Đang tải thông tin quảng bá...
Raja Naga Meninggalkan Gunung
Dia adalah Raja Naga yang mampu menggemparkan semua penguasa di seluruh dunia. Dia juga dikenal sebagai Dewa Medis yang misterius. Dengan berbekal sikap rendah hati, dia kembali ke kota, tetapi dia ma...
Chương (1)
第1章
Bab 1
Paginya, Tobi Yudistira terbangun.
Merasakan sesuatu yang lembut di telapak tangannya, pria itu tidak kuasa meremasnya beberapa kali. Rasanya kenyal sekali.
Ketika pria itu memalingkan wajahnya ke samping, terlihat seorang wanita cantik. Kulit wanita itu sangat halus dan lembut.
"Argh ...."
Merasa seperti ada sesuatu yang mencubitnya, Widia Lianto langsung terbangun. Saat mendapati dirinya telanjang, dia berteriak dan mendorong pria itu menjauh.
Wanita itu segera menarik selimut dengan satu tangannya dan melempar bantal dengan tangan yang satunya lagi.
"Dasar berengsek! Bajingan! Apa yang kamu lakukan kepadaku!"
"Sepertinya sudah kulakukan semuanya."
"Kurang ajar! Dasar nggak tahu malu!" umpat Widia dengan geram sekaligus malu.
Tobi merasa bersalah dan berkata, "Jangan bicara seperti itu. Lagian, tadi malam kamu yang berinisiatif duluan."
"Ngawur, jelas-jelas ...."
Widia ingin membantah, tetapi tidak jadi karena kejadian tadi malam tiba-tiba melintas di benaknya.
Akibat menagih utang tadi malam, Widia dibius. Saat tubuhnya mulai merasakan efek obat, dia langsung melarikan diri ke kamar mandi.
Untungnya, Tobi menyelamatkannya. Setelah pria itu mengantarnya sampai di depan pintu kamar hotel dan hendak pergi, Widia berinisiatif menyerahkan dirinya kepada pria itu.
Widia tidak tahan lagi. Dengan tubuh yang masih terbungkus oleh selimut, dia mulai menangis, "Huhu ...."
Melihat Widia yang sedih, Tobi merasa segan dan berkata tanpa daya, "Aku akan bertanggung jawab."
"Kamu bertanggung jawab?"
"Kamu tahu siapa aku? Memangnya kamu bisa bertanggung jawab?" tanya Widia dengan marah.
"Seharusnya bisa. Lagian, aku punya kemampuan. Banyak orang berkuasa menghormatiku saat mereka bertemu denganku."
"Yang benar saja!"
"Mati saja kamu!"
Widia hampir kehilangan akal sehatnya. Kesuciannya telah dirampas oleh pria pembual ini.
Namun, bagaimanapun juga, dia adalah direktur Grup Lianto, kondisi mentalnya sangat luar biasa. Setelah beberapa saat, dia merasa tenang kembali.
"Anggap saja nggak terjadi apa-apa tadi malam. Kalau kamu sembarangan bicara di luar, aku nggak akan memaafkanmu!"
"Ya. Aku janji nggak akan bicara sembarangan." Wanita itu tidak ingin dirinya bertanggung jawab, bukankah itu hal bagus?
"Lalu, kenapa kamu masih nggak keluar?" tanya Widia dengan nada dingin.
Tobi tampak tidak senang. 'Memangnya hanya kamu saja yang sedih. Keperjakaan yang kujaga selama lebih dari dua puluh tahun telah lenyap dan aku juga hanya diam saja,' pikir Tobi dalam hati.
Sudahlah, wanita itu terlalu galak. Lebih baik dia pergi saja.
Hanya saja pengalaman pertama yang berharga itu telah sirna begitu saja. Pria itu merasa bersalah dengan tunangannya.
Untungnya, dia tidak berniat untuk menyetujui pertunangan itu. Karena desakan kakek tua itu, dia terpaksa berjanji kepadanya.
Saat Tobi keluar dari hotel dan berniat pergi, sebuah Rolls-royce tampak berhenti di sampingnya.
Begitu pintu mobil terbuka, seorang pria kekar berusia lima puluhan tampak melangkah keluar.
Ketika pria itu melihat Tobi, dia segera berlutut dan berkata dengan hormat, "Damar Yusnuwa memberi hormat kepada Tuan Raja Naga!"
Begitu Tobi mendengar nama itu, semua informasi tentang Damar melintas di benaknya.
Delapan belas jenderal Sekte Naga semuanya adalah tokoh luar biasa. Sebagian besar dari mereka adalah pebisnis besar, Damar termasuk salah satunya.
"Berdirilah."
Setelah itu, Tobi langsung masuk ke dalam mobil dan bertanya, "Melihat kondisimu sekarang ini, sepertinya kehidupanmu di Kota Tawuna berjalan lancar?"
"Hanya pencapaian kecil saja, nggak pantas untuk disebut. Lagian, semua ini berkat bantuan Sekte Naga."
Damar tampak rendah hati.
Jika bukan karena identitasnya, tidak ada yang berani menyatukannya dengan pemimpin Serikat Dagang Lawana.
Damar bukan hanya Raja pasukan bawah tanah Kota Tawuna, dia juga ditakuti oleh semua orang.
Di bawah pimpinannya, Serikat Dagang Lawana menguasai lebih dari separuh perekonomian lokal. Banyak perusahaan berlomba-lomba agar bisa bergabung dengan serikat dagang, tetapi sayangnya jumlahnya terbatas.
"Baguslah kalau begitu. Oh ya, ada apa kamu mencariku?" tanya Tobi.
"Aku senang saat mendengar Raja Naga akan datang, jadi aku menyiapkan hadiah kecil untukmu."
Bab 2
"Ini adalah kartu hitam Lawana, di dalamnya ada 2 triliun. Kamu bisa belanja di toko milik Serikat Dagang Lawana di Kota Tawuna ini."
"Oh ya, karena baru sampai di sini, mungkin Anda masih belum punya tempat tinggal. Ini kunci vila di Distrik Terra 1. Mohon diterima."
Mata Tobi seakan bisa melihat semua dengan jelas, lalu dia bertanya, "Murah hati sekali. Katakan, apa yang terjadi?"
"Raja Naga memang bijaksana. Putriku, Jessi, sekujur tubuhnya sering menggigil dalam enam bulan terakhir ini. Kami sudah mengunjungi banyak dokter terkenal, tapi nggak ada yang bisa menyembuhkannya," ujar Damar.
"Nggak apa-apa. Hanya masalah kecil. Kalau ada waktu, besok aku akan mengobatinya."
"Syukurlah! Terima kasih, Raja Naga!" kata Damar. Dia telah mencari tahu masalah ini begitu lama dan akhirnya menemukan sebuah rahasia besar.
Ternyata Raja Naga yang masih muda itu adalah Dewa Medis yang telah dia cari-cari selama ini. Dia benar-benar Dewa Medis yang misterius.
Tidak bisa dipercaya. Siapa yang mengira Dewa Medis legendaris itu bukan hanya muda, tetapi dia juga seorang Raja Naga dari Sekte Naga.
Setelah Tobi berjanji kepadanya, Damar sangat senang, lalu dia berkata, "Raja Naga, apa masih punya instruksi lainnya? Seharusnya nggak ada yang nggak bisa kulakukan di Kota Tawuna ini."
"Bantu aku carikan seorang gadis kecil," kata Tobi sambil menceritakan situasinya kepada Damar.
"Baik! Aku pasti berusaha semaksimal mungkin untuk menemukannya!"
"Oh ya, aku mengadakan jamuan makan malam ini dan mengundang banyak selebriti papan atas untuk menyambut Raja Naga," tambah Damar.
Saat mendengar itu, Tobi mengerutkan keningnya sambil berkata, "Aku nggak suka jadi pusat perhatian, batalkan jamuan makan itu saja."
"Tapi, aku sudah memesan tempat," ucap Damar lagi.
"Batalkan saja," pinta Tobi.
"Baiklah."
"Kalau nggak ada masalah lagi, turunkan aku di sini. Oh ya, lain kali jangan sebut Raja Naga lagi, panggil aku Tuan Tobi saja." Tobi tidak ingin sebutannya itu menarik perhatian orang-orang.
"Baik!"
Begitu Damar mendengar bahwa Tobi ingin bersikap rendah hati, dia segera memberinya hormat.
Meskipun baru berbicara sebentar, sejak pria itu mengambil alih, tidak ada seorang pun yang bisa membuat Damar merasa tegang dan tertekan seperti sekarang ini.
Setelah mereka berpisah, Tobi pun pergi sarapan dulu, lalu segera naik taksi ke tempat tinggal tunangannya.
Vila Matahari.
Setelah sampai di sana, ada pelayan yang segera melapor tentang kedatangannya. Begitu Tobi memasuki lobi vila, dia melihat seorang wanita cantik berjalan ke arahnya.
Wanita itu memiliki wajah oval, alis yang agak melengkung, bibir merah muda, tubuh yang langsing dan sepasang kaki putih yang ramping. Wanita itu tampak anggun, tetapi terkesan agak dingin.
Setelah dilihat lebih dekat, ternyata itu adalah wanita yang dia temui tadi malam. Dia tidak menyangka bisa bertemu dengan wanita itu di sini.
Namun, wanita ini cantik sekali hingga Tobi tidak bisa menyembunyikan kekagumannya. Sayangnya, sifat wanita itu sangat dingin dan membuat orang merasa sulit untuk mendekatinya.
Ketika Widia melihat Tobi, ekspresi wajahnya seketika berubah. Dia bertanya dengan cemas, "Apa yang kamu lakukan di sini?"
Bukankah bajingan ini sudah berjanji kepadanya pagi ini? Widia tidak menyangka pria ini akan mengikutinya ke rumah. Jelas sekali, pria ini pasti ingin memerasnya.
"Aku datang mencari istriku."
Setelah mendengar ini, Widia makin yakin dengan dugaannya. Kemudian, dia berkata dengan marah, "Jangan mimpi! Aku nggak akan diancam seperti itu."
"Apa yang kamu bicarakan? Aku di sini untuk menemui tunanganku, Widia Lianto, bukan kamu."
"Nama tunanganmu Widia Lianto? Kamu Tobi Yudistira?"
Akhirnya Widia teringat bahwa dia pernah mendengar kakeknya menyebut nama pria itu, tetapi dia belum pernah melihatnya. Kakeknya mengatakan bahwa Tobi adalah pria yang luar biasa, tetapi nyatanya dia bajingan yang berpakaian kolot ini.
Dalam perjalanan pulang tadi, Widia tidak bisa berpikir jernih.
Dia tidak menyangka, direktur hebat dari Keluarga Lianto yang memiliki gelar master di luar negeri seperti dirinya ini justru menyerahkan kesuciannya kepada bajingan yang tidak berguna. Widia sangat menyesal dan ingin mengakhiri hidupnya.
Namun, dia tidak menyangka kalau pria udik ini adalah tunangannya.
Lebih baik dia mati daripada menikahi pria seperti ini.
Bab 3
"Tobi, sejak menerima telepon dari dokter tua itu, aku sudah menunggumu. Akhirnya, hari ini kamu datang juga. Kenapa kamu berdiri di depan pintu?"
Setelah Kakek Muhar tahu Tobi datang, dia telah menunggunya sejak tadi. Karena yang ditunggu-tunggu tidak muncul, kakek itu pun berjalan keluar untuk menemuinya.
Ketika Tobi melihatnya, dia langsung tersenyum dan menyapanya, "Kakek Muhar!"
Begitu Kakek Muhar melihat cucunya berada di samping Tobi, dia langsung bertanya dengan penasaran, "Kalian saling kenal?"
Widia tiba-tiba merasa canggung.
"Kami bertemu tadi pagi," ujar Tobi sambil mengatasi kecanggungan itu.
"Kebetulan sekali. Kalian memang berjodoh. Oh ya, hari ini juga hari yang baik untuk menikah. Setelah makan siang, kalian pergi ke kantor sipil untuk membuat akta nikah saja," seru Kakek Muhar sambil tertawa. Senior Dewa Medis memiliki keterampilan medis yang hebat, muridnya pasti juga sama.
Tobi tertegun sejenak. Pria itu baru menyadari wanita cantik ini adalah Widia Lianto, tunangannya. Dia terus memandangi seluruh tubuh wanita itu tanpa berkedip, terutama di bagian-bagian penting.
Widia juga memperhatikan mata Tobi yang terus bergerak liar itu. Saat teringat dengan apa yang terjadi tadi malam, dia makin malu dan kesal.
Padahal, kejadian tadi malam telah membuat Widia menganggap bajingan itu keji. Namun, ternyata pria yang menyakitinya itu adalah calon tunangannya sendiri.
Jika begitu, Widia pasti akan balas dendam kepadanya.
Kakek Muhar sangatlah senang, tetapi pria dan wanita paruh baya yang berada di sampingnya itu memperlihatkan wajah dingin, jelas sekali mereka tidak senang.
Mereka tidak lain adalah orang tuanya Widia. Putri mereka tidak hanya memiliki kecantikan yang luar biasa, tetapi dia juga direktur perusahaan. Bagaimana dia bisa jatuh ke tangan pria udik seperti ini?
Ibunya Widia, Yesa Laksono tampak tidak tahan lagi, lalu dia berkata, "Ayah, kamu yakin mau Widia menikahi pria ini?"
"Lihat cara berpakaiannya itu, kolot sekali. Penampilannya seperti orang desa."
"Kalau putriku menikah dengannya, bukankah aku akan kehilangan muka?"
Ayahnya Widia, Herman Lianto ikut menimpalinya, "Benar. Bukankah ini akan membuat malu Keluarga Lianto?"
"Omong kosong apa yang kalian bicarakan? Tobi bukan orang desa. Selama ini, dia tinggal di pegunungan dan nggak begitu kenal dengan dunia luar. Jadi, kalian harus lebih menjaganya."
"Pokoknya, pernikahan mereka berdua sudah kuputuskan," kata Kakek Muhar dengan tegas. Dia sudah bulat dengan keputusannya itu.
Suami istri itu juga tidak berani membantah lagi.
Meskipun Kakek Muhar kini telah menyerahkan bisnis perusahaan kepada Widia, tidak ada yang berani membantah perintahnya.
Sebenarnya, Widia juga memahami hal ini, jadi dia telah menyiapkan mentalnya.
Satu-satunya hal yang tidak dia duga adalah tunangannya itu justru si bajingan yang telah mengambil kesuciannya tadi malam. Apalagi, bajingan itu adalah pria udik yang baru saja turun dari pegunungan.
Namun, tidak masalah, Widia akan memperlihatkan kesenjangan di antara mereka dan membiarkan Tobi mundur dengan sendirinya.
Bagaimana jika pria itu ingin menyentuh dirinya?
Tentu saja tidak mungkin!
Sekitar jam satu siang, sesuai permintaan Kakek Muhar, Widia pun pergi ke kantor sipil bersama dengan Tobi.
Tak lama kemudian, prosedur akta nikah mereka pun telah selesai. Saat melihat foto Widia yang memperlihatkan wajah dingin di akta nikah itu, Tobi menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Lihat fotomu ini, apa kamu nggak bisa terlihat senang?"
"Senang?"
"Apa kamu pikir aku senang menikah dengan pembual yang nggak tahu apa-apa sepertimu ini?"
"Kamu salah. Sebenarnya aku sangat hebat."
"Kamu?"
"Benar. Terutama bagian medis, orang-orang menyebutku Dewa Medis!"
"Pfft!"
"Orang sepertimu disebut Dewa Medis?" "Kalau kamu Dewa Medis, maka akulah Dewi welas asih!"
Widia mendengus dingin dan berkata, "Lebih baik jangan membual lagi. Aku bukan anak-anak yang bisa tertipu dengan ucapan manismu."
Tobi hanya bisa mengangkat bahu tak berdaya dan berkata, "Baiklah."
"Asal kamu paham saja, kejadian tadi malam hanyalah sebuah kecelakaan. Kita nggak berasal dari dunia yang sama, jadi jangan harap kita bisa bersama," ucap Widia lagi.
"Belum pasti. Mungkin setelah berhubungan denganku nanti, kamu akan menyadari kebaikanku dan akan jatuh cinta padaku."
Bab 4
Widia berkata dengan marah, "Jangan harap! Meski di dunia ini nggak ada pria lagi, aku juga nggak akan menyukaimu!"
Di luar sana ada begitu banyak pria yang jauh lebih baik dari Tobi, tetapi Widia juga tidak tertarik. Jadi, bagaimana dia bisa jatuh cinta kepadanya?
"Widia!"
Tiba-tiba seorang wanita cantik yang berpakaian seksi maju ke depan.
Celana pendek dan kaus ketat yang dia kenakan itu tampak memperlihatkan pusarnya, bahkan pinggang ramping dan kaki panjangnya itu terekspos semuanya. Ditambah dengan kulit putihnya itu, dia makin menarik perhatian orang.
Dengan santai, dia melirik Tobi yang berada di sampingnya itu.
Meski hanya mengenakan pakaian biasa, wajah Tobi lumayan tampan. Namun, bagaimana orang desa ini bisa dijodohkan kepada Widia? Bagai pungguk merindukan bulan.
Hanya tahu berangan-angan saja.
"Kamu sudah datang," sapa Widia.
Kemudian, dia berkata kepada Tobi, "Ini teman baikku, Tania Suwitno."
Tobi mengulurkan tangannya dan berkata sambil tersenyum, "Halo!"
Namun, Tania mengabaikannya. Dia meraih tangan Widia dan berkata, "Ayo pergi. Tuan Joni dan yang lainnya sedang menunggu kita."
Widia menganggukkan kepalanya dan berkata, "Ayo, kamu ikut juga!"
Sebenarnya, Tania memang sengaja datang untuk menghadapi Tobi. Dia ingin membuat pria itu kehilangan muka dan tidak mampu berada di sisi Widia lagi.
Mereka bertiga pun masuk ke dalam mobil Widia. Tak lama kemudian, mereka telah tiba di tempat tujuan.
Ini adalah klub anggar yang memiliki fasilitas mewah. Banyak orang kaya dan para pejabat suka datang bermain di sini.
Begitu mereka masuk ke dalam, beberapa anak muda langsung menyapa, "Dua wanita cantik, akhirnya kalian sampai juga. Tuan Joni sudah naik ke panggung untuk bertanding."
Mereka mengabaikan Tobi yang berada di samping mereka itu.
Tobi sama sekali tidak tersinggung, dia justru merasa nyaman.
Joni yang berada di lapangan itu bergerak dengan bebas. Ayunan pedangnya tampak anggun dan indah, bahkan setiap gerakannya mampu membuat gadis-gadis jatuh hati kepadanya.
"Keren sekali. Ayunan pedangnya indah sekali," puji Tania.
"Tentu saja. Bicara soal anggar, kita kalah jauh dari Tuan Joni, deh."
Dari panggung terlihat Joni baru saja berhasil menjatuhkan pedang lawan dengan mudah.
Widia juga tampak kagum dan berkata, "Hebat sekali. Lawan Tuan Joni juga hebat, tapi dia dikalahkan oleh Tuan Joni dengan mudah."
Saat ini, Joni melepas penutup kepalanya, melangkah maju dan berkata sambil tersenyum, "Widia, Tania, kalian sudah datang."
Lalu, saat dia melihat Tobi, dia juga bertanya, "Siapa ini?"
"Dia?"
"Dia adalah pria udik yang kuceritakan itu," ejek Tania.
Ekspresi Joni tiba-tiba berubah dingin. Ternyata pria udik itu adalah Tobi, saingannya dalam memperebutkan Widia.
Sungguh pria tidak tahu diri, sepertinya dia cari mati.
Namun, ekspresi Joni segera kembali normal. Kemudian, dia berkata sambil tersenyum, "Ternyata itu dia. Meski dia orang desa, dia juga termasuk tamu. Biarlah dia menambah pengalamannya di sini."
"Kamu mau coba bermain?"
Tobi menggelengkan kepalanya. "Nggak berminat."
"Bukan nggak berminat, tapi dia nggak berani."
"Benar, dia takut malu."
"Sudahlah, jangan salahkan dia. Lagian, anggar adalah olahraga yang dimainkan oleh orang kaya. Orang desa sepertinya mana tahu cara memegang pedang. Bukankah nanti dia akan terlihat memalukan?" ujar Joni.
Tobi tertawa ringan dan berkata, "Nggak juga. Aku hanya nggak tertarik sama hal-hal nggak penting seperti itu."
"Apa kamu bilang? Pria udik sepertimu berani meremehkan anggar?"
"Akui saja kamu nggak berani. Kamu malah memfitnah olahraga berkelas seperti ini. Dasar aneh, ck, ck."
Joni mendengus dingin dan berkata, "Awalnya aku nggak memaksamu untuk bertanding, tapi kamu malah berani memfitnah olahraga ini. Jadi, kamu harus diberi pelajaran. Ayo naik ke atas dan bertandinglah."
Tobi menggelengkan kepala dan berjalan naik ke atas panggung, "Ya. Karena kamu ngotot mau cari masalah, aku akan beri kamu kesempatan."
Bab 5
Semua orang tertegun sejenak. Mereka tidak menyangka Tobi berani naik ke atas panggung. Seketika para penonton langsung mentertawakannya.
"Haha. Lucu sekali. Orang desa sepertimu masih berani membual."
"..."
Tobi tidak berniat meladeni mereka, dia langsung mengambil sebuah pedang dan mendesak lawannya, "Cepat mulai."
Joni agak bingung. Setelah naik, dia bertanya, "Kamu nggak pakai alat pelindung?"
"Nggak perlu."
Mendengar ucapan itu, Joni seketika marah. Dia tersenyum dingin sambil berkata, "Ya, jangan salahkan aku kalau kamu terluka nanti." Joni bahkan berpikir untuk mengambil kesempatan ini untuk melumpuhkan tangan dan kakinya.
Tobi mengerutkan kening dan berseru, "Banyak omong kali."
Bukan hanya Joni yang merasa marah, tetapi semua orang juga tidak bisa berkata-kata.
Melihat postur Tobi memegang pedang, dia kelihatan seperti orang awam. Kenapa dia malah pamer seperti ini, bukankah dia cari mati?
Widia juga merasa gugup. Meskipun dia tidak menyukai Tobi dan ingin mengusirnya, dia juga tidak mau pria itu terluka.
Tania segera menghiburnya, "Widia, jangan khawatir. Nggak akan terjadi masalah, kok. Lagian, Tuan Joni sangat hebat. Dia pasti akan mengendalikan kekuatannya agar nggak terjadi kecelakaan."
Setelah dipikir-pikir, Widia juga merasa ucapan itu benar.
Saat ini, Joni telah memasang postur dengan mengangkat kakinya. Dia maju ke depan untuk menyerang lawan dengan menggunakan pedang di tangannya itu.
"Keren! Gerakan pedang Tuan Joni sangat tajam dan cepat. Dia nggak kalah hebat dari atlet profesional."
"Lihatlah postur pria itu. Dia nggak stabil dan nggak punya kemampuan untuk melawan."
"Kalau terus seperti ini, dia akan dikalahkan."
"Haha. Masih sok keren. Ayo kita lihat bagaimana dia mati ...."
Namun, sebelum dia selesai berbicara, terdengar jeritan Joni dari atas panggung dan pedang di tangannya langsung terjatuh ke bawah.
Ini?
Kenapa bisa begini?
Semua orang tercengang melihat kejadian itu.
Mereka saling memandang, tidak percaya dengan apa yang terjadi di hadapan mereka.
Widia tampak terkejut dan langsung menutupi mulutnya dengan tangannya. Dia mengira Tobi telah terluka parah.
Tobi membuang pedang panjang di tangannya dan berjalan dengan tenang.
"Nggak mungkin! Hei, bocah, kamu pasti pakai trik kotor."
"Benar, pasti begitu."
"Nggak tahu malu."
"Kalau memang hebat, ayo tanding lagi," sorak semua orang dengan nada tidak puas.
Ketika mendengar akan bertanding lagi, Joni langsung terbangun karena ketakutan.
Yang lain mungkin tidak tahu, tetapi dia menyadari gerakan Tobi sangat cepat dan tepat. Tobi mungkin kurang mahir bermain anggar, tetapi dia pasti pernah belajar seni bela diri. Kalau mereka bertanding lagi, Joni pasti kalah.
Bukankah dia akan lebih malu lagi?
Joni langsung berkata, "Sudahlah, apa pun penyebabnya, aku sudah kalah. Jangan dibahas lagi."
Sekilas, ada tatapan tajam di mata Joni. Orang desa sialan ini telah membuat dirinya malu.
Namun, sekalipun dia menang, kekuatan seperti itu juga tidak ada gunanya di dunia ini.
Kekuasaan adalah hal yang paling penting. Dia akan memperlihatkan kepada lawan kesenjangan di antara mereka.
Ketika semua orang mendengar ucapan Joni, mereka makin kagum kepada pria itu.
"Tuan Joni memang murah hati. Padahal dia jelas-jelas ditipu, tapi dia rela menanggungnya sendiri. Aku salut sama sikap lapang dada dan toleransinya itu."
"Ya. Kita benar-benar kalah dengan kemurahan hati Tuan Joni. Entah siapa yang beruntung bisa menikah dengannya kelak," ujar Tania ikut menimpali.
Widia menganggukkan kepalanya. Dia juga sangat menghargai sikap Joni.
Meskipun Tobi menang, pria itu pasti melakukan metode sesat. Jadi, Widia merasa kemenangan seperti itu tidak perlu dibanggakan.
Setelah menerima pujian dari semua orang, terutama wanita idamannya, Joni sangat bangga dan menatap Tobi dengan ekspresi hina dan jijik.
'Meski bisa mengalahkanku, pada akhirnya kamu hanya akan dijadikan bahan candaan saja.'
Tobi tampak tenang dan sama sekali tidak peduli dengan orang bodoh itu.
"Widia, sebenarnya aku suruh kamu datang ke sini hari ini karena ada hal penting yang ingin kukatakan," ucap Joni sambil tersenyum.
Bab 6
"Oh?"
Semua orang langsung tertarik untuk mendengarnya.
"Tahukah kalian, Pak Damar dari Serikat Dagang Lawana akan mengadakan jamuan makan untuk menyambut kedatangan orang penting malam ini?"
"Benarkah? Orang penting seperti apa yang membuat Pak Damar menyambutnya seperti itu?"
"Tentu saja orang penting yang sangat hebat. Saat ini, hanya keluarga yang telah bergabung dengan Serikat Dagang Lawana yang menerima pemberitahuan tersebut."
Joni tersenyum dan berkata, "Widia, bukankah Keluarga Lianto sudah lama mendaftar untuk bergabung dengan Serikat Dagang Lawana? Malam ini kesempatanmu sudah datang."
Hati Widia tergerak mendengarnya, lalu dia bertanya, "Bagaimana caranya?"
Keluarga mereka memang telah mendaftar dan berhasil menempati posisi sepuluh besar, tetapi Serikat Dagang Lawana hanya menerima tiga kuota saja. Jadi, harapan mereka sangat tipis.
"Gampang, kok. Aku bisa ajak teman untuk jamuan malam ini. Kamu ikut saja denganku. Nanti aku akan memperkenalkan pejabat senior Serikat Dagang Lawana kepadamu. Saat itu, kamu pasti bisa bergabung dengan Serikat Dagang Lawana."
"Benar juga. Kalau begitu, aku harus siap-siap dulu," kata Widia.
Setelah mendengar ini, Tobi menggelengkan kepalanya dan berkata, "Nggak perlu siap-siap, jamuan itu sudah dibatalkan."
Ketika semua orang mendengar itu, mereka langsung menoleh ke belakang. Widia tertegun sejenak, lalu berkata dengan marah, "Tobi, kamu tahu apa yang kamu bicarakan?"
"Yang kukatakan itu benar. Damar memang ingin mengadakan pesta penyambutan, tapi aku nggak setuju," kata Tobi.
Pfft ....
Semua orang langsung tertawa terbahak-bahak.
Semua orang memandang Tobi seperti orang bodoh. 'Kamu nggak setuju? Memangnya kamu dewa?' pikir semua orang.
Widia sangat marah hingga tidak mampu berbicara lagi. Bagaimana pria itu bisa mengucapkan kata-kata memalukan seperti itu? Terlebih lagi, beraninya dia memanggil nama Pak Damar, jika hal ini tersebar keluar, takutnya keluarga mereka akan terancam.
Bagaimanapun, Damar adalah orang yang sangat hebat. Dibandingkan dengan Damar, mereka hanyalah warga biasa.
Dasar bodoh sekali dan tak kenal takut.
Joni tersenyum bangga dan berkata, "Saudara Tobi, aku nggak tahu kenapa kamu sengaja menantangku, tapi aku jamin jamuan itu akan diadakan malam ini."
"Bagaimana kalau jamuan itu dibatalkan?" tanya Tobi lagi.
Widia tidak bisa menyembunyikan emosinya lagi dan berseru, "Tobi, hentikan itu! Bergabung dengan Serikat Dagang Lawana adalah hal penting bagi Keluarga Lianto, jadi tolong jangan buat masalah lagi."
Kemudian, dia berbalik ke arah Joni dan berkata, "Tuan Joni, mohon bantuannya malam ini!"
Joni menjawab dengan yakin, "Jangan khawatir. Selama ada aku, kemungkinan besar akan berhasil." Tiba-tiba ponselnya berdering, ternyata yang menelepon adalah ayahnya.
Sebelumnya, ayahnya mengatakan bahwa begitu dia memastikan jamuan malam ini, dia akan menelepon putranya. Jadi, Joni sengaja berkata, "Baru saja bahas soal jamuan malam, ayahku langsung menelepon."
Pria itu bahkan sengaja menyalakan pengeras suara dan berkata dengan gembira, "Ayah!"
Sayangnya, suara di seberang sana pelan dan kedengaran tidak senang, "Jamuan malam hari ini dibatalkan."
Setelah mengatakan itu, ayahnya langsung menutup telepon.
Perusahaan milik Keluarga Luhardi sedang menghadapi masalah besar saat ini, jadi mereka ingin memanfaatkan jamuan malam ini untuk membalikkan situasi. Namun, jamuan telah dibatalkan, jadi mereka harus segera mencari jalan keluar.
Joni benar-benar kebingungan. Dia bahkan sempat berpikir apa pendengarannya bermasalah?
Karena pengeras suara menyala, semua orang mendengar dengan jelas.
Dalam sekejap, seluruh ruangan menjadi hening.
Satu per satu dari mereka mulai memandang Joni dengan tatapan penuh pertanyaan.
Jamuan malam dibatalkan?
Mereka tidak salah dengar, 'kan?
Saat ini, mereka semua teringat dengan ucapan Tobi barusan. Lalu, satu per satu dari mereka mulai memandanginya.
Widia langsung menoleh ke arah Tobi dan bertanya, "Yang kamu katakan tadi itu benar?"
"Tentu saja. Bukankah jamuan itu dibatalkan?" kata Tobi.
Tidak disangka, ucapan pria itu benar!
Karena Tobi tidak setuju, Damar langsung membatalkan acara penyambutan dan jamuan makan itu.
Jadi, sebenarnya siapa pria itu?
Apa dia putra konglomerat dari Kota Jatra?
Bab 7
Semua orang tampak terpengarah.
Widia juga terkejut. Mungkinkah pria berpenampilan kolot ini adalah orang hebat?
Namun, tiba-tiba Joni menerima sebuah berita dan tampak kaget, "Putri Keluarga Yusnuwa mendadak jatuh sakit. Dengar-dengar, penyakitnya sangat serius."
"Apa? Ini masalah besar."
"Ya. Aku dengar, Pak Damar sangat menyayangi putrinya dan selalu melindunginya. Selain kerabat dan teman-temannya, nggak ada orang yang tahu seperti apa rupanya."
"Benar, tapi kudengar dia sangat cantik, bagaikan seorang dewi."
Joni tiba-tiba sadar dan berseru, "Aku mengerti sekarang. Ternyata putri Pak Damar sakit, jadi dia membatalkan jamuan malam ini."
"Benar, benar. Bukankah Pak Damar sangat menyayangi putrinya? Pasti itu alasannya!"
"Sudah kubilang, 'kan? Mana mungkin bocah ini bisa mengatur Pak Damar."
"Benar. Hanya kebetulan saja. Hampir saja kita tertipu."
"Dasar nggak tahu malu."
Di saat itu juga, ponsel Tobi berdering. Sepertinya Damar meneleponnya untuk meminta bantuan.
Tobi langsung menanyakan alamatnya dan bersiap untuk pergi ke sana.
Dari awal, Widia tidak yakin Tobi adalah orang penting yang disebut itu. Mendengar ucapan Joni, wanita itu langsung merasa lega.
Widia hampir saja percaya dengan ucapan Tobi. Teringat itu, dia langsung memelototi Tobi dengan marah dan berkata, "Pria nggak punya kemampuan itu nggak apa-apa, tapi setidaknya dia harus rendah hati dan nggak membual."
Tobi tidak punya waktu untuk meladeni pertanyaan itu dan langsung berkata, "Aku ada urusan, jadi aku mau pergi dulu."
"Mau ke mana? Baru bilang begitu saja, kamu sudah nggak tahan? Memangnya Widia salah, sampai kamu harus seperti itu?" tanya Tania dengan nada tidak puas.
"Aku benar-benar ada urusan."
"Omong kosong. Memangnya kamu punya urusan apa? Bukankah kamu baru sampai di Kota Tawuna saja? Akui saja kamu malu. Kalau kamu malu, menjauhlah dari Widia."
"Sudahlah. Biarkan dia pergi," kata Widia sambil mengeluarkan sebuah kartu. "Di dalamnya ada 20 juta. Setelah bersenang-senang, carilah tempat tinggal di luar," tambah Widia.
"Nggak perlu. Aku punya tempat tinggal, kok." Tobi tidak sadar bahwa Widia tidak ingin dia tinggal bersamanya di Kediaman Lianto.
"Kamu yakin? Jangan lapor sama Kakek dan bilang aku menindasmu nanti," kata Widia. Padahal, dia berniat niat baik, tetapi pria itu malah tidak menghargainya.
"Nggak."
Setelah selesai berbicara, Tobi langsung pergi.
"Dasar keras kepala. Dia benar-benar nggak tahu diuntung. Memangnya dia punya tempat tinggal? Lebih baik, biarkan dia tidur di jalanan saja," kata Tania sambil mendengus dingin.
"Bagus dong dia pergi. Lagian kita semua berasal anak orang kaya, rasanya aneh kalau ada orang seperti dia berada di antara kita."
"Benar. Bukan hanya nggak tahu diri, dia bahkan suka membual. Orang seperti itu bikin jijik saja."
"..."
Mendengar ucapan mereka dan ditambah dengan kejadian hari ini, Widia makin memandang rendah Tobi.
Tak lama kemudian, Tobi telah tiba di kediaman Yusnuwa. Dari luar pintu, sudah ada orang yang menyambutnya.
Tobi mengikuti pelayan itu dan memasuki vila. Saat melihat Jessi Yusnuwa terbaring di tempat tidur, Tobi tampak terperanjat.
Jessi memiliki wajah cantik yang tanpa cela. Tubuh rampingnya itu terlihat sangat menawan, tetapi yang paling menakjubkan adalah wajah polosnya yang memberikan kesan sakral.
Kecantikan Widia yang terkesan dingin itu saja telah membuat Tobi terpesona. Tidak disangka, kepolosan Jessi juga mampu memikatnya.
Sayangnya, wajah wanita itu pucat, bibirnya ungu dan tubuhnya gemetar. Terlihat jelas bahwa napasnya sangat lemah dan wanita itu bisa mati kapan saja.
Ibu Jessi, Yenni Wirawan, memandang putrinya dengan khawatir.
Setelah mengetahui identitas Tobi, Bima Yusnuwa yang berada di samping itu langsung memasang tatapan curiga dan bertanya kepadanya, "Apa kamu Dokter Tobi sang Dewa Medis yang ayahku katakan itu?"
Bab 8
Tobi mengangguk dan menjawab, "Ya." Dia mengeluarkan sebuah kotak, lalu duduk dan bersiap untuk melakukan akupunktur.
"Tunggu! Apa yang kamu lakukan?" tegur Bima.
"Mengobatinya!"
"Siapa suruh kamu mengobatinya? Kuberi tahu ya, aku sudah mengundang Darwin Lesmana, Dokter Ajaib di ibu kota. Dia akan segera datang. Minggir."
Bima bergumam dalam hatinya, 'Ayah pasti sudah pikun. Mana mungkin pria muda seperti itu adalah Dewa Medis. Dia pasti bohong.'
Yenni hanya terdiam, tampaknya dia setuju dengan ucapan putranya.
Tobi mengerutkan keningnya.
Saat ini, ada dua orang muncul di depan pintu. Salah satunya adalah seorang pria tua berjanggut putih, tangannya tampak membawa sebuah kotak obat.
Ketika Bima melihatnya, dia segera menyambutnya dengan gembira, "Dokter Darwin, akhirnya kamu datang. Mari lihat kondisi adikku."
Dokter Darwin mengangguk dengan bangga. "Baik!"
"Kenapa kamu nggak keluar saja? Kalau pengobatan adikku tertunda, aku akan menghabisi nyawamu," cerca Bima.
Tobi hanya menggelengkan kepalanya dan berjalan ke samping.
Jika bukan karena sebuah nyawa, dia pasti akan segera pergi.
Dokter Darwin mendekati Jessi untuk memeriksa denyut nadinya. Setelah beberapa saat, dia tersenyum dan berkata, "Bukan masalah besar. Dia hanya terserang racun dingin. Setelah memberinya akupunktur dan obat, penyakitnya akan sembuh."
Ketika Bima mendengar ini, dia langsung terperanjat. Bukankah dia telah memberikan kontribusi besar kepada ayahnya? Dia berkata dengan senang, "Nak, lihatlah. Inilah yang dinamakan dokter hebat."
Dokter Darwin segera mengambil jarum perak untuk memulai akupunkturnya.
Tobi langsung mengerutkan kening dan berkata, "Jarum itu nggak akan menyelamatkannya, tapi membunuhnya!"
Mendengar itu, Dokter Darwin langsung menghentikan gerakannya. Apa dirinya sedang diragukan? Dia merasa tidak senang.
Bima langsung memarahi Tobi, "Nak, Dokter Darwin ada di sini, jadi jangan asal bicara. Kamu tahu siapa Dokter Darwin? Dia adalah wakil pemimpin Asosiasi Medis. Kalau kamu masih terus bicara sembarangan, jangan harap kamu bisa praktik lagi kelak."
"Ya sudah kalau kamu nggak percaya. Kamu pasti akan menyesal!" kata Tobi.
"Tutup mulutmu! Aku akan mengurusmu nanti," bentak Bima.
Dokter Darwin ikut menimpali, "Anak muda, kamu nggak boleh sembarangan menilai kemampuan orang lain. Hari ini, aku akan tunjukkan kemampuanku."
Begitu selesai berbicara, jarum perak di tangan Dokter Darwin langsung mengenai nadi Jessi dengan akurat.
Bisa dikatakan, teknik akupunktur Dokter Darwin termasuk hebat.
Tusukan jarum perak itu memang bisa mengobati energi dingin.
Namun, sayangnya, ini bukanlah gejala racun biasa, melainkan racun yang sangat langka. Tusukan tadi akan memicu serangan balik oleh energi dingin jahat di dalam tubuh. Terakhir, tubuh Jessi tidak mampu menahannya dan akan mati.
Yenni menatap putrinya dengan teliti. Setelah dokter memberikan tusuk akupunktur, wajah putrinya perlahan kembali normal. Wanita itu langsung berkata dengan semangat, "Sudah terlihat lebih baik."
Bima langsung menggunakan kesempatan ini untuk memarahi Tobi, "Dasar pembohong, kamu mau bilang apa lagi?"
Dokter Darwin juga memandang Tobi dengan tatapan menghina.
Tobi menggelengkan kepalanya dan mulai menghitung mundur, "Tiga, dua, satu ...."
Semua orang tidak mengerti maksud perkataan Tobi. Namun, tak lama kemudian, wajah Jessi tiba-tiba memucat. Sekujur tubuhnya tampak kesakitan hingga gemetaran.
"Jessi, Jessi ...."
"Kenapa jadi seperti ini?"
Yenni kelihatan panik.
Bima juga ketakutan, dia memandang Dokter Darwin dengan panik dan bertanya, "Dokter, apa yang terjadi?"
"Aku juga nggak tahu. Kenapa bisa seperti ini?"
Dokter Darwin juga kebingungan dan panik.
Bab 9
"Sial! Kenapa kamu nggak tahu? Bukankah kamu Dokter Ajaib?" omel Bima. Dia mengira bisa memberikan kontribusi baik, tapi ternyata hasilnya malah begini.
Jika terjadi sesuatu kepada Jessi, ayahnya pasti akan mengulitinya.
Pada saat ini, getaran tubuh Jessi makin berkurang, bahkan hampir tidak ada gerakan sama sekali. Sepertinya dia sudah sekarat.
Wajah Bima bertambah kusut. Setelah dipikir-pikir, ternyata ucapan Tobi benar. Dia mungkin sudah melakukan kesalahan besar.
Dia teringat tadi Tobi telah mengatakan bahwa dia akan menyesal.
Benar, sekarang dia sangat menyesal.
Akhirnya, Damar pulang juga. Begitu dia masuk dan melihat Tobi, dia bertanya dengan cemas, "Ra ... Tuan Tobi, bagaimana kondisi Jessi?"
Tobi menggelengkan kepalanya. Dia menatap ke arah Bima dan berkata, "Tanyakan kepadanya!"
Damar bisa merasakan kepanikan mereka. Saat melihat Dokter Darwin masih memegang jarum, sepertinya dia telah menebaknya. Lalu, dia bertanya dengan marah, "Bima, katakan apa yang terjadi!"
Begitu dibentak ayahnya, nyali Bima langsung menciut.
Wajah Dokter Darwin menjadi pucat. Dia buru-buru berkata, "Pak Damar, maaf. Aku nggak bisa berbuat apa-apa. Putri Anda telah tiada."
"Apa!"
Wajah Damar berubah pucat dan tubuhnya gemetar.
Ah!
Yenni tak kuasa menahan tangisnya lagi. Dia sangat menyesal sekarang. Jika tadi dia membiarkan Tobi turun tangan, mungkin putrinya tidak akan mati.
Kaki Bima langsung terkulai lemas.
"Kamu ... kamu .... Dasar jahanam!"
Saking marahnya, Damar langsung menendang Bima keluar. Lalu, pria itu melihat Tobi dengan tatapan memohon.
"Jangan khawatir, putrimu masih hidup," kata Tobi.
"Ah!"
Damar tampak terperanjat. Dia buru-buru membungkuk dan berkata, "Raja Naga, tolong selamatkan Jessi!"
Saking paniknya, dia sampai lupa mengganti panggilan Tobi.
Namun, tidak ada orang yang menyadarinya.
Semua orang tampak terkejut. Tidak ada yang menyangka Tobi masih berani angkat bicara di saat seperti ini, terutama Dokter Darwin.
Menurut Dokter Darwin, Jessi sudah tidak bernapas lagi, jadi dia telah tiada.
Bahkan, para dewa pun tidak bisa menyelamatkannya.
Kenapa di saat ini Tobi berani mengatakan hal seperti itu? Bukankah dia sedang cari masalah sendiri?
Tobi berjalan mendekat dan berkata, "Damar, kalau bukan karena kamu, aku nggak akan turun tangan hari ini."
"Ya. Terima kasih, Tuan." Damar membungkukkan badannya lebih rendah lagi.
Tobi langsung mengambil posisi duduk. Dengan lambaian tangan kanannya, sembilan jarum perak terbang keluar dari kotak obat. Kemudian, masing-masing dimasukkan ke titik akupunktur tubuh Jessi.
Melihat gerakan tangan itu, semua orang tercengang.
Dokter Darwin tampak terpukau, kemudian dia berseru, "Jangan-jangan, itu Sembilan Jarum Semesta yang legendaris?
Sembilan Jarum Semesta dikabarkan bisa membalikkan alam semesta, menghidupkan orang mati dan ajaib sekali.
Namun, teknik ajaib ini hanya muncul di legenda dan belum ada yang pernah melihatnya.
Dokter Darwin mempelajari semua hal itu dari buku kuno. Selain itu, titik akupunktur yang disentuh Tobi merupakan titik berbahaya yang tidak berani disentuh orang pada umumnya. Dia yakin itu pasti Sembilan Jarum Semesta.
Tobi juga kaget. Dia tidak menyangka, ternyata wawasan pria tua itu tidak terlalu buruk.
Melihat raut wajah Jessi yang berangsur-angsur membaik, mata Dokter Darwin tampak berbinar-binar. Inilah keajaiban Sembilan Jarum Semesta yang legendaris itu.
Lima belas menit telah berlalu, Tobi melambaikan tangan kanannya dan semua jarum perak terbang kembali ke kotak obatnya.
Setelah menyeka keringat di dahinya, pria itu langsung berdiri.
Damar memandang putrinya yang masih tak kunjung sadar itu dan bertanya dengan khawatir, "Tuan Tobi, bagaimana kondisi Jessi?"
"Sudah sembuh."
Wajah Damar memperlihatkan ekspresi tidak percaya, "Sepenuhnya sembuh?"
"Tentu saja. Dia akan bangun satu jam lagi layaknya orang normal," ujar Tobi.
Bab 10
Tobi merasa seperti menyelesaikan masalah sepele. Sebenarnya, energi dingin di tubuh Jessi sangat luar biasa dan butuh banyak usaha untuk mengeluarkannya.
Semua orang terpengarah. Bahkan, Damar pun tak kalah kagetnya. Pria itu langsung berseru, "Terima kasih, Tuan Tobi!"
Apalagi, dia paling mengetahui kondisi putrinya. Sudah banyak dokter yang angkat tangan, tetapi Raja Naga bisa menyembuhkannya dengan mudah.
"Keterampilan medis Dokter Tobi benar-benar luar biasa. "Tadi saya nggak sopan. Seharusnya saya percaya kalau keterampilan Anda begitu hebat."
Dokter Darwin yang awalnya merasa terkejut, lalu segera meminta maaf.
Merasa keterampilan Dokter Darwin juga tidak terlalu buruk, Tobi pun menjawab dengan sopan, "Nggak masalah!"
Dokter Darwin segera membungkukkan badannya lebih dalam lagi dan bertanya, "Kalau begitu, maukah Tuan menerima saya sebagai murid Anda? Biar saya bisa belajar ilmu medis dari Anda?”
Dilihat dari penampilannya, sepertinya Dokter ingin segera berlutut dan berguru kepada Tobi.
Bima yang melihat itu langsung merasa kaget. Padahal, Dokter Darwin adalah pemimpin pengobatan tradisional. Dia memiliki reputasi baik dan berstatus tinggi. Dia bahkan menghormat kepada pemuda itu seperti ini.
Namun, Tobi menggelengkan kepalanya dan menolaknya, "Aku nggak ada waktu!"
Dokter Darwin seketika merasa canggung, tetapi dia tidak menyerah dan bertanya lagi, "Bisakah aku menambahkan WhatsApp Anda? Kalau aku punya pertanyaan, aku bisa bertanya kepada Anda."
Saking terkejutnya, Bima bahkan lupa dengan kesalahan yang telah dia perbuat.
Melihat Tobi tidak menghiraukan Dokter Darwin, Damar segera membentak putranya, "Bima, dasar bajingan! Cepat ke sini, berlututlah dan minta maaf kepada Tuan!"
Bima tertegun. Padahal, sejak kecil ayahnya sangat menyayanginya. Kini, ayahnya bahkan memintanya berlutut di hadapan pemuda itu.
Apalagi, di hadapan begitu banyak orang seperti ini. Kelak, apa dia masih punya muka untuk bertemu orang?
"Kenapa? Kamu mau membantah sekarang? Kamu mau diusir dari Keluarga Yusnuwa?"
Emosi Damar meledak-ledak. Wajahnya tampak merah padam.
Bahkan, ayahnya saja harus menghormati Raja Naga. Kenapa Bima yang telah berbuat salah itu masih tidak mau berlutut?
Singkatnya, jika bukan karena ayahnya, dia bahkan tidak diberi kesempatan untuk berlutut di hadapan Raja Naga.
Bima langsung ketakutan. Pria itu bergegas melangkah maju dan berlutut.
Melihat putranya tidak berbicara, Damar langsung menendangnya dengan keras dan berteriak, "Minta maaf!"
"Tu ... Tuan Tobi, aku minta maaf. Ini semua salah saya. Seharusnya saya memercayai Anda dan nggak bersikap kasar kepada Anda. Mohon maafkan saya."
Tobi meliriknya sekilas dan berkata dengan dingin, "Demi ayahmu, aku biarkan masalah ini berlalu, tapi kalau masih berlanjut, aku nggak akan melepaskanmu begitu saja."
"Nggak, nggak akan lagi," ujar Bima.
Dia tidak bodoh, mana mungkin dia tidak sadar dengan kemampuan diri Tobi sekarang.
Melihat Tobi telah mengampuni putranya, Damar langsung minta maaf lagi dan berkata, "Dengar, semuanya. Mulai sekarang, bertemu Tuan Tobi layaknya bertemu dengan aku."
"Siapa yang berani nggak sopan kepadanya meski itu kerabat sendiri, jangan salahkan aku bertindak kejam."
Bahkan, Yenni, istrinya Damar juga belum pernah melihat Damar memperlakukan keluarganya seperti ini.
Semua orang terdiam dan mengangguk dengan cepat.
Sesuai permintaan Damar, Tobi pun makan malam di Kediaman Yusnuwa.
Melihat hal itu, Dokter Darwin pun tidak berniat pergi. Dia sangat ingin menjadi murid Tobi.
Meski tidak bisa menjadi muridnya, Dokter Darwin masih ingin mengobrol dengan Tobi.
Saat makan, Damar sengaja meminta Tobi untuk duduk di posisi tengah. Hal itu makin mengejutkan semua orang dan membuat mereka penasaran dengan identitas Tobi.
Memang benar, nyawa Jessi telah diselamatkan. Meski ingin berterima kasih kepada Tobi, Damar juga tidak perlu memperlakukannya seperti itu.
Pria itu telah membuat dirinya terlihat rendah di hadapan banyak orang.
Bagaimanapun juga, Damar termasuk orang yang berkuasa di Kota Tawuna dan memiliki kecerdasan emosional dalam menangani berbagai urusan.
Siapa yang berani memperlakukan dirinya seperti ini?