Đang tải thông tin quảng bá...
Antara Dendam dan Penyesalan
Meskipun Selena dan Harvey telah menikah selama tiga tahun, tetapi Harvey belum mampu melupakan wanita pujaan yang telah ada di hatinya selama sepuluh tahun ini.Hari ketika Selena divonis mengidap kan...
Chương (1)
第1章
Bab 1
Pada hari di mana Selena Bennett didiagnosis menderita kanker lambung, Harvey Irwin sedang menemani kekasihnya yang ingin melakukan tes kesehatan untuk putranya.
Di koridor rumah sakit, Lewis Martin yang memegang laporan biopsi berkata dengan wajah yang serius, "Selena, hasilnya sudah keluar, tumor ganas stadium 3A. Jika operasinya berhasil, persentase yang kamu miliki untuk bisa bertahan hidup selama 5 tahun mencapai 15-30%."
Jari-jari ramping Selena menarik tali bahu tasnya dengan erat. Dengan wajahnya yang agak pucat dan tampak serius itu, dia bertanya, "Kak, berapa lama aku bisa hidup tanpa operasi?"
"Setengah tahun hingga satu tahun, setiap orang berbeda-beda. Dalam kasusmu ini, lebih baik kamu melakukan dua tahap kemoterapi sebelum operasi, agar kamu dapat menghentikan risiko penyebaran dan metastasis."
Selena menggigit bibirnya dan berkata dengan ekspresi sedih, "Terima kasih."
"Untuk apa kamu harus berterima kasih padaku? Aku akan mengatur agar kamu dirawat di rumah sakit."
"Tidak perlu, aku tidak berniat melakukan pengobatan. Aku tidak akan sanggup bertahan."
Saat Lewis masih ingin mengatakan beberapa patah kata lagi, Selena dengan hormat membungkuk padanya sambil berkata, "Kak, tolong bantu aku merahasiakan hal ini, aku tidak ingin keluargaku khawatir."
Keluarga Bennett sudah bangkrut. Selena saja sampai bersusah payah menanggung biaya yang tinggi untuk ayahnya. Selena hanya akan menambah derita keluarganya jika sampai memberi tahu mereka tentang kondisinya.
Lewis dengan menghela napas dengan perasaan tak berdaya, lalu berkata, "Kamu tenang saja, aku akan menjaga rahasia ini dengan baik. Kudengar kamu sudah menikah, suamimu ... "
"Kak, tolong bantu jaga ayahku. Aku pergi dulu, masih ada urusan."
Selena sepertinya sangat enggan untuk membicarakan topik ini. Dia sudah berjalan pergi sebelum Lewis sempat bereaksi.
Lewis pun menggelengkan kepalanya. Bersadarkan rumor, Selena mengambil cuti dari studinya untuk menikah sebelum dia lulus dari universitas. Mantan mahasiswi jenius di sekolah kedokteran itu mengalami keadaan yang sangat terpuruk saat ini, kondisinya sangat menyedihkan.
Hanya Selena saja yang sibuk mengurusi perawatan ayahnya dalam dua tahun terakhir. Bahkan ketika penyakitnya sendiri kambuh, yang mengantarkannya ke rumah sakit adalah orang lain yang kebetulan melihat dirinya di jalan. Dari awal hingga saat ini tidak terlihat sosok suaminya.
Selena kembali mengingat kenangan di masa lalu. Harvey pernah bersikap tulus kepadanya di awal pernikahan mereka. Namun sayang sekali, semuanya berubah ketika kekasih Harvey pulang dari luar negeri dalam keadaan hamil. Pada saat yang bersamaan, Selena yang juga sedang hamil terjatuh ke dalam air bersama kekasih Harvey.
Di saat sedang meronta, Selena melihat Harvey mati-matian berenang ke arah Agatha Wilson. Agatha dan Selena yang sama-sama terguncang pun melahirkan secara prematur pada saat yang bersamaan. Karena Selena terlambat diselamatkan, anaknya meninggal di dalam perut ketika dia diantar ke rumah sakit.
Di hari ketujuh setelah kepergian anaknya, Harvey mengajukan gugatan cerai. Namun, Selena belum menyetujuinya.
Saat ini, setelah Selena mengetahui kondisi penyakitnya sendiri, dia merasa sudah tidak sanggup untuk bertahan lagi.
Dengan tangan yang gemetar, Selena menelepon Harvey. Setelah berdering tiga kali, suara Harvey yang berat dan dingin pun terdengar, "Selain untuk urusan perceraian, aku tidak ingin menemuimu."
Selena merasa sangat sedih, matanya terasa agak panas. Dia mengurungkan niatnya untuk memberitahukan kondisi penyakitnya pada Harvey. Suara Agatha tiba-tiba terdengar dari ponsel, "Harvey, bayi kita harus menjalani pemeriksaan."
Air mata yang dari tadi ditahan oleh Selena, akhirnya jatuh juga. Selain kehilangan anak, rumah tangganya juga hancur. Sedangkan Harvey malah membangun sebuah keluarga baru dengan orang lain. Sudah waktunya untuk mengakhiri semua ini.
Selena pun tidak lagi memohon dan memelas seperti dulu. Terdengar kata-katanya yang sayu, "Harvey, ayo kita bercerai."
Pria yang ada di ponsel itu terdiam sejenak, lalu terdengar tawa dingin. "Selena, trik apa lagi yang sedang kamu mainkan?" tanya Harvey.
Selena memejamkan mata dan berkata dengan tenang, "Harvey, aku akan menunggumu di rumah."
Setelah menutup telepon, saking lemasnya, Selena yang menyandarkan badannya di dinding sampai terjatuh. Air hujan yang deras di luar koridor pun masuk karena tertiup angin hingga membasahi tubuhnya. Dia mencengkeram ponsel dan menggigit lengan bajunya sembari menangis tanpa mengeluarkan suara.
Harvey tercengang begitu panggilan telepon itu tiba-tiba terputus. Selena melakukan perang dingin selama satu tahun dan enggan untuk bercerai. Kenapa hari ini dia tiba-tiba malah berubah pikiran?
Suara Selena terdengar agak terisak. Melihat hujan lebat yang turun di luar, Harvey pun segera melangkahkan kakinya meninggalkan ruang pemeriksaan.
"Harvey, mau ke mana kamu?" Agatha mengejarnya sambil menggendong anak mereka. Namun, yang terlihat hanyalah sosok Harvey yang berjalan semakin menjauh. Wajah yang hangat itu pun tiba-tiba berubah menjadi suram dan menakutkan.
"Dasar sialan, ternyata masih belum menyerah juga," ujar Harvey dalam hati.
Harvey sudah lama tidak menginjakkan kaki di kamar pernikahan mereka. Dia mengira Selena akan menyuguhkan satu meja penuh hidangan favoritnya dan menunggunya pulang. Namun, begitu dia tiba, vila itu terlihat kosong, kurang penerangan, dan terasa ada aura yang suram.
Malam di musim dingin selalu datang lebih cepat, baru pukul enam lewat saja di luar sana sudah tampak gelap.
Harvey melirik bunga yang layu di atas meja makan.
Dengan sifat yang dimilikinya, Selena tidak akan pernah membiarkan bunga layu seperti ini, dia pasti akan membuangnya. Jadi hanya ada satu kemungkinan, yaitu beberapa hari ini dia tidak ada di rumah, dia kemungkinan besar berada di rumah sakit.
Saat mendorong pintu dan berjalan masuk, Selena melihat seorang pria dengan postur tubuh yang tinggi sedang berdiri di samping meja dengan mengenakan setelan jas. Begitu pemilik wajah tampan yang sedingin es itu mengarahkan pandangannya pada Selena, terlihat kebencian yang luar biasa dari dalam bola matanya yang gelap itu.
Selena yang basah kuyup akibat berlari menerjang hujan lebat setelah turun dari bus, merasa tubuhnya gemetaran begitu melihat tatapan mata yang sangat dingin dari Harvey.
"Kamu pergi ke mana?" tanya Harvey dengan suara yang dingin.
Sepasang mata Selena yang biasanya cerah, saat ini terlihat sayu. Dia melihat ke arah Harvey sambil berkata dengan nada bicara yang datar, "Apakah kamu masih peduli dengan hidup dan matiku?"
Harvey mencibir dan berujar, "Aku khawatir tidak ada yang tanda tangan kalau kamu mati."
Kalimat itu terasa seperti ribuan duri yang menusuk dengan keras ke jantungnya. Selena berjalan ke dalam ruangan dalam kondisi basah kuyup. Dia tidak menangis, tidak juga membuat keributan. Selena dengan tenang mengeluarkan kantong dokumen berisikan surat perjanjian.
"Jangan khawatir, aku sudah membubuhkan tanda tangan."
Perjanjian hitam di atas putih itu diletakkan di atas meja makan. Harvey tidak pernah merasa bahwa kata "perceraian" yang tertera di kertas itu bisa begitu menyilaukan mata.
Selena hanya punya satu permintaan, yaitu uang 20 miliar rupiah sebagai kompensasi.
"Sudah kuduga, mana mungkin kamu mau bercerai? Ternyata itu demi uang."
Ekspresi mengejek dari Harvey memenuhi bola mata Selena. Jika sebelumnya Selena akan berusaha memberikan penjelasan, hari ini dia benar-benar sudah terlalu lelah.
Oleh karena itu, Selena hanya berdiri dengan tenang dan menjawab dengan lembut, "Pada dasarnya aku bisa saja mengambil setengah dari kekayaan Tuan Harvey, tapi aku hanya ingin 20 miliar rupiah saja. Bisa dibilang aku ini terlalu baik hati."
Harvey melangkah maju, sosoknya yang tinggi besar itu menutupi badan Selena. Jari-jarinya yang ramping mencengkeram dagu Selena, lalu dia berkata dengan suara yang dingin dan tegas, "Kamu memanggilku apa?"
"Jika Tuan Harvey tidak suka dipanggil seperti itu, aku juga tidak keberatan memanggilmu sebagai mantan suami. Kamu bisa pergi setelah membubuhkan tanda tangan."
Wajah wanita yang berwatak keras itu membuat Harvey merasa tidak senang. "Ini rumahku, apa kamu punya hak untuk memintaku pergi?" ujar Harvey.
Selena tersenyum sinis dan berkata, "Aku memang tidak punya hak. Tuan Harvey, jangan khawatir, aku akan pindah dari sini setelah mendapatkan akta cerai."
Setelah mengatakan hal itu, Selena menepis tangan Harvey. Matanya yang suram menatap lurus ke arah Harvey, lalu dia berkata dengan dingin, "Tuan Harvey, besok pagi jam sembilan, bawa surat cerai dan kartu keluarga. Kita akan bertemu di Kantor Catatan Sipil."
Bab 2
Di malam yang gelap, Selena menuju ke kamar mandi sendirian.
Air panas menghilangkan rasa dinginnya. Dia menggosok-gosok matanya yang merah dan bengkak seraya berjalan ke sebuah kamar. Begitu Selena membuka pintu kamar itu, tampak di depan matanya sebuah kamar anak-anak dengan dekorasi yang penuh kehangatan.
Dia dengan lembut menggoyangkan lonceng. Alunan musik dari kotak musik pun terdengar di dalam ruangan. Lampu yang ada ruangan itu terlihat kuning dan redup. Itu jelas-jelas merupakan pemandangan yang menghangatkan, tetapi Selena tidak bisa menghentikan air matanya yang mengalir dengan deras.
Mungkin ini adalah karma bagi dirinya. Dia telah gagal melindungi anaknya, sehingga Tuhan ingin mengambil nyawanya.
Selena naik ke ranjang sepanjang 1,2 meter dan meringkukkan badannya seperti seekor udang kecil. Air mata dari mata kirinya mengalir ke mata kanannya, kemudian meluncur ke pipinya, membasahi selimut bayi yang ada di bawahnya.
Dia bergumam pelan sambil menggenggam sebuah boneka dengan erat, "Maafkan Ibu, Nak. Ini semua salah Ibu. Ibu tidak bisa melindungimu. Jangan takut, Ibu akan segera menemanimu di sana."
Setelah kematian anaknya, dia selalu tidak bersemangat, seperti bunga segar yang layu secara perlahan.
Selena memandangi kegelapan malam sambil berpikir, asalkan dia meninggalkan sejumlah uang ini untuk ayahnya, maka dia bisa pergi menemui bayinya.
Keesokan paginya, walau langit belum terang, Selena sudah berpakaian dengan rapi. Dia menunduk dengan wajahnya yang tersenyum sambil melihat surat nikah.
Dalam sekejap mata, sudah tiga tahun berlalu.
Selena secara khusus membuat sarapan yang menyehatkan untuk lambungnya. Meskipun dia tidak akan berumur panjang, dia tetap ingin hidup selama mungkin untuk merawat ayahnya.
Baru saja hendak keluar dari rumah, Selena menerima telepon dari rumah sakit, "Bu Selena, Tuan Arya mengalami serangan jantung mendadak dan telah diantar ke unit gawat darurat."
"Aku akan segera ke sana!" serunya.
Selena langsung bergegas menuju ke rumah sakit. Operasinya masih belum selesai. Dia menunggu di luar ruang operasi dengan mengepalkan kedua tangannya. Selena telah kehilangan segalanya, satu-satunya hal yang bisa diharapkannya adalah sang ayah bisa hidup dengan baik.
Perawat yang berada di samping menyerahkan setumpuk kertas sambil berkata, "Bu Selena, ini adalah biaya perawatan darurat serta operasi untuk kejadian yang terjadi secara mendadak pada ayahmu barusan."
Selena melihat rincian biayanya, ternyata mencapai dua ratusan juta rupiah.
Biaya pemulihan harian ayahnya setiap bulan mencapai 100 juta rupiah. Dia menjalani tiga pekerjaan sekaligus untuk bisa menutupi semuanya. Dia baru saja membayar biaya rawat inap untuk bulan ini. Sekarang hanya tersisa uang sebanyak 10 juta rupiah di dalam kartu ATM-nya, mana cukup untuk operasi?
Selena terpaksa menelepon Harvey. Harvey pun berkata dengan dingin, "Kamu di mana? Aku sudah menunggumu selama setengah jam."
"Aku ada urusan darurat, tidak bisa pergi."
"Selena, memangnya menyenangkan kalau seperti ini?" Harvey tersenyum dingin sambil berkata, "Sudah kuduga, mana mungkin kamu tiba-tiba mengubah sifatmu? Kebohongan yang kamu karang ini sangat murahan. Apa kamu anggap aku ini orang bodoh?"
Pria ini benar-benar mengira Selena telah berbohong, Selena pun menjelaskan, "Aku tidak berbohong padamu. Dulu memang aku yang masih tidak terima. Aku mengira kamu melakukan ini padaku karena kamu punya kesulitan yang sulit untuk dijelaskan. Tapi sekarang aku sudah mengerti. Janji pernikahan seperti ini sejak awal tidak diperlukan. Aku rela bercerai denganmu. Aku tidak datang karena penyakit jantung ayahku kambuh dan harus dioperasi ... "
"Apa dia sudah mati?" tanya Harvey. Selena merasa aneh, mana ada orang yang akan berbicara seperti ini?
"Belum, sedang dilakukan penyelamatan. Harvey, biaya operasinya mencapai dua ratusan juta rupiah. Bisakah kamu memberikan 20 miliar rupiah dulu kepadaku? Aku berjanji, aku akan bercerai denganmu!"
Pria itu menjawab sambil tertawa, "Selena, sebaiknya kamu mengerti. Aku memang paling berharap ayahmu mati. Aku bisa memberimu uang, tapi setelah mendapatkan akta cerai."
Kemudian terdengar nada sibuk dari ponsel. Wajah Selena terlihat tidak percaya. Dia ingat bahwa Harvey masih sangat menghormati ayahnya ketika mereka masih berpacaran. Namun, nada kebencian yang terdengar dari ponsel tadi sama sekali tidak lucu.
"Harvey ingin ayahku mati? Kenapa?" tanyanya dalam hati.
Jika dihubungkan dengan kebangkrutan Keluarga Bennett pada dua tahun yang lalu, semuanya tampak semakin jelas.
"Mana mungkin begitu kebetulan?"
"Mungkin Harvey yang telah membuat Keluarga Bennett bangkut, tetapi apa kesalahan yang telah diperbuat oleh Keluarga Bennett pada Harvey?" pikir Selena lagi.
Selena tidak bisa terlalu banyak berpikir. Hal yang terpenting saat ini adalah dia harus mengumpulkan uang dua ratusan juta rupiah untuk biaya pengobatan terlebih dahulu.
Saat pintu ruang operasi terbuka, Selena bergegas melangkah maju dan bertanya, "Dokter Albert, bagaimana dengan kondisi ayahku?"
"Bu Selena, jangan khawatir. Tuan Arya sangat beruntung bisa melewati kondisi kritis. Tapi secara psikologis dia masih terlalu lemah. Untuk sementara waktu ini, jangan sampai emosinya terguncang lagi."
"Aku mengerti." Selena menghela napas lega dan berkata, "Terima kasih, Dokter Albert."
Saat Arya masih dalam keadaan koma, Selena bertanya pada perawat, "Kondisi mental ayahku cukup baik, mengapa dia tiba-tiba mengalami serangan jantung?"
Perawat itu segera menjawab, "Suasana hati Tuan Arya belakangan ini sangat gembira. Tuan Arya juga bilang bahwa dia ingin makan pangsit udang atau semacamnya. Aku pikir hanya perlu sepuluh menit lebih untuk perjalanan pergi dan kembali ke sini. Jadi aku pergi untuk membelikan bubur buat Tuan Arya. Saat aku kembali, dia sudah diantar ke unit gawat darurat. Bu Selena, ini semua salahku!"
"Apakah ayahku bertemu dengan seseorang sebelum kamu pergi?"
"Tidak, tidak ada yang berbeda pada diri Tuan Arya sebelum aku pergi. Dia bahkan mengatakan kalau kamu menyukai kue apam di Restoran Rindani, sehingga dia juga memintaku untuk membelinya. Siapa yang menyangka tiba-tiba hal ini terjadi ... "
Selena selalu merasa bahwa hal ini tidak sesederhana yang terlihat. Setelah meminta perawat itu agar merawat Arya dengan baik, dia berjalan dengan cepat menuju ke ruang perawat untuk menanyakan tentang registrasi pengunjung.
"Bu Selena, tidak ada yang mengunjungi Tuan Arya pagi ini," jawab seorang perawat.
"Terima kasih."
"Oh ya, Bu Selena, apakah biaya Tuan Arya sudah dilunasi?"
Dengan wajah yang terlihat canggung, Selena berkata, "Aku akan segera melunasinya, maaf."
Dia keluar dari ruang perawat dan memesan taksi untuk bergegas menuju ke Kantor Catatan Sipil. Namun, di mana sosok Harvey?
Selena dengan cemas menghubungi nomor ponsel Harvey. "Aku sudah sampai di Kantor Catatan Sipil, di mana kamu?" tanyanya.
"Di kantor."
"Harvey, bisakah kamu datang untuk melakukan administrasi perceraian sekarang?"
Harvey mencibir dan berkata, "Menurutmu mana yang lebih penting, negosiasi kontrak senilai triliunan rupiah atau dirimu?"
"Aku bisa menunggumu menyelesaikan negosiasi kontrak. Harvey, anggap saja aku memohon padamu, ayahku sangat membutuhkan uang saat ini," kata Selena.
"Jika dia meninggal, aku yang akan membayar biaya pemakamannya," ujar Harvey.
Setelah mengatakan itu, Harvey pun menutup panggilan telepon. Ponselnya sudah tidak aktif ketika dicoba untuk dihubungi lagi.
Guyuran hujan yang lebat bagaikan jaring besar mengurung diri Selena. Hal ini membuatnya tidak bisa bernapas di dalamnya.
Dia berjongkok di bagian bawah halte bus sambil melihat jalan yang penuh dengan orang yang lalu-lalang, Selena terlihat menyesal.
Jika tidak mengambil cuti dari studinya karena hamil, Selena pasti sudah mendapatkan ijazah kelulusannya sekarang. Dengan kemampuan dan pendidikannya, dia akan memiliki masa depan yang sangat cerah.
Siapa sangka Keluarga Bennett akhirnya bangkrut? Harvey yang awalnya memperlakukannya seperti harta yang berharga, tiba-tiba berubah. Selena kehilangan segalanya dalam waktu yang singkat.
Setahun yang lalu, Harvey meminta seseorang untuk mengambil semua perhiasan dan tas bermerek milik Selena. Satu-satunya barang berharga di tubuhnya saat ini adalah cincin kawin mereka berdua. Selena melepaskan cincin itu, lalu berjalan masuk ke sebuah toko perhiasan kelas atas dengan langkah mantap.
Sambil mengamati Selena yang mengenakan pakaian murah dalam kondisi basah kuyup, pelayan toko berkata, "Nona, apakah kamu membawa faktur dan bukti pembeliannya?"
"Ya, aku bawa." Selena berpura-pura tidak melihat pelayan toko itu sedang mengamati dirinya. Dia menundukkan kepala dan menyerahkan faktur dengan segera.
"Oke, Nona. Kami perlu mengirimkan cincin ini untuk pengecekan keaslian. Besok baru aku beri tahu hasilnya, bagaimana?"
Selena menjilat bibirnya yang kering dengan sedikit cemas, lalu berkata, "Aku sangat membutuhkan uang, bisakah prosesnya lebih diperepat?”
"Oke, aku akan mencoba yang terbaik. Nona tunggu sebentar ... "
Sebelum pelayan toko sempat mengambilnya, tiba-tiba ada sebuah tangan putih dan halus menekan tutup kotak perhiasan itu sambil berkata, "Cincin ini sangat indah, aku menginginkannya."
Saat Selena mendongak, terlihat wajah yang membuatnya jijik, ternyata Agatha!
Bab 3
Agatha mengenakan mantel putih yang halus, anting mutiara putih di telinganya membuatnya terlihat lembut dan elegan.
Selendang di lehernya saja bernilai puluhan juta rupiah. Pelayan bergegas menyambutnya begitu melihatnya, "Nyonya Irwin, Tuan Harvey tidak menemani Anda memilih perhiasan hari ini?"
"Nyonya Irwin, toko kami kembali kedatangan model perhiasan terbaru, setiap jenisnya sangat cocok untuk Anda."
"Nyonya Irwin, zamrud yang Anda pesan waktu itu telah tiba. Anda bisa memakainya nanti, pasti sangat cocok dengan warna kulit Anda."
Pelayan itu tidak berhenti menawarkan produk pada Agatha. Agatha menatap Selena sambil tersenyum, tatapannya yang penuh rasa puas itu seakan menyatakan kemenangannya.
Seluruh dunia tahu bahwa Harvey memanjakannya seperti permata, tetapi tidak ada yang tahu bahwa Selena adalah istri yang sah.
Selena mengepalkan tangannya sambil berkpikir, "Mengapa aku bertemu dengan orang yang tidak ingin kutemui di saat yang paling menyedihkan?"
Agatha bertanya dengan lembut, "Jika kamu ingin menjual cincin yang berkualitas tinggi ini dengan cepat, maka kamu akan rugi banyak."
Selena mengulurkan tangan dan menyambar kotak cincin itu, lalu berkata dengan ekspresi wajah marah, "Aku tidak jadi menjualnya."
"Tidak jadi menjualnya? Sayang sekali, padahal aku cukup menyukai cincin ini. Karena kita saling kenal, sebenarnya aku berencana untuk membelinya dengan harga tinggi, bukankah Nona Selena sedang kekurangan uang?"
Tangan Selena menjadi terasa kaku. Ya, dia memang benar-benar kekurangan uang. Karena Agatha mengetahuinya, sehingga Agatha pun menginjak-injak harga dirinya tanpa belas kasihan.
Pelayan di sekitarnya sibuk memberi nasihat, "Nona, dia adalah tunangan direktur Grup Irwin. Sungguh jarang Nyonya Irwin bisa menyukai cincinmua, dia pasti akan memberimu harga yang bagus, sehingga kamu tidak perlu menunggu prosedur dari pihak kami untuk mendapatkan uang."
Betapa menyakitkan panggilan "Nyonya Irwin" ini. Jelas-jelas setahun yang lalu Selena bersumpah untuk mengatakan kepada Agatha bahwa dia tidak akan pernah bercerai, agar Agatha menguburkan niat untuk bisa mendapatkan Harvey.
Satu tahun baru saja berlalu, semua orang sudah mengetahui identitasnya. Selena semakin merasa bahwa pernikahan dirinya dengan Harvey hanyalah sebuah siasat.
Saat melihat bahwa Selena merasa ragu-ragu, Agatha pun tersenyum bahagia sambil berkata, "Nona Selena, sebutkan saja harganya."
Wajah licik itu benar-benar menjijikkan. Selena menatapnya dengan dingin dan berkata, "Aku tidak jadi menjualnya."
Agatha menolak untuk melepaskannya. "Nona Selena sudah di ujung tanduk, mungkinkah masih memedulikan harga diri? Jika aku adalah Nona Selena, aku akan melepaskannya dengan senang hati. Sepertinya tidak ada orang yang memberitahumu bahwa jika kamu bersikeras tidak mau melepaskan sesuatu, wajahmu akan terlihat sangat buruk rupa."
"Omongan Nona Agatha ini benar-benar menggelikan. Kamu sangat bangga dengan barang hasil rampasanmu itu. Jika memang suka merampas, mengapa tidak pergi merampok bank saja?"
Saat keduanya berdebat, cincin dari kotak perhiasan itu melayang keluar, lalu terdengar suara "tringgg" saat cincin menghantam lantai.
Selena dengan cepat mengejarnya. Cincin itu langsung terlempar ke arah pintu dan berhenti di depan sepasang sepatu kulit buatan tangan yang indah.
Selena membungkuk untuk mengambilnya. Setetes air dari atas kepala orang itu jatuh di lehernya, rasanya begitu dingin sampai menusuk ke tulang.
Dia perlahan mendongak, lalu terlihat tatapan sepasang mata yang dingin. Payung hitam yang dipegang oleh Harvey belum ditutupnya, sehingga tetesan air hujan bergulir dari permukaan payung yang melengkung dan jatuh di kepala Selena.
Mantel wol hitam yang halus membuat sosok Harley terlihat tinggi besar dan gagah.
Selena kebingungan saat menatapnya. Dia teringat saat pertama kali bertemu Harley. Waktu itu, Harley baru berusia dua puluh tahun, berdiri di taman bermain yang dipenuhi sinar matahari dengan mengenakan kemeja putih, seolah-olah dia berdiri di puncak hati Selena. Pemandangan itu selamanya terpatri di hatinya. Pada saat itu usia Selena baru empat belas tahun.
Dia mengenakan sweater rajutan, teksturnya yang berbulu halus membuatnya terlihat semakin kurus, dagunya yang lancip pun terlihat lebih kurus daripada tiga bulan sebelumnya.
Harley terlihat sangat terhormat, sementara Agatha begitu rendah seperti debu.
Gerakan Selena untuk mengambil cincin itu pun terhenti seketika. Pada saat itu juga, pria itu mengangkat kakinya dan menginjak cincin itu dengan satu kaki, lalu melewati Selena tanpa ekspresi di wajahnya.
Selena masih setengah berjongkok. Cincin ini dirancang oleh dirinya sendiri sesuai dengan desain kesukaannya, tidak mencolok, bentuknya unik, hanya ada satu-satunya di dunia.
Setelah memakainya, Selena tidak pernah melepasnya, kecuali saat mandi.
Jika bukan karena dia saat ini benar-benar kekurangan uang, dia juga tidak berencana menjualnya. Namun, benda yang dia anggap sebagai benda berharga ini hanya dianggap sampah di mata orang lain.
Bukan cincin yang diinjak pria itu, melainkan masa lalu Selena yang berharga.
Agatha tersenyum sembial berjalan mendekat ke arah pria itu, lalu menjelaskan, "Harley, kau sudah datang? Kebetulan aku baru saja memilih perhiasan, lalu aku melihat Nona Selena menjual cincinnya."
Wajah dingin Harley tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Matanya yang sedingin es itu menatap ke arah wajah Selena dengan penuh amarah, lalu bertanya dengan nada bicara yang dingin, "Kamu menjual cincin ini?"
Selena menahan air matanya sambil menggigit bibirnya untuk menahan diri agar tidak menangis. "Ya, apakah Tuan Harvey ingin membelinya?"
Harley tersenyum mengejek sambil berkata, "Aku masih ingat Nona Selena pernah berkata betapa pentingnya cincin ini bagimu, tetapi sepertinya ketulusanmu tidak sampai sebesar itu. Benda yang sudah tidak ada ketulusan bagiku hanyalah sampah."
Baru saja ingin menanggapinya, rasa sakit yang membara di perut Selena kembali mengganggu sarafnya. Seiring dengan pertumbuhan tumornya yang semakin besar, rasa sakit yang awalnya ringan, sekarang menjadi terasa seakan jantungnya tertusuk-tusuk.
Selena memandangi Harvey dan Agatha tampak begitu serasi. Pria yang gagah dan wanita cantik ini berdiri di bawah cahaya lampu yang terang. Mereka seakan tampak seperti pasangan yang paling ideal di dunia ini.
Selena tiba-tiba tidak memiliki kekuatan lagi untuk berdebat. "Apa pun yang kamu berikan kepada pria yang sudah berubah hatinya, dia tidak akan peduli padamu lagi meskipun kamu membuka hatimu sepenuhnya untuk dirinya," pikir Selena.
Selena mencoba menahan rasa sakitnya dan mengambil cincin itu, lalu perlahan-lahan dia berjalan kembali ke kasir untuk mengambil kotak dan sertifikat cincinnya.
Dia tidak ingin terlihat lemah di depan Harley. Meskipun dia harus pingsan karena rasa sakit, dia tetap mempertahankan langkah kakinya dengan tegar.
Saat berjalan melewati Harvey, dia berkata dengan pelan, "Sama seperti Tuan Harvey, dulunya aku menganggapnya sebagai hidupku, Ternyata sekarang dia hanyalah batu yang bisa ditukar dengan uang."
Harley merasa ada yang tidak beres dengan Selena. Dahi Selena yang halus itu dipenuhi keringat, wajahnya tampak pucat hingga seputih kertas, seolah-olah dia berusaha sekuat tenaga untuk menahan rasa sakit.
Sebuah tangan yang besar tiba-tiba menarik lengan Selena, lalu terdengar suara dengan nada bicara yang rendah, "Ada apa denganmu?"
Selena menepis tangan Harvey sambil berkata, "Tidak ada hubungannya denganmu."
Tanpa menoleh ke belakang lagi, Selena mencoba menegakkan punggungnya, lalu pergi dan menghilang dari pandangan Harvey.
Harvey pun menatap kepergian Selena. Jelas-jelas Harvey sendiri yang memilih untuk mencampakkan Selena, tetapi mengapa sekarang Harvey malah masih merasa sakit hati?
Selena mencari tempat yang sepi, lalu segera mengeluarkan obat penghilang rasa sakit dari tasnya.
Dia tahu bahwa semua proses penyembuhan dan obat anti kanker akan memiliki efek samping, jadi dia hanya membeli beberapa obat penghilang rasa sakit dan obat lambung biasa. Ini bisa membuatnya merasa lebih baik daripada tidak sama sekali.
Sambil memandangi hujan deras, dia pun berpikir, "Apakah itu adalah satu-satunya jalan keluar?"
Harvey adalah orang yang tidak ingin dia temui. Namun, demi ayahnya, Selena hanya bisa berjuang.
Selena segera pulang ke rumah dan membersihkan dirinya yang berantakan. Setelah itu, barulah dia naik taksi ke Vila Permata.
Setahun lebih yang lalu, saat kembali dari luar negeri, ibunya menelepon dirinya. Lebih dari sepuluh tahun tidak bertemu, entah bagaimana keadaan ibunya sekarang.
Selena memandangi vila yang indah itu, sepertinya kehidupan ibunya cukup baik selama ini.
Setelah mengatakan maksud kedatangannya, seorang asisten rumah tangga membawa Selena ke ruang tamu. Di sana duduk seorang wanita yang elegan dan cantik, masih secantik yang dia ingat.
"Selena." Mata yang indah itu melihat ke arah Selena.
Namun, panggilan "Ibu" tetap tidak bisa terucap dari mulut Selena.
Bab 4
Ibu dari Selena, yaitu Maisha Osmond, pergi ketika Selena berusia delapan tahun. Hari itu adalah hari ulang tahun Arya. Selena pulang dengan penuh sukacita untuk mempersiapkan ulang tahun ayahnya, tetapi yang dia dapati justru surat cerai kedua orang tuanya.
Demi mengejar ibunya, Selena bahkan sampai terjatuh terguling dari tangga. Dia tidak menyadari sepatu yang sudah terlepas dari kakinya. Kemudian dia memeluk kaki Maisha dan terus menangis. "Ibu, jangan pergi!" serunya.
Wanita yang berpenampilan terhormat itu membelai pipi Selena yang lembut sambil berkata, "Maafkan Ibu."
"Ibu, aku mendapat peringkat pertama di kelasku kali ini, Ibu belum melihat kertas ulanganku, itu perlu ditandatangani oleh orang tua."
"Ibu, jangan tinggalkan aku. Aku tidak akan nakal. Aku berjanji tidak akan pergi ke taman bermain lagi, aku tidak akan membuatmu marah lagi, aku akan patuh, aku mohon … "
Selena mengungkapkan ketidakrelaannya dengan rasa panik. Dia berharap wanita itu akan tetap tinggal. Maisha hanya memberitahunya bahwa pernikahannya dengan ayahnya tidak bahagia. Sekarang dia telah menemukan kebahagiaan sejatinya.
Selena melihat seorang pria yang tidak dikenalnya membantu ibunya memasukkan koper ke dalam mobil, lalu mereka pergi bergandengan tangan.
Selena mengejar mereka hingga sejauh ratusan meter dengan kaki telanjang, sampai dia pun terjatuh dengan keras di atas tanah. Lutut dan telapak kakinya terluka. Selena hanya bisa memandangi kepergian mobil yang selamanya tidak bisa dikejarnya itu tanpa berdaya.
Pada saat itu, dia tidak mengerti. Setelah tumbuh dewasa, dia baru mengetahui bahwa ibunya telah ketahuan berselingkuh oleh ayahnya, sehingga ibunya pun langsung mengajukan perceraian dan pergi dari rumah tanpa membawa harta apa pun, termasuk dirinya.
Selena sangat membenci ibunya dan tidak pernah berhubungan selama lebih dari sepuluh tahun dengannya, Selana bahkan pernah berpikir untuk tidak menemui ibunya lagi seumur hidup ini.
Namun, takdir benar-benar konyol. Pada akhirnya, Selena masih harus tunduk di hadapan ibunya itu.
Tenggorokan Selena seperti tersumbat sesuatu. Dia berdiri di sana tanpa bergerak sama sekali. Maisha juga tahu apa yang dipikirkan Selena, sehingga dia berinisiatif untuk bangkit berdiri dan menarik putrinya untuk duduk di sampingnya.
"Aku tahu kamu membenciku. Saat itu kamu masih kecil, banyak hal yang tidak seperti yang kamu pikirkan. Ibu tidak bisa menjelaskannya padamu. "
Maisha mengulurkan tangan dan membelai wajah putrinya sambil berkata, "Putriku sudah dewasa. Nak, Ibu akan tinggal di sini cukup lama pada kepulangan kali ini. Ibu tahu telah terjadi sesuatu pada Keluarga Bennett. Tapi tidak apa-apa, Ibu akan menjagamu dengan baik."
Saat ini, Selena baru menyadari bahwa kebencian itu tiba-tiba terasa tidak berarti lagi saat terdengar kata "Ibu". Selena pun memanggil dengan terbata-bata, "Ibu."
"Anak baik, tinggallah di sini untuk makan malam. Selama ini Paman Calvin memperlakukan Ibu dengan sangat baik. Dia memiliki seorang putri yang dua tahun lebih tua dari kamu, sebentar lagi dia akan datang untuk makan malam dengan tunangannya, Ibu akan memperkenalkan kalian satu sama lain."
Selena sama sekali tidak berniat untuk bergabung dengan keluarga baru ibunya, sehingga dia buru-buru menyela, "Ibu, kedatanganku kali ini semata-mata hanya karena masalah Ayah. Ibu tahu Keluarga Bennett sudah bangkrut, sekarang ayah sedang mengalami sakit jantung. Aku tidak punya uang untuk biaya operasi, bisakah Ibu membantuku? Aku berjanji akan mengembalikannya kepada Ibu nanti."
Sebelum menjawabnya, Maisha mendengar suara yang tidak asing, "Nona Selena benar-benar kekurangan uang hingga harus datang dan meminta uang ke rumahku, ya."
Mendengar suara ini Selena tampak seperti disambar petir. Dia menatap orang-orang yang muncul di depan pintu saat ini. Dia sungguh merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bukankah itu Agatha dan Harvey?
Nasib kembali mempermainkan dirinya, dia tidak menyangka ibunya telah menjadi ibu tiri Agatha!
Suami dan ibunya kini telah menjadi kerabatnya.
Sekarang kebetulan dia tertangkap basah oleh Agatha dan Harvey ketika hendak meminta uang kepada ibunya.
Saat memandangi ekspresi Selena yang gelisah, Harvey hanya tetap bersikap tenang dan tidak bereaksi apa pun.
"Uwaa uwaa uwaa ... "
Suara tangisan bayi memecah suasana yang canggung itu. Saat ini Selena memperhatikan kereta bayi kembar yang didorong oleh asisten rumah tangga.
Pada saat bayi itu baru mulai menangis, Harley sudah menggendong salah satu bayi itu dan membujuknya dengan terampil.
Pemadangan hangat dari keluarga yang beranggotakan empat orang itu bagaikan menusuk mata Selena. Seandainya masih hidup, mungkin anaknya saat ini juga sudah sebesar mereka.
Dia mulai menyesal mengapa dia mau datang ke sini. Dia merasa benar-benar malu, hatinya bagaikan tersayat-sayat.
Anehnya, hari ini anak itu tidak bisa berhenti menangis meskipun telah dibujuk dengan berbagai cara. Asisten rumah tangga pun buru-buru mengambilkan susu, tetapi anak itu malah menangis semakin hebat.
Harvey dengan sabar membujuk, “Anakku sayang, jangan menangis lagi, ya."
Cara pria bertubuh tinggi dan gagah itu menggendong anak kecil sungguh menghangatkan hati. Dia terlihat lembut dan sabar, hingga membuat sebuah pemikiran tiba-tiba muncul di benak Selena.
Dia pun bangkit berdiri dan melangkah maju beberapa langkah ke depan Harley, kemudian meraih anak itu. Anehnya, Harley tidak menghentikannya. Yang lebih aneh lagi, saat digendong olehnya, anak itu berhenti menangis dan malah tersenyum.
Alis dan mata anak berusia hampir satu tahun itu terlihat sangat indah, bibir merah mudahnya melengkung ke atas. Anak itu pun tertawa sambil menggumamkan kata yang tidak begitu jelas, "Am … ma … "
Tangannya yang kecil dan putih itu dengan lembutnya mencoba meraih bola bulu di topi Selena. Ekspresi wajah anak itu tampak begitu ceria. Senyumannya yang begitu memesona itu membuat wajahnya terlihat mirip sekali dengan Harvey.
Hati Selena sepertinya telah ditikam oleh pisau. Keteguhan hatinya pun seakan hancur menjadi berkeping-keping.
Selena begitu naif berpikir bahwa Harvey mencintai dirinya. Harvey memperlakukannya dengan sangat baik selama tahun pertama pernikahan mereka.
Dalam mimpi di tengah malam, Harvey mengganggu Selena dengan bergumam pelan di telinganya, "Seli, lahirkanlah seorang anak untukku."
Bagaimana mungkin Selena menolak memberikan apa yang diinginkan pria itu? Meskipun belum lulus kuliah, Selena pun tetap bertekad untuk hamil.
Pada saat ini, Selena baru menyadari, selama menjalin kasih dengan dirinya, Harvey sering kali bepergian ke luar negeri untuk urusan bisnis. Ternyata, pada setiap kepergiannya ke luar negeri, Harvey juga menjalin hubungan dengan wanita lain.
Lambung Selena pun bergejolak lagi. Selena melemparkan anak itu kepada Harvey, kemudian langsung berlari ke dalam toilet tanpa menoleh sama sekali. Setelah itu, Selena mengunci pintu toilet.
Dia belum makan apa pun. Yang dia muntahkan hanyalah cairan bercampur darah, tampak gumpalan-gumpalan besar darah berwarna merah terang yang seakan menusuk matanya.
Matanya berkaca-kaca dan berkedut tak bisa terkendali. "Bagus, bagus sekali," ujarnya dalam hati.
"Pernikahan kita sejak awal ternyata hanya lelucon!" serunya lagi dalam hati.
Apa yang tidak dapat dipahaminya dulu, kini dia telah mendapatkan penjelasannya, ternyata semuanya sudah bisa terungkap sejak awal.
Mengapa pada saat yang mereka sama-sama jatuh ke dalam air, orang yang Harvey selamatkan adalah Agatha? Mengapa pada saat mereka sama-sama mengalami kelahiran prematur, Harvey malah menemani Agatha? Karena anak di dalam perut Agatha juga merupakan benih Harvey!
Setelah beberapa waktu, terdengar ada yang mengetuk pintu.
"Selena, apakah kamu baik-baik saja?"
Selena merapikan dirinya, lalu mencuci wajahnya dengan air bersih dan keluar dengan langkah terhuyung-huyung.
Maisha tidak tahu tentang hubungan dan konflik di antara mereka bertiga. Dia menarik Selena dan bertanya dengan perhatian, "Selena, apakah kamu merasa tidak enak badan?"
"Aku hanya jijik melihat kedua orang itu, muntah membuatku merasa lebih nyaman," jawab Selena.
"Selana, kamu kenal dengan Agatha? Dia tinggal di luar negeri selama ini, apakah ada kesalahpahaman di antara kalian? Ini adalah Har ... "
Selena menyela kata-kata Maisha dengan ucapan yang dingin, "Aku tahu, Harvey, presiden direktur Grup Irwin, siapa yang tidak mengenalnya?"
"Ya, Tuan Harvey masih muda dan bertalenta, dia memiliki keberhasilan di usia yang begitu muda."
"Tentu saja Tuan Harvey hebat. Belum selesai bercerai, dia sudah buru-buru ingin menikah lagi, bagaimana mungkin orang biasa memiliki keberanian sepertinya?"
Kalimat itu membuat Maisha menjadi bingung. "Selena, apa yang kamu katakan? Tuan Harvey bahkan belum menikah, bagaimana dia bisa bercerai?" tanya Maisha.
Selena tersenyum mengejek sambil berkata, "Jika dia belum menikah, lalu aku ini apa? Tuan Harvey, ayo beri tahu Ibu, aku ini kamu anggap sebagai apa?"
Bab 5
Maisha menatap Harvey dengan bingung. Dia tidak pernah mendengar kabar bahwa Harvey telah menikah.
"Tuan Harvey, kami telah tinggal di luar negeri selama bertahun-tahun dan tidak mengetahui berita di dalam negeri. Apa hubungan putriku dengan kamu?"
Harvey menatap Maisha dengan tenang, lalu berujar dengan wajah tanpa ekspresi, "Meskipun ada hubungan, itu sudah berlalu. Sekarang aku sedang dalam proses perceraian."
Selena tidak menyangka bahwa ketulusannya selama bertahun-tahun hanya menjadi masa lalu yang terucap dari bibir Harvey.
Marah? Tentu saja Selena marah.
Yang lebih membuatnya patah hati adalah dirinya yang buta ini telah menganggap makhluk yang sadis bagaikan hewan itu sebagai harta yang berharga.
Selena mengeluarkan kotak cincin berlian, lalu melemparkannya dengan keras ke kepala Harvey sambil berkata, "Bajingan, berengsek! Hal yang paling aku sesali dalam hidupku adalah berhubungan denganmu. Besok jam sembilan kita ke Kantor Catatan Sipil. Yang tidak datang adalah pecundang!
Kotak itu menghantam kening Harvey hingga memerah, lalu benda itu terjatuh ke lantai. Cincin pun terlempar ke sisi kakinya. Kali ini Selena tidak lagi melirik Harvey sama sekali. Dia langsung menginjak cincin itu dan pergi setelah membanting pintu.
Selama dua tahun terakhir, Selena sudah mengalami banyak hal. Hal kali ini seperti menjadi puncak dari segala beban yang dia tanggung. Dia tidak bisa bertahan lebih lama lagi, akhirnya dia pun pingsan di pinggir jalan.
Melihat tetesan hujan yang tak henti-hentinya turun dari langit, dunia ini bagaikan sedang bermusuhan dengannya.
Dia merasa ingin mati saja.
Di dunia yang penuh tipu daya ini, dia tidak memiliki apa pun yang bisa dirindukan.
Saat terbangun lagi, Selena berada di sebuah kamar yang asing. Cahaya kuning yang hangat mengusir kegelapan, suhu hangat di ruangan itu terasa seperti musim kemarau.
"Kamu sudah bangun."
Selena membuka matanya dan melihat mata Lewis yang lembut. "Kak Lewis, kamu yang menyelamatkanku?"
"Aku melihatmu pingsan di pinggir jalan saat aku pulang kerja, jadi aku bawa kamu pulang. Aku lihat bajumu basah kuyup, jadi aku suruh pembantu untuk mengganti bajumu."
Pria itu memiliki tatapan mata yang jernih, bersih, dan tulus, tanpa sedikit pun nafsu.
"Terima kasih, Kak," ujar Selena.
"Aku sudah memasak bubur, kamu minum air hangat dulu."
Selena membuka selimut dan turun dari tempat tidur. "Tidak perlu, Kak. Sudah larut malam, aku tidak akan mengganggumu lagi," ujar Selena.
Selena yang bertubuh lemah, langsung terjatuh ke tanah saat kakinya baru saja menyentuh lantai. Lewis dengan cepat menolongnya berdiri, aroma deterjen yang harum dari tubuh pria itu tercium di hidung Selena.
Ini sama seperti deterjen pakaian yang dipakai di rumahnya. Tubuh Harvey dulu juga berbau seperti ini.
Setiap kali memikirkan Harvey, pasti ada rasa sakit yang menusuk hatinya.
"Kamu sekarang terlalu lemah. Jika ingin hidup lebih lama, jangan terlalu memaksakan diri." Lewis menasihati dengan lembut, "Anggap saja ini demi ayahmu."
Mata Selena yang tidak tadinya bersinar, saat ini baru saja menunjukkan sedikit harapan. "Kalau begitu, aku akan merepotkanmu," kata Selena.
Selena melihat pria itu sedang sibuk di dapur. Sebenarnya Selena dan Lewis tidak sering berhubungan. Selena baru saja masuk tahun pertama kuliah saat Lewis sudah di tahun keempat. Lewis yang menyerahkan penghargaan kepada Selena ketika Selena terpilih sebagai mahasiswa teladan.
Waktu itu, Lewis sudah magang di rumah sakit terkenal. Dia jarang berada di kampus. Kemudian, Selena bertemu Lewis di rumah sakit. Setelah itu, barulah Selena dan Lewis mulai lebih sering berhubungan.
Hubungan ini tidak bisa menjadi alasan bagi Selena selalu merepotkan Lewis.
Selena baru merasa perutnya sedikit lebih nyaman setelah makan bubur dan minum obat mag.
Lewis kembali membahas masalah kemoterapi. "Ilmu kedokteran sekarang sangat canggih. Kamu baru di stadium lanjut, beberapa pasien kanker stadium lanjut masih bisa hidup. Jadi kamu harus percaya pada dirimu sendiri. Kemoterapi adalah cara pengobatan yang sangat efektif," jelas Lewis.
Selena menundukkan kepalanya sambil berkata, "Aku juga mahasiswa kedokteran, aku tahu manfaat dan efek samping kemoterapi."
Lewis melanjutkan nasihatnya, "Kesempatan sembuh setelah kemoterapi dan operasi sangat besar. Efek sampingnya memang besar, tetapi jika kamu memiliki keyakinan untuk bertahan … "
Selena perlahan mendongak. Matanya berkaca-kaca. Dia menggunakan seluruh kekuatannya untuk menahan air matanya agar tidak jatuh. Bibirnya bergetar dan suaranya gemetar saat berkata, "Tetapi … aku sudah tidak tahan lagi."
Lewis ingin menghibur Selena, tetapi kata-katanya terhenti di bibirnya. Dia tidak bisa mengatakan apa pun saat melihat mata Selena yang memerah. Hati Lewis terasa agak tersumbat.
Setelah beberapa saat, dia bertanya, "Selena, apakah tidak ada orang yang kamu pedulikan di dunia ini?"
Selena terdiam sejenak, lalu perlahan menjawab, "Hanya ayahku."
"Kalau begitu, demi ayahmu, kamu juga harus hidup dengan baik."
Selena tersenyum pahit sambil berkata, "Terima kasih, Kak. Aku sudah merasa tubuhku jauh lebih nyaman, aku tidak akan mengganggumu lagi."
Lewis melihat bahwa cincin kawin Selena yang tidak pernah lepas dari tangannya itu telah menghilang. Dia hendak mengatakan sesuatu, tetapi pada akhirnya tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.
"Kamu mau ke mana? Aku akan mengantarmu."
"Tidak perlu. Aku sudah memanggil taksi, sebentar lagi akan tiba." Selena menolak dengan tegas, sehingga Lewis pun hanya bisa setuju. Namun, Lewis memiliki pemikiran lain. Selena tampak sedih saat mengatakan hal itu tadi, sehingga Lewis takut Selena akan bunuh diri, jadi dia diam-diam mengikuti Selena dari belakang.
Mobil melaju hingga ke tepi sungai. Selena sendirian melamun sambil menatap air sungai. Meskipun hujan telah berhenti, suhu udara tetap masih sangat rendah. Lewis awalnya ingin menghampirinya untuk membujuk Selena, tetapi sebuah MPV tiba-tiba berhenti di samping Selena.
Pintu mobil terbuka, seorang pria berpenampilan elegan yang telah lama menjadi topik utama di majalah ekonomi muncul di bawah lampu jalan.
Lewis terkejut, lalu bertanya-tanya dalam hati, "Apa mungkin suami Selena adalah dia?!"
Angin sungai meniup rambut Selena, menambah kesan kesedihan pada dirinya yang sudah terlihat pucat. Harvey secara tidak sadar mengangkat tangannya dan ingin menyelipkan rambut Selena ke belakang telinga, tetapi dia segera menahan keinginan itu.
"Ada masalah?"
Selena menatapnya dengan sorot mata yang dingin, seolah mengenali wajah pria itu dengan jelas.
"Apakah kebangkrutan Keluarga Bennet ada hubungannya denganmu?" tanya Selena.
"Ya."
Selena bertanya dengan cuek, sementara Harvey menjawab dengan lebih tegas.
"Apakah anak itu adalah anakmu?" Selena mengajukan pertanyaan kedua.
Matanya menatap Harvey tanpa berkedip. Selena sangat berharap bahwa dirinya sendirilah yang telah berpikir terlalu jauh. Namun, Harvey justru tidak berniat untuk menyangkal, bahkan pria itu menjawab dengan tenang, "Ya."
Selena maju dua langkah, lalu menampar wajah Harvey sambil berseru, "Harvey, kamu tidak tahu malu!"
Pria itu dengan mudah menangkap pergelangan tangan Selena, lalu satu tangannya yang lain membelai bekas air mata di wajah Selena. "Sakit?" tanya Harvey.
"Dasar bajingan! Kenapa kamu harus memperlakukanku seperti ini? Memangnya apa kesalahan yang telah Keluarga Bennet lakukan padamu?!"
Harvey menatap Selena dengan tatapan dingin dan tanpa belas kasihan. Dengan suaranya terdengar dingin dan menusuk, Harvey berkata, "Selena, jika kamu ingin tahu jawabannya, kamu bisa pulang dan bertanya pada ayahmu sendiri apa yang telah dia lakukan."
Selena bertanya dengan suara terbata-bata, "Harvey, apakah kamu pernah mencintaiku?"
Dengan sepasang mata hitam yang menunjukkan ketidakpedulian, Harvey dengan perlahan menjawab, "Tidak. Sejak awal, kamu hanyalah sebuah bidak di tanganku."
Air mata Selena mengalir deras hingga jatuh di punggung tangan Harvey. Angin dingin berembus, dan kehangatan yang tersisa pun dengan cepat menjadi dingin.
"Kamu membenciku, 'kan?"
"Ya. Ini adalah utang Keluarga Bennet padaku. Selena, siapa suruh kamu adalah putrinya Arya? Aku ingin kamu hidup setiap hari dalam kesakitan untuk menebus dosa demi adikku!"
"Bukankah adikmu sudah lama hilang? Apa hubungannya dengan Keluarga Bennet?"
Harvey menatap Selena dengan rasa merendahkan. Dia merasa seolah-olah dirinya adalah sosok paling berkuasa di dunia ini yang hendak menghukum Selena. "Selena, saat kamu menikmati semua kasih sayang dari semua orang, adikku mengalami siksaan yang tidak manusiawi. Kamu bisa menebaknya sendiri, aku tidak akan memberitahumu kebenarannya. Aku ingin membuatmu hidup dalam ketakutan selamanya, dan merasakan semua penderitaan yang dialami adikku!" seru Harvey.
Harvey masuk ke mobil sambil meninggalkan sepatah kata dengan nada bicara yang dingin, "Besok jam sembilan, aku tunggu kamu di Kantor Catatan Sipil."
Selena dengan cepat mengejarnya dan terus-menerus memukul pintu mobil. "Katakan dengan jelas, apa yang terjadi dengan adikmu?" tanya Selena.
Mobil itu melaju dengan cepat begitu pedal gas diinjak. Selena pun kehilangan keseimbangan tubuhnya hingga terjatuh ke tanah dengan keras.
Bab 6
Angin sungai yang dingin bertiup ke arahnya terasa begitu dingin, bagaikan pisau yang menusuk ke sumsum tulang. Selena bangkit berdiri dan lanjut mengejar.
Selena meremehkan kondisi tubuhnya saat ini. Baru berlari beberapa meter, dia sudah terjatuh dengan keras lagi. Pintu mobil terbuka kembali, sepasang sepatu kulit buatan tangan yang mengkilap berhenti di depan Selena.
Pandangan Selena perlahan-lahan menyusuri celana panjang pria yang lurus itu, hingga akhirnya dia menatap mata Harvey yang dingin.
"Har … " ucap Selena dengan lemah.
Sepasang tangan dengan urat yang terlihat jelas mendarat di tubuh Selena. Dalam seketika, Selena seperti melihat pemuda berpakaian putih yang pernah memukau dirinya di waktu dahulu. Dia pun tanpa sadar mengulurkan tangan kepada pria itu.
Saat tangan mereka saling berpegangan, Harvey dengan kejam melepaskan genggaman tangannya. Dia telah memberi harapan kepada Selena, tetapi dengan kejam menariknya kembali, hingga membuat tubuh Selena yang baru saja bangkit berdiri, kembali jatuh ke tanah dengan keras.
Selena semula tidak terluka. Pada saat terjatuh, telapak tangannya tepat mendarat di pecahan kaca yang ada di atas tanah. Darah yang berwarna merah mencolok itu pun mengalir dari telapak tangannya.
Harvey menyipitkan matanya, tetapi tidak melakukan apa pun.
Selena tiba-tiba melamun. Dia teringat dulu ketika jarinya terluka sedikit saja, dia dibawa ke rumah sakit oleh Harvey saat tengah malam.
Dokter yang bertugas bahkan tertawa dan berkata, "Pak, untung saja Bapak datang lebih awal. Kalau terlambat, pasti lukanya sudah sembuh sendiri."
Pria yang ada di dalam ingatannya itu terkesan sangat berbeda jauh dengan pria yang ada di depannya saat ini. Alis dan matanya masih sama seperti dulu. Namun, yang berbeda adalah perhatiannya yang telah berubah menjadi sedingin es.
Harvey berkata dengan nada bicara dingin dan tanpa perasaan, "Selena, kalau orang lain tidak paham, itu wajar. Tapi mana mungkin aku tidak memahami dirimu? Dulu kamu masih bisa jungkir balik setelah berlari sejauh 1.500 meter, tetapi sekarang kamu sudah terjatuh hanya setelah berlari beberapa langkah?
Pandangan Harvey pada Selena penuh dengan penghinaan, seakan-akan ada pedang dingin yang menggores-gores tubuh wanita itu.
Selena menggigit bibirnya yang pucat dan menjelaskan, "Bukan. Aku tidak membohongimu. Aku hanya sedang sakit dan merasa ... "
Belum selesai penjelasan itu disampaikan, pria tinggi itu sudah membungkuk, lalu mengangkat dagu Selena. Jari-jari kasarnya membelai bibir Selena yang kering sambil berkata, "Memang seperti buah yang jatuh tak jauh dari pohonnya, kamu sama seperti ayahmu yang sangat munafik. Demi sedikit uang, kamu rela memainkan sandiwara yang begitu buruk."
Ucapan Harvey lebih menyakitkan daripada tiupan angin yang dingin. Kata-kata itu menikam hati Selena dengan sadis.
Selena dengan kasar menepis tangan Harvey dan berkata, "Ayahku orang jujur dan selalu melakukan hal yang terpuji dalam hidupnya, aku yakin dia tidak akan pernah melakukan hal yang jahat!"
"Hah?!" Harvey hanya bisa tertawa dengan ekspresi kejam, sepertinya dia tidak ingin berdebat dengan Selena tentang hal ini. Dia mengeluarkan selembar cek dari dompetnya, lalu mengisinya dengan sembarang angka dan meletakkannya di depan Selena.
"Mau?"
Sepuluh miliar rupiah. Jumlah itu cukup besar, setidaknya bisa membuat Selena tidak perlu mengkhawatirkan biaya pengobatan Arya selama beberapa waktu.
Namun, Harvey jelas-jelas tidak sebaik itu, sehingga Selena pun tidak menerimanya.
"Syaratnya?"
Harvey bergumam di samping telinga Selena, "Asalkan kamu mengatakan bahwa Arya lebih hina daripada binatang, uang ini akan menjadi milikmu."
Setelah mendengar kata-kata ini, ekspresi wajah Selena langsung berubah drastis. Dia mengangkat tangan dan hendak menampar Harvey. Namun, Harvey berhasil menangkap pergelangan tangan Selena. Tangan Selena yang terluka dalam pergulatan itu berhasil menepuk kemeja Harvey hingga meninggalkan bekas tangan yang berlumuran darah.
Harvey mengencangkan cengkeramannya, lalu berkata nada bicaranya yang menjadi lebih keras lagi, "Kenapa? Kamu tidak mau? Kalau begitu, biarkan dia mati di rumah sakit saja. Aku sudah memilihkan tempat pemakamannya."
"Harvey, mengapa kamu menjadi seperti ini?" tanya Selena dengan berlinang air mata.
Pria yang dulu pernah berjanji akan melindunginya seumur hidup dan tidak akan membiarkannya menangis ini, sepertinya hanya ada di dalam sebuah mimpi. Sekarang air matanya hanya menjadi alat untuk menyenangkan pria ini.
Bahkan meskipun cahaya lampu jalan berwarna kuning yang remang-remang itu menyinari wajah Harvey, tetap tidak tampak sedikit pun kehangatan. Hanya ada ketidaksabaran di wajahnya. "Tidak mau bicara?" tanyanya lagi.
Harvey melepaskan Selena, lalu perlahan-lahan merobek cek itu.
Selena menerjang ke arah Harvey untuk mencegah merobek cek itu, tetapi dia didorong oleh Harvey dengan kasar. Harvey bertindak seperti orang yang paling berkuasa di dunia. Dia menatap Selena dengan sorot mata dingin sambil berkata, "Aku sudah memberimu kesempatan."
Sobekan-sobekan kertas itu bagaikan harapan Selena yang hancur berkeping-keping, akhirnya berubah menjadi kupu-kupu yang beterbangan di udara dan jatuh di sampingnya.
"Tidak, jangan!" Selena dengan panik mencoba untuk mengumpulkan sobekan-sobekan kertas itu. Air matanya pun berjatuhan di tanah.
Dia terlihat panik seperti anak kecil yang kehilangan segalanya, sungguh tak berdaya dan kebingungan.
Harvey pun berbalik badan dan pergi. Saat akan naik ke mobil, dia mendengar suara benturan keras. Saat dia menoleh, terlihat seseorang pingsan di atas tanah.
Sopirnya, yaitu Alex, tampak cemas. "Pak Harvey, Nyonya sepertinya pingsan, apakah kita harus membawanya ke rumah sakit?" tanya Alex.
Harvey menatap Alex dengan dingin dan berkata, "Kau sangat peduli padanya?"
Alex sudah lama bekerja untuk Harvey. Dia tahu bahwa dulu Harvey sangat mencintai sang nyonya. Namun, sejak dia pergi untuk mengidentifikasi jenazah, dia telah berubah menjadi orang yang sangat berbeda.
Bagaimanapun, ini adalah urusan keluarga mereka, jadi Alex pun tidak berani banyak bertanya. Dia hanya bisa mengemudikan mobil dengan patuh.
Sambil mobil itu berjalan semakin jauh, Harvey memandangi wanita yang tidak mampu bangkit berdiri itu melalui kaca spion. Ekspresi menghina di wajahnya tampak semakin kentara.
"Sudah lama tidak bertemu, Selena malah makin pandai bersandiwara," pikirnya.
Meskipun Selena dibesarkan dengan segala kemewahan dan kasih sayang, Arya sudah memintanya berlatih berbagai macam olahraga sejak kecil untuk memperkuat tubuhnya. Hal ini dilakukan agar putrinya tidak diganggu oleh orang lain.
Bagaimana mungkin seorang wanita yang memiliki sabuk hitam Taekwondo, mahir dalam kickboxing, dan bertenaga sekuat kerbau itu, bisa pingsan dengan begitu mudah?
Di mata Harvey, ini hanyalah akting yang dilakukan Selena hanya demi uang saja.
Setelah berpikir demikian, Harvey pun mengalihkan pandangannya yang dingin itu, tidak lagi melirik ke arah Selena.
Setelah melihat mobil Harvey menghilang dari pandangan, barulah Lewis terburu-buru berjalan ke sisi Selena.
Selena kembali terbangun. Pemandangan yang tampak di hadapannya adalah kamar yang baru saja dia tinggalkan belum lama tadi. Infus terpasang di punggung tangannya, cairan dingin mengalir perlahan melalui pembuluh darahnya yang membiru, dan luka di tangan kirinya sudah dibalut.
Jam dinding berukir kepala rusa di dinding sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Belum sempat dia berbicara, suara Lewis yang lembut sudah terdengar, "Maaf, aku khawatir kamu akan melakukan hal bodoh, jadi aku mengikutimu.
Selena ingin duduk, Lewis pun segera memberinya satu bantal tambahan dan memberinya minum air. Setelah merasa lebih nyaman, Selena berkata, "Apakah Kak Lewis melihatnya?"
"Maaf, aku tidak bermaksud mengintip privasimu."
Wajah Lewis tampak polos bagai kertas kosong. Ekspresinya bisa terlihat dengan jelas, tidak seperti Harvey.
"Tidak apa-apa, aku adalah istrinya, itu bukan hubungan yang tidak bisa dilihat orang."
Melihat ekspresi Lewis yang bingung, Selena pun berkata sambil tersenyum pahit, "Benar juga. Semua orang mengira Agatha adalah calon istrinya. Kalau kamu tidak percaya, aku juga ... "
Lewis dengan cepat memotong perkataan Selena, "Tidak. Aku percaya. Aku mengenali cincin kawinmu. Itu adalah model edisi terbatas dari SL tiga tahun yang lalu dan hanya ada satu di dunia. Sebuah majalah pernah menulis bahwa itu adalah cincin yang dirancang oleh bos SL untuk istrinya sendiri. Aku tahu bos SL yang sebenarnya adalah Harvey."
Lewis dulu pernah mencoba mengaitkan hubungan antara Selena dengan Harvey. Namun, setelah mendengar adanya desas-desus antara Harvey dan Agatha, ditambah dengan kenyataan bahwa dia tidak pernah melihat Harvey di rumah sakit selama dua tahun terakhir, dia pun menyangkal pemikiran itu.
Selena tanpa sadar menyentuh jarinya yang dulunya mengenakan cincin kawin itu. Jari itu sekarang kosong. Area pada kulit di jarinya itu tampak lebih pucat daripada di sekitarnya, seolah-olah mengingatkannya pada pernikahannya yang konyol.
"Sudah tidak penting lagi apakah aku masih istrinya atau bukan, besok jam sembilan pagi kami akan bercerai."
"Apakah dia tahu tentang kondisimu?" tanya Lewis.
"Dia tidak berhak tahu."
Bab 7
Suara Selena terdengar begitu tenang ketika dia menyebutkan orang itu, dia sepertinya sudah tidak peduli lagi.
Namun, Lewis tahu betul bahwa tidak mungkin Selena tidak peduli lagi pada orang yang pernah dicintainya dengan tulus itu. Selena hanya berusaha menyembunyikan luka di hatinya dan mencoba mengobatinya sendiri ketika tidak ada orang di sekitarnya.
Tanpa bertanya lebih lanjut, Lewis pun kemudian mengubah topik pembicaraan. "Aku tahu kamu belum melunasi biaya operasi ayahmu. Sebagai temanmu, aku akan meminjamkan uang terlebih dahulu kepadamu, nanti kamu kembalikan lagi kepadaku."
Lewis tahu bahwa tidak mudah bagi seorang gadis seperti Selena untuk mendapatkan uang. Lewis sudah berulang kali ingin membantu Selena, tetapi selalu ditolak olehnya.
Selena masih menggelengkan kepalanya kali ini sambil berkata, "Tidak perlu, Kak."
"Selena, kondisi ayahmu lebih penting. Apa kamu lebih suka dipermalukan oleh sampah itu daripada menerima niat baikku? Aku tidak mengajukan syarat apa pun, aku hanya ingin membantumu. Kamu tahu, meskipun keluargaku tidak sekaya Keluarga Irwin, tapi kami bukanlah keluarga biasa. Sejumlah uang ini masih tidak terlalu banyak bagiku. Jangan sampai hatimu merasa terbebani jika menerima bantuanku."
Selena melihat ke arah Lewis sambil memegang secangkir air dengan kedua tangannya. Wajahnya yang pucat itu membuat hati orang yang menatapnya merasa iba.
"Kak, aku tahu kamu adalah orang yang baik, tapi ... aku sudah tidak punya masa depan."
Baik budi maupun uang, Selena merasa tidak sanggup untuk membayar semua itu.
Melihat cairan di dalam botol infus yang hampir habis, Selena tanpa ragu langsung mencabut jarum infus. Karena tidak ada kapas untuk menghentikan pendarahan, darahnya pun menyembur keluar.
Namun, dia tidak peduli dengan hal itu. Dia berdiri sambil mengambil jaketnya dan berkata, "Kak, kamu tidak perlu khawatir tentang masalah uang. Asalkan kami sudah mendapatkan akta cerai, Harvey akan memberiku 20 miliar. Ayahku dioperasi kemarin, aku mau pergi ke rumah sakit untuk menjenguknya."
Selena memang keras kepala. Hal ini juga terlihat ketika dia tiba-tibameninggalkan studinya untuk menikah. Padahal waktu itu dia dipuji sebagai seorang genius. Sungguh tidak ada orang yang menduga dia bisa mengambil keputusan itu.
Bahkan, ketika setiap kali makan bersama Lewis, dosen pembimbingnya sendiri selalu menyayangkan hal ini. Sayang sekali, entah siapa yang telah berhasil mengambil hatinya.
Tampaknya Selena tahu bahwa Lewis akan menawarkan diri untuk mengantarnya, sehingga Selena pun langsung mengangkat ponselnya dan berkata, "Taksi yang kupesan sudah tiba."
Dia benar-benar telah memutuskan harapan Lewis.
Selena menggulung jaketnya. Ketika jari tangannya memegang gagang pintu, di saat itu pula Lewis berkata, "Selena, apakah kamu pernah menyesal melepaskan segalanya untuk menikah dengannya?"
Menyesal?
Harvey adalah orang yang telah menyebabkan Keluarga Bennett menjadi seperti ini. Sedangkan Arya mengalami guncangan berat dalam hidupnya, ditambah lagi dengan kecelakaan yang membuat dia terbaring di rumah sakit. Di sisi lain, Selena sendiri kehilangan anaknya yang imut.
Selena seharusnya merasa menyesal. Namun, saat memejamkan mata, Selena pun teringat kembali pada peristiwa kecelakaan kapal pesiar itu. Pria yang mengangkat tubuhnya di tengah amukan badai, tidak lain adalah pemuda berpakaian putih yang pernah dia temui di sekolah.
Selena berusaha keras menahan air matanya dan berkata, "Aku tidak menyesal."
Terdengar suara "klekkk" saat pintu tertutup. Saat melihat sosok Selena yang berjalan semakin menjauh, perasaan Lewis menjadi campur aduk.
Sesampainya di rumah sakit, Arya masih dalam pemeriksaan di ICU. Selena hanya bisa menatapnya dari jauh. Dia menelan kembali semua pertanyaan yang ingin diajukannya.
Bagi Selena, Arya terkesan sebagai pria bijaksana yang rendah hati dan baik hati. Kedua orang tuanya tidak pernah bertengkar hebat sebelum mereka bercerai.
Meskipun Maisha sudah meninggalkannya selama beberapa tahun, tetapi Arya tidak menikah lagi. Selain bekerja, sisa waktunya digunakan untuk menemani Selena.
Harvey selalu membicarakan ayahnya. Hal ini menunjukkan bahwa orang yang benar-benar dia benci bukanlah Selena.
Dulu Selena pernah mendengar kalau Harvey punya seorang adik perempuan yang hilang sewaktu kecil ketika mereka masih bersama. Hal ini yang membuat ibunya menjadi sangat sedih dan terguncang jiwanya. Sampai-sampai ibunya itu harus tinggal di luar negeri sepanjang tahun.
"Apa hubungan antara adik perempuan Harvey yang menghilang dan Ayah?" pikir Selena.
Selena memutuskan untuk menelusurinya mulai dari orang-orang yang ada di sekitar ayahnya. Pagi-pagi sekali dia sudah bergegas menuju ke rumah sopir keluarganya, yaitu Pak Hermawan. Setelah itu, dia mengunjungi pengurus rumah tangga keluarganya, yaitu Pak Cipto.
Anehnya, orang-orang yang telah ikut bersama ayahnya sepanjang hidup mereka, selain ada yang mengalami kecelakaan mobil yang janggal, ada juga yang pergi ke luar negeri dan tidak dapat dihubungi lagi.
Sedangkan ayahnya yang merupakan satu-satunya orang yang mengetahui kebenaran masalah ini, saat ini masih dalam keadaan koma. Selena menjadi seperti orang linglung yang tidak punya tujuan. Dia terus terjaga dari malam hingga pagi hari.
Hal-hal yang telah terjadi sampai saat ini jelas tidak bisa disebut sebuah kebetulan. Jelas sekali ada orang yang mendalanginya.
Selena juga tidak bodoh. Ketika tidak bisa mendapatkan informasi dari pihak Keluarga Bennett, Selena pun segera berusaha mencari petunjuk dari sopir dan asisten Harvey, yaitu Alex dan Chandra.
Selena melihat jam tangannya, sekarang baru jam tujuh. Saat ini mereka pasti sedang dalam perjalanan untuk menjemput Harvey. Selena pun langsung menelepon Chandra.
Untungnya, setelah beberapa kali berdering, ponsel itu pun diangkat oleh Chandra. Chandra tetap menyapa dengan sopan seperti biasanya, "Halo, Nyonya."
Selena sudah lama tidak mendengar sapaan seperti ini. Dia menahan rasa sedih di hatinya sambil segera berkata, "Pak Chandra, aku ada janji dengan Harvey untuk mengurus perceraian, bisakah kamu menjemputku dan pergi ke sana bersama?"
Chandra pun terdiam. Mereka sama seperti Harvey yang tidak suka dengan hal yang tidak terduga.
Selena buru-buru menambahkan, "Jangan salah paham, aku tidak punya maksud lain. Aku hanya takut perceraian ini akan tertunda lagi jika terjadi hal yang tidak terduga pada hari ini. Biaya pengobatan ayahku di rumah sakit belum dilunasi. Aku ... "
Selena memiliki hubungan yang cukup baik dengan Alex dan Chandra. Dia tidak pernah memperlakukan keduanya dengan kasar. Oleh karena itu, ketika Selena tampak sedang dalam kondisi tidak berdaya, Chandra pun menyetujuinya, "Nyonya ada di mana? Aku akan segera ke sana."
Selena memberikan alamat yang paling dekat dengan mereka, yaitu jalan menuju Perumahan Kenali. Perumahan Kenali adalah tempat tinggal Agatha.
Meskipun Selena enggan mengakuinya, Harvey telah berkali-kali difoto oleh awak media ketika bermalam di sana. Harvey pasti tinggal di sana selama berbulan-bulan setelah berpisah dengan Selena.
"Maaf, Nyonya. Kami hampir sampai di Jalan Kalpika. Mungkin Nyonya harus menunggu selama dua puluh menit."
"Oke." Selena sedikit terkejut mendengarnya. "Jalan Kalpika?" pikirnya.
"Itu adalah jalan di dekat kediaman Keluarga Irwin. Jadi mereka tidak tinggal bersama?" pikirnya lagi.
Selena dengan cepat menyingkirkan pikiran ini. Apakah mereka tinggal bersama atau tidak, tidak ada hubungannya dengan dirinya.
Alex pun tiba dengan cepat. Seperti biasa, Chandra dengan hormat membuka pintu mobil sambil berkata, "Maaf sudah lama menunggu, Nyonya."
Selena mengangguk dan masuk ke dalam mobil sambil menjawab, "Tidak lama."
Dibandingkan dengan Chandra yang cukup pendiam, Alex jauh lebih suka berbicara. "Mengapa Nyonya tidak tidur lebih lama di hari yang dingin begini? Ayam-ayam bahkan belum berkokok," ujar Alex.
Begitu Chandra memelototinya, Alex pun langsung terdiam. Saat Selena masuk ke dalam mobil, terasa suasana yang sedih dan hening, sampai akhirnya Selena pun berbicara dengan perlahan, "Dulu aku selalu berpikir bahwa perasaan Harvey yang berubah secara tiba-tiba itu adalah karena Agatha. Sekarang aku malah merasa masalah ini bukan hanya menyangkut seorang wanita. Kalian selalu bersama Harvey, kalian pasti tahu masalah tentang adik perempuannya."
"Criiit … "
Terdengar suara mobil yang mengerem secara mendadak. Alex menjauhkan tangannya dari setir dan buru-buru melambaikan tangannya sambil berkata, "Nyonya, tidak boleh asal bicara."
Chandra dengan tenang menjawab, "Nyonya tahu kami tidak pernah berani bertanya lebih banyak tentang urusan Tuan Harvey. Jangankan hal yang kami tidak tahu, sekalipun kami tahu, kami juga tidak akan berani memberitahukannya kepada Nyonya. Mohon dimengerti."
Selena menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Air matanya mengalir lewat jari-jarinya. "Aku tahu hal ini akan menyulitkan kalian, tapi aku sudah tidak punya cara yang lain. Harvey tidak mau mengatakan apa-apa. Ayahku baru saja dioperasi dan masih belum sadar. Sekarang kondisi Keluarga Bennett sudah merosot jadi seperti ini. Semua petunjuk pun tidak bisa ditelusuri. Sekalipun mati, aku hanya ingin mati dengan tenang. Itu lebih baik daripada terus disiksa olehnya siang malam."
"Nyonya, Tuan Harvey melarang kami membicarakan masalah Nona Agatha. Jadi kami juga tidak tahu banyak."
Chandra sepertinya menyadari bahwa Selena akan terus memohon kepada dirinya, sehingga dia pun langsung menuliskan serangkaian alamat di selembar kertas sambil berkata, "Nyonya, kita sudah lama saling kenal dan bersahabat, aku hanya dapat membantu Nyonya sampai di sini."
Bab 8
Selena melihat ke arah bawah. Sungguh mengejutkan, alamat yang tertulis di kertas putih itu adalah sebuah lokasi pemakaman.
Mungkinkah adik perempuan Harvey sudah meninggal? Namun, apa hubungannya kematian adik perempuan Harvey dengan ayahnya Selena? Selena mengenal Arya dengan baik, Arya tidak akan pernah menyakiti seorang gadis kecil.
Mengetahui bahwa kedua orang itu tidak akan mengungkapkan apa-apa lagi, Selena pun tidak terus mempersulit keduanya. Suasana selama perjalanan pun menjadi hening sampai akhirnya mereka tiba di kediaman Keluarga Irwin.
Perasaan Selena bercampur aduk begitu kembali ke tempat yang sudah sangat familier dengan dirinya ini.
Chandra dengan sopan bertanya, "Apakah Nyonya ingin turun?"
"Tidak perlu, aku akan menunggunya di sini."
Proses perceraian ini adalah pertemuan terakhir antara dirinya dengan Harvey. Dia tidak ingin menambah masalah lagi. Apalagi setiap hal yang ada di sini membawa kenangan bagi mereka berdua. Dia tidak ingin terbawa perasaan lagi saat melihat pemandangan di depannya.
Yang harus disalahkan adalah Harvey yang dulunya pernah memanjakan dirinya dan takut kehilangan dirinya.
Sekalipun sekarang Harvey bersikap semakin dingin kepadanya, Selena tetap mengingat kebaikannya.
Jelas-jelas Harvey-lah yang seharusnya menjadi orang yang paling dibenci olehnya, tetapi dia tidak pernah tega untuk membenci pria itu.
Mesin mobil tetap hidup untuk terus menghangatkan tubuh Selena. Hanya Selena seorang diri di dalam mobil. Lambungnya kembali terasa sakit. Tubuhnya pun meringkuk, seperti udang kecil yang memeluk lututnya dengan erat, berjongkok di atas kursi mobil sambil menunggu langit menjadi semakin terang.
Malam hari datang lebih awal di musim dingin, sedangkan pagi hari tiba lebih lambat. Langit terlihat belum begitu terang dan masih berkabut pada pukul tujuh pagi.
Tampak daun-daun pohon gingko yang ada di halaman sudah berguguran. Pikiran Selena pun melayang ke masa lalu.
Pada saat musim buah berwarna emas ini berbuah, Selena ingin makan sup ayam dengan biji teratai dan gingko. Harvey pun memanjat pohon gingko setinggi lebih dari sepuluh meter, lalu memetikkan buahnya untuk Selena.
Daun-daun hijau terlihat berguguran, seakan-akan ini adalah hujan berwarna emas bagi Selena.
Pada saat itu, Harvey adalah orang yang ramah dan mudah bergaul dengan orang. Dia jago memasak dan sangat memanjakan Selena.
Sambil memikirkan hal itu, Selena sampai tidak sadar kalau dia sudah berjalan mendekat ke pohon itu sendirian. Meski pohon gingko itu masih ada di sana, tetapi semuanya sudah tidak sama lagi.
Daun-daun pada pohon itu sudah rontok sejak lama. Hanya tersisa beberapa daun layu yang belum rontok di ranting pohon. Sama seperti hubungannya dengan Harvey yang sedang berada di ujung tanduk.
Ketika berjalan keluar dari vila, Harvey pun melihat momen ini.
Gadis muda dengan sweater tipis berdiri di bawah pohon dengan kepala yang mendongak ke atas. Angin yang dingin meniup rambutnya.
Cuaca pada hari ini tidak seburuk cuaca pada beberapa hari sebelumnya. Sinar matahari pertama di pagi hari menyinari wajah Selena. Kulitnya yang putih hampir terlihat transparan, seperti seorang dewi yang akan menghilang.
Telapak tangan Selena masih terbungkus kain kasa. Anehnya, dia masih mengenakan pakaian yang dipakainya tadi malam. Wajahnya pun terlihat pucat.
"Harvey." Selena tidak menoleh, tetapi dia tahu orang yang datang itu adalah Harvey.
"Hmm."
Selena perlahan berbalik badan, tatapannya tertuju pada pria jangkung itu. Jelas-jelas mereka berdua sangat dekat satu sama lain, tetapi entah sejak kapan mereka mulai menjauh.
"Aku ingin minum sup ayam dengan biji teratai dan gingko buatanmu sekali lagi."
Di dalam mata Harvey yang gelap itu tampak ada kebingungan. Sesaat kemudian, dia berkata dengan dingin, "Selena, musim buah gingko sudah lewat, jangan buang waktumu lagi."
Dengan matanya yang sedikit memerah, Selena pun bergumam, "Anggap saja ini untuk memenuhi permintaanku yang terakhir sebelum bercerai. Apakah kamu tidak bisa melakukannya?"
Setelah tidak bertemu dengannya selama tiga bulan, Selena sepertinya telah banyak berubah.
Harvey memalingkan wajahnya ke arah pohon yang gundul itu. Terdengar nada bicaranya sudah tidak terlalu dingin, "Buah yang dibekukan sejak tahun lalu sudah tidak segar lagi. Jika kamu ingin makan, tunggu saja sampai pohon itu berbuah di tahun depan."
Tahun depan ...
Jari-jari Selena meraba kulit pohon yang kasar, dia takut tidak bisa bertahan selama itu.
"Harvey, apakah kamu sangat membenciku?" tanya Selena.
"Hmm."
Selena menoleh ke arah Harvey dan berkata dengan lembut, "Kalau begitu ... apakah kamu akan senang jika aku mati?"
Duarrr ...
Kata-kata Selena seperti guntur yang menghantam hati Harvey. Harvey merasa kepalanya dipenuhi dengan suara bergemuruh yang menyebabkan dia kehilangan akal sehatnya selama beberapa saat.
Beberapa saat kemudian, barulah dia kembali sadar dan berkata dengan dingin, "Cuma masak sup, ‘kan? Ayo masuk."
Sambil melihat Harvey berjalan menjauh, Selena sedikit tersenyum.
"Harvey, kamu takut aku mati, ‘kan?" pikirnya.
Di dalam benak Selena, muncul ide untuk membalas dendam. Dia tiba-tiba memikirkan bagaimana ekspresi Harvey jika mengetahui kematian dirinya suatu hari nanti.
Senang atau sedih?
Di dalam lemari es ada buah gingko yang sebelumnya telah disimpan. Harvey dengan cekatan mengeluarkan bahan-bahan makanan dan mencairkan esnya.
Saat melihat Harvey sedang sibuk, yang tersisa di dalam Selena hanya kepahitan yang tak ada habisnya. Ini mungkin terakhir kali Harvey memasak untuknya.
"Bagus juga," pikir Selena.
"Anggap saja sebagai sebuah kenang-kenangan."
Selena sedang memanggang ubi jalar di depan perapian. Aroma ubi jalar itu menyeruak ke mana-mana.
Dahulu, dia selalu berjongkok di sini untuk memanggang ubi jalar di musim dingin. Neneknya Harvey, yaitu Ella, akan bergegas datang begitu mencium aromanya. Ella sangat baik pada dirinya, bahkan memperlakukan Selena seperti cucu kandung sendiri.
Sayangnya, Ella juga telah meninggal dua tahun yang lalu. Suami Ella yang tidak ingin terus larut dalam kesedihan pun pindah ke luar negeri.
Rumah besar yang nyaman itu terasa dingin dan sunyi. Namun, ubi jalarnya masih tetap terasa manis dan wangi. Selena merasa tidak bersemangat karena tidak ada lagi sosok Ella yang berebut ubi jalar dengan dirinya.
Setelah makan ubi jalar panggang dan minum secangkir air hangat, rasa sakit di perut Selena pun terasa sedikit berkurang.
Saat tercium aroma wangi dari dapur, Selena bangkit berdiri dan berjalan mendekat ke dapur. Dia melihat Harvey memasukkan sup ke dalam termos, kemudian menyendoknya lagi ke dalam mangkuk.
Selena yang dulu sangat dimanja oleh Harvey, sekarang sudah bukan lagi satu-satunya wanita yang disayangi oleh pria itu. Selena telah dibutakan oleh kebaikan Harvey di masa lalu, hingga tidak mau mengakui kenyataan.
"Supnya sudah matang," ujar Harvey yang tidak menyadari kalau Selena sedang merasa putus asa.
"Terima kasih."
Selena menatap semangkuk sup yang mengeluarkan aroma wangi. Masih seperti dulu, sangat wangi, terlihat lezat, dan menggugah selera. Namun, Selena tidak bernafsu lagi untuk makan saat ini.
"Sudah waktunya kita pergi ke Kantor Catatan Sipil."
Terlihat sedikit kemarahan terpampang di alis menawan yang dimiliki oleh Harvey. "Kamu tidak mau minum supnya dulu?" tanya Harvey.
"Tidak."
Dulu Selena sangat egois, Harvey selalu dengan sabar membujuknya.
Sekarang Harvey hanya menatap Selena dengan lekat, lalu menuangkan semua sup yang dipegangnya ke tempat cuci piring. Setelah itu, dia berjalan melewati Selena tanpa ekspresi sambil berkata, "Ayo pergi."
Harvey menyerahkan kotak makan tahan panas kepada Chandra sambil berkata, "Antarkan ini ke Perumahan Kenali."
"Baik, Pak Harvey."
Selena saat itu baru sadar bahwa hubungan mereka sudah tidak dapat diperbaiki lagi.
Kegigihannya sepanjang tahun ini hanyalah sebuah kekonyolan.
Selena berjalan cepat menuju mobil. Begitu dia melewati pohon gingko, angin dingin bertiup semilir. Daun terakhir yang awalnya bergantung pada pohon dan menolak meninggalkan pohonnya, akhirnya diam-diam rontok juga.
Selena mengulurkan tangannya untuk menangkap daun yang sejak awal sudah mati itu, lalu berkata dengan pelan, "Apa lagi yang harus dipertahankan?"
Selena dengan santai membuang dan menginjak daun yang rapuh itu sampai hancur.
Pintu mobil tertutup. Meskipun di dalam mobil ada pemanas, mereka berdua yang duduk terpisah terlihat seperti dunia yang sedang mengalami hari kiamat. Aura dingin terus terpancar dari mereka berdua.
Jalan menuju Kantor Catatan Sipil sangat mulus. Tidak ada kemacetan di sepanjang jalan. Yang mereka temui hanya lampu hijau. Tuhan seolah-olah sedang membukakan jalan untuk perceraian mereka.
Mereka akan sampai di tujuan setelah berbelok di persimpangan berikutnya. Ponsel Harvey berdering, lalu terdengar suara cemas Agatha, "Harvey, demam Harvest masih belum turun. Awalnya aku tidak ingin mengganggumu, tetapi barusan demamnya sudah mencapai 39 derajat. Aku sangat takut, cepatlah kemari ... "
"Aku akan segera ke sana."
Setelah menutup telepon, Harvey menatap sepasang mata Selena yang merah dan penuh kebencian itu. Selena bertanya dengan pelan, "Siapa nama anak itu?"
Bab 9
Suasana di mobil itu sangat hening, sehingga suara Agatha yang sedang panik menjadi terdengar nyaring. Selena dengan jelas mendengar kata "Harvest".
Dia masih ingat hari di mana dia mendapatkan laporan tes kehamilan. Dia bergegas berlari ke pelukan Harvey dengan penuh harapan sambil berkata, "Harvey, kamu akan menjadi seorang ayah! Kita akan punya anak! Aku sudah memikirkan nama bayi kita. Jika perempuan, kita beri nama Helena Irwin. Sedangkan jika laki-laki, kita beri nama Harvest Irwin. Itu adalah gabungan dari nama kita berdua, apakah menurutmu bagus?"
Selena sangat berharap dirinya tadi salah dengar. Namun, Harvey tidak menghindari tatapannya dan hanya menjawab, "Namanya Harvest Irwin."
"Bajingan!"
Selena mengangkat tangannya dan menampar Harvey. Kali ini Harley tidak menghindar dan membiarkan Selena menamparnya.
"Beraninya kamu memanggil anak yang dia lahirkan dengan nama anak kita!"
Anak itu adalah benteng terakhir Selena. Air matanya sudah seperti pecahan mutiara. Selena menerkamnya seperti orang gila sambil beraung, "Dasar iblis, kenapa Tuhan mengambil nyawa anak kita? Kenapa bukan kamu saja yang mati?"
Selena yang kehilangan akal sehatnya terus memukul-mukul Harvey dengan keras sambil berkata, "Dia tidak pantas diberi nama ini!"
Harvey meraih tangannya sambil memerintahkan Alex, "Kita pergi ke Perumahan Kenali."
Selena menjadi semakin mengamuk. "Sebentar lagi kita sudah sampai ke Kantor Catatan Sipil. Jika kamu ingin pergi, kamu harus bercerai denganku dulu," ujarnya.
"Demam anakku tidak kunjung turun, aku harus segera ke sana."
Selena berkata dengan marah, "Ayahku masih terbaring tak sadarkan di di rumah sakit, bahkan perawat yang menagih biaya rumah sakit membuatku tidak berani masuk ke rumah sakit! Memangnya hanya nyawa anakmu yang penting? Nyawa ayahku tidak penting?"
Saat mendengar Selena menyebut tentang Arya, ekspresi Harvey menjadi dingin. "Memangnya Arya layak dibandingkan dengan Harvest?" ungkap Harvey.
Emosi Selena sudah memuncak, sampai-sampai dia ingin menerkam dan menampar Harvey lebih keras lagi, tetapi tangannya ditahan dengan sangat kuat. Harvey pun dengan berteriak keras, "Apakah kamu belum puas bikin keribuatan?!"
Selena memperhatikan mobil itu berbalik arah. Padahal setelah belokan ini, mereka akan tiba di Kantor Catatan Sipil.
Untuk mencegahnya melawan lagi, Harvey memeluk Selena erat-erat dalam dekapannya. Pelukan yang dahulu menjadi kenyamanan terbesar bagi Selena, sekarang malah menjadi bagaikan penjara yang mengurung dirinya.
Tenaga Harvey begitu kuat, sehingga Selena tak berdaya untuk membebaskan diri. Dia pun hanya bisa meronta sambil berkata, "Apakah kamu begitu mencintai Agatha?"
Harvey sedikit bingung. Saat memeluk Selena, dia menyadari bahwa gadis ini bukan hanya menjadi begitu kurus, jika dibandingkan dengan setahun yang lalu, Selena benar-benar adalah dua orang yang berbeda. Meski tubuhnya dibalut pakaian, tetapi tetap saja tulang-tulangnya terlihat menonjol.
Gadis yang pernah begitu dicintainya seperti bunga yang indah di genggamannya itu, kini menjadi layu dari hari ke hari. Sungguhkah ini yang diinginkan Harvey?
Ketika baru saja timbul keraguan di dalam pikirannya, bayangan mayat perempuan yang menyedihkan itu muncul di benaknya. Tangan yang melingkar di pinggang Selena perlahan-lahan menjadi erat semakin erat.
Ketika kepalanya mendongak, kepedihan di mata Harvey pun menghilang, hanya menyisakan aura dingin yang luar biasa.
"Selena, jika kamu membuat keributan sekali lagi, percaya atau tidak kalau aku akan segera menyuruh seseorang mencabut tabung oksigen Arya?"
Tangan Selena mencengkeram erat pakaian Harvey, air matanya pun membasahi kemeja Harvey.
Harvey jelas-jelas pernah mengatakan bahwa dia tidak akan membiarkan Selena meneteskan air mata lagi, tetapi sekarang dialah penyebab yang membuat Selena menangis.
Suasana di dalam mobil begitu sunyi dan mencekam, sehingga orang-orang merasa seakan sulit bernapas. Sesudah bisa menenangkan diri, Selena pun bergerak menjauhkan tubuhnya dari Harvey, lalu merapikan pakaian dan duduk dengan tegak.
Selena menghela napas dan berkata, "Kamu ingin pergi menemui putramu, itu adalah hakmu. Tapi jangan sampai masalahmu ini mengganggu rencana awal kita. Kamu tidak perlu khawatir aku akan menganggumu lagi. Jika kamu tidak ingin bercerai, aku tetap ingin bercerai. Aku tidak punya kebiasaan memungut barang bekas."
Harvey mengerutkan kening ketika mendengar kata "barang bekas", sementara Selena tetap lanjut berbicara tanpa menghiraukannya, "Aku akui bahwa aku terlalu naif di masa lalu, aku bahkan memiliki harapan yang tidak realistis terhadap dirimu. Sekarang aku sudah paham, lebih baik aku merelakan sampah tak berguna yang tidak bisa kupertahankan ini! Berikan uangnya kepadaku dan selesaikan administrasinya saat kamu punya waktu. Aku jamin akan segera datang kapan saja, aku tidak akan menyesalinya."
"Bagaimana jika aku tidak mau memberikannya?" tanya Harvey.
Selena menatap mata Harvey yang berwarna hitam pekat. Mata Selena yang baru saja tadi menangis, sekarang sudah menjadi jernih dan cerah. "Kalau begitu, aku akan melompat keluar dari mobil. Tidak ada gunanya lagi aku hidup jika ayahku tidak bisa terselamatkan."
Harvey mengeluarkan cek dan menulis sebuah nominal, lalu menyerahkannya kepada Selena sambil berkata, "Sepuluh miliar rupiah, sisanya akan kubayarkan setelah kita bercerai."
Selena tersenyum dingin sambil berkata, "Apa kamu begitu takut jika aku tidak jadi bercerai denganmu? Jangan khawatir, aku bahkan merasa jijik bersama denganmu meskipun hanya sedetik saja. Berhenti!"
Dia mengambil cek itu, lalu dengan keras menutup pintu mobil dan pergi tanpa menoleh ke belakang lagi.
"Akhirnya Ayah bisa diselamatkan!" pikir Selena.
Selena segera mencairkan cek tersebut. Hal pertama yang dia lakukan adalah melunasi tagihan medis, hal kedua yang dia lakukan adalah naik taksi menuju ke alamat yang diberikan Chandra.
Tempat itu adalah sebuah pemakaman keluarga yang mewah, di mana orang-orang yang dimakamkan di sana adalah orang kaya dan berpengaruh, termasuk Ella, neneknya Harvey. Selena membeli bunga kamboja favorit Ella.
Beberapa saat kemudian, Selena menemukan sebuah kuburan baru yang dikelilingi oleh pohon plum.
Pohon-pohon plum itu sudah berbunga dan akan segera mekar tidak lama lagi.
Batu nisan yang dingin itu terukir dengan nama yang tidak dikenalnya, "Makam Lanny Irwin."
Dia tahu bahwa Harvey sangat mencintai adik perempuannya. Setelah adiknya itu hilang, Harvey pun menjadikan hal itu sebagai hal yang tabu untuk dibicarakan. Harvey tidak lagi mengizinkan orang lain untuk menyebut nama adiknya, sehingga Selena pun tidak tahu apa-apa tentang adiknya Harvey itu.
"Lanny Irwin, apakah itu namanya?" pikir Selena yang belum pernah mendengar nama itu.
Dia berjongkok dan melihat foto di batu nisan tersebut. Sepertinya itu adalah foto Lanny ketika berusia lima atau enam tahun sebelum menghilang. Wajahnya masih tampak imut dan tembam. Di antara alisnya, samar-samar bisa terlihat bayangan Harvey.
Selena masih belum mendapatkan petunjuk apa-apa. Dia pun memotret foto tersebut dengan ponselnya untuk dijadikan sebagai satu-satunya petunjuk.
Dia meletakkan bunga kamboja yang awalnya dia beli untuk Ella, lalu berlutut di depan batu nisan Lanny dan berkata, "Lanny, namaku Selena. Jika kamu masih hidup, kamu seharusnya memanggil aku sebagai kakak ipar. Oh tidak, seharusnya mantan kakak ipar. Aku minta maaf karena harus mengenalmu dengan cara seperti ini. Aku yakin aku akan menemukan pelaku sebenarnya yang membunuhmu ... "
Makam Ella tidak jauh dari sana. Foto Ella terlihat ramah dan penuh kasih sayang, senyumannya tetap sama seperti dulu.
Selena mengambil ubi jalar yang dipanggangnya di pagi hari dari dalam sakunya, lalu meletakkannya di depan batu nisan sambil berkata, "Nenek, aku datang menjenguk Nenek. Sekarang sudah memasuki musim dingin lagi. Sekarang aku tidak bisa berebut ubi jalar lagi dengan Nenek, ubi jalar bahkan tidak ada rasanya lagi bagiku."
Karena agak lelah setelah berdiri terlalu lama, dia pun duduk di samping batu nisan. Dia memperlakukan Ella seolah-olah masih hidup dan bernostalgia dengannya.
"Nenek, maafkan aku, aku tidak berhasil mempertahankan anak itu. Tapi Harvey yang tidak tahu malu itu telah memberikan keturunan untuk Keluarga Irwin. Nenek tidak perlu mengkhawatirkan masalah penerus lagi."
"Nenek, dia sudah berubah, dia bukan lagi orang yang kukenal. Dulu dia bilang dia akan melindungiku dari badai dan hujan, tapi sekarang semua badai yang aku hadapi ini adalah badai yang dibawa olehnya. Jika Nenek masih hidup, Nenek pasti tidak akan membiarkan dia memperlakukan aku seperti itu."
Selena tersenyum terpaksa dan berkata, "Nenek, Harvey dan aku akan segera bercerai. Dulu Nenek pernah bilang, jika dia berani menindasku, Nenek akan merangkak keluar dari peti mati dan meledakkan kepalanya meskipun Nenek sudah meninggal. Umurku tidak panjang lagi, sebentar lagi aku akan menyusul Nenek. Ayo merangkaklah keluar untuk meledakkan kepalanya bersama-sama!"
"Nenek, seperti apa rasanya kematian? Apakah gelap? Aku takut ada serangga kecil yang menggigitku, apa yang harus kulakukan?"
"Nenek, bagaimana kalau aku mendoakan Nenek agar bisa punya banyak uang di alam sana? Lalu Nenek simpan uangnya untukku. Ketika aku menyusul Nenek, belikanlah aku vila besar seluas 800 meter persegi."
"Nenek, aku merindukan Nenek ... "
Bab 10
Selena terus mengoceh selama sepanjang hari di pemakaman, tetapi dia tidak punya waktu untuk bersedih terlalu lama. Dia pun lanjut melakukan penyelidikan terhadap foto yang dia dapatkan.
Sebagian besar wanita yang pernah berhubungan dengan ayahnya adalah orang-orang di perusahaan. Ketika akan mulai menyelidiki orang-orang di perusahaan, Selena menerima sebuah panggilan telepon.
Ternyata telepon dari Wilson, seorang anak dari pegunungan yang dulu pernah dibantu oleh ayahnya. Suaranya terdengat sedikit panik. "Nona Selena, aku baru saja kembali dari luar negeri dan mendengar berita bahwa Tuan Arya sakit parah, apakah dia baik-baik saja?" tanya Wilson.
"Terima kasih atas perhatianmu, ayahku sedang menjalankan perawatan di rumah sakit."
"Ah, bagaimana mungkin Tuhan memberikan cobaan seperti ini pada orang yang baik seperti Tuan Arya? Dulu, jika bukan karena dia membantu kami dan membawa kami keluar dari pegunungan, mana mungkin kami bisa memiliki kehidupan seperti saat ini?"
Sebuah pikiran terlintas di benak Selena. Arya mulai membiayai anak-anak dari pegunungan yang miskin untuk bersekolah sejak beberapa tahun yang lalu. Seandainya Lanny diculik dan dijual ke pegunungan yang terpencil, mungkinkah ini sebabnya dia mengenal ayahnya?
"Kak Wilson, apakah kamu kenal dengan murid-murid yang dibiayai oleh ayahku?"
"Aku yang selalu membantu Tuan Arya menghubungi mereka, jadi aku mengenal hampir semua dari mereka, tapi mereka telah pergi ke luar negeri beberapa tahun terakhir, sehingga kami telah putus kontak. Jika Nona Selena membutuhkan bantuan, aku bersedia melakukan apa pun itu."
Setelah merasakan ada secercah harapan, Selena pun segera menyampaikan, "Aku punya sebuah foto di sini, dapatkah kamu membantuku memeriksa apakah orang itu pernah dibiayai oleh ayahku?"
"Baik, Nona Selena."
Wilson mengiriminya beberapa informasi setengah jam setelah Selena mengirimkan foto itu.
Foto gadis yang dikirim oleh Wilson itu memiliki mata yang cerah dan gigi yang putih, dia memang memiliki kemiripan dengan wajah gadis kecil yang ada di batu nisan, terutama sepasang matanya yang terlihat mirip dengan Harvey.
Nama gadis ini adalah Kezia Ferdiansyah, dia berasal dari pegunungan yang tandus. Arya mulai membiayai sekolahnya sejak dua belas tahun yang lalu. Dia tumbuh dengan prestasi yang sangat baik. Sewaktu SMA, ada sejumlah universitas top dari dalam dan luar negeri yang menawarkan beasiswa untuknya, tetapi dia memilih untuk tetap tinggal di dalam negeri untuk meneruskan studinya.
Mungkinkah dia adalah orang yang dicari Selena? Selena pun buru-buru mengajak Wilson untuk bertemu.
Di kafe.
Wilson datang tepat waktu. Selena pernah bertemu dengan Wilson sepuluh tahun yang lalu ketika dia masih kecil. Sekarang Wilson sudah menjadi presdir sebuah perusahaan ternama. Dia memakai setelan jas dan sepatu kulit, penampilannya sangat elite.
Meskipun Keluarga Bernett sudah bangkrut, tetapi Wilson masih menyapa Selena dengan hormat, "Nona Selena, maaf membuatmu menunggu terlalu lama."
"Aku juga baru tiba. Kak Wilson, aku tidak mau berbasa-basi lagi. Apakah kamu dan Kezia masih saling kontak?"
"Dulunya pernah. Setelah pergi ke luar negeri, aku jarang berhubungan dengan teman-teman di dalam negeri lagi. Aku sudah tidak berhubungan dengan mereka selama dua tahun belakangan ini."
"Apakah kamu tahu bagaimana kabarnya sekarang?"
"Aku juga pulang beberapa hari ini, dan aku mendengar tentang apa yang terjadi pada Keluarga Bernett dari teman-teman. Aku tidak begitu akrab dengan Kezia, paling-paling aku hanya membantu Tuan Arya menghubunginya dulu."
Wilson mengambil kopinya dan menyesapnya untuk membasahi tenggorokan, lalu berkata, "Tapi karena ini adalah permintaan Nona Selena, jadi ketika aku datang ke sini, aku menghubungi teman-temannya. Sayangnya, berita yang aku dapatkan adalah dia sudah meninggal. Benar-benar disayangkan, dia begitu berprestasi, dia seharusnya memiliki masa depan yang sangat cerah jika tidak meninggal."
"Kenapa dia bisa meninggal?" tanya Selena.
"Penyebab pasti kematiannya tidak terlalu jelas, kudengar dia ditangkap saat berada di laut."
Selena mengerutkan kening. Ada beberapa keraguan tentang masalah ini. Lanny diculik saat berusia hampir enam tahun, dia seharusnya masih ingat dengan kejadian itu.
Kalau memang ayah Selena yang membiayai sekolah Lanny, mengapa Lanny tidak meminta bantuan? Ketika telah datang ke kota ini, mengapa Lanny tidak datang ke tempat Keluarga Irwin?
Satu hal lagi, apa hubungan kematian Lanny dengan ayahnya?
"Apakah ayahku memperlakukannya dengan baik?" tanya Selena dengan ragu-ragu.
"Kezia memiliki kehidupan yang menyedihkan, kedua orang tuanya meninggal di saat dia masih sangat kecil. Dia kuliah di kota ini sendirian, Tuan Arya selalu merawatnya dengan baik. Konon karena kepribadiannya yang pendiam, dia sering ditindas oleh teman-teman sekolahnya di asrama. Tuan Arya bahkan secara khusus menyewa sebuah apartemen kecil untuknya agar dia dapat bersekolah dengan lancar."
Wilson meletakkan cangkir kopinya sambil bertanya, "Mengapa Nona Selena begitu penasaran dengan Kezia?"
"Aku hanya ingin mencari tahu penyebab kematiannya, agar dia tidak meninggal dengan sia-sia."
Selena awalnya berencana untuk mendapatkan uang dua puluh miliar rupiah setelah menceraikan Harvey, kemudian meninggalkan dunia ini setelah menyelesaikan urusan-urusan selanjutnya.
Sekarang dia punya satu pemikiran lagi, yaitu memperbaiki nama ayahnya dan membalaskan dendam Keluarga Bernett.
Jika Harvey tidak mau mengatakannya, maka dia sendiri yang akan menyelidiki masalah ini. Dia pasti bisa menemukan kebenarannya.
Setelah berpikir sejenak, Wilson mengeluarkan kartu nama dari dompetnya dan berkata, "Nona Selena, ini adalah temanku, detektif swasta yang sangat terkenal. Jika kamu ingin mengetahui sesuatu, dia dapat membantumu."
"Terima kasih, Kak Wilson."
"Sama-sama, Nona Selena. Bagaimanapun, aku juga kenal dengan Kezia. Aku juga berharap dia bisa mendapatkan ketenangan setelah meninggal. Dalam waktu dekat, aku akan menetap di dalam negeri, Nona Selana bisa menghubungiku jika butuh bantuan. Aku masih ada rapat sebentar lagi, jadi aku harus pergi dulu."
"Hati-hati di jalan," ucap Selena.
Selena segera menghubungi detektif swasta yang dikatakan Wilson itu. Setelah mengirimkan informasi tentang Kezia kepada si detektif, semangatnya pun bangkit kembali.
Ketika Selena kembali ke rumah sakit, Dokter Filbert yang menangani ayahnya, memanggil Selena ke ruang kantor.
Selena yang memiliki firasat buruk pun berkata dengan cemas, "Dokter Filbert, bagaimana kondisi ayahku? Kapan dia bisa sadarkan diri?"
"Nona Selena, kamu harus siap secara mental. Meskipun operasi ayahmu berhasil, tetapi kepalanya terbentur dalam kecelakaan waktu itu, sehingga meninggalkan efek samping. Saat ini tidak ada tanda-tanda dia akan sadarkan diri, ada kemungkinan ... dia tidak akan sadarkan diri lagi selama sisa hidupnya."
Hati Selena seperti terjatuh ke dalam jurang, tangan sedang yang memegang gelas sekali pakai itu gemetar dengan hebat.
Saat menatap ekspresinya, Dokter Filbert juga agak terharu. Kemudian Dokter Filbert menghela napas dan berkata dengan tak berdaya, "Nona Selena juga jangan putus asa dulu, aku hanya mengatakan bahwa ada kemungkinan seperti itu. Jika ayahmu bisa bangun di akhir bulan ini, berarti tidak ada masalah besar."
Tatapan mata Selena seketika menjadi kabur. Dengan suaranya yang terbata-bata, dia bertanya, "Jika dia tidak bisa bangun, apakah berarti dia akan mengalami kondisi vegetatif?"
"Benar, jadi aku harap Nona Selena dapat mempersiapkan mental sedini mungkin dan membuat rencana lebih awal."
Dokter Filbert tahu bahwa tidak mudah bagi Selena untuk mendapatkan uang. Tidak ada gunanya juga menghabiskan uang untuk merawat seseorang dengan kondisi vegetatif.
Selena berdiri dengan tangan di atas meja, lalu dengan tegas berkata, "Aku tidak akan menyerah pada kondisi ayahku apa pun hasilnya nanti, aku percaya keajaiban akan terjadi."
Selena keluar dari ruang kantor dengan penuh kebingungan, dia tidak menyangka keadaan akan menjadi seburuk ini. Jika ayahnya tidak bisa bangun lagi, berarti dia tidak memiliki kesempatan lagi untuk mengungkap kebenaran.
Dirinya sendiri pun tidak boleh mati begitu saja!
Dia bergegas ke departemen onkologi. Ketika Lewis baru saja menyelesaikan diagnosisnya, Selena langsung menerobos masuk.
"Kak Lewis, bantulah aku."
Lewis melihat wajah Selena penuh kepanikan. Selena memegangi ujung pakaian Lewis dengan erat, seolah-olah dirinya sedang terapung di tengah laut dan memohon pertolongan. "Kak Lewis, aku tidak peduli apakah aku harus menjalani kemoterapi ataupun operasi, pokoknya aku ingin hidup lebih lama lagi ... "
Hanya dengan tetap bertahan hidup, barulah dia bisa mengetahui kebenaran, dan bisa menemani ayahnya lebih lama lagi.
Lewis tidak tahu apa yang telah terjadi pada Selena sampai-sampai wanita ini tiba-tiba memiliki harapan untuk terus bertahan hidup. Sebagai seorang dokter, Lewis merasa sangat senang mendengarnya.
"Oke, aku akan segera menjadwalkan kemoterapi tahap pertama untukmu."