisa menerima kenyataan itu. Letty menggertakkan giginya dalam hati. Wanita bisu ini terlihat bodoh dan lugu, jelas Ian tidak mungkin tertarik padanya. Ketika Letty sibuk memikirkan cara merebut kembali Ian, tiba-tiba perutnya nyeri hebat. Wajahnya seketika memucat, tubuhnya jatuh berlutut ke tanah dan tak mampu bangkit. Aria panik, buru-buru menahan tubuh Letty sambil mengeluarkan suara-suara cemas. Dia mencoba bertanya apakah Letty baik-baik saja. "Menjauh! Apa yang kamu lakukan ke dia?" Tiba-tiba, sebuah tangan yang kuat menarik Aria dengan keras dan melemparkannya ke samping. Kepala Aria terbentur benda keras di dekatnya dan darah langsung mengucur dari dahinya. Saat dia menahan rasa sakit dan menoleh, yang terlihat hanyalah Ian yang sudah setengah memeluk Letty, panik bertanya bagian mana yang sakit. Letty terisak sambil berkata bahwa perutnya sakit. Tanpa pikir panjang, Ian langsung mengangkat tubuhnya dan membawanya ke dalam mobil, lalu pergi begitu saja. Aria memegang lukanya yang terus mengeluarkan darah sambil terpaku memandang arah kepergian mobil itu. Dia tak percaya dirinya dibuang seperti sampah. Bayangan wajah panik Ian tadi terus berputar di benaknya. Itu pertama kalinya dia menyadari, ternyata Ian yang biasanya dingin dan tak peduli pun bisa merasa cemas. Aria tersenyum getir, lalu memanggil taksi untuk pergi ke rumah sakit. Untung saja, dokter bilang lukanya tidak parah. Cukup istirahat beberapa hari dan dia akan pulih. Aria pun merasa lega. Saat keluar dari ruang UGD, dia kebetulan berpapasan dengan Ian yang sedang mengambil obat untuk Letty. Pandangan Ian sempat melirik perban di dahi Aria, lalu keningnya berkerut sedikit. Dia berkata, "Kata dokter, Letty kena radang lambung akut. Nggak ada hubungannya sama kamu." Aria menarik sudut bibirnya. Tentu saja tidak ada hubungan. Jadi, tadi Ian mengira dirinya cemburu dan ingin mencelakai Letty? Aria mencoba menggunakan bahasa isyarat, ingin menjelaskan bahwa dia sama sekali tidak cemburu pada Letty. Kalaupun ada, dia tidak akan sejahat itu. Sayangnya, Ian sama sekali tidak tertarik menebak arti gerak-geriknya. Dengan nada setengah malas, dia berkata, "Nanti aku beliin kamu tas, anggap saja urusan ini selesai." Setelah itu, dia pergi membawa obat dan kembali ke Letty, tanpa berniat memedulikan Aria lagi. Aria ingin menjelaskan lebih lanjut. Dia mengejarnya sampai ke depan pintu kamar rawat. Saat ini, pintu tidak tertutup rapat. Melalui celah pintu, Aria melihat Ian duduk di tepi ranjang dan Letty menatapnya penuh perasaan, lalu akhirnya menciumnya. Ian tidak menolak. Setelah beberapa saat, Letty baru kembali duduk tegak. Tatapannya melirik ke arah pintu, seperti sengaja. Aria segera menarik diri, takut ketahuan. Dia meletakkan tangan di dada, berusaha meredakan perasaan tidak nyaman yang menekannya. Dia meyakinkan dirinya sendiri, 'Nggak apa-apa. Toh kamu memang sudah memutuskan untuk pergi. Kalaupun Ian dan Letty balikan, itu sudah bukan urusanmu lagi.' Bab 3 Aria pulang sendiri ke rumah. Dia mulai membereskan barang-barangnya. Sejak awal, dia memang tidak membawa banyak. Karena belum terlalu lama menikah, barang-barang yang dia miliki pun tidak banyak. Satu koper berukuran 20 inci sudah cukup untuk mengemas semuanya. Dia berdiri di ruang tamu vila yang luas sambil menarik koper, lalu menyentuh perutnya. Perasaan sepi yang tak terjelaskan tiba-tiba mengalir dalam hatinya. Tempat ini bukanlah rumahnya. Dia hanyalah pengunjung sementara yang pada akhirnya memang harus pergi. Satu-satunya yang dia khawatirkan hanyalah adiknya yang masih terbaring di rumah sakit. Tanpa uang, adiknya mungkin tak sanggup bertahan bahkan untuk satu hari pun. Tiba-tiba, pintu utama terbuka. Aria buru-buru menyembunyikan ponselnya. Ian melangkah cepat ke dalam. Begitu melihat Aria berdiri sambil membawa koper, dia langsung mencengkeram pergelangan tangannya. "Mau ke mana? Sudah bikin masalah, sekarang mau kabur?" Aria kebingungan. Dia sama sekali tidak tahu kesalahan apa lagi yang dia buat kali ini sampai membuat Ian begitu marah. Namun, karena memang berencana pergi, dia merasa sedikit bersalah juga. Dia pun mengambil ponselnya dan mengetik, menjelaskan bahwa dia hanya bosan, jadi membereskan baju-baju lama untuk disumbangkan. Ian tidak curiga, tetapi justru semakin kesal. "Letty kena radang lambung akut karena makan ayam pedas yang kamu kasih. Sekarang dia masih terbaring di rumah sakit dan kamu malah santai-santai beresin baju?" "Karena kamu yang bikin Letty sakit, kamu yang harus jaga dia. Mulai hari ini, kamu rawat dia sampai dia keluar dari rumah sakit!" Aria tercengang. Apa maksudnya Letty masuk rumah sakit karena dia? Kapan dia pernah memberi Letty ayam pedas? Dia panik ingin membela diri, tetapi Ian tidak memberinya kesempatan. Dia menyeret Aria dan memaksanya masuk ke mobil. Sepanjang perjalanan, Aria terus mencoba menunjukkan penjelasannya di ponsel, tetapi Ian sama sekali tidak peduli. Tak lama kemudian Aria menyadari, kebenaran itu tidak penting. Ian hanya sedang mencari alasan untuk menghukumnya, untuk menunjukkan bahwa di matanya, Aria tidak lebih dari pembantu tak berguna yang bisa diperintah sesuka hati. Aria tertawa getir. Menyuruh istri sendiri menjadi perawat untuk mantan kekasih. Pria ini sungguh kejam. Sesampainya di rumah sakit, Ian turun untuk memarkir mobil dan menyuruh Aria langsung ke ruang rawat. Letty sudah tahu kenapa Aria datang. Dia berpura-pura bersikap baik dan ramah. "Aduh, maaf ya, jadi nyusahin kamu. Tadi aku sudah bilang ke Ian nggak usah, tapi dia tetap saja maksa buat suruh kamu datang." Kalimat yang terdengar sopan itu terasa begitu menyakitkan. Aria memaksakan senyuman, lalu berbalik menuangkan air untuk Letty. Air di dalam termos masih sangat panas. Aria menyodorkan cangkir itu dan bersuara pelan, berusaha memperingatkan agar Letty berhati-hati karena panas. Namun, Letty tiba-tiba menggoyangkan tangannya. Air panas pun tumpah ke punggung tangannya. Letty langsung menjerit kesakitan. Aria panik, buru-buru ingin membawanya ke kamar mandi untuk didinginkan dengan air. Namun, saat itu juga, Ian menerobos masuk dari luar. Entah sejak kapan dia datang, tetapi begitu melihat tangan Letty yang hampir melepuh, tatapannya langsung berubah dingin dan penuh amarah. "Apa yang terjadi?" Aria hendak memberi isyarat, tetapi Letty sudah lebih dulu menangis. "Aku ... aku cuma minta dia ambilkan air, tapi dia tiba-tiba marah dan menyiram tanganku dengan air panas. Sakit banget, Ian ... sakit ...." Mata Aria membelalak lebar. 'Bukan begitu, bukan seperti itu!' Dia panik dan bersuara putus-putus, berusaha menjelaskan. Namun, semakin dia panik, semakin sulit dia mengekspresikan maksudnya. Tatapan Ian semakin dingin, matanya menusuk seperti paku yang menghantam tubuh Aria. Tiba-tiba, Ian berdiri dan menampar wajah Aria. Tamparan itu begitu kuat sampai membuat Aria terhuyung. Pipi putihnya langsung membengkak dan memerah. Belum cukup, Ian mencengkeram belakang leher Aria dan memaksanya berlutut di depan Letty. "Minta maaf padanya. Cepat!" Aria kesakitan, hatinya hancur, air mata mengalir tanpa henti. Dia membuka mulut dan mengeluarkan suara-suara lirih, mencoba menjelaskan bahwa dia tidak bersalah. Namun, justru itulah yang membuat Ian semakin marah. Dengan kasar, dia menekan kepala Aria ke bawah dan berkata dingin, "Bisu memang nggak bisa minta maaf, tapi masa tunduk saja nggak bisa?" Aria berusaha mengangkat kepala, tetapi cengkeraman kuat di lehernya membuatnya tak bisa melawan. Dia menggigit bibirnya hingga berdarah, hatinya terasa seperti terkoyak. Dia bisa berlutut untuk langit dan orang tuanya, tetapi tak pernah terpikir bahwa suatu hari, dia akan dipaksa suaminya sendiri untuk berlutut dan menyembah mantan kekasihnya. Bab 4 Kening Aria membentur keras lantai yang dingin. Dia mendengar Letty menenangkan. "Sudahlah, jangan menyulitkan dia. Lepaskan saja." Aria dipaksa berlutut dan menyembah, sementara Letty tampil sebagai penyelamat. Mendengar Letty berbicara seperti itu, Ian pun melepaskan cengkeramannya dengan wajah dingin, lalu menggendong Letty dan membawanya mencari dokter untuk diobati. Luka di tangan Letty tidak parah, tetapi saat dokter merawat lukanya, dia tetap menggigit bibir dan menahan air mata agar tidak jatuh. Butiran air mata itu menggantung di ujung mata, seolah-olah akan menetes kapan saja. Sungguh menyentuh hati siapa pun yang melihatnya. Ketika Aria mendekati ruang pemeriksaan, dia mendengar suara Ian yang dingin. "Tenang saja. Aku pastikan dia akan menanggung akibatnya." "Dia istrimu. Jangan sampai karena aku, hubungan kalian jadi rusak," ujar Letty sambil menghapus air mata secara diam-diam. Semakin Letty tampak pengertian dan dermawan, semakin Ian merasa iba padanya. Dalam hatinya, dia semakin yakin bahwa Aria memang cemburu dan sengaja menyiram Letty dengan air panas. Dia berdiri, bersiap untuk mencari Aria, tetapi mendapati perempuan itu sudah berdiri terpaku di ambang pintu. Aria mengeluarkan ponselnya dan menyerahkannya kepada Ian. Di dalam catatan, dia telah menuliskan secara detail seluruh kejadian, berharap Ian bersedia membaca penjelasannya. Namun, Ian yang sedang dikuasai amarah sama sekali tidak melirik isi ponsel itu. Dia langsung menepisnya hingga terlempar ke lantai. Ponsel itu pun hancur. Aria terkejut, tubuhnya membeku. Dia hendak memungutnya, tetapi Ian lebih dulu menarik kerah bajunya dan membenturkannya ke tembok. Di hadapan Ian, tubuh mungil Aria bagaikan burung kecil. Dia tak punya kekuatan untuk melawan sedikit pun. Aria hanya bisa menangis ketakutan, memohon ampun dengan suara yang tak karuan. Namun, Ian tak peduli. Dia mendekat, suaranya dingin dan mengerikan di telinga Aria. "Mau coba sendiri rasanya disiram air panas?" Sekujur tubuh Aria langsung merinding. Dengan ekspresi ketakutan, dia menggeleng keras sambil menggunakan berbagai gerakan tangan untuk memohon padanya. Ian hanya tertawa sinis, mencengkeram lengannya, dan menyeretnya masuk ke kamar mandi. Dia memutar keran air dan langsung menyiram tubuh Aria dengan air panas dari pancuran air. Suhu dari pemanas air memang tidak cukup tinggi untuk menyebabkan luka serius, tetapi tetap terasa perih dan menyiksa. Rasa sakit itu seperti kulitnya terkelupas. Dia mencoba menghindar sebisanya di ruang sempit itu, tetapi tak berhasil. Melihat kondisi Aria, Ian hanya berdecak dan mematikan air. Dia menatap Aria yang meringkuk ketakutan di pojok kamar mandi. "Ke sini." Tubuh Aria bergetar hebat. Dia tidak berani bergerak. Ian mengernyit, suaranya semakin dingin. "Aku memang terlalu baik sama kamu, sampai kamu nggak tahu diri. Sepertinya aku harus hentikan biaya rumah sakit adikmu, baru kamu sadar posisimu." Begitu mendengar kata "adik", Aria langsung mengangkat kepala. Mata merahnya penuh air mata, tatapannya dipenuhi rasa takut dan putus asa. Dia merangkak menghampiri Ian dan mencengkeram ujung bajunya, memohon dengan sepenuh hati. Ian menatapnya tanpa emosi, bibirnya justru melengkung membentuk senyuman yang kejam. Melihatnya tetap diam, Aria semakin ketakutan. Dia menunduk dan mulai membenturkan kepalanya ke lantai. Setiap kali membentur, suaranya terdengar jelas dan menyakitkan. Tak lama kemudian, lantai mulai ternoda oleh jejak darah halus. Pandangan Ian sedikit berubah. Dia mencengkeram rahang Aria, memaksa wajahnya terangkat. "Ini peringatan terakhir. Jangan pernah berpikir bisa menyaingi Letty. Perempuan sepertimu bahkan nggak pantas memegang sepatunya." Aria buru-buru mengangguk. Air mata dan darah bercampur di wajahnya yang pucat. Namun, dia tidak berani mengeluarkan suara sedikit pun, takut Ian benar-benar melampiaskan amarahnya kepada adiknya. Ian berbalik dan pergi meninggalkannya. Aria masih berlutut, tubuhnya meringkuk. Dia tak bersuara meskipun air matanya terus mengalir. Semua rasa sakit hanya bisa dia telan dalam diam. Dalam hatinya, hanya ada satu pikiran yang berulang-ulang muncul. Dia harus pergi. Dia pasti akan pergi. Dia tidak mau tinggal di tempat ini lagi! Bab 5 Aria bangkit perlahan, berjalan pincang saat keluar dari kamar mandi. Dia ingin mengambil kembali ponselnya. Bagaimanapun, dia tak punya uang lebih untuk membeli yang baru. Darah segar dari dahinya mengaburkan penglihatannya, membuatnya hampir terjatuh saat tubuhnya oleng. Untung saja sepasang tangan muncul dari belakang dan menahannya. Saat menoleh, dia melihat paman Ian menatapnya dengan sorot mata penuh kesedihan. Kebetulan, hari ini paman Ian memang datang ke rumah sakit untuk pemeriksaan ulang. "Aria, kenapa lukamu begitu parah?" Aria tak menyangka bisa bertemu paman Ian dalam keadaan seperti ini. Dia menunduk dengan canggung. Namun, justru sikapnya yang seperti ini membuat hati sang paman semakin nyeri. Dia langsung menyadari, semua luka di tubuh gadis ini pasti perbuatan keponakannya sendiri. "Bajingan itu memperlakukanmu seperti ini?" Awalnya dia mengira telah menjodohkan dua anak muda yang serasi, tetapi ternyata dia malah mendorong Aria ke dalam neraka. Sang paman membawa Aria ke UGD. Setelah mengurus segala keperluan, dia pun pamit pergi. Sebelum pergi, dia sempat berkata bahwa dirinya akan membantu Aria menyelesaikan semuanya. Aria tak mengerti maksudnya. Dia hanya menggenggam ponsel yang layarnya sudah retak dengan ekspresi kosong. "Ternyata kamu di sini. Susah sekali mencarimu." Aria berbalik dan melihat Letty entah sejak kapan sudah berdiri di belakangnya. Dia menatap Aria yang seluruh tubuhnya basah kuyup, bibirnya melengkung penuh rasa puas. "Kamu sudah lihat sendiri betapa perhatian Ian padaku, 'kan? Kalau kamu tahu diri, sebaiknya kamu pergi sendiri dari hidupnya. Kalau nanti sampai diusir, akan lebih memalukan." Aria menggigit bibirnya. Memang dia sudah berencana pergi, tetapi mendengar ucapan itu dari mulut Letty terasa sangat menyakitkan. Dia menyimpan kembali ponselnya dan membalikkan badan, tak ingin berurusan lebih jauh. Namun, Letty langsung menariknya dengan kesal, "Sikap macam apa itu? Kamu meremehkanku? Sudahlah, aku nggak akan bersikap perhitungan sama orang bisu. Aku tahu kamu pasti susah cari kerja. Jangan bilang aku kejam. Ambillah uang ini dan tinggalkan Ian sekarang juga." Tanpa memberi kesempatan berbicara, Letty menyodorkan selembar cek. Jumlahnya tidak terlalu besar, hanya sekitar ratusan juta. Namun bagi Aria, itu adalah nominal yang sangat besar. Melihat Aria ragu-ragu, Letty mencibir. "Masih kurang? Selama setengah tahun ini kamu juga sudah ambil banyak dari Keluarga Kurnia. Jangan nggak tahu diri!" Aria membuka mulut dan menggeleng. Dia tak bisa menjelaskan bahwa selama ini dia tidak pernah meminta apa-apa dari Ian. Bahkan uang pengobatan harian untuk adiknya sudah membuatnya sangat bersyukur. Dia tak pernah berani berharap lebih, takut membuat Ian semakin muak padanya. Awalnya Aria ingin menolak, tetapi setelah berpikir ulang, dia tak punya penghasilan setelah pergi dari Keluarga Kurnia. Selain itu, ada satu nyawa kecil dalam perutnya yang harus dia lindungi. Kalau Letty benar-benar ingin membayar untuk menyingkirkannya, kenapa tidak menerimanya saja? Aria dibesarkan dengan prinsip tak menginginkan apa yang bukan miliknya. Maka, kali ini dia seolah-olah melawan nurani sendiri saat menerima cek itu. Wajahnya tampak bersalah. Dia berpikir dalam hati, suatu saat nanti jika dia punya uang, dia pasti akan mengembalikannya pada Letty. Aria melipat cek itu dengan hati-hati dan menyimpannya di saku bajunya. Menurutnya, Letty akan tinggal di rumah sakit cukup lama dan Ian pasti akan menemaninya. Itulah waktu yang tepat untuk mencairkan ceknya di bank. Dia memutuskan untuk kembali ke rumah Keluarga Kurnia dulu untuk mengganti baju. Seluruh tubuhnya basah kuyup, dia bisa masuk angin. Kalaupun dia sakit, itu tak jadi masalah. Namun, dia tidak ingin bayi dalam kandungannya terdampak. Rumah Keluarga Kurnia sangat luas. Selain kamar utama, masih banyak kamar tamu. Meskipun secara status, Aria adalah Nyonya Keluarga Kurnia, dia hanya tidur di kamar tamu. Dia baru akan dipanggil ke kamar utama saat Ian ingin menyalurkan hasratnya. Tentu saja setelah selesai, dia akan langsung disuruh kembali ke kamar tamu. Aria melepas pakaian basahnya dan mengeringkan tubuh dengan handuk. Tanpa sadar, tangannya menelusuri perutnya. Pinggangnya masih ramping dan perutnya belum menonjol, tetapi dia merasa ajaib. Di dalam sana, ada kehidupan yang sedang tumbuh. Dia menghela napas. Dia memang menantikan kelahiran bayi ini, tetapi juga ragu apakah dirinya bisa menjadi ibu yang baik. Saat hendak mengenakan pakaian, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Entah sejak kapan Ian sudah kembali. Dia berdiri di ambang pintu dan melihat Aria berdiri telanjang, matanya sedikit menyipit. Tubuh Aria yang mungil, kulitnya yang putih mulus, dan pipinya yang memerah. Aria panik dan buru-buru menarik selimut untuk menutupi dirinya. Semua itu membuat tenggorokan Ian terasa kering. Namun, dia sangat pandai menyembunyikan perasaannya. Tak ada satu pun emosi yang terlihat di wajahnya. Ian berkata dengan datar, "Tangan Letty cedera cukup parah. Kamu juga harus tanggung jawab. Aku nggak berharap kamu bisa merawatnya dengan baik, tapi mulai sekarang kamu masak di rumah dan aku yang akan antar makanannya ke rumah sakit. Paham?" Aria mengangguk panik, menarik selimut lebih erat. Wajahnya yang memerah pun ditutupi dengan selimut. Tatapan Ian menyapu kulitnya beberapa detik, lalu dia menggerakkan jemarinya untuk melonggarkan kerah bajunya. Saat hendak berbalik pergi, matanya tiba-tiba menangkap ujung kertas mencuat dari tumpukan pakaian basah di lantai. Dia merasa aneh, lalu mengambilnya. Begitu melihat isi kertas itu, ekspresinya langsung berubah. "Aria, kamu minta uang dari Letty?" Bab 6 Hati Aria mencelos. Dia panik dan terus menggeleng sambil berusaha menjelaskan dengan isyarat. Namun, Ian sama sekali tak meliriknya. Dia memandangi cek itu dengan saksama beberapa kali, lalu tiba-tiba tertawa dingin sebelum melemparkan cek itu ke lantai. "Kamu diam-diam minta uang dari Letty? Aria, kalian baru kenal, tapi kamu sudah minta uang? Nggak tahu malu sekali. Sepertinya aku benar-benar meremehkan keserakahanmu." Dia melangkah mendekat perlahan, tubuhnya yang tinggi besar menampilkan bayangan gelap yang sepenuhnya menelan Aria. Matanya yang tajam kini dipenuhi hawa dingin. Badai siap meledak. Aria tahu Ian sedang marah. Dia sudah pernah merasakan amarah Ian dulu. Itu bukan sesuatu yang bisa dia tahan. Aria terduduk di atas ranjang, perlahan mundur. Dia terus menggeleng dan memohon, tetapi Ian bukan tipe orang yang mudah ditenangkan. Dengan kasar, dia menarik Aria dari tempat tidur dan melemparkannya ke lantai. Rasa malu karena tubuh telanjangnya menyerangnya seperti gelombang besar. Aria menggigil, berusaha melingkarkan tubuhnya, ingin mempertahankan sisa harga dirinya. Ian menatapnya dengan dingin dan mencibir. "Mau nutupin apa? Kamu kira aku tertarik sama kamu? Perempuan kayak kamu, sekalipun telanjang dan berdiri di pinggir jalan, tetap nggak ada yang mau lihat." Aria memejamkan mata karena malu, air mata perlahan mengalir dari sudut matanya. Tentu saja dia tahu Ian tidak pernah tertarik padanya yang cacat. Setiap kali mereka tidur bersama, wajahnya selalu ditekan ke bantal. Dia tahu Ian sedang membayangkan Letty. Bagi Ian, dia tak lebih dari pengganti murahan, alat pelampiasan gratis yang tak ada nilainya. Aria menggigit bibir dan menahan semua rasa sakit di dalam hati. Dia mengulurkan tangan, mencoba mengambil kembali cek itu. Uang itu terlalu penting baginya. Sekalipun harus kehilangan harga diri, dia tetap harus mempertahankannya. Namun, saat Ian melihat betapa gigihnya Aria mengejar cek itu, dia malah semakin kesal. Wajahnya semakin suram. Dia mengangkat kaki dan menginjak tangan Aria dengan keras, menekannya tanpa belas kasihan. Rasa sakit membuat wajah Aria pucat. Dia tak mampu berteriak, hanya tubuhnya yang gemetar hebat. Ian menunduk menatapnya tanpa sedikit pun rasa simpati, lalu merobek cek itu menjadi serpihan kecil. Potongan-potongan kertas itu berjatuhan di tubuh Aria seperti salju. Aria memungut serpihan-serpihan itu, air matanya diam-diam mengalir. Melihat Aria begitu tergila-gila pada uang, Ian tak bisa menyembunyikan rasa jijiknya. "Orang miskin memang haus uang. Kalau kamu memang butuh, kenapa nggak minta langsung dariku? Kalau aku lagi baik hati, mungkin bakal kasih kamu sedikit. Setidaknya kamu nggak bikin aku malu dengan minta ke orang lain." Saat berkata begitu, dia membungkuk dan mencengkeram pipi Aria, memaksanya mendongak. Wajah Aria yang dipenuhi air mata tampak pucat dan rapuh, ada kesan sakit yang lembut di balik tubuhnya yang kurus. Ian sempat terdiam. Ujung jarinya yang kasar menggosok-gosok bibir Aria dengan keras. Aria kesakitan dan memalingkan wajah, tetapi gerakan kecil itu justru semakin membuat Ian tak senang. Tatapan Ian menggelap. Dia langsung mengangkat Aria dan melemparkannya ke atas ranjang, lalu menindih tubuhnya. Aria tahu apa yang akan terjadi. Dia sangat takut bayi di kandungannya terluka, jadi dia berusaha sekuat tenaga untuk melawan. Namun, dalam usahanya itu, telapak tangannya tak sengaja menyapu pipi Ian. Suasana langsung membeku. Aria gemetaran menatap Ian yang perlahan menoleh. Sorot mata pria itu begitu dingin dan tajam seperti badai yang akan meledak. Dengan hati-hati, Aria mengisyaratkan permintaan maaf. Namun, Ian malah menangkap kedua pergelangan tangannya dan menekankannya ke atas kepala, lalu bertanya dengan suara rendah, "Aria, kamu berani menamparku? Mau mati?" Aria ketakutan. Dia menangis dengan suara kecil seperti anak kucing yang terluka, tetapi lagi-lagi membuat Ian semakin terbakar amarah. Seperti biasa, Ian memutar tubuhnya dan menekan wajah Aria ke bantal. Meskipun Aria melawan, Ian tetap memaksa. Tepat saat itu, ponsel Ian berdering keras. Dia mengangkatnya dengan nada kasar. "Ada apa?" Beberapa detik hening, lalu terdengar suara lemah di seberang. "Ian, kamu 'kan cuma mau ambil barang sebentar. Kok belum balik? Aku sendirian di rumah sakit, takut ...." Ian menurunkan ponsel dan melihat layar. Ternyata dari Letty. Dia baru sadar nada bicaranya tadi terlalu kasar, jadi mengubah nada suaranya menjadi lebih lembut. "Aku lagi ada urusan. Nanti aku nyusul." Letty di seberang hanya menjawab pelan, "Oh, oke." Kemudian, dia memutuskan panggilan. Begitu telepon ditutup, Letty melemparkan ponselnya ke lantai dengan keras. Matanya menyala penuh kebencian dan amarah. Dia bukan orang bodoh. Hanya dari suara Ian yang parau dan penuh gairah, serta isakan samar di latar belakang, dia sudah bisa menebak apa yang sedang terjadi di rumah. Semakin memikirkannya, Letty semakin marah. "Dasar perempuan jalang! Baru saja terima uang dariku, sekarang malah godain cowokku! Dasar bisu nggak tahu malu! Kalau begitu, jangan salahkan aku bertindak kejam!" Dia memungut ponselnya, mencari sebuah nomor, dan mengirim pesan. Begitu mendapat balasan, Letty menyeringai dingin. Tatapannya yang kejam begitu menakutkan. Bab 7 Di rumah Keluarga Kurnia. Akhirnya Ian tidak melanjutkan. Aria terus menangis, bahkan di tengah-tengah tangisnya, dia sempat muntah. Semua gairah Ian langsung padam. Mendengar suara muntah dari kamar mandi, Ian mengernyit sambil berteriak, "Jangan-jangan kamu kena penyakit aneh ya? Kalau sakit, pergi berobat. Jangan balik dan nularin aku." Aria keluar dari kamar mandi dengan jubah mandi menutupi tubuhnya, lalu menggeleng dengan canggung. Dia tidak bisa membiarkan Ian tahu bahwa itu adalah mual karena kehamilan, jadi dia mengetik di ponsel. [ Tadi salah makan. ] Ian melirik layar ponselnya sekilas, tampak tidak terlalu peduli, lalu berkata, "Jangan lupa apa yang aku suruh. Hari ini Letty ingin makan yang ringan. Sekarang kamu masak. Aku mau mandi dulu, lalu langsung ke rumah sakit." Mendengar bahwa dia bisa menjauh dari Ian, Aria langsung berlari terbirit-birit. Melihat betapa cepatnya dia pergi, Ian sedikit kesal dan mengerutkan kening. Setelah mandi dan berganti pakaian, Ian turun dan mendapati Aria sudah membungkus makanan dengan rapi. Dia melirik sekilas dan mendapati hanya ada satu porsi. "Kamu cuma masak buat satu orang?" Aria bingung dan menggunakan bahasa isyarat. Bukankah hanya untuk Letty? Dia berpikir Ian juga tak akan mau makan masakannya. Setelah menikah, dia pernah dengan sepenuh hati menyiapkan makanan untuk Ian, tetapi pria itu tidak pernah menyentuhnya. Semuanya langsung dibuang ke tempat sampah. Wajah Ian menjadi suram, tetapi dia tidak berkata apa-apa lagi. Dia melemparkan kartu ke Aria agar wanita itu bisa pergi ke supermarket membeli bahan masakan, menyuruhnya masak yang lebih enak untuk Letty, lalu pergi sambil membawa makanan hangat itu. Begitu Ian pergi, Aria menghela napas pelan. Dia melihat ke punggung tangannya. Tadi saat mengukus makanan, dia tak sengaja terkena uap panas. Kulitnya memerah. Dia tidak akan memberi tahu Ian karena dia tahu itu hanya akan berujung pada ejekan. Aria mengambil salep luka bakar dan mengoleskannya dengan hati-hati. Sebenarnya, dia sudah terbiasa merawat dirinya sendiri. Adiknya sudah bertahun-tahun sakit keras dan mereka tidak punya keluarga lain. Terus terang, kalau suatu hari dia mati, belum tentu ada yang mengurus jenazahnya. Saat itu, Aria menerima pesan dari paman Ian, Dika. Begitu membacanya, matanya langsung memerah. Dika berkata, dia sangat menyesal telah memperkenalkannya kepada Ian. Dia bersedia membantu Aria meninggalkan tempat itu dan hidup di luar negeri. Tentu saja, adiknya juga akan dibawa dan dirawat di rumah sakit luar negeri. Yang paling penting, Dika berjanji akan menanggung semua biaya pengobatan adiknya sampai selesai. Aria akhirnya bisa bernapas lega. Dengan penuh rasa syukur, dia membalas pesan itu. Sekarang, dia benar-benar tidak punya beban lagi. Akhirnya, dia bisa pergi dari tempat yang seperti neraka ini. Aria mengusap air matanya, lalu mengambil kartu yang tadi dilemparkan Ian. Toh dia akan segera pergi, anggap saja ini terakhir kalinya dia membantu Ian. Dia akan belanja bahan makanan dan mengisi penuh kulkas itu. Keluar dari supermarket, Aria tidak sempat mengejar bus. Dia berpikir kompleks vila tidak terlalu jauh, jadi dia memutuskan untuk berjalan kaki. Namun, semakin berjalan, dia semakin merasa ada yang tidak beres. Jalanan di malam hari sangat sepi, hanya ada angin malam yang sesekali berembus. Di sela-sela embusan angin, Aria samar-samar mendengar suara langkah kaki di belakangnya. Sekelilingnya gelap gulita, angin yang menerpa dedaunan pun menimbulkan suara yang terdengar mengerikan. Aria mulai merasa takut. Dia tanpa sadar mempercepat langkah, tetapi belum sempat berjalan jauh, sekelompok preman muncul dari belakang dan mengelilinginya. Aria tertegun, mundur beberapa langkah. Salah satu preman berambut pirang menggosok-gosokkan tangannya dan menyeringai mesum, "Cantik, temani kami main yuk?" Alarm bahaya berdentang keras di kepala Aria. Dia menjatuhkan tas belanjaannya dan langsung berlari. Namun, baru beberapa detik, dia sudah tertangkap. Sebuah kain basah menutup hidung dan mulutnya. Dalam hitungan detik, kesadarannya lenyap total. Saat tersadar kembali, kepalanya terasa sangat nyeri. Segera, dia teringat apa yang terjadi sebelum dirinya pingsan. Dia mencoba menggerakkan tubuhnya. Mendapati dirinya tidak diikat, dia segera merogoh ponsel dan mengirim pesan darurat ke seluruh kontak di ponselnya, berharap ada yang bisa menolong. Setelah memastikan semua pesan telah terkirim, matanya tiba-tiba menangkap satu pesan masuk yang belum dibaca. Pengirimnya adalah dokter utama yang menangani adiknya. Hati Aria mencelos, firasat buruk langsung menyelimuti dirinya. Dengan tangan gemetar, dia membuka pesan itu. Isinya hanya empat kata yang terkesan dingin. [ Kondisi memburuk, segera datang.] Bab 8 Aria gemetar kedinginan. Pesan itu dikirim satu jam yang lalu, saat dia masih dalam keadaan pingsan. Dia tak sempat lagi berwaspada, langsung bangkit dan berlari ke arah pintu. Namun, sebelum tangannya menyentuh gagang pintu, pintu itu sudah terbuka dari luar. Sekelompok preman masuk sambil tertawa. Di antara mereka, berdirilah Letty. Aria membelalak. Dia tak percaya Letty akan melakukan hal seperti ini. Apakah ini karena Ian? Namun, dia sudah berjanji akan pergi, kenapa Letty masih tega berbuat sejauh ini? Letty memandangnya dengan wajah suram. "Lakukan." Si pirang langsung memberi aba-aba. Beberapa orang lainnya menangkap Aria dan memaksanya duduk di kursi. Setelah itu, si pirang mengambil kamera video dan berdiri di depan Aria. "Jangan salahin kami bertindak kasar. Lebih baik kamu nurut, biar nggak terlalu sakit. Tsk, tsk, cantik juga mukanya." Bulu kuduk Aria berdiri. Dia menoleh ke arah Letty, menangis sambil memohon lewat isyarat tangan. Dia hanya ingin segera ke rumah sakit, ingin melihat adiknya. Namun, Letty tak peduli, juga tak berniat membiarkannya pergi. Selama Aria masih ada, Letty tak akan pernah tenang mendampingi Ian dan menikmati semua kemewahan sebagai nyonya besar. Preman-preman itu mendekat, tangan-tangan mereka mulai meraba tubuh Aria. Aria ketakutan dan putus asa, air matanya jatuh tanpa henti. Dia berusaha keras mendorong tangan-tangan itu, tetapi tiba-tiba lengannya dicengkeram dan dipelintir hingga terkilir. Aria menangis tanpa suara, tubuhnya gemetar. Di benaknya, muncul bayangan Ian untuk sesaat. Namun, bagaimana mungkin Ian akan muncul di sini? Dalam keputusasaan, Aria hanya bisa berpikir satu hal. Lebih baik mati daripada menanggung penghinaan seperti ini. Dengan seluruh tenaga, dia meraih sebilah pecahan besi di lantai dan menusukkannya ke perutnya sendiri. Semua orang di ruangan itu terdiam. Darah kental berwarna merah tua menetes ke lantai. Si pirang dan kawan-kawannya panik. "Sial! Jangan sampai ada yang mati!" Letty juga tak menyangka Aria akan bertindak sejauh itu. Di saat bersamaan, suara mesin mobil terdengar semakin dekat dari luar. Letty buru-buru membuka jendela, ekspresinya langsung berubah. Ian? Kenapa dia bisa datang ke sini? "Ambil semua barang, keluar lewat pintu belakang! Urusan pembayaran nanti aku bereskan!" Preman-preman itu bergegas kabur seperti dikejar hantu. Aria bersimbah darah, pakaiannya acak-acakan. Dia tersungkur di lantai sambil memegangi perutnya yang terus mengeluarkan darah. Letty berdiri di sampingnya, wajahnya berubah-ubah antara panik dan cemas. Saat itu, pintu tiba-tiba ditendang hingga terbuka. Ian masuk dengan beberapa orang suruhannya. Begitu melihat kondisi ruangan, mata Ian langsung membelalak. "Ian, akhirnya kamu datang! Aku takut sekali!" Letty mengambil inisiatif lebih dulu, menangis tersedu-sedu sambil berlari ke arah Ian. "Aria menyuruhku ke sini, tapi begitu aku masuk, dia langsung menyakiti diri sendiri dan ingin menuduhku! Aku nggak tahu dia sebenarnya mau apa!" Dengan maksud lain, Aria ingin menjebaknya. Ian menatap wajah Aria yang pucat seperti mayat, dahinya mengernyit sedikit. Baru hendak berbicara, dia melihat Aria mencoba bangkit. Jatuh, bangkit lagi, jatuh lagi .... Tubuhnya penuh debu, darah terus mengalir. Ian tak tahan melihatnya. Dia maju untuk menolong. Begitu Aria melihatnya, hal pertama yang dia lakukan adalah berlutut dan memeluk kaki Ian, memohon lewat isyarat tangan agar diantar ke rumah sakit. Ian tidak mengerti maksudnya. Sementara itu, Aria mengira dia menolak, jadi mulai membentur-benturkan kepalanya ke lantai sambil menangis keras. Darah dan air mata membasahi lantai hingga mengenai ujung sepatu Ian. Tiba-tiba, ponsel Aria berbunyi. Dia terpaku, lalu menoleh dengan kaku ke arah layar. Dengan tangan gemetar, dia membuka pesan terbaru. [ Bu Aria, adikmu sudah pergi. Harap segera datang untuk mengurus jenazah. ] Cahaya di mata Aria benar-benar padam. Ingatan tentang momen kebersamaan selama belasan tahun melintas di benaknya. Dia dan adiknya hidup bergantungan. Dia pernah berpikir, selama dia cukup berusaha, suatu hari nanti adiknya pasti akan sembuh. Namun kini ... bahkan satu-satunya keluarga yang dia miliki pun telah pergi. Ian tidak menyadari perubahan Aria, malah dia bertanya dengan curiga, "Kenapa kamu jebak Letty untuk datang ke sini?" Aria menatapnya dengan mata kosong, wajahnya penuh darah dan air mata. Dia tetap diam seperti orang yang telah mati. Dia tak menjelaskan apa-apa. Yang dia pikirkan hanya satu hal, ke rumah sakit. Meskipun itu hanya untuk melihat adiknya untuk terakhir kalinya. Dengan susah payah, dia merangkak untuk bangkit, menopang tubuhnya pada dinding, lalu berjalan keluar dengan tertatih-tatih. Ian mengerutkan kening dan hendak menahannya, tetapi Aria mendorongnya keras. Dia terdiam. Ini pertama kalinya Aria menolak dirinya. Gadis yang selama ini selalu patuh padanya, kini berani menolaknya? Aria terus berjalan, tanpa peduli rasa sakit, tanpa kenal lelah. Dia tiba di rumah sakit, masuk ke ruang jenazah, melihat adiknya yang terbujur kaku. Hatinya sudah hancur, tetapi tak setetes pun air mata mengalir. Setelah itu, dia hanya merawat lukanya sekadarnya, lalu pulang ke rumah Keluarga Kurnia untuk mengambil koper yang sudah lama dia siapkan. Karena adiknya sudah tiada, dia menolak tawaran Dika untuk membiayai hidupnya di luar negeri. Dia memilih pergi sendiri. Aria bahkan tidak menoleh sedikit pun pada rumah mewah tempat dia tinggal selama lebih dari setengah tahun itu. Tak ada satu pun hal di sana yang layak untuk dikenang. Dengan hati hampa, dia melangkah di tengah angin malam dan menghilang dalam kegelapan.