Đang tải thông tin quảng bá...
Tukang Pijat yang Mantap
Seorang rekan kerja wanita di kantor pergi ke tempat pijat lima kali dalam seminggu. Tiap kali setelah pergi ke sana, keesokan harinya dia selalu datang ke kantor dengan semangat yang tinggi. Aku tida...
Chương (1)
第1章
Seorang rekan kerja wanita di kantor pergi ke tempat pijat lima kali dalam seminggu. Tiap kali setelah pergi ke sana, keesokan harinya dia selalu datang ke kantor dengan semangat yang tinggi. Aku tidak bisa menahan diri untuk bertanya padanya, "Apa teknik pijat di tempat itu benar-benar sebagus itu? Kamu sampai pergi lima kali seminggu ke sana?"
Dia menjawab sambil tersenyum, "Tekniknya benar-benar bagus. Kamu akan mengerti setelah mencobanya sendiri."
Akhirnya, aku mengikuti rekan kerja wanita itu ke tempat pijat bernama "Arinda" tersebut. Sejak saat itu, aku juga jadi tidak bisa melepaskan diri.
Bab 1
Aku Velia Alvaro. Umurku 30 tahun dan merupakan seorang guru di sebuah lembaga pelatihan.
Waktu berumur 26 tahun, aku menikah dengan Aldy Faizal, seorang pria yang dijodohkan oleh keluargaku.
Aldy adalah seorang pegawai rendahan dan sangat sibuk setiap harinya.
Aku dan Aldy merupakan pasangan suami istri yang terpisah jarak dan hanya bisa bertemu sebulan sekali dengan susah payah.
Hal yang paling menyedihkan adalah, tiap kali kami bertemu dan berhubungan intim, Aldy selalu mengakhirinya begitu cepat.
Tentu saja seiring berjalannya waktu, hormonku menjadi tidak seimbang dan bahkan wajahku mulai berjerawat.
Di sisi lain, rekan kerjaku yang bernama Riska Rusman, justru mengalami perubahan yang sangat drastis dalam sebulan terakhir.
Sebelumnya, wajah Riska penuh dengan jerawat. Namun, sekarang semua jerawat itu hilang dan kulitnya menjadi lebih halus juga lembut.
Akan tetapi, yang lebih membuatku iri adalah payudara Riska juga menjadi bertambah besar, dari ukuran cup A menjadi cup C.
Aku pun bertanya pada Riska sambil tersenyum, "Riska, apa yang kamu lakukan belakangan ini? Kok perubahanmu begitu besar?"
"Aku kasih tahu, ya. Selama sebulan terakhir ini, aku rutin pergi ke tempat pijat. Tempat pijat itu, tekniknya sangat bagus. Nggak cuma bisa mengobati gangguan hormon, tapi juga bisa mengubah bentuk tubuh …." Riska menjadi begitu bersemangat saat membicarakan topik yang diminatinya.
Hanya saja, jika dipijat lima kali seminggu, apa Riska tidak takut tulangnya patah?
"Pijat memang bisa menghilangkan rasa lelah. Tapi kalau tiap hari, apa nggak berisiko cedera?"
Begitu mendengar ucapanku, Riska langsung memutar matanya. "Tempat pijat itu penuh dengan pria-pria tampan. Kamu kira, itu benar-benar tempat pijat murni? Aku pijat di tempat itu."
Mataku langsung terbelalak.
Riska kan sudah menikah. Namun, bisa-bisanya dia mencari pria tampan lima kali seminggu untuk melakukan itu ….
Riska sudah gila, ya?
Suami Riska adalah seorang pejabat kecil di instansi pemerintah.
"Memangnya kenapa? Dia bisa punya banyak wanita, kenapa aku nggak boleh cari laki-laki? Aduh, malam ini aku ajak kamu melihatnya sendiri. Kamu pasti bakalan suka."
…
Riska mengedipkan matanya padaku dan tersenyum penuh arti.
Sementara itu, aku menjadi tidak bisa fokus sepanjang sore itu karena kata-kata Riska.
Entah karena sedang mendekati masa subur atau bukan, bagian bawah tubuhku terasa begitu tidak nyaman, terutama area intimku yang terus-menerus terasa gatal.
Aku bahkan sempat berpikir apakah aku juga harus mencoba seperti di cerita-cerita novel, membeli alat bantu untuk mengatasinya.
Aku tidak fokus sepanjang sore itu, hingga saat jam pulang kerja, Riska mengirimkan pesan menanyakan apakah aku jadi ikut atau tidak.
Aku hanya membalas: [Duluan saja.]
Apa pun yang terjadi, aku tetap tidak bisa melewati batas di dalam hatiku. Bagaimanapun, aku ini wanita yang sudah menikah. Selain tidak bisa memuaskanku dalam urusan ranjang, Aldy sebenarnya cukup baik padaku dalam hal-hal lainnya.
Aku tidak bisa mengkhianati Aldy.
Akan tetapi, saat aku kembali ke apartemen yang kusewa dan bersiap untuk mandi, aku menerima video dari Riska.
Riska tampak telanjang bulat dan berbaring di atas tempat tidur. Di sampingnya, ada seorang pemuda yang tengah berlutut.
Pemuda itu begitu tampan. Dia juga bertelanjang dada. Otot perutnya yang ramping terlihat jelas. Sementara itu, bagian bawah tubuhnya hanya mengenakan celana dalam tipis yang begitu pendek.
Bagian "itunya" yang menonjol terlihat samar-samar dan sesekali bergesekan dengan paha Riska. Sementara tangannya yang panjang diletakkan di dada Riska.
Kulihat, kedua telapak tangan yang besar itu mulai bergerak ….
Seketika, mulutku terasa kering dan lidahku kelu. Dadaku serta bagian bawah tubuhku juga terasa seperti digigit serangga.
Aku buru-buru menutup kotak obrolan WhatsApp dan tidak berani membukanya lagi.
Dengan napas terengah-engah, aku terpaksa mencoba memuaskan tubuhku sendiri.
Namun, pada akhirnya tidak bisa memenuhi kepuasan yang kuinginkan.
[Cepat ke sini, aku akan kirimkan alamatnya.]
Pesan baru kembali masuk ke WhatsApp-ku.
Dilema dan bimbang … aku seperti terjatuh ke dalam rawa-rawa. Makin berusaha naik, aku justru tenggelam makin dalam.
Bajuku sudah berantakan.
Bagian bawah tubuhku bahkan sudah basah tak terkendali.
[Oke, aku segera ke sana.]
Bab 2
Jam sembilan malam, aku sampai di lobi "Arinda".
Riska sudah menungguku di pintu masuk sejak tadi. Begitu melihatku, dia langsung merangkul bahuku dengan antusias.
Dengan agak gugup, aku mengikutinya masuk.
Tempat pijat ini ternyata memiliki banyak pintu di dalamnya.
Selain itu ….
Terdengar suara samar dan mesum dari dalam tiap-tiap biliknya.
Sebodoh apa pun diriku, aku tetap bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi di dalam bilik itu.
Setelah melewati sebuah jalan kecil, Riska membawaku ke halaman belakang.
Langsung terlihat olehku sebuah bangunan bergaya kuno dan megah yang mengesankan.
Di kedua sisi lorongnya, berdiri belasan pria tampan yang mengenakan pakaian modern dengan sentuhan klasik.
Mereka tidak mengenakan pakaian dengan benar, hanya disampirkan di bahu saja.
Seiring dengan gerakan tangan mereka, pakaian itu samar-samar memperlihatkan ….
Dada mereka yang bidang juga otot perutnya yang kuat dan kencang, yang semuanya begitu menggoda.
Selama ini, aku hanya pernah melihat hal-hal semacam itu di televisi dan belum pernah melihatnya secara langsung di kehidupan nyata. Jadi, bagaimana mungkin aku tidak terangsang?
Untuk sesaat, aku merasa rongga hidungku terasa panas membara, seakan darah mimisanku akan segera keluar.
Hufh.
Aku menghela napas pelan dan wajahku memerah.
"Ini adikku. Kalian harus menjaganya baik-baik. Adikku ini sudah begitu lama kelaparan …."
"Kak Riska, kami pasti akan melayani temanmu dengan baik."
Aku tidak mampu berkata-kata.
Para pria tampan itu saling bersahut-sahutan, membuatku malu setengah mati, sampai-sampai aku hanya ingin bersembunyi di belakang Riska.
Akan tetapi, Riska malah mendorongku ke tengah kerumunan para pria tampan itu, sementara Riska sendiri menyelinap masuk ke salah satu ruang VIP.
Tubuh para pria tampan itu menguarkan aroma harum yang menguar ke mana-mana, membuat kepalaku pening dan hilang arah.
"Kakak …."
"Kakak, mau dipijat kakinya, dadanya, atau bahunya …."
Para pria tampan itu saling bertukar pandang dan bersahut-sahutan, membuatku bingung dan tidak tahu harus menjawab apa.
Bagaimanapun, ini pertama kalinya aku datang ke tempat pijat seperti ini. Aku benar-benar tidak tahu harus memilih yang mana?
"Bagaimana kalau Kakak ikut seperti Kak Riska saja, mulai dengan pijat bahu dulu?"
Seorang pemuda tampan dengan dengan sepasang mata yang bagaikan kelopak bunga muncul dari belakangku.
Wajahnya terlihat polos dan lugu, tetapi tindakannya begitu tegas dan penuh inisiatif.
Belum sempat aku bicara, dia sudah memanfaatkan kelengahan para pria tampan lainnya dan langsung menarikku masuk ke salah satu ruang VIP di samping.
Bruk. Terdengar suara saat pintu dikunci dari dalam.
Jantungku langsung berdetak kencang.
Pemuda itu berdiri tepat di depanku, mendorongku hingga punggungku menempel pada pintu.
Aroma tubuhnya memenuhi hidungku. Aku bahkan tidak berani menengadah dan menatapnya. Yang bisa kulakukan hanyalah mengerjapkan mataku dengan malu-malu.
Serangan semacam ini belum pernah kualami sebelumnya.
Biarlah aku merasakannya sekali saja, sekali ini saja juga sudah cukup.
"Kakak, aku bantu mandi dulu, ya?"
Aku tidak mampu berkata-kata.
Aku tercengang. Jadi, tempat pijat ini juga menyediakan layanan membantu memandikan?
Pemuda itu sudah menggenggam tanganku. Aku seperti boneka yang patuh, membiarkannya mengendalikan semuanya.
Entah sejak kapan, pakaian di tubuhku sudah dilucuti dan aku berendam di bak mandi.
Byur.
Pemuda yang tadinya masih berjongkok di belakangku itu, tiba-tiba juga melepas seluruh pakaiannya dan masuk ke bak mandi.
Aku terkejut dan berteriak, "Kamu …."
"Kakak, jangan tegang. Ini prosedur standar kami. Kalau sudah beberapa kali datang, nanti juga akan terbiasa."
Pemuda itu memegang sebotol sabun mandi, menuangkan beberapa tetes dan hendak mengoleskannya ke tubuhku.
Kulitku merinding, terutama saat tangan pemuda itu terus mengusapku.
Pertama-tama, dia membelai leherku. Lalu, perlahan pindah ke bagian dada dan kemudian makin ke bawah.
Begitu bagian sensitifku tersentuh, aku langsung merapatkan kakiku.
Namun, karena tangan pemuda itu belum menjauh, jadi tanpa sengaja justru tangannya yang terperangkap di antara pahaku.
Uhh.
Pemuda itu mengerang pelan dan tertawa pelan. "Kakak, kamu kuat juga, ya?"
Aku tidak tahan dengan rangsangan semacam itu. Seketika, aku langsung menjadi bergairah.
"Bukannya tadi katanya mau pijat bahu? Mandinya … sudah selesai, belum?"
Bab 3
Padahal hanya mandi biasa. Namun, begitu selesai, sekujur tubuhku langsung memerah dan panas.
Terutama di bagian tertentu, terasa bengkak dan begitu nyeri.
Aku bangkit dari bak mandi dan berdiri di depan cermin yang menempel di lantai.
Pemuda itu berdiri tepat di belakangku. Jaraknya tak sampai satu kepalan tangan dariku.
Lewat pantulan di cermin, aku bisa melihat tubuhnya.
Di sana, bagian "itunya" sudah berdiri tegak menjulang.
Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak memikirkan Aldy suamiku. Punya Aldy begitu mungil. Tiap kali, meskipun dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk membuatnya tegang, dalam kondisi terbaik pun tetap tidak bisa keras seperti batu.
Oleh karena itu, aku tidak pernah merasakan kenikmatan di ranjang.
"Kakak, sekarang berbaringlah. Aku akan mulai memijat bahumu."
Pemuda itu mendekatiku, memberi isyarat agar aku berbaring di sofa di sebelah.
Ini bukan sofa biasa, malah lebih mirip sofa yang penuh dengan nuansa sensual.
Itu karena bagian bokongku berada di satu ujung, sementara kedua kakiku terbuka ke arah samping.
Pemuda itu harus berjongkok di antara kedua kakiku.
Benar-benar mengerikan.
Aku hampir tidak bisa mengendalikan detak jantungku sendiri.
Pemuda itu meletakkan tangannya di bahuku. Awalnya dia memijat dengan lembut beberapa kali. Namun, segera saja sentuhannya berubah menjadi penuh gairah.
Jari-jarinya mencubit, memijat dan meremas sedikit demi sedikit ....
Seakan-akan bahuku ini menjadi alat untuk menggodaku.
Aku terus-menerus meyakinkan diri dalam hati jika ini hanya pijatan bahu saja dan aku tidak boleh berpikir macam-macam.
Bahkan, aku mencoba mengingat-ingat momen bersama Aldy dalam benakku, supaya setidaknya aku masih bisa menjaga kendali diri.
Namun, makin aku memikirkannya, aku justru makin kecewa pada Aldy.
Akibatnya, reaksi tubuhku makin menjadi jelas.
Terutama pada bagian tertentu. Meskipun tidak tersentuh oleh pemuda itu, tetap saja mulai terasa nyeri.
Sama seperti bahuku, bagian itu juga ingin dipijat oleh jari-jarinya yang panjang itu.
"Kakak, kamu kenapa?"
Pemuda itu tiba-tiba angkat bicara. Wajahnya begitu dekat dengan wajahku. Matanya yang basah menatapku, seakan berkata, "Kakak, cintailah aku."
Aku yang tadinya merentangkan kakiku, sekarang benar-benar ingin merapatkannya. Aku ingin sekali menggunakan kedua kakiku untuk memeluk pinggang pemuda itu dan terlebih lagi ingin agar dia menggauliku dengan penuh gairah ….
Di beberapa kamar VIP di sebelah, sudah terdengar suara-suara samar.
Tentu saja, juga terdengar suara benturan.
Di tengah suara-suara yang kacau itu, samar-samar aku mendengar suara Riska-lah yang paling keras.
Suara itu datang sambung-menyambung, bagai ombak besar yang hampir menenggelamkan orang.
Akal sehatku yang sudah hampir hilang, mana mungkin bisa menahan rangsangan seperti ini.
Suara-suara samar, tanpa sadar keluar dari mulutku.
Entah kenapa, aku ingin mengulurkan jari-jariku untuk menyentuh wajah pemuda itu.
"Kakak, enak nggak pijatan bahunya?" bujuk pemuda itu dengan lembut.
Dia sudah menunduk ke arahku. Hidungnya yang mancung hampir menyentuh hidungku.
Aku menarik napas dalam-dalam dan mengangguk malu-malu.
"Kalau begitu, mau lanjut pijat bagian lain? Seluruh tubuh?"
Tangan pemuda itu mendarat di area dadaku. Sedikit saja bergeser, telapak tangannya yang besar itu akan menutupi payudaraku.
Puluhan ribu serangga seakan berlarian di dalam tubuhku dan aku merasa seperti sedang berbaring di atas tumpukan api.
Api yang berkobar membakar diriku.
Aku menggelinjang dan terengah-engah, hingga akhirnya aku mengambil inisiatif untuk mengulurkan tangan dan mengait leher pemuda itu. Aku tak kuasa menahan diri untuk tidak menariknya ke bawah ....