Tak Dianggap Oleh Suami dan Anakku

Đang tải thông tin quảng bá...

Tak Dianggap Oleh Suami dan Anakku

GoodNovel Hoàn thành

Malam tahun baru, saat suaminya membawa anak mereka menemani sang cinta pertama menonton kembang api, Chloe akhirnya memutuskan untuk bercerai. Lima tahun pernikahan, semua orang selalu iri padanya. P...

Chương (1)

第1章

Malam tahun baru, saat suaminya membawa anak mereka menemani sang cinta pertama menonton kembang api, Chloe akhirnya memutuskan untuk bercerai. Lima tahun pernikahan, semua orang selalu iri padanya. Punya suami yang terlihat begitu menyayanginya dan seorang anak laki-laki yang pintar dan menggemaskan. Namun, hanya dia yang tahu, suaminya tak pernah bisa melupakan cinta pertamanya. Bahkan anak yang dia lahirkan dengan taruhan nyawa, kini tak sabar ingin mengganti ibu. Chloe memilih merelakan mereka. Suami yang hatinya tak pernah bisa dia hangatkan dan anak yang tak lagi menganggapnya penting, semua itu akan dia lepaskan! Bab 1 Prok ... prok ... prok .... Suara kembang api dari luar jendela membuat Chloe tersadar. Dia mengelus surat perjanjian cerai di tangannya, mengambil pena, dan perlahan menandatangani namanya. Hari ini adalah malam tahun baru, tetapi suami dan anaknya tidak pulang. Saat ini, suaminya, Luther, mengirim pesan. [ Aku sedang menemani klien di luar. Aku suruh sekretaris jaga Raiden. Setelah makan, aku bawa dia lihat kembang api. Kamu tidur duluan saja, jangan tunggu kami. ] Chloe menarik sudut bibir, menampilkan senyuman mengejek. Klien seperti apa yang ditemani Luther? Siapa yang menemaninya melihat kembang api bersama Raiden? Tanpa perlu bertanya atau mencari tahu, dia sangat yakin ayah dan anak itu sedang bersama Monica. Chloe menatap foto keluarga besar yang tergantung di ruang tamu. Dalam foto itu, Luther menggendong Raiden, merangkul pinggangnya. Satu mencium pipinya, satu lagi mencium keningnya. Mereka penuh dengan kebahagiaan. Raiden tertawa lepas, bahkan Luther yang biasanya selalu serius pun tampak hangat. Siapa pun yang melihat akan mengira mereka adalah keluarga bahagia. Namun, sejak Monica kembali, semuanya berubah. Saat kembang api meledak di langit, ponselnya bergetar. Sebuah video masuk. Dalam video, Monica merekam sosok belakang Luther dan Raiden, satu besar satu kecil. Cincin berlian di tangan Monica berkilau menyilaukan. Ketiganya serempak berseru, "Selamat tahun baru!" Pria itu menoleh, matanya penuh kelembutan. Dengan suara rendah, dia berkata kepada Monica, "Mulai sekarang, aku nggak akan pernah melewatkan tahun baru bersamamu lagi." Kelembutan seperti ini tak pernah Chloe dapatkan. Bahkan di masa dua tahun penuh cinta mereka, saat merayakan ulang tahun pernikahan atau tahun baru, Luther hanya menempelkan kecupan hambar di keningnya disertai ucapan seadanya. "Terima kasih." Chloe selalu merasa Luther seperti es yang tak pernah bisa dihangatkan. Baru setelah melihat Monica, dia tahu pria itu hanya menampilkan sisi hangatnya kepada Monica. Chloe menutup video. Bersamaan dengan kembang api terakhir meredup, dia mengirim pesan kepada Luther. [ Cepat pulang. Besok kita harus ziarah. ] Ini akan menjadi terakhir kalinya dia berbakti kepada orang tua Luther. Sebulan lagi, mereka akan menjadi orang asing. Pernikahan konyol dan sepihak ini harus berakhir. Tak tahu berapa lama, pintu depan terbuka. Luther tampak terkejut melihat Chloe masih duduk di ruang tamu. Matanya melirik meja makan yang penuh hidangan, tetapi wajahnya tetap datar. "Tahun baru pun nggak bisa tenang, sial sekali." Sebuah suara nyaring memaki dengan kesal. Raiden masuk, sengaja menendang sepatunya hingga berserakan, langkah kakinya pun terdengar keras. Chloe mengingatkan, "Sudah malam, jangan berisik." Anak itu semakin marah dan berteriak, "Jangan ikut campur! Dasar nenek sihir!" Tatapannya menuruni tangan kanan Chloe, lalu menampilkan ekspresi jijik. "Nenek sihir yang cuma punya tiga jari!" Chloe refleks menarik tangan kanannya. Tangan yang kehilangan jari manis dan kelingking itu tampak bergetar hebat. Meskipun sudah bertekad meninggalkan mereka, kata-kata kejam anak itu tetap menghantam dadanya. Untuk sesaat, dia sulit bernapas. Adapun Luther, dari awal sampai akhir, dia tak menghentikan. Dia membiarkan anak yang dikandung Chloe selama sembilan bulan dan yang dilahirkan dengan taruhan nyawa itu, menyerang dan menghina ibunya. Brak! Raiden membanting pintu kamar dengan keras. Baru saat itu, Luther berjalan masuk perlahan dan menegur, "Hari ini semua orang merayakan tahun baru dan bersenang-senang, siapa peduli soal suara? Kamu ini lebai. Pantas saja Raiden nggak suka kamu." Chloe menampilkan senyuman dingin. "Gimana kalau ada orang di bawah sini yang sendirian di rumah dan ingin tidur lebih awal?" Ucapannya mengingatkan Luther. Dia melirik sekilas meja penuh makanan, rasa bersalah sempat melintas di wajahnya. Chloe melanjutkan dengan nada datar, "Soal Raiden, bukankah karena ada yang selalu menjelekkanku di depannya, mengajarinya untuk membenciku?" Gerakan pria itu mendadak berhenti. Rasa bersalah seketika hilang, alisnya berkerut, suaranya tajam. "Maksudmu Monica? Aku sudah berniat baik pulang menemanimu, tapi begini balasanmu?" Chloe memandang wajah marahnya, hanya merasa semua ini konyol. Tanpa berkata, dia berbalik, mengambil surat perjanjian cerai yang sudah ditandatanganinya, lalu masuk ke ruang baju yang menjadi kamar tidurnya. Raiden melarangnya tinggal di kamar mana pun dan Luther membiarkannya begitu saja. Ruang kecil ini, tempat dia menyimpan pakaian, menjadi satu-satunya tempat yang aman baginya. Saat pintu tertutup, terdengar suara piring pecah di luar. Chloe mengunci pintu dengan wajah datar, berpura-pura tak mendengar. Dia tidak akan memanjakan mereka lagi. Bagaimanapun, dia tak punya alasan untuk terus menoleransi orang asing. Bab 2 Keesokan paginya, Chloe sudah bangun lebih awal, mencuci muka, dan mengenakan setelan hitam yang dia temukan di lemari. Melihat wajahnya yang tampak pucat dan lelah di cermin, rasanya memang cocok untuk pergi berziarah. Begitu melangkah ke ruang tamu, Raiden berdecak, mengambil mangkuk yang belum habis dimakan, dan sengaja menabraknya. Sup tumpah membasahi pakaiannya, disertai ejekan kejam. "Jijik banget." Chloe menatap anak yang dulu manis dan penurut, kini berubah menjadi sosok kasar dan tak punya sopan santun. Hatinya terasa perih dan sedih. Dulu, demi mencarikan guru terbaik untuk Raiden, dia rela hujan-hujanan mendatangi rumah orang, bahkan demam sampai tiga hari tiga malam. Dia mengira itu akan membuat Raiden tumbuh menjadi orang yang benar. Siapa sangka, semua jerih payahnya kalah oleh beberapa hasutan dari Monica. Chloe langsung meraih lengan Raiden yang hendak pergi dengan wajah puas, lalu berucap dengan dingin, "Minta maaf." Raiden belum pernah melihat wajahnya sedingin ini. Dia sempat terkejut. Namun setelah sadar, dia marah besar. "Aku nggak mau minta maaf! Di zaman dulu, orang kayak kamu bakal dibakar hidup-hidup!" Plak! Suara tamparan nyaring terdengar. Raiden menatap tak percaya sambil memegang pipinya yang memerah. "Kamu berani tampar aku?" Luther segera maju, melindungi Raiden di belakangnya, membentak dengan marah, "Kenapa kamu tampar dia?" Chloe menarik tangannya, mengibaskan dengan santai. "Aku ibunya. Mendidik anak itu tugasku." Tanpa pikir panjang, Luther membentak lagi, "Aku nggak butuh kamu mendidiknya!" Heh. Chloe tertawa mencela dalam hati, lalu menjawab dengan datar, "Tenang saja. Sebentar lagi aku memang nggak akan urus dia lagi." Sikapnya begitu tenang, nada suaranya datar, benar-benar berbeda dari biasanya. Luther refleks bertanya, "Apa maksudmu?" Chloe tidak menjawab, hanya mengingatkan, "Kita harus berangkat." Sepanjang jalan, Chloe duduk di kursi belakang, diam seperti penumpang asing. Luther beberapa kali mengintip lewat kaca spion, semakin yakin kalau kali ini istrinya benar-benar marah. Kalau dulu, semalam saat dia memecahkan piring di rumah, Chloe pasti sudah keluar. Paling tidak, pagi ini dia akan berusaha berdamai. Namun, hari ini Chloe tidak menyadari bahwa mereka tidak menghabiskan makanan mereka semalam, bahkan menampar Raiden. Luther teringat pemandangan semalam ketika membuka pintu, melihat Chloe sendirian. Setelah berpikir, dia mengambil sebuah kotak dari laci dasbor. Saat lampu merah, dia melemparkan kotak itu ke kursi belakang. Chloe yang sedang memejamkan mata tiba-tiba terkena lemparan. Dia langsung bertanya, "Kamu gila ya?" Enam tahun menikah, dia sudah cukup menahan sikap Luther. Perilaku tidak menghormati seperti ini sudah cukup baginya. Wajah Luther berubah masam. "Itu hadiah ulang tahun pernikahan untukmu. Kamu bilang aku gila? Kemarin kamu kirim pesan soal ziarah, hari ini pasang muka kayak orang mau mati, bukannya cuma mau aku minta maaf? Sekarang aku sudah minta maaf, apa lagi yang kamu mau?" Lampu hijau menyala, dia terpaksa menutup mulut dan terus mengemudi. Chloe menatapnya lewat kaca spion, melihat ekspresi kesalnya. Kenapa pria ini kesal? Apa dirinya pernah menyuruhnya meminta maaf? Kenapa setiap kali selalu menuduhnya, lalu memarahinya? Chloe menunduk, tidak ingin memperpanjang masalah. Dengan satu tangan, dia membuka kotak itu. Di dalamnya ada sebuah cincin berlian yang berkilau, tetapi modelnya sangat biasa. Dia mengenali cincin ini, model gagal dari TR. Sederhananya, cincin ini adalah produk yang dihentikan peredarannya. Bahkan kalau dilempar di jalan pun tidak ada yang mau memungut. Sementara itu, cincin yang dikenakan Monica di video kemarin adalah seri terbaru TR, satu-satunya di dunia, melambangkan cinta abadi. Baru sekarang Chloe sadar. Selama lima tahun ini, perubahan sikap Luther, emosi yang naik turun, bukan karena sibuk bekerja, bukan karena tekanan besar. Dia tidak pernah memberi hadiah juga bukan karena karakternya tidak romantis seperti yang selalu dibilang. Namun, karena dia tidak mencintai Chloe. Sesederhana itu. Plak. Chloe menutup kotak cincin itu, lalu melemparkannya kembali ke kursi. Karena ini cuma cincin gagal, dia tidak akan memakainya. Ketika jarak ke pemakaman tinggal lima kilometer, ponsel Luther mendadak berdering. Dia bahkan tidak melihat layar, langsung menepi. Jelas, dia sangat mengenali nada dering ini. Tanpa sungkan di depan Chloe, dia mengangkat panggilan itu. "Sekarang? Tapi aku hari ini ...." Entah apa yang dikatakan lawan bicara. Ekspresi dingin Luther seketika melunak, suaranya menjadi lembut. "Oke, oke. Aku segera datang." Dia juga bisa selembut ini? Benar-benar aneh. Chloe menyilangkan tangan, menunggu Luther mengucapkan sesuatu yang tidak masuk akal. Seperti dugaan, setelah menutup telepon, pria itu berbalik. "Aku ada urusan mendadak di kantor. Kamu ziarah sendiri ya." Chloe jelas melihat nama di layar ponsel. Monica. Demi seorang wanita, dia rela tidak berziarah ke makam orang tuanya. Luar biasa sekali pengorbanannya. Tatapan Chloe penuh sindiran yang tak dia sembunyikan. "Kamu mau tinggalin aku di tempat terpencil begini, lalu aku harus jalan kaki naik gunung untuk ziarah ke makam orang tuamu?" "Luther, di bawah batu nisan itu, yang dikubur adalah orang tuamu. Memangnya ada urusan kantor yang lebih penting dari mereka, di hari pertama tahun baru ini?" Bab 3 Luther tersentak oleh kata-kata tajam Chloe. Dia memperingatkan, "Mereka juga orang tuamu sekarang. Apa begitu sulit membantuku membersihkan makam mereka? Kamu sudah dewasa, masa nggak bisa naik taksi sendiri?" Dulu meskipun Luther suka bersikap dingin, dia tak pernah seperti ini. Sekalipun kesal, dia tetap akan mengutamakan keselamatan Chloe. Chloe tidak lagi berdebat, langsung membuka pintu dan turun. Brak! Pintu mobil tertutup dengan keras, penuh emosi. Luther bahkan tidak ragu sedetik pun, langsung memutar balik mobil dan pergi. Asap knalpot pun mengepul ke wajah Chloe. Hampir bersamaan, ponsel Chloe bergetar. Itu adalah pesan dari Monica. [ Mengalahkanmu terlalu mudah. ] Tiga kata yang membuat Chloe muak. Dia menggulir ke atas. Semua isi percakapan adalah provokasi dari Monica. Chloe tak pernah membalas. Dulu, dia terlalu marah sampai menangis berhari-hari, tak punya tenaga untuk menanggapi. Sekarang dia sudah bebas. Setelah berpikir sejenak, dia mengetik. [ Kalau begitu, aku doakan pernikahan kalian bahagia nanti. ] Dia sangat tahu, sebulan lagi ketika perjanjian cerai berlaku, Luther pasti segera menikahi Monica. Ucapan ini tulus dari lubuk hatinya. Dia tulus berharap mereka menikah, tulus berharap rumah tangga mereka hancur lebur. Monica langsung terpancing, membalas dengan marah. [ Dasar perempuan murahan nggak tahu malu! Kalau bukan karena kamu, aku sudah menikah dengannya! ] [ Kamu kira dia suka sama kamu? Jangan terlalu percaya diri. Kamu tahu nggak, setiap hari Raiden bilang mau bakar kamu hidup-hidup, biar aku jadi mamanya! ] Pesan terakhir membuat Chloe terdiam. Bagaimana bisa seorang anak kecil berkata sekejam itu? Namun, perasaan sedih itu segera menguap. Sebentar lagi, Raiden memang bukan anaknya lagi. Chloe mengaktifkan mode diam, lalu mematikan ponsel. Setelah berjalan satu jam, dia akhirnya sampai di gerbang pemakaman. Petugas yang berjaga sudah mengenalnya. Jarang sekali ada yang berziarah di hari pertama tahun baru. Sambil mencatat, petugas melirik ke belakangnya. "Hari ini sendirian?" "Ya." Chloe tidak banyak bicara, mengambil bunga, lalu berjalan menuju makam. Foto pasangan suami istri di batu nisan tampak muda. Tidak ada yang menyangka mereka akan mengalami kecelakaan. Saat itu, Chloe baru pertama kali bertemu Luther dalam acara perjodohan. Luther bahkan membawa Monica sebagai bentuk perlawanan diam-diam. Ayah Luther menyetir, ibunya duduk di depan, berusaha mencairkan suasana. Chloe duduk di dekat jendela, Monica di tengah. Mungkin karena terlalu sibuk menghidupkan suasana, ayah Luther tidak melihat truk besar yang tiba-tiba muncul di tikungan. Benturan keras terjadi sekejap. Chloe hanya sempat menarik Luther agar menjauh dari sisi truk. Akan tetapi, potongan besi yang menembus kaca langsung memotong jari manis dan kelingkingnya. Setelah itu, dia pingsan. Saat bangun, dia melihat Luther menangis sampai wajahnya bengkak, menatapnya dengan benci, dan berkata dengan terpaksa, "Kita ambil akta nikah sekarang juga." Entah kenapa Monica pergi. Dalam waktu lama, Luther selalu menyalahkan kematian orang tuanya pada Chloe. Namun, waktu terus berjalan, jarak mereka sempat menipis, bahkan menikmati dua tahun indah bersama. Hingga kemudian .... Chloe menarik napas panjang, meletakkan bunga di depan makam. Suaranya parau saat berujar, "Ayah, Ibu, ini terakhir kalinya aku memanggil kalian begitu. Aku sudah lelah mendampingi Luther. Sekarang wanita yang dia cintai sudah kembali, semoga dia bahagia. Kalian jangan khawatir." "Hari ini dia nggak bisa datang. Tapi mulai tahun depan, aku tetap akan datang setiap tahun." Dia tidak tahu harus berbicara apa lagi, hanya duduk terdiam. Angin berembus, menjatuhkan kelopak bunga ke wajahnya, seakan-akan mereka pun menghela napas untuknya. Chloe bertahan sampai siang, makan seadanya bersama petugas, lalu berjalan pulang. Baru setengah jalan, langit mendadak gelap, hujan deras mengguyur tanpa ampun. Dia ingin memesan taksi, tapi antreannya sampai ratusan orang. Jalan sepi, tak ada satu pun sosok, bahkan pohon untuk berteduh pun tidak ada. Chloe memaksakan diri, terus berjalan di tengah hujan. Empat jam kemudian, dia akhirnya sampai di pusat kota. Pantulan kaca menunjukkan penampilannya yang kacau. Bajunya basah kuyup, rambutnya menempel di kulit kepala, wajahnya tanpa cahaya. Siapa pun yang melihat akan mengira dirinya adalah gelandangan. Saat hendak mengalihkan pandangan, matanya terpaku pada sosok di balik kaca. Kebetulan sekali. Di dalam restoran, Luther duduk bersama Raiden dan Monica, bercakap hangat, seperti keluarga kecil yang sempurna. Sementara itu, dia seperti pengemis tanpa rumah. Barulah Chloe sadar, setelah Luther pergi tadi, pria ini sama sekali tidak meneleponnya. Dia lantas mengeluarkan ponsel yang sudah basah kuyup, tetap keras kepala menekan nomor itu. Panggilan tersambung. Di dalam, Luther menoleh, melihat nama penelepon. Alisnya berkerut dengan jijik, lalu menolak panggilan tanpa ragu. Chloe menatap layar yang berubah ke tampilan utama, lalu mendadak mati. Dia menekan berulang kali, tetapi tidak menyala lagi. Seperti hati Luther, seberapa pun dia berusaha menghangatkannya, tetap dingin. Chloe menatap ponsel untuk waktu yang lama, mencabut kartu SIM, lalu melemparkan ponsel itu ke tong sampah. Kemudian, dia berjalan perlahan menuju rumah sendirian. Bab 4 Pukul 10 malam, Chloe berbaring di bawah selimut, membungkus dirinya rapat-rapat, tetapi tetap tak bisa menahan rasa dingin yang menjalar ke seluruh tubuh. Kepalanya terasa berat, pandangannya berkunang-kunang, tubuhnya panas dingin. Dia tidak tahu kapan tertidur, juga tidak tahu kapan terbangun. Chloe bangkit dengan langkah goyah, ingin menuangkan air panas untuk dirinya sendiri. Namun, tangannya melemas. Teko air panas jatuh menghantam lantai, air mendidih memercik mengenai kakinya. Rasa perih yang menusuk membuatnya sedikit sadar. Dia refleks masuk ke kamar mandi untuk menyiram air dingin. Baru saja memutar kran, tiba-tiba kepalanya berputar hebat dan tubuhnya jatuh terjerembap ke dalam bak mandi. Dalam kesadaran yang memudar, pikiran terakhirnya adalah apakah dirinya akan mati di sini? Ternyata Tuhan masih mengasihinya. Saat Chloe terbangun di rumah sakit, dia merasakan kelegaan sekaligus rasa syukur karena masih hidup. Namun, Tuhan tidak terlalu berbaik hati padanya karena orang pertama yang dia lihat adalah Luther. Pria itu berdiri di ambang pintu dengan wajah kelam, seakan-akan menyimpan bara amarah. Luther melangkah cepat ke sisi tempat tidurnya. Tanpa peduli wajah pucat Chloe, pria itu langsung mencengkeram kerah bajunya dan menghardik dengan suara keras, "Kamu gila ya? Drama kasihan biasa nggak mempan, sekarang pakai cara ekstrem begini buat cari perhatianku?" "Uhuk ... uhuk ...." Chloe yang baru saja siuman dan belum pulih total pun tersentak oleh cengkeramannya hingga batuk hebat. Dia batuk sampai bibirnya memucat dan matanya memerah. Namun, Luther mengira dia hanya berpura-pura sehingga menghardik lebih keras, "Jangan pakai trik murahan ini! Kamu bisa tipu orang tuaku, tapi nggak bisa tipu aku!" Setelah batuk mereda, Chloe menarik napas dengan susah payah, menepis tangan Luther. Kemudian, dengan wajah pucat, dia berkata pelan, satu demi satu kata, "Aku bukan cari perhatian. Semalam aku jalan kaki empat jam dari pemakaman, kehujanan, demam, dan jatuh karena kehabisan tenaga." "Kalau bisa memilih, aku lebih rela kamu nggak memberiku perhatian apa pun untuk seumur hidup." Dia sudah cukup menderita untuk pria ini. Luther tertegun, melepaskan genggamannya, bertanya dengan ragu, "Kamu ... jalan kaki pulang?" Untuk apa membahas itu sekarang? Chloe merapikan kerah bajunya, berbaring kembali, menarik selimut menutupi tubuhnya. Tak lama kemudian, Raiden masuk sambil berteriak, "Papa! Ngapain lama-lama sama si nenek sihir? Bibi Monica sudah nunggu lama!" Dia melotot ke arah Chloe seolah-olah Chloe adalah pengganggu keluarga mereka. "Sekarang teknologi canggih, nggak bisa pesan taksi? Pasti pura-pura, 'kan? Aku sering lihat di TV, orang kayak kamu sangat menjijikkan!" Luther sempat merasa ucapan itu berlebihan, tetapi demi menghindari rasa bersalah yang menyeruak, dia memilih percaya dan tertawa dingin. "Chloe, aku sudah meremehkanmu." Saat ini, Monica muncul, bersandar di pintu sambil berkata dengan lemah, "Luther, aku pulang dulu saja. Sepertinya kondisi Chloe parah banget ...." Belum sempat lanjut, tubuhnya oleng ke samping. Luther langsung menyerbu ke arahnya, menahan tubuh Monica dengan wajah penuh kecemasan. "Kalau pusing, duduk saja. Aku cuma lihat sebentar, lalu pergi." "Heh." Chloe terkekeh-kekeh. Ternyata Luther bukan datang untuk menjenguknya. Monica kembali bersandiwara. "Nggak apa-apa, kamu urus Chloe saja ... eh!" Dia terkejut karena Luther tiba-tiba menggendongnya. Saat pergi, Luther hanya melontarkan kalimat dingin, "Berhenti lakukan hal yang sia-sia." Raiden mengikuti sambil menjulurkan lidah dan membuat wajah mengejek. Seorang perawat masuk untuk mengganti perban Chloe, memandang dengan iri. "Itu kakak dan kakak iparmu ya? Kompak sekali." Chloe menjawab dengan nada datar, "Itu suami dan anakku, bersama cinta pertamanya." Perawat terdiam, lalu mendadak marah. "Pantas saja kelakuan cewek itu lebai. Nggak sakit serius, tapi periksa ini itu. Cuma cari perhatian!" Emosi perawat yang tiba-tiba meledak justru membuat Chloe agak lega, bahkan tersenyum tulus untuk pertama kalinya dalam setahun ini. Untungnya, cederanya tidak parah. Setelah seminggu, dokter mengizinkannya pulang. Hari itu, tak ada yang menjemputnya. Chloe menatap langit biru dengan awan putih, merasakan semilir angin di wajahnya. Belum pernah dia merasa sebebas ini, seolah-olah dia hidup kembali. Dia berjalan sendirian di jalanan rindang, langkahnya semakin cepat, hingga akhirnya berlari kecil. Ternyata, melepaskan beban hati terasa sebebas ini. Sesampainya di rumah, pintu terbuka. Teko yang jatuh itu masih tergeletak di lantai, seolah-olah menunjukkan betapa paniknya situasi saat dia diselamatkan hari itu. Namun, ini juga menunjukkan bahwa Luther tidak pernah pulang sekali pun. Namun, dia tidak merasakan apa-apa. Dia langsung masuk ke ruang pakaian, mengemasi baju-baju baru yang masih berlabel dan boneka-bonekanya. Kalau bukan karena tetangga yang menolong memanggil ambulans, mungkin dia sudah mati di rumah ini. Dia mengemas baju, boneka, dan peralatan dapur yang belum pernah dipakai. Totalnya ada tiga kotak besar. Setelah berbicara dengan tetangga, tetangganya setuju menyimpannya. Ruang pakaian kini kosong, hanya tersisa satu mantel dan beberapa baju yang dipakai sehari-hari. Matanya menyapu sekeliling, lalu dia membuka sebuah laci tersembunyi dan mengeluarkan sebuah buku berisi desain. Dulu sebelum menjadi istri Luther, dia adalah desainer perhiasan yang cukup terkenal. Semua itu dia tinggalkan demi pria itu. Nanti saat pergi, dia akan membawa mimpinya sendiri. Ketika sedang berkemas, tiba-tiba terdengar suara Luther dari pintu. "Chloe?" Bab 5 Ekspresi Chloe mendadak menjadi dingin. Pria ini benar-benar tahu caranya merusak suasana. Dengan langkah tergesa-gesa, Luther berjalan menuju pintu ruang pakaian. Begitu melihat keadaan di dalam yang sudah nyaris kosong, kata-kata yang siap keluar justru tersangkut di tenggorokannya. Sebaliknya, dia tertawa sinis. "Bagus, bagus. Sekarang punya trik baru ya? Keluar dari rumah sakit nggak kasih kabar, mau bikin aku merasa bersalah?" "Sekarang beres-beres kamar, mau kabur dari rumah? Kamu pikir umurmu 3 tahun? Kalau dikasih hati, jangan minta jantung. Jangan kekanak-kanakan begini!" Chloe belum melakukan apa-apa, tetapi sudah disemprot habis-habisan. Dia menatap Luther datar, lalu balik bertanya dengan tenang, "Sudah selesai ngomongnya?" Tiga kata itu langsung membungkam Luther. Dia menatap Chloe dengan tidak percaya, tiba-tiba merasa wanita ini berubah banyak. Bahkan waktu di rumah sakit saat melihat Monica, dia tidak bereaksi sedikit pun, seolah-olah tak peduli. Padahal dulu setiap Luther berinteraksi dengan wanita lain, Chloe pasti akan bertanya. Mereka bahkan pernah bertengkar hebat gara-gara Monica. Namun sekarang? Wanita ini sangat tenang. Tidak mungkin. Ini pasti trik untuk menarik perhatiannya! Tatapan Luther berubah jijik. Dia berkata dengan dingin, "Chloe, kamu sudah berubah. Dulu meskipun nyebelin, kamu masih punya sisi manis. Sekarang? Sama sekali nggak ada." Chloe tetap menatapnya tanpa ekspresi. Dia bertanya, "Sisi manis yang kamu maksud itu waktu aku rela menerima semua pengkhianatanmu tanpa batas?" "Lihat, 'kan? Kamu masih ngambek! Padahal sudah lebih dari seminggu! Kamu ini pendendam sekali ya!" Luther seakan-akan menemukan bukti kuat sehingga nadanya menjadi percaya diri. Namun, kali ini Chloe tidak menanggapi. Dia menunduk, melanjutkan membereskan buku desainnya. Luther merasa dirinya sudah menemukan cara menekan, jadi mendengus sinis. "Ya sudah, selesaikan ngambekmu dulu. Beberapa hari ini aku nggak akan pulang." Dia benar-benar membuktikan ucapannya. Selama seminggu penuh, dia tak pulang. Sementara itu, Chloe justru merasa lega. Dia pelan-pelan menyelesaikan semua urusannya. Hingga festival lampion, rumah yang dulu penuh kini tinggal satu set sofa dan satu kursi gantung. Kebetulan, semuanya adalah model yang pernah dipamerkan oleh Monica. Sejak ponselnya rusak waktu itu, Chloe belum membeli yang baru. Dia berniat menahan diri sampai dua minggu ini untuk menyambut awal yang baru. Hari ini, dia membawa sekotak kecil barang ke bazar amal, sengaja memilih taman di luar kompleks agar tak bertemu orang yang dikenalnya. Saat sedang asyik berjualan, dari kejauhan tampak tiga sosok yang sangat familier berjalan mendekat. Monica pura-pura kaget. "Chloe, ngapain kamu di sini? Lagi jualan apa?" Luther awalnya mengernyit, mengira Chloe membuat ulah lagi. Namun, begitu tatapannya tertuju pada barang-barang di lapak, pupilnya langsung mengecil. "Chloe, ini barang-barang kita. Kok bisa kamu jual?" Raiden juga mengenali beberapa barang, langsung ingin merebut. "Ini mobil mainanku!" Sebelum dia sempat mengambil, Chloe lebih dulu menahan tangannya, tersenyum tipis. "Perlu aku luruskan, ini bukan punyamu. Ini mobil mainan yang aku beli." "Ini kaleidoskop yang aku beli, bingkai foto berhiaskan kristal ini juga aku yang beli ...." Dia menyebut satu per satu, lalu menatap Luther. Suaranya pelan saat berkata, "Dulu kalian hina semua barang pembelianku ini, bilang seleraku kampungan. Jadi, apa salahnya dijual untuk amal?" Luther terpaku, seakan-akan tak mengenali wanita di depannya. Tiba-tiba, matanya menangkap sebuah bingkai besar. Tubuhnya menegang. "Itu bingkai untuk foto pernikahan, mana fotonya?" Chloe menoleh, pura-pura heran. "Memangnya ada? Bukannya dari dulu memang kosong?" "Chloe! Jangan keterlaluan ya!" Melihat Luther menaruh perhatian ke Chloe, hati Monica mendidih. Dia merangkul tangan Luther dengan manja, lalu berucap, "Chloe, jangan salah paham. Luther cuma nggak mau rumah tangga kalian hancur." Tak habis pikir, bagaimana bisa seorang pelakor berbicara seangkuh itu? Chloe sampai kagum pada ketebalan muka Monica. "Orang yang benar-benar nggak mau rumah tangganya hancur, nggak akan membiarkan wanita lain merangkul tangannya di depan istrinya." Begitu kata-kata itu dilontarkan, Luther seakan-akan tersengat dan buru-buru melepaskan tangan Monica. Chloe segera membereskan barang, melirik mereka dengan tatapan jijik. "Gara-gara kalian, daganganku berantakan. Silakan lanjut kencan kalian. Aku pindah tempat." Bab 6 Chloe memanggul satu tas besar dan pergi. Luther tidak mengejarnya. Chloe pun tidak berharap pria itu akan menyusul. Dengan Monica di sisinya, mana mungkin dia sempat memikirkan orang lain? Setelah Chloe selesai menjual barang-barangnya, langit sudah gelap. Malam ini adalah festival lampion. Semua rumah tampak meriah. Chloe tidak ingin membuat dirinya terlihat menyedihkan, jadi dia pergi ke sebuah bar yang sudah lama dia sukai, tetapi belum pernah dia datangi. Desain bar itu artistik. Pernah suatu kali Chloe membicarakannya kepada Luther, tetapi pria itu mengatakan tempat seperti itu bukanlah tempat untuk orang baik. Saat melangkah masuk, bar ini tidak seramai bar lain. Sebaliknya, dengan alunan musik pelan, suasananya justru romantis. Dia memilih kursi di sudut. Baru saja duduk, seorang pembawa acara naik ke panggung, menepuk mikrofon dan memberi isyarat agar tenang. "Malam ini, di hari yang istimewa ini, kami kedatangan tamu spesial. Mari kita sambut!" Diiringi tepuk tangan meriah, seseorang melangkah keluar dari balik tirai. Itu adalah wajah yang sangat dikenal Chloe. Dengan senyuman anggun, Monica menyapukan pandangan ke sekeliling. Saat melihat Chloe, dia sempat tertegun, lalu senyumannya semakin cerah. Dia menggenggam mikrofon dan berkata. "Halo semuanya, aku Monica. Setahun lalu aku adalah penyanyi tetap di sini. Di sini, aku bertemu dengan cinta sejatiku." Matanya menoleh ke arah Luther. Sorotan lampu pun mengikuti pandangan itu. Satu orang di panggung, satu lagi di bawah. Keduanya saling bertatapan seakan-akan mereka adalah pasangan paling romantis di dunia. Orang-orang di sekitar mulai bersorak, bahkan pembawa acara memanggil Luther untuk naik ke panggung. Raiden ikut bertepuk tangan, mendorong ayahnya untuk naik. Pria yang biasanya berwajah datar itu, kini justru tampak malu-malu dan sedikit tersipu. Chloe duduk di sudut, menyilangkan tangan, menatap suasana riuh di panggung dengan tenang. Dia adalah istri sah dengan akta nikah, tetapi kini seperti orang asing yang hanya menjadi saksi kebahagiaan mereka. "Luther, terima kasih karena dulu kamu menolongku. Sejak dulu, hatiku nggak pernah berubah." Mata Monica berkaca-kaca seakan-akan hendak menangis. Sorot mata Luther dipenuhi rasa iba. Dia mengangkat tangan, menghapus air mata di sudut mata. "Cium! Cium!" Sorakan menggema. Monica menatap Chloe dengan tatapan penuh kemenangan. Di hari yang seharusnya untuk kebersamaan ini, suami dan anaknya malah menerima cinta dari wanita lain di depan umum dengan terang-terangan. Membosankan. Chloe menunduk, meneguk habis isi gelasnya dalam sekali minum. Saat orang-orang bersorak merayakan cinta, dia berdiri dan berjalan ke luar. Di panggung, Luther yang sedang menatap Monica tiba-tiba teringat wajah Chloe tadi pagi. Entah kenapa, wajah itu penuh rasa muak kepadanya. Seketika, dia menangkap sosok yang sangat familier dari sudut mata. Chloe? Kenapa dia di sini? Bukankah sudah dibilang jangan datang ke tempat seperti ini? Saat sedang berpikir begitu, Luther melihat seorang pria asing yang mencurigakan mengikuti Chloe dari belakang. Tanpa berpikir panjang, dia turun dari panggung dan berlari ke luar. Sementara itu, Monica yang sedang larut dalam rasa puas dan sorotan, yakin kali ini dia pasti bisa membuat Luther takluk. Namun, pria itu tak kunjung memberi jawaban, seakan-akan sedang bimbang. Baru saja dia hendak mendesak, Luther sudah berlari pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Pria ini mau mengejar Chloe? Kenapa? Bukankah suasana di sini sangat romantis? Monica meradang, segera menyusul. Penonton pun heboh, tak tahu apa yang terjadi. Angin malam masih terasa dingin. Chloe merapatkan kerah mantelnya. Segelas alkohol tadi membuat perutnya panas dan kepalanya agak pusing. Belum berjalan jauh, dia sudah merasa bumi berputar. Dia berhenti, bersandar di dinding. Sebuah suara asing tiba-tiba terdengar. "Cantik, sendirian?" Chloe refleks menoleh, menjaga jarak. Pria itu mengenakan topi, wajahnya tak terlihat jelas. Tanpa basa-basi, dia langsung mencoba menyentuh Chloe. Chloe melawan mati-matian, tetapi tenaga pria itu begitu kuat. "Chloe!" Suara Luther terdengar. Saat ini, Chloe tak peduli lagi soal cerai atau tidak. Dia berteriak, "Luther! Cepat tolong aku!" Pria mesum itu kaget, hampir melepaskan. Namun, dari belakang Luther, Monica tiba-tiba mengeluarkan suara lirih kesakitan, lalu jatuh ke tanah. "Luther, kakiku ... sakit sekali ...." Monica memegang pergelangan kakinya, menangis tersedu-sedu. "Ayah! Bibi Monica keseleo! Cepat bawa ke rumah sakit!" Raiden berteriak dengan panik. Pria mesum itu mendadak menjadi lebih berani, mencengkeram lengan Chloe erat-erat, menatap Luther dengan tatapan menantang. Siapa pun tahu, sekarang Luther harus memilih. Chloe menatapnya lekat-lekat. Wajah pria itu penuh dilema. Dia akhirnya berbalik, mengangkat Monica, dan hanya meninggalkan satu kalimat. "Jangan takut! Aku akan telepon polisi untukmu!" Raiden memekik dengan marah, "Dia cuma nenek sihir tua, Papa! Ngapain peduliin dia!" Tiga sosok itu pun menghilang dalam kegelapan. Chloe menatap dengan tidak percaya. Bab 7 Apa ini pilihan yang bisa dilakukan manusia? Luther selalu punya cara untuk terus menurunkan standar dirinya. "Kelihatannya kamu sudah kehabisan bala bantuan." Pelaku pelecehan itu menyeringai puas. Chloe mengeluarkan kunci dari saku dan langsung menusukkannya ke mata pria itu. Pelaku menjerit keras, lalu melayangkan tinju ke arah Chloe. Perkelahian terjadi. Chloe menerima beberapa pukulan telak, tetapi dia memanfaatkan celah dengan menendang keras kemaluan pria itu. Saat pria itu kesakitan dan terkapar, Chloe merebut ponselnya dan menelepon polisi. Polisi datang dan menanyakan situasinya. Chloe pun bertanya, "Apa tadi ada laporan polisi untuk lokasi ini?" Polisi menjawab dengan santai, "Nggak ada." Heh. Bahkan untuk menelepon polisi pun Luther malas. Setelah selesai melapor di kantor polisi dan mengobati lukanya di rumah sakit, dokter memuji daya tahannya menghadapi pukulan berat. Chloe hanya tersenyum tanpa berkata apa-apa. Serangan mental yang lebih parah pun bisa dia terima, apalah artinya cedera fisik ini? Ketika semua urusan selesai, waktu sudah menunjukkan pukul 3 dini hari. Chloe menyeret tubuhnya yang lelah untuk pulang. Rumah sunyi tanpa tanda-tanda kehidupan. Dia merebahkan diri di sofa, kehilangan semua energi. Entah berapa lama, suara pintu terbuka memecah keheningan. Lampu menyala, menyilaukan mata. Chloe memicingkan mata, mengangkat tangan menutupi cahaya. Dari sela-sela jari, dia melihat Luther masuk bersama Raiden. "Huh! Sudah kuduga kamu cuma berakting buat ganggu Papa!" Raiden mencibir tanpa ampun. Chloe tak punya tenaga untuk menegur. Dia memejamkan mata, malas memedulikan ayah dan anak itu. Suaranya datar saat berujar, "Mau ambil apa, cepat ambil. Aku mau istirahat dengan tenang." Luther menatapnya. Memar di sekujur tubuh, pipi bengkak, kuku patah. Namun, Chloe tetap diam, seolah-olah hanya tersisa kelelahan untuk Luther. Bahkan tidak ada niat untuk mengadu. Padahal, suaminya seharusnya menjadi tempat perlindungannya. Melihat Raiden yang sama sekali tak peduli dengan kondisi ibunya, hati Luther mendadak mencelos. Bagaimana anaknya bisa berubah sekejam ini? Karena tak mendengar suara untuk waktu yang lama, Chloe membuka mata dan melirik sekilas. "Mau aku minta maaf karena merusak kencanmu? Ya sudah, aku minta maaf." Dia hanya ingin cepat-cepat mengakhiri percakapan. Luther malah berkata pada Raiden, "Masuk kamar, tidur." Kemudian, pria itu keluar dari rumah. Dia tak tahu suaminya mau ke mana dan tak peduli. Namun, setengah jam kemudian, pintu terbuka lagi. Luther masuk dengan kantong berisi obat. Pria itu berjongkok di hadapan Chloe, menyiapkan kapas dan antiseptik. Gerakan itu membuat Chloe membuka mata. "Mau apa? Lukaku sudah diobati. Berpura-pura peduli sekarang? Apa gunanya?" Alis Luther berkerut, nadanya jengkel. "Aku sudah obati lukamu, kamu masih marah-marah? Chloe, kamu memang suka diperlakukan buruk ya? Harus disakiti baru puas?" Chloe tersenyum sinis. "Jadi, kamu juga sadar kalau kamu memang jahat padaku?" Pria itu terdiam, malas berpura-pura baik lagi. Dia melempar kapas dan antiseptik ke meja, berdiri tegak menatap ke bawah. "Sudah kubilang jangan ke tempat seperti itu. Kamu yang nggak dengar. Sekarang celaka sendiri, mampus!" Mampus? Hebat. Luther selalu bisa menemukan celah di tubuhnya yang penuh luka untuk kembali menusukkan belati. Chloe bahkan tak punya energi untuk marah. Dia hanya menatap Luther, lalu bertanya, "Terus, kamu dan Monica bertemu lagi di mana?" Seingatnya, Monica sendiri yang bilang di bar. Setelah bertanya, dia tak peduli dengan ekspresi Luther, langsung menarik selimut untuk menutupi kepala. Lelah. Benar-benar lelah. Kenapa dia harus menanggung ini semua? Masih ada setengah bulan, tetapi dia bahkan tidak bisa bertahan selama satu jam lagi. Sayup-sayup, Chloe mendengar ponsel Luther berbunyi berkali-kali, tetapi tak diangkat. Beberapa saat kemudian, Raiden keluar dari kamar sambil membawa ponsel, berteriak tanpa sungkan, "Papa, Bibi Monica telepon!" Setengah jam setelah itu, Luther dan Raiden pergi. Padahal sekarang sudah dini hari. Setelah mereka pergi, Chloe baru bisa tidur dengan tenang. Saat bangun, hari sudah gelap lagi. Dia bangkit, tubuhnya terasa remuk. Sudah berhari-hari, tetapi Luther tak pernah menanyakan soal ponselnya. Kalau pria itu menelepon sekali, pasti tahu ponselnya tak bisa dihubungi. Dengan tenaga yang tersisa, Chloe keluar untuk membeli makanan. Baru sampai di bawah, dia melihat Luther dan Monica sedang bermesraan di tikungan. Saat itu juga, bayangan hitam melintas di sisinya. Dalam sekejap, perutnya terasa perih. Dia pun menunduk, mendapati darah segar mengalir deras. Kepalanya terangkat, dia terpaku. Di sana, Monica menjerit, memeluk lengan Luther erat-erat. "Luther! Aku takut!" Pelaku itu panik karena mendengar teriakan. Dia buru-buru menusuk Chloe sekali lagi, lalu kabur. Tubuh Chloe perlahan ambruk ke tanah, pandangannya tertuju ke arah pria yang masih berdiri di sisi Monica .... Bab 8 Saat Chloe sadar di rumah sakit, hari sudah menjelang pagi. Dokter mengernyit sambil menjelaskan, "Lukamu sebelumnya saja belum sembuh, sekarang kamu malah kena dua tusukan lagi. Kalau bukan karena ada orang yang cepat membawamu ke sini, kamu sudah kehabisan darah dan mati. Lain kali kalau kondisi tubuhmu lemah, biarkan keluarga yang merawatmu, jangan nekat sendirian." Dibawa orang? Padahal waktu itu Luther ada tepat di seberang jalan. Dia sedang apa? Chloe teringat malam di bar itu, lalu tersenyum pahit sambil menggeleng. "Aku sudah nggak punya keluarga." "Chloe, aku nggak ngerti kenapa kamu masih punya muka untuk terus menempel pada Luther." Entah sejak kapan Monica sudah berdiri di ambang pintu, melipat lengan di depan dada dengan sorot mata penuh kemenangan. Dia melangkah masuk dengan santai sambil berkata, "Kemarin aku cuma pura-pura pingsan sebentar dan Luther langsung meninggalkanmu untuk mengantarku ke rumah sakit. Kalau aku jadi kamu, aku sudah cerai dari dulu." "Kamu memang mengandalkan muka tembok seperti ini untuk bisa bertahan di sisinya selama ini ya? Chloe, aku sudah meremehkanmu. Nyawamu ternyata cukup keras." Setiap kata penuh ejekan dan penghinaan. Dia mengira Chloe akan terpancing emosi, tetapi ternyata salah. Sekarang, Chloe tidak punya amarah lagi. Menanggapi provokasi Monica, dia hanya berkata datar, "Kalau benar-benar pusing, istirahatlah yang cukup. Kalau mau pura-pura pingsan, setidaknya jangan sampai terbongkar. Kalau nggak, mimpi indahmu akan hancur." "Kamu ...!" Monica baru hendak berbicara, tetapi terdengar suara langkah kaki mendekat dari luar. Dia cepat-cepat berjalan ke sisi ranjang, lalu sengaja menjatuhkan diri, "Chloe, aku cuma ingin menanyakan kondisimu. Kamu nggak perlu mendorongku, 'kan? Aku salah apa?" Saat Luther dan Raiden tiba di ambang pintu, mereka mendengar kalimat itu. Luther langsung tak bisa menahan diri, bergegas masuk, memeluk Monica dengan lembut, lalu menatap Chloe dengan mata penuh amarah. "Apa yang kamu lakukan! Kamu sudah bikin masalah di luar, sekarang mau menyalahkan Monica?" Raiden berlari kecil ke sisi ranjang dan menghantam perut Chloe dengan tinjunya. "Dasar jahat!" Serangan itu tepat di luka bekas tusukan. Nyeri menusuk membuat darah merembes cepat dari balik selimut. Tubuh Chloe bergetar hebat, tangannya gemetar saat menekan tombol panggil perawat. Luther terpaku, sekelebat rasa menyesal muncul di wajahnya. Perawat datang tergesa-gesa, membalut ulang lukanya, lalu menatap Luther dengan nada menahan emosi. "Kamu ayah anak ini, masa nggak tahu cara mendidik? Memukul luka bisa bikin perdarahan hebat. Kalau pasien meninggal, kamu sanggup tanggung jawab?" Bibir Luther bergerak, tetapi tak ada kata yang keluar. Monica langsung tampil sebagai penengah, tersenyum manis. "Anak kecil nggak tahu apa-apa, jangan dimarahi." Raiden merasa mendapat perlindungan, jadi bersembunyi di belakang Monica. Mata perawat menyipit. Dia mengenali sosok di depannya. "Kamu pelakor itu, 'kan? Dari awal diperiksa, kamu baik-baik saja. Pura-pura pingsan pun ada batasnya, jangan anggap semua orang bodoh." Kalimat yang seharusnya tidak pantas diucapkan petugas medis akhirnya meluncur karena tak tahan lagi. Wajah Monica seketika pucat, sementara Luther menatapnya dengan pandangan heran. Dalam kepanikannya, Monica menuding balik, "Chloe, meskipun kamu benci aku, jangan provokasi tenaga medis untuk bicara ngawur." Dia berkata sambil menarik napas dalam-dalam, menampilkan wajah paling menyedihkan. Detik berikutnya, Luther langsung memihak Monica, menatap Chloe dengan dingin. "Kamu benar-benar membuatku kecewa. Minta maaf pada Monica." Chloe yang baru saja lolos dari maut setelah ditusuk dua kali, yang hampir mati karena suami tak segera menolong, sekarang harus meminta maaf kepada pelakor yang tidak terluka sedikit pun. Betapa ironisnya. Dia menggigit bibirnya, memejamkan mata. Sikapnya sangat jelas. Luther menambahkan dengan tegas, "Kalau kamu nggak minta maaf, jangan harap aku akan menjengukmu lagi." Setelah itu, dia benar-benar pergi. Dia pun menepati ucapannya. Setengah bulan penuh, dia tak pernah muncul. Sementara itu, Monica rajin mengirim foto-foto manis mereka bertiga, memamerkan keluarga bahagia. Chloe bahkan malas membukanya, semua disimpan dalam satu folder. Hingga hari perjanjian cerai sah berlaku, Chloe bersikeras keluar dari rumah sakit, pulang untuk membereskan sisa barang. Dia memesan tiket, mengatur email berisi foto serta video perselingkuhan dalam jadwal pengiriman otomatis. Sebelum pergi, dia meletakkan surat perjanjian cerai di tempat paling mencolok di rumah. Selamat tinggal rumah yang membuatnya sesak. Selamat tinggal ayah dan anak yang memberinya luka begitu dalam. Mereka tak akan pernah bertemu lagi.