Kebersamaan Tanpa Cinta

Đang tải thông tin quảng bá...

Kebersamaan Tanpa Cinta

GoodNovel Hoàn thành

"Bibi, dulu kita sudah sepakat waktunya sepuluh tahun. Sekarang masa itu sudah habis, aku ingin bawa Adele pergi. Tante tahu sendiri, dia memang nggak pernah menyukai Adele sejak awal." Di ruang teh, ...

Chương (1)

第1章

"Bibi, dulu kita sudah sepakat waktunya sepuluh tahun. Sekarang masa itu sudah habis, aku ingin bawa Adele pergi. Tante tahu sendiri, dia memang nggak pernah menyukai Adele sejak awal." Di ruang teh, Amanda mengucapkan kata-kata itu dengan ekspresi getir. Dia sudah hidup bersama Arga selama sepuluh tahun, tapi selama itu pula dia tak pernah berhasil menghangatkan hati pria itu. Hingga suatu malam ketika Arga mabuk, dia menindih Amanda di ranjang. Di bawah pengaruh nafsu, mereka bermesraan hingga Amanda hamil. Setelah kejadian itu, Arga memberinya sebuah vila dan mengizinkannya melahirkan anak itu. Satu-satunya syarat adalah anak itu tidak boleh memanggilnya ayah. Di hadapan publik, Arga tetaplah pria lajang. "Aku nggak mungkin menikahimu, lupakan saja. Aku akan kasih uang untuk biaya hidup anak itu, tapi jangan harap aku akan mengakui statusnya. Bagiku, anak itu nggak pernah ada." Bab 1 "Bibi, dulu kita sudah sepakat waktunya sepuluh tahun. Sekarang masa itu sudah habis, aku ingin bawa Adele pergi. Bibi tahu sendiri, dia memang nggak pernah menyukai Adele sejak awal." Di ruang teh, Amanda mengucapkan kata-kata itu dengan ekspresi getir. Dia sudah hidup bersama Arga selama sepuluh tahun, tapi selama itu pula dia tak pernah berhasil menghangatkan hati pria itu. Sepuluh tahun lalu, Arga putus dengan cinta pertamanya yang kemudian pergi ke luar negeri. Sejak saat itu, hidupnya berantakan. Dia mabuk-mabukan setiap hari, terpuruk, dan tidak bersemangat. Ibu Arga, Santi, tidak sanggup melihat kondisinya. Dia kemudian mencari Amanda dan menawarkan 20 miliar rupiah agar Amanda bersedia menemani Arga selama sepuluh tahun. Amanda memang telah lama menyukai Arga sejak masa sekolah. Jadi saat diminta oleh Santi, dia menyetujuinya tanpa ragu sedikit pun. Sejak itu, dia mulai mengejar cinta Arga. Saat Arga murung, Amanda melakukan segala cara untuk membuatnya tersenyum. Saat Arga sakit, dia berjaga semalaman, bolak-balik rumah sakit demi merawatnya. Berhubung Arga punya masalah lambung, Amanda sengaja belajar memasak, mengurus semua keperluan makan dan hidup Arga secara pribadi. Dia menarik Arga keluar dari kesedihan karena patah hati dan tetap tinggal di sisinya. Namun, statusnya hanya seorang penjilat yang tidak diakui. Amanda pernah mendengar teman Arga menanyakan, apa sebenarnya status Amanda bagi Arga. Arga hanya tersenyum tanpa menjawab. Hingga suatu malam ketika Arga mabuk, dia menindih Amanda di ranjang. Di bawah pengaruh nafsu, mereka bermesraan hingga Amanda hamil. Setelah kejadian itu, Arga memberinya sebuah vila dan mengizinkannya melahirkan anak itu. Satu-satunya syarat adalah anak itu tidak boleh memanggilnya ayah. Di hadapan publik, Arga tetaplah pria lajang. "Aku nggak mungkin menikahimu, lupakan saja. Aku akan kasih uang untuk biaya hidup anak itu, tapi jangan harap aku akan mengakui statusnya. Bagiku, anak itu nggak pernah ada." Hati Arga keras seperti batu. Dia benar-benar tidak pernah membiarkan putrinya memanggilnya ayah. Saat Adele berumur tiga tahun, hanya karena tak sengaja memanggilnya Papa, Arga menghukumnya dengan dikurung selama 24 jam. Anak itu menangis sampai suaranya serak. Saat Adele berumur empat tahun, hanya karena menggenggam tangan Arga sebentar saja, dia langsung didorong keras oleh pria itu hingga jatuh dari tangga dan hampir patah tulang. Namun kemarin, Arga pulang dengan wajah sangat gembira. Dia bukan hanya membawakan hadiah untuk Adele, tapi juga berjanji akan menemaninya merayakan ulang tahun. Adele senang bukan main. Dia terus bertanya apakah Papa mulai menyukainya. Namun, Amanda tahu bahwa Arga sedang gembira karena cinta pertama Arga telah kembali dari luar negeri. Amanda melihatnya dengan mata kepala sendiri bagaimana Arga merawat wanita itu dengan begitu lembut dan bahkan menggendong anak perempuan wanita itu ke dalam pelukannya, serta membujuk anak itu dengan penuh kasih sayang agar memanggilnya "Papa". Saat itulah, hati Amanda benar-benar mati rasa. Santi menghela napas berat setelah mendengar penuturan Amanda. "Sudahlah. Kalau kamu sudah memutuskan, Bibi nggak akan memaksa." Sekembalinya ke rumah, Amanda mulai membereskan barang-barang. Putrinya yang berusia lima tahun, Adele, masuk ke kamar dengan mata memerah dan bertanya lirih, "Mama, kita benar-benar akan pergi dari rumah Papa?" Melihat anaknya, hati Amanda terasa perih. "Orang yang Papa cintai sudah kembali. Kita nggak pantas bertahan di sini lagi." Arga tidak mencintainya, juga tidak mencintai Adele. Kini, wanita yang benar-benar dia cintai telah kembali dan rumah ini tak lagi memiliki tempat untuk mereka berdua. Amanda berjongkok dan berkata lembut, "Mama akan membawamu pergi dari sini. Kita akan tinggal di luar negeri, bagaimana?" Adele adalah anak yang dewasa sebelum waktunya dan dia mengerti benar apa arti kata-kata itu. Dia menunduk dan berkata dengan suara terisak, "Papa sudah janji padaku akan merayakan ulang tahunku dan mengajakku ke taman bermain." "Aku belum pernah pergi ke taman bermain bersama Papa sekali pun." Amanda tahu betul betapa besar keinginan Adele untuk merasakan kasih sayang seorang ayah. Anak yang tidak pernah dipedulikan oleh ayahnya ini, pasti nekat ingin menggunakan segala cara untuk mewujudkan janji dari ayahnya. Dengan mata berkaca-kaca, Adele memohon, "Aku benar-benar ingin merayakan ulang tahun bersama Papa. Boleh nggak kita beri Papa tiga kali kesempatan lagi, Ma?" "Kalau Papa tetap nggak menyukaiku, kita benar-benar akan pergi." Melihat mata Adele yang memerah, Amanda tak kuasa menahan diri dan langsung memeluk putrinya erat-erat. Pada akhirnya, dia memang tidak sanggup menolak permintaan terakhir dari anaknya. "Baik, Mama janji. Kita beri Papa tiga kali kesempatan lagi." Tiga hari lagi adalah hari ulang tahun Adele. Dia akan memberi Arga tiga kesempatan. Setelah tiga kesempatan itu habis .... Jika Arga masih mengecewakan dia dan putrinya, Amanda akan pergi membawa Adele dan menghilang selamanya! Bab 2 Keesokan paginya, Amanda bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan bagi putrinya. Arga turun dari lantai atas, tubuhnya masih memancarkan bau alkohol yang belum hilang sepenuhnya. Adele memeluk boneka kelinci kecilnya, lalu berlari cepat menyambut, "Papa ...." Belum sempat kalimat itu selesai, langkahnya terhenti karena tatapan tajam Arga yang tertuju padanya. Arga bertanya dengan dingin, "Apa yang kamu panggil barusan?" Adele ketakutan. Dia menggenggam bonekanya erat-erat, lalu menjawab terbata-bata, "Pa ... Paman ...." Arga menarik dasinya dengan kesal, lalu memperingatkan Amanda, "Kalau lain kali kamu masih gagal mendidiknya, angkat kaki dari sini." Hati Amanda terasa perih. Kalimat yang paling sering diucapkan Arga adalah menyuruh mereka pergi. Setiap kali mendengarnya, dia dan Adele pasti gemetar ketakutan. Namun sekarang, Amanda sungguh-sungguh ingin pergi. Tanpa membalas ucapan Arga, Amanda hanya menghidangkan sarapan ke meja dan mengangkat Adele ke kursi makan. Telur ceplok dan roti yang dia buat, disesuaikan dengan selera Arga. Namun, pria itu bahkan tidak meliriknya sedikit pun. Dia hanya berkata dingin, "Helen sudah kembali. Beberapa waktu ke depan, jangan muncul di hadapannya. Helen akan merasa kesal." Lalu, matanya melirik ke arah Adele. "Dia juga," tambahnya. Amanda menatap wajah dingin Arga. Ingin sekali dia bertanya, apakah pria ini benar-benar tidak punya hati? Namun akhirnya, yang keluar dari mulutnya hanya sepatah kata yang getir, "Baik." Setelah mengantar Adele ke taman kanak-kanak, Amanda melanjutkan perjalanan ke studionya. Dia lulusan seni rupa dan dulunya cukup terkenal. Bahkan sebelum lulus kuliah, dia sudah sempat menggelar pameran tunggalnya sendiri. Namun setelah menikah, demi mengurus Arga dan rumah tangga, Amanda mengorbankan dunia seni yang paling dia cintai. Sekarang dia hanya melukis di waktu senggang dengan sekadarnya. Sebagian besar lukisan Amanda, semuanya tentang Arga. Dia mencurahkan seluruh cintanya ke dalam setiap karya itu, tiap goresan kuas adalah ungkapan hatinya yang tulus. Namun saat Arga melihat lukisan-lukisan itu, yang keluar dari mulutnya hanyalah ejekan dingin, "Jangan lakukan hal yang sia-sia begini. Orang yang aku cintai dari awal sampai akhir, cuma Helen." Arga seperti sebongkah es yang tidak pernah bisa mencair, tidak peduli sekeras apa pun Amanda berusaha. Kini, Amanda mengeluarkan semua lukisan tentang Arga yang telah dia buat selama sepuluh tahun terakhir dan membawanya ke pinggiran kota. Dia menyiramnya dengan minyak, lalu menyalakan api. "Arga, kalau semua usahaku nggak pernah berarti, maka aku memilih untuk melepaskan." Wajah Arga di setiap lukisan terbakar dalam kobaran api dan berubah menjadi abu. Sama seperti isi hati Amanda saat ini. Dia ingin benar-benar melepaskan Arga. Menghapus sosok pria itu sepenuhnya dari hidupnya. Tiba-tiba, ponsel di saku Amanda berdering. Dia mengangkatnya dan terdengar suara guru dari taman kanak-kanak berkata, "Bu Amanda, Adele mengalami sedikit insiden di sekolah. Tolong segera datang ke sini." Bab 3 Amanda langsung panik. Adele selalu menjadi anak yang penurut dan tidak pernah terlibat masalah selama di taman kanak-kanak. Ini pertama kalinya guru meneleponnya karena sesuatu yang serius. Dengan cemas, Amanda buru-buru menuju kantor sekolah. Begitu masuk, dia langsung melihat Adele berdiri di pojok ruangan sambil menangis. Wajahnya merah padam, tubuh mungilnya gemetar hebat. Di sisi lain ruangan, Arga berdiri dengan wajah dingin tanpa ekspresi. Di sampingnya, ada seorang gadis kecil dan seorang wanita bertubuh ramping. Hanya dengan satu pandangan, Amanda langsung mengenali wanita itu adalah Helen, cinta pertama Arga. Wanita itu berdiri sangat dekat dengan Arga dan menggandeng lengannya dengan mesra. Mereka tampak serasi seperti pasangan suami istri. Anak kecil di sisi Arga ini adalah anak Helen. Baru saja Amanda masuk, dia melihat anak itu memeluk lengan Arga sambil menangis keras, "Papa Arga, dia jahat! Dia ganggu aku!" Mendengar panggilan "Papa Arga", mata Adele langsung membelalak tak percaya. Arga tidak pernah mengizinkannya memanggil "Papa". Semua guru di taman kanak-kanak juga mengira Adele berasal dari keluarga ibu tunggal. Namun sekarang, ada anak lain yang bisa memanggil Arga sebagai papa terang-terangan. Yang lebih menyakitkan lagi, Arga memeluk Fiona dengan sangat lembut dan membisikkan kalimat penuh kasih, "Fiona jangan takut, Papa akan melindungimu." Raut wajah yang lembut, mata yang penuh cinta ... semua itu tak pernah Adele rasakan. Namun ketika tatapan Arga berpindah ke Adele, seketika sorot matanya menjadi sedingin es. "Siapa yang ngajarin kamu main tangan sama teman sekolah? Nggak sopan sama sekali. Cepat minta maaf ke Fiona!" Adele gemetar ketakutan dan menangis sambil berkata dengan suara parau, "Tapi ... dia yang duluan merobek mainanku." Di atas meja kantor, tampak boneka kelinci kecil yang rusak. Mainan itu dibawa pulang Arga semalam dalam keadaan mabuk, lalu diberikan kepada Adele. Adele sangat bahagia malam itu. Dia memeluk boneka itu tidur sepanjang malam, bahkan enggan melepaskannya saat berangkat sekolah. Namun sekarang, Fiona malah berteriak marah, "Mainan apa milikmu?! Itu jelas-jelas mainan yang dibelikan Papa Arga untukku! Kamu pencuri! Pencuri mainan!" Kata "pencuri" terlalu berat untuk anak berusia lima tahun. Mata Adele langsung memerah, tangannya mencengkeram ujung bajunya erat-erat. "Aku bukan pencuri ...." Adele menoleh dengan panik ke arah Arga, berharap pria itu mau membelanya. Namun, Arga hanya mengalihkan pandangannya dengan dingin. Helen kemudian angkat bicara, "Kemarin Arga memang membelikan beberapa mainan untuk Fiona, tapi Fiona nggak suka boneka kelinci, jadi Arga membawanya kembali. Mungkin saja Adele kebetulan membeli boneka yang sama." Mendengar hal itu, kesedihan di mata Adele semakin dalam. Ternyata, mainan yang begitu dia sayangi hanyalah barang buangan milik orang lain. Meski demikian, itu tetaplah satu-satunya hadiah dari papanya. Adele masih berkata lirih, "Tapi itu Papa yang kasih ke aku ...." Arga mengernyit mendengar itu. Dia menghindari tatapan Adele, lalu berkata dingin, "Lalu kenapa? Cuma mainan murahan. Kamu tetap salah karena memukul orang. Minta maaf." Setelah itu, dia menoleh tajam pada Amanda. "Ini hasil didikanmu? Anakmu nggak menyesal setelah memukul teman. Ibu macam apa kamu ini?" Dada Amanda terasa perih. Dia hendak menjawab, tetapi Adele lebih dulu menarik bajunya. Dengan mata memerah, suaranya terdengar tergesa-gesa, "Itu bukan salah Mama! Mama adalah mama terbaik di seluruh dunia!" Lalu sambil menangis, dia menengadah dan tersenyum kecil ke arah Amanda. "Nggak apa-apa, Mama. Aku bisa minta maaf." Adele tahu, kalau hari ini dia tidak meminta maaf, Arga tidak akan membiarkan mereka pergi dengan tenang. Ibunya juga pasti akan ikut disalahkan. Dia tidak ingin ibunya diperlakukan tidak adil. Dengan hati penuh luka, Adele menatap Arga lalu membungkukkan badan, "Maafkan aku, Paman Arga." Suaranya kecil dan lirih, tetapi setiap katanya seolah-olah menancap ke dalam hati Amanda. Dengan mata penuh kesedihan, Amanda menatap putrinya. Lalu Adele melanjutkan, "Maaf, Fiona." "Maaf, Bibi Helen." Setelah berkata demikian, Adele menggenggam tangan Amanda, lalu berbalik dan pergi. Melihat sikap Adele yang tidak seperti biasanya, gurunya sempat tertegun, lalu mengambil boneka kelinci di atas meja dan mengejarnya. "Adele, kamu lupa mainanmu." Adele menghentikan langkahnya dan menoleh sekilas ke arah boneka itu. Akhirnya dengan mata berkaca-kaca, dia berkata pelan, "Aku nggak mau lagi." Amanda menatap putrinya dengan ekspresi tak percaya. Arga pun terdiam di ambang pintu, tidak tahu harus bagaimana bereaksi. Hidung Amanda mulai terasa perih menahan gejolak di dadanya. Arga .... Kamu masih punya dua kesempatan lagi. Bab 4 Keesokan harinya, Amanda datang ke taman kanak-kanak untuk mengurus surat pengunduran diri Adele. Guru di sana tampak sangat terkejut. "Kenapa tiba-tiba mau mengundurkan diri?" Amanda menjawab, "Kedua orang tua saya tinggal di luar negeri. Saya berencana membawa Adele ikut pindah ke sana." Baru saja kata-kata itu terucap, sosok Arga muncul di belakangnya. Dengan wajah muram, dia bertanya, "Pindah ke luar negeri?" Guru itu hendak menjelaskan, tetapi Amanda buru-buru memotong, "Maksud saya, orang tua saya sudah pindah ke luar negeri. Kalau ada waktu, saya ingin ajak Adele menjenguk mereka." Mendengar itu, entah kenapa Arga tampak sedikit lega. Dia menyerahkan berkas ke meja guru. "Ini dokumen pendaftaran sekolah untuk Fiona." Guru tersebut menerimanya sambil tersenyum, lalu memuji Arga, "Pak Arga benar-benar telaten. Meskipun Fiona bukan anak kandung Anda, Anda begitu perhatian, bahkan melebihi ayah kandung." Ucapan itu terdengar sangat menusuk di telinga Amanda. Arga tidak pernah melakukan apa pun untuk Adele. Kalau bukan karena bertemu Fiona di taman kanak-kanak, mungkin Arga bahkan tidak tahu sekolah tempat Adele belajar. Amanda tak kuasa menahan diri untuk menyahut, "Benar juga. Pak Arga memang ayah yang sangat baik." Tiga kata terakhir itu diucapkannya dengan penekanan. Arga tertegun mendengarnya dan untuk pertama kalinya, dia tidak marah. Dia hanya berdiri diam di tempat. Sore harinya, Amanda pergi ke galeri seni. Beberapa lukisannya sedang dipamerkan di sana, tetapi belakangan dia berniat menarik semua karyanya. Baru melangkah masuk, dia langsung melihat sosok Arga dan Helen. Keduanya berdiri berdampingan dan tampak begitu serasi. Helen tersenyum ramah dan anggun, sementara di sekeliling mereka adalah rekan-rekan Arga dari dunia seni. "Sudah lama dengar kabar Pak Arga diam-diam menikah, sepertinya wanita ini istrinya, ya?" "Benar-benar pasangan serasi, tampan dan anggun. Pantas saja Pak Arga selama ini merahasiakannya, ternyata menyembunyikan bidadari di rumah." Mendengar semua itu, Arga hanya tersenyum sambil menggenggam tangan Helen erat-erat. Tidak ada sedikit pun niat untuk memberikan penjelasan. Amanda berdiri di belakang, tersenyum getir pada dirinya sendiri. Dari awal sampai sekarang, satu-satunya wanita yang benar-benar ingin dinikahi Arga adalah Helen. Kini, dengan menerima semua ucapan itu tanpa membantah dan membawa Helen tampil di berbagai acara publik, itu adalah bentuk nyata bahwa mimpinya telah menjadi kenyataan. Lalu ... dirinya dianggap apa selama ini? Apa artinya sepuluh tahun ini? Hati yang telah beku, kembali terasa nyeri. Dengan mata memerah, Amanda memanggil, "Arga." Arga melemparkan tatapan dingin dengan menyiratkan peringatan. "Ada urusan apa?" Nada bicaranya yang dingin, jelas menunjukkan bahwa dia sedang menjaga jarak. Kata-kata yang ingin disampaikan Amanda, akhirnya tertelan kembali. Tadinya, dia hanya ingin mengingatkan bahwa besok adalah ulang tahun Adele dan meminta Arga untuk pulang. Namun kini, semua itu rasanya tidak ada artinya lagi. Helen menatap Amanda, lalu bertanya, "Arga, kalian saling kenal?" Arga langsung menjawab cepat, "Nggak akrab." Dua kata itu seolah menancap ke jantung Amanda. Amanda menelan pahit di tenggorokan, lalu mendengar Helen melanjutkan, "Kamu teman Arga, 'kan? Kami sebentar lagi akan menikah. Nanti pasti kami undang ke pernikahannya, ya." Mendengar hal itu, Amanda menoleh tak percaya ke arah Arga. Akan tetapi, Arga hanya mengalihkan pandangan untuk menghindar. Helen seakan sengaja menambahkan, "Waktu aku pergi ke luar negeri dulu, aku dan Arga punya janji sepuluh tahun. Kalau sepuluh tahun kemudian aku kembali, Arga akan menikah denganku." "Aku pikir itu cuma janji manis belaka ... tapi ternyata Arga benar-benar menungguku selama sepuluh tahun. Makanya aku kembali untuk menepati janjiku." Bab 5 Amanda merasa dadanya seperti diremas hingga kesulitan bernapas. Ternyata, sepuluh tahun dia berada di sisi Arga .... Sepuluh tahun mencoba menghangatkan sosok yang dingin ini bukan karena dia kurang berusaha. Namun karena sejak awal, Arga memang selalu menunggu Helen. Oleh sebab itulah, apa pun yang dia lakukan tidak akan pernah cukup. Karena di hati Arga, hanya ada Helen. Menyadari hal itu, Amanda tersenyum miris dan suaranya bergetar, "Kalau begitu, selamat atas pernikahan kalian. Semoga langgeng dan bahagia sampai tua." Usai berkata demikian, Amanda membalikkan badan dan pergi. Arga menatap punggungnya yang perlahan menjauh. Dadanya mendadak terasa sesak, seperti ada sesuatu yang menghantam keras dari dalam. Dia melamun cukup lama, sampai akhirnya Helen menyenggol lengannya. "Arga, kamu lagi mikirin apa?" Arga tersadar, tapi pikirannya masih tidak fokus. "Nggak, nggak ada. Tiba-tiba ingat ada urusan kantor. Aku harus balik duluan." Tanpa menunggu persetujuan Helen, dia langsung pergi begitu saja. Malamnya, Amanda kembali ke rumah dan mulai memasak makan malam untuk Adele. Sementara itu, Adele duduk manis di ruang tamu sambil menggambar dengan tenang. Tiba-tiba, suara pintu terbuka. Amanda mengira itu hanya pembantu yang pulang, tapi terdengar suara Adele yang penuh kejutan dan gembira, "Paman!" Adele sangat senang. "Paman Arga pulang!" Amanda tertegun. Dia benar-benar tidak menyangka Arga akan kembali malam ini. Sejak Helen kembali ke tanah air, Arga hampir tidak pernah pulang ke rumah ini. Namun hari ini, dia datang tepat saat makan malam. Wajah Adele berseri-seri. Dia berlari kecil mendekat, tapi ragu menyentuh Arga. Dia hanya berdiri di dekatnya dengan penuh hati-hati. Melihat sikap anak itu, perasaan Arga menjadi rumit. Dari belakang, dia mengeluarkan sebuah boneka dan menyerahkannya pada Adele. "Ini untukmu." Adele menatapnya tak percaya. Beberapa saat kemudian, dia bertanya dengan sangat hati-hati, "Benaran buat aku?" Arga mengangguk. Boneka yang dia bawa itu, sama persis dengan boneka kelinci yang dirusak. Untuk pertama kalinya, Arga menunjukkan raut wajah lembut saat menatap Adele. Dia berkata, "Tadi Fiona nggak sengaja merobek mainanmu. Anggap saja boneka ini sebagai permintaan maaf darinya." Adele tertegun sejenak, belum sepenuhnya mengerti maksud Arga. Namun di detik berikutnya, Arga menambahkan, "Beberapa hari lagi ada lomba menggambar. Gimana kalau kamu kasih kesempatan itu ke Fiona, ya?" Senyum di wajah Adele langsung membeku. Dia menatap boneka di tangannya dan tiba-tiba mengerti. Boneka itu bukan benar-benar hadiah untuknya. Arga datang demi Fiona. Matanya langsung memerah. Adele menundukkan kepala dengan diam. Arga masih melanjutkan, "Fiona baru saja kembali dari luar negeri, belum terbiasa. Kita harus bantu dia beradaptasi. Cuma lomba kecil kok, kamu bisa ikut lain kali." Adele menggigit bibirnya erat-erat tidak menjawab. Namun, air matanya telah mengalir deras. Boneka kelinci di tangannya kini terasa sangat berat. Dengan suara gemetar, Adele bertanya sambil menangis, "Paman kasih aku hadiah ... supaya aku keluar dari lomba itu, ya?" Arga langsung mengernyit, suaranya mulai terdengar tidak senang. "Cuma lomba kecil. Masa nggak bisa mengalah sedikit untuk teman baru? Seingatku, aku nggak pernah ajarin kamu seegois ini, bukan?" Amanda yang sedari tadi menahan diri, akhirnya melangkah maju dan memeluk Adele erat-erat. Boneka kelinci di tangan Adele jatuh ke lantai. Namun, anak itu tidak peduli. Dia hanya menangis di pelukan Amanda dengan terisak. Amanda mengangkat Adele ke kamarnya, lalu kembali dan mengambil boneka itu. Dia menyerahkannya kembali ke tangan Arga. "Nggak perlu repot-repot. Adele nggak akan ikut lomba itu." Arga tampak terkejut. "Kamu setuju?" Tadinya dia mengira Amanda akan membela Adele mati-matian. Tak disangka, Amanda malah mengangguk tanpa ragu. "Memang dari awal kami nggak berniat ikut." Sebab, dalam waktu dekat, Amanda akan membawa Adele pergi jauh dari sini. Arga. Kamu hanya punya satu kesempatan terakhir. Bab 6 Keheningan yang panjang menyelimuti ruangan. Melihat mata Amanda yang memerah, entah mengapa perasaan Arga jadi gelisah. Dia memungut boneka kelinci yang tergeletak di lantai, lalu meletakkannya di atas meja belajar Adele. Kemudian, dia berkata pada Amanda, "Soal tadi itu, anggap saja aku yang salah pada Adele. Mulai sekarang, kalau dia mau sesuatu, tinggal bilang saja." Hati Amanda sedikit bergetar. Dia sudah lama mati rasa pada Arga. Namun sebagai seorang ibu, Amanda tetap ingin anaknya merayakan ulang tahun dengan bahagia. Dia menahan Arga yang hendak pergi dan berkata, "Kalau kamu memang merasa bersalah, besok temani Adele sehari penuh. Kamu tahu sendiri dia selalu ingin dekat denganmu." Langkah Arga yang sudah sampai di ambang pintu, terhenti. Akhirnya dia mengangguk. "Baik." Amanda menghela napas lega. Setidaknya meskipun hanya sebentar, Adele bisa merasakan sedikit kebahagiaan. Keesokan harinya, Adele bangun pagi-pagi sekali. Wajahnya penuh semangat dan harapan saat duduk menunggu di ruang tamu. "Paman Arga kapan ajak aku ke taman bermain?" Anak-anak memang sangat mudah dibahagiakan. Hanya perlu satu kunjungan ke taman bermain saja, semua luka dan kekecewaan di masa lalu seolah bisa terlupakan. Namun hingga siang hari, sosok Arga tak kunjung muncul. Amanda mencoba menghubunginya berkali-kali, tetapi semuanya tidak tersambung. Ekspresi Adele pun perlahan berubah, dari penuh harap menjadi kecewa, lalu murung. Sampai akhirnya dia memaksakan diri tersenyum kecil. "Nggak apa-apa, aku bisa pergi sama Mama juga, kok." Melihat anaknya seperti itu, Amanda merasa hatinya seakan hancur. Dia sudah memutuskan, meskipun Arga tidak datang, dia tetap akan membawa Adele bersenang-senang hari ini. Namun baru saja mereka tiba di taman bermain, sebuah suara yang familier terdengar dari belakang. "Fiona suka yang rasa jeruk atau apel?" Tubuh Amanda langsung menegang. Dia berbalik perlahan, tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Arga berdiri di depan stan permen kapas sambil menggendong Fiona dengan penuh kasih dan bertanya tentang rasa kesukaannya. Melihat adegan itu, mata Adele langsung memerah. Dia menggigit bibir bawahnya dengan kuat, menahan diri agar tidak menangis. Amanda juga menatapnya dengan mata membelalak lebar. Saat berbalik, Arga pun melihatnya dan seketika ekspresinya berubah. Dia segera menyerahkan Fiona ke pengasuh, lalu melangkah cepat ke arah Amanda. Dengan kasar, dia menarik Amanda ke samping dan bertanya, "Kamu ngapain ke sini?" Nada bicaranya dingin dan terdengar muak, seolah Amanda adalah seseorang yang keberadaannya selalu ingin dia hindari. Dengan susah payah menahan air mata, Amanda menatapnya dan bertanya lirih, "Kamu masih ingat hari ini hari apa?" Arga mengernyit tajam, merasa Amanda hanya mencari gara-gara. Padahal dia sudah memperingatkan agar Amanda jangan pernah membawa Adele muncul di depan Helen. Sekarang wanita ini malah sengaja muncul di sini menghalanginya. "Aku nggak peduli hari ini hari apa. Yang jelas, kamu pergi dari sini sekarang!" Sambil berkata demikian, Arga mencengkeram lengan Amanda dan menyeretnya ke arah pintu. Di tengah perdebatan tersebut, suara Helen tiba-tiba terdengar, "Arga?" Langkah Arga langsung terhenti. Dia buru-buru melepaskan tangan dari lengan Amanda dan menatapnya dengan tajam seperti memberi peringatan. Kemudian, dia berbalik badan seolah tidak terjadi apa-apa. Helen berjalan mendekat sambil menggandeng Fiona. Saat melihat Amanda, matanya menyiratkan sesuatu yang sulit dijelaskan. "Ini ibunya Adele, ya? Wah, kebetulan sekali. Kamu juga bawa anak main ke sini?" Tatapan Arga tertuju pada Amanda dengan penuh ancaman. Seolah berkata, 'Kalau kamu berani membuka mulut, jangan harap akan baik-baik saja.' Amanda hanya tersenyum pahit, lalu menatap Arga dalam-dalam. "Iya. Hari ini ulang tahun anakku." Begitu kalimat itu diucapkan, tubuh Arga tampak menegang. Barulah saat itu dia sadar, hari ini memang hari ulang tahun Adele. Dan dia memang sudah berjanji akan menemaninya hari ini. Jadi, Amanda bukan sengaja datang untuk membuat keributan, melainkan menepati janjinya sendiri. Tatapan Arga perlahan berubah. Dia menunduk menatap Adele yang berdiri diam di samping Amanda. Untuk sesaat, hatinya terasa sedikit terguncang. Melihat mata Adele yang memerah dan tubuh mungilnya yang bergetar, hati Arga terasa sakit dan sesak. Sementara itu, mata Helen sempat memancarkan kilatan penuh kemenangan. Dia merangkul lengan Arga dengan manja dan berkata, "Wah, kebetulan sekali. Hari ini Fiona juga ulang tahun. Arga bahkan menyewa seluruh ruang pesta demi merayakannya." Mendengar itu, Amanda hanya bisa tertawa pahit. Ternyata alasan Arga mengingkari janjinya adalah demi ulang tahun Fiona. Bagi Arga, Adele memang tak ada artinya. Dengan semua yang telah terjadi, tak ada lagi alasan untuk bertahan di tempat itu. Amanda pun menggandeng Adele dan bersiap untuk pergi. Namun, tiba-tiba Helen tersenyum dan berkata, "Fiona dan Adele adalah teman sekelas. Kebetulan sudah ketemu hari ini, gimana kalau mereka rayakan ulang tahun bersama saja?" Bab 7 Helen tersenyum manis tampak tidak berbahaya, tetapi sorot matanya jelas terlihat menantang. Amanda segera menolak dengan tenang, "Nggak usah, kami sudah ada rencana lain." Helen berpura-pura kecewa dan mengentakkan kakinya ringan, lalu berkata dengan nada seolah tersinggung, "Kamu jadi dendam ya karena insiden waktu itu antara Adele dan Fiona? Sebenarnya waktu itu memang Fiona yang salah. Aku mewakili dia minta maaf. Kenapa harus perhitungan sama anak kecil?" Kemudian, dia menoleh ke Arga dan berbicara seolah menyalahkan diri sendiri. "Salahku juga, sih. Aku pulang terlalu mendadak. Fiona belum terbiasa, jadi gampang bentrok sama teman-teman." Arga langsung menarik Helen ke dalam pelukannya dengan penuh kasih sayang dan berusaha menenangkannya. Kemudian, dia menatap Amanda dengan dingin. "Ulang tahun mereka di hari yang sama. Kenapa nggak rayakan bareng saja? Apa salahnya?" Amanda ingin menjawab bahwa dua hal itu sangat berbeda, tapi Adele sudah lebih dulu menarik ujung bajunya. Dengan mata masih memerah, Adele berbisik, "Nggak apa-apa, Ma." Adele juga ingin tahu ... seperti apa anak yang disukai papanya. Di usia lima tahun, Adele belum bisa memahami arti pilih kasih. Dia hanya mengira, dirinya kurang baik, kurang pintar, dan kurang pantas. Oleh karena itu, ayahnya tidak pernah menyukainya. Mereka pun tiba di ruang pesta. Dekorasinya megah seperti dunia dongeng. Dinding-dinding dipenuhi warna pastel dan lampu gantung berbentuk kristal. Semua orang yang datang, memuji betapa meriahnya pesta ulang tahun Fiona. Fiona berjalan di depan dengan penuh kebanggaan dan menerima semua pujian bak putri kecil. Sementara Adele hanya berdiri di belakang menahan tangisan dan menatap sekeliling dengan hati yang pedih. Tiba-tiba, Helen melangkah ke sisi Amanda. Dia mendekat ke telinganya, lalu berbisik, "Aku tahu hubunganmu dengan Arga." Langkah Amanda terhenti seketika. Sebenarnya, dia tidak terlalu terkejut. Sejak pertama kali bertemu Helen di taman kanak-kanak, Amanda sudah curiga wanita itu tahu siapa dirinya. Reaksi Helen barusan makin menguatkan keyakinan itu. Namun, Amanda tetap tidak tahu apa tujuan sebenarnya. Dia menatap Helen dan bertanya datar, "Apa maksudmu?" Helen tersenyum sambil menggoyang-goyangkan gelas di tangannya. Suaranya terdengar ringan dan penuh sindiran. "Aku cuma penasaran, apa hebatnya wanita yang bisa menggantikan posisiku selama sepuluh tahun?" "Sekarang setelah kulihat langsung, ternyata kamu nggak ada apa-apanya. Arga bahkan nggak pernah menganggapmu ada." Ucapan Helen terasa seperti jarum yang menusuk langsung ke dalam hati Amanda. Dia tersenyum getir. "Iya ... aku memang bukan siapa-siapa di hati Arga." Karena itulah, dia tidak ingin lagi memperjuangkannya. Setelah hari ini, dia akan pergi membawa Adele jauh dari semua ini. Mata Helen memancarkan kepuasan. Dia tiba-tiba melambai pada Arga, "Arga, musik untuk tarian kita sepertinya bermasalah. Katanya Bu Amanda pandai main piano, bagaimana kalau kita minta dia mengiringi?" Amanda menoleh cepat menatap Helen dengan ekspresi tak percaya. Mereka berdua akan berdansa ... dan dia yang harus mengiringi dengan piano? Sorot kemenangan kembali terlihat jelas di mata Helen, lalu dia melirik ke arah Arga. Arga tidak mengatakan sepatah kata pun, tapi diamnya itu sudah cukup menunjukkan sebagai persetujuan. Amanda benar-benar tidak ingin menyaksikan mereka bermesraan di depan matanya. Dia hendak menolak tawaran itu, tetapi Helen malah menambahkan, "Kalau Bu Amanda nggak mau, mungkin Adele saja yang main. Kudengar dia juga jago bermain piano, suaranya sangat indah." Hati Amanda terasa sesak. Lalu, Arga pun menimpali, "Cuma main piano. Adele saja bisa melakukannya. Masa kamu nggak bisa?" Amanda menatapnya, lalu tersenyum menyedihkan. "Baik. Aku yang akan main." Dia tidak akan membiarkan Adele menghadapi semua ini. Amanda tidak akan membiarkan putrinya melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana ayahnya bermesraan dengan orang lain. Lebih baik dia yang menanggung semuanya. Amanda pun berjalan menuruni tangga, menuju sudut aula tempat piano diletakkan. Dia duduk dan membuka penutup tuts piano. Dengan wajah puas, Helen berdiri di samping Arga. Kemudian, dia berkata dengan senyum manis, "Silakan, Bu Amanda. Mainkan apa saja, kami nggak pilih-pilih." Sambil berbicara, Helen mengulurkan tangannya untuk bersandar di tubuh Arga dengan alami. Hati Amanda sudah mati rasa karena terlalu sering disakiti. Dia melihat adegan di hadapannya sambil menyunggingkan senyuman. Kalau mereka sebahagia itu, biarlah dia mempersembahkan sebuah lagu "Dream Wedding" kepada mereka. Setelah tangannya diletakkan di atas tuts piano, alunan lagu mulai menggema. Gerakan Arga terhenti seketika. Bab 8 Amanda memainkan musiknya dengan sangat fokus, seolah-olah benar-benar sedang memberikan restu bagi mereka. Tiba-tiba, jantung Arga berdetak tak beraturan. Dia memandang Amanda dengan ekspresi rumit, tidak mengerti mengapa Amanda memilih lagu itu. Bahkan langkah kakinya dalam berdansa pun jadi kacau tanpa dia sadari. Sampai akhirnya terdengar teriakan kaget dari Helen. Arga tidak sengaja menginjak kakinya. Dia langsung tersadar dan segera mengangkat Helen untuk mengoleskan obat. Musik pun berhenti. Amanda menatap punggung mereka yang menjauh. Dalam hatinya berkata, "Ini akan menjadi yang terakhir kalinya. Setelah hari ini, aku akan pergi bersama Adele.' Amanda pergi ke toilet untuk menenangkan diri. Di sisi lain, entah sejak kapan, Adele telah berjalan mendekati meja kue. Dia menatap kue sebesar tiga tingkat yang tampak mewah di atas meja dengan mata memerah. Arga tidak pernah sekali pun makan kue bersamanya. Meski tahu kue itu bukan miliknya, Adele tetap tidak tahan untuk mengulurkan tangan dan memotong sepotong kecil. Biarlah dia menganggap itu adalah kue yang dibelikan ayah untuknya. Begitulah Adele membujuk dirinya sendiri dalam hati. Namun belum sempat dia menikmatinya, Fiona tiba-tiba datang dan menepis kue itu dari tangannya. "Kamu pencuri! Berani-beraninya curi kueku!" Wajah Adele seketika pucat. Dia menggeleng dan mencoba menjelaskan, "Aku bukan pencuri ...." Dia hanya ingin tahu bagaimana rasa kue yang dibeli oleh ayah. Namun, Fiona tidak peduli dan langsung mendorongnya sambil berteriak, "Kamu memang pencuri! Kamu sudah mencuri papaku!" "Ibumu juga pencuri! Dia mencuri papaku dari mamaku! Kalian berdua bukan orang baik! Pergi dari rumahku!" Mendengar ada yang menghina Amanda, Adele panik dan segera bangkit membela ibunya, "Ibuku nggak seperti itu!" Pertengkaran pun memanas dan kedua anak itu saling mendorong hingga ke ambang pintu. Fiona yang lebih kuat akhirnya mendorong Adele keluar begitu saja. Adele kehilangan keseimbangan dan jatuh keras ke taman bunga. Wajahnya langsung pucat pasi. Fiona pun ikut terkejut. Namun di detik berikutnya, dia berpura-pura jatuh dan mulai menangis kencang di lantai. Mendengar suara gaduh, Amanda segera berlari ke arah keributan. Yang dilihatnya adalah Adele yang tergeletak di tanah dengan wajah pucat dan darah memenuhi rambutnya. Tangannya gemetar ketakutan dan seluruh pikirannya panik. Dia segera mengangkat Adele dan berlari mencari bantuan pada Arga. Arga pun datang. Saat melihat adegan itu, wajahnya ikut memucat. Dia hendak mendekati Adele, tetapi Helen tiba-tiba berseru, "Arga! Fiona pingsan!" Langkah Arga langsung terhenti. Wajahnya tampak ragu beberapa saat, tapi akhirnya dia berbalik dan berlari ke arah Fiona. Amanda menatap punggungnya yang menjauh dengan tatapan tak percaya. Benar-benar dingin dan kejam. Seluruh tubuh Amanda terasa menggigil. Dia memeluk erat putrinya dan segera membawanya ke rumah sakit. Untungnya, luka Adele tidak terlalu serius dan hanya perlu observasi semalam. Namun sampai tengah malam, Arga tidak kunjung datang. Bahkan satu pesan pun tidak ada. Amanda menatap putrinya yang terbaring di ranjang rumah sakit, matanya dipenuhi rasa bersalah dan kasih sayang. Namun, Adele justru menoleh dan tersenyum serta berusaha menghiburnya, "Nggak apa-apa kalau Papa nggak datang." Hati Amanda terasa sangat sakit. Adele melanjutkan, "Nggak apa-apa kalau Papa nggak suka padaku. Asalkan Mama sayang aku, itu sudah cukup. Mama, ayo kita pergi." Mata Adele tidak lagi menunjukkan rasa berat hati seperti biasanya. Dia benar-benar telah mati rasa. Sosok Arga yang pergi tanpa menoleh itu, akan selamanya tertanam dalam ingatannya. Jika apa pun yang dia lakukan tidak bisa membuat Arga menyukainya, lebih baik dia pergi. Air mata Amanda tidak terbendung lagi. Dia langsung memeluk putrinya erat-erat. Keesokan paginya, Amanda membawa Adele keluar dari rumah sakit dan naik taksi menuju bandara. Sebelum pergi, Amanda mengirim pesan terakhir pada Arga. [ Seumur hidup ini kita nggak perlu bertemu lagi. ] Lalu, dia menghapus semua kontak Arga. Arga, tiga kesempatan sudah kamu sia-siakan. Mulai sekarang, tidak ada hubungan apa pun lagi di antara kita.