Setelah Mengetahui Rahasia Bos Wanitaku, Aku Terkena Masalah Besar

Đang tải thông tin quảng bá...

Setelah Mengetahui Rahasia Bos Wanitaku, Aku Terkena Masalah Besar

GoodNovel Hoàn thành
CantikBeraniKayaKuat

Setelah kembali ke ibu kota dan bekerja sebagai pegawai biasa, seorang mantan raja gangster secara tidak sengaja mengetahui rahasia bos cantiknya ....

Chương (1)

第1章

Bab 1 "Kamu dipecat," ucap seorang wanita dengan sangat dingin. Wanita itu tinggi nan anggun dan mengenakan rok hitam ketat. Deon menatap wanita bengis berpayudara 36D yang seksi itu dan tanpa sadar menelan ludah. Wanita tersebut adalah wakil presiden sebuah perusahaan terkenal dan merupakan atasan langsung Deon. Namanya Luna Yossef, dia berusia 27 tahun, memiliki gelar doktor dari luar negeri dan memiliki gelar ganda. Bahkan, kabarnya gaji Luna mencapai 2 triliun per tahun! Hari ini, begitu Deon tiba di kantor, PHK tengah berlangsung secara besar-besaran. "Deon, sekarang giliranmu!" sahut seorang pegawai Departemen SDM sambil mendatangi Deon untuk mengingatkan bahwa gilirannya telah tiba. Sambil membuka pintu kantor, Deon bertanya dengan cemas, "Bu Luna, apakah kamu memanggilku?" Namun, begitu masuk, dia malah melihat Luna terbaring di lantai, tubuhnya yang mulus kejang-kejang dan dadanya naik-turun! Wajah Deon memucat dan hatinya berdegup kencang. Dia ingin menghampiri Luna dan melakukan sesuatu! Kalau dilihat dari depan, Luna ternyata jauh lebih memesona! Melihat badan Luna, nafsu Deon langsung bangkit dan tidak terbendung! Saat Luna menyadari bahwa yang masuk adalah Deon, dia langsung menggertakkan gigi dan berseru, "Keluar!" Deon yang kaget akhirnya hendak keluar dengan enggan. Namun, dia mendengar raungan Luna yang pilu, "Tunggu! Kemari ... tolong aku!" Deon tidak tahan lagi dan spontan berbalik. Dengan gerakan secepat kilat, dia menghampiri Luna, meraba denyut nadinya, mengamati kondisinya dan menanyakan keadaannya. Karena Deon bukan orang biasa! Tubuhnya terasa panas, pipinya merah, napasnya tersengal-sengal dan tangan serta kakinya tanpa sadar melepas blus renda yang dikenakannya secara paksa. Ekspresi Deon seketika menjadi tegang. Dia pun berkata, "Bu Luna, kamu telah diracuni dengan bubuk akasia yang sangat beracun. Kalau dibiarkan, seluruh tubuhmu akan terbakar dan kamu akan mati di bawah tiga menit!" "Kini, hanya ada satu cara untuk menyelamatkanmu, yaitu menggunakan tubuhku untuk menetralisir dan mengekstrak racunnya!" Dengan wajah pucat, Luna mengangguk kesakitan. Tatapan Deon tiba-tiba berubah dan dia berkata, "Maafkan aku." Detik selanjutnya, Deon merobek semua pakaian Luna dan menekan tubuhnya secara gila-gilaan. "Tunggu ...." Saking terkejut, wajah Luna memucat sepenuhnya. Dia sama sekali tidak menyangka metode Deon mengekstrak racun ternyata seperti ini! Saat hendak melawan, Luna malah jatuh ke alam bawah sadarnya. Sepuluh menit kemudian .... "Bu Luna, maafkan aku. Aku nggak tahu ini adalah kali pertamamu. Istirahatlah yang cukup, aku pamit dulu." Deon buru-buru mengenakan pakaiannya dan segera pergi dengan perasaan bersalah. Sekarang, hanya Luna yang tersisa di ruangan. Dia bangkit dari sofa, lalu mengambil bra hitamnya yang kini rusak dan menatap Deon yang baru saja keluar dengan penuh amarah. .... "Tamatlah riwayatku. Aku hendak menyelamatkannya, tapi aku malah bertindak terlalu impulsif. Besok, Luna si bengis itu pasti akan langsung memecatku!" ucap Deon sambil meninggalkan kantor, lalu menghela napas. Sebelum pergi, Deon sempat melihat seseorang lewat. Dia adalah ketua Departemen Penjualan, Gomez Gosali. Akan tetapi, entah apa yang sedang dia lakukan. Karena kebetulan sudah waktunya untuk pulang kerja dan karena takut berhadapan dengan Luna, Deon buru-buru keluar dari kantor. Hari ini, dia akan menghadiri kencan butanya yang ketiga puluh tiga. Deon merupakan raja dunia mafia yang terkenal di Provinsi Xino dan memiliki jutaan tentara. Dia sendiri berhasil mengalahkan pasukan gabungan dari berbagai negara dan menyelamatkan Negara Nozil. Namun, karena prestasinya yang sangat luar biasa membuat pihak berwenang curiga, Deon akhirnya memutuskan untuk pensiun dini dengan berat hati dan pulang ke kampung halamannya di Kota Sielo. Karena pekerjaannya adalah rahasia militer, dia mau tak mau harus merahasiakannya dari keluarganya. Oleh karena itu, keluarga Deon hanya menganggap dirinya seorang mantan tentara tujuh tahun yang hanya memiliki ijazah SMA. Namun, Deon tidak lagi memedulikan masa lalunya dan tidak pernah memberi tahu siapa pun tentang pengalamannya di Provinsi Xino. Saat ini, Deon telah tiba di restoran tempat kencan butanya. Ibu Deon, Henni Horatio, sangat cemas saat melihat putranya di depan pintu. "Deon, kenapa kamu baru datang sekarang?! Cindy sudah menunggumu dari tadi!" ujar Henni sambil menuntun Deon ke dalam restoran. Di meja makan, seorang wanita bertubuh seksi terlihat sedang menunggu. Dia mengenakan sepatu hak tinggi dan gaun bermerek. Melihat Deon yang berpakaian sederhana, wanita itu mengangkat sebelah alisnya dengan angkuh. Di sisi lain, Deon dengan tenang berkata, "Halo, Cindy. Namaku Deon, umur 25 tahun. Aku veteran militer, tidak kuliah, tidak punya mobil maupun rumah dan sekarang sedang magang di Grup Lexion dengan gaji 7 juta." Detik kemudian, wajah Deon disiram segelas air es! "Buang-buang waktuku saja!" Bab 2 Cindy mengambil tasnya dan berdiri, lalu mendengus dingin dan berkata, "Aku, Cindy Millard, adalah lulusan universitas top dan pegawai senior di salah satu dari 500 perusahaan nasional! Gajiku 40 juta per bulan, aku juga memiliki dua mobil dan apartemenku sendiri! Bisa-bisanya seorang pria rendahan yang gajinya bahkan nggak sampai 8 juta dengan percaya dirinya meminta kencan buta denganku?" "Kukira kamu itu anak orang kaya yang berbakat. Nyatanya, kamu yang sudah 25 tahun ternyata nggak punya mobil maupun rumah. Di dunia kita hari ini, orang nggak berguna sepertimu nggak akan mungkin bisa menjadi pria bermartabat," ujar Cindy dengan kasar sambil menunjuk batang hidung Deon. Ekspresi Deon seketika menjadi dingin. Seandainya hal ini terjadi di Provinsi Xino, wanita bernama Cindy ini pasti sudah dibunuh oleh warga Sembilan Suku! Melihat situasi yang memanas ini, Henni buru-buru berdiri dan berkata, "Cindy, meskipun saat ini Deon belum mempunyai rumah maupun mobil, orangnya rendah hati dan ingin berkembang ...." "Pergi! Jangan sentuh aku, dasar tua bangka!" sahut Cindy sembari mendorong Henni dengan kasar. "Jangan sentuh ibuku!" sahut Deon dengan penuh amarah. Wanita paruh baya dengan riasan tebal yang duduk di samping Cindy tiba-tiba berdiri, lalu tersenyum dan berkata, "Bu Henni, Cindy adalah putri sempurna yang kami banggakan. Apa kamu yakin putramu yang seperti itu layak untuk menjadi pasangan Cindy?" "Kalau bukan karena permintaanmu, kamu kira aku akan membiarkan Cindy datang ke kencan buta ini? Ternyata kalian benar-benar nggak sadar diri, ya!" Wanita itu adalah Camila Millard, ibu Cindy yang sangat sombong. Henni yang kaget hanya bisa bergumam, "Kak Camila, apa maksudmu?" "Kalian masih punya tanah turunan keluarga, 'kan? Kalian miskin, tapi kalau tanah itu dijadikan mahar, Cindy akan mempertimbangkannya kembali ...." Camila tersenyum licik dan berkata, "Omong-omong, rumah kalian yang kumuh itu harus dibongkar dan direnovasi menjadi rumah pengantin untuk putra-putri kita." "Kalau tanah kami diambil dan rumah kami dibongkar, lantas ibuku tinggal di mana? Di jalanan?" jawab Deon dengan marah. Camila langsung terbawa emosi dan menunjuk Deon sambil berkata, "Lihatlah! Aku baru menyebutkan syarat pertama, tapi sikapnya langsung kasar begitu. Aku yakin dia nggak akan memperlakukan Cindy dengan baik!" "Kak Camila, tolong jangan begitu. Baiklah, kami setuju!" ucap Henni dengan putus asa. "Ibu?!" sahut Deon dengan kaget. "Haha!" Camila tertawa, lalu melanjutkan ucapannya sambil tersenyum lebar, "Oh, iya. Adikku dulu pernah melakukan 'kesalahan kecil', tapi dia sudah dibebaskan dari penjara dua tahun lalu dan sekarang masih melajang. Nah, kamu punya anak perempuan, 'kan? Bagaimana kalau kita mempertemukan mereka berdua dan menikahkan mereka kelak?" Henni seketika memucat. Adik perempuan Deon yang bernama Dania baru beranjak dewasa tahun ini dan sedang kuliah. Henni pernah mendengar kabar bahwa adik laki-laki Camila dipenjara selama dua puluh tahun karena perampokan dan pembunuhan yang dia lakukan saat masih muda. Sekarang dia sudah hampir 50 tahun, tetapi dia bahkan tidak memiliki pekerjaan yang layak! "Kak Camila, aku ..." ucap Henni dengan ragu-ragu. Camila segera menyela Henni dengan berkata, "Selain itu, Cindy-ku memiliki standar yang sangat tinggi. Setelah menikah, putramu harus melakukan semua pekerjaan rumah dan memberikan semua gajinya kepada Cindy setiap bulan. Lalu, Cindy juga tidak boleh disentuh tanpa seizinnya karena kemungkinan infeksi!" Deon tidak tahan lagi. Dia akhirnya berkata, "Kamu ini sedang mencari calon menantu atau menjual putrimu, sih? Semisal kamu membeli sapi sekalipun, setidaknya kamu harus tahu cara membajak sawah. Lagi pula, kalian bukan pejabat yang kaya raya! Bu, aku nggak akan menikah dengan orang ini! Usir mereka!" Dengan ekspresi yang sangat kesal, Cindy membalas ucapan Deon, "Dasar bajingan! Berani-beraninya kamu memberontak dan memarahiku seperti itu! Kesediaanku untuk datang kemari menunjukkan bahwa aku rendah hati terhadapmu! Aku pun sudah berbaik hati tidak mengungkit rumahmu yang batu bata dan ubinnya nggak rata itu! Seandainya aku nggak tahu itu rumahmu, aku pasti sudah menganggapnya rumah bekas!" Camila berkata lagi dengan sinis, "Dasar katak dalam tempurung yang nggak tahu apa-apa! Ck, ck! Memang nggak berguna!" Deon tidak lagi menghiraukan mereka, lalu menarik tangan ibunya dan segera pergi. "Tuh, bisanya kabur saja, dasar manusia tak berguna!" Kedua wanita itu masih saja mengoceh di belakang mereka. Tepat pada saat ini, sebuah mobil Bentley tiba-tiba melesat dengan kencang dan berhenti di depan pintu restoran. Kedatangannya seketika menimbulkan keributan di sekitar restoran! Mobil tersebut adalah Bentley Arnage 728 yang harga pasarannya mencapai 25 miliar! Benar-benar mencengangkan! Seorang wanita cantik dengan aura dingin keluar dari mobil, lalu berjalan ke arah restoran dengan anggun dan percaya diri. Dia mengenakan rok kerja profesional yang ketat dipadukan dengan legging hitam yang tipis. Cindy tercengang. Awalnya dia mengira bahwa dirinya sudah cukup bersolek, tetapi kalau dibandingkan dengan wanita ini, Cindy terlihat seperti gadis desa dan merasa malu terhadap dirinya sendiri! Di antara mereka semua, Deon-lah yang paling terkejut, karena wanita yang turun dari mobil tersebut tak lain adalah bosnya, Luna. Deon tidak bisa melakukan apa-apa selain menatap Luna yang berjalan menghampirinya dengan kaki rampingnya. "Deon, ikut aku!" Bab 3 "Ada apa ini?" gumam Deon dengan bingung. "Tunggu apa lagi? Memangnya kamu tidak mengenaliku? Padahal tadi kita baru saja bertemu!" Melihat Deon tidak bergerak, Luna mengangkat alisnya, lalu menarik lengan Deon sambil berjalan ke mobil Bentley-nya. Lalu, mereka pun pergi begitu saja! Semua orang di sana tercengang! Bisa-bisanya seorang wanita secantik dan sekaya itu datang hanya untuk menemui Deon! Cindy menganga! Mana mungkin pria tak berguna itu .... Mustahil! Saking terkejut dan takut, jiwa Camila seolah keluar dari tubuhnya. "Bu Henni, ternyata putramu itu ... orang kaya, ya! Kalau begitu, untuk apa dia kencan buta segala? Apakah untuk memainkan perasaan kami?" Namun, Henni sendiri juga bingung .... Masa iya, putranya mengenal wanita sekaya itu? .... Bentley milik Luna melaju beberapa saat sebelum berhenti di tengah jalan kosong. Deon yang duduk di samping Luna spontan melihat lubang di stoking hitam Luna yang membentuk huruf V, lalu buru-buru memalingkan muka dan bertanya dengan malu, "Bu Luna, ada apa datang jauh-jauh hanya untuk menemuiku?" Plak! Belum apa-apa, Luna menampar wajah Deon tanpa sungkan! "Dasar tak tahu malu! Dasar genit!" gertak Luna. Deon tidak merasa sakit dan hanya menutupi wajahnya. Kemudian, dia tersenyum pahit dan menjawab, "Bu Luna, saat itu aku hanya berusaha menyelamatkanmu, jadi aku tidak berpikir panjang. Tolong maafkan aku! Kalau Bu Luna merasa nggak nyaman, silakan pukul atau pecat saja aku!" Ketika Deon melihat Luna mendatanginya, dia langsung menyadari ada yang tidak beres. Deon sudah bisa menebak bahwa bosnya itu datang untuk membalas perbuatannya! Jangan macam-macam dengan binatang buas, apalagi macam-macam dengan Luna. Mendengar jawaban Deon, tangan Luna yang tadinya siap menampar Deon tiba-tiba berhenti. Luna bertanya dengan dingin, "Namamu Deon, kamu anak magang di Departemen Penjualan, 'kan?" "Benar." "Aku ingin memintamu melakukan sesuatu. Begitu selesai, aku nggak akan meminta pertanggungjawabanmu atas kejadian sebelumnya dan aku akan menjadikanmu karyawan tetap!" jelas Luna dengan arogan. "Bu Luna memerlukan bantuanku? Apakah untuk mengobati penyakit lainnya?" Deon yang masih kebingungan melihat tulang selangka dan bagian dada Luna. Ternyata jejaknya masih terlihat .... Saking marahnya, kedua mata Luna seolah mengeluarkan api hingga berasap. "Aku peringatkan, ya! Kalau kamu berani mengungkit hal ini lagi, aku akan langsung mengusirmu dari mobil dan memecatmu!" "Aku ingin memintamu menjadi tunanganku selama satu jam!" ucap Luna dengan sangat tegas. Deon yang terkejut dan mengira bahwa dirinya salah dengar lantas bertanya, "Kenapa?" Bertunangan? Itu pun hanya selama satu jam? Mungkinkah ini adalah efek samping dari kejadian saat itu dan Luna masih belum sadar sepenuhnya? "Kamu nggak perlu bertanya dan nggak punya hak untuk bertanya. Kamu hanya perlu melakukan apa yang aku katakan!" ucap Luna sambil mengangkat dagunya layaknya seorang ratu yang sangat berkuasa, lalu menginjak pedal gas hingga mobilnya melaju ke kejauhan! .... Kehebohan yang terjadi saat Luna datang ke restoran berangsur-angsur menghilang. Restoran tempat kencan buta Deon dan Cindy kembali tenang. Cindy dan ibunya juga sudah lama pergi. Namun, saat ini terdapat tiga mobil mewah kelas atas bernilai puluhan miliar di depan restoran! Tak hanya itu, ada juga ratusan pengawal berbaju hitam di belakang. Suasana di sana seketika menjadi kelam! Tiga pria berwibawa perlahan berjalan keluar sambil membusungkan dada! Seolah dijatuhi bom nuklir, daerah sekitar restoran kembali porak poranda! "Murray Zune, Walikota Sielo!" "Darren Sinarta, orang terkaya di Kota Sielo!" "Raja Dunia Mafia, Dylan Kareem!" "Begitu ketiga orang ini bertindak, gempa berskala 10 SR akan menerjang Kota Sielo!" Tak disangka, Tiga Raksasa Kota Sielo sedang berkumpul! Ini adalah pertemuan akbar abad ini! Dibandingkan ketiga orang ini, Luna sama sekali tidak ada apa-apanya! "Ah, ternyata kita terlambat satu langkah. Tiga Raksasa Kota Sielo sudah pergi, sayang sekali!" Murray, Darren dan Dylan saling bertukar pandang dan langsung memahami pikiran satu sama lain. Hari ini, ketiga pria berkuasa yang biasanya tidak cocok satu sama lain itu datang ke tempat ini khusus untuk menemui seorang pria! Bab 4 Karena pria yang ingin mereka temui adalah Raja Gangster dari Provinsi Xino, yang notabene merupakan pilar negara dan salah satu daerah terkuat di seluruh Negara Nozil! Kalau mereka berhasil menjalin hubungan yang baik dengan Raja Gangster, mereka akan makmur dan menggapai masa depan yang tidak terbatas! "Sepertinya kalian berdua juga telah mendengar kabar bahwa akhir-akhir ini Raja Gangster sering datang ke restoran ini untuk berkencan buta," ucap Walikota Sielo, Murray, sambil mencibir. "Sepertinya, mulai sekarang aku harus terus mengawasinya supaya tidak didahului kalian berdua!" Mereka bertiga tahu betul betapa menakutkannya Raja Gangster! Dia adalah seorang figur besar yang ingin dijilat para pemimpin gangster Barat sekalipun! Kalaupun gagal menjilatnya, setidaknya mereka ingin menjalin hubungan yang baik dengannya. Kalau tidak, mereka akan ikut terkena musibah saat Raja Gangster marah! Tiga Raksasa Kota Sielo bahkan bisa musnah di tangan Raja Gangster! "Aku mendengar kabar bahwa Raja Gangster kini telah menetap di Kota Sielo. Cepat atau lambat, aku pasti akan menemukannya!" "Cih! Akulah yang akan pertama kali menemukannya!" Ketiga gangster itu saling memandang dengan dingin, lalu pergi ke arah yang berbeda-beda. .... Vila Willowtree. Luna keluar dari mobil dan terus berjalan masuk ke vila yang mewah bak kastil! "Bu Luna, kamu mau membawaku ke mana?" tanya Deon yang masih kebingungan. "Kamu akan tahu saat kamu masuk," jawab Luna sambil menuntun Deon ke aula yang telah dipenuhi banyak orang. "Luna! Kenapa kamu membawa orang luar ke pertemuan keluarga kita?" Beberapa pria berpakaian rapi yang duduk di dalam ruangan tiba-tiba berdiri sambil mengerutkan kening. Hati Deon langsung berdegup kencang! Ya, Tuhan! Di dalam ruangan, ada ketua perusahaan, Johan Yossef, direktur eksekutif perusahaan, Julian Yossef, serta beberapa petinggi lainnya yang setingkat direktur! Mereka adalah direktur senior perusahaan yang pernah Deon lihat di foto resmi grup saat pertama kali diterima di perusahaan ini! Melihat Deon, banyak anggota Keluarga Yossef menutup mulut mereka dan mulai mencibir seolah sedang menonton pertunjukan monyet di kebun binatang. "Apa-apaan ini? Luna pasti sudah kehilangan akal sehatnya! Kenapa dia asal membawa orang luar ke rumah?" "Lihatlah pakaian pria itu, astaga! Bajunya bukan kain bekas yang dipungut dari tempat sampah, 'kan? Bahkan pakaian anjing-anjingku pun lebih bagus." .... "Hei, pengemis! Jangan kemari, cepat lepas sepatumu dan keluar!" ujar paman kedua Luna, Julian, dengan tegas sambil menatap Deon dengan dingin. "Kamu mengotori lantai keluarga kami! Setiap meter persegi di sini setara dengan gaji seumur hidupmu!" Mendengar cibiran ini, Deon memicingkan matanya. Uang? Dulu, dia mempunyai lebih dari yang dia butuhkan, tetapi dia tidak tertarik pada uang. Dia sudah puas asal dia mempunyai pangan yang cukup, karena pakaian dan lain segalanya telah disediakan oleh keluarganya. Dia tidak menyangka bahwa orang-orang di negara ini begitu menghargai sesuatu yang dulunya tidak dia perlukan! "Paman Julian, tolong bicaralah yang sopan. Hari ini, aku datang untuk mengumumkan sesuatu kepada kalian semua!" Luna tiba-tiba menggenggam tangan Deon, mencium bibirnya dan berkata, "Pria ini tunanganku! Aku nggak mau menikah dengan pewaris Keluarga Tier itu!" Begitu Luna mengumumkan hal ini, seluruh rumah seolah diterjang gempa dan para anggota Keluarga Yossef hampir jatuh dari tempat duduk masing-masing. "Luna menyukai pengemis itu?! Mustahil! Apa telingaku sudah rusak?" Deon juga kaget saat menyadari bahwa ternyata Luna membawanya kemari untuk dijadikan tameng! Dasar wanita licik, ini namanya membuang orang lain ke kandang harimau! Ayah Luna, Johan, berkata dengan marah, "Lancang sekali kamu! Di mana kamu menemukan pria liar ini? Kamu kira pria seperti itu layak menjadi anggota Keluarga Yossef?" Julian juga menimpali dengan marah, "Luna, aku tahu kamu kesal karena kamu disuruh menikah dengan Tuan Muda Keluarga Tier, tapi mematuhi keinginan keluarga adalah tugasmu sebagai anggota Keluarga Yossef!" "Omong kosong. Aku akan memutuskan pernikahan dan masa depanku sendiri! Ayah dan paman kandungku sekalipun nggak berhak mengatur hidupku!" Lalu, Luna mengangkat dagunya dan berkata dengan mantap, "Aku telah memberikan keperawananku kepada Deon! Aku nggak akan menikahi siapa pun selain dia!" Mendengar jawaban ini, para anggota Keluarga Yossef langsung memucat dan menatap Luna dengan tidak percaya. Luna adalah dewi Keluarga Yossef yang terkenal. Atas alasan apa dia begitu murah hati dan memberikan hatinya kepada ... pria kasta rendah itu? Johan yang kini makin murka berseru, "Agh! Mengecewakan sekali dirimu! Bisa-bisanya kamu menyia-nyiakan kasih sayang dan perhatian yang Ayah berikan kepadamu selama bertahun-tahun!" Julian menggeleng dan berkata, "Aku tidak percaya! Luna, menjadikan seorang pegawai tingkat rendah sebagai pacar sewaan adalah tindakan nggak benar! Dengan standarmu yang setinggi langit, apa masuk akal kalau kamu menyukai seseorang sepertinya?" Luna mencibir dan menjawab, "Terserah Paman percaya atau tidak!" "Bu Luna," panggil Deon karena masih ada yang ingin dia katakan. Luna menatap Deon dengan tajam dan berbisik dengan nada memerintah, "Diam, sekarang cepat raba payudara dan pantatku!" Bab 5 "Anu ..." balas Deon dengan kaget dan agak tersipu. "Cepat! Kamu nggak dengar? Kalau kamu nggak mendengar perintahku, kamu akan dipecat!" bisik Luna dengan nada mendesak. Dia bahkan dengan sengaja mendekati Deon dengan tubuhnya yang montok, seputih salju dan berlekuk indah mempesona itu! Mau tak mau, Deon menggertakkan gigi, mengulurkan tangannya dan mencubit bagian sensitif Luna dengan erat! Ekspresi di wajah cantik Luna berubah, tubuhnya bergidik dan dia spontan menatap Deon dengan dingin. Luna memang meminta Deon untuk menyentuhnya, tetapi dia tidak menyangka gerakan Deon begitu berlebihan, itu pun di bagian tubuhnya yang paling sensitif! Luna terpaksa menahan keinginannya untuk berteriak dan berpura-pura tenang, lalu berkata, "Kalian lihat, 'kan? Kami benar-benar saling mencintai, jadi Ayah, Paman, menyerahlah!" "Omong kosong! Luna! Aku tidak peduli apa hubunganmu dengan sampah kasta rendah itu, pokoknya kamu tetap harus menikahi Tuan Muda Keluarga Tier!" Julian yang murka tiba-tiba menghampiri Luna dan langsung menamparnya! Pipi Luna membengkak dan dia terhuyung hingga mundur beberapa langkah. "Paman sedang memberimu pelajaran. Paman yakin kamu paham akan urutan superioritas di keluarga kita, jadi jangan berani melawan lagi!" Julian mendengus dingin dan melanjutkan ceramahnya, "Jangan kira kami akan langsung menyerah karena jijik melihatmu mengencani seorang pria kelas bawah! Sampah akan selalu menjadi sampah, ingatlah pepatah 'ayam tidak bisa terbang ke langit'!" Tak disangka, detik berikutnya wajah Julian juga ditampar dengan keras! Akibatnya, Julian terhempas belasan meter hingga menabrak pilar marmer, bahkan kepalanya juga langsung berdarah! "Julian!" Para anggota Keluarga Yossef yang kaget sontak bergegas maju sambil menyerukan namanya. Deon menarik kembali tangannya dan menoleh ke arah Luna sembari bertanya, "Bu Luna, apa kamu baik-baik saja?" Luna tercengang sejenak, lalu bertanya, "Ba ... bagaimana kamu bisa sekuat itu?" Deon tersenyum dan berkata, "Aku pernah menjadi tentara selama beberapa tahun. Saat melihat kamu ditampar, aku spontan membalasnya tanpa berpikir dua kali." Melihat situasi ini, Johan makin murka dan berseru, "Kemari! Tangkap pria gila itu dan habisi dia!" Dalam sekejap, beberapa pria kekar bergegas menghampiri Deon. Ternyata, mereka adalah preman yang disewa Keluarga Yossef! Merasa panik, Luna buru-buru berdiri di depan Deon sambil berkata, "Ayah! Jangan bertindak tanpa logika! Paman Julian memukulku lebih dulu, Deon hanya berusaha melindungiku!" Deon yang berada di belakang Luna merasa terharu melihat Luna melindunginya atas inisiatif sendiri. Lalu, Deon perlahan keluar dari balik Luna dan berkata, "Nggak apa-apa, Bu Luna. Aku bisa menghabisi preman-preman ini seorang diri!" "Jangan gegabah!" Saat Luna hendak mencegatnya, tiba-tiba saja Deon sudah maju. Brak! Bruk! Dalam sekejap, Deon telah mengalahkan para preman kekar itu hingga mereka jatuh ke lantai dengan menyedihkan. Lemah sekali! Dibandingkan musuh yang dihadapi Deon di Provinsi Xino, para preman ini tidak ada apa-apanya. Johan dan Julian kembali tercengang dan bertanya-tanya apakah mereka salah lihat. Sambil menangkup kepalanya, Julian berjalan tertatih-tatih dan berseru dengan keras, "Kacau sudah, cepat hubungi kenalan kita di Biro Penegakan Hukum!" "Sudahlah! Hentikan!" Seorang pria tua yang mengenakan baju tradisional berjalan dengan tangan terlipat di punggungnya yang bungkuk. Para anggota Keluarga Yossef langsung tertib, lalu menyapanya, "Kakek!" Pria ini tidak asing di mata Deon. Dia adalah Simon Yossef, ketua Grup Lixon dan orang yang sebenarnya paling berkuasa di keluarga ini. Julian si manja segera memanfaatkan kesempatan dan mengeluh, "Ayah! Luna bekerja sama dengan pria rendahan ini dan bahkan melukai keluarganya sendiri!" "Hal-hal lain yang nggak penting nggak perlu dibahas lagi. Luna, Kakek nggak peduli hal keterlaluan apa saja yang sudah pernah kamu lakukan dengan pria lain. Asal kamu 'tidur' bersama Tuan Muda Keluarga Tier dengan patuh, Kakek akan melupakan kesalahanmu," ucap Simon. "Tuan Muda Keluarga Tier hanya ingin menikahimu. Perihal kamu perawan atau nggak sebenarnya nggak berarti." Luna tidak menyangka kakeknya sendiri melontarkan kata-kata seperti itu. Dia pun berkata dengan wajah pucat, "Kakek, apakah Kakek hanya menganggapku sebagai alat tukar bagi keluarga kita?" "Jangan lupa, semua yang kamu miliki sekarang adalah pemberian Keluarga Yossef! Asal kamu tahu, Kakek bisa menanggalkan jabatanmu sebagai wakil presiden kapan saja dan tidak meninggalkan apa pun untukmu!" Melihat tatapan tanpa belas kasih di wajah Simon, wajah Luna menjadi pucat. Luna tahu betul, kalau dirinya sampai kehilangan posisinya sebagai Wakil Presiden Grup Lixon, dia akan kehilangan pijakannya di Kota Sielo dan Keluarga Yossef dapat menghabisinya kapan saja! Kakeknya tahu betul apa kelemahannya! Melihat Luna terdiam, Simon akhirnya melirik Deon dengan dingin selama sesaat dan berkata, "Kamu. Aku akan memberimu 400 juta, jangan pernah berhubungan dengan Keluarga Yossef maupun Luna lagi! Kalau kamu berani coba-coba, ketahuilah bahwa seseorang tanpa status sepertimu nggak mungkin bisa menghadapi Keluarga Yossef dan Keluarga Tier!" Walau sedang berbicara kepada Deon, Simon bahkan tidak melihat ke arah Deon sama sekali. Lagi pula, besok lusa Tuan Muda Keluarga Tier akan datang langsung ke kediaman Keluarga Yossef untuk melamar Luna. Kekuasaan Keluarga Tier tersebar di seluruh Kota Sielo dan mereka bahkan sedikit lebih berkuasa daripada Keluarga Yossef. Memangnya Deon itu siapa? Berani-beraninya dia datang ke Kediaman Yossef untuk menghentikan pernikahan yang direncanakan Keluarga Yossef? Di matanya, Deon hanyalah kerikil yang akan hancur begitu ditendang! Mendengar ini, Deon menatap Simon tanpa bergeming dan berkata, "Pak Simon, kamu tahu sebentar lagi kamu akan mati, 'kan?" Bab 6 Mendengar ucapan Deon, semua anggota Keluarga Yossef naik pitam dan mulai mencaci maki Deon. "Apa-apaan orang ini? Benar-benar tak beradab!" "Benar! Berani-beraninya dia mengutuk Kakek seperti itu!" "Orang yang lebih rendah dari binatang sepertinya nggak pantas diberikan uang! Lebih baik dia dipukul sampai mati lalu dibuang ke laut!" "Sampah masyarakat memang seperti itu. Hanya melihatnya saja membuatku merasa buang-buang waktu!" Dengan ekspresi masam, Simon berujar, "Hei, bocah. Apa kamu sadar apa yang baru saja kamu katakan? Minta maaflah dan aku akan melupakan masalah ini." Bagi orang yang sudah berumur, dikutuk mati di depan orang lain adalah hal yang sangat tabu. Deon mengerutkan kening dan menjawab, "Tapi aku mengatakan yang sebenarnya. Tak lama lagi kamu akan mati." Ekspresi Simon langsung menjadi tegang, tetapi dia berusaha menahan amarahnya dan berkata dengan nada mengancam, "Coba kamu ulangi ucapan itu satu kali lagi." "Kakek, jangan salah paham, dia ini orang bodoh yang selalu asal bicara," sela Luna sambil menatap Deon dengan bingung. "Deon, berhenti beromong kosong. Minta maaf kepada Kakek sekarang juga, lalu pergi! Urusanmu di sini sudah selesai!" Bagaimanapun, Deon adalah karyawan Luna. Karena situasinya berbahaya, Luna merasakan kewajiban untuk melindungi Deon. Merasa kesabarannya mulai terkikis, Deon pun berkata, "Memang benar, kok. Sebentar lagi kamu akan mati, harus kuulangi berapa kali lagi? Apa kalian semua tuli?" Bagaikan menambahkan minyak ke api, ucapan tersebut membuat Keluarga Yossef merasa seolah telah disambar petir. Ekspresi Simon makin kusut, pembuluh darah bermunculan di sekujur tubuhnya dan paru-parunya kembang kempis karena marah. "Aku tak akan membiarkanmu lepas! Kamu ... akan mati di sini!" gertak Simon. Luna buru-buru menyela dengan cemas, "Kakek, dia adalah pegawai kita ...." "Tutup mulutmu! Aku nggak peduli siapa dia, akan kupastikan dia mati hari ini!" seru Simon sambil membelalak. "Johan, Julian!" "Ya, Ayah!" jawab keduanya dengan sigap. "Tutup pintunya dan perintahkan semua preman kita kemari. Aku akan membunuh bajingan sialan ini sampai nggak bersisa!" Simon tengah marah-marah, tetapi dia tiba-tiba merasakan rasa sakit yang menusuk di seluruh tubuhnya. Detik selanjutnya, dia terjatuh ke lantai dan darah mengalir dari berbagai lubang di tubuhnya! "Ayah!" "Kakek!" Para anggota Keluarga Yossef kaget setengah mati karena tidak menyangka hal ini, lalu segera berlari menghampiri Simon dengan tergesa-gesa. Simon adalah pria tua yang sehat dan kuat, lantas kenapa dia tiba-tiba jatuh dan berdarah? Luna juga bergegas ke sisi Simon sambil memerintah, "Bawa Kakek ke rumah sakit secepatnya! Kakek sekarat!" Namun, hal ini sangat tidak terduga dan kondisi Simon memburuk dengan kecepatan yang tak tertolong. Saat ini, dia bahkan kesulitan bernapas dan berdarah dari mana-mana! Hal ini membuat para anggota Keluarga Yossef merasa ngeri. Dari kediaman mereka, dibutuhkan setidaknya setengah jam untuk sampai ke rumah sakit terdekat. Di tengah kericuhan, Deon perlahan berjalan ke sisi Simon dan menekan tiga titik akupunktur di tubuhnya. Di luar dugaan, hal ini membuat Simon merasa sedikit lebih lega. Para anggota Keluarga Yossef memandang Deon dengan tidak percaya dan mulai bergumam, "Jangan-jangan bocah itu bisa melihat penyakit Kakek yang tidak kita ketahui?" "Pak tua, di sini hanya aku sendiri yang mampu menyelamatkanmu. Kalau aku nggak mengobatimu, kamu akan mati dalam lima menit," ujar Deon dengan santai. Setelah menghabiskan waktu bertahun-tahun di Provinsi Xino, keterampilan medis Deon berkembang secara luar biasa. Dari awal, Deon sudah melihat napas Simon yang tidak teratur, bahkan gagal organnya sudah mencapai titik ekstrem. Dari depan, dia memang terlihat baik-baik saja, tetapi begitu mencapai titik kritis, dia tidak tertolong lagi! Kebetulan, hari ini dia mencapai titik kritis tersebut. Simon menggertakkan gigi dan berkata, "Kalau begitu, cepat selamatkan aku! Aku akan memberimu dua miliar!" Deon menggeleng dan berkata, "Aku tidak menginginkan uangmu. Aku hanya ingin kamu berjanji nggak akan mengancam Bu Luna dengan mencabut posisi wakil presidennya. Anggap saja aku sedang membalas budi kepadanya." Luna tertegun sejenak dan merasakan emosi campur aduk karena tidak menyangka Deon akan mengajukan permintaan seperti itu. Mendengar permintaan ini, para anggota Keluarga Yossef marah-marah dan berkata, "Bocah terkutuk! Berani-beraninya kamu mengancam kami? Kamu pikir kamu siapa? Siapa yang memberimu hak untuk mengancam kepala Keluarga Yossef dan seluruh keluarga kami?" Namun, saat ini Simon hampir sekarat. Meskipun dia merasa amat kesal, dia akhirnya berseru, "Baiklah! Aku berjanji, sekarang selamatkan dulu aku!" Deon segera memulai pengobatannya dengan menekan ketiga titik akupunktur di tubuh Simon secepat kilat .... Kurang dari satu menit kemudian, Simon telah pulih dan kembali ke keadaan semula. Seluruh Keluarga Yossef tercengang. Menyelamatkan pasien sekarat hanya dalam satu menit adalah hal yang sangat mencengangkan! "Nah, karena aku sudah menepati janjiku, aku harap kamu akan menepati janjimu juga," ujar Deon sambil menyeringai. Pipi Simon kembang kempis karena kesal, tetapi dia harus melaksanakan tanggung jawabnya sebagai kepala Keluarga Yossef. Dengan enggan, dia berkata, "Ya, sudah! Luna akan menjadi wakil presiden Grup Lixon seterusnya. Keluarga Yossef tidak akan mencabut posisinya!" Luna tidak dapat memercayai hal ini. Apa benar pria ini adalah kakeknya yang mahakuasa dan tidak pernah menunduk kepada siapa pun itu? Setelah itu, Deon kembali menjadi tamu dan menggenggam tangan Luna sambil berkata, "Bu Luna, ayo pergi." Setelah keduanya pergi .... Johan dan Julian mengepalkan tangan mereka dengan marah. "Dasar bocah sialan! Bisa-bisanya dia mencari kesempatan dalam kesempitan!" "Kukira dia mengobati Ayah dengan keterampilan medis yang luar biasa, ternyata cuma titik-titik akupunktur saja! Kalau cuma begitu, aku juga bisa! Dasar penipu!" Pada saat ini, seorang pembantu tiba-tiba masuk dan melapor, "Pak, tadi kami menghubungi Dokter Sogan, seorang ahli pengobatan tradisional yang tinggal di dekat ibu kota, beliau sudah tiba!" "Apa? Sialan, cepat suruh dia masuk!" pinta Simon. Mendengar kabar ini, dia merasa menyesal. Andai dia tahu bahwa Dokter Ilahi Sogan tinggal di dekat rumahnya, dia tidak akan mau menyetujui syarat yang diajukan Deon! Melihat Dokter Sogan masuk sambil menenteng kotak peralatan medis, Simon tersenyum pahit dan berkata, "Dokter datang terlambat. Penyakitku nggak serius dan sudah diobati seorang pemuda, itu pun hanya dengan menekan beberapa titik akupunkturku." "Oh, begitu rupanya, sayang sekali. Kalau begitu, bagaimana kalau kuperiksa denyut nadimu dan merawatmu sampai sembuh sepenuhnya?" ujar Sogan sambil tersenyum sopan. "Boleh juga," jawab Simon sambil mengangguk. Dokter Sogan meletakkan tangannya pada denyut nadi Simon dengan terampil, tetapi begitu dia merasakan nadinya, Sogan terjatuh ke lantai dengan ekspresi ketakutan dan berkeringat deras. "Pak Simon! Dosa apa yang pernah kulakukan terhadapmu? Untuk apa kamu berbohong padaku?!" "Apa?" tanya Simon dengan bingung. "Penyakitmu disebabkan oleh menurunnya lima titik vital manusia. Bisa dibilang, ini merupakan gejala yang tak dapat disembuhkan dalam sejarah pengobatan tradisional, tapi penyakit di tubuhmu ini sudah diobati sepenuhnya. Hanya dokter terbaik di Negara Nozil yang bisa melakukan hal seperti itu!" jelas Sogan dengan terkesima. "Kenapa kamu malah berbohong padaku dan berkata bahwa kamu diobati seorang pemuda biasa?!" Bab 7 Para anggota Keluarga Yossef tercengang, lalu tertawa terbahak-bahak. "Dokter, jangan bercanda, deh. Pemuda itu hanya menekan beberapa titik di tubuh Kakek secara acak. Apa masuk akal kalau dia menyembuhkan penyakit semematikan itu?" "Itu, sih, bukan kedokteran, melainkan teologi!" "Benar, semua orang juga bisa, kok!" Dokter Sogan mengerutkan kening dan berkata, "Nggak, nggak, walaupun terlihat gampang, menekan titik akupunktur adalah keahlian teknis dalam pengobatan tradisional. Hal ini tak sesederhana itu ...." Simon melambaikan tangannya dan menyela, "Baiklah, baiklah, jangan dibicarakan lagi. Dokter, mari minum teh, keluarga kami mempunyai koleksi teh bunga kualitas terbaik!" Mau tak mau, Dokter Sogan pun menyerah. Mau bagaimana lagi, para anggota Keluarga Yossef sangat kukuh dan menolak mendengar pendapatnya. Setelah beberapa saat, Keluarga Yossef akhirnya meminta Dokter Sogan pulang. Johan berkata dengan tidak senang, "Menurutku, si Dokter Ilahi itu nggak sehebat reputasinya. Siapa pun bisa melihat bahwa dia adalah dokter yang biasa-biasa saja!" Simon menimpali sambil meraba janggutnya, "Itu wajar saja, Dokter Sogan juga sudah berumur. Sudahlah, lagi pula dia bukan penanggung jawab sebuah rumah sakit nasional. Wajar kalau dia sesekali melakukan kesalahan." "Ayah, apakah kita akan membiarkan hal ini begitu saja? Aku bahkan ditampar oleh bocah sialan itu!" ujar Julian dengan marah, bekas tamparan merah masih terpampang dengan jelas di wajahnya. Simon tertawa sinis dan menjawab, "Tentu saja tidak. Namanya Deon, pegawai di bagian penjualan grup kita, 'kan? Membalas dendam padanya tentu bukan hal sulit." "Maksud Ayah ..." ujar kedua saudara itu dengan bersemangat. Tampaknya, mereka tengah merencanakan sebuah konspirasi! .... "Apa kamu belum puas merabaku?" Tidak lama setelah meninggalkan Vila Willowtree, Luna melepaskan tangan Deon dan menatapnya dengan dingin. "Sekarang sudah lewat sepuluh menit dari waktu yang disepakati!" "Maaf, Bu Luna, ingatanku nggak bagus," jawab Deon dengan canggung Walau berbicara seperti itu, nyatanya Luna merasa sangat nyaman di bawah sentuhan Deon sampai hampir tidak tahan .... "Kamu lihat sendiri, 'kan? Aku menyuruhmu kemari hanya untuk membantuku menggagalkan pertunanganku, jadi jangan terlalu terbawa perasaan dan mengira aku benar-benar tertarik padamu." Sambil memeluk dadanya, Luna berujar kata demi kata, "Kamu hanyalah anak magang dengan gaji 7 juta dan hanya memiliki ijazah SMA, sedangkan aku memiliki gelar doktor dari luar negeri dan merupakan wakil presiden sebuah grup besar. Setengah dari pria di Kota Sielo memujaku dan menginginkanku. Kita bagaikan langit dan Bumi, ketahuilah bahwa bintang di langit nggak akan pernah melirik ikan dan udang yang hidup di sungai." "Baiklah, apa aku boleh pulang sekarang?" balas Deon dengan tenang. Luna terkejut. Tujuannya berbicara panjang lebar adalah untuk memadamkan ilusi Deon dan mengintimidasinya, tetapi Deon tampak tidak peduli sama sekali. Benar saja, seseorang yang sudah terbiasa dengan dunia mafia seperti Deon tidak mudah goyah karena hal-hal sepele seperti ini. Di bawah situasi dan tekanan apa pun, dia akan selalu tenang. Ketika Luna melihat reaksi Deon, dia kecewa sekaligus marah. Sulit dipercaya bahwa dia memberikan kali pertamanya kepada pria seperti itu! Luna hendak berbalik dan pergi, tetapi matanya tak sengaja menangkap mata-mata Keluarga Yossef yang sedang memperhatikannya tidak jauh dari sana! Dia pun buru-buru menarik pakaian Deon dan berkata, "Tunggu sebentar! Aku nggak bilang kamu boleh pergi, 'kan?" Merasa frustrasi, Deon bertanya, "Bu Luna, apa ada hal lain yang perlu dibicarakan? Bukankah misi menggagalkan pertunanganmu sudah selesai?" Karena dia telah membantu Luna, bukankah perbuatannya terhadap Luna di kantor telah ditebus? Luna mengangkat dagunya dan menjawab dengan dingin, "Ikuti saja perintahku." "Lagi? Kali ini ke mana?" tanya Deon yang kebingungan. Namun, Luna sama sekali tidak memberikan penjelasan apa pun dan hanya menarik lengan Deon hingga mereka kembali ke dalam mobil. Mobil Luna melesat ke pusat kota dan tiba di sebuah gedung perkantoran. Deon tiba-tiba menyadari sesuatu dan bertanya, "Kantor Catatan Sipil? Tunggu, jangan bilang ...." "Kamu nggak berhak bertanya." Detik selanjutnya, Luna menarik lengan Deon dan berjalan ke dalam kantor, lalu berkata, "Permisi, kami mau mengajukan akta nikah." Petugas wanita di balik kaca ketakutan karena mengira bahwa Luna menculik Deon, tetapi kalau dipikir-pikir lagi, itu hal yang mustahil. Bagi pria yang buluk dari atas ke bawah seperti Deon, bisa menikahi seorang wanita cantik yang bermartabat dan kaya raya tak diragukan lagi adalah sebuah berkat! Pendaftaran akta nikah selesai dalam sepuluh menit. Deon masih kebingungan dan membatin, 'Apakah aku benar-benar sudah menikah? Itu pun dengan wanita bernama Luna ini, yang notabene adalah atasan langsungku yang baru kutemui hari ini!' Luna menghadap Deon, mengangkat alisnya dan berkata, "Kamu nggak penasaran kenapa aku melakukan hal ini?" Deon menjawab dengan canggung, "Bu Luna, aku sudah bertanya berkali-kali, kamulah yang belum menjawab sampai sekarang." Luna hanya terdiam seolah-olah hal demikian tidak pernah terjadi. Sebaliknya, dia mengubah topik pembicaraan dan menjelaskan, "Aku memintamu berpura-pura menjadi tunanganku supaya aku nggak dipaksa menikah dengan Harlan Tier, Tuan Muda Keluarga Tier, tapi keluargaku sulit dikelabui. Aku yakin mereka akan berusaha sebisa mungkin untuk menemukanku dan menyewa seseorang untuk mengikutiku. Karena itu, kamu harus terus bekerja sama denganku sampai misi ini selesai! Ingat, kamu harus memainkan peran ini dengan baik!" Setelah Luna selesai menjelaskan, dia mengantar Deon ke sebuah vila di pinggiran kota tanpa menanyakan persetujuannya terlebih dahulu, kemudian berkata dengan serius, "Ini rumahku. Mulai sekarang, kamu boleh tinggal di sini, setidaknya tiga kali seminggu. Hanya dengan cara inilah aku bisa meyakinkan keluargaku." "Kamarku di lantai dua. Kamu nggak boleh mengintip, apalagi masuk! Awas saja kalau kamu berani coba-coba!" Melihat Luna naik duluan, Deon akhirnya bertanya, "Bu Luna, lantas aku harus tidur di mana?" "Lantai pertama sangat luas, tidur saja di salah satu sofa itu," jawab Luna dengan acuh tak acuh. Deon tidak bisa berkata-kata lagi. Andai sifat Deon masih sekeras dulu, wanita ini pasti sudah dia hukum .... "Oh, iya, di lantai satu juga ada ruang peralatan, kurasa ruangan itu juga bisa dijadikan tempat tidur setelah dirapikan," ucap Luna sambil menyeringai dengan sarkastik. "Deon, jangan lupa bahwa kamu itu pegawaiku. Kamu harus mematuhi keputusan atasanmu, ya!" Atasan setingkat direktur memang keterlaluan, bukan? Deon menghela napas dengan tidak berdaya dan terpaksa menuruti Luna. Deon merenungkan entah kenapa dirinya bisa begitu tidak beruntung hari ini, entah kenapa dia harus berpapasan dengan Luna di kantor .... Di malam hari .... Setelah sekian lama, Deon selesai menata dan mengubah ruang peralatan menjadi kamar tidurnya. Tepat di saat itu .... Mata Deon menangkap gerakan bayangan hitam yang sangat cepat! Cepat sekali!' batin Deon dengan cemas, pupil matanya gemetar dan dia bergumam pada dirinya sendiri, "Siapa itu?" Apakah ada yang berencana membunuh Luna? Bab 8 Dengan gerakan yang cepat, Deon maju ke depan bayangan tersebut dalam sekejap dan memukulnya dengan sekuat tenaga. Namun, bayangan tersebut hanya mundur beberapa langkah. Deon benar-benar terkejut. Meskipun Deon hanya menggunakan sepersepuluh dari kemampuannya yang sebenarnya, di Negara Nozil hanya ada segelintir orang yang mampu menangkal serangannya. Aku nggak boleh menganggap remeh orang ini. Siapa, sih, yang Luna singgung? Kenapa musuh Luna sekejam ini?' batin Deon. Pria itu sama sekali tidak memedulikan Deon dan bergegas ke lantai dua. Melihat arah yang dituju orang itu, Deon berkeringat dingin! Dia tidak akan membiarkan orang itu masuk ke kamar Luna. Kalau tidak dicegah, Luna pasti akan mati! Namun, Deon kembali ragu karena Luna tidak mengizinkannya naik ke lantai dua. Peduli amat! Menyelamatkan nyawa seseorang jauh lebih penting! Kalau nanti Luna memarahinya, biar saja dia marah sepuasnya! Jantung Deon berdetak kencang. Dia segera berlari secepat kilat, tetapi dia menyadari bahwa bayangan hitam tersebut telah memasuki kamar Luna. "Bu Luna! Hati-hati, seseorang telah memasuki kamarmu!" Deon menerobos masuk, tetapi malah dikagetkan oleh pemandangan di hadapannya. Luna baru saja keluar dari kamar mandi. Rambutnya masih basah dan dia hanya mengenakan handuk. Lekuk tubuhnya yang montok dan seksi hampir membuyarkan konsentrasi Deon! Di sisi lain, Deon yang masuk ke kamar Luna tanpa izin tanpa sengaja memegang handuk di badan Luna. Akibatnya, handuk itu jatuh ke lantai bersamaan dengan bunyi dentang. Kini, tubuh cantik Luna terpampang dengan jelas! Dalam sekejap, udara di dalam kamar seolah membeku, tetapi mata Luna bagaikan gunung berapi yang meletus! "Bu Luna, aku ...." "Keluar! Kalau nggak, aku akan memecatmu sekarang juga!" seru Luna sambil menutupi tubuhnya dan memelototi Deon dengan tatapan sedingin es! Deon terpaksa keluar, diikuti suara pintu yang dibanting hingga tertutup rapat. Deon berseru dengan cemas, "Bu Luna, aku nggak bermaksud mengintipmu, aku yakin ada gangster dengan niat jahat yang baru saja masuk ke kamarmu!" Pintu terbuka sekali lagi. Luna kini sudah mengenakan piyama sutra dan berjalan keluar dari kamar sambil memasang ekspresi sedingin puncak gunung es, lalu berkata, "Aku akan memberimu waktu lima menit untuk menangkap gangster yang kamu sebutkan itu. Kalau nggak ketemu, awas saja nanti!" Kamar Luna sangat luas dengan ukuran kurang lebih seratus meter persegi. Deon masuk tanpa ragu dan menemukan sesuatu di balkon! Dia berlari ke balkon dan hampir tersandung saat melihat pakaian Luna yang digantung. Ada celana dalam berpola berwarna putih, blus renda, rok mini dan lain-lain .... Ternyata, Luna memiliki sisi yang tidak tertebak. Deon merasakan pipinya memanas, tetapi bayangan hitam itu tiba-tiba muncul lagi, jadi Deon mengejarnya secara refleks sambil berseru, "Jangan coba-coba kabur!" Bayangan hitam itu melompat dari balkon disusuli oleh Deon. Deon berhasil menyusulnya dalam satu menit, tetapi saat dilihat dari dekat .... Ekspresi Deon tiba-tiba berubah, lalu dia berkata dengan marah sekaligus geli, "Killan? Ternyata kamu?" Sosok hitam itu menoleh, memperlihatkan wajahnya yang tampan dan berwibawa, lalu berlutut dengan satu kaki dan berkata, "Aku, Killan Nobu, memberi penghormatan kepada Raja Gangster!" "Sekarang kamu sudah menjadi Dewa Perang termuda di Negara Nozil, Dewa Perang Killan. Kamu nggak perlu berlutut di hadapan seorang bekas tentara sepertiku," balas Deon sambil menghela napas. Killan menjawab dengan hormat, "Bagi aku dan lima juta tentara lainnya di Provinsi Xino, Kak Deon tetaplah satu-satunya Raja Gangster Negara Nozil!" "Aku hanya tak habis pikir bahwa seseorang semenakutkan dirimu, yang membuat para musuh Barat takut dan cemburu, kini bersembunyi di sebuah kota kecil kelas tiga dan bekerja sebagai pegawai kantoran!" Deon tersenyum tipis dan berkata, "Maksudmu, kamu ingin mengujiku karena dulu aku adalah Raja Gangster yang biasanya hobi membantai orang saat marah, tapi sekarang berubah menjadi pekerja kantoran biasa?" Mendengar pertanyaan ini, Killan seketika berkeringat dingin dan berkata, "Aku telah bersikap kelewatan! Tolong tenang, Raja Gangster. Sebagai bentuk permintaan maaf, aku akan memotong lenganku!" Deon berkata, "Tak perlu begitu, aku bukan lagi Raja Gangster dan telah melepaskan semua hak istimewaku. Tujuanmu datang kemari bukan hanya untuk menyusulku, 'kan?" Di mata banyak orang, Deon yang dulu adalah iblis penjagal yang menginjak tumpukan mayat dan mengarungi lautan darah untuk naik ke puncak. Akan tetapi, setelah mencapai puncak kekuasaan, Deon merasakan kesepian yang tak berujung dan dia kerap bersikap buruk layaknya iblis. Maka dari itu, dia pensiun tanpa paksaan, tanpa meminta imbalan apa pun dan kembali ke kampung halamannya. Dia lelah membunuh orang tiap hari dan hanya ingin hidup bersama keluarganya sembari menikmati hangatnya kasih sayang keluarga. Kini, temperamennya telah berubah drastis karena dia berusaha memperbaiki sifat buruknya. Killan berkata dengan tegas, "Benar, Kak Deon. Sebenarnya, aku datang atas kepercayaan orang-orang penting di ibu kota." "Awalnya, mereka takut pada Raja Gangster yang pasukannya nggak terbatas, tapi mereka menyadari sesuatu. Begitu Sang Raja Gangster pergi, kumpulan-kumpulan mafia luar negeri yang dulunya sudah nggak aktif malah datang menyerang mereka!" "Di antara kumpulan-kumpulan tersebut, Organisasi V yang terkuat diam-diam telah menyelinap ke daratan Negara Nozil. Kedatangan mereka dapat mengancam keamanan nasional! Organisasi tersebut bahkan telah menghabisi beberapa veteran perang yang legendaris!" Lalu, Killan melanjutkan laporannya dengan nada meremehkan, "Para pemabuk di ibu kota ketakutan hingga ketar-ketir. Organisasi V sangat kejam sampai nggak ada seorang pun di seluruh Negara Nozil yang bisa menaklukkannya, kecuali Kak Deon, Raja Gangster!" "Beri tahu mereka bahwa aku akan bergerak, tapi bukan demi mereka, melainkan demi rakyat Negara Nozil," jawab Deon dengan serius. "Kapan hari, mari kita bahas hal ini lagi secara mendetail. Untuk sekarang, pergilah dulu dan jangan sampai ketahuan siapa pun!" Asik! Mendengar janji Deon bahwa dia akan kembali beraksi, Killan mengepalkan tinjunya dengan penuh semangat dan pergi tanpa suara. Sebelum pergi, Killan mengembalikan Kartu Raja Gangster kepada pemilik aslinya, Deon. Deon pun kembali ke vila. Di sana, dia melihat Luna berdiri di depan pintu kamarnya. Luna kemudian berkata dengan nada dingin, "Di mana gangster yang kamu sebutkan itu?" Deon tersenyum dengan terpaksa dan berkata, "Aku nggak melihat siapa pun, mungkin aku sedang berhalusinasi." Sebenarnya, percakapannya dengan Killan adalah rahasia militer yang tidak boleh diungkapkan. Karena itu, Deon terpaksa membuat alasan. Namun, setelah Luna mendengar penjelasan ini, dia tertawa sinis dan berkata, "Halusinasi, ya? Halusinasi bisa membuatmu menerobos kamarku tanpa mengucapkan sepatah kata pun, begitu? Deon Pastillo, memangnya kamu nggak ada alasan lain yang lebih masuk akal? Kamu benar-benar membuatku jijik!" Kalau Luna tidak menghargai bantuan Deon hari ini, dia pasti sudah mengusirnya. "Aku peringatkan, ya! Lain kali, aku nggak akan mau dekat-dekat lagi denganmu!" Luna berbalik dan pergi, mengunci pintu kamar dan membuang handuk yang telah disentuh Deon ke tempat sampah. Lalu, dia menarik napas dalam-dalam dan membatin, 'Aku benar-benar salah menilai pria ini! Awalnya, kukira sifatnya nggak mungkin seburuk itu, tapi hari ini dia membuktikan bahwa semua pria di dunia ini sama saja! Menjijikkan!' Di sisi lain, Deon tidak peduli tentang kesalahpahaman itu. Dia kembali ke ruang peralatan dan tertidur pulas. Keesokan harinya saat Deon bangun, dia menyadari bahwa Luna sudah berangkat kerja duluan. Ternyata wanita itu memang gila kerja. Sebelum berangkat kerja, Deon mampir ke rumah untuk memberi tahu ibunya kenapa dia tidak pulang semalaman. Saat dia baru saja tiba di rumah, dia malah melihat pasangan kencan butanya kemarin, Cindy, bersama ibunya, Camila. Mereka duduk di dalam rumah sembari berbicara dan tertawa riang. Melihat Deon pulang, mata keduanya langsung berbinar. "Deon, kami mencari tahu identitas wanita yang kemarin datang menemuimu. Dia adalah Luna Yossef, Wakil Presiden Grup Lixon, bukan? Apakah dia menyukaimu? Berapa banyak uang yang dia berikan padamu?" Bab 9 Henni berdiri di belakang mereka dengan ekspresi canggung. Deon langsung bisa menebak bahwa Cindy dan ibunya masuk secara paksa. Raut wajah Deon menjadi kusut. Dia tak menyangka kedua wanita itu sebegitu tak tahu malu. Dia sudah pernah menghadapi wanita dengan sifat seperti itu sebelumnya, tetapi ini adalah pertama kalinya dia menghadapi yang semenyebalkan ini! Kalau dia memberi tahu mereka bahwa dia dan Luna saling jatuh cinta, Cindy dan ibunya pasti akan menjilatnya mati-matian dengan harapan bisa mendapatkan sebagian dari harta Luna! Karena itu, Deon langsung menjawab dengan setengah hati, "Maaf kalau jawabanku mengecewakan kalian, tapi Bu Luna adalah bosku. Dia datang menemuiku karena alasan pekerjaan dan langsung pergi setelah menyelesaikan masalahnya." Ketika Cindy dan Camila mendengar ini, ekspresi mereka tiba-tiba berubah. "Apa? Ternyata dia bosmu, ya? Apa kubilang? Mustahil seorang gadis sehebat Luna bisa menyukainya." "Mengecewakan sekali! Sial!" Mereka pun pergi sambil mencaci maki dan mengambil kembali hadiah yang mereka bawa. Di saat yang bersamaan, sebuah pesan teks dari Killan masuk ke ponsel Deon. Pesan itu berbunyi, "Kak Deon, 10 triliun telah ditransfer ke Kartu Raja Gangster. Aku berinisiatif memilih dan membeli sebuah komplek perumahan atas namamu. Ke depannya, silakan gunakan dana di dalam kartu ini sesuka hati." Deon secara spontan menggeleng-geleng. Bocah bernama Killan itu memang gemar melakukan hal seperti ini. "Nak, abaikan saja mereka. Ke mana saja kamu semalaman? Kamu membuat Ibu khawatir saja!" ucap Henni dengan cemas. Deon tersenyum dan berkata, "Bu, jangan khawatir, aku nggak mungkin tidur di jalanan. Oh, iya. Kita masih memiliki utang luar negeri sebesar ratusan juta dan belum dilunasi, bukan? Bagaimana kalau kita bayar dengan uangku saja ...." Henni langsung menyelanya dengan cemas, "Nak, kamu hanyalah seorang pegawai biasa. Gajimu juga hanya beberapa juta per bulan. Dari mana kamu mendapatkan uang untuk melunasi utang itu? Apakah kamu habis melakukan hal yang buruk?" Deon buru-buru berkata, "Itu mustahil. Ibu berpikir terlalu jauh." "Syukurlah kalau begitu. Ayahmu memutuskan untuk bekerja di tambang ilegal bersama teman-temannya karena berusaha menghasilkan uang, tapi sayangnya dia meninggal karena tanah longsor. Kamu nggak boleh terlibat dalam hal-hal yang melanggar hukum, paham?" ucap Henni dengan sungguh-sungguh. "Urusan uang dan utang, lebih baik kita bergotong royong mencari solusi, jangan terlalu membebani dirimu sendiri." Deon mengangguk dengan patuh. Karena khawatir ibunya terlalu menganggap serius hal ini dan bersikeras menyelidiki asal muasal uangnya, dia terpaksa merelakan gagasan melunasi utang dengan dana Kartu Raja Gangster. Setelah menghibur ibunya, Deon bergegas ke stasiun kereta bawah tanah untuk berangkat kerja. Dia bekerja di sebuah divisi kecil di bawah Departemen Penjualan Grup Lixon. Walau skalanya tidak besar, bekerja di bawah departemen ini merupakan tekanan yang besar. Begitu dia masuk ke kantor, dia melihat beberapa rekannya sedang ditegur atasan mereka, Jason Kore. "Apa-apaan kalian? Selama dua bulan berturut-turut, performa penjualan kalian masih belum mencapai target! Otak kalian semua hanya diisi kotoran, ya?!" Dua teman baik Deon, Mina dan Dimas, juga dimarahi sampai telinga mereka hampir berdarah, terutama Mina yang habis ditampar oleh Jason hingga wajahnya membengkak! Deon tidak tahan lagi dan langsung berjalan ke hadapan atasannya, Jason, lalu berkata, "Pak Jason, seingatku dalam aturan dasar perusahaan ada aturan bahwa karyawan tidak boleh dianiaya atau dipukuli ...." Jason melirik Deon dengan tajam dan berkata, "Deon? Kamu karyawan baru yang bahkan belum melewati masa magang, beraninya kamu mengkritik tindakanku? Jangan lupa, kinerjamu sendiri juga sama buruknya. Dilihat dari gerak-gerikmu, sepertinya kamu sudah siap kehilangan pekerjaanmu, ya?" Mina dan Dimas buru-buru menahan Deon sambil memohon, "Kak Deon, tenanglah, kami nggak apa-apa, kok." Keduanya adalah karyawan tetap dan tidak keberatan merasa canggung selama beberapa hari setelah dimarahi oleh Jason. Namun, kalau Deon membuat Jason kesal selama dia masih magang, dia pasti akan dihukum. Bahkan ada kemungkinan dia akan dipecat dalam hitungan menit! Deon berkata dengan tegas, "Tidak ada seorang pun di dunia ini yang mempunyai hak istimewa untuk memukul atau menganiaya karyawan. Pak Jason, meskipun Bapak adalah atasan kami, Bapak tetap harus minta maaf!" Deon tahu bahwa Jason hobi mengatur semua orang di departemen ini, mempermainkan pegawai baru dan menggoda karyawan wanita. Biasanya Deon mengabaikannya, tetapi dia tidak tahan kalau masalahnya menyangkut teman-temannya. Melihat reaksi Deon yang berani, Jason tertawa sinis dan berkata, "Kamu memintaku meminta maaf? Aku nggak salah dengar, 'kan? Kamu pikir kamu ini siapa?" Deon menjawab dengan tenang, "Aturan dasar perusahaan menetapkan bahwa tak peduli posisinya, setiap orang setara dan harus saling menghormati. Pak Jason, apakah menurutmu dirimu berada di atas aturan dasar perusahaan?" Amarah Jason makin menjadi-jadi. Dia pun berkata, "Oh, jadi kamu mau menantangku dengan buku peraturan? Oke, kamu mau membela teman-temanmu, 'kan?" "Kalau begitu, bantulah mereka berdua mencapai target penjualan dalam waktu tiga hari! Kalau berhasil, aku akan memaafkan mereka! Tapi kalau kalian gagal, kamu harus berkemas dan undur diri!" Dengan wajah pucat, Dimas buru-buru berkata, "Kak Deon, jangan mengiakan begitu saja! Kami ditugaskan menjual Teh Adem, produk kesehatan keluaran terbaru Grup Lixon, tapi produk ini belum masuk pasar. Memperoleh penjualan dari produk ini adalah hal yang sama sekali mustahil!" Tak hanya itu, Jason bahkan menetapkan target penjualan sebesar empat miliar per bulan! Darren dan Mina telah berusaha sebaik mungkin dengan membeli dan meminum teh ini sendiri sampai perut mereka tak sanggup lagi, tetapi mereka hanya berhasil mendapatkan penjualan sebesar 200 juta sejauh ini. Membantu keduanya mencapai target penjualan sebesar empat miliar dalam waktu tiga hari adalah hal yang mustahil! Deon tertegun sejenak, kemudian berkata, "Kalau aku bisa mencapai target mereka dalam satu hari, apa Bapak akan meminta maaf?" Jason juga tertegun sejenak, lalu tertawa terbahak-bahak dan berkata, "Empat miliar dalam satu hari? Hahaha! Kamu kira kita lagi bermain Monopoli? Kalau kamu benar-benar bisa melakukannya, tak hanya membiarkanmu terus bekerja di sini, aku juga akan tunduk dan memohon maaf pada kalian!" "Kalau aku bisa melakukannya dalam lima menit, Bapak harus meminta maaf sambil berlutut dan bersujud tiga kali, setuju?" tanya Deon lagi. Mendengar tantangan ini, rekan-rekan Deon di seluruh departemen tercengang. Ucapan Deon memang tidak pernah bisa ditebak! Apa benar pria ini adalah anak magang yang biasanya selalu hidup tenang tanpa perlawanan itu? Jason menggertakkan gigi dan berseru, "Kamu ini cuma datang buat mencari gara-gara, ya?!" Dimas dan Mina juga buru-buru berusaha meyakinkan Deon, "Kak Deon, bertindak tanpa berpikir bisa membawa petaka! Menggarap empat miliar dalam lima menit itu mimpi yang konyol!" Tidak, untuk memimpikannya saja mereka tidak berani! "Aku nggak akan mengingkar janjiku. Pak Jason, sepertinya kamu takut, ya?" Melihat Jason menginjak-injak para bawahannya membuat Deon kesal. Namun, Deon hanya melakukan hal yang benar! "Haha! Kenapa cemas begitu? Nggak sabar ingin dipecat, ya? Baiklah, aku akan membantumu mewujudkannya! Ayo, sini! Kalau kamu bisa melakukannya, aku akan langsung berlutut!" jawab Jason sambil menyeringai, matanya berkilap licik. Faktanya, ini adalah jebakan yang Jason rencanakan. Pagi hari ini, Julian, paman Luna sekaligus direktur Grup Lixon, datang menemuinya, lalu memberinya dua miliar dan memintanya merencanakan skenario untuk mengusir Deon. Jadi, Jason memanfaatkan perihal penjualan untuk menimbulkan masalah, tetapi Deon malah berinisiatif maju. Rencananya berjalan dengan sempurna! Jason mengeluarkan ponselnya dan menyetel pengatur waktu sambil berkata, "Deon, lima menit itu waktu yang sangat singkat, loh!" Menurut sepengetahuannya, penilaian performa Deon dalam beberapa bulan terakhir selalu nyaris tidak lulus. Kemampuannya dalam menarik pelanggan tentu tidak sebanding dengan Mina dan Darren! Karena itu, pemagang pemula seperti dirinya tidak mungkin bisa menaklukkan tantangan sesulit ini! Di sisi lain, Deon mengeluarkan ponselnya dengan tenang dan membuka aplikasi buku kontak. Seorang kenalannya di Kota Sielo tebersit di benaknya. Deon yakin orang ini bisa membantunya. "Halo, Murray Zune? Ini aku, Deon. Aku ingin memintamu melakukan sesuatu!" Murray Zune?! Mendengar sapaan ini, semua orang di kantor tercengang. Bukankah Murray Zune Walikota Sielo? Bab 10 Deon mengabaikan kericuhan di sekitarnya dan melanjutkan, "Ya, Teh Adem, produk perawatan kesehatan produksi Grup Lixon, memenuhi standar pemeriksaan kualitas nasional dan dikombinasikan dengan pengobatan perpaduan tradisional-modern. Konsumsi jangka panjang dapat mencegah berbagai penyakit internal secara efektif." "Kuberikan waktu lima menit untuk menggarap penjualan sebesar empat miliar." Pada saat yang bersamaan di Gedung Administrasi Kota Sielo. Murray, Walikota Sielo, menggenggam ponselnya dengan bersemangat dan bergumam gemetaran, "Raja Gangster meneleponku! Ternyata benar-benar dia! Dia tidak melupakanku!" Dulu, Murray hanyalah seorang juru masak pribadi yang bertugas memasakkan makanan Deon di kamp militer. Suatu hari, dia tiba-tiba dipromosikan hanya karena Deon memuji cita rasa masakannya dengan santai! Beberapa tahun kemudian, dia langsung dipindahkan ke Kota Sielo sebagai Walikota. Intinya, dia bisa naik jabatan secepat itu berkat Deon. Deon mungkin telah melupakan kebaikan ini, tetapi Murray selalu mengingatnya. Karena itulah dia memberikan nomor teleponnya kepada Deon sebelum dia pergi. Dia tak menduga bahwa Raja Gangster masih menyimpan nomornya hingga saat ini. Memikirkan hal ini, dia langsung memanggil sekretaris utamanya, "Liana!" "Akhir-akhir ini, kantor kita berencana membeli teh, bukan?" Sekretaris bernama Liana itu menjawab, "Benar, Pak Murray. Kami telah memesan sejumlah produk yang semuanya merupakan teh langka, berkualitas tinggi dan terkenal dari berbagai tempat!" "Batalkan semuanya dan ganti dengan teh keluaran terbaru Grup Lixon. Cepat, pesan sekarang!" perintah Murray dengan tegas. Jantung Liana berdebar kencang dan dia merasa amat cemas. Hal itu dikarenakan atasannya itu tidak pernah ikut campur dalam perihal sepele semacam ini. Beberapa pebisnis besar selalu berusaha menggunakan berbagai koneksi dan memberikan hadiah untuk menjilat Murray, tetapi mereka tidak pernah berhasil. Namun, hanya sebuah panggilan telepon dari orang ini bisa mengubah sikap Murray 180 derajat! Siapakah orang yang meneleponnya? Sepertinya orang itu adalah seseorang yang sangat berkuasa! .... Di kantor, Deon menyimpan ponselnya setelah selesai memberikan perintah kepada Murray. Mina ragu-ragu sejenak sebelum bertanya, "Kak Deon, apakah Murray yang kamu telepon itu Walikota Sielo?" "Dia adalah salah satu kenalanku dulu, aku mendengar kabar bahwa dia telah dipindahkan ke Kota Sielo. Melihat kekuatan militernya, wajar saja kalau dia diangkat menjadi walikota," jawab Deon dengan tenang. "Wah, sialan! Kamu benar-benar jago melebih-lebihkan, ya!" ujar Jason sambil tertawa terbahak-bahak. "Yang betul saja, kamu bisa meminta Walikota Sielo membeli teh sampai totalnya mencapai empat miliar? Kamu pikir kamu siapa? Dewa Perang termuda di Negara Nozil, Dewa Perang Killan? Memangnya kamu itu pemimpin militer dan politik di sini?" "Bukan, tapi mereka dulunya adalah kenalanku," jawab Deon dengan jujur. Namun, jawaban itu malah membuat orang-orang di sekitar mencibir! "Deon biasanya pendiam, jadi kukira dia itu pemagang yang rendah hati. Aku nggak menyangka dia ternyata sebegitu nggak sadar diri." "Anak muda zaman sekarang memang hobi membual!" "Ck, ck, aku paling benci teman kerja seperti ini, tong kosong nyaring bunyinya!" Mina dan Dimas juga tampak malu karena mengira Deon sedang beromong kosong. "Kak Deon, apakah kamu salah minum obat? Lebih baik kamu minta maaf kepada Pak Jason saja, lagi pula kamu sudah banyak berkontribusi untuk perusahaan, jangan mau dijadikan bahan lelucon gara-gara kami ...." "Untuk apa meminta maaf? Aku nggak akan mundur begitu saja! Lagi pula, dialah yang pertama menawarkan taruhan. Siapa pun yang mundur di tengah jalan adalah pecundang!" Jason langsung menyela, "Inilah akibat dari bersikap sok hebat, padahal kamu sebenarnya nggak bisa berbuat apa-apa!" "Pak Jason!" panggil salah satu pegawai yang bertugas menjawab telepon. Pegawai tersebut tiba-tiba berdiri dan mengumumkan dengan keras, "Sekretariat pemerintah daerah baru saja menelepon dan berkata bahwa mereka ingin memesan 20.000 kilogram Teh Adem, dengan jumlah total 40 miliar!" Gelegar! Kabar ini bagaikan sambaran petir yang membuat semua orang di sana menganga. Pesanan dari pemerintah daerah?! Itu pun dengan jumlah yang mencapai 40 miliar! Apakah benar bahwa pemerintah daerah memesan atas permintaan Deon? Apakah orang yang tadi dia telepon benar-benar Walikota Sielo?