Reinkarnasi ke Zaman Ajaib

Đang tải thông tin quảng bá...

Reinkarnasi ke Zaman Ajaib

GoodNovel Hoàn thành

Setelah perang antara manusia dan binatang berakhir, kedua belah pihak pun sepakat bahwa manusia setengah binatang yang akan menguasai dunia. Pernikahan antara kaum manusia dan binatang terjadi setiap...

Chương (1)

第1章

Setelah perang antara manusia dan binatang berakhir, kedua belah pihak pun sepakat bahwa manusia setengah binatang yang akan menguasai dunia. Pernikahan antara kaum manusia dan binatang terjadi setiap seratus tahun sekali. Siapa pun yang melahirkan manusia setengah binatang terlebih dahulu-lah yang akan menjadi penguasa generasi berikutnya. Di kehidupan sebelumnya, aku memilih menikah dengan putra sulung Klan Serigala yang terkenal dengan kegilaannya dan melahirkan manusia setengah serigala putih terlebih dahulu. Putra kami pun menjadi penguasa berikutnya dari Aliansi Manusia dan Binatang. Tentu saja anak kami juga memperoleh kekuatan yang luar biasa. Namun, adik perempuanku yang menikah dengan Klan Rubah karena tertarik dengan paras molek dari klan tersebut malah terserang penyakit hingga mandul. Itu semua karena si putra sulung dari Klan Rubah terobsesi meniduri banyak wanita di luar sana. Adikku yang cemburu pun membakarku dan putraku hingga kami tewas. Ketika aku membuka mataku lagi, aku justru kembali ke hari pernikahan antara manusia dan binatang. Sedangkan adikku sudah naik ke atas ranjang Jati Jatmiko, si putra sulung dari Klan Serigala. Aku tahu dia juga terlahir kembali. Namun, adikku tidak tahu bahwa Jati adalah orang yang kejam dan suka melakukan kekerasan. Jadi, sudah pasti Jati bukanlah pasangan yang cocok! Bab 1 "Kak, Jati dan aku benar-benar saling mencintai. Kamu biarkan kami bersama, ya?" "Lagi pula, kami sudah melakukan hubungan suami istri. Kalau aku nggak menikah dengan Jati, bagaimana aku bisa menikah nanti?" Dalam keadaan setengah melamun, aku mendengar adik perempuanku, Dianti Baskara, menangis. Ayahnya juga berbicara membelanya. "Gayatri, bagaimana kalau kamu bertunangan dengan yang lain? Dianti sudah melakukan kesalahan karena kehilangan akal sehatnya untuk sesaat." Selama ini, ayahku selalu memihak pada Dianti karena aku adalah anak haramnya, sedangkan Dianti adalah anaknya yang lahir dari pernikahan yang sah. Aku menatap Dianti yang sedang berlutut di tanah. Meskipun wajahnya basah oleh air mata dan tampak begitu sedih, binar ambisi dan kegembiraan di matanya tetap terpancar dengan jelas. Aku tahu Dianti juga terlahir kembali, dia bahkan sengaja naik ke atas tempat tidur Jati terlebih dahulu. Di kehidupanku sebelumnya, tunangan yang kupilih adalah Jati Jatmiko, putra sulung dari Klan Serigala. Menurut pendapatku, Klan Ular berdarah dingin dan kejam, Klan Rubah plin-plan dan penuh nafsu, sedangkan Klan Naga sombong dan angkuh. Hanya Klan Serigala yang setia dan penuh kasih sayang. Menurutku, mereka adalah pilihan terbaik. Setengah tahun setelah menikah dengan Jati, aku akhirnya melahirkan seorang anak manusia setengah serigala putih. Kunamai dia Dylan. Sebagai manusia setengah binatang pertama yang lahir, Dylan secara otomatis menjadi penguasa Aliansi Manusia dan Binatang yang berikutnya. Dianti sendiri memilih Arko Mahendra, putra sulung dari Klan Rubah, karena dia sangat mendambakan paras molek dari Klan Rubah. Namun, Dianti sama sekali tidak menyangka Arko adalah seorang buaya darat dan selalu menggoda wanita lain di luar. Akibatnya, Dianti terserang penyakit yang membuatnya mandul seumur hidup dan dibenci oleh Klan Rubah. Namun, Dianti malah menyalahkanku atas kemalangannya. Dia iri karena hidupku lebih baik daripadanya. Jadi, dia diam-diam membiusku, lalu membakarku dan Dylan hingga tewas. Begitu teringat akan hal ini, kebencian yang mendalam pun muncul dalam benakku. Rasanya aku ingin segera membunuh Dianti untuk membalaskan dendam Dylan. Aku mengepalkan tanganku yang tersembunyi di balik lengan baju, rasa sakit di telapak tanganku membuatku sedikit sadar. Aku mengangguk dengan ekspresi pengertian. "Karena adikku dan Jati saling mencintai, tentu saja aku nggak akan memisahkan mereka." Dianti tidak menyangka aku akan setuju begitu saja. Air mata yang baru saja dia keluarkan menggantung dengan canggung di sudut matanya. "Dianti, ayo cepat berdiri dan cepat bilang terima kasih pada kakakmu karena dia telah membantumu." Ayahku menghela napas lega. "Te … terima kasih, Kakak." Dianti berlari keluar dengan gembira sambil berkata bahwa dia akan pergi ke Klan Serigala untuk memberi tahu Jati tentang kabar baik ini. "Memang benar kalau anak perempuan itu nggak bisa dikurung di rumah saat mereka sudah dewasa." Ayahku yang berada di samping pun melontarkan candaan. Namun, ketika menoleh, dia melihat ekspresiku yang acuh tak acuh. Ayahku pun berkata dengan nada bersalah. "Gayatri, satu-satunya pemuda lajang dari keluarga manusia setengah binatang yang tersisa adalah Yudha Satya dari Klan Ular dan Arko Mahendra dari Klan Rubah." "Menurut Ayah, Klan Rubah boleh juga. Dari segi penampilan maupun status, mereka jelas jauh lebih tinggi daripada Klan Ular." "Lalu, Dianti juga sebelumnya bilang kalau …." Aku langsung menyela ayahku. "Ayah, aku memilih menikah dengan Yudha dari Klan Ular." Kaum manusia selalu meyakini bahwa ular adalah makhluk berdarah dingin dan kejam. Mereka selalu penuh prasangka buruk terhadap manusia setengah ular. Selama ribuan tahun, tidak ada manusia yang memilih untuk menikah dengan anggota Klan Ular. Itu sebabnya Klan Ular tidak pernah menjadi pemimpin Aliansi Manusia dan Binatang. Akibatnya, Klan Ular pun diusir dari Lima Klan Utama Manusia Setengah Binatang. Mereka menjadi klan manusia setengah binatang dengan kasta terendah dan tidak bisa memperoleh sumber daya apa pun. Di kehidupan sebelumnya, saat lautan api melalapku, aku melihat sepasang mata berwarna hijau. Itu mata Yudha. Dia mencoba menyelamatkanku, tetapi tidak bisa karena api yang terlalu besar. Bab 2 Meskipun ayahku merasa tidak puas dengan pilihanku, dia tidak mencoba membujukku lagi ketika melihat betapa bulatnya keputusanku. Dia hanya menghela napas dan menghiburku. "Kalau kamu merasa kesulitan saat tinggal bersama Klan Ular, kamu bisa minta tolong pada Dianti." Namun, begitu Dianti mengetahui bahwa aku memilih menikah dengan seorang anggota dari Klan Ular, dia langsung mengejekku. "Kak, meskipun kamu nggak bisa menikah dengan Jati, nggak seharusnya kamu memilih orang dari Klan Ular yang sudah terpuruk itu. Jangan sampai kamu mati kelaparan sebelum berhasil melahirkan anak. Katanya Klan Ular lagi kesulitan mendapatkan makanan dan pakaian yang cukup saat ini." "Klan Serigala itu kaya raya, bahkan air mandi mereka terbuat dari ramuan ajaib yang berharga. Kalau hidupmu terasa terlalu berat, aku bisa saja menyisihkan beberapa ramuan untukmu." Dianti pun menutup mulutnya dan tertawa terbahak-bahak, dia mengabaikan sorot tatapan aneh dari para pelayan. Menurut Dianti, Klan Serigala memiliki sumber daya yang melimpah. Jati juga dianggap tipe pria yang setia dan cakap, jadi dia pasti bisa segera hamil dan melahirkan anak. Sayangnya, Dianti tidak tahu bahwa sulit bagi manusia dan manusia setengah binatang untuk memiliki anak. Jati juga sangat terobsesi untuk memiliki keturunan. Setelah enam bulan tanpa ada tanda-tanda kehamilan, Jati mulai melampiaskan amarahnya karena tidak kunjung memiliki keturunan kepadaku. Dia menyiksaku siang dan malam. Jati baru melepaskanku setelah aku menggunakan metode rahasia untuk hamil, melahirkan Dylan dan memegang posisi yang berkuasa di Klan Serigala. Aku hanya balas tersenyum kecil. "Kamu nggak perlu khawatir soal aku, Dik. Kamu sendiri yang memilih suamimu, jadi kamu nggak akan menyesal, 'kan?" "Gayatri, apa yang bisa dibanggakan darimu karena memilih pria miskin?" Begitu melihat aku sama sekali tidak merasa marah, Dianti justru terbakar api amarah dan membalikkan semua kue di atas meja. "Aku pasti akan menjadi orang pertama yang hamil! Anakku pasti akan menjadi pemimpin Aliansi yang berikutnya!" Aku tidak ambil pusing dengan sikap Dianti yang seperti orang gila itu. Aku langsung mempersiapkan pernikahan yang diadakan tiga hari kemudian. Dianti benar tentang satu hal. Klan Ular memang terlalu miskin saat ini. Aku khawatir mereka bahkan tidak mampu membeli gaun, jadi aku berencana untuk mempersiapkannya terlebih dahulu. Namun, Yudha ternyata langsung datang ke rumahku malam ini dan membawakan gaun pengantin. Ini pertama kalinya aku memperhatikan rupa Yudha dengan saksama. Kulitnya tampak putih pucat, matanya yang agak sipit terlihat berwibawa. Pupil matanya berwarna hijau zamrud yang terkesan tidak terselami, tahi lalat berbentuk tetesan air mata di sudut matanya membuat wajahnya yang terkesan dingin itu tampak memesona. Ketika aku membuka kotak yang Yudha bawa, aku melihat sebuah gaun berwarna hijau tua yang panjangnya menjuntai hingga ke lantai. Ada sisik ular yang berkilauan samar di bagian dadanya. Aku sontak tertegun karena belum pernah melihat gaun seindah ini. "Nona Gayatri, ini gaun yang dijahit dengan tangan oleh para penjahit dari Klan Ular. Sisik-sisik yang ada di gaun ini merupakan berkat dari suku kami." Yudha menatapku dengan pandangan yang sengaja terkesan jauh seolah-olah bukan dia-lah yang akan menikah denganku. "Ini adalah kali pertama anggota dari Klan Ular menikah dengan manusia. Kalau ada yang kurang dari kami, silakan langsung beri tahu aku." "Terima kasih. Aku sangat menyukainya." Tepat saat aku hendak menyimpan gaunku, Dianti berjalan masuk sambil menggenggam tangan Jati dengan ekspresi yang terlihat sangat bangga. "Kak, jangan bilang Kakak hanya punya pilihan satu gaun ini? Nggak seperti Jati, dia sudah siapkan sepuluh pilihan gaun pengantin buatku." Jati menatap Dianti dengan penuh cinta. Dianti hanya tahu bahwa Klan Serigala itu penuh kasih sayang dan setia, tetapi dia tidak tahu bahwa kesetiaan mereka hanyalah naluri biologis. Jadi, mereka juga sangat terobsesi untuk memiliki keturunan. Jika tidak ada anak, apa mungkin Jati masih akan begitu memanjakan Dianti? Yudha yang memegang tongkat berkepala ular itu terdiam sesaat, lalu menatapku dengan serius. "Maafkan klan-ku, Nona Gayatri. Aku bisa meyakinkanmu, Nona Gayatri, kalau aku, Yudha Satya, nggak akan pernah mengecewakanmu." Dianti balas mendengkus dengan dingin. "Semua orang juga bisa bicara manis begitu! Tapi, aku penasaran apa kalian bisa punya anak atau nggak!" Dianti yang sekarang selalu membicarakan tentang memiliki anak. Fakta bahwa dia tidak dapat memiliki anak di kehidupan sebelumnya merupakan luka batin tersendiri baginya, jadi sekarang dia sangat terobsesi untuk hamil. Dia bahkan sudah pindah ke rumah Jati sebelum menikah dengan pria itu. Dengan kata lain, Jati dan Dianti cukup sefrekuensi soal memiliki anak. "Dik, kamu fokus saja pada pernikahanmu. Apa jangan-jangan kamu tertarik lagi pada tunanganku?" Aku balas tersenyum kecil pada Dianti, lalu menggandeng tangan Yudha. Kami berjalan pergi diiringi oleh ekspresi muram dari Dianti dan Jati. Tidak lama kemudian, suara manja Dianti yang berbicara kepada Jati pun terdengar dari belakang. Samar-samar aku bisa mendengar kata-kata "kehamilan" dan "anak". Dasar adikku yang konyol. Setelah terlahir kembali pun pikirannya masih dipenuhi dengan gagasan bahwa status seorang ibu bergantung pada putranya. Bab 3 Suara Yudha yang dingin pun terdengar. "Nona Gayatri, aku tahu kamu memilihku karena terpaksa. Tapi, aku janji sebisa mungkin nggak akan membuatmu menderita." Aku refleks berbalik badan dan secara tidak sengaja menabrak lengan Yudha. Aroma yang aneh langsung tercium oleh hidungku. Aku menatap Yudha dan mengucapkan setiap patah kata dengan nada serius. "Yudha, aku-lah yang memilihmu. Mulai sekarang, panggil aku Gayatri. Jangan bersikap terlalu asing." Aku melihat ada sebersit cahaya aneh berkilat dalam pandangan Yudha. "Oke, Gayatri." Tiga hari kemudian, kami pun menikah sesuai kesepakatan. Pernikahanku dan Dianti diadakan di restoran yang sama. Pernikahan Klan Serigala kali ini bahkan lebih megah dari sebelumnya. Mereka bahkan mengundang Klan Foniks yang terpencil untuk memberikan pertunjukan. Semua klan utama juga menghadiri pernikahan mereka. Klan Ular sendiri tampak sepi. Mereka tidak memiliki tamu tambahan, tetapi setiap anggota Klan Utama tampak sangat bahagia. Menikahi manusia murni berarti mereka memiliki harapan untuk bersaing memperebutkan posisi sebagai pemimpin aliansi. Setelah acara pernikahan, Dianti dan aku berhadapan langsung. Dia bahkan sengaja mengangkat lehernya agar aku bisa melihat tanda-tanda samar di tubuhnya. "Kak, aku nggak tahu Klan Serigala punya energi sebesar ini. Kayaknya aku bakal segera melahirkan anak serigala." Aku hanya balas tersenyum kecil. "Kalau begitu, kudoakan semoga semua keinginan adikku terwujud." Dianti terlalu menyepelekan kehamilan. Manusia dan manusia setengah binatang adalah spesies yang berbeda. Butuh setidaknya waktu selama satu tahun untuk bisa hamil secara alami. Di kehidupan sebelumnya, Dianti pikir aku mudah hamil, jadi wajar saja sekarang dia berpikir dia juga bisa. Dianti bahkan sudah menyatakan di depan Klan Serigala bahwa dia bisa hamil dalam waktu setengah tahun dan pengumumannya itu sudah tersebar ke mana-mana. Jati juga percaya dengan sepenuh hati karena melihat ekspresi Dianti yang percaya diri. Bagi Dianti, sorot tatapanku yang tenang berubah menjadi sebuah provokasi. "Sudahlah, kamu juga nggak akan paham kalau kuajak bicara soal ini. Kamu 'kan menikahnya sama orang miskin." Dianti memandang para manusia setengah ular di sekitar dengan sorot menghina, lalu mengangkat ujung gaunnya dan berjalan melewatiku. Aku langsung meraih lengannya dan menghentikannya. "Dianti, minta maaf pada Klan Ular." Dianti langsung marah dan menepis tanganku, lalu membentak. "Gayatri, kamu gila, ya!" Dianti dan aku mulai berdebat di aula. Para tamu yang belum pergi pun berhenti untuk menonton keributan yang kami timbulkan. Pada akhirnya, ayahku yang maju untuk mencari tahu apa yang terjadi. Ayahku juga memaksa Dianti untuk meminta maaf kepada para anggota Klan Ular. Meskipun Klan Ular merupakan klan manusia setengah binatang terendah, mereka akan tetap bersatu saat menghadapi penghinaan dari manusia. Sebelum pergi, Dianti memelototiku dengan tajam dan berujar dengan suara pelan. "Gayatri, di hidup kali ini pasti aku yang jadi pemenangnya." Pada malam pertama, aku tercengang saat melihat tubuh Yudha setelah dia menanggalkan pakaiannya. Mengapa tidak ada seorang pun yang memberitahuku kalau ular punya dua! Karena aku hanya duduk bergeming di atas kasur, Yudha pikir aku tidak mau melakukannya. Dia pun mengambil pakaiannya kembali dari atas lantai dengan wajah pucat dan bersiap untuk mengenakannya lagi. "Kamu lagi apa?" Aku merebut baju itu dari tangan Yudha dengan ekspresi yang terlihat jelas tidak puas. "Kukira … kukira kamu nggak mau." Yudha berdiri di depan tempat tidur dalam kondisi tanpa busana. Ekspresinya terlihat bingung, mata hijaunya terlihat meredup. Karena dia tidak maju, biar aku saja. Aku pun melangkah maju dan merangkul leher Yudha, lalu menariknya ke atas tempat tidur. Saat aku menempelkan tubuhku ke tubuhnya, aku kembali mencium aroma yang familier itu. "Yudha, wangimu enak sekali." Aku refleks mengutarakan apa yang ada di dalam benakku. Yudha sontak mematung selama beberapa detik, ujung telinganya tampak memerah samar-samar. Setelah itu, ciumannya menjadi lebih ganas. Dari dahi, turun ke bawah. Kami menikmati gairah ini dengan tangan yang saling bertaut erat. Dulu, kukira Klan Serigala adalah pilihan terbaik sebagai pasangan karena kekuatan fisik mereka tidak main-main. Ternyata Klan Ular punya pesona yang unik. Mereka terus melakukannya hingga fajar mulai menjelang. Setelah itu, barulah Yudha membiarkanku tidur. Tiga bulan kemudian, keluargaku mengabarkan bahwa Dianti sedang hamil. Aku sontak tercengang begitu mendengarnya. Selama ribuan tahun, tidak pernah ada manusia atau manusia setengah binatang yang bisa hamil hanya dalam waktu tiga bulan. Aku pasti tidak akan percaya seandainya aku tidak melihat sendiri perut Dianti yang buncit. Klan Serigala mengadakan upacara perayaan untuk calon penerus mereka yang belum lahir, mereka bahkan mengundang semua klan utama untuk datang dan memberi ucapan selamat. "Nggak kusangka leluhur serigalaku akan muncul dan memberkahi keturunan hanya dalam waktu tiga bulan!" Jati memegang gelas anggur, ekspresinya tampak sangat bangga. Banyak orang datang untuk menyanjungnya. Mereka semua beranggapan bahwa pemimpin aliansi berikutnya akan berasal dari Klan Serigala. Itu berarti sekarang adalah kesempatan yang baik untuk memamerkan keahlian mereka dalam hal menjilat. Berdasarkan statusku, aku seharusnya duduk di ujung kursi bersama Yudha. Namun, Dianti sengaja meminta Jati untuk mempertemukanku dengannya. Tentu saja Dianti tidak akan melewatkan kesempatan bagus ini untuk pamer padaku. Dia mengelus perutnya sambil menatapku dengan kesan menantang. "Kak, kok kamu belum ada tanda-tanda hamil setelah tiga bulan? Kamu memang bukan keturunan murni Keluarga Baskara. Hamil saja nggak bisa." Manusia setengah binatang memiliki fisik khusus. Mereka bisa lahir hanya dalam waktu dua bulan. Jika menghitung waktunya, kurang lebih bulan depan Dianti akan melahirkan. Berat badan Dianti bertambah, perutnya terus membesar. Dianti tidak tahu bahwa manusia setengah binatang memang memiliki tubuh yang besar. Jika dia tidak menjaga pola makannya saat ini, nanti dia pasti akan sangat menderita saat melahirkan. Di kehidupan sebelumnya, aku berusaha sekuat tenaga untuk mengendalikan berat badanku. Meskipun begitu, tetap saja aku butuh waktu sehari semalam untuk melahirkan anakku. Rasa sakit yang kualami begitu hebat sampai rasanya mau bunuh diri saja. Namun, saat melihat anakku lahir dengan selamat dan tertidur dalam gendonganku, aku tetap tidak menyesalinya. Aku mengambil gelas anggur dan menyesapnya sambil menyahut dengan santai. "Kehamilan terpendek dalam sejarah terjadi dalam waktu satu tahun, tapi kamu sudah hamil dalam waktu tiga bulan. Hanya kamu yang tahu metode apa yang kamu gunakan." Dianti tiba-tiba menoleh dan menatapku, sebersit cahaya bersalah berkilat dalam pandangannya. "Gayatri, apa maksudmu?" Diuji kecil seperti ini saja sudah membuat Dianti mulai panik. Ternyata dia memang masih belum bisa menjaga diri agar tetap tenang. "Semoga adikku cepat melahirkan!" Aku mengangkat gelasku untuk bersulang bagi Dianti, lalu menemui Yudha dan pergi bersama. Sebulan kemudian, Dianti melahirkan anaknya. Prosesnya berlangsung selama tiga hari tiga malam. Namun, tujuh hari berlalu dan Klan Serigala belum juga mempublikasikan anak itu. Bahkan ayahku juga ditolak saat hendak menjenguk Dianti. Pasti ada sesuatu yang salah dengan anak itu. Setengah bulan kemudian, ayahku meneleponku dan memintaku untuk pulang. Sebelum pergi, aku melihat ekspresi Yudha yang begitu khawatir. Aku pun memintanya untuk menemaniku pulang. Di ruang tamu, Dianti tengah duduk di atas lantai sambil menangis. Di dalam gendongannya tampaklah seekor anak setengah serigala merah.