Đang tải thông tin quảng bá...
Warisan Ilmu Pengobatan Terpendam
Arlo mendapat warisan dari seorang dewa. Begitu kesadarannya bangkit, dia bagaikan naga yang terbang menembus langit! Satu tangan menguasai ilmu medis yang bisa menyembuhkan orang sekarat dan menyambu...
Chương (1)
第1章
Arlo mendapat warisan dari seorang dewa. Begitu kesadarannya bangkit, dia bagaikan naga yang terbang menembus langit!
Satu tangan menguasai ilmu medis yang bisa menyembuhkan orang sekarat dan menyambung tulang yang hancur. Para pejabat dan orang kaya pun harus tunduk di hadapannya!
Satu tangan lagi menggenggam pedang maut, mampu membelah langit dan membuat para jawara dunia takluk!
Sejak saat itu, ditemani wanita cantik dan saudara seperjuangan yang selalu mengikuti, dia pun melangkah bebas, menikmati gemerlap kota metropolitan ....
Bab 1
Di kamar mayat Rumah Sakit Sentosa Kota Naldern.
Arlo Antasari meletakkan kedua tangannya di dada jenazah seorang perempuan, melakukan gerakan memijat.
"Untung kamu belum benar-benar mati dan kebetulan bertemu aku yang hari ini memperoleh warisan ilmu. Kesadaranmu akan terbuka kembali!"
"Dari tiga jiwamu, sudah lenyap dua. Dari tujuh rohmu, sudah lenyap empat. Ini sama seperti aku sedang merebut orang dari tangan Dewa Kematian. Di dunia ini, selain aku, nggak ada lagi yang bisa menyelamatkanmu!"
Arlo tampak berusia 20-an tahun, berwajah tegas dengan alis tebal dan mata besar. Kelihatannya dia adalah orang sangat andal. Namun, saat ini mulutnya komat-kamit, sementara kedua tangannya bekerja dengan cara yang tidak wajar, membuat suasana terasa menyeramkan.
Seiring gerakannya, jenazah perempuan itu tiba-tiba duduk tegak, lalu terbaring lagi. Dua perawat yang mengantar jenazah melihat pemandangan ini. Mereka langsung ketakutan setengah mati dan menjerit, lalu berlari keluar.
"Tolong!"
"Satpam ... Pak Ibrahim ... ada mayat bangkit di kamar jenazah!"
"Dokter Isyana, suamimu yang gila sedang menodai mayat!"
Arlo tidak peduli. Kedua tangannya bergerak cepat menekan titik akupunktur di kepala jenazah dengan teknik yang aneh. Kemudian, dia kembali menekan dada jenazah itu.
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa di pintu kamar mayat. Direktur rumah sakit, Ibrahim, datang bersama beberapa dokter dan satpam. Wajahnya tampak panik.
"Kurang ajar, apa yang kamu lakukan? Cepat lepaskan dia!" teriak Ibrahim dengan marah.
Arlo menoleh, tetapi tangannya tak berhenti. "Aku sedang mengobatinya!"
Banyak dokter di rumah sakit yang mengenali pria ini. Arlo! Suami bodoh Isyana Hanafi, dokter tercantik di rumah sakit ini.
Orang-orang sering kali merasa kasihan pada Isyana. Bagaimana bisa seorang wanita cantik menikah dengan seorang pria yang sakit jiwa? Saat ini, rasa kasihan itu pun mencapai puncaknya.
Karena jenazah itu adalah putri tunggal Keluarga Soraya, Fellis. Keluarga Soraya adalah keluarga terkaya di Kota Naldern. Pagi ini, Fellis tiba-tiba meninggal di rumah sakit. Keluarga Soraya sudah ingin mencari masalah dengan rumah sakit, sekarang jenazahnya malah dilecehkan. Bukankah ini akan membuat masalah jadi semakin besar?
Mata Isyana berkunang-kunang. Dia hampir pingsan. Si bodoh ini benar-benar membuat bencana besar hari ini!
Sejak menikah, Arlo yang sakit jiwa selalu dijaga orang tuanya. Hari ini, orang tuanya ada urusan mendadak sehingga menitipkan Arlo padanya di rumah sakit.
Baru saja ada pasien gawat darurat sehingga Isyana pun meninggalkan Arlo di pos perawat. Siapa sangka, dia malah masuk ke kamar mayat dan melakukan hal seperti ini.
"Berhenti sekarang juga!" pekik Ibrahim, lalu berusaha menarik Arlo.
Arlo mengerutkan kening, mendorong Ibrahim. "Kalau aku berhenti, dia benar-benar akan mati!"
Ibrahim terdorong hingga jatuh terduduk di lantai. 'Bodoh! Gila! Sakit jiwa! Dia sungguh mengira dirinya dokter? Jelas-jelas hanya orang gila!'
Ibrahim menatap Isyana dengan galak. "Kenapa nggak suruh suamimu berhenti? Apa kamu benar-benar mau menunggu sampai Keluarga Soraya menuntut kita semua?"
Isyana tersadar, buru-buru berseru. "Arlo!"
Dia bergegas maju, hendak menyingkirkan tangan Arlo dari dada Fellis. Namun, begitu telapak tangannya menyentuh dada Fellis, kulit kepalanya meremang, jantungnya berdebar. Dia merasakan denyut jantung putri Keluarga Soraya itu.
"Dia masih punya detak jantung!" Isyana memeriksa dengan teliti di area jantung, matanya melebar karena kaget.
Ibrahim tercengang, lalu segera menurunkan stetoskop dari lehernya. Setelah mendengar detak jantung itu, dia pun panik dan berteriak, "Cepat dorong dia kembali ke ruang gawat darurat untuk diselamatkan!"
"Aku belum selesai mengobatinya, kalian nggak boleh bawa dia pergi!" Arlo kembali menghalangi.
"Obati kepalamu!" Ibrahim sama sekali tidak percaya orang gila bisa mengobati. Dia hanya mengira ini adalah kesalahan diagnosis. Menganggap orang hidup sebagai mayat dan membawanya ke kamar mayat, ini jelas adalah kesalahan medis besar!
Sekelompok orang buru-buru mendorong Fellis pergi. Kini, tersisa Isyana dan Arlo.
"Kenapa kamu bisa sampai ke sini?" Isyana marah besar, hampir melampiaskan semua kekesalannya pada pria yang selalu membuatnya malu ini.
"Aku datang untuk mengobati orang itu!" Arlo tampak serius, membuat Isyana hampir pingsan saking kesalnya.
Isyana menggertakkan gigi, tetapi kemudian merasa dirinya terlalu keras. Apa gunanya marah pada orang gila? Bagaimanapun, salahnya juga karena dia tidak menjaga Arlo dengan baik.
Dia menarik napas panjang. "Sudahlah, kita lihat dulu kondisi Fellis. Setelah itu, aku akan izin cuti untuk mengantarmu pulang."
Arlo berdeham. "Aku sudah sembuh. Aku bisa pulang sendiri."
Mata Isyana membelalak, sulit percaya. "Kamu ... sembuh?"
Arlo mengangguk. "Barusan kepalaku tiba-tiba jernih, semua ingatanku kembali!"
"Kalau sudah sembuh, kenapa kamu malah ke kamar mayat?" Isyana curiga. Memang ada kemungkinan Arlo membaik karena terus minum obat.
"Sudah kubilang tiga kali, aku datang untuk mengobatinya!" jawab Arlo.
Wajah Isyana membeku. Dia merasa dirinya yang bodoh. Bagaimana bisa dia percaya kata-kata orang gila? Orang waras mana yang masuk kamar mayat untuk mengobati orang? Lagi pula, sebelum sakit jiwa, Arlo juga bukan dokter.
Ketika berbicara, Arlo menatap Isyana. Cantik sekali! Wajah menawan, mata jernih berkilau penuh kecerdasan. Jas putih bahkan tak mampu menutupi tubuh indahnya. Kalau wanita secantik ini menjadi istrinya, rasanya tidak rugi juga.
Isyana hanya bisa menghela napas. Dia malas berdebat, jadi menarik Arlo menuju ruang gawat darurat.
Baru saja sampai di depan pintu, tampak Ibrahim yang keluar dengan wajah penuh senyuman dan memberi instruksi kepada perawat.
Namun, begitu melihat Isyana, senyuman itu langsung hilang. Dia memasang wajah tegas sebagai direktur, lalu berkata, "Kamu diberhentikan sementara!"
Isyana sontak mengernyit sambil menatap Ibrahim.
"Fellis salah didiagnosis. Karena dikira sudah meninggal, dia dibawa ke kamar mayat. Ini kesalahan medis besar! Harus ada yang bertanggung jawab! Dokter jaga pagi ini adalah kamu!" jelas Ibrahim.
Wajah Isyana merah padam karena marah. "Sejak Fellis masuk, yang menanganinya langsung adalah Bapak sendiri. Surat kematian juga Bapak yang keluarkan. Apa hubungannya denganku?"
Ibrahim mendengus, lalu menunjuk Arlo. "Kalau begitu, akan kuberi tahu Keluarga Soraya kalau dia menodai mayat Fellis!"
Isyana seketika memucat. Keluarga Soraya adalah keluarga terkaya di kota, sementara Fellis adalah putri tunggal Rayanza Soraya yang sangat disayang. Arlo pasti akan dituntut akibat perbuatannya!
"Kamu tahu betul apa yang akan terjadi kalau Keluarga Soraya tahu Fellis dinodai!" kata Ibrahim dengan nada penuh ancaman.
"Fellis masih hidup, 'kan?" Isyana diam sejenak, lalu bertanya demikian.
"Tentu saja. Kalau nggak, menurutmu Arlo bisa keluar dari rumah sakit ini dengan selamat?"
Tubuh Isyana gemetar karena marah. Kali ini bukan hanya dia, bahkan Arlo pun benar-benar paham apa yang terjadi.
Fellis salah didiagnosis, lalu dikirim ke kamar mayat. Hal ini sudah diberitahukan kepada Keluarga Soraya, jadi tidak mungkin ditutupi. Harus ada kambing hitam! Isyana-lah yang dijadikan kambing hitamnya!
Sementara Ibrahim, si pelaku utama, justru akan menjadi pahlawan bagi Keluarga Soraya!
Arlo tertawa, bertepuk tangan. "Kalau nggak tahu malu itu adalah sebuah keterampilan dan ada lombanya, kamu pasti juara satu!"
Ibrahim melirik sinis, malas menanggapi. Dia adalah direktur, mana sudi peduli pada orang gila?
"Kamu yakin bisa menyelamatkan Fellis?" Arlo tersenyum meremehkan.
"Maksudmu apa?" Ibrahim menjadi kesal. Orang gila ini kok semakin lama semakin mirip orang waras?
Arlo mendengus. "Ya itu maksudku! Dengan kemampuanmu, mau menjadikan istriku kambing hitam? Masih terlalu jauh!"
Ibrahim marah besar, hendak mengamuk. Namun, tiba-tiba dari ruang gawat darurat terdengar keributan. Seorang perawat keluar dengan wajah panik.
"Pak Ibrahim, gawat! Kondisi Fellis kembali kritis ...."
Bab 2
Begitu mendengar Fellis kembali kritis, Ibrahim langsung berlari masuk ke ruang gawat darurat.
Isyana menatap Arlo. Tadi dia mendengar ucapan Arlo yang tajam dan penuh logika saat membalas Ibrahim. Jelas, tak ada lagi kebodohan yang dulu.
"Kamu benar-benar sudah sembuh?"
Arlo mengangguk. "Ya! Waktu di pos perawat, tiba-tiba saja pikiranku jernih. Aku juga nggak tahu gimana bisa sembuh begitu saja!"
Ucapannya itu setengah benar, setengah bohong.
Tiga tahun lalu, dia secara tak sengaja memperoleh warisan Kitab Surgawi Pengobatan Abadi dari seorang tabib sakti. Kitab itu mencakup semua keahlian sang tabib seumur hidupnya. Dari ilmu pengobatan, ilmu bela diri, ilmu ramalan wajah, ilmu nasib, hingga wawasan luas dari pengalaman berkeliling dunia.
Namun, begitu mendapatkan warisan itu, sebagian besar kesadarannya terkunci oleh pembatas warisan, memaksanya tenggelam dalam proses belajar. Dari luar, dia terlihat seperti orang bodoh dan gila.
Hingga hari ini, setelah Kitab Surgawi Pengobatan Abadi dipelajarinya sampai tingkat ketiga, dia berhasil menembus pembatas itu. Kesadarannya kembali. Kebetulan, dia bertemu Fellis yang dibawa ke kamar mayat. Menyadari masih ada kesempatan untuk menyelamatkan, dia pun turun tangan.
Namun, semua itu tidak bisa dia ceritakan pada Isyana. Kalau diceritakan, bisa-bisa dia dimasukkan ke rumah sakit jiwa.
Isyana bisa menerima penjelasan sederhananya. Dia tahu Arlo mengalami trauma hebat setelah kehilangan kedua orang tuanya. Insiden itu yang membuatnya sakit jiwa. Setelah tiga tahun perawatan, memang ada kemungkinan dia sembuh.
"Lalu di kamar mayat tadi, yang kamu lakukan pada Fellis ...." Isyana teringat adegan tangan Arlo yang menekan dada Fellis. Pipinya pun memerah.
Arlo memanyunkan bibirnya. "Aku memang sadar kalau dia masih bisa diselamatkan!"
"Kamu bukan dokter! Nggak paham ilmu medis! Kok bisa bertindak seenaknya? Kamu seharusnya panggil dokter!" Isyana tak tahan untuk mengomel. Kini akibatnya, masalah besar justru menimpa mereka.
"Aku memang bukan dokter, tapi dulu sering baca buku pengobatan!" Arlo beralasan. Dalam hati, dia yakin di dunia ini hanya dirinya yang mampu menyelamatkan seseorang dari kematian.
Isyana hanya memutar bola matanya. Dalam pandangannya, Arlo hanya kebetulan menemukan Fellis belum benar-benar mati. Daripada disebut pengobatan, tindakannya lebih cocok disebut mencari sensasi.
Namun, mengingat kondisi Arlo, Isyana pun tidak banyak berbicara lagi.
Saat mereka masih berbicara, dari ujung koridor tampak seorang pria paruh baya berwajah tegas, datang dengan langkah penuh wibawa. Di sampingnya adalah seorang pria tua berambut putih dengan beberapa pengawal gagah.
"Pak Rayanza datang! Yang di sampingnya sepertinya adalah dokter terkenal, Dokter Leonard!" Isyana mengernyit dengan cemas.
Melihat wajah Arlo yang tetap santai, dia menambahkan, "Kalau Fellis bisa diselamatkan, kita masih punya jalan keluar. Kalau nggak, habislah kita!"
Isyana sangat memahami Ibrahim. Pria itu sangat licik dan suka menjilat. Pasti akan melemparkan kesalahan padanya.
"Nggak perlu takut, ayo pulang. Ini nggak ada urusannya sama kita!" Arlo tetap tenang.
Tiga tahun lalu, dia memang hanya mahasiswa biasa. Namun, setelah tiga tahun tenggelam dalam warisan itu, wawasannya berubah.
Pria paruh baya itu langsung masuk ke ruang gawat darurat setelah mendapat konfirmasi dari perawat tentang kondisi putrinya.
Di dalam, Ibrahim dan beberapa dokter sudah kelabakan. Kondisi Fellis terlalu aneh. Sebagian besar tanda vital normal, tetapi jantungnya kadang berdetak, kadang berhenti. Dia juga tidak sadarkan diri.
Melihat kedatangan Rayanza, Ibrahim segera menyapa, "Pak Rayanza."
Rayanza tidak memedulikannya. Dia menoleh pada Leonard. "Maaf kalau aku merepotkanmu, Dokter Leonard."
Leonard mengangguk, lalu maju untuk memeriksa. Para dokter segera mundur sedikit. Mereka semua mengenali nama besarnya.
Sementara itu, Rayanza menatap Ibrahim dengan tatapan penuh amarah. "Pak Ibrahim, putriku masih hidup tapi kalian malah kirim dia ke kamar mayat. Apa penjelasanmu?"
Ibrahim panik, semakin berniat mencari kambing hitam. "Itu semua karena dokter jaganya, Dokter Isyana, salah mendiagnosis. Aku sudah memberhentikannya sementara!"
"Cuma diberhentikan? Kesalahan medis sebesar ini, apa nggak seharusnya dipertanggungjawabkan secara hukum?" Rayanza mendengus dingin, nadanya terdengar tidak puas.
Belum sempat lanjut berbicara, dia menerima telepon. Wajahnya semakin kelam. Dia menampar Ibrahim sekuat tenaga. "Setelah putriku dilecehkan di kamar mayat, kalian baru sadar ada salah diagnosis? Apa-apaan cara kerja rumah sakit kalian ini?"
Ibrahim sampai berkunang-kunang karena tamparan itu. Dia diam-diam mengutuk orang yang membocorkan insiden itu. Namun, dia tidak berani bertanya siapa orang itu, hanya buru-buru melontarkan alasan yang sudah disiapkan, "Itu karena Dokter Isyana membawa suaminya yang sakit jiwa ke rumah sakit. Dia melanggar aturan sehingga terjadi hal ini!"
"Aku akan segera memerintahkan bagian medis dan keamanan untuk menahan Dokter Isyana dan suaminya. Kami akan menunggu keputusan Bapak!"
Rayanza murka. "Keduanya nggak boleh lolos! Akan kubuat mereka menyesal seumur hidup!"
Ibrahim pucat pasi. Dia tahu, di hadapan orang terkaya di Kota Naldern, bahkan kepala dinas kesehatan pun tidak berarti apa-apa.
Dia buru-buru menelepon kepala bagian medis agar segera membawa satpam untuk menangkap orang.
Sementara itu, Rayanza kembali menoleh pada putrinya. Dia hanya memiliki satu anak perempuan. Fellis adalah permatanya.
Fellis sudah lama menderita depresi dan berkali-kali mencoba bunuh diri. Semalam, dia kembali mengiris pergelangan tangannya.
Begitu mendengar kabar putrinya masuk rumah sakit, Rayanza pun pulang dengan tergesa-gesa dan mengundang dokter terkenal.
Namun, di tengah jalan dia diberi tahu bahwa putrinya meninggal. Karena informasi itu, dia hampir saja jatuh sakit. Kemudian, kabar susulan bahwa itu hanyalah kesalahan diagnosis pun membuatnya kembali merasa punya harapan. Kini, dia menatap Leonard dengan penuh harap.
Namun, setelah pemeriksaan, Leonard menggeleng berulang kali. Keningnya berkerut. "Aneh sekali! Benar-benar aneh!"
"Gimana keadaannya, Dokter Leonard?" tanya Rayanza dengan cemas.
"Pak Rayanza, kondisi putrimu sangat aneh. Lima puluh tahun aku mengobati, belum pernah melihat kasus seperti ini. Takutnya ... sulit untuk ditolong."
"Jadi, nggak ada harapan sama sekali?" Rayanza menahan kepiluannya.
Leonard terdiam sejenak, lalu berkata, "Gejalanya mirip yang disebut dalam kitab kuno, yaitu sindrom jiwa terlepas. Jantung dan ginjal sama-sama melemah ...."
Kalimatnya terputus. Tiba-tiba, matanya berbinar. "Tunggu! Gimana mungkin dokter di rumah sakit ini salah menentukan hidup mati pasien, sementara alat monitor jelas menunjukkan tanda vital?"
Rayanza mendengus. Ibrahim mulai gelisah. Dia masih ingat jelas, waktu Fellis turun dari ambulans, napasnya sudah hampir tak ada. Tak lama setelah masuk UGD, dia pun meninggal.
Namun, semalam dia terlalu bersenang-senang dengan perawat. Pagi harinya, tubuhnya lemah dan kepalanya pusing. Ditambah Fellis tiba-tiba hidup kembali, dia sendiri menjadi ragu apakah dirinya salah menilai.
Ibrahim terpaksa menyahut dengan muka tebal, "Itu karena kelalaian dokter. Aku pasti akan melakukan pembenahan besar."
"Bukan begitu! Aku yakin pasti ada sesuatu yang terjadi sehingga tanda vital Fellis bisa kembali!" Leonard menggeleng dengan yakin.
Rayanza yang sangat cerdas langsung menangkap maksudnya. "Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi di kamar mayat. Kalau nggak, kalian semua akan kumasukkan ke penjara!"
Tatapan tajam Rayanza menyapu seluruh dokter. Tekanan besar itu membuat semua orang menunduk. Jantung mereka berdegup kencang.
Tak lama kemudian, ada dokter yang tak tahan, lalu menceritakan seluruh kejadian di kamar mayat.
Mendengar itu, api amarah Rayanza semakin berkobar. Sebaliknya, Leonard justru bertepuk tangan. "Benar! Itu kuncinya! Cepat panggil pemuda itu kembali. Mungkin masih ada secercah harapan!"
"Dia cuma orang gila! Mana bisa disuruh mengobati!" Ibrahim terkejut.
"Panggil dulu! Cepat!" desak Leonard.
Rayanza langsung menarik kerah Ibrahim dan menyeretnya keluar. "Cepat bawa aku ke tempatnya!"
....
Saat Arlo dan Isyana melangkah menuju pintu rumah sakit, ponsel Isyana tiba-tiba berdering.
"Ibu, aku mau antar dia pulang dulu .... Kalau aku pulang dulu baru ke sana, pasti nggak sempat rayain ulang tahun Paman!"
Terdengar suara ibu mertuanya, Renata, di seberang. Arlo yang mendengar suara itu pun kembali teringat kebingungan lamanya.
Setelah musibah menimpa keluarganya, dia mendapat warisan itu, lalu seperti kehilangan akal. Ayah mertuanya berkata Keluarga Antasari pernah sangat berjasa, makanya dia diterima di Keluarga Hanafi, bahkan dinikahkan dengan putri mereka.
Padahal saat itu semua orang tidak tahu apakah dia bisa sembuh. Kalaupun sembuh, dia hanyalah anak yatim piatu biasa. Ada banyak cara membalas budi, tetapi mengorbankan hidup putri sendiri terasa tidak masuk akal. Tampaknya, sudah waktunya berbicara serius dengan ayah mertuanya.
Isyana menutup telepon. Baru saja sampai di gerbang rumah sakit dan berbelok, tiba-tiba sebuah Porsche 718 meluncur kencang dari depan.
"Ah!" Isyana berteriak kaget dan buru-buru menginjak rem, tetapi mobil lawan sama sekali tidak mengurangi kecepatan. Kedua mobil itu pun bertabrakan.
Bab 3
Untunglah kecepatannya tidak tinggi. Ditambah lagi dia mengenakan sabuk pengaman, jadi tidak terluka. Begitu sadar sudah menabrak mobil, Isyana panik dan buru-buru turun, ingin memastikan apakah orang di mobil lain terluka.
Pintu Porsche terbuka. Pengemudinya adalah seorang pemuda berambut pirang. Begitu turun, dia tidak menggubris Isyana, melainkan langsung berlari membuka pintu sisi lain.
Bersamaan dengan itu, empat sampai lima mobil melaju kencang ke arah mereka. Turunlah belasan orang berpenampilan seperti preman, mengepung Beetle yang dikendarai Isyana.
Isyana terkejut, lalu melihat pemuda yang turun dari sisi lain Porsche itu. Alisnya langsung berkerut. "Kamu?"
Sebagai wanita tercantik di Kota Naldern, meskipun secara hukum sudah menikah, suami bodoh tetap saja tidak bisa menghalangi orang-orang yang mengejarnya. Di depannya sekarang adalah salah satunya, Bruno, putra sulung Keluarga Raliansyah yang terkenal sebagai playboy kaya raya.
"Ya, ini aku." Bruno tersenyum mengejek. "Isyana, bunga mawar dengan pinggiran emas yang kuimpor langsung dari Australia kamu buang ke tong sampah. Tas bermerek seharga ratusan juta kamu kasih ke pengemis. Tapi sekarang, kamu malah menabrak mobilku. Apa ini tandanya kamu berubah pikiran?"
Mata Isyana penuh rasa jijik. "Itu cuma kecelakaan. Berapa pun kerugiannya akan aku ganti."
"Kamu mau ganti? Apa kamu bisa?" Bruno menyeringai sinis. "Porsche 718 varian tertinggi ini minimal harganya hampir 6 miliar. Kamu sanggup ganti? Mobil ini juga sudah menemaniku menaklukkan puluhan wanita. Ini kenangan masa mudaku. Mana bisa diselesaikan dengan uang?"
Wajah Isyana menjadi kelam. "Terus, kamu mau apa?"
"Mudah saja. Jadi wanitaku, maka urusan ini selesai. Malah aku bisa kasih kamu satu Porsche edisi terbatas."
"Mustahil! Aku akan lapor polisi." Isyana buru-buru merogoh ponsel, tetapi langsung dirampas Bruno.
"Aku sudah siapkan kamar hotel. Kita tidur dulu, habis itu silakan kamu lapor polisi. Katakan saja kamu nggak sanggup ganti rugi, jadi pakai tubuhmu untuk bayar utang. Nggak ada yang nggak bakal percaya. Keluargamu pun nggak akan berani bantah."
Bruno tertawa puas, melambaikan tangan. Seketika, para preman di sekitarnya bergerak, berusaha meraih Isyana.
"Jangan mendekat!" Isyana panik, merasa tak berdaya.
Arlo menghela napas, lalu maju dan melindungi Isyana di belakangnya.
Bruno mencibir. "Apa-apaan ini? Si bodoh mau main jadi pahlawan kesiangan? Kamu pikir kamu pantas? Cih!"
Kemudian, pemandangan mengejutkan terjadi. Preman-preman ganas itu roboh satu per satu, berteriak kesakitan seperti kambing yang disembelih.
Hanya dalam sesaat, belasan orang tumbang. Isyana bahkan tak sempat melihat bagaimana Arlo melakukannya.
Padahal orang-orang yang dibawa Bruno terkenal jago berkelahi, tetapi mereka semua tak sanggup menahan beberapa pukulan dari Arlo?
Arlo mencebik. Setelah mendapatkan warisan, dia sudah berlatih di dalam ilusi lautan kesadaran selama tiga tahun. Menghajar preman seperti ini rasanya seperti memakai pisau besar untuk menyembelih ayam.
"Ini ...." Isyana melongo, tak pernah membayangkan suatu hari dia akan dilindungi oleh suaminya yang dianggap bodoh.
Senyuman mengejek di wajah Bruno mendadak hilang, berganti wajah pucat pasi. Sebagai playboy kaya raya, entah sudah berapa wanita dia tiduri. Namun, setiap menghadapi Isyana, dia selalu gagal.
Hari ini dia sudah hilang kesabaran, makanya sengaja merencanakan jebakan ini. Semua sudah diatur rapi. Seharusnya dia sudah bisa memaksa Isyana jatuh ke tangannya. Tak pernah dia sangka, justru dirinya sendiri yang ketakutan sekarang.
Isyana, wanita cantik terkenal dari Kota Naldern, menikah dengan orang bodoh, membuat banyak orang menyesalkan nasibnya. Siapa sangka, si bodoh itu ternyata sehebat ini.
Melihat tatapan Arlo yang menusuk padanya, tubuh Bruno bergetar hebat. Dia mundur tujuh hingga delapan langkah. "Ja ... jangan dekat-dekat! Mau apa kamu?"
Arlo mengepalkan tangannya. "Di depan mataku, kamu berani ganggu istriku. Menurutmu aku bakal diam saja?"
Bruno menelan ludah dengan gugup. "Ja ... jangan gila ya! Dia yang nabrak mobilku, memang sudah seharusnya ganti rugi ...."
Saat itu, Isyana buru-buru menarik Arlo. "Jangan! Memang aku yang salah. Aku yang harus tanggung jawab."
Meskipun kemampuan menyetirnya payah, dia masih tahu aturan. Barusan dia menelepon sambil menyetir, bahkan berbelok. Jelas itu salahnya.
Arlo menggeleng. "Kamu terlalu polos. Cepat ambil ponsel dan rekam."
"Rekam apa?" Meskipun bingung, Isyana tetap menurut dan menyalakan kamera.
Arlo meraih si pemuda berambut pirang yang mengemudi tadi, lalu mengangkatnya. "Kenapa kamu tabrak mobil istriku?"
"Aku ...." Pemuda itu awalnya ingin berbohong. Bagaimanapun, dia adalah pengikut setia Bruno. Namun, begitu melihat mata Arlo yang berkilat aneh, pikirannya seketika kosong.
"Pak Bruno yang suruh! Dia pasang orang di perempatan buat mengintai. Begitu melihat mobil Bu Isyana belok, aku langsung tabrak ...."
Kata-kata itu singkat, tetapi jelas membuka semua fakta. Ini bukan kecelakaan, melainkan jebakan yang sudah direncanakan.
Isyana mendengar semuanya dengan jelas. Wajahnya merah padam karena marah. "Bruno! Dasar nggak tahu malu!"
"Aku ...." Bruno langsung termangu. Rencananya yang sempurna menjadi hancur gara-gara anak buahnya membocorkan rahasia.
Arlo menendang si pirang sampai terlempar, lalu mendekati Bruno.
"Kamu ...." Bruno ingin melontarkan ancaman, tetapi sebelum sempat berbicara, pipinya sudah ditampar berkali-kali, sampai dia tidak bisa mengeluarkan kata-kata.
"Sudah, cukup!" Meskipun marah, Isyana masih berusaha menahan Arlo. Bagaimanapun, Bruno adalah orang Keluarga Raliansyah. Mereka tidak bisa menanggung akibatnya jika masalah jadi semakin besar.
Bruno yang wajahnya bengkak pun menjadi semakin berani saat melihat Isyana takut. Dia berseru, "Dasar bodoh! Kamu berani tampar aku? Keluarga Raliansyah nggak akan ampuni kalian!"
"Kamu sendiri yang bilang aku bodoh, mana aku peduli kamu dari keluarga mana. Orang bodoh bahkan nggak bakal dihukum kalau membunuh. Menurutmu, gimana kalau aku bunuh kamu sekarang?" ejek Arlo yang menarik kerah baju Bruno, lalu menampar lagi.
Tatapan tajamnya membuat Bruno langsung menciut dan keberaniannya lenyap. Semua orang di kota tahu, menantu Keluarga Hanafi adalah orang bodoh. Kalau orang bodoh membunuhnya, siapa yang bisa menuntut?
Bruno buru-buru mengalah. "Tenang ... tenang! Jangan emosi. Apa pun maumu, aku turuti."
"Bagus. Jangan bikin aku marah atau aku benaran bunuh kamu." Arlo mendengus. "Kamu sudah menjebak istriku dan menabrak mobilnya. Menurutmu harus ganti rugi nggak?"
Bruno cepat-cepat mengangguk. "Aku akan ganti rugi! Aku langsung perbaiki mobilnya. Berapa pun biayanya, aku tanggung."
Arlo menamparnya lagi. "Cuma diperbaiki? Enak saja!"
"Aku ... aku ganti yang baru! Beetle, 'kan? Aku transfer 600 juta sekarang juga!"
Air mata Bruno hampir jatuh. Yang penting dia bisa segera lolos dari si bodoh ini. Soal balas dendam, nanti saja.
"Kamu rasa 600 juta cukup?" Arlo menampar dua kali lagi sampai bibir Bruno berdarah.
"Aduh! Aku sudah bayar sesuai harga mobil baru. Masih kurang apa?"
"Kurang banyak!" Arlo mendengus. "Itu bukan mobil biasa. Itu saksi cintaku dan istriku. Tanpa mobil itu, kami nggak akan bisa bersama. Itu perantara cinta kami. Sekarang kamu buat rusak, berarti kamu merusak saksi cinta kami. Jadi, minimal 2 miliar!"
"Aku ...."
Bab 4
Bruno hampir saja menyemburkan darah. Cara Arlo memeras orang persis dengan dirinya. Tadi dia bilang Porsche itu adalah saksi masa muda, sekarang Arlo malah mengeluarkan alasan saksi cinta, bahkan bilang itu adalah perantara jodoh.
Wajah Arlo sontak menjadi dingin. "Bilang saja, kamu mau kasih atau nggak?"
"Kasih, kasih, aku langsung kasih." Meskipun merasa tertekan, saat ini dia tidak berani mengucapkan sepatah kata penolakan.
Arlo melepaskannya, lalu mengambil ponsel dari tangan Isyana yang masih linglung dan membuka kode pembayaran. Tak lama kemudian, terdengar bunyi notifikasi. Uang dua miliar masuk rekening.
"Pergi sana! Jangan sampai terulang lagi. Kalau nggak, kamu nggak akan lolos semudah ini lagi." Begitu uang masuk, Arlo langsung menendang Bruno hingga terlempar.
Bruno gemetar menahan amarah. Kebetulan, dia melihat Bilal, kepala departemen medis rumah sakit, berlari menghampiri dengan tujuh hingga delapan satpam. Niat jahat langsung timbul di hatinya. Dia berteriak keras, "Pak Bilal, aku dipukuli dokter kalian! Kalian harus tanggung jawab!"
Keluarga Raliansyah memiliki bisnis obat. Demi mengejar Isyana, dia sering datang ke rumah sakit, jadi sudah akrab dengan Bilal. Melihat kondisi Bruno yang parah, ekspresi Bilal berubah serius. "Apa yang terjadi?"
Bruno menunjuk Isyana dan Arlo, langsung memutarbalikkan fakta. "Dia menabrak mobilku, lalu suruh si bodoh ini memukulku. Si bodoh bilang orang gila nggak akan dihukum kalau membunuh. Kemudian, mereka peras aku 2 miliar!"
Mendengar itu, Bilal murka. "Pagi tadi kamu salah diagnosis dan hampir membuat pasien meninggal. Kamu bahkan mengirim pasien yang masih hidup ke kamar mayat! Kamu juga berani bawa keluargamu yang punya gangguan jiwa ke rumah sakit!"
"Hanya dengan dua kesalahan itu saja, izin praktikmu bisa dicabut! Bisa-bisa kamu dipenjara seumur hidup! Sekarang kamu malah main tangan di rumah sakit! Di dunia ini masih ada hukum atau nggak?"
Dengan suara lantang, Bilal langsung menuduh Isyana. Keributan ini pun menarik perhatian banyak orang di pintu rumah sakit.
Mendengar ucapan Bilal, semua orang mulai menunjuk dan bergosip. Pasien hidup dikirim ke kamar mayat? Menabrak dan memeras? Itu dokter atau preman?
Melihat reaksi orang banyak, Bilal merasa puas. Kebetulan Ibrahim adalah kakak iparnya. Begitu mendengar tentang Fellis yang salah didiagnosis dan insiden di kamar mayat, dia sadar harus membuat masalah ini jadi lebih besar agar bisa menekan Isyana, sekaligus menutupi kesalahan iparnya. Bagaimanapun, ke depannya dia masih butuh koneksi Ibrahim untuk kariernya.
Bruno menambahkan, "Pak Bilal, kita sudah kenal lama, urusan ini aku serahkan padamu. Aku ada urusan, aku pergi dulu. Ingat, harus ada penjelasan buatku nanti."
"Tenang saja!" Bilal mengangguk.
Bruno segera berbalik dan naik ke mobilnya. Salah satu anak buahnya bertanya, "Satpam-satpam itu 'kan sudah tua dan lemah. Sepertinya juga bukan tandingan si Arlo, 'kan?"
Bruno mendengus. "Kamu ngerti apa? Aku justru ingin dia bikin keributan besar. Lebih bagus kalau dia sampai bunuh satpam-satpam itu! Saat itu, Isyana pasti akan datang memohon kepadaku!"
....
Begitu Bruno pergi, Bilal memasang ekspresi berkuasa dan menatap Isyana. "Gimana? Kalian mau jalan sendiri atau perlu aku suruh orang bawa kalian?"
"Tahan mereka berdua, tunggu hasil rapat rumah sakit. Harus diproses dan nggak boleh ditoleransi! Kalau perlu lapor polisi, langsung laporkan saja!"
Kebetulan kepala perawat lewat. Karena hubungannya dengan Isyana baik, dia tak tahan untuk bertanya, "Pak Bilal, apa ada salah paham di sini? Semua orang tahu kemampuan Dokter Isyana, mana mungkin dia buat kesalahan sepele begitu?"
Bilal melambaikan tangan dengan penuh wibawa. "Kamu urus saja pekerjaanmu, urusan ini bukan wewenangmu!"
"Walaupun pintar, moral tetap yang utama! Dia lalai dan kirim pasien hidup ke kamar mayat. Itu jelas-jelas mengabaikan nyawa orang, itu adalah kecelakaan medis besar!"
Kepala perawat tidak tahu kebenarannya, jadi tidak berani berbicara lagi.
"Kamu bohong! Pagi tadi saat aku masuk, Fellis sudah lebih dulu dinyatakan meninggal oleh Ibrahim!" Isyana yang tak tahan lagi akhirnya membantah di depan umum.
Tatapan Bilal pada Isyana mengandung sedikit kerakusan dan rasa puas. Dulu dia pernah mengisyaratkan ingin bermain dengan Isyana, tetapi wanita itu malah menamparnya keras-keras. Sekarang wanita itu jatuh ke tangannya. Dia ingin melihat sampai kapan Isyana bisa berpura-pura suci!
"Pihak rumah sakit pasti akan menyelidiki kebenarannya! Tangkap mereka! Bawa ke ruang rapat dulu!" Bilal menyeringai dingin.
Empat sampai lima satpam itu pun segera mengepung.
Arlo bertanya dengan santai, "Kalau nggak salah, departemen medis rumah sakit nggak punya hak untuk menangkap orang, 'kan?"
Bilal tertawa sinis. Orang gila ini berani berbicara soal hukum?
"Kamu ini siapa? Apa aku butuh jelasin ke kamu? Orang yang ketahuan melecehkan mayat perempuan masih berani melawan? Tanya orang-orang, apa salah kalau aku menangkapmu?"
Mendengar tuduhan melecehkan mayat, kerumunan langsung bergidik. Terlalu menjijikkan! Orang-orang mulai berteriak agar Arlo segera ditangkap.
Isyana mengernyit, menatap Arlo dengan kesal. Bukannya membantu, malah memberi celah kepada Bilal.
Dia segera mengeluarkan ponsel, ingin menelepon ayahnya agar meminta bantuan orang berpengaruh. Setidaknya, jangan sampai Arlo ditangkap dengan tuduhan menjijikkan itu.
Namun, baru saja panggilan terhubung, Bilal memukul ponsel Isyana hingga jatuh. "Cih! Mau pakai koneksi? Percuma! Perempuan macam kamu cuma modal wajah cantik. Kamu pikir bisa pakai tubuh buat menukar kekuasaan ...."
Bilal bahkan meludah ke arah kaki Isyana.
Wajah Isyana memerah, tubuhnya gemetar karena marah. Wajah Arlo pun semakin suram.
Tiga tahun ini, walaupun hanya status suami istri tanpa hubungan nyata, Isyana selalu merawatnya. Melihatnya dihina begini, api amarah langsung membakar kepalanya.
"Minta maaf!" bentak Arlo dengan dingin.
Bilal mendengus meremehkan.
Plak! Arlo langsung menampar wajah Bilal dua kali.
"Kamu berani menamparku?" Urat di kening Bilal menegang. "Kalau aku nggak bikin kamu masuk penjara, namaku bukan Bilal!"
"Menamparmu? Barusan Bruno bilang, orang gila nggak akan dihukum kalau bunuh orang, 'kan?"
Sambil berbicara, Arlo mencengkeram leher Bilal. Sedikit ditekan saja, wajah Bilal sudah merah dan matanya penuh ketakutan.
"Arlo, lepaskan!" Isyana segera menariknya.
Namun, wajah Arlo tetap dingin. Bilal pun mulai sesak napas. Dia meronta-ronta, tetapi tidak bisa melepaskan diri.
Beberapa satpam buru-buru maju. Namun, Arlo menahan Bilal dengan satu tangannya, sementara tangan lainnya mengempaskan para satpam itu dengan mudah.
Orang-orang menatap Arlo dengan wajah takut. Si gila ini benar-benar berbahaya!
"Minta maaf atau nggak?" tanya Arlo dengan dingin.
Bilal dengan susah payah mengangguk. Arlo baru melepaskan tangannya. "Aku ... aku minta maaf!"
Bilal yang panik pun terbata-bata, lalu kabur keluar kerumunan. Setelah berlari agak jauh, dia kembali berteriak, "Tunggu saja pembalasan dariku!"
Arlo menyeringai sinis. "Aku tunggu, aku ingin lihat apa yang bisa kamu lakukan."
Isyana mengerutkan kening. Arlo sebelumnya tidak pernah sebrutal ini. Kini, urusannya menjadi sebesar ini. Dia benar-benar bingung bagaimana harus menghadapinya.
Saat itu, dari luar kerumunan, Ibrahim dan Rayanza muncul dengan dikawal beberapa pengawal.
Bab 5
Bilal buru-buru menyongsong ke depan, lalu menunjuk Arlo sambil mengadu, "Pak Ibrahim, cepat panggil polisi. Dia ... dia hampir saja membunuhku! Dia juga memeras Bruno sampai 2 miliar!"
Ibrahim menatap wajah menyedihkan Bilal. Sudut bibirnya tak kuasa berkedut.
Rayanza menatap Arlo. Dia sama sekali tidak peduli Arlo memukul siapa atau berbuat apa. Dia hanya ingin tahu, apakah putrinya bisa diselamatkan atau tidak.
Di sisi lain, meskipun Arlo dikepung begini, wajahnya tetap tenang. Mentalnya benar-benar stabil.
Rayanza membuka mulut. "Yang menemukan kalau putriku masih hidup di kamar mayat itu kamu?"
"Bukan. Lebih tepatnya aku yang menemukan kalau putrimu masih bisa diselamatkan. Aku yang menolongnya!" Arlo mendongak.
"Omong kosong! Kamu itu orang gila! Memangnya pernah masuk fakultas kedokteran? Punya izin praktik dokter?" Ibrahim langsung menyanggah.
"Nggak. Tapi memang aku yang selamatkan pasien. Kamu sudah kuliah kedokteran dan punya izin dokter, 'kan? Ya sudah, sekarang kamu coba hidupkan dia. Ngapain datang ke sini?" Arlo mencibir, jelas sudah menebak maksud kedatangan mereka.
Hati Ibrahim langsung dipenuhi firasat buruk.
Rayanza mengangkat sedikit kelopak matanya. "Kalau begitu, sekarang kamu pergi selamatkan putriku dan buktikan kata-katamu. Aku bisa nggak menuntut urusan yang sebelumnya!"
Arlo mengangkat alis, tidak senang. "Nggak mau, aku lagi nggak mood! Kalau bukan karena aku, putrimu setengah jam yang lalu sudah mati. Kamu juga nggak punya hak bicara padaku dengan nada seperti itu!"
Rayanza mengepalkan tangan. Dengan statusnya saat ini, tidak ada orang yang berani berbicara padanya begitu.
Namun, dia segera menyerah. Nyawa putrinya di ujung tanduk. Dia hanya bisa pasrah, mencoba segala cara.
"Apa syaratmu supaya mau menolong putriku? Sebutkan saja. Asal bisa menyelamatkan dia, aku nggak akan protes!"
Arlo mengangguk. "Begitu baru sikap orang yang minta tolong!"
Sambil berbicara, pandangannya menyapu Ibrahim dan Bilal. Dengan dingin, dia berkata, "Aku minta reputasi istriku dipulihkan. Siapa yang salah, dia yang harus tanggung jawab!"
Hati Isyana rumit. Dia merasa terharu karena Arlo masih melindunginya di saat begini. Namun, dia juga ketakutan. Bahkan dokter terkenal seperti Leonard saja tidak bisa menyelamatkan Fellis, apa Arlo bisa?
Bilal melongo. Situasinya sama sekali di luar bayangan.
Awalnya dia mengira Rayanza pasti akan menampar Arlo habis-habisan. Siapa sangka, Arlo malah diperlakukan sopan, bahkan dimintai tolong untuk menyembuhkan Fellis?
Dia melirik Ibrahim, melihat wajahnya sudah merah padam. Seketika, dia ikut panik.
Rayanza yang lihai di dunia bisnis sudah bisa menebak. "Pak Ibrahim, kalau sekarang kamu nggak bicara jujur, aku akan panggil pihak pengawas kedisiplinan untuk datang menyelidiki!"
Dahi Ibrahim langsung dipenuhi keringat dingin. Di rumah sakit ini, dia memang bisa menutupi segalanya. Namun, kalau pengawas turun tangan, tidak bisa lagi!
Setelah ragu sesaat, Ibrahim pun menceritakan semuanya. Setelah selesai, dia tak tahan untuk menekankan, "Pagi tadi kondisi pasien memang sudah nggak ada napas dan detak jantung ...."
Rayanza melambaikan tangan. "Urusan kita berdua akan kuperhitungkan lain waktu. Sekarang, kamu harus minta maaf pada siapa?"
"Maaf, benar-benar maaf! Tadi aku khilaf!" Ibrahim buru-buru berbalik dan meminta maaf pada Arlo.
Arlo mencebik. "Hmm?"
Ibrahim langsung menoleh ke Isyana dan terus meminta maaf. Melihat itu, Bilal pun ikut panik, juga segera meminta maaf pada Isyana.
Isyana hanya diam. Jadi, keduanya sama-sama memohon pada Arlo. Arlo menyeringai. "Kalau minta maaf saja cukup, buat apa ada polisi? Betul 'kan, Pak Rayanza?"
Dengan cemas, Rayanza menyahut, "Aku pasti akan memberimu jawaban nanti! Tolong obati putriku dulu!"
Arlo mengangguk. Isyana semakin gelisah. Kini, Arlo terasa begitu asing dan membuatnya khawatir. Dia diam-diam menggeleng, lalu meraih lengan Arlo.
Arlo menyeringai, balik menggenggam tangan Isyana sambil menekannya pelan. "Tenang, aku yakin bisa."
Isyana merasakan kehangatan dari telapak tangannya. Entah kenapa, dia menjadi gugup. Kata-kata yang ingin diucapkan pun ditelan kembali.
Arlo lantas mengikuti Rayanza masuk ke ruang gawat darurat, sementara wajah Ibrahim dan Bilal tampak muram.
"Kak, gimana ini?" Bilal kelihatan sangat panik.
Ibrahim mendengus. "Masa kamu juga percaya orang gila bisa mengobati?"
"Ah, iya .... Kalau nanti gagal dan Pak Rayanza marah, kita berdua yang celaka!" Bilal buru-buru mengangguk.
Mereka ikut menyusul ke ruang gawat darurat.
Begitu masuk, Arlo langsung menekan dada Fellis dengan kedua tangannya sambil berkata dengan tenang, "Cepat ambilkan aku satu kotak jarum akupunktur!"
Wajah Rayanza seketika muram. Kalau bajingan ini tidak berhasil, tangannya pasti akan dipotong!
Dokter-dokter di tempat itu juga merasa konyol. Orang gila menjadi dokter, masih pakai akupunktur? Benar-benar lucu! Bahkan film komedi pun tidak sampai segila ini.
Leonard bergumam, "Sindrom jiwa terlepas diobati dengan akupunktur? Ini ...."
Arlo menyeringai. "Sindrom jiwa terlepas? Kamu salah, ini sindrom jiwa tercerai!"
"Sindrom jiwa tercerai?"
Saat itu, perawat membawa jarum. Arlo tidak menjelaskan lagi. Dia langsung mengambil jarum, lalu dengan cekatan menusukkan ke titik akupunktur di ubun-ubun Fellis.
Ketika menusukkannya, dia mengunci roh Fellis dengan energi, menarik kembali roh yang tercerai. Begitu jarum dicabut, detak jantung Fellis kembali normal dan napasnya pun stabil.
"Ada harapan!"
"Sudah ada napas!"
"Stabil!"
Tak lama kemudian, Fellis perlahan sadar. Dia memandang orang-orang di sekitarnya dengan bingung, lalu menangis.
Para dokter melongo menatap Arlo. Leonard menggaruk kepala, sama sekali tidak paham. Hanya beberapa tusukan biasa, tetapi benar-benar menghidupkan orang?
Mata Rayanza memerah. Dia buru-buru mengusap wajahnya, baru bisa tenang kembali.
Isyana juga terkejut. Melihat Arlo yang tenang, dia merasa bingung untuk sejenak. Pria ini benar-benar orang yang dulu dia kenal sebagai pria gila dan tak berguna?
"Nyawanya sudah kembali, tapi lever dan limpanya nggak seimbang. Energi dan darah juga tersumbat, menimbulkan depresi berat. Masih harus dirawat perlahan," kata Arlo dengan tenang.
Leonard mengangguk. "Dalam pengobatan tradisional, depresi dianggap sebagai penyakit akibat emosi yang terimpit. Hanya saja cara penyembuhannya rumit sekali."
Rayanza bertanya, "Dokter Kecil, kamu punya cara?"
"Ada, tentu ada!" Arlo mengangkat alis. Memang bisa, tetapi merepotkan.
Bagi Rayanza yang merupakan seorang pebisnis, pendidikan atau sertifikat tidak penting, yang penting hasil. Apalagi, dia sudah sering mendengar tentang dokter kurang dikenal yang memiliki kemampuan hebat.
Arlo sudah membuktikan kemampuannya sehingga Rayanza percaya penuh padanya. Makanya, ketika mendengar Arlo bilang bisa, dia langsung berkata, "Sebut saja syaratmu!"
"Seminggu dua kali akupunktur, ditambah ramuan herbal. Depresi karena emosi tersumbat harus diatasi pelan-pelan," jelas Arlo.
"Baik, baik! Setelah Fellis keluar dari rumah sakit, aku akan suruh orang menjemputmu seminggu dua kali!" Rayanza khawatir Arlo menolak.
Arlo hendak mengangguk, tetapi Isyana diam-diam mencubit pinggangnya. Kali ini dia beruntung bisa menolong Fellis. Itu sudah anugerah terbesar! Sekarang masih mau mengobati depresi berat? Mana ada depresi berat yang gampang sembuh!
Banyak orang kaya dan terkenal tak kekurangan uang atau dokter hebat, tetapi semua tumbang karena penyakit ini ....
Arlo hanya bisa mencibir. "Nanti kita bicarakan lagi!"
Rayanza mengira itu soal janji sebelumnya. Dia buru-buru memerintahkan pengawalnya, "Bawa Ibrahim dan Bilal ke lembaga pengawas. Bilang aku yang melaporkan mereka berdua atas pelanggaran!"
Ibrahim dan Bilal langsung melemas di luar.
"Ehem, Anak Muda, kalau ada kesempatan, aku ingin belajar darimu juga." Leonard tersenyum kaku.
"Kalau ada kesempatan, kita saling belajar." Arlo tersenyum tipis.
Leonard mengangguk berkali-kali. Kesannya pada Arlo semakin baik. Rendah hati, tetapi punya kemampuan. Dulu waktu seusia Arlo, dia pun tidak bisa begitu!
Isyana sudah tidak tahan. Apa-apaan masih mau saling belajar? Leonard itu dokter terkenal dalam negeri!
Arlo hanya bermodalkan beberapa buku kedokteran yang tidak jelas, tetapi berani berbicara omong kosong. Sudah jelas, dia hanya menggali kuburan untuk dirinya sendiri. Dia pun buru-buru menarik Arlo keluar.
Bab 6
"Pergi, ikut aku pulang sekarang juga!" Begitu keluar pintu, Isyana langsung menarik Arlo pulang.
Rayanza berpikir sebentar, lalu cepat-cepat berkata kepada pengawal, "Cepat, bawa mobilku dari parkiran dan antarkan untuk Pak Arlo!"
Pengawal sempat termangu. Itu adalah Rolls-Royce yang baru datang hari ini. Tadi juga baru dipakai ketika menjemput Rayanza di bandara.
Pengawal buru-buru mengejar keluar, tetapi bayangan Arlo sudah tak kelihatan. Akhirnya, mereka hanya bisa kembali dengan canggung.
Rayanza hendak marah. Namun, Leonard tersenyum sambil berkata, "Kalian pasti akan bertemu lagi nanti."
....
Mobil Isyana memang sempat ditabrak, tetapi hanya bodi luarnya yang rusak sehingga masih bisa dikendarai.
"Naik!" Setelah mengambil mobil, Isyana langsung mendorong Arlo masuk. Mobil melaju kencang. Isyana terus melirik Arlo dari ekor matanya.
Saat ini, Arlo membuatnya merasa begitu asing. Namun, mungkin bagi Isyana, sejak awal Arlo memang selalu asing.
Ketika Arlo dibawa ke Keluarga Hanafi, dia hanyalah seorang penderita gangguan jiwa yang sudah hilang akal.
Waktu itu, semua informasi yang Isyana dapatkan tentang Arlo hanya sedikit dan biasa-biasa saja.
Seorang mahasiswa tingkat akhir yang keluarganya terkena musibah menjelang kelulusannya. Kedua orang tuanya dibunuh oleh perampok yang masuk ke rumah.
Karena kehilangan ayah ibu dalam semalam, Arlo tidak sanggup menanggung pukulan itu dan akhirnya mengalami gangguan mental.
Selama tiga tahun setelah menikah, Isyana lebih sering memperlakukan Arlo seperti idiot yang perlu dirawat.
Namun, kini idiot itu tiba-tiba berubah, menjadi seorang pemuda penuh percaya diri dan tenang.
Melihat Arlo melindungi dirinya, melihat Arlo berdiri di depan Rayanza sang konglomerat tanpa merasa rendah diri, melihat Arlo berbicara lugas di hadapan dokter besar, semua itu membuat perasaan Isyana campur aduk dan sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan sebuah restoran terkenal di kota. Isyana buru-buru merias sedikit wajahnya di dalam mobil. Dengan wajah yang memang sudah cantik, seketika pesonanya tambah menggoda.
Arlo sampai terpana melihatnya, benar-benar wanita yang memikat!
"Banyak tamu di pesta ulang tahun pamanmu?" tanya Arlo tiba-tiba.
Isyana menggigit bibirnya. "Bukan pesta besar, nggak undang terlalu banyak orang. Kalau kamu nggak mau ikut, boleh saja."
Arlo tersenyum getir. "Takut aku bikin kamu malu?"
"Bukan!" Ekspresi Isyana sedikit berubah, tetapi dia tidak menjelaskan.
"Soal pernikahan kita, aku tahu kamu dipaksa. Kalau kamu ingin cerai, aku setuju," ujar Arlo setelah berpikir sejenak.
Dia tidak merasa ada yang kurang dari Isyana. Wanita ini cantik. Bahkan demi janji pada ayahnya, wanita ini rela menikah dengannya serta merawatnya selama tiga tahun. Benar-benar wanita yang langka. Namun, dia juga tidak mau memaksa.
Isyana langsung membuka pintu dan turun dengan ekspresi dingin. Arlo pun tidak mengerti maksudnya apa.
Namun, Isyana tidak masuk, malah berdiri di depan pintu restoran. Jelas-jelas dia menunggu Arlo. Memang hati wanita sulit dimengerti!
Arlo tersenyum pahit, lalu ikut turun dan masuk bersamanya. Mereka dibawa ke ruang VIP di lantai dua. Dua meja bundar besar sudah penuh dengan kerabat.
Ayah mertua, Victor, dan ibu mertua, Renata, duduk di salah satu meja. Begitu melihat Arlo, wajah Renata langsung terlihat tidak senang.
Isyana menuntun Arlo menyapa para senior satu per satu. Arlo tidak mengenal siapa-siapa. Dia hanya bisa mengikuti panggilan Isyana dan terlihat agak kikuk.
Kerabat-kerabat itu pun menunjukkan tatapan mengejek. Semuanya bersikap dingin pada Arlo.
Victor tersenyum ramah dan melambaikan tangan, mengisyaratkan Arlo duduk di sampingnya. Isyana lalu duduk di sebelah ibunya.
Meja itu dipimpin oleh paman dan bibi Isyana. Sebenarnya pamannya yang ulang tahun hari ini, tetapi yang sibuk berkeliling untuk bersulang justru menantunya, Graha.
Graha berusia sekitar 30-an tahun. Penampilannya terlihat sangat kaya, sementara gaya bicaranya khas orang-orang di dunia bisnis.
"Terima kasih sudah hadir di ulang tahun ayah mertuaku. Aku akan minum dulu untuk menghormati kalian semua!" kata Graha sambil menghabiskan segelas anggur. Dia tampak sangat bersemangat.
"Graha, bisnismu sekarang besar, jangan lupa bantu-bantu kami juga ya!"
"Ya, kudengar proyek yang kamu kerjakan itu proyek Keluarga Soraya."
"Kamu sudah bisa kerja sama dengan keluarga konglomerat. Meskipun hanya dapat sedikit, itu sudah cukup buat kasih makan kami beberapa generasi!"
"Nanti kalau sudah makin sukses, jangan lupakan kerabatmu yang masih miskin ini ya!"
"Hahaha. Aku ini cuma kontraktor kecil yang kerja susah payah buat dapat uang. Kalian terlalu memujiku," sahut Graha, tetapi ekspresinya jelas tak bisa menyembunyikan rasa bangga.
Sebagian besar tamu memang kelas pekerja, kecuali Graha. Hanya Victor yang bisa dihitung pengusaha.
Namun, usaha Keluarga Hanafi hanya di bidang perkebunan obat, Victor orangnya juga baik hati, jadi bisnis dikelola bersama keluarga. Keuntungannya tentu tidak bisa dibandingkan dengan pengusaha besar.
Orang-orang pun ramai-ramai memuji Graha. Paman dan bibi Isyana juga ikut senang. Jika menantu sukses, mereka juga ikut bangga.
Terutama bibinya, yang sejak menikah selalu tak akur dengan Renata. Dulu Renata sering membanggakan anak perempuannya yang cantik bisa menikah dengan anggota keluarga kaya, juga menyindirnya. Namun, sekarang ternyata Isyana menikah dengan orang sakit jiwa.
Sementara itu, anak perempuan bibi Isyana justru menikah dengan pria mapan, yang punya status dan uang. Tatapan penuh kemenangan itu terus menantang Renata.
Wajah Renata sampai memucat. Dia menunduk ke arah Isyana sambil berbisik dengan sinis, "Pintar sekali bicara omong kosong! Cuma dapat satu proyek penghijauan Keluarga Soraya, itu pun paling cuma ketemu manajer proyek beberapa kali. Berani-beraninya pamer. Nggak takut lidah keseleo ya!"
Isyana mengusap kepalanya yang terasa pusing, tak menjawab. Victor mengambilkan beberapa potong daging merah untuk Arlo. Arlo pun makan dengan lahap.
Melihat sikap keluarganya seperti ini, Renata semakin kesal. Terutama melihat Arlo, semakin dilihat semakin tidak suka.
Graha menjadi pusat perhatian. Sementara Arlo, jangankan sukses, bisa sembuh dari sakit jiwa saja sudah seperti keajaiban. Perbandingan ini membuatnya merasa sangat getir!
Bibi Isyana, Yulia, melihat Renata gelisah. Dia pun tersenyum penuh kemenangan. "Kak, penyakit Arlo 'kan merepotkan sekali! Mau kerja juga pasti sulit, mana ada orang mau terima!"
"Tapi Graha seorang kontraktor, dia nggak keberatan soal ini. Gimana kalau Arlo kerja di tempatnya saja? Kalau ditanggung keluarga terus 'kan juga nggak baik."
"Bu, bukannya aku nggak sopan, tapi ide ini nggak bisa dijalankan. Sekarang pengawasan ketat, jadi orang sakit nggak bisa diterima kerja." Graha tersenyum sambil menolak secara halus.
"Oh, bahkan jadi kuli pun nggak bisa ya!" Yulia mendengus dengan nada menyindir.
Isyana tidak suka Arlo dipermalukan, jadi berkata, "Arlo sudah sembuh kok."
"Sembuh?" Semua orang ragu, tampak tak percaya dan menganggap Isyana hanya membela suaminya.
Arlo juga tidak menjelaskan banyak, hanya tersenyum.
Victor pun menimpali, "Kalau begitu, hari ini sungguh hari baik. Kakak Ipar ulang tahun dan menantuku sembuh! Ayo, ayo, kita minum untuk merayakan!"
Renata menggertakkan gigi, kesal dengan sikap suaminya yang selalu meredam.
Graha menyeringai. "Kalau sudah sembuh, artinya harus kerja! Pria harus menafkahi keluarga. Benar 'kan, Arlo?"
Arlo hanya mengangguk ringan.
"Kita ini ipar, harus saling bantu! Kalau jadi kuli jelas nggak pantas. Kebetulan aku ada proyek di utara Mianar. Lagi butuh seorang penanggung jawab. Gimana, Arlo? Setahun bisa dapat 1 miliar dengan mudah!" kata Graha dengan gaya dermawan.
Victor mengernyit, tetapi sebelum dia sempat berbicara, Arlo sudah menyipitkan mata dan tertawa. "Aku dengar di sana lumayan kacau. Banyak yang tergoda gaji tinggi, lalu ternyata diculik buat diambil organnya. Kakak Ipar, kamu mau jual aku ke sana?"
Bab 7
Begitu kalimat itu keluar, barulah semua orang percaya bahwa Arlo memang sudah sembuh, bahkan cara berbicaranya juga cukup tajam!
Victor langsung girang. Dia menggenggam tangan Arlo erat-erat, tidak mau melepaskannya untuk waktu yang lama.
Renata juga sempat senang, tetapi segera merasa biasa saja. Meskipun Arlo sudah sembuh, tetap saja tidak bisa dibandingkan dengan menantu orang lain yang kaya raya.
Arlo menyadari bahwa ayah mertuanya ini memang tulus padanya.
Di sisi lain, wajah Graha menjadi masam. Sementara itu, Yulia menyindir dengan nada tajam, "Kamu ngomong apa sih? Kakak iparmu beli mobil saja harganya 1,6 miliar. Kalau kamu dijual, memangnya bisa laku berapa?"
Arlo mengangkat bahu. "Aku ini cukup berharga kok. Dua ginjal dan satu jantung. Paling nggak bisa laku miliaran. Siapa tahu Kak Graha jadi kalap karena lihat uang!"
"Graha bikin proyek kecil saja sudah dapat miliaran!"
"Bu, ngapain juga ribut sama orang sakit jiwa?"
"Cara bicara Arlo betul-betul nggak sopan!"
"Kalau bukan karena kerabat, mana ada orang mau kasih dia kesempatan emas begitu?"
"Nggak mau kerja, penakut pula! Meskipun sembuh, aku rasa dia juga nggak bakal ada masa depan!"
Para kerabat ramai-ramai mencibir.
Ekspresi Isyana menjadi dingin. Setiap kata mereka seperti tamparan di wajahnya. Namun, ini ulang tahun pamannya. Dia berusaha keras menahan amarahnya supaya tidak meledak.
Sementara itu, wajah Renata sudah benar-benar masam. Kalau bukan karena Victor yang menahan, mungkin dia sudah bangkit dan memaki.
Sesaat, ekspresi Victor juga terlihat murka. Namun, dia segera meredam dan berkata dengan tenang, "Keluarga Hanafi masih sanggup menghidupi satu orang, kalian nggak usah repot-repot!"
Graha tertawa terbahak-bahak. "Baiklah, baiklah, salahku terlalu ikut campur! Tapi Arlo, aku sudah berniat baik mau membantumu. Kalau kamu pengecut, terserah. Tapi soal ucapanmu tadi, harusnya kamu minta maaf padaku, 'kan?"
Arlo pun marah. Demi ayah mertuanya, tadi dia sudah menahan diri, tetapi Graha ini benar-benar kelewatan.
Tiba-tiba, pintu ruang VIP ditendang dari luar. Tujuh sampai delapan preman langsung berhamburan masuk.
Graha murka dan hendak memaki, "Siapa yang begitu kurang ajar ...."
Belum selesai berbicara, Graha langsung ditampar keras.
"Masih berani sok kaya? Utang saja belum dibayar!"
Begitu melihat siapa yang datang, seketika kaki Graha melemas. Kesombongannya hilang. Dia pun tergagap. "Kak ... Kak Sam ...."
"Dasar berengsek! Di Kota Naldern ini, nggak ada orang berani nunggak utang sama aku!" Seorang pria gemuk dengan rambut dikepang, maju dan menampar Graha berkali-kali.
Yulia ketakutan, tetapi masih berpura-pura berani. "Kalian jangan macam-macam ya! Graha bukan orang bisa kalian usik!"
Sam melangkah maju, lalu meraih sepotong paha ayam. Setelah menggigitnya dua kali, dia melemparkannya ke meja, membuat piring dan mangkuk berdenting.
"Cih! Nggak enak sekali!" Dia meludahkan daging berlemak itu tepat ke wajah Yulia, lalu mengejek, "Pak Faris menolongnya, meminjamkan 6 miliar dengan bunga bank, eh dia malah lari dari utang. Bukannya suruh bayar, malah bilang dia orang yang nggak bisa diusik?"
"Mau nakut-nakutin aku ya?" Sam tampak murka. Kemudian, dua tamparan keras mendarat di wajah Yulia.
"Nggak bisa disentuh? Sialan! Sekarang aku tampar kamu juga, coba tanya si Graha berani bersuara nggak?"
Graha tak bisa bergerak, tak berani mengucapkan sepatah kata pun. Sementara itu, Yulia langsung menangis dan meraung.
Kerabat lain semuanya hanya orang biasa, mana pernah melihat kejadian begini. Satu per satu pun membeku ketakutan.
Arlo memilih diam karena itu adalah utang resmi berbunga bank. Orang yang berani meminjam, tetapi tidak membayar memang pantas dipukul.
Renata sampai pucat pasi. Victor mengernyit, akhirnya tak kuasa berkata, "Mau nagih boleh, tapi jangan main tangan dong!"
Sam meraih botol anggur, lalu melemparkannya ke arah Victor. "Dasar tua bangka, berani banyak omong ...."
Botol melayang. Isyana pun ketakutan, sementara semua orang membeku. Namun, botol itu tiba-tiba ditangkap oleh sebuah tangan yang putih bersih.
Arlo menggenggam botol dengan tatapan dingin. Dia bisa mengabaikan kalau orang lain yang diusik, tetapi kalau menyentuh Victor, itu tidak bisa ditoleransi!
"Pakai botol ini buat hantam kepalamu sendiri, lalu pergi! Dengan begitu, aku maafkan kamu!" Suara Arlo datar. Dia meletakkan botol di depan Sam.
Semua orang terdiam! Si bodoh tidak tahu betapa berbahayanya preman lokal seperti mereka ya? Di saat begini berani berbicara seperti itu, entah nekat atau gila!
Sam malah tertawa. "Kamu tahu aku siapa? Beraninya bersikap sombong di depanku!"
"Nggak tahu." Arlo menggeleng.
"Aku anak buah Pak Faris!" Wajah Sam penuh keangkuhan, seolah-olah menyebut nama besar.
"Siapa itu Faris?" Arlo memang tidak tahu.
Sam tertawa lagi. Faris saja tidak kenal, tetapi berani melawannya.
Graha ketakutan sampai sekujur tubuhnya gemetaran. "Arlo, jangan ngawur! Bisnis urukan tanah di Kota Naldern, hampir semua dikuasai Pak Faris!"
Yang lain memang tidak paham, tetapi begitu disebut penguasa bisnis urukan tanah, semua pun sadar. Itu adalah bisnis yang persaingannya keras dan bisa mendapatkan banyak uang. Bisa menjadi penguasa di bisnis seperti itu sudah pasti adalah sosok besar yang punya koneksi ke polisi dan mafia.
Victor menggeleng pada Arlo, memberi isyarat agar jangan mencari masalah.
Melihat semua orang gentar, Sam menyeringai. Dia menunjuk Victor, lalu menunjuk Isyana. "Takut, 'kan? Kalau begitu, cepat berlutut. Kalau nggak, malam ini kubuat tua bangka ini cacat dan wanita ini jadi mainanku!"
Di mata Arlo berkobar amarah. Orang tuanya mati tragis, sementara dirinya hanya bisa berduka dari jauh karena kuliah di luar kota. Kini, setelah berlatih susah payah selama tiga tahun, dia bertekad akan melindungi orang-orang yang berarti baginya.
Meskipun harus menghadapi Faris, apalagi hanya kacungnya, dia tak akan gentar!
Tanpa melontarkan sepatah kata pun, Arlo bangkit, meraih botol, lalu menghantam kepala Sam. Darah segar langsung mengucur di wajah si preman.
Gerakannya tak berhenti. Setengah botol yang pecah itu langsung dibalikkan. Dia hendak menikam dada Sam.
Aksi nekat itu membuat Sam kaget dan buru-buru mundur ketakutan. Anak buahnya cepat-cepat maju, tetapi Arlo seperti orang gila yang menyabet kiri dan kanan dengan pecahan botol.
Dalam sekejap, tujuh hingga delapan preman terkapar. Masing-masing berlumuran darah. Semua kerabat pun terperangah dan menarik napas dalam-dalam.
Arlo tidak berhenti. Dia sontak menyerbu ke hadapan Sam dan langsung meraih kerah bajunya. Di saat berikutnya, dia menempelkan pecahan botol berdarah itu ke wajah Sam.
"Ayo, ulangi ancamanmu barusan!"
Tatapan bengis Arlo membuat Sam gemetar. Dia merasa anak ini benar-benar berani membunuhnya.
"Bocah, Kak Faris ...." Sebelum selesai berbicara, kaca sudah menusuk pipinya. Rasa sakit membuat Sam berteriak.
"Aku tahu si Faris mungkin tokoh besar, tapi memangnya kenapa? Sekalipun dia berdiri di sini, tetap harus minta maaf pada ayah mertua dan istriku! Apalagi kamu cuma kacung!" Niat membunuh Arlo membara.
Sam langsung panik, teringat para pembunuh berdarah dingin yang pernah ditemuinya. Dia takut!
"A ... aku minta maaf! Maaf! Aku cuma asal ngomong! Anggap saja aku kentut! Jangan bunuh aku!"
Victor dan Renata saling memandang, tak menyangka Arlo menjadi begitu berani setelah sembuh!
Menantu mereka melindungi mereka seperti ini. Mana mungkin hati mereka tidak tersentuh? Apalagi barusan, saat Yulia dipukul, Graha malah tidak berani bersuara.
Victor buru-buru menarik Arlo. "Arlo, cukup! Jangan bersikap perhitungan dengan orang seperti ini."
Arlo pun melepaskan cengkeramannya. Sam langsung terhuyung dan berlari terbirit-birit.
"Bawa pergi semua anjingmu!" hardik Arlo.
Para anak buah yang berlumuran darah pun keluar dengan menyeret tubuh masing-masing.
Dalam sekejap, ruang VIP kembali sunyi dan hanya berisi keluarga serta kerabat. Semua orang tertegun menatap Arlo, tak ada yang berani berbicara untuk waktu yang lama.
Bab 8
"Pesta hari ini sudah selesai. Semua sudah boleh pulang," ucap Victor dengan suara dalam, menatap ruangan yang berantakan.
Selesai berbicara, dia langsung menarik Arlo bersama istri dan anak perempuannya keluar. Yang lain pun buru-buru pamit dan pergi dengan tergesa-gesa. Yang tersisa hanya ruangan penuh kekacauan dan keluarga Yulia yang masih terisak-isak.
....
Dalam perjalanan pulang, Renata melotot ke arah Arlo. "Barusan kamu tahu itu orang-orang apa? Kok berani main tangan segala?"
"Arlo cuma mau lindungi aku!" Victor berdeham, mencoba menengahi.
"Graha saja ketakutan setengah mati, memangnya Arlo bisa apa? Isyana kerja di rumah sakit. Kalau sampai dimusuhi preman kayak begitu, dia bisa kena masalah!"
Semakin berbicara, Renata semakin kesal. Setelah kesombongan sirna, yang tersisa hanya rasa takut. Semua kesalahan pun ditimpakan pada Arlo yang dianggap gegabah.
Arlo tetap tenang. "Mereka nggak bakal berani macam-macam. Isyana itu istriku, aku pasti jagain dia."
Renata kesal sampai menepuk sandaran kursi. "Kamu ini baru sembuh. Bukannya belajar yang baik, malah belajar membual!"
"Sudah, sudah, jangan dibesar-besarkan! Suruh saja sepupumu yang jadi kepala kepolisian itu bantu ngomong sama Faris!" Victor mencoba menengahi lagi.
Wajah Renata langsung memerah. "Kamu pikir gampang? Dia orang yang selalu ambil untung. Kalau minta dia bantu ngomong, entah harus habis berapa! Semua gara-gara kamu. Isyana secantik itu, nikah sama siapa saja bisa, tapi dulu kamu maksa dia nikah sama Arlo. Sekarang Arlo baru sembuh, tapi bukannya mikir ke depan, malah cari masalah!"
"Bukan salah dia sepenuhnya!" Tiba-tiba, Isyana bersuara.
Melihat putrinya membela Arlo, keduanya pun terdiam. Arlo sendiri tidak berbicara banyak. Dengan warisan Kitab Surgawi Pengobatan Medis, dia yakin ke depannya, baik uang, kekuasaan, ataupun status, semua bukan masalah baginya.
Apalagi hanya seorang preman penguasa bisnis urukan tanah. Orang seperti itu sama sekali tidak pantas dia pedulikan. Hanya saja, hal-hal itu tidak bisa dia jelaskan sekarang.
Suasana di mobil pun menjadi canggung, janggal, dan sunyi. Tak ada lagi yang berbicara sampai mobil melaju kencang menuju rumah keluarga Victor.
Keluarga mereka tinggal di sebuah kompleks kelas menengah atas di Kota Naldern bagian selatan. Bukan vila mewah, tetapi rumah dengan empat kamar dan dua ruang tamu yang sudah cukup luas dan nyaman.
Begitu masuk, Renata dan Isyana langsung menuju kamar masing-masing. Di ruang tamu tersisa Arlo dan Victor berdua.
Victor menggenggam tangan menantunya. "Sekarang kamu sudah sembuh, akhirnya aku bisa kasih jawaban ke almarhumah ibumu."
Dia menunduk sedikit, wajahnya penuh rasa bersalah. "Waktu itu ayah dan ibumu pergi mendadak, aku cuma kepikiran bawa kamu tinggal sama kami. Bagaimanapun, saat itu aku orang luar. Jadi rumah peninggalan orang tuamu dan urusan perusahaan, semua diambil alih paman keduamu."
Arlo mengangguk. "Aku ngerti kok. Harta juga nggak seberapa. Paling cuma ada barang peninggalan yang menjadi kenangan. Nanti aku ambil dari pamanku saja."
Victor ingin berbicara lebih banyak, tetapi akhirnya menahan diri. Sesuatu yang sudah masuk mulut harimau mana bisa keluar lagi. Dengan kondisi Arlo yang baru pulih, dia tidak tega membahas lebih jauh.
"Ya, yang penting kamu bisa ikhlas. Ke depannya, jalani hidup baik-baik sama Isyana. Isyana orangnya cuek, kamu harus lebih sabar. Kalau bisa, cepat kasih aku cucu!"
Wajah Arlo langsung merah padam, tetapi dalam hatinya muncul rasa haru. Renata bersikap dingin padanya, tetapi Victor tulus menganggapnya anak sendiri.
"Ya sudah, malam udah larut. Kamu istirahat saja!" kata Victor, lalu mendorong Arlo ke kamar Isyana.
"Eh ...." Arlo masih ingat selama ini dia dan Isyana tidur terpisah. Apa maksud mertuanya ini?
"Apa lagi? Kamu sudah sehat, cepat kasih aku cucu!" ujar Victor sambil langsung mendorongnya masuk ke kamar.
Isyana yang hendak melepaskan pakaian untuk mandi pun terkejut mendengar pintu kamar terbuka. Belum sempat mengenakan kembali pakaiannya, Arlo sudah didorong masuk.
Di depan matanya langsung tampak kulit putih mulus yang sebagian besar terbuka. Hanya tersisa pakaian dalam tipis menempel di tubuh ramping itu.
"Cepat balik badan!" Wajah cantik Isyana langsung memerah.
"Oh!" Arlo buru-buru membalikkan badan. Namun, suara gesekan kain di belakang punggungnya membuat tenggorokannya mendadak terasa kering ....
Bab 9
Selesai berpakaian, di wajah cantik Isyana masih tersisa rona merah malu sekaligus kesal. Dia tidak berkata apa-apa, langsung masuk ke kamar mandi untuk mandi.
Kamar itu punya kamar mandi dalam. Arlo duduk di tepi ranjang. Suara gemericik air dari dalam kamar mandi membuat pikirannya jadi liar.
Isyana punya wajah menawan, tubuhnya juga luar biasa. Arlo merasa di saat seperti ini, pria mana pun pasti akan sulit menahan gejolak.
Namun, sebentar lagi mereka akan tidur seranjang. Apa itu tidak terlalu cepat?
Tak lama kemudian, Isyana keluar dari kamar mandi, mengambil kasur lipat dari lemari, lalu meletakkannya di lantai. Arlo seketika berhenti berkhayal.
Di sisi lain, Isyana berbaring di lantai dan mematikan lampu. Semuanya berlangsung dengan cepat dan tegas. Keduanya tak bertukar satu kata pun.
Arlo tahu, baik dirinya maupun Isyana, sepertinya masih belum benar-benar menerima satu sama lain. Dia tidak menampik kalau dia memang punya perasaan pada Isyana. Selama tiga tahun ini, dia bisa merasakan perhatian Isyana.
Justru karena itu, Arlo tidak mau ada paksaan. Hubungan ini akan berlanjut ke mana, dia ingin membiarkannya mengalir sendiri.
Malam begitu sunyi. Suara mereka membalikkan badan di ranjang dan di lantai terdengar begitu jelas.
"Besok aku antar kamu ke rumah sakit, terus mobilnya sekalian aku bawa ke bengkel ya."
"Oke."
Satu kalimat singkat, lalu keheningan kembali menyelimuti.
Keesokan paginya, Arlo benar-benar mengantar Isyana berangkat kerja. Ketika melihat keduanya berangkat bersama, Victor senang sampai matanya berbinar-binar.
Di samping, Renata malah melontarkan kata-kata dingin, "Jangan senang dulu. Bukannya mau cari sepupuku buat bantuin beresin masalah kemarin? Aku mau pergi belanja sayur dulu! Kamu siapkan mentalmu, sepupuku itu tukang peras!"
"Mau gimana lagi? Aku dengar, Faris itu orangnya pendendam sekali. Masa kita nunggu dia balas dendam ke Arlo?" Victor mengernyit.
"Heh! Orang yang tahu bakal bilang dia itu menantumu, tapi yang nggak tahu mungkin bakal kira dia anak harammu!"
"Bicara apa kamu ini?"
Sesampainya di rumah sakit dan baru masuk ruangannya, kepala perawat yang akrab dengannya, Minnie, langsung menarik Isyana ke sudut dan berbisik, "Kamu sudah dengar belum? Pak Ibrahim lagi diperiksa pihak berwajib!"
"Hah?" Isyana cukup kaget. Memang Ibrahim tidak bersih, tetapi kemarin Rayanza baru bilang mau lapor. Hari ini benar-benar langsung ditangani. Sehebat itukah pengaruh seorang konglomerat?
Mengingat perkataan Arlo tempo hari, yang bilang akan menyembuhkan penyakit depresi Fellis, hati Isyana mendadak diliputi kecemasan.
"Kudengar suamimu sudah sembuh?" tanya Minnie lagi.
"Ya." Isyana sudah terbiasa dengan gosip rumah sakit. Setelah melihat jam, dia langsung menuju ruang praktik.
Hari ini giliran dia berjaga. Setelah melayani beberapa pasien ....
Seorang pemuda berambut pirang dengan gaya urakan masuk. Pemuda itu memakai kaus oblong tanpa lengan, seluruh tubuhnya penuh tato.
Isyana bertanya sesuai prosedur, "Keluhannya apa?"
"Bawahku gatal, bantu periksa dong!" Pemuda itu menyeringai nakal. Sambil berdiri, dia hendak menurunkan celana.
"Berhenti! Kasus seperti ini langsung saja ke departemen kulit dan kelamin!" bentak Isyana.
Pemuda itu mendengus tak senang. "Kamu nolak periksa aku? Percaya nggak, aku bisa laporin kamu?"
"Kamu berhak lapor!" Isyana langsung berdiri, menarik pintu ruang praktik. "Ini ruang IGD, hanya untuk pasien gawat darurat. Kasusmu nggak mengancam nyawa, jadi bukan kategori darurat. Silakan langsung ke departemen kulit dan kelamin!"
"Aku maunya kamu yang periksa! Coba kamu tolak lagi kalau berani!" Pemuda itu marah besar dan menendang kursi hingga terbang.
Setelah itu, dia berpura-pura menjadi korban, berdiri di depan pintu sambil berteriak, "Dokter sialan nolak periksa pasien! Dokter busuk! Tempat ini ada yang urus nggak sih?"
Beberapa teriakan kemudian, tujuh hingga delapan pemuda urakan lainnya langsung menyerbu masuk.
Isyana ketakutan, refleks meraih ponsel untuk menelepon Arlo. Nomor sudah terhubung, tetapi jarinya malah membeku.
Di saat seperti ini, kenapa yang pertama kali dia pikirkan justru Arlo? Apakah pria itu tanpa sadar sudah memberi rasa aman padanya?
Bab 10
Pemuda berambut pirang itu melihat Isyana hendak menelpon. Dia langsung menepis ponselnya hingga terlempar ke sudut, lalu mendorong Isyana keras-keras sampai jatuh ke lantai.
"Ada apa nih? Dokter mana yang segitu kurang ajarnya? Ayo kita kasih dia pelajaran biar tahu diri!" Dengan satu aba-aba, geng pemuda urakan itu mulai ramai-ramai berteriak, mengatakan bahwa dia dokter berhati jahat, menuduh menolak pasien, bahkan mendoakan celaka.
Dalam sekejap, lorong IGD menjadi gaduh. Seorang dokter dari ruang sebelah baru saja keluar dan hendak menanyakan apa yang terjadi, tetapi langsung didorong balik oleh dua orang pemuda.
"Kurang ajar, jangan ikut campur! Ada orang yang minta dihajar, jangan kepo deh!"
Isyana tidak jatuh terlalu parah. Dia berdiri lagi, tubuhnya bergetar karena marah dan takut. Dia tak sadar ponselnya yang terpental ke pojok ruangan sudah otomatis tersambung ke nomor Arlo.
Untungnya, pos keamanan ada di dekat IGD dan para satpam segera datang. Tak lama kemudian, kepala bagian darurat, Vito, juga tiba di lokasi.
Para pemuda urakan itu sudah terkepung satpam, tetapi tetap tak gentar, bahkan terus berteriak akan melapor.
Setelah tahu duduk perkaranya, Vito merendahkan suaranya, bertanya kepada Isyana, "Akhir-akhir ini kamu pernah menyinggung orang?"
Isyana sontak teringat pada Bruno, juga teringat pada Sam, tetapi akhirnya hanya mengatupkan bibir tanpa menjawab.
"Ini harus dilaporkan ke polisi! Mereka sudah keterlaluan!" kata Minnie. Begitu masuk, dia langsung melihat keributan ini dan kaget setengah mati.
Vito mengernyit, lalu menoleh ke para pemuda itu. "Dik, rumah sakit ada aturannya. Kalau kalian terus bikin ribut, aku terpaksa panggil polisi!"
Pemuda berambut pirang menyeringai. "Hehe, kami nggak takut! Mau lapor ya lapor saja. Paling ditahan tiga hari, keluar juga bisa balik lagi buat periksa. Bagian bawahku nggak nyaman, aku ingin dokter ini yang periksa, nggak mau yang lain!"
Ucapan tak tahu malu itu membuat orang-orang di tempat itu geram. Semua menahan diri untuk tidak maju dan menampar.
Para tenaga medis juga marah besar. Mereka serentak menatap ke arah Vito dan mendesak agar segera lapor polisi dan menghukum mereka.
Vito ragu. Bagaimanapun, Ibrahim selaku direktur baru saja kena tangkap. Sekarang sedang masa sensitif, apalagi konflik dokter dan pasien termasuk yang paling sensitif. Kalau bisa, lebih baik diselesaikan secara damai.
Saat situasi tegang, tiba-tiba terdengar suara seorang pria dari kerumunan. "Nggak usah lapor polisi. Lagi pula nggak ada yang terluka, anggap saja masalah selesai di sini."
Isyana menoleh. Ternyata Arlo sudah datang. Tadinya dia hanya mengantar Isyana sampai pintu rumah sakit, lalu hendak pergi. Namun, dia malah mendapat telepon dari Rayanza yang memintanya memeriksa kondisi Fellis.
Belum sampai ruang rawat, dia malah menerima panggilan dari Isyana. Tak terdengar suara Isyana, tetapi terdengar keributan di ujung sana. Makanya, dia buru-buru datang.
Para dokter dan perawat di sana mengenal Arlo. Seketika, pandangan mereka pada Isyana penuh rasa heran sekaligus kasihan. Suami macam apa ini? Istrinya diganggu begini, malah diam saja?
Isyana juga kecewa. Bukankah sebelumnya saat menghadapi Bruno dan Sam, yang paling ribut dan membuat masalah adalah Arlo? Kenapa sekarang giliran ada yang membalas dendam, pria ini justru takut?
"Jadi lapor nggak? Kalau nggak, kami cabut. Hahaha!" Pemuda berambut pirang tertawa puas.
"Ya sudah, pergi aja!" Satpam yang paham situasi pun memberi jalan.
Sekelompok pemuda itu tertawa keras, sambil mengancam akan datang lagi besok.
Minnie melirik ke arah Arlo, lalu menyindir Vito, "Kalau kepala bagian penakut begini, gimana bisa melindungi kami?"
Vito menjawab penuh maksud, "Orang-orang itu jelas sengaja bikin masalah. Kenapa harus ke sini? Kalian sendiri yang harus paham, jangan sampai bawa masalah pribadi ke rumah sakit!"
Usai berkata begitu, dia menyuruh satpam membubarkan kerumunan pasien yang menonton, lalu pergi dengan wajah dingin.
Isyana merasa sangat tertekan. Ketika menoleh, Arlo pun sudah tidak ada di sana. Perasaannya semakin campur aduk.
....
Di parkiran bawah tanah rumah sakit, para pemuda itu bersorak gembira.
"Wanita tadi memang cakep banget! Hampir saja aku benaran buka celana tadi!"
"Hahaha, besok kita datang lagi! Biar dia lihat keperkasaan yang sebenarnya!"