Hati Beku yang Tak Dapat Dicairkan Lagi

Đang tải thông tin quảng bá...

Hati Beku yang Tak Dapat Dicairkan Lagi

GoodNovel Hoàn thành

Di vila Keluarga Andara, pukul sembilan malam. Masih ada lampu remang-remang yang menyala di kamar tidur utama lantai dua. [ Ibu, kontrak nikah ini akan berakhir sebulan lagi. Nanti, aku akan jadwalka...

Chương (1)

第1章

Di vila Keluarga Andara, pukul sembilan malam. Masih ada lampu remang-remang yang menyala di kamar tidur utama lantai dua. [ Ibu, kontrak nikah ini akan berakhir sebulan lagi. Nanti, aku akan jadwalkan kematian palsuku. ] Natasha duduk di depan meja rias sambil mengetik kata-kata itu, lalu mengirimkannya kepada ibu mertuanya. Pesan itu langsung dibalas oleh pihak lain. [ Sasha, terima kasih atas kerja kerasmu selama sepuluh tahun terakhir. Kamu sudah merawat Varo dengan baik, juga melahirkan keturunan Keluarga Andara. Sebenarnya, Ibu sudah anggap kamu sebagai menantu. Gimana kalau kita batalkan saja kontrak ini? ] Setelah membaca pesan itu, Natasha tanpa sadar menggenggam erat ponselnya. Dia dengan cepat mengetik sebaris kata balasan. [ Nggak, Ibu. Kita lakukan sesuai kontrak saja. ] Bab 1 Di vila Keluarga Andara, pukul sembilan malam. Masih ada lampu remang-remang yang menyala di kamar tidur utama lantai dua. [ Halo, aku mau pesan layanan kematian palsu. ] Natasha Lestari duduk di depan meja rias dan mengetik pesan secara perlahan. Kemudian, dia menekan kirim dengan ekspresi tenang. Pesan itu langsung dibalas. [ Pesanan kematian palsu sudah dibuat. Kapan kamu mau kematian palsu itu dijadwalkan? ] [ Sepuluh hari lagi, di hari ulang tahunku. ] Sebelum pihak lain membalas, Natasha mengirim tambahan pesan. [ Penyebab kematiannya, ledakan dalam kecelakaan mobil. Pilihan mayatnya, nggak ada yang tersisa. ] Setelah menandatangani kontrak dengan pihak lain, Natasha meletakkan ponselnya. Foto keluarga beranggotakan tiga orang di atas rak buku terlihat sangat menusuk mata. Dalam foto itu, Natasha mengenakan gaun putih dan tersenyum bahagia. Di sampingnya, berdiri seorang pria yang memancarkan wibawa dan berperawakan tinggi. Dia menggendong putranya yang berusia empat tahun di satu tangan dan menggenggam Natasha dengan tangan lainnya. Hanya dengan melihat foto, keluarga beranggotakan tiga orang itu terlihat bahagia dan dapat membuat orang iri. Sepuluh tahun yang lalu, ketika Natasha baru saja lulus kuliah, keluarganya dilanda musibah dan orang tuanya meninggal dunia. Di saat-saat terburuk dan paling menyakitkan baginya, Alvaro Andara muncul. Pria itu langsung terpesona padanya pada pandangan pertama dan mulai mengejarnya dengan pantang menyerah. Setelah mengetahui bahwa Natasha menyukai boneka kartun, Alvaro menghabiskan ratusan triliun untuk membangun taman hiburan terbesar di Kota Grata yang hanya dibuka untuknya. Alasannya hanya demi membuatnya bahagia. Mengetahui Natasha takut dingin, Alvaro menghabiskan banyak uang untuk memasang pemanas lantai otomatis yang tak ternilai harganya di setiap jengkal Kota Grata. Kota Grata yang semula lembap dan dingin pun menjadi kering dan hangat, juga terasa bagaikan musim semi sepanjang tahun. Dengan perhatian dan kasih sayang seperti itu, Natasha sepenuhnya jatuh cinta pada Alvaro yang mencintainya sepenuh hati. Oleh karena itu, ketika pria itu berlutut untuk melamarnya di depan siaran langsung seluruh Kota Grata, dia mengenakan cincin itu tanpa ragu dan mengangguk dengan tegas. Bertahun-tahun setelah pernikahan, keduanya memiliki hubungan yang sangat baik. Natasha hanya ingin menghabiskan sisa hidupnya bersama Alvaro. Setelahnya, Natasha hamil secara alami dan Alvaro sangat gembira. Untuk meringankan rasa sakit Natasha saat melahirkan, Alvaro mengundang tim ahli persalinan kelas dunia untuk mendampinginya selama seluruh proses. Namun, tetap terjadi hal di luar dugaan. Natasha mengalami pendarahan hebat di hari persalinan. Alvaro yang tidak pernah percaya pada hal-hal spiritual pun berlutut selama sehari semalam. Dia berdoa untuk meminta Tuhan menunjukkan belas kasihan dan menyelamatkan Natasha. Ketulusannya akhirnya mengharukan langit. Natasha dan putranya selamat. Setelah lahir, di bawah bimbingan serta kasih sayang Natasha dan Alvaro, Enzo Andara tumbuh perlahan menjadi anak yang patuh dan penuh cinta. Mereka bertiga hidup bahagia bersama dan dianggap sebagai keluarga teladan di Kota Grata. Natasha selalu menjadi prioritas dalam keluarga ini. Dia hanya batuk sekali, tetapi putranya yang baru berusia tiga tahun langsung menangis ketakutan, lalu segera pergi mengambilkan obat untuknya. Saat dia demam, meskipun Alvaro masih harus menjaga Enzo yang berusia empat tahun, Alvaro tetap mendampinginya di samping tempat tidur selama sehari semalam tanpa berani memejamkan mata. Sesibuk apa pun pria itu, dia akan menyiapkan sarapan untuk Natasha setiap hari. Enzo juga melakukan hal yang sama seperti ayahnya. Dia diam-diam menggoreng telur ekstra untuk ibunya setiap pagi. Namun, ayah dan anak yang begitu mencintai Natasha itu malah diam-diam berkencan dengan wanita lain setiap minggu di belakangnya. Saat itu adalah pesta ulang tahun Enzo yang kelima, Natasha tidak sengaja jatuh ke kolam renang. Ketika tersadar, dia sangat terkejut karena menemukan bahwa dirinya dapat mendengar suara hati putranya yang ada di samping tempat tidur. 'Kapan Mama akan sadar? Bibi Nana dan Papa masih menungguku.' Natasha menatap putranya yang biasanya berperilaku baik dan manis dengan tidak percaya. Dia bertanya dengan suara gemetar, "Zozo, apa ada yang kamu sembunyikan dariku?" Enzo agak kewalahan, tetapi segera mengendalikan ekspresinya. Dia memeluk Natasha, lalu menjawab, "Mama sudah bangun? Mama mimpi buruk? Mana mungkin aku menyembunyikan sesuatu dari Mama?" Namun pada detik berikutnya, suara hatinya terngiang di telinga Natasha. 'Aku harus bantu Papa merahasiakannya. Mama nggak boleh tahu tentang keberadaan Mama Nana.' Mendengar panggilan "Mama Nana", Natasha pun memicingkan mata dan jantungnya berdebar kencang. Dia tidak percaya putranya yang selama ini dia didik dengan begitu baik malah memanggil perempuan lain dengan sebutan "mama". Saat Natasha hendak lanjut bertanya, ponselnya berdenting untuk menunjukkan pesan masuk. Itu adalah foto tangan yang saling bertautan dan lengan kokoh khas seorang pria di kamar hotel yang remang. Natasha langsung terbelalak. Pria itu terlihat sangat familier. Itu adalah suaminya, Alvaro! Kemudian, masuk lagi sebuah pesan. [ Natasha, aku nggak nyangka suamimu begitu ganas di ranjang. ] Wajah Natasha langsung memucat. Rasa sakit hati yang tak terkendali menjalar ke seluruh tubuhnya. Dia tidak percaya bahwa suami dan putra yang merupakan segalanya baginya malah jatuh ke pelukan wanita lain. Air mata berlinang di matanya dan mengaburkan pandangannya. Natasha tiba-tiba menyadari bahwa malam-malam penuh keintiman dan momen-momen harmonis mereka sekeluarga ternyata hanyalah ilusi untuk menipunya. Suami dan putra teladan yang diidam-idamkan semua orang malah mencintai wanita lain di belakangnya. Ternyata, dia hanyalah orang bodoh yang tidak mengetahui apa-apa. Natasha menatap surat perceraian dan surat pernyataan pemutusan hubungan orang tua-anak di atas meja. Tanpa sedikit pun emosi di matanya, dia menandatangani kedua dokumen itu tanpa ragu. Kemudian, dia memasukkan kedua dokumen itu ke dalam kotak hadiah. Sepuluh hari kemudian, Natasha akan menghilang sepenuhnya. Seluruh Kota Grata akan tahu bahwa di hari ulang tahunnya, Natasha Lestari, istri tercinta Alvaro Andara itu dibakar hidup-hidup hingga bahkan mayatnya juga tidak bersisa. Bab 2 Terdengar ketukan di pintu kamar tidur. Kemudian, Alvaro berjalan masuk bersama Enzo. Pria itu membawa ember rendaman kaki, sedangkan putra di sebelahnya memegang semangkuk besar salad buah. Mereka sama-sama memasang ekspresi menyanjung. "Istriku sayang, ayo rendam kakimu untuk sembuhkan flunya." "Mama, ayo makan buah!" Alvaro berjongkok dan melepas kaus kaki Natasha, lalu membasuh kakinya. Dia juga memijat kaki Natasha dengan tatapan penuh kasih sayang. Enzo juga berdiri di samping dan menyuapi Natasha sepotong demi sepotong buah. Dia bahkan menyiapkan tisu dan dengan hati-hati menyeka noda di bibir Natasha. Melihat kedua orang yang merawatnya dengan begitu perhatian dan saksama, Natasha mencibir dalam hati. Dia mengambil kotak hadiah tadi dan menyerahkannya kepada mereka berdua sambil berkata dengan santai, "Ini hadiah untuk kalian." Alvaro menerimanya dengan wajah penuh kejutan. "Sayang, apa yang kamu berikan padaku?" Enzo juga berjingkat-jingkat dan terlihat gembira. "Makasih atas hadiah Mama! Mama baik sekali! Zozo sayang banget sama Mama!" Namun, ketika putranya hendak membuka tali pita itu, Natasha menghentikannya dan berujar dengan dingin, "Bukalah di hari ulang tahunku sepuluh hari lagi. Melihat isinya di hari itu baru akan berarti." Mendengar hal itu, Alvaro dan Enzo pun menghentikan gerakan mereka dengan patuh. Mereka mengatakan akan melakukan semuanya sesuai keinginan Natasha, lalu dengan hati-hati memasukkan kotak hadiah itu ke dalam brankas. Begitu brankas ditutup, ponsel Alvaro berdering. Suasananya pun menjadi hening. Pada detik berikutnya, terdengar suara hati Enzo. 'Gawat! Bibi Nana pasti sudah menunggu dengan cemas di rumah. Aku harus segera bujuk Mama untuk tidur supaya aku dan Papa bisa pergi cari Bibi Nana.' Dengan ekspresi datar, Natasha memperhatikan putranya merangkak ke sisinya dan memohon agar dia membacakan dongeng sebelum tidur. Alvaro juga memeluk Natasha dan membujuknya untuk tidur lebih awal. Natasha tersenyum sinis dalam hati. Dia menatap putra yang biasanya sangat dia sayangi dengan tatapan penuh arti dan bertanya, "Kamu masih ingat kisah putri duyung kecil yang kuceritakan sebelumnya?" Enzo merasa agak bingung. Tepat saat dia hendak bertanya, Natasha melanjutkan, "Putri duyung kecil itu berubah menjadi busa karena pengkhianatan sang pangeran dan menghilang selamanya. Enzo, kalau Mama dikhianati, Mama juga akan menghilang dari dunia semua orang seperti putri duyung kecil itu." Natasha menekankan kata-katanya dan nadanya juga terdengar tegas. Suasananya sedikit menegang dan Enzo langsung mengelak. 'Apa yang terjadi pada Mama? Apa dia tahu sesuatu?' Enzo tiba-tiba panik sejenak. Sebelum dia sempat berpikir, ponsel di saku Alvaro berbunyi beberapa kali lagi. Itu adalah pesan Luna mendesak mereka untuk berangkat. Ayah dan anak itu bertukar pandang, lalu menyelimuti Natasha. Alvaro tersenyum dan menyentuh wajah Natasha. Dia berkata dengan tatapan lembut, "Sayang, apa yang lagi kamu pikirkan? Tidurlah." Kemudian, Alvaro memberi isyarat pada Enzo. Enzo langsung sadar dan berbicara di saat yang tepat, "Benar, Mama. Istirahatlah dulu. Zozo masih ada PR. Zozo nggak ganggu Mama lagi, ya." Natasha tidak menjawab, hanya menutupi dirinya dengan selimut dan memejamkan mata. Ayah dan anak itu mengira Natasha akhirnya tertidur. Mereka pun segera memadamkan lampu dan pergi secara diam-diam. Namun, tak seorang pun tahu bahwa tepat setelah pintu ditutup, Natasha tiba-tiba membuka matanya dalam kegelapan. Bab 3 "Papa, Mama agak aneh hari ini. Aku agak khawatir," ujar Enzo dengan ekspresi gelisah begitu masuk ke mobil. Namun Alvaro hanya mengelus kepala putranya untuk menghiburnya dan tidak peduli pada kekhawatirannya. "Mama cuma lelah dan perlu istirahat. Jangan berpikir kejauhan. Kita akan segera sampai di rumah Bibi Nana. Senang nggak?" Mendengar hal itu, sang putra langsung menyingkirkan rasa cemasnya. Dia tersenyum dan mengangguk dengan gembira karena sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Mama Nana-nya. Namun, mereka tidak tahu bahwa setelah mereka pergi, Natasha langsung bangkit dan diam-diam mengikuti mereka. Sebab, begitu ayah dan anak itu berangkat, dia menerima pesan dari seorang wanita asing. Itu adalah foto si wanita dan Alvaro di tempat tidur. Ada kostum pelayan, kostum perawat, dan gadis kelinci. Di bawah foto-foto itu, ada juga sebaris pesan. "Kamu tahu suami dan anakmu akan datang menemuiku sekarang?" Natasha menunduk beberapa detik, lalu menginjak pedal gas. Dia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri seberapa jauh ayah dan anak itu bisa bertindak di belakangnya. Maybach hitam itu melaju kencang dan segera meninggalkan kota untuk melaju ke pinggiran kota. Satu jam kemudian, mobil itu berhenti di depan sebuah kompleks vila yang megah. Natasha pernah mendengar tentang kompleks vila ini sejak lama. Harga sebuah vila di sini mencapai ratusan triliun. Beberapa tahun sebelumnya, Natasha yang tidak suka kebisingan memohon pada Alvaro untuk membeli vila ini. Akan tetapi, pria itu selalu bersikap ambigu. Dia selalu mengira Alvaro merasa vila di area ini terlalu mahal. Kini, dia sudah mengerti alasannya. Vila ini adalah rumahnya bersama wanita lain. Di depan, ayah dan anak itu keluar dari mobil. Kemudian, terlihat seorang wanita ramping dan cantik keluar dari vila. Itu adalah wanita yang sama di foto. Melihat wanita itu berjalan keluar, Enzo berseru kegirangan, "Mama Nana!" Mendengar putra yang telah dia besarkan selama bertahun-tahun memanggil orang lain mama, hati Natasha serasa ditusuk pisau. Dia tanpa sadar meremas ujung bajunya erat-erat agar tidak bersuara. Tidak jauh dari sana, Enzo bergegas menghampiri dan memeluk Luna Herdian. Dia membenamkan kepalanya di baju Luna dengan manja. "Mama Nana, akhirnya aku ketemu sama kamu. Aku rindu banget sama kamu." Wanita itu tersenyum dan membungkuk untuk memeluk Enzo. Kemudian, dia memegang wajah anak laki-laki itu dan menciumnya. Seolah-olah bisa merasakan sesuatu, dia tiba-tiba mengangkat kepalanya dan bertemu pandang dengan Natasha di kejauhan. Luna menatap Natasha dan berbicara kepada anak laki-laki di pelukannya, "Enzo, aku mau tanya. Kamu lebih suka sama Mama Natasha atau Mama Nana?" Ekspresi Enzo pun membeku dan dia merasa agak serbasalah. Akan tetapi, dia tetap menjawab, "Aku suka sama Mama, tapi ... Mama terlalu keras padaku. Mama Nana lebih bisa menyenangkanku." Natasha pun terpaku di sana. Hatinya terasa sakit hingga dia tidak bisa bernapas. Ketiga orang yang sedang bersama itu lebih mirip seperti keluarga dekat. Natasha menyaksikan mereka berpelukan sambil tersenyum, lalu memasuki vila bersama. Dia pun melangkah dengan susah payah dan lanjut memperhatikan mereka. Luna menggendong putranya dan membujuknya untuk tidur. Tak lama kemudian, putranya tersenyum bahagia dan tertidur. Melihat Enzo sudah tidur nyenyak, Luna mengangkat alisnya dan duduk di atas Alvaro sambil tersenyum nakal. Dia juga membuka ritsleting jaketnya. "Varo, ini piama yang sengaja kukenakan untukmu. Suka nggak?" Mata Alvaro langsung dipenuhi nafsu. Dia menarik Luna ke dalam pelukannya dan menekannya ke tempat tidur. Kemudian, dia menunduk dan mengecup tulang selangka Luna dengan lembut. Setelahnya, terdengar suara penuh hasrat menggema di vila. Di luar tembok, Natasha berbalik dengan ujung mata memerah. Dia mengepalkan tangannya erat-erat sambil menahan air matanya. Kemudian, dia jatuh terduduk di lantai dengan hati yang hancur. Bab 4 Natasha pulang dengan linglung. Begitu sampai di rumah, ponselnya berbunyi lagi. Luna mengirimkan video dengan adegan-adegan yang tak senonoh. "Berlututlah. Aku suka dari belakang." Suara gesekan kain dan benturan tubuh mencapai telinga Natasha. Dia mencengkeram erat ujung ponselnya dengan wajah pucat pasi. Beberapa detik kemudian, sebuah pesan datang lagi. [ Yang nggak dicintai barulah orang ketiga. Aku sarankan kamu bersikap bijaksana dan segera pergi dari sini. ] Saat melihat adegan-adegan ini lagi, rasa mual dan sakit hati langsung melanda Natasha. Dia bersandar di dinding dan hampir muntah. Air mata penuh kebencian juga bercucuran. Setelah beberapa saat, Natasha mengangkat kepalanya, lalu menyeka air matanya dan melirik pesan yang tidak berhenti masuk dengan tatapan dingin. Kemudian, dia melempar ponselnya ke samping. Tidak ada yang perlu dirindukannya lagi. Mulai sekarang, hubungannya dengan ayah dan anak Keluarga Andara akan berakhir di sini. Kelak, mereka akan menjadi orang asing di dunia yang luas ini. Natasha tidur nyenyak semalaman. Begitu bangun, dia langsung mengemas semua hadiah yang pernah diberikan ayah dan anak itu selama sepuluh tahun terakhir, lalu membuangnya di depan pintu. Dia telah membuat janji dengan penjual barang bekas yang akan datang mengambilnya nanti, lalu menjualnya dan menyumbangkan hasil penjualan itu untuk amal. Namun, ayah dan anak yang semalaman tidak pulang tiba-tiba pulang pada saat ini. Begitu turun dari mobil, mereka melihat beberapa kotak berisi pakaian dan perhiasan. Mereka langsung menyadari bahwa itu adalah hadiah yang pernah mereka berikan kepada Natasha. Enzo merasa agak bingung dan memegang tangan ibunya dengan agak takut. "Mama, ada apa? Kenapa Mama buang semua ini?" Natasha melirik Enzo tanpa ekspresi dan menjawab, "Aku mau menyumbangkannya kepada yang membutuhkan." Di sampingnya, Alvaro menyadari bahwa suasana hati Natasha sedang tidak bagus. Dia pun menduga bahwa itu karena dirinya dan putranya tidak pulang semalaman, makanya dia merajuk. Alvaro memeluk Natasha dan bertingkah seperti anak manja. "Maaf, Sayang. Enzo pengen nonton film tengah malam kemarin. Jadi, aku membawanya pergi. Kamu nggak marah karena aku nggak kasih tahu kamu, 'kan?" Dulu, selama Alvaro bertingkah seperti anak manja, hati Natasha akan langsung luluh. Sekarang, hati Natasha malah berubah menjadi sekeras batu dan tak tergoyahkan. Dia mendorong pria itu dengan tatapan dingin. Akan tetapi, pada detik berikutnya, pergelangan tangannya dicengkeram oleh Alvaro. Alvaro mengeluarkan sebuah gelang dengan ekspresi menyanjung dan mengenakannya di tangan Natasha. Itu adalah gelang berlian yang berkilau. "Ini untukmu sebagai bentuk permintaan maaf. Jangan marah, ya?" ujar Alvaro dengan suara lembut sambil menatap Natasha dengan penuh kasih sayang. Jika itu dulu, Natasha pasti akan terharu sampai meneteskan air mata. Namun, hal semacam ini tidak lagi menarik baginya sekarang. Dia masih memasang tampang dingin dan tidak berkomentar. Di sampingnya, suara hati Enzo terdengar lagi. 'Untung saja waktu belikan hadiah untuk Mama Nana sebelumnya, petugas kasir kasih hadiah ini dan Papa nggak membuangnya.' Ternyata gelang itu adalah hadiah gratis. Natasha tersenyum sinis dan menarik tangannya. Kemudian, gelang berlian itu pun jatuh ke lantai. Natasha mengangkat wajahnya dengan acuh tak acuh, lalu menatap kedua orang yang sedang menunggu reaksinya. Dia berkata dengan suara dingin, "Aku nggak suka. Bawa pergi." Seusai berbicara, dia berbalik dan berjalan kembali ke kamar. Ayah dan anak itu masih berdiri dengan bingung di sana. Enzo bertanya dengan agak takut, "Papa, ada apa dengan Mama? Apa dia marah? Apa Mama tahu tentang Bibi Nana?" Tatapan Alvaro terlihat sulit ditebak. Dia menatap punggung wanita yang menjauh itu dan menghibur Enzo dengan lembut, juga seperti sedang membohongi dirinya sendiri, "Nggak, dia nggak mungkin tahu. Ulang tahun Natasha akan tiba sebentar lagi. Kita siapkan kejutan untuk Mama supaya Mama senang, ya?" Putranya mengangguk setuju. Bab 5 Waktu berlalu dengan cepat. Selama periode ini, ayah dan anak itu sibuk menemani Luna sehingga jarang pulang. Hari ini, Natasha menerima telepon dari pusat layanan kematian palsu yang memintanya untuk pergi menandatangani beberapa dokumen. Dia pun bersiap-siap untuk keluar rumah. Pada saat ini, Enzo yang sudah lama tidak pulang tiba-tiba kembali dan menghentikannya. "Mama mau ke mana?" "Mama mau pergi tangani sesuatu dan akan pulang nanti." Natasha berjalan mengitarinya dan hendak membuka pintu, tetapi Enzo memeluk pahanya erat-erat. "Mama, jangan pergi. Zozo pengen pergi ke mal untuk beli mainan. Mama temani aku, ya?" Natasha sudah diseret ke dalam mobil sebelum sempat bereaksi. Mobil mereka melaju kencang dan segera tiba di pintu masuk sebuah mal. Begitu mobil berhenti, melalui jendela mobil, dia melihat dua baris karyawan berdiri di pintu masuk mal, seolah-olah sedang menunggu seseorang. Begitu Natasha keluar dari mobil, dia langsung dikelilingi oleh berbuket-buket bunga wisteria dan para karyawan yang antusias. "Nyonya Natasha, selamat ulang tahun!" Suara ucapan selamat langsung menggema, sedangkan pita warna-warni mulai berjatuhan. Di layar lebar mal, muncul tulisan "Selamat ulang tahun ke-30, Natasha!". Natasha yang masih terkejut dibawa masuk ke mal oleh kerumunan orang. Orang-orang yang lewat berkumpul di luar mal dan berujar dengan sangat iri, "Wah, Pak Alvaro cinta banget sama Nyonya Natasha!" "Dengar-dengar, Pak Alvaro menghentikan operasional mal setengah bulan sebelumnya untuk persiapkan kejutan bagi Nyonya Natasha!" "Iya! Aku juga dengar kali ini, Pak Alvaro sepertinya sudah siapkan hadiah yang sangat mahal buat Nyonya Natasha. Aku benar-benar ingin masuk untuk menyaksikannya dan berbagi kegembiraan dengan mereka. Selain itu, putra mereka juga sudah berusaha keras untuk persiapkan kejutan kali ini." "Hubungan mereka sekeluarga benar-benar buat iri!" Bisikan orang yang lewat terdengar oleh Natasha. Dia tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Hanya pihak-pihak yang terlibat saja yang tahu rasa sakitnya. Di lobi mal, seberkas cahaya lembut menyinari panggung. Alvaro yang terlihat berwibawa dan berkelas berdiri di bawah cahaya itu. Dia berdiri diam di salah satu ujung karpet merah sambil menatap Natasha. Ketika melihat sosok wanita itu, ekspresi Alvaro tiba-tiba melembut. Dia turun dari panggung dan menggenggam tangan Natasha dengan lembut. Kemudian, dia berlutut dengan satu kaki dan berujar, "Sasha, selamat ulang tahun. Aku mencintaimu." Kalimat ini membuat seluruh penonton tidak berhenti bersorak. "Sasha, aku dan Enzo pernah berbuat salah sebelumnya dan membuatmu sedih. Kami minta maaf. Hari ini ulang tahunmu. Jangan marah, oke?" Enzo yang berdiri di samping juga menarik-narik baju Natasha dengan malu-malu. "Mama, jangan marah lagi, ya? Papa dan Zozo sudah siapkan kejutan untuk Mama setengah bulan sebelumnya. Selamat ulang tahun, Mama. Maafkan kami, ya?" Natasha berdiri diam dan merasa hampa di hatinya. Mereka tidak tahu bahwa beberapa hal tidak bisa dimaafkan setelah terjadi. Melihat Natasha yang tidak menanggapi mereka, Alvaro mengeluarkan sebuah kotak hadiah dari tangannya dan membukanya secara perlahan. Di bawah cahaya lampu, sebuah tusuk konde emas terpampang di hadapan semua orang. Warna hijau zamrud dan merah cerah memperindah kilau emasnya, juga memantulkan cahaya yang berkilauan dan memesona. Orang-orang lainnya pun berseru terkejut. "Tusuk konde kuno bermodel sepasang burung suci itu pantas disebut barang antik! Cakep banget!" "Dengar-dengar, tusuk konde itu cuma ada satu di dunia! Pak Alvaro secara khusus membelinya dari Museum Asutria dan menghabiskan ratusan triliun. Katanya, pasangan yang dapatkan tusuk konde ini bisa hidup harmonis seumur hidup!" "Wah, aku benar-benar iri pada Nyonya Natasha! Pak Alvaro benar-benar perhatian!" Penonton merasa iri, tetapi Natasha yang menjadi pusat perhatian publik tidak bereaksi. Pada titik ini, semahal apa pun hadiah itu, itu tetap tidak akan bisa membuatnya berubah pikiran. Begitu hati seseorang dingin, sekeras apa pun orang lain mencoba, mereka tidak akan bisa menghangatkannya lagi. Para penonton merasa agak terkejut ketika melihat Natasha tidak bereaksi. Mereka pun mulai berbisik. Tepat ketika semua orang sedang berbicara, tiba-tiba terdengar suara seorang wanita yang dingin. "Varo." Seorang wanita berperawakan tinggi muncul di pintu. Bab 6 Terlihat Luna yang berambut hitam panjang dan mengoleskan lipstik merah menyala. Dia mengenakan mantel putih dan berjalan memasuki mal dengan anggun. Alvaro dan Enzo mendongak. Ketika melihat Luna, ada keterkejutan yang melintasi ekspresi mereka. Enzo agak terlalu bersemangat. Tepat ketika dia hendak memanggil "Bibi Nana", Alvaro buru-buru membekap mulutnya. Luna menyambut tatapan semua orang dan berdiri di depan Natasha dengan santai. "Tusuk konde ini indah banget," ucap Luna dengan iri sambil memandangi tusuk konde di tangan Natasha. Para karyawan di sekitar saling memandang dengan ekspresi berbeda-beda. Hari ini, Alvaro sudah mereservasi seluruh mal dan melarang orang luar untuk masuk. Namun, orang ini bukan hanya tidak dicegat, tetapi juga diizinkan untuk berbicara dengan Natasha seperti ini. Semua orang pun terdiam dan tidak berani berbicara. "Nyonya Natasha sangat beruntung. Tusuk konde ini sangat langka. Dengar-dengar, Pak Alvaro menghabiskan ratusan triliun untuk mendapatkannya. Pak Alvaro sangat mencintaimu." Ucapan ini terdengar bagaikan kekaguman dan pujian di depan orang luar, tetapi hanya Natasha yang tahu bahwa Luna sedang mengejeknya. Melihat Natasha tidak menanggapinya, Luna berbalik dengan anggun dan bertanya, "Dengar-dengar, Pak Alvaro yang buat Nyonya marah, makanya Nyonya nggak senang?" Wajah Alvaro menjadi muram. Ketika dia hendak berbicara, Luna malah menyela, "Nyonya Natasha, jangan marah. Aku datang untuk wakili Pak Alvaro minta maaf. Sebenarnya, dua hari yang lalu, Pak Alvaro lagi bersamaku ...." Luna meninggikan suaranya, lalu berhenti sejenak. Semua orang langsung menatapnya dengan ekspresi tidak percaya. "Dan rekan-rekan lainnya untuk diskusikan masalah proposal," lanjut Luna. Setelah Luna menyelesaikan bagian kedua kata-katanya, semua orang baru menghela napas lega. "Pak Alvaro sangat mencintai Nyonya Natasha, mana mungkin dia terlibat dengan wanita lain?" Luna tersenyum dan melanjutkan dengan lantang, "Nyonya Natasha, jangan begitu berhati sempit. Kamu juga harus beri ruang untuk suamimu." Semua orang menatap Natasha dan menunggu reaksinya. Di sudut, ekspresi Alvaro terlihat muram. Luna memanfaatkan kesempatan ketika perhatian semua orang sedang tertuju pada Natasha untuk berjalan ke sisi Alvaro. Pria itu bertanya dengan galak, "Buat apa kamu datang ke sini?" Luna mencondongkan tubuhnya yang menawan ke arah pria itu dan menyahut dengan suara menggoda, "Aku khawatir Pak Alvaro dan Nyonya Natasha bertengkar. Jadi ...." Sambil berbicara, Luna diam-diam memasukkan tangannya ke dalam jas Alvaro. Begitu menyadari perubahan itu, bukan hanya ekspresinya yang tidak berubah, dia malah terkekeh dan menjadi lebih agresif. Luna meraih tangan Alvaro dan memasukkannya ke dalam mantelnya. Kemudian, dia meniupkan napas hangat ke arah Alvaro dan melanjutkan, "Jadi aku datang untuk membuatmu gembira." Mata pria itu langsung berubah menjadi gelap. "Dasar wanita penggoda!" Alvaro menggeram dan meremas Luna dengan kuat beberapa kali. Setelah mengamati keadaan di sekeliling, dia bertindak dengan lebih berani lagi. Di sampingnya, wajah Luna seketika memerah. Dia mendesah pelan dan hampir berteriak beberapa kali. Setelah beberapa saat, pria itu segera menarik tangannya dan berlagak seperti tidak ada yang terjadi. Natasha yang berada di atas panggung tentu saja memperhatikan gerakan mereka. Ujung kukunya menancap ke telapak tangannya dan dia bahkan tidak menyadari bahwa tangannya sudah berdarah. "Pak Alvaro, cepat pakaikan tusuk konde itu! Semua orang ingin lihat betapa cantik tampang Nyonya setelah memakainya." Seorang karyawan mencoba menengahi situasinya dan semua orang setuju. Alvaro mengambil kesempatan ini untuk melangkah maju dan mengambil tusuk konde itu. Dia menatap Natasha dengan lembut dan berujar, "Aku akan pakaikan tusuk konde ini, Sayang. " Tepat saat tusuk konde itu hampir ditancapkan ke rambut Natasha, Natasha tiba-tiba mundur selangkah. Alasannya tidak lain karena dia merasa pria ini sangat menjijikkan. Penonton pun merasa bingung. Ini pertama kalinya mereka melihat Natasha begitu marah. Apa yang sudah Alvaro lakukan hingga membuat istrinya begitu tidak senang? Suasananya menjadi hening, sedangkan Luna yang berdiri di sudut berkata dengan dingin, "Nyonya Natasha benar-benar sulit dipuaskan." Gerakan Alvaro pun terhenti. Luna tersenyum tipis dan lanjut berbicara dengan suara yang tidak terlalu kuat, tetapi juga tidak terlalu pelan, "Tusuk konde ini begitu indah. Kalau Nyonya nggak menginginkannya, gimana kalau diberikan padaku saja? Kebetulan, aku dan tunanganku akan segera menikah. Apa Nyonya bersedia memberikannya padaku?" Alvaro menatap Luna dengan sedikit tidak senang. Tatapannya juga mengandung sedikit ancaman. Namun, Luna tidak menatapnya. Dia berlagak kasihan dan lanjut berbicara, "Identitas tunanganku nggak bisa dipublikasikan karena beberapa alasan, tapi dia sangat mencintaiku dan bersedia berikan segalanya kepadaku. Jadi, Pak Alvaro, Nyonya Natasha, kalian boleh berikan tusuk konde ini kepadaku?" Luna tiba-tiba meraih tangan Natasha dan berlagak kasihan. Natasha menatap wanita itu. Dia tidak tahu apa yang sedang direncanakan Luna. Namun, Alvaro malah angkat bicara dengan suara yang menahan amarah, "Luna, tusuk konde ini hadiah ulang tahun dariku untuk istriku. Sebaiknya kamu segera pergi ...." "Nyonya Natasha, tolong berikan tusuk konde ini kepadaku!" Luna tiba-tiba berlutut di atas lantai dan menangis tersedu-sedu. Semua orang memandang mereka dengan heran dan mulai berbisik-bisik. Ada yang mengatakan Luna tidak tahu malu, ada juga yang mengatakan Natasha sombong. Di kejauhan, Natasha mendengar suara hati Enzo. 'Mama Nana kasihan sekali. Kenapa Mama begitu pelit? Itu kan cuma sebuah tusuk konde. Dia bahkan suruh Mama Nana untuk berlutut. Aku benci Mama.' Natasha mendengar jelas kata-kata penuh kebencian itu. Dia menatap putranya dengan tidak percaya. Putranya membencinya karena dia tidak memberikan tusuk konde itu kepada Luna? Ke mana perginya Enzo yang biasanya menyayanginya dan berkata akan memberikan semua hal terbaik untuknya? Di samping, Alvaro yang dari tadi diam saja akhirnya bertindak. Dia mengadang di depan Natasha dan berteriak pada Luna, "Luna, sadari posisimu! Memangnya kamu pantas merebut barang istriku? Keluar!" Tatapan Alvaro sangat tajam dan galak hingga dapat membuat orang-orang bergidik. Luna langsung mematung di tempat setelah dimarahi. Matanya memerah dan suaranya bergetar. "Varo ...." Namun, pria itu tidak bergeming dan menggeram, "Cepat pergi!" Luna menatap ekspresi galak pria itu dengan tidak percaya. Kemudian, dia berdiri sambil menangis dan berlari keluar dari mal. Alvaro menatap sosok Luna tanpa mengatakan sepatah kata pun. Dia berbalik menatap Natasha, meletakkan tusuk konde itu di tangannya dan berkata dengan lembut, "Sayang, ini untukmu. Nggak ada seorang pun yang bisa merebutnya." Natasha menjawab dengan ekspresi dingin, "Aku tahu. " Bang, bang, bang! Dalam sekejap, suara ledakan pita warna-warni yang bercampur dengan sorak sorai orang menggema di seluruh ruangan. Semua orang mengucapkan selamat kepada Alvaro dan Natasha atas rekonsiliasi mereka, juga mengucapkan selamat ulang tahun kepada Natasha. Namun, Alvaro yang berada di pojok terlihat agak termenung. Setelah acara ini berakhir, kerumunan pun bubar, sedangkan ponsel Alvaro mulai berdering tanpa henti. Meskipun pria itu tidak melihat ponselnya, dia terlihat tidak fokus. Ketika keduanya hendak masuk ke mobil, Alvaro tiba-tiba merasa ragu. Dia melirik ponselnya sekilas, lalu meminta maaf dan berkata, "Sayang, ada keadaan darurat di perusahaan. Aku harus pergi ke sana." Natasha hanya diam saja dan tidak menjawab. Alvaro mengira Natasha telah mengiakannya dan langsung berbalik untuk pergi. Bab 7 Di tengah perjalanan, Natasha tiba-tiba teringat ada sesuatu yang tertinggal di mal. Dia pun meminta sopir untuk putar balik. Begitu mobil berhenti di tempat tujuan, dia tiba-tiba menerima sebuah pesan. Itu adalah video adegan tidak senonoh. Tokoh utamanya adalah suaminya dan Luna yang baru saja pergi. Dalam video itu, Luna sedang duduk di wastafel toilet. Cermin besar wastafel memantulkan sosok dua orang yang tubuhnya terpaut dan tenggelam dalam lautan gairah. "Egh, lembut dikit. Aku nggak tahan ...." "Tadi, kamu yang merayuku. Sekarang, kamu nggak tahan?" "Brak!" Ponsel Natasha jatuh ke lantai. Latar belakangnya sangat familier. Itu adalah toilet mal tempat mereka berada. Di dalam toilet, Luna mengenakan pakaian dalam renda hitam seksi dan duduk di atas Alvaro. Wajah kedua orang itu terlihat merah dan ada keringat tipis yang membasahi tubuh mereka. Luna begitu bersemangat hingga terengah-engah. Dia bertanya dengan nada menggoda, "Varo, siapa yang lebih baik? Dia atau aku?" Tak lama kemudian, suara penuh nafsu pria itu terdengar, "Kamu. Dia sangat membosankan di ranjang. Kamu jauh lebih menarik dan bisa banyak pose." Luna pun tersenyum bangga. Ketika mereka berdua selesai, pria itu tiba-tiba mengeluarkan sesuatu dari belakangnya dan menancapkannya ke kepala wanita itu. Mata Natasha langsung terbelalak. Itu adalah tusuk konde burung suci tadi. "Ini untukmu. Lain kali, jangan memintanya di depan umum. Katakan saja padaku secara pribadi kalau kamu menginginkan sesuatu," ujar Alvaro dengan lembut. Luna menunjukkan ekspresi bahagia, lalu bertanya dengan santai, "Gimana dengan dia?" "Buat saja satu lagi yang palsu untuknya." Di depan pintu toilet, Natasha mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih. Dia bersandar di dinding dan jatuh perlahan. Dia tidak dapat menekan amarah yang menyesakkan dadanya. Natasha melangkah maju selangkah demi selangkah, lalu melihat Enzo yang tadinya sudah menghilang sedang berjongkok tak jauh darinya. Enzo tidak bisa menyembunyikan kepanikan di matanya. "Mama? Kok Mama ada di sini?" Natasha menatap putranya dan bertanya dengan dingin, "Kenapa kamu ada di sini? Bukannya kamu bilang sudah pulang?" Enzo menjawab dengan tergagap, "Aku mau masuk toilet." Tampang Enzo yang berbohong membuat emosi Natasha yang sudah memuncak sedikit mereda. Pada detik berikutnya, suara hati putranya terngiang di telinganya. 'Papa minta aku berjaga di depan pintu kamar mandi, juga berpesan padaku untuk melarang Mama masuk dan melihat Papa bersama Mama Nana.' Natasha langsung tercekat. Ujung jarinya menancap di telapak tangannya. Putra yang dulu dia rawat dan lindungi dengan baik kini malah penuh kebohongan. Natasha masih ingat malam ketika Enzo yang sedang membaca buku cerita tiba-tiba berseru marah, "Aku nggak akan berbohong kepada Mama demi orang lain seperti tokoh utama dalam cerita. Aku juga nggak akan buat Mama sedih. Aku sayang sama Mama dan mau berikan seluruh hatiku pada Mama." Memikirkan hal ini, mata Natasha memerah. Dia menahan air mata di pelupuk matanya dan bertanya. "Zozo, aku tanya sekali lagi. Ada yang kamu sembunyikan dariku?" Seluruh tubuh Zozo menegang sejenak dan dia terlihat ragu. 'Apa Mama sudah mengetahui sesuatu?' Kemudian, dia menjawab lagi, "Nggak. Aku pernah bilang, aku nggak akan pernah berbohong pada Mama." Sekujur tubuh Natasha gemetar sejenak, lalu langsung terasa dingin. Dia berbalik tanpa ragu dan pulang dengan keadaan linglung. Natasha duduk termenung sehari semalam. Kemudian, dia berdiri dan menyalakan api di ruang tamu tanpa ragu. Dia membakar semua hadiah dan pakaian yang pernah dibuatnya untuk ayah dan anak itu, serta semua foto keluarga bertiga yang tergantung di dinding. Api yang berkobar melahap wajah tersenyum di foto itu sedikit demi sedikit. Lima tahun yang lalu, di hari ulang tahun Natasha, ayah dan anak itu berlomba-lomba memberinya hadiah hingga hampir bertengkar. Akhirnya, Enzo sangat marah dan menangis tersedu-sedu karena tidak bisa menang dari Alvaro. Empat tahun yang lalu, Enzo akhirnya memenangkan medali emas Olimpiade Matematika. Ayah dan anak itu memberi Natasha kejutan besar hingga dia menangis bahagia. Momen-momen hangat kebersamaan mereka di masa lalu masih terbayang di benak Natasha. Namun, semuanya telah berubah sekarang. Api berkobar dengan hebat dan asap mengepul tebal. Natasha mengambil benda terberat di kedalaman brankas dengan wajah tanpa ekspresi. Itu adalah ribuan pucuk surat cinta yang ditulis Alvaro saat mengejarnya. Setiap hari selama setahun penuh, Alvaro menulisnya surat-surat cinta itu selama enam tahun penuh. Tanpa ragu, Natasha melempar tumpukan surat cinta itu ke dalam kobaran api. Asap mengepul memenuhi seluruh vila. Tiba-tiba, pintu vila terbuka. "Sayang?" "Mama!" Alvaro dan Enzo bergegas masuk bersama. "Kamu lagi apa?" Bab 8 Natasha perlahan-lahan mendongak dan menjawab dengan dingin, "Nggak apa-apa, cuma bakar beberapa barang yang nggak diinginkan lagi." Pada saat ini, Alvaro mendorong Enzo dengan pelan dan memberinya isyarat mata. Terdengar suara imut Enzo berkata, "Mama, ini tusuk kondemu." Natasha menatap tusuk konde palsu di tangan Enzo dan tidak berbicara untuk sekian lama. 'Apa Mama tahu tusuk konde ini palus?' Suara hati Enzo terdengar lagi. Natasha menertawakan dirinya sendiri dan memejamkan matanya. Ternyata putranya juga tahu kebenarannya dan mereka berdua bekerja sama untuk membohonginya. Di rumah ini, hanya dia yang benar-benar bodoh. Ketika Natasha membuka matanya lagi, matanya terlihat merah. Akhirnya, dia menoleh ke arah ayah dan anak itu, lalu bertanya dengan berlinang air mata, "Menurut kalian, apa yang akan terjadi pada orang yang mengkhianati ketulusan orang lain?" Keduanya berdiri di sana dengan bingung, lalu Enzo berbisik, "Mama, kamu kenapa?" Natasha hanya tersenyum pahit tanpa menjawab. Dia langsung berjalan kembali ke kamar. "Brak!" Terdengar suara pintu ditutup, lalu dikunci. Ayah dan anak itu saling berpandangan. Mereka merasa bingung dan panik. Natasha sepertinya sudah makin jauh dari mereka. Keesokan harinya, Natasha pergi ke pusat layanan kematian palsu untuk menandatangani dokumen. Cara yang dipilihnya untuk memalsukan kematian adalah ledakan dari kecelakaan mobil yang tidak menyisakan mayatnya. Waktu kematian palsunya adalah besok, di hari ulang tahunnya. Setelah memastikan hal-hal yang terkait, Natasha membayar tagihan dan keluar dari pusat layanan. "Sayang?" "Mama?" "Kenapa kamu ada di sini?" Dua suara familier terdengar dari samping Natasha. Natasha menoleh dan melihat ayah dan anak Keluarga Andara yang memasang tampang terkejut. "Bukankah ini pusat layanan kematian palsu? Apa yang kamu lakukan di sini?" Enzo berlari kecil dan meraih tangan ibunya. Sementara itu, Alvaro juga mengerutkan kening dan hendak berjalan melewati Natasha untuk memeriksa apa yang terjadi. Namun, Natasha menghentikannya. "Aku cuma lewat dan lihat-lihat. Nggak ada apa-apa," jawab Natasha dengan dingin. Alvaro merasa ada yang tidak beres. Dia ingin bertanya lebih lanjut, tetapi sebuah suara wanita yang lembut menyela, "Varo." Luna tersenyum dan berjalan ke arah mereka berdua sambil membawa secangkir kopi. Dia menyerahkan kopi itu kepada Alvaro dan berdiri santai di samping pria itu. Alvaro terlihat sedikit bingung dan ingin menjelaskan sesuatu, tetapi disela oleh Natasha. "Aku pulang dulu. Kalian lanjut saja." Natasha akan pergi besok. Masih ada banyak hal yang harus dilakukannya. Dia menepis tangan Enzo dengan dingin, lalu berbalik untuk pergi. Alvaro ingin menghentikannya, tetapi Luna menahan lengannya. Dia menatap sosok wanita yang menjauh dan tanpa sadar berseru, "Sasha, besok itu pesta ulang tahunmu. Jam 8 pagi, jangan lupa untuk datang." Namun, Natasha tidak menjawab. Dia pulang dengan tenang dan duduk di kamar kosong untuk waktu yang lama. Pada pukul 6 sore, dia membuka kulkas dan memasak banyak hidangan lezat untuk dirinya sendiri dengan semua bahan yang tersedia. Pada pukul 10 malam, dia mengeluarkan semua perhiasan, emas, dan miliaran uang tunai, lalu mengemasnya dan memasukkannya ke dalam koper. Pukul 12 malam, dia merias wajahnya dengan cantik dan mengenakan gaun satin hitam yang pas badan. Kemudian, dia menelepon agen layanan kematian palsu. Dalam kegelapan malam, terdengar suara wanita berkata pelan, "Aku akan tunggu kalian di Vila Jalaika. Kontrak kematian palsu itu berlaku mulai sekarang." Sebuah mobil hitam perlahan-lahan menembus kabut malam dan memasuki gerbang rumah Keluarga Andara. Seorang wanita berpakaian hitam membawa kopernya dan masuk ke dalam mobil tanpa ragu. Keesokan harinya, sebuah berita dengan cepat menduduki peringkat pertama pencarian populer. [ Berita terkini! Istri dari presdir Grup Andara tewas dalam kecelakaan mobil di Jembatan Jipuru pukul 2 dini hari. Jasadnya hancur berkeping-keping dalam ledakan mobil dan sama sekali tidak bersisa! ]