Pembalasan Dendam sang Menantu Tertindas

Đang tải thông tin quảng bá...

Pembalasan Dendam sang Menantu Tertindas

GoodNovel Hoàn thành
KayaKuatMenantu

Bertahun-tahun menikah, Owen selalu direndahkan dan dihina. Setelah bercerai dari istrinya, dia malah mendapatkan warisan dari leluhur keluarganya. Dalam sekejap, pria yang direndahkan itu bangkit men...

Chương (1)

第1章

Bab 1 Tahun ini, Owen Guswadi berumur 26 tahun. Dia adalah menantu pecundang yang sangat terkenal di Jenggala. Selama tiga tahun menikah, Owen hidup bagai budak Keluarga Bastian. Dia bahkan disuruh untuk mencuci kaki istrinya. Owen sudah terbiasa untuk hidup dengan diinjak-injak. Namun, kesabarannya sudah habis semalam! Selama tiga tahun ini, semua gaji bulanan Owen akan diserahkan semuanya kepada sang istri, Lucy Bastian. Selain mesti mencari nafkah, Owen juga perlu mencuci pakaian, mengepel lantai, memasak, dan lain sebagainya. Pokoknya Owen melakukan semua pekerjaan rumah tangga tanpa mengeluh sekali pun. Awalnya Owen mengira kerja kerasnya akan meluluhkan hati istrinya. Hubungan mereka berdua pasti akan semakin membaik. Namun saat Owen pulang kerja hari ini, istrinya malah memberinya hadiah yang sangat spesial untuknya! Lucy sudah mengandung! Benar, istri yang tidak pernah disentuh Owen selama tiga tahun ini malah mengandung! Owen akan menjadi ayah dari anak yang dikandungnya! Betapa bahagianya kabar ini! “Owen, aku suruh kamu cuci baju, tapi kamu cucinya nggak bersih. Aku suruh kamu ngepel, kamu ngepelnya juga nggak bersih! Kamu memang nggak berguna! Sebenarnya apa sih yang bisa kamu lakukan?! Apa gunanya keluarga kami menghidupi kamu? Bukannya lebih baik kami pelihara anjing saja?!” … Terdengar suara ketus dari seorang wanita. Wanita itu tak lain adalah ibu mertuanya Owen, Sarah Tanadi. Dia sedang menunjuk Owen sambil memarahinya. Owen mengangkat kepalanya. Kedua matanya sudah terlihat merah lantaran dia sungguh marah saat ini. “Ibu!” Owen berusaha menahan amarahnya. “Jangan panggil aku Ibu! Pecundang sepertimu nggak pantas punya ibu sepertiku!” Sarah sangat merendahkan menantunya. Owen pun terdiam, dan tidak berani membantah. Tiga tahun silam, penyakit Kakek Bastian, Martin Bastian, tiba-tiba kambuh. Kebetulan Owen menyadarinya. Dia menggendong Kakek Martin berlari sekitar 2-3 kilometer, lalu berhasil mengantar Kakek Martin ke rumah sakit. Berkat Owen, nyawa Kakek Martin baru berhasil diselamatkan! Sejak masalah itu, mungkin Kakek Martin ingin membalas budi kepada Owen. Jadi, dia tidak menghiraukan tentangan semua anggota keluarga, bersikeras menikahkan cucunya, Lucy, dengan Owen. Kemudian, Owen pun resmi menjadi menantu pecundang Keluarga Bastian. Sudah tiga tahun! Tiga tahun! Owen masih belum berhasil meluluhkan hati istrinya dan ibu mertuanya! Mereka berdua masih bersikap kasar terhadapnya. Owen adalah seorang anak yatim piatu. Dia pun tidak memiliki latar belakang. Itulah sebabnya Lucy dan keluarganya sangat meremehkannya. Tidak peduli betapa bagusnya hasil kerja Owen, Lucy selalu mencari kesalahannya, memarahinya, dan bahkan memukulnya. Satu-satunya orang di Keluarga Bastian yang bersikap baik terhadap Owen hanyalah Kakek Martin. Dulu, selama ada Kakek Martin, ibu mertuanya juga tidak berani bersikap keterlaluan terhadapnya. Namun sejak Kakek Martin meninggal pada satu bulan lalu, Sarah dan Lucy semakin menjadi-jadi. Mereka bahkan ingin mengusir Owen. Mereka merasa keberadaan Owen terasa sangat mubazir. Kedudukannya bahkan lebih rendah daripada seekor anjing …. Begitu pintu rumah dibuka, Lucy yang mengenakan pakaian seksi dengan stoking hitam berjalan masuk dengan terhuyung-huyung. Wajahnya terlihat sangat merona saat ini. Sepertinya tidak ada lelaki yang tidak terpesona dengan keindahannya. Lucy! Lucy sudah pulang! Hati Owen semakin sakit ketika melihat Lucy. Padahal dia sudah berbadan dua, kenapa dia masih mengonsumsi alkohol! Owen spontan ingin memapahnya, tapi Lucy malah langsung menepisnya. “Jangan sentuh aku! Cepat kemas barang-barang kamu, dan keluar dari rumah ini! Besok kita urus perceraian kita!” “Kenapa?” Saat ini kebetulan ibu mertuanya berjalan keluar. Ketika melihat Owen yang bertanya dengan suara ketus itu, dia langsung memarahi Owen, “Owen, kenapa kamu malah bengong? Cepat ambil air dan cuci kaki Lucy!” Selesai berbicara, Sarah langsung berjalan ke sisi Lucy, dan berbicara dengan nada lembut, “Kenapa kamu minum sebanyak ini? Nggak bagus buat kandunganmu. Kamu sudah susah payah mengandung anak laki-laki dari Tuan Fredi. Jangan sampai terjadi apa-apa sama anak di dalam kandungan kamu.” Padahal jenis kelamin anak masih belum jelas, Sarah malah yakin anak di dalam kandungan Lucy adalah anak laki-laki. Sebab, hanya dengan mengandung anak laki-laki, Lucy baru bisa menjadi istri resmi dari Tuan Fredi. Hanya saja, berhubung jenis kelamin dari anak itu belum bisa dipastikan, Sarah baru mengizinkan Owen untuk tetap tinggal di rumah. Jika anak yang dilahirkan adalah anak perempuan, dia pun butuh bantuan Owen untuk membesarkannya. Selain itu, merekrut pengasuh bayi juga butuh uang, ‘kan? “Nggak usah lagi! Owen, aku sudah cukup muak sama kamu! Aku sudah bersabar selama tiga tahun! Besok kita berdua urus perceraian kita!” Lucy melirik Owen dengan tatapan meremehkan. Saat ini, hati Owen bagai ditusuk-tusuk saja. Owen tahu dirinya tidak pantas untuk bersama Lucy. Selama tiga tahun ini, dia juga sudah berusaha keras berharap bisa diterima oleh Lucy. Namun, Owen sungguh tidak menyangka pengorbanannya yang sudah dilakukannya selama ini akan berakhir dengan perceraian! “Emm, benar juga.” Akhirnya Sarah juga menyetujui keinginan Lucy. “Sekarang kamu sedang hamil anak Tuan Fredi. Nggak bagus kalau kalian masih tinggal bersama.” “Ibu, aku sudah capek. Ibu papah aku ke kamar, ya! Aku sudah cukup muak untuk lihat orang bodoh itu!” Lucy mengelus perutnya dengan gembira. Sebenarnya selain gembira, Lucy juga merasa khawatir. Dia khawatir setelah perutnya semakin membesar, apa akan ada wanita lain yang datang merebut Tuan Fredi darinya? Sarah memapah Lucy ke kamar sambil menyindir Owen, “Kenapa masih belum pergi? Kamu ingin jadi ayah dari anak ini?” Seketika rasa marah, kesal, benci, dan lain sebagainya meluap di hati Owen. Dia langsung diusir dari rumah. Semua barang dan bahkan kartu identitasnya juga dilempar ke dalam tong sampah. Saat ini, Owen sungguh merasa sedih. Owen sudah tidak memiliki rumah lagi. Dia berjalan di sepanjang jalan, lalu entah bagaimana ceritanya dia pun berjalan ke sekitar kuburan. Tak lama kemudian, Owen berdiri di depan batu nisan. Kedua matanya tampak merah, tapi tidak ada air mata yang menetes. Saat ini Owen tidak tahu apakah dia seharusnya marah, kecewa atau putus asa. Dia hanya menatap batu nisan tanpa bersuara. Batu nisan itu adalah milik Kakek Martin. Selama tiga tahun itu, Kakek Martin selalu membelanya. Jadi, dia ingin memberi penghormatan terakhir kepada Kakek Martin. Owen memang ingin melakukan penghormatan. Hanya saja, dia tidak memiliki uang sama sekali. Dia pun tidak bisa membeli apa-apa untuk dipersembahkan kepada Kakek Martin. “Kakek, terima kasih sudah menjagaku selama tiga tahun ini …. Besok aku akan bercerai dengan Lucy …. Aku sudah mengecewakanmu ….” Pada malam yang gelap ini, kedua mata Owen tampak memerah. Dia bersujud beberapa kali di depan batu nisan Kakek Martin. Jujur saja, hati Owen merasa sangat sakit dan perih. Setelah memberi penghormatan, Owen mengeluarkan sepotong giok dan menggenggamnya. Kemudian, dia duduk bersandar di belakang batu nisan. Saat ini, giok kuno yang dipakai Owen seolah-olah bisa merasakan rasa sakit di hatinya. Tiba-tiba muncul secercah cahaya putih dari giok itu …. Bab 2 Selesai memberi penghormatan kepada Kakek Martin, Owen pun meninggalkan kuburan. Saat dia berjalan ke depan pintu gerbang, dia melihat seorang wanita cantik yang berpakaian seragam kerja sedang berdiri di depan sana. Owen spontan merasa penasaran. Kenapa ada orang yang tidak tidur di malam hari, malah pergi ke tempat seperti ini? Wanita itu bahkan menggunakan riasan yang tebal. Si wanita cantik terlihat tidak senang. Dia pun bergumam, sepertinya dia berkata “dasar miskin” atau sejenisnya. Dulu ketika Owen mendengar ucapan ini, dia pun tidak akan memasukkannya ke hati. Hanya saja, setelah dia diusir dari rumah hari ini, Owen jadi merasa sangat kesal. Dia ingin melampiaskan emosinya. Oleh sebab itu, Owen berlari ke depan wanita cantik itu, lalu berkata, “Lho, cepat banget nongkrongnya? Berapa semalam? Hari ini suasana hatiku lagi bagus!” Sebenarnya Owen tidak punya uang sama sekali. Owen bahkan sedikit gugup ketika mengatakan ucapan itu. Dia takut wanita itu memang bekerja sebagai kupu-kupu malam. Nantinya Owen malah tidak bisa membayarnya. Untung saja, dia itu wanita baik-baik! Sebab, setelah mendengar ucapan Owen, raut wajah wanita cantik itu langsung muram, dan langsung memelototi Owen. Owen diam-diam menghela napas lega. Suasana hati Owen sangatlah buruk hari ini. Setelah dipelototi oleh wanita itu, Owen pun merasa semakin kesal, lalu menambahkan, “Kenapa pelototi aku? Aku tanya berapa hargamu? Kenapa? Bukannya kamu itu kupu-kupu malam? Kenapa malah malu? Asal kamu tahu, aku jago banget dalam masalah ranjang. Kamu akan puas, deh!” Ucapan Owen langsung membangkitkan amarah si wanita cantik. Dia langsung bertanya, “Siapa namamu? Kamu kerja di perusahaan mana?” Owen juga tidak bodoh! Mana mungkin dia memberi tahu identitas detail kepada wanita itu. “Kamu!!!” Wajah si wanita sudah memerah lantaran merasa sangat emosi. Dia sudah kehabisan akal dalam menghadapi Owen. Jadi, si wanita terpaksa pergi. Kali ini, amarah di hati Owen juga mulai berkurang. Saat dia membalikkan badan hendak berjalan pergi, Owen menyadari ada dua orang pemuda sedang menyelundup ke dalam kuburan. Tampak juga karung goni dan tali di tangan mereka. Sepertinya mereka akan melakukan penculikan. Berhubung hari sudah sangat gelap, ditambah lagi dengan halangan dari pepohonan dan batu nisan, mereka pun tidak menyadari keberadaan Owen. Hanya saja, dapat dipastikan bahwa kedua orang itu memiliki niat buruk. Owen mengerutkan keningnya. Dia menduga bahwa kedua orang itu sedang menargetkan wanita yang tadi. Jadi, Owen pun diam-diam mengikuti mereka. Sesuai dugaannya, wanita yang menunggu di depan kuburan itu langsung diikat dari belakang, lalu dimasukkan ke dalam karung goni. Kemudian, mulutnya disumpal dengan kaos kaki bau milik salah satu lelaki. Si wanita tidak berhenti meronta. Hanya saja, perlawanannya tidak berguna sama sekali. Beberapa saat kemudian, salah satu lelaki yang berbadan kekar langsung menindih si wanita. Sementara, lelaki yang satu lagi memindahkan batu yang sangat besar, lalu mengikat karung goni yang berisi wanita itu dengan batu besar itu. “Gedebum!” Kedua orang melempar batu ke dalam sungai. Kedua mata Owen terbelalak! Pembunuhan berencana! Owen spontan ingin melarikan diri, tapi dia khawatir langkah kakinya akan mengeluarkan suara, dan akan menarik perhatian kedua lelaki. Oleh sebab itu, dia terus bersembunyi di belakang batu nisan. Setelah kedua lelaki itu pergi, Owen baru mencondongkan kepalanya dengan penuh waspada. Owen berpikir sejenak, dan pada akhirnya Owen memilih untuk melompat ke dalam sungai. Dia memang penakut, tapi dia tidak tega membiarkan seorang wanita mati di hadapannya. Tak lama kemudian, Owen berhasil menyelamatkan wanita itu dari dalam sungai. Tanpa menghiraukan basah kuyup di seluruh tubuhnya, Owen segera melepaskan karung goni itu. Dia tidak menyadari ada pisau si pembunuh yang jatuh di sekitar mereka. Di sisi lain …. Kedua pemuda berjalan ke jalan di samping area kuburan. Tampak ada mobil SUV mewah sedang berhenti di pinggir jalan. Saat mereka berdua hendak memasuki mobil untuk meninggalkan lokasi. Tiba-tiba Basri teringat sesuatu. “Celaka, pisauku hilang. Mungkin jatuh di dekat sungai. Ada bekas sidik jari di pisau itu. Cepat pungut ….” Mereka berdua lekas kembali ke sisi sungai. … Setelah karung goni dibuka, tampak wanita di dalamnya sudah basah kuyup. Dia sedang mengenakan kemeja kerja berwarna putih dipadukan dengan rok mini. Saat ini, berhubung si wanita sudah basah, seluruh pakaiannya pun menempel di tubuhnya. Jadi, terlihat jelas lekuk tubuh indah si wanita. Apalagi bagian atas tubuhnya. Saking basahnya, Owen bahkan bisa melihat pakaian dalam berwarna hitam dan berenda di balik kemeja putihnya. Cantik sekali! Owen refleks menelan air liurnya. Awalnya dia merasa Lucy tergolong sangat cantik. Tak disangka, masih ada wanita yang lebih cantik lagi. Si wanita sudah tenggelam dalam waktu yang cukup lama. Jadi, wajahnya tampak pucat, dan dia bahkan tidak bernapas lagi. Owen terpaksa menekan-nekan dada montok si wanita sambil memberi napas buatan untuknya. Dia tidak menyangka dada wanita itu sangat empuk, bibirnya juga terasa lembut dan juga sedikit manis. Tak lama kemudian, si wanita cantik sudah berhasil menyadarkan diri. “Uhuk, uhuk ….” Si wanita terus terbatuk-batuk. Tubuhnya terlihat sedikit gemetar. Saat ini, si wanita dapat merasakan sisa kehangatan di bibirnya. Begitu mengangkat kepalanya, dia menyadari Owen sedang meraba-raba kakinya. Emosi si wanita seketika membara. Dia langsung menendang Owen ke dalam sungai, lalu memakinya, “Kamu lagi ngapain? Dasar berengsek! Sialan!” Owen yang ditendang ke dalam sungai itu merasa kaget. Dia kembali naik ke tepi sungai dengan tidak berdaya. Mungkin ini yang dinamakan air susu dibalas dengan air tuba. “Ternyata memang nggak ada cewek baik di dunia ini! Padahal aku sudah berbaik hati selamatin kamu. Aku bahkan beri kamu napas buatan. Kamu malah nggak berterima kasih, malah tendang aku ke dalam sungai? Hehe, sepertinya kamu nggak sekolah, ya. Hari ini aku akan gantiin ayahmu untuk beri pelajaran sama kamu!” Selesai berbicara, Owen langsung berjalan ke hadapan si wanita. Si wanita spontan merasa panik hingga sekujur tubuhnya gemetar, dan begitu pula dengan suaranya. “Kamu … kamu jangan sembarangan, ya!” Tempat ini sangat terpencil. Jika si wanita diapa-apain lelaki itu, dan dilempar ke dalam sungai, orang lain juga tidak akan menyadarinya. Siapa sangka Owen hanya merampas kunci mobil dan ponsel yang sudah tidak bisa diaktifkan lantaran sudah kemasukan air itu, dan membantingnya ke lantai. Tak hanya sampai di sana saja, setelah semuanya sudah hancur, Owen pun membuangnya ke dalam sungai! “Bukannya kamu sangat hebat?” Owen berbicara dengan marah, “Bukannya kamu nggak tahu berterima kasih? Sekarang aku sudah hancurin ponselmu. Aku ingin lihat gimana caranya kamu panggil taksi di tempat terpencil seperti ini? Tenang saja, kamu nggak bakal sendirian, kamu bakal ditemani oleh hantu. Hehe, kamu nggak bakal kesepian.” Selesai berbicara, Owen langsung melangkah pergi. Sementara itu, si wanita terkejut hingga sekujur tubuhnya gemetar! Dia pun berteriak dengan menangis, “Jangan … jangan pergi! Aku mohon sama kamu!” Bab 3 Lokasi makam ini sangat terpencil! Owen juga tidak yakin akan ada hantu atau tidak, hanya saja dia dapat mendengar suara raungan serigala. Ditambah lagi, si wanita sedang basah kuyup, dan kakinya juga terluka. Dia pasti tidak bisa berjalan jauh. Jalan raya masih jauh di depan sana. Tidak akan ada yang datang untuk menyelamatkan wanita ini. Sekarang dia juga sudah tidak memiliki ponsel dan kunci mobil. Dia pun hanya bisa bermalam di sini! Semua ini adalah hukuman Owen untuknya! Hukuman atas membalas air susu dengan air tuba! Owen melangkahkan kakinya, lalu berjalan pergi. “Dasar berengsek! Kamu memang berengsek! Kamu … jangan tinggalin aku!” Si wanita cantik mengejar Owen, tapi dia tidak sanggup mengejar langkah Owen yang sedang emosi itu. Seketika, terlintas rasa sedih di hatinya. Dia tidak menyangka seorang wanita dari keluarga kaya raya, Theresa Lestari, akan disiksa seperti ini. “Sialan! Setelah aku tahu kamu itu siapa, aku pasti nggak akan ampuni kamu!” jerit Theresa. Ancaman yang dilayangkan Theresa membuat amarah di hati Owen semakin membara. Dia pun tidak menghiraukan Theresa lagi. Ketika menyadari Owen sudah menghilang dari pandangannya, tangisan Theresa semakin kuat lagi. Saat ini, sepatu hak tinggi Theresa sudah rusak, sekujur tubuhnya juga sudah basah. Dia kedinginan sampai menggigil. Theresa mengamati sekeliling, dan dia pun merasa sangat takut. Memang tidak ada serigala, tapi tempat ini adalah kuburan. Siapa tahu bakal ada roh-roh halus …. Theresa sungguh membenci Owen. Sejak kapan nona muda terhormat seperti dia pernah mengalami penderitaan seperti ini? Tiba-tiba Owen mulai menyesali perbuatannya. Dia adalah seorang lelaki berhati baik. Kalau tidak, dia tidak mungkin akan menyelamatkan Kakek Martin, dan bahkan tidak mengeluh ketika ditindas anggota Keluarga Bastian selama bertahun-tahun. Dia bisa marah juga karena ingin melampiaskan amarah yang dipendamnya selama ini. Namun sekarang, Owen juga sudah menenangkan dirinya. Owen berpikir, bagaimanapun ceritanya dia adalah seorang perempuan, sepertinya perbuatan Owen tadi sudah keterlaluan. Si wanita mungkin tidak akan bertemu bahaya lagi. Hanya saja, jika si wanita bermalam dengan kondisi basah kuyup, dia pasti akan flu berat. Owen merasa tidak tega. Pada akhirnya, Owen berjalan kembali untuk pergi mencarinya. Namun, Owen malah tidak bisa menemukan bayangan siapa pun di tempat dia meninggalkan Theresa tadi. Kali ini Owen merasa panik. Dia langsung mencari di sekeliling, tapi selain sepasang sepatu hak tinggi, Owen tidak bisa menemukan apa-apa lagi. Celaka! Owen memiliki firasat buruk, sepertinya telah terjadi sesuatu terhadap Theresa. Tak lama kemudian, samar-samar terdengar suara jerit minta tolong Theresa. Owen langsung berlari ke arah datangnya suara. Ternyata dua pembunuh tadi kembali lagi! Kali ini, mereka bukan hanya ingin membunuh Theresa saja, sepertinya mereka juga tidak dapat menahan hasrat ketika melihat Theresa yang basah kuyup itu. Saat Owen pergi mencari Theresa, pakaiannya pun sudah dikoyak. Owen juga tidak peduli dengan kehebatan dua pembunuh itu lagi, dia langsung menendang salah satu pembunuh yang sedang menindih tubuh Theresa. Owen menundukkan kepalanya dan tampak pakaian di tubuh Theresa sudah tidak bersisa lagi. Theresa berusaha untuk menutup bagian intimnya, tapi tidak peduli bagaimana dia berusaha, tetap terlihat bagian tubuh lainnya. Owen spontan merasa postur tubuh wanita ini indah sekali. Emm, bahkan lebih indah daripada tubuh Lucy. “Kamu nggak apa-apa, ‘kan?” Owen langsung melepaskan pakaiannya, lalu menutupi tubuh Theresa. Theresa pun bergegas mengenakan pakaiannya. Ketika melihat orang yang datang menyelamatkannya adalah lelaki yang meninggalkannya tadi, Theresa pun ingin sekali menamparnya. Namun pada saat ini, Theresa melihat sesuatu, dan dia spontan menjerit, “Hati-hati!” Hanya saja, semuanya sudah terlambat. Si pembunuh yang berjas hitam itu sepertinya sudah terlatih dengan profesional, sedangkan Owen hanyalah orang biasa. Bagaimana mungkin dia sanggup melawan si pembunuh? Owen pun ditendang jauh, lalu si pembunuh mengeluarkan pisau yang dipungutnya tadi sambil berkata, “Cari mati!” Kemudian, si pembunuh yang satu lagi menginjak dada Owen, hendak menancapkan pisau di tubuh Owen. Tiba-tiba si pembunuh yang mengoyak pakaian Theresa dan menendang Owen tadi pun mendesak pembunuh yang satu lagi, “Kak Basri, Keluarga Lestari itu keluarga hebat. Sepertinya mereka sedang di perjalanan untuk mengejar kita. Waktu kita sudah nggak banyak lagi. Cepat habisi mereka! Jangan tunda waktu lagi!” “Memangnya aku nggak tahu!” Basri terlihat sangat marah. Jika bukan Theresa cukup cantik, sepertinya nyawanya sudah tiada saat ini. Tanpa berbasa-basi, Basri langsung menusuk dada Owen dengan pisaunya. Darah segar memuncrat! Sebelum Owen meninggal, dia pun menggigit paha Basri, lalu menjerit, “Cepat lari! Kamu nggak usah peduliin aku! Aku memang ditakdirkan untuk bernasib malang!” Setelah selesai berbicara, Owen masih bisa-bisanya memaksa untuk tersenyum pada Theresa. Meski awalnya Owen merasa sangat marah terhadap Theresa, pada akhirnya Owen juga tidak mempermasalahkannya lagi. Owen berjanji akan menjadi orang baik di kehidupan mendatang. Tersimpan banyak makna di balik senyuman Owen, ada sedih, sakit hati, dan juga putus asa terhadap kehidupan ini. Tubuh Theresa spontan gemetar. Dari senyuman Owen, dia sepertinya dapat membaca kesedihan dan kelemahan di hati Owen. Dia tidak sekuat yang dilihat Theresa. Saat ini, Theresa malah tidak melarikan diri. Dia tahu kalau Owen mati, dia juga tidak mungkin bisa selamat. Melihat Owen sudah kehilangan kesadarannya, wajah Theresa langsung memucat. Dia ketakutan hingga jatuh duduk di atas lantai. Sebelumnya Owen sudah menindas Theresa, tapi sekarang dia malah rela mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan Theresa. Hal ini membuat hati Theresa terasa sedih. Di sisi lain, darah yang mengalir dari dada Owen menodai giok yang menggantung di lehernya. Siapa juga tidak menyadari bahwa giok itu memancarkan cahaya putih, lalu cahaya putih itu masuk ke bagian cedera di tubuh Owen. “Saya adalah leluhur dari Keluarga Guswadi, semua keturunan Keluarga Guswadi berkesempatan mendapatkan warisanku ….” Seketika kalimat itu masuk ke dalam benak Owen. Kemudian, wajah yang awalnya terlihat pucat malah terlihat sangat merona. Bahkan tubuh Owen juga terasa sangat bertenaga. “Theresa, sekarang giliranmu!” Si lelaki berjas hitam tersenyum sinis, lalu berjalan ke sisi Theresa dengan memegang pisau. Theresa sudah tidak memiliki tenaga untuk melarikan diri lagi. Dia pun sudah menyerah. “Awas!” Pada saat ini, terdengar suara teriakan pembunuh yang lain dari belakang. Sayangnya, semuanya sudah terlambat. Owen memungut pisau dari atas lantai. Kemudian, dia langsung berdiri, dan menancapkan pisau di belakang punggung si lelaki berjas hitam. “Kamu ….” Si lelaki berjas hitam spontan menoleh. Kedua matanya menatap Owen dengan tatapan tidak percaya. Dalam hitungan detik, jenazah langsung jatuh ke atas lantai. Si pembunuh mati tanpa memejamkan matanya. Owen, bagaimana ceritanya dia bisa hidup kembali? Bab 4 Owen yang sudah hidup kembali dan memiliki kekuatan yang sangat besar. Dia memang masih belum menguasai semuanya, tapi kekuatannya saat ini sanggup untuk membunuh dua pembunuh biasa. Beberapa detik kemudian, saat pembunuh yang satu lagi belum merespons, Owen langsung berlari pergi memeluk Theresa, lalu bersamanya bergelinding ke dalam sungai. Apa mereka ingin mati bersama? Ekspresi wajah Theresa terlihat rumit. Lelaki ini memang sangat menyebalkan. Hanya saja, padahal mereka baru bertemu sebentar saja, si lelaki malah rela mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan dirinya. Saat ini, kedua kaki Theresa sudah terasa lemas. Dia segera menepi ke tepi sungai. Perasaannya sangat kalut saat ini. Di satu sisi, dia berharap Owen bisa naik ke tepi sungai, tapi di sisi lain, dia juga berharap Owen sudah tidak bernyawa. Sebab, tubuhnya sudah dilihat, diraba, dan bahkan bibirnya juga sudah dicium oleh lelaki itu. Theresa menggigit bibirnya sambil menunggu. Hanya saja, dia masih tidak berhasil menunggu si lelaki. Dia sungguh tidak tahu bagaimana nasib si lelaki itu. Entah kenapa air mata mulai menetes dari ujung mata Theresa. Theresa sudah berusaha untuk menahannya, tapi dia tetap tidak sanggup mengendalikan air matanya …. Tak lama kemudian, terdengar suara klakson mobil. Pengawal-pengawal Keluarga Lestari sudah tiba! Theresa yang mengenakan pakaian Owen itu sudah menunggu sangat lama. Setelah memastikan Owen tidak naik ke tepi sungai, dia berbisik di dekat tepi sungai, “Namaku Theresa Lestari. Kalau … kamu bisa cari aku ….” Kemudian, Theresa membalikkan badannya untuk berjalan pergi. Namun, dia tidak tahu Owen yang berada di dalam sungai sudah mendengar namanya. Theresa Lestari? Nama yang sangat bagus! Setelah Theresa pulang ke rumah, dia bagai orang gila saja. Dia memerintah semua pengawalnya untuk mencari Owen di dalam sungai. Namun pada akhirnya, mereka tidak bisa menemukan apa pun. Theresa hanya tahu lelaki itu bernama Owen Guswadi. Dia adalah seorang menantu pecundang. Anak buah Theresa berhasil menemukan kartu identitasnya. Katanya, kartu identitasnya ditemukan di pusat pembuangan sampah. Aneh sekali. …. Saat ini, Lucy dan Sarah sedang menunggu di depan Kantor Catatan Sipil. Lucy terus melihat jam tangannya, dan emosinya juga sudah hampir meledak. Semalam dia sudah janjian dengan Owen untuk mengurus perceraian mereka pagi hari ini. Namun sekarang sudah hampir siang hari, dan masih belum tampak bayangan Owen. Owen juga tidak pulang semalaman, dan ponselnya juga tidak bisa dihubungi. Ketika Lucy sudah tidak bisa bersabar lagi, akhirnya tampak Owen berlari ke sisinya dengan terengah-engah dan pakaian koyak! Semalam Owen sudah memperlakukan Theresa dengan sangat kasar. Terakhir, dia pun mengetahui bahwa Theresa berasal dari keluarga kaya. Jadi, Owen pun tidak berani naik lagi. Setelah mendengar nama Theresa, dan menyadari ada banyak pengawal yang berjaga di sana, Owen pun langsung berenang ke sisi lain. Kemudian, dia mengalami banyak rintangan, bahkan pingsan di dalam sungai. Saat Owen sudah menyadarkan diri, matahari pun sudah menggantung di atas sana. Owen pun kepikiran masalah perceraiannya dengan Lucy. Dia juga ingin segera terlepas dari siksaan ini. Oleh sebab itu, Owen datang dengan tergesa-gesa. Plak! Lucy langsung menampar Owen. “Dasar cowok nggak berguna! Semalam kamu ke mana saja? Bukannya aku sudah bilang urus prosedur perceraiannya di pagi hari. Sekarang sudah siang! Kamu sudah buang-buang waktuku saja!” marah Lucy. “Semalam aku ada sedikit urusan ….” Owen memegang pipinya. Betapa inginnya dia membalas menampar Lucy, tapi dia tidak berani melakukannya. Pada akhirnya, Owen hanya bisa menelan penghinaan ini. “Orang nggak berguna sepertimu bisa ada urusan apa! Kenapa? Jangan-jangan semalam kamu nggak senang? Jadi, kamu pergi cewek lain?” Sarah berjalan mendekati, lalu berbicara dengan nada menyindir. “Ibu, sepertinya Ibu sudah memandang tinggi dirinya. Cewek mana yang mau sama cowok pecundang seperti dia! Meski dia ingin pergi cari kupu-kupu malam, dia juga nggak sanggup buat bayar!” ucap Lucy dengan tersenyum. Owen sungguh malu. Dia bahkan tidak berani mengangkat kepalanya untuk menatap kedua wanita di hadapannya. “Sudahlah, aku sudah cukup muak untuk lihat kamu lagi! Ayo kita urus prosedur perceraian kita!” ucap Lucy dengan mendengus. Kemudian, dia duluan berjalan memasuki Kantor Catatan Sipil. Namun pada saat ini, Owen malah berkata, “Kartu identitasku hilang. Kita … kita … nggak bisa cerai. Semalam sewaktu kalian usir aku keluar, kalian buang semua barangku ke dalam tong sampah. Di dalamnya ada kartu identitasku. Semua ini juga bukan salahku. Jam segini sampah-sampah itu juga sudah dimusnahkan. Aku nggak bisa menemukan kartu identitasku lagi.” “Apa?” Lucy terbengong, lalu menatap Owen dengan galak. Tiba-tiba dia tersenyum sinis dan berkata, “Sepertinya kamu sengaja nggak mau cerai sama aku? Pakai alasan kartu identitasmu hilang lagi. Kamu kira aku bisa dibohongi sama kamu! Kamu itu cowok bukan, sih?” “Iya, kalau kamu nggak ingin cerai, kamu bisa terus terang! Kenapa? Memangnya enak ya diselingkuhi? Atau kamu bersedia jadi ayah dari anak yang dikandung Lucy? Kamu suka asuh anak orang lain?” Sarah juga ikut menyindir. “Bukan, kartu identitasku memang sudah hilang. Lagi pula, semua juga ulah kalian. Apa hubungannya sama aku?” Owen mengepal tangannya dengan kuat, dan matanya mulai memerah. Sekarang Owen juga ingin segera bercerai dengan Lucy. Hanya saja, dia tidak memiliki kartu identitas, dia juga tidak berdaya. Kebetulan saat ini sebuah mobil Porsche dan mobil Audi berhenti di depan Owen dan yang lainnya. Saat pintu mobil Porsche dibuka, tampak seorang pemuda berumur 26-27 tahun dengan busana mahal dan kacamata hitam sedang menuruni mobil. Disusul, dua orang pengawal berpakaian rapi menuruni mobil Audi, lalu bergegas berjalan ke belakang si pemuda. Keberadaan mereka tentu saja menarik perhatian banyak pengguna jalan. Dalam sekali lihat, semua orang juga bisa menebak kalau lelaki itu pasti adalah tuan muda dari orang kaya. “Tuan Fredi, Tuan sudah datang, ya ….” Lucy dan ibunya langsung menyingkirkan ekspresi galak di wajahnya, dan tersenyum lebar terhadap Fredi. Fredi Leonard melepaskan kacamata hitamnya, lalu berbicara dengan ekspresi arogannya, “Lucy, bukannya kamu bilang hari ini kamu akan bercerai dengan suamimu? Ada apa ini? Kenapa sampai saat ini kalian masih belum urus prosedur perceraian?” “Haish, jangan diungkit lagi! Si pecundang ini sengaja terlambat datang. Kemudian, dia ngotot bilang kartu identitasnya hilang. Sepertinya dia nggak ingin bercerai sama aku!” Lucy spontan memelototi Owen. “Kata siapa nggak punya kartu identitas nggak bisa cerai! Aku kenal sama anggota Kantor Catatan Sipil! Ayo, aku bawa kalian untuk urus prosedur perceraian!” Fredi memeluk pinggang Lucy dengan mesra, lalu melirik Owen sekilas dengan tatapan sinis. “Aku peringati kamu, lebih baik kamu ikuti apa kata kami, kalau nggak, kamu akan menyesal nanti!” “Hei, kamu dengar nggak? Meski kamu nggak ada kartu identitas, suamiku juga bisa jalankan prosedur perceraian kita! Sekarang kamu nggak bisa ngeyel lagi, ‘kan?” Lucy tersenyum pada Owen, lalu mengecup pipi Fredi. Kemudian, mereka berdua berjalan ke dalam Kantor Catatan Sipil dengan mesranya. Dasar sepasang lelaki dan wanita jalang! Owen mengepal erat tangannya, dan dapat terlihat kobaran api di dalam matanya. Lucy bukan hanya selingkuh, dia bahkan menebar kemesraan dengan selingkuhannya di hadapan Owen. Sungguh menjengkelkan! Hanya saja, ketika kepikiran Owen akan segera terbebas dari Lucy, dia pun berusaha memendam amarahnya. Owen mengikuti langkah mereka berdua berjalan memasuki Kantor Catatan Sipil. Bab 5 “Nona Lucy, maaf sekali! Berdasarkan undang-undang pernikahan, ada masa mediasi 30 hari setelah mengajukan perceraian. Apalagi suamimu tidak punya kartu identitas, kami tidak bisa langsung menjalankan prosedur perceraian kalian ….” Seorang petugas wanita berbicara dengan sangat sopan, lalu mengembalikan berkas kepada Lucy. “Apa-apaan? Mau cerai saja perlu masa mediasi? Suruh atasan kamu ke sini! Aku nggak percaya mau cerai saja sesusah ini!” Fredi berkata dengan menggebrak meja. “Tuan, peraturannya memang seperti ini ….” Raut wajah si petugas wanita memang terlihat tidak bagus, tapi dia tetap bersikap sopan. “Jangan bicara panjang lebar sama aku! Aku suruh kamu panggil atasanmu kemari! Kamu budek, ya!” jerit Fredi dengan emosi. Kericuhan di Kantor Catatan Sipil menarik perhatian semua orang. Sepertinya ini adalah pertama kalinya ada orang yang berbuat keonaran di Kantor Catatan Sipil. Saat ini, petinggi Kantor Catatan Sipil juga dihebohkan oleh masalah ini. Seorang lelaki paruh baya berbadan agak gendut segera berlari keluar. “Ternyata Tuan Fredi …. Tuan Fredi, jangan marah-marah! Bella tidak kenal dengan orang penting seperti Tuan. Dia tidak bermaksud untuk menyinggung Tuan. Saya wakili dia untuk minta maaf sama Tuan ….” Si lelaki paruh baya tersenyum, lalu memalingkan kepalanya untuk melihat ke sisi Bella. “Bella, apa kamu tahu siapa Tuan ini? Dia adalah tuan muda dari Grup Leonard. Cepat minta maaf sama Tuan Fredi!” “Grup Leonard?” Semua orang di sekitar spontan terkejut. Grup Leonard adalah perusahaan yang cukup terkenal Jenggala. Total nilai asetnya bahkan mencapai 8-10 triliun. Jadi, wajar kalau tidak ada yang berani menyinggungnya. “Tuan Fredi, maaf, saya bersalah! Mohon maafkan saya ….” Bella juga merasa sangat kaget. Dia segera membungkukkan tubuhnya, lalu meminta maaf kepada Fredi. Kali ini, Fredi baru merasa puas. Dia sungguh menikmati perasaan dihormati oleh orang-orang. “Pak Budiman, cepat jalankan prosedur perceraian wanitaku. Kemudian, bikinin surat nikah kami berdua!” “Baik, saya akan segera laksanakan!” Budiman langsung tersenyum, dan segera pergi menjalankan prosedur perceraian untuk Owen dan Lucy. Setelah itu, dia pun membuatkan surat nikah untuk Lucy dan Fredi. “Sayang, kamu berwibawa sekali! Aku suka sekali sama kamu!” Lucy bersandar di dalam pelukan Fredi sambil berbicara dengan manja. Dengan adanya menantu seperti Fredi, Keluarga Bastian pun merasa semakin terpandang. “Siapa cewek itu? Bisa-bisanya dia menggaet tuan muda dari Grup Leonard!” “Nasib cewek itu beruntung sekali!” … Sebaliknya, semua orang juga menyadari masalah perselingkuhan Lucy. Tatapan semua orang spontan tertuju pada diri Owen. Ada yang merasa kasihan terhadap Owen, dan ada juga yang meremehkannya. Tatapan semua orang membuat Owen merasa semakin terhina. Betapa inginnya dia segera meninggalkan tempat ini! Setelah menerima surat cerai, Owen hendak berjalan pergi, tapi langkahnya malah dihalangi oleh Fredi. “Ingin pergi? Nggak segampang itu!” ucap Fredi sambil tersenyum. Raut wajah Owen berubah muram. “Kamu mau ngapain?” “Menurutmu? Kamu sudah menunda waktu istriku untuk bercerai dengan alasan … kartu identitasmu hilang? Kamu kira aku akan lepasin kamu begitu saja?” ucap Fredi dengan tersenyum sinis. “Aku sudah bilang dengan sangat jelas. Aku bukan lagi nunda waktu. Kartu identitasku memang hilang.” Owen berusaha untuk menahan amarahnya. “Kamu kira aku itu anak umur tiga tahun yang bisa dibohongi sama kamu?” Fredi tersenyum, lalu memerintah kedua pengawalnya, “Hajar dia! Beri pelajaran sama orang nggak berguna itu! Biar dia tahu rasa!” “Baik!” Kedua pengawal menyeringai ganas, lalu mengayunkan kepalan ke sisi Owen. Kedua pengawal sudah terlatih secara profesional. Alhasil, Owen pun dipukul hingga jatuh di lantai. Dia hanya bisa melakukan perlindungan dengan meringkuk dan menutupi kepalanya dengan kedua tangannya, lalu menerima pukulan kuat dari kedua pengawal. “Kasihan sekali cowok itu!” “Istrinya sudah direbut sama cowok lain. Sekarang dia malah dipukul lagi!” “Kalau nasibku seperti dia, aku memilih untuk mati saja!” … Orang-orang di sekeliling mulai bergosip sambil menatap Owen dengan tatapan iba dan juga meremehkan. Mereka juga sangat jelas. Sepertinya semua ini hanyalah permulaan saja. Dengan kekuasaan tinggi Grup Leonard, sepertinya nasib Owen akan semakin miris saja! Cittt! Pada saat ini, tiba-tiba di depan Kantor Catatan Sipil berhenti sebuah mobil Rolls-Royce diikuti dengan dua mobil Mercedes-Benz di belakangnya. Begitu pintu mobil Rolls-Royce dibuka, seorang wanita muda berumur sekitar 23-24 tahun dengan paras indah dan badan langsing berjalan menuruni mobil. Kemudian, terdapat enam orang pengawal berjalan di belakang wanita cantik itu. “Astaga! Theresa!” “Dia itu salah satu dari empat wanita tercantik di Jenggala. Dia itu anak dari Keluarga Lestari, Theresa Lestari!” … Orang-orang di sekitar mengenali status dari wanita cantik itu. Theresa bukanlah public figure, tidaklah gampang untuk bisa bertemu dengannya. Hanya saja, sebagai anak kesayangan dari Keluarga Lestari, dan juga salah satu dari empat wanita tercantik di Jenggala, Theresa pun dikenal banyak orang. “Dengar-dengar Theresa masih jomlo, dan nggak pernah pacaran sebelumnya. Jadi, ngapain dia datang ke Kantor Catatan Sipil?” “Jangan-jangan dia sudah punya pacar? Dia sudah berencana untuk nikah?” … Semua orang mulai menebak-nebak. Saat semua orang mengira Theresa datang untuk mendaftarkan pernikahannya, hati semua lelaki menjadi remuk. Selain itu, semua lelaki juga merasa sangat iri dengan lelaki yang bisa menikahi wanita idaman mereka! Theresa tidak menghiraukan tatapan semua orang. Dia terus berjalan ke area pelayanan, lalu berjalan ke sisi Fredi. Saat ini, wajah Fredi spontan merona, dan jantungnya berdegup kencang. Sebagai tuan muda dari Grup Leonard dan juga orang yang cukup berpengaruh di dunia bisnis, Fredi tentu pernah bertemu dengan Theresa. Ketika pertama kali Fredi bertemu dengan Theresa, dia pun langsung jatuh cinta dengan wanita idamannya! Hanya saja, kekuasaan Keluarga Lestari di Jenggala lebih tinggi berkali-kali lipat daripada Keluarga Leonard. Keluarga Lestari bahkan memiliki pengaruh penting di kalangan militer, politik, dan bisnis. Meski Fredi sangat mengagumi Theresa, dia juga tidak memiliki keberanian untuk mengejarnya. Namun sekarang, Theresa malah berinisiatif untuk mendekatinya! Fredi merasa sangat amat gembira! Bab 6 “Nona Theresa, apa Nona datang untuk cari aku?” Fredi langsung berjalan menghampiri Theresa, dan berbicara dengan nada yang sangat lembut. Theresa malah tidak melirik Fredi sekilas pun, tatapannya langsung tertuju pada diri Owen. Saat ini, dapat terlihat sedikit senyuman di wajah dingin Theresa. Semalam Theresa sudah mengerahkan seluruh anak buahnya untuk mencari jasad Owen, tapi mereka tidak dapat menemukannya. Jadi, dia yakin Owen pasti masih belum mati! Si Berengsek itu sudah mengambil keuntungan darinya. Bagaimana mungkin dia boleh mati dengan segampang itu? Pagi harinya, Theresa yang keras kepala itu menggunakan semua relasi dari Keluarga Lestari untuk menyelidiki latar belakang dari Owen. Dia juga sudah mendengar kabar bahwa hari ini Owen berencana bercerai dengan Lucy. Itulah sebabnya Theresa bisa berada di Kantor Catatan Sipil saat ini. Theresa sendiri juga tidak yakin apakah dia bisa bertemu dengan Owen atau tidak. Hanya saja, Theresa ingin menguji keberuntungannya. Siapa sangka, Theresa malah menemukan bayangan tubuh yang mirip dengan Owen. Hanya saja, lelaki itu sedang meringkuk sambil menutupi kepalanya dengan kedua tangan. Theresa tidak bisa melihat wajah lelaki itu dengan jelas. Dia juga tidak bisa memastikan lelaki itu adalah lelaki yang sedang dicarinya! Saat ini, berhubung dengan kedatangan Theresa, kedua pengawal yang menghajar Owen pun sudah menghentikan aksinya. Owen merasa ada yang aneh. Dia pun mengangkat kepalanya untuk melihat kondisi sekitar. Kemudian, tatapannya tidak sengaja berpapasan dengan tatapan Theresa. “Theresa? Kamu?” Owen terlihat sangat kaget hingga spontan berdiri. Dia tidak menyangka dirinya akan bertemu Theresa dalam waktu secepat ini. Entah kenapa perasaan Theresa sangatlah kacau saat ini. Jelas-jelas dia merasa sangat antusias, tapi dia malah berusaha untuk menyembunyikannya. Jelas-jelas dia ingin memaki si Berengsek ini, tapi dia tidak tega lantaran Owen sudah menyelamatkan nyawanya. Pada akhirnya, tubuh Theresa tampak sedikit gemetar, dan dia tidak bisa mengontrol air matanya lagi. Theresa juga tidak lagi menyembunyikan rasa gembiranya lagi. Dia langsung pergi untuk memeluk Owen. “Eh ….” Owen terbengong. Fredi, Lucy, dan Sarah juga terbengong. Begitu pula dengan semua orang di tempat! Mereka tidak pernah menyangka Theresa, cewek idaman semua orang dan juga salah satu dari empat cewek tercantik di Jenggala, malah akan memeluk Owen yang berpakaian koyak itu! Mengejutkan sekali! Bukan hanya begitu saja. Lelaki yang mereka anggap sebagai pecundang itu malah dipeluk oleh wanita idaman mereka! Pecundang itu dipeluk oleh Theresa! Saat ini, semua orang menatap Owen dengan tatapan penuh kebencian, dan bahkan ada yang berniat untuk menghabisinya! Jika tatapan bisa membunuh, sepertinya Owen sudah mati berkali-kali! Setelah tersadar dari bengongnya, Owen langsung melepaskan tangan yang memeluknya. “The … Theresa, kenapa kamu bisa ke sini?” “Aku datang ke sini khusus untuk cari kamu ….” Wajah Theresa spontan merona. Tiba-tiba Theresa menemukan bekas darah di ujung bibir Owen, dia spontan mengelus ujung bibirnya. “Owen, kenapa wajahmu bisa terluka? Siapa yang sudah pukulin kamu?” “Aku ….” Owen refleks menatap Fredi sekilas. “Pak Fredi, ternyata ini kerjaanmu!” Theresa langsung memarahi Fredi, dan menatapnya dengan galak. Sebelumnya Theresa sudah menyelidiki identitas Owen. Dia juga sudah mendengar kabar perselingkuhan istrinya Owen dengan Fredi. Sekarang Fredi bukan hanya merebut istri Owen, dia bahkan memukul Owen! Fredi sungguh keterlaluan! Tiba-tiba Fredi merinding hingga semua bulu kuduknya berdiri. Belum sempat Fredi bersuara, Lucy malah sudah berjalan maju. “Siapa kamu? Kenapa kamu berani berbicara kasar sama suamiku? Apa kamu nggak tahu suamiku itu siapa? Dia itu tuan muda dari Grup Leonard!” marah Lucy sambil menunjuk ke sisi Theresa. Lucy tidak pernah bertemu dengan Theresa. Dia juga tidak jelas dengan identitas Theresa. Dia hanya tahu bahwa Theresa lebih cantik daripada dirinya. Jadi, Lucy merasa tersaingi! “Jadi, kamu itu Lucy, istrinya Owen?” Theresa tersenyum. Sepertinya dia bisa menebak identitas cewek itu. “Benar! Tapi, sekarang kami sudah bercerai! Dia itu cowok nggak berguna. Aku nggak sangka kamu bahkan bersedia untuk peluk dia. Sepertinya kamu juga sama kayak dia, sama-sama nggak berguna!” Baru saja Lucy selesai berbicara, malah terdengar suara pukulan yang sangat keras. “Plak!” Lucy ditampar! Bab 7 Plak! Suara nyaring terdengar. Theresa menampar wajah Lucy dengan kuat. “Dasar wanita jalan! Berani-beraninya kamu pukul aku! Aku habisi kamu ….” Lucy memegang pipinya, lalu berjalan ke sisi Theresa. Siapa sangka respons Theresa sangat cepat, dia langsung menampar Lucy lagi. Mana mungkin Lucy bisa menerima penghinaan ini. Dia langsung menangis di hadapan Fredi. “Sayang, wanita jalang itu pukul aku! Cepat balas dia!” “Balas kepalamu!” Fredi sungguh marah. Saking marahnya, dia langsung menampar Lucy. Lucy ditampar hingga terbengong. Kemudian, dia menatap suaminya dengan kebingungan. “Sayang, aku suruh kamu pukul dia, kenapa kamu malah pukul aku?” “Aku nggak salah pukul! Apa kamu tahu siapa dia? Dia itu Theresa, anak dari Keluarga Lestari! Kamu ingin celakai Keluarga Leonard, ya?” jerit Fredi. Kali ini, Lucy langsung terbengong. Akhirnya dia sadar kalau dia sudah melakukan kesalahan fatal. Keluarga Leonard memang adalah keluarga cukup berkuasa di Jenggala. Hanya saja, Keluarga Leonard bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan Keluarga Lestari. Jadi, jangankan Fredi, bahkan ayahnya Fredi juga tidak berani menyinggung Theresa! “Nona Theresa, semua ini hanya salah paham saja. Jangan marah, ya …,” ucap Fredi sambil membungkukkan tubuhnya. “Salah paham? Aku nggak merasa ada salah paham dalam masalah ini!” Theresa tersenyum sinis, lalau memerintah pengawal yang berada di belakangnya, “Pak Jimin, mereka sudah tindas temanku. Tolong bantu aku beri pelajaran kepada mereka! Jangan berhenti sebelum aku suruh berhenti!” “Baik!” Para pengawal langsung melaksanakan amanat. Mereka segera mengepung Fredi dan kedua pengawalnya. Mengenai Lucy, berhubung dia adalah perempuan, Theresa juga tidak mempersulitnya. Anggap saja kedua tamparan tadi adalah ganjaran untuknya. Hanya saja, nasib Fredi dan kedua pengawal lainnya tidak sebagus Lucy. Keenam pengawal Theresa mengepung mereka bertiga, lalu mulai melayangkan tinjuan dan tendangan! “Nona Theresa, aku mengakui kesalahanku. Mohon ampuni aku ….” Fredi menjerit histeris sambil meringkuk dan melindungi kepalanya dengan kedua tangan. “Tadi kenapa kamu nggak ampuni Owen? Pukul terus!” Dapat terdengar amarah di dalam suara Theresa. Pengawal Theresa semakin sadis lagi! Sebelumnya Lucy sudah merasakan kehebatan dari Theresa. Sekarang ketika melihat Fredi digebuki hingga babak belur. Dia pun hanya bisa berdiri di samping, dan tidak berani maju untuk mencegat. “Owen, kalau kamu berani, kamu lawan aku saja! Kenapa kamu bersembunyi di belakang seorang cewek!” jerit Lucy dengan emosi tinggi. Owen memelototi Lucy sejenak. Pada akhirnya, Owen berjalan ke sisi Theresa, lalu menyuruhnya untuk berhenti. “Theresa, sudahlah. Aku sudah mengerti niat baikmu. Masalah ini sampai di sini saja ….” Theresa menatap mata Owen. Dari tatapan teguh Owen, sepertinya dia sudah mengerti maksud Owen. Owen ingin membalas dendamnya sendiri, dia tidak ingin Theresa ikut campur dalam masalahnya. Tebakan Theresa tidaklah salah. Owen merasa harga dirinya sudah diinjak-injak oleh Lucy. Owen tidak akan melupakan penghinaan yang dilakukan Lucy hari ini. Hanya saja, dia ingin mengandalkan kemampuannya sendiri untuk membalas Lucy. Dia tidak ingin mengandalkan kekuatan seorang perempuan. “Kali ini kalian cukup beruntung. Berhubung Owen sudah buka suara, aku akan ampuni kalian kali ini!” ucap Theresa, lalu memalingkan kepalanya tersenyum kepada Owen. “Owen, ada banyak hal yang ingin aku katakan sama kamu. Ayo kita pergi bersama!” Owen mengangguk. Dia bahkan tidak melirik Lucy, langsung mengikuti Theresa memasuki mobil. Kemudian, ketiga mobil melaju pergi. “Sial! Gimana ceritanya Owen bisa berhubungan dengan cewek seperti Theresa! Jangan-jangan semalam dia nggak pulang karena lagi sama Theresa?” Lucy emosi hingga mengentakkan kakinya. Jelas-jelas Lucy yang mencampakkan Owen. Namun gara-gara kemunculan Theresa, semuanya malah jadi merasa Lucy tidak pantas bersama dengan Owen! Bab 8 Semakin dipikir-pikir, Lucy semakin emosi. Saat ini, Fredi berdiri dengan wajah babak belur. Penampilannya kelihatan sangat menyedihkan. “Nggak mungkin! Theresa itu nona muda dari Keluarga Lestari! Statusnya sangat agung. Bahkan, anak dari keluarga kaya juga bukanlah seleranya! Sekarang kenapa dia bisa jadian sama pecundang itu?! Apa mungkin mereka berdua kebetulan saling kenal saja?” gumam Fredi sambil merintih kesakitan. Theresa adalah cewek idamannya, sedangkan Owen hanyalah seorang lelaki yang tidak memiliki apa-apa. Meski Fredi dipukul sampai mati, dia juga tidak percaya kalau Owen memiliki hubungan istimewa dengan Theresa! “Benar juga! Kecuali … Theresa sudah buta, makanya dia baru bisa suka sama dia! Nggak mungkin, meski Theresa benar-benar buta, dia juga nggak mungkin suka sama cowok seperti Owen!” Lucy juga tidak bisa menerima kenyataan itu. “Aku nggak peduli dengan hubungan mereka! Intinya, Owen sudah mencelakaiku! Aku nggak mungkin akan lepasin dia!” ucap Fredi dengan emosi. Fredi tidak berani menyinggung Keluarga Lestari. Dia tidak mungkin akan membenci Theresa. Oleh sebab itu, Fredi terpaksa melempar semua kesalahan ini ke sisi Owen! Melihat Fredi dan Lucy yang tidak tahu malu itu, orang-orang di sekitar spontan menunjukkan tatapan meremehkan. Tadi semua orang sudah menyaksikan dengan jelas, Owen yang sudah membujuk Theresa untuk melepaskan Fredi. Sekarang, Fredi bukannya berterima kasih, tapi malah ingin membalas dendam terhadap Owen. Dasar tidak tahu diri! Hanya saja, berhubung Keluarga Leonard cukup berkuasa di Jenggala, mereka juga tidak berani melontarkannya. … Hotel Mandapa. Salah satu hotel bintang lima termewah di Jenggala. Setelah Owen dan Lucy bercerai, dia pun tidak memiliki uang sepeser pun. Owen sudah kehilangan segalanya. Hal yang paling penting saat ini adalah dia memerlukan tempat untuk berteduh. Theresa berencana untuk membiarkan Owen tinggal di hotel untuk sementara waktu, sekalian menanyakan masalah semalam. Setibanya di hotel, Theresa mengisyaratkan beberapa pengawalnya untuk menunggu di luar. Kemudian, dia bersama salah seorang pengawalnya, Yansen, berjalan ke dalam. “Selamat datang.” Kedua pelayan wanita menyambut kedatangan tamu dengan tersenyum hormat. Saat menginjak karpet merah hotel, Owen pun terkejut dengan kemewahan interior hotel. Dia tidak pernah mengunjungi hotel bintang lima seperti ini. Wajar kalau Owen merasa gugup. Selain itu, sekarang dia mengenakan pakaian koyak, sungguh tidak sesuai dengan standar hotel ini. Owen terlihat berjalan dengan sangat hati-hati. Sepertinya dia takut sepatunya akan mengotori karpet dari hotel mewah ini. “Berhenti! Ini adalah hotel bintang lima. Pengemis dilarang masuk ke dalam! Kalau ingin mengemis, kamu ke tempat lain sana! Jangan mengotori hotel kami!” Saat ini, seorang wanita muda berusia sekitar 27-28 tahun dengan seragam rapi berjalan kemari. Dari ekspresi wajahnya, dapat dilihat betapa arogannya si wanita. “Ada apa dengan kalian berdua? Apa kalian sudah buta? Kenapa kalian biarkan pengemis masuk ke sini!” Si supervisor housekeeping memarahi kedua pelayan yang berdiri di depan pintu. “Pengemis apaan?” Theresa terkejut. Dia masih belum merespons. Disusul, Theresa melihat wanita itu berjalan ke hadapan Owen sambil memarahinya, “Hei pengemis, kenapa masih di sini? Cepat pergi!” Sambil berbicara, si wanita menunjuk-nunjuk ke sisi Owen. Owen yang awalnya rendah diri itu malah semakin rendah diri lagi. Betapa inginnya dia menghilang dari muka bumi ini. Saat ini, akhirnya Theresa mengerti. Dia langsung menepis tangan si supervisor housekeeping. “Apa kamu buta? Dari mana kamu lihat dia itu pengemis? Dia itu temanku, kami datang untuk buka kamar ….” “Buka kamar?” Si supervisor housekeeping mengamati Theresa sekilas, lalu berbicara dengan nada meremehkan, “Cara berpakaianmu kelihatannya mirip dengan anak orang kaya. Kamu malah mau buka kamar sama seorang pengemis?! Sepertinya kamu juga nggak beda jauh sama dia! Cepat keluar dari hotel kami!” Theresa sungguh gusar. “Kamu nggak sekolah, ya? Di mana manajer kalian? Panggil dia kemari!” “Kamu kira kamu itu siapa? Apa kamu pantas ketemu sama manajer kami!” ucap si supervisor housekeeping dengan meremehkan. Theresa emosi hingga sekujur tubuhnya gemetar. Betapa inginnya dia menampar wanita di hadapannya. Kegaduhan di lobi hotel menghebohkan pekerja hotel. Seorang lelaki berusia sekitar 36-37 tahun lekas berjalan ke lobi. Tampak ada sebuah label kecil di depan jasnya. Di atasnya tertera tulisan David, manajer front office. Bab 9 “Amanda, ada apa? Apa yang terjadi?” tanya David. “Kak, kebetulan kamu ke sini. Ada dua pengemis lagi bikin masalah di hotel. Mereka sudah merusak citra hotel kami ….” Si supervisor housekeeping menunjuk ke sisi Theresa dan Owen dengan ekspresi meremehkan. David melihat ke arah yang ditunjuk adik sepupunya, dan dia pun melihat keberadaan Theresa. Dalam sekilas mata, David pun dikejutkan oleh paras cantik dan wibawa Theresa. Namun setelah dilihat-lihat, David mulai berkeringat dingin! Biasanya Theresa jarang muncul di tempat umum. Jadi, tidak banyak orang yang mengenalinya. Sebenarnya David juga tidak berkualifikasi untuk mengenal Theresa. Hanya saja, bisnis Keluarga Lestari sangat besar. Biasanya Keluarga Lestari akan mengatur tamu-tamu pentingnya untuk menginap di Hotel Mandapa. David pernah bertemu Theresa sekali. Jadi, David pun langsung mengenalinya. Saat ini, David terkejut hingga kedua kakinya terasa lemas. Saking lemasnya, dia pun hampir berlutut di lantai. Mana mungkin David berani menyinggung orang seperti ini? “Satpam! Di mana satpam? Apa gunanya kalian bekerja di hotel ini? Kenapa kalian nggak usir kedua pengemis ini!” jerit Amanda dengan emosi. “Kurang ajar!” Kali ini, David murka, dan langsung melayangkan tamparan ke wajah Amanda. Plak! Suara tamparan terdengar sangat kuat. Amanda yang ditampar pun langsung terjatuh di lantai. “Kak, kenapa … kenapa kamu tampar aku?” Amanda memegang wajahnya dengan kebingungan. “Apa kamu buta? Apa kamu nggak kenal sama tamu ini? Dia itu Nona Theresa dari Keluarga Lestari!” David memelototi Amanda. Amanda adalah adik sepupu jauh David. Biasanya Amanda sering mengandalkan statusnya untuk menekan anak buahnya. Sementara, David juga membiarkan Amanda lantaran merasa tidak enak hati untuk menegurnya. Namun saat ini, Amanda malah menyinggung seorang tamu agung. Dengan kekuasaan Keluarga Lestari di Jenggala, jika masalah ini tidak diselesaikan dengan baik, jangankan Amanda, sepertinya David juga akan terkena imbasnya! “Dia … dia itu Theresa Lestari?” Kedua mata Amanda terbelalak. Amanda tidak pernah bertemu Theresa sebelumnya. Hanya saja, nama Theresa cukup terkenal di Jenggala. Dia tahu bahwa Theresa adalah salah satu dari empat wanita tercantik di Jenggala, dan juga adalah nona muda dari Keluarga Lestari yang kaya raya itu! Jika orang-orang mengetahui Amanda telah menyinggung Theresa, sepertinya Amanda bukan hanya akan diberi pelajaran oleh Keluarga Lestari saja, bisa jadi anak orang kaya yang ingin menjilat Theresa juga tidak akan melepaskannya. Amanda terkejut hingga kedua kakinya terasa lemas. Dia pun langsung berlutut untuk meminta pengampunan. “Nona Theresa, maafkan saya. Tadi saya tidak tahu identitas Nona. Saya bukan sengaja ingin menyinggung Nona. Saya harap Nona bisa maafkan saya. Saya mohon ….” Saking terkejutnya, sekujur tubuh Amanda terlihat gemetar. Melihat ekspresi Theresa masih datar seperti tadi, David pun merasa takut, dan langsung menjerit, “Tampar mukamu sendiri!” Amanda ragu sejenak, lalu mulai menampar wajahnya sendiri. “Nona Theresa, maaf, maafkan saya ….” Tamparan Amanda semakin kuat lagi. Saking kuatnya, sudut bibirnya tampak sudah berdarah. “Minta maaf sama temanku!” ucap Theresa dengan dingin. “Baik, baik …. Tuan, maaf, saya sudah bersalah ….” Amanda langsung berlutut di hadapan Owen, dan mulai meminta maaf. Owen sungguh kaget hingga tidak tahu harus berbuat apa. Dulu kehidupan Owen sangatlah sederhana. Selain bekerja, dia hanya akan tinggal di rumah. Owen bahkan tidak pernah mendengar julukan empat wanita tercantik di Jenggala. Mengenai Keluarga Lestari yang disebut-sebut mereka, Owen juga tidak pernah mendengarnya. Dia juga tidak mengetahuinya. Hanya saja, tadi sewaktu di Kantor Catatan Sipil, Theresa menyuruh anak buahnya untuk menggebuki Fredi dan anak buahnya hingga babak belur. Sekarang setelah supervisor housekeeping mengetahui identitas Theresa, dia bahkan terkejut hingga berlutut dan meminta pengampunan. Dari dua kejadian ini, Owen bisa menebak bahwa Keluarga Lestari adalah keluarga kaya dan cukup berkuasa di Jenggala. Waktu itu Owen sudah “melecehkan” Theresa, sekarang sepertinya Theresa juga tidak mempermasalahkannya lagi. Jangan-jangan …. Bab 10 Setelah menebak-nebak selama beberapa saat, akhirnya Owen kembali tersadar dari lamunannya. Owen berjalan ke sisi Theresa, lalu menarik-narik lengannya dan berbisik, “The … Theresa, sudahlah, lagi pula aku juga sudah terbiasa ….” Hati Theresa terasa sakit. Dia bisa merasakan rasa pilu dan tidak berdaya dari ucapan Owen tadi. Selain itu, dia juga merasa merasakan rasa rendah diri Owen. “Nona Theresa, semua ini salah Amanda. Nanti saya pasti akan beri pelajaran kepadanya. Mohon maafkan dia, beri dia satu kesempatan untuk berubah,” ucap David dengan tulus. David berjanji mulai saat ini, dia tidak akan memanjakan Amanda lagi. Jika tidak, suatu hari nanti David pasti akan dicelakai oleh Amanda! “Berdirilah! Berhubung temanku sudah memaafkanmu, aku akan beri kamu satu kesempatan lagi. Aku harap kamu nggak ulangi kesalahanmu lagi!” kata Theresa dengan mendengus. Theresa bukanlah orang yang sudah menekan orang lain dengan identitasnya. Dia juga tidak suka mencari masalah dengan orang lain. “Terima kasih, Nona Theresa. Terima kasih, Tuan ….” Setelah mendapat pengampunan, Amanda baru berani berdiri. Saat ini, bagian belakang kemejanya sudah basah lantaran dirinya berkeringat dingin. Banyak pengunjung hotel yang sedang menyaksikan gambaran itu. Setelah mengetahui ternyata wanita cantik di hadapan mereka adalah Theresa, si wanita cantik di Jenggala, semua orang spontan merasa kaget. Selain kaget, ada juga yang merasa terpikat dengan kecantikan Theresa. Bahkan, ada yang diam-diam memotret maupun merekam si Theresa. “Owen, ayo kita pergi ….” Theresa menyadari tatapan orang-orang di sekitar. Dia pun langsung menarik Owen untuk meninggalkan hotel. Hotel adalah tempat yang agak istimewa. Tentu saja, sebenarnya Theresa juga bukan merasa takut. Hanya saja, dia memiliki banyak penggemar yang berasal dari lingkungan kalangan atas. Jika mereka salah paham dengan masalah ini, bisa jadi Owen akan terkena masalah. Theresa tidak ingin Owen terkena imbasnya. … Vila Bagya. Salah satu vila mewah terkenal di Jenggala. Vila terletak di sekitar danau dan gunung. Jadi, pemandangan di sini sangatlah indah. Orang-orang yang bisa tinggal di vila seperti ini hanyalah orang-orang dari kalangan atas atau pengusaha. Theresa membeli dua set pakaian berkualitas bagus untuk Owen, lalu membawanya kembali ke vila. “Owen, sepertinya agak nggak leluasa untuk tinggal di hotel. Jadi, untuk sementara ini, kamu tinggal di tempatku dulu. Besok, aku akan beliin rumah buat kamu. Setelah prosedurnya sudah selesai, kamu baru pindah ke sana,” ucap Theresa dengan tersipu malu. Biasanya Theresa sangat menjaga nama baiknya. Dia tidak pernah membawa lelaki untuk bertamu di rumahnya, apalagi tinggal di rumahnya. Hanya saja, demi berterima kasih kepada Owen, kali ini Theresa mengizinkan Owen untuk tinggal di rumahnya. Tentu saja, Theresa bisa begitu percaya dengan Owen karena dia bahkan rela mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan Theresa semalam. Jadi, Theresa yakin Owen bukan orang jahat. “Terima kasih, tapi kamu nggak usah beliin rumah buat aku,” balas Owen sambil melambaikan tangannya. Seketika, Owen merasa ada yang salah dengan ucapannya. Sepertinya Theresa akan salah paham mengira Owen ingin tinggal bersamanya. “Aku … aku nggak ada maksud lain. Maksudku, kamu cukup bantu aku untuk sewa rumah saja. Setelah aku punya uang nanti, aku akan kembalikan uang kontrakan itu sama kamu,” lanjut Owen dengan tersenyum canggung. Theresa pun tidak memasukkannya ke hati. Dia mengeluarkan selembar kartu, lalu menyerahkannya kepada Owen. “Anak buahku temukan kartu identitasmu di tong sampah. Tapi gimana ceritanya kartu identitasmu bisa ada di tong sampah?” “Bagus sekali!” Owen mengambil kartu identitas dan tersenyum. Sekarang Owen sudah tidak memiliki segalanya. Dengan adanya kartu identitas ini, setidaknya Owen bisa pergi melamar pekerjaan demi kelangsungan hidupnya. Namun ketika memikirkan alasan kartu identitasnya bisa berada di tong sampah, wajah Owen pun langsung memerah. Dia malu untuk menjelaskan bahwa dirinya adalah seorang menantu pecundang yang selalu disuruh-suruh oleh keluarga sang istri. Jadi, Owen pun terpaksa menjawab dengan ala kadarnya.