Kesempatan Kedua: Terlahir Kembali

Đang tải thông tin quảng bá...

Kesempatan Kedua: Terlahir Kembali

GoodNovel Hoàn thành

Di kehidupan sebelumnya, Violet meninggalkan harga dirinya sebagai nona muda Keluarga Gloria. Setelah dia menikah, dia mencoba segala cara untuk menyenangkan Romeo Fernandez. Semua orang Kota Poseidon...

Chương (1)

第1章

Bab 1 "Alat pacu jantung! Cepat! Tingkatkan tegangan listriknya!" "Dokter! Pasien mengalami pendarahan hebat! Darah tipe A baru saja diambil dari bank darah!" Seluruh tangan perawat magang itu berlumuran darah. Dia bahkan gemetaran saat berbicara. Bau darah memenuhi ruang operasi. Dia tidak pernah melihat darah sebanyak ini. Pada saat ini, sebuah pikiran terlintas di benaknya. Siapa yang mengambil darah tipe A dari bank darah? Wanita yang sedang berbaring di ranjang rumah sakit ini memiliki wajah pucat dan bibir kering. Penglihatannya pun mulai kabur. "Romeo ...." "Apa?" "Romeo ...." Kali ini perawat magang itu mendengarnya. Nama yang dipanggil oleh wanita lemah ini adalah Romeo Fernandez. Romeo adalah presiden bisnis paling berkuasa di Kota Poseidon. Dokter itu hampir pingsan. Dia salah menekan nomor tiga kali sebelum akhirnya dia menelepon nomor yang benar. Dia segera berkata kepada orang di ujung telepon, "Tuan Romeo, Nyonya mengalami pendarahan hebat. Tapi, darah di bank darah telah diambil pergi. Saya memohon pada Anda! Datang dan temuilah Nyonya untuk terakhir kalinya!" Nada pria di ujung telepon terdengar sangat kejam dan cuek. "Dia belum mati? Telepon aku setelah dia benar-benar mati." Tut .... Tut .... Teleponnya pun dimatikan. Tiba-tiba, mata wanita di ranjang rumah sakit ini kehilangan semua cahaya. 'Romeo, apa kamu begitu membenciku?' 'Bahkan saat ini, kamu nggak mau melihatku?' Terdengar bunyi bip datar dan dingin dari mesin. Tanda-tanda vital pasien sudah sepenuhnya tiada. Samar-samar, Violet merasa jiwanya meninggalkan tubuhnya. Sebuah tubuh yang kurus kering, pucat dan lemah berbaring di ranjang rumah sakit. Violet merasa sangat lelah. Dia baru berumur 27 tahun, tapi dia meninggal di rumah sakit karena pendarahan hebat yang disebabkan oleh persalinan sulit. Saat dia masih hidup, dia sangat mencintai Romeo. Sebagai satu-satunya anak perempuan di Keluarga Gloria, seharusnya Violet mempunyai kehidupan terbaik. Namun, untuk menikah dengan Romeo, dia mengorbankan kedudukannya di Keluarga Gloria. Pada akhirnya, dia berakhir dengan tragis. Violet perlahan-lahan memejamkan matanya. Kalau dia mempunyai kesempatan untuk mengulangi kehidupannya lagi, dia tidak akan melakukan kesalahan yang sama. "Nyonya, malam ini Tuan mau mengajak Anda pergi ke pelelangan bersama. Pakaian mana yang Anda ingin pakai?" Dia mendengar suara Bu Martha. Violet tersentak. Pemandangan di depan matanya terlihat sangat familier. Ini adalah rumah pernikahannya dengan Romeo! Sebulan setelah dia menikah dengan Romeo, dia bisa menghitung dengan jari seberapa banyak Romeo menemuinya. Dia mengingat ini adalah pertama kalinya Romeo mau menghadiri lelang tanah. Makanya, dia mengajak istrinya. Namun, ini terjadi lima tahun yang lalu. Kenapa ...? Jangan-jangan ... dia terlahir kembali? "Nyonya, Tuan nggak pernah pulang dan tidur di sini. Jadi, Nyonya harus memanfaatkan kesempatan kali ini." Bu Martha memilih sebuah gaun putih, lalu dia berkata, "Bagaimana dengan gaun ini?" Violet menundukkan kepalanya. Di dalam hati, dia tertawa. Semua orang tahu wanita yang disukai Romeo adalah Evelyn Chika. Dulu untuk menyenangkan Romeo, Violet sering belajar cara berpakaian Evelyn. Evelyn suka mengenakan gaun putih, jadi dia ikut memakai gaun putih hanya agar bisa membuat Romeo menyukainya sedikit. Namun, di pelelangan kali ini, Romeo tidak memberitahunya kalau dia mengganti pasangannya dan melainkan mengajak Evelyn. Romeo membuatnya terlihat bodoh karena dia mengenakan gaun putih yang sama dengan Evelyn. Ketika Violet memikirkannya sekarang, itu benar-benar lucu. "Nggak, aku pakai ini saja." Violet memilih sebuah gaun yang berwarna merah cerah. Dia memang tidak suka pakaian polos dan elegan. Lagi pula, Evelyn hanya seorang mahasiswi miskin. Dulu otaknya pasti rusak, makanya dia baru mengenakan pakaian murah demi seorang laki-laki. Dia tidak hanya telah menurunkan derajatnya, tapi juga membiarkan orang memandang rendah dirinya. Bu Martha berkata dengan dilema, "Tapi ... seharusnya Tuan lebih suka gaun putih ini ...." Violet mengabaikan saran gila Bu Martha. "Ini saja." Violet berkata dengan datar, "Buang semua gaun putihku. Aku nggak suka." "Ini ...." Perintah Violet membuat Bu Martha menghela napas. Pada akhirnya, dia melakukan seperti yang diperintahkan. Violet melihat dirinya di kaca. Pada saat ini dia masih menawan, tapi beberapa tahun kemudian, dia disiksa Romeo sampai dia terlihat lesu. Sebelum itu terjadi, dia ingin mengakhiri segalanya. Pada malam hari, Violet mengenakan gaun potongan mermaid berwarna merah anggur yang menonjolkan bentuk tubuhnya dengan sempurna. Riasannya yang indah dipadukan dengan rambut ikal. Tahi lalat di bawah matanya membuatnya makin seksi. Dari jauh, dia terlihat seperti lukisan yang membuat orang tidak berani mendekatinya. Tak jauh dari Violet, seorang pria yang mengenakan kemeja putih, sepatu kulit tinggi dan sedang memegang rokok melihatnya. Charles Griffin bertanya dengan lembut, "Siapa dia?" "Kamu nggak tahu siapa dia? Itu Violet dari Keluarga Gloria, istri baru Romeo Fernandez." William Airlangga, si pria playboy, yang berdiri di sebelah Charles berkata dengan penuh semangat, "Tadi aku melihat Romeo si bangsat itu menggandeng wanita lain. Sepertinya nanti kita dapat melihat drama rumah tangga yang menarik! Aku bersemangat sekali!" Namun, dia tidak mendengar sahabatnya menjawabnya. William mendecakkan lidahnya sebelum berkata, "Tapi, aku nggak mengerti selera Romeo. Dia malah nggak mau wanita cantik seperti Violet dan bersikeras ingin bersama wanita yang kurus kering. Aneh, 'kan, Charles?" Ketika William memalingkan wajahnya, ternyata dari tadi Charles sudah menghilang. "Woi, Charles! Dasar anak sialan!" William mengikuti Charles masuk ke pelelangan sambil menggerutu. Di dalam, Evelyn yang memakai gaun putih memegang lengan Romeo dan berkata dengan takut-takut, "A ... aku nggak pernah menghadiri acara seperti ini. Bagaimana kalau aku pulang saja?" Romeo berkata dengan datar, "Kamu harus pelan-pelan terbiasa. Di masa depan kamu akan sering menghadiri acara seperti ini." Evelyn pun menganggukkan kepalanya. Ketika Romeo hendak membawa Evelyn masuk ke pelelangan, Levi, asistennya, berkata, "Tuan Romeo, apa Anda nggak mau menunggu Nyonya?" Romeo mengernyit dan berkata, "Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk memberitahunya kalau hari ini dia nggak usah datang?" Levi melirik Evelyn, lalu Evelyn buru-buru berkata, "Jangan salahkan Kak Levi. Aku yang meminta Kak Levi nggak usah memberi tahu Kak Violet .... Aku takut identitasku akan membuat orang bergosip tentangmu, jadi ... Aku merasa lebih baik Kak Violet yang menemanimu ...." Evelyn menundukkan kepalanya. Dia seperti kelinci yang ketakutan. Romeo mengusap alisnya. Saat ini dia benar-benar tidak mau Violet muncul. "Tuan Romeo ...." Evelyn menggigit bibirnya dan memanggil Romeo dengan hati-hati. "Nggak apa-apa. Ini bukan salahmu." Romeo membelai kepala Evelyn, kemudian dia berkata kepada Levi, "Kamu berdiri di luar. Kalau kamu melihat Violet, segera bawa dia pulang." Di dalam kerumunan, orang-orang tampak terkejut. Levi menoleh dan dia juga ternganga. "Sepertinya sudah terlambat." Bab 2 Romeo mengikuti arah pandangan Levi. Di dalam kerumunan, gaun merah itu terlihat dengan sangat mencolok. Violet mengenakan gaun panjang berwarna merah anggur. Setiap gerak-gerik serta senyumannya seolah-olah mampu menyentuh hati orang-orang. Kamera media menyorot Violet dan untuk sesaat Violet seperti bintang populer yang sedang berjalan di karpet merah. Violet? Beberapa saat kemudian, Romeo baru sadar kalau itu Violet. Dulu Violet selalu menyukai riasan tipis dan pakaian anggun. Ini pertama kalinya Romeo melihat Violet berdandan seperti ini. Raut wajah Evelyn tampak masam. Ini pertama kalinya dia melihat Violet. Dibandingkan dengan Violet yang menawan dan seksi, dia terlihat terlalu membosankan dan seperti siswa di bawah umur yang belum dewasa. "Kak Violet ... sangat cantik." Nada Evelyn terdengar agak iri. Violet juga sudah melihat Romeo dan Evelyn. Dia pun langsung berjalan ke arah mereka. Evelyn mengira Violet yang tidak tahu apa-apa akan merasa canggung ketika dia melihat Evelyn dan Romeo bergandengan tangan. Namun, Violet seakan-akan sudah tahu dan dia menyunggingkan seulas senyuman. "Itu Nyonya Fernandez. Kalau begitu, siapa wanita yang digandeng Tuan Romeo?" Seorang wartawan berbisik. Violet melangkah maju dan meraih lengan Romeo, kemudian dia mengulurkan satu tangan ke arah Evelyn. Dia tersenyum sambil berkata, "Kamu Evelyn Chika yang dibilang Romeo, 'kan? Salam kenal, aku Violet Gloria. Kamu boleh memanggilku Nyonya Fernandez." Evelyn melepaskan lengan Romeo dengan canggung sebelum menjabat tangan Violet. "Salam kenal, Nyonya Fernandez." Dia merasa tenggorokannya sakit ketika dia memanggil Nyonya Fernandez. Violet berkata, "Aku mendengar dari Romeo kalau kamu adalah murid kurang mampu yang disponsorinya. Apa kamu ada rencana untuk belajar di luar negeri?" Evelyn melirik Romeo. Romeo berkata, "Evelyn sangat pintar dan tahun ini dia berencana untuk pergi ke luar negeri. Tapi, dia pemalu, makanya hari ini aku mengajaknya untuk melihat dunia." Ya, kali ini dia hanya ingin membawa Evelyn untuk melihat dunia. Romeo yang sekarang belum sepenuhnya menyukai Evelyn. Setelah Evelyn pulang dari luar negeri, Romeo baru benar-benar jatuh cinta padanya. Meskipun begitu, sekarang, Romeo akan menghadiri semua acara besar dan kecil bersama Evelyn sampai semua orang Kota Poseidon tahu kalau Romeo menyukai seorang mahasiswi. Akan tetapi, Violet yang sekarang sudah tidak peduli dengan semua itu. Dia datang ke pelelangan ini bukan untuk berebutan Romeo dengan Evelyn. Dia memiliki tujuan yang lebih penting. "Kalau begitu, Romeo, kamu jaga Nona Evelyn dengan baik. Aku masuk dulu." Setelah itu, Violet melepaskan lengan Romeo. Romeo tercengang. Dia tidak menyangka kata-kata itu keluar dari mulut Violet. Ketika dia sadar, Violet sudah masuk ke tempat lelang. Alis Romeo pun berkerut. Sejak kapan Violet yang selalu bertingkah menjadi begini tenang? Violet duduk di pojok yang tidak mencolok. Seluruh tempat lelang dipenuhi oleh tokoh-tokoh berpengaruh di Kota Poseidon. Kalau dia tidak salah ingat, pada pelelangan ini ada sebidang tanah terbengkalai yang tidak diinginkan oleh siapa pun dan dibeli oleh seorang pengusaha kecil. Kemudian, sebidang tanah itu menjadi berharga karena disekitarnya terdapat real estat kelas atas. Dapat dikatakan bahwa setiap inci tanah bernilai banyak uang. Itu juga membuat pengusaha kecil yang tidak dikenal itu menjelma menjadi pengusaha sukses. Karena dia sudah berencana untuk meninggalkan Romeo, dia harus mencari jalan keluar untuk dirinya sendiri. Setelah Romeo dan Evelyn duduk, Romeo melihat sekeliling untuk mencari Violet. Lalu, Evelyn yang berada di sebelahnya bertanya, "Tuan Romeo, apa nanti kamu sungguh ingin aku yang mengangkat papan?" Suara Evelyn membuat Romeo kembali fokus padanya. Romeo berkata, "Ya. Aku percaya pada pandanganmu." Pipi Evelyn merona merah. Dia sudah lama belajar keuangan di universitas hanya untuk hari ini. Violet yang berada di lantai dua melihat Romeo dan Evelyn berbicara dengan senang, kemudian dia mengalihkan pandangannya. Evelyn memang punya kemampuan. Ini juga salah satu alasan kenapa nanti Romeo terpikat dengan Evelyn. Di kehidupan sebelumnya, Evelyn telah membeli sebidang tanah berkualitas tinggi untuk Romeo. Semenjak itu, pandangan Romeo terhadap Evelyn berubah. Namun, sebenarnya, dari awal tanah itu memang tidak buruk, ada properti Grup Fernandez juga di dekatnya. Jadi, Evelyn mengambil uang Romeo dan menaikkan harganya tanpa ragu. Karena itu, nilai properti Grup Fernandez di sekitar tanah itu juga meningkat. Apa pun yang terjadi, Romeo tidak akan rugi. Dan kalaupun tidak ada Evelyn, Grup Fernandez tetap akan membeli tanah itu. Benar saja, pelelangan baru dimulai dan Evelyn sudah mulai mengangkat papannya. Tiga bidang tanah berkualitas tinggi pertama dimenangkan oleh Evelyn. Romeo duduk di samping Evelyn seperti seorang pelindung. "New Moon Poseidon, harga awalnya 2 triliun!" "4 triliun." Selama pelelangan, ini pertama kalinya Violet bersuara dan semua orang terkejut. Romeo mengerutkan alisnya. Kenapa wanita ini menggila? Evelyn berbisik, "Tanah itu nggak begitu berharga. Kak Violet akan membayar 4 triliun dengan sia-sia." Romeo mengeluarkan ponselnya, kemudian dia mengirim pesan teks kepada Violet. "Violet, sebenarnya ngapain kamu?" Violet menundukkan kepalanya untuk melirik pesan teks di ponselnya sekilas. Kemudian, dia mengabaikannya. "4 triliun, sekali ...." "4 triliun, dua kali ...." ... "Astaga. Violet gila, ya? Dia membeli tanah itu seharga 4 triliun?" William yang berada di lantai dua terkejut. "6 triliun." Di sampingnya, Charles perlahan-lahan mengangkat papannya. William hampir terjatuh dari kursinya. William menggertakkan giginya dan berkata, "Charles, apa kamu juga sudah gila?" Di seberang mereka, Violet mengerutkan alisnya. Dia ingin tahu orang gila mana yang ingin merebut tanah terlantar darinya. Begitu dia mengangkat kepalanya, matanya tertuju pada Charles Griffin yang ada di seberang. Violet samar-samar mengingat kalau Charles berkecimpung dalam bisnis gelap. Kapan dia juga terlibat dalam pengembangan real estat? "8 triliun!" Violet meningkatkan harganya dengan tenang. Alis Romeo makin berkerut. Dia mengetik, "Violet, diam!" Kali ini Violet langsung mematikan ponselnya. "10 triliun." Provokasi Charles yang disengaja membuat Violet menggertakkan giginya dengan kuat. Baiklah. Dia ingin bermain, 'kan? Violet langsung berseru, "20 triliun!" "Gila! Wanita ini benar-benar sudah gila!" William tidak bisa berkata-kata. Romeo yang berada di lantai satu berdiri. Dia yang selama ini diam saja juga tidak bisa memahami isi pikiran Violet. Menurutnya, tanah ini bahkan tidak bernilai 2 triliun. Namun, Violet ingin membelinya dengan harga 20 triliun? Charles menatap tatapan Violet yang acuh tak acuh. Dia tersenyum, lalu mengangkat papannya. "20 triliun, sekali ...." "20 triliun, dua kali ...." "20 triliun, tiga kali! Terjual!" Seiring dengan suara palu, jantung Violet mencelus ke bawah. Meskipun dia berhasil membeli tanah itu, dia harus membayar tambahan 16 triliun tanpa alasan. Ini gara-gara Charles! Violet memelototi Charles dari kejauhan. William melihat Charles dan berkata, "Woi, woi. Violet sedang memelototimu. Kalau aku jadi dia, aku pasti ingin membunuhmu!" Charles mengangkat alisnya. Dia seakan-akan tidak peduli. Di lantai satu, Evelyn menarik-narik lengan jas Romeo dan berkata, "Tuan Romeo, Kak Violet akan membuatmu rugi." Romeo berkata dengan sinis, "Dia sendiri yang menawarkan harga itu, aku nggak akan membayarnya." Bab 3 Karena drama kecil itu, Romeo hanya fokus pada Violet dan dia sama sekali tidak menghiraukan Evelyn. Setelah pelelangan berakhir, Violet bersiap-siap untuk pergi. Namun, dia bertemu dengan Romeo dan Evelyn. "Violet, kalau kamu nggak mengerti tentang properti, jangan membuat masalah." Romeo sama sekali tidak segan-segan menegur Violet. Evelyn juga berkata, "Ya, Kak Violet. Perbuatanmu sudah merugikan Grup Fernandez sebanyak 20 triliun." Violet tertawa sebelum dia membalas, "Nona Evelyn sudah salah paham. Aku yang mau membeli tanah itu. Apa hubungannya dengan Grup Fernandez?" Evelyn berkata, "Tapi, itu 20 triliun ...." "Hanya 20 triliun. Itu angka kecil bagi kami, apalagi bagi Nona Violet." Muncul suara William dari kejauhan. "Benar 'kan, Nona Violet?" Violet melihat Charles yang berdiri di sebelah William, kemudian dia juga berkata dengan tenang, "Hanya 20 triliun. Itu cuman untuk bermain-main." Dalam sekejap, ekspresi Evelyn menjadi masam. Bagi Romeo, 20 triliun bukanlah apa-apa dan angkanya lebih kecil bagi Violet. Wajah Evelyn memerah. Di hadapan orang-orang ini, dia hanya anak kecil. Charles berkata dengan cuek, "Dengar-dengar Tuan Romeo sudah menikah. Kalau begitu, gadis ini adalah Nyonya Fernandez?" Evelyn langsung tersipu. Dia buru-buru berkata, "Bukan, bukan ...." "Ini istriku, Violet Gloria." Romeo menarik Violet ke sisinya. Violet ingin menepis tangan Romeo, tapi Romeo menggenggamnya dengan erat. Dari tadi, dia merasa Charles terus menatap Violet. Pria paling memahami pria. Dia langsung tahu apa isi pikiran Charles. "Ternyata Nona Violet barulah Nyonya Fernandez. Astaga, dasar aku ini. Tadi di tempat lelang aku melihat Tuan Romeo dan gadis ini berbicara dengan senang, jadi aku mengira dia Nyonya Fernandez," ujar William sambil mengetuk kepalanya sendiri. "Kalau begitu, gadis ini pasti sekretarisnya Tuan Romeo. Pantas saja dari tadi dia mengangkat papan untuk Tuan Romeo." Violet hampir tidak bisa menahan tawanya. Meskipun dia sudah tidak peduli kepada Evelyn dan Romeo, dia masih diam-diam senang saat mendengar ucapan William. Sedangkan wajah Evelyn yang berdiri di samping Romeo sudah memucat. Melihat itu, Romeo pun memerintah, "Levi, antar Evelyn pulang." "Baik, Tuan Romeo." William tersenyum dan berkata, "Kalau begitu, kami juga nggak akan mengganggu kalian lagi. Sampai jumpa." Setelah William dan Charles pergi, Violet baru menepis tangan Romeo. "Cukup." Romeo tidak menyangka Violet akan menepis tangannya. Dulu Violet ingin sekali menyentuhnya dan bahkan pernah mengikutinya untuk beberapa waktu. Malam ini Violet sangat berbeda. Pada akhirnya, Romeo berkata dengan sinis, "Kalau ini hanya untuk menarik perhatianku, kamu nggak perlu seperti ini." Violet tidak bisa berkata-kata. Dia ingin melawan, tapi dia tidak bisa membuka mulutnya. Bagaimanapun juga, berdasarkan dulu ketika dia masih peduli pada Romeo, dia benar-benar mungkin akan melakukan ini untuk menarik perhatian Romeo. Namun, masalahnya adalah sekarang dia sudah tidak peduli! Violet yang merasa jengkel hanya berkata, "Terserahmu." "Tunggu." "Apa?" "Apa hubunganmu dengan Charles Griffin?" "Nggak ada apa-apa. Aku bahkan nggak mengenalnya." Lalu, Romeo berkata dengan sinis, "Violet, kamu harus ingat ini. Aku nggak peduli apa hubunganmu dengannya. Tapi, di luar kamu adalah Nyonya Fernandez. Sebaiknya kamu menjaga identitasmu dan menjaga jarak dengan pria lain." Violet tertawa ketika dia mendengar kata-kata Romeo. "Romeo, sebelum kamu meminta pada orang lain, bisakah kamu sendiri melakukannya dulu? Hari ini kamu mengajak Evelyn kemari, adakah kamu peduli pada identitasmu dan harga diriku?" "Hari ini aku ada meminta Levi untuk mengabarimu." "Apa ada? Kamu memintanya untuk memberitahuku kalau aku nggak usah datang, 'kan? Romeo terdiam. Ini memang salahnya. Violet berkata, "Bahkan orang luar seperti Charles salah mengenali Nyonya Fernandez, apalagi orang lain. Kalau kamu sangat menyukai Evelyn, kita bercerai saja." "Violet, apa kamu sudah gila?" Romeo mengerutkan alisnya. Meskipun dia tidak menyukai Violet, itu bukan berarti dia mau bercerai dengan Violet. Bagaimanapun juga, ini adalah pernikahan bisnis. Mereka tidak bisa bercerai sesuka hati mereka. Violet memperhatikan ekspresi tegas Romeo. Dia tahu sekarang Romeo tidak punya niat untuk bercerai, tapi itu karena dia dari Keluarga Gloria. Beberapa tahun kemudian, setelah dia tidak berharga, dia akan dibuang oleh Romeo seperti sampah. Violet mengingat akhir tragis di kehidupan sebelumnya. Dari pada menunggu sampai waktu itu, lebih baik dia mengakhirinya sekarang juga. "Aku bilang aku mau bercerai." Keesokan harinya, berita tentang Violet menghabiskan 20 triliun untuk membeli tanah terlantar memenuhi semua platform besar. Sebagai anak yatim piatu dari Keluarga Gloria, Violet memang memiliki semua aset Keluarga Gloria. Dua puluh triliun hanyalah jumlah kecil bagi kekayaan Keluarga Gloria. Namun, masalahnya adalah bisnis Keluarga Gloria juga sedang beroperasi sehingga likuiditas yang tersedia tidak banyak. Sebenarnya 20 triliun bukanlah nominal yang kecil. Violet berbaring di tempat tidurnya dan mengusap alisnya. Haruskah dia mencari Romeo? Tidak boleh. Setelah dia mengungkit tentang bercerai semalam, Romeo pergi tanpa menoleh. Dia tidak mengerti. Dia sudah bersedia menyerahkan aset Keluarga Gloria kepada Romeo, tapi pria itu malah tidak mau bercerai dengannya. Namun, selain Romeo, siapa lagi yang bisa dicari Violet? Violet tiba-tiba bangkit dari tempat tidur. Ada! "Charles!" Orang-orang kelas atas adalah sebuah kalangan. Setelah menggunakan sedikit koneksinya, Violet berhasil menemukan Charles. Violet mengingat kekuatan Charles ada di luar negeri, tapi selama dua tahun ini entah kenapa Charles menetap di Kota Poseidon. Namun, Violet tahu kenapa. Dalam beberapa tahun ke depan, Charles akan menguasai bisnis Kota Poseidon dengan cepat dan bersaing dengan Romeo. Di ruang rapat Grup Airlangga, Charles sedang memainkan korek api tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Violet langsung berkata, "Aku mau meminjam 16 triliun darimu." "Pffttt!" William menyemburkan teh yang di dalam mulutnya. Dia pernah bertemu dengan orang yang terus terang, tapi tidak pernah bertemu dengan orang seterus terang ini! "Nona Violet, kamu berbicara enteng sekali." Violet mengedipkan matanya sebelum dia berkata, "Kemarin kamu bilang 20 triliun cuman angka kecil." "Apa kamu nggak mengerti kalau aku hanya mau membantumu? Aku sudah mengerti apa artinya dikasih hati minta jantung!" William menggeleng-geleng kepalanya. Semua wanita cantik memang agak sinting. Charles menyalakan korek apinya sembari berkata, "Katakan dulu kenapa aku harus meminjamkanmu 16 triliun." "Awalnya aku bisa membeli tanah New Moon dengan harga 4 triliun. Gara-gara Tuan Charles ikut campur, aku terpaksa menghabiskan 16 triliun lagi dengan sia-sia." "Alasanmu nggak cukup bagus." Violet diam untuk beberapa detik, lalu dia berkata, "Semua bisnis Tuan Charles ada di luar negeri. Tapi, dalam dua tahun terakhir ini, kamu sering muncul di Kota Poseidon. Aku menebak kamu ingin memindahkan bisnis gelapmu di luar negeri ke Kota Poseidon. Aku benar, 'kan?" William yang hendak meminum tehnya berhenti bergerak, lalu dia tanpa sadar melihat Charles. Nona Muda Keluarga Gloria paham tentang hal ini? Dia tidak pernah mendengarnya. Bab 4 Dalam sekejap, ruangan menjadi hening. Beberapa detik kemudian, Charles tersenyum dan berkata, "Nyonya Fernandez, nggak boleh memfitnah orang baik, loh." "Benar. Kita semua adalah pengusaha yang bersih," ucap William dengan serius kepada Violet. "Apa kalian adalah pengusaha yang bers atau bukan, itu bukan tergantungku. Tapi, aku merasa seharusnya Romeo tertarik." Violet berkata dengan tenang, "Aku hanyalah nona muda yang nggak tahu apa-apa, tapi Romeo berbeda. Kalau aku memberi tahu apa yang barusan kukatakan kepada Romeo, apa itu akan menarik perhatiannya?" "Kamu terlalu licik!" William tidak bisa menahan amarahnya. Violet menatap Charles dengan serius dan berkata, "Aku nggak akan bertele-tele. Pinjamkan aku 16 triliun dan aku akan mengembalikan uangmu serta bunganya dalam tiga tahun." William membelalakkan matanya. "Yang benar saja? Apa kamu tahu berapa bunga 16 triliun tiga tahun kemudian? Kalau kamu nggak bisa mengembalikannya, kami rugi 16 triliun. Kamu adalah istrinya Romeo, nanti apa kami bisa melakukan apa-apa padamu?" "Aku tahu berapa bunganya. Aku bisa menandatangani kontrak dengan kalian. Kalau aku nggak bisa mengembalikannya, aku akan memberikan kalian rumah dan saham yang atas namaku. Aku juga akan bekerja untuk kalian dan melakukan apa pun yang kalian mau selamanya." Violet bimbang sejenak sebelum dia berkata, "Dan seharusnya pernikahanku dengan Romeo nggak akan bertahan sampai tiga tahun. Meskipun tiga tahun kemudian aku masih istrinya, dia juga nggak akan melindungiku." Saat mendengar itu, Charles mengangkat kepalanya dan menatap Violet selama beberapa detik. Telinga William juga menjadi tegak. Sepertinya tadi dia baru mendengar bahan gosip. Namun, William segera memfokuskan pikirannya. "Begitu juga nggak bisa! Aku nggak setuju!" Setelah itu, dia mendengar suara tenang dari sebelahnya yang berkata, "Baik, aku akan meminjamkan uang padamu." "Apa?!" William langsung berdiri dari kursinya. "Kenapa kamu juga menggila?!" "Aku akan meminta departemen keuangan mengirim uang padamu. Setelah itu, kita akan membahas kontrak." "Charles, kamu gila!" William melompat-lompat. "Terima kasih, Tuan Charles." Violet berdiri, kemudian berkata, "Kalau begitu, aku akan menunggu kabarmu. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik." Violet tersenyum, kemudian dia pergi. Setelah Violet pergi, William baru menggertakkan giginya sambil berkata, "Dia terlihat senang sekali. 16 triliun! Apa kamu baru membentur kepalamu ke dinding? Dia adalah istrinya Romeo. Ngapain kamu meminjamkannya uang?" Charles tersenyum dan berkata, "Dia cantik." "Sialan! Kenapa kamu malah mau merayu wanita! Aku yang meminjamkannya uang?" Charles berdiri, kemudian dia menempelkan sebuah kartu bank di dada William. "Tentu saja aku yang mengeluarkan mahar kepada wanita yang kusuka." "Apa? Mahar? Dia istrinya Romeo. Kamu mau memberikan mahar kepada siapa?" Charles mengabaikan William dan keluar dari kantor. "Orang gila! Kalian semua gila!" Violet baru saja melewati pintu besar Kediaman Fernandez, kemudian dia melihat Romeo sedang duduk di ruang tamu. Violet mengerutkan alisnya. Dulu, dia bisa menghitung dengan jari berapa kali Romeo berada di rumah. Sejak kapan pria itu menjadi orang yang bisa pulang ke rumah? Violet menganggap Romeo pulang hanya untuk duduk-duduk, jadi dia menuju ke tangga. Tiba-tiba, Romeo memanggil, "Violet." Violet pun berhenti berjalan. "Apa?" Romeo tidak terbiasa menghadapi Violet yang cuek. Dia berkata dengan kesal, "Orang dari pelelangan datang untuk meminta uang." "Aku tahu." Romeo menghela napas sebelum berkata, "Kalau kamu nggak punya uang sebanyak itu, kamu bisa memberitahuku." Violet berkata dengan sinis, "Nggak usah. Aku sudah menanganinya." "Dari mana kamu mendapatkan uangnya?" Dua puluh triliun bukanlah nominal kecil. Dia memahami harta Keluarga Gloria yang dimiliki Violet. Violet tidak mungkin bisa langsung mengambil uang sebanyak itu. "Itu urusanku sendiri. Kamu nggak usah banyak bertanya." "Violet, jangan lupa kalau aku adalah suamimu." Violet tertawa. Suami? Romeo memang tidak tahu malu. Pada saat ini, Romeo masih mengingat kalau dia adalah suaminya? "Kamu gelisah cuman karena kamu takut aku rugi 20 triliun dan merepotkan Keluarga Fernandez." Romeo terdiam. Reaksi Romeo membuat Violet tahu kalau tebakannya benar. Violet berkata dengan datar, "Tenang saja, aku nggak akan merepotkan Keluarga Fernandez. Aku tahu pernikahan kita sebatas pernikahan bisnis. Kita ini senasib. Sekarang kamu juga nggak perlu pulang ke rumah tiga kali sehari." Romeo tidak bisa berkata-kata. Dulu dia memang berpikir seperti itu. Jadi, setelah mereka menikah, dia sangat cuek terhadap Violet. Dia bahkan tidak pernah menyentuh Violet sekalipun. Namun, ketika dia mendengar kata-kata Violet, dia tiba-tiba merasa dirinya memang sudah keterlaluan. Romeo baru hendak mengatakan sesuatu, tapi ponsel Violet tiba-tiba menerima sebuah pesan teks. Dia tidak menyangka Charles akan bertindak begini cepat. Dalam satu jam, 16 triliun sudah masuk ke dalam rekeningnya. Karena masalahnya sudah selesai, Violet pun tersenyum. Romeo memanyunkan bibirnya. Dia mendadak mengingat dulu Violet selalu mengikutinya dan tersenyum seperti itu, tapi dia selalu mengabaikan Violet. "Malam ini ada pesta. Kamu ikut aku pergi menghadirinya." "Aku?" Violet yang hendak naik ke atas mengerutkan keningnya. Romeo balik bertanya, "Kamu nggak mau?" "Kenapa kamu nggak mengajak Evelyn?" Violet merasa curiga. Dia mengingat dulu Romeo selalu mengajak Evelyn ke pesta malam. Kalau dia tidak salah ingat, acara malam ini adalah pesta internasional. Dulu, dia mengotot ingin pergi, tapi Romeo tetap membawa Evelyn. Acara ini juga yang secara tidak langsung membuka jalan bagi Evelyn untuk kembali dari luar negeri di masa depan. Kenapa Romeo tiba-tiba mau mengajaknya ke acara sepenting ini? "Kamu barulah Nyonya Fernandez. Tentu saja aku harus mengajakmu ke acara seperti ini." Violet tidak memercayainya. Dia menganggap Evelyn tiba-tiba ada urusan, makanya Romeo baru mengingatnya. Violet juga harus sering pergi ke acara seperti ini. Karena dia ingin memulai bisnisnya sendiri, dia perlu membuat lebih banyak koneksi. "Baiklah. Aku pergi bersiap-siap dulu." Melihat Violet menyetujuinya, Romeo pun menghela napas lega. Setidaknya Violet masih bersedia untuk menjadi Nyonya Fernandez. Mungkin Violet belum sepenuhnya kecewa padanya. Pada saat yang sama di asrama, Evelyn sedang menggantung gaun yang diantar sekretarisnya Romeo. Teman-teman sekamarnya pun memandang Evelyn dengan iri. "Evelyn, pacarmu baik sekali padamu. Dia memberikanmu gaun yang begitu cantik." Pipi Evelyn merona merah. "Evelyn, kapan kamu bisa memperkenalkan pacarmu kepada kami?" "Ya, ya. Pacarmu kaya sekali. Dia juga selalu mengajakmu ke berbagai acara malam. Kami sangat penasaran!" Evelyn menggelengkan kepalanya, lalu berkata, "Perusahaannya sangat sibuk dan dia nggak bisa meninggalkannya. Nanti kalau ada kesempatan, aku baru akan memperkenalkannya kepada kalian." Pada saat ini, ponsel Evelyn berdering. Evelyn melihat penelepon adalah sekretarisnya Romeo, kemudian dia mengangkat telepon dengan senang. "Kak Levi, Tuan Romeo memintamu datang untuk menjemputku, ya? Aku akan turun sekarang juga." "Nona Evelyn, Tuan Romeo bilang kamu nggak usah pergi hari ini." Bab 5 Senyuman di wajah Evelyn langsung menjadi tegang. "Kenapa?" "Malam ini Tuan Romeo mau membawa Nyonya Fernandez, jadi Nona Evelyn nggak usah ikut." Evelyn memaksakan seulas senyuman sambil berkata, "Ternyata dia membawa Nyonya Fernandez, ya .... Syukurlah. Aku memang nggak mau pergi ...." "Itu bagus." Evelyn mencengkeram ponselnya yang sudah mati dan menggigit bibirnya. Teman-teman sekamarnya yang di belakang saling bertatapan. "Evelyn, pacarmu nggak membatalkan janjinya denganmu, 'kan?" "Dengar-dengar acara malam ini adalah pesta internasional. Bukankah kamu bilang pacarmu mengadakan pesta ini khusus untuk mengajakmu bertemu dengan beberapa pengusaha asing?" Evelyn memaksakan seulas senyuman ketika dia melihat beberapa tatapan curiga itu. "Dia punya satu tamu penting yang harus diajaknya. Aku nggak mau merepotkannya." Evelyn menundukkan kepalanya untuk melihat gaun yang sedang dia pegang dan ekspresinya terlihat sedikit masam. Selama ini Romeo tidak menyukai Violet, kenapa dia tiba-tiba .... Evelyn meremas gaunnya. Dia sudah lama menantikan acara malam ini, jadi dia tidak akan menyerah dengan mudah. ... Saat langit mulai menggelap, Romeo meminta sekretarisnya mengantarkan gaun hitam yang cantik dan mewah kepada Violet. Romeo sudah menunggu cukup lama di bawah, lalu dia melihat Violet perlahan-lahan turun dari lantai dua. Walaupun dia sudah melihat penampilan Violet ketika dia memakai gaun berwarna anggur merah kemarin, dia masih terpesona ketika dia melihat Violet memakai gaun hitam ini. Dulu dia tidak pernah menyadari kalau Violet sangat cantik. "Aku sudah selesai." Violet mendongak. Romeo memanyunkan bibirnya sebelum berkata, "Aku akan meminta Levi memajukan mobil." Violet tidak peduli. Saat dia membuka pintu, dia melihat Levi yang sedang menunggu di depan pintu. Levi juga terkejut melihat Violet. "Nyonya terlihat sangat cantik memakai gaun ini dan lebih cocok daripada Nona Evelyn." Romeo melirik Levi sekilas ketika dia mengungkit nama Evelyn. Levi menyadari kalau dia sudah salah bicara, jadi dia segera membungkam mulutnya. "Nggak apa-apa." Violet sama sekali tidak peduli, kemudian dia masuk ke dalam mobil. Romeo baru melototi Levi dan berkata, "Kamu nggak dapat bonus bulan ini!" Levi merasa sedih, tapi dia juga tidak berani berkata apa-apa. Ini salah mulutnya. Setelah mereka tiba di luar klub, Romeo membantu Violet turun dari mobil. Semua orang melihat dengan kaget dan iri pada kedua orang itu. "Siapa pasangan Tuan Romeo itu?" "Sepertinya itu istrinya." "Sepertinya dulu aku nggak pernah melihat Tuan Romeo dan istrinya datang ke acara bersama. Mereka berdua terlihat sangat serasi." ... Romeo meraih tangan Violet. Awalnya Violet ingin menarik kembali tangannya, tapi di sekitar ada banyak orang yang menatap. Jadi, dia terpaksa membiarkan Romeo. Violet melihat sekeliling dan menangkap banyak sekali wajah yang pernah dia bertemu di kehidupan sebelumnya. Romeo memang memiliki gengsi tertentu di dunia bisnis. Dia bahkan bisa menghadiri pesta internasional setingkat ini. Semua orang di sini adalah pengusaha papan atas, dermawan atau pengusaha sukses real estate di industri. Dulu untuk menyenangkan Romeo, Violet sengaja banyak belajar tentang keuangan. Namun, pada akhirnya itu sia-sia. Saat ini, suara kaca pecah menarik perhatian semua orang. Seorang lelaki tua yang berpakaian seperti tukang kebun tidak sengaja memecahkan vas bunga mawar, jadi manajer klub memarahi lelaki tua itu. Manajer itu berkata dengan arogan, "Dari mana orang tua ini muncul? Cepat seret dia keluar!" "Tunggu." Violet melangkah maju, kemudian mengambil bunga mawar di lantai. Duri pada mawar ini sudah tidak ada karena ia telah dipangkas orang dengan hati-hati. Tipe mawar ini juga sangat langka. "Nyonya Fernandez, orang tua ini sudah merusak bunga yang disiapkan Pak Thomas untuk semua orang dan mengejutkan para tamu. Aku akan meminta orang untuk mengusirnya." "Karena kakek ini sudah nggak sengaja memecahkannya, tolong siapkan yang baru." Violet berkata, "Karena Pak Thomas sudah secara khusus menyiapkan mawar ini, sayang sekali kalau hanya dilihat. Bagaimana kalau membiarkan setiap tamu perempuan mengambil satu tangkai? Dengan begitu, kita bisa lebih merasakan niat baik Pak Thomas." Semua orang mengangguk, kemudian manajer itu melambaikan tangannya kepada lelaki tua itu. Romeo mendekat, lalu berbisik, "Ternyata kamu pandai mengontrol suasana." Violet tidak merasa seperti itu. "Ini untuk membuat Pak Thomas senang." Di luar klub, Evelyn yang mengenakan gaun hitam turun dari taksi. Dia baru saja turun dari taksi, tapi dia sudah merasakan tatapan aneh dari orang-orang di sekitarnya. Evelyn tidak begitu memikirkannya dan ingin langsung masuk ke dalam klub. Satpam yang berdiri di depan pintu melihat Evelyn dan taksi yang tadi dinaikinya, kemudian dia berkata, "Nona, apa Anda memiliki undangan?" Evelyn yang hendak masuk tercengang. Dia tidak tahu kalau acara seperti ini memerlukan undangan. Dulu ketika dia bersama Romeo, dia boleh keluar masuk sesuka hatinya. Ini pertama kalinya dia ditahan oleh satpam di luar. "Maaf, Nona. Anda nggak boleh masuk kalau Anda nggak punya undangan." "Aku mencari Tuan Romeo. Aku adalah pasangannya." Evelyn tampak panik dan satpam itu memperhatikan Evelyn dari atas ke bawah. Dia berkata, "Tuan dan Nyonya Fernandez sudah masuk. Anda ...." Wajah Evelyn yang menyadari tatapan orang lain pun memerah. Levi yang dari tadi berdiri di luar klub telah melihat Evelyn. Dia segera menghampiri mereka, lalu berkata, "Maaf, ini adalah karyawan perusahaan kami." Satpam itu menganggukan kepalanya, kemudian dia baru melepaskan Evelyn. Evelyn menghela napas lega, tapi Levi berkata dengan tegas, "Nona Evelyn, kenapa kamu berada di sini?" "A ... aku datang untuk mencoba. Dulu Tuan Romeo selalu bilang aku terlalu pemalu. Beberapa bulan lagi, aku sudah mau pergi ke luar negeri. Jadi, aku ingin mencoba datang ke acara seperti ini. Kak Levi, apa kamu bisa membawaku masuk?" Levi bimbang sejenak. "Aku juga ingin pulang secepatnya agar aku bisa membantu Tuan Romeo. Kemarin Nyonya Fernandez pasti rugi besar setelah menghabiskan 20 triliun untuk tanah terlantar. Aku merasa Nyonya Fernandez nggak mengerti tentang keuangan, tapi di pesta ini ada banyak tokoh penting keuangan. Aku khawatir Nyonya Fernandez kewalahan saat dia menemani Tuan Romeo." Evelyn terdengar sangat pengertian. Pada akhirnya, Levi setuju. Violet tidak mengerti keuangan, jadi dulu Evelyn yang selalu menemani Romeo. Levi juga sangat menghormati Evelyn karena Evelyn memang cerdas. Evelyn masuk ke dalam klub dengan wajah berseri-seri. Kemudian, dia langsung melihat Romeo yang sedang berbicara dengan orang asing. Evelyn mengangkat gaunnya sedikit dan ingin berlari ke arah Romeo. Namun, dia malah menabrak seorang lelaki tua. Vas di tangan tukang kebun itu pun terjatuh dan semua air di dalam vas tumpah mengenai ujung gaun Evelyn. Evelyn tanpa sadar berteriak. Dia menundukkan kepalanya dan melihat gaunnya yang jorok. Lalu, raut wajah Evelyn berubah drastis. "Apa-apaan kamu? Apa kamu nggak punya mata?!" Bab 6 Suara Evelyn sangat besar. Dalam sekejap, suasana menjadi hening. Saat Evelyn tersadar, mata semua orang sudah tertuju padanya. Itu termasuk Romeo dan Violet. Sekarang ini, semua orang merasa Evelyn adalah wanita yang kejam dan tidak berpendidikan. Tukang kebun itu membungkuk dan memungut satu per satu mawar yang di lantai. Mulutnya tidak berhenti meminta maaf. Raut wajah Evelyn langsung berubah menjadi masam ketika dia menyadari tatapan semua orang. Lalu, dia buru-buru mengubah ekspresinya. Dia berkata dengan perasaan bersalah, "Maaf, maaf. Aku terlalu panik. Kakek, kamu baik-baik saja, 'kan?" Violet yang berdiri tidak jauh telah melihat pemandangan itu. Meskipun Evelyn ingin memperbaiki kesalahannya, dia sudah terlambat. Dia begitu hanya akan membuat orang merasa dia sedang berpura-pura. Saat ini, Evelyn juga telah memperhatikan Violet yang berdiri di sebelah Romeo. "Kenapa dia datang?" Romeo mengernyit. Violet melihat ekspresi Romeo. Sepertinya Romeo tidak tahu kalau Evelyn akan datang. Apa Evelyn datang sendiri? Violet terdiam. Plot ini berbeda dari kehidupan sebelumnya. Dia ingat dulu Romeo membawa Evelyn ke pesta malam ini. Setelah itu Evelyn mendapat persetujuan dari Pak Thomas, jadi kehidupannya di luar negeri sangat lancar. Setelah dia lulus, dengan dukungan Romeo dan Pak Thomas, dia pun mengalami kemajuan pesat. Awalnya, Violet mengira kali ini Romeo tidak mengajak Evelyn karena gadis itu tidak bisa datang. Ternyata, Evelyn datang sendiri. "Tuan Romeo!" Saat Levi mendengar kekacauan di dalam klub, dia bergegas masuk. Nada Romeo sudah terdengar kesal. "Siapa yang mengizinkannya masuk?" "Saya ...." Levi menundukkan kepalanya dan berkata, "Saya mengira Nona Evelyn bisa membantu Anda." Romeo mengusap alisnya. Dulu dia selalu bersikap lembut terhadap Evelyn. Namun, pada pesta kali ini, karena dia sudah membawa Violet, tidak seharusnya Evelyn muncul. "Nona Evelyn nggak mengenal tempat ini. Cepat periksa keadaannya." Violet meminum sampanyenya dengan acuh tak acuh. Romeo melihat Evelyn yang berdiri tidak jauh darinya panik seperti anak rusa. Pada akhirnya, dia tidak tega meninggalkan Evelyn sendirian. "Aku pergi mengeceknya dulu. Aku akan segera kembali." Violet tidak berkata apa-apa. Dia tidak terkejut kalau Romeo akan pergi. Dia tidak pernah bisa melepaskan Evelyn. Romeo bertanya, "Kenapa kamu datang?" Evelyn pun menundukkan kepalanya dengan murung. "Maaf .... Aku mau datang untuk melihat-lihat." Melihat Evelyn menunduk, Romeo menjadi tidak tega menegurnya lagi. Bagaimanapun juga, Evelyn adalah anak didikannya. Romeo selalu memperhatikan kerja kerasnya. "Aku akan meminta Levi mengantarmu pulang." Melihat Romeo hendak pergi, Evelyn buru-buru menarik lengan baju Romeo dan berkata, "Tuan Romeo, apa aku boleh tinggal?" Romeo mengerutkan keningnya. Dulu Evelyn sangat menurutinya dan memahami statusnya dengan baik. Dia tidak akan pernah mengatakan kata-kata yang keterlaluan seperti ini. Setelah Evelyn melihat tatapan mata Romeo, dia langsung tahu kalau Romeo tidak senang dengannya. "Maaf, Tuan Romeo .... Aku ...." Ekspresi Evelyn membuat Romeo merasa tidak tega. "Boleh. Pesta malam ini bisa membantumu ketika kamu pergi ke luar negeri." Setelah mendengar kata-kata Romeo, Evelyn tersenyum dengan manis. "A ... apa aku boleh mengikutimu?" Romeo melirik sekeliling. Sebenarnya dia juga tidak tenang meninggalkan Evelyn sendirian. "Ya." Evelyn sangat senang seperti anak kecil. Levi bertanya, "Tuan Romeo, bagaimana dengan Nyonya?" "Kamu pergi temani dia. Jangan sampai dia membuat masalah seperti kemarin." Romeo tahu kalau Violet sering menghadiri pesta malam. Orang yang tidak mengerti keuangan seperti Violet datang hanya untuk menghabiskan waktu. Yang penting dia tidak sembarangan menghabiskan uang seperti kemarin. Violet melihat Levi menghampirinya. Levi terlihat canggung, jadi Violet berkata, "Dia pergi menemani Evelyn, ya?" "Nyonya, Nona Evelyn adalah anak didikan perusahaan, jadi ...." "Ya, aku mengerti." Sepertinya Violet memahami hubungan Romeo dengan Evelyn. Levi pun menghela napas lega. Namun, dia tidak tahu apakah ini hanya perasaannya, tapi dia terus merasa Violet sudah berbeda dengan dulu. Evelyn yang berdiri di sisi Romeo berbicara dengan fasih di depan bos-bos lain dan Violet melihat semua itu. Walaupun nilai Evelyn tinggi, dia masih hanya seorang siswa. Di depan beberapa rubah tua yang sudah bertahun-tahun berkecimpung di dunia bisnis, sebenarnya apa yang dikatakan Evelyn tidak penting. Mereka hanya menunjukkan hormat kepada Romeo, jadi mereka memuji Evelyn. Namun, tak lama kemudian Evelyn mengalami kesulitan saat menghadapi seorang bos asing. Kalau Violet tidak salah ingat, orang ini adalah seorang tokoh keuangan yang terkenal di Negara Azulia. Satu-satunya hal yang buruk tentang tokoh besar ini adalah dia hanya bisa berbicara dalam bahasa ibunya. Dia tidak bisa bahasa asing. Kebetulan, penerjemahnya sedang tidak ada. "Tuan Romeo ...." Evelyn menggigit bibirnya sambil melirik Romeo. Romeo sedang berpikir bagaimana caranya mengatasi kecanggungan ini ketika Violet muncul dan langsung berbicara dengan orang asing ini dalam bahasa Negara Azulia dengan lancar. Orang asing itu tampak sangat senang ketika dia melihat Violet, kemudian dia langsung berjabat tangan dengan Violet. Evelyn baru memperhatikan Violet. Violet mengenakan gaun yang sama dengannya. Yang berbeda adalah gaun itu tampak cantik dan anggun pada tubuh Violet. Kalau dibandingkan, Evelyn seperti sedang mengenakan gaun murahan. Evelyn pun mengepalkan tangannya dengan kesal, tapi seulas senyuman tersungging di bibirnya. "Kak Violet sangat hebat. Kakak bahkan bisa bahasa Negara Azulia." Violet hanya tersenyum kepada Evelyn dan tidak menjawabnya. Romeo mengingat Violet bisa berbicara bahasa asing, tapi bahasa Negara Azulia tidak umum dan itu bukan bahasa internasional. Tidak banyak orang yang bisa dan Romeo tidak menyangka Violet bisa. "Tapi, Kak Violet, tadi apa yang kamu bicarakan dengan Tuan Stephen? Dia tampak sangat senang." Violet berkata, "Aku bilang kepadanya kalau tanah di kawasan laut tenggara yang dia beli di pelelangan beberapa hari lalu pasti akan laku, jadi dia sangat senang." "Tanah itu ... akan laku?" Evelyn tampak bingung. Dia merasa tanah itu biasa saja. "Mungkin." Violet menjawabnya dengan acuh tak acuh. Namun, di kehidupan lampau, harga jual tanah itu memang tinggi. Kawasan laut itu tiba-tiba berkembang menjadi tempat yang indah dan industri pariwisata di daratan itu benar-benar menghasilkan banyak uang. Sepertinya dari awal Tuan Stephen sudah tahu kalau kawasan laut itu akan berkembang, makanya dia membeli tanah di situ. Sedangkan Evelyn memang belum memiliki pandangan seperti itu. Romeo menatap Violet dan itu membuat Violet merasa canggung. "Ngapain kamu menatapku?" Romeo bertanya, "Bagaimana kamu bisa tahu kalau tanah itu akan laku?" Bab 7 Dilihat dari ekspresi Romeo, sepertinya dia sudah tahu kalau tanah itu akan laris manis. Hanya saja, Romeo menyerah untuk membeli tanah tersebut dan memilih untuk menyerahkannya kepada Stephen agar hubungan mereka makin erat. Ini lebih mirip dengan gaya Romeo. Violet berkata dengan serius, "Aku hanya mau memujinya. Kamu berpikir terlalu banyak." Romeo mengerutkan alisnya. Dia seakan-akan sedang berpikir apakah Violet mengatakan yang sebenarnya atau tidak. Namun, dengan kecerdasan Violet, bagaimana mungkin dia bisa tahu berapa nilai tanah itu dalam beberapa tahun ke depan. Romeo merasa dirinya sudah berpikir terlalu banyak. "Lebih baik memang seperti itu." Romeo pun tidak menghiraukan Violet lagi. Dia menuntun Evelyn untuk mengenal orang lain. Sebelum Evelyn pergi, dia tersenyum kepada Violet dan terlihat merasa bersalah. Meskipun Evelyn sudah berusaha menyembunyikan tatapan matanya, Violet tetap bisa melihat kesombongan di dalam senyuman Evelyn. Violet meminum habis sampanyenya. Di mata orang lain, sekarang dia adalah wanita yang gagal menjaga suaminya. Suaminya tidak hanya meninggalkan istri barunya untuk menemani wanita lain, tapi dia juga memperkenalkan wanita itu kepada pengusaha-pengusaha lain. Apa ada yang lebih memalukan daripada Violet? Violet merasa sedih. Awalnya dia ingin mengambil kesempatan ini untuk berkenalan dengan beberapa bos besar. Namun, begitu Romeo pergi, dia kesulitan untuk mendekati orang-orang. Bagaimana dia bisa mendekat pengusaha-pengusaha lain tanpa terlihat disengaja? Violet menyapu pandangannya, lalu matanya tertuju pada sebuah piano yang terletak tak jauh darinya. Violet perlahan-lahan tersenyum. Dia ada ide! Violet berjalan mendekati piano itu dengan langkah anggun. Dia menyapa pianis yang sedang bermain sebelum dia duduk. Sebagai nona muda Keluarga Gloria, dia harus belajar banyak hal sejak kecil. Di kehidupan lampaunya, dia tidak pernah menggunakan kemampuannya. Dia tidak menyangka ini menjadi berguna sekarang. Violet sudah lama tidak bermain piano, jadi tangannya agak kaku. Akan tetap, kebiasaan sulit diubah. Beberapa saat kemudian, tuts piano mulai naik dan turun sesuai dengan mainan Violet. Musik piano yang merdu langsung mengisi seluruh ruangan pesta dan ia sangat cocok dengan suasana sekarang. Semua orang terdiam karena musik piano yang tiba-tiba ini. Banyak orang yang menoleh ke arah piano. Setelah satu lagu selesai, semua orang bertepuk tangan. Evelyn melihat Romeo dan seorang pengusaha berhenti berbicara. Pandangan Romeo tidak pernah berpaling dari Violet. Evelyn sengaja berkata, "Kak Violet sangat hebat. Dia juga bisa bermain piano." "Bagaimanapun juga, dia telah belajar piano sampai level 10," ucap Romeo dengan datar. Banyak orang kalangan kelas atas seperti mereka bisa bermain piano. Bisa belajar sampai level 10 juga merupakan hal yang biasa. Jadi, bisa dibilang orang-orang yang hadir malam ini memahami musik. Mampu mendapat tepukan tangan sebanyak ini berarti Violet memiliki banyak pencapaian dalam musik. Piano level 10 diucapkan oleh Romeo dengan enteng. Evelyn baru menyadari kesenjangannya dengan Violet. Awalnya dia mengira Violet hanya beruntung dan cantik, tapi dia tidak punya kelebihan yang lain. Namun, sepertinya Evelyn salah. Dia sangat salah. Selesai bermain piano, banyak istri orang kaya yang mencari Violet untuk mengobrol dengannya. Meskipun dia tidak bisa langsung berhubungan dengan pengusaha-pengusaha besar, setelah dia berteman dengan istri-istri mereka, dia bisa mengenal para pengusaha dengan lebih mudah. "Ternyata Nona Violet memiliki keterampilan. Dia bermain dengan bagus." William sedang menopang dirinya di atas pagar koridor pojok. "Memang indah." Charles setuju. "Apa seorang tuli nada sepertimu memahami musik?" "Nggak, tapi aku suka." Dia tidak paham musik, tapi karena piano itu dimainkan oleh Violet, dia baru bersikap berbeda. Violet sedang berjalan ke toilet. Ketika dia mencapai sebuah belokan, sebuah tangan menariknya ke pojok yang gelap. Violet ingin langsung berteriak dan meminta tolong, tapi mulutnya ditutup oleh pria di belakangnya. "Jangan bergerak," bisik pria itu. Violet merasakan dada bidang yang hangat di punggungnya, lalu dia mengontrol napasnya sebelum dia menggigit tangan pria itu. "Aduh!" Pria itu kesakitan. "Kamu benar-benar menggigitku?" Pria itu pun melepaskan Violet. Violet segera menjauhkan dirinya dari pria itu. Setelah dia melihat orang di hadapannya dengan saksama, dia tercengang. "Charles?" "Kamu kira siapa?" "Kenapa kamu bersikap mencurigakan?" "Aku diam-diam masuk dan takut tertangkap." "Yang benar saja? Pak Thomas adalah ...." Kata-kata itu sudah di ujung lidahnya, tapi Violet bergegas menutup mulutnya. Charles mengangkat alisnya. "Apa?" Violet menatap Charles untuk sesaat, kemudian dia mengalihkan pandangannya dengan segan. Di kehidupan sebelumnya, setelah Pak Thomas meninggal, dia menyerahkan semua hartanya kepada Charles. Setelah itu, Violet juga baru mengetahuinya. Sekarang, belum ada yang tahu kalau Charles adalah cucunya Pak Thomas. "Aku bilang Pak Thomas baik. Lagi pula, kamu adalah pengusaha sukses dari luar negeri. Meskipun kamu diam-diam masuk, nggak ada yang berani berkata apa-apa." "Mungkin. Tapi, aku suka berhati-hati." Violet berkata, "Kamu diam-diam masuk bukan untuk memberitahuku ini, 'kan?" Dia tidak merasa Charles adalah orang yang begitu kurang kerjaan. "Untukmu." Charles menyerahkan kontrak yang sedang dia pegang kepada Violet. Violet menundukkan kepalanya. Itu adalah kontrak mengenai pinjaman 16 triliunnya. "Hanya untuk ini?" Charles menganggukkan kepalanya. "Kurang kerjaan." Violet langsung menandatangani kontrak tersebut, kemudian melempar kontrak itu ke arah Charles. Bisa-bisanya Charles sengaja menyelinap masuk hanya untuk memberikannya kontrak. Mereka bahkan berada di depan toilet wanita! "Sebagai krediturmu, aku boleh bertanya, 'kan?" "Apa?" "Kenapa kamu mau menghabiskan 20 triliun untuk membeli tanah itu?" Suara Charles rendah dan ketika dia berbicara, dia selalu seperti sedang menyihir orang. Jadi, itu membuat orang ingin menjawab pertanyaannya. Violet pun memanyunkan bibirnya. "Aku nggak bisa memberitahumu sekarang." "Kalau aku memaksa?" Dia bisa melihat kalau Violet punya rencana lain dengan membeli tanah itu. Akan tetapi, dia tidak bisa melihat bagian mana dari tanah itu yang bernilai 20 triliun. Ini jelas-jelas merupakan kesepakatan yang merugikan, tapi di mata Violet, Charles merasa tanah itu akan bernilai lebih dari 20 triliun di masa depan. "Kalau aku bilang harga tanah itu akan menjadi tinggi dalam setengah tahun, apa kamu percaya?" "Nggak." Setidaknya sekarang Charles belum bisa melihatnya. "Bagaimana kalau aku bilang properti kelas atas di sekitar area itu akan mulai dijual?" "Properti kelas atas apanya?" Charles mengernyit. Kenapa dia tidak pernah mendengarnya? "Sebentar lagi kamu akan tahu." Violet tersenyum, lalu dia melewati Charles untuk masuk ke toilet. Charles berjalan ke aula dengan kening berkerut. William bertanya, "Dia sudah menandatanganinya?" "Sudah." "Kenapa alismu berkerut sekali?" "Apa ada properti kelas atas di sekitar tanah yang dibeli Violet?" "Nggak." "Pergi cari tahu tanah di sekitar tanah terlantar itu milik siapa. Lebih cepat, lebih bagus." "Tanah terlantar itu dikelilingi oleh area pembuangan limbah. Nggak ada yang perlu diselidiki. Jangankan properti kelas atas, bahkan nggak ada yang mau membangun lapangan basket." Charles tercengang. "Area pembuangan limbah?" Bab 8 Beberapa menit kemudian, Evelyn keluar dari toilet dengan ekspresi masam. Saat ini dia sudah mengganti pakaiannya menjadi gaun putih. Romeo bertanya, "Ada apa?" "Tadi aku mengganti pakaianku di toilet. Ketika aku keluar, aku melihat Kak Violet." "Violet?" Evelyn menganggukkan kepalanya. Lalu, Evelyn berkata, "Aku melihat Kak Violet bersama pria yang waktu itu. Mereka terlihat dekat ...." Setelah mengatakan itu, Evelyn memperhatikan raut wajah Romeo. Kemudian, dia buru-buru berkata, "Tapi, aku mungkin salah melihat. Bagaimana mungkin Kak Violet mengenal orang seperti Charles Griffin .... Dengar-dengar, Charles bukan orang baik." "Violet ...." Nada Romeo menjadi sinis. Kemarin dia sudah bisa melihat kalau Charles tertarik pada Violet. Apa wanita itu tidak bisa menjauh dari bahaya? Kenapa dia mau mendekati orang jahat seperti Charles? Entah kenapa Romeo merasa panik. Violet barusan keluar dari toilet dan dia mendapati Romeo sedang menatapnya dengan ekspresi kesal dan tatapan yang mencurigakan. "Ngapain kamu tadi?" tanya Romeo. "Aku? Tadi aku masuk toilet." Violet kebingungan. Evelyn maju, kemudian dia menarik tangan Violet dan berkata, "Kak Violet, tadi aku melihatmu. Charles Griffin bukan orang baik. Kak Violet jangan sampai tertipu olehnya." Violet tanpa sadar menarik kembali tangannya. Tangan Evelyn pun membeku di udara. Lalu, dia berkata dengan sedih, "Kak Violet, aku bukan sengaja mau mengadu kepada Tuan Romeo. Tapi, Charles benar-benar bukan orang baik." "Aku tahu orang macam apa Charles. Orang lain nggak usah membantuku menilainya." Sikap Violet sangat dingin. "Aku ...." Evelyn menggigit bibirnya dan dia terlihat sakit hati. Romeo pun berkata dengan sinis, "Evelyn hanya memikirkanmu. Kamu nggak tahu apa-apa, tapi kamu malah pergi menyinggung orang yang nggak patut kamu singgung." Evelyn menarik-narik lengan baju Romeo. Dia seolah-olah menyalahkan Romeo menegur Violet terlalu keras. Violet melihat semua itu. Orang yang tidak tahu mungkin bisa mengira kalau Evelyn barulah istrinya Romeo. "Pokoknya, lebih baik Kak Violet jangan mendekati Charles. Kak Violet adalah putri yang terhormat, sedangkan pria itu adalah orang biadab yang nggak berpendidikan. Kak Violet nggak boleh terlibat dengannya." Tuk! Tiba-tiba, terdengar suara tongkat menghantam tanah di kejauhan. Semua orang menoleh ke arah suara itu. Mereka langsung melihat ada seorang lelaki tua berambut putih sedang berdiri di tengah-tengah aula. Violet menoleh dan dia merasa lelaki tua itu terlihat familier. Dalam sekejap, dia mengenali kalau lelaki tua itu adalah tukang kebun yang tadi menjatuhkan vas bunga di aula. Saat ini lelaki tua itu mengenakan jas dan sepatu kulit. Ada dua pengawal berdiri di belakangnya. Lelaki tua itu tampak sangat berwibawa. Dia mempunyai sepasang mata yang tegas dan tajam sehingga membuat orang tidak berani mendekatinya. "Para tamu sekalian, ini Pak Thomas Griffin." Pengawal yang berdiri di sebelah memperkenalkan lelaki tua itu. Orang-orang di sekitar pun mengangkat gelas mereka untuk menunjukkan hormat. Saat ini, hanya wajah Evelyn seorang yang tampak pucat. Lelaki tua yang tadi dia bentak ternyata adalah Pak Thomas! Tak lama kemudian, Charles muncul dari belakang Pak Thomas. Dia berdiri di sebelah Pak Thomas dan memegang lengannya. Violet mendadak mempunyai firasat buruk. Charles menatap Violet dan tersenyum ke arahnya. "Hari ini aku mengundang kalian semua untuk memberi tahu kalau Charles adalah cucu Thomas Griffin. Dia adalah satu-satunya pewaris Keluarga Griffin." Pak Thomas mengarahkan matanya yang sinis ke Evelyn. Tatapan itu pun membuat Evelyn merinding. Pak Thomas berkata dengan sinis, "Dia bukan orang biadab yang nggak berpendidikan." Semua orang kaget dan hanya jantung Violet yang berdebar. Tidak! Waktunya salah! Kenapa bisa menjadi seperti ini? Bab 9 Menurut garis waktu, identitas Charles tidak akan diumumkan sampai kematian Pak Thomas tiga tahun kemudian. Jangan-jangan kelahiran kembali Violet tanpa sengaja mengubah segalanya? Saat ini, wajah Evelyn menjadi pucat pasti karena ucapan Pak Thomas. Bukankah Charles adalah anak yatim piatu? Bagaimana mungkin dia adalah cucunya Pak Thomas? Kalau begitu, apakah Pak Thomas mendengar apa yang barusan dikatakan Evelyn? Kalau Evelyn menyinggung Pak Thomas, untuk seumur hidupnya dia tidak akan bisa melakukan apa-apa lagi di dunia keuangan. Setelah memikirkan itu, Evelyn melihat Romeo dan meminta bantuan. "Pak Thomas, Evelyn hanya salah bicara. Karena dia masih muda, semoga Pak Thomas bisa memaafkannya." Pak Thomas mendengus sebelum dia berkata, "Dengar-dengar ada seorang genius di sisi Tuan Romeo. Sekarang setelah aku melihatnya, sepertinya dia biasa saja." Wajah Evelyn memucat. Jelas sekali kalau Evelyn telah kehilangan dukungan Pak Thomas Violet melihat semua itu. Kali ini meskipun Romeo mengatakan sesuatu, itu tidak berguna. Evelyn sudah mengatai cucu orang. Dia tidak langsung diusir keluar sudah termasuk baik. Romeo pun memanyunkan bibirnya dan diam. Ketika Pak Thomas melihat Violet, tatapan matanya menjadi lembut. "Kamu dari Keluarga Gloria?" Violet tersentak. Ketika dia melihat Pak Thomas berinisiatif berbicara dengannya, dia menganggukkan kepalanya. "Namaku Violet Gloria." "Dulu tampang kakekmu biasa-biasa saja, tapi cucunya sangat cantik. Empat puluh tahun yang lalu, aku dan kakekmu pernah bersumpah menjadi saudara. Dalam sekejap mata, kamu sudah dewasa." Bersumpah menjadi saudara? Di dalam ingatan Violet, kakeknya adalah orang yang riang dan tidak pernah bertanya tentang masalah keluarga. Kakeknya juga sudah lama meninggal. Jadi, dia tidak pernah mendengar kakeknya mengenal Pak Thomas. Saat Violet tidak tahu bagaimana cara menjawabnya, Pak Thomas bertanya lagi, "Apa kamu sudah menikah?" Violet menganggukkan kepalanya. "Sudah." "Dengan siapa kamu menikah?" Violet melirik Romeo. Ketika Pak Thomas melihat Romeo, ekspresinya langsung menjadi masam. "Apa yang bagus dari cucu Edgar Fernandez?!" Ketika mendengar kata-kata Pak Thomas, Romeo juga hanya tersenyum. "Saat Kakek masih hidup, dia sering mengungkit Pak Thomas. Sepertinya dulu hubungan kalian dekat." "Siapa yang dekat dengannya?!" Mereka saling mengobrol dengan lancar dan hanya Evelyn yang berdiri di samping dengan canggung. Dia seolah-olah menjadi angin yang tidak dianggap. Setelah Pak Thomas pergi, Evelyn menarik lengan baju Romeo dan berkata, "Tuan Romeo, aku mau pergi." Romeo melihat langit gelap di luar, lalu berkata, "Aku akan mengantarmu." Evelyn bertanya, "Bagaimana dengan Kak Violet?" Romeo menoleh ke Violet yang sedang berbicara dengan ceria bersama Pak Thomas tak jauh darinya, lalu berkata dengan sinis, "Dia bisa pulang sendiri." Evelyn melihat Violet dengan iri. Kenapa Violet bisa memenangkan hati orang tua itu? Ini sama sekali tidak adil. Violet melihat Romeo meninggalkan klub bersama Evelyn. Levi menghampirinya, kemudian berbisik, "Tuan Romeo mengantar Nona Evelyn pulang ke asrama." "Aku tahu." Levi mengira Violet akan menangis ketika mendengar kabar ini, tapi ternyata reaksi Violet sangat tenang. Charles yang berdiri di sebelah berkata, "Romeo pergi mengantar pulang gadis itu, ya?" Violet juga tidak merasa malu. "Bukankah itu sudah jelas sekali?" Bukan hanya dia yang melihatnya, tapi semua orang. Romeo sudah berulang kali tidak menghiraukan Violet yang merupakan istrinya. Dia bahkan pergi mengantar pulang wanita lain secara terang-terangan dan malah meninggalkan istrinya di pesta sendirian. Entah rumor seperti apa yang akan beredar di kalangan istri orang kaya besok. "Kamu nggak marah?" "Nggak." Di kehidupan lampaunya, dia sudah cukup peduli pada Romeo. Sekarang dia tidak akan membiarkan dirinya melakukan kesalahan yang sama. Charles menatap sisi wajah Violet. Meskipun Violet terlihat tidak peduli, Charles masih bisa melihat tatapan Violet tampak sedikit kesepian. "Nona Violet, apa aku boleh mengantarmu pulang?" Langit sudah gelap dan Violet sudah menetap cukup lama di tempat ini. Levi yang berdiri di samping berkata, "Tuan Charles, lebih baik saya yang mengantar Nyonya pulang." Charles tidak menghiraukan Levi, tapi menunggu jawaban Violet. Violet berdiri. "Terima kasih, Tuan Charles." Charles seperti seorang gentleman dan berdiri di sebelah Violet. Mereka meninggalkan Levi berdiri sendirian di kerumunan. Bagaimana Levi menjelaskan ini kepada Romeo? Violet masuk ke dalam mobil bersama Charles. Yang menyetir mobil adalah William. Hanya Charles seorang yang bisa membuat Tuan Muda Keluarga Airlangga menjadi sopir. "Kak, aku sudah menunggumu di luar berjam-jam. Ternyata, kamu merayu wanita di dalam?" Violet bisa melihat William benar-benar tercengang dari cerminan kaca jendela. Charles berkata dengan tenang, "Antar Nona Violet pulang ke rumahnya." "Woi, nanti kita mau pergi ke ...." Sebelum William sempat menyelesaikan kalimatnya, Charles menendang bagian belakang kursi pengemudi. William menangkap tatapan peringatan Charles dari cerminan kaca, jadi dia langsung membungkam mulutnya. "Apa nanti kalian punya urusan yang perlu ditangani?" "Itu nggak begitu penting." "Sebenarnya kamu nggak usah mengantarku. Aku bisa pulang sendiri." "Kota Poseidon kelihatan tenang, tapi sangat berbahaya. Terutama kamu adalah istrinya Romeo." Violet mengangkat alisnya sambil berkata, "Tuan Charles, kamu dan Romeo berbeda. Dia adalah pengusaha yang jujur." Charles membalas dengan datar, "Kota ini ada bermacam-macam orang. Romeo mungkin nggak sebersih yang kamu kira." Violet tidak bisa membalas ucapan Charles. Di kehidupan sebelumnya, dia telah menikah dengan Romeo selama bertahun-tahun. Namun, Romeo tidak pernah mengizinkannya bertanya tentang urusan Keluarga Fernandez. Meskipun di permukaan Romeo terlihat seperti pengusaha yang jujur, bagaimana mungkin seorang pria yang sangat berkuasa di Kota Poseidon itu bersih? Romeo hanya menyembunyikannya lebih dalam. Sebaliknya, Charles tidak repot-repot menyembunyikannya. Lagi pula, dengar-dengar Charles tidak punya kelemahan. "Nona Violet, kita sudah sampai." William menghentikan mobil di depan gerbang Kediaman Fernandez. Lampu-lampu di Kediaman Fernandez masih padam. Itu berarti pada saat ini Romeo belum pulang. "Terima kasih Tuan Charles. Terima kasih Tuan William." Lalu, Violet turun dari mobil. Setelah Charles melihat Violet masuk ke dalam Kediaman Fernandez, dia baru menurunkan kaca jendela dan berkata kepada William, "Ayo pergi." "Kamu masih tahu kita harus pergi, ya. Apa kamu lupa kita ada janji dengan Jeffry pada jam 12?" William melihat waktu, kemudian berkata, "Kita sudah terlambat!" "Biarkan dia menunggu." Charles berkata dengan sinis, "Kalau anak berengsek itu gagal mengeluarkan barang, aku akan memotong tangannya." Violet baru membuka pintu dan dia sudah merasakan ada yang tidak beres. Bu Martha tahu kalau Violet takut gelap, jadi Bu Martha akan menyalakan lampu ruang tamu untuk Violet. Namun, pada saat ini, ruang tamu malah gelap gulita. "Romeo? Apa kamu sudah pulang?" Violet menunggu, tapi tidak ada yang menyahutnya. Violet menyadari ada yang aneh, jadi dia bersiap-siap untuk pergi. Tiba-tiba, sebuah tangan menutup mulutnya dari belakang. "Dasar wanita jalang! Ini gara-gara kamu! Aku jadi nggak punya uang!" Violet ingin meronta, tapi lawannya terlalu kuat. Violet meronta sambil mengeluarkan korek api dari tasnya, kemudian dia membakar pergelangan tangan pria itu. Pria itu menjerit kesakitan, setelah itu dia mundur beberapa langkah. Violet pun bergegas berlari ke luar. Romeo! Romeo! Di dalam hati, Violet terus-menerus memanggil nama itu. Dia berlari sambil mengambil ponselnya, kemudian dia menelepon Romeo. "Halo?" "Romeo! Di mana kamu? Cepat pulang! Di rumah ada ...." Sebelum Violet sempat menyelesaikan kalimatnya, ponselnya jatuh. Sebuah mobil hitam berhenti di depan Violet. Lampu mobil menyilaukan mata Violet sehingga dia tidak bisa membuka mata. Romeo yang berada di ujung telepon mengernyit. "Violet?" "Kalau kamu ingin menyelamatkan istrimu, serahkan 20 triliun sebagai imbalan!" Mata Romeo langsung menjadi menyeramkan dan teleponnya sudah dimatikan. "Tuan Romeo, apa yang terjadi?" Evelyn yang berada di sebelah menyadari ada yang aneh dengan tatapan mata Romeo. Romeo menggertakkan giginya dan berkata, "Pulang ke rumah." Sopir tercengang. "Tapi, Tuan Romeo, kita hampir sampai di gedung asrama." "Aku menyuruhmu pulang!" "Baik, Tuan Romeo!" Evelyn tidak pernah melihat Romeo sepanik ini. "Sesuatu telah terjadi pada Violet." "Kak Violet? Apa yang terjadi dengan Kak Violet?" Romeo tidak punya waktu untuk menghiraukan Evelyn. Tadi dia merasa suara itu terdengar familier, tapi dia tidak bisa mengingat di mana dia pernah mendengar suara itu. Di tengah malam yang gelap, William sudah memarkir mobilnya di luar pabrik mobil yang terlantar. Charles turun dari mobil, tapi dia melihat Jeffry Julius dan yang lainnya belum sampai. William menggerutu, "Sialan. Berani-beraninya Jeffry datang lebih telat daripada kita. Sepertinya dia sudah bosan hidup." Charles menyalakan sebatang rokok. Kemudian, sebuah mobil van muncul dari kejauhan. Jeffry bahkan merangkak keluar dari mobil. "Tuan Charles! Tuan William! Ta ... Tadi saya ada urusan, jadi saya terlambat." Senyuman Jeffry bergetar. "Di mana uangku?" tanya William. "Tuan William, Tuan Charles, biarkan saya menjelaskan. Ini semua gara-gara seorang wanita jalang! Tadi saya sudah mengutus orang untuk pergi menculiknya, makanya aku telat. Tuan Charles ...." William berkata dengan kesal, "Tunggu, tunggu. Siapa yang bertanya? Aku hanya ingin barang kami." "Ba ... barang itu telah dibeli seorang wanita jalang! Tapi, nggak apa-apa. Suaminya kaya. Saya sudah menyuruh orang menelepon suaminya dan meminta 20 triliun kalau dia mau menyelamatkan istrinya. Uang itu jauh lebih berharga daripada tanah itu!" Charles berkata dengan sinis, "Kalau begitu, cepat. Waktuku berharga." "Anda tenang saja! Saya sudah bilang kepada Romeo Fernandez kalau dalam satu jam dia nggak memberikan saya 20 triliun, saya akan membunuh istrinya!" Charles langsung membelalakkan matanya. Dia melangkah maju, kemudian menarik kerah baju Jeffry. Suaranya sangat mengerikan ketika dia berkata, "Siapa katamu?" "Ro ... Romeo Fernandez ...." Jeffry gemetar ketakutan karena Charles. Suara Charles menjadi makin sinis. "Siapa yang telah kamu culik?" "Nona Muda Keluarga Gloria, Violet Gloria! Dia adalah istrinya Romeo Fernandez! Ini gara-gara dia merampas tanah yang harga awalnya baru beberapa triliun, makanya aku ...." Tanpa menunggu Jeffry selesai bicara, Charles menendang dada Jeffry sehingga Jeffry terhempas ke belakang. Nada Charles terdengar sangat berbahaya saat dia bertanya, "Di mana dia?" Bab 10 William mengendarai mobilnya ke sebuah gedung yang belum selesai dibangun tidak jauh dari tempat awal mereka. "Sialan. Bagaimana si Jeffry berengsek itu bisa kepikiran mengurung orang di tempat mengerikan seperti ini?" William melihat sekeliling. Tempat ini gelap gulita dan dia tidak bisa mendengar suara lain. Hanya ada gema dari kata-kata yang barusan dia katakan. Charles menyeret Jeffry turun dari mobil. Jeffry tersandung beberapa kali sebelum dia bisa berdiri. William menendang Jeffry sembari berkata, "Katakan! Di mana orangnya!" "Me ... mereka yang menyembunyikannya. Awalnya kami ingin memberi pelajaran kepada wanita ja ... Nona Violet. Kami berencana setelah kami menerima uang, kami mau meledakkan gedung ini. Selain Romeo mati, kami bahkan mendapat jumlah uang yang besar. Kami merasa itu akan membantu Tuan Charles. Saya benar-benar nggak menyangka ternyata Nona Violet dan Tuan Charles adalah teman ...." "Apa? Kamu mau meledakkan gedung ini?" William membelalakkan matanya dan bertanya, "Apa kalian memasang bom waktu?" Jeffry mengangguk ketakutan. Sekujur tubuhnya gemetar dengan hebat. Mata Charles seperti laser. Saat Jeffry melihat sepasang mata itu, dia menelan ludah. "William, ikat dia baik-baik. Kalau gedung ini meledak, aku mau dia mati duluan." Jeffry segera berlutut dan memohon. Pada akhirnya, dia tetap diikat oleh William. Gedung yang belum selesai ini terlihat sangat berantakan. Sekarang Charles sudah memastikan kalau Violet baik-baik saja. Yang paling penting saat ini adalah membongkar bom yang ditanam di gedung ini. Pada saat ini, sebuah mobil Bentley hitam muncul. Charles langsung tahu kalau pemilik mobil itu adalah Romeo. "Tuan Romeo, di mana ini? Aku takut ...." Evelyn yang ketakutan memeluk lengan Romeo. Romeo menepuk punggung tangan Evelyn dan berkata, "Kamu tinggal di dalam mobil saja. Jangan keluar." Evelyn menganggukkan kepalanya. William melihat Romeo turun dari mobil, kemudian dia mendengus. "Istrimu sudah diculik, tapi kamu masih punya waktu untuk bermesraan dengan kekasihmu?" "Sebenarnya siapa yang menculik Violet?" Romeo mengalihkan pandangannya ke Charles, kemudian berkata, "Kalau aku nggak salah ingat, Jeffry Julius adalah bawahanmu." Charles berkata dengan sinis, "Dia bertindak sendiri." William terlihat sangat gelisah. "Tuan-Tuan, kenapa kalian masih berbicara? Kalian nggak mau menghentikan bom?" "Bom?" Romeo langsung menjadi gugup. "Sebuah bom telah dipasang di gedung ini. Aku dan William akan pergi mencari bom, sedangkan kamu pergi mencari Violet. Setelah kamu menemukan Violet, segera pergi." Setelah mendengar perkataan Charles, Jeffry yang telah diikat berkata dengan suara gemetar, "I ... itu nggak berguna. Saya meminta mereka untuk membunuh orang tanpa meninggalkan bukti apa pun. Jadi, tiga bom telah dipasang di gedung ini. Dan bomnya akan meledak dalam 15 menit ...." "Apa katamu?! Kenapa sekarang kamu baru memberi tahu kami hal yang begitu penting ini?!" William menarik kerah baju Jeffry. Dia ingin sekali membunuh berengsek ini sekarang juga. Jeffry yang sudah dihajar dua kali tidak berani mengangkat kepalanya. "Sudah nggak sempat menghentikan bomnya. Kita harus segera menemukan Violet!" Setelah Charles mengatakan itu, dia berlari masuk ke dalam gedung belum selesai itu bersama William. Romeo berkata kepada sopirnya, "Bawa Evelyn pergi dari sini. Tunggu kabar dariku!" "Baik, Tuan Romeo!" Sopir mengendarai mobil keluar dari gedung belum selesai itu. Evelyn bertanya, "Apa sekarang Kak Violet dalam bahaya?" "Ya. Nona Evelyn, Anda jangan berlari ke mana-mana. Di dalam ada bom waktu." Evelyn menganggukkan kepalanya. Dia menoleh ke arah gedung belum selesai itu. Sebuah pikiran jahat mendadak muncul di dalam benaknya. Lebih baik Violet mati saja! "Violet! Violet! Jawablah kalau kamu mendengarku!" Di dalam gedung belum selesai, Violet perlahan-lahan membuka matanya. Sepertinya itu suara Romeo. Dia menggelengkan kepalanya. Bagaimana mungkin Romeo datang? Sepertinya saat ini dia sedang bermesraan dengan Evelyn. "Violet!" Awalnya Violet merasa kepalanya sangat berat. Setelah dia mendengar suara Charles, dia segera membuka matanya. Charles? Saat dia mendengar dengan saksama, di sekitar juga ada suara William dan Romeo. Jangan-jangan Romeo benar-benar telah datang? Violet melihat sekeliling dengan saksama. Dia menyadari dia telah dikurung di sebuah kamar yang gelap. Di luar hanya ada cahaya rembulan lemah yang masuk. Dia bisa melihat keseluruhan bagian luar dengan jelas. Ini adalah sebuah gedung yang belum selesai dibangun! "Mm! Mmm!" Violet ingin berteriak, tapi mulutnya ditutup solasiban. Sialan! Sebenarnya siapa yang menculiknya? Violet berusaha melepaskan ikatan talinya, tapi ini tali nilon. Dia tidak bisa melepaskannya sama sekali. 'Nggak bisa. Violet, kamu harus tenang.' Violet menarik napas dalam-dalam, lalu dia melihat sekeliling dengan teliti. Dari tadi dia sudah mendengar suara tik ... tik .... Tiba-tiba, sebuah alarm berbunyi di dalam kepala Violet. Itu bom! Violet segera menjatuhkan tubuhnya, kemudian dia merangkak ke luar. Ketika dia berhasil merangkak keluar dari ruangan berlubang ini, sebuah koridor menyambutnya. Sepertinya tempat ini berjarak lebih dari sepuluh lantai dari bawah. Violet membenturkan kepalanya ke tiang di sebelahnya. Dia berharap Romeo dan yang lainnya dapat mendengar suara ini. Beberapa saat kemudian, Violet mendengar suara langkah kaki. Suara itu membuat Violet tercengang. Sepertinya itu bukan suara sepatu kulit laki-laki, tapi sepatu hak tinggi. Violet mendongak dan melihat Evelyn sedang berjalan menghampirinya. Wajah Evelyn tampak agak masam. Dia baru turun dari mobil dan masuk ke dalam gedung belum selesai ini. Dia melihat Violet berada di lantai atas. Selama Violet mati, posisi Nyonya Fernandez menjadi kosong. Selama Violet mati, tidak ada lagi yang menghalangi hubungannya dengan Romeo. Evelyn menghampiri Violet, lalu dia seolah-olah ingin mendorong Violet. Violet menyadari ada yang janggal, tapi dia tidak tahu apa itu. Di kejauhan, Romeo juga sudah menemukannya. "Violet!" Ketika mendengar suara Romeo, Evelyn segera berjongkok. Dia melepaskan lakban di mulut Violet, kemudian berkata, "Kak Violet, apa kamu baik-baik saja? Aku akan melepaskanmu." Violet memperhatikan ekspresi khawatir Evelyn dengan curiga. Namun, sepertinya tadi dia telah salah sangka. "Kenapa kamu naik?" Romeo mengernyit ketika melihat Evelyn juga telah ikut naik. "Bukankah aku menyuruhmu tunggu di mobil?" "Aku juga mengkhawatirkan Kak Violet, jadi aku ingin mencarinya bersamamu." Evelyn tampak agak murung. Violet berkata, "Ada bom di sini. Di mana Charles dan William? Suruh mereka cepat keluar!" "Ayo." Romeo menggendong Violet, kemudian dia berteriak kepada Charles dan William yang masih mencari Violet. "Aku sudah menemukan Violet! Cepat pergi dari sini!" Charles dan William mendengar suara Romeo. Mereka berdua saling bertatapan sebelum mereka segera turun ke bawah. William bertanya, "Bagaimana dengan Jeffry?" Charles berkata dengan sinis, "Tinggalkan dia." William menggeleng-geleng kepalanya. Siapa yang menyuruh Jeffry menyinggung Charles? Evelyn mengikuti di belakang Romeo. Evelyn merasa cemburu ketika dia melihat Romeo menggendong Violet. "Ah!" Evelyn tiba-tiba berteriak. Romeo menoleh dan melihat sepatu hak tinggi Evelyn patah. "Tuan Romeo, maaf .... Sepertinya kakiku terkilir." Melihat itu, Violet pun berkata dengan datar, "Turunkan aku. Aku baik-baik saja." "Kamu yakin?" "Ya." Setelah mendengar jawaban Violet, Romeo baru menurunkan Violet. Kemudian, dia berbalik untuk menggendong Evelyn. Charles yang sudah tiba di lantai yang sama melihat pemandangan itu. Dia langsung menyadari kalau kaki Violet terluka. Seharusnya itu karena tadi Violet berusaha melepaskan tali nilon yang mengikatnya. Tanpa basa-basi, Charles menggendong Violet. Violet terkejut. "Ngapain kamu?" Charles berjalan sambil berkata, "Kakimu juga terluka. Kenapa kamu nggak berkata apa-apa?" "Lukaku nggak serius." Violet diam sejenak sebelum dia lanjut berkata, "Lagi pula, dia lebih peduli pada Evelyn." Siapa pun bisa melihat kalau perlakuan Romeo terhadap Evelyn sudah melewati batas. Violet juga tidak boleh tidak tahu diri. "Dasar bodoh." Charles mengangkat Violet dan berkata, "Peluk dengan erat." Violet tidak berkata apa-apa, tapi dia memeluk Charles dengan lebih erat. "Cepat! Bomnya sudah mau meledak!" Setelah mendengar teriakan William, Charles mengencangkan pelukannya pada Violet sebelum dia berlari keluar dari gedung belum selesai ini. Tak lama kemudian, terdengar suara ledakan yang kuat. Gedung yang belum selesai itu pun hancur. "Naik mobil!" Setelah Romeo memasukkan Evelyn ke dalam mobil, dia berbalik untuk menjemput Violet. Namun, dia melihat Violet telah masuk ke dalam mobil Charles. "Tuan Romeo, ayo kita cepat pergi .... Aku takut." Karena Evelyn terlihat gugup, Romeo hanya bisa masuk ke dalam mobil. Violet melihat Romeo dan Evelyn duduk bersama di kursi belakang. Dia tidak menunjukkan ekspresi apa pun dan seolah-olah sudah terbiasa. Sepanjang jalan, Violet diam saja. William bertanya, "Apa kamu nggak mau tahu siapa yang menculikmu?" "Jeffry Julius, 'kan?" jawab Violet. "Bagaimana kamu tahu?" William terkejut. "Aku menebaknya." Violet tidak heran. Sebenarnya Violet barusan menebak Jeffry. Violet tahu dia tidak punya banyak kenalan, jadi dia tidak mungkin bisa menyinggung siapa-siapa. Akhir-akhir ini hal terbesar yang dia lakukan adalah membeli tanah yang senilai 20 triliun itu. Kalau dia tidak salah ingat, di kehidupan sebelumnya yang membeli tanah itu adalah Jeffry. Jelas sekali kalau dia telah menghalangi jalan kekayaan Jeffry. Namun, seharusnya Jeffry tidak tahu betapa berharganya tanah itu di masa depan. Dia menginginkan tanah itu pasti karena dia punya motif tersembunyi. Terlebih lagi, Jeffry adalah bawahan Charles. Maka itu, Charles datang tepat waktu. Violet mengambil kesempatan ini dan berkata, "Charles, bawahanmu yang sudah menculikku. Bagaimana kamu akan menebus kesalahan ini?" "Aku berutang dulu," ucap Charles dengan datar. William melirik cerminan Charles. Dia benar-benar tidak mengerti apa isi pikiran sahabatnya. Perbuatan Jeffry jelas-jelas tidak ada hubungannya dengan Charles, tapi dia masih menerjang bahaya untuk menyelamatkan Violet. Kenapa ini menjadi sebuah utang? Setelah mobil tiba di depan pintu Kediaman Fernandez, William buru-buru menghentikan mobil. Di luar pintu Kediaman Fernandez, Romeo sedang menggendong Evelyn keluar dari mobil, kemudian mereka masuk ke dalam rumah. Romeo seakan-akan tidak peduli dengan Violet sama sekali. "Aku pergi dulu. Terima kasih kepada kalian berdua." Violet membuka pintu mobil, kemudian masuk ke Kediaman Fernandez sendirian. William berkata, "Aku kira kamu akan membantunya." "Dia nggak selemah itu." Charles memejamkan matanya, lalu berkata, "Ayo pergi." Di Kediaman Fernandez, Romeo sedang mengoleskan obat untuk Evelyn yang sedang duduk di sofa. Setelah Violet masuk, Evelyn segera berdiri. "Kak Violet, Tuan Romeo melihatku terluka, jadi dia mengoleskan obat ...." Sebelum dia bisa selesai bicara, Romeo menyelanya dengan sinis, "Kamu nggak usah menjelaskan padanya."