Ternyata Suamiku Miliarder

Đang tải thông tin quảng bá...

Ternyata Suamiku Miliarder

GoodNovel Hoàn thành
CantikAroganKayaLuar biasa

[Keluarga Konglomerat+CEO licik+cerita memuaskan+nona kaya yang tertukar] Karena tunangan berengsek selingkuh dengan adik perempuannya yang licik, Celine Maira menikah dengan seorang gigolo di bar. Wa...

Chương (1)

第1章

Bab 1 "Aku sewa kamu selama semalam, harganya terserah kamu." Di Bar Artemis, Celine Maira meminum minuman yang diberi obat! Seluruh tubuhnya terasa panas. Sebelum dia mempermalukan diri sendiri di depan semua orang, dia memilih pria yang ada di depannya ini. Bar Artemis adalah bar terkenal di Kota Binara yang menyediakan gigolo. Para pria di sini berusaha keras untuk menyenangkan hati tamu-tamu wanita yang ada di sisinya. Hanya pria ini yang duduk sendirian di meja sudut. Pria ini memakai kemeja satin berwarna hitam, wajahnya tampan dan terlihat berwibawa, auranya sangat tidak cocok dengan bar ini. Hanya saja, tatapannya melihat Celine terlihat kesal. Apa pria ini khawatir dia tidak sanggup bayar? "Kamu tenang saja, aku ini kaya banget." Celine ingin mengeluarkan kartu di tasnya untuk membuktikan kekayaannya. Namun, tiba-tiba kakinya lemas dan dia pun jatuh menimpa pria itu. Langsung terlihat kegusaran di mata Andreas Jayadi. Dia menganggap Celine seperti para wanita yang sebelumnya mempersembahkan diri mereka padanya. Dia baru saja sampai Kota Binara, tapi orang-orang itu sudah menyiapkan trik wanita cantik untuknya. Andreas tersenyum merendahkan, lalu berkata dengan nada dingin dan sinis, "Aku sudah sering lihat yang seperti kamu ini. Lain kali, kalau mau menggoda pria, ingat pura-pura jadi wanita yang polos, mungkin lebih bisa menarik perhatian pria." Wanita yang polos! Kesedihan di hati Celine langsung keluar. Memang yang namanya pria semua suka dengan wanita yang pura-pura polos! Makanya tunangannya, Reza Linoa, bisa berselingkuh dengan Lily Maira yang suka berpura-pura polos! Begitu teringat dengan adegan telanjang pasangan busuk itu, amarah Celine langsung berkobar. Karena sudah marah setengah mati, makanya dia mendengar saran Irina Hanadi datang ke Bar Artemis untuk balas dendam. Namun, dia tidak menyangka minumannya akan ditaruh obat. Saat ini, dia merasa tubuhnya seperti digerogoti puluhan ribu semut. Dia sudah hampir tidak tahan lagi. Namun, Andreas malah mendorongnya lalu berdiri mau pergi. Celine tidak ingin tetap di sini menunggu takdir yang tidak jelas, dia menahan rasa malunya dan menarik baju Andreas. "Minumanku ditaruh obat, tolong ... bantu aku ...." ... Celine diangkut meninggalkan Bar Artemis. Sepuluh menit kemudian, di Hotel Millenial. Andreas melihat Celine yang setengah sadar di kasur dengan wajah gusar. Dia ini kenapa? Bisa-bisanya setuju membantu wanita ini! Andreas mengernyit sambil mengeluarkan ponselnya untuk menelepon seseorang. Kemudian, dia berkata dengan nada memerintah, "Hotel Millenial kamar 602. Suruh dokter pribadimu segera ...." Sebelum dia selesai berbicara, ponselnya sudah dirampas. Panggilan pun langsung dimatikan. Sedetik kemudian, bibir wanita itu pun menempel di bibirnya. Seluruh tubuh wanita ini sangat panas, tapi ciumannya sangat canggung. Selama ini, Andreas bukan pria yang suka bermain wanita, dia juga bukan orang yang akan memanfaatkan keadaan seperti ini. Namun, ciuman Celine yang penuh semangat tapi canggung ini berhasil mengobarkan api nafsu di hati dan juga fisik Andreas. Saat ini, tangan Celine masuk ke kemeja Andreas. Tatapan Andreas langsung berubah, dia pun langsung berbalik menimpa Celine. Kemudian, dia berkata dengan emosi yang tertahan dan nada seperti menghukum, "Ini salahmu sendiri, jangan sampai menyesal!" Celine agak takut melihat kegelapan di mata Andreas, tapi seiring dengan ciuman Andreas yang luar biasa, bagaikan es yang bisa mendinginkan kepanasan di hatinya, menggodanya untuk mengikuti irama pria ini tanpa dia sadari. Nafsu berkobar semalaman dan berhenti setelah langit sudah terang. Celine merasa tubuhnya pegal dan lemas, tulangnya seolah-olah akan lepas semua. Dia terdiam melihat punggung lebar pria di sampingnya, berusaha mencerna kenyataan di depan matanya. Dia sepertinya meniduri pria ini! Dia meniduri seorang gigolo! Celine tidak pernah melakukan hal segila ini! Untungnya pria ini sudah tidur, dia harus segera pergi. Melihat terusannya yang sudah terkoyak-koyak di lantai, adegan yang sangat panas kembali muncul di benak Celine. Wajahnya pun langsung merona dan jantungnya berdetak kencang, dia menelan ludah lalu mengambil kemeja pria yang ada di lantai dan langsung masuk ke kamar mandi. Sepuluh menit kemudian, Celine keluar dari kamar mandi memakai kemeja Andreas. Setelah itu, dia mengeluarkan dompetnya dan berbisik, "Tenang, aku juga bakal bayar uang kemejamu!" Sekalian "biaya layanan" semalam. Namun, tiba-tiba tangan Celine membeku setelah membuka dompetnya. Dia tidak punya uang tunai! Bagaimana, nih? Celine menggertakkan giginya lalu mengeluarkan sesuatu dari tasnya dengan ekspresi menderita. Kemudian, dia menaruhnya di atas meja seberang kasur. Bab 2 Satu jam kemudian, Andreas bangun. Di bawah selimut, tidak ada apa-apa selain pakaian dalam. Tidak hanya itu, wanita itu bahkan mencuri bajunya! Wajah Andreas langsung gusar. Begitu masuk, James Rianto langsung melihat Andreas yang berbaring di kasur berantakan dengan wajah gusar. Kemudian, dia melihat ada gaun merah yang sudah robek di lantai dan langsung sadar apa yang terjadi. "Kamu ini ... sudah berubah?" Semua orang tahu Tuan Muda Ketiga Keluarga Jayadi ini tidak suka wanita. Meski begitu, tetap ada banyak wanita yang ingin tidur dengannya. Selama ini, Andreas selalu bersikap dingin dan tidak berperasaan pada wanita. Tidak pernah ada wanita yang berhasil tidur seranjang dengannya. Namun, jelas terlihat semalam olahraganya sangat ekstrem! Kemarin malam, ketika James mendapat panggilan dari Andreas, dia sedang mabuk. Sampai tadi pagi sudah sadar, dia baru ingat Andreas menyuruhnya mengirimkan dokter pribadi. Satu bulan sebelumnya, Andreas membersihkan para keluarga-keluarga cabang dan menjadi kepala keluarga baru Keluarga Jayadi yang memiliki aset triliunan. Setelah itu, dia sering didatangi pembunuh-pembunuh bayaran. Kali ini, ketika dia baru saja sampai di Kota Binara, dia sudah bertemu satu pembunuh bayaran. Pinggang Andreas disayat dan terluka, akhirnya lukanya dijahit beberapa jahitan. Oleh karena itu, James mengira semalam luka Andreas robek lagi. James melihat noda merah di seprai yang putih itu. "Ck, sudah luka masih sesemangat itu!" "Keluar!" Andreas melirik James dengan mata penuh aura membunuh. James menyentuh hidungnya dan seketika takut. "Oke, masih bisa olahraga seekstrem itu, harusnya kamu baik-baik saja. Kotak obat aku taruh sini, lukamu ... kamu urus sendiri." Setelah James pergi, satu set pakaian bersih pun diantar ke kamar. Luka Andreas memang robek. Darah yang menodai selimut memang punya dia, tapi yang di seprai .... Dia ingat dengan jelas hambatan yang terasa semalam. Andreas tertegun sejenak. Namun, ketika dia melihat sebuah koin yang ada di meja seberang kasur, wajahnya langsung mengeras. "Aku sewa kamu semalam, harganya terserah kamu." Wanita itu benar-benar menganggapnya sebagai orang yang menjual tubuhnya? Sebuah koin .... "Bagus!" Andreas tidak pernah dipermalukan seperti ini. Dia mengepal koin itu dan tubuhnya mengeluarkan aura menakutkan. Ketika keluar dari kamar, dia berkata pada James yang menunggunya di luar, "Carikan aku satu orang, seorang wanita ...." Seorang wanita yang bernyali besar dan menyebalkan! ... Di Helvetia, Rumah Keluarga Maira. Celine yang baru saja mau masuk ke rumah tiba-tiba bersin. Selama perjalanan pulang, dia terus memikirkan masalah minumannya yang diberi obat. Di hatinya ada sebuah kecurigaan yang harus dia pastikan secepatnya. Irina adalah anak bibinya, dari kecil mereka tumbuh besar bersama, hubungan mereka sangat baik. Semalam mereka pergi ke Bar Artemis bersama, tapi baru saja minum segelas, Irina sudah bilang mau ke toilet lalu menghilang. Celine curiga Irina-lah pelakunya, tapi dia tidak ingin memercayainya. "Tuan Muda Reza, Paman .... Celine yang memaksaku pergi ke Bar Artemis. Aku sudah menasihatinya jangan pergi ke tempat macam itu, tapi dia bilang mau main-main sebelum menikah dengan Tuan Muda Reza. Aku takut dia kenapa-kenapa pergi sendirian, jadi aku ikut." "Tapi waktu aku pergi ke toilet sebentar, Celine sudah hilang. Ini salahku, aku seharusnya berusaha keras menahannya biar dia nggak pergi .... Huhuhu ...." Begitu masuk, Celine pun mendengar suara tangisan Irina yang menyalahkan dirinya sendiri. Di ruang tamu, ada ayahnya, Bastian Maira, lalu ada ibu tirinya, Sarah Renata. Selain itu, ada Lily dan Reza, pasangan berengsek itu. Di meja depan sofa, ada beberapa lembar foto. Melihat Celine masuk, Bastian langsung mengambil foto-foto itu dan melemparnya ke Celine. "Kamu masih berani pulang? Lihat kelakuanmu itu!" Di foto itu, terlihat Celine yang memakai terusan pendek berwarna merah sedang memeluk seorang pria dengan sangat mesra. Pria itu memunggungi kamera, tubuhnya tegak dan besar, tidak terlihat wajah. Namun, wajah Celine malah terlihat dengan sangat jelas. Kepala Celine langsung berdengung, seperti ada sesuatu yang meledak. Bab 3 Foto semalam di bar! Siapa yang foto? Kepala Celine berdengung. "Ayah, jangan marah, nggak bagus untuk kesehatan. Ini pasti cuma kesalahan sesaat. Untungnya Kak Reza sudah membeli foto-foto ini. Kalau sampai foto ini tersebar, pasti bakal memengaruhi harga saham Perusahaan Perhiasan Aurora," ujar Lily dengan lembut, tapi sebenarnya dalam hati dia tertawa senang. Semalam dia menyuruh Irina membujuk Celine ke Bar Artemis dan bahkan menyiapkan beberapa lelaki kekar. Awalnya, dia ingin memotret Celine yang mempermalukan dirinya di depan publik. Namun, di luar dugaan mereka, ketika Irina kembali dari toilet, Celine sudah dibawa pergi oleh seorang pria. Irina pun hanya bisa segera memotret beberapa foto. Namun, beberapa foto ini juga sudah cukup untuk membuat Reza membatalkan pernikahannya dengan Celine. Lily menatap Celine dengan wajah yang sangat polos. Tiba-tiba dia melihat kemeja pria yang dipakai Celine. "Kak, bajumu ini ... aneh sekali! Kenapa kelihatannya seperti kemeja pria?" Tidak hanya itu, di lehernya yang putih juga terlihat bekas-bekas merah. Lihat sekilas saja sudah tahu apa yang sudah terjadi. "Celine, kamu ini benar-benar kurang ajar!" Bastian terlihat sangat jijik. Dia mengangkat tangannya mau memukul Celine, tapi Reza langsung berdiri di depan Celine. Kemudian, Reza menatap Celine dan berkata, "Celine, meski kamu sudah mengkhianatiku, aku nggak menyalahkanmu. Aku mencintaimu, asalkan kamu mulai sekarang nggak gitu lagi, aku tetap bersedia menikahimu." Celine terdiam, dia tidak percaya apa yang dia dengar. Dia mengkhianati Reza? Kalau begitu, orang yang semalam bermesraan di atas ranjang dengan Lily itu siapa? Reza mencintainya? Bahkan bersedia menikahinya? Heh! Di matanya jelas-jelas ada rasa benci, tapi masih mau berpura-pura berhati besar dan penuh perasaan. Karena dia adalah satu-satunya pewaris Perusahaan Perhiasan Aurora? Perusahaan Perhiasan Aurora adalah perusahaan yang didirikan ibunya, Aurora Nadine, sebelum menikah. Setelah ibunya meninggal, perusahaan itu ditangani oleh ayahnya Celine, tapi ibunya meninggalkan surat wasiat, yaitu ketika Celine menikah, dia akan mewariskan Perusahaan Perhiasan Aurora dan seluruh aset ibunya! Jadi, dulu Reza berusaha sekuat tenaga mendapatkannya juga karena menginginkan Perusahaan Perhiasan Aurora? Celine tersenyum sinis. Dia menatap kemunafikan di wajah Reza lalu melirik Lily yang menggigit bibirnya, terlihat sangat tidak rela. Muncul niat jahat di wajah Celine. "Kamu bersedia menikahiku? Terus Lily bagaimana?" Wajah Reza seketika berubah suram. Reza segera menggenggam pergelangan tangan Celine dan menariknya keluar vila lalu memberi Celine peringatan, "Celine, kamu jangan nggak tahu diri. Kamu sudah kayak gini, tapi aku masih mau menikah denganmu. Kamu seharusnya berterima kasih." "Kamu mau Paman Bastian dan Tante Sarah tahu masalah aku dan Lily? Kalau gitu Lily bagaimana?" "Lily nggak kayak kamu, dia polos dan baik. Dia mencintaiku dan seumur hidup hanya mau aku. Dia sudah bilang, asalkan bisa bersama denganku, dia nggak perlu status." Celine seketika merasa mau muntah. "Sudah berapa lama?" Reza terdiam. "Kalian diam-diam selingkuh sudah berapa lama?" Sekarang semuanya sudah ketahuan, Reza merasa tidak perlu menyembunyikan apa-apa lagi. "Tiga tahun lalu, pas kamu ulang tahun. Aku mau makin dekat denganmu, tapi kamu menolak." Celine tertawa sinis dan berkata, "Jadi, kamu langsung mencari Lily?" Reza merasa agak bersalah dan seketika kehilangan kesabaran. Beberapa usaha yang dia jalankan belakangan ini bermasalah, jadi dia harus menikah dengan Celine secepatnya dan mendapatkan Perusahaan Perhiasan Aurora. "Besok ulang tahun Nenek yang ke-70, paman ketiga dari Keluarga Jayadi juga sudah di Kota Binara. Berhubung dia ada di Kota Binara, kita cepat menikah, biar dia jadi saksi." "Di acara ulang tahun Nenek besok, dia akan mengundang Paman itu. Kamu siap-siap, aku bakal memperkenalkanmu." Ketika mengungkit "paman ketiga dari Keluarga Jayadi", Reza terlihat sangat kagum dan hormat padanya. Awalnya, Celine tidak begitu peduli dengan Paman ini. Namun, melihat Reza begitu menanti-nantikan hari esok, dia tiba-tiba berubah pikiran. Bab 4 "Oke, besok aku pergi ketemu Paman. Namanya juga orang tua, aku harus siapin hadiah khusus untuknya. Kamu tenang saja, aku bakal bersikap dengan sangat baik." ... Setelah Reza pergi, Celine masuk dan memungut foto-foto di lantai lalu menatap Irina dengan sinis. "Fotonya bagus, sayangnya mukanya nggak kefoto." Wajah pria semalam benar-benar luar biasa, tidak kalah dengan artis-artis terkenal. Irina agak takut, dia tahu Celine pasti akan mencurigainya soal masalah semalam. Tepat ketika dia mau mencari alasan, Celine malah menatap Lily. Lily tetap memasang ekspresi polos, lemah lembut dan berhati baik seperti biasanya. Namun, hatinya saat ini dipenuhi dengan kebencian. Dia tidak menyangka, bahkan setelah Celine ketahuan berhubungan dengan pria lain, Reza masih tetap tidak membatalkan pernikahan. Dia tidak rela. Tepat ketika dia mau menggunakan alasan ini untuk membujuk ayahnya mengusir Celine dari rumah, Celine malah tiba-tiba tersenyum dan mengatakan hal yang langsung menusuk hati Lily. "Besok ada acara ulang tahun Nyonya Ratna. Reza menyuruhku siap-siap, katanya mau mendiskusikan masalah pernikahan. Lily, kamu juga mau pergi?" Seluruh tubuh Lily gemetar. Selama ini, Reza tidak pernah mengajaknya ke rumah Keluarga Linoa, juga tidak pernah muncul di publik bersamanya. Kenapa mereka berdua sama-sama putri Keluarga Maira, tapi Celine boleh berdiri secara terang-terangan, tapi dia hanya bisa bersembunyi di belakang? Ekspresi Lily yang lemah lembut perlahan-lahan berubah, sampai akhirnya menjadi ketidakrelaan dan keirian. Celine melihatnya sambil tersenyum sinis. Ini yang Reza maksud wanita polos dan lugu yang tidak perlu status? Kemarin sebelum Celine melihat mereka berdua sedang berhubungan intim, dia menerima pesan dari Reza yang menyuruhnya ke sana. Pesan itu seharusnya dikirim oleh Lily! Heh, memang sangat "polos"! Celine melihat Lily dengan tatapan mengejek, lalu pergi dari vila sambil membawa foto-foto itu. Dia tidak akan menikah dengan Reza! Namun, di acara ulang tahun besok, dia akan memberikan Reza satu "kejutan"! Reza bukannya menginginkan Perusahaan Perhiasan Aurora? Kalau begitu, dia akan menggagalkan rencananya. Cara yang paling bagus adalah Celine sudah menikah, tapi pengantin prianya bukan Reza! Namun, ke mana Celine mencari pengantin pria? Celine tiba-tiba melihat punggung pria di foto lalu menyipitkan matanya. "Hehe, ini bukannya sudah tersedia?" ... Celine pergi ke Bar Artemis. Sekarang masih siang, jadi barnya belum buka. Celine melihat pintu yang tertutup rapat sambil berpikir bagaimana caranya supaya bisa menghubungi pria semalam lebih cepat. Di sebuah ruangan di lantai dua Bar Artemis, seorang pengawal menunjukkan layar CCTV kepada Andreas. "Bos, di depan pintu ada seorang wanita yang mencurigakan. Apakah mau diurus?" Di permukaan, James adalah bos Bar Artemis, tapi Andreas adalah pemegang saham terbesar. Setelah bertemu dengan pembunuh bayaran di Kota Binara, Andreas menyuruh Paman William dan sekelompok pengawalnya berjaga di Hotel Binara. Sementara dia datang ke sini sendiri, jadi tidak ada yang tahu dia ada di mana sekarang. Saat ini, pikirannya dipenuhi dengan wanita yang mencuri bajunya lalu mempermalukannya dengan sebuah koin! Tepat ketika dia mau menyuruh pengawal mengusir orang itu, tiba-tiba dia melirik wanita yang ada di CCTV .... Itu dia! Mata Andreas langsung menyipit lalu dia tersenyum sinis dan menakutkan. "Undang dia ... masuk!" Beberapa saat kemudian, pintu bar terbuka. Kemudian, beberapa pria kekar berpakaian jas hitam menghampiri Celine. "Nona silakan, ada yang mau bertemu denganmu!" Celine diantar masuk ke bar dengan ekspresi bengong. Ketika dia sadar kembali, Celine langsung teringat kalau dia bisa mendapatkan nomor pria semalam dari orang-orang ini. Namun, ketika dia mau membuka mulut, dia baru sadar kalau dia tidak tahu nama pria semalam! Panggil dia ... gigolo top? Wajah yang tampan, semangat dan profesionalisme yang luar biasa itu sudah pasti adalah gigolo top di sini, 'kan? "Aku mau tanya, yang paling top ...." Sebelum dia selesai bicara, pintu di belakangnya sudah ditutup. Celine baru sadar kalau dia dibawa ke sebuah ruangan. Penerangan di dalam ruangan ini remang-remang, satu-satunya lampu di ruangan diarahkan ke sebuah lukisan minyak di dinding. Di depan lukisan itu, berdiri seorang pria. Pria itu memakai kemeja satin hitam yang sama dengannya. Punggungnya tinggi dan tegak. Punggung ini ... terlihat sangat familier. Tiba-tiba pria itu berbalik. Ketika melihat wajahnya, Celine langsung senang. "Kamu!" Pria ini ... bukannya gigolo top yang sedang dia cari-cari? Andreas menatap wanita yang berdiri di depan pintu dengan tatapan marah, kedinginan memenuhi wajahnya. "Ya, ini aku!" Dia sedang mencari wanita ini, wanita ini malah datang sendiri. Apalagi wanita ini masih memakai kemeja yang dia curi darinya. Di balik kerahnya, bekas merah yang ditinggalkannya membuatnya teringat dirinya yang kehilangan kendali tadi malam serta koin yang merendahkannya tadi pagi. Orang yang mempermalukannya harus mendapatkan pelajaran! Andreas tersenyum sinis, membuatnya terlihat berbahaya. Tepat ketika dia mau membuka mulut, Celine tiba-tiba menggenggam tangannya dengan penuh semangat lalu melihatnya dengan mata penuh harap. "Ayo kita menikah!" Bab 5 Senyuman Andreas membeku, dia tidak percaya apa yang barusan dia dengar. Setelah waktu yang terasa seperti seabad lewat, Andreas akhirnya bertanya secara perlahan, "Kamu .... Apa katamu? Coba ulangi!" Celine mengedipkan matanya lalu berkata dengan sungguh-sungguh, "Ayo kita menikah!" Dia bisa bayar! Celine sudah memutuskan, agar tidak repot, cara yang paling baik adalah perjanjian. Mereka tidak bakal menggunakan hati maupun tubuh. Celine bayar, pria ini terima uang. Sementara pria di depannya ini memiliki pekerjaan yang unik, menjadikannya pilihan terbaik! Setelah mencerna kata-kata Celine sejenak, muncul tatapan merendahkan dan jijik di matanya. Dia sudah tahu tujuan wanita ini! Heh .... Meskipun wanita ini tidak tahu identitasnya, wanita ini bisa melihat kalau dia bukan orang biasa. Jadi, setelah wanita ini pulang dan berpikir sejenak, dia datang lagi untuk mencarinya dan memanfaatkan kejadian semalam untuk mendapatkan suami kaya atau menipunya memberinya uang? Teringat dengan noda merah di seprai tadi pagi, rasa bersalah yang ada di hati Andreas pun menghilang. Bagaimanapun juga, semalam dia telah menodai tubuh wanita ini. Dia akan menebus wanita ini dengan uang yang jumlahnya tidak sedikit! Nada bicara Andreas terdengar sedikit merendahkan. "Aku sudah sering ketemu wanita sepertimu. Bilang saja, berapa?" Celine terdiam sejenak. Berapa? Orang ini lagi mendiskusikan harga? Celine tidak menyangka pria ini akan blak-blakan begini. Jelas terlihat, pria ini sudah sering menghadapi situasi seperti ini! Celine mundur selangkah lalu mengamati Andreas dari atas sampai bawah sambil berpikir dengan sungguh-sungguh berapa harga yang cocok. Andreas tiba-tiba merasa kesal. Tatapan wanita ini membuatnya merasa wanita ini sedang menilai sebuah barang. Sedangkan dia ... adalah barang yang sedang dinilai! Andreas mendesak tidak sabar, "Berapa!" "Enam ... miliar?" Celine menatap Andreas dengan tidak yakin. Dengan wajahnya yang tampan ini, apa enam miliar cukup? Sesuai dugaannya, kening Andreas berkerut. Enam miliar? Dia pikir wanita ini akan mengambil kesempatan ini untuk merampoknya, tapi ternyata hanya minta enam miliar! "Heh ...." Andreas tertawa merendahkan. Celine merasa seakan-akan jantungnya berhenti berdetak, dia langsung menambah harga, "Sepuluh ... sepuluh miliar. Itu sudah maksimal!" Setelah lulus, ayahnya tidak mengizinkannya kerja di Perusahaan Perhiasan Aurora. Dia juga tidak memakai uang dari rumah. Sepuluh miliar ini dia dapatkan sedikit demi sedikit dari pekerjaan desain yang diberikan seniornya. Itu adalah seluruh asetnya! Ekspresi Andreas makin terlihat merendahkan. Dia menganggap Celine sebagai wanita yang tidak punya wawasan. Namun, bagaimanapun juga, dia sudah mengambil pertama kalinya, dia tidak akan merugikannya. Teringat dengan sekeping koin itu, Andreas berencana memberinya dua puluh miliar untuk mempermalukannya. Andreas tersenyum sinis lalu hendak berbicara, tapi malah didahului oleh Celine. "Oke, oke. Dua puluh miliar!" Celine menggadaikan semuanya. Dia melihat Andreas dengan tatapan memohon. "Boleh nggak aku kasih kamu sepuluh miliar dulu. Sepuluh miliar lagi aku kasih sebulan lagi .... Atau, boleh dicicil?" Celine berkata dengan hati-hati, takut Andreas tidak setuju. Dia melanjutkan, "Kamu tenang saja, aku punya uang. Kamu kasih aku nomor rekeningmu. Aku bakal transfer sepuluh miliar sekarang juga sebagai tanda keseriusanku." Celine mengeluarkan ponselnya. Sementara senyuman Andreas membeku. Apa dia salah dengar? Maksud wanita ini adalah dia mau memberinya dua puluh miliar? "Cepat, mana rekeningmu?" desak Celine sambil melihat Andreas dengan tatapan penuh harap, seperti seekor serigala yang sedang menipu seekor kelinci. Andreas menatapnya dengan tatapan menyelidik dan tidak pasti. Tak lama kemudian, dia memberikannya sebuah nomor rekening. Kurang dari semenit kemudian, muncul notifikasi di ponsel Andreas, yaitu pesan kalau ada uang sejumlah sepuluh miliar masuk ke rekeningnya. Celine menghela napas panjang. Meskipun dia sakit hati dengan uangnya, tapi dia akhirnya menemukan seorang "pengantin pria". Langkah selanjutnya adalah membuat buku nikah. Celine tidak mau menghabiskan waktu sedetik pun, dia langsung berkata, "Sekarang, kita pulang ke rumah masing-masing untuk mengambil kartu keluarga. Satu jam kemudian, kita ketemu di KUA." Kemudian, Celine langsung pergi. Andreas melamun melihat pesan bank yang ada di ponselnya. Wanita ini benar-benar mengirim sepuluh miliar ke rekeningnya! Memberinya uang untuk menikah dengannya? "Heh ...." Dia pertama kalinya mengalami hal seperti ini. Andreas tiba-tiba tertarik dengan Celine. Dia sepertinya ingin tahu apa yang sebenarnya ingin dilakukan wanita ini, jadi Andreas menelepon seseorang. "Paman William, kartu keluargaku ... kamu bawa, nggak? Ya, aku mau pakai sebentar ...." Bab 6 Satu jam kemudian di luar KUA. Andreas melihat buku nikah yang baru saja selesai dibuat dengan tatapan muram. Sementara Celine mencium buku nikah itu dengan penuh semangat. Dia mulai menantikan rencananya menggagalkan rencana Reza di acara ulang tahun Keluarga Linoa besok. Tiba-tiba dia melihat ke "suami top" di sampingnya. Dengan wajah dan tubuh "suami top" ini, dia bisa mengalahkan Reza dengan sangat mudah. Kalau suaminya ini muncul di pesta Keluarga Linoa besok, ekspresi Reza pasti akan sangat menarik! Celine makin bersemangat. "Eh .... Besok kamu punya waktu untuk pergi menghadiri sebuah pesta ...." Andreas masih mencerna kenyataan kalau dia sudah menikah, dia langsung menolak. "Nggak ada!" Celine terdiam lalu muncul kekecewaan di wajahnya. Namun, dalam sekejap dia mengerti. Di acara ulang tahun Keluarga Linoa besok, paman ketiga dari Keluarga Jayadi juga datang, pasti akan heboh banget. Situasi seperti itu pasti akan menakuti suaminya ini! Sebelum berpisah, Celine berpesan pada "suami top", "Karena kita sudah menikah, malam ini kamu jangan ke Bar Artemis lagi. Kalau bisa jangan pernah ke sana lagi." "Kalau nggak ke Bar Artemis, mau ke mana?" ujar Andreas sambil mengernyit. Pelaku yang mengirim pembunuh bayaran masih belum tertangkap, untuk sekarang Bar Artemis adalah tempat yang paling aman. Namun, Celine malah salah paham. Seketika, tatapannya melihat Andreas langsung berubah. Dia ini sedang meminta rumah? Mereka yang bekerja di bidang ini memang sudah wajar meminta mobil dan rumah dari wanita. Celine sangat memandang rendah perilaku seperti ini, tapi begitu teringat pria ini adalah "suami" yang dia beli dengan harga tinggi, dia langsung berusaha tersenyum lalu mengeluarkan ponselnya. Tak lama kemudian, Andreas kembali menerima notifikasi dari bank: "Menerima 13.200.000 ...." Andreas langsung melihat Celine dengan tatapan bingung. "Kamu tinggal di hotel mana dulu, nanti baru aku urus masalah tempat tinggal." Celine tersenyum tapi hatinya sedang berdarah. Setelah membayar pria ini sepuluh miliar, di rekeningnya tersisa 13.300.000. Setelah memberi Andreas 13.200.000, hanya tersisa seratus ribu untuk ongkos taksi pulang. "Hehe ...." Benar, dia tidak perlu pulang jalan kaki! Celine merasa dia tidak boleh tetap di sini, dia tidak bisa mempertahankan senyumannya lagi. Sebelum pergi, dia berusaha tersenyum untuk terakhir kalinya lalu memberi saran dengan tulus. "Hm .... Nggak perlu pilih hotel yang terlalu mahal, boleh cari yang lebih murah sedikit, lingkungannya juga masih lumayan ...." Andreas melihat dengan sangat jelas, saat berbalik, senyuman di wajah Celine langsung menghilang. Bahkan sosoknya yang berlari kecil juga terlihat membungkuk, seperti sedang memegang jantungnya. Jantungnya sakit? "Heh ...." Wanita ini salah paham? Andreas menatap pesan dari bank yang ada di ponselnya. Tiba-tiba dia penasaran, hotel yang lebih murah sedikit apakah lingkungannya benar-benar masih lumayan? Tepat pada saat ini, dia menerima panggilan dari James. Andreas menerima panggilan dan mendengar James berkata menyindir, "Besok ada acara ulang tahun Nyonya Ratna dari Keluarga Linoa. Dia menyombongkan diri bilang kamu bakal hadir. Begitu mendengar rumor ini, para keluarga kelas atas Kota Binara langsung sibuk mau merayakan ulang tahunnya." "Huh, mereka itu bukan ke sana untuk Keluarga Linoa, jelas-jelas mereka pergi untuk menemui kamu yang baru saja menjabat jadi Kepala Keluarga Jayadi!" "Keluarga Linoa mau memanfaatkanmu untuk menyombongkan diri. Ckck, rencana mereka ini .... Tapi kalau besok kamu nggak pergi, pasti sangat menarik." Andreas pernah mendengar Paman William mengungkit undangan dari Keluarga Linoa. Tuan Besar Keluarga Linoa yang sudah meninggal punya sedikit hubungan dengan Keluarga Jayadi, tapi hubungan antara dua keluarga ini sudah lama menjauh. Awalnya Andreas tidak berencana pergi, tapi dia tiba-tiba berubah pikiran. "Aku bakal pergi." Kalau dia tidak mau terus tinggal di Bar Artemis, dia harus menangkap pelaku percobaan pembunuhannya secepat mungkin. Pesta Keluarga Linoa adalah kesempatan yang bagus! Andreas menatap buku nikah yang ada di tangannya dengan mata yang gelap. Sebelum James sempat mengatakan apa-apa, Andreas kembali berkata, "Beli sebuah rumah untukku dengan nama orang lain. Selain itu, bantu aku selidiki seseorang ...." Di foto buku nikah, wanita di sampingnya sangat cantik, senyumannya juga sangat cerah dan hangat seperti sinar matahari. Di samping foto, ada namanya. "Celine Maira!" Bab 7 Ketika Celine sampai ke vila di Helvetia, dia tidak diperbolehkan masuk. "Dia masih berani pulang? Sarah, pergi usir dia!" Terdengar teriakan marah Bastian di balik pintu. "Bastian, kamu jangan marah gara-gara dia, nggak baik buat kesehatan ...." "Ayah, izinkan Kakak masuk. Kakak mungkin juga cuma kesalahan sesaat mengkhianati Tuan Muda Reza. Pria-pria di Bar Artemis ... pekerjaannya ya begitu semua. Kakak seharusnya sudah kasih uang, orang itu juga seharusnya nggak bakal menyebarkan hal ini ...." Di dalam ruang tamu, Sarah dan Lily tampaknya sedang membela Celine, tapi kata-kata mereka sebenarnya sedang memperparah kondisi. Seketika, kata-kata Bastian menjadi makin kasar. "Dia itu wanita jalang! Aku nggak punya anak yang nggak tahu malu seperti dia! Mulai sekarang, dia nggak boleh masuk ke rumah ini. Kalau nggak, rumah ini bakal kotor dibuatnya! Lily, kamu baik hati dan polos, jangan tiru kakakmu itu." Hati Celine terasa sakit berdenyut-denyut. Dia tahu selama ini ayahnya tidak pernah menyukainya. Dari kecil, tidak peduli apa yang dia lakukan, ayahnya selalu memperlakukannya dengan dingin. Hari ini pertama kalinya ayahnya itu "peduli" dengan moralnya! Ayahnya tidak suka dia, tapi malah sangat menyayangi Lily yang datang bersama ibunya. Teringat dengan identitas asli Lily, Celine pun tersenyum mengejek. Tiba-tiba, dari jendela yang besar, dia melihat Lily menghindar dari penglihatan Bastian lalu tersenyum angkuh padanya, seperti sedang memamerkan kemenangannya! Muncul aura dingin di mata Celine, tapi detik berikutnya, dia tersenyum berseri-seri sambil melambaikan tangannya ke arah Lily. Senyum Lily langsung membeku, dia tidak menyangka Celine masih bisa tersenyum. Bukannya dia seharusnya menangis? Tepat di saat ini, tangan Celine yang tadinya melambai tiba-tiba mengepal lalu dia dengan "sopan" mengangkat jari tengahnya ke arah Lily .... Lily terdiam dan ekspresinya seketika berubah ganas. Kemudian, Celine berbalik pergi. Lily melihat punggung Celine dengan tatapan penuh kebencian. Dia yang tidak puas langsung mengirim pesan ke Irina lalu bersikap manja pada Bastian. "Ayah, besok aku temani Ayah ke acara ulang tahun Nyonya Ratna, ya? Aku juga mau lihat-lihat!" Di acara ulang tahun Nyonya Besar Keluarga Linoa besok, dia mau merusak nama baik Celine! ... Kini sudah pukul 12 tengah malam, tapi Celine masih jalan-jalan tanpa tujuan. Ponselnya terus berbunyi karena notifikasi dari obrolan grup SMA-nya. Satu jam yang lalu, Irina "sangat khawatir" dengannya, jadi dia mengirim "pesan orang hilang" di obrolan grup, lalu pura-pura membujuknya pulang sambil menangis di sana. Melihat ada gosip, orang-orang langsung sibuk bertanya di grup. Irina pun "tidak sengaja" menceritakan kejadian Celine berhubungan dengan pria tidak jelas sampai-sampai diusir dari rumah oleh ayahnya. Obrolan grup sedang heboh, tapi saat ini Celine sedang bingung hari ini dia mau tinggal di mana. Uang yang tersisa sudah dia transfer ke "suami top" sore tadi, sekarang dia sama sekali tidak punya uang dan tujuan. Tiba-tiba matanya berbinar karena teringat sesuatu. Suami top! "Meskipun cuma perjanjian, aku bisa dibilang adalah sponsornya. Dia seharusnya nggak keberatan tinggal dengan sponsornya semalam ... 'kan?" Celine mengeluarkan ponselnya lalu menekan tombol telepon dengan gugup tapi penuh harap. Panggilan diterima setelah berdering dua kali. "Halo ...." Suara pria itu sangat menarik. Begitu masuk ke telinga Celine, dia langsung teringat dengan suara desahan di telinganya semalam. Wajahnya pun langsung memerah dan panas. "Halo? Cepat bicara!" Suara pria kembali terdengar. Celine langsung sadar kembali lalu menyingkirkan adegan merisaukan itu dari benaknya. "Eh ... itu .... Aku diusir dari rumah, sekarang nggak punya tempat tinggal. Bisa nggak ...." Tut tut tut .... Sebelum Celine selesai bicara, panggilan sudah diakhiri. Celine menatap layar ponselnya sekian lama sebelum akhirnya sadar. "!!!" Dia ditolak? "Heh, bagus. Bagus sekali ...." Api amarah Celine langsung berkobar. Sikap apaan ini? Dia adalah sponsornya! Kembalikan uangnya! Saat ini, di sebuah hotel yang "lebih murah sedikit dengan lingkungan yang lumayan" .... Andreas sedang melihat informasi tentang Celine dan Perusahaan Perhiasan Aurora. Dia tidak menyangka istri barunya ini adalah satu-satunya pewaris perusahaan ini. Namun, dia sama sekali tidak terkejut Celine diusir Bastian dari rumah. Kalau bukan karena dia meminta James menyelidiki Celine, takutnya tidak akan ada yang tahu apa yang Bastian lakukan diam-diam. Sampai sekarang, Celine juga seharusnya tidak tahu! Andreas tersenyum sinis. Saat ini dia sangat menantikan apa yang akan dilakukan "istri barunya" ini ketika tahu situasi Perusahaan Perhiasan Aurora sekarang serta apa yang telah Bastian lakukan di belakang wanita itu. Muncul senyuman nakal di wajah Andreas, lalu dia mengirimkan alamat hotel yang dia tinggali ke Celine. Bab 8 Celine yang tadinya meneriakkan "balikin uangku" di dalam hati, langsung tenang setelah mendapat alamat hotel yang dikirim oleh "suami top". "Untung dia masih punya hati nurani!" Celine tidak berlama-lama lagi, dia langsung menuju ke hotel. Begitu sampai di depan hotel, senyuman Celine langsung membeku. Suami topnya bisa-bisanya tinggal di hotel bintang lima peringkat kedua di Kota Binara. Kamar paling murah di sini saja setidaknya sudah beberapa juta semalam. Uang yang dia beri bisa tinggal berapa malam di sini? Celine refleks memegang dadanya. Sakitnya hati ini! Saat mencari nomor kamar dan tiba di sebuah kamar suite, hati Celine seakan-akan berdarah. Dia curiga uang yang dia beri sama sekali tidak cukup untuk membayar satu malam di kamar ini! Celine menarik napas dalam-dalam dan merasa dia harus bicara baik-baik dengan "suaminya" ini! Pintu kamar tidak tertutup rapat, jadi Celine langsung masuk. Namun, dia tidak melihat ada orang, melainkan ada suara air dari kamar mandi. Dia lagi mandi! Celine duduk di sebuah sofa dan tangannya tanpa sengaja menyentuh sebuah remot di sofa. Seketika, kaca di kamar mandi tiba-tiba jadi transparan dan dia bisa melihat semua yang ada di dalam. Pria itu sedang membelakanginya, air menyiram kulitnya yang berwarna sawo matang. Jantung Celine langsung berdetak kencang. Dia seharusnya memalingkan matanya dari pemandangan seheboh ini, tapi dia tidak bisa mengendalikan matanya. Tatapannya makin turun mengikuti aliran air sampai kaca yang transparan jadi buram, menutupi bagian bawah tubuh pria itu. Muncul kekecewaan di mata Celine yang tadinya penuh semangat. Sayang sekali! Namun, bagian atas saja sudah cukup indah untuk dipandang! Ketika Celine hendak melihat dengan lebih mendetail, pria di dalam kamar mandi tiba-tiba berbalik dan bertatapan dengannya! "!!!" Sial, ketahuan! Celine segera memalingkan wajahnya, tapi Andreas yang ada di dalam seakan-akan tidak melihat dia, melainkan menyamping sedikit lalu lanjut mandi. Celine menghela napas lega dan kembali menikmati pemandangan. Namun, tak lama kemudian, Andreas sudah selesai mandi dan siap-siap mau keluar. Celine merasa bersalah dan langsung menekan remot, lalu dia menutup matanya, berpura-pura tidur di sofa. Begitu keluar, Andreas pun melihat wanita yang berpura-pura tidur di sofa. Tadi dia melihat wanita ini diam-diam melihatnya! Berani mengintip, tapi tidak berani menghadapinya? Muncul senyuman nakal di wajah Andreas, lalu dia membungkuk mendekati Celine dan mengembuskan napasnya di wajah Celine seperti sedang menghukumnya. Aroma pria yang pekat langsung memasuki hidungnya. Pria ini mau menciumnya? Celine merasa jantungnya hampir melompat keluar. Dia ingin mendorong pria ini, tapi karena tahu salah, dia tidak berani membuka matanya. Aroma pria itu makin pekat, di benak Celine langsung muncul beberapa adegan ekstrem tadi malam. Napas Celine jadi tidak beraturan, tubuhnya juga sangat tegang. Tepat ketika dia sudah tidak tahan, ponsel Andreas berbunyi. Andreas melihat Celine yang tegang dengan tatapan tidak puas. Awalnya dia mau lanjut mempermainkan Celine, tapi akhirnya dia berdiri dan menerima panggilan. Celine menghela napas lega. Terdengar suara pria yang berat samar-samar mengungkit "Keluarga Linoa", "Aurora" dan beberapa kata yang familier. Namun, Celine terlalu lelah dan mengantuk, jadi dia tertidur dalam sekejap. Keesokan harinya ketika dia bangun, di dalam kamar hanya ada dia seorang. Di lobby hotel, Andreas yang dikelilingi pengawal naik ke sebuah mobil sedan mewah. Di dalam mobil, muncul sosok Celine yang gugup di benak Andreas, membuat sudut bibirnya tanpa sadar terangkat. Kemarin Celine sempat mengajaknya menghadiri sebuah pesta, sekarang dia agak menyesal telah menolak ajakannya. Celine menghabiskan uang untuk menikah dengannya, ini mungkin karena ada yang mau Celine lakukan di pesta itu. Namun, hari ini dia harus menghadiri pesta ulang tahun Keluarga Linoa. Kemudian, Andreas mengernyit memikirkan sesuatu, lalu dia berpesan pada Paman William di sampingnya, "Paman William, suruh orang siapkan sebuah gaun. Antar ke kamarku semalam." Setelah berhenti sejenak, dia menambahkan, "Warna merah." Dia cocok memakai warna merah. Di hotel .... Celine menerima sebuah gaun pesta berwarna merah dan langsung mengenali gaun itu. "Siluman Merah?" Gaun edisi terbatas baru dari merek barang mewah K&K ini adalah hasil desain dia. Gaun ini hanya ada dua di pasaran, satu merah dan satu putih. Sebagai ucapan terima kasih atas desainnya, beberapa hari yang lalu seniornya baru saja mengirim gaun yang putih untuknya. Di luar dugaannya, yang merah juga sampai di tangannya! Ini dibeli "suami top"? Hanya suaminya itu yang tahu dia tinggal di sini! Namun, suaminya itu cuma gigolo top di sebuah bar, kalaupun kaya, tetap saja tidak mungkin bisa membeli gaun ini! Celine menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Seharusnya cuma barang tiruan, kualitas tiruannya bagus juga!" Celine tidak berpikir terlalu lama, dia langsung memakai gaun itu, merias wajahnya lalu pergi ke acara ulang tahun Keluarga Linoa. Bab 9 Tamu-tamu mulai berdatangan ke kediaman Keluarga Linoa, di kompleks vila Kota Binara. Lily sengaja datang cepat. Di kamar Reza di lantai dua, setelah mereka selesai bermesraan, Lily berbaring di atas Reza dan masih mau menggodanya. Namun, Reza malah menghentikan tangan Lily dan berkata, "Paman dari Keluarga Jayadi seharusnya sudah sampai, Nenek menyuruhku menyambutnya secara pribadi. Aku nggak boleh melewatkan kesempatan yang susah didapatkan ini." Lily langsung memasang ekspresi kecewa, terlihat sangat sedih dan lemah, membuat Reza sangat kasihan padanya. Namun, begitu teringat hal penting hari ini, Reza membantu Lily berpakaian. Dia memakai gaun putih ini benar-benar terlihat seperti seorang putri yang tak bernoda sama sekali, sangat polos dan lugu, membuat Reza makin tidak bisa menahan diri. "Aku nggak pernah lihat kamu pakai gaun ini, cantik banget. Desainnya bagus!" Reza hanya mengungkit hal ini tanpa maksud yang lain, tapi terlihat rasa bersalah di mata Lily yang langsung berubah jadi polos lagi. "Kamu tahu aku nggak suka barang mewah, tapi hari ini acara ulang tahun Nyonya Ratna, Ibu membelikanku gaun ini karena melihatku nggak punya gaun yang pas. Kak Reza nggak bakal menyalahkan pakaianku yang terlalu heboh, 'kan?" Sebenarnya dia sengaja mengambil gaun ini dari lemari Celine. Gaun ini bahkan punya nama yang bagus, yaitu "Bidadari Bulan". Dia tidak menyangka koleksi terbatas K&K yang diperebutkan para nyonya-nyonya besar ada di tangan Celine. Lily sangat iri, jadi dia langsung memakai gaun ini tanpa berpikir panjang. Dia sudah memakai gaun ini, berarti gaun ini miliknya. Gaun ini miliknya, Reza juga miliknya. Pokoknya dia mau merebut semua barang milik Celine! Lily menyandarkan kepalanya di bahu Reza, sengaja meninggalkan bekas lipstik di kerah kemeja putih Reza .... ... Sepuluh menit kemudian, barisan mobil mewah berhenti di luar kediaman Keluarga Linoa. Tuan Muda Keluarga Jayadi sudah tiba! Begitu Andreas turun dari mobil, dia langsung dilindungi dengan ketat oleh para pengawal. Reza yang datang terburu-buru langsung menyambut dengan ramah. "Pa ... Paman ...." Selama ini, Andreas adalah orang yang misterius, bahkan tidak ada media yang berhasil memotret wajahnya dari depan. Dunia luar mengira orang yang bisa membersihkan seluruh Keluarga Jayadi yang memiliki aset triliunan itu pasti tidak muda. Namun, sebenarnya Kepala Keluarga Jayadi baru yang bisa menggetarkan dunia bisnis seluruh negara dengan satu entakan kakinya ini hanya lebih tua tiga tahun darinya. Andreas memakai setelan hitam yang dibuat khusus untuknya, tingginya 188 sentimeter dan wajahnya yang tampan menunjukkan aura dingin yang membuat orang tidak berani mendekat. Dia berjalan lurus ke depan, auranya yang dingin dan berwibawa membuat Reza merasa minder. Reza mengikutinya dari samping, lalu memberanikan diri untuk memperkenalkan diri sendiri. "Paman, namaku Reza Linoa. Beberapa tahun yang lalu aku pernah ke Kota Mastika dan beruntung bisa melihat Paman dari jauh." "Reza Linoa?" Andreas menghentikan langkahnya. Paman William pernah mengungkit orang ini. Dia ini orang yang memintanya jadi saksi nikahnya? Andreas melihat sekilas noda merah yang ada di kerah kemejanya dan seketika muncul sosok Celine di benaknya. Tunangan orang bernama Reza ini sama dengannya, sangat bergairah bagai api! Di saat ini, Celine juga sudah tiba di luar vila Kediaman Keluarga Linoa. Dari jauh, Celine sudah melihat Reza berjalan di depan sekumpulan pengawal dengan wajah penuh senyuman, sedangkan para pengawal itu masuk dengan mengelilingi seorang pria. Celine melihat ke arah kepala pria yang muncul di antara para pengawal. Orang ini seharusnya adalah paman ketiga dari Keluarga Jayadi itu, tidak disangka masih semuda ini! Teringat dengan "saksi nikah" yang dikatakan Reza, Celine tersenyum sinis lalu memegang buku nikah yang ada di tasnya. Pesta masih belum dimulai, jadi Celine pergi ke taman dulu. Di taman, sekelompok nyonya-nyonya besar sedang mengelilingi Lily, mengagumi gaun yang dia pakai. Sementara Lily juga menikmati pujian mereka, hatinya terasa sangat puas. Namun, tiba-tiba terdengar seseorang berkata, "Lily, ternyata kamu sudah datang?" Orang yang berbicara itu adalah Celine. Saat ini, Celine berdiri di depan dinding yang penuh bunga mawar dengan pakaian merah cerah, membuatnya terlihat seperti peri mawar yang turun ke bumi. Bahkan para wanita yang ada di sana juga terlihat kagum. Para nyonya kaya itu melihat gaun merah yang dia pakai, mereka pun berkomentar .... "Ini ... ini Siluman Merah dari K&K?" "Wah, ya benar! Jelas-jelas merah dan putihnya sama model, tapi pas dipakai beda banget!" Dua gaun ini punya kelebihannya masing-masing. Namun, di antara dua nona keluarga kaya ini, Celine menawan dan sempurna, sedangkan Lily hanya bisa dibilang cantik. Saat dipakai Celine, Siluman Merah membungkus tubuhnya dengan sempurna dan sangat menarik perhatian. Sementara Lily yang memakai Bidadari Bulan jadi terlihat biasa saja. Lily menggertakkan giginya dengan kesal. Dia tahu dia sudah kalah dibandingkan dengan Celine. Menyebalkan! Sudah diusir dari rumah masih saja bisa merebut perhatian semua orang dengan mudah. Lily menggertakkan giginya dengan kesal lalu seketika ekspresinya berubah jadi takut dan memohon, "Kakak, jangan marah, aku bukan sengaja nggak menunggumu. Kamu jangan memukulku, ya?" Satu kalimat ini seketika membuatnya menjadi seorang wanita kasihan yang sering dimarahi dan ditindas Celine. Bab 10 Seketika, ekspresi para nyonya kaya di sekitar langsung berubah. Sementara Celine malah tersenyum sinis dengan tenang lalu maju untuk merapikan gaun Lily yang agak terlalu besar untuknya sambil berkata dengan santai, "Gaun dari K&K selalu disesuaikan dengan ukuran pembelinya. Lily, ukuran kita nggak sama. Kamu harusnya bilang dari awal kalau kamu suka gaun ini, biar aku bawa ke K&K untuk sesuaikan lagi ukurannya, jadi kamu pakainya nggak kebesaran gini." Para nyonya kaya baru sadar kalau gaun Lily tidak terlalu pas untuknya. Mereka seketika lupa sosok kasihan Lily yang tadi dan ekspresi mereka berubah jadi merendahkan Lily. "Ternyata itu bukan gaunnya? Jangan-jangan dia mencuri gaun kakaknya? Kulihat ukurannya kayak ukuran Nona Celine." "Nggak kusangka Nona Lily suka pura-pura begitu. Dengar-dengar dia itu anak mantan suami ibunya, biasanya orang seperti itu lebih licik dari anak haram!" Anak mantan suami .... Anak haram .... Lily tidak bisa mengendalikan ekspresinya lagi, tangannya yang mengepal erat juga gemetar saking marahnya. Namun, dia mau tidak mau harus menahan emosinya. Setelah para nyonya kaya pergi, Lily baru menunjukkan matanya yang penuh kebencian. Mungkin karena tidak mau kalah, Lily menurunkan kerahnya, menunjukkan bekas-bekas ciuman lalu berkata dengan sombong, "Kamu tahu secinta apa Kak Reza padaku? Barusan banget, di atas dia sangat bersemangat melakukannya denganku, sampai berkali-kali!" Lily pikir hal ini bisa membuat Celine marah, tapi Celine malah tersenyum mengejek. "Waktu itu, kamu sengaja pakai ponsel Reza untuk memanggilku memang supaya aku melihat kalian sedang melakukannya, 'kan?" Lily tidak menyangka Celine sudah tahu, tapi dia juga terus terang berkata, "Memangnya kenapa kalau ya?" "Nggak kenapa-kenapa. Kamu harusnya bilang saja kalau suka, kukasih kok. Untuk apa ... nyuri?" Celine melirik gaun yang dipakai Lily lalu tertawa sinis. Kemudian, dia langsung berbalik pergi. Sementara Lily merasa seperti baru saja ditampar. Dia menatap punggung Celine dengan penuh kebencian. Kemudian, dia masuk ke aula dengan perasaan kesal, ingin mencari Reza untuk menghiburnya. Begitu sampai aula, dari tirai pintu yang setengah transparan, Lily melihat Reza berdiri di samping seorang pria. Pria itu tinggi dan tegap, auranya dingin dan berwibawa. Bahkan dilihat dari belakang saja sudah seratus kali lebih baik dari Reza. Orang yang dihormati Reza sampai seperti itu hanya ada "paman ketiga dari Keluarga Jayadi" yang katanya akan datang hari ini. Dia pikir paman itu adalah seorang pria paruh baya, tapi ternyata semuda itu! Muda, kaya dan berkedudukan tinggi. Kalau bisa jadi kekasihnya .... Di otak Lily tiba-tiba muncul pikiran seperti itu, jantungnya juga berdetak makin kencang. Sementara saat ini Reza sedang melayani Andreas dengan ekspresi menyanjung, tapi matanya terus mencari-cari Celine di luar. Akhirnya, dia melihat sosok yang memakai gaun merah di salah satu sudut ruangan. "Paman, aku bawa tunanganku ke sini." Dia ingin segera membawa Celine menemui paman ketiganya dan memintanya menjadi saksi nikah mereka. "Ya." Andreas lagi-lagi melirik noda lipstik di kerah Reza. Dia lumayan penasaran dengan tunangan Reza yang sama ekstremnya dengan seseorang. Begitu Reza pergi, ponsel Andreas bunyi. Panggilan dari James. Setelah panggilan terhubung, James langsung berkata dengan terburu-buru, "Itu .... Celine Maira yang mau kamu selidiki semalam .... Kamu ... punya maksud apa sama dia?" Andreas mengernyit, apa maksudnya? Tanpa menunggu jawaban dari Andreas, James sibuk bertanya, "Kamu bukan suka sama dia, 'kan?" "Kamu sebaiknya jangan suka sama dia, karena dia sudah tunangan. Tunangannya adalah Reza, kebetulan adalah Reza dari Keluarga Linoa ...." James seakan-akan bisa merasakan aura dingin menusuk dari ponselnya, dia pun segera berkata, "Bro, kamu jangan salahin aku. Semalam kamu minta informasinya buru-buru banget, jadi normal kalau kurang lengkap. Lagian, aku juga tiba-tiba disuruh ayahku pergi dinas ke Kota Penta. Kalau aku ada di sana, pasti nggak bakal ada kesalahan seperti ini." James benar-benar berharap dia ada di sana! Beberapa tahun ini, Andreas tidak pernah melihat seorang wanita pun, apalagi menyuruhnya menyelidiki wanita! Nalurinya berkata ada drama yang seru! "Andreas ...." James masih mau mengatakan sesuatu, tapi teleponnya sudah ditutup Andreas. Kata-kata James terngiang-ngiang di benak Andreas. Wajahnya sangat gusar dan aura yang dingin membuat suhu di sekitarnya seakan-akan turun beberapa derajat. Di aula, Celine tiba-tiba merinding karena merasakan aura dingin berembus ke arahnya.