Đang tải thông tin quảng bá...
Pengorbanan Dibalas Pengkhianatan
Sepuluh tahun lalu, demi menyelamatkan Marcus, aku kehilangan penglihatanku. Sepuluh tahun kemudian, Marcus malah menempatkan wanita simpanannya di vila yang sama denganku. Setiap malam, dia berpura-p...
Chương (1)
第1章
Sepuluh tahun lalu, demi menyelamatkan Marcus, aku kehilangan penglihatanku.
Sepuluh tahun kemudian, Marcus malah menempatkan wanita simpanannya di vila yang sama denganku. Setiap malam, dia berpura-pura menghiburku hingga tertidur di paruh malam pertama, lalu menghabiskan paruh malam berikutnya bersama wanita itu. Bahkan anakku diam-diam memanggil wanita itu "Mama".
Mereka tidak tahu, aku sudah mendapatkan kembali penglihatanku dan sedang merencanakan untuk meninggalkan mereka.
Bab 1
"Mona, bisa nggak bantu aku atur sebuah kecelakaan mobil? Korbannya adalah ... aku." Ravina menghubungi sahabatnya. Suaranya serak dan berat saat berbicara.
Dari seberang telepon, terdengar suara khawatir Mona, "Apa yang terjadi? Marcus si bajingan itu menyakitimu lagi?"
Aku menengadah ke langit, menatap sinar matahari yang sudah sepuluh tahun tidak kulihat. Air mataku sudah habis saat aku mengetahui Marcus berselingkuh. Dengan suara pelan, aku berkata, "Aku ingin pergi. Sekarang, cuma kamu satu-satunya yang bisa kuandalkan."
Mona tidak ragu sedikit pun. "Setengah bulan lagi, kakakku akan ke kota sebelah untuk urusan kontrak. Nanti aku suruh dia bawa kamu pergi."
"Baik."
Namun, sebelum aku sempat mengatakan lebih banyak, pintu kamar di belakang terbuka. Aku buru-buru menutup telepon. Seseorang dengan tubuh tinggi dan bidang memelukku dari belakang.
"Sayang, maaf. Tadi benar-benar ada urusan mendadak di kantor. Aku janji, lain kali aku akan temani kamu ke rumah sakit."
"Oh iya, hasil pemeriksaan hari ini gimana? Apa kata Dokter Djamin?"
Pertanyaan Marcus membuat pikiranku melayang kembali ke tadi pagi.
Sepuluh tahun lalu, demi menyelamatkan Marcus, aku mengalami kecelakaan dan kehilangan penglihatanku.
Untuk memulihkan penglihatanku, Marcus membangun Rumah Sakit Hope, menghabiskan triliunan untuk mengundang ahli mata terbaik dari seluruh dunia demi meneliti cara memulihkan saraf optik yang rusak.
Selama sepuluh tahun ini, aku menjalani perawatan di rumah sakit setiap minggu.
Sudah 521 kali, tapi tidak ada keajaiban sekali pun.
Sebenarnya, sudah lama aku ingin menyerah. Namun, Marcus pernah berlutut memohon agar aku terus mencoba. Lalu, kami memiliki seorang anak dan alasan Marcus bertambah satu lagi.
"Kamu nggak ingin lihat seperti apa wajah anak kita dengan mata kepalamu sendiri? Kumohon ... ya?"
Bahkan setiap ulang tahun anak kami, satu-satunya harapan yang diucapkan anakku adalah agar aku bisa melihat kembali. Cintaku pada Marcus dan keinginanku untuk bisa melihat wajah anakku dengan mata sendiri, itulah yang membuatku bertahan sampai hari ini.
Namun saat penglihatanku akhirnya kembali dan aku pergi ke kantor Marcus dengan penuh sukacita untuk memberinya kejutan, aku malah melihat Marcus sedang menindih seorang wanita di atas meja kerjanya dan saling berpelukan dengan penuh gairah.
Suara napas terengah-engah dari pria itu, bercampur dengan desahan manja dari si wanita, membekukan seluruh kebahagiaan dan harapanku dalam sekejap.
Jadi ... ini yang disebut rapat darurat penting yang harus dihadiri Marcus?
Pakaian yang berserakan dari pintu hingga ke meja kerja, dokumen-dokumen yang berhamburan di lantai ... semuanya menunjukkan betapa tak sabarnya mereka berdua.
Adegan mesum di atas meja itu terasa seperti belati yang mengoyak mataku. Saat itu juga, aku berharap seandainya saja aku tidak pernah sembuh!
Tubuhku terasa mati rasa. Tangan kananku menekan dada yang begitu sesak hingga aku hampir tidak bisa bernapas. Aku hanya bisa berlari keluar dari sana, kalut dan terhina.
Namun aku tak pernah menyangka, Marcus setidak tahu malu itu hingga berani membawa wanita itu ke rumah!
Parahnya, para pembantu yang melihat itu semua tidak menunjukkan reaksi sedikit pun. Mereka tetap bekerja seperti biasa. Artinya, ini bukan pertama kalinya Marcus membawa wanita itu pulang!
Yang lebih membuatku hancur, anak yang kukandung selama sembilan bulan dan kulahirkan dengan penuh perjuangan, malah tersenyum lebar dan diam-diam berkedip genit pada wanita itu.
Anakku sendiri! Anak yang ingin kubawa pergi dari tempat ini, ternyata tahu siapa wanita itu!
Ternyata semua orang tahu kebenaran ini ... kecuali aku!
Mengingat semua kenyataan pahit yang terungkap hari ini, aku melepaskan diri dari pelukan Marcus dengan jijik. Ketika aku berbalik, aku melihat jelas bekas-bekas ciuman dan cakaran di kulit dadanya yang terbuka di balik kerah baju.
Selama bertahun-tahun aku buta, aku mengira pelukannya hangat dan pundaknya dapat kuandalkan ... ternyata semua itu begitu kotor!
Aku menggeleng lemah. "Belum sembuh."
Karena sudah memutuskan untuk pergi, tidak ada gunanya lagi memberi tahu Marcus bahwa aku sudah bisa melihat.
Ravina sudah bertekad untuk pergi dan menghilang dari dunia Marcus dan Lowie selamanya. Dia tidak lagi menginginkan kedua orang itu!
Bab 2
Marcus menghela napas, entah karena menyesal atau lega.
"Nggak apa-apa. Kamu cuma perlu ingat, meskipun seumur hidup kamu nggak bisa melihat, aku akan tetap mencintaimu selamanya. Besok aku akan investasikan dua triliun lagi ke departemen mata rumah sakit supaya mereka mempercepat proses penelitian."
"Tapi, sekarang sudah waktunya makan. Ayo."
Sambil berkata demikian, Marcus membungkuk dan menggendong Ravina. Dulu, sikap manis seperti itu terasa hangat, tapi kini hanya membuat Ravina muak. Seluruh tubuhnya terasa kaku.
Mereka pun tiba di ruang makan.
"Aku mau duduk sama Mama," ujar Lowie dengan ceria.
Namun nyatanya, dia masih berdiri di atas bangku kecil dan sedang membantu wanita itu menyeka mulutnya. Di meja makan itu, Lowie dan wanita itu duduk di sisi berlawanan. Jadi, tidak mungkin mereka akan membiarkan Ravina duduk di sisi yang sama dengan wanita itu.
Semuanya sudah diputuskan sejak awal, tapi mereka masih saja berpura-pura di depan Ravina. Wanita itu mengenakan jubah mandi dan duduk santai di sebelah Marcus. Dia bahkan tampak lebih seperti nyonya daripada Ravina sendiri.
Marcus memotongkan steik untuknya dan mengupas udang, sedangkan Lowie menuangkan air untuknya ....
Semuanya masih sama seperti dulu. Bedanya, sekarang Ravina bisa melihat jelas sorot iri yang tak tersembunyi di mata wanita itu. Makanan itu terasa hambar bagi Ravina.
Dia menatap tangan Marcus yang sedang mengupas udang untuknya. Padahal pagi ini, tangan itu masih sibuk menyentuh wanita lain. Seketika, perasaan jijik menyergap dirinya.
Baru saja hendak bangkit dari kursi, Ravina melihat wanita itu menarik tangan Marcus ke bawah jubah mandinya tanpa malu-malu. Marcus sempat ingin menarik diri, tapi wanita itu menahan erat tangannya dan memaksanya ikut bergerak.
Pada akhirnya, bahkan saat tangan wanita itu sudah melepas genggamannya, Marcus pun tidak menarik kembali tangannya.
Perasaan mual yang lebih kuat menyapu seluruh tubuh Ravina. Dia tidak sanggup menahannya lagi, hingga akhirnya bersandar pada tepi meja dan muntah hebat.
Lowie panik dan buru-buru mengambil tisu untuknya. Marcus mengulurkan tangan, ingin menepuk punggung Ravina agar membantunya merasa lebih baik.
Namun, saat Ravina teringat apa yang baru saja dilakukan tangan itu beberapa detik sebelumnya, dia menepis tangan Marcus dengan keras dan berkata dingin, "Kotor."
Marcus jelas tidak memahami makna tersirat dari perkataannya, malah tampak sangat tertekan. "Tanganku tadi kupakai untuk mengupas udang, aku cuma mau lihat keadaanmu! Biar aku antar kamu ke rumah sakit!"
Ravina berusaha mendorongnya pergi. "Aku nggak apa-apa."
Dia kembali ke kamar tidur untuk mandi. Uap panas memenuhi ruangan dan wajahnya tampak samar di cermin yang berkabut. Dia kembali teringat pada percakapan yang didengarnya di luar kantor Marcus hari ini.
"Pak Marcus, apa karena setiap kali melihat mata istrimu kamu jadi nggak bernafsu, makanya kamu melampiaskan semuanya ke aku?"
"Diam! Kamu itu cuma alat, sadari posisi kamu."
Kalimat yang tak dibantah oleh Marcus itu kini terus terngiang-ngiang.
Ravina menyeka cermin dengan sapuan tangannya. Wajahnya pun terlihat dengan jelas. Ketika dia buta, apakah wajahnya sebegitu mengerikannya?
Sampai-sampai Marcus bisa melupakan hubungan masa kecil mereka, melupakan jasanya yang pernah menyelamatkan nyawa Marcus, bahkan melupakan bertahun-tahun kehidupan mereka sebagai suami istri yang penuh kasih, hanya untuk mengejar wanita lain?
Padahal pada malam pertama mereka, Marcus berkali-kali mencium matanya. Ravina bisa merasakan air mata Marcus jatuh di wajahnya.
"Ravina, akhirnya kamu jadi milikku. Aku mencintaimu. Terima kasih karena kamu juga bersedia mencintaiku. Aku akan menjagamu seumur hidup. Kalau aku mengingkari janji ini, aku akan disambar petir!"
Memang, Marcus benar-benar menjaganya dengan sangat baik. Di rumah, ada 30 orang asisten rumah tangga yang dipekerjakan, masing-masing dilengkapi dengan sensor. Jika Ravina membutuhkan sesuatu, dia hanya perlu menekan tombol remote dan seseorang akan segera datang membantunya.
Bahkan hal-hal yang sebenarnya tidak dibutuhkan Ravina karena dia tidak bisa melihat, mulai dari produk perawatan kulit hingga perhiasan mahal ... asalkan istri orang lain punya dan menyukainya, Marcus pasti akan membelikannya yang lebih bagus dan lebih mahal untuk Ravina.
Marcus juga takut dia bosan di rumah, sampai-sampai membentuk sebuah tim khusus untuk menyusun majalah dan buku dalam huruf Braille agar Ravina bisa membaca.
Apakah Marcus benar-benar tidak mencintainya lagi?
Ravina rasa jawabannya adalah tidak. Marcus hanya telah belajar membagi hatinya menjadi dua dan memberikannya kepada dua orang yang berbeda.
Bab 3
Begitu keluar dari kamar mandi, Ravina melihat Marcus sedang duduk di sofa menunggunya. Marcus langsung menggendongnya dan memasukkannya ke dalam selimut, lalu memeluknya erat-erat.
"Sayang, kamu kenapa hari ini? Di rumah sakit tadi terjadi sesuatu ya? Kalau ada apa-apa, bilang saja ke aku. Suamimu ini akan selalu jadi sandaranmu."
Ravina khawatir Marcus akan menelepon Dokter Djamin, jadi dia buru-buru menenangkan, "Nggak apa-apa, mungkin aku cuma kurang istirahat."
Tepat saat itu, ponsel Marcus berdering. Marcus tidak menyembunyikannya dari Ravina, melainkan langsung membuka pesan itu. Tertulis nama kontaknya adalah "Willianti Sayang" dan yang dikirim adalah sebuah foto.
Wanita itu mengenakan lingerie model anak kucing. Dia berlutut di atas ranjang sambil menatap kamera dengan pandangan menggoda.
[ Aku tunggu Tuan di kamar ya .... ]
Marcus menahan napas, ujung bibirnya tanpa sadar terangkat. Dia membalas.
[ Aku tungguin Ravina tidur dulu, habis itu aku ke sana. ]
Wanita itu membalas dengan cepat.
[ Sekarang saja, dong .... Dia 'kan buta, nggak ada yang tuntun juga nggak bisa turun. Aku kangen kamu. ]
Marcus langsung mematikan ponsel dan mencium kening Ravina. "Sayang, ada urusan mendadak dari kantor. Aku ke ruang kerja dulu, kamu tidur duluan saja, nggak usah tungguin."
Usai bicara, dia pun buru-buru pergi.
Ravina berbaring memandang langit-langit putih di atasnya. Mungkin jauh di dalam hati Marcus, dia memang sudah yakin bahwa mata Ravina tidak akan pernah bisa sembuh. Itu sebabnya dia begitu semena-mena dan tidak lagi berusaha menyembunyikan apa pun.
Ravina bangkit dan turun ke lantai satu. Ruangan itu sunyi dan kosong, hanya dari kamar sebelah kanan terdengar suara tawa dan bisikan seorang pria dan wanita.
"Willianti, dari mana nyalimu sebesar itu? Ravina belum tidur, kamu sudah berani goda aku!"
"Tapi kamu juga tetap turun, 'kan?"
Pintu kamar tidak tertutup rapat. Melalui celahnya, Ravina bisa melihat dua tubuh yang sedang saling membelit di atas ranjang. Ruangan itu didekorasi modern dan feminin, jelas sudah ditinggali lebih dari setahun.
Artinya, rumah tangga yang dikiranya terdiri dari tiga orang yang bahagia, nyatanya sudah lama dimasuki oleh orang keempat.
Marcus menempatkan istri dan selingkuhannya dalam satu vila yang sama. Setengah malam pertama dia habiskan bersama Ravina dan setengah malam berikutnya dia turun ke "rumah kecil"-nya untuk tidur dengan Willianti. Benar-benar memuakkan.
Ravina menutup mulutnya dengan rapat, menahan jeritan yang mengguncang hatinya agar tidak terdengar. Saat berbalik, dia malah berpapasan dengan pembantu yang sedang terbangun untuk berjaga. "Nyonya? Kenapa Anda ada di sini?"
Pintu kamar pun terbuka. Marcus keluar dalam keadaan pakaian kusut dan wajah panik. Willianti mengikuti dari belakang sambil merangkul pinggangnya dan kedua tangannya masih menyusuri tubuh Marcus.
Marcus mendorong Willianti kembali ke kamar, lalu berjalan mendekati Ravina dan bertanya, "Sayang, kamu dengar sesuatu barusan?"
Ravina mengepalkan tangan, rasa sakit karena kuku yang menusuk telapak menjadi satu-satunya alasan dia bisa menahan diri untuk tidak menampar wajah pria itu. "Nggak kok, aku cuma haus. Mau turun ambil air minum."
Marcus diam-diam menghela napas lega. "Dasar kamu ini, aku sudah taruh segelas air di nakas tempat tidurmu. Kenapa kamu malah turun sendiri? Bahaya tahu!"
Marcus pun menuntunnya kembali ke kamar tidur.
Beberapa saat berlalu, Marcus memanggilnya pelan. "Ravina?"
Ravina tidak menjawab, tapi Marcus malah mengira dia sudah tertidur.
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka. Terdengar suara Marcus yang sengaja diturunkan volumenya. "Siapa suruh kamu naik? Turun sekarang!"
Lalu, terdengar suara manja dari Willianti. "Tadi sempat terganggu ... sekarang si kucing kecil harus cari Tuan sendiri ...."
Terdengar suara gesekan kain dan suara Marcus yang menahan diri, "Turun."
"Nggak mau ... di sini saja. Dia 'kan buta, nggak akan lihat apa-apa. Justru tambah seru, 'kan?"
Yang menjawabnya adalah suara napas Marcus yang makin memburu.
Di ruangan yang gelap itu, dua bayangan tubuh yang saling melilit, jatuh ke sofa di sisi tempat Ravina berbaring. Air mata Ravina mengalir tanpa suara dari sudut matanya. Dia menggigit bibirnya dalam-dalam, menahan isak yang nyaris meledak dari dadanya.
Di tengah malam yang tidak diketahui seorang pun, Ravina melihat semuanya. Sebelum dia menarik selimut untuk menutupi wajahnya, hal terakhir yang dilihatnya adalah gelas air di nakas tempat tidur yang kini sudah dingin.
Airnya dingin ... hatinya juga dingin.
'Marcus, aku akan pastikan kamu menghabiskan sisa hidupmu dalam penderitaan.'
Itulah janji yang Ravina ucapkan dalam hati.
Bab 4
Hari-hari setelahnya berjalan persis seperti hari saat Ravina mengetahui kebenaran. Mereka bertiga keluar rumah bersama, lalu sepulangnya kembali bermain sandiwara di belakangnya seolah tak terjadi apa-apa.
Setiap malam, Marcus turun ke bawah untuk melampiaskan hasratnya pada Willianti, lalu kembali naik diam-diam saat fajar menyingsing.
Ravina hanya diam menyaksikan semua pertunjukan itu. Setelah beberapa hari, kecuali bila benar-benar perlu, dia lebih memilih tetap tinggal di kamar lantai atas.
Waktu pun berlalu dan hari konsultasi Ravina tiba kembali. Seperti biasa, pagi itu Marcus membangunkannya dengan ciuman selamat pagi dan membantunya turun ke bawah untuk sarapan.
Namun saat itu juga, Willianti yang biasanya selalu menjaga sikap, tiba-tiba tersedak dan mulai mual.
Wajah Marcus dan Lowie seketika berubah. Marcus buru-buru ingin menutup mulut Willianti, sementara Lowie memandang Willianti dengan cemas dan membentuk kata dengan mulutnya, "Tante Willi kenapa?"
Ravina menatap ayah dan anak itu yang tampak panik, lalu bertanya dengan tenang, "Ada apa?"
"Pembantu ... ada pembantu tiba-tiba muntah!" jawab Marcus mencari alasan dan demi meyakinkan Ravina, dia bahkan pura-pura memarahi "pembantu" yang tak kelihatan itu sambil menatap ke udara.
Ravina memperhatikan ekspresi Willianti saat mendengar Marcus menyebutnya sebagai pembantu. Tebersit kecemburuan dan perasaan tidak terima dalam sorot matanya.
Sarapan berakhir dengan tergesa-gesa, lalu mereka bertiga masuk ke kamar Willianti. Entah apa yang mereka bicarakan di dalam sana, beberapa saat kemudian terdengar Lowie berseru kegirangan, tetapi suara itu segera lenyap seolah takut ketahuan.
Tak lama, mereka bertiga keluar kembali. Lowie lebih dulu menghampiri Ravina dan mencium pipinya,
"Mama, aku berangkat ke TK ya."
Marcus juga berjongkok di hadapannya dan berkata, "Aku harus ke kantor lagi. Sayang, berat banget rasanya ninggalin kamu."
Kalau Ravina tidak bisa melihat, mendengar suara Marcus saja sudah cukup membuatnya percaya bahwa dia benar-benar tidak rela pergi. Biasanya dia akan membalas dengan senyuman dan mengecup sudut bibirnya sambil menggoda bahwa dia manja seperti anak kecil.
"Ini hari terapiku. Sebelumnya kamu janji bakal temani aku." Dari ekspresi Marcus, Ravina bisa melihat jelas ... dia benar-benar lupa.
Lupa tanggalnya dan juga lupa janjinya.
"Ah, aku baru ingat, hari ini di TK ada pertemuan orang tua murid," Lowie tiba-tiba menepuk kening dan berkata, "Papa juga harus ikut."
"Iya, iya, aku malah sampai lupa," jawab Marcus cepat.
Melihat kedua orang itu begitu piawai dalam berakting, Ravina hanya tersenyum tipis. "Baiklah, kalian pergi saja."
Begitu Marcus dan Lowie keluar rumah, Ravina segera mencari alasan untuk menyendiri dan menyuruh semua pembantu pindah ke paviliun samping.
Kemudian, dia naik taksi dan membuntuti mobil Marcus. Setelah itu, Ravina hanya melihat Marcus dan Lowie menemani Willianti masuk ke bagian kebidanan dan kandungan rumah sakit.
Ternyata alasan Marcus tidak menemaninya terapi adalah karena Willianti mungkin sedang hamil. Tentu saja, itu jauh lebih penting daripada dirinya. Mereka sengaja tidak ke rumah sakit milik keluarga Marcus agar bisa lebih leluasa merayakan kabar bahagia itu.
"Oh! Tante Willianti mau kasih aku adik perempuan!" seru Lowie dengan gembira.
Marcus terlihat begitu hati-hati saat memapah Willianti. Tangannya mengelus perut Willianti dengan lembut, seolah sedang menyentuh harta karun yang paling berharga di dunia. Wajahnya pun tak bisa menyembunyikan rasa bahagia yang menguar. "Willi, kamu luar biasa!"
Mendengar kalimat yang begitu dikenalnya itu, Ravina memaksa dirinya untuk tidak menangis. Namun, air matanya tetap jatuh tak terbendung.
Dulu ketika dia dinyatakan hamil, Marcus pun bereaksi serupa. Dia memeluk Ravina dengan penuh emosi, lalu melepaskannya perlahan dan berkata, "Ravina, kamu luar biasa!"
Salah satu penyesalan terbesar dalam hidup Ravina adalah tidak bisa menyaksikan pernikahannya sendiri dan tak bisa melihat ekspresi Marcus saat pertama kali tahu akan menjadi ayah. Sekarang, akhirnya dia melihat semuanya.
Ketika Marcus, Lowie, dan Willianti pergi ke acara lelang dan menghamburkan uang demi menyenangkan Willianti, Ravina melangkah masuk ke kamar jenazah rumah sakit.
Mona memberi tahu bahwa tubuh pengganti untuk jasadnya sudah dipersiapkan. Seseorang sedang menjalankan prosedur operasi plastik agar jenazah itu tampak seperti Ravina.
Padahal, sebenarnya itu tidak perlu. Yang ingin dia tinggalkan untuk Marcus dan Lowie bukanlah tubuh yang cantik untuk dikenang, melainkan segumpal daging tak berbentuk. Sebuah mimpi buruk yang akan menghantui mereka sepanjang sisa hidup mereka.
Bab 5
Marcus menyadari bahwa Ravina berubah total. Dulu, meskipun matanya tidak bisa melihat, Ravina selalu senang duduk di taman sambil minum kopi. Dia menyebutnya sebagai cara untuk "merasakan alam".
Ravina juga akan menemani Lowie bermain balok susun, menonton berita bersama, bahkan sesekali memasak dua hidangan untuk mereka dengan bantuan pembantu.
Dulu Ravina begitu cerah, hangat, dan hidup bagaikan bunga liar yang tumbuh bebas di bawah sinar matahari.
Namun sekarang, selain makan, Ravina hanya mengurung diri di kamar. Dia duduk diam di depan jendela kaca besar sambil menatap langit yang kosong. Bagaikan bunga yang akan layu, tidak ada sedikit pun tanda kehidupan di dalam dirinya.
Marcus merasa panik melihat perubahan drastis ini. "Ravina, kamu kenapa akhir-akhir ini? Apa kamu marah karena aku nggak menemani kamu dua kali terakhir ke terapi?"
"Tenang saja, lain kali, aku pasti temani kamu, ya?"
"Jangan diam aja, aku mohon ...."
Di akhir kalimatnya, suara Marcus bahkan terdengar nyaris menangis.
Namun, jika Marcus memang begitu takut kehilangan dirinya, kenapa dia masih menyimpan wanita lain? Bahkan membiarkan mereka tinggal di rumah yang sama tanpa rasa bersalah?
Bahkan sebelum mengucapkan kalimat barusan, dia baru saja keluar dari kamar Willianti! Di sudut bibirnya masih ada bekas lipstik yang belum sepenuhnya dibersihkan!
Hanya karena Ravina buta, apa boleh dia diperlakukan semena-mena seperti ini? Memangnya gara-gara siapa matanya ini buta?
Ravina mengangkat tangan. Marcus refleks menggenggam tangan itu dan membawanya ke wajahnya. Dengan jemarinya, Ravina menelusuri alis dan mata pria itu ... wajah dari pemuda yang pernah dia cintai.
Wajah itu tidak banyak berubah, hanya terlihat lebih dewasa dan matang. Namun, hatinya sudah bukan milik Ravina lagi. Bukan lagi pemuda yang dulu dia selamatkan tanpa ragu.
Tiba-tiba, terdengar suara letusan kembang api dari luar jendela. Kembang api meledak di langit malam, mewarnai seluruh permukaan sungai dengan cahaya yang semarak.
Dari lantai bawah, samar-samar Ravina mendengar suara Lowie berseru dari arah halaman rumput. "Tante Willi, lihat nggak? Ini kembang api yang dipasang Papa buatmu, khusus untuk rayain kamu mau lahirin adik perempuan!"
Ravina berkata dengan getir, "Di luar itu ... kembang api ya? Sudah lama aku nggak lihat."
Marcus memandangnya penuh kasih sayang. "Nanti kalau matamu sudah sembuh, aku akan nyalain kembang api tiga hari tiga malam khusus buat kamu, biar kamu puas lihatnya, ya?"
"Kamu jangan pernah menyerah, aku dan Lowie akan selalu ada di sisimu." Marcus memeluknya erat dan membujuk dengan suara lembut.
Heh ... jadi, Marcus mengira dia murung karena hasil terapi terakhir tidak memuaskan. Marcus, oh Marcus ... andai saja kamu menemani aku ke rumah sakit meski sekali saja, kamu pasti sudah tahu kebenarannya.
Namun sayangnya, kamu tidak pernah datang. Maka dari itu, hubungan kita memang sudah seharusnya berakhir.
Pikiran itu membuat Ravina perlahan melepaskan diri dari pelukannya. "Nggak usah, terlalu mubazir," ucapnya pelan.
Marcus tersenyum lalu mencolek hidungnya. "Mana mungkin itu mubazir? Kamu lupa ya apa yang pernah aku bilang? Apa yang dimiliki orang lain, kamu juga harus punya. Aku mau seluruh dunia tahu aku cinta kamu dan aku nggak bisa hidup tanpamu."
Ravina hanya terdiam. Karena dia tahu, orang yang baru saja menyatakan cinta itu ... nanti malam akan turun ke lantai satu, berpelukan dan bercumbu sepuasnya dengan wanita lain.
Mungkin karena menyadari Ravina masih murung, Marcus dan Lowie pun mengusulkan untuk mengajaknya menghadiri sebuah pesta. Ravina tidak berminat. Dia hendak menolak, tapi Marcus sudah lebih dulu menyuruh sopir menyiapkan mobil dan mulai memilihkan pakaian untuknya.
Lowie ikut membantu mengambil perhiasaan dari kotaknya dan mencoba mencocokkannya di depan Ravina. "Mama pakai yang ini kelihatan cantik."
Marcus tersenyum, "Mamamu pakai apa saja pasti cantik. Nggak usah dikasih saran sama bocah sepertimu."
Mereka mendandani Ravina sedetail mungkin, kemudian membantu menuntunnya turun tangga dan masuk ke mobil dengan sangat hati-hati. Sepanjang perjalanan, Lowie terus bercerita tentang hal-hal lucu di TK, berusaha menghibur Ravina.
Akhirnya mobil berhenti di sebuah manor mewah. Ravina sempat bertanya-tanya mengapa Willianti tidak ikut. Namun begitu turun dari mobil, dia melihat Willianti yang berpakaian mewah dengan perut yang menonjol, sedang berdiri di tengah keramaian seperti Nyonya dari pesta tersebut.
Bab 6
Barulah Ravina sadar, pesta yang diajak Marcus dan Lowie ternyata adalah pesta ulang tahun Willianti! Bukan itu saja, orang tua Marcus dan semua sahabatnya juga hadir di sana.
Dia memandangi satu per satu wajah yang dulu begitu akrab dalam ingatannya, kini semuanya mengelilingi Willianti dengan penuh kehangatan. Jadi ini yang Marcus maksud sebagai ingin membuatnya senang"?
Ravina ditempatkan oleh kedua orang itu di dekat area sound system. Mereka memberinya sebotol air dan sepotong kue kecil.
"Sayang, duduk di sini dulu ya. Aku sama Lowie mau menyapa beberapa orang," ujar Marcus dengan nada lembut.
Ravina hanya bisa menatap dan menyaksikan bagaimana Marcus berlutut dengan satu lutut di depan Willianti dan mencium perutnya dengan khidmat.
Lowie pun ikut melompat kegirangan di samping mereka dan memanggil Willianti dengan lantang, "Mama!"
Sahabat Marcus bersorak, "Kakak Ipar!"
Marcus sempat melirik ke arah Ravina, lalu memberi isyarat dengan jari telunjuk kepada mereka dan meminta mereka menurunkan suara. "Jangan asal manggil, hati-hati kalau Ravina dengar."
Ibu Marcus yang dulu pernah berjaga semalaman di sisi tempat tidur Ravina saat dia terluka karena menyelamatkan Marcus, kini menepuk bahu putranya sambil mengerutkan kening tak puas.
"Takut apa? Memangnya kenapa kalau dia dengar? Dia itu buta. Tanpa kamu, dia bisa ke mana? Sekarang si Willi bawa cucu emasku dalam kandungannya."
Sahabat Marcus pun menimpali, "Betul itu! Orang seperti kita, mana mungkin nggak punya lebih dari satu wanita. Kamu baru punya satu, itu pun udah sangat menghormati Ravina."
Marcus menanggapi dengan ekspresi tegas, "Istriku tetap Ravina. Nyonya Harafi hanya satu dan itu dia. Kalian semua jangan sampai bocor ke luar!"
Semua orang buru-buru menjawab, "Baik, baik, tenang aja, mulut kami terkunci rapat. Lagi pula kamu juga sembunyiin kakak ipar kami di rumah terus, kami juga jarang ketemu."
Mereka pikir dengan menempatkannya di dekat speaker, Ravina tak akan mendengar semua pembicaraan itu. Sayangnya mereka lupa, hidup sepuluh tahun dalam kegelapan membuat pendengaran Ravina jauh lebih tajam dari orang biasa.
Ravina diam-diam mendengarkan semua canda tawa mereka. Tidak apa-apa. Sebentar lagi, dia akan benar-benar pergi. Namun, dia tidak menyangka Willianti akan begitu nekat mendekatinya diam-diam saat Marcus dan Lowie sedang lengah.
"Ravina, kamu tahu aku siapa?" Suara Willianti terdengar penuh kemenangan. "Suamimu baru saja bangun dari tempat tidurku pagi ini. Sekarang kamu duduk di pesta ulang tahunku yang dia siapkan dengan sangat teliti."
"Orang tua Marcus sudah memanggilku menantu dan anak yang kamu lahirkan dengan susah payah barusan memanggilku Mama."
"Kami sudah bersama hampir dua tahun. Setahun yang lalu, aku sudah pindah ke vila kalian. Setiap malam, kami berdua bercinta di kamar lantai bawah. Sayangnya kamu buta, jadi kamu nggak bisa lihat ekspresi tergila-gilanya saat dia bersamaku. Barusan saja dia mencium perutku sambil berlinang air mata."
"Awalnya aku nggak berniat merebut posisimu. Lagi pula dibanding kamu, hidupku lebih mirip istri Marcus yang sebenarnya. Tapi sekarang aku hamil. Anak ini butuh status yang jelas."
"Kalau kamu tahu diri, sebaiknya kamu segera serahkan posisi itu. Aku masih bisa mempertimbangkan belas kasihan. Karena kamu buta demi menyelamatkan Marcus, mungkin aku biarkan dia belikan kamu apartemen untuk kamu tinggal sebagai beban hidupnya."
Ravina menatap Willianti yang berdiri di depannya dengan gaya seorang pemenang. Namun, dia tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Willianti tampak heran dengan ketenangannya. "Kamu nggak percaya? Aku ...."
Willianti belum selesai bicara saat suara langkah kaki yang cepat terdengar. Marcus muncul sambil menatap Willianti dengan penuh peringatan sebelum berpura-pura tenang. "Sayang, kalian sedang ngobrol apa?"
Ravina tersenyum tipis. "Nggak ada. Nona Willianti cuma bilang suaminya sangat mencintainya. Aku jadi sedikit iri."
Marcus langsung terlihat lega.
Di mata Ravina, muncul secercah ejekan. Marcus tahu betul bahwa Ravina adalah tipe yang tidak bisa menoleransi kebohongan sekecil apa pun. Jika Willianti tadi benar-benar berkata macam-macam, Ravina pasti sudah langsung mempertanyakannya.
Namun, Marcus lupa ... itu adalah Ravina sepuluh tahun yang lalu. Sifat manusia bisa berubah.
Marcus memeluk Ravina ke dalam pelukannya. "Apa yang perlu diirikan dari orang lain? Aku ini kurang baik apa sama kamu?"
Ravina tidak menjawab.
"Ayo balik ke kamar, aku capek," ucapnya datar.
Marcus pun masuk ke kamar mandi untuk mandi.
Tak lama kemudian, ponsel Ravina berbunyi. Sebuah pesan suara muncul di layarnya.
"Kamu pikir Marcus masih mencintaimu? Semua itu cuma pura-pura. Dia sudah janji akan menebus segalanya padaku."
Ravina tidak membuka pesan itu. Yang justru berulang kali dia baca adalah pesan dari Mona.
[ Semuanya sudah siap. Kakakku akan datang menjemputmu sesuai waktu yang kita sepakati. ]
"Kenapa kamu pegang HP? Nggak nemu buku, ya?" Suara Marcus tiba-tiba terdengar dari atas kepalanya. Ravina buru-buru mematikan layar ponselnya, lalu pura-pura meraba-raba di sekitar seolah sedang mencari sesuatu.
Marcus tidak memberikan buku padanya. Sebaliknya, dia langsung memeluk Ravina dari belakang. Napas hangatnya menyentuh lembut leher Ravina. "Sayang ...."
Perasaan mual langsung menyeruak dalam hatinya. Ravina spontan mengerutkan alis dan menepisnya dengan dingin, "Aku capek."
Apa maksud semua ini? Karena Willianti hamil, jadi dia tidak tega menyentuh wanita itu lagi dan kembali ke Ravina?
Lewat tengah malam, Marcus bangkit dari tempat tidur dan turun ke lantai bawah.
Tak lama kemudian, dari kamar lantai satu, terdengar jelas suara erangan wanita yang sengaja dibuat keras, diikuti dengan suara desahan yang tertahan seolah sedang dibungkam.
Bab 7
Keesokan paginya, Lowie memeluk Ravina dengan manja. "Mama, di TK kita ada acara study tour. Harus ditemani orang tua. Aku boleh pergi bareng Papa, nggak?"
Jadi, ini yang dimaksud Willianti sebagai kompensasi dari Marcus, ya?
Ravina menunduk. Di pelukannya, sang anak terus bicara sambil diam-diam menjulurkan lidah dan membuat wajah lucu ke arah Willianti.
Usai berbicara, Lowie pun menggesekkan pipinya manja ke pipi Ravina. Ravina membelai lembut wajah anaknya. Ini adalah anaknya. Kecuali mulutnya yang mirip ayahnya, semua sisanya seperti cerminan dirinya sendiri.
Kalau Marcus berselingkuh karena mencari sensasi ... lalu bagaimana dengan Lowie? Saat itu, dia tidak bisa melihat apa pun. Setiap kali mendengarkan dokter kandungan menjelaskan hasil pemeriksaan, Ravina hanya bisa membayangkan seperti apa rupa anaknya kelak.
Karena tidak bisa melihat, setiap gerakan selama kehamilan selalu dijaganya dengan lebih hati-hati dibanding ibu hamil lain. Bahkan untuk buang air kecil sekalipun, dia tidak keberatan meminta pembantu untuk berjaga di depan pintu, hanya demi mencegah risiko terpeleset atau terbentur.
Namun, anak yang dikandungnya dengan susah payah selama sembilan bulan sepuluh hari itu ternyata bisa memanggil seorang wanita simpanan dengan sebutan "Mama" di belakangnya.
Kalau saja wajah Lowie tidak begitu mirip dengannya, Ravina mungkin sudah curiga bahwa anak ini telah tertukar sejak lahir.
Lowie akhirnya menyadari ibunya terdiam cukup lama dan menoleh dengan sedikit ragu. "Mama?"
Marcus yang berdiri di samping ikut menimpali, "Katanya, membaca seribu buku nggak sebaik berjalan ribuan mil. Lagi pula, study tour ini acara resmi dari sekolah. Kalau saja matamu nggak dalam kondisi seperti ini, kami juga pasti nggak tega ninggalin kamu sendiri di rumah."
Mereka sengaja memilih alasan yang tidak mungkin ditolak Ravina. Marcus bahkan sudah memberi perintah ke sekretarisnya untuk memesan tiket pesawat dengan percaya diri. Permintaan pendapat ini, pada dasarnya hanyalah sebuah pemberitahuan sepihak.
Ravina melirik ke arah nama destinasi yang tertera. Tempat itu adalah kota kecil di Eropa yang selalu ingin dikunjunginya sejak sebelum matanya buta.
"Nggak apa-apa, kalian pergi saja." Itulah yang dikatakan Ravina dengan tenang.
Sebelum berangkat, Marcus mengumpulkan semua pembantu dan memberikan instruksi perawatan Ravina satu per satu dengan rinci, seolah-olah sedang menyerahkan proyek bernilai miliaran.
"Sebelum tidur, pastikan ada segelas air di nakas sebelah tempat tidur Ravina, supaya dia nggak kehausan di malam hari."
"Setiap hari harus ajak Ravina jalan-jalan keliling taman, bantu dia bergerak agar tetap bugar."
"Buah-buahan seperti blueberry yang wajib dimakan setiap hari. Jangan biarkan dia pakai garpu sendiri, nanti bisa melukai diri."
....
Instruksinya berlangsung hampir setengah jam lamanya.
Setelah itu, Marcus baru mencium kening Ravina. "Aku dan Lowie berangkat dulu. Kalau kamu butuh apa-apa, langsung telepon aku. Aku pasti segera pulang."
"Study tour ini nggak lama, nanti kami akan pulang tepat waktu untuk temani kamu ke terapi mata."
Lowie juga menggenggam tangan Ravina dan berkata, "Mama, nanti aku bawain kamu hadiah ya!"
Ravina berdiri di depan jendela besar, memandangi Marcus yang memeluk Willianti di lengannya, sementara tangan kirinya menggandeng Lowie. Mereka benar-benar terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia.
Ravina mengabaikan tatapan penuh simpati dari para pembantu, lalu berbalik dan masuk kembali ke kamarnya.
Dari luar, terdengar kabar bahwa mereka bersenang-senang. Marcus yang dulu dalam satu hari bisa meneleponnya sepuluh kali saat di kantor, kali ini tidak meneleponnya satu kali pun. Lowie juga tampaknya sudah melupakan dirinya.
Justru Willianti yang seolah tidak tahan untuk menyombongkan diri, mengirim pesan padanya berkali-kali.
[ Hari ini di depan pastor di gereja, Marcus memeluk dan menciumku. Dia bilang dia mencintaiku. ]
[ Anak kesayanganmu memanggilku "Mama" terus-menerus. Orang-orang di hotel bilang kami keluarga kecil yang bahagia. ]
[ Aku sedang hamil, tapi Marcus tetap nggak mau melepaskanku. Kondom di kamar sampai habis, dia bahkan keluar untuk beli lagi. ]
Setiap kata seolah ingin menegaskan betapa Marcus mencintai dirinya. Hanya saja, semua pesan dari Willianti sudah tidak mampu lagi menggoyahkan emosi Ravina.
Dia sedang menunggu hari yang telah disepakati untuk pergi. Hari itu ... sudah hampir tiba.
Bab 8
Hari ini adalah hari jadwal Ravina untuk menjalani pemeriksaan mata di rumah sakit dan juga hari di mana dia memutuskan untuk pergi.
Saat dia turun dari lantai atas dengan pakaian rapi, Marcus pun kebetulan membuka pintu masuk. Di belakangnya, Lowie dan Willianti ikut menyusul.
Ravina tahu, Marcus pasti akan kembali demi menemaninya ke rumah sakit. Karena perubahan sikapnya belakangan ini pasti sudah membuat Marcus merasa tidak tenang.
"Sayang, aku dan Lowie pulang!" seru Marcus dengan nada riang. Dia ingin memeluk Ravina dan mengangkatnya berputar-putar di ruang tamu seperti dulu, tapi Ravina langsung mendorongnya menjauh.
Tidak ada sedikit pun ekspresi bahagia di wajahnya atas kepulangan mereka.
Marcus memanggil dengan cemas, "Sayang?"
"Mama." Lowie menyerahkan sebuah model bangunan ke tangannya. "Ini oleh-oleh buat Mama. Coba pegang, Mama suka nggak?"
Ravina menerima benda itu, tetapi hanya meletakkannya begitu saja tanpa melihat. "Aku mau ke rumah sakit dulu. Nanti saja bicaranya," ucapnya dingin.
Marcus buru-buru memeluknya dari samping. "Aku temani kamu ke sana."
Lowie juga memeluk kakinya dengan manja. "Aku juga ikut! Rasanya sudah lama sekali nggak bareng Mama."
Sebelum naik ke dalam mobil, Ravina menoleh sekali ke arah vila tempat mereka tinggal.
Marcus bertanya dengan lembut, "Ada apa?"
Ravina menggeleng pelan. "Nggak ada apa-apa."
Hanya saja, dia ingin melihat untuk terakhir kalinya tempat yang telah menjadi rumahnya selama sepuluh tahun.
Rumah Sakit Hope terletak di pinggiran kota, dekat tepi laut. Mobil melaju tenang di jalan raya yang luas dan terang.
Di dalam mobil, Lowie tertawa riang dan berkata, "Papa sampai buru-buru kejar waktu cuma buat bisa temani Mama ke rumah sakit."
Ravina menoleh memandangi pemandangan di luar jendela. "Bukannya kalian ke acara study tour TK? Memangnya boleh pulang duluan?"
Lowie tersentak, menyadari dirinya hampir keceplosan. Dia langsung menutup mulut dan tidak berani bicara lagi.
Marcus menggenggam tangan Ravina, "Iya, kami pulang lebih cepat. Soalnya aku sudah janji sama kamu. Janji harus ditepati."
Ya, dia memang pernah berjanji. Bahwa dia akan mencintai Ravina selamanya. Bahwa dia tidak akan pernah mengkhianati Ravina.
Mungkin karena terlalu banyak janji, dia sampai melupakannya.
Ravina tidak menanggapi kata-kata Marcus. Suasana di dalam mobil pun mendadak senyap.
Tiba-tiba, ponsel Marcus berdering nyaring memecah keheningan. Dia langsung menolaknya tanpa melihat layar. Namun, penelepon itu tampaknya tidak mau menyerah. Dia menelpon sampai belasan kali berturut-turut.
Ravina akhirnya berkata dengan nada datar, "Angkat saja. Siapa tahu ada hal penting dari kantor."
Marcus menurunkan kaca jendela, membiarkan suara bising dari luar memenuhi kabin. Entah apa yang dikatakan orang di seberang sana, wajah Marcus mendadak berubah drastis.
"Berhenti!" serunya pada sopir.
Mobil berhenti mendadak dengan bunyi rem mendecit.
Marcus menarik napas dan berusaha meredam emosi sebelum menoleh ke arah Ravina. "Sayang, ada masalah mendadak di perusahaan. Aku harus segera ke sana. Biar Lowie menemanimu di sini sebentar, aku akan kirim sopir lain untuk antar kalian ke rumah sakit."
Sambil berkata demikian, Marcus pun membuka pintu mobil.
Lowie memang anak yang cerdas. Dia tahu benar, dalam hati ayahnya, tidak ada urusan kantor yang lebih penting daripada ibunya, kecuali kalau ini menyangkut Willianti.
Dia langsung mencari alasan dengan cepat, "Aku juga ikut! Aku 'kan pewaris Grup Hope di masa depan, harus ikut Papa biar bisa belajar."
"Kalau kamu ikut, terus Mama bagaimana?"
Angin pagi berembus, menyibakkan ujung gaun Ravina. Dia berkata dengan tenang, "Nggak apa-apa. Kalian pergi saja."
Marcus hanya ragu sejenak, lalu langsung mengangguk. "Sayang, kamu jangan kemana-mana. Tunggu saja di sini, nggak sampai sepuluh menit, sopir baru akan datang menjemput."
Tanpa menunggu jawaban Ravina, Marcus sudah berbalik dan bersiap masuk kembali ke mobil.
Namun, Ravina tiba-tiba menarik ujung jasnya. "Boleh nggak, jangan pergi?"
Marcus menepis tangannya. "Sayang, ini penting. Kamu ngerti, 'kan? Patuh, ya."
Tanpa menoleh lagi, dia masuk ke dalam mobil dan menutup pintu. Mobil itu pun melaju cepat dan menghilang di kejauhan.
Tak lama kemudian, sebuah truk besar datang dari arah yang sama, mendekat dengan kecepatan tinggi.
Ravina melangkah mundur selangkah. Sopir turun dari mobil, lalu mengangkat sebuah jenazah wanita tak dikenal dari bagasi. Wajahnya rusak parah hingga tidak bisa dikenali.
Di saat sopir bersiap menjalankan mobil untuk menggilas tubuh itu, sebuah tangan besar tiba-tiba menutup mata Ravina dari belakang.
Namun, Ravina segera menarik tangan itu. Yang terlihat di hadapannya adalah tubuh yang sudah hancur tak berbentuk dan berlumuran darah.
Bayangkan saat Marcus dan Lowie kembali dan melihat pemandangan seperti ini. Bagaimana ekspresi mereka nanti?
Arvina ingin mereka tahu, saat mereka memilih wanita lain dan meninggalkan seorang wanita buta di pinggir jalan, dia pun "meninggal" karena kecelakaan lalu lintas.
Hari ini adalah hari terakhir mereka melihatnya.
Dalam kehidupannya yang panjang di masa depan, setiap kali mereka mengingat momen ini, hati mereka akan terasa perih dan tercabik-cabik.
"Jangan lihat lagi, aku bawa kamu pergi."
Ravina mengangguk, lalu melangkah pergi dengan tegas.
Mulai hari ini dan seterusnya, dia dan Marcus tak akan pernah bertemu lagi.