Đang tải thông tin quảng bá...
SUAMI PENGGANTIKU (BUKAN) PRIA PAYAH
"Kenapa Om Samudra mau menikah denganku?" "Karena kamu tidak mau menikahi Bastian." ** Beberapa hari sebelum menikah, Mentari mendapati calon suaminya melakukan hubungan panas dengan saudar...
Chương (1)
第1章
TERTANGKAP BASAH
Bab 1
“Bastian, ahhh … lebih cepat lagi–”
Aku menajamkan pendengaran begitu tiba di depan pintu kamar Bastian, calon suamiku. Suara-suara aneh dari dalam sana membuat bulu di tubuh ini meremang.
“Bas–oh ....”
Aku tidak tahan lagi, tubuhku mendadak bergetar hebat karena mendengar suara-suara itu. Suara-suara khas sepasang manusia yang tengah mengarungi lautan kenikmatan.
Brak!
Kudorong pintu ruangan itu dengan kuat hingga dua orang yang tengah bergumul di atas sofa sontak terperanjat.
Sepasang manusia tidak tahu malu itu kompak menoleh ke arahku.
Si lelaki langsung loncat menarik diri dari atas tubuh wanitanya dengan gelagapan. Disambarnya bantal sofa untuk menutupi tubuh bagian bawahnya. Sementara wanitanya bukan melakukan hal sama, melainkan dengan tidak tahu malu melemparkan senyum penuh kemenangan padaku.
Raut puas sangat kentara di sana–aku bisa melihatnya dengan jelas. Ia bahkan membusungkan dadanya seolah ingin menunjukkan padaku jika tubuhnya baru saja dinikmati calon suamiku.
“Ta-Tari? K-kenapa kamu tidak bilang mau ke sini?” Lelaki berusia sekitar 25 tahun dengan tubuh polos itu bertanya dengan gagap.
Tidak bilang katanya? Bukankah ia sendiri yang minta dibawakan pudding buah buatanku?
“I-ini … tidak seperti yang kamu pikirkan, Tari. Aku bisa jelaskan semuanya,” lanjut lelaki itu. Wajahnya pucat. Beberapa kali ia menelan ludah, terlihat dari gerakan jakunnya. Ia ingin mendekat, tetapi mungkin malu tubuhnya tak berpenutup.
Aku yang masih belum percaya dengan penglihatan ini, mematung sempurna. Lidahku kelu hingga tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.
Kuedarkan pandangan pada lelaki dan wanita yang sangat kukenali itu. Juga pakaian yang terserak tak beraturan di lantai. Rasa nyeri tetiba menjalari hati mendapati kenyataan ini.
“Kalian–” Suaraku tercekat di kerongkongan. Sesuatu yang kukenal dengan gemuruh tengah terjadi di dalam dada pasca beberapa saat terpaku dalam kekagetan dan ketidakpercayaan.
Gemuruh itu terekspresikan dengan gerakan dada yang naik-turun dengan cepat, hingga terasa ingin meledak.
“Jadi begini perbuatan kalian di belakangku!?” Pertanyaan itu akhirnya meluncur dari mulutku setelah kukuatkan hati. “Sudah berapa kali kalian melakukannya?”
“Tari, ayolah, Sayang. Aku sudah bilang ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Kamu hanya salah paham.” Lelaki yang masih menutupi tubuhnya dengan bantal sofa, berusaha mendekat. Ucapannya tidak lagi gagap. Bahkan wajahnya dipasang memelas.
“Apanya yang salah paham? Kamu kira aku buta?” Suaraku meninggi dengan sendirinya. Terang saja, tangan lelaki yang baru saja dipakai menjamah tubuh perempuan itu berusaha meraih tanganku. Kutepis dengan kasar hingga pudding buah yang kubawa ikut terjatuh dan berhamburan di lantai.
Bastian menatap makanan kesukaannya yang sudah terserak mengotori lantai kamarnya. Kemudian mengalihkan pandangan ke wajahku. Tatapan tajam kudapati di sana. Secepat itu mimik wajahnya berubah. Padahal sebelumnya raut memelas penuh penyesalan yang ia suguhkan.
“Kamu—”
“Pernikahan kita batal!” potongku akhirnya dengan tegas dan tanpa keraguan. Aku seolah wanita tegar yang tidak terpengaruh sama sekali dengan kenyataan menjijikan itu. Padahal kuucapkan kalimat itu dengan hati hancur dan mata mendadak panas. Sesuatu mendesak ingin keluar seiring gemuruh dalam dada yang berubah menjadi sayatan sembilu. Tapi aku tidak mau terlihat lemah di depan dua orang menjijikkan ini.
Bastian terlihat menggelengkan kepala. Wajahnya kembali memelas.
“Tari, jangan sembarangan bicara. Ayolah, apa yang kamu lihat tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku hanya sedang khilaf.”
Khilaf katanya? Cuih, menjijikkan!
“Pernikahan kita akan tetap berlangsung apa pun yang terjadi. Ingatlah, persiapannya sudah hampir selesai, kan? Ingat juga bagaimana perasaan nenekku dan ayahmu jika kita batal menikah.”
Aku memejamkan mata sebentar. Rasa sakit dan marah semakin bergumul dalam dada. Terbayang wajah ayah dan Nenek Widya jika pernikahan ini batal, tapi aku sudah tidak sudi lagi melanjutkan pernikahan dengan laki-laki yang ternyata sudah menikmati tubuh wanita lain. Terlebih wanita itu orang dekatku.
“Ayahku dan nenekmu pasti mengerti keputusanku. Aku tetap membatalkan pernikahan ini, Bastian Hanggara!” Suaraku kali ini menggelegar memenuhi ruangan itu. Kutatap tajam wajah tampan yang biasanya kupuja, tetapi kali ini sangat menjijikkan. Wajah tampan yang seketika berubah merah padam.
“Apa kau tidak memikirkan perasaan semua orang, Mentari Baskara? Seenak jidatmu membatalkan pernikahan. Apa kau tahu berapa banyak keluargaku sudah menggelontorkan uang untuk persiapan pernikahan ini?”
Memikirkan perasaan semua orang katanya?
“Seharusnya kau yang memikirkan perasaan semua orang sebelum berbuat hal menjijikkan dengan sundal itu!” teriakku akhirnya tidak bisa menahan diri. Gemuruh dalam dada tak bisa lagi dikendalikan. Tubuhku gemetar menahan segala rasa yang sulit kudeskripsikan.
Calon suami sempurna yang kupuja karena ia sangat sopan memperlakukanku, ternyata tak lebih binatang yang suka menikmati sesuatu yang tidak halal.
“Mentari, tutup mulutmu! Sudah kubilang ini hanya sebuah kekhilafan. Dan jangan memanggil Novita dengan sebutan buruk!” Bastian balas memakiku.
“Lalu, sebutan apa yang pantas untuk perempuan yang menyerahkan tubuhnya kepada laki-laki yang bukan muhrim, hah?” Aku membalas. “Pada laki-laki yang seharusnya menikahi kakaknya sendiri?”
“Sudah, cukup! Ini hanya salah paham.” Bastian menghela napas. Lalu mengibaskan tangan. “Kamu terlalu berlebihan, Mentari. Hal seperti ini saja dibesar-besarkan!”
KHILAF?
Bab 2
Aku menelan ludah dengan susah payah. Pandangan tajam ini mengabur dengan sendirinya karena kaca-kaca yang mulai menutupi bola mata.
Sumpah demi apa pun, hatiku sakit. Sakit karena pengkhianatan Bastian dan Novita, juga karena ucapan busuknya.
Aku ingin lebih memaki, tetapi rasanya percuma.
Akhirnya aku membalikkan badan tanpa berkata-kata lagi. Lalu membawa kaki ini melangkah keluar. Meninggalkan ruangan yang baru saja digunakan perbuatan terkutuk manusia-manusia laknat itu.
“Ini salahmu, kenapa tidak mengunci pintunya?”
Langkahku terhenti di depan kamar saat mendengar suara Bastian. Walaupun tidak jelas karena diucapkan dengan mendesis, tetapi telingaku cukup baik menangkapnya.
“Mana aku tahu dia mau ke sini?” Itu Novita yang menimpali. “Sudah kubilang lebih baik ke hotel seperti biasa. Tapi kamu malah mau di sini. Salahku di mana?”
“Sial!” Bastian mengumpat.
Aku memejam dengan kuat. Satu kesimpulan yang dapat diambil dari dialog singkat mereka, jika ini bukan yang pertama dan sebuah kekhilafan seperti yang selalu diucapkan lelaki itu.
Dan satu tekadku yang tidak akan dapat diubah lagi, pembatalan pernikahan.
**
“Memalukan!”
Plak!
Umpatan kasar disertai sebuah tamparan mendarat di pipi Bastian, sementara aku sengaja menutup mataku saat adegan itu terjadi.
Aku mengerti Om Benny pasti terpukul dan marah mengetahui jika anak kesayangannya melakukan hal nista beberapa hari menjelang hari pernikahannya.
“Apa yang kamu lakukan, Benny? Jangan memukul anakku!” Wanita setengah bule yang sejak tadi memeluk Bastian bereaksi keras saat tamparan mendarat dan meninggalkan jejak kemerahan di pipi pemuda itu. Wanita itu mengusap pipi Bastian dengan lembut sembari menatap suaminya dengan mata terbelalak.
“Anakmu pantas mendapatkanya, Esther! Lihat apa yang sudah diperbuatnya? Ia membuat malu keluarga kita dengan meniduri calon iparnya sendiri!” Om Benny berbalik menghadap wanita setengah bule yang masih saja memeluk dan membelai pipi Bastian. “Penikahan ini terancam batal. Mau ditaruh di mana muka kita, hah?”
Aku tahu Tante Esther sangat menyayangi Bastian. Bahkan masih memperlakukannya berlebihan seperti anak kecil. Karenanya ia tidak terima suaminya sendiri memukul Bastian.
“Sudah bilang ia hanya khilaf. Apa kamu tidak mendengarnya?” balas Tante Esther tidak mau kalah. “Lagi pula sejak awal aku kurang setuju anakku menikahi gadis biasa-biasa saja. Mentari tidak sebanding dengan anak kita. Ia bahkan tidak memiliki pekerjaan dan komunitas. Ia terlalu rumahan untuk anak kita yang merupakan calon penerus Hanggara Enterprise!”
Aku menggigit bibir dengan kuat. Kepala menunduk dalam. Ucapan ibunya Bastian menorehkan luka baru di atas luka yang sudah ada.
Ya, aku memang hanya gadis biasa. Keadaan menjadikanku demikian.
Meskipun sebelumnya bisa dibilang keluargaku hidup nyaman dan jauh berkecukupan, semuanya sudah tak berbekas. Ditambah lagi, karena tekanan ibu tiriku, ayah terpaksa memberhentikan kuliahku dengan alasan keuangan perusahaan sedang tidak stabil.
“Tapi Mentari itu cucu kandung keluarga Baskara yang sudah menolong keluarga kita dulu!”
“Itu kan, dulu! Lagi pula, ayahmulah yang berhutang budi dengan keluarga Baskara, kenapa harus Bastian yang membayar dengan menikahi gadis biasa?”
“Esther, kamu—"
“Sudah, sudah!” Nenek Widya menengahi perdebatan suami istri tersebut. Suaranya terdengar tegas dan berwibawa. “Esther, kamu tidak berhak bicara seperti itu. Kamu hanya menantu di sini. Dan ingat, kamu pun dulu bukan siapa-siapa sebelum Benny menikahimu.”
Tante Esther terperangah mendapat teguran dari ibu mertuanya, kemudian serta merta terdiam. Wajahnya memerah seiring tatapan wanita yang walaupun banyak keriput di kulitnya, juga rambut yang hampir memutih semua, tetapi wibawanya sebagai nyonya nomor satu keluarga Hanggara itu masih sangat kuat. Ucapannya tak pernah terbantah. Bahkan Om Benny, ayahnya Bastian sangat patuh terhadap ibunya itu.
“Mentari,” panggil Nenek Widya mengalihkan pandangan padaku.
Aku hanya mendongak sebentar, mengangguk, kemudian kembali menunduk.
Wajah dan gaya elegan khas wanita ningratnya membuatku tak pernah berani menatapnya terlalu lama.
“Atas nama keluarga Hanggara, Nenek minta maaf sama kamu. Maafkan perbuatan cucu Nenek yang terkutuk itu.”
Aku kembali menelan ludah. Jari tangan saling memilin. Tidak seharusnya Nenek Widya meminta maaf untuk perbuatan cucunya yang menjijikkan. Itu sama sekali bukan salahnya.
“Nenek sangat malu. Bastian sudah mencoreng nama keluarga. Nenek sangat mengerti perasaan kamu, Tari.”
Aku mengangguk lagi.
Satu hal yang kusyukuri, sejak awal nenek Widya sangat menyayangiku. Bahkan beliau salah satu alasan aku menerima dengan senang hati perjodohan ini. Meskipun dalam hati aku tahu kalau aku tengah digunakan oleh keluargaku agar posisi dan keuangan kami kembali stabil.
“Tapi, Tari. Pembatalan pernikahan yang kamu ajukan, kami tidak bisa mengabulkannya,” lanjut Nenek Widya lemah.
Serta-merta kepala ini mendongak dan memberanikan diri menatap wanita sepuh yang biasanya selalu berada di pihakku.
Bagaimana bisa nenek Widya menolak permintaanku? Padahal ia sendiri mengatakan mengerti perasaanku dan mengutuk perbuatan Bastian? Apa beliau benar-benar akan memaksaku melanjutkan pernikahan ini?
Sungguh, aku tidak sudi melanjutkan pernikahan dengan laki-laki yang mudah tidur dengan sembarang wanita tanpa ikatan yang sah. Aku jijik.
“Kita semua sudah merencanakan pernikahan ini jauh-jauh hari. Bahkan persiapan sudah sembilan puluh persen,” lanjut Nenek Widya. “Kita tidak mungkin membatalkannya. Pernikahan harus tetap dilaksanakan.”
Aku menggeleng dengan dada yang terasa sesak. Bahkan orang yang aku kira selama ini berada di pihakku, nyatanya sama saja dengan yang lainnya. Tidak memikirkan kebaikanku.
Kuedarkan pandangan untuk mencari tahu bagaimana raut wajah semua orang di ruangan ini.
Ya, keluargaku dan keluarga Bastian sedang berkumpul pasca aku menangkap basah si pengkhianat itu dan Novita di kamarnya.
Aku bisa melihat Bastian dan seringai penuh kemenangan di depan sana. Di sampingnya, ada ibunya yang merengut. Sementara ayah Bastian dan ayahku sama-sama memasang wajah berharap.
Dan terakhir, sepasang ibu dan anak yang seolah keberatan dengan keputusan nenek Widya. Novita dan ibunya.
“Tari, pikirkan lagi, Nak. Pernikahan ini adalah amanah kakekmu dan kakek Bastian. Impian kedua keluarga. Kita sudah merencanakan jauh-jauh hari. Tak terhitung uang yang sudah digelontorkan untuk persiapan ini.” Ayah yang duduk di sampingku, meraih tangan ini dan menggenggamnya kuat sebagai isyarat agar aku tidak membatalkan pernikahan ini. “Apa kamu tega mencoreng nama baik keluarga kita dan keluarga Hanggara?”
“Tapi bukan Tari yang mencoreng nama baik keluarga, Yah. Bastian dan anak tiri Ayah yang melakukannya.” Aku berusaha menyampaikan keberatan.
“Ayah tahu, Nak. Kamu anak yang baik.” Ayahku meremas tanganku dengan lembut. “Tidakkah kamu mau berkorban sedikit saja untuk kami? Bukankah Bastian sudah mengatakan jika ia hanya khilaf dan tetap mau menikahimu? Mengalahlah sedikit saja sekali ini, Nak. Demi nama baik keluarga kita. Ayah yakin semua akan baik-baik saja setelah ini. Bastian akan menjadi suami yang baik untukmu.”
“Ayah–” Ucapanku tercekat, menolak memercayai ini. Aku menggeleng dengan mata yang sudah basah.
Setelah semua yang kulalui demi keluarga ini, mengapa aku masih saja dituntut untuk kembali mengalah?”
Rasa nyeri kembali mengukir hati. Bagaimana bisa ayah malah memintaku berkorban setelah apa yang dilakukan Bastian dan Novita? Kenapa ayah malah seolah ingin menjerumuskanku ke dalam pernikahan penuh neraka dengan laki-laki yang sudah jelas tidak setia?
Aku tahu saat ini keuangan keluarga kami sedang tidak stabil. Sokongan keluarga Hanggara sangat dibutuhkan untuk kelangsungan perusahaan keluarga kami, tapi apa harus dengan mengorbankan hidup dan perasaanku?
“Mas, kamu bicara apa?” Kudengar ibu tiriku mendesis setelah menarik tangan Ayah agar menghadapnya. “Kenapa Mentari harus tetap menikah dengan Bastian, sedangkan anak kita yang lain akan menderita karena pernikahan itu? Ingat, Mas. Bastian sudah merenggut kesucian Novita. Ia harus bertanggung jawab! Kalau kamu menikahkan Bastian dan Mentari, lalu bagaimana nasib Novita?”
Ayah menggeram. Wajahnya tampak memerah. “Jangan menyalahkanku!” balas pria itu. “Pernikahan ini sudah diatur sejak lama.”
“Tapi Novita sudah tidak suci lagi! Bastian harus bertanggung jawab sama Novita.” Ibu tiriku bersikeras tanpa memedulikan sekitar. Suaranya makin keras.
“Tapi–”
“Aku hamil, Yah.” Seruan Novita menyela perdebatan Ayah dan ibunya tiba-tiba. “Aku mengandung anak Bastian.”
“Apa!?” Kata itu serempak keluar dari semua mulut di ruangan ini sebelum aura ketegangan menyelimuti.
“Novita!”
Kutatap tajam wajah pucat Bastian yang baru saja berseru, tampak terkejut dan tidak percaya. Sementara wajah Novita terlihat dramatis di mataku, berusaha mendulang simpati.
Namun, tiba-tiba saja aku menoleh ke arah ayahku saat kurasakan tangan beliau yang tengah menggenggam tanganku melemas.
“Ayah!” pekikku seketika saat melihat tubuh ayahku jatuh terkulai. Tak sadarkan diri.
**
Aura penuh ketegangan semakin menyelimuti ruangan di mana kami masih berkumpul. Minus ayah tentu saja karena kondisi kesehatannya menurun.
Awalnya aku menolak ikut melanjutkan pertemuan ini. Aku memilih menemani ayah yang istirahat di sebuah ruangan pasca pingsan tadi. Namun, Nenek Widya memaksaku tetap ikut, karena pertemuan ini menyangkut pernikahanku.
Dengan mata yang terus basah karena tidak tega melihat kesehatan ayah yang menurun, aku terpaksa tetap mengikuti pertemuan itu. Pertemuan yang akan menentukan masa depanku.
“Baiklah, mengingat Pak Bumi Baskara yang kesehatannya menurun, kita harus mengambil keputusan dengan cepat.” Nenek Widya mulai membuka rapat keluarga ini dengan gaya anggun tapi tegas seperti biasa.
Tidak ada yang menyahut. Semua orang menunggu dalam diam.
“Dan setelah Nenek menelaah semua permasalahan, juga efek dari semua yang telah terjadi, maka ….” Nenek Widya melanjutkan, tetapi menggantung kalimat di ujung.
Kami semua menunggu dengan tegang. Kulirik Bastian yang terus tersenyum penuh kemenangan. Lalu, Novita dan ibunya yang terus melemparkan tatapan mengintimidasi padaku.
“Maka, Nenek memutuskan ….”
Aku menahan napas, menanti kelanjutan ucapan Nenek Widya dengan tidak sabar.
“Pernikahan ini tetap berjalan.”
Pundakku meluruh lemah. Bastian tersenyum lebar. Sementara ibunya semakin merengut, dan dua wanita di sana—Novita dan ibunya— ingin melayangkan protes atas putusan itu, hingga ….
“Tapi dengan mempelai yang diganti.” Kelanjutan ucapan Nenek Widya membuatku serta-merta menoleh heran. Pun dengan Bastian yang senyumnya hilang seketika.
“Maksud Nenek?” lontar Bastian tidak sabar.
“Pernikahan akan tetap berlangsung, tetapi Mentari bukan menikah denganmu, Bastian. Melainkan dengan anak laki-lakiku, Samudra Hanggara.”
MEMPELAI PENGGANTI
Bab 3
“Lelucon macam apa ini, Nek?” Bastian yang sekian detik lalu tersentak, kini berdiri. “Bagaimana bisa aku digantikan Om Sam, si laki-laki payah itu?” Lelaki itu melayangkan protes.
“Tutup mulutmu, Bas!” Nenek Widya tampak tidak suka dibantah. Matanya melebar walaupun tetap bergaya anggun dan elegan. “Keputusan Nenek sudah bulat. Pernikahan tidak mungkin dibatalkan karena perjodohan ini amanah kakekmu dan kakeknya Mentari. Nenek harus memastikan amanah ini terlaksana sebelum Nenek meninggal.”
“Tapi kenapa aku harus digantikan Om Sam, Nek? Dia itu laki-laki payah. Aku yakin dia tidak ingin menikah seumur hidupnya. Dia tidak menyukai perempuan!”
“Tutup mulutmu, Bastian Hanggara!” Nenek Widya kembali menegur. “Jika memang kamu tidak bersedia Mentari menikah dengan pria lain, seharusnya kamu jaga sikapmu dan tidak mencoreng nama keluarga seperti ini!”
Rahang Bastian mengeras, sementara wajahnya memerah.
“Aku tetap tidak terima, Nek.” Bastian terus melayangkan protesnya dengan keras. “Lagi pula, kenapa aku yang digantikan? Jika memang tujuannya menyatukan dua keluarga, aku dan Novita juga bisa menikah besok.”
Ucapan itu menciptakan lengkung senyum di tiga wajah wanita. Novita, ibunya dan ibu Bastian. Aku bisa melihatnya, dan paham jika Tante Esther lebih menyukai Novita. Saudara tiriku itu memang berhasil lulus kuliah dan kini tengah bekerja kantoran, serta aktif sekali bersosialisasi sana sini.
Sementara aku? Ah, sempat kupikir Bastian tidak rela untuk melepaskanku. Ternyata pria berengsek itu hanya tidak mau kalah saing, egonya tidak mengizinkan dia untuk itu. Jika dia yang digantikan, pastilah orang-orang tahu siapa yang bersalah di sini.
Bagaimana aku bisa tidak menyadari hal tersebut sebelumnya?
“Ini perjodohan antara keluarga Hanggara dan keluarga Baskara,” tegas Nenek Widya. “Harus keturunan asli yang dijodohkan. Bukan anak tiri. Nenek tidak mau keturunan Hanggara menikah bukan dengan keturunan asli keluarga Baskara. Ingat, Novita hanya cucu tiri kakeknya Mentari.”
Hening beberapa saat setelah penjelasan panjang Nenek Widya. Raut tidak terima masih tercetak jelas di wajah Bastian.
Pria itu berjalan gusar ke sana kemari dengan bola mata bergerak liar. Kedua tangannya bertolak di pinggang. Pertanda ia masih mencari alasan untuk membuat keputusan neneknya berubah.
Sementara aku?
Aku sejak tadi hanya menyimak, merasakan dada ini tidak pernah diberi kesempatan untuk menghirup banyak oksigen. Rasa sesak terus menjejali dada.
Bagaimana tidak? Setelah diminta tetap menikah dengan Bastian yang jelas-jelas sudah berkhianat, kini diberi pilihan lain yang sama sekali bukan solusi.
Nenek Widya ingin aku tetap menikah dengan keturunannya. Dan Samudra Hanggara yang kini dipilihnya menjadi mempelai pengganti Bastian.
Bagaimana mungkin aku menikah dengannya, sedangkan rupa lelaki itu saja aku tidak pernah tahu. Dan menurut cerita Bastian, Samudra itu lelaki payah yang tidak pernah dianggap ada dalam keluarga Hanggara.
Ini istilahnya lepas dari mulut harimau masuk mulut ular. Bisa saja Samudra Hanggara itu seorang psikopat kejam, atau pembunuh berdarah dingin, atau kanibal. Sekalipun ia adalah putra Nenek Widya, tapi keberadaannya disembunyikan oleh keluarga.
Atau bisa juga ia seseorang yang memiliki orientasi seks menyimpang, ingin menjadi transgender tetapi ditentang keluarganya. Bisa saja, kan? Secara dia memang tidak pernah terlihat dalam keluarga.
Aku bergidik ngeri. Ya Tuhan, kenapa nasibku seburuk ini? Bukankah ini artinya Nenek Widya ingin menumbalkanku? Andai saja kondisi Ayah–
“Tari.” Sentuhan di punggung tangan membuat mataku yang semula terpejam, membuka. Ternyata Bastian sudah duduk di sampingku. “Ayo, ajukan keberatanmu pada Nenek. Kamu tidak mau kan, menikah dengan Omku yang payah itu? Yang tidak kamu kenal itu?”
Aku menelan ludah seraya menatap wajahnya yang serius. Sungguh, aku tidak mau menikah dengan Samudra, tapi aku lebih tidak mau menikah dengan bajingan di depanku ini.
“Dia itu sangat payah. Kamu tidak akan hidup bahagia dengannya, Tari. Dia tidak akan bisa memenuhi nafkahmu baik lahir maupun bathin.” Bastian meyakinkanku dengan sangat serius.
“Om Sam tidak punya pekerjaan. Dia juga bukan laki-laki sejati. Di usianya yang hampir 40 tahun itu, Om Sam belum pernah mengenal wanita sama sekali. Apa kamu mau hidup dengan laki-laki payah itu selamanya?” Bastian terus memprovokasi. “Ayo sampaikan keberatanmu sama Nenek. Katakan kamu akan tetap menikah denganku saja.”
“Bastian!” Nenek Widya menegur, kali ini lebih keras. Wajah ayunya memerah. “Jaga mulutmu! Urus saja masalahmu dengan wanita itu.”
Telunjuk Nenek Widya mengarah ke wajah Novita yang tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya, seperti baru mendapat lotre.
Sementara Bastian berdecak seraya membuang pandangan.
“Tari, keputusan Nenek sudah final. Kamu tetap akan menikah dengan salah satu anggota keluarga Hanggara untuk memenuhi amanah para tetua. Dan karena Bastian sudah membuat ulah, maka pamannya yang akan menggantikan.” Nenek Widya menancapkan lagi pengaruhnya dengan titah tak terbantahkan.
“Kamu tidak perlu mendengarkan ucapan Bastian. Tapi jika semua yang diucapkan Bastian itu benar, tugasmu nanti sebagai istri membuat Samudra lebih baik.”
Aku menggigit bibir sambil memejam. Apalagi yang bisa kulakukan? Bahkan jika aku ingin menolak semua ini, kesehatan ayah taruhannya.
**
Aku berjalan gontai menyusuri lorong rumah besar keluarga Hanggara. Tujuanku salah satu ruangan di mana ayah beristirahat.
Apa ada yang bernasib lebih buruk dariku? Sudahlah hidup tertekan sejak ayah menikahi ibunya Novita dan membawanya ke rumah, putus kuliah, dikhianati calon suami, kini harus menghadapi kenyataan akan menikah dengan laki-laki yang bahkan wujudnya saja aku tidak pernah tahu.
Ibu, kenapa dulu kamu tidak membawaku serta saja ke surga?
Aku berniat meraih gagang pintu ruangan tempat Ayah istirahat, saat seseorang menabrak pundak ini dengan kasar. Rentetan olokan pun langsung memenuhi indra pendengaran.
“Hei, lihatlah siapa ini? Calon pengantin dari laki-laki payah!” Novita yang datang bersama ibunya langsung mengejekku dengan mengatai tepat di depan wajahku.
Tawa kedua wanita itu membahana setelahnya.
“Selamat menjadi istri dari om-om payah, Mentariku sayang,” lanjut Novita lagi diakhiri cekikikan.
Aku mengepalkan tangan.
“Kasihan ya, kamu. Seumur hidup tidak akan pernah merasakan apa itu surga dunia. Ahh ….” Sebuah desahan menjijikkan mengakiri olokan saudara tiriku itu.
“Sudah, jangan diledek terus saudaramu, Vita. Kasihan, sudahlah tidak jadi dengan Bastian, eh dapatnya laki-laki tua yang payah.” Ibu tiriku ikut-ikutan mengucapkan kalimat yang tidak kalah pedas.
Tanganku semakin mengepal. Kini diserai rahang yang mengeras.
“Oh iya, Ma. Aku lupa, nanti Tari mengemis minta ditiduri lagi sama Bastian. Calon suamiku kan, hebat. Dia sangat perkasa.”
Darah tetiba mendidih. Kepalan tangan semakin kuat. Napas kutahan karena sesuatu terasa ingin meledak.
“Jangan sampai itu terjadi, jangan sampai Tari merasakan bagaimana hebatnya Bastian. Walaupun Bastian sendiri sudah mengatakan tidak sudi menikahi wanita yang pastinya tidak bisa lebih hebat dariku di ranjang, bisa saja diam-diam tari merayu—”
“Tutup mulut busukmu, dasar murahan!” Aku sudah tidak tahan lagi. Tidak menunggu sampai Novita menyelesaikan kalimatnya, kuterjang dia dengan kasar. Namun, belum sempat aku meremas mulut lemesnya, ibu tiriku bertindak lebih dulu. Wanita itu menarik tanganku, dan mendorong tubuh ini dengan kuat hingga aku terjengkang.
Aku memekik sambil memejam karena yakin tubuh ini akan membentur dinding koridor tak lama lagi. Namun, sesuatu yang terasa kokoh dan hangat tetiba menahan punggung ini hingga aku tidak jadi terjatuh.
Hening beberapa saat. Aku membuka mata karena heran, dan yang pertama kulihat adalah wajah pucat dua wanita di hadapanku.
Ada apa?
Kuikuti arah pandangan mereka hingga mendapati sesosok manusia tinggi besar dengan wajah dipenuhi bulu liar dan rambut gondrong yang diikat asal, berada tak jauh dengan tubuh ini. Bahkan bisa dibilang sangat dekat.
Masih hening saat pupil mataku bergerak perlahan menyusuri sosok itu. Dari wajahnya yang menyeramkan, hingga tangannya yang ternyata sedang … memegangiku.
Oh Tuhan, jantungku seolah berhenti berdetak sebelum kemudian ingin loncat dari rongganya. Bagaimana tidak, manusia besar itu ternyata sedang–
“Ah!” Aku sontak memekik saat menyadari berada dalam pelukannya. Kaget, dan tentu saja takut. Kemudian tiba-tiba duniaku menggelap.
Aku tidak ingat apa-apa lagi.
PRIA PAYAH ITU BERNAMA SAMUDRA
Bab 4
“Tari, ini Samudra, calon suamimu.”
Ingin rasanya aku pingsan lagi dan lagi mendengar penjelasan Nenek Widya.
Bagaimana tidak? Aku yang kini duduk di sebuah sofa empuk, diperkenalkan dengan lelaki menyeramkan yang tadi menangkap tubuh ini sebagai calon suamiku.
Semua bayangan buruk yang tadi sempat terlintas tentang kepribadian Samudra langsung menempel begitu saja karena sosoknya yang sangat ajaib ini. Tinggi besar—walaupun mungkin tingginya hanya seratus delapan puluh centimeter, tetapi bagiku yang berperawakan mungil, ia sangat tinggi. Menjadi sangat menyeramkan karena rambut gondrongnya yang hanya diikat asal.
Jangan lupakan juga bulu-bulu di wajahnya yang dibiarkan tumbuh liar. Bahkan aku yakin jika kulitnya tak pernah bersentuhan dengan pisau cukur selama berbulan-bulan.
Jangankan untuk berjabat tangan dengannya, aku bahkan takut untuk sekadar mengangkat wajah dan meliriknya.
Alhasil aku hanya menunduk sambil memilin jemari satu sama lain. Tubuhku terasa menggigil berada di ruangan yang sebenarnya bersuhu normal ini.
Tadi aku pingsan saking kaget melihat rupa Samudra, dan saat sadar sudah berada di ruangan ini dengan Samudra yang duduk bersebelahan dengan Nenek Widya, plus ibu dan saudara tiriku yang yang terus saja cekikikan. Entah mentertawakan apa.
Anehnya mereka akan berhenti cekikikan dan terdiam kaku, jika Samudra menoleh dan menghunjamkan tatapannya.
Samudra? Laki-laki tua menyeramkan itu calon suamiku?
Ya Tuhan, pernikahan seperti apa yang akan aku jalani nanti? Aku bahkan takut untuk sekadar melihat wajah calon suamiku ini.
“Tari, karena kamu sudah sadar dan sudah bertemu Samudra, silakan bicara berdua. Mungkin ada yang ingin kalian diskusikan. Gunakan waktu singkat ini untuk saling mengenal satu sama lain.”
Aku menelan ludah dengan susah payah mendengar ucapan Nenek Widya. Diskusi katanya? Tubuhku bahkan sudah gemetar duluan membayangkan harus duduk berdua dalam satu ruangan dengan laki-laki itu.
Terasa sentuhan di pundak, lalu usapan lembut. Aku mendongak dengan ragu, lalu mendapati wajah elegan itu mengangguk dan tersenyum tipis. Entah itu sebuah dukungan atau ejekan, yang pasti setelah itu Nenek Widya yang selalu ditemani seorang ajudan perempuan, langsung berjalan menuju pintu. Meninggalkan diri ini yang semakin ketakutan.
Dua langkah kaki mendekat setelahnya. Aku tahu itu ibu dan saudara tiriku. Kepalaku semakin menunduk karena yakin mereka hanya ingin mengolok.
“Selamat menikmati hari-hari menyeramkan bersama makhluk jadi-jadian, Tari.” Salah satu dari mereka berbisik dramatis hingga menciptakan ketakutan yang lebih gila dalam dada.
“Kuatkan dirimu sejak saat ini, karena mungkin kau akan mati jantungan di hari pertama menjadi istri makhluk jadi-jadian itu. Atau … dia akan merubahmu menjadi makhluk jadi-jadian juga setelahnya. Ups,” bisik yang lainnya.
Keduanya lalu mengusap pundakku lembut seperti yang dilakukan Nenek Widya. Namun, efeknya amat berbeda, sangat sukses menjatuhkan mentalku sampai titik terendah.
Kepalaku semakin tertunduk dalam pasca kepergian Novita dan ibunya. Sadar jika hanya ada aku dan laki-laki bernama Samudra di ruangan ini, dadaku mulai sesak. Tubuhku kian menggigil. Padahal ruangan ini sangat luas dan nyaman.
Untuk beberapa lama hanya keheningan dan napas beratku yang tertangkap telinga. Aku tidak tahu apa yang sedang dilakukan Samudra saat ini.
Apa ia sedang menatapku seperti singa lapar karena menganggapku korban empuk kanibalisme?
Ya Tuhan, apa hidupku harus berakhir mengenaskan di tangan–
“Sampai mana persiapan pernikahan?”
Aku mengerjap saat mendengar pertanyaan dari suara yang terdengar sangat … maskulin di telinga.
Apa itu suara Samudra? Kenapa suaranya tidak semenakutkan wajahnya?
Tapi jika bukan suaranya, suara siapa lagi? Hanya ada kami berdua di sini.
“Apa semua sudah cocok denganmu?” Lagi, sebuah pertanyaan mengalun dari suara yang sama. Ingin aku mendongak untuk memastikan jika itu benar suaranya, tapi rasa takut terlalu mendominasi.
“Barangkali ada yang kurang cocok dengan seleramu, konsep resepsi mungkin, kita bisa mengubahnya. Mumpung masih ada waktu.” Lagi suara itu bicara, kali ini lebih panjang. Mungkin karena aku masih juga diam.
Kali ini dengan menguatkan hati, aku mencoba mendongak. Rasa penasaran mengalahkan ketakutan.
Namun, hanya sekejap saja aku mampu mengangkat wajah. Gegas kembali menunduk saat tatapan kami bertemu karena ternyata ia pun tengah menatapku.
Aneh memang, tatapannya tak segarang rupanya. Bahkan terkesan … teduh dan damai.
Meskipun tetap saja aku merasa takut.
“Katakan saja jika ada yang ingin kamu ubah atau tambahi, aku akan—”
“Kenapa Om mau menikah denganku?” Akhirnya kuberanikan diri bertanya untuk menyela ucapannya. Tak ayal dada ini berdebar keras, takut ia marah dengan pertanyaanku.
Tidak ada jawaban, dan itu menarik kepalaku agar mendongak lagi. Lagi-lagi aku kembali menunduk dengan cepat karena ia tengah menatapku dalam diam.
“Karena kamu tidak mau menikah dengan Bastian.” Jawabannya ambigu walaupun memang benar. Tapi bukan jawaban itu yang ingin aku dengar.
Aku heran kenapa kenapa ia menerima pernikahan ini begitu saja. Kenapa tidak menolak? Bukankah ia tidak menyukai perempuan?
“Apa kamu mau tetap menikah dengan Bastian?”
Aku langsung menggeleng kuat mendengar pertanyaan itu. Tentu saja aku tidak mau.
“Lalu kamu mau menikah dengan siapa? Kakakku Benny? Ayah Bastian?”
Aku mendongak lagi. Pertanyaan macam apa itu? Aku pikir ia sedang bercanda, tetapi raut menakutkan itu sangat serius.
“Kakakku Benny sudah menikah, kamu tidak mau menikah dengan Bastian. Hanya tersisa aku, bukan?”
Aku memejam seraya menggigit bibir. Kenapa aku harus menanyakan pertanyaan bodoh? Tentu saja Om Samudra juga sama sepertiku, terpaksa karena orang tua. Perjodohan yang menyusahkan memang.
Yang aku heran, kenapa ia tidak menolak? Atau itu sudah dilakukannya, hanya saja Nenek Widya memaksa dengan berbagai ancaman?
“Tapi Om kan tidak suka perempuan, kenapa mau dipaksa menikah?” Entah keberanian dari mana pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut ini. Benar-benar lancang. Aku gegas memukul mulut berulang kali. Takut ia tersinggung.
Anehnya saat aku memberanikan diri meliriknya, tidak kudapati raut marah, kesal atau apa pun di sana. Hanya raut datar yang bagiku tetap saja menakutkan.
Setelahnya aku tidak bicara apa pun lagi. Aku tidak tahu harus berkata apa. Satu yang kupikirkan, aku tidak mungkin menjalani pernikahan dengan laki-laki ini.
“Apa kamu tidak mau bertanya tentang aku?”
Tunggu! Apa pertanyaan itu tidak terlalu percaya diri? Siapa yang mau mengenal Om-om payah yang menakutkan seperti ini? Aku bahkan sudah bertekad tidak ingin menjalani penikahan yang sesungguhnya sejak awal melihatnya.
“Tidak perlu, Om. Itu tidak perting. Toh, kita tidak benar-benar akan menikah, bukan?”
“Maksud kamu?”
“Maksudku ….” Aku menelan ludah. Sudah kutekadkan jika aku dan dia hanya akan menggugurkan kewajiban terhadap orang tua atas perjodohan ini. Tidak ada perjanjian jika aku dan keturunan keluarga Hanggara harus terikat seumur hidup, bukan? Kami menikah dan bisa berpisah kapan saja. Dengan alasan tidak cocok, kami bisa bercerai di kemudian hari.
Aku yakin Om Samudra akan setuju karena sama sepertiku, ia tidak menginginkan pernikahan ini.
“Maksudku, ayo kita buat surat pejanjian pernikahan.” Entah keberanian dari mana. Kini aku tidak setakut tadi. Bicaraku sudah lumayan lancar, tidak gagap seperti di awal.
“Surat perjanjian?” Om Samudra mengulang ucapanku.
“Ya, kita menikah hanya di atas kertas, kan? Kita tidak sungguh-sungguh menikah, kan? Aku yakin jika Om juga terpaksa menikahiku. Om tidak pernah menginginkan perempuan. Aku ingin kita membuat surat perjanjian pernikahan sampai kita bercerai nanti.”
Laki-laki itu terdiam beberapa saat. Aku tidak dapat menerka apa yang sedang ia pikiran. Selain hanya meliriknya sebentar-sebentar, mimik wajahnya yang tetap dibuat datar, membuatku tidak mudah menebak apa yang dipikirkannya.
“Oke, aku setuju,” ujarnya akhirnya.
Aku tersenyum tipis. Ternyata bicara dengannya tidak sesulit yang aku bayangkan, walaupun ketakutan itu masih ada, terutama jika menatap wajahnya yang sangat berantakan. Namun, ia termasuk kooperatif. Mungkin kami memang bisa bekerja sama mengelabui orang tua demi bisa menggugurkan kewajiban itu.
Siapa juga yang mau menghabiskan hidup dengan Om-om payah yang menakutkan ini. Aku masih muda dan normal, aku ingin menikah dengan laki-laki normal juga. Punya banyak anak dan hidup bahagia.
“Aku setuju, tapi ada satu syarat yang ingin aku ajukan dalam perjanjian itu,” lanjutnya ringan tanpa beban setelah beberapa lama.
“Syarat?” Keningku berkerut. “Syarat apa?”
Dia terdiam lagi beberapa saat. Hanya saja seperti tadi, wajahnya tetap datar.
“Syaratnya … sesuai yang ibuku pinta. Kita harus memberinya cucu dulu, baru kita bisa bercerai.”
“Apa?”
SURAT PERJANJIAN
Bab 5
“Arghhhh ….” Aku mengacak rambut dengan frustrasi. Lalu meremas kertas di atas meja, membuangnya ke tempat sampah yang bahkan sudah penuh dengan benda serupa. Entah sudah berapa banyak kertas-kertas tak bersalah itu kuremas kasar dan dilempar begitu saja. Rasanya sangat sulit menyusun kalimat untuk poin-poin perjanjian pernikahan itu.
Ya, aku kini tengah menyusun surat perjanjian kontrak dengan laki-laki bernama Samudra Hanggara yang tiba-tiba saja menjadi calon suamiku.
Apa harus hidup selawak ini?
Kemarin calon suamiku masih Bastian pemuda tampan yang dipuja banyak wanita, hari ini tiba-tiba semua berubah. Tiba-tiba saja mempelaiku berganti menjadi laki-laki tua yang menurut ibu dan saudara tiriku makhluk jadi-jadian dari planet lain.
Aku mengusap wajah dengan kasar. Entah kalimat apa lagi yang harus kutulis dalam surat perjanjian itu. Bayangan wujud Samudra yang ‘ajaib’ membuatku tidak bisa fokus, padahal biasanya aku pandai merangkai kata. Dan anehnya aku harus menyusun surat itu sendirian. Bukankah seharusnya kami membuatnya berdua?
“Terserah poin apa pun yang ingin kau masukkan. Aku hanya minta satu syarat tadi karena itu permintaan ibuku.” Itu jawaban makhluk jadi-jadian itu saat aku meminta pendapatnya perihal surat itu.
Saat itu tentu saja aku mencebik. Dia ingin anak dariku katanya. Aku langsung menyetujui syarat itu.
Kenapa?
Tentu saja karena aku yakin laki-laki itu tidak akan bisa melakukannya. Bastian sudah bilang ia tidak menyukai perempuan. Jadi, aku sangat yakin jika ia tidak akan mampu melakukannya. Ia tidak akan pernah menyentuhku selama pernikahan kami.
**
Aku berjalan menyusuri koridor rumah besar milik keluarga Hanggara dengan tangan memeluk berkas di dada. Aku ingin kami, maksdunya aku dan Samudra menandatangani surat perjanjian ini sekarang juga sebelum aku pulang. Hari pernikahan kami hanya tinggal menghitung jam, dan mungkin kami tidak akan bertemu lagi sampai hari itu. Jadi, aku ingin semua clear sebelum hari itu agar tidak ada ganjalan di hati.
Aku berjalan agak mengendap untuk kembali menemui Samudra. Jangan sampai Nenek Widya atau siapa pun tahu jika kami membuat sebuah perjanjian.
Aku hampir mencapai ruangan yang tadi dipakai pertemuan antara aku dan calon suami jadi-jadian itu saat sebuah tepukan mampir di pundak. Lalu disusul tarikan di pergelangan tangan. Aku memekik dan hampir berteriak kaget saat tubuh ini disudutkan di dinding dengan seseorang kini mengungkung tubuh ini. Namun, suaraku tak keluar karena mulut ini sudah dibekap lebih dulu.
Kedua bola mataku membola saat mendapati jika yang melakukan semua ini adalah mantan calon suami yang di mataku sekarang sangat memuakkan. Aku meronta ingin terlepas.
“Jangan berteriak, Mentari. Ini aku,” bisiknya yang perlahan membuka bekapan tangannya saat melihatku tak lagi meronta.
“Mau apa lagi kamu?” desisku dengan napas tersengal. Kulirik salah satu tangannyanya yang memenjarakan tubuh ini di dinding. Sungguh, aku tidak nyaman dengan posisi ini. Tubuhnya berada sangat dekat hingga hampir menempel.
Meski pernah merencanakan pernikahan, aku belum pernah sedekat ini dengan Bastian sebelumnya. Aku sangat menjaga jarak dan tidak mau disentuh sebelum pernikahan, dan ia menghargai itu. Ia belum pernah bersikap tidak sopan seperti saat ini. Itu yang membuat aku begitu respect padanya dulu.
Walaupun kenyataannya ….
“Aku mau kamu memikirkan lagi pernikahan dengan Om Sam, Tari. Kamu tidak benar-benar menerima keputusan Nenek, kan?”
“Apa maksudmu?” Aku mendesis lagi. Aku tidak mengerti apa yang dipikirkan Bastian.
“Tari, sudah kukatakan jika Om Sam itu laki-laki payah, dia tidak akan mampu menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami. Nanti kamu menderita nikah sama dia. Kamu tidak akan mengenal sama sekali kebahagiaan.”
Mataku memicing. “Jangan sok tahu. Apa kamu yang menentukan kebahagiaanku?” Aku kembali mendesis. Kali ini seraya mendorong dadanya agar tidak terlalu dekat. Untunglah sejak tadi tanganku memeluk map di dada.
“Tentu saja aku tahu. Aku sangat mengenal Om Sam. Dia adik ayahku. Dia tidak akan membuatmu bahagia.”
“Lalu, siapa yang bisa membuatku bahagia? Kamu?” Aku menantang matanya.
“Ya. Hanya aku yang bisa membuatmu bahagia, Tari. Aku tahu kamu sangat mencintaiku. Batalkan pernikahan dengan Om Sam dan menikahlah denganku. Aku berjanji akan membahagiakanmu.”
Aku tersenyum miring. Entah apa yang laki-laki ini pikirkan. Kenapa ia begitu ngotot ingin pernikahan kami tetap berjalan. Aku yakin bukan karena ia mencintaiku. Karena aku tidak menemukan setitik pun binar cinta di matanya untukku. Bahkan mungkin sejak dulu. Aku saja yang bodoh baru menyadarinya sekarang.
“Ayo, Tari. Batalkan pernikahanmu dengan Om Sam dan kita lanjutkan pernikahan kita. Jika kamu yang minta pada Nenek, maka wanita tua itu akan mengabulkannya.”
Mataku melebar mendengar ucapan Bastian. Satu hal yang aku tangkap, jika Bastian tidak sesopan yang aku kira selama ini. Mungkin selama ini mataku dibutakan cinta hingga tidak bisa melihat jelas siapa laki-laki ini. Atau karena ia yang sangat pintar bersandiwara?
“Wanita tua?” gumamku dengan mata memicing. Lalu kembali mendorong dadanya yang mendekat lagi.
“Kau menyebut nenekmu dengan sebutan itu? Apa kau sadar dengan apa yang kau ucapkan?”
Bastian terhenyak, tetapi hanya sekejap.
“Ah, sudahlah. Kau ini terlalu banyak bicara, Mentari.” Wajah tampan itu tiba-tiba merengut. Kini bukan hanya sebelah tangannya, tetapi tangan yang satunya juga ikut mendorong dinding hingga tubuh ini benar-benar terpenjara di antara kedua tangannya.
Aku semakin tidak nyaman dan bahkan mulai ketakutan. Posisi kami saat ini akan membuat siapa pun yang melihat berpikiran buruk. Aku berusaha melepaskan diri dengan mendorong lagi dadanya yang rasanya terlalu kuat. Tapi aku harus melakukannya sebelum siapa pun melihat kami.
Kudorong kuat tubuhnya agar menjauh. Kali ini tangan yang memegang map ikut melakukannya, hingga isi map jatuh dan berhamburan di lantai.
Mataku membola karenanya. Surat perjanjian kontrak itu jatuh. Dan entah apa yang akan dipikirkan Bastian jika sampai ia membacanya. Ia pasti akan mentertawakanku dan merasa semakin di atas angin.
Bastian sendiri terlihat heran melihat kertas berjatuhan dari dalam map yang kupegang. Perhatian laki-laki itu teralih. Kedua tangannya terlepas dari dinding. Dan selanjutnya laki-laki itu membungkukkan badan guna meraih salah satu kertas yang paling dekat dengan kakinya.
Jantungku terasa berhenti berdetak.
SIAPA DIA?
6
“Apa yang kamu lakukan, Bas?”
Pertanyaan dari suara bariton membuat aku dan Bastian menoleh hampir bersamaan. Bastian yang hampir membungkuk, mengurungkan niatnya. Dan kesempatan itu kugunakan cepat untuk mengambil semua kertas yang terserak. Memasukkan kembali ke dalam map dengan asal. Setelahnya aku langsung berlari dan mengambil tempat di belakang pria yang barusan bertanya. Samudra.
Walaupun masih takut melihat wujud Samudra, tapi aku lebih takut dengan laki-laki seperti Bastian. Aku takut ia nekat menyentuhku secara ia sudah terbiasa melakukannya tanpa merasa berdosa.
Bastian mendengkus melihatku berlindung di belakang tubuh Om-nya. Kemudian pergi tanpa berkata-kata.
Aku memejam sembari melepaskan napas lega. Kemudian mengekori Samudra yang membuka pintu ruangan di belakang tubuh kami.
Untunglah Bastian tidak sempat mengambil dan membaca surat perjanjian kontrak pernikahan ini. Kalau sempat, mau ditaruh di mana wajah kami? Ia pasti akan mengolok kami sepanjang waktu. Menyebarkan berita kepada seluruh keluarga, dan lebih parahnya punya kunci untuk menekanku agar membatalkan pernikahan dengan Samudra dan memaksa menikah dengannya.
Aku langsung menutup pintu begitu kami berada di dalam ruangan. Lagi-lagi kuhela napas lega. Bersyukur Samudra datang tepat waktu di saat aku terdesak. Semoga saja dia tidak melihat posisi kami tadi.
“Masih berniat melanjutkan pernikahan dengan Bastian?” tanya Samudra yang kini duduk di sofa. Wajahnya datar seperti biasa.
Keningku mengernyit. “Kenapa Om bertanya begitu?”
Jangan-jangan ia melihat perbuatan Bastian tadi dan berpikiran buruk tentang kami.
Pria itu terlihat menarik napas panjang. “Aku pikir kamu sangat mencintainya,” ujarnya masih dengan datar juga.
Aku memejam dengan kuat.
Cinta?
‘Ya, aku sangat mencintainya. Tapi itu dulu. Sebelum tahu jika ia sudah berselingkuh di belakangku.’
Ingin kukatakan itu, tetapi nyatanya hanya dalam hati aku mampu mengatakannya. Sudah tidak penting membahas Bastian. Yang terpenting sekarang membahas hubungan kami. Pernikahan dan perjanjian ini.
“Aku sudah membuat surat perjanjiannya, Om.” Kuputuskan mengalihkan pembicaraan. Lalu meletakkan map di meja. “Aku buat rangkap dua agar kita masing-masing bisa menyimpannya.”
Samudra tidak menjawab. Ia hanya melirikku sebentar dan langsung meraih map yang aku taruh, lalu mengeluarkan pena setelah mencari lembaran halaman paling akhir di mana kami harus membubuhkan tanda tangan.
Ya, aku lupa tadi kertas-kertas itu berserakan di lantai, dan aku memasukkan dengan asal tanpa disusun kembali. Pantas jika Samudra harus mencari halaman terakhirnya dulu. Aku menahan pria itu saat merasa ada kejanggalan.
“Tunggu, Om!” Aku menahannya saat ia ingin langsung menandatangani surat itu.
Samudra menghentikan gerakan tangannya, kemudian menengadah menatapku. Aku bahkan masih berdiri karena masih canggung harus duduk berhadapan dengannya.
“Kenapa? Tidak jadi membuat surat perjanjian?” Kedua alisnya terangkat.
“Bu-bukan itu.” Aku menggoyangkan tangan. “Apa Om tidak mau membaca dulu semuanya? Siapa tahu ada poin yang Om tidak setuju.”
Samudra diam sesaat, tetapi tak lama kembali menggerakkan penanya. “Aku setuju semua, asal satu syarat itu sudah kamu masukkan,” ujarnya tenang.
“Bagaimana kalau belum aku masukkan? Makanya Om baca dulu semua.”
“Kamu masukkan di poin terakhir, kan? Bahkan dengan memejam pun aku bisa membacanya.” Ia langsung membubuhkan tandatangannya bahkan di dua berkas sekaligus dengan ringannya. Dan itu semakin meyakinkanku, jika pernikahan ini baginya tidak penting sama sekali.
**
Aku memilin jari-jemari dengan resah. Telapak tangan sejak tadi sudah basah oleh keringat dingin. Berkali-kali kutarik napas dalam dan membuangnya kasar. Berharap berbagai gemuruh di dada ternetralisir.
Berkali-kali MUA yang tengah mendandaniku membetulkan posisi kepala ini yang selalu menunduk. Rasa gugup tak dapat kututupi. Bahkan sejak semalam aku tidak dapat memejamkan mata.
Ini hari pernikahanku. Aku begitu stress memikirkannya. Membayangkan jika setelah ini aku tidak akan lagi tidur sendiri di kamarku, dada terasa sesak. Setelah hari ini, aku harus tinggal dan hidup bersama pria yang baru kutemui dua kali. Itu pun dalam durasi yang tidak lama. Hanya berkenalan dan menandatangani surat perjanjian.
Walaupun terlihat tidak seberbahaya yang aku pikirkan, bisa saja itu hanya citra yang ia tampilkan di awal. Bisa saja setelah menikah nanti baru keluar aslinya.
Aku menelan ludah dengan susah payah. Olokan ibu dan saudara tiriku selama menunggu hari ini membuatku benar-benar tersiksa. Aku terus membayangkan semua kemungkinan buruk yang akan terjadi setelah benar-benar menikah dengan pria itu.
Belum lagi jika memikirkan pandangan dan gunjingan tamu undangan yang akhirnya tahu jika pengantin prianya sudah diganti.
Aku kembali memejam. Entah apa yang akan mereka pikirkan melihatku bersanding dengan makhluk jadi-jadian? Terlebih teman-teman yang sudah kuundang dan tahu jika aku akan menikah dengan Bastian Hanggara. Pemuda tampan yang menjadi pujaaan banyak wanita. Mereka bahkan iri karena aku yang hanya gadis biasa-biasa ini bisa bersanding dengan pemuda seperti Bastian.
Tapi kini? Aku sudah tidak sanggup duluan membayangkan apa yang akan mereka pikirkan.
“Nona Mentari,” panggilan suara wanita yang lumayan dekat telinga membuat mata ini terbuka.
“Sudah selesai, Nona,” ujar wanita tiga puluhan yang entah sudah berapa lama mendandaniku.
Aku menatap bayangan di cermin. Di mana terdapat pengantin wanita cantik yang bahkan tidak kukenali. Begitu mahir para perias itu menyulap diri ini menjadi sangat asing bahkan untuk diriku sendiri.
“Nona Tari suka?” Salah seorang di antara mereka bertanya seraya membetulkan letak sigger yang sebenarnya sudah bertengger cantik di kepalaku.
Aku tersenyum puas. Aku sangat suka hasil kerja mereka yang sempurna hingga aku terlihat seperti ratu betulan. Hanya saja senyumku memudar saat menyadari dengan siapa aku menikah. Aku bahkan yakin jika kami nantinya hanya akan menjadi tontotan konyol.
Bagaimana tidak? Mempelaiku seorang pria tua dengan rambut panjang dan keriting seperti seorang rocker. Belum lagi bulu-bulu di wajahnya yang tidak pernah bersentuhan dengan pisau cukur.
Ya Tuhan … apa aku tidak berhak mendapat laki-laki yang lebih baik?
“Nona, sudah ditunggu untuk acara akad nikah.” Salah satu panitia masuk ke ruangan ini dan mengabarkan agar aku segera keluar.
Kembali aku memejamkan mata. Kali ini hanya sebentar. Lalu menarik napas panjang sebelum benar-benar keluar.
Aku mulai berjalan anggun dan pelan di atas hamparan karpet merah, karena kain kebaya yang kupakai lumayan sempit. Dua orang panitia wanita dari WO mengiringiku di sisi kiri dan kanan. Dan dua lainnya membantu mengangkat ujung kebaya yang panjang menyapu lantai.
Aku bukan tidak tahu jika semua tetamu undangan yang duduk di kanan dan kiri jalanan berkarpet merah, tengah menatapku saat ini. Ya, aku tengah menjadi pusat perhatian dengan kemunculan diri ini untuk melaksanakan acara inti pernikahan. Kukepalkan kedua tangan untuk menyemangati diri. Aku harus kuat menghadapi apa pun yang akan terjadi setelah ini. Termasuk mendengar olokan semua tamu undangan yang akan mentertawakan pernikahan ini.
Kedua panitia yang membersamaiku mengisyaratkan agar aku menghentikan langkah di sebuah persimpangan aula ini. Salah satunya menunjuk ke depan. Memintaku agar menunggu dan menatap ke sana. Ke arah berlawanan, di mana di atas karpet merah juga, sedang berjalan sesosok pria tinggi tegap dengan kostum pengantin. Ia berjalan gagah menuju tempatku berdiri.
Aku mematung di sini dengan mata yang tetiba membola sempurna, bahkan ingin loncat dari rongganya. Bukan hanya itu, mulutku tak sadar terbuka lebar. Jantung terasa berhenti berdetak.
Bagaimana tidak? Sosok pria berkostum pengantin yang berjalan ke arahku itu, bukan makhluk jadi-jadian yang selalu aku takutkan siang dan malam. Melainkan pria tampan dan matang yang terlihat sangat sempurna.
Tidak ada rambut gondrong keriting yang tak terurus. Tidak ada bulu-bulu liar yang bahkan menutupi hampir sebagian wajahnya. Yang ada di hadapanku dan baru saja sampai itu hanya sosok pria berusia tiga puluh tujuh tahun yang sangat gagah dalam balutan kostum pengantin serupa denganku.
Ya Tuhan ….
Tubuhku nyaris limbung jika saja empat orang panitia yang sejak tadi membersamaiku tidak menahan tubuh ini.
TIDAK PERCAYA
Bab 7
“Apa kamu sudah merasa lebih baik?” Pertanyaan itu datang dari mulut wanita sepuh yang hari ini didandani sangat cantik hingga terlihat puluhan tahun lebih muda dari usianya.
Wanita sepuh yang tidak lain Nenek Widya. Beliau menyodorkan segelas air di dekat mulutku yang megap-megap seperti ikan kehabisan air.
Memalukan memang, di detik-detik acara inti pernikahan, aku nyaris pingsan. Terlebih saat pria gagah berkostum pengantin itu menyodorkan lengannya agar aku mengaitkan tangan di sana.
Akhirnya panitia harus memapahku ke sini, dan acara ditunda beberapa saat.
Kutarik napas panjang berulang-ulang agar oksigen leluasa memenuhi paru-paru. Kemben kain kebaya yang ketat memperburuk saluran pernapasanku.
“Kalau kamu sudah baikan, kita lanjutkan acaranya, Tari.” Kali ini ayah yang berbisik lembut di dekat telinga. “Kita sudah terlalu lama mengulur waktu.”
Aku tahu tanpa ayah menjelaskan pun sudah membuang banyak waktu. Namun, mau bagaimana lagi? Aku benar-benar shock dengan penampilan pria yang akan menikahiku. Ia benar-benar … ah, entahlah.
Aku tidak tahu apa yang harus aku pikirkan. Setelah beberapa hari ini stres memikirkan akan olokan orang tentang pernikahanku dengan makhluk jadi-jadian, kini malah dibuat jantungan dengan penampilan barunya yang di luar dugaan.
“Kamu baik-baik saja?” Om Samudra turut mendatangiku yang sedang menenangkan diri.
Dengan lemah aku mengangguk.
Tanpa sengaja, pandanganku jatuh pada dua wanita di samping ayah yang entah menurut perasaanku saja atau memang nyata, mereka terlihat lebih shock dariku. Wajah keduanya pucat dengan mulut menganga dan tatapan tak lepas dari wajah Om Samudra.
“Makh-luk jadi-jadian itu … kenapa tiba-tiba tampil begini, Ma?”
“Iya, Sayang. Mama juga kaget, kenapa ia jadi sangat gagah dan tampan?”
Samar-samar, aku mendengar obrolan ibu tiri dan Novita. Aku menangkap nada keterkejutan, serta sepertinya mereka tidak terima.
“Kesenengan Mentari kalau begini, Ma.” Novita tampak cemberut. “Yah, walaupun tetap lebih ganteng Bastian-ku sih.”
“Tapi, bagaimana bisa makhluk itu berubah dalam waktu singkat?”
Aku tidak mendengar obrolan mereka lebih lanjut karena aku sudah dibimbing kembali ke hadapan penghulu. Kali ini aku dipapah ayah dan Nenek Widya. Mungkin keduanya ingin memastikan jika aku tidak akan oleng lagi.
Ternyata bukan hanya ibu dan saudara tiriku yang menggunjing perihal perubahan penampilan calon suamiku. Sepanjang berjalan di atas karpet merah menuju tempatnya duduk, kasak-kusuk para tamu juga samar dapat tertangkap indra pendengaran ini.
“Ini mempelai prianya kenapa beda sama yang di foto undangan, ya?”
“Iya. Yang ini lebih ganteng, walau memang lebih tua.”
“Ah, umur bukan patokan. Lebih tua lebih bagus, pasti lebih dewasa dan bijak.”
“Beruntung banget ya, pengantin wanitanya. Dapat yang super begini.”
“Iya. Kalau dia pingsan atau malah nggak bangun lagi, aku mau kok gantiin.”
Diakhiri cekikikan, sayup para tamu yang kebanyakan dari kaum Hawa terus kasak-kusuk.
Kukepalkan kedua tangan yang terasa basah oleh keringat dingin, sebelum duduk di samping Om Samudra. Sumpah demi apa pun tubuhku kembali lemas.
Entah berada di mana lelembutku kini, yang pasti sejak duduk di samping pria itu, aku sudah merasa tidak fokus. Pikiranku berkelana entah ke mana.
Teringat surat perjanjian itu, teringat wujud Samudra saat pertama betemu dan berbagai prasangka yang aku ciptakan sendiri.
Bahkan saat ia menyebut namaku dalam kalimat ijab qobul pernikahan, aku tidak menyimaknya sama sekali. Aku seperti berada di dunia lain. Atau sedang bermimpi?
Aku baru tersadar saat seseorang menyentuh lembut tangan ini.
“Tari, cium tangan suamimu.” Pelan tapi gemas suara itu. Ayahku.
Sepertinya ayah kesal karena sedari tadi aku terus melamun. Lebih tepatnya tidak bisa fokus dengan keadaaan.
Walaupun ragu, akhirnya aku meraih tangan pria yang sudah terulur sejak tadi di depan wajah. Kutarik sedikit tangan yang hanya aku genggam ujung jarinya saja, lalu menempelkannya di ujung hidung. Tidak benar-benar menciumnya.
Aku ingin melepaskan tangan itu dan menarik diri, saat tengkukku ditahan seseorang. Setelahnya sebuah sentuhan lembut mampir di kening ini.
Mataku terbelalak saat menyadari Om Samudra tengah mencium keningku. Lumayan lama atas permintaan juru foto dan jura kamera guna mendapatkan hasil gambar yang bagus untuk dokumentasi.
Aku sampai harus menahan napas karena takut embusannya menerpa leher sang pria.
Usai mencium keningku, Om Samudra menatapku dengan pandangannya yang teduh.
Ah, bisa pingsan lagi aku. Kenapa bisa aku merasakan gelenyar aneh di perutku saat ia menatapku seperti itu?
**
Suasana resepsi pernikahanku malam ini terasa sangat meriah tapi santai. Mungkin karena lokasinya yang di pinggir kolam renang. Ini konsep pernikahan yang digagas Bastian dulu. Ia ingin acara yang tidak terlalu formal.
Aku dan Om Samudra memutuskan melanjutkan rencana yang sudah ada untuk menekan budget, mengingat waktu juga yang sudah mepet.
Bastian sendiri tidak terlihat sejak pagi. Mungkin ia tidak sanggup menerima olokan karena posisinya digantikan.
Syukurlah, memang lebih baik begini. Aku takut ia membuat onar jika berada di sini. Mengingat pemuda itu masih saja berusaha mempengaruhiku bahkan dalam detik-detik menjelang pernikahan ini.
Sepertinya Bastian belum bisa menerima jika dirinya yang digantikan. Mungkin ia merasa kehilangan muka di depan teman-teman dan semua orang yang sudah ia kirimi undangan.
“Aku masih aneh, kok mempelai prianya beda ya, sama yang di foto undangan?”
Kasak-kusuk dari para tamu masih saja kudengar malam ini. Kini, aku berjalan santai menyusuri pinggiran kolam renang sendiri dengan segelas minuman di tangan. Konsep resepsi yang santai, membuat kami yang berbaur dengan tamu undangan.
Om Samudra tengah asik berbincang dengan seseorang saat aku memutuskan mengambil minuman.
“Ganteng banget, ya. Tinggi lagi. Udah kayak model aja. Ya, meski udah rada berumur.”
“Model mah lewat. Ini lebih sempurna menurutku. Lihat dadanya yang bidang, pasti otot-ototnya menonjol di dalam sana.”
“Aku baru tahu kalau keluarga Hanggara masih punya stok pria ganteng selain Bastian.”
Tidak sadar kedua sudut bibirku tertarik hingga melengkungkan sebuah senyuman, saat mendengar kasak-kusuk tamu yang tidak menyadari jika pengantin wanita berada di dekat mereka.
Entahlah, aku juga heran kenapa pria itu dapat berubah wujud secepat itu.
Namun, yang pasti aku senang, perubahan wujudnya menolongku dari rasa malu yang sudah kubayangkan sebelumnya.
Aku berhenti melangkah. Bibir masih tersenyum seraya menatap lurus ke depan, di mana pria ber-tuksedo putih itu masih bicara serius dengan seseorang.
Senyum ini perlahan menghilang saat menyadari jika pernikahan kami hanya sebuah sandiwara. Hanya sebuah perjanjian semata, di mana aku sudah membuat poin-poin yang sebenarnya tidak masuk akal.
Ya, aku dan Om Samudra hanya menikah di atas kertas saja.
Senyumku benar-benar lenyap, saat suara yang entah datang dari mana menyapa telinga ini di sebelah kiri.
“Kelihatannya ada yang kegatelan, nih. Senyum-senyum terus lihatin makhluk jadi-jadian yang sudah berubah wujud itu.”
Aku ingin menoleh ke asal suara, tetapi suara dari arah berlawanan keburu menimpali.
“Jangan senang dulu, Mentari, hanya karena makhluk jadi-jadian itu sudah berubah wujud. Siapa tahu sebenarnya Samudra itu sudah menikah, atau bahkan memiliki banyak istri. Karenanya ia menyamar seperti kemarin.”
“Ya, bisa saja kamu hanya wanita ke sekian yang ia nikahi.”
“Tapi sih, Ma, menurutku percuma juga makhluk jadi-jadian itu berubah wujud kalau ternyata ia tetap tidak punya pekerjaan. Tetap pengangguran. Tetap tidak memiliki apa pun. Mentari tetap akan hidup sengsara, bukan? Calon ayah mertuaku tidak akan pernah memberi makhluk itu pekerjaan, apalagi warisan keluarga. Secara ia tidak becus bekerja di Hanggara Enterprise.”
“Ya, sayang. Pada akhirnya tetap Bastian dan bayi dalam kandunganmu yang akan menjadi pewaris Hanggara Enterprise setelah wanita tua itu mati. Nanti kamu harus bisa meyakinkan Bastian dan ayahnya agar tidak pernah menerima Samudra bekerja di perusahaan keluarga mereka.”
“Tentu akan kulakukan, Ma. Aku juga akan mempengaruhi ibu mertuaku agar suaminya tidak pernah memberi suami Mentari pekerjaan. Biar mereka berdua menjadi gembel.”
Tawa cekikikan keluar dari dua mulut yang sejak tadi mengolokku bergantian. Setelahnya wanita lebih tua yang tidak lain ibu tiriku, mengisyaratkan agar mereka meninggalkanku sendiri.
Novita tersenyum dengan gaya sok anggun, sebelum melenggok pergi. Namun, ia tidak benar-benar langsung pergi.
Tubuhnya menabrak pundakku yang berdiri di bibir kolam. Alhasil aku yang ribet dengan gaun pengantin ini, tak dapat menahan keseimbangan tubuh hingga akhirnya terpelanting dan terjun ke dalam hamparan air kolam itu.
Aku menjerit bersamaan tubuhku yang melayang, sebelum suaraku menghilang. Tubuhku kini berada di bawah permukaan air kolam.
Aku tidak bisa berenang.