Đang tải thông tin quảng bá...
Kejutan Untuk Pengkhianat Cinta
"Bu Adele, maksud Anda proses pernikahannya tetap berjalan seperti rencana semula, tapi pengantinnya akan diganti dengan orang lain? Begitu, ya?" Menghadapi tatapan bingung dari staf, Adele sama sekal...
Chương (1)
第1章
"Bu Adele, maksud Anda proses pernikahannya tetap berjalan seperti rencana semula, tapi pengantinnya akan diganti dengan orang lain? Begitu, ya?"
Menghadapi tatapan bingung dari staf, Adele sama sekali tidak ragu. Dia langsung mengangguk.
"Benar. Pernikahan tetap digelar setengah bulan lagi seperti rencana awal. Semua materi pernikahan yang perlu diubah akan saya serahkan dalam beberapa hari ke depan."
"Baik. Lalu ... apakah saya perlu menghubungi Pak Darren untuk memberitahukan hal ini ...."
"Nggak perlu!"
Belum sempat lawan bicaranya menyelesaikan kalimat, Adele langsung memotong dengan nada tegas dan sedikit emosional. Saat melihat ekspresi kaget dari staf itu, dia berusaha menenangkan diri dan menjelaskan dengan lebih lembut.
"Dia cukup sibuk. Untuk urusan pernikahan selanjutnya, cukup langsung dengan saya saja."
Pernikahan ini adalah hadiah terakhir yang ingin diberikan Adele untuk Darren. Berhubung karena ini hadiah, tentu saja baru terasa mengejutkan kalau diberikan di saat terakhir.
Bab 1
Adele keluar dari kantor wedding organizer, lalu memesan tiket untuk meninggalkan Kota Jarcos lewat ponsel. Begitu notifikasi "pemesanan berhasil" muncul, panggilan dari Darren langsung masuk.
Saat telepon tersambung, suara Darren terdengar lembut dan penuh perhatian. "Adele, Ibu bilang kangen kamu. Dia minta aku ajak kamu pulang malam ini, makan malam bareng di rumah," katanya.
"Katanya juga, malam ini ada sesuatu yang ingin dia berikan ke kamu. Tebak, apa itu?"
Seluruh Kota Jarcos tahu betul bahwa Darren adalah pria yang dingin dan tertutup. Sikapnya selalu menjaga jarak dengan siapa pun dan sulit didekati. Meski banyak wanita yang berlomba-lomba mendekatinya, sejak awal, hanya Adele seorang yang pernah mendapat sisi lembut dari Darren.
Sampai hari ini, Adele pun selalu percaya akan hal itu.
Ibu Adele dan ibu Darren adalah sahabat karib sejak muda. Adele dan Darren pun tumbuh besar sebagai sepasang sahabat masa kecil.
Namun, segalanya berubah setelah ibu Adele meninggal dunia. Belum genap sebulan, ayahnya yang berengsek sudah menikah lagi dengan seorang wanita yang kini menjadi ibu tiri Adele.
Tak lama setelah itu, Adele dijebak oleh ibu tirinya dan dikirim ke desa terpencil. Saat tersadar dari pingsan, yang pertama kali dia lihat adalah seorang pria mabuk yang mencoba berbuat tidak senonoh padanya.
Dalam kepanikan, Adele meraih botol kosong yang tergeletak di lantai dan memukulkannya ke kepala pria itu.
Pria mabuk itu terkapar di tanah dan kejang beberapa kali, lalu tidak bergerak lagi. Saat Adele dilanda ketakutan dan kebingungan, Darren mendobrak pintu reyot itu dan bergegas memeluknya erat.
Di mata Adele, saat itu Darren tampak seperti penyelamat yang turun dari langit. Meski akhirnya berhasil diselamatkan, kejadian itu meninggalkan trauma mendalam bagi Adele.
Darren pun selalu ada di sampingnya setiap hari. Dia bersikeras mencari terapis terbaik, menghiburnya dengan segala cara, dan tidak pernah berhenti menemani hingga Adele perlahan mampu keluar dari bayang-bayang masa lalu.
Hari demi hari, perhatian itu perlahan-lahan mencairkan hatinya yang beku.
Namun, karena pernah menyaksikan sendiri bagaimana ayahnya mengkhianati ibunya, Adele menjadi sangat berhati-hati dalam urusan perasaan.
Sebelum akhirnya memutuskan untuk menjalin hubungan dengan Darren, Adele pernah mengungkapkan satu hal dengan sangat serius padanya.
"Darren, aku ini tipe orang yang hanya bisa menerima cinta yang utuh. Kalau kamu sudah nggak mencintaiku lagi, kita bisa berpisah baik-baik. Tapi kalau kamu mengkhianatiku, aku akan pergi dan kamu nggak akan pernah bisa menemukanku lagi."
Saat itu, Darren mengacungkan tangan dan bersumpah dengan penuh keyakinan.
"Adele, seumur hidupku ini, aku hanya ingin bersamamu seorang. Aku janji akan selalu mencintaimu dan memperlakukanmu dengan baik. Waktu akan membuktikan betapa besar cintaku padamu!"
Janji-janji Darren waktu itu masih terasa seperti terngiang jelas di telinga Adele.
Namun kini, waktu telah membuktikan segalanya.
Darren ternyata tidak mampu memberinya cinta yang utuh. Dia akhirnya mengkhianati hubungan mereka.
Tepat semalam, Adele menemukan surat nikah Darren dengan Wenny di saku jaket yang baru saja ditanggalkannya.
Keluarga Darren memang telah banyak membantu para siswa kurang mampu selama beberapa tahun terakhir dan Wenny adalah salah satu penerimanya. Adele sangat mengingat Wenny, bukan karena prestasinya, tapi karena kelicikannya.
Dia pernah melihat sendiri bagaimana Wenny mencoba mendekati Darren dan menyatakan perasaannya. Namun, saat itu Darren menolaknya mentah-mentah dengan ekspresi datar. "Maaf, aku sudah punya pacar."
Dengan sikap yang dingin, Darren menghempas Wenny dan membuat wanita itu akhirnya menyerah. Sejak saat itu, Wenny hampir tidak pernah lagi muncul di hadapan Adele.
Namun sekitar sebulan lalu, Darren tiba-tiba menyebut nama Wenny lagi. Katanya, ibu Wenny sedang sakit parah dan harapan terakhir sang ibu adalah bisa melihat putrinya menikah sebelum ajal menjemput.
Darren yang dulu tidak pernah bersikap lunak pada Wenny, malah meminta pendapat Adele. Katanya, dia ingin membantu memenuhi keinginan terakhir itu. Tanpa ragu sedikit pun, Adele menolaknya.
Saat itu juga, dia mengingatkan Darren dengan tegas tentang apa yang pernah dia katakan saat mereka memutuskan untuk bersama. "Aku hanya bisa menerima cinta yang sepenuhnya. Kalau kamu ingin membagi cintamu untuk orang lain, hubungan kita cukup sampai di sini."
Saat Adele berkata demikian, wajah Darren langsung berubah pucat. Dia buru-buru bersumpah tidak akan pernah mengkhianatinya. Adele sempat mengira, semua kebodohan itu akan berakhir di sana.
Namun ternyata, Darren tetap diam-diam menikah dengan Wenny. Selain itu, dia menyimpan Wenny di rumah lain dan terus bermesraan dengannya sepanjang hari. Dia sama sekali tidak memedulikan pernikahan mereka yang hanya tersisa setengah bulan lagi.
Adele tersenyum sinis. Sekarang dia hanya merasa beruntung karena telah menemukan rahasia ini sebelum hari pernikahan mereka.
Lantaran tidak mendapat respons dari seberang, suara Darren terdengar lagi, "Adele, kamu dengar aku, 'kan?"
Adele menjawab pelan, "Aku sedang nggak di rumah. Nanti kamu ke rumah keluarga sendiri saja, nggak usah jemput aku."
Darren terdengar khawatir. "Kapan kamu keluar? Kenapa nggak bilang-bilang? Aku bisa temani."
Adele mendengar suara gesekan kain dan napas perempuan yang samar-samar dari ujung sana. Sorot matanya seketika membeku.
"Aku siapkan kejutan untuk diberikan padamu di hari pernikahan nanti. Jadi, aku ke wedding organizer untuk sampaikan beberapa hal."
Nada Darren langsung terdengar antusias. "Kejutan apa?"
Adele tersenyum dingin. "Kalau sekarang aku kasih tahu, ya bukan kejutan lagi, dong. Hari H nanti kamu pasti tahu."
Darren menahan rasa senangnya dan menjawab dengan lembut, "Oke, terserah kamu. Aku tunggu kejutannya. Kita ketemu nanti malam, ya."
Sebelum telepon ditutup, Darren bahkan berpura membuat suara ciuman yang berlebihan.
Namun Adele tahu betul, itu bukan suara yang dibuat-buat. Itu suara sungguhan saat bibirnya mencium wanita lain.
Adele berpura-pura tidak tahu apa pun. Wajahnya tetap tenang memandangi ponsel yang baru saja dia turunkan dari telinga. Namun di dalam hatinya, badai sudah terlanjur bergemuruh.
'Darren, semoga saat hari pernikahan tiba dan kamu menyaksikan semuanya, kamu benar-benar merasa terkejut.'
Bab 2
Setelah menutup telepon, Adele tidak langsung pergi ke rumah keluarga, melainkan kembali ke rumahnya terlebih dahulu.
Setelah bertahun-tahun dihias dengan cermat olehnya dan Darren, unit apartemen seluas lebih dari 300 meter persegi itu tidak terasa kosong sama sekali, malah terasa sangat hangat dan nyaman.
Dulu, dia mengira tempat ini akan menjadi rumah mereka berdua untuk selamanya.
Namun, sejak semalam dia mengetahui Darren telah mengkhianatinya, tempat ini sudah tidak lagi memiliki arti yang sama.
Cincin kawin yang seharusnya mereka tukarkan di hari pernikahan, telah Darren berikan padanya lebih awal. Dua cincin itu adalah desain khusus yang dibuat Darren sendiri, Adele bahkan menyaksikan sendiri prosesnya, bagaimana Darren menggambar sketsa demi sketsa hingga desainnya jadi.
Saat itu, Darren memeluk Adele erat dan menjelaskan dengan penuh harapan di wajahnya, "Ada celah tersembunyi yang aku rancang di cincin ini. Kalau dua cincin ini disatukan, akan membentuk pola hati. Itu artinya kita nggak akan pernah terpisah."
Adele menarik diri dari kenangan itu. Tanpa sedikit pun rasa berat hati, dia mengeluarkan cincin itu dan menghubungi layanan pengiriman instan di dalam kota.
"Halo, aku ingin melakukan pemesanan kirim barang ...."
Berhubung mempelai wanita untuk hari pernikahan nanti telah digantikan oleh Susanti, maka dua cincin yang penuh makna ini, tentu seharusnya juga diberikan kepadanya.
Setelah memesan agar cincin itu dikirim tepat pukul sembilan pagi di hari pernikahan dan melihat kurir mengambil paket tersebut, Adele akhirnya bisa menghela napas lega.
Di rumah seluas 300 meter lebih itu, ada terlalu banyak kenangan akan cinta antara dirinya dan Darren. Sebelum pergi, dia akan memastikan semuanya kembali seperti sedia kala seolah dirinya tidak pernah ada di sana.
....
Saat Adele tiba di rumah keluarga, matanya masih tampak merah dan sembap.
Ibu Darren yang bernama Kelly, melihatnya masuk dengan mata memerah, langsung melirik ke arah belakangnya dua kali. Namun karena tidak melihat bayangan Darren, wajahnya pun tampak bingung.
"Kenapa sampai nangis begitu? Apa Darren menyakitimu?"
Adele tidak tahu harus kepada siapa dia mencurahkan rasa kecewa dan perih di hatinya. Sekalipun Kelly sangat menyayanginya, kasih ibu kandung terhadap anaknya tetap tak tergantikan. Adele berusaha mengendalikan emosinya dan memaksakan diri untuk tersenyum.
"Nggak, tadi anginnya kencang di luar, jadi mataku kelilipan," kata Adele sambil mengangkat tangan mengusap matanya, sekalian menyeka air mata yang sempat mengalir. Wajahnya pun kembali seperti biasa.
Kelly pun menghela napas lega, lalu tersenyum sambil berkata, "Kalau Darren berani macam-macam sama kamu, kamu harus bilang ke Ibu. Biar Ibuyang urus dia."
Tak lama setelah Adele tiba di rumah keluarga, mobil Darren pun masuk ke garasi bawah tanah. Berhubung dia tidak kunjung naik ke atas, Kelly pun menyuruh Adele untuk memanggilnya.
Begitu tiba di garasi, Adele langsung melihat mobil yang lampunya masih menyala.
Darren duduk di dalam mobil sambil merokok, wajahnya penuh konsentrasi menatap layar ponselnya. Dia sama sekali tidak menyadari kehadiran Adele yang berjalan mendekat.
"Kamu pakai baju begini untuk godain aku, nggak mau turun dari ranjang lagi ya?"
Dari dalam ponsel, terdengar suara manja Susanti, "Ini bonus spesial buat kamu. Kesempatan langka, jangan sampai kelewatan. Malam ini jangan lupa datang ya ...."
Darren mengumpat pelan dan membalas dengan kejam, "Lihat saja mau gimana kuhabisi kamu nanti malam."
Begitu panggilan itu berakhir, Darren masih tampak terbakar oleh hasrat. Dia menyulut sebatang demi sebatang rokok untuk mencoba meredam gejolak dalam dirinya.
Adele memandangi Darren, sosok yang hari ini terasa sangat asing baginya. Seluruh bayangan tentang Darren di hatinya, hancur tak bersisa.
Laki-laki yang dulu begitu dia yakini mencintainya sepenuh hati, ternyata bisa bersikap lembut pada dua wanita sekaligus dan bahkan tergila-gila seperti itu pada orang lain.
Sudut bibir Adele terangkat membentuk senyum getir, tapi perutnya terasa mual dan melilit.
Suara mobil yang dimatikan terdengar. Darren mematikan rokok dan bersiap membuka pintu.
Namun, tepat sedetik sebelum Darren keluar dari mobil, Adele telah berbalik dan meninggalkan garasi. Mereka kembali ke lantai atas hampir bersamaan. Saat itu, para asisten rumah tangga sedang menata hidangan di meja makan.
Melihat mereka datang, Kelly melirik Darren dengan kesal. "Kamu ngapain saja selama itu? Harus Adele dulu yang turun manggil, baru kamu mau naik!"
Ekspresi Darren langsung membeku. Dia panik seketika dan menoleh cepat ke arah Adele.
"Kamu tadi sempat ke bawah nyari aku?"
Adele menatap Darren dengan ekspresi tenang, lalu mengangguk ringan. "Iya, tapi begitu lihat kamu lagi telepon, aku langsung balik lagi. Kenapa?"
Darren memandangi Adele cukup lama. Ekspresinya masih tegang saat bertanya, "Kamu dengar aku lagi telepon sama siapa?"
Dalam hati Adele merasa ini semua sangat ironis, tapi wajahnya tetap tidak menunjukkan tanda-tanda aneh. "Nggak. Bukannya kamu lagi ngomong sama klien? Siapa lagi coba?"
Adele menatap Darren dengan tenang. Dia jelas melihat bagaimana Darren langsung menghela napas lega dan ekspresinya perlahan kembali ke wajah lembut yang selama ini dia kenal. Tangan Darren terangkat, mengusap kepala Adele dengan gerakan pelan dan lembut.
"Bukan klien. Itu dari panitia gala amal minggu depan. Aku pesankan perhiasan baru untuk kamu, tadi mereka telepon soal itu. Mau sampai kapan pun, kamu selalu harus jadi wanita paling bersinar di sisiku."
Setelah Adele berhasil diselamatkan dulu, Grup Halsinky rutin menyelenggarakan gala amal setiap beberapa waktu. Seluruh dana yang dikumpulkan dari acara itu akan didonasikan penuh lewat yayasan amal yang diberi nama sesuai nama Adele.
Semua itu dilakukan Darren demi mendoakan keselamatan dan kesehatan Adele, agar hidupnya ke depan tidak lagi dirundung bencana. Sebagai seseorang yang tidak percaya Tuhan maupun dewa, Darren bersedia melakukan itu semua demi Adele. Saat itu, Adele benar-benar terharu sampai tidak bisa berkata-kata.
Namun kini, perasaannya tidak lagi tersentuh. Dia hanya menjawab datar, "Kamu atur saja, aku ikut."
Setelah makan malam, Kelly mengambil sebuah kotak kayu merah dan membuka isinya. Di dalamnya ada sebuah gelang giok yang dia keluarkan dan langsung dipakaikan ke pergelangan tangan Adele.
"Ini adalah pusaka keluarga yang diwariskan untuk menantu perempuan Keluarga Halsinky. Akhirnya setelah sekian lama, benda ini akan sampai juga ke tanganmu."
Kelly tersenyum hangat dan penuh kasih, pandangannya bergantian tertuju pada Adele dan Darren. Adele menunduk menatap gelang giok di pergelangan tangannya. Batu gioknya bening dan bercahaya, menonjolkan kelembutan serta putihnya kulit tangannya.
Namun, dia tidak berniat untuk mengaguminya.
Adele hanya tersenyum tipis, lalu perlahan melepas gelang itu dan meletakkannya kembali ke dalam kotak. "Aku mengerti maksud Tante. Tapi karena ini benda yang begitu bermakna, lebih baik diberikan saat hari pernikahan nanti saja."
Karena Adele bersikap tegas, Kelly pun hanya bisa berkata bahwa gelang itu akan dia pakaikan sendiri di hari pernikahan nanti. Menyadari Darren beberapa kali melirik jam dengan gelisah, Adele pun langsung mencari alasan untuk pamit pulang.
Di perjalanan pulang, perutnya mendadak terasa nyeri. Saat itulah Adele baru sadar bahwa siklus bulanannya datang lebih cepat dari perkiraan.
Setelah sampai di rumah, Darren merebus air hangat dan membantu Adele melepas sepatu dan kaus kakinya, lalu menyiapkan air rendaman untuk kakinya.
Adele menunduk memandangi pusaran rambut di kepala Darren. Dadanya terasa seperti terkoyak. Dia sudah jelas-jelas tidak setia lagi, tapi kenapa masih bisa bersikap begitu lembut seperti dulu?
Ternyata, sikap penuh perhatian dan cinta seperti ini juga bisa dibuat-buat.
Setelah berbaring di tempat tidur, tangan besar Darren perlahan memijat lembut perut Adele.
Rasa kantuk mulai menyergapnya. Namun, Adele tahu jelas tujuan Darren memanjakannya seperti ini adalah untuk membuatnya cepat tidur. Justru karena tahu itulah, dia sama sekali tidak bisa benar-benar tertidur.
Tak lama kemudian, ponsel Darren bergetar pelan dua kali.
Adele merasakan Darren mengambil ponsel dan seiring dengan napasnya yang tiba-tiba menjadi lebih berat, gerakan tangannya juga menjadi sedikit lebih kuat.
Seolah sesuai harapannya, Darren mengira Adele sudah tertidur karena napasnya perlahan menjadi stabil. Darren pun perlahan turun dari ranjang dan berganti pakaian dengan hati-hati, lalu buru-buru keluar rumah.
Adele berdiri di dekat jendela, memandangi mobil yang melaju cepat dan menghilang dalam kegelapan. Jemarinya mengepal erat, hingga kuku-kukunya menancap ke telapak tangan. Namun, dia tidak merasa sakit sama sekali.
Bab 3
Keesokan paginya saat Adele terbangun, Darren sudah kembali dan sedang sibuk di dapur.
Begitu melihat Adele keluar dari kamar tidur, Darren langsung tersenyum lebar. "Cepat sini, cobain resep baru yang aku pelajari, bola ketan kecil dengan gula merah. Katanya bagus buat menghangatkan perut saat datang bulan."
Melihat pemandangan itu, Adele sempat tertegun beberapa saat sebelum akhirnya duduk di meja makan. Dia menatap Darren dengan pandangan penuh rasa ingin tahu. "Kamu semalam ke mana?"
Senyum di wajah Darren langsung membeku. Dia refleks mengalihkan pandangan untuk menghindari tatapan Adele, tetapi hanya sesaat sebelum kembali bersikap normal. Dia duduk di samping Adele dan menggenggam tangannya dengan cemas.
"Tadi malam ada urusan mendadak di kantor. Aku cuma keluar sebentar. Soalnya kamu sudah tidur, jadi aku nggak tega bangunin. Kamu kebangun karena mimpi buruk, ya?"
Tatapan penuh rasa sayang dari Darren begitu meyakinkan, nyaris tidak terlihat ada kepalsuan. Namun, Adele tak habis pikir, bagaimana mungkin seseorang bisa membagi cinta dan nafsu kepada dua orang sekaligus?
Adele tidak menjawab. Darren lalu memeluknya dengan lembut dan membisikkan kata-kata penghiburan. Setelah itu, dia langsung menelepon asistennya, meminta dibuatkan janji pemeriksaan sekaligus mengirimkan obat penenang.
Sejak Adele diselamatkan dulu, dia hanya bisa tidur jika minum obat dalam waktu yang cukup lama.
Meski begitu, dia tetap sering terbangun karena mimpi buruk tentang malam itu. Bau alkohol yang menusuk, darah yang melekat di tangannya ....
Karena sangat mengkhawatirkan kondisinya, Darren bahkan sempat tidur di lantai kamarnya setiap malam hanya agar bisa segera menenangkannya setiap kali dia tersentak dalam mimpi. Namun, pria yang begitu perhatian seperti itu tetap saja mengkhianatinya.
Saat Adele mengangkat kepala, dia melihat di bawah dagu Darren terdapat bekas kecupan sama. Tidak terlalu mencolok, tapi tetap terlihat jika diperhatikan.
Biasanya saat di rumah, Darren selalu tampil santai. Dua kancing teratas bajunya sering kali dibiarkan terbuka, memperlihatkan jakun dan sedikit bagian dadanya. Namun hari ini, dia mengancingkan bajunya hingga kancing paling atas.
Berhubung tadi dia sempat memasak, lengan bajunya tergulung sedikit ke atas sehingga tidak sengaja memperlihatkan sebuah bekas cakaran yang samar di bawah lipatan itu. Begitu menggoda, begitu mencurigakan.
Darren sama sekali tidak menyadari bahwa semua jejak itu telah tertangkap jelas oleh mata Adele. Mengenai bagaimana semua bekas itu bisa muncul ... sudah tidak perlu dijelaskan lagi.
Darren menyendokkan semangkuk bola ketan gula merah dan membawanya ke hadapan Adele.
Namun begitu mencium aroma manis yang menguar dari mangkuk itu dan mengingat semua yang baru dia lihat, perut Adele kembali terasa mual. Dia buru-buru menepis tangan Darren dan berlari masuk ke kamar mandi.
Darren menyusul dengan khawatir. Saat dia mengangkat tangan untuk membersihkan sisa muntahan di sudut bibir Adele, emosi Adele tiba-tiba meledak. Dia mendorong Darren dengan keras sambil berteriak, "Jangan sentuh aku!"
Tangan Darren terhenti di udara dan sorot matanya dipenuhi kebingungan. Suaranya melemah saat dia bertanya, "Adele, aku salah apa ...?"
Adele mengatur napasnya dan berusaha menenangkan diri sebelum akhirnya membuka mulut, "Nggak, aku cuma baru baca novel tadi ... terus nggak sadar membayangkan kamu jadi si tokoh itu."
Mendengar ucapannya, Darren akhirnya menghela napas lega. Dia kembali mendekat, lalu membersihkan air yang terciprat di wajah Adele.
Sambil tertawa ringan, dia menggoda, "Baca novel apa sampai serius begini?"
Adele menatap Darren dan berkata pelan, "Ceritanya tentang sepasang kekasih yang bikin banyak orang iri. Tapi si laki-laki nggak bisa bertahan menghadapi waktu, dia berpindah hati dan mengkhianati si perempuan. Dia nggak mau kehilangan pacarnya, tapi juga nggak rela melepaskan selingkuhannya. Pada akhirnya, dia nggak dapat apa-apa."
"Darren, kamu juga akan jadi seperti laki-laki itu ...?"
Jari-jari Darren sempat gemetar sedikit, tetapi dia buru-buru menenangkan diri dan segera menarik Adele ke dalam pelukannya. "Itu cuma cerita fiksi. Nggak ada siapa pun yang bisa memisahkan kita. Aku nggak akan pernah berpindah hati dan nggak akan pernah mencintai orang lain."
"Kamu harus percaya, aku benar-benar mencintaimu."
Entah kata-kata itu ditujukan untuk menenangkan Adele atau justru untuk meyakinkan dirinya sendiri.
Setelah itu, Darren membawa Adele ke rumah sakit untuk pemeriksaan ulang. Mungkin karena menyadari bahwa kondisi emosional Adele sedang tidak stabil, beberapa hari ke depan dia terus menemani di sisi Adele.
Tak terasa, hari gala amal pun tiba.
Darren mengajak Adele ke butik untuk memilih gaun malam. Adele terlihat tidak terlalu antusias. Pandangannya hanya tertuju pada sebuah gaun berwarna hitam pekat di rak paling ujung.
Melihat arah pandangan Adele, Darren bertanya dengan lembut, "Kamu suka yang ini?"
"Kalau iya, coba saja dulu. Kalau cocok, nanti aku suruh orang kirim langsung ke rumah."
Sebelum Adele sempat menjawab, seorang pegawai butik berjalan mendekat dengan ekspresi serba salah. "Maaf, Bu Adele, gaun ini sudah dipesan orang. Kalau berkenan, saya bisa bantu rekomendasikan model lainnya."
Wajah Darren langsung tampak tidak senang. Tatapannya menusuk ke arah pegawai itu dan berkata dengan penuh tekanan, "Tanyakan sama pemesannya apakah dia bersedia merelakan gaun ini. Kalau bersedia, aku akan beri dia gaun baru secara gratis sebagai gantinya."
Pegawai itu melirik Adele dengan gugup, lalu berjalan mendekati Darren dan berbisik dengan suara yang nyaris tak terdengar, "Gaun ini ... dipesan oleh Bu Susanti."
Meski suara itu sangat pelan, Adele tetap mendengarnya dengan jelas. Dia pun berbalik menatap Darren dan saat melihat perubahan di wajah pria itu, dia merasa semuanya sangat ironis.
"Cuma sebuah gaun, kok. Aku suruh dia relakan ke kamu, ya?"
Adele menggeleng dengan enggan. "Aku cuma lihat-lihat karena modelnya lumayan. Tapi baik orang maupun barang, aku nggak pernah tertarik merebut apa yang sudah jadi milik orang lain."
Mendengar ucapan yang seolah-olah sedang ditujukan pada dirinya, Darren tak kausa mengerutkan alis. Hatinya sempat panik sejenak.
Adele pun kembali memilih gaun lain. Darren menahan kegelisahan yang tak dia pahami dan terus mengikutinya. Akhirnya atas saran Darren, Adele memilih sebuah gaun berwarna biru.
Saat dia masuk ke ruang ganti untuk mencoba gaun tersebut, layar ponselnya tiba-tiba menyala dan muncul sebuah notifikasi.
[ Hitung mundur: 7 hari. ]
Bab 4
Darren menatap pesan di layar ponsel, perasaan gelisah dalam hatinya kembali menyeruak. Dia baru saja hendak mengambil ponsel milik Adele untuk melihat pesan apa yang muncul, ketika tirai ruang ganti tiba-tiba disibakkan dan Adele melangkah keluar.
Gaun yang dikenakannya serasi sekali dengan perhiasan batu permata yang telah disiapkan Darren secara khusus. Kecantikan Adele tampak semakin bersinar karena perpaduan itu.
Dalam sekejap, Darren melupakan tentang hitungan mundur yang sempat dia lihat di ponsel tadi. Tatapannya terpaku dengan penuh kekaguman.
"Adele, aku benar-benar pria paling beruntung karena memilikimu."
Dulu, jika Adele ditatap dengan penuh cinta seperti itu, mungkin jantungnya sudah berdebar kencang. Namun kini, dia hanya mengalihkan pandangannya dengan tenang tanpa merasa terharu sedikit pun.
Darren menunduk dan berniat mencium pipinya, tetapi Adele menghindar secara halus.
"Ayo pergi sekarang. Waktunya sudah mepet."
Melihat Adele mengambil ponselnya lagi, Darren baru teringat pada notifikasi hitungan mundur yang tadi sempat dia lihat. Wajahnya langsung mengernyit. "Aku tadi lihat ada pengingat hitung mundur tujuh hari di ponselmu. Apa itu?"
Adele sempat terdiam sesaat, kilatan gugup melintas di matanya. Dia belum ingin Darren tahu bahwa dia sedang mempersiapkan kepergiannya.
"Tujuh hari lagi itu hari pernikahan kita. Kamu lupa ya?" jawabnya tenang, sambil menatap Darren dengan tatapan jujur.
Ditatap seperti itu, Darren justru merasa bersalah. Dia buru-buru mengganti topik, seolah tidak terjadi apa-apa.
....
Meskipun pesta belum dimulai, aula sudah penuh sesak oleh tamu-tamu yang bercengkerama dengan riuh. Begitu Darren dan Adele masuk, semua orang langsung menghampiri mereka.
Udara di dalam cukup dingin karena pendingin ruangan dan Darren dengan sigap menyampirkan selendang yang telah dia siapkan sebelumnya ke pundak Adele.
Adegan itu membuat banyak wanita menatap dengan iri. Sementara teman-teman dan rekan bisnis Darren justru berseloroh sambil tersenyum.
"Pak Darren benar-benar perhatian sekali sama Bu Adele. Di seluruh Kota Jarcos, rasanya nggak ada pasangan yang lebih serasi dari kalian. Aku pasti datang memberi selamat di pernikahan kalian minggu depan."
"Di seluruh Kota Jarcos, kalau Darren dibilang suami paling perhatian nomor dua, rasanya nggak ada yang berani mengaku sebagai nomor satu."
"Itu sudah jelas. Pak Darren itu panutan pria baik. Perempuan mana di Kota Jarcos yang nggak iri sama Adele karena bisa menikah dengan pria sebaik dia?"
Di tengah keramaian, suara-suara pujian terhadap Adele dan Darren terdengar di mana-mana. Darren tersenyum, aura dingin dan tertutup yang biasanya melekat padanya pun menghilang.
Meskipun dia tahu sebagian besar pujian itu hanyalah basa-basi untuk menjilat, Darren tetap merasa puas dan senang. Siapa pun yang menghampirinya, dia layani dengan sopan. Orang-orang pun merasa telah menemukan cara mendekati Darren dan semakin gencar menyanjung tanpa henti.
Di sisi lain, Adele merasa telinganya terus berdengung, sampai kepalanya pun mulai terasa pusing.
Terlebih sekarang, dia benar-benar tidak ingin mendengar ucapan selamat dari orang-orang yang tidak tahu apa-apa.
Menyadari raut tidak nyaman di wajah Adele, Darren segera mengisyaratkan orang-orang untuk membubarkan diri, lalu membawanya ke tempat yang lebih tenang.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Karena tak lama kemudian, Susanti melangkah anggun dengan gaun malam berwarna hitam pekat.
"Pak Darren, Bu Adele, lama nggak bertemu," sapa Susanti.
Sebagai salah satu penerima bantuan dari Keluarga Halsinky dalam beberapa tahun terakhir, Susanti memang diundang dalam acara amal malam ini. Bahkan, nanti dia juga akan naik ke panggung untuk menyampaikan pidato.
Adele tidak ingin berpura-pura ramah dengannya. Dia hanya menunduk dan berpura-pura sibuk melihat layar ponsel.
Susanti melangkah sedikit lebih dekat dan berkata dengan penuh rasa bersalah, "Bu Adele masih marah padaku ya? Soal kejadian waktu itu, aku benar-benar minta maaf. Waktu itu aku sedang panik karena sakit, makanya terpikir ide gila meminta Pak Darren pura-pura menikah denganku."
"Tapi Darren sudah menolaknya dan sekarang aku juga sudah punya pacar. Gimana kalau kita lupakan saja semua kejadian di masa lalu?"
Namun di telinga Adele, tidak ada nada permintaan maaf yang tulus dalam kata-kata itu. Justru semuanya terdengar seperti sindiran dan provokasi.
Darren pun menangkap nada angkuh dalam suara Susanti. Alisnya mengernyit dan kemudian dia mengusir Susanti dengan kesal.
"Kenali posisimu. Adele nggak suka kamu, jadi lebih baik tahu diri dan menjauh," ujar Darren dengan dingin.
Susanti mendengus manja. "Dia nggak suka aku, tapi ada orang lain yang suka."
Sambil mengucapkan kalimat itu, dia menatap Darren dan sengaja mengedipkan matanya padanya. Entah apa yang tebersit di pikiran Darren, kerongkongannya tampak bergerak naik turun. Dia mengambil gelas anggur di depannya dan langsung meneguknya sampai habis.
Melihat dua orang itu saling menggoda tanpa merasa bersalah, Adele merasa muak. Dia pun berdiri dan melangkah pergi menuju toilet.
Darren langsung bangkit dan mengejar. Sementara di belakang mereka, Susanti langsung dikerumuni oleh beberapa tamu wanita.
"Susanti, gaunmu malam ini cantik banget! Anting-antingmu juga keren."
Susanti menegakkan tubuhnya dengan penuh kebanggaan. "Tentu saja, ini semua hadiah dari pacarku. Apa pun yang dia beri, pasti yang terbaik."
Ucapannya segera disambut dengan decak kagum dan pujian.
"Eh, antingmu ini ... kelihatannya bahannya sama dengan perhiasan yang dipakai Bu Adele malam ini. Mungkin pacarmu dan Pak Darren beli dari batu giok yang sama, ya?"
Langkah Adele sempat terhenti sesaat. Dari ujung matanya, dia sempat melirik gelang giok di pergelangan tangan. Dia mencopotnya dengan kasar dan menggenggam erat di telapak tangan. Permukaan batu giok yang halus itu malah membuat telapak tangannya terasa sakit.
Bab 5
Saat Darren menyusul, Adele sudah lebih dulu berbelok masuk ke toilet.
Baru dua menit berada di dalam, Adele mendengar suara dering ponsel Darren dari luar. Namun, nada dering itu hanya berbunyi sekali sebelum langsung dijawabnya.
"Tunggu aku di taman kecil."
Detik berikutnya, langkah kaki Darren terdengar semakin lama semakin jauh.
Adele sudah sering datang ke tempat ini untuk menghadiri berbagai acara jamuan, jadi dia sangat mengenal tata letaknya. Begitu mendengar kata "taman kecil", dia langsung tahu ke mana arah Darren pergi.
Adele segera keluar dari toilet, lalu berputar ke ujung lorong menuju ruang penyimpanan. Dari celah jendela yang terbuka, dia bisa melihat dengan jelas Darren yang melangkah cepat menuju taman kecil itu.
Susanti sudah lebih dulu menunggu di sana. Begitu melihat Darren datang, dia langsung melompat ke pelukannya.
Darren sama sekali tidak menolak. Dia malah merangkul pinggang Susanti dengan mesra, seakan ingin memeluknya hingga menyatukan tubuh mereka.
"Kamu menggodaku lagi? Hari itu saja kamu sampai nggak bisa turun dari ranjang, sudah lupa?"
Beberapa hari terakhir, Darren memang terus-menerus bersama Adele tanpa pernah berpisah selangkah pun.
Jadi hanya dalam sekejap, Adele langsung tahu hari yang dimaksud Darren. Itu adalah malam ketika mereka pulang dari rumah Keluarga Halsinky. Malam itu, Darren tidak pulang semalaman dan baru kembali keesokan paginya. Tubuhnya penuh dengan bekas ciuman serta cakaran menggoda.
Susanti memeluk pinggang Darren, lalu mendongak dari pelukannya dengan senyum menantang.
Darren menatap wajahnya beberapa detik, lalu menunduk dan mencium bibirnya dengan kasar. Ciuman mereka liar dan tak terkendali, tubuh mereka saling bertaut erat seakan tidak ingin berpisah.
Suara desahan dan lumatan bibir mereka terdengar begitu jelas di taman kecil yang sepi. Susanti sengaja menggigit bibir Darren hingga berdarah. Darren langsung tersadar dari gairahnya dan mengusap sudut bibir yang mulai mengucurkan darah.
"Mau cari mati ya? Sudah aku bilang jangan tinggalkan bekas di tempat yang kelihatan. Adele bisa marah kalau melihatnya."
Namun, Susanti sama sekali tidak gentar dengan ekspresi garang Darren. Dia malah sengaja menggesekkan dadanya yang montok ke tubuh Darren sambil tersenyum menggoda.
"Kamu tinggal cari alasan seadanya, dia nggak akan curiga kok."
"Aku lebih suka kamu yang galak kayak tadi, apalagi pas di ranjang. Kostum pelayan waktu itu kamu suka, 'kan? Malam ini datang ke tempatku lagi, ya? Aku sudah siapkan gaya baru ...."
Susanti berjinjit sembari membisikkan sesuatu di telinga Darren dengan suara lembut dan menggoda. Darren tidak tahan lagi. Dia menelan ludah dan bibirnya tampak kering. Kemudian, dia mencengkeram dagu Susanti dan kembali mencium bibirnya dengan brutal.
Di balik jendela kecil ruang penyimpanan, Adele menyaksikan semua yang terjadi. Tubuhnya terasa membeku seketika.
Meski dia sudah lama tahu Darren dan Susanti menjalin hubungan di belakangnya, melihatnya dengan mata kepala sendiri jelas lebih menyakitkan daripada sekadar membayangkannya.
Seperti ada tangan yang mencengkeram jantungnya dengan kejam, Adele nyaris tidak mampu berdiri. Dia berpegangan pada jendela, berusaha menahan tubuhnya yang mulai limbung.
Setelah cukup lama menenangkan diri, Adele keluar dari ruang penyimpanan. Saat itu, Darren sudah berpisah dari Susanti dan sedang sibuk mencari-carinya ke segala arah. Begitu melihatnya, Darren segera berlari menghampiri. Dahinya sudah dipenuhi keringat.
"Kamu ke mana saja? Aku nyaris panik waktu sadar kamu nggak ada."
Adele sengaja menatap sudut bibir Darren, ada bekas gigitan yang tampak merah dan pecah. "Aku keluar dari toilet dan nggak lihat kamu, jadi jalan-jalan sebentar ke taman. Eh, bibirmu kenapa?"
Mendengar hal itu, ekspresi Darren langsung berubah panik. Keringat dingin kembali muncul di dahinya. "Taman mana yang kamu maksud?"
Adele tersenyum sinis. Dia berbalik dan tidak lagi menatap Darren. "Taman di belakang. Banyak orang juga di sana, kenapa kamu kelihatan tegang sekali?"
Darren menghela napas lega begitu mendengar jawabannya. "Nggak kok, aku cuma khawatir kamu jalan sendirian terus susah nyari kamu."
Sementara itu, Susanti tengah berdiri di atas panggung sambil membacakan pidato tentang bantuan yang selama ini diberikan Keluarga Halsinky kepadanya. Namun, pandangannya terus-menerus melirik ke arah mereka.
Tatapan Darren menembus kerumunan, tertuju ke arah Susanti yang tengah berdiri di atas panggung. Dalam benaknya kembali terngiang bisikan Susanti di taman kecil tadi tentang hadiah yang akan dia berikan malam ini.
Seluruh otot tubuh Darren tiba-tiba menegang. Saat dia tanpa sadar menggigit bibirnya, luka bekas gigitan Susanti terasa perih kembali. Baru saat itu dia sadar, dia belum menjawab pertanyaan Adele.
"Beberapa hari ini aku sariawan, luka di bibir ini kebetulan keiris, nggak apa-apa kok."
Adele terkekeh kecil, lalu membalikkan badan dan berjalan keluar. "Aku capek, pulang duluan."
Seketika, entah mengapa Darren tiba-tiba merasa panik. Dia buru-buru menarik pergelangan tangan Adele. "Tunggu, aku kasih tahu Ayah dan Ibu dulu. Aku pulang bareng kamu."
Beberapa menit kemudian, Darren pun membawa Adele pergi dari pesta malam itu. Namun, arah yang mereka tuju adalah menuju rumah Keluarga Halsinky.
"Ibu bilang ingin kita menginap semalam di rumah keluarga. Kita balik besok pagi, ya."
Adele tidak membantah. Setelah sampai di rumah keluarga, dia membersihkan diri dan langsung berbaring di ranjang.
Hari-hari terakhir yang melelahkan secara fisik dan batin membuat Adele langsung masuk ke kondisi setengah tertidur begitu tubuhnya menyentuh kasur. Di sampingnya, terdengar suara ketikan di layar ponsel, sesekali diselingi tawa pelan dari Darren.
Entah berapa lama kemudian, suara gerakan pelan terdengar dari sisi ranjang. Darren menepuknya lembut untuk membangunkannya, lalu mengecup pipinya.
"Ibu mau bicara sebentar sama aku, aku ke ruang kerja dulu, ya. Kalau ada apa-apa, panggil aku."
Adele bergumam pelan, "Hmm," lalu memutar tubuh seolah kembali tertidur.
Begitu Darren melangkah keluar dengan hati-hati, Adele langsung duduk.
Dari suara langkah kaki, dia tahu Darren dan Kelly berjalan menuju ruang kerja. Dia hanya ragu sejenak, lalu perlahan-lahan melangkah menuju ruang kerja dan berdiri di depan pintu.
Cahaya menembus dari bawah celah pintu dan suara Kelly yang menahan amarah pun mulai terdengar dari balik sana.
"Sudah berapa kali aku bilang sama kamu, Adele itu gadis baik. Kalau kamu sudah pilih dia, seharusnya semua wanita kotor dan nggak jelas di sekitarmu cepat disingkirkan. Tapi kamu malah makin terlibat sama Susanti, bahkan sampai orang-orang di lingkungan sosial kita ikut mengetahuinya."
"Kamu pernah pikir nggak, kalau kabar itu sampai ke telinga Adele? Kalau dia tahu apa yang kamu lakukan, apa yang akan terjadi?!"
"Darren, kamu sudah dewasa. Aku nggak mau terus menerus menasihati seperti anak kecil. Tapi aku juga nggak bisa diam saja melihat kamu melakukan hal-hal bodoh hanya demi sensasi sesaat yang nantinya akan kamu sesali!"
Setiap kata dari Kelly terdengar jelas oleh Adele dari luar pintu, hingga membuat pikirannya tidak sanggup lagi mencerna apa pun yang mungkin dikatakan Darren setelahnya.
Saat ini, seluruh tubuh Adele terasa jauh lebih sakit dibanding saat dia melihat sendiri bagaimana Darren dan Susanti berpelukan penuh gairah di taman kecil malam itu.
Ternyata semua yang dilakukan Darren sudah diketahui Kelly sedari dulu. Namun, mereka malah bersama-sama merahasiakan hal ini darinya. Bukan hanya Kelly, bahkan orang-orang di lingkungan sosial mereka pun tahu hubungan terlarang itu.
Sementara itu, dirinya masih dengan naifnya mengira semua orang masih tidak tahu akan hal ini. Ternyata, satu-satunya orang yang dibohongi selama ini hanyalah dia. Adele mengira dirinya telah memiliki semua cinta dari Darren dengan tulus.
Kalau begitu, apa arti semua ucapan selamat dan pujian dari mereka di pesta tadi? Apakah itu hanya sindiran untuk mentertawakannya?
Suara di dalam ruang kerja masih terdengar, tapi Adele tak lagi bisa mendengar jelas.
Dengan langkah kaki yang kaku, dia menjauh dari pintu dan kembali ke kamar. Tubuhnya gemetar saat dia memanjat ke tempat tidur, lalu meringkuk di balik selimut, mencoba memberi dirinya sedikit kehangatan.
Ternyata, ketulusan bisa saja hanya pura-pura, begitu juga dengan cinta.
Bab 6
Setelah kembali ke kamar tidur, pikiran Adele seperti melayang-layang dalam kekosongan. Dia tertidur dalam keadaan setengah sadar, tubuhnya terasa berat.
Di tengah tidurnya, dia samar-samar merasakan bahwa Darren sempat pulang. Pria itu duduk di pinggir ranjang, menatap dirinya cukup lama tanpa mengatakan apa pun.
Tak lama kemudian, suara ponsel Darren terus-menerus berdering. Setelah nada dering yang mendesak berbunyi beberapa kali, akhirnya dia bangkit dan ragu-ragu selama beberapa detik, lalu pergi begitu saja.
Keesokan paginya, Darren bahkan tidak kembali ke rumah.
Kelly mendorong sepiring sarapan yang sudah disiapkan oleh pembantu ke hadapan Adele, menatapnya penuh kasih sambil menjelaskan, "Darren bilang ada urusan mendesak di kantor, jadi pagi-pagi sekali dia sudah pergi terburu-buru. Kalau kamu nggak sibuk hari ini, temani Ibu di rumah ini ya. Supaya nggak terlalu sepi."
Mendengar ucapannya, Adele sempat terdiam dan memandang Kelly tanpa ekspresi.
Kalau bukan karena percakapan yang diam-diam dia dengar semalam tentang perselingkuhan Darren yang ternyata sudah lama diketahui oleh Kelly, mungkin saat ini Adele benar-benar akan mengira bahwa wanita itu tulus memperhatikannya.
Namun kenyataannya, di mata Adele sekarang, mereka semua hanyalah pembohong ....
Satu-satunya orang yang terus dibohongi dan dipermainkan, hanyalah dirinya sendiri.
Adele tersenyum getir dalam hati, meski wajahnya tetap tenang tanpa memperlihatkan gejolak emosi.
Waktunya di rumah ini tinggal kurang dari seminggu. Dia tidak ingin menyulitkan dirinya sendiri menjelang kepergiannya nanti.
"Kemarin pihak wedding organizer menghubungiku, ada beberapa hal yang harus dikonfirmasi. Aku dan Darren sudah menyiapkan pernikahan ini cukup lama, kami ingin memastikan semuanya berjalan sempurna. Lain kali aku akan datang menemani Tante lagi."
Kelly tersenyum ramah, seolah tidak keberatan dengan keputusan Adele. Lagi pula, niatnya mengajak bicara pun hanya demi menjaga agar Adele tidak menaruh curiga, bukan karena benar-benar peduli.
Setelah sarapan, Adele meninggalkan rumah lama Keluarga Halsinky dan pergi ke kantor wedding organizer. Dia memang tidak berbohong. Hari ini dia memang ada urusan yang harus diselesaikan di sana.
Minggu lalu, saat meminta agar mempelai wanita diganti menjadi Susanti, Adele sempat berkata bahwa dia akan mengirimkan materi-materi pernikahan yang perlu diperbarui.
Selama seminggu terakhir ini, Darren terus menemaninya ke mana pun dia pergi. Namun, bukan berarti Adele tidak mendapatkan apa-apa dari semua itu ....
Darren benar-benar tidak waspada terhadapnya. Baik ponsel maupun kata sandi komputernya, semuanya menggunakan tanggal ulang tahun Adele.
Saat Darren sedang mandi, Adele diam-diam memeriksa ponsel dan komputernya. Barulah saat itu, Adele mengetahui semuanya.
Ternyata Darren bukan hanya sudah menikah secara resmi dengan Susanti, bahkan foto prewedding dan rencana bulan madu pun semuanya telah diberikan kepada wanita itu.
Waktu itu, Darren berbohong pada Adele, mengatakan bahwa dia akan pergi dinas selama dua minggu. Kenyataannya, dia malah sedang menikmati bulan madu bersama Susanti.
Adele menyerahkan semua foto pernikahan serta potret mesra mereka yang sudah dia salin ke ponselnya kepada pihak wedding organizer. Bersama itu, dia juga memberikan berbagai detail lain untuk mendukung revisi rencana pernikahan.
Setelah semuanya selesai, Adele justru merasa seolah ada bagian dari hatinya yang kosong. Namun anehnya, tidak sepedih yang dia bayangkan.
Setelah keluar dari kantor wedding organizer, Adele teringat hasil pemeriksaan kesehatannya beberapa waktu lalu seharusnya sudah keluar. Maka, dia pun mengarahkan mobil ke rumah sakit.
Namun saat sedang mencari tempat parkir, Adele melihat mobil Darren juga terparkir di area luar rumah sakit.
Belum sempat dia sampai ke loket pengambilan hasil pemeriksaan, matanya lebih dulu menangkap sosok Darren dan Susanti yang baru saja keluar dari bagian kandungan.
Wajah mereka berdua tampak penuh senyum, sementara Darren terlihat begitu hati-hati menopang pinggang bawah Susanti. Benar-benar seperti pasangan suami istri baru yang sedang menantikan kehamilan.
Hati Adele yang dia kira sudah mati rasa, terasa seperti tertusuk saat melihat pemandangan itu.
Susanti pun menyadari kehadiran Adele yang entah sejak kapan sudah berdiri tak jauh dari mereka. Dia segera merapatkan tubuhnya ke arah Darren, lalu berkata sinis, "Bu Adele, nggak nyangka bisa ketemu kamu di rumah sakit. Kamu juga ke bagian kandungan karena sedang hamil?"
Mendengar namanya disebut tiba-tiba, Darren refleks menarik tangannya dari pinggang Susanti. Dia mendongak dan menatap ke arah Adele.
Wajahnya langsung tegang. Setelah menarik tangan dari pinggang Susanti, dia berdiri kaku dan tidak tahu harus bagaimana bereaksi. Keringat dingin bahkan mulai membasahi keningnya dalam hitungan detik.
"Adele ... kamu ke rumah sakit untuk apa?" tanyanya canggung.
"Ambil hasil pemeriksaan," jawab Adele dengan suara dingin, tatapannya langsung beradu dengan pandangan Susanti yang penuh provokasi.
Darren segera melangkah cepat ke sisi Adele, wajahnya panik saat mencoba memberi penjelasan.
"Adele, di jalan menuju kantor tadi aku kebetulan bertemu Susanti. Dia nggak sengaja terluka. Bagaimanapun, dia adalah mahasiswa yang dulu pernah dibantu oleh keluargaku, jadi aku sekadar menolong. Pas sampai di rumah sakit baru tahu kalau dia hamil, jadi sekalian saja aku antar untuk periksa."
Adele menarik napas dalam-dalam. Rasa nyeri di dadanya baru sedikit mereda.
"Nggak disangka, beberapa bulan lalu Susanti masih pusing memikirkan pernikahan palsu demi menenangkan ibunya, sekarang malah sudah hamil. Selamat, ya."
Susanti menatap Darren dengan tidak rela, sehingga membuat Darren semakin berkeringat dingin.
"Terima kasih, Bu Adele. Aku sudah hamil lebih dari dua bulan dan kebetulan anaknya kembar. Tadi malam ayah anak-anak ini agak kelewat semangat di ranjang, sampai membuatku cedera ringan. Tapi syukurlah nggak ada masalah. Dia nggak bisa datang hari ini karena ada urusan, untung saja tadi di jalan ketemu Pak Darren ...."
"Kalau kamu sudah nggak apa-apa, aku nggak akan lama-lama di sini," potong Darren buru-buru untuk menghentikan ocehan Susanti. Dia langsung melangkah maju dan menggenggam tangan Adele.
Adele mengalihkan pandangannya dari Susanti, wajahnya tetap tenang saat menggeleng pelan.
Seolah takut Adele dan Susanti akan terus berada dalam ruangan yang sama, Darren buru-buru menarik Adele menjauh.
Setelah mengambil hasil pemeriksaannya, mereka langsung meninggalkan rumah sakit. Adele seperti boneka yang membiarkan dirinya dibawa pergi oleh Darren.
Sejak awal menjalin hubungan, Adele pernah berkata bahwa jika suatu hari Darren mengkhianatinya, dia akan pergi dan tidak akan pernah bisa ditemukan lagi.
Janji itu akan dia tepati.
Selain itu, masih ada satu kejutan besar yang sudah disiapkannya, menanti Darren di hari pernikahan ....
Bab 7
Di perjalanan pulang, layar ponsel Darren terus-menerus menyala. Saat Adele tidak memperhatikannya, barulah Darren diam-diam membuka pesan-pesan yang masuk.
Itu pesan dari Susanti.
[ Darren, menurutmu, nama apa yang cocok untuk anak kita? Malam ini kamu bisa datang dan bantu aku pilih-pilih, ya? ]
Darren dengan cepat mengetik balasan berupa peringatan.
[ Urusan nama nanti saja dibahas. Mulai sekarang, jangan lagi bicara sembarangan di depan Adele. Kalau dia sampai tahu hubungan kita, kamu nggak akan sanggup menanggung akibatnya! ]
Meskipun berkata demikian, Adele tetap bisa melihat dari raut wajah Darren yang mulai rileks bahwa dia sebenarnya tidak keberatan dengan kehamilan Susanti.
Lagi pula, Darren pernah bilang bahwa dia sangat menyukai anak-anak. Saat itu juga, Adele menyadari ponselnya ikut menyala. Dia menunduk dan melihat bahwa Susanti mengirimkan permintaan pertemanan.
Meskipun tahu itu jelas-jelas bentuk provokasi, Adele tetap menekan tombol "Setuju". Begitu permintaan disetujui, pesan langsung masuk.
[ Adele, kamu nggak penasaran siapa ayah dari anakku ini? Aku sih nggak percaya kamu sebodoh itu sampai nggak menyadari betapa dekatnya Darren dengan aku. ]
Seolah sedang menunggu balasan dari Adele, pesan itu dibiarkan menggantung selama beberapa menit tanpa ada lanjutan.
Adele menatap pesan itu tanpa menjawab apa pun. Dia sudah tahu jawabannya dan dia pun sudah memutuskan untuk pergi. Tidak ada lagi gunanya mempertanyakan semuanya dengan emosi yang meledak-ledak.
Karena tak kunjung dibalas, Susanti akhirnya kembali mengirimkan pesan.
Kali ini, isinya adalah foto surat nikah antara dirinya dan Darren. Foto yang dulu sudah pernah dilihat Adele dari ponsel Darren. Namun kini, saat melihatnya kembali pun, tidak ada lagi rasa kaget atau sakit di hatinya.
[ Adele, orang yang sah menikah dengan Darren itu aku. Meskipun kalian akan segera mengadakan pernikahan, lalu kenapa? Aku tetap istri sahnya. Selama aku nggak setuju bercerai, kamu selamanya akan berada di bawahku. Lagi pula sekarang aku sedang hamil anak-anaknya, kembar pula. Kami nggak akan pernah bisa terpisahkan. ]
[ Kamu nggak tahu seberapa cintanya dia sama aku, 'kan? Hampir setiap hari dia meluangkan waktu untuk menemaniku. Dia bahkan sudah kasih tahu banyak orang tentang keberadaanku. Bukankah itu membuatmu terlihat sangat menyedihkan? Ketika orang-orang memuji betapa baiknya Darren padamu, sebenarnya mereka sedang mengejekmu. ]
[ Masih ingat gaun yang kupakai saat malam gala amal itu? Itu adalah gaun khusus yang dipesan Darren dengan harga mahal hanya untukku. Kamu pernah diperlakukan seperti itu? ]
[ Kamu nggak akan pernah bisa membayangkan betapa besarnya cinta Darren padaku. Wanita membosankan seperti kamu bukan tipe yang dia suka. Dia menyukai perempuan seperti aku yang bisa bebas sepenuhnya saat di ranjang. ]
Setelah itu, Susanti kembali mengirim banyak foto dirinya bersama Darren di atas ranjang.
Melihat betapa bangga dan congkaknya Susanti memamerkan semuanya, Adele hanya merasa geli dan penuh sindiran dalam hati.
Tiba-tiba, suara Darren memecah lamunannya. "Kamu lihat apa? Kenapa kelihatannya serius sekali?"
Adele buru-buru mematikan layar ponselnya, lalu menggeleng pelan tanpa berkata apa-apa.
Namun, Darren yang memperhatikan ekspresi tenangnya justru semakin merasa panik. Kegelisahan di hatinya semakin kuat, seakan ada sesuatu yang perlahan-lahan lepas dari genggamannya. Dia menggenggam tangan Adele dan menekannya dengan erat di pahanya.
Adele ingin menepisnya. Namun ketika tidak bisa melepaskan diri, dia memilih untuk diam dan menyandarkan tubuh ke kursi sambil memejamkan mata pura-pura tertidur.
Saat merasakan tangan lembut di telapak tangannya tidak lagi menolak, Darren menghela napas lega. Barulah sedikit rasa panik dalam dirinya mereda.
Beberapa hari berikutnya, Darren beralasan bahwa dia harus menyelesaikan beberapa urusan pekerjaan menjelang hari pernikahan. Dia tidak pulang ke rumah seharian.
Adele tidak berusaha mencari tahu keberadaannya. Namun, Susanti justru dengan senang hati menyampaikan kabar Darren kepadanya. Ternyata, alasan Darren "sibuk kerja" hanyalah kebohongan. Dia sedang menghabiskan waktu bersama Susanti.
Mereka pergi bersama ke toko perlengkapan bayi, membeli berbagai kebutuhan untuk dua bayi yang bahkan jenis kelaminnya pun belum diketahui.
Susanti mengirim foto Darren yang terlihat serius memilih nama untuk kedua anak mereka, juga foto Darren yang menunduk menyandarkan kepala di perutnya.
[ Adele, beberapa hari ini Darren terus di sini bersamaku. Aku yakin dia bilang padamu bahwa dia sibuk kerja, 'kan? Sungguh sayang kamu nggak bisa melihat langsung betapa dia peduli pada aku dan anak-anak ini. ]
[ Menurutmu, di hari pernikahan nanti, mungkinkah dia akan kabur demi aku dan anak-anak? ]
Adele tidak membalas provokasi itu. Akan tetapi, di hari pernikahan nanti, memang akan ada yang kabur dari pernikahan.
Hanya saja, orang itu bukan Darren ... melainkan dirinya.
Bab 8
Beberapa hari ketidakhadiran Darren di rumah itu justru menjadi kesempatan yang sangat berguna bagi Adele. Dia mulai membereskan semua barang miliknya di rumah itu.
Tanpa sepengetahuan siapa pun, Adele telah membeli sebuah apartemen kecil di Kota Jarkos sebagai tempat sementara untuk menyimpan semua barang-barangnya. Sedikit demi sedikit, semua kenangan tentang dirinya dan Darren di rumah itu pun menghilang.
Malam sebelum hari pernikahan, Darren tiba-tiba pulang ke rumah. Di tangannya, dia membawa sebuah foto yang tampak familier. Saat itu Adele sedang membereskan barang terakhir miliknya.
Melihat rumah yang sudah tampak jauh lebih kosong, Darren nyaris mengira kalau dirinya masuk ke rumah yang salah. Namun saat melihat Adele di ruang tamu dengan wajah berdebu, Darren justru merasa lega.
"Kamu kenapa sampai kotor begitu? Kenapa barang-barang di rumah ini jadi banyak yang hilang?"
Adele tidak menyangka Darren akan pulang tiba-tiba. Dia sempat terpaku ketika mendengar pertanyaan Darren. Namun untunglah, selama beberapa hari terakhir ini, Adele sudah cukup terlatih untuk tetap tenang dan pandai berbohong.
"Aku cuma bersih-bersih, buang barang-barang yang sudah nggak dipakai. Nanti setelah pernikahan, baru beli yang baru."
Darren jelas salah mengartikan ucapan Adele, tapi Adele tidak merasa perlu meluruskan apa pun.
Darren tersenyum lembut, lalu menarik Adele duduk di sampingnya. Dia menyerahkan foto di tangannya kepada Adele. "Aku minta tukang restorasi untuk perbaiki foto pertama kita setelah resmi jadian. Lihat deh, kelihatan persis seperti yang dulu, 'kan?"
Adele menerima foto yang kini tampak baru itu.
Di bawah pohon bunga pir yang tengah bermekaran, dirinya tampak tersenyum lembut ke arah kamera, sementara Darren menatapnya dari samping. Itulah foto pertama mereka setelah Adele setuju menjalin hubungan dengan Darren.
Namun belum lama ini, foto itu yang dulunya dipajang di kantor Darren, telah dicabik-cabik oleh anjing peliharaan Susanti. Berhubung foto aslinya sudah lama hilang, bahkan untuk mencetak ulang foto itu pun tidak memungkinkan lagi.
Tentu saja, semua ini bukan Darren yang memberitahunya. Adele mengetahui insiden foto itu dari Susanti saat dia sengaja memamerkan perlakuan manja Darren padanya.
Kini, foto tersebut sudah dibawa Darren untuk direstorasi. Meskipun foto bisa diperbaiki, perasaan di antara mereka sudah tidak mungkin kembali seperti dulu.
Dengan nada datar, Adele berkata, "Tiba-tiba aku pengen makan mi buatanmu sendiri. Malam ini temani aku makan malam, ya?"
Setelah diselamatkan waktu itu, Adele yang sudah kelaparan selama beberapa hari, pernah melahap dua mangkuk mi sekaligus tanpa sisa.
Demi membuat Adele bisa makan mi favoritnya kapan pun, Darren bahkan rela belajar selama sebulan di warung kecil hanya untuk bisa meniru rasa masakan itu dengan sempurna. Kali ini, anggap saja sebagai titik akhir dari semua kenangan mereka.
Darren tersenyum dan mengangkat tangannya untuk mengusap kepala Adele, lalu langsung mengangguk tanpa ragu. Namun, baru saja dua mangkuk mi diletakkan di atas meja, ponsel Darren berdering.
Ekspresi santainya seketika berubah tegang. Setelah menutup telepon, dia menatap Adele dengan mata penuh rasa bersalah dan kebingungan. Dia belum mengucapkan sepatah kata pun, tapi Adele sudah tahu jawaban yang akan keluar dari mulutnya.
"Adele, ada urusan mendadak dari kantor ...."
Adele menunduk sambil mengaduk-aduk mi di mangkuknya dengan sumpit. Dia mencoba tersenyum, tapi bibirnya terasa kaku. "Kalau itu urusan penting, ya pergi saja. Masih banyak waktu ke depannya, 'kan?"
Darren memeluknya erat. "Adele, terima kasih sudah bisa ngerti aku."
Adele tersenyum, tetapi senyumannya itu tidak tulus sama sekali.
"Adele, sepertinya malam ini aku bakal sibuk sampai larut. Kamu nggak perlu tungguin aku. Aku benar-benar nggak sabar melihatmu besok memakai gaun pengantin."
Dalam pelukannya, Adele menjawab pelan, "Aku juga nggak sabar ...."
Tidak sabar ingin melihat ekspresi Darren saat tahu mempelai wanitanya bukanlah dirinya. Begitu Darren pergi, Adele langsung menerima pesan dari Susanti.
[ Adele, bahkan di malam sebelum pernikahanmu saja Darren masih bersamaku. Kamu pikir kamu pantas bersaing denganku? Kamu pikir kamu bisa menang dari aku? ]
Susanti sama sekali tidak heran jika Adele tidak membalas pesannya. Namun tetap saja, dia terus mengirimkan pesan yang menyakitkan itu.
Adele mematikan ponselnya. Dia menatap dua mangkuk mi yang tampak lezat itu di hadapannya, tetapi tidak merasa berselera sedikit pun.
Ternyata bukan hanya perasaan yang bisa berubah. Kebiasaan, bahkan selera pun bisa dengan mudah ikut berubah.
Dia mengambil foto yang tadi dibawa pulang oleh Darren, lalu merobeknya tepat di tengah untuk memisahkan bagian dirinya dan Darren. Dia hanya menyisakan separuh yang memperlihatkan wajah Darren seorang diri.
Setelah itu, Adele mandi air hangat yang nyaman, lalu berbaring di tempat tidur dan tak lama kemudian terlelap.
Malam itu dia tidur sangat nyenyak. Keesokan paginya, bahkan sebelum pukul tujuh, Adele sudah terbangun.
Melihat notifikasi di ponselnya tentang jadwal kereta dan status paket kiriman yang sedang dalam perjalanan, suasana hati Adele membaik. Dia pun mulai membereskan barang-barang terakhir yang masih tersisa.
Sebetulnya, hampir semua barang miliknya telah dia kirimkan beberapa hari yang lalu. Yang tersisa hanyalah perlengkapan yang masih akan dia gunakan dalam waktu dekat.
Setelah semuanya siap, Adele meninggalkan tempat yang pernah dianggapnya sebagai rumah itu dengan tanpa menoleh sama sekali.
....
Sementara itu, Darren mendadak terbangun dari tidur di ranjang Susanti. Tubuhnya terguncang dan dia menekan dadanya yang terasa tidak tenang. Perasaan cemas yang aneh semakin lama semakin membesar.
Melihat waktu di ponsel, Darren segera bangkit dan mengenakan pakaian.
Semalam, dia menerima telepon dari Susanti. Dalam telepon, Susanti menangis dan berkata bahwa dia terpeleset dan perutnya terasa sakit. Namun saat Darren tiba, barulah dia sadar bahwa itu semua hanyalah trik Susanti untuk menarik perhatiannya.
Namun karena terus digoda, Darren yang kehilangan kendali akhirnya memilih untuk tinggal.
Kini saat meninggalkan tempat Susanti, Darren teringat bahwa hari ini adalah hari pernikahannya dengan Adele. Wajahnya pun dihiasi senyum bahagia.
Tak bisa menahan kegembiraannya, dia pun mengirim pesan ke Adele.
[ Adele, aku benar-benar sudah nggak sabar ingin segera melihatmu. ]
Tak lama kemudian, balasan pun datang dari seberang.
[ Aku juga. Semoga saat pembukaan pernikahan nanti, kamu suka kejutan yang sudah kusiapkan untukmu. ]
Detik demi detik berlalu. Di lokasi pernikahan, tamu-tamu yang datang memberikan restu telah memenuhi setiap kursi yang tersedia. Darren berdiri di atas panggung, wajahnya dipenuhi kebahagiaan saat menceritakan kisah cinta dirinya dan Adele.
Di saat yang sama, musik romantis mulai mengalun. Balon-balon berwarna-warni terlepas dan melayang ke langit, menciptakan suasana meriah.
Kini sang pengantin wanita berjalan perlahan menuju panggung di tengah tatapan iri dan kagum dari para tamu undangan.
Darren menatapnya penuh cinta, lalu berkata lantang, "Adele, aku ingin menggunakan seumur hidupku untuk membuktikan bahwa aku akan selalu menyayangimu dan mencintaimu. Maukah kamu menemaniku seumur hidup?"
Di bawah tatapan semua orang, pengantin wanita yang masih tertutup kerudung tipis itu mengangguk kuat.
Darren yang diliputi kebahagiaan pun tersenyum lebar dan mengulurkan tangan untuk membuka kerudung wajah pengantinnya.
Namun, saat dia melihat jelas siapa yang berdiri di hadapannya, senyuman di wajahnya langsung membeku. Sebab, yang berdiri di sana ... adalah Susanti.
Dalam sekejap, tubuh Darren mematung. Perasaan panik dan ketakutan yang amat kuat menyapu seluruh tubuhnya dalam sekejap.