Đang tải thông tin quảng bá...
Rintik Hujan Yang Menggugurkan Cinta
Istri dari mendiang sahabat suamiku mengunggah foto hasil pemeriksaan kehamilan. “Terima kasih atas spermamu yang memberiku kesempatan memiliki anak sendiri.” Aku melihat di kolom suami tertera na...
Chương (1)
第1章
Istri dari mendiang sahabat suamiku mengunggah foto hasil pemeriksaan kehamilan.
“Terima kasih atas spermamu yang memberiku kesempatan memiliki anak sendiri.”
Aku melihat di kolom suami tertera nama suamiku, Benson. Lalu, meninggalkan komentar tanda tanya.
Tak lama kemudian, Benson langsung meneleponku dan memarahiku habis-habisan.
“Dia itu seorang janda dan hidupnya kesepian. Dia hanya ingin punya anak supaya ada teman di rumah, biar agak ramai. Masa kamu nggak punya sedikit pun rasa toleransi?”
“Lagipula, Celvin itu sahabat baikku. Dia sudah meninggal, jadi wajar kalau aku menjaga istrinya. Ini namanya setia kawan, kamu mengerti nggak, sih?”
Tak lama kemudian, janda sahabatnya itu kembali memamerkan foto sebuah apartemen mewah tipe penthouse di Sandona.
“Untung ada kamu yang menemaniku, membuat aku kembali merasakan hangatnya sebuah rumah.”
Melihat foto punggung Benson yang sedang sibuk di dapur, aku pun berpikir, sepertinya pernikahan ini memang sudah waktunya berakhir.
Bab 1
Saat Benson pulang, aku baru saja mendapat jadwal untuk operasi aborsi.
Aku dan Benson sudah menikah lima tahun, tapi belum pernah berhasil punya anak.
Beberapa hari lalu, aku baru tahu kalau diriku hamil dua bulan. Awalnya aku berencana memberitahu kabar ini di hari peringatan pernikahan kami sebagai kejutan. Tapi sekarang, sepertinya dia sudah tidak membutuhkannya lagi.
Benson meletakkan sebuah kantong di meja, lalu mendekat hendak memelukku.
“Sayang, aku bawakan bubur daging cincang dan telur pitan kesukaanmu. Ayo, cepat dimakan.”
Sekilas aku melirik isi kantong itu, buburnya terlihat encer. Butiran nasinya berantakan, dagingnya hampir tak terlihat. Aku hanya merasa miris.
Mungkin ini sisa makanan orang lain.
Aku pun menghindar dari pelukannya dan mendorong kantong itu menjauh.
“Aku nggak selera.”
Benson mengira aku bercanda, lalu menuangkannya ke mangkuk dan menyodorkannya ke mulutku.
“Jangan begitu, sayang. Bukannya kamu paling suka ini?”
Aroma amis bubur yang sudah dingin menusuk hidungku. Aku tak tahan lagi dan buru-buru lari ke kamar mandi untuk memuntahkannya.
Saat dia hendak menepuk punggungku, aku menepis tangannya keras-keras, menatapnya dengan mata memerah.
“Jangan sentuh aku!”
Ditolak berkali-kali membuatnya naik pitam. Suaranya meninggi, nadanya terdengar kesal.
“Kamu mau apa sih? Aku sudah berusaha untuk menyenangkanmu, itu masih kurang?”
“Aku bahkan nggak mempermasalahkan komentar nyinyirmu itu, tapi kamu malah terus-terusan memancingku!”
Sikapnya yang begitu tegas seakan akulah yang salah.
Aku menatapnya tak percaya, suaraku pun agak bergetar.
“Jadi, kamu mau aku dengan lapang dada memberi selamat pada wanita lain yang sedang mengandung anak suamiku?”
Benson menarik napas kesal dan melonggarkan dasinya.
“Sejak Celvin meninggal, Tasya hanya ingin punya anak supaya rumahnya nggak sepi, apa itu salah? Dia itu istri sahabat baikku, tentu aku punya tanggung jawab membantu mewujudkan semua keinginannya.”
“Lagipula, aku dan Tasya nggak benar-benar berhubungan, aku hanya menyumbangkan sperma saja. Haruskah kamu ribut begini?”
“Kamu benar-benar istri yang nggak pengertian!”
Nggak pengertian?
Waktu Celvin baru meninggal, aku juga kasihan pada Tasya yang sudah menjadi janda di usia muda. Aku sering mengajaknya makan di rumah. Kalau ada lampu atau alat di rumahnya yang rusak, aku dan Benson akan datang membantu memperbaikinya.
Tasya pernah berkata sambil berkaca-kaca, andai saja Celvin masih ada, dia tak akan merepotkan kami.
Aku tersenyum dan bilang tidak merepotkan.
Benson juga mengangguk dan bilang bahwa selama bisa membantu, dirinya tidak akan menolak.
Saat itu, aku pikir semua ini murni karena rasa setia kawan di antara Benson dan Celvin. Makanya, setelah Celvin meninggal, aku juga ikut menjaga Tasya.
Namun lama-lama, semuanya mulai berubah.
Tanpa sepengetahuanku, Benson pergi sendirian ke supermarket untuk membawakan belanjaan Tasya, membantu memasang lemari sepatu di rumahnya, bahkan saat Tasya terkena luka bakar, Benson juga membelikan salep dan mengantarkannya….
Padahal, dia tak pernah melakukan hal-hal seperti itu untukku di rumah.
Saat aku mulai merasa tak nyaman, Benson hanya menjelaskan dirinya sedang membantu istri sahabatnya yang sudah tiada. Aku pun tak membahasnya lagi.
Siapa sangka, bahkan urusan punya anak pun dia bisa membantu!
Pernahkah dia berpikir nanti anak itu akan memanggilnya ayah dan memanggil Tasya ibu, lalu aku sebagai istri sahnya akan menjadi apa? Bagaimana dengan anak kami kelak?
Tadinya, aku berniat membicarakannya baik-baik, tapi setelah mendengar tuduhan di telepon kemarin, aku langsung mengurungkan niat.
Sekarang, melihat wajahnya yang sama sekali tak merasa bersalah, aku semakin yakin tak ada gunanya.
Benson meluapkan semua kekesalannya, lalu menutup dengan kalimat,
“Kamu renungkan baik-baik, jangan jadi orang yang picik!”
Usai bicara, dia membanting pintu dan pergi.
Sudah larut malam dan aku tahu persis ke mana dia akan pergi.
Dan benar saja, tak lama kemudian, unggahan baru muncul di instagram Tasya.
Dalam foto itu, tangan besar Benson memegang perutnya.
Captionnya, [Ayah si kecil datang menemaniku dan bayi malam ini. Katanya, ada kehangatan rumah di sini.]
Melihat foto itu, aku hanya bisa menertawakan kebodohanku sendiri. Menertawakan diriku yang tak sadar bahwa pernikahan ini sudah busuk sejak lama.
Seharusnya aku sudah paham, sejak Benson berhenti memanggilnya ‘kakak ipar’ dan mulai memanggilnya ‘Tasya’.
Kalau begitu, lebih baik hentikan sebelum terlambat.
Bab 2
Keesokan paginya, aku pergi ke rumah sakit.
Baru saja selesai membayar dan bersiap menunggu giliran operasi, aku melihat Benson sedang dengan hati-hati memapah Tasya keluar dari ruang USG.
Tak lama kemudian, mereka duduk bersebelahan di bangku. Tasya menunjuk-nunjuk hasil USG sambil berbicara dan Benson mendengarkannya dengan serius, bahkan sesekali mencatat sesuatu di ponselnya.
Melihat pemandangan itu, aku reflek memegang perutku sendiri. Mataku terasa panas dan sedikit perih.
Aku tak mau menambah sesak di dada dengan melihat mereka berduaan seperti itu. Saat hendak berbalik pergi, tak diduga, Benson malah menoleh dan melihatku.
Dia berdiri, mengernyit dan bertanya dengan kesal,
“Kamu mengikutiku?”
Belum sempat aku bicara, Tasya sudah lebih dulu menarik ujung lengannya. Nada suaranya terdengar gugup,
“Benson, jangan-jangan Luna salah paham? Biar aku yang jelasin ke dia. Jangan sampai merusak hubungan suami istri kalian.”
Kemudian, Tasya pun hendak berdiri menghampiriku.
Benson buru-buru menahannya agar tetap duduk.
“Kamu lagi hamil, jangan banyak bergerak. Biar aku saja yang bicara dengan Yuna.”
Aku tak tertarik mendengar drama manis mereka, jadi langsung berbalik ingin pergi.
Namun, Benson tiba-tiba menarik pergelangan tanganku. Tubuhku terhuyung dan hampir terjatuh.
Saat berhasil menstabilkan diri yang kulihat adalah wajah Benson yang penuh amarah.
“Yuna, aku sudah menjelaskan tadi malam, kenapa kamu belum juga mengerti? Masih mengikutiku ke rumah sakit segala?”
Aku meronta dan melepaskan tangannya. Tanganku sudah terlihat memerah.
“Maaf, aku nggak punya waktu untuk mengikuti kalian, jangan kegeeran.”
Benson jelas tidak percaya.
“Kalau begitu, kenapa kamu ada di rumah sakit?”
Aku mengangkat lembar bukti pembayaran dan menjawab datar, “Aku ke rumah sakit untuk berobat.”
Benson mengernyit dan bertanya, “Kamu sakit? Kok aku nggak tahu?”
Usai bicara, dia langsung berusaha merebut kertas dari tanganku, tapi tiba-tiba Tasya melangkah maju, menggenggam tanganku sambil berlinang air mata.
“Yuna, setelah Celvin meninggal, aku sangat kesepian sendirian. Aku hanya ingin punya anak untuk menemaniku, makanya aku minta bantuan Benson. Aku nggak pernah berniat merusak hubungan kalian.”
Kalau Tasya memang hanya ingin punya anak, dia bisa menggunakan donor dari bank sperma. Tapi, dia malah memilih menggunakan sperma Benson.
Belum lagi panggilan akrabnya yang sudah berubah.
Orang yang sudah benar-benar sadar, akan mulai melihat banyak detail yang dulu terabaikan.
Tatapanku tampak sinis, lalu menarik tanganku pelan.
Tak kusangka, tiba-tiba Tasya malah terjatuh ke belakang dan berteriak kecil. Benson langsung memeluknya erat, wajahnya tampak ketakutan.
“Tasya, kamu nggak apa-apa?”
Tasya melingkarkan tangan di lehernya, air mata menggenang.
“Aku nggak apa-apa, Benson. Aku nggak menyangka, Yuna bakal….”
Seketika, emosi Benson meledak. Api amarah jelas terlihat di matanya.
“Yuna! Kamu tahu nggak dia lagi hamil?! Kok bisa kamu sekejam itu?!”
Aku tidak menyangka Tasya akan memakai trik seperti ini dan lebih tak menyangka lagi bahwa Benson akan langsung memercayainya tanpa ragu.
Aku menatap mereka dengan dingin, “Aku nggak mendorongnya.”
Mendengar itu, Benson semakin marah.
“Aku bahkan sudah melihat sendiri, kamu masih saja beralasan?! Untung saja aku sempat menahannya. Kalau sampai terjadi apa-apa pada Tasya, aku nggak akan memaafkanmu!”
“Tadinya aku mau menunggu kamu selesai periksa biar kita bisa pulang bersama. Tapi sekarang, kamu pulang sendiri saja! Aku mau antar Tasya pulang ke rumah!”
Usai bicara, dia merangkul Tasya dengan hati-hati dan berbalik pergi.
Melihat wajah Benson yang begitu khawatir padanya, tiba-tiba aku memanggilnya,
“Benson, kalau aku bilang aku hamil dan hari ini datang ke rumah sakit untuk menggugurkan kandungan, kamu akan tetap tinggal di sini, nggak?”
Bab 3
Seketika, Benson berhenti.
Tasya memegangi perutnya, meliriknya sekilas. Lalu, membisikkan sesuatu di telinganya yang tak bisa kudengar.
Benson pun menoleh padaku.
“Yuna, kamu nggak perlu pakai cara seperti ini untuk menipuku.”
“Bagaimanapun juga, aku nggak akan meninggalkan Tasya.”
Setelah itu, mereka pun berjalan beriringan pergi tanpa menoleh lagi.
Seketika, aku benar-benar mati rasa.
Seorang anak yang tidak diharapkan sebaiknya memang tidak datang ke dunia ini.
Pernikahan yang sudah retak cepat lambat akan runtuh juga.
Selesai operasi dan pulang ke rumah, aku mendapati seluruh ruangan gelap gulita.
Beberapa hari berturut-turut, Benson tidak pulang.
Aku pun tidak menelepon dan bertanya dia di mana. Aku hanya berdiam di rumah, menjalani masa pemulihan, sambil menghubungi pengacara menanyakan soal perceraian.
Saat kembali melihat Benson, itu lewat unggahan instagram Tasya.
Pria yang biasanya tak suka difoto, kini memakai bando kartun dan berpose bersama Tasya untuk pemotretan kehamilan.
Keduanya saling membelai perutnya, bertatapan mesra, persis seperti pasangan yang sedang menantikan kelahiran anak mereka.
Kali ini, aku menekan tombol like.
Beberapa hari tanpa kabar, tiba-tiba Benson menelepon dan menyuruhku makan malam di rumah keluarga besarnya.
Belakangan ini, aku sudah mengemas banyak barang pribadiku. Surat perjanjian cerai pun sudah disiapkan oleh pengacara. Rasanya memang sudah saatnya memberitahunya dan keluarganya soal keputusan ini, jadi aku pun mengiyakan ajakannya.
Saat tiba di rumah keluarga besarnya, kursi yang biasanya kududuki di meja makan sudah diduduki orang lain, yaitu Tasya.
Ibu Benson menggenggam tangan Tasya sambil berbicara dengan lembut. Wajahnya terlihat penuh senyuman, wajah yang tak pernah ditunjukkan padaku selama lima tahun aku menjadi menantunya.
Sejak awal, ibu Benson memang tidak menyukaiku. Apalagi selama lima tahun menikah aku belum juga hamil, itu membuatnya semakin dingin padaku.
Dulu, aku sempat berpikir bahwa kehamilanku bisa mencairkan hubunganku dengannya. Sekarang, itu sudah tak ada artinya lagi.
Saat melihatku, Tasya tersenyum canggung.
“Yuna, setelah tahu aku hamil, tante bersikeras mengajakku tinggal di sini biar bisa merawatku. Jangan salah paham, ya….”
Aku malas menanggapinya dan langsung menarik kursi untuk duduk.
Ibu Benson menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu menepuk punggung tangan Tasya, sambil berkata dengan nada penuh sindiran,
“Yuna, kamu sudah menikah dengan Benson lima tahun tapi belum juga hamil, aku sudah nggak sabar ingin menimang cucu.”
“Tasya ini anak yang malang. Suaminya meninggal dan dia hidup sendirian, untungnya ada Benson yang menjaganya.”
“Sekarang, dia juga sudah mengandung cucu keluarga kami. Aku membawanya tinggal di sini, kamu nggak keberatan, ‘kan?”
Perkataannya yang terdengar seperti bertanya padahal sebenarnya sindiran halus, sudah biasa kudengar.
Namun sekarang, apa pun yang terjadi antara Tasya dan keluarga Benson, aku sudah tak peduli lagi.
Aku hanya mengangguk pelan.
“Aku nggak keberatan.”
Bab 4
Mendengar jawabanku, ibu Benson tampak sedikit terkejut dan menatapku sejenak. Saat melihat wajahku tanpa tanda-tanda marah, ekspresinya sedikit melunak.
“Baguslah kalau kamu bisa mengerti. Bagaimanapun juga, keluarga ini nggak mungkin dibiarkan tanpa penerus.”
“Untung saja Benson itu orang yang setia kawan. Kalau nggak, aku juga nggak akan bisa mendapatkan cucu.”
Sambil berbicara, ibu Benson membelai perut Tasya, wajahnya terlihat penuh kegembiraan.
Namun bagiku, semua itu terdengar begitu ironis.
Setia kawan?
Kalau Celvin tahu bahwa menjaga istrinya berarti membuat Tasya mengandung anak Benson, mungkin dia akan berontak sampai penutup peti matinya tak bisa menahannya di dalam.
Melihat aku diam saja, Tasya melirikku dengan ragu.
“Yuna, kamu masih marah pada aku dan Benson?”
“Aku sungguh hanya ingin punya anak sendiri. Aku sendirian di rumah, rasanya sangat sepi dan menakutkan.”
Sambil bicara begitu, Tasya terisak pelan, seolah-olah baru saja mendapat perlakukan paling kejam di dunia.
Ibu Benson buru-buru memberinya tisu untuk menyeka air mata, lalu menatapku dengan tak senang.
“Yuna, kamu itu ayam betina yang nggak bisa bertelur, nggak pantas marah-marah di sini. Anak yang dikandung Tasya ini adalah darah daging keluarga ini dan dia harus melahirkannya.”
Aku menatap dingin dua orang yang begitu serentak di depanku, lalu berkata,
“Baiklah, kebetulan sekali, aku akan memberikan posisiku pada Tasya. Jadi, nanti anak itu bisa terang-terangan memanggilnya ibu, bukan malah memanggilku ibu dan memanggilnya ibu angkat.”
Aku masih ingin melanjutkan, tapi tiba-tiba Tasya malah berlutut di depanku, memegang ujung celanaku sambil terisak.
“Yuna, aku tahu kamu masih marah, tapi anak ini nggak bersalah. Kamu nggak boleh mencelakainya.”
Aku bingung apakah Tasya memang tidak mengerti maksudku. Dengan dahi berkerut, aku berniat menariknya berdiri, tapi tiba-tiba terdengar bentakan keras.
“Hentikan!”
Begitu masuk, Benson melihat Tasya berlutut sambil menangis dan mengatakan bahwa anak itu tidak bersalah. Dia langsung mengira aku yang menyuruhnya menggugurkan kandungan.
Tanpa pikir panjang, dia menghantam perutku dengan tendangan keras. Tubuhku terhempas jatuh ke lantai bersama kursi.
Rahimku yang baru saja menjalani aborsi beberapa hari lalu masih sangat lemah, sama sekali tak mampu menahan tendangannya.
Tubuhku terasa dingin, seolah tercebur ke dalam air es. Pandanganku berkunang-kunang, perutku terasa perih menusuk.
Di telingaku samar-samar terdengar suara Benson yang masih memaki.
“Yuna, kamu malah mau menyuruh Tasya menggugurkan anaknya? Kejadian waktu di rumah sakit kemarin masih belum cukup? Kamu benar-benar kejam sekali!”
Aku berusaha menahan napas, berdiri dengan sisa tenaga, lalu mengeluarkan perjanjian cerai dari tas dan melemparkannya ke wajah Benson.
“Benson, kita cerai!”
Di tengah tatapan tak percaya darinya, aku berjalan terhuyung menuju pintu. Tapi, baru beberapa langkah, pandanganku gelap dan tubuhku kembali terjatuh.
Sebelum kesadaranku hilang, samar-samar kudengar teriakan orang sekitar,
“Kenapa nyonya mengeluarkan begitu banyak darah?!”
“Cepat panggil ambulans!”
“Yuna!”