Đang tải thông tin quảng bá...
Kembar Tiga: Ayah Presdir untuk Ibu
Sebuah komplotan membuat Claire Adhitama merusak kepolosannya dan terpaksa meninggalkan rumah. Enam tahun kemudian, Claire membawa ketiga anaknya yang masih kecil kembali untuk melawan sampah itu. Sia...
Chương (1)
第1章
Bab 1
"Ugh ...."
Claire Adhitama yang perlahan pulih kesadarannya merasakan sakit kepala yang menusuk. Tubuhnya terasa seperti digilas oleh mobil, ketidaknyamanan pada tubuhnya membuatnya mengernyit. Dia ingin mendorong tubuh yang menimpanya itu, tetapi tidak bertenaga sama sekali.
Dalam kegelapan, dia tidak bisa melihat wajah pria itu dengan jelas. Claire hanya mencium wangi parfum Gucci yang khas dari tubuh pria itu.
Pria itu tidak bersuara sama sekali. Dia hanya mencumbu leher Claire dengan perlahan ....
Pagi harinya.
Claire tiba-tiba terbangun.
Dia terkejut saat menyadari dirinya sedang berbaring di tempat tidur tanpa sehelai kain pun yang menutupi tubuhnya. Di sampingnya, terbaring seorang pria asing yang membelakanginya.
Wajah Claire pucat seketika. Adegan semalam makin jelas dalam benaknya. Ternyata semua itu bukan mimpi!
Apa yang telah terjadi?
Dia hanya ingat, malam sebelumnya adalah ulang tahunnya. Dia merayakannya bersama Kayla, kemudian setelah minum minuman yang diberikan oleh Kayla, dia jadi tidak sadarkan diri!
Jangan-jangan, minuman itu bermasalah?!
Claire menggertakkan giginya dan turun dari ranjang. Dia berusaha menenangkan diri, lalu buru-buru membereskan pakaiannya dan melarikan diri.
Dia harus menanyakannya dengan jelas pada Kayla!
....
Sesampainya di Kediaman Adhitama, Claire melihat ayahnya yang duduk di sofa sedang menunggunya dengan wajah murung. "Ke mana kamu semalam?"
Teringat dengan adegan semalam, Claire mengatupkan bibirnya dan menjawab, "Aku ketiduran di rumah teman semalam."
Brak!
Ayahnya melemparkan selembar foto ke atas meja dan memaki, "Jelas-jelas kamu pergi ke hotel sama pria, berani-beraninya kamu membohongiku!"
Melihat foto itu, wajah Claire makin memucat. Di dalam foto itu, terlihat seorang pria asing yang sedang memapahnya masuk ke kamar hotel.
Kayla turun dari tangga dengan mengenakan sepatu hak tinggi sambil berkata, "Ayah, jangan emosi."
Sambil bicara, dia berjalan ke sisi Claire sambil pura-pura marah, "Claire, kenapa kamu melakukan hal begini? Sesuka apa pun kamu sama pria itu, tetap saja kamu nggak boleh melakukan hal itu sebelum menikah."
Claire tertegun sejenak. Apa maksudnya?
Jelas-jelas dia sedang tidak sadarkan diri saat itu!
Sesuai dugaan Claire, tidak mungkin Kayla berbaik hati merayakan ulang tahunnya. Ternyata semua ini adalah jebakannya!
Claire buru-buru menjelaskan, "Ayah, dengar penjelasanku dulu. Semalam aku merayakan ulang tahun dengan Kayla. Anggur yang diberikan Kayla padaku itu bermasalah ...."
"Cukup!" Rendy Adhitama berdiri dan memakinya dengan kesal, "Kayla itu kakakmu! Sudah sampai begini, kamu masih melemparkan kesalahan sama kakakmu!"
Kakak?
Menghadapi tuduhan ayahnya, Kayla mengepalkan tangannya dengan gemetaran. Ibunya seharusnya sudah tahu sejak dulu bahwa ayahnya berselingkuh di luar sana.
Hanya saja, Claire tidak menyangka bahwa belum genap setahun sejak ibunya meninggal, ayahnya sudah menikahi Imelda Sanjaya. Apalagi, Imelda juga sudah melahirkan seorang putri untuk ayahnya.
Claire sudah lama tahu bahwa Kayla adalah orang bermuka dua dan selama ini selalu berusaha menyenangkan ayahnya. Namun, Claire tidak menyangka bahwa Kayla akan menjebaknya di hari ulang tahunnya sendiri!
"Tadinya, aku mau menyerahkan Perusahaan Perhiasan Vienna setelah kamu beranjak dewasa. Tapi, kamu ... malah melakukan hal memalukan begini!"
"Mulai hari ini, aku nggak mau melihatmu lagi. Keluarga Adhitama nggak punya anak yang nggak tahu malu sepertimu!"
Claire terperangah. "Ayah mau mengusirku?"
Rendy membanting gelas di tangannya ke kaki Claire dengan marah sambil berteriak, "Keluar kamu!"
Sekujur tubuh Claire gemetaran. Ketika mendongakkan kepalanya, dia melihat cibiran di sudut bibir Kayla dan wajah ayahnya yang tidak percaya dengannya. Seketika, hatinya merasa kecewa.
Claire mengambil kopernya berjalan keluar dari halaman rumah Keluarga Adhitama. Kayla menyusulnya sambil berpura-pura baik ingin membawakan kopernya, tetapi dia ditepis oleh Claire. "Minggir!"
Melihat sikap Claire, Kayla juga akhirnya menampakkan wujud aslinya. "Jujur saja, malam itu memang aku yang menambahkan obat di anggurmu. Pasti rasanya sangat menderita ya dinodai oleh pria?"
Claire menggigit bibirnya dan membalas, "Kalian sudah berhasil masuk ke Keluarga Adhitama, apa lagi yang kamu inginkan?"
"Aku mau posisimu!" Kayla berjalan ke hadapan Claire dan menatapnya dengan kejam.
"Kenapa aku harus jadi anak haram, kamu malah jadi kesayangan Keluarga Adhitama? Kamu jadi sombong karena terlahir dengan kemewahan, 'kan? Sekarang, kamu itu cuma barang bekas yang sudah dipakai orang. Kalau masih tahu diri, sebaiknya kamu cepat pergi!"
Kayla melambai-lambaikan ponselnya di hadapan Claire dengan bangga dan berkata, "Kalau nggak mau aku sebarkan videomu ini ke wartawan dan buat reputasimu jadi buruk, sebaiknya kamu cepat pergi."
Sebaiknya kamu jangan pernah kembali lagi selamanya!
Ekspresi Claire sedikit berubah, dia melepaskan tangan yang dikepalnya dengan erat. Dengan wajah kaku, dia mengangkat kopernya dan naik ke mobil tanpa menoleh sama sekali.
Melihat mobilnya yang melaju di kejauhan, Kayla mencibir. Sekarang, bukan hanya Perusahaan Perhiasan Vienna yang akan menjadi miliknya. Bahkan seisi kediaman Keluarga Adhitama ini juga akan menjadi miliknya!
Ketika baru saja hendak berbalik, tiba-tiba muncul sebuah mobil Rolls-Royce di gerbang depan.
Empat pengawal berbaju hitam turun dari mobil dan berdiri dengan rapi di samping. Kemudian, seorang pria yang berpostur tinggi dan tegap turun dari mobil. Dia mengenakan setelan jas bergaris hitam yang dirancang khusus. Modelnya sederhana, tetapi terkesan mewah.
Kayla tercengang. Bukankah ... ini adalah Kepala Keluarga Fernando yang terkenal di seluruh ibu kota, Javier Fernando!
Pria ini adalah Presdir Grup Angkasa yang dijuluki sebagai raja bisnis termuda di Negara Makronesia. Kekayaannya mencapai ratusan triliun dan merupakan orang yang memiliki pengaruh besar di ibu kota!
Kenapa dia bisa muncul di sini?
Javier meliriknya sekilas dengan tatapan dingin, lalu bertanya, "Kamu yang namanya Kayla?"
Kayla merasa senang, ternyata Javier mengenalnya!
Dia mengangguk dengan tersenyum sambil berkata, "Benar."
"Wanita yang bermalam denganku di Hotel Mahagiri kamar nomor 6228 itu kamu?"
Ekspresi Kayla tampak berubah, Hotel Mahagiri kamar nomor 6228!
Bukankah itu kamar yang dipesan Kayla untuk Claire semalam? Jangan-jangan, pria yang ditiduri Claire semalam bukan pria yang diaturnya, melainkan Javier?
Beruntung sekali wanita berengsek itu! Lalu, memangnya kenapa kalau dia beruntung? Bukankah pada akhirnya Claire hanya menjadi batu loncatan baginya?
Orang ini Javier, wanita mana yang tidak ingin menjadi miliknya? Kayla tersenyum dan mengangguk. "Aku adalah wanita yang bersamamu semalam."
Bab 2
Di bandara ibu kota.
Di antara kerumunan orang yang berlalu-lalang, muncul seorang ibu dan anak yang menarik perhatian banyak orang.
Lebih tepatnya, seorang ibu yang membawa tiga orang anak kecil yang imut dan cantik.
Wanita itu tampak dingin dan anggun. Dia menggendong seorang anak perempuan yang cantik dengan satu tangan. Anak itu memiliki rambut yang lebat dan bergelombang bagaikan boneka.
Di belakang mereka diikuti oleh dua orang anak laki-laki berwajah mirip yang tampan. Sepasang mata mereka berwarna coklat dengan kulit yang putih mulus, mereka benar-benar tidak terlihat seperti manusia sungguhan!
Wanita yang berdiri di depan mobil BMW itu melepas kacamata hitamnya. Melihat Claire yang sedang menggendong anaknya dan diikuti oleh dua bocah di belakangnya, dia menarik napas dalam-dalam.
"Buset, Claire, kamu sekali melahirkan tiga anak sekaligus?!"
Hal ini benar-benar mengagetkannya!
Yang lebih penting lagi, paras ketiga anaknya ini benar-benar mencengangkan.
Dia benar-benar penasaran pria tampan mana yang meniduri Claire saat itu!
Claire menurunkan anak perempuan yang digendongnya, lalu mengelus kepala ketiga anaknya dan berkata, "Ini adalah ibu angkat kalian, Candice Suryono."
Candice adalah sahabat akrab Claire. Saat itu, ketika Claire diusir dari rumah, dia langsung pergi ke luar negeri. Selama itu, Candice yang selalu menemaninya di luar negeri.
Setelah pergi ke luar negeri beberapa saat, Claire menyadari bahwa ternyata dia hamil. Dia pernah mempertimbangkan untuk aborsi, tetapi Candice membujuknya untuk melahirkan anak dalam kandungannya.
Demi kenyamanan hidup Claire selama masa kehamilannya di luar negeri, nona yang "keras kepala" ini menggadaikan barang antik senilai 12 miliar milik ayahnya dan memberikannya kepada Claire.
Jika bukan karena bantuan Candice, Claire sudah menjadi gelandangan setelah diusir dari rumah dan kartu debitnya juga dibekukan.
"Halo, Bu Candice!" panggil ketiga anak kecil itu dengan suara manja sambil membungkuk serempak.
Candice merasa gemas terhadap ketiga anak kecil itu, dia tersenyum dan melambaikan tangannya. "Duh, kalian benar-benar sungkan ...."
Anak kedua, Jerry, menoleh ke kakaknya, Jody, dan berbisik, "Ibu angkat kita ini kelihatannya agak bodoh ...."
Claire memegang kepala kedua anak itu dan berkata, "Apa yang kalian bisikkan?"
"Eh ...."
Anak terkecil, Jessie, membongkar rahasia kedua kakaknya, "Kak Jerry dan Kak Jody bilang Bu Candice kelihatannya agak bodoh!"
Kedua kakaknya terdiam. Anak ini benar-benar adik kandung mereka.
Candice mengemudikan mobilnya sambil melihat ketiga anak yang sedang tidur berdampingan di belakang. Dia bertanya, "Claire, kenapa kamu memutuskan untuk pulang di saat seperti ini?"
Claire yang bersandar di samping jendela mobil, memainkan sehelai rambutnya dengan jari-jarinya sambil tersenyum sinis, "Perusahaan Perhiasan Vienna mengeluarkan 100 miliar untuk merekrutku sebagai desainer."
"Bukannya itu perusahaan keluargamu?"
Candice berdecak sambil menggeleng, "Sekarang direktur perusahaan itu adalah kakak berengsekmu itu. Masa dia merekrutmu dengan 100 miliar?"
Dia tertawa setelah berkata, "Kalau sampai dia tahu kamu ini Zora, sang desainer perhiasan terkenal di Negara Sahara, dia pasti bakal muntah darah, 'kan?"
Nama Zora sangat terkenal di dunia perhiasan kancah internasional. Dengan gaya desain dari timur yang klasik, dipadukan dengan unsur-unsur perhiasan modern, semua orang menyebut desainnya sebagai mahakarya.
Bahkan, mahkota yang dipakai oleh permaisuri Negara Sahara tahun lalu juga merupakan hasil karya Zora.
Setelah berpikir sejenak, Candice merasa tidak masuk akal. Jadi, dia bertanya, "Dia mau merekrutmu hanya dengan 100 miliar? Hargamu sekarang pasti lebih tinggi dari itu!"
Perlu diketahui bahwa perusahaan perhiasan ternama di Negara Sahara, "Luxury", bahkan menghabiskan uang senilai 1,2 triliun untuk mempekerjakannya!
Claire memalingkan kepalanya dan menatap Candice dengan senyum mendalam, "Karena itulah aku menolak mereka. Tapi, pada akhirnya aku membuka harga 2 triliun dan Keluarga Adhitama juga menyetujuinya. Mana mungkin aku nggak pulang?"
Berhubung dirinya sudah pulang, sudah saatnya dia mengambil kembali saham di Vienna!
Candice menarik napas dalam-dalam mendengar ucapan Claire. Bahkan keluarganya sendiri juga diporotinya, sadis!
Saat ini, dia menantikan sekali melihat ekspresi Kayla yang tercengang.
Sesampainya di lantai bawah Perusahaan Perhiasan Vienna, Claire menoleh dan berkata kepada ketiga anaknya, "Ibu mau kerja dulu, kalian ikut Bu Candice pulang, ya."
Ketiga anaknya mengangguk dengan patuh.
Setelah Claire turun dari mobil, ketiga anaknya saling bertukar pandang, lalu berdesakan ke sisi Candice.
"Bu Candice, kami ingin tahu masalah Ibu dan Keluarga Adhitama!"
"Benar! Bu Candice harus diam-diam ceritakan pada kami. Kami jamin nggak akan kasih tahu Ibu!"
Candice tertegun sejenak melihat ketiga anak itu. Lalu, dia bertanya, "Kenapa kalian ingin tahu?"
"Karena kami adalah kesayangan Ibu, jadi kami nggak akan biarkan Ibu ditindas orang!"
Kali ini, mereka pulang bersama Claire dengan tujuan ingin "membalas dendam". Mereka tidak akan melepaskan siapa pun yang berani menindas ibu mereka!
Candice merasakan keringat dingin mengalir di punggungnya. Apakah ketiga anak ini benar-benar masih berusia 5 tahun?
Claire melangkah masuk ke dalam lobi Perusahaan Perhiasan Vienna. Meskipun perusahaan ini di bawah naungan Keluarga Adhitama, sebenarnya "Vienna" adalah hasil jerih payah ibu Claire.
Namun, tak disangka ayahnya malah menyerahkan perusahaan ini kepada orang asing seperti Kayla!
Beberapa tahun belakangan ini, Claire selalu mengikuti perkembangan Vienna di luar negeri. Kayla mengandalkan identitasnya sebagai putri Keluarga Adhitama untuk memecat beberapa petinggi yang dipekerjakan ibu Claire. Sejak saat itu, reputasi Vienna terus-menerus menurun.
Keluarga Adhitama yang dikenalnya tidak mungkin sanggup mengeluarkan uang sebanyak 2 triliun untuk merekrut desainer perhiasan sepertinya. Jadi, dia ingin tahu siapa yang membantu Kayla membayar 2 triliun ini!
Clare berjalan ke meja resepsionis, lalu berkata, "Halo, saya mau bertemu dengan Nona Kayla."
Gadis resepsionis itu bertanya dengan acuh tak acuh, "Apakah sudah buat janji?"
"Sementara ini belum ada. Tapi, Nona Kayla sendiri yang menghubungiku." Claire sangat tidak menyukai sikap gadis resepsionis ini.
Sepertinya, orang yang dipekerjakan Kayla memang tidak punya etika profesi.
Gadis resepsionis itu meliriknya sekilas, lalu berkata, "Maaf, tidak bisa ketemu kalau belum ada janji. Direktur kami sangat sibuk."
Claire tersenyum tipis sambil berkata, "Pelayanan Perusahaan Vienna memang selalu seperti ini, ya?"
"Apa maksudmu, Nona? Apa kamu nggak lihat kami lagi sibuk? Lagi pula, memangnya direktur kami bisa kamu temui dengan sesuka hati?"
"Wah, kukira siapa. Nggak nyangka ternyata kamu ya, Claire. Kamu masih berani pulang?"
Kayla berjalan keluar dari lift dan kebetulan melihat sosok di meja resepsionis itu terlihat tidak asing. Tak disangka, ternyata orang itu adalah Claire!
Si jalang ini sudah pulang!
Claire menoleh dengan perlahan. Melihat penampilannya, ekspresi Kayla langsung menjadi muram. Baru 6 tahun tidak bertemu, perubahan Claire sudah sebanyak ini. Dia tampak seperti seorang gadis penggoda!
"Bukannya kamu yang mengundangku pulang?" ejek Claire sambil tersenyum sinis.
Kayla tertegun sejenak. Dengan wajah yang angkuh seperti sebelumnya, dia berkata, "Aku yang mengundangmu pulang? Baru 6 tahun nggak ketemu, kamu sudah jadi nggak tahu malu begini ya?"
Dia menghampiri Claire dengan kedua tangan yang terlipat dan berkata, "Kenapa? Pelajaran 6 tahun yang lalu itu masih belum cukup bagimu, ya?"
Mengungkit tentang masalah 6 tahun yang lalu, ekspresi Claire tampak dingin dan tidak menunjukkan emosi sama sekali. "Selamat ya, sekarang kamu sudah jadi Direktur Perusahaan Perhiasan Vienna. Di bawah kepemimpinanmu, perusahaan ini malah makin merosot. Jangan-jangan, suatu hari nanti malah jadi bangkrut."
"Kamu ...."
Kayla mengangkat tangannya dan melayangkan sebuah tamparan.
Tamparan ini membuat semua orang yang berada di lobi langsung tercengang.
"Ada apa?" Terdengar sebuah suara yang dingin dari belakang.
Setelah melihat ke arah datangnya suara, raut wajah Kayla sontak berubah. Keangkuhan di wajahnya langsung sirna dan dia berjalan ke arah orang itu dengan tampang tidak bersalah.
"Javier, semua gara-gara dia. Dia merendahkanku dan bahkan mengutuk perusahaanku akan bangkrut."
Bab 3
Claire menoleh dan bertemu dengan tatapan tajam pria itu. Ketika melihat penampilan pria itu, Claire sontak terkejut.
Kulit pria itu tampak putih halus dengan wajah yang tampan. Terutama sepasang matanya yang berwarna kecoklatan, seakan-akan menyimpan rahasia yang sangat mendalam. Bibirnya yang terkatup erat tampak tipis dan menawan.
Wajah ini mirip sekali dengan Jerry dan Jody, bahkan warna mata mereka juga sama!
Saat melahirkan di Negara Sahara, Claire baru tahu bahwa ternyata anaknya adalah kembar tiga. Anak pertama dan kedua, Jody dan Jerry, sama sekali tidak mirip dengan ibunya.
Hanya anak terakhir, Jessie yang terlihat agak mirip dengannya. Namun, warna rambutnya yang hitam mengilap tampak mirip dengan pria di hadapannya ini.
Melihat pria ini, Claire langsung menundukkan pandangannya.
Siapa dia? Apa hubungannya dengan Kayla?
Javier menatap wajah Claire dengan alis yang berkerut. Wanita ini ....
Melihat Javier menatap Claire lekat-lekat, Kayla langsung menggertakkan gigi. Dia membatin, 'Sialan, jangan-jangan Javier mengenalinya?'
Tidak bisa, dia tidak akan membiarkan hal seperti itu terjadi!
Dia menggandeng lengan Javier dan berkata dengan wajah kasihan, "Maaf, Javier. Tadi memang aku terlalu emosional. Tapi, Vienna adalah jerih payah Ayah. Aku hanya ingin melindungi perusahaan ini."
Javier tidak mengabaikan ucapan Kayla, dia langsung berjalan ke arah Claire dengan ekspresi dingin. "Vienna akan bangkrut? Atas dasar apa kamu bilang begitu?"
Claire mencibir mendengar Kayla mengatakan bahwa perusahaan ini adalah jerih payah ayahnya. Ayahnya hanya menumpang ketenaran ibunya. Kayla benar-benar pandai membual.
Claire mendongak menatap Javier dan berkata, "Memang tadi aku berkata seperti itu, lalu apa maumu?"
Orang-orang di sekitar mereka langsung menarik napas dalam-dalam.
Berani-beraninya wanita ini membantah Tuan Javier! Apa dia mau diboikot?!
Melihat ekspresi Javier yang muram, Claire tertawa sambil menyilangkan kedua tangannya. "Kenapa? Kamu pacarnya ya, makanya mau membelanya?"
Huh, dasar pasangan sialan!
Orang yang bisa suka dengan wanita seperti Kayla, sudah pasti bukan pria baik-baik.
"Apa kamu tahu apa yang sedang kamu katakan?" tanya Javier.
Claire mengangkat alisnya, lalu berkata, "Tentu saja. Kalian yang merekrutku, tapi kalian malah sengaja mempersulitku di sini. Hebat sekali pelayanan di sini."
Merekrutnya?
Kayla tertegun sejenak. "Kamu ... kamu bilang apa? Sejak kapan Vienna merekrutmu?"
Sepertinya wanita sialan ini sudah gila?
"Ingatan Direktur Kayla mungkin nggak terlalu bagus ya. Bukankah sebulan yang lalu kalian yang menawarkan 2 triliun untuk merebutku dari Luxury? Kalau Vienna memang nggak tulus, kerja sama ini juga nggak perlu dilanjutkan lagi."
Semua orang terperanjat!
Ternyata dia adalah Zora, sang desainer perhiasan internasional yang terkenal?
Wajah Kayla berubah drastis ketika berkata, "Nggak mungkin. Mana mungkin kamu ini Zora ...."
Namun, saat pandangan dingin Javier meliriknya, Kayla langsung menghentikan ucapannya. Wajahnya terlihat merah padam karena malu.
Claire menatap Javier dan bertanya, "Tuan, sepertinya Anda yang mengeluarkan uang 2 triliun ini untuknya, 'kan?"
Rendy tidak mungkin sanggup mengeluarkan uang 2 triliun, apalagi Kayla. Kesimpulannya, hanya pria ini yang sanggup.
Sepertinya Kayla telah mendapat pasangan yang kaya dalam beberapa tahun ini.
Menatap wanita di hadapannya ini, timbul perasaan yang tidak asing dalam hati Javier. Sepertinya dia pernah bertemu dengan wanita ini di suatu tempat ....
Kayla khawatir bahwa Javier akan mengenali Claire, jadi dia berlari ke sisi pria itu dengan tergesa-gesa. "Javier, dia pasti berbohong. Dia nggak mungkin Zora si desainer itu!"
Mana mungkin Claire adalah orang yang sama dengan Zora, sang desainer internasional? Kayla telah tinggal dengannya begitu lama, tetapi dia tidak pernah tahu bahwa Claire bisa mendesain perhiasan.
Bahkan seluruh media dalam industri fesyen hanya pernah mendengar namanya, tetapi tidak pernah melihat orangnya. Tentu saja mudah sekali bagi orang lain untuk berpura-pura menjadi Zora, 'kan?
"Kalau kamu memang Zora, tunjukkanlah buktinya. Setahuku, Nona Zora sang desainer internasional itu pernah mendapatkan lencana dari keluarga kerajaan di Negara Sahara. Benda itu bukan sesuatu yang bisa didapatkan orang biasa!"
Usai berbicara, terlintas tatapan bangga pada wajah Kayla.
Teruskan saja aktingmu! Kalau Claire tidak bisa mengeluarkan buktinya dan terbukti berbohong, berarti dia telah menyinggung Javier. Dengan begitu, seumur hidup ini Claire tidak akan bisa lagi tinggal di negeri ini!
Bab 4
Semua orang tahu bahwa Javier adalah tamu kehormatan keluarga kerajaan Negara Sahara. Dia juga merupakan teman dari putri Negara Sahara. Tentu saja, dia pernah melihat lencana dari keluarga kerajaan.
Kalaupun Claire memalsukannya, tetap saja akan ketahuan!
Claire tertawa sambil berkata, "Mana mungkin kutunjukkan benda berharga seperti itu kepadamu?"
Dengan kata lain, Kayla tidak pantas melihatnya!
Kayla kesal hingga tubuhnya gemetar, tetapi wajahnya tetap menunjukkan senyuman. "Bilang saja kamu nggak berani?"
"Javier, lihat saja, dia itu pembohong. Jelas sekali, dia tahu kamu adalah tamu kehormatan keluarga kerajaan dan bisa mengenali lencana yang asli. Makanya, dia nggak berani menunjukkannya."
Sikap Kayla sangat berbeda ketika berhadapan dengan Javier.
Javier mengerucutkan bibirnya dengan dingin dan berkata, "Dua triliun itu memang uangku. Aku juga yang mengusulkan untuk merekrut desainer bernama Zora. Kalau kamu bisa membuktikan bahwa kamu adalah Zora, aku nggak akan mempermasalahkan kejadian hari ini."
"Tapi, kalau kamu nggak bisa membuktikannya ...." Javier berjalan mendekatinya dan mengucapkan kata demi kata, "Kamu nggak akan bisa lagi tinggal di ibu kota ini."
Ketika Javier mendekatinya, wangi parfum di badannya membuat Claire menjadi tegang.
Parfum Gucci pria!
Kenapa dia bisa menggunakan parfum yang sama dengan pria dari 6 tahun lalu?
Melihat wajah Claire yang memucat, Javier tidak lagi memberikannya kesempatan, "Karena kamu nggak bisa membuktikannya, silakan pergi sekarang juga. Jangan sampai aku menyuruh orang untuk mengusirmu."
Kayla mencibir dengan bangga.
Dasar Claire! Padahal sudah 6 tahun berlalu, kenapa dia harus pulang untuk cari perkara sendiri?
Tiba-tiba, Claire mendongak dan tersenyum. "Tuan, kamu yakin?"
Javier memicingkan matanya menatap Claire tanpa berkata apa-apa.
"Tuan, kalau aku bisa membuktikan identitasku, lalu bagaimana dengan tamparan Nona Kayla tadi?"
Raut wajah Kayla berubah drastis, dia menatap Javier dengan hati-hati.
Statusnya memang pacar Javier, tetapi selama beberapa tahun ini, Javier tidak pernah menyentuhnya sama sekali.
Jika bukan karena rencana Kayla 6 tahun yang lalu itu sangat cermat, ditambah lagi dia memesan kamar dengan namanya, Javier pasti sudah curiga.
"Javier ...."
"Aku akan menyuruhnya minta maaf," ujar Javier dengan datar.
Tangan Claire yang sedang merogoh tasnya itu langsung berhenti. Dia mendongak dan berkata, "Aku ditampar olehnya, tapi malah cuma dapat minta maaf?"
Tatapan Javier menjadi agak redup, dia bertanya, "Lantas apa maumu?"
Claire menaikkan pandangannya menjawab, "Mata dibalas dengan mata, seharusnya aku menamparnya juga baru bisa dianggap impas, 'kan?"
Penonton di sekitar mereka tidak berani bersuara sama sekali.
Melihat ucapannya yang begitu yakin, bahkan orang-orang di sekitarnya juga curiga bahwa wanita ini benar-benar adalah Zora.
Bibir Javier terkatup melihat sikap wanita ini yang begitu angkuh. Baru pertama kali dia bertemu dengan wanita yang berani berbicara seperti itu padanya.
Sesaat kemudian, Javier menggertakkan gigi dan berkata, "Kamu jangan dikasih hati minta jantung."
"Kalau begitu, kalian cari desainer lain saja. Aku nggak suka rugi."
Claire meletakkan lencana itu di hadapannya, lalu menambahkan, "Kalau kamu memang pernah melihat lencana keluarga kerajaan, lihatlah lencana ini baik-baik."
Setelah menyimpan kembali lencananya, Claire pergi dengan santai.
Kayla menundukkan kepalanya sambil menggertakkan gigi. Kenapa bisa begitu? Mana mungkin wanita berengsek itu ....
Zora adalah desainer yang direkrut oleh Javier sendiri dari Perusahaan Luxury. Kalau bukan karena dia menawarkan harga 2 triliun, Kayla juga tidak mungkin akan sanggup menyebutkan harga ini.
Namun, tak disangka yang datang malah Claire!
Kalau begitu, bukankah perlakuannya hari ini terhadap Claire telah mempermalukan Javier?
"Javier, aku ...."
Kayla mengulurkan tangan ingin meraihnya, tetapi tangannya malah ditepis oleh Javier. Dia berbalik dan menatap Kayla dengan dingin. "Kamu selesaikan sendiri."
Usai berbicara, dia langsung pergi tanpa menoleh sama sekali.
Javier berjalan keluar dari gedung perusahaan. Para pengawal berbaju hitam yang berjaga di samping mobil Rolls-Royce langsung membukakan pintu untuknya.
Setelah naik ke mobil, Javier berkata pada pria yang duduk di kursi penumpang depan. "Dalam dua hari, aku harus mendapatkan semua data tentang desainer bernama Zora."
Di Vila Kandara.
"Huh, wanita bernama Kayla ini benar-benar jahat!"
Jessie memeluk bonekanya, lalu bergabung dengan Jerry dan Jody untuk menatap foto di layar komputer. Ekspresinya tampak jijik ketika melihat wanita di dalam layar komputer. "Jelek sekali wanita ini."
Jody menoleh ke adik-adiknya dan berkata, "Wanita ini melukai Ibu. Kita nggak boleh membiarkannya."
Jessie menopang dagunya sambil bertanya, "Tapi, gimana kita mau menghadapinya?"
Mereka harus mencari cara untuk merahasiakan hal ini dari ibu mereka.
Jody merenung sejenak, lalu menjentikkan jarinya sambil mengusulkan, "Bukankah Bu Candice bilang wanita ini punya pacar kaya? Kalau begitu, kita hadapi pacarnya itu dulu."
"Siapa namanya kata Bu Candice?" tanya Jessie sambil berpikir.
"Javier Fernando!" Jerry mengetikkan nama ini di keyboard komputer. Beberapa saat kemudian, informasi mengenai pria itu langsung muncul.
Ketika Jerry mengeklik laman informasi mengenai pria ini dan melihat fotonya, ketiga anak ini terdiam cukup lama.
"Kenapa pria ini ... mirip sekali dengan kita?"
Jody tercengang menatap foto itu sekian lama.
Ibu mereka tidak pernah mengungkit soal ayah mereka sama sekali. Jangan-jangan pria ini ... ayah mereka?
Dengan tatapan jahil, Jerry mengusulkan, "Kalau dia memang ayah kita, masalahnya jadi lebih mudah lagi."
Jody merasa ragu, dia bertanya, "Tapi, bagaimana kita bisa mendekati pria ini?"
"Tenang saja, Kak. Serahkan saja padaku. Salah satu merek pakaian anak-anak Grup Angkasa sedang mencari duta produk, aku pasti bisa mendapatkannya!"
Jessie menepuk dadanya dengan yakin. Dari ketiga anak ini, dia memang yang paling banyak akal. Kalau dia turun tangan, pasti tidak akan gagal.
"Anak-anakku sayang, Ibu sudah pulang!"
Mendengar suara ibunya, ketiga bocah itu langsung menutup layar komputer.
"Ibu! Ibunda Ratu!"
Ketiganya langsung berlari keluar dari kamar dan menghambur ke pelukan ibunya.
Melihat anak-anaknya menyambutnya dengan gembira, Claire berjongkok sambil tersenyum. "Kalian nggak menyusahkan ibu angkat kalian, 'kan?"
"Ibu mencurigai kami menindas Bu Candice?" tanya Jerry sambil memiringkan kepalanya.
Jessie mengangguk dan berkata, "Ya, ya, kami nggak akan menindas Bu Candice. Dia nanti mau membelikan kue untuk kami!"
Claire hanya tertawa getir. Ketiga bocah ini adalah anaknya, mana mungkin dia tidak paham dengan mereka?
Di antara ketiganya, Jerry adalah yang paling nakal. Sifatnya yang licik itu sudah pasti bukan diturunkan dari ibunya. Sifat Jody lebih tenang dan hangat, tentu saja dia sangat melindungi adik-adiknya.
Sementara putri bungsunya, Jessie, paling banyak akal di antara ketiganya. Dia sering memberikan ide-ide nakal kepada kakak-kakaknya.
"Ibu, raut wajahmu sangat buruk. Apa kamu ditindas orang lagi?" Jody yang pandai menilai raut wajah seseorang, langsung menyadari ada yang tidak beres dengan ibunya.
Claire terdiam sejenak. Entah mengapa, dia merasa tidak asing dengan pria yang ditemuinya hari ini. Apalagi, penampilan dan wangi parfum pria itu mirip dengan pria dari 6 tahun yang lalu.
"Ibu, kamu menyembunyikan sesuatu dari kami!"
Melihat Jody menanyakannya lagi, Claire hanya berdiri dan berkata sambil tersenyum, "Kalian nggak perlu ikut campur urusan orang dewasa. Ibu akan siapkan makanan untuk kalian."
Ketika baru saja hendak berjalan ke dapur, ponsel Claire tiba-tiba berbunyi.
Melihat serangkaian nomor di layar ponsel, Claire menyunggingkan sebuah senyuman. Sesuai dugaan, Kayla meneleponnya.
Bab 5
Claire berjalan ke arah balkon dengan ponselnya dan menjawab, "Ada apa? Apa Direktur Kayla sudah menyesal sekarang?"
Mendengar ucapannya, Kayla menggertakkan gigi sambil berkata, "Claire, kamu jangan keterlaluan. Kami sudah cukup menghargaimu dengan menawarkan harga 2 triliun!"
"Oh ya? Kenapa kedengarannya seolah-olah aku sangat membutuhkan 2 triliun kalian ini?" Claire bersandar di pegangan balkon dan berkata dengan tersenyum, "Kalau kamu nggak tulus mau kerja sama, nggak usah telepon aku lagi."
"Tunggu!" teriak Kayla.
Dia duduk di belakang meja kerjanya dan berkata dengan sudut bibir terangkat, "Claire, jangan lupa kamu masih ada video itu di tanganku."
Ketika mengungkit masalah "video", ekspresi Claire langsung menjadi muram.
Lantaran tidak mendengar respons apa pun dari ujung telepon, Kayla berkata sambil tertawa, "Kalau kamu nggak mau aku membocorkan kejadian 6 tahun lalu, sebaiknya kamu datang ke sini besok pagi."
Claire menarik napas dalam-dalam dan mengangguk. "Oke, aku ke sana besok."
Usai berbicara, dia langsung menutup telepon itu.
Jessie yang menguping pembicaraan ini, segera berlari ke kamar dan berkata pada kakak-kakaknya, "Wanita jahat itu menelepon Ibu dan mengancamnya!"
Jody membalas, "Kalau begitu, sewaktu Ibu ke sana besok, kita langsung beraksi saja!"
Jerry memberi isyarat "OK", lalu mengirimkan resume Jessie dan Jody ke situs web resmi "Belia", sebuah perusahaan pakaian anak-anak di bawah naungan Grup Angkasa.
Kebetulan perusahaan itu sedang mencari dua orang model. Mereka pasti akan terpilih!
Asalkan bisa memasuki anak perusahaan Grup Angkasa, mereka akan bisa mendekati pria itu. Mereka harus mencari tahu apakah pria itu benar-benar ayah mereka!
Keesokan harinya.
Sesampainya di Perusahaan Perhiasan Vienna, sekretaris membawa Claire ke ruangan Kayla. Di sana, tampak Kayla yang telah duduk di sofa menunggunya.
Setelah sekretarisnya keluar, Kayla berjalan mendekatinya sambil tersenyum. Dia berkata, "Aku kira kamu nggak akan datang."
"Video itu ada di tanganmu, mana mungkin aku nggak datang?" Claire tersenyum dan melanjutkan, "Aku harus berterima kasih padamu karena nggak menyebarkan video itu selama beberapa tahun ini."
Ekspresi Kayla menjadi murung. Dia bukannya tidak ingin menyebarkan video itu, tetapi kalau video itu sampai tersebar, Javier akan langsung mengetahui bahwa wanita malam itu bukan dirinya.
Namun, dilihat dari sikap Claire, sepertinya dia tidak tahu bahwa pria malam itu adalah Javier. Jadi, video ini kebetulan bisa mengancamnya.
"Sudahlah, kita bahas yang lain saja. Aku sudah menyiapkan kontrak untukmu. Setelah kamu menandatanganinya, uang 2 triliun itu akan jadi milikmu."
Kayla berjalan ke depan meja dan menyerahkan kontrak itu kepada Claire.
Claire tidak menerimanya, dia hanya berkata, "Sepertinya kamu memang membutuhkanku."
"Huh, kamu kira aku mau membiarkanmu kerja di Vienna?"
"Benar juga, orang yang mau mempekerjakanku itu adalah pria yang rela mengeluarkan uang 2 triliun untukmu. Setelah nggak bertemu selama 6 tahun, ternyata kamu sudah mendapat pacar kaya ya," sindir Claire.
"Sayangnya, kamu masih berutang tamparan kemarin. Kalau kutandatangani sekarang, bukannya aku rugi besar?"
Wajah Kayla memucat mendengar ucapannya. "Kamu jangan keterlaluan."
Claire berjalan ke depannya dan mengangkat alisnya sambil berkata, "Enam tahun lalu, aku dijebak olehmu. Enam tahun kemudian, aku nggak akan lagi diperbudak olehmu. Boleh saja kalau mau aku menandatanganinya, berlututlah dan minta maaf."
Melihat tangan Kayla terangkat, Claire langsung menahan pergelangan tangannya. "Kamu masih mau memukulku?"
"Claire, sebaiknya kamu cepat tanda tangan. Kalau nggak, aku akan menyebarkan videomu agar semua orang tahu seberapa buruknya Zora yang terkenal di dunia perhiasan ini."
Claire melayangkan sebuah tamparan padanya.
Plak!
Kayla sontak tercengang. Setelah tersadar, dia menggertakkan giginya sambil berkata, "Sialan ...."
"Apakah Nona Zora juga memperlakukan orang seperti ini di Perusahaan Luxury?"
Tiba-tiba, terdengar sebuah suara dari belakang.
Javier yang masuk bersama asistennya kebetulan melihat kejadian ini.
Dia sudah pernah melihat keangkuhan wanita ini, tetapi Javier tidak menyangka wanita ini akan begitu lancang.
Claire berdecak dan membatin, 'Tepat waktu sekali datangnya.'
Kayla diam-diam merasa senang. Kebetulan sekali Javier datang di saat ini, dia menggigit bibirnya dengan wajah tak berdaya. "Javier, jangan salahkan Nona Zora. Semua ini salahku, mungkin aku bersalah padanya."
Javier berjalan ke hadapan Claire dan berkata dengan nada datar, "Kalau kamu terus bersikap seperti ini, aku bisa saja membuatmu nggak akan bisa kembali lagi ke Luxury."
"Kamu sedang mengancamku?" tanya Claire sambil mendongak menatap Javier. Dia paling benci diancam oleh orang!
Melihat kebencian di matanya, Javier berkata dengan alis berkerut, "Memangnya kenapa kalau aku mengancammu?"
Claire tersenyum ketika berkata, "Kalian yang mengundangku kemari, tapi kalian memperlakukanku dengan buruk dan bahkan menamparku. Apa kalian menganggapku mudah ditindas?"
"Dia sudah meminta maaf atas kesalahannya." Javier kembali berjalan mendekatinya dan menambahkan, "Lalu, apa kamu nggak mau meminta maaf atas kesalahanmu?"
"Apa salahku?"
Claire membuka kedua tangannya dan berkata, "Mata dibalas dengan mata, 'kan? Setelah membalas tamparannya, berarti kita sudah impas. Kenapa malah jadi salahku?"
"Bukankah ini sama saja dengan kamu memapah seorang nenek yang terjatuh, tapi malah difitnah mencuri uangnya. Lalu, setelah aku melapor polisi, aku malah dituduh nggak menghormati orang tua?"
Javier menatapnya dengan dingin. "Jangan berdalih lagi."
Claire tertawa kecil, lalu berbalik dan melambaikan tangannya . "Seperti yang kukatakan sebelumnya, nggak ada yang perlu dibicarakan."
Ketika sampai di depan lift, lengannya tiba-tiba ditarik dengan kuat ke arah tangga.
Claire meronta-ronta. "Apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku!"
Javier menurunkan pandangannya dan berkata dengan ketus, "Sebaiknya kamu cepat minta maaf."
Bab 6
Minta maaf? Dia mau Claire meminta maaf kepada Kayla?
Claire mencibir, lalu menatapnya lekat-lekat sambil berkata, "Nggak mungkin."
Javier tidak menyangka wanita ini tidak hanya sombong, tetapi juga sangat keras kepala. Wajahnya menjadi kaku saat berkata, "Kalau kamu nggak mau minta maaf, nama Zora besok akan hilang dari dunia mode perhiasan."
Awalnya, Javier tidak mau mempersulit Claire. Hanya saja, Kayla bisa dianggap "penyelamat" baginya. Enam tahun lalu, jika bukan karena Kayla, dia sudah masuk dalam perangkap.
Meskipun dia tidak punya perasaan apa pun terhadap Kayla, selama beberapa tahun ini Javier tetap memenuhi kebutuhan materi Kayla tanpa syarat.
Bisnis Vienna sedang menghadapi kesulitan dalam beberapa tahun terakhir, jadi dia mengeluarkan biaya 2 triliun untuk merekrut Zora ke dalam negeri.
Javier memang tahu bahwa Kayla yang duluan memukulnya dan bersalah. Dia bisa menyuruh Kayla untuk meminta maaf.
Javier tidak akan peduli bagaimana mereka menyelesaikan masalah ini secara pribadi. Namun, dia tidak akan membiarkan siapa pun yang memukul Kayla di hadapannya.
Tangan Claire yang dicengkeram oleh Javier terasa sakit, seolah-olah terkilir. Meski merasa sedih, Claire tidak akan pernah meneteskan setitik air mata pun di hadapan musuhnya!
"Aku nggak bersalah, aku nggak mau minta maaf!"
Melihat sikapnya yang begitu keras kepala, Javier tertawa kecil ketika berkata, "Dengan kemampuan Keluarga Fernando, kamu bukan hanya akan kehilangan posisi di Negara Makronesia. Bahkan namamu juga akan dicoret dari Negara Sahara. Kamu yakin mau begitu?"
Keluarga Fernando ....
Claire menggertakkan giginya. Pantas saja, tadinya dia masih bertanya-tanya, atas dasar apa pria ini mengancamnya.
Ternyata dia orang Keluarga Fernando!
Claire sendiri tidak takut diboikot, tetapi anak-anaknya masih harus bersekolah di ibu kota ini. Dia juga masih harus merebut kembali Perusahaan Perhiasan Vienna milik ibunya.
Dia tidak boleh mengacaukan rencana besar hanya demi masalah kecil. Claire tidak perlu bertengkar dengan pria ini.
"Kamu lepaskan dulu tanganku."
Javier melepaskan tangan Claire sambil menatapnya. "Sebaiknya kamu pikirkan baik-baik."
"Cuma minta maaf, 'kan?" ujar Claire sambil mengangkat alisnya dan berjalan keluar.
Setibanya di ruangan kantor, dia berjalan ke hadapan Kayla dan berkata, "Maaf."
Kayla tidak menyangka bahwa Claire akan minta maaf padanya. Dia tahu bahwa pasti Javier yang membantunya.
Dalam hatinya merasa bangga, tetapi dia hanya tersenyum dan berkata, "Nggak apa-apa, kalau begitu masalah kontrak ...."
Claire melirik sekilas pria yang berada di luar pintu, kemudian mengambil pena dan menandatangani kontrak itu. Namun, tidak ada yang tahu bahwa dia sedang menyunggingkan senyuman sekarang.
Dia bisa kembali ke Perusahaan Perhiasan Vienna juga karena "dipaksa" oleh mereka. Padahal, Claire sudah jelas-jelas mengatakan bahwa dia tidak sudi untuk kembali.
Kelak, Claire akan memberikan pelajaran kepada mereka tentang "mengundang pencuri ke dalam rumah".
Usai tanda tangan, Claire meletakkan kembali penanya dan pergi begitu saja.
Javier berjalan ke depan meja dan melihat kontrak itu. Kayla berjalan ke sisinya dan berkata, "Javier, terima kasih."
"Jangan bertemu dengannya sendirian," ujar Javier dengan nada datar.
Kemudian, dia meletakkan kembali kontrak itu dan pergi dengan asistennya.
Setelah kepergian Javier, Kayla mengambil kontrak itu dengan bangga. "Claire, pada akhirnya kamu tetap saja mati di tanganku."
Di luar gerbang, terparkir sebuah mobil Mercedes-Maybach. Asistennya yang bernama Roger Johansen membukakan pintu untuknya. Setelah Javier naik ke mobil, barulah asistennya mengikutinya.
"Data yang kusuruh kamu cari, sudah dapat belum?"
Roger mengangguk, lalu berbalik menyerahkan sebuah laptop padanya. "Tuan Javier, semua ada di sini."
Javier mengeklik layar laptop untuk melihat-lihat data tersebut. Namun, perhatiannya malah tertuju pada nama "Claire Adhitama".
Alamat yang tertera juga merupakan alamat Keluarga Adhitama saat ini.
Tatapan Javier menjadi meredup.
Di Grup Angkasa.
Jessie dan Jody sedang berdiri di luar gerbang menatap bangunan megah yang ikonik ini. Tempat ini memang pantas menyandang nama perusahaan nomor satu di ibu kota.
Kedua anak itu melangkah masuk ke lobi perusahaan. Terlihat orang-orang berpakaian rapi yang sedang berlalu-lalang. Ada yang sedang mengambil dokumen, ada juga beberapa resepsionis dengan bahasa pengantar yang berbeda-beda.
Dalam kesibukan ini, sosok kedua anak kecil ini menarik perhatian banyak orang.
Melihat kedua anak kecil yang imut ini, seorang gadis resepsionis menghampiri mereka dan bertanya dengan sopan, "Dik, kalian cari siapa?"
Jessie mengeluarkan berkas data pribadi dari tas bebeknya dan berkata dengan nada manja, "Kakak, kami terpilih menjadi duta produk untuk merek 'Belia'. Paman itu menyuruh kami datang untuk wawancara ...."
Mendengar suaranya yang begitu imut, gadis itu merasa ingin meleleh. "Kalau begitu, apa orang tua kalian nggak datang bersama kalian?"
Jody menjawab, "Nggak perlu merepotkan Ibu, kami bisa sendiri."
"Wah, pintar sekali ya! Baiklah, Kakak akan bawa kalian ke sana ya."
"Makasih, Kakak Cantik!" ujar keduanya sambil membungkukkan badan.
Gadis itu menggandeng tangan kecil mereka menuju studio rekaman. "Belia" adalah merek pakaian mewah anak-anak yang merupakan anak perusahaan Grup Angkasa. Mereka memang sedang mencari duta produk anak-anak yang berpenampilan menarik dan tidak demam panggung.
Gadis resepsionis itu mengantarkan mereka sampai di depan studio. Di dalam studio itu, ada beberapa rak baju dan kamera beserta backdrop layar.
Di dalam sana juga ada banyak anak-anak lain yang datang untuk wawancara.
Terlihat seorang wanita paruh baya berpenampilan rapi yang tampak tidak puas dengan hasil fotonya. Dia berkata dengan tidak sabaran, "Gimana sih fotonya! Aku butuh sentuhan kamera! Harus ada feel-nya! Mengerti nggak?"
"Kak Darlene, dua anak ini ...."
"Duh, jangan menggangguku ...." Ketika baru saja Darlene Juanda ingin mengatakan sesuatu, dia tiba-tiba melihat kedua anak kecil yang berdiri di samping gadis resepsionis itu.
Seketika, dia tertegun melihat keduanya. Kenapa dua anak ini begitu mirip dengan Tuan Javier?!
Bab 7
"Tante Cantik, kami datang untuk wawancara model ...," ujar Jessie seraya mendongak. Kedua matanya tampak jernih dan cerah bagaikan bintang.
Darlene menarik napas untuk menenangkan suasana hatinya. Mana mungkin anak seimut dan selucu ini milik Tuan Javier?
Javier yang dikenalnya itu tidak mungkin bisa punya anak selucu ini.
Dia berjongkok sambil mengelus kepala kedua anak itu dan bertanya, "Siapa nama kalian?"
"Namaku Jessie."
"Namaku Jody."
Kedua anak itu menjawab dengan serempak.
Darlene hampir saja meleleh melihat keimutan kedua anak ini. Selain imut, keduanya bahkan sangat tampan dan cantik.
Kalau diletakkan di depan kamera ....
Darlene tiba-tiba tersadar. Dia menoleh kepada staf yang sedang bekerja di samping dan berteriak, "Kalian! Cepat bawa dua model ini untuk ganti pakaian!"
Darlene sudah tidak sabar ingin melihat hasilnya!
Di bawah gedung Grup Angkasa, mobil Maybach yang terparkir itu membuat para pengawal berbaju hitam di sana buru-buru menyingkirkan orang di sekitarnya. Kemudian, mereka berdiri rapi menjadi dua barisan.
Javier turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam lobi dengan cepat.
Sementara itu di sisi lain, Darlene yang telah mengambil beberapa set foto, mengirimkan dua lembar hasilnya yang belum diedit kepada Roger.
Roger memperlambat langkahnya, lalu mengambil ponsel dari sakunya dan meliriknya sekilas. Setelah memperbesar fotonya, ekspresi Roger tampak makin tidak percaya melihat foto itu.
Roger buru-buru menyusul Langkah Javier dan memanggilnya, "Tuan Javier."
"Ada apa?"
Javier memasuki lift pribadi setelah petugas keamanan menekan tombolnya. Di dalam lift, Roger menunjukkan ponselnya kepada Javier sambil berkata, "Anda lihat ini."
Begitu melihat isi ponsel itu, tatapan Javier menjadi makin redup.
Jika bukan ada urusan yang penting, Javier biasanya tidak akan menatap layar ponsel lama-lama. Namun, kini dia malah telah menatap layar ponsel itu selama 3 menit.
"Ini foto-foto yang dikirimkan Darlene. Duta produk merek 'Belia' mendapatkan dua orang model yang sangat mirip dengan Anda."
Jika dilihat dengan cermat, mata anak laki-laki itu sama persis dengan Javier. Wajah kedua anak itu juga hampir mirip dengannya, terutama anak laki-laki itu.
Javier mengerutkan alisnya dan mengembalikan ponselnya, lalu bertanya, "Di mana kedua anak itu sekarang?"
"Sepertinya masih di studio."
Javier menekan tombol lantai studio. Entah mengapa, rasanya dia ingin sekali bertemu dengan kedua anak itu.
Jerry yang sedang duduk di depan meja komputer, telah berhasil meretas ke pusat pemantauan gedung Grup Angkasa. Dia sedang memeriksa semua kamera pengawas di gedung Grup Angkasa. Beberapa saat kemudian, dia memperbesar sebuah layar dan melihat Javier sedang berjalan ke arah studio. Lalu, dia menelepon Jody.
Jam tangan telepon pintar yang sedang dikenakan Jody bergetar. Diam-diam, dia berjalan ke samping untuk menerima panggilan tersebut, "Gimana, Dik?"
"Javier sekarang sedang menuju ke arah kalian. Suruh Jessie untuk mendekatinya. Pastikan untuk mendapatkan rambutnya!"
"Oke!"
Setelah menutup telepon, Jody berjalan ke samping Jessie dan berbisik. Jessie mengangguk dan berkata, "Baik."
Jerry duduk di depan komputer sambil tersenyum puas. Kalau tidak mengambil sedikit risiko, misi mereka ini hanya akan sia-sia. Setelah nanti dia mengambil rambut pria itu dan mengecek DNA-nya, semuanya akan jadi jelas!
Begitu Javier tiba di luar studio, Darlene menyambutnya dengan tersenyum, "Tuan Javier, ada apa Anda datang?"
Sebelum dia menjawab, Roger sudah terlebih dulu bertanya, "Di mana dua model kecil itu?"
"Oh, mereka di sana," ujar Darlene sambil menunjuk ke arah kedua anak kecil itu.
Mereka sedang berdiri di atas kursi sambil menatap kamera, tampaknya sangat penasaran.
Javier berjalan mendekati mereka berdua.
"Jessie, Jody!" panggil Darlene. Keduanya langsung menoleh dan melihat Javier sedang berdiri di belakan mereka.
Keduanya mendongak dan bertemu pandang dengan Javier. Jody secara refleks melindungi Jessie di depannya dan memasang wajah waspada.
Ekspresinya ketika mengerutkan alis tampak sama persis dengan Javier.
"Siapa kamu?" tanya Jody sambil menatapnya lekat-lekat.
Tentu saja, dia sebenarnya sudah tahu identitas pria ini.
Javier memicingkan matanya dan balik bertanya, "Kamu sendiri siapa?"
"Apa urusanmu?"
Roger dan Darlene langsung berkeringat dingin. Tegas sekali anak ini?
Jessie menarik sudut baju Jody dan berpura-pura takut. "Kak, aku mau pulang."
Jody mengelus kepalanya dan menghiburnya, "Jangan takut, ada Kakak di sini."
Tatapan Javier tampak tak berdaya. Apakah tampangnya terlalu galak?
Anak-anak ini mengira dia bermaksud jahat?
"Aku bos perusahaan ini, di mana orang tua kalian?" tanya Javier dengan nada yang lebih lembut.
Melihat Javier merendahkan diri untuk pertama kalinya, Roger dan Darlene merasa terkejut.
Jessie menjawab dengan nada lembut, "Ibu sedang sibuk, kami nggak tahu Ayah ada di mana."
Entah apa yang sedang dipikirkan Javier saat ini.
Jessie tiba-tiba berjalan ke hadapannya sambil mengulurkan tangan. "Paman Tampan, mau peluk ...."
Semua orang yang menyaksikan hal itu sontak tertegun. Anak ini minta gendong dengan Tuan Javier?
Jody menarik Jessie dan berkata, "Dik, kata Ibu kita nggak boleh digendong orang asing. Nanti bisa diculik."
"Tapi, Paman ini nggak terlihat seperti orang jahat ...."
Setelah Jessie selesai mengucapkan kalimat itu, tubuh kecilnya langsung diangkat di udara.
Semua orang terkejut!
Tangan Jessie melingkar di leher Javier. Dia menatap Javier dengan matanya yang bulat sambil berkata, "Paman Tampan, matamu sama indahnya dengan mata kakakku!"
Javier tidak pernah menggendong anak kecil sebelumnya. Kali ini, dia mendapat pengalaman yang tidak pernah dirasakannya sebelumnya. Anak ini ... sepertinya mirip dengan seseorang.
"Siapa nama ibu kalian?"
Bab 8
"Ibu bilang, siapa pun yang menanyakan namanya, kami hanya boleh memberi tahu mereka bahwa nama ibu adalah Ibunda Ratu," ujar Jessie sambil tertawa terkikik-kikik.
"Pfftt ...." Darlene juga tidak kuasa menahan tawanya, tetapi dia segera menghentikannya.
Hahaha! Lucu sekali kedua anak ini! Siapa sebenarnya ibu mereka?
Tatapan Javier bergetar melihat Jody yang matanya mirip dengan dirinya.
Jika bukan karena dia hanya pernah berhubungan badan dengan Kayla, Javier bahkan mencurigai bahwa kedua anak ini adalah miliknya.
Jessie melirik jam tangannya sekilas, lalu berkata, "Paman Tampan, kami sudah mau pulang. Kalau nggak, nanti Ibunda Ratu khawatir."
Javier menurunkan Jessie, lalu berpesan pada Roger, "Antar dua anak ini pulang."
Roger mengangguk dan menjawab, "Baik."
"Paman Tampan, sampai jumpa!" Jessie melambaikan tangannya, lalu menggandeng kakaknya untuk mengikuti Roger.
Ketika keluar dari pintu, dia langsung memamerkan sehelai rambut kepada Jody dengan bangga.
Begitu keluar dari gerbang perusahaan, Jessie kembali menarik pakaian Roger dan berkata, "Paman, Ibu kami sedang sakit dan dirawat di rumah sakit. Apa Paman bisa mengantarkan kami ke rumah sakit?"
Roger terdiam, dalam hatinya merasa kagum kepada kedua anak yang pengertian ini.
"Baiklah, ayo naik ke mobil."
Di Vila Kandara.
Sesampainya di rumah, Claire hanya melihat Jerry yang sedang berlatih piano. Dia melihat ke sekeliling, lalu bertanya, "Di mana Jessie dan Jody?"
Jerry menjawab, "Mereka sedang wawancara untuk menjadi model pakaian anak-anak. Bu Candice yang mengantarkan mereka."
Claire meletakkan tasnya di atas sofa, dia terkejut mendengar ucapan Jerry. "Wawancara model?"
"Iya, katanya Ibu terlalu lelah bekerja keras sendirian. Jadi, mereka mau membantu untuk meringankan beban Ibu."
Claire berjalan ke sisi Jerry dan mengelus kepalanya. Jerry mengeluh, "Ibu, jangan mengacaukan model rambutku."
"Wah, si genius musik marah ya?"
"Huh!" Jerry menggembungkan kedua pipinya.
"Jerry, kalian nggak perlu membantu Ibu. Ibu juga bukannya nggak sanggup menghidupi kalian." Melihat anak-anaknya yang begitu pengertian, Claire justru merasa bersalah.
"Nggak bisa, Ibu sudah susah payah, kami juga nggak mungkin membiarkannya. Oh ya, Ibu, aku diterima di Akademi Royal Musik di Negara Makronesia. Ibu nggak perlu mengkhawatirkan masalah uang sekolahnya, aku punya uang."
"Setelah dapat beasiswa nanti, aku akan menyekolahkan Kakak dan Adik ke sekolah bangsawan. Ibu lakukan saja hal yang ingin Ibu lakukan."
Claire terharu hingga berlinang air mata. "Beethoven-ku ini hebat sekali ya. Bahkan bisa menyekolahkan kakak dan adiknya."
Claire baru-baru ini tahu bahwa ternyata Jerry memiliki bakat dalam bidang musik. Dia diterima di Akademi Musik Naver di Negara Sahara. Namun, karena usianya masih terlalu muda, Claire tidak membiarkannya pergi sendirian.
Sekarang, Jerry telah berusia 5 tahun. Awalnya, Claire berencana untuk mengirimkannya ke akademi ketika dia berusia 6 tahun. Namun, melihat Jerry begitu menyukai musik dan nilainya juga selalu bagus, Claire tidak mungkin mematahkan cita-cita anaknya.
"Ibu, Ibunda Ratu, kami pulang!"
Begitu sampai di rumah, Jessie dan Jody langsung berlari ke pelukan Claire. Claire bertanya, "Jerry bilang, kalian pergi wawancara model?"
"Iya! Kami terpilih! Hebat, bukan?!" seru Jessie seraya mengedipkan matanya.
Claire mengecup pipi keduanya dan memuji, "Kalian memang hebat! Ibu buatkan makanan untuk kalian dulu ya, tunggu sebentar."
Seburuk apa pun suasana hati Claire, emosinya langsung mereda ketika berhadapan dengan ketiga anaknya ini.
Ketika Claire berjalan masuk ke dapur, ketiga anak itu langsung berkumpul. Jerry berbisik-bisik bertanya, "Gimana?"
Jody menjawab, "Tenang saja, sudah dibawa untuk dites di rumah sakit. Dua hari lagi baru ada hasilnya."
Jessie menepuk dadanya dengan bangga sambil berkata, "Dijamin nggak akan gagal kalau aku yang turun tangan!"
Di Keluarga Adhitama.
"Apa kamu bilang? Si berengsek Claire itu adalah Zora?" Mendengar keluhan putrinya, raut wajah Imelda langsung berubah.
Si berengsek itu bukan hanya sudah pulang, dia bahkan adalah Zora yang terkenal di seluruh negeri. Ditambah lagi, Zora adalah orang yang direkrut langsung oleh Javier dari luar negeri untuk menyelamatkan Perusahaan Vienna.
Saat itu, putrinya menggantikan Claire mengaku-ngaku telah bermalam dengan Javier. Kalau Claire sampai tahu pria dari 6 tahun lalu itu adalah Javier, bukankah wanita itu akan berebutan dengan putrinya?
"Ibu, bagaimana ini?" tanya Kayla dengan cemas.
Imelda menyunggingkan sudut bibirnya dan berkata, "Lalu kenapa kalau dia itu Zora? Jangan lupa kamu masih punya Javier sebagai pendukungmu. Selama ada Javier, dia nggak akan berani membuat masalah."
"Oh ya, karena si berengsek itu sudah pulang, hubunganmu dan Javier juga harus ada perkembangan. Lebih baik lagi kalau bisa sampai hamil. Kalau ada anak, kamu juga bisa menjadi Nyonya Fernando."
Mengungkit masalah anak, Kayla menundukkan pandangannya. "Tapi, selama 6 tahun ini, Javier nggak pernah menyentuhku sama sekali."
Tentu saja Kayla juga menginginkan hal itu, tetapi tetap saja harus menunggu Javier menidurinya.
Melihat kepolosan anaknya, Imelda berkata dengan cemas, "Kamu bodoh, ya. Kalau mau menunggu dia yang menidurimu, kamu mau menunggu sampai kapan? Kamu juga harus inisiatif, mana ada pria di dunia ini yang bisa menahan godaan?"
Begitu diingatkan oleh ibunya, Kayla langsung tersadar. Selama 6 tahun ini, dia juga tidak berani bersikap semena-mena karena Javier tidak menyentuhnya sama sekali. Namun, perkataan ibunya memang benar, dia harus mengambil inisiatif.
Dengan malu-malu, Kayla tersenyum sambil berkata, "Aku mengerti, Ibu."
Bab 9
Keesokan harinya di Perusahaan Perhiasan Vienna.
Claire duduk di ruangannya sambil melihat-lihat desain perhiasan Vienna selama beberapa tahun ini. Kemudian, dia melemparkan dokumennya ke atas meja.
"Nggak kreatif! Bahkan esensi desain saja nggak ngerti! Perhiasan yang dirancang Vienna selama beberapa tahun ini cuma asal-asalan saja, ya?"
Ekspresi staf yang berada di dalam ruangannya tampak canggung. Dia berkata, "Nona Zora, Direktur Kayla yang bilang bahwa gaya desain Vienna cukup mengikuti gaya selama ini saja."
Claire melingkarkan kedua tangannya di depan dada dan bersandar di kursi. Dia tertawa kecil dan berkata, "Memangnya gaya selama ini itu gaya yang bagaimana?"
Dia mengangkat perhiasan yang ada dalam berkas itu dan berkata, "Semua ini hanya tumpukan sampah yang nggak menarik di dunia mode perhiasan. Hebat sekali direktur kalian itu. Setelah naik jabatan, dia langsung memecat semua elite perusahaan. Sekarang Vienna bahkan nggak bisa menciptakan produk sendiri dan hanya bisa menjual sisa-sisa orang lain. Mau rugi juga bukan begini caranya!"
Staf itu langsung terdiam.
Claire berdiri, lalu memerintahkan, "Bawa aku ke gudang material."
"Baik," ucap staf itu sembari mengangguk.
Dalam perjalanannya menuju gudang material, Claire kebetulan bertemu dengan pria yang paling tidak ingin ditemuinya di pintu lift.
Melihat Claire mengabaikannya, Javier langsung berbalik dan berkata dengan tatapan muram, "Nggak bisa nyapa ya?"
Mengingat orang ini yang membayar 2 triliun kepadanya, Claire menghentikan langkahnya. Sambil menggertakkan gigi, dia berbalik sambil tersenyum. "Halo, Bos Javier."
"Nona Claire Adhitama mau ke mana?"
Claire tertegun. Pria ini tahu dirinya adalah anggota Keluarga Adhitama?
Javier berjalan ke hadapannya dan bertanya sekali lagi, "Kamu mau ke mana?"
Javier mengira wanita ini sangat senggang.
Claire tersenyum, lalu menjawab, "Apa aku perlu minta izin lagi kepada Tuan Javier untuk mengecek gudang material?"
Pacar Kayla ini sepertinya terlalu banyak ikut campur?
"Kebetulan sekali, aku juga ingin tahu apa yang bisa kamu temukan di Gudang material."
Claire kehabisan kata-kata mendengar ucapannya.
Gudang material adalah tempat untuk menyimpan batu mentah dan bahan baku lainnya yang digunakan untuk membuat perhiasan. Ketika staf wanita itu menyalakan lampu, gudang yang luas itu dipenuhi dengan tumpukan kotak di sudut-sudutnya. Sementara itu, rak-rak di atas meja diisi dengan batu berlian mentah yang belum dipotong dan dipoles.
Ada alat potong di atas meja dan semua bahan yang diperlukan juga lengkap tersedia. Claire mendekati rak dan mengambil satu potong batu mentah untuk diperiksa. Kemudian, dia membawa batu mentah tersebut ke mesin potong.
Staf wanita itu kebingungan dan bertanya, "Nona Zora, apa yang Anda lakukan?"
Claire tidak menjawabnya, melainkan mulai memotong batu mentah itu dengan mesin potong. Ketika baru saja memotong satu bagian, Claire telah menemukan ada yang tidak beres.
"Hebat sekali ya, Vienna sekarang sudah bisa memalsukan barang ya?" Claire mengambil batu mentah yang dipotong it uke hadapan staf wanita dan bertanya, "Siapa yang bertanggung jawab atas gudang material ini?"
Staf wanita itu menjawab dengan gugup, "Pak Chairul."
Ekspresi Claire menjadi muram, dia memerintahkan, "Suruh Pak Chairul segera menemuiku."
Javier berjalan ke depan batu yang telah dipotong dan menggunakan jari telunjuknya yang memakai cincin penyangga untuk menggores berlian tersebut. Gerakannya itu meninggalkan bekas goresan yang sangat jelas.
Claire mendekat ke sisinya dengan melipatkan kedua tangannya, lalu dia mengangkat alis sambil tersenyum. "Tuan Javier, bagaimanapun ini adalah perusahaan pacar Anda. Anda tidak peduli ada batu permata palsu yang muncul di sini?"
Javier mengerutkan alisnya, lalu berbalik menatap Claire. "Bukankah ini juga perusahaan ibumu?"
Mengungkit hal ini, senyuman di bibir Claire sontak menjadi kaku.
"Nggak ada untungnya juga bagimu kalau hal ini sampai tersebar. Selesaikan secara pribadi saja," ujar pria itu dengan tenang.
Selesaikan secara pribadi?
Huh, semua batu mentah ini pasti sudah disetujui oleh Kayla. Menurut harga pasar, modal untuk batu mentah berkualitas tinggi sangatlah mahal. Namun, jika batu ini sudah tercampur dengan benda palsu, harganya juga pasti akan jauh lebih murah.
Jika Kayla memang tidak mengerti, Claire masih bisa maklum. Namun, jika Kayla memang sengaja menggunakan batu campuran palsu ini karena modal untuk batu asli terlalu tinggi, Claire tidak akan diam begitu saja.
"Kalau Kayla benar-benar ...."
"Dia nggak mengerti soal perhiasan, wajar kalau ditipu." Javier menoleh dan menatap Claire, kemudian berkata dengan nada dingin, "Jangan sembarangan menarik kesimpulan kalau belum punya bukti."
Claire mencibir dalam hati.
Sifat protektif ini agak mirip dengan Jody ....
Tunggu, apa yang sedang dipikirkannya?
"Pak Chairul sudah datang."
Staf wanita itu membawa Chairul masuk ke dalam ruangan. Awalnya, Chairul masih berani berdalih dengan staf wanita itu. Namun, begitu melihat kehadiran Javier, raut wajahnya langsung berubah.
"Tuan ... Tuan Javier, kenapa Anda ada di sini?" tanya Chairul dengan wajah yang pucat pasi.
Javier berjalan ke hadapannya dan bertanya, "Kenapa batu mentah ini tercampur dengan batu palsu?"
Chairul berkeringat dingin. Gawat, semua batu mentah ini sesuai permintaan Direktur Kayla, kalau sampai ketahuan ....
Kalaupun dia mengatakan ini adalah instruksi Direktur Kayla, tetap saja dia yang akan terkena getahnya karena Kayla adalah pacar Tuan Javier!
"Ini ... batu mentah ini sebenarnya bukan tanggung jawab saya. Awalnya, Pak Sofyan, kepala bagian yang sudah mengundurkan diri itu yang bertanggung jawab atas semua batu mentah ini. Saya juga tidak tahu kenapa batu mentah ini bisa tercampur dengan batu palsu."
Lagi pula, orangnya juga sudah mengundurkan diri. Chairul terpaksa menggunakan namanya sebagai kambing hitam.
"Kamu bohong."
Claire mempertanyakan dengan tegas, "Selama Pak Sofyan bekerja, tidak pernah ada muncul kejadian batu mentah yang tercampur dengan batu palsu. Dia sudah bekerja di Vienna selama 15 tahun. Kalau memang melakukan kesalahan seperti ini, sedari awal dia pasti sudah dipecat. Mana mungkin perlu menunggu sampai sekarang?"
Chairul tercengang mendengarnya. Kenapa Zora bisa tahu kalau Sofyan pernah bekerja di Vienna selama itu?
"Saya ... benar-benar tidak tahu."
"Kamu sedang mencoba menutupi kesalahan seseorang, bukan?" desak Claire seraya menatapnya dengan tajam.
Javier hanya meliriknya sekilas tanpa mengatakan apa-apa.
Pada saat ini, Kayla muncul di depan pintu.
Bab 10
Mendengar bahwa Javier dan Claire mendatangi gudang material, bahkan Pak Chairul juga telah dipanggil ke sana, Kayla sangat khawatir rahasianya akan terbongkar. Oleh karena itu, dia juga bergegas ke ruangan tersebut.
Sambil berusaha menenangkan diri, Kayla berpura-pura tidak tahu apa-apa dan bertanya, "Apa yang terjadi? Javier, kenapa kamu ada di sini?"
Sialan, si berengsek Claire ini pasti pulang hanya untuk mempersulitnya. Dia bahkan mencari sampai ke gudang material!
Pada saat itu, demi menghemat uang, dia meminta seseorang membawa sejumlah bahan baku yang kurang baik. Dia tidak pernah mengira wanita sialan ini sengaja mencari masalah begitu kembali!
Javier menatapnya, lalu bertanya dengan acuh tak acuh, "Kenapa batu mentah ini bisa tercampur dengan batu palsu?"
Kayla mengepal tangannya dengan erat. Namun, dia menunjukkan wajah tak bersalah ketika berkata, "Aku nggak tahu. Kamu juga tahu kan, aku memang nggak mengerti soal batu mentah. Selama beberapa tahun ini, memang aku yang melakukan pengadaan batu mentah, tapi aku kira semuanya masih seperti sebelumnya."
Faktanya, dia memang tidak mengerti tentang batu mentah. Hal ini menjadi keuntungan baginya.
Claire malah tertawa, lalu berkata, "Hebat sekali Ayah bisa menyerahkan perusahaan kepada orang yang nggak tahu apa-apa. Memangnya dia nggak takut perusahaan akan bangkrut?"
"Aku ... benar-benar nggak tahu." Kayla merasa tidak berdaya, dia hanya bisa menatap Javier dan meyakinkannya, "Javier, kamu harus percaya padaku."
Wanita sialan, suatu hari, dia pasti akan mengusir wanita ini!
Javier bukannya tidak percaya dengan keraguan Claire. Selama beberapa tahun ini, jika ada hal tentang perhiasan yang tidak dimengerti Kayla, dia akan selalu menanyakannya kepada Javier dengan rendah hati. Javier paling jelas bahwa Kayla bukanlah orang yang suka berpura-pura.
Javier menoleh ke arah Chairul dan berkata, "Kamu dipecat."
Chairul tercengang sesaat, tetapi dia menerimanya dengan Ikhlas. Sebab, Javier bukanlah orang yang bisa disinggungnya.
Melihat Chairul dipecat, Kayla menggigit bibirnya dan membatin, 'Untung saja Javier percaya denganku.'
Javier berbalik kepada Claire, lalu berkata, "Kelak, kamu yang bertugas melakukan pengadaan batu mentah."
Usai berbicara, dia pun langsung meninggalkan gudang material tersebut.
Sesampainya di ruangan Claire, Kayla menarik tangan Claire dan menuduhnya, "Claire, kamu sengaja, 'kan?"
Claire merasa lucu, lantas dia membalasnya, "Sengaja apanya?"
"Kamu ... sengaja mendekati Javier, 'kan? Kamu bahkan memancingnya ke gudang material? Huh, kamu kira Javier akan percaya denganmu?
Terlintas rasa bangga di mata Kayla ketika berkata, "Kamu sudah lihat, 'kan? Orang yang dipercaya Javier itu aku, kamu nggak usah susah payah lagi."
"Oh, maksudmu, aku membawanya ke gudang material karena ingin merusak hubungan kalian? Aku memberitahukannya batu mentah itu tercampur dengan batu palsu karena ingin membuatnya curiga padamu?"
Melihat ekspresi Kayla yang kesal, Claire melipat kedua tangannya dan mencibir, "Memangnya aku senggang sekali ya ikut campur hubungan kalian berdua? Dia sendiri yang mau ikut aku ke gudang material, apa hubungannya denganku?"
"Claire, jangan kira aku akan percaya dengan ucapanmu."
"Kalau nggak mau percaya, ya sudah. Untuk apa bicara panjang lebar?"
Claire tidak bisa bersabar lagi, dia kembali menambahkan, "Masalah memalsukan batu mentah itu nggak akan kubiarkan begitu saja. Kalau bukan karena Vienna adalah jerih payah ibuku dan aku nggak tega menyebarkan hal ini, mana aku peduli ada berapa banyak Javier di belakangmu?"
Javier memang sangat berkuasa, tetapi Claire juga bukan orang yang bisa ditindas dengan sesuka hati.
Ketika baru saja hendak pergi, Kayla kembali menarik tangannya. "Claire, jangan kira kamu bisa berbuat semena-mena setelah kembali ke sini. Jangan lupa, videomu ...."
Claire tidak bisa bersabar lagi, dia berbalik dan merebut ponsel Kayla.
"Apa yang kamu lakukan?!"
Kayla ingin merebutnya, tetapi Claire malah berhasil menghindar darinya.
Melihat tampang Kayla yang ketakutan, Claire tertawa dan berkata, "Kamu suka mengancamku dengan video, 'kan?"
Dia berjalan ke jendela di ruang koridor, lalu membuang ponsel Kayla keluar jendela.
Kayla melihat ponselnya dijatuhkan dari lantai 19 dengan mata dan kepalanya sendiri. Sudah pasti ponselnya itu akan hancur berkeping-keping.
"Kamu ...."
"Bukankah kamu suka sekali mengancamku dengan video? Sekarang nggak ada video lagi, mau gimana lagi kamu mengancamku?"
Usai berbicara, Claire langsung masuk ke ruangannya kembali tanpa menoleh sama sekali.
Kayla merasa kesal setengah mati melihat videonya dihancurkan. Namun, hatinya malah merasa sedikit lega.
Dengan begitu, Javier tidak akan pernah tahu siapa wanita di malam itu selamanya.
Kejadian hari ini sepertinya akan membuat Javier merasa kecewa terhadapnya. Oleh karena itu, Kayla tidak bisa lagi terus menunggu.
Asalkan malam ini dia bisa menaklukkan Javier, Kayla akan menjadi miliknya secara resmi!
Malam pun tiba.
Di ruang kerja Kediaman Keluarga Fernando.
"Tuan Javier, saya sudah mendapatkan informasinya. Claire adalah anak Rendy dengan istri pertamanya, dia adalah Nona Besar Keluarga Adhitama. Ibu Claire adalah desainer perhiasan."
"Perusahaan Perhiasan Vienna dirintis oleh ibunya dan Rendy. Setelah ibunya meninggal, semua sahamnya dialihkan ke tangan Rendy. Entah apa alasannya, enam tahun yang lalu Claire pergi ke luar negeri."
Suara Roger terdengar dari ponsel yang diletakkan di sampingnya.
Sambil Javier memegang dokumen Zora di tangannya, tatapan Javier meredup ketika mendengar penjelasan Roger.
Apakah dia sengaja menentang Kayla karena merasa tidak rela perusahaan ini diserahkan kepada Kayla?
Akan tetapi, jika dia memang merupakan anggota Keluarga Adhitama, lantas mengapa Kayla tidak mau mengakuinya sedari awal?
Waktu sudah larut, Javier menyingkirkan semua masalah dan kembali ke kamarnya. Ketika menyadari ada seseorang di atas tempat tidur, dia menyalakan lampu dan melihat Kayla yang sedang duduk di atas tempat tidur mengenakan piama yang tipis.
Dengan sorot mata yang dingin, dia bertanya, "Kenapa kamu ada di kamarku?"
Javier memang membiarkannya tinggal di Kediaman Keluarga Fernando, tetapi dia tidak mengizinkan Kayla tidur di kamarnya.
Padahal, Kayla sudah sengaja mengenakan baju seperti itu dan memberi kode padanya dengan jelas. Akan tetapi, Javier kelihatannya tidak terlalu senang.
Kayla menggigit bibirnya dan memprotes, "Javier, setelah terakhir kali kita tidur bersama 6 tahun yang lalu, kamu nggak pernah membiarkanku mendekatimu lagi. Apakah aku melakukan kesalahan?"
Ekspresi Kayla tampak polos dan tidak berdaya.
Bagaimanapun, Javier adalah pria normal. Bohong jika mengatakan bahwa dia tidak merasakan apa pun.
Melihatnya tidak bersuara lagi, Kayla mengambil inisiatif untuk turun dari ranjang dan memeluk pria itu. Kedua tangannya melingkari leher Javier, lalu dia menjinjit dan hendak menciumnya.
Saat bibir mereka hampir bersentuhan, dalam benak Javier malah terlintas wajah Claire. Seketika, dia mendorong Kayla dan tatapannya tampak kesal.
"Javier ...."
Kayla yang didorongnya merasa kebingungan. "Javier ... apa kamu sebenci itu padaku?"
Kenapa? Kenapa dia bisa tidur dengan Claire 6 tahun yang lalu, tetapi sekarang malah tidak bisa melakukannya dengan Kayla?
"Enam tahun yang lalu itu hanyalah sebuah kecelakaan. Aku bisa membiarkanmu tetap di sisiku dan memberikan apa pun kepadamu sebagai kompensasi, tapi masalah malam ini nggak boleh terjadi lagi."
Ketika Javier berbalik, dia tiba-tiba teringat dengan sesuatu. Kemudian, dia bertanya kepada Kayla, "Claire adalah anggota Keluarga Adhitama, bukan?"
Kayla terdiam sejenak. Kenapa dia malah mengungkit Claire? Jangan-jangan, dia mengetahui sesuatu?
"Dia adikku ...."
"Lalu, waktu pertama kali dia ke perusahaan, kenapa kamu nggak mengakuinya dan malah memukulnya?" Awalnya, Javier mengira bahwa Claire yang duluan memprovokasi Kayla, makanya Kayla memukulnya.
Namun, setelah menyelidiki identitas wanita itu, Javier baru tahu bahwa ternyata dia adalah anggota Keluarga Adhitama. Perusahaan Vienna bahkan dirintis dengan menggunakan nama ibu wanita itu. Rendy hanyalah pemilik saham perusahaan itu.
Kayla menggigit bibirnya dengan perlahan dan mengepalkan tangannya. Namun, wajahnya malah memasang ekspresi tak bersalah. "Sebenarnya, aku punya masalah dengan adikku dulu."
"Masalah apa?"
Kayla tiba-tiba mendapat ide, lalu dia bercerita dengan mata berkaca-kaca, "Enam tahun yang lalu, malam itu dia menaruh obat dalam minumanku. Aku tahu, dia tidak suka dengan statusku sebagai anak haram. Sejak aku dan ibuku tiba di Keluarga Adhitama, Claire selalu menentang kami."
"Awalnya, Perusahaan Vienna ini akan diwariskan kepadanya. Namun, karena insiden itu, Ayah sangat marah dan mengusirnya keluar dari rumah."
Wajah Javier menjadi murung. Ternyata, 6 tahun yang lalu dia juga dijebak orang?
Wanita itu benar-benar melakukan hal seperti itu kepada Kayla? Dengan sikapnya yang sombong, sepertinya tidak heran kalau dia melakukan hal seperti itu.
Namun, entah mengapa, Javier malah merasa gusar karena hal ini.
"Kamu tidur saja dulu," ujar Javier. Kemudian, dia pun keluar dari kamar dengan acuh tak acuh.
Melihat pintu kamar yang tertutup, tatapan Kayla berubah menjadi bengis. Claire, Claire, lagi-lagi Claire! Keberadaan Claire memang sebuah ancaman baginya.
Dia tidak akan pernah membiarkan Claire terus tinggal di Vienna!