Đang tải thông tin quảng bá...
Jatuh Bangun sang Pengacara Cantik
Setelah menjalin hubungan selama delapan tahun, Adeline yang dulunya merupakan cinta pertama Kaivan berubah menjadi seseorang yang tak sabar ingin dia singkirkan. Sementara itu, Adeline yang telah ber...
Chương (1)
第1章
Setelah menjalin hubungan selama delapan tahun, Adeline yang dulunya merupakan cinta pertama Kaivan berubah menjadi seseorang yang tak sabar ingin dia singkirkan. Sementara itu, Adeline yang telah berusaha keras selama tiga tahun hingga rasa cinta terakhirnya terkikis habis pun akhirnya menyerah dan berpaling.
Di hari perpisahan, Kaivan mencibir, "Adeline, kutunggu kamu mohon untuk kembali bersamaku."
Namun, setelah penantian yang begitu lama, yang didapatkan Kaivan malah adalah kabar pernikahan Adeline. Dia pun murka dan menelepon Adeline. "Kamu masih mau ngambek sampai kapan?"
Suara berat seorang pria terdengar dari ujung telepon. "Pak Kaivan, tunanganku lagi mandi dan nggak bisa jawab teleponmu."
Kaivan tersenyum sinis dan langsung menutup telepon. Dia mengira ini hanyalah trik Adeline untuk jual mahal.
Baru pada hari pernikahan Adeline, ketika dia melihat Adeline mengenakan gaun pengantin, memegang buket bunga, dan berjalan menuju pria lain di ujung altar, Kaivan baru menyadari bahwa Adeline benar-benar tidak menginginkannya lagi.
Dia bergegas menghampiri Adeline seperti orang gila dan berujar, "Adel, aku tahu aku salah. Jangan nikah sama orang lain, ya?"
Adeline mengangkat gaunnya dan berjalan melewati Kaivan. "Pak Kaivan, bukannya kamu bilang kamu dan Lesya barulah pasangan yang serasi? Buat apa kamu berlutut dan mohon padaku di hari pernikahanku?"
Bab 1
"Bu Adeline, kamu yakin mau batalkan tempat pernikahan yang kamu pesan sebelumnya?"
Ujung jari Adeline yang memegang ponsel sedikit mengerat, tetapi tidak terdengar emosi dalam suaranya saat menjawab, "Emm, yakin."
"Baiklah, aku mengerti. Kalau begitu, aku akan bantu kamu membatalkannya."
"Terima kasih."
Setelah mengakhiri telepon, Adeline melepas cincin pertunangan di jari manisnya dan meletakkannya di atas meja. Kemudian, dia bangkit dan berjalan pergi dengan menyeret kopernya.
...
Setengah bulan yang lalu.
Menjelang senja, Adeline Thomas baru menyelesaikan sebuah sidang. Hal pertama yang dilakukannya setelah meninggalkan pengadilan adalah menyalakan ponselnya.
Adeline masuk ke LINE, lalu melihat kotak obrolan yang disematkannya di paling atas. Dia telah mengirim puluhan pesan, tetapi pihak lain tidak membalas satu pun pesannya.
Sejak mereka bertengkar tentang model undangan pernikahan bulan lalu, Kaivan Liangga langsung pergi melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri keesokan harinya. Berapa banyak pun pesan yang Adeline kirim untuk meminta berbaikan selama sebulan ini, Kaivan mengabaikan semuanya.
Dalam hubungan ini, Adeline sudah sangat merendahkan diri. Akan tetapi, dia tetap tidak mampu membuat Kaivan berpaling.
Carissa Soranda, temannya Adeline itu sudah tidak tahan melihat keadaan ini dan menyindirnya. Adeline menangani banyak kasus perceraian setiap tahun dan bertemu begitu banyak pria berengsek, tetapi tetap saja jatuh cinta pada Kaivan tanpa bisa melihat jelas sifat aslinya.
Sebenarnya, Adeline bukannya tidak dapat melihat jelas, melainkan merasa tidak rela. Dia tidak rela dua orang yang pernah begitu saling mencintai malah berakhir menjadi pasangan yang terlihat harmonis di permukaan, tetapi sebenarnya sudah saling merasa jenuh.
Adeline juga sulit merelakan ... Kaivan. Setelah bersama selama delapan tahun, dia lupa seperti apa dirinya sebelum bersama dengan Kaivan, juga tidak tahu bagaimana dirinya bisa membiasakan diri hidup tanpa Kaivan.
Ketika sedang mengetik sesuatu dan hendak bertanya kapan Kaivan akan kembali, sebuah notifikasi tiba-tiba muncul di ponselnya. Kaivan telah memperbarui media sosialnya. Dia memosting foto pemandangan laut yang sederhana, tetapi Adeline langsung mengenali tempatnya. Itu adalah Maldiva, tempat yang sudah entah berapa kali dia katakan ingin dikunjunginya bersama Kaivan.
Gerakan jarinya pun terhenti. Tepat ketika dia hendak kembali ke kotak obrolan, tiba-tiba masuk pesan dari Carissa. Adeline pun mengkliknya secara refleks. Itu ternyata adalah tangkapan layar dari postingan Lesya Sandir di media Sosial.
Foto pemandangan laut itu sama dengan yang diposting Kaivan, tetapi ada tambahan satu baris teks.
[ Aku cuma ngeluh perjalanan bisnis kali ini terlalu melelahkan dan dia langsung mengajakku berlibur ke Maldiva! ]
Kaivan pasti tahu jelas apa arti Maldiva bagi Adeline. Meskipun Adeline sudah berulang kali menyebutnya, Kaivan selalu mengatakan bahwa dirinya sibuk. Namun, dia malah membawa wanita lain pergi ke tempat tersebut.
Adeline mengerjap dan air matanya tiba-tiba jatuh. Dia merasa seperti ada angin dingin yang memenuhi hatinya. Selanjutnya, datanglah telepon dari Carissa.
"Lesya benar-benar kegatelan! Dia tahu kamu dan Kaivan akan segera menikah, tapi dia malah sengaja posting foto yang sama dengan Kaivan untuk buat kamu sakit hati! Kaivan juga sama parahnya! Kenapa dia harus pergi ke Maldiva padahal masih ada tempat lain? Memangnya dia nggak tahu kamu selalu pengen pergi ke sana bersamanya? Sudah delapan tahun, meski pakai jalan kaki, kalian pasti juga sudah sampai!"
"Dia dan Lesya begitu terang-terangan, sedangkan kamu sudah diselingkuhi selama tiga tahun. Memangnya kamu masih mau menikahinya dan diselingkuhi seumur hidupmu?" tanya Carissa.
Adeline merasakan kegetiran dalam hatinya. Dia mengerti apa yang dikatakan Carissa, tetapi mereka telah bersama selama delapan tahun dan akan menikah kira-kira sebulan lagi. Dia tidak mau menyerah. Dia ingin mencoba sekali lagi. Jika hasilnya masih belum memuaskan, dia akan menerima nasibnya.
"Rissa, hari Sabtu ini, kita mau coba gaun pengantin dan gaun pengiring pengantin. Jangan lupa datang."
Suasana di ujung telepon tiba-tiba menjadi hening. Kemudian, Carissa mengumpat dan menutup telepon. Jika dia lanjut berbicara, dia takut akan dibuat mati kesal oleh Adeline.
Dalam beberapa tahun terakhir, semua orang bisa melihat hati Kaivan telah berubah, tetapi Adeline masih saja keras kepala dan tidak mau menyerah. Dia percaya bahwa Kaivan akan berpaling suatu hari nanti.
Masih ada yang belum diceritakan Carissa kepada Adeline. Sebenarnya, bukan hanya sekali dia tidak sengaja melihat Kaivan membawa wanita yang berbeda-beda ke hotel.
Kepribadian Kaivan sudah memburuk sejak lama dan hatinya tidak lagi dipenuhi dengan Adeline. Dia telah sepenuhnya berubah menjadi pria berengsek. Bajingan seperti itu seharusnya ditabrak mobil dan menjadi impoten seumur hidup!
Malam harinya, Adeline tidak bisa tidur nyenyak. Dia mimpi buruk beberapa kali berturut-turut dan baru tertidur menjelang fajar. Baru saja dia tidur sejenak, terdengar kunci sidik jari terbuka dari pintu.
Adeline membuka matanya dan langsung duduk. Kemudian, dia melihat Kaivan membuka pintu dan menyeret masuk kopernya. Wajahnya terlihat lelah dan muram, tetapi bekas lipstik di kerah baju dan goresan samar di dadanya tidak luput dari pengamatan Adeline.
Tangan Adeline yang memegang selimut tiba-tiba menegang. Dia merasa seperti ada es yang disematkan ke dalam hatinya. Rasa dingin itu membuatnya merasa kesakitan.
Melihat Adeline terbangun, Kaivan mengangkat alisnya. "Aku membangunkanmu?"
Saat berbicara, dia sudah menyeret kopernya ke depan lemari. Kemudian, dia membuka lemari dan mulai mencari pakaian.
Adeline menarik napas dalam-dalam, lalu menatap punggungnya dan bertanya, "Kamu bawa Lesya ke Maldiva?"
Gerakan Kaivan yang mengambil kemeja terhenti sejenak. Dia berbalik, mengangkat alisnya, dan tersenyum pada Adeline. "Kenapa? Kalau kamu mau, kita bisa bulan madu di sana."
Mendengar nada sarkasme Kaivan, wajah Adeline pun memucat.
"Kamu tahu seberapa pengen aku pergi ke Maldiva."
"Karena kamu pengen pergi, jadi Lesya nggak boleh pergi?"
"Bukan itu maksudku, aku mau ...." (Pergi bersamamu.)
Sebelum Adeline selesai berbicara, Kaivan menyela dengan tidak sabar, "Sudahlah, aku baru saja kembali dari perjalanan bisnis dan sangat capek. Aku nggak ingin bertengkar denganmu."
Kaivan berbalik dengan dingin, lalu berjalan ke kamar mandi dan membanting pintu dengan kuat. Pandangan Adeline pun terhalang.
Adeline menunduk dan menatap ujung jarinya yang putih. Seulas senyum pahit muncul di wajahnya. Dulu, Kaivan masih bisa berdebat dengannya. Sekarang, dia bahkan malas untuk berdebat.
Ketika Kaivan keluar dari kamar mandi, Adeline telah berganti pakaian dan selesai menyikat gigi serta mencuci wajah. Dia sedang duduk di depan meja rias dan memoles lipstik di depan cermin.
Hari ini, Adeline mengenakan gaun beludru berwarna hijau tua. Rambut panjangnya yang mencapai pinggang digerai, dan riasan wajahnya sangat indah. Dia begitu cantik hingga orang-orang nyaris tidak bisa mengalihkan pandangan darinya.
Kaivan hanya meliriknya sebelum mengalihkan pandangan dengan tenang.
Saat Kaivan hendak pergi, Adeline mengingatkannya dengan tenang, "Hari Sabtu ini, kita ada jadwal coba gaun pengantin. Aku harap kamu nggak terlambat lagi."
Adeline paling benci orang yang tidak tepat waktu. Salah satu alasan dia setuju untuk bersama Kaivan adalah karena Kaivan selalu tepat waktu. Namun, sejak hati Kaivan berubah, dia berulang kali mengingkari janjinya demi perempuan lain.
Kaivan tersenyum penuh ejekan. "Tenang saja, aku nggak akan terlambat."
Seusai berbicara, ponselnya pun berdering. Entah sengaja atau tidak, dia menyalakan speaker dan suara Lesya yang merdu terdengar dari ujung telepon.
"Pak Kaivan, kamu terlalu liar kemarin. Aku masih kesakitan sampai sekarang. Kamu harus tanggung jawab!"
Bab 2
Kaivan pun tertawa gembira. "Lain kali, aku akan lebih lembut. Aku akan membelikanmu obat nanti."
Suara pria itu berangsur-angsur menjauh. Sementara itu, Adeline menatap patahan lipstik di tangannya dengan ekspresi datar. Dia membuang lipstik yang patah itu ke tempat sampah, lalu membuka lapisan kedua kotak perhiasan yang hanya berisi beberapa buah perhiasan.
Dulu, kotak itu penuh dengan perhiasan pemberian Kaivan yang mencapai ratusan buah. Sejak Kaivan berselingkuh, dia akan membuang sebuah perhiasan setiap kali merasa kecewa terhadap Kaivan.
Awalnya, frekuensinya sangat jarang. Setelahnya, frekuensinya makin sering dan perhiasannya sudah hampir habis sekarang. Sama seperti cintanya pada Kaivan, yang awalnya meluap seperti air pasang hingga kini akan segera pudar sepenuhnya.
Adeline mengambil sebuah kalung emas yang sangat tipis. Kalung itu adalah pemberian Kaivan pada tahun ketiga mereka bersama. Liontin kalung itu berbentuk telapak kaki kucing. Saat itu, Adeline ingin memelihara kucing dan sering menonton video kucing di internet. Ketika menerima kalung itu, dia sangat gembira dan tidak berhenti memainkan liontin itu.
Mereka berdua sepakat untuk mengadopsi kucing setelah lulus dan menyewa rumah. Mereka bahkan sudah memilih namanya, yaitu Bubu. Setelahnya, mereka tentu saja tidak jadi memelihara kucing.
Kaivan awalnya fokus merintis bisnis. Setelah bisnisnya sukses, dia menjadi makin sibuk. Dia bahkan tidak punya waktu untuk Adeline, apalagi memelihara kucing. Setelah dipikir-pikir, hubungan mereka memang sudah mulai bermasalah dari saat itu. Dia terlalu percaya diri dan berpikir hati Kaivan tidak akan pernah berubah.
Adeline menahan gejolak emosinya, menunduk, dan membuang kalung emas itu ke tempat sampah. Setelah itu, dia perlahan-lahan menutup kotak perhiasan itu. Hanya tersisa lima perhiasan di dalam kotak.
Adeline bangkit dan mengenakan mantelnya, lalu keluar sambil membawa tasnya. Begitu tiba di firma hukum, rekan-rekannya menghampirinya untuk memberi selamat atas kemenangannya lagi dalam persidangan.
"Bu Adeline, selamat!"
"Bu Adeline, ini sudah yang keenam kalinya dalam bulan ini! Bukan tanpa alasan kamu punya julukan Jenderal Tak Terkalahkan di firma hukum ini!"
"Ternyata benar yang bilang orang yang biasanya gagal di percintaan biasanya sukses di karier. Lihat saja betapa bersinarnya karier Bu Adeline sekarang!"
Begitu orang itu selesai berbicara, orang di sebelahnya pun buru-buru menarik lengan bajunya dan mengedipkan mata padanya. Suasana yang awalnya meriah tiba-tiba menjadi canggung. Semua orang yang hadir saling memandang dan tak seorang pun berani menatap wajah Adeline.
Semua orang di firma hukum tahu bahwa Adeline dan Kaivan akan segera menikah. Orang yang punya koneksi luas juga tahu bahwa Kaivan diam-diam berselingkuh dengan sekretarisnya. Namun, tak seorang pun pernah membicarakan hal ini di depan Adeline.
Rekan kerja yang baru saja berbicara juga menyadari bahwa dia telah mengatakan sesuatu yang salah dan segera meminta maaf kepada Adeline, "Bu Adeline, maaf. Aku cuma asal bicara. Jangan dimasukkan ke hati, ya ...."
Wajah Adeline terlihat sedikit pucat, sedangkan tangannya yang memegang tas kerja perlahan-lahan mengencang. Dia memaksakan senyum dan menyahut, "Nggak apa-apa. Malam ini, aku akan traktir semua orang di Restoran Celestial untuk merayakannya. Ingat untuk luangkan waktu, ya!"
Semua orang segera menanggapi dengan canda dan tawa, lalu insiden kecil itu pun berlalu.
Setelah kembali ke meja kerjanya, Adeline menyalakan komputer, merapikan dokumen-dokumen untuk diarsipkan, dan mulai menulis laporan ringkasan kasus. Namun, setelah menulis selama lebih dari dua jam, dia hanya menulis beberapa baris kata dan pikirannya sudah melayang.
Malam harinya, Adeline berjalan masuk ke Restoran Celestial bersama belasan orang dari firma hukum. Ada dua sosok familiar yang duduk di dekat jendela. Ketika menoleh, Adeline kebetulan bertemu pandang dengan tatapan Kaivan yang acuh tak acuh.
Adeline pun menahan napas untuk sejenak. Pada detik selanjutnya, Kaivan sudah mengalihkan pandangannya dan lanjut menyuapi Lesya hidangan penutup sambil tersenyum, seolah-olah tidak ada orang di sekitarnya.
Bahkan di depan rekan-rekan Adeline, Kaivan tetap tidak menunjukkan rasa hormat apa pun terhadap Adeline.
Seorang rekan kerja yang memiliki hubungan lumayan dekat dengan Adeline pun merasa marah. Dia hendak melangkah maju untuk menuntut keadilan bagi Adeline.
Namun, Adeline menahannya dan berkata dengan tenang, "Aku baik-baik saja. Ayo kita masuk ke ruang privat."
Wajah rekan kerja itu dipenuhi amarah. Dia berbalik dan hendak membantah, tetapi langsung tertegun ketika melihat ekspresi Adeline yang lebih buruk daripada menangis. Akhirnya, dia tidak mengatakan apa-apa lagi dan membiarkan Adeline menariknya ke ruang privat.
Dalam masalah perasaan, hanya orang yang menjalani hubungan itu yang mengetahui dengan jelas bagaimana hubungan mereka. Berhubung Adeline ingin mempertahankan ilusi ketenangan itu, orang lain tidak berhak mengatakan apa pun.
Setelah memesan makanan, Adeline bangkit dan pergi ke kamar mandi. Begitu pintu tertutup, dia mendengar suara rekan-rekannya berdiskusi di dalam.
"Tadi, aku nggak salah lihat? Pacar Bu Adeline menyuapi wanita lain makanan hidangan penutup di depan Bu Adeline? Dasar bajingan!"
"Aku juga melihatnya. Entah apa sebenarnya yang Bu Adeline sukai dari pria berengsek seperti itu? Dia begitu cantik. Kalau meninggalkan pria itu, dia pasti bisa temukan pria lainnya kapan pun dia mau."
"Haih, intinya, mereka berdua secara sukarela terima keadaan ini. Bu Adeline bisa berpikiran sangat jernih dan tegas saat tangani kasus, tapi malah nggak bisa berpikir jelas dalam urusan cinta ...."
Adeline tidak mendengar sisa percakapan mereka, tetapi bisa menebaknya. Sebenarnya, apa yang mereka katakan memang benar. Namun, setiap kali memikirkan masa depannya tanpa Kaivan, rasa sakit yang tak tertahankan akan merayapi hatinya.
Perlahan-lahan, Adeline pun mulai terbiasa. Terbiasa dengan ketidakpedulian Kaivan, terbiasa dengan aroma parfum wanita lain di tubuhnya, dan terbiasa dengan proses penyembuhan luka secara perlahan.
Tepat saat Adeline berjalan menuju pintu kamar mandi, langkahnya tiba-tiba terhenti. Seluruh tubuhnya terpaku di tempat. Sebuah pemandangan yang tak jauh darinya terlihat sangat menusuk mata.
Lesya duduk di atas wastafel, sedangkan Kaivan memeluk pinggangnya erat-erat dan memunggungi Adeline. Kaivan mencium Lesya seperti tidak ada orang lain di sekitar mereka. Mau dia bertingkah seperti apa pun dulu, dia tidak pernah bermesraan dengan wanita lain di depan Adeline. Namun, hari ini, dia malah melakukannya.
Melihat punggung Kaivan, Adeline merasa seperti ada angin dingin yang berembus masuk melalui lubang yang menganga di hatinya.
'Kaivan, kenapa kamu begitu kejam?' tanya Adeline dalam hati.
Berhubung terlalu terlena, Kaivan bahkan tidak menyadari Adeline berdiri tak jauh darinya. Akan tetapi, meskipun tahu, hal itu juga tidak akan berpengaruh baginya. Lagi pula, dia tidak peduli apakah Adeline sedih atau tidak.
Cermin itu memantulkan sosok dua insan yang saling bertautan, juga memantulkan wajah Adeline yang pucat dan terlihat sangat malu. Adeline merasa dirinya bagaikan orang yang sangat konyol.
Lesya yang lebih dulu melihat Adeline. Dia segera mendorong Kaivan. "Pak Kaivan ... Bu Adeline ...."
Pipinya merona merah, mata besarnya berkilat panik, sedangkan bibir lembapnya yang dicium Kaivan memerah hingga terlihat bagaikan buah manis yang sudah matang dan begitu menggoda untuk dipetik.
"Jangan pedulikan dia."
"Pak Kaivan ... umph ...."
Kaivan langsung membungkam mulut Lesya.
Entah sudah berapa lama waktu berlalu, Kaivan akhirnya melepaskan Lesya dan mengangkatnya turun dari wastafel. Dia merapikan gaun Lesya, lalu merangkulnya dan berbalik untuk pergi.
Saat melewati Adeline, Kaivan mengangkat alisnya dan bertanya dengan nada mengejek, "Masih belum puas lihatnya? Apa perlu aku bawa Lesya pulang malam ini supaya kamu bisa melihatnya dengan jelas?"
Adeline menoleh untuk menatapnya. Mata Kaivan yang jernih itu penuh dengan ejekan dan sama sekali tidak terlihat jejak kelembutan.
"Kaivan, kamu boleh lakukan apa saja yang kamu mau dengannya secara pribadi, tapi bisa nggak kamu ... jangan membawanya ke hadapanku? Anggap saja aku mohon padamu ...."
Adeline benar-benar tidak tahu berapa lama lagi dia bisa bertahan. Sepertinya, hanya dia seorang yang masih berangan-angan tentang masa depan yang mereka janjikan pada satu sama lain.
Kaivan tersenyum acuh tak acuh, lalu memegang dagu Lesya dan mengecup bibirnya lagi.
"Nggak tahan? Kalau nggak tahan, kamu boleh batalkan pernikahan kita atau minta putus."
Adeline menunduk dan hendak berbicara, tetapi tatapannya tiba-tiba terhenti. Lesya sedang mengenakan sebuah gelang emas tulip. Baik desain maupun ukiran gelang itu sama persis dengan yang Kaivan rancang sendiri dan dibuat khusus untuknya!
Bab 3
Saat menyadari tatapan Adeline, Lesya segera mengulurkan tangan untuk menutupi gelang itu. Matanya berkilat panik dan dia tanpa sadar bersembunyi di belakang Kaivan.
Kaivan menariknya ke belakang dan menatap Adeline. "Buat apa kamu menatap Lesya?"
Mata Adeline sedikit memerah. "Kaivan, kenapa kamu kasih Lesya gelang yang sama? Kamu jelas-jelas bilang gelang itu dibuat khusus untukku."
"Lesya melihatmu memakainya dan bilang dia sangat menyukainya. Aku nggak mungkin kasih gelangmu padanya, 'kan? Lagian itu cuma sebuah gelang. Sejak kapan kamu jadi orang yang berhati sempit?"
Ekspresi Kaivan dipenuhi dengan ketidaksabaran, seolah-olah dia sedang membicarakan hal sepele.
Rasa tidak percaya terpancar di mata Adeline. "Tapi, waktu kamu memberikannya padaku, kamu bilang ...."
Sebelum Adeline selesai berbicara, Kaivan sudah menyela dengan kening berkerut, "Adeline, memangnya hidup di masa lalu itu menarik, ya? Kamu sendiri juga sudah bilang itu waktu itu."
Kaivan paling membenci ketika Adeline mengungkit masa lalu. Sebab, itu akan mengingatkannya pada dirinya yang berulang kali gagal dalam membangun usaha dan masa-masa kelamnya.
Adeline memang menemaninya melewati semua masa kelam dan kegagalan saat itu. Namun, setelah bisnisnya sukses, Kaivan pun tidak ingin lagi mengingat masa-masa sulit itu dan perlahan-lahan merasa bosan pada Adeline.
Adeline menatapnya dengan tatapan sedih, bagaikan kaca yang hampir pecah. "Jadi, janji yang kamu buat bisa berubah dan diingkari dengan begitu saja?"
Kaiva menatapnya dengan dingin, "Aku pernah janji untuk menikahimu, jadi karena kamu mau menikah denganku, aku sudah setuju. Apa lagi yang kamu inginkan? Adeline, satu-satunya kesalahanku padamu adalah, aku tak lagi mencintaimu. Memangnya aku nggak punya hak untuk ambil keputusan mengenai siapa yang kucintai?"
Adeline mengedipkan matanya dan air matanya pun menetes. Ternyata setelah hati seorang pria berubah, janji yang dibuatnya juga tidak berlaku lagi, bagaikan istana pasir yang bisa dengan mudahnya roboh tertiup angin.
Cinta Kaivan bisa kandas, tetapi bagaimana dengan Adeline? Apa yang harus dia lakukan? Bagaimana dia bisa meyakinkan dirinya untuk melupakan masa-masa ketika mereka masih saling mencintai? Bagaimana dia bisa meyakinkan dirinya untuk menerima perubahan hatinya? Bagaimana dia bisa meyakinkan dirinya untuk melepaskan Kaivan dan juga melepaskan dirinya ....
Melihat Adeline menggigit bibir pucatnya tanpa berkata apa-apa, Kaivan merangkul Lesya dan berjalan pergi. Sosoknya pun menghilang di belokan.
Adeline mengedipkan matanya yang perih dan berdiri di sana cukup lama. Setelah menenangkan diri, dia baru berjalan kembali ke ruang privat.
Makan malam ini baru berakhir pada larut malam. Sampai melihat rekan kerja terakhirnya meninggalkan restoran, Adeline baru melaju pulang. Ketika tiba di rumah dan membuka pintu, ruangannya masih gelap. Seperti dugaannya, Kaivan tidak kembali.
Bayangan Kaivan dan Lesya yang berciuman di wastafel kembali muncul di benaknya. Rasa sakit yang mendalam juga muncul di hatinya. Dia memejamkan mata dan menahan air matanya.
Adeline berjalan ke meja rias, lalu membuka kotak perhiasan dan mengeluarkan gelang emas tulip dari dalam. Gelang yang dulunya membuat hatinya berbunga-bunga setiap kali melihatnya kini malah membuat hatinya terasa sakit. Berhubung gelang itu tidak lagi eksklusif, dia juga tidak perlu menyimpannya lagi.
Adeline menggigit bibirnya dengan perasaan getir dan melepaskan genggamannya. Gelang itu terlepas dari tangannya dan jatuh ke tempat sampah di bawahnya dengan mengeluarkan suara dentuman, tepat seperti dentuman kosong di dadanya saat melihat Lesya mengenakan gelang itu.
Selama beberapa hari selanjutnya, Kaivan tidak pulang. Adeline mengiriminya pesan setiap hari untuk mengingatkannya mencoba gaun pengantin pada hari Sabtu, tetapi Kaivan tidak membalas.
Pada Sabtu pagi, Adeline bangun, mandi, dan sedang merias wajah ketika menerima pesan dari Kaivan.
[ Aku sudah sampai di toko gaun pengantin. ]
Adeline pun bergegas pergi ke toko gaun pengantin. Ketika melihat Lesya yang sedang merangkul lengan Kaivan dengan manja, mata Adeline tanpa sadar menjadi dingin. "Kaivan, hari ini kita mau coba gaun pengantin. Buat apa kamu membawanya kemari?"
Kaivan terlihat santai, seolah-olah tidak merasa ada yang salah. "Setelah coba gaun pengantin, aku dan dia mau pergi bahas kerja sama. Buat apa kamu permasalahkan hal sepele seperti ini?"
"Hal sepele? Di matamu, ini benar-benar cuma masalah sepele?"
Pada hari mereka mencoba gaun pengantin, Kaivan membawa datang selingkuhannya untuk membuatnya sakit hati. Apakah dia juga akan membiarkan Lesya menghadiri resepsi pernikahan mereka?
Lesya melepaskan lengan Kaivan dan bersikap agak panik. "Pak Kaivan, sudah kubilang aku nggak seharusnya datang .... Sebaiknya aku kembali ke perusahaan dulu .... Habis kamu selesai coba gaun pengantin, aku baru ...."
"Nggak perlu." Kaivan berbalik untuk menatap Adeline suaranya menjadi dingin. "Kamu mau coba atau nggak? Aku sangat sibuk dan nggak punya waktu untuk dihabiskan bersamamu di sini."
Adeline mengenal Kaivan dengan baik. Ketika dia mengerutkan kening, itu berarti dia sudah sangat tidak sabar. Jika Adeline mengatakan dirinya tidak ingin mencoba sekarang, Kaivan pasti akan langsung berbalik dan pergi.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Adeline berbalik dan berjalan masuk ke toko gaun pengantin. Begitu dia melangkah masuk, karyawan toko segera menghampirinya dengan senyum lebar. Saat melihat Kaivan di belakang Adeline dan Lesya di samping Kaivan, ada sedikit keterkejutan di matanya, tetapi dia masih tetap tersenyum.
"Pak Kaivan, Bu Adeline, selamat pagi. Gaun pengantin yang kalian pesan sudah sampai. Mari kubawa kamu pergi mencobanya."
Adeline pernah belajar sedikit tentang desain sebelumnya. Dia menghabiskan setengah tahun untuk menyelesaikan desain gaun pengantin ini di bawah bimbingan seorang desainer ternama dalam negeri. Upaya yang dicurahkannya dalam hal ini sangatlah banyak.
Namun, semua harapannya sudah pupus saat dia melihat Lesya. Sekarang, dia hanya berusaha untuk menyelesaikan tugasnya. Dia mengangguk dengan lelah. "Oke."
Kemudian, Adeline mengikuti karyawan toko pergi ke area pengantin dan langsung melihat gaun pengantinnya di tengah ruang pameran.
Gaun pengantin itu bermodel kemban. Bagian atasnya dihiasi bordir bunga tulip favoritnya yang disulam di atas renda Prancis. Bunga-bunga itu terlihat nyata, seolah-olah tumbuh di permukaan renda.
Deretan mutiara sehalus bintang melingkar di bagian pinggang dan berkilauan indah di bawah cahaya lampu. Bagian depan roknya terbuat dari satin berkualitas tinggi, sedangkan bagian belakangnya terdiri dari tiga lapis ekor panjang yang mengombinasikan satin dan renda sehingga terasa ringan dan anggun. Adeline hampir tidak bisa mengalihkan pandangannya.
"Bu Adeline, gaun pengantin ini baru saja diantar kemari pagi ini. Waktu melihatnya, ada beberapa pelanggan yang ingin mencobanya. Kamu pasti akan terlihat sangat cantik waktu memakainya."
Lesya juga melirik gaun pengantin itu. Matanya berbinar dengan keterpukauan sekaligus iri. Dia menimpali, "Iya, cakep banget! Dengar-dengar, Bu Adeline yang mendesain gaun pengantinnya. Bu Adeline benar-benar berbakat! Benar nggak, Pak Kaivan?"
Saat mendengar suara mentel Lesya, Adeline pun merasa mual. Baru saja dia berbalik untuk berbicara, dia malah melihat Kaivan menunduk dan menatap Lesya dengan lembut, lalu mengulurkan tangan untuk mengelus kepalanya.
"Kamu juga nggak buruk. Kalau nggak, mana mungkin kamu bisa jadi sekretarisku."
Lesya memelototinya. "Kamu cuma mengolok-olokku."
Dalam sekejap, Adeline tiba-tiba tidak ingin mengatakan apa-apa. Apa lagi yang bisa dia katakan? Lesya bisa datang ke tempat ini untuk membuatnya muak sebenarnya karena Kaivan yang memberinya keberanian itu.
Ini jelas adalah pertama kalinya karyawan toko menghadapi situasi memalukan seperti ini. Dia dengan hati-hati bertanya, "Bu Adeline ... apa kamu masih mau coba gaun pengantinnya?"
Adeline berbalik dan menjawab dengan tenang, "Mau."
Karyawan toko itu dengan hati-hati melepas gaun pengantin dari gantungan dan membawa Adeline ke ruang ganti. Berhubung ada renda dan tali di bagian belakang gaun pengantin, gaun ini lebih rumit untuk dikenakan hingga butuh waktu lebih dari sepuluh menit.
Adeline sangat cantik. Dengan kulit putih dan fitur wajahnya yang indah, dia terlihat anggun dan memikat layaknya bunga teratai yang mekar sempurna. Jika tidak, Kaivan tidak akan jatuh cinta padanya pada pandangan pertama. Dia yang mengenakan gaun pengantin bahkan terlihat lebih memukau lagi.
Karyawan toko membantunya merapikan ujung gaunnya sambil berkata, "Bu Adeline, kalau aku ini bukan seorang perempuan, aku pasti akan terpesona olehmu."
Adeline menunduk dan memaksakan seulas senyum. "Terima kasih."
Melihat suasana hatinya sedang buruk, karyawan toko itu menghela napas dalam hati dan tidak berani berbicara lagi.
Ketika tirai ruang ganti dibuka, Kaivan sedang menunduk untuk membalas pesan pelanggan di LINE, sedangkan Lesya entah pergi ke mana.
Karyawan toko pun memanggil Kaivan. "Pak Kaivan, Bu Adeline sudah selesai kenakan gaun pengantinnya."
Kaivan mengangkat kepala tanpa minat dan melirik Adeline. "Biasa saja."
Dia benar-benar merasa tidak ada yang terlihat istimewa. Bagaimanapun juga, sekarang dia tidak menaruh perasaan apa pun pada Adeline. Meskipun Adeline berdiri telanjang di depannya, dia juga sama sekali tidak tertarik.
Adeline merasa sedikit kecewa.
Di tahun pertama mereka bersama, mereka sudah mendiskusikan gaun pengantin seperti apa yang akan dia kenakan saat menikah nanti. Kaivan berkata bahwa Adeline adalah wanita paling cantik tidak peduli apa pun yang dikenakannya. Ketika Adeline mencoba gaun pengantin, dia pasti akan sangat terharu hingga berlinang air mata. Sebab, dia akhirnya bisa menikahi Adeline.
Itu hanyalah masalah sepele. Kaivan seharusnya sudah melupakannya sejak lama.
Delapan tahun memang waktu yang lama, juga cukup lama bagi seseorang untuk jatuh cinta pada orang lain. Namun, waktu Itu juga cukup lama untuk perlahan-lahan menghilangkan rasa suka seseorang terhadap orang lain.
Karyawan toko menyadari suasana aneh di antara keduanya dan hendak menengahinya. Tiba-tiba, tirai ruang ganti di seberangnya pun terbuka. Lesya yang mengenakan gaun pengantin tersenyum dan menatap Kaivan dengan santai.
"Pak Kaivan, aku nggak nyangka gaun pengantin yang kamu pilih begitu pas. Gimana?"
Bab 4
Kaivan menatap Lesya sambil tersenyum. Matanya penuh dengan kekaguman. "Cantik sekali. Gaun ini cocok banget sama kamu."
Keduanya saling memandang dari kejauhan dan mata mereka dipenuhi dengan cinta yang tak terselubung.
Jelas-jelas, yang datang untuk mencoba gaun pengantin adalah Kaivan dan Adeline. Namun, dengan adanya keberadaan Lesya sekarang, malah Adeline yang terlihat seperti pihak ketiga.
Adeline langsung mencengkeram ujung roknya. Seutas tali dalam otaknya yang disebut akal sehat tiba-tiba putus. Dia mengangkat ujung gaunnya dan berjalan perlahan menuju Lesya.
Melihat Adeline berjalan mendekat, senyum di bibir Lesya makin lebar. "Bu Adeline, gaun pengantinmu indah banget. Waktu melihat gaun pengantin itu, aku tiba-tiba ingin mencobanya. Kamu nggak keberatan, 'kan?"
"Plak!"
Adeline mengangkat tangan dan menampar Lesya, lalu menekankan kata-katanya. "Sekarang, kamu seharusnya sudah tahu aku keberatan atau nggak."
Raut wajah Kaivan langsung berubah, "Adeline, apa yang kamu lakukan!"
Dia melangkah maju dengan cepat dan langsung mendorong Adeline. Kemudian, dia mengangkat dagu Lesya untuk memeriksa apakah wajahnya terluka.
Gaun pengantinnya sangat kembang dan Adeline juga mengenakan sepatu hak tinggi setinggi 8-9 sentimeter. Berhubung didorong Kaivan, kakinya pun terpelintir dan dia langsung jatuh ke lantai. Rasa nyeri di pergelangan kakinya sama sekali bukan apa-apa jika dibandingkan dengan rasa sakit di hatinya.
Dulu, Kaivan akan merasa sedih ketika melihatnya meneteskan air mata. Sekarang, dia bahkan bisa main tangan terhadapnya demi wanita lain.
Kaivan sama sekali tidak menatap Adeline. Dia mengerutkan kening saat melihat wajah Lesya yang merah dan bengkak, lalu berkata dengan suara berat, "Aku akan bawa kamu ke rumah sakit."
Lesya menggeleng dan berusaha menekan rasa perih di wajahnya. "Pak Kaivan, aku baik-baik saja. Aku akan mengompresnya dengan es nanti. Kita harus ketemu klien pada pukul 11 dan nggak boleh terlambat."
Melihat kesabaran dan kekeraskepalaan di mata Lesya, Kaivan merasa geram, tetapi bukan terhadap Lesya, melainkan terhadap Adeline. Dia menoleh dan menatap Adeline yang duduk dengan menyedihkan di lantai, lalu memberi perintah, "Minta maaf!"
Adeline mendongak dan menjawab dengan tenang, "Kenapa aku harus minta maaf?"
"Kau sudah tampar orang tanpa alasan, bukannya kamu seharusnya minta maaf? Adeline, sejak kapan kamu berubah jadi wanita sembrono yang nggak tahu bedakan situasi?"
Kaivan terlihat marah dan menatap Adeline dengan berapi-api. Dia bahkan sepertinya merasa sedikit kecewa.
Adeline menahan rasa sakit di pergelangan kakinya, lalu berdiri sambil menggertakkan gigi dan menatapnya lurus-lurus. "Kaivan, kamu bilang aku berubah? Memangnya kamu nggak berubah?"
Kaivan pun tertegun. Sebelum dia sempat mengatakan apa-apa, Lesya di sebelahnya tiba-tiba meraih lengannya dan berkata dengan wajahnya dipenuhi rasa bersalah, "Pak Kaivan, jangan bertengkar dengan Bu Adeline. Ini salahku .... Aku nggak seharusnya mencoba gaun pengantin ini .... Maafkan aku ...."
Kaivan mengulurkan tangan untuk menyeka air matanya dan menyahut dengan lembut, "Ini bukan salahmu, kamu nggak perlu minta maaf. Yang seharusnya minta maaf itu orang lain."
Adeline ingin tertawa, tetapi matanya malah memerah. Delapan tahun bersama .... dan mereka akan menikah sebulan lagi, tetapi Kaivan malah menggunakan kata "orang lain" untuk menyebutnya ....
Melihat raut wajah Kaivan yang dingin, Adeline bahkan mulai ragu, apakah Kaivan benar-benar pernah mencintainya? Jika Kaivan pernah mencintainya, bagaimana mungkin dia begitu kejam? Jika Kaivan tidak mencintainya, apa gunanya semua perhatian yang Kaivan berikan padanya di masa lalu?
Setelah menghibur Lesya, Kaivan menoleh dan menatap Adeline dengan tatapan dingin dan kesal. "Kalau kamu nggak minta maaf sama Lesya, kita nggak perlu coba gaun pengantin lagi hari ini. Tunda saja pernikahannya."
Wajah Adeline langsung memucat. Dia menatap mata Kaivan dengan putus asa, seperti ingin menangis, tetapi malah tersenyum pahit. Lihat saja betapa Kaivan melindungi Lesya. Hanya karena dia menampar Lesya, pria ini mengancamnya untuk meminta maaf dengan menunda pernikahan.
Adeline merasa hatinya seperti ditusuk ribuan anak panah Dia sudah bisa membayangkan betapa besar rasa sakit yang akan dialaminya di masa depan jika dia berkompromi hari ini. Dia ...tidak ingin menyakiti dirinya sendiri lagi.
"Oke, berhubung kamu mau menundanya, tunda saja."
Suaranya tidak kuat, tetapi Kaivan dan Lesya bisa mendengarnya. Setelah itu, Adeline berbalik sambil mengangkat gaunnya. Dia menegakkan punggungnya dan berjalan tertatih-tatih menuju ruang ganti.
Melihat punggungnya, Kaivan mengerutkan kening dengan erat dan tatapannya terlihat sangat suram.
Kemudian, terdengar suara Lesya yang bertanya dengan hati-hati, "Pak ... Pak Kaivan, apa aku dalam masalah?"
Kaivan tidak menjawab, entah karena tidak mendengar pertanyaan itu atau apa.
Saat mengganti gaun pengantin dan melihat pergelangan kaki Adeline yang bengkak, karyawan toko itu berujar dengan terkejut, "Bu Adeline, kakimu bengkak. Aku akan ambilkan es batu untuk mengompresnya."
Adeline menunduk dan matanya tiba-tiba terasa panas. Tak disangka, seorang karyawan toko pengantin yang baru beberapa kali bertemu dengannya lebih peduli padanya daripada tunangannya. Apa pantas dia membuat dirinya terlihat begitu menyedihkan demi seorang pria?
Adeline menggigit bibirnya, lalu memaksakan seulas senyum kepada karyawan toko itu. "Oke, terima kasih."
"Nggak usah sungkan, ini tugasku."
Saat hendak menggantung kembali gaun pengantin Adeline dan pergi mengambil es batu, karyawan toko itu tiba-tiba melihat sesuatu yang berkilauan di lantai. Dia pun berjongkok untuk mengambilnya dan menemukan bahwa itu adalah gelang berliontin heksagram yang pernah dipakai Adeline sebelumnya.
Dia buru-buru berkata, "Bu Adeline, gelangmu jatuh ke lantai."
Ketika mendengarnya, Adeline yang sedang berganti pakaian pun berbalik. Saat melihat gelang itu, sorot matanya langsung berubah.
"Gelang itu sudah rusak dan nggak bisa dipakai lagi. Tolong bantu aku membuangnya."
Itu adalah hadiah ulang tahun yang diberikan Kaivan pada tahun ketiga mereka bersama. Gelang itu diukir dengan inisial nama mereka, diikuti dengan kata bahasa asing yang berarti selamanya.
Sebelumnya, Adeline merawat gelang itu dengan hati-hati. Tak disangka, gelang itu tiba-tiba rusak hari ini. Jika itu sebelumnya, dia pasti akan sangat sedih dan menganggapnya sebagai pertanda buruk. Sekarang ... dia tidak peduli meskipun gelang itu rusak ....
Karyawan toko ingin mengatakan bahwa gelang itu sangat mahal dan seharusnya bisa diperbaiki. Namun, ketika melihat wajah pucat Adeline, dia ragu sejenak dan mengurungkan niatnya. Dia menggantung kembali gaun pengantin itu, lalu berjalan pergi sambil membawa gelang itu.
Ketika tiba di depan tempat sampah dan hendak membuang gelang itu, tiba-tiba terdengar suara dingin seseorang dari samping. "Apa yang ada di tanganmu?"
Petugas itu pun terkejut. Saat berbalik dan melihat wajah Kaivan yang dingin, dia buru-buru menjawab, "Pak Kaivan, ini gelang Bu Adeline. Gelangnya putus waktu coba gaun pengantin. Dia bilang gelangnya nggak bisa dipakai lagi dan minta aku untuk membuangnya."
Mata Kaivan berkilat dingin. Tentu saja dia tahu itu adalah hadiah ulang tahun yang pernah diberikannya kepada Adeline. Berhubung dia memberi Lesya gelang yang sama persis, Adeline pun sengaja membuang gelang pemberiannya untuk memaksanya minta maaf?
Kaivan memicingkan mata dan seluruh auranya menjadi kelam. "Ini ...."
Sebelum Kaivan selesai berbicara, terdengar suara manis Lesya dari belakang. "Pak Kaivan, aku sudah selesai ganti baju."
Kaivan menghentikan tangannya di tengah udara, lalu menariknya kembali seolah tidak terjadi apa-apa. Kemudian, dia menoleh dan tatapannya berubah menjadi lembut. "Kalau sudah selesai, ayo pergi."
"Sebaiknya kita pamitan dulu sama Bu Adeline sebelum pergi. Oh iya, tadi apa yang mau kamu katakan pada karyawan toko?"
"Nggak apa-apa, kita nggak perlu menunggunya."
Lesya menatap karyawan toko itu dengan curiga, tetapi tidak lanjut bertanya. Dia tahu jelas sifat Kaivan. Jika Kaivan tidak ingin membicarakan sesuatu, lanjut bertanya hanya akan membuatnya kesal. Dalam beberapa tahun terakhir, dia sudah memanfaatkan hal ini untuk menimbulkan banyak konflik di antara Kaivan dan Adeline.
Setelah berganti pakaian, Adeline pun keluar. Kebetulan, Kaivan dan Lesya baru hendak pergi. Dari sudut matanya, dia menangkap punggung kedua orang yang berjalan berdampingan itu. Tangan Adeline perlahan mengencang, tetapi ekspresinya tetap datar.
Dulu, Adeline pernah membaca sebuah kalimat berisi "ketika sudah cukup kecewa pada seseorang, kamu akan memilih untuk pergi". Dia merasa kekecewaannya pada Kaivan sepertinya sudah hampir cukup besar untuk membuatnya pergi.
Bab 5
Ketika Carissa memasuki toko gaun pengantin, Adeline sedang duduk di sofa sambil melihat album pernikahan. Wajahnya terlihat tenang dan anggun. Setelah memandang ke sekeliling dan tidak menemukan Kaivan, dia mengerutkan kening dan bertanya sambil melangkah maju, "Di mana Kaivan?"
"Sudah pergi."
Mendengar ini, mata Carissa berkilat dengan rasa tidak puas. "Dia tinggalkan kamu di sini dengan begitu saja?"
Adeline menunduk, jari-jarinya tanpa sadar menyentuh gaun pengantin di album. Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Melihatnya seperti ini, Carissa merasa marah, tetapi juga sedih. Dia akhirnya mengganti topik pembicaraan. "Gimana gaun pengantinnya?"
"Puas banget! Aku juga memotretnya."
"Coba kulihat."
Saat melihat foto-foto itu, Carissa pun terpukau. "Ini cakep banget! Selain itu, desainnya juga cocok sekali sama kamu. Waktu aku menikah nanti, kamu juga harus desainkan gaun pengantin untukku!"
Adeline tersenyum dan menjawab, "Oke."
"Ckck!"
Carissa memperbesar foto-foto itu dan mengaguminya sambil berkata, "Si brengsek Kaivan itu sungguh beruntung. Aku nggak tahu kebaikan apa yang sudah dia lakukan di kehidupan lampau sampai bisa menikahi istri secantik kamu."
Senyum Adeline berubah getir. Sebenarnya, Kaivan tidak ingin menikahinya, tetapi dia bersikeras mau menikahi Kaivan.
Menyadari hari ini Adeline lebih pendiam daripada biasanya, Carissa mengerutkan kening. Dia meletakkan ponsel dan menatapnya. "Kamu dan Kaivan bertengkar lagi?"
Adeline tidak ingin Carissa khawatir, jadi dia menggeleng. "Nggak, aku cuma agak capek setelah coba gaun pengantin."
"Ini baru permulaan. Di hari pernikahan, kamu harus ganti beberapa set pakaian dan bersulang sama orang-orang .... Ngomong-ngomong, kamu bakal undang anggota Keluarga Thomas?"
Mendengar kata "Keluarga Thomas", tangan Adeline mengepal tanpa sadar. "Aku belum memutuskannya."
"Lupakan saja, jangan bahas ini lagi. Lagian, undangannya belum dikirim. Kamu bisa pertimbangkan lagi."
Adeline mengiakan dengan pelan. Dia tidak yakin lagi apakah pernikahannya bisa digelar sesuai jadwal. Setelah kejadian hari ini, dia sepertinya ... tidak begitu ingin menikahi Kaivan lagi.
Setelah mencoba gaun pengiring pengantin dan bersiap untuk pergi, Carissa baru mendapati kaki Adeline bengkak. "Apa yang sudah terjadi?"
"Aku terkilir waktu pakai sepatu hak tinggi."
Carissa mengerutkan kening. "Bengkaknya agak parah. Ayo kubawa kamu ke rumah sakit."
Adeline menggeleng. "Nggak usah, aku nggak semanja itu. Habis pulang, aku akan semprot obat, lalu istirahat beberapa hari. Nanti dia juga akan sembuh sendiri."
"Kok sekarang kamu jadi begitu cuek sama dirimu sendiri? Waktu kuliah, kamu bahkan harus dibujuk Kaivan setengah mati untuk disuntik. Itu baru namanya manja!"
Adeline tertegun, lalu tersenyum pahit. Saat kuliah, dia memang lumayan manja. Namun, itu karena Kaivan menyukainya dan bersedia memanjakannya. Kini, semua perhatian dan kasih sayang Kaivan telah diberikan kepada wanita lain. Jika dia bersikap seperti dulu, Kaivan akan menganggapnya sebagai wanita penuh drama.
Dalam perjalanan mengantar Adeline pulang, Carissa membeli obat anti bengkak di apotek. Dia juga tidak lupa berpesan pada Adeline untuk menyemprotkan obat secara rutin sebelum pergi.
Setelah hanya tinggal Adeline sendiri di ruang tamu, kejadian di toko gaun pengantin tadi kembali terlintas di benaknya. Tatapannya pun berangsur-angsur meredup.
Sejak perpisahan yang tidak menyenangkan di toko gaun pengantin, Kaivan tidak pernah pulang. Adeline juga tidak meneleponnya seperti orang gila atau mengirim pesan di LINE seperti sebelumnya. Keduanya menunggu pihak lain untuk terlebih dahulu mengalah.
Pada hari ke-10 perang dingin ini, Adeline membuang sebuah perhiasan lagi. Kali ini, dia sepertinya tidak begitu sedih. Jika dia bisa bertahan sampai benar-benar kecewa dan memutuskan untuk pergi, itu juga lumayan baik. Sebab, dia benar-benar tidak ingin lagi merasakan perasaan menaruh ekspektasi, lalu dikecewakan sekali demi sekali.
Sore harinya, Carissa datang menemui Adeline setelah menyelesaikan pekerjaannya.
"Bagaimana persiapan pernikahanmu? Ada yang bisa kubantu? Tinggal sebulan lagi sampai pernikahan kalian, kenapa undangannya belum dikirim? Kaivan juga sepertinya nggak ada pergerakan?"
Meskipun Carissa tidak optimistis mengenai hubungan mereka, Adeline tetap adalah sahabatnya. Berhubung Adeline bersikeras menikahi Kaivan, dia harus merestuinya.
Adeline mengerutkan bibirnya, lalu menunduk dan bertanya, "Mungkin pernikahannya perlu ditunda?"
"Ditunda?" Suara Carissa tiba-tiba meninggi dan ekspresinya menjadi muram. "Kaivan berubah pikiran?"
"Nggak, tapi kami bertengkar lagi belakangan ini."
"Apa pertengkarannya serius?"
Berdasarkan toleransi Adeline terhadap Kaivan, jika itu hanya pertengkaran kecil, itu seharusnya tidak cukup serius untuk menunda pernikahan.
"Termasuk serius."
Carissa pun menghela napas. Ketika hendak berbicara, dia tiba-tiba menemukan gelang giok di tempat sampah dan membelalak dengan tidak percaya.
"Apa yang kamu dan Kaivan ributkan sampai kamu rela membuang gelang giok ini? Seingatku, dia sudah berusaha keras untuk dapatkan gelang giok ini."
Ada sebuah periode di mana Adeline sakit-sakitan dan selalu tidak bisa tidur nyenyak di malam hari. Dia sudah memeriksakan diri ke rumah sakit, tetapi tidak menemukan apa pun.
Kaivan merasa sangat cemas. Entah siapa yang memberitahunya bahwa dia bisa pergi ke kuil untuk mendapatkan sebuah gelang giok yang dapat meningkatkan kualitas tidur setelah dipakai. Dia pun meninggalkan pekerjaannya dan pergi ke sebuah kuil terkenal di dalam negeri untuk mendapatkan gelang giok ini.
Setelahnya, Adeline memakainya selama lebih dari setahun dan melindunginya dengan sangat baik. Dia bahkan tidak mengizinkan Carissa menyentuhnya. Tak disangka, dia malah membuang gelang ini sekarang.
Adeline menunduk dan melirik gelang itu tanpa ekspresi. "Nggak apa-apa. Soal pernikahan, aku akan kasih tahu kamu kalau waktunya sudah ditentukan."
Melihat ekspresinya yang agak muram, Carissa tidak lanjut bertanya lagi. Dia menghela napas, lalu berdiri dan berkata, "Baiklah, aku juga nggak ada urusan lain. Kalau kamu butuh bantuanku, hubungi aku kapan saja."
"Oke."
...
Tiga hari kemudian, Adeline sedang menyiapkan makan malam ketika tiba-tiba menerima telepon dari seorang rekan kerja.
"Bu Adeline, temanmu dan sekretaris tunanganmu lagi bertengkar di sebuah restoran!"
Tiba-tiba, jarinya terasa sakit. Adeline pun menunduk dan mendapati tangannya sudah teriris. Darah mengucur dari jari telunjuknya.
Adeline segera menanyakan alamatnya, lalu menangani lukanya secara asal dan bergegas pergi ke restoran itu. Begitu tiba di sana, dia bertemu Kaivan di depan pintu.
Kaivan masuk ke restoran dengan raut wajah dingin dan tatapan datar, seolah-olah orang di depannya hanyalah orang asing. Adeline menarik napas dalam-dalam dan mengikutinya masuk.
Carissa duduk di dekat jendela dengan tangan terlipat dan tersenyum sinis. Sementara itu, Lesya duduk di hadapannya dengan tampang menyedihkan dan mata yang terlihat merah.
Di sebelah Lesya, duduk seorang gadis seusianya yang sedang berbisik dengan Lesya. Dia juga sesekali memelototi Carissa.
Kaivan terlebih dahulu tiba di meja makan. Begitu melihatnya, Lesya langsung melemparkan diri ke pelukannya dan terisak pelan.
"Pak ... Pak Kaivan, tadi aku dan Tania lagi makan malam. Bu Carissa tiba-tiba menghampiriku dan menamparku dua kali ...."
Mata Kaivan yang penuh amarah tertuju pada Carissa. Dia menekankan kata-katanya. "Aku minta penjelasan."
Carissa merentangkan tangannya dan menatap Kaivan dengan ekspresi mengejek. "Aku juga mau kamu jelaskan, kenapa kamu bawa kekasih gelapmu waktu pergi coba gaun pengantin dengan tunanganmu?"
Bab 6
Carissa awalnya juga tidak ingin memedulikan Lesya, si perempuan sok suci itu. Namun, tadi dia duduk di belakang mereka dan mendengar Lesya menyombongkan diri kepada temannya bahwa Kaivan juga membawanya pada hari Kaivan dan Adeline mencoba gaun pengantin.
Kaivan tidak hanya mengizinkan Lesya mencoba gaun pengantin, tetapi juga mendorong Adeline demi dirinya. Setelah mengingat Adeline yang diam hari itu, juga kemerahan dan bengkak di pergelangan kakinya, mana mungkin Carissa masih tidak mengerti.
Temperamennya tidak sebaik Adeline. Dia bahkan merasa hanya menampar Lesya dua kali saja masih termasuk hukuman ringan.
Raut wajah Kaivan pun menjadi kelam. "Ini urusanku dan Adeline, masih belum giliranmu untuk ikut campur."
Sambil berbicara, tatapan dinginnya tertuju pada Adeline yang baru saja berjalan ke samping Carissa. Matanya menunjukkan kemuakan yang tidak dapat disembunyikan.
"Kupikir, kamu akan tenang setelah beberapa hari. Tak disangka, kamu malah hasut Carissa untuk cari masalah sama Lesya."
Wajah Adeline memucat. "Kamu pikir aku sengaja kasih tahu Rissa masalah di toko gaun pengantin hari itu?"
"Kalau nggak, gimana Carissa bisa tahu? Kamu itu memang wanita kejam! Pantas saja kamu diusir dari Keluarga Thomas! Hal yang paling kusesali adalah jatuh cinta padamu!"
Tubuh Adeline terhuyung. Dia tanpa sadar melangkah mundur dua langkah dengan gemetar, seolah-olah dia akan jatuh kapan saja.
Delapan tahun yang lalu, ketika Kaivan menyatakan cintanya, dia mengatakan bahwa hal paling dia syukuri dalam hidupnya adalah bertemu dengan Adeline. Delapan tahun kemudian, demi wanita lain, dia mengatakan bahwa hal yang paling dia sesali adalah jatuh cinta pada Adeline.
Inilah pria yang telah dicintai Adeline selama delapan tahun, juga pria yang ingin dia habiskan sisa hidupnya bersama.
Ekspresi Carissa langsung berubah. Dia bergegas maju dan menampar Kaivan. "Kaivan, memangnya kamu nggak punya hati nurani? Beraninya kamu ngomong hal seperti itu!"
Jika bukan demi bersama Kaivan, Adeline tidak mungkin diusir dari Keluarga Thomas. Namun, Kaivan malah mengucapkan kata-kata seperti itu kepada Adeline demi seorang wanita simpanan yang tak tahu malu. Apa bedanya ini dengan menusuk hati Adeline dengan pisau!
Setelah mengucapkan hal itu secara impulsif, Kaivan juga merasa agak menyesal dan kesal. Tanpa sadar, dia melirik ke arah Adeline. Adeline berdiri di belakang Carissa sambil menunduk. Jadi, dia tidak bisa melihat ekspresi Adeline dengan jelas.
Lesya yang ada di sebelah sangat peka terhadap perubahan emosi Kaivan. Matanya berkilat dan dia tiba-tiba bergegas maju, lalu mengangkat tangannya untuk menampar wajah Carissa.
Carissa pernah belajar seni bela diri. Lesya tentu saja bukan lawannya dan malah ditampar lagi beberapa kali. Kaivan melangkah maju untuk melerai keduanya, tetapi dia sama sekali tidak bisa memisahkan mereka. Sebaliknya, wajahnya malah dicakar beberapa kali sehingga dia terlihat sangat menyedihkan.
Dalam sesaat, keadaannya menjadi kacau. Pada akhirnya, karyawan restoran yang datang untuk memisahkan mereka.
Carissa baik-baik saja, tetapi Lesya berada dalam keadaan menyedihkan. Rambutnya sangat berantakan, sedangkan pipinya jelas terlihat bengkak. Dia menatap Kaivan dengan sedih dan ingin dihibur.
"Pak Kaivan ...."
Namun, Kaivan mengabaikannya. Matanya tertuju pada Adeline yang berdiri diam, lalu raut wajahnya menjadi agak muram.
Adeline tidak menatap Kaivan. Dia memaksakan seulas senyum pada Carissa dan berujar, "Rissa, ayo pergi. Aku nggak mau berada di sini lagi."
Melihat wajah Adeline yang pucat pasi, hati Carissa pun menegang. "Oke."
Dia berjalan ke arah Adeline, lalu menggenggam tangan Adeline yang dingin dan berjalan keluar. Dalam perjalanan pulang, Adeline menatap ke luar jendela tanpa ekspresi. Entah apa yang sedang dipikirkannya.
Carissa ingin berbicara beberapa kali, tetapi akhirnya menahan diri. Sampai mobil berhenti di lantai bawah gedung apartemen Adeline, dia akhirnya baru berbicara, "Adel ... maaf atas insiden malam ini. Kalau aku nggak bersikap impulsif, masalahnya nggak akan ...."
Adeline menoleh ke arahnya dan menyela, "Ini nggak ada hubungannya denganmu. Aku agak capek hari ini. Aku nggak jamu kamu lagi, ya. Hati-hati waktu pulang."
"Adel ... jangan nakut-nakuti aku. Kamu yang begini malah buat aku takut."
Melihat kekhawatiran di mata Carissa, Adeline ingin tersenyum padanya, tetapi dia merasa tidak sanggup. Jadi, dia terpaksa menggeleng dan berujar, "Aku baik-baik saja. Semuanya akan membaik setelah tidur. Kamu pulang saja, jangan khawatirkan aku."
Setelah berkata begitu, Adeline membuka pintu mobil dan keluar. Dia memandang Carissa menyalakan mesin mobil dan melaju pergi, lalu berbalik dan berjalan masuk ke dalam gedung apartemen.
Setelah pulang, Adeline duduk di sofa cukup lama. Hingga terdengar suara pintu terbuka, dia baru mendongak dengan kaku.
Kaivan berjalan masuk. Lampu di atas kepalanya menyinari wajah tampannya. Dia masih begitu tampan dan memesona, tetapi Adeline merasa asing. Dia pun menunduk dan berhenti menatap Kaivan. Tangannya sedikit terkepal.
Kaivan duduk di hadapannya. Tak seorang pun berbicara untuk beberapa saat sehingga suasananya begitu hening.
Entah berapa lama waktu telah berlalu, Kaivan akhirnya membuka suara, "Adeline, aku bukan sengaja mau berkata begitu di restoran tadi. Jangan dimasukkan ke hati."
Adeline tersenyum sinis. Apakah itu benar-benar tidak sengaja atau Kaivan akhirnya mengungkapkan isi hatinya? Mungkin, hanya Kaivan sendiri yang tahu jelas. Pada saat ini, dia tidak tahu lagi mana kata-kata Kaivan yang serius dan tidak serius.
Melihat Adeline tidak berbicara, Kaivan mengerutkan kening. Tepat saat dia hendak berbicara, telepon di sakunya tiba-tiba berdering. Itu panggilan dari Lesya. Dia ragu sejenak, tetapi tetap memilih untuk menjawabnya.
Entah apa yang dikatakan Lesya, Kaivan menyahut dengan wajah cemberut, "Aku akan segera ke sana."
Seusai menutup telepon dan melihat Adeline menatapnya, Kaivan menggigit bibirnya. "Lesya kecelakaan mobil. Aku harus segera ke sana."
Adeline tersenyum mengejek. "Sudah kecelakaan, dia masih punya energi untuk meneleponmu. Itu benar-benar sulit baginya."
Kaivan mengerutkan kening, lalu teringat apa yang dikatakannya di restoran tadi dan menahan amarah di hatinya. Kemudian, dia berkata dengan sabar, "Adel, nggak ada gunanya kamu permasalahkan detail seperti itu."
Adeline merasa agak lucu. Tunangannya meninggalkannya karena kebohongan buruk wanita lain, tetapi malah memintanya untuk tidak mempermasalahkan detailnya.
Ketika Kaivan berdiri dan hendak pergi, suara Adeline terdengar dari belakangnya.
"Kaivan, asal kamu tinggal di sini, aku akan maafkan kamu."
Langkah kaki Kaivan terhenti dan wajahnya membeku. Dia menoleh ke arah Adeline dan berujar dengan suara berat, "Aku tahu kamu marah atas kejadian malam ini, tapi kecelakaan mobil itu bukan masalah sepele. Ini masalah hidup dan mati. Bisa nggak kamu ...."
Sebelum Kaivan sempat melanjutkan kata-kata "jangan berhati sempit", Adeline dengan tenang memotong, "Aku tahu. Pergilah. Aku cuma bercanda."
Kaivan merasa ada yang tidak beres dengan Adeline malam ini. Dia merasakan kepanikan yang belum pernah dirasakannya sebelumnya.
"Waktu aku kembali, kita baru bahas ulang tanggal pernikahannya."
Kata-katanya ini termasuk hiburan, juga bentuk dari pengalahannya. Akan tetapi, Adeline malah bersikap janggal dan tidak menjawab.
"Kamu pergi saja."
Saat teringat Lesya yang menangis kesakitan di telepon, Kaivan tidak berkata apa-apa lagi. Dia pun berbalik dan segera pergi.
Pintu terbuka dan tertutup kembali, ruang tamu juga kembali sunyi.
Adeline bangkit dan berjalan perlahan menuju kamar. Dia berhenti di depan meja rias, membuka kotak perhiasan, lalu mengambil kalung berlian dari dalamnya tanpa ekspresi dan membuangnya.
Kalung itu adalah kalung termahal yang diberikan Kaivan kepadanya. Alasan kenapa dia sangat menghargainya bukan karena kalung ini yang paling mahal, melainkan karena kalung ini telah menyelamatkan nyawa Kaivan.
Ketika Kaivan kembali dari perjalanan bisnis, dia tidak sengaja melihat kalung ini dan ingin membelinya sebagai hadiah. Namun, dia tidak punya cukup uang tunai saat itu, sedangkan proses transfer uang internasional membutuhkan waktu yang cukup lama. Oleh karena itu, dia pun ketinggalan pesawat untuk pulang.
Tak disangka, pesawat itu malah mengalami masalah di tengah perjalanan dan semua penumpang serta awak pesawat tewas.
Adeline selalu bersyukur Kaivan melihat kalung ini pada saat itu. Jika bukan karena kalung ini, dia pasti sudah kehilangan Kaivan. Namun, setelah kemunculan Lesya, seluruh cintanya pun menjadi lelucon.
Sekarang, hanya tersisa sebuah cincin berlian yang pengerjaannya kasar di kotak perhiasan itu. Cincin berlian ini dibuat sendiri oleh Kaivan di tahun pertama mereka bersama. Ketika Kaivan memberikan cincin ini kepadanya, hal pertama yang dilihatnya bukanlah berlian di atasnya, melainkan tangan Kaivan yang terluka karena memoles cincin itu.
Ketika Kaivan menyematkan cincin itu di jari Adeline, dia berjanji akan menukarnya dengan cincin yang lebih besar dan lebih indah di kemudian hari. Adeline berkata dia tidak akan menukarnya dengan apa pun dan hanya menginginkan yang ini.
Setelahnya, Adeline baru tahu bahwa untuk membeli berlian di atas cincin ini, Kaivan bekerja sebagai kurir selama dua bulan penuh, lalu memoles berliannya sendiri, dan membuatnya menjadi cincin ....
Setelah mendengar ini, Adeline mengatainya bodoh, juga menangis sambil tertawa. Hatinya dipenuhi kepahitan dan haru. Sekarang, setelah dipikir-pikir, jelas-jelas yang bodoh itu dirinya.
Adeline mengambil cincin itu dan perlahan-lahan menyematkannya di jari manisnya. Cincin yang awalnya berukuran pas kini telah menjadi lebih besar satu lingkaran.
Adeline melepas cincin itu dan menatapnya sangat lama. Setelah matanya terasa perih, dia baru menaruhnya kembali. Dia akan memberi sebuah kesempatan lagi kepada Kaivan. Kali ini, sudah benar-benar yang terakhir ....
Bab 7
Adeline terbangun oleh suara pintu terbuka di dini hari. Dia melihat jam beker di samping tempat tidur yang menunjukkan pukul 2.16.
Kaivan bergerak sangat pelan, seolah-olah takut membangunkan Adeline. Yang tidak dia ketahui adalah, sejak Adeline tahu dia berselingkuh, kualitas tidur Adeline menjadi sangat buruk dan dia akan terbangun hanya dengan suara sekecil apa pun.
Namun, sudah tidak ada Adeline di dalam hati Kaivan. Jadi, bagaimana mungkin dia mengetahui hal sekecil ini?
Kebetulan, Adeline tidak ingin menghadapi Kaivan sekarang. Dia pun memejamkan mata dan berpura-pura tidur.
Kaivan membuka lemari, mengambil piamanya, dan pergi mandi. Setelahnya, terdengar suara air yang berangsur-angsur menetes di kamar mandi. Tak lama kemudian, suara air itu berhenti. Pintu kamar mandi terbuka dan terdengar suara langkah kaki datang dari jauh sebelum berhenti di samping tempat tidur.
Meskipun punggungnya menghadap Kaivan, Adeline bisa merasakan Kaivan mengangkat selimut dan berbaring miring. Saat sisi lain ranjang ikut tenggelam, kamar yang gelap ini menjadi sunyi. Begitu sunyi hingga mereka bisa mendengar napas pelan satu sama lain.
Adeline tidak lagi mengantuk dan tidak berhenti menghitung domba dalam benaknya. Dulu, ketika dia tak bisa tidur di malam hari, Kaivan akan membacakan cerita untuk membujuknya tidur. Sesekali, dia juga akan bercerita tentang masa depan.
Kaivan berkata bahwa setelah bisnisnya berhasil, dia akan membawa Adeline pindah ke apartemen dengan kaca jendela yang besar, pernikahan mereka akan digelar di pinggir pantai Maldiva, dan mereka akan memiliki dua anak di masa depan. Paling bagus apabila anak mereka adalah sepasang anak laki-laki dan perempuan ....
Pada saat itu, mereka sangat miskin dan harus tidur berdesakan di ranjang kecil di ruang bawah tanah. Namun, ada banyak hal yang bisa mereka bicarakan. Tidak seperti sekarang, mereka tidak memiliki topik pembicaraan, sedangkan hati mereka juga tidak sejalan lagi meskipun mereka masih tidur di ranjang yang sama.
Jika dipikir-pikir, ini sungguh menyedihkan.
Adeline tidak tahu kapan dirinya tertidur. Ketika dia bangun, waktunya sudah hampir pukul delapan.
Mobil Adeline sedang diperbaiki sehingga dia hanya bisa naik MRT untuk pergi dan pulang bekerja selama seminggu ini. Perjalanan dari rumah ke firma hukum memakan waktu 45 menit. Biasanya, dia bangun pukul 7.20. Hari ini, entah kenapa alarmnya tidak berbunyi.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Adeline keluar dari kamar dan melihat Kaivan yang mengenakan setelan jas sedang duduk sarapan di meja makan. Dia pun tercengang. Dia tidak ingat kapan terakhir kali Kaivan sarapan di rumah.
Melihat Adeline berdiri terpaku di sana, Kaivan berinisiatif untuk berkata, "Ayo sarapan."
Di atas meja, terdapat cakwe dan susu kedelai. Ini merupakan kombinasi favorit Adeline dulu.
Setiap kali mereka bertengkar dulu, Kaivan akan bangun pagi keesokan harinya untuk membuat cakwe dan susu kedelai. Setelah itu, dia akan membangunkan Adeline untuk sarapan.
Cakwe yang dibuatnya berbeda bentuk dengan cakwe panjang yang dijual di luar. Yang dia buat semuanya berbentuk hati. Setiap kali melihat cakwe berbentuk hati itu, amarah Adeline akan langsung hilang.
Namun, sejak berselingkuh, Kaivan tidak pernah melakukannya lagi. Sebab, setelah bertengkar, dia biasanya akan membanting pintu dan meninggalkan Adeline sendirian sampai Adeline berinisiatif untuk mengajak berdamai.
Adeline mengira Kaivan sudah lama melupakan hal ini. Ternyata, Kaivan tidak melupakannya. Hanya saja, dia terlalu malas untuk menghiburnya seperti dulu.
Hal yang paling mudah berubah di dunia ini sebenarnya adalah hati manusia.
"Nggak deh, aku sudah hampir terlambat masuk kerja."
"Aku akan mengantarmu pergi seusai makan."
Adeline terdiam dan merasa ragu untuk sejenak. Kemudian, dia berbalik dan berjalan menuju ruang makan. Begitu dia duduk, Kaivan meletakkan cakwe berbentuk hati di piringnya.
"Sudah lama aku nggak membuatnya. Cobalah dan lihat apa keterampilan memasakku menurun atau nggak."
Adeline menunduk dan menatap cakwe di piringnya sejenak sebelum mengambil dan menggigitnya. Cakwe itu terasa lembut dan rasanya masih sama. Hanya saja, karena pola makannya yang tidak teratur selama beberapa tahun terakhir, lambungnya menjadi lemah. Makanan seperti ini terlalu berminyak untuknya.
Melihat Adeline meletakkan cakwe itu setelah hanya satu gigitan, Kaivan pun mengerutkan kening. "Rasanya aneh, ya?"
Adeline menggeleng. "Nggak, enak kok. Tapi, aku nggak suka makan makanan yang berminyak lagi sekarang."
Tangan Kaivan yang memegang garpu mengerat dan seluruh ruang makan menjadi hening. Setelah beberapa saat, dia meletakkan garpunya.
"Jangan makan kalau terlalu berminyak. Aku akan antar kamu ke kantor dan belikan sedikit makanan untukmu dalam perjalanan nanti."
"Oke."
Baru saja mereka tiba di tempat parkir bawah tanah, ponsel Kaivan mulai berdering. Dia menolak panggilan itu beberapa kali, tetapi orang yang menelepon sangat gigih dan tidak berhenti menelepon. Adeline bahkan tidak perlu melihat untuk tahu bahwa itu adalah Lesya.
"Angkatlah, mungkin ada sesuatu yang mendesak."
Kaivan menoleh untuk melirik Adeline dan mengerutkan kening. Namun, Adeline tidak menatapnya, melainkan hanya menunduk menatap ujung sepatunya.
Ponsel masih berdering dan Kaivan akhirnya menjawabnya.
Terdengar isak tangis pelan dan suara perempuan yang terputus-putus dari ujung telepon, tetapi Adeline tidak mendengarnya dengan jelas. Namun, setelah mengakhiri panggilan telepon, raut wajah Kaivan menjadi jauh lebih buruk.
"Sudah terjadi sesuatu pada Lesya. Kamu naik taksi saja sendiri. Aku nggak mengantarmu lagi."
Setelah mengatakan itu dan tanpa menunggu Adeline menjawab, Kaivan berjalan cepat menuju mobilnya. Baginya, Adeline yang memakan cakwe buatannya pagi ini setara dengan sudah memaafkan perkataannya semalam. Wajar saja dia tidak ingin lanjut membuang-buang waktu untuk Adeline.
Melihat punggung Kaivan yang menghilang dengan cepat dari pandangan, di luar dugaan, Adeline malah merasa tenang. Ternyata ketika seseorang sudah tidak menaruh ekspektasi terhadap orang lain, dia tidak akan merasa terlalu sedih.
Waktu sudah menunjukkan pukul 09.16 ketika taksi yang ditumpangi Adeline tiba di lantai bawah firma hukum. Begitu melangkah masuk, Adeline menyadari rekan-rekannya menatapnya dengan iba. Mungkin karena mereka semua tahu apa yang terjadi di restoran semalam.
Adeline menunduk dan berjalan ke meja kerjanya tanpa ekspresi. Kemudian, dia duduk dan mulai bekerja. Tepat setelah memproses sebuah berkas, ponselnya berbunyi dan Carissa mengirimkan sebuah foto. Tepatnya, itu adalah foto Kaivan yang sedang duduk di samping tempat tidur dan menyuapi Lesya makan bubur.
Meskipun foto itu hanya menunjukkan samping wajah Kaivan, dapat dilihat bahwa dia sedang tersenyum dan menatap Lesya dengan penuh kasih sayang. Lesya juga menatapnya dan cinta di matanya hampir meluap. Cahaya matahari dari jendela menyinari mereka sehingga suasananya terlihat hangat dan harmonis.
Kaivan tidak punya waktu untuk mengantar Adeline ke tempat kerja, tetapi punya waktu untuk pergi ke rumah sakit demi menemani wanita lain dan menyuapinya bubur. Sebenarnya, mudah untuk mengetahui apakah Kaivan mencintai seseorang atau tidak. Hanya saja, Adeline selalu menolak untuk mengakuinya dan memilih untuk mempertahankan kedamaian seperti ini.
Jari-jari Adeline yang memegang ponsel mengerat. Setelah waktu yang cukup lama, dia baru membalas pesan Carissa.
[ Pengambilan fotonya bagus juga. ]
Layar menunjukkan bahwa Carissa mengetik cukup lama, tetapi akhirnya hanya mengirim elipsis.
Adeline tidak membalas lagi. Dia membalikkan ponselnya di atas meja dan mulai bekerja. Saat hendak menulis materi, rekan kerja di meja sebelahnya tiba-tiba berseru, "Bu Adeline, cepat lihat X!"
Gerakan Adeline yang sedang mengetik di keyboard terhenti sejenak. Dia menoleh dan bertanya, "Ada apa?"
Rekan kerja itu terlihat agak serbasalah. Dia menjawab, "Kamu akan tahu begitu melihatnya."
Adeline mengambil ponselnya, lalu membuka X. Pencarian populer yang menduduki peringkat pertama pun muncul di layarnya.
[ Romansa Presdir Nusa Tech ]
Setelah mengklik tautan itu, yang keluar adalah foto Kaivan yang sedang menyuapi Lesya makan bubur, seperti yang baru saja dikirim Carissa. Komentar-komentar di bawahnya penuh dengan ucapan selamat.
[ Perpaduan pria tampan dan wanita cantik sungguh memanjakan mata! ]
[ Gadis itu sekretarisnya Pak Kaivan. Hubungan mereka benar-benar mirip novel presdir mendominasi yang jatuh cinta pada orang awam! ]
[ Kapan cinta semanis ini akan datang padaku? Aku juga butuh presdir mendominasi untuk menyuapiku makan bubur waktu aku sakit! ]
...
Sangat jelas bahwa semua orang mengira Lesya adalah pacar Kaivan.
Kaivan tidak pernah mempublikasikan hubungannya dengan Adeline ke dunia luar. Selama beberapa tahun terakhir, selain teman-teman dekat Kaivan, hanya sedikit orang yang tahu bahwa mereka bersama. Jadi, di mata orang lain, dia selalu adalah seorang pria lajang ideal.
Bab 8
Sekarang, setelah foto dirinya dan Lesya tersebar, Lesya tentu saja menempati posisi pacar resmi Kaivan.
Jika itu dulu, Adeline pasti akan menelepon Kaivan untuk mempertanyakannya dan memintanya untuk segera mengklarifikasi hal ini. Sekarang, dia ingin melihat apa yang akan Kaivan lakukan jika dia tidak membuat keributan. Apa Kaivan akan membiarkan rumor ini menyebar luas atau keluar untuk mengklarifikasinya?
Adeline meletakkan ponselnya seolah-olah tidak terjadi apa-apa, lalu melanjutkan pekerjaannya. Awalnya, dia mengira dirinya tidak akan bisa fokus bekerja hari ini. Tak disangka, selain tidak terpengaruh oleh kejadian ini, dia juga menyelesaikan pekerjaannya dengan sangat baik.
Ketika hampir waktunya pulang kerja, Adeline membuka X. Pencarian populer pagi ini telah dihapus sepenuhnya. Baik akun pribadi Kaivan maupun akun resmi Nusa Tech tidak mengeluarkan pernyataan yang relevan.
Kaivan tidak mungkin tidak tahu bahwa tidak mengklarifikasi rumor itu setara dengan mengiakannya secara diam. Selain itu, meskipun hubungan Adeline dengan Kaivan tidak diumumkan secara resmi, tetap ada beberapa orang yang mengetahuinya.
Tidak mengklarifikasi sekarang sama saja dengan mengubur ranjau untuk perusahaan Kaivan. Begitu ranjau ini meledak, itu pasti akan berdampak buruk pada citra perusahaannya. Namun, demi Lesya, dia tidak peduli dengan konsekuensi yang mungkin terjadi.
Hanya saja, Adeline tidak terkejut dengan akhir seperti ini. Dia bahkan sudah menduganya. Ini sama membosankannya dengan bisa langsung menebak akhir cerita padahal baru mulai menonton sebuah film.
Selain itu, Adeline akhirnya bisa menerima kenyataan bahwa dirinya telah lama menjadi seseorang yang tak berarti di hati Kaivan, yang juga bisa dihapus sesuka hatinya. Kaivan bahkan tidak mengakuinya sebagai pacar.
Adeline dengan tenang menyimpan ponsel dan mematikan komputer, lalu bangkit untuk pergi.
Mereka berdua melanjutkan hidup seperti sebelum Kaivan membawa Lesya ke Maldiva. Namun, kali ini Adeline tidak lagi mengungkit tentang pernikahan di hadapan Kaivan. Adeline tidak mengungkitnya, sedangkan Kaivan juga malas mengungkitnya dan bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi.
Selain foto Kaivan yang menyuapi Lesya makan bubur, tidak ada lagi rumor yang beredar di internet. Beberapa karyawan yang mengaku bekerja di Nusa Tech sering diam-diam mengungkapkan bahwa Kaivan sangat memanjakan Lesya. Selain mengantar jemput Lesya bekerja setiap hari, Kaivan juga sering memberinya berbagai barang mewah dan tas.
Hal-hal ini saja sudah cukup untuk membuat netizen berimajinasi tanpa henti.
Adeline menerima dua kasus dan begitu sibuk hingga tidak menyadari bahwa rumor yang ditimbulkan foto tersebut masih bergolak. Rekan-rekan lain di firma hukum mengetahuinya, tetapi tidak berani membicarakannya di depan Adeline.
Pada Jumat malam, Adeline sibuk hingga pukul enam sore dan akhirnya menyelesaikan materi sidang. Ketika meregangkan badan dan hendak pulang kerja, ponselnya tiba-tiba berdering.
Melihat yang menelepon adalah Kaivan, Adeline ragu sejenak sebelum menjawab, "Ada apa?"
Kaivan sudah agak tidak sabar. Dia berkata dengan suara rendah dan menekan rasa kesal, "Ibuku suruh kita pulang untuk makan malam bersama. Aku sudah tunggu di bawah perusahaanmu."
Adeline tanpa sadar mengeratkan genggamannya pada ponsel. Setelah beberapa saat, dia menjawab, "Oke."
Sepuluh menit kemudian, Adeline masuk ke mobil Kaivan. Ekspresinya terlihat agak dingin. Suasana hatinya jelas sedang tidak bagus.
Setelah sibuk seharian, Adeline sangat lelah. Dia tidak tertarik untuk bertanya kenapa suasana hati Kaivan buruk. Dia hanya bersandar di kursi dan segera tertidur. Namun, tidurnya tidak lelap. Dia langsung terbangun begitu mobil Kaivan berhenti di bawah gedung apartemen Prisa Candika, ibunya Kaivan.
"Aku mau pergi beli buah. Kamu naik saja dulu."
Kaivan tidak menyahut, sedangkan Adeline juga tidak menantikan tanggapan dari Kaivan. Jadi, dia membuka pintu mobil dan langsung pergi.
Ada sebuah toko buah di pintu masuk gedung apartemen tempat Prisa tinggal. Adeline memilih beberapa macam buah kesukaan Prisa, lalu membayarnya dan berjalan pulang.
Kaivan masih belum naik, melainkan bersandar di pintu pengemudi sambil merokok. Di bawah nyala api rokok yang sesekali menyala dan meredup, raut wajahnya terlihat kabur.
Adeline berhenti sejenak, lalu mengalihkan pandangannya dengan tenang.
Setelah mendengar suara langkah kaki, Kaivan pun mematikan rokoknya dan melirik Adeline. Kemudian, dia baru berbalik dan masuk ke gedung apartemen.
Mereka berjalan dalam diam sampai ke depan pintu rumah Prisa. Sebelum mengetuk pintu, Kaivan menoleh ke arah Adeline dan berkata tanpa ekspresi, "Ibuku sudah lihat fotoku dengan Lesya di internet. Kalau nanti dia tanya lagi, kamu bilang saja itu palsu."
"Kamu minta aku datang kemari hari ini karena mau aku bantu kamu bohongi Bibi Prisa?"
Kaivan mengangkat alisnya dan bertanya balik dengan acuh tak acuh, "Kalau nggak?"
Sambil berbicara, dia tiba-tiba mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke Adeline. Raut wajahnya penuh dengan ejekan. "Adeline, jangan bilang kamu masih harapkan sesuatu yang mustahil dariku?"
Adeline mengepalkan tangannya dengan erat. Pegangan kantong plastik menempel erat ke kulitnya hingga membuat jari-jarinya terasa sakit. Rasa sakit itu seakan-akan menjalar dari jari-jarinya ke jantung sehingga bahkan jantungnya juga terasa nyeri.
Ketika keduanya terdiam, pintu di belakang Kaivan tiba-tiba terbuka dan terdengar suara Prisa.
"Kenapa kalian nggak ketuk pintu kalau sudah sampai? Cepat masuk! Makanannya sudah siap."
Kaivan berbalik dan terlebih dahulu berjalan masuk. Sementara itu, Adeline menggigit bibirnya dan mengikutinya berjalan masuk.
Prisa mengambil buah dari tangan Adeline dan berkata sambil tersenyum, "Kita akan segera jadi keluarga, buat apa kamu masih bawakan sesuatu waktu datang makan bersama?"
Adeline yang sedang mengganti sepatunya tertegun sejenak. Sepertinya, Kaivan belum memberi tahu Prisa tentang penundaan pernikahan mereka. Dia menatap Prisa dan menjawab sambil tersenyum, "Bibi, itu cuma sedikit buah kok."
"Iya. Tapi lain kali kamu datang, nggak usah beli apa-apa lagi. Ayo cuci tangan dulu. Habis itu, kita mulai makan."
Adeline mengangguk, tetapi malah diam-diam berpikir entah apakah dia masih punya kesempatan untuk datang lagi kelak.
Selama makan, Prisa tidak berhenti bertanya kepada Adeline dan Kaivan tentang persiapan pernikahan serta apakah mereka butuh bantuan.
Kaivan yang sudah kesal mendengar pertanyaan-pertanyaan itu pun menjawab dengan dingin, "Ibu, ini urusanku dan Adeline. Kamu nggak perlu khawatir."
Sejak melihat foto Kaivan bersama sekretarisnya, Prisa terus menahan amarahnya. Namun, begitu melihat ekspresi tidak sabar Kaivan, dia tidak berencana untuk menahannya lagi.
Prisa membanting sendoknya ke atas meja dan berseru marah, "Oke, aku nggak akan khawatir tentang masalah pernikahan. Kalau begitu, katakan padaku, apa yang terjadi antara kamu dan sekretarismu itu? Kamu akan segera menikah, tapi rumormu dan sekretarismu malah begitu heboh. Coba bilang, apa sebenarnya maumu!"
Suasana di dalam ruang makan seketika menjadi hening. Adeline meletakkan sendoknya tanpa suara, tetapi tidak berniat untuk menggantikan Kaivan menjelaskannya. Kaivan memang telah berselingkuh dan Adeline tidak punya kewajiban, juga tidak ingin menutupinya.
Kaivan melirik Adeline yang bersikap seolah-olah hal ini tidak berhubungan dengannya, lalu mencibir, "Ya seperti apa yang Ibu lihat. Kalau Ibu merasa kami cukup serasi, aku akan bawa dia kembali lain kali untuk temui Ibu."
Prisa sangat marah hingga wajahnya memerah. Dia mengangkat kepalanya dan langsung menampar Kaivan.
"Kaivan, apa kamu masih bisa disebut laki-laki? Waktu kamu baru mau memulai bisnismu, kamu nggak punya uang dan Adeline-lah yang tinggal bersamamu di ruang bawah tanah. Sekarang, mentang-mentang kamu sudah bisa hasilkan sedikit uang, kamu rasa dirimu sudah hebat?
"Kenapa sekretarismu itu bersamamu sekarang? Bukannya karena kamu sudah kaya? Kalau kamu masih semiskin dulu, menurutmu dia akan melirikmu!"
Bab 9
Dada Prisa naik turun dengan hebat karena marah. Saat menatap Kaivan, matanya dipenuhi kekecewaan.
Kaivan yang wajahnya terdapat bekas tamparan menatap Prisa dan menyahut, "Yang Ibu bilang benar. Aku bersyukur nggak bertemu dengannya waktu aku miskin. Kalau nggak, dia harus ikut menderita bersamaku."
Begitu mendengar suara itu, Adeline langsung mengepalkan tangannya. Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari hati ke seluruh tubuhnya. Semua kata-kata menyakitkan yang pernah diucapkan Kaivan sebelumnya tidak semenohok kata-kata ini.
Kaivan merasa kasihan pada Lesya dan takut Lesya akan menderita bersamanya. Lalu, bagaimana dengan tahun-tahun yang telah Adeline habiskan bersamanya?
'Adeline, oh Adeline, pria ini bahkan tidak ragu untuk menyakitimu. Apa kamu masih nggak mau sadar?' gumam Adeline dalam hati.
Prisa melirik Adeline dan melihat wajah pucat nan sedih Adeline. "Adeline, dia cuma ngomong kata-kata marah. Jangan dianggap serius, ya. Aku akan bantu kamu kasih pelajaran ...."
"Bibi Prisa."
Adeline menatapnya dan berujar dengan tenang, "Kamu nggak perlu menjelaskannya, aku tahu ucapannya itu tulus. Aku selalu ingin jadi menantumu, tapi sekarang, aku rasa kesempatan itu sudah melayang. Mengenai pernikahannya ... sebaiknya kita batalkan saja. Aku sudah kenyang, terima kasih untuk makan malamnya."
Adeline berdiri sambil mengambil tasnya, lalu berbalik tanpa menatap Kaivan lagi.
Prisa memelototi Kaivan yang tidak bergerak. "Kenapa kamu masih nggak mengejarnya! Sudah kubilang, aku cuma akan akui Adeline sebagai menantuku. Kalau kamu nggak mengejarnya kembali, jangan akui aku sebagai ibumu lagi!"
Saat pintu tertutup, Adeline dengan jelas mendengar suara Kaivan dari belakangnya. "Ibu, aku sudah nggak mencintainya lagi. Kenapa Ibu ngotot aku menikahinya? Kalaupun kami menikah, aku juga nggak akan putus dengan Lesya."
"Lagian, aku sudah bersama Lesya selama tiga tahun. Tapi, dia tetap menolak untuk putus dan berusaha keras menikahiku. Apa Ibu pikir dia benar-benar ingin batalkan pernikahan ini? Tadi, dia cuma mau ngancam Ibu. Jangan khawatir, dia itu macam plester paling lengket di dunia. Nggak peduli sebesar apa pun usahamu untuk menyingkirkannya, dia tetap nggak akan pergi!"
Suara Kaivan penuh dengan penghinaan dan ejekan, seolah-olah dia sangat yakin bahwa Adeline tidak akan pernah meninggalkannya. Itulah alasan kenapa dia menyakiti Adeline tanpa ragu dan khawatir.
Adeline mengedipkan matanya yang terasa panas dan pergi tanpa menoleh lagi. Kali ini, dia sudah membulatkan tekad untuk menyerah soal Kaivan. Dia telah berusaha keras menyelamatkan hubungan yang hancur ini. Jadi, tidak ada yang perlu disesalinya lagi setelah meninggalkan Kaivan.
Suasana di ruang makan masih sangat tegang.
Prisa menunjuk Kaivan dengan gemetar karena marah. "Apa itu ucapan yang layak dilontarkan seorang manusia! Kalau bukan karena Adeline, memangnya kamu bisa punya kesuksesan hari ini? Kamu sudah injak-injak ketulusan Adeline seperti ini. Kalau suatu hari nanti dia benar-benar putuskan untuk meninggalkanmu, percuma saja kamu menyesalinya!"
Ekspresi Kaivan terlihat dingin. "Kalau dia benar-benar pergi, aku pasti akan berterima kasih padanya karena akhirnya bersedia melepaskanku. Lagian, aku mencapai semua ini berkat usahaku sendiri. Tanpa dia, aku juga tetap bisa sukses."
Adeline memang sudah menemaninya di titik terendah hidupnya. Akan tetapi, Kaivan tidak pernah memperlakukannya dengan buruk setelah bisnisnya sukses. Dari semua hadiah yang dia berikan kepada Adeline sekarang, mana ada yang nilainya bukan ratusan atau bahkan miliaran? Memangnya Adeline mampu membeli barang-barang mewah itu dengan uangnya sendiri?
Kaivan merasa bahwa dirinya tidak berutang apa pun pada Adeline.
"Iya, iya. Sekarang, kamu sudah hebat dan adalah bos perusahaan besar. Kamu juga nggak bersedia dengar nasihatku lagi. Kalau begitu, kamu juga nggak perlu akui aku sebagai ibumu lagi!"
Melihat Prisa yang begitu marah, Kaivan pun berdiri dan berujar, "Ibu, sekarang kamu lagi marah. Aku nggak mau bertengkar denganmu. Sampai kamu sudah tenang, aku akan datang menemuimu lagi."
"Begitu kamu keluar dari pintu ini hari ini, aku nggak akan lagi mengakuimu sebagai anakku!"
Langkah Kaivan pun terhenti. Setelah terdiam sejenak, dia membuka pintu dan berjalan pergi.
Setelah meninggalkan Prisa, Kaivan langsung pergi menemui Lesya. Begitu membuka pintu, mata Lesya berkilat terkejut dan dia langsung melempar diri ke pelukan Kaivan. "Pak Kaivan, kok kamu ada di sini?"
Kaivan menangkapnya, lalu memeluk pinggangnya dan menciumnya. Seusai berciuman, Kaivan mencubit pinggangnya yang lembut dan berkata, "Aku merindukanmu, makanya aku datang kemari."
Lesya tersipu dan mengulurkan tangan untuk memukulnya. Tiba-tiba, dia melihat bekas tamparan di wajah Kaivan dan raut wajahnya langsung berubah. Dia segera menarik diri dari pelukannya dan bertanya, "Pak Kaivan, siapa yang tampar kamu? Bu Adeline?"
Saat berbicara, Lesya juga berlinang air mata dan merasa sakit hati.
Kaivan menggeleng. "Bukan."
Lesya mengulurkan tangan untuk menyentuh wajahnya, tetapi takut melukainya. "Sakit? Aku oleskan obat, ya."
Dia berbalik untuk mencari kotak obat, tetapi ditarik kembali ke pelukan pria itu. "Nggak perlu oles obat. Begitu kamu menciumnya, aku nggak akan sakit lagi."
"Ah, kamu ini!"
Tatapan genit Lesya membuat Kaivan tergoda lagi. Dia pun langsung menggendong Lesya ke sofa, lalu suara penuh gairah segera menggema di ruang tamu.
...
Keesokan malamnya, Adeline yang baru saja keluar dari firma hukum melihat Prisa berdiri tak jauh dari pintu. Dia tidak mengenakan pakaian yang tebal, sedangkan angin bertiup kencang dan wajahnya sudah pucat karena kedinginan. Begitu melihat Adeline, dia segera tersenyum dan bergegas menghampiri Adeline.
"Adeline, Bibi mau bicara sama kamu."
Prisa selalu bersikap baik pada Adeline. Melihat wajahnya yang pucat karena kedinginan, hati Adeline pun melunak dan dia menyahut, "Ada kafe di sebelah. Ayo kita duduk di sana saja."
Melihat Adeline tidak menolak untuk berbicara dengannya, Prisa menghela napas lega dan buru-buru menjawab, "Oke."
Keduanya berjalan masuk ke kafe dan duduk di dekat jendela. Adeline memesan secangkir kopi dan secangkir susu hangat. Kemudian, dia menyodorkan susu hangat itu ke hadapan Prisa. "Bibi, minumlah yang hangat-hangat."
"Oke."
Prisa menyesap susunya dan terlihat agak malu.
Adeline tahu tujuan kedatangan Prisa, yang tak lain adalah membujuknya untuk memaafkan Kaivan. Namun, hubungan mereka benar-benar telah berakhir dan dia juga tidak berniat untuk berpaling lagi. Dia pun tidak mengatakan apa-apa dan hanya menunduk sambil menyesap kopi di cangkirnya.
Melihat tampang Adeline yang patuh, Prisa kembali merasa sedih dan bersalah. "Adeline, kamu seharusnya tahu tujuan Bibi datang kemari hari ini."
Adeline mengangguk. "Bibi, kamu nggak perlu ngomong lagi. Aku dan dia memang nggak ditakdirkan untuk bersama. Aku juga nggak mau memaksakannya."
Melihat ekspresi Adeline yang tenang, Prisa merasa sedikit panik dan buru-buru meraih tangannya.
"Kamu sudah bersama Kai selama bertahun-tahun dan aku hargai semua pengorbananmu. Aku juga sudah menganggapmu sebagai putriku sejak lama. Demi aku, kasih Kai kesempatan kedua, ya?"
Adeline merasa agak tidak berdaya, "Bibi, sesuatu yang dipaksakan itu nggak akan berakhir baik."
Kini, dia dan Kaivan sama-sama tidak ingin menikah. Jika memaksa untuk bersama, mereka akan menjadi pasangan yang saling membenci.
Prisa menggeleng. "Kai cuma lagi tersesat. Setelah sadar, dia akan mengerti kamu barulah orang yang paling cocok dengannya. Adeline, Bibi pernah selamatkan nyawamu. Anggap saja ini balas jasa, kamu kasih Kai satu kesempatan lagi, ya? Ini yang terakhir kalinya. Soal sekretarisnya, aku akan suruh dia tangani hal itu sebelum kalian menikah."
Prisa tidak pernah menyangka ada hari di mana dirinya akan memanfaatkan jasanya menyelamatkan nyawa Adeline untuk memaksa Adeline memberi Kaivan sebuah kesempatan. Dia tahu tindakannya agak keterlaluan, tetapi dia benar-benar tidak ingin Kaivan melewatkan gadis sebaik Adeline.
Adeline menunduk. Prisa memang pernah menyelamatkan nyawanya empat tahun lalu.
Saat itu, Adeline baru saja mulai bekerja di firma hukum dan bekerja lembur hingga pukul 12 malam setiap hari. Suatu hari sepulang kerja, dia yang kelelahan salah melihat tanda lampu lalu lintas. Dia pun melangkah maju dengan linglung dan tidak melihat sebuah truk besar melaju ke arahnya.
Di saat kritis, Prisa yang datang membawakan sup untuknya langsung menariknya kembali. Keduanya jatuh ke lantai dan truk besar itu melaju kencang melewati mereka.
Demi menyelamatkannya, Prisa pun mengalami patah tulang kaki dan dirawat di rumah sakit selama sebulan. Setelah keluar dari rumah sakit, dia tidak mau lagi membiarkan Adeline pulang kerja sendirian. Jadi, dia meminta Kaivan untuk menjemputnya setiap hari.
Sebelum Lesya muncul, Kaivan memang menjemputnya setiap hari. Pertama kali Kaivan tidak menjemputnya adalah di sebuah hari hujan. Kaivan bilang dirinya sedang rapat di perusahaan dan tidak bisa menarik diri. Dia pun meminta Adeline untuk pulang dengan naik taksi.
Setelahnya, Adeline baru tahu bahwa kaki Lesya tidak sengaja terkilir pada hari itu dan Kaivan tidak ingin Lesya berdesakan di dalam bus. Jadi, Kaivan berbohong padanya. Sekali terjadi, maka akan ada yang kedua kali, ketiga kali, dan seterusnya.
Retakan di antara mereka terasa bagaikan bola salju yang menggelinding makin besar dan akhirnya menjadi jurang yang tak terjembatani. Adeline berada di sisi ini, sedangkan Kaivan berada di sisi lain. Jalan mereka sudah berbeda sejak awal.
Adeline berhenti mengenang hal itu, lalu menatap Prisa yang memandangnya dengan penuh harap, "Bibi, meski aku memberinya kesempatan lagi, itu juga percuma saja. Kami memang sudah ditakdirkan untuk berpisah."
Bab 10
Melihat cinta Kaivan terhadap Lesya, Adeline tak bisa lagi membohongi dirinya sendiri. Perasaannya terhadap Kaivan telah terkikis oleh drama yang berulang kali terjadi selama beberapa tahun terakhir. Kini, itu tidak cukup lagi menjadi alasannya untuk lanjut bertahan.
"Nggak kok!" Prisa berkata dengan tegas, "Beri dia sebuah kesempatan lagi. Kalau kali ini dia masih mengecewakanmu seperti sebelumnya, aku juga nggak akan membujukmu lagi. Kali ini, anggap saja aku pakai jasaku menyelamatkanmu dulu untuk gantikan Kai memohon padamu. Oke?"
Adeline menghela napas dalam hati. Sebenarnya, yang dilakukan Prisa hanyalah menunda waktunya putus dengan Kaivan, tetapi hasilnya akan tetap sama. Bagaimana mungkin dua orang yang tidak saling mencintai mampu melanjutkan perjalanan hidup bersama?
Di bawah tatapan memohon Prisa, Adeline akhirnya mengangguk. "Baiklah. Bibi, aku janji, kalau Kaivan bisa putus sama Lesya dalam waktu sebulan, aku akan memaafkannya."
Adeline memang berkata begitu, tetapi dia tahu jelas bahwa Kaivan tidak akan pernah menyerah soal Lesya demi dirinya.
Melihat Adeline setuju, Prisa akhirnya menghela napas lega dan segera mengeluarkan gelang yang dibawanya dari dalam tas.
"Ini peninggalan nenek Kai untukku. Aku nggak punya barang berharga. Ini hadiah pernikahanku untukmu. Kamu jangan keberatan, ya."
Gelang giok itu terlihat mengilap di bawah cahaya dan terlihat sangat mahal.
Adeline mendorong gelang giok itu kembali ke hadapan Prisa dan berujar, "Bibi, ini terlalu mahal. Aku nggak bisa menerimanya."
"Ini nggak mahal kok, cuma sebuah gelang."
Adeline menggeleng dan bersikeras tidak menerimanya. Jadi, Prisa terpaksa menyerah. Setelah mengantar Prisa masuk ke taksi, Adeline pun pulang.
Entah apa yang Prisa lakukan, Kaivan pulang ke rumah selama beberapa hari berturut-turut. Namun, saat menghadapi Adeline, dia pada dasarnya hanya memasang wajah dingin dan tidak berinisiatif untuk berbicara dengan Adeline. Lesya sepertinya tidak berhenti meneleponnya, tetapi Kaivan tidak menjawab satu pun telepon itu untuk yang pertama kalinya.
Adeline tidak tahu kenapa Kaivan tiba-tiba berubah, tetapi juga tidak peduli. Setiap harinya, dia mengabaikan keberadaan Kaivan. Setelah melewati bulan ini, dia termasuk sudah membalas budi atas pertolongan Prisa dulu dan akan bebas.
Adeline tidak pernah menyangka bahwa di hari dirinya siap meninggalkan Kaivan, dia akan merasa seperti sudah terlepas dari beban. Tanpa berpikir panjang, dia menenangkan diri dan lanjut membaca dokumen-dokumennya.
Di akhir pekan, Prisa datang untuk membahas masalah pernikahan mereka. Setelah mengetahui bahwa Kaivan dan Adeline sudah kehilangan minat untuk mengurusnya, dia pun mengambil alih untuk menanganinya.
Adeline dan Kaivan duduk di ujung kedua sisi sofa. Yang satu di sisi kiri, sedangkan yang satu lagi di sisi kanan. Mereka terpisah oleh jarak yang sangat jelas. Dibandingkan dengan pasangan pengantin baru yang akan menikah, mereka lebih mirip seperti pasangan yang akan bercerai karena hubungan yang sudah retak.
Prisa duduk di hadapan mereka dan menunjukkan beberapa sampel undangan yang telah dipilihnya. Kaivan langsung menunjuk undangan yang paling kampungan dengan ekspresi acuh tak acuh.
"Yang di pojok kiri atas saja."
Adeline melirik undangan itu. Model undangannya sudah ketinggalan zaman dan hanya ada sebuah kata "undangan" tanpa hiasan apa pun. Undangan itu pada dasarnya lebih disukai oleh orang dari generasi yang lebih tua. Semua undangan lainnya lebih cantik daripada yang dipilih Kaivan itu.
Prisa memelototi Kaivan dan menatap Adeline. "Adeline, kamu suka yang mana? Kita pilih saja yang kamu sukai."
Melihat tampang Prisa yang antusias, Adeline benar-benar ingin menyuruhnya untuk tidak perlu bersikap begitu. Bagaimana mungkin dia dan Kaivan menikah seolah-olah tidak terjadi apa-apa?
Setelah ragu sejenak, dia akhirnya mengurungkan niatnya. Bagaimanapun juga, dia telah berjanji pada Prisa untuk memberi sebuah kesempatan lagi kepada satu sama lain. Pada saat ini, dia akhirnya mengerti bagaimana rasanya dipaksa melakukan sesuatu yang tidak diinginkannya.
"Bibi, kita pilih yang dia pilih saja."
Prisa tersenyum dan mengangguk. "Oke. Kalau begitu, yang ini ya."
Setelah membahas tentang kotak suvenir dengan mereka berdua, Prisa baru merasa puas dan pulang. Begitu dia pergi, ruang tamu langsung hening kembali.
Adeline melirik jam. Waktunya sudah lebih dari pukul sepuluh malam. Ada kasus yang harus disidangkan besok pagi. Meskipun sudah menyiapkan segala sesuatu, dia memiliki kebiasaan untuk memeriksa sekali lagi untuk merasa tenang.
Saat Adeline bangkit dan hendak berjalan menuju kamar, suara dingin Kaivan tiba-tiba terdengar dari ruang tamu.
"Adeline, menikah dengan pria yang nggak mencintaimu sama seperti menjanda seumur hidup. Apa kamu yakin ini hidup yang kamu inginkan?"
Adeline menghentikan langkahnya dan menatap Kaivan. "Kaivan, kalau kamu nggak mau nikah, silakan kasih tahu Bibi Prisa secara langsung."
Kaivan pun murka dan menatap Adeline lekat-lekat. Dia menyahut sambil tersenyum sinis, "Oke. Jangan nyesal kamu!"
Adeline tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia langsung masuk ke kamar, lalu mengunci pintu. Meskipun Kaivan tinggal di rumah selama beberapa hari terakhir, mereka selalu tidur terpisah. Adeline tidur di kamar, sedangkan Kaivan tidur di sofa ruang tamu.
Setelah memeriksa materi sidang dan memastikan tidak ada masalah, Adeline membereskan semua dokumen itu dan memasukkannya ke dalam tas kerja. Kemudian, dia mengambil piama dan pergi mandi sebelum tidur.
Keesokan paginya, setelah menyikat gigi dan mencuci wajah, Adeline keluar dari kamar dengan membawa tas kerjanya. Sosok Kaivan sudah tidak terlihat di sofa ruang tamu.
Sidang pagi ini berjalan lancar. Materi dan bukti yang diajukan Adeline relatif lengkap sehingga sidang pertama berakhir dengan cepat. Masih ada waktu sebelum putusan diumumkan. Jika semuanya berjalan lancar, Adeline seharusnya bisa memenangkan sidang ini.
Baru saja Adeline keluar dari ruang sidang dan hendak pergi, seseorang tiba-tiba menghampirinya. Dia pun terkejut dan mundur dua langkah sebelum menyadari bahwa itu adalah Lesya.
Mata Lesya terlihat merah dan bengkak, sedangkan wajahnya agak lesu. Dia menatap Adeline dengan marah.
"Adeline, apa yang sudah kamu lakukan? Kenapa Pak Kaivan nggak menjawab teleponku akhir-akhir ini dan bersikap dingin padaku di kantor?"
Nada bertanya Lesya membuat Adeline kesal. Dia pun menjawab dengan dingin, "Kamu seharusnya tanya pada Kaivan, bukan aku."
"Pasti kamu dalangnya! Sekarang, Pak Kaivan mencintaiku. Meski kamu pakai tipu daya untuk membuatnya mengabaikanku sementara, dia nggak akan bisa jatuh cinta padamu lagi!"
Adeline mengencangkan genggamannya pada tas kerja dan mengangguk dengan tenang. "Kalau begitu, berusahalah untuk membuatnya kembali padamu sesegera mungkin."
Lesya terlihat kesal dan merasa Adeline sedang mengejeknya.
"Kesombonganmu ini nggak akan bertahan lama!" Seusai berbicara, Lesya pun pergi dengan marah.
Adeline menatap punggung Lesya tanpa ekspresi. Sangat jelas bahwa Kaivan sangat memanjakannya. Jika tidak, Lesya tidak akan berani menemuinya dan memprovokasinya.
Adeline mengalihkan pandangannya dan berbalik menuju tempat parkir.
Malam harinya, Kaivan pulang dengan tubuh penuh bau alkohol. Adeline sedang menulis dokumen di ruang tamu. Saat mencium bau alkohol dari tubuh Kaivan, dia pun mengernyit, lalu menutup laptop dan bersiap kembali ke kamar.
Kaivan menghentikannya. "Lesya pergi mencarimu hari ini?"
Begitu Kaivan membuka mulut, bau alkohol di tubuhnya langsung menyelimuti Adeline. Adeline mundur beberapa langkah untuk menjauhkan diri dari Kaivan dan bertanya, "Emm, kenapa?"
Kaivan mengamati wajah Adeline yang berekspresi datar dan tiba-tiba tertawa. Matanya penuh dengan ejekan.
"Belakangan ini, kamu jadi makin murah hati saja. Kalau kamu juga seperti ini sebelumnya, kita nggak mungkin bertengkar sesering itu."
Jika Adeline bisa lanjut bermurah hati dan tidak peduli pada hubungannya dengan Lesya, Kaivan bukannya tidak bisa menikahinya. Meskipun sudah tidak mencintai Adeline, dia tetap akan merasa bangga ketika membawa wanita secantik Adeline keluar sebagai pendampingnya.
Setelah bertemu pandang dengan mata Kaivan yang acuh tak acuh selama beberapa detik, Adeline mengalihkan pandangannya dengan tenang. Dia bukannya murah hati, melainkan tidak peduli lagi pada Kaivan.
"Jangan khawatir, aku nggak akan melakukannya lagi."