Cinta yang Dipaksakan Berakhir Tragis

Đang tải thông tin quảng bá...

Cinta yang Dipaksakan Berakhir Tragis

GoodNovel Hoàn thành

Wira dan Raisa tidak pernah akur sejak kecil. Pada tahun itu, di kalangan mereka hanya tersisa mereka berdua yang cocok untuk dijodohkan. Wira berkata dengan tegas, "Sekalipun mati, aku nggak akan men...

Chương (1)

第1章

Wira dan Raisa tidak pernah akur sejak kecil. Pada tahun itu, di kalangan mereka hanya tersisa mereka berdua yang cocok untuk dijodohkan. Wira berkata dengan tegas, "Sekalipun mati, aku nggak akan menikahi Raisa." Namun, Raisa malah menunjukkan ketertarikan. "Kalau begitu, aku pasti akan menikah denganmu. Cepat mati sana." Di hari pernikahan, Wira melepaskan puluhan ekor ayam di lokasi acara sebagai bentuk penghinaan. Tanpa ekspresi, Raisa mengambil seekor ayam dan memanggilnya sebagai suaminya. Seketika, Wira kehilangan keinginan untuk mempermalukannya. Dia menatap Raisa yang bersikeras menikah dengannya sambil mencibir. "Kamu pasti bakal nyesal." Tiga tahun pernikahan, untuk ke-99 kalinya, Raisa memergoki Wira berselingkuh di ranjang. Barulah saat itu, dia benar-benar mengerti apa yang dimaksud Wira dulu dengan "penyesalan". Bab 1 Setelah menempuh penerbangan semalaman, wajah Raisa tampak pucat saat memandangi pakaian yang berserakan di lantai. Bau menyengat di udara membuat perutnya terasa mual dan bergejolak. Wira duduk di ranjang tanpa mengenakan atasan, sementara perempuan di pelukannya masih mengenakan piama sutra milik Raisa. Tangan besarnya terus menjelajahi tubuh wanita itu. Senyuman di ujung matanya semakin sinis. Wira mengangkat alis, tersenyum licik kepada orang yang datang memergokinya berselingkuh. "Gimana? Piama ini lebih cocok buat dia, 'kan? Raisa, kalau aku nggak salah hitung, ini sudah yang ke-99 kalinya ya? Kamu masih belum mau cerai?" Dengan gerakan kaku, Raisa memijat perutnya yang terasa nyeri. Untuk pertama kalinya, dia tidak membalas ejekan Wira dengan kemarahan. "Pakai bajumu. Kita bicara di luar." Wira tertawa sinis melihat punggungnya. "Mau bicara apa? Sudah nggak ada yang perlu dibicarakan lagi di antara kita." Raisa berhenti, tetapi tidak menoleh ke belakang. "Soal cerai." Wira tampak agak kaget, mulutnya sedikit terbuka. "Baguslah! Akhirnya impianmu akan terwujud!" seru wanita di pelukan Wira. Baru lima menit Raisa duduk di ruang kerja, Wira sudah muncul dengan pakaian lengkap dan membuka pintu. Terlihat jelas, dia sangat antusias untuk segera bercerai. "Raisa, kamu nggak lagi bercanda, 'kan?" Tatapan meremehkan di mata Wira tidak luput dari perhatian Raisa. Dia tidak menjawab, hanya mendorong dokumen perjanjian cerai di atas meja ke arahnya. "Lihat dulu. Kalau nggak ada masalah, langsung tanda tangan saja." Wira mengambil dokumen itu dengan curiga, matanya tampak ragu. Dia benar-benar tidak percaya Raisa akan menceraikannya. Keluarga Raisa sekarang sudah tak berjaya seperti dulu. Dia yakin Raisa pasti akan terus bergantung padanya, bahkan mungkin mengisap semua yang dia miliki. Namun, setelah membaca isi perjanjian, Wira benar-benar terdiam. Raisa bukan hanya tidak meminta apa pun darinya, bahkan secara sukarela meninggalkan rumah yang mereka tempati bersama selama menikah. Dahi Wira berkerut. "Kamu serius? Jangan-jangan hari ini bilang cerai, tapi besok kamu buat onar di rumah lama?" Raisa tetap tenang. "Aku serius. Aku nggak akan ribut. Kamu tenang saja." Wira tidak ragu lagi. Dengan cepat, dia menandatangani dokumen itu. Begitu selesai, senyuman tipis muncul di bibirnya. Beban di hatinya terasa terangkat. "Karena sudah ditandatangani, kita ke pengadilan negeri buat urus prosedur sekarang juga. Masa tenang ada 30 hari. Aku nggak mau buang waktu sehari pun," ujar Wira. "Sekarang?" Alis Raisa berkerut. "Heh, aku sudah duga. Jangan-jangan kamu mau tarik omonganmu lagi?" Perut Raisa kembali terasa nyeri, tetapi melihat ekspresi Wira yang penuh ejekan .... "Ya sudah, ayo." Tanpa menunda, Raisa pergi mengurus prosedur perceraian bersama Wira. Saat memberikan selembar formulir kepada mereka, petugas berkata, "Kalau dalam tiga puluh hari berubah pikiran ...." "Mana mungkin berubah pikiran?" Wira meletakkan pena di atas meja. Senyuman di wajahnya semakin lebar. Raisa keluar belakangan, tetapi melihat mobil Wira masih terparkir di sana. Pria itu memencet klakson saat melihatnya. Jendela mobil terbuka sebagian. Wira melepaskan kacamata hitamnya, mulai mengejek dengan santai, "Bagaimanapun, kita ini pernah tidur seranjang. Nggak usah takut nggak laku. Menurutku, cowok ini lumayan." Wira menyodorkan kartu nama padanya, sengaja ingin mempermalukannya. Yang tak dia duga, Raisa menerima kartu itu. "Oke, akan kupertimbangkan." Setelah itu, dia berbalik dan pergi dengan tenang, meninggalkan Wira yang mematung di tempat. Yang Wira tidak tahu adalah 30 hari itu bukan hanya hitungan masa tenang perceraian, tetapi juga hitungan mundur menuju akhir hidup Raisa. Bab 2 Raisa berjalan menyusuri jalanan kota. Di tangannya tergenggam erat surat vonis kematian dari dokter. "Jadi, maksudnya waktu yang tersisa untukku cuma sekitar 30 hari?" "Maafkan kami, Bu Raisa." Petir di siang bolong, ini bukan pertama kalinya Raisa merasakan hal itu. Keluarga Sutrisno berada di ambang kehancuran dan seluruh beban ada di pundaknya. Saat itu, dia pernah merasa sangat tak berdaya. Dia menelepon Wira. Dia berpikir, walaupun hanya bertengkar dengannya, mungkin hatinya akan terasa lebih lega. Namun, Wira menolak semua panggilannya. Sampai akhirnya merasa terganggu, pria itu mematikan ponselnya. Kemunculannya kembali adalah saat dia membawa seorang model wanita muda, telanjang, tidur di ranjang pengantin mereka. Raisa yang sedang dalam keputusasaan tidak pernah terlihat oleh Wira. Yang Wira lihat hanyalah wajah yang membuatnya muak. Dengan sengaja, Wira mencium model itu dengan penuh gairah tepat di depan matanya. Air liur yang menghubungkan bibir mereka terasa seperti pisau yang menusuk mata Raisa. "Gimana? Mau cerai, 'kan?" Raisa memaksakan diri untuk tetap tenang dan melarikan diri dari kamar itu. Di Kota Jarda, hampir semua orang tahu bahwa sejak kecil Raisa dan Wira tidak akur. Setiap kali bertemu, mereka pasti bertengkar. Hampir semua orang juga percaya bahwa Raisa sangat membenci Wira, sama seperti Wira yang membenci dirinya. Raisa menyentuh cincin di jari manisnya, cincin yang Wira berikan dengan terpaksa setelah menikah. Bahkan saat menyerahkan cincin itu, kotaknya dilemparkan ke wajahnya. Awalnya, Raisa menyembunyikan perasaannya dengan sangat baik. Sampai akhirnya Wira memaksa dirinya untuk menjalankan kewajiban sebagai istri. Di tengah momen itu saat Raisa mulai tersentuh, Wira tak sengaja menyentuh cincin di jarinya. Wira langsung tertawa keras. "Raisa, jangan-jangan kamu suka sama aku, makanya nggak mau cerai?" "Kalau iya, mending kamu buang jauh-jauh pikiran itu. Aku nggak mungkin suka sama kamu, bahkan aku benci sama kamu!" Tak ada kebencian yang datang tanpa sebab. Wira tak menyukai Raisa karena mereka sudah dijodohkan sejak lama. Karena perjodohan itu, cinta pertama Wira dipaksa pergi ke luar negeri. Malam itu, Raisa menatap langit-langit kamar sampai pagi. Ibunya sudah tiada sejak dulu, tak ada yang mengajarkannya cara mempertahankan orang yang dia cintai. Saat masih kecil, satu-satunya cara yang dia tahu untuk membuat Wira memperhatikannya hanyalah dengan kata-kata tajam dan sikap keras kepala. Namun, setelah itu? Raisa berkedip, matanya terasa kering. Getaran dari ponselnya memecah pikirannya yang kacau. Dia melirik layar, Wira sedang membagikan uang di grup. [ Ada apa nih? Kamu lagi bahagia banget ya, Wira? ] Wira tidak menjawab. Dia hanya mengirim foto tanda tangan pada formulir masa tenang perceraian. Satu gambar itu seperti bom, langsung menggegerkan semua orang di grup yang selama ini hanya diam-diam menonton. [ Cerai? Raisa setuju? ] [ Ini kabar paling baik tahun ini! Akhirnya kamu bisa lepas juga dari beban itu! ] [ Pasti harus dirayain dong! Bukannya kamu pernah bilang setiap pulang dan lihat muka Raisa, kamu nggak bisa tidur? Nah, sekarang kamu bebas, ganti cewek setiap malam juga nggak ada yang protes! ] [ Tapi, kalian nggak merasa aneh? Selama ini Wira tidur sama banyak model, Raisa juga masih tahan. Kenapa sekarang tiba-tiba nyerah? Jangan-jangan dia cuma main-main. Hati-hati, jangan sampai pas hari-H dia nggak muncul. Kalian nggak bakal bisa ambil akta cerai. ] Ucapan itu membuat grup langsung hening. Tak lama kemudian, telepon Raisa berdering. "Raisa, jangan bilang kamu cuma main-main ya? Habis masa tenang, kamu benaran bakal datang buat ambil akta cerai, 'kan?" Wajah Raisa yang pucat menyunggingkan senyuman kecil. Dengan suara lirih, dia menjawab, "Oh, memang aku lagi main-main. Wira, kamu bisa apa?" Bab 3 Di seberang telepon, terdengar napas berat. Raisa berpikir, kalau saat ini dia berdiri tepat di hadapan Wira, mungkin dia sudah dicekik mati sebelum satu bulan berlalu. Sebelum Wira sempat melontarkan sumpah serapahnya, Raisa tertawa. "Wira, kali ini aku nggak main-main. Tapi, aku punya satu syarat." Wira tidak menjawab. Raisa tidak peduli, melanjutkan kata-katanya, "Aku mau kamu temani aku melakukan sepuluh hal. Setelah sepuluh hal itu selesai, aku akan mengambil akta cerai. Aku janji setelah itu, aku akan benar-benar lenyap dari hidupmu." Kalimat itu terlalu menggiurkan. Wira mengerutkan kening. "Sepuluh hal terlalu banyak, lima saja." Raisa terkekeh-kekeh. "Oke." Hal pertama, Raisa meminta Wira menemaninya ke sebuah gala amal. Dia berdandan dengan sangat anggun. Ketika Wira menjemputnya, jari-jarinya sibuk menggesek layar ponsel, matanya bahkan tidak melirik ke arah Raisa. Raisa tidak peduli. Dia tahu dari mulut Wira tidak akan pernah keluar kata-kata manis. Namun anehnya, saat sudah duduk di mobil, Wira akhirnya melirik dan langsung mengerutkan alis. "Kamu diet ya? Wajahmu pucat banget. Jelek." Jari-jari Raisa menegang, tetapi pandangannya tetap lurus ke depan. Dia tidak menanggapi. Saat turun dari mobil, Wira menarik tangannya. Ketika melihat wajah Raisa yang menegang, dia bertanya dengan nada menghina, "Kenapa? Bukannya kita pernah pegangan tangan? Yang lebih dari ini juga sudah pernah. Ngapain sok kaget?" Tangan Raisa yang dingin dibungkus oleh telapak tangan Wira yang hangat. Ini memang bukan pertama kalinya Wira memegang tangannya, tetapi ini pertama kalinya dia melakukannya secara sukarela. Orang-orang di sekeliling mereka memandang heran saat melihat keakraban aneh antara mereka berdua. Acara lelang dimulai. Raisa melihat barang yang diinginkannya. Tanpa sadar, dia mengangkat papan lelang, tetapi seorang pria di sampingnya sudah lebih dulu mengangkatnya. Itu adalah lukisan peninggalan seorang pelukis luar negeri yang telah wafat. Banyak orang menyukainya dan berlomba menawar. Namun, pada akhirnya Wira yang berhasil memenangkannya dengan harga tinggi. Ada kehangatan aneh menyusup ke dalam hati Raisa. "Wi ...." "Kirimkan lukisan ini ke rumah Keluarga Taulany di Kota Nemar." Tangan Raisa yang hendak diulurkan langsung membeku di udara. Ternyata lukisan itu bukan untuknya. Hatinya dipenuhi kegetiran, seolah-olah ingin menenggelamkan seluruh dirinya. Dia tiba-tiba berdiri dan melangkah ke luar. Wira mengerutkan alis dan mengejar, langsung mencengkeram lengannya. "Belum selesai, kamu mau ke mana?" Raisa berusaha menarik diri, tetapi tak berhasil melepaskan diri dari cengkeramannya. Wira mulai kesal. "Kamu yang minta aku ke sini, sekarang malah marah sendiri? Sakit jiwa!" Kata "sakit jiwa" itu seperti tusukan tajam ke dalam hati Raisa. "Ya, aku memang sakit." Raisa melepaskan tangannya dengan paksa dan berjalan pergi tanpa menoleh. Selama seminggu, Raisa tidak menghubungi Wira. Dia juga sudah pindah dari rumah mereka. Awalnya Wira tak terlalu peduli. Namun, setiap kali memikirkan empat hal yang tersisa, dia merasa tidak tenang. Seolah-olah kalau tidak cepat-cepat diselesaikan, Raisa akan kembali menempel padanya seperti dulu. Akhirnya, dia tidak tahan dan menelepon Raisa. Saat panggilan masuk, Raisa baru saja selesai menjalani radioterapi. Penyakitnya semakin memburuk, sekujur tubuhnya terasa nyeri. "Masih ada empat hal lagi. Raisa, jangan coba-coba main tipu muslihat ya." Raisa terdiam sejenak. "Aku mau pergi ke Tiber." Wira mengernyit. "Sekarang?" "Ya, sekarang juga." Wira benar-benar merasa Raisa sudah gila. Namun, demi cerai, demi terlepas dari wanita itu, dia langsung membeli tiket ke Tiber tanpa berpikir panjang. Raisa memakai pakaian yang tebal dan tertutup. Saat dia sampai, Wira sudah tampak kesal karena menunggunya. "Kamu ngapain sih? Aku mau jemput, kamu nolak. Sekarang malah datang telat begini." Mendengar omelannya, Raisa hanya diam dan menyerahkan koper ke tangannya. "Bawel." Wira tersenyum dingin, lalu secara refleks mengambil semua barang bawaan Raisa. Gerakan spontan itu bahkan tak disadari olehnya sendiri. Pesawat hampir lepas landas. Tiba-tiba, ponsel Wira berdering. Raisa berdiri di dekat gerbang, memandangnya dari kejauhan. Wira menggenggam erat ponselnya, tubuhnya menegang. "Maaf, Raisa. Aku nggak bisa ikut ke Tiber." Bab 4 Setelah mengucapkan itu, Wira langsung berbalik dan berlari keluar dari bandara. Raisa mengeluarkan ponselnya dengan ekspresi datar. Seperti yang dia duga, postingan teratas di media sosial adalah dari Jennifer. Dia tidak menulis apa pun, hanya memposting foto lukisan itu. Sementara itu, Wira langsung pergi, meninggalkan Raisa dan janji yang telah mereka buat. "Bu, waktunya hampir habis," kata petugas bandara. Raisa tersadar, berhenti menatap punggung Wira, dan memilih berjalan ke arah sebaliknya. Setibanya di Tiber, Raisa menerima pesan dari Wira. [ Aku nyusul dua hari lagi. Kamu jalan-jalan duluan. ] Raisa cukup terkejut. Ternyata Wira bukan batal datang, melainkan hanya terlambat. Sepertinya pria ini benar-benar ingin menyelesaikan semua urusan mereka secepat mungkin. Raisa tidak menunggunya. Dia menyewa pemandu lokal dan ikut tur. Namun, karena kondisi tubuhnya tak sanggup mengikuti aktivitas berat, dia lebih sering beristirahat sendirian di kamar. Saat Wira tiba, Raisa sudah bersiap untuk pulang. "Raisa, aku ninggalin banyak kerjaan demi temani kamu gila-gilaan dan kamu malah anggap ini lelucon?" Dengan marah, Wira menendang koper Raisa hingga isi di dalamnya berhamburan keluar. Melihat bajunya berserakan di lantai, Raisa hanya tertawa getir. "Temani aku? Bukannya Jennifer ada di kamar sebelah?" Ekspresi Wira langsung kaku. Dia menjawab dengan nada kurang yakin, "Jennifer cuma datang untuk lukis pemandangan, jangan selalu bersaing sama dia!" Jari-jari Raisa menegang, tetapi dia memilih diam. Dia menunduk, mulai memunguti bajunya satu per satu. "Aku ganggu ya?" Jennifer tiba-tiba muncul di ambang pintu. Emosi di wajah Wira langsung hilang. Yang muncul justru kepanikan dan perhatian. "Kamu nggak enak badan, 'kan? Kok bangun?" "Masa aku cuma bisa tiduran terus? Lagi bahas apa? Aku dengar suara kalian cukup keras, jadi aku datang lihat." Mendengar itu, Wira melirik ke arah Raisa. "Bukan apa-apa kok. Kamu lapar nggak? Aku ambilin makanan ya." Jennifer mengangguk malu. Wira hendak pergi, tetapi langkah kakinya tiba-tiba terhenti. Dengan malas, dia menoleh ke Raisa. "Kamu gimana? Mau makan apa?" Raisa baru saja selesai mengemas baju terakhirnya. Hanya dengan aktivitas ini saja, keringat sudah membasahi dahinya. Dia bisa merasakan perubahan pada nada suara Wira. Dengan suara datar, Raisa menjawab, "Nggak usah." Wira mendengus dan menunjukkan wajah jengkel. "Ya sudah kalau nggak mau. Kamu mati kelaparan juga bukan urusanku. Mukamu pucat kayak hantu!" Pintu ditutup dengan keras. Kini, hanya tersisa Raisa dan Jennifer di dalam kamar. Ini bukan pertama kalinya Raisa bertemu dengannya. Keluarga Taulany awalnya hanya keluarga biasa di Kota Nemar, tetapi kemudian mendadak kaya. Jadi, mereka tidak pernah diakui oleh Keluarga Ginanjar yang sudah mapan. Jennifer punya sifat sombong. Dia menganggap Keluarga Ginanjar memandang rendah dirinya. Dulu dia pun marah dan pergi ke luar negeri, berusaha membuktikan diri. Namun sekarang, dia diam-diam kembali. Hal pertama yang dilakukan adalah menghubungi kembali cinta pertamanya. Sebagai orang luar, Raisa melihat ini sebagai sesuatu yang konyol. Kini tanpa kehadiran Wira, Jennifer bahkan tak berniat berpura-pura lagi. "Raisa, lama nggak jumpa," katanya dengan sinis. Kemudian, dengan satu tendangan, dia membalikkan koper Raisa yang baru selesai dirapikan. Melihat semua barang yang dia susun dengan susah payah kembali berantakan, amarah Raisa langsung naik. Dia tahu Jennifer sengaja memancing emosinya. Raisa pun menanggapi tanpa ragu. Saat berikutnya, sebuah tamparan keras mendarat di pipi Jennifer yang halus. Saat Wira masuk, yang dia lihat adalah pipi Jennifer yang merah dan mata yang berkaca-kaca. Di tangannya, ada semangkuk mie yang tadinya dia bawa untuk Raisa, tetapi kini terjatuh ke lantai. Tanpa mendengar penjelasan, dia langsung melangkah maju dan menampar Raisa dengan keras. "Raisa, jangan keterlaluan!" Jennifer menatap Wira sambil menangis. "Itu salahku. Aku yang nggak sengaja tendang koper Raisa. Aku tahu dia nggak suka aku. Aku pergi saja ...." Dia cepat-cepat berlari ke luar kamar. Tanpa berkata apa pun, Wira hendak menyusulnya. Namun, Raisa tiba-tiba memanggilnya, "Wira, permintaan ketiga, tetap di sini." Bab 5 Wira mengepalkan tangannya, menatap Raisa dengan penuh amarah. Raisa tahu apa yang ingin dia katakan. Dengan napas terengah-engah, Raisa seolah-olah kehilangan seluruh tenaganya dan duduk di lantai. Dia memijat telinganya yang masih berdenging karena tamparan dari Wira, lalu kembali merapikan pakaian-pakaian yang berserakan di lantai. "Bukannya dari awal yang kamu tunggu-tunggu cuma satu? Cerai sama aku, terus nikah sama Jennifer?" "Ini permintaan ketiga. Tinggal dua lagi setelah ini. Kamu mau semua usahamu sia-sia? Dua permintaan sebelumnya pun kamu kerjakan setengah hati. Jangan-jangan kamu sebenarnya nggak ingin cerai?" Selesai berbicara, Raisa menatap langsung ke matanya. Mata Wira yang seperti tinta hitam kini dipenuhi sindiran dan ejekan. "Raisa, orang yang bijak itu tahu diri. Sayangnya kamu nggak punya itu. Permintaan ketiga ini aku terima. Ingat, Keluarga Sutrisno nggak bisa lindungi kamu lagi. Kalau kamu berani macam-macam sama Jennifer lagi, aku pastikan kamu bakal hancur!" Raisa menunduk dan tertawa getir. Ancaman? Siapa yang tidak bisa? Dulu saat mereka bertengkar hebat, Wira bahkan sering menjadi pihak yang kalah. Lagi pula, sebentar lagi keinginan Wira akan terkabulkan. Dia akan lenyap dan Wira tak perlu repot-repot turun tangan. Wira menelepon Jennifer dan membujuk wanita itu. Dia bahkan mengatur agar Jennifer pulang dulu. Melihat bagaimana Wira melindungi wanita itu, hati Raisa terasa pahit. Ternyata Wira bukan tidak bisa mencintai seseorang. Pria ini hanya tidak pernah mencintainya. Ketika Wira kembali ke kamar, Raisa belum selesai mengemasi barang-barangnya. Dia tak tahan lagi melihatnya. Dengan kasar, dia menarik Raisa berdiri dan membungkuk sendiri untuk membereskan barang. "Lemah banget sih. Cuma barang segini saja kamu beresinnya setengah mati. Orang yang lihat bisa mikir kamu udah sekarat. Masa tenaga sekecil ini saja nggak punya?" Raisa tiba-tiba ingin menggodanya. "Memang aku sekarat. Kenapa? Kalau aku mati, kamu bakal nyesal sudah memperlakukanku begini?" Wira terdiam sesaat. Saat menatapnya lagi, wajahnya penuh dengan hinaan. "Nyesal? Jangan mimpi. Kalau kamu mati, aku bakal nyalain petasan tiga hari tiga malam dan traktir semua orang di Kota Jarda makan!" Raisa tertawa sampai menangis, sambil memegangi perut bagian bawahnya. "Wira, kamu benar-benar kejam. Padahal, kita pernah tidur di ranjang yang sama." Raisa tidak tinggal lebih lama di Tiber. Dia tahu tubuhnya sudah mencapai batas. Setelah kembali ke Kota Jarda, dia terbaring di tempat tidur selama seminggu. Setiap kali selesai radioterapi, rambutnya rontok banyak. Ketika Wira meneleponnya untuk menagih dua permintaan terakhir, Raisa bersembunyi di kamar mandi dan baru menangis seharian. Selesai menangis, dia langsung pergi ke mal dan membeli wig. "Kamu potong rambut?" Raisa tidak menjawab, hanya langsung masuk ke mobilnya. "Ayo jalan." Wira mengerutkan kening, secara refleks ingin menyentuh rambut Raisa yang kini adalah wig, tetapi Raisa segera menepisnya. "Cepat sedikit. Kamu mau jalan atau nggak?" Wira naik ke mobil sambil mendengus. "Mau ingatin saja, masa tenang tinggal kurang dari tujuh hari. Masih ada dua hal, kamu harus segera tentukan." Raisa tidak menjawab. Matanya terus menatap ke luar jendela. Dulu dia terlalu sibuk. Sibuk marah-marah ke Wira, sibuk mengejar perhatian Wira, sampai lupa menikmati indahnya Kota Jarda. Dia berpikir, kalau bisa berdiri sejajar dengan Wira, mereka bisa bersama menikmati pemandangan. Namun kenyataannya, untuk orang yang tidak dicintai, meskipun sudah berdiri di sampingnya, dia tetap akan diabaikan. Sebaliknya, untuk orang yang dicintai, Wira bersedia membungkukkan punggungnya yang selama ini begitu tegak. Permintaan keempat Raisa yaitu Wira harus menemaninya ke taman hiburan. "Kekanak-kanakan sekali!" Wira meliriknya dengan tatapan penuh ejekan. Bab 6 Raisa menunduk. Dia pernah melihat Wira membawa Jennifer ke taman hiburan, dengan sabar dan tanpa lelah memotret Jennifer di sana. Dia bukannya ingin bersaing dengan Jennifer. Hanya saja ... pergi ke taman hiburan bersama Wira adalah impian masa kecilnya. Permintaan keempat ini bukan untuk sekarang, melainkan untuk memenuhi mimpi Raisa saat kecil. Wira mungkin berada di samping Raisa, tetapi hatinya entah sudah melayang ke mana. Matanya tidak pernah lepas dari layar ponsel. Raisa memanggilnya berkali-kali untuk mengambil foto. Baru setelah panggilan keempat atau kelima, Wira mengalihkan pandangan kepadanya. Saat malam tiba dan langit mulai gelap, Wira sudah mendesaknya tiga kali untuk pulang, tetapi Raisa mengabaikannya. Sampai akhirnya, lampu di kincir ria menyala. Dengan mata berbinar, Raisa menunjuk ke arah sana. "Temani aku naik itu, habis itu kita pulang." Melihat cahaya harapan dalam mata Raisa, Wira terdiam di tempat. Beberapa saat kemudian, dia berkata, "Raisa, kalaupun kita duduk di puncak tertinggi kincir ria itu, aku tetap nggak akan jatuh cinta padamu." Waktu seolah-olah berhenti. Sudut mata Raisa terasa hangat dan basah. Dia segera memalingkan wajah. "Kamu mikir apa sih? Aku cuma belum pernah naik saja!" Suara telepon memecah kesunyian. Jennifer yang berada di seberang sana terdengar panik, entah berkata apa. Setelah menutup telepon, Wira buru-buru pergi. Kali ini, bahkan tanpa satu kata maaf. Ketika kincir ria mencapai puncaknya, Raisa menatap lampu-lampu kota yang berkelap-kelip di bawah. Air matanya jatuh perlahan di pipinya. Dengan suara nyaris tak terdengar, dia berucap, "Raisa, selamat ulang tahun." .... Setelah hari itu, Raisa dilarikan ke rumah sakit karena demam tinggi. Suara mesin-mesin medis di sekitarnya seperti tak terdengar di telinganya. Dalam kesadarannya yang kabur, dia seperti melihat Wira datang menjenguk. Melihat dirinya dalam kondisi sekarat, tak ada sedikit pun belas kasihan di mata Wira. Sebaliknya, pria itu tertawa. "Mampus! Orang jahat memang pantas mendapat karma! Sebaiknya kamu cepat mati, jadi aku nggak perlu buang waktu untuk permintaan terakhirmu yang membosankan itu." Dalam mimpi itu, Raisa menggertakkan gigi karena marah. Namun, hatinya benar-benar getir. Dia memaksakan diri bangun, membuka matanya perlahan. Sayangnya, orang yang dia harapkan tidak ada di sana. "Syukurlah! Akhirnya kamu bangun juga! Kamu tahu kamu sudah tidur berapa lama?" Raisa adalah tipe yang keras kepala. Di lingkungan sosial mereka yang penuh persaingan dan ambisi, kekuatan dan status sangat menentukan. Keluarga Sutrisno bangkrut, sementara Wira bermusuhan dengannya. Semua orang tahu kalau Wira akan menjadi orang pertama yang mentertawakan kehancuran mereka. Itu sebabnya, mereka buru-buru menjauh dari Raisa. Satu-satunya yang masih peduli dan berbicara dengannya hanyalah suster yang merawatnya selama ini. Mendengar ucapan suster itu, Raisa menoleh dengan panik. "Hari ini tanggal berapa?" Yola mengira Raisa sedih karena tahu waktu hidupnya tak banyak lagi. Dia menahan ekspresinya dan perlahan berucap, "Tanggal 28. Raisa, kamu ...." "Di mana wigku?" sela Raisa. Yola tertegun sejenak, lalu menjawab, "Ada di sini, aku bantu kamu simpan." Raisa menggerakkan jarinya, menerima wig itu. Kepalanya tertunduk, ekspresinya sulit ditebak. "Yola, selama aku nggak sadarkan diri, ada yang datang menjengukku nggak?" Nada suaranya begitu hati-hati, tangannya mencengkeram wig itu dengan erat. Yola merasa sedih melihatnya begitu berharap. Namun, dia tidak ingin membohongi Raisa. "Raisa, Wira nggak datang." Selesai berkata, Yola buru-buru memalingkan wajah untuk menutupi matanya yang mulai basah. Bukan hanya tidak datang, bahkan saat Yola menelepon dan mencoba memberi kode, Wira tidak pernah mau menanggapi. "Pingsan? Jangan bercanda! Raisa nggak mungkin pingsan!" "Aku sibuk, nggak punya waktu buat main-main sama dia. Kecuali buat permintaan terakhir itu, aku nggak akan lakuin apa-apa. Bilang ke dia, jangan caper!" Bab 7 Setelah ditelepon tiga kali berturut-turut oleh Raisa dan semuanya ditolak, Raisa kehilangan kesabaran. Dia mengirimkan pesan singkat kepada Wira. Belum sampai dua menit, Wira menelepon balik. Hanya saja, suaranya terdengar sangat lelah. "Jennifer sakit. Aku harus menemaninya. Untuk permintaan terakhir itu, kita undur dua hari ya." Setelah mengatakan itu, Wira hendak menutup telepon. Namun, Raisa langsung berseru, "Nggak bisa!" Saat berikutnya, Wira langsung tertawa sinis. "Cuma dua hari kok. Aku bukan ingkar janji. Raisa, cukup ya." Hidung Raisa terasa sesak. Dia hampir tak sanggup menahan kegetirannya. Dengan tubuh yang sakitnya luar biasa, dia memaksakan diri untuk berpura-pura santai dan tertawa. "Wira, tinggal satu permintaan. Selesai itu, kamu bebas. Atau jangan-jangan kamu mulai nyesal? Kamu mau tetap jadi suamiku? Kalau iya, aku nggak masalah kok!" Wira memang selalu terpancing kalau Raisa memprovokasinya seperti ini. Raisa tahu cara ini selalu berhasil. Setelah menutup telepon, dia tertawa keras sambil memeluk ponselnya. Sampai akhirnya air mata mengalir turun ke mulutnya, rasa pahitnya seperti pisau yang mengoyak jantungnya. Dia takut Wira menyadari ada yang aneh, juga takut sebelum mati masih akan ditertawakan oleh pria itu. Jadi, Raisa menyuruh Yola merias wajahnya sebelum Wira datang. Hanya untuk turun dari lantai atas, butuh waktu hampir 20 menit baginya untuk mencapai tempat Wira berdiri. "Kamu lama banget. Ini permintaan terakhir, buruan!" Melihat wajah Wira yang penuh ketidaksabaran, Raisa tidak tergesa-gesa sedikit pun. Dia masuk ke mobil dan duduk di kursi penumpang, memasang sabuk pengaman dengan baik. Setelah semuanya beres, dia baru menatap Wira. "Sederhana kok. Masakin aku makan siang." Wira menatapnya dengan tidak percaya. "Cuma makan siang?" Raisa mengangguk. "Ya, cuma itu." Wira terus mengamatinya dengan curiga. Empat permintaan sebelumnya selalu membuatnya kewalahan, dia mengira permintaan kelima akan jauh lebih sulit, sesulit mengambil bulan dari langit. Tak disangka, Raisa hanya ingin makan siang buatannya. Wira melirik jam, lalu mengirim beberapa pesan lewat ponsel. Setelah itu, dia mengemudikan mobil ke supermarket. Ini adalah kali pertama Raisa pergi belanja bersama Wira. Mereka juga untuk pertama kalinya terlihat seperti pasangan suami istri biasa. Wira mendorong keranjang belanja, sementara Raisa berdiri di samping, memberi tahu apa saja yang harus dibeli. Saat membayar di kasir, Raisa berdiri di sebelahnya. Tiba-tiba, ada seorang anak kecil berlari dan hampir menabraknya. Wira secara refleks melindungi Raisa di belakang tubuhnya. Tangannya menggenggam erat tangan Raisa. Raisa menunduk, memandangi tangan mereka yang saling menggenggam. Matanya kembali berkaca-kaca. Ini adalah kali kedua Wira menggenggam tangannya lebih dulu. Namun, sebelum dia bisa merasakan hangatnya genggaman itu, tangan itu sudah dilepaskan secara kasar. Mereka kembali ke rumah mereka. Rumah itu tak menyimpan banyak kenangan bersama karena sejak awal, Wira menikahinya dengan terpaksa, juga menggunakan segala cara untuk menolak dan menjauhinya. Selingkuh sebanyak 99 kali itu hanya sebagian kecil dari semua penghinaan yang diterimanya. Begitu masuk rumah dan berganti sepatu, Wira langsung pergi ke dapur. Setelah menahan diri sejak tadi, Raisa akhirnya terduduk dengan lemas di lantai saat Wira membalikkan badan dan menghilang dari pandangan. Saat Wira kembali keluar, Raisa sudah memakai "topeng" seperti biasa. Dengan wajah tenang, dia menatap hidangan yang disiapkan pria itu. Raisa baru tahu Wira bisa masak. Pria yang selama ini begitu angkuh ternyata pernah belajar masak demi seorang wanita. Bisa dilihat betapa besarnya cinta Wira untuk Jennifer. "Masaknya banyak banget. Kita berdua nggak mungkin bisa habisin sebanyak ini." Wira terus membawa piring keluar dan Raisa mengernyit. Dengan kondisinya sekarang, dia tidak sanggup makan banyak. Bahkan kalau dipaksakan, dia takut akan ketahuan. Wira meletakkan piring terakhir dengan ekspresi tenang. "Siapa bilang cuma kita berdua?" Bab 8 Raisa menatap Wira dengan tatapan terkejut. Sebelum dia sempat bereaksi, bel pintu tiba-tiba berbunyi. Detik berikutnya, Wira sudah tersenyum lebar dan berjalan ke pintu. "Wira, aku telat ya? Maaf ya, hari ini murid-muridku terus mengajukan pertanyaan. Aku jadi nggak bisa pergi." Jennifer mengambil sepasang sandal wanita dari rak sepatu dengan terampil. Raisa langsung mengenali itu adalah sandal yang belum lama ini dia beli, tetapi belum sempat dia pakai sebelum pindah. Kini melihat betapa akrabnya Jennifer dengan rumah ini, tubuh Raisa pun gemetar. "Nggak kok, kamu tiba tepat waktu. Cuci tangan dulu yuk, kita makan." Suara Wira yang lembut membuat telinga Raisa terasa sakit. Jennifer tersenyum manis, lalu berjalan ke meja makan. "Maaf ya, Raisa, aku telat." Raisa tidak menjawab dan Jennifer juga tidak menunggunya menjawab. Dia langsung duduk di kursinya. "Wira, kamu baik banget sih, alat makanku bahkan sudah kamu siapin!" "Aku tahu kamu sangat mementingkan kebersihan. Semua sudah aku cuci berkali-kali. Siap kamu inspeksi deh!" "Terus, kamu mau hadiah apa dong?" Wira mencubit pipinya. "Aku mau kamu makan yang banyak. Akhir-akhir ini kamu sibuk ngajar, terus sakit pula, sampai kurusan." Raisa memandangi kedua orang di depannya yang bermesra-mesraan. Hatinya yang sudah lama mati rasa kembali terasa sakit. Dia tak tahan. Akhirnya, dia membuka mulut, memotong pembicaraan mereka, "Wira, ini yang kamu maksud sebagai menyetujui permintaan terakhirku?" Raisa tampak marah. Ketika Wira menatap ke arahnya, dia baru sadar seberapa kurus Raisa sekarang. Raut wajahnya tampak agak bersalah, tetapi dia tetap berbicara dengan nada tinggi, "Kamu sendiri nggak bisa habisin semua makanan ini." "Jennifer baru saja sembuh. Aku awalnya memang di rumah sakit buat jaga dia. Kamu yang maksa aku buat selesaikan permintaan terakhir ini. Masa aku tinggalin dia begitu saja?" Jennifer duduk tepat di hadapan Raisa. Tatapan puasnya seperti sedang mentertawakan kebodohan Raisa. Raisa tiba-tiba merasa sangat lelah. Semua energi yang dia pertahankan selama ini seperti dirampas dalam sekejap. Bukan hanya hatinya, tetapi seluruh tulang di tubuhnya seperti berteriak kesakitan. Kepalanya tertunduk, tubuhnya tampak layu. Hatinya diliputi kesedihan. Detik berikutnya, dia berusaha berdiri. Namun, matanya tetap menatap ke lantai. "Wira, seharusnya aku nggak pernah berharap apa-apa darimu." Suaranya pelan sekali, seperti bunyi jarum jatuh. Ketika dia hendak pergi, Wira sempat terlihat ingin melangkah. Namun, Jennifer lebih cepat. Dia maju dan mencoba menarik Raisa. Tanpa sengaja, mansetnya malah tersangkut pada wig Raisa. Dalam sekejap, wig itu tertarik dan lepas. Wira langsung menarik napas dalam-dalam. "Raisa! Ada apa dengan rambutmu?" Raisa membelakanginya, kedua tangannya bergetar hebat tanpa bisa dikendalikan. Kepalanya hampa. Gerakan Jennifer tadi seakan-akan merobek habis lapisan terakhir harga dirinya. Saat Raisa masih bingung bagaimana merespons dan nyaris ingin menyerah untuk menjelaskan semuanya, Jennifer mengambil wig yang jatuh ke lantai. Dengan ekspresi serius dan nada menyalahkan, dia berkata, "Raisa, aku nggak nyangka, demi mempertahankan Wira, kamu sampai rela mencukur habis rambutmu sendiri!" "Lima permintaan sudah selesai, jangan-jangan kamu mau pakai alasan masuk biara biar bisa ancam Wira lagi?"