Yang Tersisa Hanyalah Kenangan

Đang tải thông tin quảng bá...

Yang Tersisa Hanyalah Kenangan

GoodNovel Hoàn thành

Pada tahun kelima pertunanganku dengan Gavin, ketika kami sudah berencana untuk menikah, cinta pertamanya kembali. Semua janjinya padaku tidak lagi berlaku. Demi cinta pertamanya, dia merasa muak pada...

Chương (1)

第1章

Pada tahun kelima pertunanganku dengan Gavin, ketika kami sudah berencana untuk menikah, cinta pertamanya kembali. Semua janjinya padaku tidak lagi berlaku. Demi cinta pertamanya, dia merasa muak pada setiap tindakanku. Aku sadar bahwa aku tidak berarti apa-apa di hadapan cinta pertamanya. Aku yang merasa lelah pun memutuskan untuk menyerah dan merestui mereka. Aku juga sepenuhnya menghilang dari kehidupan Gavin. Namun, dia menyesali perbuatannya dan mencariku sambil menangis .... Bab 1 "Nenek, keputusanku sudah bulat. Aku mau akhiri pertunanganku dengan Gavin. Aku akan tinggalkan Kota Beika setelah merayakan ulang tahunmu." Setelah mendengar ucapan Nayla Sonata, Anita pun menghela napas. "Nenek tahu Gavin sangat keterlaluan belakangan ini dan kamu sudah disakiti. Nenek hargai semua usahamu selama bertahun-tahun. Nenek rasa, Gavin juga bukannya sama sekali nggak peduli padamu. Dia cuma masih belum nyadar." "Mungkin kalau kamu tunggu sedikit lebih lama lagi, dia akan berpaling padamu? Kamu benar-benar mau akhiri pertunangan ini? Masih ada sepuluh hari sebelum ulang tahunku. Kamu nggak mau pertimbangkan ulang?" tanya Anita. Nayla menggeleng dan menjawab dengan tegas, "Perjanjian lima tahun kita akan segera berakhir." Ketika berusia tujuh tahun, ibunya Nayla menikahi keturunan Keluarga Hartono yang kaya dan membawanya bersama. Anggota Keluarga Hartono memukul dan menindasnya, tetapi ibunya hanya menyuruhnya untuk bersikap bijak dan pengertian. Pada ulang tahun Nayla yang ketujuh, dia dipaksa makan banyak makanan laut yang membuatnya alergi serius. Jika Anita tidak membawanya ke rumah sakit, dia mungkin telah meninggal. Setelahnya, Anita juga bersuara mengenai hal ini di depan umum sehingga kehidupan Nayla di Keluarga Hartono tidak begitu menyedihkan lagi. Nayla selalu merasa berterima kasih. Jadi, ketika Anita mengusulkan agar dia bertunangan dengan cucunya, Gavin Winowa, lalu merawat, menemani, dan menarik Gavin keluar dari keterpurukan dengan status sebagai tunangan Gavin, dia langsung setuju. Sebab, ini adalah sesuatu yang Nayla impikan. Dia mencintai Gavin. Sayangnya, dia baru menyadari sekarang bahwa perasaan tidak bisa dipaksakan. Dia sudah terlalu lelah dan ingin menyerah. Pada tahun kedua kuliah, Elina Pandora, pacarnya Gavin itu tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Bahkan informasi identitasnya juga dihapus. Gavin yang tidak bisa menerima hal ini pun menggunakan segala cara dan kekuatan untuk menemukannya. Akan tetapi, Elina menghilang begitu saja. Gavin tidak dapat menemukannya di mana pun. Dalam keterpurukannya, dia pun berangsur-angsur mengalami penyakit mental. Keluarga Winowa tentu saja tidak tega melihat putra tunggal mereka menjadi orang gila. Jadi, Anita pergi menemui Nayla. "Bantulah Nenek selamatkan Gavin. Jadilah tunangan Gavin, lalu tarik dia keluar dari keterpurukan ini. Nenek nggak akan minta kamu korbankan seluruh hidupmu, cuma lima tahun. Setelah lima tahun, nggak peduli gimana pun situasi Gavin, kalau kamu mau akhiri pertunangan ini, Nenek akan mendukungmu tanpa syarat. Anggap saja itu sebagai balasan atas budi Nenek terhadapmu selama ini, oke?" Nayla langsung setuju tanpa ragu. Sebab, dia mencintai Gavin, putra tunggal Keluarga Winowa. Saat pertama kali Nayla tiba di rumah Keluarga Hartono, Jowel memaksanya untuk berlutut dan berebut makanan dengan anjing. Gavin yang menghentikan Jowel dan membelanya. Di sekolah, orang-orang mengejek Nayla adalah anak haram. Gavin juga yang menegur orang-orang itu, lalu memberi tahu semua orang bahwa Nayla ada di bawah perlindungannya. Bahkan ketika ibu kandung Nayla melupakan ulang tahunnya, Gavin tetap ingat dan menyiapkan kue ulang tahun serta hadiah untuknya. Bagi Nayla, jatuh cinta pada Gavin sama alaminya dengan bernapas. Sejak Gavin menyelamatkannya dari kandang anjing, Gavin telah menjadi satu-satunya cahaya dalam hidupnya. Setelah bertunangan dengan Gavin, Nayla memperlakukannya bagaikan harta yang paling berharga. Dia merawat Gavin dengan baik dan menemaninya setiap hari. Intinya, dia menyayangi Gavin dengan sepenuh hati dan khawatir terjadi apa-apa terhadapnya. Apa pun yang ingin Gavin lakukan, Nayla akan selalu mendukungnya tanpa syarat. Hal yang paling dikuasai Nayla sebenarnya adalah menulis kode. Namun, demi memberi Gavin kehidupan terbaik, dia mengikuti keinginan Keluarga Winowa dan bekerja keras untuk belajar bisnis supaya bisa mengelola perusahaan. Meskipun semua orang menganggap Nayla hanyalah beban dan wanita licik yang akan melakukan apa saja demi uang Keluarga Winowa, Nayla sama sekali tidak peduli. Pada tahun kedua pertunangan, situasi Gavin membaik di bawah perawatan Nayla. Gavin pun mencari seorang influenser kecil yang mirip Elina dan membawanya ke mana-mana. Gavin juga merawatnya dengan baik. Gavin meminta ayahnya, Raditya untuk menghabiskan uang dan sumber daya bagi influenser itu, tetapi malah ditolak. Dia pun langsung pergi menemui Nayla. Nayla melakukan segala sesuatu sesuai keinginan Gavin. Pada saat itu, semua orang di kota ini menertawakan Nayla karena sudah diselingkuhi. Namun, Nayla tidak peduli dengan semua itu. Dia percaya bahwa suatu hari nanti, Gavin akan melihat ketulusannya dan tersentuh karenanya. Gavin akhirnya memutuskan hubungan dengan influenser itu. Dia berjanji pada Nayla bahwa dia telah menyadari perasaannya dengan jelas dan akan memilih orang di depannya mulai sekarang. Saat itu, Nayla sangat gembira. Dia mengira bahwa ketulusan dapat meluluhkan hati yang paling tertutup sekalipun. Dia juga merasa bahwa dirinya adalah orang yang paling bahagia di dunia. Sampai Elina yang menghilang tiba-tiba kembali. Sejak hari itu, Gavin pun berubah. Dia menemani Elina mengelilingi Kota Beika dari pagi hingga larut malam. Dia juga menemani Elina pergi bertamasya tanpa mengatakan apa-apa. Jika Nayla tidak menelepon, Gavin tidak akan ingat untuk membalas pesannya selama sepuluh hari atau bahkan setengah bulan. Setelah Nayla menelepon, satu-satunya tanggapan yang didapatkannya juga hanyalah ketidaksabaran dan omelan Gavin. Nayla perlahan-lahan menyadari bahwa usahanya selama bertahun-tahun hanyalah lelucon. Tidak peduli seberapa lama dia menemani Gavin, dirinya tetap tidak dapat dibandingkan dengan Elina. Berhubung begitu, dia memilih untuk mundur dan merestui mereka. Bab 2 Setelah berpamitan dengan Anita, Nayla pulang ke rumah. Begitu memasuki pintu, dia mendengar suara orang bermesraan yang samar dari ruang tamu. Tubuh Nayla langsung menegang. Namun, dia tidak dapat menahan diri dan melangkah masuk. Alhasil, dia melihat dua orang yang sedang berpelukan dan berciuman di sofa. Salah satunya adalah tunangannya, Gavin. Nayla berdiri memaku di tempat. Hatinya terasa sangat sakit. Elina tersenyum dan bertanya, "Bermesraan di rumahmu memang terasa mendebarkan. Tapi, memangnya kamu nggak takut tunanganmu marah?" Gavin memeluknya dan menjawab dengan malas, "Ini masih bukan apa-apa. Kamu nggak tahu betapa dia mencintaiku. Meski kita melakukan sesuatu yang lebih intim, dia juga nggak akan marah." Nayla merasa seolah-olah ada angin dingin yang bertiup melalui lubang besar yang menganga di hatinya. Dia pun menertawakan dirinya sendiri. Apa karena dirinya mencintai Gavin, Gavin dapat menyakitinya tanpa ampun? Nayla bukannya tidak bisa marah, melainkan tidak tega untuk marah pada Gavin. Namun, dia juga adalah manusia yang tetap bisa merasa sakit saat terluka. Nayla menenangkan diri, lalu melangkah masuk dengan langkah yang berat. Kedua orang di sofa itu melihatnya dan masih berpelukan. Gavin memerintahnya seperti biasa, "Elina sudah minum alkohol. Masakkan semangkuk sup pereda mabuk untuknya." Nayla menyahut dengan sabar, "Kita sudah tunangan. Kalau kamu bersama wanita lain seperti ini, itu akan berdampak buruk pada perusahaan. Aku juga nggak bisa menjelaskannya kepada Nenek dan yang lain." Gavin tiba-tiba marah. "Jangan pakai nama Nenek, Ayah, dan Ibu untuk menggertakku! Kalau bukan karena tekanan dari mereka, aku nggak mungkin bertunangan denganmu! Aku akan selalu menunggu Elina kembali!" Nayla merasa hatinya seperti sudah diremas sesuatu hingga dia harus mengangkat tangan untuk menutupi dadanya yang sakit. Gavin berkata dengan tidak sabar, "Kamu sangat sehat, jangan berpura-pura lagi. Pergi masakkan semangkuk sup pereda mabuk! Jangan buat aku ulangi kata-kata yang sama untuk yang ketiga kalinya." Nayla tersenyum ironis dalam hati. Tanpa mengatakan apa-apa, dia berbalik dan pergi ke dapur. Setelah Elina menghilang dan Gavin tidak dapat menemukannya, Gavin pun mulai mabuk-mabukan. Jadi, Nayla secara khusus meminta seorang koki untuk mengajarinya cara membuat sup pereda mabuk yang menyehatkan perut. Setelah memasaknya, dia akan menyuapi Gavin. Seberapa lama Gavin tenggelam dalam mabuk-mabukan, selama itu pula Nayla memasakkan sup pereda mabuk untuknya. Keterampilannya memasak sup itu bahkan lebih baik daripada koki profesional. Setelah berpisah dengan influenser itu, Gavin berjanji pada Nayla bahwa dia tidak akan pernah membiarkan Nayla memasak sup pereda mabuk lagi. Sekarang, Gavin malah memintanya memasak sup pereda mabuk untuk Elina. Untungnya, semuanya akan berakhir dalam beberapa hari. Nayla berpura-pura tidak mendengar suara di ruang tamu. Dia dengan cepat memasak sup, lalu menaruhnya di mangkuk dan hendak mengeluarkannya. Tiba-tiba, terdengar suara Elina dari belakang berkata, "Kamu nggak benar-benar kira aku akan minum apa yang kamu masak, 'kan?" Nayla berbalik dan melihat Elina yang memasang ekspresi provokatif. Sebelum dia sempat mengatakan apa pun, Elina melangkah maju, meraih sup pereda mabuk itu, dan menuangkannya ke tubuhnya sendiri. Kemudian, dia membuang mangkuknya ke lantai hingga pecah berteriak kesakitan. Pada detik berikutnya, Gavin bergegas masuk dan bertanya, "Ada apa?" Dia melihat sup yang membasahi tubuh Elina dan mangkuk di lantai, lalu memaki tanpa berpikir panjang, "Kalau kamu nggak mau masak, ya sudah. Kenapa kamu malah memasaknya dan menyiram Elina? Nayla, aku nggak nyangka ternyata kamu itu wanita yang begitu kejam!" Setelahnya, Gavin memapah Elina keluar untuk berganti pakaian tanpa menoleh ke belakang. Elina berujar, "Gavin, dia itu tunanganmu. Wajar saja dia nggak senang sama aku. Jangan marah." Gavin malah makin marah. "Waktu kami tunangan, dia tahu aku mencintaimu. Apa haknya untuk nggak senang sama kamu?" Nayla menatap keadaan dapur yang berantakan dengan tatapan kosong sambil mendengar kedua orang itu naik ke lantai atas. Namun, dalam hatinya, dia merasa bahwa Anita salah. Gavin tidak pernah peduli padanya. Pada hari pertama Elina kembali, Nayla seharusnya langsung tahu diri dan menyerahkan posisinya kepada Elina, bukannya lanjut berada di sisi Gavin dan membuatnya benci. Untungnya, masih belum terlambat bagi Nayla untuk mengambil keputusan lain saat ini. Setelah merayakan ulang tahun Anita, Nayla akan meninggalkan Kota Beika sepenuhnya dan tidak akan pernah kembali lagi. Bab 3 Nayla membersihkan dapur, lalu naik ke lantai atas dan bersiap kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Ketika membuka pintu kamar, dia malah melihat Elina berbaring di tempat tidurnya dengan mengenakan piama. Sementara itu, Gavin duduk di sampingnya dan membantunya mengoleskan obat. Melihat Nayla masuk, Gavin memberi perintah, "Kamu tidur saja di ruang tamu." Nayla menjawab dengan getir, "Ini kamarku." Gavin berkata dengan dingin, "Elina harus tinggal di kamar terbaik. Kamu yang siram dia dengan sup mendidih. Menyerahkan kamar ini adalah bentuk permintaan maaf." Gavin telah memvonisnya. Nayla pun tersenyum getir dan bertanya, "Jadi, dia yang pakai bajuku juga adalah bentuk permintaan maaf?" Gavin menjawab dengan sangat tidak sabar, "Kan aku yang beli piama ini! Ini cuma sebuah baju, kenapa kamu harus permasalahkan hal sepele ini? Kamu sengaja mau usir Elina dari rumah ini, 'kan?" Gavin lanjut mencibir, "Kalau begitu, aku justru akan biarkan dia tinggal di sini, juga tinggal di sini setiap hari!" Elina menarik tangan Gavin. "Jangan begini." Gavin menyahut dengan lembut, "Jangan khawatir, dia memang sudah seharusnya diberi pelajaran sejak lama." Nayla melihat Gavin membungkuk dan mendekati Elina yang duduk di tempat tidur. Pemandangan ini sangat menusuk hatinya. Namun, dia sudah sangat lelah saat ini hingga tidak ingin mengatakan sepatah kata pun lagi. "Nayla, kamu dengar apa yang kubilang?" Nayla mengangguk dengan kaku. "Oke." Gavin sepertinya tidak menduga reaksi ini dan bertanya, "Apa kamu bilang?" Nayla berujar dengan acuh tak acuh, "Aku akan ambil beberapa pakaian ganti." Kemudian, dia berjalan ke ruang ganti. Gavin juga berjalan masuk dan berkata dengan nada agak canggung, "Elina itu tamu. Kamu yang salah karena sudah menyiraminya dengan sup pereda mabuk." Nayla tidak menanggapi ucapan itu dan hanya mengiakannya. Namun, Gavin malah marah dan berseru, "Mau ngambek? Aku paling benci lihat tampangmu yang kayak orang bosan hidup dan minta dihibur!" Kemudian, Gavin berbalik dan berjalan keluar. Dia duduk di kepala tempat tidur dan mengobrol bersama Elina dengan suara kuat. "Besok kita mau main ke mana? Gimana kalau kita kunjungi kampus? Sudah lima tahun, entah kucing yang kita pelihara itu masih ada di sana atau nggak." Seusai mengemasi pakaiannya dan berjalan keluar, Nayla tiba-tiba melihat dua anting safir di lemari kaca. Itu adalah hadiah ulang tahun yang dibeli Gavin untuknya setelah mengusir influenser itu. Gavin dengan sungguh-sungguh berjanji bahwa dirinya tidak akan pernah membuat Nayla sedih lagi. Jika dia lupa, Nayla boleh mengeluarkan kedua anting itu dan dia pasti akan berubah. Namun, janji itu sudah berulang kali diingkarinya sejak Elina kembali. Meskipun mengeluarkan anting itu sekarang, dia hanya akan mempermalukan dirinya sendiri, 'kan? Nayla mengeluarkan kedua anting itu dari lemari kaca, lalu menggenggamnya. Ketika melewati kamar tidur, dia melihat Elina mendekatkan diri ke telinga Gavin dan meletakkan satu tangan di bahunya. Mereka terlihat seperti sedang berciuman dengan penuh gairah. Nayla mengabaikan rasa sakit hati yang tidak seharusnya dirasakannya sambil berjalan keluar dengan tenang. Dia membuang anting itu ke tempat sampah dan berbalik untuk pergi ke kamar tamu. Bab 4 Keesokan paginya, Nayla bangun pagi-pagi dan bersiap-siap untuk pergi ke perusahaan. Ketika melewati kamar tamu di sebelahnya, pintunya tidak tertutup rapat dan dia mendengar Gavin bergumam dengan linglung, "Nayla ...." Nayla pun mendorong buka pintu kamar secara refleks. Dia melihat Gavin berbaring di tempat tidur kamar tamu sambil menggumamkan namanya. Selama mencari Elina, Gavin sangat menderita. Kesehatannya mulai memburuk sejak saat itu dan dia rentan sakit. Nayla melangkah maju dan menyentuh dahinya. Sesuai dugaan, Gavin benar-benar demam. Nayla pun mengerutkan kening dan hendak pergi mengambil obat. Namun, tepat pada saat dia menarik kembali tangannya, Gavin terbangun dan bertanya, "Nayla, apa yang mau kamu lakukan?" Tatapan waspada dan penuh curiga Gavin terasa bagaikan pisau tajam yang menusuk hati Nayla. Pada saat ini, dia sebenarnya agak membenci dirinya sendiri. Kenapa hatinya masih bisa berdebar ketika mendengar Gavin memanggil namanya? Nayla sudah memberikan hatinya kepada orang lain. Meskipun hatinya dihancurkan, itu juga salahnya sendiri. Dia memejamkan mata, lalu berkata dengan tenang, "Kamu demam. Ingat minum obat." Kemudian, Nayla berbalik dan berjalan keluar dari kamar tamu. Dia meninggalkan rumah secepat mungkin dan pergi ke perusahaan. Dalam perjalanan, Nayla malah menerima telepon dari Gavin yang mengeluh, "Nayla, ke mana kamu? Aku bahkan nggak tahu di mana obat disimpan dalam rumah. Kamu malah tega meninggalkanku dan keluar rumah?" Nayla menjawab dengan acuh tak acuh, "Obatnya ada di kotak medis di ruang penyimpanan lantai satu. Aku masih ada urusan di perusahaan. Lagian, kamu seharusnya lebih senang dirawat Elina daripada aku." Gavin mencibir, "Kamu mau mengancamku dengan ini? Meski nggak ada Elina, pembantu di rumah juga bisa layani aku lebih baik daripada kamu!" Nayla menyahut dengan tenang, "Kamu benar." Kemudian, Nayla langsung memutuskan sambungan telepon. Dia sibuk di perusahaan sepanjang hari. Ketika keluar dari ruang rapat, dia menyadari sekretarisnya ingin mengatakan sesuatu, tetapi merasa ragu. "Ada apa?" Sekretaris itu terlihat serbasalah dan menjawab, "Bu Nayla, waktu kamu lagi rapat, Pak Gavin bawa Bu Elina pergi ke acara lelang, juga beli permata yang dinamai Ketulusan Hati dengan harga selangit. Pak Gavin langsung memberikannya kepada Bu Elina." "Masalah ini sudah timbulkan kehebohan di internet. Ini akan berdampak buruk bagimu dan perusahaan. Kamu pernah berpesan padaku bahwa semua masalah yang berkaitan dengan Pak Gavin harus diserahkan kepadamu ...." Nayla jelas-jelas sudah menyerah tentang Gavin, tetapi hatinya masih terasa sakit. Dia terdiam sejenak dan berujar, "Kalau ada situasi serupa ke depannya, biarkan saja departemen pemasaran yang menanganinya." Sekretaris itu terkejut sejenak, lalu merasa agak bersimpati pada Nayla. Setelah mengiakannya, dia pun segera menginformasikan hal ini kepada rekannya di departemen pemasaran. Nayla akan pergi setengah bulan lagi. Sebelum pergi, dia ingin menangani semua urusan perusahaan dengan baik. Anita telah membantunya. Apa pun yang terjadi, dia harus mengelola Grup Winowa dengan baik. Nayla bekerja lembur hingga larut malam. Saat pulang, dia malah bertemu dengan Kayla Hartono. Begitu melihat Nayla, Kayla tertawa terbahak-bahak: "Parasit, sudah lihat berita? Hari ini, Gavin kasih Elina sebuah permata yang melambangkan cinta sejati. Kamu akan segera dicampakkannya! Gimana rasanya jadi bucin yang akhirnya nggak dapatkan apa-apa?" Nayla tidak mengerti. Sejak dia mengikuti ibunya ke rumah Keluarga Hartono, ibunya berusaha sekuat tenaga untuk menutupi keberadaannya, mengaturnya untuk tinggal di sekolah, dan tidak pernah menyebutnya di depan anggota Keluarga Hartono. Nayla bukanlah siapa-siapa di Keluarga Hartono. Dia juga tidak akan menjadi ancaman bagi Kayla dan Jowel. Lagi pula, dia tidak pernah bermimpi untuk mendapatkan apa pun dari Keluarga Hartono. Namun, kenapa mereka selalu memusuhinya? Sejak menginjakkan kaki di rumah Keluarga Hartono, Nayla tidak berhenti menjadi target yang dipersulit dan ditindas mereka. Sekarang, kebencian mereka terhadapnya bahkan tidak disembunyikan lagi. Dulu, Nayla pernah melawan. Alhasil, ibunya malah menamparnya dan memasang ekspresi kecewa sambil berujar, "Kamu nggak tahu betapa sulitnya hidup Ibu dengan membawamu kemari? Kenapa kamu malah memukul Jowel dan Kayla?" Oleh karena itu, Nayla menyadari bahwa dirinya bahkan tidak memiliki hak untuk melawan ketika tinggal di bawah atap rumah orang lain. Dia telah bersabar selama lebih dari sepuluh tahun. Sekarang, dia akan segera pergi. Dia pun tiba-tiba tidak ingin bersabar lagi. Nayla berkata dengan dingin, "Kamu sudah berhasil dapatkan putra Keluarga Jorani?" Mata Kayla pun menajam. "Mau mati kamu!" Ketika tamparan Kayla hampir mendarat di wajahnya, Nayla menghindar ke samping. Kemudian, dia mengangkat tangan untuk mencengkeram pergelangan tangan Kayla dengan kuat dan menamparnya balik. Kayla sangat marah. "Dasar wanita jalang! Beraninya kamu memukulku!" Kayla menggerakkan tangan dan kakinya untuk memukul Nayla. Namun, dia hanyalah seorang anak orang kaya manja yang tahu bersenang-senang setiap hari. Sementara itu, Nayla sangat disiplin sejak kecil dan tidak pernah lupa berolahraga meskipun sangat sibuk setelah bekerja di perusahaan. Kali ini, Nayla sudah serius. Kayla pun dipukuli habis-habisan hingga tidak mampu untuk melawan. Dia hanya bisa memeluk kepalanya dan merintih kesakitan. Ketika Nayla ingin memukul Kayla lagi, lampu mobil tiba-tiba bersinar di belakangnya. Gavin dan Elina sudah kembali. "Ada apa ini?" Kayla berdiri dan menunjukkan wajahnya yang memerah dan bengkak kepada Gavin. "Aku pulang terlambat hari ini dan nggak sengaja ketemu sama Nayla. Baru saja aku bilang Elina sudah pulang, dia tiba-tiba marah dan memukulku!" Baru saja Nayla hendak membela diri, pipinya sudah terasa sakit. Tangan Gavin masih terangkat. Dia menatap Nayla dengan kecewa. "Nayla, kamu tahu aku paling benci sama wanita histeris." Bab 5 Nayla menunduk. Anehnya, dia tidak merasa sedih. Dia hanya teringat saat kecil, ketika Kayla memfitnahnya dan ibunya memukulnya, Gavin bergegas mengadang di depannya dan berseru, "Nayla nggak mungkin memukul orang! Dia sangat patuh!" Saat itu, Gavin percaya padanya tanpa syarat. Sekarang ... Gavin tidak lagi percaya padanya sedikit pun. Entah kenapa, Gavin merasa gugup untuk sejenak. Namun, dia menepis emosi aneh itu dan menatap Nayla sambil memberi perintah maaf, "Minta maaf." Nayla tidak melakukan perlawanan yang sia-sia. Dia menoleh ke arah Kayla dan berkata, "Maaf, aku nggak seharusnya memukulmu." Kayla memunggungi Gavin sambil tersenyum mengejek, tetapi malah berujar, "Kalau kamu biarkan aku memukulmu dua kali, aku akan lupakan masalah ini." Kayla dan Gavin sama-sama mengira Nayla tidak akan setuju. Tak disangka, Nayla malah menunduk dan menyetujuinya dengan santai, "Oke." Gavin merasa makin gelisah. Dia membenci perasaan tidak dapat mengendalikan sesuatu. Dia berbalik dan menarik Elina sambil mendesak, "Di luar dingin sekali. Ayo masuk!" Gavin dan Elina berjalan bergandengan tangan memasuki vila. Sementara itu, Kayla melangkah maju dan meninju perut Nayla sebanyak lima kali. Nayla mengerang kesakitan dan wajahnya memucat. Kemudian, dia bertanya pelan, "Sudah puas?" Kayla tertawa. "Baiklah! Berhubung kamu begitu kasihan, aku akan ampuni kamu! Elina sudah dapatkan kembali posisi di samping Gavin. Aku sangat menantikan kapan kamu akan diusir. Ckck, mau bucin sampai segimana pun kamu, orang yang sudah nggak inginkan kamu bisa mengusirmu kapan saja. Kamu itu bukan siapa-siapa!" Setelah itu, Kayla pun pergi sambil tersenyum. Penyakit maag Nayla kambuh lagi setelah dipukuli. Dia merasa sangat kesakitan. Setelah masuk ke rumah dan minum obat, dia segera mandi dan beristirahat. Nayla terbangun di tengah malam karena kesakitan. Dia tiba-tiba duduk dan muntah darah. Kemudian, dia memaksakan diri untuk menelepon dokter dan bangkit untuk pergi ke rumah sakit. Saat keluar dari kamar tamu, Nayla melihat pintu kamar utama terbuka sedikit dan ada cahaya yang keluar dari celah pintu. Selanjutnya, terdengar suara-suara samar laki-laki dan perempuan yang sedang bermesraan. Sebenarnya, Nayla sudah mempersiapkan diri secara mental ketika Elina pindah ke rumah ini. Namun, saat benar-benar menyaksikannya secara langsung, dia tidak tahu apakah tubuh atau hatinya yang terasa lebih sakit. Untuk turun ke lantai dasar, Nayla harus melewati kamar utama. Dia menggigit bibirnya hingga berdarah dan berjalan secara perlahan. Suara serak Elina terdengar dari dalam pintu. "Sepertinya Nayla ada di depan pintu ...." Suara Gavin penuh dengan hasrat yang tak terkendali saat menyahut, "Dia memang gila! Nggak usah pedulikan dia! Elina, aku menginginkanmu ...." Nayla merasa hatinya sangat sakit hingga mati rasa. Dia segera melewati kamar utama, lalu berjalan turun ke lantai dasar dan menaiki mobil yang dikirim rumah sakit. Dia mengalami pendarahan lambung yang parah dan harus dirawat di rumah sakit. Dokter meminta Nayla untuk mencari seseorang yang bisa menemaninya. Dia pun mengeluarkan ponsel, tetapi tidak tahu harus menelepon siapa. Ketika Nayla setuju untuk bertunangan dengan Gavin, ibunya mengira dirinya mencoba memanfaatkan situasi untuk menentang Keluarga Hartono. Dia pun meminta Nayla untuk membatalkan pertunangannya, tetapi Nayla menolak. Sejak saat itu, ibunya pun bersikap seolah-olah dirinya tidak memiliki seorang putri. Gavin .... Dulu, Gavin pasti akan datang apabila Nayla menelepon. Kini, semuanya telah berubah. Nayla akhirnya menelepon asisten pribadinya dan memberinya upah lima kali lipat dari gajinya untuk datang merawatnya. Setelah obat bekerja, Nayla akhirnya tertidur. Namun, Nayla terbangun karena ponselnya yang tidak berhenti bergetar. Peneleponnya adalah Gavin. Nayla menekan tombol menjawab telepon. Awalnya, dia mendengar suara Elina yang agak samar berkata, "Gavin, bicaralah dengan baik. Jangan marah. Nayla bersikap seperti ini karena dia terlalu mencintaimu." Kemudian, suara Gavin yang familiar, tetapi juga asing terdengar jelas dari ujung telepon. "Nayla, kamu benar-benar gila? Kamu bukan cuma bangun di tengah malam untuk menguping, tapi juga siram darah sapi di kamar? Kamu mau nakut-nakuti siapa? Kalau kamu melakukannya lagi, pindah keluar sana!" Bab 6 Nayla menertawakan dirinya sendiri. Dia menjawab dengan nada luar biasa tenang, "Itu bukan darah sapi." Gavin terdiam sejenak, lalu mengumpat, "Kamu masih mau ngeles? Bi Nina sudah bilang itu darah sapi. Dia yang tiap hari masak, mana mungkin dia salah? Aku akan ganti kunci pintu rumah. Kamu nggak usah pulang lagi. Pergilah ke mana pun kamu mau." Nayla menghentikannya, "Tunggu." Gavin berkata, "Sudah terlambat bagimu untuk ngaku salah sekarang ...." Nayla menyela ucapan Gavin untuk yang pertama kalinya, "Aku akan pulang untuk pindahkan barang-barangku hari ini. Kamu nggak perlu ganti kunci rumah. Aku nggak akan kembali ke sana lagi." Gavin terdiam sejenak, lalu mencibir, "Aku cuma akan kasih kamu waktu sehari." Setelah itu, Gavin langsung memutuskan sambungan telepon. Asisten Nayla buru-buru berujar, "Bu Nayla, kamu lagi sakit parah dan nggak boleh keluar rumah sakit. Gimana kalau aku saja yang bantu kamu pindahkan barang-barangnya?" Nayla menggeleng. "Kamu nggak tahu barang apa saja yang masih kuinginkan." Tepatnya, barang apa yang harus Nayla singkirkan. Dia mencabut infus dan pulang untuk memilah semua barangnya, lalu membakar apa yang bisa dibakar. Untuk barang-barang yang tidak bisa dibakar, seperti jepit rambut yang diberikan Gavin saat ulang tahunnya, liontin yang diberikan Gavin pada hari peringatan pertunangan mereka, juga gelang dan barang mewah lain yang diberikan Gavin kepadanya di berbagai hari peringatan selama bertahun-tahun, Nayla membungkus semuanya. Yang terakhir adalah hadiah Nayla untuk Gavin. Gavin sangat pelupa. Jadi setelah mereka tinggal bersama, Gavin menyuruh Nayla untuk menyimpan barang-barangnya yang penting. Nayla juga mengemas album foto yang telah susah payah dibuatnya untuk Gavin, jam tangan yang dibelinya dengan menabung selama beberapa tahun, dan cangkir keramik yang dibuatnya untuk Gavin .... Setelah memastikan semuanya sudah disingkirkan dan tidak ada jejaknya yang tertinggal di rumah di mana dia tinggal selama lima tahun ini, Nayla pun meninggalkan rumah itu dengan membawa barang-barang yang sudah dikemas. Barang-barang yang dulunya menyimpan kenangan paling penting baginya itu diberikannya kepada gelandangan di pinggir jalan. Ketika bersiap untuk kembali ke rumah sakit, Nayla menerima sebuah telepon. "Bu Nayla, cincin pasangan yang kamu pesan di toko kami sudah siap. Apa kamu punya waktu untuk datang melihatnya? Atau sebaiknya kami antar ke rumah?" Awalnya, Nayla dan Gavin telah sepakat untuk menikah tahun ini. Dia pun segera berkomunikasi dengan desainer untuk menentukan desain cincin pasangan, lalu menyuruh sebuah perusahaan asing untuk membuatnya. Namun, sebelum cincin pasangan itu siap, Elina telah kembali. Nayla merasa bahwa itu hanyalah sepasang cincin yang tidak ada artinya sehingga tidak perlu merepotkan staf toko untuk mengantarnya. Dia mengemudikan mobilnya menuju toko untuk mengambil cincin itu, lalu baru pergi ke rumah sakit dalam kegelapan malam. Tiba-tiba, kembang api yang indah meledak di langit. Hal ini menarik perhatian banyak pejalan kaki untuk berhenti berjalan dan menonton. Wajah Gavin muncul di layar besar sebuah mal yang dilewati Nayla. Dia memegang kotak cincin beludru merah dan berkata dengan penuh kasih sayang, "Elina, Tuhan mempermainkan kita dan membuat kita terpisah begitu lama sebelum akhirnya dipertemukan kembali. Malam ini, aku menyalakan kembang api untukmu di seluruh kota. Apa kamu bersedia terima cincin ini dan memberiku kesempatan?" "Aku tahu kamu ingin dapatkan hak paten Perusahaan NG. Aku pasti akan mendapatkannya untukmu. Setelah aku mendapatkannya, bisa nggak kamu setujui sebuah permintaanku?" Orang-orang yang lewat langsung berseru heboh ketika menyaksikan pemandangan romantis ini. Perusahaan NG? Itu adalah perusahaan yang Nayla dirikan dua tahun lalu. Jika itu dulu, apa pun yang Gavin inginkan, dia pasti akan memberikan semuanya kepada Gavin selama dia memilikinya. Namun, sekarang .... Nayla menertawakan dirinya sendiri. Ketika mobil melewati jembatan penyeberangan sungai, Nayla melempar cincin pasangan yang telah dibuatnya dengan susah payah dan menghabiskan banyak uang itu ke sungai yang mengalir deras. Dia akan meninggalkan Kota Beika dan menghilang dari kehidupan Gavin. Bab 7 Ketika Nayla kembali ke rumah sakit, Anita menelepon dan berkata, "Nayla, Gavin sudah keterlaluan kali ini! Aku baru saja menelepon dan memarahinya habis-habisan! Kamu jangan memasukkannya ke hati, ya." Nayla tetap tenang dan bahkan bisa menghiburnya, "Nggak apa-apa, Nek. Kita semua tahu dia mencintai Elina." Anita menghela napas. "Dia memang bodoh. Berhubung dia nggak mau dengar nasihatku, kelak dia pasti akan nyesal." Nayla tidak menjawab. Anita bertanya lagi, "Ulang tahunku akan tiba beberapa hari lagi, kamu akan datang, 'kan?" Nayla menjawab, "Tentu saja. Kita sudah sepakat aku akan pergi setelah merayakan ulang tahun Nenek." Anita tak kuasa menahan diri untuk tidak berujar, "Ulang tahun Gavin itu sehari setelah ulang tahunku. Dulu, kamu selalu menemaninya setiap tahun di hari ulang tahunnya ...." Nayla menyahut dengan tenang, "Sekarang, dia lebih menginginkan orang lain menemaninya merayakan ulang tahunnya. Meski aku bersedia, dia juga nggak akan menyambutku. Nenek, aku dan dia sudah membuat keputusan. Sebaiknya kita lupakan saja." Anita sepertinya menyadari bahwa Nayla tidak pernah menyebut nama Gavin lagi. Dia pun tidak lanjut membujuk Nayla, melainkan memilih untuk memutuskan sambungan telepon. Sebelum sambungan telepon terputus, Nayla mendengar Anita bergumam bahwa Gavin akan menyesali perbuatannya kelak. Nayla tidak tahu apakah Gavin akan menyesal atau tidak. Akan tetapi, dia tidak akan menyesal. Setelah keluar dari rumah sakit, Nayla lanjut mengurus pekerjaan yang perlu ditanganinya sebelum pergi. Beberapa hari berlalu dengan cepat. Sehari sebelum ulang tahun Anita, dia telah menyelesaikan semua serah terima pekerjaan Grup Winowa. Keesokan harinya, Nayla pergi ke pesta ulang tahun Anita sendirian. Sementara itu, Gavin dan Elina hadir bersama. Kebanyakan orang yang menghadiri pesta adalah kerabat dan teman dekat Keluarga Winowa. Hanya ada beberapa yang merupakan mitra bisnis. Mereka semua tahu tentang pertunangan Nayla dan Gavin. Melihat Gavin membawa datang seorang wanita secara terang-terangan untuk menemui orang tuanya di hadapan Nayla, orang-orang pun menatap ketiga orang itu dengan aneh. Nayla tahu bahwa dirinya akan segera meninggalkan Kota Beika setelah menghadiri pesta ulang tahun ini. Jadi, dia membiarkan orang-orang menatapnya tanpa menunjukkan emosi apa pun. Di sisi lain, Gavin malah tidak tahan dengan tatapan-tatapan aneh itu. Dia bergegas menghampiri dan menyambar mikrofon pembawa acara. "Aku mau membatalkan pertunanganku dengan Nayla!" Senyum di wajah Anita seketika sirna. Ekspresi Raditya juga menjadi muram. Gavin mengepalkan tangannya dan lanjut berujar, "Aku sudah susah payah temukan Elina lagi! Nggak ada yang bisa pisahkan kami! Kalau nggak, aku akan mati!" Semua orang di ruangan pun terkesiap. Raditya memaki dengan tampang masam, "Jangan buat onar! Ini hari ulang tahun nenekmu yang ke-70. Memangnya kamu nggak peduli sama perasaan nenekmu dengan mengucapkan hal seperti ini di pesta ulang tahunnya?" Gavin merasa dirugikan dan berkata, "Tapi Nenek, aku ini satu-satunya cucumu. Memangnya kamu nggak berharap aku hidup bahagia? Bukankah bagus kalau kamu batalkan pertunangan yang nggak seharusnya ada ini untuk penuhi keinginanku di pesta ulang tahunmu?" Anita menatap Nayla dan bertanya, "Nayla, gimana pendapatmu?" Nayla menjawab dengan suara lembut dan tenang, "Biar dia saja yang memutuskannya." Semua orang di ruangan pun heboh. Perasaan Gavin terasa campur aduk untuk sejenak. Kemudian, dia berkata dengan gembira, "Nenek, lihat saja. Dia juga setuju!" Anita menghentikan Raditya yang hampir kehilangan kesabarannya, lalu menyahut sambil tersenyum tipis, "Baiklah, aku akan penuhi keinginanmu. Mulai hari ini, pertunanganmu dengan Nayla sudah berakhir." Reaksi pertama Gavin adalah menatap Nayla. Nayla hanya tersenyum tenang ke arahnya. Ini termasuk restu yang diberikannya kepada Gavin untuk menjalani sisa hidupnya. Namun, Gavin malah tiba-tiba merasa marah. Dia memelototi Nayla, lalu berbalik dan berbicara kepada Elina sambil tersenyum. Selanjutnya, Nayla memberikan hadiah dan memakan kue ulang tahun sesuai prosesi pesta. Setelah itu, dia pun meninggalkan lokasi pesta dan menaiki mobil menuju bandara. Dalam perjalanan, ponsel Nayla bergetar. Nayla pun menunduk dan melihat bahwa itu adalah pesan dari Gavin. [ Untung kamu tahu diri! Aku nggak akan permasalahkan lagi masalah yang kamu timbulkan belakangan ini. ] [ Kamu boleh hadiri pesta ulang tahunku besok. Hadiah apa yang kamu persiapkan untukku tahun ini? ] [ Nayla, apa lagi maumu? Mentang-mentang aku sudah maafkan kamu, kamu mau jual mahal? ] [ Cepat balas pesanku! ] Nayla terdiam sejenak. Dia tidak membalas pesan itu, melainkan memblokir semua informasi kontak Gavin. Dia melewati pemeriksaan tanpa menoleh, lalu menaiki pesawat dan terbang ke tempat yang jauh.