Đang tải thông tin quảng bá...
Kurawat Dengan Cinta, Dibalas Dengan Pengkhianatan
Selama tiga tahun pernikahan, Claire Nolan merawat Julian Westwood yang mengalami kelumpuhan pada kedua kakinya dengan cermat. Namun, Julian justru sangat membencinya. Hanya karena Claire menyentuh ka...
Chương (1)
第1章
Selama tiga tahun pernikahan, Claire Nolan merawat Julian Westwood yang mengalami kelumpuhan pada kedua kakinya dengan cermat. Namun, Julian justru sangat membencinya.
Hanya karena Claire menyentuh kakinya, dia langsung mengusir Claire keluar rumah, bahkan menguncinya di luar selama 99 hari.
Ironisnya, pada hari ketika Julian akhirnya pulih dan bisa berdiri lagi, hal pertama yang dia lakukan adalah pergi ke bandara untuk menjemput kekasih pertamanya.
Bertahun-tahun pengorbanan dan kasih sayang Claire tetap tidak bisa menandingi sang cinta sejati di hati Julian.
Sambil menahan rasa sakit di dada, Claire akhirnya menelepon seseorang, "Kontrak sudah selesai. Aku ingin bercerai darinya."
Namun setelah Claire pergi, barulah Julian menyesal.
Bab 1
"Amber, kakiku sudah sembuh. Pulanglah. Aku sendiri yang akan menjemputmu di bandara!"
Melihat nama dan foto yang sangat dikenalnya itu, senyum Claire yang semula penuh kebahagiaan tiba-tiba membeku di wajahnya. Dia memang sudah lama tahu bahwa Julian tidak pernah mencintainya.
Sedari awal, orang yang dicintai Julian hanyalah kekasih pertamanya, Amber.
Tiga tahun lalu, setelah lulus dari universitas, Julian dan Amber memilih jalan hidup yang berbeda. Julian tinggal di dalam negeri untuk meneruskan bisnis keluarga, sementara Amber pergi ke luar negeri untuk mengejar mimpinya. Mereka pun berpisah.
Namun dalam hati Julian, Amber tak pernah benar-benar pergi.
Kemudian, kabar mengejutkan datang. Amber menikah diam-diam di luar negeri. Julian yang tidak bisa menerima kenyataan itu, nekat mengemudi dengan kecepatan tinggi menuju bandara dan berencana terbang ke Amerika untuk merebut kembali cintanya.
Namun, takdir berkata lain. Dalam perjalanan menuju bandara, Julian mengalami kecelakaan parah. Kedua kakinya lumpuh dan dia tidak bisa lagi berdiri sejak itu.
Saat itu, Claire masih menjadi dokter magang. Dia bekerja sama dengan kepala dokter untuk menyelesaikan operasi besar pada kaki Julian.
Namun setelah operasi itu, Julian yang dulunya angkuh, tidak bisa menerima kenyataan bahwa dirinya kini adalah seorang penyandang disabilitas. Dia menjadi sosok yang pemarah dan temperamental. Jika ada sedikit saja hal yang tidak sesuai dengan keinginannya, dia akan membentak atau merusak barang.
Para dokter dan perawat di rumah sakit pun takut mendekatinya. Akhirnya, mereka mendorong Claire yang paling junior untuk menghadapinya.
Wajah Claire yang lembut dan bersahabat, ditambah kepribadiannya yang ramah serta kemampuannya yang mumpuni, membuatnya menjadi satu-satunya orang di rumah sakit yang bisa mendekati Julian.
Setelah beberapa saat, Julian pun diizinkan pulang. Namun tak lama kemudian, ibu Julian datang menemui Claire.
Wanita itu menawarkan 10 miliar kepadanya, dengan syarat agar dia mendekati Julian dan merawatnya sepenuh waktu, serta menikahinya.
Saat itu, Claire tengah terdesak mencari biaya pengobatan untuk ibunya yang sakit keras. Tanpa berpikir panjang, dia menyetujui tawaran itu. Dia pun mengundurkan diri dari rumah sakit dan selama tiga tahun penuh, dia perlahan-lahan mendekati dunia Julian.
Saat Julian marah dan temperamental karena rasa sakit di kakinya, Claire selalu menerima semua amarahnya tanpa keluhan. Saat lukanya terasa menyiksa, Claire rela berjaga semalaman dan memijatnya tanpa henti.
Setiap kali Julian jatuh saat menjalani fisioterapi, Claire akan segera menjatuhkan diri lebih dulu untuk menahan tubuhnya agar tidak terbentur lantai.
Banyak orang bertanya-tanya, siapa sebenarnya gadis muda yang tiba-tiba muncul ini? Kenapa dia begitu tulus dan sabar menghadapi Julian?
Namun, hanya Claire yang tahu jawabannya. Biaya kuliahnya selama empat tahun di universitas semuanya ditanggung oleh Julian.
Julian adalah ketua yayasan amal kampus dan Claire hanyalah satu dari sekian banyak mahasiswa tidak mampu yang pernah dibantunya, bahkan bisa dibilang yang paling tidak menonjol.
Jarak mereka selama ini begitu jauh, Claire bahkan tidak pernah berani berharap lebih. Namun, takdir mempertemukan mereka kembali dalam keadaan Julian telah kehilangan fungsi kakinya.
Sejak saat itu, Claire memilih mendekat. Dia menyerahkan segalanya tanpa pamrih untuk menemani Julian dalam masa tergelap hidupnya.
Dulu, Claire percaya bahwa jika dia terus bertahan dan memberikan segalanya dengan tulus selama bertahun-tahun, suatu hari nanti Julian pasti akan menyadari ketulusannya.
Namun sekarang, melihat Julian membagikan kabar bahagianya kepada Amber begitu cepat tanpa memikirkan perasaannya, Claire merasa sangat lelah.
Sudah tiga tahun mereka menikah. Namun Claire merasa, dia sama sekali belum pernah masuk ke dalam hati suaminya.
Setiap tahun, tepat di hari Valentine, Julian selalu menghilang tanpa kabar. Tak peduli seberapa cemas dan paniknya Claire mencarinya, Julian tetap tidak muncul.
Hingga akhirnya Claire mengetahui bahwa Valentine adalah hari jadi Julian dan Amber.
Meski kini tidak lagi bisa bersama Amber, Julian tetap mengingat setiap momen yang pernah mereka lalui, bahkan menyiapkan hadiah khusus setiap tahun.
Julian bahkan memiliki sebuah ruang kerja yang selalu terkunci. Suatu kali, Claire tidak sengaja masuk ke dalam saat hendak bersih-bersih. Akibatnya, dia diusir lalu dibiarkan kehujanan semalaman di luar pintu.
Hanya karena ruangan itu penuh dengan foto-foto Amber.
Saat itu, Claire sadar bahwa dia tidak akan pernah benar-benar bisa menyentuh hati Julian. Akan tetapi, tidak apa-apa. Kini Julian sudah bisa berdiri lagi, itu artinya tugasnya telah selesai.
Saat Julian sibuk menelepon Amber untuk berbagi kebahagiaan, Claire pun berjalan menjauh ke sudut ruangan dan menekan nomor di ponselnya. "Bu, Julian sudah bisa berdiri lagi. Tugasku sudah selesai. Aku juga akan menceraikannya."
Bab 2
Keluarga Westwood mengadakan pesta besar-besaran untuk merayakan kesembuhannya. Sejak pagi, Claire sudah berada di hotel untuk membantu Lorraine, ibu Julian, mengurus segala persiapan.
Di balkon, kedua wanita itu berdiri saling berhadapan dengan ekspresi berbeda di wajah masing-masing.
Setelah lama terdiam, Lorraine menghela napas panjang. "Claire, kamu benar-benar ingin bercerai?"
"Kamu sudah merawat Julian dengan sepenuh hati selama tiga tahun. Kakinya baru saja sembuh, dia pasti akan ingat kebaikanmu. Seharusnya kalian menjalani hidup yang baik bersama."
"Amber akan kembali."
Claire hanya mengucapkan satu kalimat itu, ekspresi Lorraine langsung berubah. Dari keterkejutan, menjadi kekhawatiran, lalu berakhir dengan ekspresi pasrah. "Ah ... baiklah. Kalau begitu, Ibu hormati keputusanmu."
Lorraine akhirnya mengalah.
Mendengar hal itu, Claire merasakan hawa dingin menjalar dalam hatinya. Baru saja Lorraine berusaha menahannya, tetapi begitu mendengar nama Amber, dia langsung menyerah. Jadi, ternyata mereka semua tahu betapa pentingnya Amber di mata Julian.
Sementara dia sendiri .... Meskipun sudah merawat Julian selama tiga tahun, dirinya hanyalah seorang pengasuh di hati Julian.
"Claire, kamu punya rencana apa setelah cerai nanti? Setelah ibumu meninggal, kamu sebatang kara di dunia ini. Kamu sudah mengurus Julian selama tiga tahun. Aku sudah menganggapmu seperti anak sendiri. Kalau ada yang bisa Tante bantu, jangan sungkan, katakan saja."
Ucapan penuh kasih yang jarang terdengar itu membuat mata Claire memerah.
Lorraine benar. Tiga tahun lalu, Claire menerima 10 miliar dari Lorraine dengan harapan uang itu bisa menyembuhkan ibunya. Namun siapa sangka, hanya tiga bulan kemudian, kondisi ibunya memburuk drastis dan akhirnya meninggal dunia.
Ibunya sudah tiada, tetapi Claire tetap menerima uang itu. Jadi, dia memutuskan untuk tetap tinggal di Keluarga Westwood dan melanjutkan tugasnya merawat Julian.
Namun kini, sudah waktunya dia mulai memikirkan dirinya sendiri.
Setelah berpikir sejenak, Claire berkata dengan tenang, "Tante, aku ingin melanjutkan studi ke luar negeri dan mengambil program doktor. Aku dulu memang belajar kedokteran, sekarang saatnya aku kembali ke jalur itu."
Lorraine mengangguk mantap, "Tenang saja, Tante akan bantu urus semuanya untukmu."
Claire menatap Lorraine dengan rasa terima kasih yang tulus. Namun, dia tidak lupa menambahkan, "Tante, soal perceraian ... biar aku yang bicara langsung dengan Julian. Nggak usah repotin tante."
Lorraine kembali mengangguk, tatapan matanya pada Claire kini dipenuhi rasa iba.
Kini, Amber sudah akan kembali dan Claire juga akan mengajukan perceraian, anaknya pasti akan menyambutnya dengan gembira. Dia tidak perlu lagi ikut campur urusan mereka. Hanya saja, dia merasa sangat menyayangkan gadis sebaik Claire yang tidak berjodoh dengan keluarga mereka.
Tamu-tamu mulai memenuhi ruangan. Lorraine mengajak Claire ikut bersamanya untuk menyambut para undangan. Namun ketika waktu pesta dimulai, Julian masih belum juga muncul.
Lorraine mengerutkan dahi dan melambaikan tangan memanggil putrinya, Patricia.
"Pat, bukannya Ibu suruh kamu jemput kakakmu? Di mana dia?"
Patricia tersenyum penuh misteri. "Tenang saja, Bu. Kakak pasti datang sebentar lagi. Bahkan aku jamin, kali ini Ibu akan dapat kejutan besar!"
Setelah berbicara, Patricia menoleh pada Claire dan melemparkan pandangan penuh ejekan. Dia mendekat lalu berbisik di telinganya, "Dasar gadis kampung, hari-hari indahmu sudah habis!"
Patricia memang tidak pernah menyukai Claire. Di matanya, Claire hanyalah wanita oportunis yang mendekati Julian demi uang. Selama bertahun-tahun, dia tak henti-hentinya merendahkan Claire, baik secara terang-terangan maupun diam-diam.
Saat itu juga, pintu aula terbuka.
Julian muncul dalam balutan setelan jas hitam yang elegan, menawan, dan berwibawa.
Di sampingnya, berjalan seorang wanita cantik dengan gaun malam merah marun yang mencolok. Orang itu adalah Amber. Mereka bergandengan tangan dan tersenyum satu sama lain sambil melangkah masuk perlahan, seolah seluruh dunia hanya milik mereka berdua.
"Eh, itu ... Amber? Pacar pertama Pak Julian?" seru seseorang di tengah kerumunan.
"Benar! Selain Amber, kapan lagi Pak Julian pernah memandang wanita lain dengan tatapan seperti itu?"
"Luar biasa setia ya .... Dulu sampai kakinya lumpuh karena Amber. Sekarang baru bisa berdiri, langsung jemput Amber pulang!"
"Iya, benar. Sayangnya ... ada orang yang nggak tahu diri, masih saja ngotot numpang hidup di Keluarga Westwood!"
Suasana jadi ramai. Bisikan tajam mulai menggema di segala penjuru. Tatapan para tamu pada Claire pun berubah menjadi penuh sindiran dan ejekan.
Di tengah keramaian itu, Patricia tertawa pelan lalu mendekati Claire sambil berbisik dengan nada menghina, "Gimana, gadis kampung? Terpukau sama kecantikan Kak Amber, ya?"
"Sekarang kamu pasti sadar, 'kan? Jadi pembantu yang kerja keras dan setia bukan berarti kamu bisa menaklukkan hati seorang pria! Sekarang Kak Amber sudah kembali. Cepat bungkus barang-barangmu dan enyahlah dari sini!"
Claire yang berdiri di bawah sorotan lampu, merasa tatapan di sekitarnya bagaikan pisau tajam yang menancap di dirinya dengan kejam.
Ya, dia memang tidak pantas berada di sini.
Di mata semua orang, dirinya hanyalah seorang pengasuh dan pembantu. Tidak pernah ada seorang pun yang menganggap dirinya dan menghargainya.
Mungkin, dia memang sudah seharusnya pergi dari dulu.
Bab 3
Julian menggandeng tangan Amber, lalu berjalan ke arah Lorraine dengan wajah penuh semangat. "Bu, Amber sudah kembali!"
Lorraine memandang Amber dengan dahi mengernyit. "Kalau kamu sudah menikah, kenapa kembali ke negara ini?"
Amber tampak tersentak, bibirnya mengerucut menahan tangis dan air mata langsung mengalir di pipinya. "Tante, dulu semua salahku. Aku minta maaf ...."
Mendengar ucapannya, hati Julian langsung merasa tersayat. Dia segera merangkul Amber ke dalam pelukannya. "Bu, Amber sudah bercerai. Suaminya itu bajingan yang suka mukul istri!"
"Masa lalu biarlah berlalu. Aku nggak peduli. Jadi Ibu jangan bersikap begitu pada Amber."
Meski Lorraine tahu betul bahwa putranya tidak pernah melupakan Amber, tetap saja dia merasa kesal saat disinggung dan dipermalukan langsung di depan umum oleh putranya sendiri. Dia mengibaskan tangan dan pergi dengan jengkel.
Julian dan Amber lalu menoleh, tatapan mereka kini tertuju pada Claire.
Julian tidak merasa perlu memberi penjelasan apa pun. Dengan nada datar dan penuh perintah, dia berkata, "Amber baru saja kembali ke negara ini, belum ada tempat tinggal. Kamu pulang dulu dan bersihkan kamar."
Suaranya penuh otoritas seperti biasa. Claire sempat tercengang. "Dia mau tinggal di rumah pernikahan kita?"
Julian menaikkan alisnya. "Tentu saja. Kalau bukan di sana, dia harus tinggal di mana lagi?"
Dari samping, Patricia tidak bisa menahan tawa. "Rumah pernikahan? Kamu kira kamu benaran Nyonya Keluarga Westwood?"
Terdengar suara tawa dari sekitarnya, membuat hati Claire terasa dingin.
Tiga tahun lalu, setelah mengalami kecelakaan mobil, Julian jatuh dalam keputusasaan. Dia mabuk-mabukan setiap hari hingga tak sadarkan diri. Suatu hari, rumah tempatnya tinggal terbakar. Claire yang nekat menerobos kobaran api dan menggendongnya keluar dengan sekuat tenaga.
Namun, dirinya sendiri tertimpa lampu gantung yang patah dan mengalami cedera di kepala. Dia terbaring di rumah sakit selama sebulan. Saat sadar, Julian duduk di samping ranjangnya dan melamarnya.
Julian kemudian membeli kembali rumah itu untuk dijadikan rumah pernikahan mereka dan berjanji bahwa tempat itu akan menjadi rumah masa depan mereka. Namun kini begitu Amber kembali, dia langsung masuk dan tinggal di rumah pernikahan itu.
Saat Claire terdiam, Amber sudah lebih dulu menatap Julian dengan wajah penuh kepiluan. "Julian, Bu Claire nggak setuju aku tinggal di rumah kalian, ya? Kalau begitu, aku menginap di hotel saja. Jangan sampai membuatnya nggak senang."
"Mana bisa!" Julian langsung menolak dengan tegas. "Hotel itu nggak aman!" Dia lalu menatap Claire dan berkata, "Claire, Amber cuma tinggal sementara. Jangan terlalu perhitungan."
Claire tiba-tiba tersenyum. "Kamu benar, aku memang nggak seharusnya sekecil hati itu. Aku akan kembali dan membereskan kamar. Kalian silakan saja."
Claire berbalik dengan tegas dan meninggalkan ruang pesta yang kini terasa penuh ejekan dan penghinaan.
Lagi pula, hanya sebuah rumah, apa yang perlu dipedulikan? Cepat atau lambat, rumah itu juga akan menjadi milik Amber.
Begitu tiba di rumah yang kini terasa kosong, Claire segera mengosongkan kamar tidurnya. Dia selalu hidup hemat dan Julian juga tidak pernah memberinya hadiah apa pun. Jadi, setelah tiga tahun tinggal di sana, barang-barangnya bahkan tidak sampai memenuhi satu koper.
Namun, mungkin itu bagus juga. Dia bisa pergi tanpa beban.
Saat semua sudah dibereskan, ponselnya tiba-tiba berdering. Seseorang mengunggah sebuah video ke linimasa. Video itu memperlihatkan Julian dan Amber berdiri di samping menara sampanye dan bersulang dengan gelas yang saling berangkulan.
Tatapan mereka penuh kasih dan mesra, seperti sepasang kekasih yang serasi dan tak terpisahkan.
Suara latar dalam video itu bahkan terdengar seseorang berseru, "Cium dong!"
Claire tidak sanggup melihat lebih jauh, dia segera menutup video tersebut.
Tak lama kemudian, Julian kembali bersama Amber. Keduanya pulang dalam keadaan mabuk dan tercium bau alkohol menyengat dari tubuh mereka. Saat melihat Claire secara sukarela menyerahkan kamar tidurnya kepada Amber, Julian tampak sangat puas.
Setelah Amber naik ke atas untuk mandi, Julian yang jarang bersikap lembut, duduk di samping Claire dan mengulurkan tangan hendak mengelus kepalanya.
"Claire, aku tahu kamu memang paling pengertian."
Claire mundur selangkah menghindari sentuhan itu. Tangan Julian menggantung kaku di udara dan sorot matanya pun perlahan menjadi redup. "Sudahlah, aku 'kan sudah bilang, Amber cuma tinggal sementara."
"Mm, nggak apa-apa. Nona Amber mau tinggal selama apa pun juga nggak masalah." Claire mengambil setumpuk dokumen dan menyerahkannya pada Julian. "Rumah sakit lama dulu pernah meminta sejumlah bantuan alat medis. Coba lihat, bisa nggak diberikan atas nama Grup Westwood?"
Julian menerima dokumen itu dan tersenyum samar. "Kamu pintar negosiasi juga, ya."
Claire tidak menanggapi, dia hanya menatap dokumen itu dengan sedikit gugup.
Julian menganggap ini sebagai kompensasi atas Amber yang tinggal di rumah pernikahan mereka, jadi dia menandatangani semuanya tanpa membaca isinya. Dia tentu tidak sadar, di tumpukan paling bawah, tersembunyi selembar surat perjanjian cerai.
Saat kembali ke kamar dan melihat surat cerai yang telah ditandatangani Julian, Claire tidak tahu harus menangis atau tertawa.
Menangis ... karena tiga tahun pengorbanannya ternyata memang tidak membuahkan hasil. Tertawa ... karena akhirnya dia akan pergi dari semua ini dan memulai hidup yang baru.
Bab 4
Keesokan paginya, saat langit masih gelap, pintu kamar Claire sudah diketuk dengan keras.
"Claire, tolong masak bubur, ya. Amber kemarin minum alkohol, perutnya nggak enak," kata Julian dari luar.
Sejak Julian mengalami cedera di kakinya, dia menjadi sangat sensitif dan tidak suka terlihat dalam kondisi lemah di depan orang lain. Karena itu, di vila ini tidak ada pembantu dan dia pun terbiasa menyuruh-nyuruh Claire.
Masih dalam keadaan setengah sadar, Claire secara refleks menolak, "Nggak."
"Apa?" Julian nyaris mengira dirinya salah dengar. Selama ini, Claire tidak pernah menolak permintaannya.
Begitu mendengar Julian balik bertanya, kesadaran Claire menjadi lebih jernih. Dia menunjuk ke arah perutnya dan berkata, "Aku lagi haid, perutku sakit. Nggak bisa kena air dingin."
Julian menatapnya dari atas ke bawah, seolah menilai apakah alasan itu masuk akal atau tidak.
Beberapa saat kemudian, Julian menghela napas. "Sudahlah, aku bawa dia makan di luar saja."
Saat Julian dan Amber keluar, Claire tengah duduk di kamar sambil membaca buku. Dia akan segera berangkat ke luar negeri untuk mengambil gelar doktor, jadi dia mulai mempersiapkan diri dengan membaca lebih awal.
Amber tiba-tiba muncul di depan kamar dan berpura-pura ramah. "Claire, aku dan Julian mau pergi sarapan. Kamu ikut juga, ya?"
Claire tidak menolak. Lagi pula, jika Amber sudah bicara, Julian tidak akan memberinya kesempatan untuk menolak.
Mobil Maybach hitam melaju di antara lalu lintas dan akhirnya berhenti di depan gerbang kampus lama Julian dan Amber.
Begitu turun dari mobil, Amber langsung menggandeng lengan Julian dengan mesra. "Julian, sudah lama ya kita nggak ke sini. Tempat ini penuh kenangan kita!"
Julian mengangguk, tapi matanya sekilas melirik Claire yang berdiri canggung di sisi lain.
"Amber mau makan bubur ayam suwir di kantin, sekalian kami mampir melihat-lihat," katanya, untuk pertama kalinya memberikan penjelasan pada Claire. Namun, yang dia dapat hanya sebuah anggukan dingin.
"Mm, nggak apa-apa. Yang penting kalian senang."
Julian mengernyit. Dia merasa ada yang berbeda dari Claire. Namun sebelum dia sempat memikirkannya lebih jauh, Amber sudah menggandengnya masuk ke area kampus.
Setiap sudut tempat itu adalah saksi kisah cinta mereka. Sambil berjalan, mereka tertawa dan mengenang masa lalu, sepenuhnya mengabaikan Claire yang mengikuti dari belakang.
Menatap punggung mereka, Claire merasa lelah luar biasa.
'Sedikit lagi. Tunggu sampai masa tenang perceraian selesai. Setelah itu aku bisa benar-benar pergi.'
Lingkungan kantin cukup nyaman dan ada banyak pilihan makanan yang menggoda selera.
Julian membawa nampan penuh makanan dan berjalan cepat ke arah Amber dengan ekspresi penuh semangat. "Amber, ini semua makanan yang dulu kamu suka waktu kuliah. Aku ambilin semuanya, cobain ya!"
Claire menatap makanan-makanan berwarna merah cerah di atas meja dengan tatapan kosong.
Selama tiga tahun ini, Julian mengingat dengan jelas semua yang disukai Amber. Namun, dia sama sekali tidak tahu bahwa Claire tidak bisa makan makanan pedas.
Claire berdiri dan berniat membeli makanan yang lebih ringan untuk dirinya sendiri.
Namun saat dia berbalik, seorang ibu kantin yang membawa panci sup panas tidak sengaja menabraknya dari belakang. Cipratan sup panas menyembur ke mana-mana. Julian spontan meraih Amber dan menariknya ke dalam pelukannya untuk melindunginya.
Namun, hampir seluruh sup panas itu tumpah ke lengan Claire. Dalam sekejap, setengah lengannya dipenuhi gelembung luka bakar.
"Kamu nggak apa-apa?" Julian akhirnya melepaskan Amber dari pelukannya dan berdiri memegangi lengan Claire. Untuk pertama kalinya, dia menunjukkan kekhawatiran yang tulus terhadap Claire.
Claire belum sempat menjawab, Amber sudah lebih dulu menjerit, "Julian, panas sekali .... Sakit!"
Tangannya hanya memerah di beberapa titik, jauh dari kata parah jika dibandingkan luka melepuh di lengan Claire. Namun, dia sudah mulai terisak sambil memegangi pergelangan tangannya. "Julian, tanganku kena luka bakar ...."
Mendengar ucapannya, Julian langsung melepaskan lengan Claire dan berbalik untuk menggendong Amber ke dalam pelukannya.
"Jangan panik, Amber. Aku antar kamu ke rumah sakit sekarang!"
Baru berjalan beberapa langkah, Julian tiba-tiba teringat sesuatu. Dia menoleh menatap Claire dengan sedikit rasa bersalah. "Kamu 'kan dokter, tahu dasar-dasar pertolongan pertama. Tangani dulu sendiri, ya."
"Aku antar Amber dulu ke rumah sakit, nanti aku suruh sopir jemput kamu."
Setelah beberapa hari menahan semuanya, akhirnya air mata Claire pun jatuh di saat itu juga.
Inilah suaminya ... lelaki yang telah dia rawat dan jaga sepenuh hati selama tiga tahun. Tak peduli seberat apa pun luka yang dia alami, jika dibandingkan dengan Amber, tetap saja tak ada artinya.
Tiga tahun penuh perhatian dan pengorbanan, nyatanya tidak lebih dari rerumputan yang terus diinjak-injak dengan kejam oleh pria itu.
Bab 5
Cuaca sangat panas dan luka di lengan Claire semakin parah karena tidak segera ditangani. Infeksi mulai menyebar dan dokter menyarankan agar dia dirawat inap. Claire pun menyetujuinya.
Selama tiga tahun terakhir, dia telah merawat Julian terus-menerus. Bahkan saat dirinya sendiri merasa sakit, dia tidak pernah meninggalkan Julian walau hanya selangkah. Namun sekarang, Claire hanya ingin hidup untuk dirinya sendiri.
Dia mematikan ponselnya dan tinggal di kamar rumah sakit, fokus memulihkan diri sambil membaca buku. Melihat para dokter yang sibuk berlalu lalang di rumah sakit itu, hatinya dipenuhi harapan.
Dulu, mimpinya adalah menjadi dokter yang bisa menyelamatkan banyak orang. Namun karena kontrak dengan Lorraine, dia terpaksa meninggalkan cita-cita itu.
Kini, saat akhirnya mendapatkan kesempatan untuk kembali ke kampus dan melanjutkan pendidikan, yang dia harapkan hanyalah bisa belajar sebanyak mungkin agar bisa segera kembali ke garis depan dunia medis dan menyelesaikan impiannya yang tertunda.
Sebelum keluar dari rumah sakit, Claire tidak sengaja bertemu Patricia yang datang menemani temannya berobat. Begitu melihat Claire, Patricia langsung berjalan mendekat dengan wajah marah.
"Dasar kampungan! Kamu lagi ngapain, hah? Sengaja menghilang, ya? Kamu tahu nggak, rumah sudah kayak kapal pecah! Kakakku nyariin kamu ke mana-mana!"
"Nyari aku? Buat apa?" Claire benar-benar tidak mengerti.
Bukankah selama dia dirawat di rumah sakit, itu justru memberi Julian dan Amber kesempatan untuk hidup berdua?
Patricia mengacak rambutnya dengan kesal. "Aku malas jelasin. Sebaiknya kamu pulang sendiri dan lihat saja!"
Tanpa memedulikan luka Claire, Patricia menariknya paksa keluar dari rumah sakit dan membawanya pulang. Begitu memasuki vila, Claire langsung menyadari ada yang berbeda.
Taman yang seminggu lalu masih rimbun dan indah, kini telah layu dan kering. Di dalam rumah, kondisinya bahkan lebih kacau dan berantakan seperti habis diterjang badai.
Saat mendengar suara dari arah pintu, mata Julian yang awalnya redup tiba-tiba tampak berbinar.
Julian melangkah cepat ke pintu dan langsung mencengkeram lengan Claire yang terluka. "Kamu ke mana saja?"
"Claire, kamu sekarang benar-benar makin keras kepala ya! Cuma gara-gara aku telat sedikit antar kamu ke rumah sakit, kamu malah kabur dari rumah? Lihat nih, rumah jadi berantakan begini!"
Lengan Claire mengeluarkan darah. Rasa sakitnya merambat dari permukaan kulit hingga ke tulang. Tadinya dia masih bertanya-tanya kenapa Julian mencarinya. Ternyata jawabannya adalah karena rumah kekurangan seorang pembantu.
Julian tidak peduli dengan lukanya, juga tidak peduli ke mana Claire selama ini. Yang dia tahu hanyalah Claire tidak lagi bersikap seperti pelayan yang setia seperti dulu.
Sambil menggertakkan gigi, Claire menarik paksa lengannya dari genggaman Julian. "Julian, kamu menyakitiku!"
Baru saat itu Julian menyadari ada bercak darah di bajunya. Dia teringat kembali tentang luka Claire di kantin tempo hari, nada bicaranya mulai sedikit melunak. "Aku nggak sangka lukamu separah ini. Oke, ini salahku. Tapi kamu juga salah karena nekat kabur dari rumah. Anggap saja impas, ya?"
"Sini, aku mau kasih lihat sesuatu." Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Julian menggenggam tangan Claire dan membawanya naik ke lantai atas.
Dia meletakkan sebuah kotak di hadapan Claire. Di dalamnya, tergeletak sebuah kalung berlian mewah dan berkilau. "Ini untukmu. Anggap saja kompensasi atas lukamu. Lagi pula, Amber juga akan segera pindah keluar. Jadi, jangan marah lagi, ya?"
Claire membuka mulut, tetapi tidak tahu harus berkata apa.
Dulu, dia selalu berharap Julian akan memberinya hadiah apa pun, asalkan itu tulus dari hatinya. Namun kini, ketika hadiah itu benar-benar ada di depan matanya, dia tidak bisa memastikan apakah kalung ini benar-benar ditujukan untuknya atau sebenarnya tetap demi Amber.
Claire menerima kotak itu dan meletakkannya di meja dengan tanpa ekspresi. Kemudian, dia berbalik menuju kamar mandi untuk mandi.
Saat keluar, dia melihat Amber sedang berdiri di depan cermin dan mencoba kalung berlian itu di lehernya. Melalui pantulan cermin, Amber menoleh ke arah Claire dan tersenyum penuh tantangan padanya.
"Maaf ya, Claire, jadi kelihatan nggak enak begini. Padahal kemarin aku baru bilang suka sekali sama kalung ini, eh, hari ini Julian langsung beliin. Dia ini memang ...."
Belum sempat Amber menyelesaikan kalimatnya, Julian sudah keluar dari dapur. Saat melihat kalung berlian itu melingkar di leher Amber, Julian sempat tertegun sejenak.
Amber segera menggandeng lengannya dan menatapnya dengan manja. "Julian, kamu memang yang terbaik. Aku suka sekali hadiahnya."
Julian menatap Claire dengan ekspresi rumit, lalu memalingkan pandangannya ke Amber. Setelah beberapa detik, akhirnya dia membuka mulut. "Baguslah kalau kamu suka."
"Benar, yang penting Amber suka." Claire ikut mengangguk ringan, suaranya datar tanpa emosi.
Setelah itu, dia berjalan melewati mereka berdua tanpa banyak bicara dan langsung menuju taman.
Aroma bunga yang familier menyapu ujung hidungnya saat dia melangkah. Julian hanya bisa menatap punggung Claire yang perlahan menjauh, entah mengapa perasaannya menjadi tidak tenang.
'Kenapa dia sama sekali nggak marah? Apa dia cuma berpura-pura?
Namun kemudian, dia segera menepis pikiran itu. 'Ah, cuma kalung doang. Lain kali aku belikan yang lebih mahal, pasti dia senang lagi.'
Dengan mudahnya, Julian kembali meyakinkan dirinya sendiri.
Bab 6
Tiga puluh hari masa tenang untuk perceraian berlalu dengan cepat. Claire sudah memesan tiket untuk ke luar negeri, hanya tinggal menunggu hari terakhir tiba.
Hari itu, dia mulai mengemas semua barang bawaannya dan bersiap untuk mengirim sebagian besar ke luar negeri lebih dulu. Namun, saat dia memeluk koper dan hendak keluar rumah, dia berpapasan dengan Amber dan Patricia yang tiba-tiba masuk.
Barang-barang dalam koper terjatuh dan berserakan di lantai. Claire buru-buru memungutnya kembali, tapi tetap saja gerak-geriknya menarik perhatian mereka.
"Kamu bawa barang sebanyak ini buat apa?" tanya Patricia dengan curiga.
Claire asal menjawab, "Cuma barang-barang yang nggak terpakai. Mau aku sumbangkan ke panti asuhan."
Patricia langsung mencibir. "Barang rongsokan kamu ini disumbang ke panti asuhan? Kasihan banget anak-anak panti itu."
Claire tidak menanggapi hinaan itu. Dia hanya diam, lalu menutup koper dan bersiap untuk keluar.
"Tunggu dulu." Amber menghentikannya, lalu dengan seenaknya mengambil sebuah gelang dari dalam koper. "Yang ini kelihatannya menarik. Aku ambil, ya."
Mata Claire langsung tertuju pada tangan Amber. Wajahnya berubah panik dan dia buru-buru merebut kembali gelang itu.
"Nggak bisa! Itu nggak termasuk barang yang disumbangkan. Aku salah taruh, itu mau aku simpan!"
Itu adalah satu-satunya peninggalan dari almarhum ibunya. Dia selalu menjaganya dengan sangat hati-hati. Claire tidak menyangka Amber malah kebetulan melihat gelang itu.
"Kenapa nggak bisa? Cuma gelang jelek. Kalau Kak Amber suka, itu keberuntunganmu. Cepat kasih dia, lihat penampilan miskinmu itu!" cerca Patricia dengan penuh penghinaan.
"Aku bilang nggak bisa ya nggak bisa! Itu barangku! Kenapa aku harus kasih dia?!" Claire membentak, wajahnya memerah karena emosi yang membuncah.
Patricia tertegun. Claire berani membentaknya? Dia pikir siapa dirinya!
Baru saja Patricia hendak menyerang balik, pintu tiba-tiba terbuka. Julian masuk ke dalam rumah.
"Dari jauh saja sudah kedengaran berisik. Apa yang kalian ributkan?" Sorot mata Julian terlihat tidak senang saat menyapu ruangan, hingga akhirnya tertuju pada Claire.
Claire belum sempat bicara, Amber sudah lebih dulu menunduk dan mulai menangis tersedu-sedu. "Julian, ini semua salahku. Claire bilang dia mau nyumbang barang-barang ke panti. Aku lihat ada gelang yang bagus, jadi cuma nanya apakah dia mau jual ke aku, tapi dia nggak mau ...."
"Benar tuh, nggak pernah lihat orang sepelit kamu!" Patricia ikut-ikutan memperkeruh suasana. "Kami mau bayar juga kok, masalahnya di mana?"
Mendengar hal itu, Julian langsung mengerutkan kening dan menatap Claire dengan tajam.
"Cuma gelang bekas yang sudah nggak kepakai, kalau Amber suka, kasih saja. Nanti aku belikan yang baru buat kamu."
Nada bicaranya yang menganggap semuanya wajar itu begitu menusuk perasaan Claire. Dia menggigit bibirnya erat dan menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh.
Dia mengulurkan gelang itu ke arah Julian dan berkata dengan suara gemetar, "Julian, lihat baik-baik. Gelang ini peninggalan ibuku sebelum meninggal. Kamu tahu apa artinya gelang ini buatku?"
Saat ibunya baru meninggal, Claire memakainya setiap hari, bahkan saat tidur pun tidak mau melepasnya. Namun saat membantu Julian menjalani terapi pemulihan, gelang itu sempat terbentur. Sejak saat itu, Claire melepasnya dan menyimpannya baik-baik.
Claire mengira setelah tiga tahun hidup bersama Julian, dia seharusnya tahu betapa pentingnya benda ini bagi Claire. Namun Julian hanya menatap gelang itu lama, tanpa perubahan ekspresi di wajahnya. Bahkan saat akhirnya dia buka suara, nada bicaranya malah semakin kasar.
"Claire, kamu benar-benar keterlaluan. Cuma karena sebuah gelang, kamu sampai mengarang cerita soal peninggalan orang tua? Kamu pikir aku bakal percaya?"
"Yang kulihat, kamu sengaja mau menyusahkan Amber. Semakin dia menginginkan sesuatu, kamu semakin nggak rela memberikannya. Kamu lebih memilih menyumbangkannya daripada memberikan padanya."
"Claire, aku benar-benar kecewa. Nggak nyangka kamu ternyata sepicik ini."
Setelah berkata demikian, Julian menggandeng Amber dan keluar dari rumah sambil membanting pintu keras-keras. Tubuh Claire limbung, lalu perlahan jatuh terduduk di lantai.
Tidak peduli apa pun yang dikatakan Amber, Julian selalu memilih untuk percaya. Sementara dirinya ... bahkan saat berkata jujur pun, dia tidak dipercaya sama sekali.
Claire memeluk gelang itu erat-erat. Air matanya akhirnya tumpah membasahi pipinya tanpa henti.
Bab 7
Karena kejadian itu, Claire tidak berani mengirim gelangnya lewat jasa ekspedisi. Dia akhirnya memutuskan untuk menyimpannya di dalam tas tangan dan membawanya sendiri nanti saat pergi ke luar negeri.
Suatu hari, Claire menerima telepon dari Lorraine. Lorraine mengundangnya makan malam di rumah keluarga besar dengan tulus.
"Ini mungkin makan malam terakhir kita sebagai sekeluarga," ucap Lorraine. Kalimat itu membuat hati Claire sedikit tersentuh dan dia pun mengangguk menyetujui undangan tersebut.
Saat Claire tiba di rumah Keluarga Westwood, Julian sudah datang bersama Amber dan duduk tepat di kursi yang dulu selalu ditempati Claire. Tanpa berkata apa-apa, Claire menghindari tatapan mereka dan memilih duduk di sisi lain meja makan.
Selama makan malam, Julian memperhatikan dan melayani Amber dengan begitu teliti. Sementara Claire duduk dengan kaku dan wajahnya tanpa ekspresi. Makanan yang masuk ke mulutnya pun terasa hambar.
Lorraine yang duduk di sisi lain hanya bisa memandangi Claire dengan sedikit iba, tetapi dia juga tidak kuasa menegur anak lelakinya secara langsung.
Setelah makan selesai, Claire berpamitan dengan Lorraine. Namun baru saja melangkah keluar rumah, dia mendengar tawa Julian, Patricia, dan Amber dari taman belakang.
"Julian, gelang ini lumayan juga, ya. Keras banget, bisa dipakai buat pecahin kacang! Aku penasaran ini bahannya dari apa," ujar Amber sambil tertawa.
"Entahlah, yang jelas bukan barang mahal. Claire itu orang miskin, mana mungkin punya barang bagus," sahut Patricia ikut tertawa.
Hanya dua kalimat yang diucapkan, tetapi sudah cukup membuat amarah Claire membuncah hingga ke ubun-ubun. Dia berjalan cepat menuju taman dan benar saja, di tangan Amber tersemat gelang milik ibunya.
Gelang itu sudah penuh goresan dan noda, jelas-jelas telah dipakai untuk memecahkan kacang seperti yang dikatakan tadi.
Wajah Claire memerah karena murka. Matanya menyala tajam, napasnya berat dan terdengar jelas karena emosi yang tak tertahankan. "Julian, kamu curi gelangku dan memberikannya ke Amber?!"
Julian mengernyit kesal. "Apa maksudmu mencuri? Amber cuma pinjam pakai dua hari. Nanti juga dikembalikan."
"Ambil tanpa izin itu mencuri. Prinsip dasar seperti itu pun kamu nggak paham?" Claire hampir kehilangan kendali. Tubuhnya gemetar dan dia langsung meraih lengan Amber, berusaha mengambil kembali gelang itu dari tangannya.
"Ah, sakit! Claire, kamu menyakitiku!" Amber merengek manja, membuat Julian langsung tersulut amarah.
Hanya karena gelang usang itu, Claire berani bicara seperti itu padanya? Bahkan berani-beraninya menyentuh Amber?
Dengan marah, Julian mencengkeram bahu Claire dan mendorongnya ke belakang. Claire tidak sempat menahan diri. Tubuhnya terlempar dan terjatuh ke tanah.
Petir menggelegar di langit dan tak lama kemudian hujan mulai turun deras.
Amber bersandar di pelukan Julian dengan ekspresi bersalah. "Ini semua salahku, Julian .... Jangan bertengkar lagi, ya. Aku kembalikan gelangnya ke Claire." Dia pun melepas gelang dari pergelangan tangannya dan mengulurkan tangan ke arah Claire.
Mengabaikan rasa sakit di tubuhnya, Claire dengan susah payah bangkit dari tanah. Dia mengulurkan tangan untuk menerima gelang itu.
Namun, tepat sebelum jarinya menyentuh, tangan Amber "tidak sengaja" tergelincir dan gelang itu pun terjatuh hingga hancur berantakan.
Mata Claire membelalak, pupilnya membesar karena syok. Di sisi lain, Amber malah berteriak kaget. "Aduh! Claire, kenapa kamu nggak bisa pegang dengan benar sih? Sekarang gelangnya pecah ... gimana dong?"
"Pecah ya sudah. Itu salah dia sendiri," ujar Julian dingin. Wajahnya datar tanpa emosi. Dia kemudian menggandeng Amber dan Patricia masuk ke dalam rumah, meninggalkan Claire di bawah guyuran hujan.
Rintik hujan terus turun, membasahi seluruh tubuh Claire yang masih berdiri mematung. Dia menatap pecahan gelang itu di tanah, hatinya terasa begitu menyakitkan.
Claire terjatuh berlutut sambil memegangi dadanya, lalu menangis tersedu-sedu di tengah hujan.
Warisan satu-satunya dari ibunya kini telah tiada. Kenangan terakhir ibunya di dunia ini juga telah lenyap. Dia telah berusaha selama tiga tahun, tapi pada akhirnya tetap kehilangan segalanya ....
Bab 8
Usai mandi, Julian tanpa sadar melangkah ke dekat jendela.
Di bawah cahaya remang taman, terlihat sosok mungil yang sedang berlutut di tanah dan mengais serpihan-serpihan kecil untuk mencari pecahan gelang yang telah hancur.
Seketika, dadanya terasa sesak, seolah ada sesuatu yang menusuk langsung ke jantungnya. Kenapa Claire begitu ngotot dengan gelang itu? Apa benar itu peninggalan dari ibunya?
Julian melemparkan handuknya begitu saja dan baru hendak turun ....
Namun, Amber dan Patricia sudah lebih dulu muncul menyambutnya di tangga.
"Kak, kamu nggak serius mau turun ke taman cari perempuan itu? Aku bilangin ya, sekarang dia lagi pura-pura. Sengaja buatdrama supaya kamu kasihan! Jangan tertipu!"
Amber ikut menunduk dengan wajah bersalah. "Julian, hari itu Claire sendiri yang bilang kalau barang-barang itu nggak dipakai lagi, makanya aku pikir boleh pinjam buat main sebentar. Ini semua salahku ... aku nggak mau Claire jadi sedih."
Mendengar hal itu, Julian merasa seolah tersadar.
Benar juga, Claire sendiri yang bilang barang itu mau disumbangkan. Namun begitu Amber menginginkannya, dia malah berubah sikap. Bukankah itu memang niat buat mempersulit Amber?
Pantas saja sekarang dia sengaja membuat drama di taman. Kalau Julian benar-benar turun menemuinya, itu hanya akan semakin memanjakan sikapnya.
Dengan pemikiran seperti itu, niat Julian untuk turun pun langsung pupus.
Saat fajar mulai menyingsing, Claire akhirnya berhasil mengumpulkan semua pecahan gelang di taman.
Setelah kehujanan semalaman, tubuhnya lemas tak karuan. Kepala terasa berat dan langkahnya pun goyah. Namun, Claire tidak berani beristirahat. Sebentar lagi dia pergi. Sebelum itu, dia harus memperbaiki gelang tersebut. Kalau tidak, hatinya takkan pernah bisa tenang.
Claire pergi ke berbagai tempat, sampai akhirnya tiba di rumah lelang perhiasan terbesar di kota dan berhasil menemukan seorang ahli yang bisa memperbaiki gelangnya. Claire begitu terharu hingga sulit berkata-kata, dia terus mengucapkan terima kasih berulang kali.
Dibutuhkan waktu tiga hari penuh bagi sang ahli untuk menyelesaikan perbaikan.
"Benda yang sudah pecah tetap sudah rusak," ucap sang ahli sambil menyerahkan gelang itu kepadanya. "Mau diperbaiki gimana pun, retaknya nggak pernah hilang. Tapi aku sudah berusaha semampuku."
Claire menatap gelang di tangannya. Retakan-retakan halus membelah permukaan yang dulunya sempurna. Hatinya terasa pilu, tapi dia tetap membungkuk dalam-dalam sambil berkata, "Aku mengerti, Pak. Bisa diperbaiki sampai sejauh ini saja sudah luar biasa. Terima kasih banyak!"
Claire membawa kotak berisi gelang itu keluar dari ruang kerja dengan hati-hati. Namun saat menuruni tangga, dia berpapasan dengan orang yang paling tidak ingin dia temui.
"Claire, kebetulan sekali! Kamu juga datang beli perhiasan ya?" Amber menyapa sambil tersenyum manis.
Claire tidak berniat menjawab. Dia hanya memalingkan wajah dan hendak segera berjalan turun. Namun tepat saat mereka berpapasan, Amber tiba-tiba mendorongnya keras. Terdengar dua suara jeritan yang menggema di seluruh ruang pamer perhiasan.
Saat Julian bergegas datang, dia melihat dua wanita tergeletak di lantai.
Wajah Claire penuh memar, lututnya berdarah deras hingga membasahi lantai. Sementara Amber tampak tidak mengalami luka serius, tetapi dia menangis tersedu-sedu hingga hampir kesulitan bernapas.
"Claire, aku tahu kamu benci aku. Aku juga sedih sekali waktu gelangmu pecah. Hari ini aku datang khusus untuk beliin hadiah sebagai permintaan maaf. Tapi kenapa kamu malah dorong aku dari tangga? Kamu mau bunuh aku, ya?"
Claire masih terdiam, kepalanya berdengung hebat. Namun sebelum dia sempat berkata sepatah kata pun, tatapan Julian sudah berubah menjadi tajam dan penuh kebencian.
"Claire, kenapa kamu bisa sekejam ini? Kalau sampai terjadi apa-apa sama Amber, aku bersumpah kamu akan menanggung akibatnya!"
Peringatan Julian menghantam telinga Claire seperti petir. Dia melewati Claire dengan tatapan jijik, lalu langsung menggendong Amber dan pergi ke rumah sakit tanpa menoleh sedikit pun.
Claire menunduk menatap tubuhnya yang penuh luka. Namun entah mengapa, dia sudah tidak bisa merasakan rasa sakit itu lagi. Sambil menangis dan tertawa, dia berusaha menghibur dirinya sendiri.
'Benar juga, saat hati sudah terluka terlalu dalam, luka di tubuh juga tidak akan terasa sakit lagi.'
Tubuhnya yang penuh luka ini sepertinya memang sudah tidak layak untuk disayangi lagi.
Bab 9
Claire dibawa ke rumah sakit oleh pegawai toko perhiasan dan kebetulan, itu adalah rumah sakit tempat dia pernah bekerja. Kakinya terluka, jadi dia dirawat di bagian ortopedi yang sama seperti Julian dulu. Di sanalah dia bertemu kembali dengan mantan mentornya, Dokter Farhan.
Setelah lukanya dibalut dengan baik, Farhan bertanya dengan khawatir, "Bagaimana rasanya sekarang? Masih sakit? Suamimu ke mana? Kamu dirawat di rumah sakit tapi dia nggak temani?"
Claire tersenyum kikuk. "Nggak apa-apa, Guru. Aku bisa jaga diri sendiri."
Farhan langsung memahami. Menikah dengan keluarga kaya memang terdengar mewah, tapi kegetirannya hanya bisa dirasakan oleh orang yang menjalaninya.
Dia menepuk bahu Claire dengan lembut dan menenangkan, "Nggak apa-apa. Kalau memang harus mulai dari awal lagi, kembalilah ke rumah sakit ini. Tempat ini akan selalu menyambutmu."
Hati Claire terasa hangat. "Terima kasih, Guru. Aku sudah terlalu lama menjauh dari dunia medis. Tapi kalau nanti aku bisa mengejar lagi, aku pasti akan kembali."
Farhan mengangguk puas. "Kamu punya niat seperti itu saja sudah bagus. Jadi dokter memang harus terus mengasah diri."
"Oh iya, kamu mungkin belum tahu. Penyakit ibumu yang dulu itu, sekarang sudah ada cara pengobatannya. Kalau saja ibumu bisa bertahan beberapa tahun lagi, kamu nggak harus menanggung semuanya sendirian seperti sekarang."
Claire tertegun cukup lama sebelum akhirnya berkata, "Guru, maksudmu ... dengan kondisi medis saat itu, penyakit ibuku memang belum bisa disembuhkan?"
"Iya. Bukankah waktu itu aku sudah bilang? Dari waktu penyakitnya muncul sampai akhir hayat, paling lama hanya tiga bulan."
"Oh, aku ingat sekarang. Waktu itu aku bukan ngomong ke kamu, tapi ngomong ke seorang wanita. Katanya dia keluargamu. Dia takut kamu nggak bisa menerimanya, jadi dia akan sampaikan dengan lebih halus."
Seketika, pikiran Claire langsung menjadi syok.
Dia tidak punya kerabat lain. Satu-satunya kemungkinan wanita yang muncul di rumah sakit waktu itu adalah Lorraine.
Dia sudah tahu bahwa penyakit ibu Claire tidak bisa disembuhkan, tapi tetap menawarkan 10 miliar sebagai biaya pengobatan ibunya. Dengan demikian, dia bisa menukarkan kebebasan Claire agar tetap tinggal di sisi Julian.
Kepergian ibunya memang sudah berada dalam perkiraan Lorraine. Sementara Claire, karena terharu atas bantuan yang diberikan Lorraine di saat paling sulit dalam hidupnya, memilih untuk tetap berada di sisi Julian.
Demi membangkitkan semangat putranya, Lorraine mengorbankan tiga tahun terbaik Claire. Tiga tahun penuh pengabdian dan ketulusan, yang pada akhirnya hanya berujung pada nasib seburuk ini.
Claire tidak sempat memperhatikan keterkejutan di wajah Farhan. Dia menutupi wajahnya dengan tangan, lalu menangis tersedu-sedu.
"Tiga tahun ... Tiga tahun hidupku yang seperti lelucon! Aku benar-benar bodoh, terlalu bodoh!"
Claire memukul dirinya sendiri seperti orang kehilangan akal, membuat Farhan panik. Akhirnya, dia terpaksa menyuntikkan obat penenang agar Claire bisa tertidur.
Setelah bangun, Claire tampak setenang boneka yang kehilangan jiwanya. Dengan kaki yang masih terluka, dia menyeret tubuhnya untuk mengurus surat keluar rumah sakit.
Begitu berbalik, dia melihat Julian tengah membantu Amber berjalan di koridor rumah sakit dengan penuh perhatian dan kasih sayang terpancar dari sorot matanya.
Claire tidak menoleh sedikit pun. Dia terus berjalan lurus, hingga berpapasan dengan mereka. Namun tepat saat itu, Julian mencengkeram bahunya. "Bisa-bisanya kamu berjalan melewati Amber begitu saja dengan tenang? Claire, minta maaf sama Amber!"
Menghadapi teriakan Julian, Claire hanya menggeleng pelan dengan tenang. "Aku nggak mendorongnya. Jadi, aku nggak akan minta maaf."
Mendengar itu, Amber langsung menangis tersedu-sedu. "Julian, jangan marahi Claire. Mungkin dia juga nggak sengaja ...."
Julian mendorong Claire ke dinding dengan kasar, matanya nyaris menyemburkan api amarah. Dengan suara penuh tekanan, dia menggertaknya, "Claire, kalau kamu nggak minta maaf sama Amber, jangan harap bisa pulang!"
"Kenapa kamu jadi nggak tahu diri begini? Aku ingin lihat, seorang perempuan tanpa rumah sepertimu, sampai kapan baru bisa sadar!"
Claire hanya tersenyum pahit.
Ternyata, Julian memang tahu bahwa Claire sudah tidak punya tempat untuk pulang. Namun, apakah dia juga tahu, bahwa semua itu adalah akibat dari dirinya sendiri?
Kali ini, Claire tidak lagi menangis lemah seperti dulu. Tatapannya pada Julian penuh dengan kebencian yang meluap-luap. Julian tertegun melihat mata Claire yang penuh dendam seperti itu. Dia belum pernah melihat sisi Claire yang seperti ini.
Dalam keterkejutannya, Claire tiba-tiba mendorong Julian dengan keras, lalu meninggalkan rumah sakit dengan langkah pincang.
Dengan tubuh penuh luka, dia memaksakan diri menuju bandara. Dia memilih untuk pergi meninggalkan kota ini untuk selamanya.
Sebelum berangkat, Claire mengirimkan surat cerai milik Julian lewat jasa ekspedisi.
Melihat nama yang pernah disebutnya ribuan kali di lembar pengiriman, kini hanya sebuah kalimat yang tersisa dalam benaknya. "Julian, selamat tinggal untuk selamanya."