Tuan CEO, Aku ingin Bercerai

Đang tải thông tin quảng bá...

Tuan CEO, Aku ingin Bercerai

GoodNovel Hoàn thành
EmosionalPria DominanKayaNikah Kontrak

Setelah tiga tahun menikah, Zakki meninggalkan Annika seperti barang yang tidak berguna. Di sisi lain, Zakki memperlakukan wanita lain yang dia cintai seperti harta karun. Zakki memperlakukan Annika d...

Chương (1)

第1章

Bab 1 Annika tidak tahu apakah semua pria yang berselingkuh itu memiliki dua ponsel. Ketika Zakki sedang mandi, pacar Zakki mengirimkan sebuah swafoto. Gadis itu cantik dan masih sangat muda, tetapi dia mengenakan pakaian mewah yang tidak sesuai dengan usianya, jadi dia terlihat sedikit tidak nyaman. “Pak Zakki, terima kasih hadiah ulang tahunnya.” Annika menatap pesan itu untuk waktu yang lama hingga matanya sakit. Dia tahu bahwa Zakki berselingkuh, tetapi dia tidak menyangka suaminya berselingkuh dengan gadis seperti itu. Annika merasa patah hati dan terkejut ketika melihat wanita yang disukai oleh suaminya. Dia benar-benar menyesal telah mengetahui rahasia Zakki. Kemudian, terdengar suara pintu kamar mandi yang terbuka. Sesaat kemudian, Zakki keluar dalam keadaan basah kuyup. Jubah mandi berwarna putih membalut otot perut dan dadanya yang kekar. Lelaki itu tampak tampan dan seksi. "Sampai kapan kamu akan menatapnya?" Zakki mengambil ponselnya dari tangan Annika. Dia melirik ponselnya sekilas, lalu mulai mengenakan pakaiannya. Zakki sama sekali tidak merasa malu ketika dia terekspos oleh istrinya. Annika tahu bahwa Zakki percaya diri karena dialah yang mencari nafkah dan menghidupi Annika. Sebelum menikah, Annika adalah seorang pemain biola yang terkenal di Indara. Annika tidak mempermasalahkan foto itu, dia tidak berani melakukannya. Ketika melihat Zakki hendak pergi, Annika segera berkata, "Zakki, ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu." Pria itu mengencangkan ikat pinggangnya dan menatap istrinya. Dia teringat akan sikap istrinya yang lemah dan patuh di tempat tidur barusan. Zakki tertawa dan bertanya, "Kamu mau lagi?" Akan tetapi, keintiman ini tidak lebih dari sekadar main-main. Zakki tidak pernah menyayangi istrinya, mereka terpaksa menikah karena sebuah kecelakaan. Zakki mengalihkan pandangannya. Dia mengambil jam tangan Patik Philoppe di meja samping tempat tidur dan memakainya. Kemudian, dia berkata dengan tenang, "Aku punya waktu lima menit, sopirku sudah menunggu di bawah." Annika bisa menebak ke mana Zakki akan pergi, lalu tatapannya berubah menjadi suram. "Zakki, aku mau bekerja." Bekerja? Zakki mengencangkan jam tangannya dan menatap Annika. Setelah menatapnya cukup lama, Zakki mengeluarkan buku cek dari sakunya, lalu menuliskan sejumlah angka. Dia merobeknya dan menyerahkannya kepada Annika. "Bukankah lebih enak menjadi istri yang tinggal di rumah seharian? Kamu nggak cocok bekerja." Setelah mengatakan itu, Zakki pergi. Annika mengejar Zakki dan menundukkan badannya. "Aku nggak takut bekerja! Aku mau bekerja … aku bisa bermain biola ...." Pria itu tidak ingin mendengarkan. Dia menganggap Annika sebagai wanita lemah yang bergantung pada orang lain. Annika tidak akan mampu bertahan di luar sana. Zakki mengangkat tangannya untuk melihat jam. "Aku harus pergi sekarang!" Zakki pergi begitu saja dan Annika tidak bisa menahannya. Annika memegang gagang pintu dan bertanya, "Sabtu ini ayahku ulang tahun, apa kamu punya waktu?" Zakki berhenti sejenak dan menjawab, "Kita lihat saja nanti!" Pintu tertutup perlahan dan suara mobil di bawah perlahan menghilang. Beberapa menit kemudian, para pelayan naik ke lantai atas. Mereka mengetahui bagaimana hubungan suami dan istri tersebut. Salah satu dari mereka berkata, "Pak Zakki akan pergi ke Kota Handa selama beberapa hari karena ada hal penting yang harus dilakukan. Selain itu, perusahaan baru saja mengirimkan setumpuk baju Pak Zakki. Nyonya ingin mengirimkannya ke laundry atau mencucinya sendiri?" Annika duduk berlutut di sofa. Setelah terdiam beberapa saat, dia kembali tersadar dan berkata dengan lembut, "Aku akan mencucinya dengan tangan!" Karena Zakki tidak menyukai bau pelarut dari penatu, hampir semua pakaian Zakki, termasuk jas, dicuci dengan tangan dan disetrika oleh Annika. Selain itu, Zakki juga memiliki tuntutan yang tinggi dalam hal lainnya. Dia tidak suka makan makanan dari luar dan tidak suka kamar tidurnya berantakan. Annika belajar memasak, bersih-bersih, dan merangkai bunga. Dia perlahan-lahan belajar menjadi ibu rumah tangga yang sempurna. Annika menyerahkan hampir seluruh hidupnya pada Zakki. Namun, Zakki tetap tidak mencintainya. Annika menunduk dan menatap cek yang diberikan tadi. Tahun lalu, keluarganya hancur. Kakak laki-lakinya dituduh dan akhirnya ditahan. Selain itu, ayahnya tiba-tiba jatuh sakit sehingga menghabiskan biaya lebih dari 200 juta per bulan. Setiap kali Annika pulang, Bibi Shinta mengeluh karena Annika tidak mengambil banyak uang dari Zakki. "Dia adalah CEO Grup Farmasi Ruslan yang punya kekayaan ratusan triliun .... Annika, kamu dan dia adalah suami-istri, harta dia adalah milikmu juga 'kan?" Annika tersenyum pahit. Bagaimana mungkin harta Zakki menjadi miliknya? Zakki tidak mencintainya dan bersikap sangat dingin padanya. Pernikahan mereka hanya melibatkan hubungan badan tanpa ada perasaan cinta. Zakki bahkan tidak mengizinkan Annika untuk mengandung anaknya. Dia selalu mengingatkan Annika untuk minum pil obat setiap kali mereka berhubungan badan. Ya, Annika harus minum pil obat. Annika menggenggam botol pil, menuangkan satu pil, lalu menelannya. Setelah menelan pil tersebut, Annika membuka laci kecil dengan lembut. Di dalamnya ada buku harian tebal yang berisi ungkapan penuh cinta dari Annika yang berusia 18 tahun untuk Zakki. Bab 2 Dia sudah mencintai Zakki selama enam tahun! Annika tiba-tiba memejamkan matanya. Dia tidak menunggu Zakki kembali. Pada Jumat malam, sesuatu yang besar terjadi pada Keluarga Chandra. Dikabarkan bahwa Satya, putra tertua dari Keluarga Chandra, mungkin akan dijatuhi hukuman sepuluh tahun penjara karena kasus ekonomi Grup Chandra. Sepuluh tahun itu sudah cukup untuk menghancurkan seseorang. Malam itu, ayah Annika dilarikan ke rumah sakit karena pendarahan otak akut. Kondisinya kritis dan dia memerlukan pembedahan secepatnya. Annika berdiri di koridor rumah sakit sambil terus menelepon Zakki berkali-kali, tetapi Zakki tidak menjawab. Ketika Annika ingin menyerah, Zakki mengirimkan pesan WhatsApp kepadanya. Jawabannya sangat singkat seperti biasanya. “Aku masih di Kota Handa. Kalau ada perlu, hubungi Sekretaris Dania saja.” Annika menelepon lagi dan kali ini Zakki menjawab. Dia segera berkata, "Zakki, ayahku ...." Zakki menyela perkataan Annika. "Kamu butuh uang? Aku sudah bilang berkali-kali, kalau kamu butuh uang, hubungi saja Sekretaris Dania …. Annika, kamu dengar nggak?" Annika menatap layar televisi dengan ekspresi bingung. Dia melihat berita yang terpampang di layar. "CEO Grup Farmasi Ruslan menyewa seluruh Dosneyland serta menyalakan kembang api untuk membahagiakan pujaan hatinya." Di bawah langit yang penuh dengan kembang api, terdapat gadis muda yang sedang duduk di kursi roda sambil tersenyum manis. Zakki berdiri di belakang kursi roda ... sambil berbicara dengan Annika lewat ponsel. Annika mengedipkan matanya dengan lembut. Setelah beberapa saat, dia bertanya dengan suara yang agak tersendat, "Zakki, kamu di mana?" Zakki terdiam sejenak, dia tampak tidak senang dengan pertanyaan tersebut. Dia menjawab dengan acuh tak acuh, "Masih sibuk. Kalau nggak ada apa-apa lagi, aku akan tutup teleponnya. Kamu bisa hubungi Sekretaris Dania." Zakki tidak memperhatikan suara Annika yang hendak menangis. Di sisi lain, Zakki menatap wanita di sampingnya dengan lembut. Penglihatan Annika mulai kabur. Ternyata Zakki juga bisa bersikap lembut. Annika mendengar suara ibu tirinya, Shinta Salihin, dari belakang. "Kamu sudah menelepon Zakki atau belum? Annika, kamu harus minta bantuan Zakki untuk masalah ini ...." Shinta tiba-tiba terdiam ketika melihat berita yang sedang ditayangkan di televisi. Setelah beberapa saat, Shinta melanjutkan, "Dia pergi ke Kota Handa lagi? Annika, aku nggak percaya. Ketika Zakki koma, apakah wanita bernama Shilla Barani itu membangunkannya dengan bermain biola? Kalaupun itu benar, apa Zakki harus membalasnya seperti ini? Dia bahkan nggak ingat hari ulang tahunmu!" Makin banyak Bibi Shinta berbicara, dia makin marah. Dia tidak bisa menahan tangisnya ketika memikirkan situasi Keluarga Chandra saat ini. "Tapi, Annika … kamu harus berhati-hati. Jangan cari masalah dengan Zakki di saat seperti ini." Annika mengepalkan telapak tangannya hingga kukunya menancap ke dagingnya, tetapi dia tidak merasa sakit sama sekali. Mencari masalah dengan Zakki? Dia tidak akan melakukannya, bukan karena dia memahami situasinya, melainkan karena dia tidak memenuhi syarat. Status istri itu hanya sebatas nama saja, dia tidak dicintai! Annika menatap kembang api di langit dan berkata dengan lembut, "Banyak sekali kembang apinya, pasti menghabiskan banyak uang!" Shinta tidak mengerti apa maksud perkataan Annika. Annika menunduk, lalu menghubungi nomor Sekretaris Dania. Saat itu sudah larut malam, dia merasa tidak enak mengganggu tidur orang lain. Sekretaris Dania telah lama bekerja untuk Zakki, dia tahu bahwa Zakki tidak peduli pada istrinya. Jadi, setelah mendengar permintaan Annika, nada bicara Dania berubah menjadi dingin dan agresif. “Nyonya Ruslan, kamu harus mengajukan permohonan dan meminta tanda tangan Pak Zakki terlebih dahulu sebelum bisa mendapatkan ceknya. Sama seperti perhiasan yang kamu pakai, kamu harus mengajukan permohonan sebelum bisa memakainya. Nyonya Ruslan, apa kamu mengerti maksud saya?” Annika menutup telepon. Dia terdiam dan menundukkan kepalanya. Setelah beberapa saat, dia mengangkat kepalanya dan melihat dirinya di kaca. Kemudian, dia pelan-pelan mengangkat tangannya. Dia memakai cincin berlian pernikahan di jari manisnya yang ramping. Cincin ini adalah satu-satunya barang yang tidak memerlukan pengajuan permohonan lewat sekretaris Zakki. Kehidupan seorang Nyonya Ruslan benar-benar menyedihkan! Annika merasa linglung dan berkata dengan suara rendah, "Tolong carikan seseorang yang bisa menjual cincin kawin ini!" "Annika, kamu sudah gila, ya?" ujar Shinta tercengang. Annika perlahan membalikkan badan. Pada malam itu, langkah kakinya terdengar sepi di aula yang sangat sunyi. Setelah berjalan beberapa langkah, Annika berhenti dan berkata dengan lembut tapi tegas, "Bibi Shinta, aku sangat sadar! Aku belum pernah sesadar ini sebelumnya." Dia ingin menceraikan Zakki. Bab 3 Tiga hari kemudian, Zakki kembali ke Kota Brata. Saat senja tiba, sebuah mobil RV hitam mengilap perlahan-lahan melaju menuju vila. Ketika sudah sampai di vila, mobil itu berhenti. Sopir membuka pintu mobil tersebut. Zakki turun dari mobil, lalu menutup pintu kursi belakang. Ketika dia melihat sopirnya hendak membawa barang bawaannya, dia berkata dengan tenang, "Aku akan membawanya sendiri." Begitu Zakki memasuki aula, seorang pelayan mendatanginya. "Mertua Anda mengalami kecelakaan beberapa hari yang lalu. Suasana hati istri Anda sedang buruk, dia ada di atas sekarang!" Zakki sudah tahu tentang apa yang terjadi pada Keluarga Chandra. Dia merasa sedikit kesal, lalu membawa barang bawaannya ke atas. Dia membuka pintu kamar tidur dan melihat Annika duduk di depan meja rias sambil merapikan barang-barang. Zakki meletakkan kopernya dan melonggarkan dasinya. Kemudian, dia duduk di samping tempat tidur sambil memandangi istrinya. Setelah menikah, Annika sangat senang melakukan pekerjaan rumah seperti bersih-bersih dan memasak …. Menurut Zakki, jika bukan karena penampilannya yang cantik, Annika tidak ada bedanya dengan pengasuh. Annika tidak berbicara untuk waktu yang lama. Zakki juga merasa lelah setelah pulang dari perjalanan bisnis. Ketika melihat Annika tidak mengatakan apa-apa, Zakki juga tidak ingin repot-repot mengatakan sesuatu. Zakki berjalan ke ruang ganti dan mengambil jubah mandi, lalu dia masuk ke kamar mandi. Saat mandi, dia berpikir bahwa Annika yang lemah itu pasti tidak akan marah padanya lagi setelah selesai mandi. Annika pasti akan membantunya merapikan barang bawaannya dan akan terus menjadi istri yang lemah lembut. Zakki sangat yakin akan hal itu .... Jadi, ketika Zakki keluar dari kamar mandi dan melihat kopernya masih berada di tempatnya, dia merasa perlu untuk berbicara dengan Annika. Zakki duduk di sofa sambil membaca majalah. Setelah beberapa saat, dia mengangkat kepala dan menatap Annika. "Bagaimana kondisi ayahmu? Aku sudah menghukum Sekretaris Dania karena kejadian malam itu." Dia mengatakan hal itu dengan enteng dan tidak tulus. Annika meletakkan barang-barang yang ada di tangannya. Kemudian, dia mengangkat kepala dan menatap Zakki di cermin. Zakki yang dia lihat di cermin itu terlihat sangat tampan dan mulia. Jubah mandi itu sangat cocok dengannya. Annika menatapnya cukup lama hingga matanya sakit, lalu dia berkata dengan tenang, "Zakki, ayo kita bercerai!" Zakki benar-benar tertegun. Dia tahu bahwa Annika tidak senang dengan apa yang terjadi malam itu. Dia juga tahu bahwa sesuatu telah terjadi pada Keluarga Chandra, jadi dia meminta Sekretaris Dania untuk bergegas pergi ke rumah sakit secepat mungkin. Akan tetapi, Annika tidak ingin menerimanya. Ini adalah pertama kalinya Annika tidak patuh kepadanya, biasanya Annika selalu patuh. Zakki mengambil sebungkus rokok dari dalam meja kecil. Dia mengeluarkan sebatang rokok dan menahannya di bibir. Kemudian, dia menundukkan kepala untuk menyalakan api. Setelah beberapa saat, dia perlahan-lahan mengembuskan asap tipis. "Beberapa hari yang lalu, kamu bilang mau bekerja. Kenapa sekarang … kamu mau bercerai?" tanya Zakki dengan lembut. "Apakah Nyonya Ruslan mau pergi keluar dan merasakan kehidupan setelah lama berada di sini?" "Annika, coba kamu keluar dan lihat. Banyak orang di luar sana yang harus bekerja lembur demi upah beberapa juta. Kamu adalah Nyonya Ruslan yang tinggal di vila seluas 2.000 meter persegi. Apa yang membuatmu kurang puas?" Nada bicaranya dingin dan kejam. Annika tidak bisa menahan diri lagi dan bibirnya gemetar. "Nyonya Ruslan? Apa aku benar-benar Nyonya Ruslan?" ujarnya sambil tersenyum hampa. Dia tiba-tiba berdiri, menarik Zakki ke ruang ganti, lalu membuka pintu lemari dengan suara keras. Di dalamnya ada sederet lemari perhiasan, tetapi semuanya terkunci dengan sandi. Annika tidak tahu kata sandinya, Sekretaris Dania yang mengetahuinya. Annika menunjuk ke arah lemari itu dan mentertawakan dirinya sendiri. "Istri mana yang perlu mengajukan permohonan ke sekretaris suaminya untuk memakai perhiasan? Istri mana yang harus melaporkan semua pengeluarannya kepada sekretaris suaminya? Istri mana yang nggak punya uang untuk naik taksi? Zakki, katakan padaku, apakah ini yang dinamakan Nyonya Ruslan?" Bab 4 "Ya, keluargaku bangkrut dan kamu memberiku subsidi 200 juta per bulan. Tapi, tiap kali aku menerima cek, aku merasa seperti wanita murahan yang jadi pelampiasan amarah orang lain!" Zakki menyela Annika dengan nada dingin, "Jadi, itu yang kamu pikirkan?" Dia mencubit dagu Annika dengan lembut. "Memangnya ada wanita murahan sepertimu yang nggak tahu cara menyenangkan pria? Kamu mau cerai? Memangnya kamu bisa apa setelah bercerai denganku?” Annika kesakitan dan menepis tangan Zakki. Kemudian, Zakki meraih tangan Annika dan melihat jari manis Annika yang kosong dengan tatapan dingin. "Di mana cincin kawinmu?" "Aku menjualnya! Zakki, kita bercerai saja!" ujar Annika sedih. Mengucapkan kalimat itu hampir menghabiskan seluruh energinya. Zakki adalah pria yang dia cintai selama enam tahun. Jika bukan karena kejadian malam itu, jika dia tidak melihat kembang api itu, mungkin dia masih terjebak di dalam pernikahan tanpa cinta selama bertahun-tahun. Akan tetapi, dia tidak ingin hidup bersama Zakki lagi. Mungkin dia akan lebih sengsara setelah bercerai. Mungkin dia harus menyenangkan banyak orang demi upah beberapa juta seperti yang dikatakan Zakki. Namun, Annika tidak menyesal. Setelah Annika selesai berbicara, dia menarik tangannya dengan lembut. Dia mengeluarkan koper dan mulai mengemas barang-barangnya. Zakki menatap punggung yang lemah itu dengan tampang kecewa. Dia tidak pernah menyangka bahwa Annika akan memberontak dan mengatakan bahwa dia ingin bercerai tanpa ragu-ragu. Zakki tiba-tiba merasa marah. Dia menggendong Annika dan melemparkannya ke tempat tidur. Zakki menekan Annika ke tempat tidur hingga wajah mereka bersentuhan, mata ke mata, hidung ke hidung. Napas keduanya menjadi panas dan intens. Kemudian, Zakki menggerakkan bibir tipisnya ke belakang telinga Annika dan berbisik, "Apa kamu melakukan ini semua karena Shilla? Lebih baik kamu jujur. Bukankah kamu sudah bekerja keras demi mendapatkan titel Nyonya Ruslan? Kenapa ... kamu mau membuang semua itu sekarang?" Tubuh Annika gemetar. Sampai saat ini, Zakki masih berpikir bahwa apa yang terjadi saat itu adalah kesalahan Annika. Mungkin karena kontak fisik atau mungkin karena postur tubuh Annika yang lemah gemulai. Singkatnya, Zakki tiba-tiba tertarik pada Annika. Zakki menatap Annika dalam-dalam, dia memegang dagu Annika dan menciumnya. Kemudian, dia meraba-raba dan mengendurkan piama sutra Annika dengan satu tangan. Annika sangat cantik dan tubuhnya sangat indah. Jika Zakki menyentuh Annika dua atau tiga kali, dia tidak akan bisa menahan dirinya. Zakki mencium leher Annika yang halus, menggenggam kedua tangannya, lalu menautkan jari-jari mereka. Zakki sangat agresif di ranjang dan Annika hampir tidak pernah bisa menahannya. Akan tetapi, sekarang mereka sudah bercerai. Mereka tidak bisa melakukan hal semacam itu lagi. "Jangan, Zakki ... jangan ...." Suara wanita itu bergetar, dia terlihat sangat lemah di tempat tidur. Rambut hitam yang tersebar berantakan di bantal itu membuatnya terlihat sangat menawan sehingga orang-orang ingin mengacak-acak dan menggagahinya. Zakki mencium paksa bibir merahnya yang lembut, lalu mengucapkan kata-kata kotor, "Kita masih suami-istri yang sah, kenapa nggak boleh? Setiap kali aku menidurimu, kamu selalu bilang jangan, tapi sepertinya kamu nggak keberatan sama sekali, hm?" Bab 5 Dia melakukan ini karena Annika yang memintanya. Terlebih lagi, Annika tampak sangat indah di bawah tubuhnya. Meskipun Zakki tidak mencintai Annika, dia harus mengakui bahwa dia menyukai tubuh Annika. Dia yakin bahwa dia bisa menguasai tubuh wanita itu. Annika mencengkeram bahu Zakki dan berkata, "Zakki, aku nggak minum obat sama sekali akhir-akhir ini, aku akan hamil." Ketika mendengar itu, Zakki berhenti. Tidak peduli seberapa besar dia menginginkan tubuh itu, Zakki tidak pernah kehilangan akal sehatnya. Dia tidak ingin Annika mengandung anaknya. Setidaknya saat ini dia tidak berencana untuk memiliki anak. "Sepertinya kamu sudah memikirkannya beberapa hari terakhir ini!" cibir Zakki. Perlawanan Annika tidak membuat Zakki berhenti. Zakki menahan Annika dengan satu tangan dan membuka laci meja di samping tempat tidur dengan tangan yang lain. Dia mengeluarkan sebuah kotak kecil yang belum dibuka. Ketika Zakki hendak membuka kotak tersebut, teleponnya berdering! Zakki tidak peduli. Dia membuka kotak kecil itu dengan satu tangan, lalu membungkuk untuk mencium Annika. Annika menolak dan menggerakkan kepalanya untuk menjauh dari Zakki. Ponsel itu terus berdering. Pada akhirnya, Zakki mengangkat telepon dengan tidak senang. Orang yang menelepon Zakki adalah ibunya, Nyonya Dian. "Zakki, nenekmu lagi nggak enak badan. Pulanglah dan jenguk dia! Oh ya, ajak Annika ke sini juga. Nenekmu bilang dia mau makan kue lapis buatan Annika," ujar Nyonya Dian dengan lembut. Nyonya Dian sepertinya tidak menyukai sikap orang tuanya yang makin kekanak-kanakan dan keras kepala, jadi dia bersikap dingin. Zakki menekan tubuh Annika dengan satu tangan dan menatapnya .... Setelah berpikir sejenak, dia berkata, "Aku akan membawanya ke sana sebentar lagi." Setelah menutup telepon, Zakki berdiri dan mengenakan pakaiannya. "Nenek sakit dan ingin bertemu denganmu …. Kalau kamu mau cari masalah, nanti saja setelah pulang." Annika terbaring lemas tak berdaya di tempat tidur. Setelah beberapa saat, dia berdiri dan berpakaian tanpa mengeluarkan suara. Setelah Zakki menutup ritsleting celananya, dia melirik punggung ramping Annika dan kotak kondom yang belum dibuka di samping tempat tidur. Dia mengerutkan bibirnya dan keluar terlebih dahulu. Ketika Annika turun, Zakki sudah duduk di dalam mobil sambil merokok. Saat itu, langit sudah makin gelap. Annika mengenakan kemeja sutra putih dan rok sutra hitam sepanjang pergelangan kaki, hanya memperlihatkan sebagian kecil betisnya yang putih dan ramping. Dia ingin duduk di kursi belakang, tetapi Zakki membuka pintu kursi penumpang depan. "Masuk," ujar Zakki. Annika tidak punya pilihan selain masuk ke dalam mobil tanpa bersuara. Bantley hitam itu perlahan melaju keluar dari gerbang vila. Zakki fokus menyetir dengan satu tangan. Dia sesekali melirik ke arah Annika ketika melihat ke kaca spion. Selama tiga tahun menikah, Annika jarang menaiki mobil Zakki. Sekarang Annika ingin bercerai, jadi tentu saja dia tidak mau berbicara. Mereka berdua tidak berbicara sama sekali. Setengah jam kemudian, mobil itu sampai di sebuah vila mewah di daerah gunung. Setelah pagar hitam vila itu terbuka, seluruh vila itu tampak terang benderang. Zakki memarkir mobil dan mematikan mesinnya. Kemudian, dia menoleh ke arah Annika. "Nenek lagi nggak sehat. Jangan sampai dia kaget dan makin sakit, kamu tahu harus berkata apa." Annika membuka pintu mobil dan menjawab dengan nada dingin, "Jangan khawatir." Zakki menatap punggung Annika sejenak, lalu keluar dari mobil. Dia berjalan dengan cepat dan meraih tangan Annika. Dia bisa merasakan penolakan dari Annika, jadi dia mencengkeram tangan Annika dan berkata, "Jangan lupa apa yang baru saja kamu katakan." Annika berusaha melepaskan cengkeraman tangan Zakki, tapi dia tidak berhasil. Nyonya Dian sedang menunggu mereka di aula. Ketika dia melihat mereka berdua datang sambil berpegangan tangan, dia mengerutkan keningnya. "Dokter Handoko baru saja pergi, kalian boleh menjenguknya sekarang," ujarnya dengan lembut. Kemudian, dia Nyonya Dian melirik Annika. Annika menyapa ibu mertuanya, tetapi Nyonya Dian membalasnya dengan enggan. Biasanya Annika akan kecewa, tetapi sekarang dia sudah tidak peduli pada Zakki, jadi dia tidak perlu mempermasalahkan hal ini. "Ayo kita pergi mengunjungi nenek," ujar Zakki. Mereka memasuki kamar tidur dan melihat wanita tua itu sedang tidak enak badan. Wanita itu sedang bersandar di tempat tidur sambil merintih. Ketika dia melihat Zakki membawa Annika, matanya langsung berbinar. "Harapanku terwujud, akhirnya Annika datang ke sini." Zakki membantu wanita tua itu duduk tegak. Dia membungkuk dan berbisik kepada wanita tua itu, "Aku tahu Nenek lagi nggak enak badan, jadi aku membawa seseorang ke sini." Wanita tua itu tersenyum dan menyipitkan matanya. Namun, dia berpura-pura tidak mendengar dengan jelas. Dia mendekatkan telinganya dan bertanya dengan keras, "Apa? Kamu dan Annika akan punya anak? Zakki, kamu harus segera punya anak. Aku sudah tua, jadi kamu nggak perlu memikirkanku lagi." Bab 6 Zakki tahu neneknya melakukan itu dengan sengaja, lalu dia melirik ke arah Annika. Annika tidak menunjukkan rasa sayangnya pada Zakki. Annika menemani wanita tua itu sebentar, lalu dia berdiri. "Aku akan membuat kue lapis." Saat Annika pergi, senyum wanita tua itu pudar dan tubuhnya bersandar ke belakang. "Zakki, ada apa dengan Shilla itu? Kamu hanya perlu menjaganya, untuk apa kamu menyalakan kembang api seperti itu? Jangan sampai istrimu cemburu." “Kamu juga harus menjaga Annika baik-baik. Jangan bersikap seperti nggak ada masalah apa-apa.” "Kalau kamu terus bersikap dingin, dia akan lari.” … Zakki hanya mengucapkan beberapa patah kata dan tidak menjelaskan soal kembang api itu. Mungkin itu adalah ulah Sekretaris Dania! Setelah mengobrol cukup lama, Annika datang sambil membawa camilan. Zakki menoleh dan menatap Annika. Pakaian Annika masih bersih dan rapi meskipun dia baru selesai memasak. Dia tampak cantik dan bermartabat, seperti seorang wanita bangsawan. Zakki merasa agak bosan. Namun, wanita tua itu sangat menyukai Annika. Dia mencicipi camilan buatan Annika dan berkata, "Zakki, dua tahun lagi usiamu 30. Biasanya umur segitu orang-orang sudah punya dua anak. Kapan kamu akan memberiku cicit?" Annika tidak mengatakan apa-apa. Zakki melirik ke arah Annika dan mengambil kue lapis yang ada di meja. "Annika masih muda, kami masih mau menikmati waktu berdua dua tahun lagi!" Wanita tua itu memiliki hati yang jernih, tetapi sulit ditebak. … Mereka makan malam di Kediaman Ruslan, lalu pulang saat sudah sangat larut. Zakki mengencangkan sabuk pengamannya dan melirik ke arah Annika. Annika memalingkan wajahnya dan melihat ke luar jendela mobil. Wanita itu tampak cerah dan cantik meskipun dalam cahaya redup. Zakki menatapnya cukup lama, lalu menginjak gas. Bantley hitam itu melaju dengan mulus dan lampu di kedua sisinya terus berkedip. Zakki ingin membicarakan sesuatu dengan Annika, jadi dia tidak mengemudi dengan cepat. Lima menit kemudian, Zakki berkata dengan pelan, "Besok aku akan membawa ayahmu ke Rumah Sakit Ruslan. Aku akan meminta tim medis terbaik untuk merawatnya. Lalu … kalau kamu ingin meminta uang, beri tahu aku saja." Nada suaranya cukup lembut, terdengar seperti sedang berkompromi. Dia tidak mencintai Annika. Dia merasa khawatir karena Annika sudah mulai melawannya, tetapi dia tidak berniat melepaskan istrinya .... Hal ini akan menimbulkan masalah bagi hidupnya dan saham Grup Ruslan. Dia harus membiasakan diri! Selain itu, penampilan dan tubuh wanita itu luar biasa. Setidaknya Zakki merasa mereka berdua cocok dalam urusan ranjang. Ketika tiba di lampu merah persimpangan, Zakki melirik ke arah Annika. Dia memegang setir dan melanjutkan, "Sekretaris Dania nggak akan datang ke rumah lagi. Kamu boleh memakai perhiasan itu sesuka hati, aku akan menjelaskannya padanya." Annika mendengarkan dengan tenang. AC di dalam mobil itu sangat dingin, jadi Annika memeluk dirinya sendiri agar tidak menggigil. Dia telah menikah dengan Zakki selama tiga tahun dan tahu banyak tentang sifat Zakki. Sejujurnya, apabila Zakki berkompromi seperti ini, Annika akan sangat terbantu .... Seharusnya Annika merasa bersyukur, tapi dia tidak! Zakki mengatakan banyak hal, tetapi dia tidak menyebut Shilla sama sekali. Jadi, jika Annika menyetujuinya, Shilla akan tetap muncul dalam kehidupan mereka di masa depan ... dan tidak ada yang akan berubah. Annika sudah lelah dan tidak ingin terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. Dia menolak dengan tegas. "Nggak perlu, dokter ayahku sekarang sudah cukup baik." Zakki mengerti maksud jawaban tersebut, Annika menolak tawarannya dan bersikeras untuk bercerai. "Annika, jangan lupa bahwa kita menandatangani perjanjian saat kita menikah. Kalau kita bercerai, kamu nggak akan mendapat sepeser pun," ujar Zakki marah. “Aku tahu!” jawab Annika dengan cepat. Kesabaran Zakki pun habis dan dia tidak mengatakan apa-apa lagi. Dua puluh menit kemudian, ketika mobil sudah masuk ke vila tempat mereka tinggal, Zakki menghentikan mobilnya perlahan dan berkata kepada penjaga pintu, "Tutup gerbangnya, jangan biarkan seekor lalat pun keluar." Penjaga itu curiga dan ingin bertanya, tetapi Zakki sudah pergi. Tak lama kemudian, Zakki memarkir mobilnya di tempat parkir di depan vila. Setelah mobil itu berhenti, Annika melepaskan sabuk pengamannya dan hendak keluar dari mobil. Akan tetapi, mobil itu tiba-tiba dikunci oleh Zakki. Bab 7 Annika memegang pintu mobil dan mencoba membukanya. Suasana di dalam mobil itu sangat mencekam. Zakki langsung pergi ke Kediaman Ruslan begitu dia pulang dari perjalanan bisnis, jadi dia merasa agak lelah. Dia meletakkan satu tangan di kemudi dan mengusap alisnya dengan tangan yang lain. "Mau sampai kapan kamu mau cari masalah?" Sampai saat ini, Zakki masih mengira bahwa Annika hanya ingin mencari masalah dengannya. Sikap Annika menjadi makin dingin, dia duduk tegak dan melihat ke depan mobil. Setelah beberapa saat, dia berkata dengan lembut, "Zakki, aku serius! Aku nggak mau bersamamu lagi." Zakki tiba-tiba menoleh dan menatap Annika. Zakki adalah pria yang sangat tampan. Annika dulu sangat terobsesi dengan wajah ini, tetapi sekarang dia tidak merasakan apa pun …. Zakki menatap Annika dengan tajam dan melepaskan sabuk pengamannya dengan satu tangan. "Keluar dari mobil!" Dia membuka kunci mobil tersebut. Annika segera turun dari mobil dan berjalan menuju gerbang masuk vila. Di bawah cahaya redup, punggungnya tampak tegak, dia benar-benar bertekad untuk bercerai. Zakki merokok sebentar sebelum turun dari mobil. Kemudian, dia naik ke lantai atas. Mereka berpisah dalam keadaan buruk. Malam itu, Annika tidur di kamar tamu dan Zakki malas membujuknya. Zakki mengenakan piamanya dan berbaring. Kemudian, dia merasa sangat hampa ketika tidak ada orang di sampingnya. Di masa lalu, sedingin apa pun sikap Zakki, Annika suka memeluknya dari belakang saat tidur …. Di pagi hari, cahaya matahari menyinari kamar tidur itu. Zakki merasa sangat silau, lalu dia mengulurkan tangannya untuk menghalangi sinar matahari. Pada akhirnya, dia terbangun. Dia mendengar suara dari lantai bawah. Dia mendengar bahwa para pelayan sedang menyiapkan sarapan. Biasanya, Annika melakukan ini dengan para pelayan. Annika juga menyiapkan sendiri sarapan untuk Zakki. Suasana hati Zakki sudah membaik. Dia turun dari tempat tidur dan berganti baju di ruang ganti. Kemudian, dia menyadari sesuatu. Koper Annika menghilang. Zakki membuka lemari dan menyadari bahwa Annika telah mengambil beberapa pakaian yang sering dia kenakan. Dia memperhatikan lemari itu tanpa bersuara selama beberapa detik, lalu dia menutupnya. Kemudian, dia memilih jas dan mengenakannya. Setelah mencuci muka, dia memakai arlojinya dan turun ke bawah. Ketika dia melihat pelayan, dia bertanya dengan santai, "Nyonya di mana?" "Pagi tadi, Nyonya pergi dengan membawa koper, dia tidak menelepon sopir," jawab pelayan itu dengan hati-hati. "Dia benar-benar serius!" Zakki mengabaikannya, dia duduk di meja makan untuk menyantap kopi hitam dan roti panggang gandum seperti biasanya. Matanya tertuju pada berita di surat kabar. Skandal antara dia dan Shilla sangat menghebohkan dan judul beritanya sangat menarik perhatian. Zakki melihatnya cukup lama, lalu bertanya kepada pelayan di sampingnya dengan lembut, "Apa Nyonya membaca koran sebelum pergi?" "Nyonya pergi tanpa sarapan!" jawab pelayan dengan jujur. Zakki menatap pelayan itu, lalu dia menelepon Sekretaris Dania. "Cepat urus berita yang ada di koran!" ujarnya. Dania mengucapkan beberapa patah kata dan hendak menutup telepon. Zakki merapikan dasi dan berkata dengan lembut, "Lalu, coba periksa di mana Annika menjual cincin kawin itu. Aku harus mendapatkannya sebelum jam empat sore." Sekretaris Dania tertegun. "Tidak mungkin! Nyonya Ruslan sangat mencintaimu, bagaimana mungkin dia menjual cincin kawinnya?" ujarnya. Zakki tidak menjawab dan langsung menutup telepon. Dia melempar ponselnya ke meja makan. Setelah melihat berita itu, dia sama sekali tidak nafsu makan. … Annika pulang ke rumah orang tuanya. Saat itu, Shinta sedang memasak sup untuk dikirimkan ke rumah sakit. Ketika melihat Annika, Shinta sangat terkejut. Shinta menunjuk ke arah koper dan berkata dengan nada tidak senang, "Suami istri mana yang nggak pernah bertengkar? Wajar saja kalau pria sesekali melirik wanita lain. Shilla itu tampak lusuh dan kakinya lumpuh. Aku sudah mencari tahu tentang wanita itu, dia nggak akan memengaruhi statusmu sebagai istri." "Status apa yang kumiliki dengan Zakki!" Annika mentertawakan dirinya sendiri sambil mengemas sup ayam ke dalam termos. "Aku akan pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Ayah." Shinta menatap Annika. Shinta menyeka tangannya dengan lap dan berkata dengan jengkel, "Ayahmu mungkin akan sangat marah kalau kamu mau bercerai! Annika ... jangan keras kepala! Kalau kamu benar-benar menceraikan dia, apa kamu yakin bisa bertahan hidup? Keluarga Chandra benar-benar kesulitan saat ini, apa yang bisa kamu lakukan untuk menyelamatkannya?" Bab 8 Annika perlahan menutup termos. Setelah mengencangkan tutupnya, dia menundukkan kepala dan berkata dengan lembut, "Pasti ada jalan! Uang dari penjualan cincin kawin cukup untuk membayar pengobatan Ayah selama setengah tahun dan biaya pengacara Kakak .... Aku akan menjual rumah ini. Aku juga akan bekerja untuk menghidupi keluarga ini." Setelah mengatakan itu, mata Annika berkaca-kaca. Rumah ini adalah peninggalan ibunya, dia tidak pernah berniat menjualnya sesulit apa pun situasi keluarganya sebelumnya. Shinta tercengang. Dia tidak ingin membujuknya lagi, tetapi dia masih tidak setuju. Annika menangkan dirinya, lalu mereka berdua pergi ke rumah sakit. Setelah menjalani perawatan, kondisi Denny Chandra sudah mulai stabil. Akan tetapi, hatinya masih gundah, dia memikirkan masa depan putra sulungnya, Satya. Annika tidak menyebutkan perceraian untuk saat ini. Sore harinya, dokter yang merawat datang untuk melakukan pemeriksaan. Jony Handika adalah seorang dokter ahli bedah otak yang masih berusia muda. Dia sangat tampan dan menawan, tinggi badannya 185 cm. Setelah memeriksa pasien, dia melirik ke arah Annika dan berkata, "Kita bicara di luar." Annika tercengang. Dia segera meletakkan barang-barang di tangannya dan berkata dengan lembut kepada Denny, "Ayah, aku keluar sebentar." Beberapa saat kemudian, mereka berdua berjalan ke koridor yang sepi. Ketika melihat Annika gugup, Jony menyunggingkan senyum yang meyakinkan. Kemudian, Jony menundukkan kepalanya dan melihat catatan medis. "Aku sudah berdiskusi dengan beberapa direktur Departemen Bedah semalam. Kami merekomendasikan agar Pak Denny menerima perawatan rehabilitasi yang sesuai dengan kondisinya. Kalau tidak, dia akan sulit untuk kembali ke kondisi semula. Hanya saja biayanya agak mahal, kira-kira 300 juta per bulan." Nominal 300 juta itu sangat besar bagi Annika saat ini. Namun, dia berkata tanpa ragu-ragu, "Kami setuju untuk menjalani perawatan." Jony menutup catatan medisnya dan menatap Annika diam-diam. Sebenarnya, mereka sudah saling kenal sebelumnya, tetapi Annika sudah lupa. Ketika Annika masih sangat muda, Jony tinggal di sebelah rumahnya. Jony ingat bahwa setiap malam musim panas, teras di luar kamar tidur Annika diterangi oleh bintang-bintang kecil. Annika selalu duduk di sana dan merindukan ibunya. "Kak Jony, apakah Ibu akan kembali?" tanya Annika. Jony tidak tahu dan tidak bisa menjawab. Saat Jony menatap Annika sekarang, dia ingat ketika dia kembali ke rumah tiga tahun lalu dan mendengar berita pernikahan Annika. Jony mengira Annika menikah karena cinta, tetapi ternyata Annika tidak bahagia. Zakki bersikap dingin pada Annika dan memperlakukan Annika dengan kasar. Saat Jony hendak berbicara, terdengar suara dingin dari seberang. "Annika." Itu adalah Zakki. Zakki mengenakan kemeja abu-abu tua dan jas hitam, sepertinya dia datang dari kantor. Dia berjalan mendekat, sepatu kulitnya berderap kencang di koridor. Zakki menghampiri Jony dan Annika. Dia mengulurkan tangannya dan berkata dengan nada mencibir, "Kak Jony, sudah lama tidak bertemu!" Jony melihat tangan di depannya, tersenyum ringan, lalu menjabat tangannya. "Pak Zakki, tumben sekali ke sini." Setelah berjabatan tangan, Zakki melepaskan tangan Joni, lalu menoleh ke arah Annika. "Kamu mau menjenguk Ayah?" Kedua pria itu sama-sama menyimpan dendam. Annika tidak ingin berurusan dengan Zakki di depan Dokter Jony, jadi dia mengangguk dan berkata, "Dokter Jony, saya pergi dulu." Jony tersenyum tipis. Annika dan Zakki berjalan menuju bangsal, mereka sama sekali tidak mengatakan apa pun. Karena Annika ingin bercerai, dia tidak lagi berusaha menyenangkan Zakki seperti sebelumnya. Ketika sudah dekat dengan pintu bangsal, Zakki tiba-tiba meraih pergelangan tangan Annika yang kurus dan menekannya ke dinding sambil menatapnya dengan tajam. Jony tadi menatap Annika seperti seorang pria yang menatap seorang wanita. Zakki menyentuh wajah Annika yang putih dan halus dengan lembut. "Apa yang kalian bicarakan tadi?" tanya Zakki dengan suara serak. Annika ingin melepaskan diri, tetapi Zakki mendorongnya dengan kuat. Tubuh kedua orang itu berdekatan hingga akhirnya bersentuhan. Bab 9 Annika benar-benar sudah tidak tahan. "Zakki, ini rumah sakit!" "Tentu saja aku tahu." Zakki tidak peduli, dia tetap menekan tubuh Annika hingga wajah tampannya menempel di telinga Annika. "Apa kamu tahu siapa dia?" ujar Zakki dengan suara yang mencekam. Annika mencoba menebak pikiran Zakki yang tersembunyi. Dia adalah CEO Grup Ruslan, dia tidak akan mengizinkan istrinya terlalu dekat dengan pria lain. Annika tersenyum pahit. Dia berkata, "Zakki, aku nggak punya pikiran kotor sepertimu, aku juga nggak mau melakukannya .... Jangan khawatir, aku nggak akan berhubungan dengan orang lain sebelum kita bercerai." Setelah mengatakan itu, Annika mendorong Zakki, lalu memasuki bangsal. Zakki mengikutinya dan masuk ke dalam bangsal. Begitu Zakki masuk, dia mengerutkan keningnya. Ternyata bangsal itu bukan hanya untuk satu pasien. Shinta menarik kursi untuk Zakki dan berbisik, "Cepat duduk! Aku akan meminta Annika mengupas buah untukmu …. Hei, Annika, jangan cuma berdiri di sana! Kamu nanti pulang dengan Zakki saja. Biar aku yang mengurus ayahmu!" Zakki duduk dan mengobrol dengan Denny. Zakki biasanya bersikap acuh tak acuh terhadap Annika, tetapi dia berperilaku sangat baik di depan Denny. Dia telah berkecimpung di dunia bisnis selama beberapa tahun, sangat mudah baginya untuk menyenangkan orang lain. Denny menyukai Zakki. Akan tetapi, ketika Zakki mengusulkan untuk pindah rumah sakit, Denny tetap menolak dan berkata sambil tersenyum, "Nggak usah repot-repot! Tempat ini bagus, Dokter Jony juga sangat bertanggung jawab." Zakki mencoba bertindak dengan berhati-hati dan tidak memaksa. "Syukurlah kalau Ayah nyaman!" Annika mengupas sebuah apel dan menyerahkannya kepada Zakki. Zakki mengambilnya, lalu menaruhnya di meja. Dia menggenggam pergelangan tangan Annika yang kurus. Kemudian, dia berdiri dan berkata kepada Denny dan istrinya, "Kalau begitu, aku membawa Annika pulang dulu. Ayah, jaga dirimu baik-baik." Denny mengangguk dan melihat mereka pergi. Ketika Shinta mengemasi barang-barangnya, Denny tiba-tiba berkata, "Mereka ada masalah akhir-akhir ini, bukan?" Tangan Shinta gemetar. Dia berusaha menutup-nutupi kebenaran. "Nggak ada apa-apa! Annika dan Zakki baik-baik saja!" Denny menghela napas pelan dan berkata, "Kamu berbohong padaku! Annika tidak lagi memandang Zakki seperti dulu. Dulu dia menatap Zakki dengan penuh perasaan, tapi sekarang perasaan itu tidak ada." Shinta tertegun sejenak, lalu berkata dengan lembut, "Coba kamu bujuk dia!" Denny perlahan bersandar di tempat tidur, lalu dia berkata dengan suara rendah, "Aku nggak akan membujuknya! Aku nggak akan mengungkitnya kalau dia sendiri nggak kasih tahu! Satya nggak punya kebebasan lagi, aku nggak mau Annika mengalaminya." Shinta ragu-ragu untuk berbicara. … Zakki membawa Annika ke bawah. Matahari terbenam di sore hari, Bantley hitam itu dihiasi warna merah menyala dan menyilaukan. Zakki mendorong Annika ke dalam mobil. Annika ingin keluar dari mobil, tetapi Zakki mencengkeram pergelangan tangannya. Zakki tampak tenang. Dari luar mobil, Zakki tidak terlihat mengerahkan banyak kekuatan, tetapi Annika tetap tidak bisa bergerak sama sekali. Hal ini menunjukkan perbedaan yang jelas antara kekuatan pria dan wanita. Zakki baru melepaskan Annika ketika Annika berhenti memberontak. Dia merokok dengan tenang di dalam mobil. Napas Annika sedikit tersengal-sengal. Dia memandang wajah Zakki dari samping. Bayangan redup di sisi wajah Zakki membuat fitur wajahnya tampak lebih tampan dan tegas. Dengan tampang dan status yang dia miliki, dia bisa memenangkan hati seorang wanita dengan mudah. Annika teringat sesuatu, wajah inilah yang dulu membuatnya terpesona. Dia telah menyukai wajah ini selama bertahun-tahun. Zakki menoleh dan memandang Annika. Dia tidak begitu peduli pada Annika, tetapi dia tidak ingin menceraikan istrinya. Pria yang memiliki status tidak akan mengganti istrinya dengan mudah. Setelah beberapa saat, dia mematikan rokoknya dan mengeluarkan kotak beludru dari sakunya. Ada cincin berlian di dalam kotak tersebut. Annika benar-benar terkejut. Itu adalah ... cincin kawin yang dia jual malam itu. Zakki membelinya kembali? Zakki terus menatap wajah Annika dan mengamati ekspresinya dengan serius. Beberapa saat kemudian, dia berkata dengan tenang, "Ulurkan tanganmu dan kenakan cincin itu! Ikut aku pulang, anggap saja kejadian sebelumnya itu nggak pernah terjadi. Kamu tetaplah Nyonya Ruslan." Bab 10 Zakki jarang sekali berkompromi, tetapi Annika menolak. Annika menekuk jari-jarinya yang putih dan ramping. "Apa sebenarnya yang kamu inginkan?" tanya Zakki dengan tidak sabar. "Cerai! Aku ingin bercerai," jawab Annika. Zakki sibuk bekerja dan Annika menolak untuk pulang bersamanya. Pagi harinya, Zakki mencoba mencari kancing lengan yang tepat, tetapi dia tidak menemukannya. Dia merasa sangat kesal. Kekesalannya memuncak ketika dia melihat Jony dan seorang perawat sedang mengobrol di depan BMV putih di tempat parkir depan. Zakki sangat tidak senang. Saat itu, Sekretaris Dania meneleponnya. Zakki mengangkat telepon dan berkata dengan nada kesal, "Ada apa?" "Nona Shilla baru saja bangun dari tempat tidur dan tidak sengaja terjatuh. Dia mungkin mengalami cedera saraf di kakinya. Suasana hatinya sedang buruk sekarang. Apakah Anda ingin pergi ke Kota Handa untuk menemuinya, Pak Zakki? Kalau Anda datang, dia pasti sangat senang,” ujar Sekretaris Dania. Zakki tidak langsung menjawab, dia khawatir karena Annika ada di sampingnya. Volume ponselnya cukup keras dan Annika bisa mendengarnya. Annika tersenyum ringan. Dia membuka pintu mobil, lalu pergi tanpa menoleh ke belakang. Embusan angin malam membuat seluruh tubuh Annika menggigil. Dia berpikir, untung saja dia tidak tergoda atau berubah pikiran ketika Zakki mengeluarkan cincin kawin tadi. Dia juga tidak ingin menjalani kehidupan pernikahan yang menyesakkan seperti itu lagi. Dia merasa bersyukur. Zakki menatap punggung Annika yang mulai menghilang sambil berbicara dengan Sekretaris Dania lewat telepon. "Carikan dokter terbaik untuknya!" "Kenapa Anda tidak pergi ke Kota Handa untuk menemuinya?" tanya Dania. Zakki langsung menutup telepon. Setelah menutup telepon Sekretaris Dania, dia menelepon Annika lagi, tetapi panggilannya tidak dapat tersambung. Dia juga tidak bisa mengirim pesan WhatsApp. Annika memblokir nomor telepon dan WhatsApp Zakki. Zakki melemparkan teleponnya dengan marah. Dia mengambil cincin berlian itu dan mengamatinya cukup lama. Sekarang dia percaya bahwa Annika memang bertekad untuk meninggalkannya. Namun, jika Zakki tidak menyetujuinya, Annika akan tetap menjadi Nyonya Ruslan. … Tiga hari kemudian, di ruang CEO, lantai atas gedung kantor Grup Ruslan. Zakki berdiri di depan jendela sambil berbicara dengan neneknya lewat telepon. Neneknya merindukan Annika, dia meminta Zakki untuk membawa Annika ke rumah lagi. Zakki berpura-pura mengiakan permintaan itu. Tiba-tiba, ada seseorang yang mengetuk pintu. "Pak Zakki, Anda mendapat kiriman khusus." Zakki mengangkat alisnya dan menebak-nebak kiriman apa itu. Setelah beberapa saat, Sekretaris Dania masuk dan meletakkan surat di atas meja. Kemudian, dia berkata dengan lembut, "Ini surat dari Nyonya Annika." Zakki berdiri di dekat jendela, dia menatap surat itu selama beberapa detik sebelum berjalan. Dia mengambil surat itu dan membukanya. Sesuai dugaannya, itu adalah surat perjanjian perceraian. Zakki membacanya sekilas dan berpikir bahwa Annika cukup keras kepala karena Annika tidak menginginkan apa pun. Annika akan pergi tanpa membawa apa pun! Ekspresi Zakki menjadi makin muram, dia bertanya dengan suara rendah, "Apa kesibukan dia akhir-akhir ini?" "Sepertinya dia akan menjual rumahnya! Sudah ada banyak orang yang berminat, tetapi belum ada yang benar-benar mengajukan penawaran! Selain itu, Nyonya sedang mencari pekerjaan. Dia memenangkan penghargaan dalam negeri saat kuliah. Sepertinya ada organisasi besar yang tertarik untuk merekrutnya. Gaji dan tunjangan lainnya juga lumayan bagus," ujar Sekretaris Dania. Zakki duduk di kursi kantor yang terbuat dari kulit. Dia mengangkat surat perjanjian perceraian itu dan melihatnya cukup lama. Zakki berkata dengan nada dingin, "Cari seseorang untuk membeli rumah itu dengan harga terendah! Dia juga pasti tidak akan tahan bekerja!" Sekretaris Dania terkejut. Dia mengira Pak Zakki akan mengusir Keluarga Chandra, tetapi ternyata tidak. Bukankah dia sangat membenci Annika? Dania terdiam sejenak, lalu Zakki menegur, "Kenapa masih belum keluar!" Sekretaris Dania keluar. Begitu keluar dari ruangan CEO, Dania mengepalkan jarinya. Dia ragu-ragu sejenak, lalu menelepon seseorang ….