Đang tải thông tin quảng bá...
Dewa perang jadi Pengawal Pribadi CEO
S Demi CEO berparas luar biasa cantik, Xion rela menjadi pria yang berdiri di belakangnya! Sang jagoan baru saja kembali. Semua dendam, pasti akan dibalasnya!Semua budi kebaikan yang pernah diterima, ...
Chương (1)
第1章
Bab 1 Kembalinya Sang Jagoan
“Xavier Morris, kamu ini terlalu durhaka deh?”
“Sudah lima tahun sejak kamu pergi, kamu bahkan tidak menelepon kedua orang tuamu!”
“Aku bisa memahami, kalau kamu sibuk bekerja.”
“Tapi sekarang, orang tuamu ditindas, kamu juga tidak kembali?”
“Kamu tahu, tidak? Orang tuamu akan segera meninggal?”
“Di lubuk hatimu, apa kamu masih ingat kedua orang tuamu? Apakah kamu ini masih manusiawi?”
Xavier tiba-tiba menerima panggilan ini, orang yang ada di telepon itu sangat kasar, memarahinya tanpa ampun, membuat Xavier tidak bisa berkata-kata.
Baru saja dia hendak menjelaskan dan bertanya lebih jauh, dia sudah mendengar nada panggilan sibuk “Tutt, tutt, tutt” dari telepon.
"Humm?"
Xavier tertegun sejenak dan mencoba menelepon kembali, tetapi panggilan itu tidak tersambung.
Hal ini membuat Xavier semakin merasa tidak nyaman.
"Syuut!"
Dia berdiri dari kursinya, badannya memancarkan aura pembunuhan yang sangat kuat.
"Cepat! Periksa! Apa yang sedang terjadi pada orang tuaku!"
Dia meraung dengan suara serak.
Keempat pengawal yang berdiri di sampingnya, mengguncang tubuh mereka dan segera berlari keluar.
“Cepat Periksa! Apa yang terjadi dengan kedua orang tua Panglima!”
Mereka berteriak dan berlari menuju area intelijen.
Sepuluh menit kemudian, mereka kembali ke ruangan tempat Panglima Xavier berada dan berkata dengan penuh hormat, "Lapor, Panglima! Kami sudah menyelidikinya."
"Katakan!"
Xavier tidak berbalik, tetapi menatap peta yang tergantung di dinding.
Salah seorang anggota pengawal itu tampak ragu-ragu, "Anda ... Anda ...."
Setelah mengucapkan dua kali, anggota pengawal itu tidak sanggup mengucapkan apa-apa lagi.
Xavier menyadari sesuatu yang aneh, tiba-tiba berbalik dan mendesaknya, "Apa yang sebenarnya terjadi!"
Para anggota pengawal itu pun berdiri tegak dan berkata dengan gigi terkatup, "Orang tuamu telah dibuli oleh Bandit Kamillo selama tiga tahun. Sepuluh jam yang lalu, mereka diculik oleh Bandit Kamillo untuk memaksa pasangan renta itu menandatangani perjanjian penjualan rumah."
Xavier membeku saat mendengar ini.
“Orang tuaku dibuli selama tiga tahun?”
“Orang tuaku dipaksa menjual rumah?”
Para anggota pengawal juga sangat marah, mereka mengangguk dan berkata, "Ya!"
"Namun, Panglima, Anda tidak perlu khawatir. Kami telah mengirimkan tim aksi. Dalam lima jam, mereka akan tiba di Kota Merkuri dan membunuh bandit itu."
Xavier melambaikan tangannya dan berkata, "Tidak perlu, aku sendiri yang akan kembali ke Kota Merkuri!"
Lima menit kemudian, sebuah helikopter parkir di luar.
Xavier menaiki helikopter tanpa ragu-ragu dan segera memerintahkan, "Ayo, berangkat!"
Helikopter itu naik dan menuju Kota Merkuri.
Meskipun helikopternya sangat cepat, Xavier tidak bisa menahan diri untuk tidak mendesak sang pilot, "Cepat! Bisakah kamu melaju lebih cepat lagi?"
Dia ingin kembali ke Kota Merkuri dan kembali ke sisi kedua orang tuanya secepat mungkin.
Pada saat yang sama, dia merasa sangat, sangat bersalah.
Dia berkata dalam hatinya, ‘Ayah ... Ibu, anakmu ini tidak berbakti. Anakmu pasti akan kembali ke sisi kalian secepatnya. Anakmu ini tidak akan pernah membiarkan siapa pun mengganggumu lagi!"
Kemudian, Xavier tenggelam dalam ingatannya.
Lima tahun lalu, dia dijebak, otot kakinya diputuskan dan dia juga dijebloskan ke penjara di bawah laut. Dia pikir dia akan menghabiskan sisa hidupnya di penjara ini.
Namun tanpa disangka, seorang pria tua misterius tidak hanya menyembuhkan otot kakinya yang putus, tetapi juga mengajarinya ilmu bela diri.
Setelah dia menguasainya, dia pun diasingkan ke Pluno dan memintanya untuk membuat sumpah janji selama lima tahun.
Selama lima tahun, dia akan bertugas di Pluno dan tidak diizinkan meninggalkan tempat atau menghubungi siapa pun.
Dengan tak berdaya, Xavier hanya bisa meminta seseorang untuk mengirimkan pesan pada kedua orang tuanya, bahwa dia sedang menjalankan misi dan tidak bisa menghubungi mereka. Meminta mereka untuk tidak mencemaskan dirinya.
Saat itu, Pluno sedang dilanda perang, jadi dia mendaftarkan diri menjadi tentara. Butuh waktu tiga tahun baginya untuk naik pangkat dari seorang prajurit menjadi seorang panglima besar.
Tiga tahun lalu, pihak musuh mengumpulkan tiga puluh enam batalion pasukan dan jutaan serdadu untuk menyerang Pluno.
Xavier memimpin pasukan untuk bertahan melawan musuh, dia sendirian yang membalikkan keadaan perang, memenggal tiga puluh enam pemimpin batalion dan menakuti jutaan pasukan musuh hingga mereka mundur.
Dalam pertempuran ini, Xavier menjadi terkenal dan menorehkan prestasi besar, dia pun dinobatkan sebagai Panglima Besar Pluno dan dianugerahi Medali Negarawan Terbaik Tiada Tara.
Butuh waktu dua tahun baginya untuk memimpin pasukannya sendiri untuk menaklukkan dan menyatukan tiga puluh enam negara kepulauan di sekitar Pluno dan merebut kembali 30.000 mil wilayah kedaulatan yang sempat hilang karena dijajah musuh!
Hingga sekarang ini, waktu lima tahun pun telah berlalu.
Sebenarnya Xavier ingin pulang secepatnya, tetapi selama ini selalu berhalangan dengan berbagai rutinitas kesibukannya sehari-hari.
Namun tidak disangka, ponselnya yang sudah berdebu tebal karena sudah lama tidak disentuhnya itu, begitu dinyalakan langsung menerima panggilan seperti itu.
Hal ini membuat hatinya tidak tenang.
Membuat Xavier terus menyalahkan dirinya sendiri.
Saat memikirkan hal ini, sang jagoan bertubuh sekeras baja itu malah menitikkan air mata.
…
Pada saat yang sama.
Di kota Merkuri.
Di sebuah lokasi konstruksi yang mangkrak.
Tangan ibu Xavier, Elena Bryant diikat dan digantung di tiang.
Sekujur tubuhnya berlumuran darah dan tampak jelas kalau dia telah dicambuk.
Seorang pria berkepala botak dan memakai kalung emas, berdiri di samping Elena dan berkata dengan kejam, "Kamu sudah pertimbangkan, ‘kan? Kontrak ini, kamu tanda tangani atau tidak?"
Elena tidak berkata apa-apa.
Hal ini membuat si kepala botak marah.
Dia menendang Elena, mendengkus dan berkata, "Tidak mau ngomong? Baiklah! Kita lihat saja, seberapa keras tulangmu!"
Kemudian, dia berbalik dan berkata pada puluhan anak buah di sampingnya, "Pukul sampai dia mau tanda tangan!"
"Baik!"
Puluhan pemuda itu pun bersama-sama mengeroyok Elena, mereka meninju dan menendang Elena tanpa ampun!
Elena mengerang kesakitan.
Namun, dia tidak memohon belas kasihan.
Membiarkan kepalan tangan sebesar mangkuk itu menghantam tubuhnya.
Lambat laun, kesadaran Elena menjadi hilang.
Dalam keadaan setengah sadar, dia melihat putranya. Elena melihat putranya kembali.
Dia berkata sesekali, "Rumah ini untuk anakku. Tidak mungkin menjualnya!"
Ketika mendengar ucapan ini, pria botak itu pun tertawa dengan arogan.
“Haha … rumah buat anakmu?”
"Elena, berhentilah bermimpi? Anakmu tidak mungkin kembali! Lima tahun telah berlalu, mungkin dia juga sudah mati deh?"
“Kalaupun anakmu kembali, lantas dia bisa apa?”
“Hutang tetap harus dibayar, ini adalah hal yang wajar, hari ini kamu harus bayar hutangmu, atau menandatangani kontrak ini.”
"Kalau tidak, jangan salahkan aku, kalau aku bersikap kasar padamu!"
Ketika Elena mendengar ini, dia sangat terkejut dan segera berkata, "Tidak! Tidak mungkin! Putraku belum mati! Putraku sedang menjalankan misi! Dia akan segera kembali! Dia pasti akan kembali!"
Saat Elena berbicara, air mata pun mengalir di wajahnya.
Dia sangat merindukan putranya.
Kalau saja putranya berada di rumah, apakah mereka masih berani menindas pasangan tua ini?
Pria botak yang memakai kalung emas itu jelas sudah kehilangan kesabarannya.
Dia menatap Elena dan berkata dengan sengit, "Kalau anakmu kembali, memangnya dia bisa apa? Dia hanya sampah tak berguna!"
Kemudian, dia berkata pada selusin anak laki-laki itu lagi, "Bawalah anjing-anjing galak itu kemari."
"Baik!"
Para pemuda itu dengan cepat membawa masuk tiga ekor anjing galak.
Ketiga anjing itu tampak sangat galak, menampakan deretan gigi yang menakutkan dan menggonggong ke arah Elena.
Elena sangat ketakutan hingga sekujur tubuhnya gemetaran.
Melihat adegan ini, pria botak itu menunjukkan senyuman yang kejam, "Elena, aku akan memberimu satu kesempatan terakhir. Jika kamu menandatangani, semuanya akan mudah dibicarakan. Jika tidak, hehe ...."
Elena berjuang untuk meronta mati-matian, tetapi dengan tangan terikat dan tergantung di udara, mana mungkin dia bisa bersembunyi?
Walau demikian, dia tetap tidak setuju untuk menandatangani penjualan rumah tersebut.
Dalam hatinya, rumah itu sudah seperti nyawanya, dia tinggalkan rumah itu untuk putranya, untuk dipakai saat sang putra kembali dan menikah. Bahkan jika dia meninggal pun, dia tetap tidak akan menjual rumah itu.
Pria botak yang memakai kalung emas itu akhirnya kehilangan kesabaran.
Dia menunjuk Elena dan berteriak dengan marah, "Baiklah, kamu tidak mau menandatanganinya, ‘kan? Oke!"
Kemudian, dia menoleh ke arah anak buahnya dan berteriak, “Lepaskan anjing galak itu. Biarkan dia digigit sampai mati!”
“Baik, Kak Kamillo!” jawab para pemuda itu sambil melepaskan tali di tangan mereka dan ketiga anjing galak itu bergegas berlari menuju ke arah Elena.
Elena sangat ketakutan hingga sekujur tubuhnya gemetar, dia memejamkan matanya.
“Xavier, ibu … sekarat, mungkin akan segera menemui ajal, kelak kamu tidak bisa makan masakan ibu lagi.”
“Ibu sangat merindukanmu! Lima tahun telah berlalu, kapan kamu akan kembali!”
Saat ini, deru suara helikopter terdengar dari udara.
"Dung dung dung ...!"
Suara helikopter terdengar keras, baling-balingnya berputar-putar di udara, membuat semua orang membungkukkan badan. Bahkan ketiga anjing galak itu pun tertiup angina dan terbang ke samping dan tidak berani menyalak sedikitpun.
Pada saat ini, pintu helikopter terbuka dan sesosok tubuh yang kuat, melompat turun dari sana.
"Dung!"
Dia mendarat dengan kokoh di tanah, matanya semerah darah dan tubuhnya memancarkan aura pembunuh yang mengerikan.
"Siapa?"
“Siapa yang telah memukuli ibuku?”
Bab 2 Siapa yang Telah Memukuli Ayahku
Suaranya yang meninggi terdengar sangat jelas, bahkan menutupi suara deru helikopter.
Aura pembunuh yang terpancar dari badannya, membuat semua orang yang hadir di sana gemetaran, mereka ketakutan dan sangat panik.
Si Kepala botak itu menekan rasa takut yang ada di hatinya dan bertanya dengan gemetar, "Kamu ... siapa kamu?"
“Xavier Morris!”
"Apa? Kamu Xavier? Bukankah kamu sudah mati?" Ada ekspresi tidak percaya terlukis di wajah si botak itu. Dia tidak menyangka kalau orang yang berdiri di depannya, sebenarnya adalah Xavier yang dijebloskan ke penjara bawah laut lima tahun yang lalu.
Xavier benar-benar sudah kembali?
Bagaimana mungkin?
Elena yang digantung di tiang pun membuka matanya, saat mendengar nama Xavier.
“Nak, kamu ‘kah itu? Kamu sudah pulang?”
Suaranya bergetar dan matanya yang keruh itu menitikkan air mata "kerinduan".
Xavier kaget saat mendengar suara ibunya, dia menahan aura pembunuhnya dan berkata dengan penuh semangat, "Bu, ini aku, aku telah kembali!"
Lalu, dia segera berjalan ke sisi ibunya.
Jebruk!
Xavier langsung berlutut dan sembah sujud dengan membenturkan kepalanya ke tanah dengan keras, berkata dengan suara gemetar, "Bu, anakmu tidak berbakti. Selama lima tahun ini, aku telah membuatmu menderita!"
Ibu Elena menggelengkan kepalanya, dia ingin mengulurkan tangan untuk menyentuh kepala putranya, seperti yang dia lakukan ketika Xavier masih kecil. Akan tetapi, dia tidak dapat melakukannya karena tangannya masih terikat. Dia hanya bisa berkata dengan suara gemetar, "Baguslah, Nak. Kamu telah kembali. Baguslah."
Setelah mengatakan ini, Elena tidak kuasa menahan luapan kesedihan dan kegembiraan di waktu yang sama, matanya langsung menjuling ke atas dan pingsan.
"Ibu!"
Xavier terkejut, dia buru-buru melepaskan ikatan dan menurunkan ibunya.
Dia berlutut untuk memeriksa kondisi luka ibunya. Dia baru merasa lega setelah mengetahui ibunya pingsan karena luapan emosional.
Kemudian, Xavier langsung berdiri dan berbalik untuk menatap si kepala botak dan para pemuda di belakangnya.
Mata Xavier tampak memerah, seperti mata binatang buas.
Si Botak dan para pemuda tidak bisa menahan diri untuk tidak bergidik ketika melihat ini.
Mata Xavier perlahan menyipit dan aura pembunuh yang luar biasa menyebar dari dalam dirinya lagi.
Si Botak itu tergagap, "Xavier ... Morris, kau mau apa sih?"
Xavier maju selangkah.
Dia berkata dengan niat membunuh yang membara, "Hutang budi dibalas budi, hutang nyawa dibayar nyawa! Kenapa kamu menyakiti ibuku tanpa alasan?"
Si Botak itu menelan ludahnya dan masih tergagap, "Dia ... dia berhutang uang padaku dan belum bayar selama tiga tahun. Aku di sini untuk menuntut utang itu."
“Oh?” Xavier mengangkat alisnya, mengulurkan tangan dan mengambil kontrak itu dari tangan si botak itu dan melihat sekilas.
Dia melihat kontrak itu tertulis jelas kalau tiga tahun yang lalu, tembok halaman rumah Elena runtuh karena hujan lebat dan menghancurkan tanah keluarga Kamillo. Jadi, Elena perlu membayar kompensasi kerugian sebesar seratus juta pada Kamillo. Namun karena Elena membutuhkan waktu tiga tahun untuk membayar semuanya. Bunga hutangnya naik menjadi seratus enam puluh juta.
Elena sendiri tidak punya uang untuk membayar bunganya, jadi dia secara sukarela bersedia mengalihkan propertinya ke Kamillo.
Melihat hal tersebut, Xavier langsung melumatkan kontrak yang ada di tangannya itu menjadi gumpalan dan melemparnya ke wajah si botak bernama Kamillo itu. Dengan marah, Xavier berkata,
"Kamillo! Nyalimu sungguh besar!"
"Setahuku, tembok luar pekarangan rumahku itu lahan kosong. Kalaupun tembok itu runtuh, kamu bisa membersihkannya saja. Kenapa harus membayar kompensasi kerugian sebesar seratus juta padamu?"
"Kedua orang tuaku orang yang jujur. Mereka memberimu kompensasi seratus juta dalam tiga tahun, tetapi kamu malah menginginkan bunga sebesar seratus enam puluh juta? Hati sungguh kotor!"
"Sekarang ... kamu malah ingin ibuku mengalihkan kepemilikan rumah itu padamu lagi? Kamu sedang bermimpi, ‘kah? Siapa yang tidak tahu kalau rumahku akan segera digusur!"
Setelah mengatakan ini, Xavier tidak tahan lagi, dia berjalan ke arah si botak itu dan menampar wajahnya.
"Plaak!"
Tubuh si botak itu langsung terhempas dan lima jejak jari tangan pun muncul di wajahnya.
"Puuuh!"
Setelah itu si botak itu pun jatuh ke tanah, dia memuntahkan seteguk darah dan melihat dua onggok gigi bercampur darah di telapak tangannya.
Melihat si Botak itu dipukuli, pemuda di sebelahnya mengecam Xavier, "Beraninya kamu memukul Kak Kamillo? Apakah kamu sudah bosan hidup?"
Setelah memarahi Xavier, mereka mengambil tongkat baseball dan mengepung Xavier.
Si Botak melihat ini, dia ingin menghentikannya. Namun, sebelum dia sempat membuka mulut, Xavier sudah bergerak.
"Bang bang bang!"
Xavier memukul para pemuda itu. Dalam sekejap, para pemuda itu satu per satu terkapar di tanah.
Kemudian, Xavier berjalan mendekati si kepala botak itu, menginjak wajahnya, menatap si botak itu dan berkata, "Kamillo, apakah kamu masih mengenalku?"
Saat baru tiba di sini tadi, Xavier tidak terpikirkan.
Sekarang, dia sudah teringat kalau Kamillo ini adalah tetangganya. Awalnya, si Botak ini selalu menjadi pengikut Xavier ke mana-mana dan memanggilnya Kak Xavier. Tak disangka, belum lima tahun, si botak sudah berani menindas kedua orang tuanya.
Hal ini membuat amarah di hati Xavier semakin berkobar.
"Aku kenal, aku kenal ...." kata si botak itu dengan terbata-bata.
Bagaimana mungkin dia tidak mengenal Xavier.
“Kamu kenal aku, kamu masih berani menindas ibuku?" Xavier mengangkat alisnya, menatap Kamillo dan berkata, "Kamu pikir aku sudah mati, ya? Kamu pikir aku tidak bisa kembali lagi?"
“Bukan, bukan,” kata si Botak menggelengkan kepalanya dengan tergesa-gesa.
Xavier tersenyum tanpa komitmen.
Kemudian dia berkata pada para pengawal yang baru saja turun dari helikopter, "Gantung mereka semuanya!"
“Baik!” Para pengawal sudah tidak bisa bersabar lagi sejak tadi. Jika bukan karena sang Panglima tidak berbicara, mereka pasti sudah menghabisi sekelompok bajingan ini! Mereka bahkan berani menindas ibunda sang Panglima Besar. Mereka itu benar-benar pantas mati.
Para pengawal ini langsung berjalan ke arah si botak dan para pemuda, menjambak mereka seperti menjambak kelinci-kelinci yang sudah tidak bernyawa.
Si botak itu menunduk dan berteriak dengan putus asa, “Kak Xavier, ampuni kesalahanku, tolong ampuni saya kali ini!"
Para pemuda itu juga tahu, saat ini mereka telah menyinggung seseorang yang tidak seharusnya mereka singgung. Mereka mengikuti Kamillo dan memohon belas kasihan, “Ampuni kami, lain kali tidak akan lakukan lagi."
Bagaimana Xavier bisa berhati lembut terhadap orang-orang yang telah menindas ibunya?
Dia berkata kepada para penjaga, "Lepaskan ketiga anjing galak itu!"
"Bagaimana mereka mempelakukan ibuku, lakukan hal yang sama terhadap mereka. Bagaimanapun juga harus biarkan mereka rasakan selama tujuh hari, kalian sudah mendengarkan, ‘kan?"
“Baik!” Para pengawal itu mengangguk.
Lalu, mereka pun melepaskan ketiga anjing galak itu.
Ketiga anjing galak itu mulai menggigit si botak dan beberapa pemuda itu.
Tiba-tiba, seluruh lokasi pembangunan dipenuhi suara teriakan si pria botak dan anak-anak muda tersebut.
"Ah! Ampun, tidak berani lagi, jangan biarkan dia menggigitku!"
"Ah! Aku benar-benar sudah tahu salah! Cepat, pegang anjing ini erat-erat, kalau mereka menggigit lagi ... Aku pasti akan mati."
Mendengar teriakan orang-orang ini, amarah Xavier pun mereda.
Dia mengangkat ibunya, Elena dari tanah dan berjalan pulang perlahan.
Segera, mereka tiba di dekat rumah mereka.
Ini adalah kawasan kumuh kampung brandan yang konon dikabarkan akan digusur lima tahun lalu. Tak disangka, lima tahun kemudian, kawasan itu masih belum digusur, hanya atapnya saja yang dibongkar. Banyak rumah-rumah di sekitarnya yang bahkan telah ditambah menjadi dua tingkat atau tiga tingkat. Hal ini terjadi, diduga agar menambah luas bangunan sehingga menambah nilai kompensasi saat digusur nantinya.
Sebaliknya, rumah Xavier sendiri sudah tampak kumuh dan compang-camping, tidak bisa kuat diterpa angin dan hujan.
Dia berjalan cepat ke pintu, membuka pintu kayu yang sudah lapuk itu dan melihat pekarangan kecil yang terasa asing tetapi juga familier itu.
Xavier memeluk ibunya dan baru saja berjalan masuk ke halaman, tiba-tiba ibunya membuka matanya.
“Nak, ternyata itu benar-benar kamu?”
“Ini aku!” Xavier mengangguk.
Elena tertawa setelah mendapat jawaban positif.
Hanya saja ... setelah tersenyum sebentar, dia pun menitikkan air mata.
Setelah Xavier menurunkan ibunya di tanah, dia menggigit bibirnya, berusaha menahan air mata dan berkata, "Bu, ayo kita masuk dulu, aku akan membantu memeriksa luka di tubuhmu."
Namun Elena berkata, "Tidak perlu, tidak ada yang serius pada diriku."
Xavier ingin mengatakan sesuatu lainnya, tetapi ibunya menggerak-gerakkan tubuhnya dan berkata, "Lihatlah ... bukankah aku baik-baik saja."
Namun setelah selesai bergerak, sudut mulutnya masih berkedut.
Hati Xavier seperti meneteskan darah, dia merasa sangat sedih.
Ibu, bagaimana mungkin kamu tidak merasa sakit?
Sekujur tubuhnya penuh dengan noda merah dan bengkak akibat dipukul dan ditendang, bahkan ada memar. Namun, sang ibu mungkin tidak ingin Xavier merasa khawatir, dia juga tidak ingin mengungkap kepura-puraan dan keteguhan ibunya.
Elena malah mengganti topik pembicaraan dan berkata, "Nak, apakah kamu lapar? Ibu akan memasak untukmu."
Xavier menggelengkan kepalanya dan berkata, "Aku tidak lapar. Aku sudah makan saat di perjalanan."
Elena mengangguk dan berkata, "Ayo masuk, kita masuk ke dalam rumah dan mengobrol."
Setelah mengatakan ini, sang ibu berjalan menuju rumah dan membukakan pintu.
Setelah memasuki rumah, Xavier bertanya, "Oh ya, Bu, di mana ayahku?"
Sang ibu terkejut sesaat, menundukkan kepala dan tidak berkata apa-apa.
Sebuah firasat buruk muncul di benak Xavier.
Xavier meraih bahu ibunya dengan kedua tangan dan bertanya dengan cemas, "Bu, di mana ayahku?"
Saat ini sang ibu tampak ragu-ragu.
Melihat gelagat ini, Xavier melanjutkan, "Bu, jika terjadi sesuatu, katakan saja padaku! Putramu sudah kembali, tidak ada yang berani mengganggumu lagi."
Pada saat ini, aura yang sangat dingin muncul dari tubuh Xavier.
Namun pada saat ini, sang ibu justru merasa aman, perasaan ini belum pernah terjadi sebelumnya.
Ya, benar. Anakku sudah kembali. Tidak ada yang bisa menindas pasangan jompo ini lagi.
Memikirkan hal ini, Elena menyeka air matanya dan berkata, "Ayahmu ... ayahmu ... dia sedang dirawat di rumah sakit."
Xavier tertegun sejenak dan berkata, "Dirawat di rumah sakit? Apakah ayahku sakit?"
Sang ibu menggelengkan kepalanya dan berkata dengan suara yang rendah, "Tidak, dia dipukuli."
Ketika Xavier mendengar ini, dia menjadi sangat marah.
Namun melihat ekspresi kekhawatiran Elena, Xavier pun menahan amarah di hatinya dan bertanya dengan tenang, "Bu, siapa yang memukul ayahku?"
Bab 3 Kondisi Ayah
Selain sang ibu, tidak ada yang lebih mengenal watak si anak.
Bagaimana mungkin seorang ibu tidak memahami apa yang dipikirkan putranya?
Elena khawatir putranya akan bertindak impulsif, jadi dia tidak berani memberi tahu putranya, siapa pelakunya dan sengaja mengubah topik pembicaraan.
"Mari kita bahas masalah ini di lain hari. Sekarang, ayahmu masih terbaring di rumah sakit sendirian, dia belum makan! Aku harus memasak dan bawa ke rumah sakit secepatnya."
Setelah mengatakan ini, Elena menahan kesedihan di hatinya dan pergi ke dapur untuk memasak.
Xavier ingin membantu di dapur, tetapi malah diusir oleh ibunya.
Xavier melihat langkah ibunya yang terhuyung-huyung, sedang sibuk di dapur, hatinya terasa pilu dan sedih, dia juga menyalahkan dirinya sendiri.
Xavier berpikir sambil mengepalkan tangannya erat-erat.
Karena sekarang, dia sudah kembali.
Budi, pasti dibalas!
Dendam juga harus dibalas!
Selama lima tahun terakhir, siapa pun yang telah menindas orang tuanya, dia tidak akan melepaskan mereka.
Orang-orang yang pernah berbaik hati pada orang tuanya, Xavier juga akan membalas budi mereka satu per satu!
Tak lama kemudian, ibu Xavier sudah selesai menyiapkan makanan dan menaruhnya di rantang makanan, lalu keluar dari dapur.
"Nak, kamu baru saja kembali. Istirahatlah di rumah. Aku akan mengantarkan makanan untuk ayahmu dulu."
Xavier berkata, "Bu, aku akan pergi bersamamu!"
“Lagipula, aku sudah lima tahun tidak bertemu ayah, aku juga sudah merindukannya.”
Elena ragu-ragu.
Khawatir Xavier akan menjadi impulsif setelah melihat cedera ayahnya.
Akan tetapi, dia juga berpikir kalau ayahnya Xavier melihat putranya yang sudah menghilang selama lima tahun itu kembali, suasana hatinya pasti akan membaik, ini juga bermanfaat untuk kesembuhannya.
Elena pun merasa dilema, tetapi melihat ekspresi penuh harap di mata putranya, Xavier ... dia akhirnya mengangguk setuju.
Namun, dia tetap khawatir dan berkata, "Saat bertemu ayahmu, jangan beri tahu dia, apa yang terjadi di rumah. Kamillo hanya menginginkan rumah kita, dia tidak melakukan apa pun padaku. Jika ayahmu tahu kalau aku terluka, ayahmu pasti akan marah dan tertekan, ini tidak baik untuk kondisi kesehatannya."
Xavier menggigit bibirnya, mengangguk dan berkata, "Jangan khawatir, Bu. Aku tidak akan memberi tahu Ayah."
Lagi pula, Kamillo yang menindas ibunya tidak akan meninggalkan lokasi bangunan mangkrak itu hidup-hidup. Jadi, tidak menjadi persoalan apakah dia beri tahu ayahnya atau tidak.
Sang ibu merasa lega dan pergi mandi, mengenakan pakaian yang bisa menutupi bekas luka di tubuhnya, lalu berjalan keluar.
Melihat kondisi ibunya, Xavier segera mengambil rantang dari tangan ibunya, lalu merangkul ibunya berjalan keluar dari halaman kecil.
Melihat pemandangan yang tak asing di kedua sisi jalan, Xavier seperti telah kembali ke masa kecilnya, ketika sang ibu memegang tangannya dan mengantarnya ke sekolah.
Saat itu, ibu Xavier masih sangat muda, Xavier sendiri harus mati-matian mengejar langkah ibunya.
Kini seiring dengan bertambahnya usia ibu, sang ibu sudah berjalan lebih lambat, Xavier sengaja memperlambat langkah, seperti sang ibu yang melambatkan langkah kakinya ketika Xavier masih kecil.
Tanpa disadari, matanya kembali memerah.
Tak lama kemudian, ibu dan anak tersebut telah berjalan keluar dari kawasan kumuh Kampung Brandan itu. Awalnya Xavier ingin memanggil taksi, tetapi ibunya bersikeras untuk naik bus dan tidak membiarkan Xavier menyia-nyiakan uang.
Meskipun Xavier tidak kekurangan uang, dia tetap mengikuti keinginan ibunya.
Kedua orang itu naik bus dan datang ke rumah sakit.
Ibu sangat mengenal jalan, dia membawa Xavier ke bangsal tempat ayahnya berada.
Ini adalah bangsal yang menampung enam orang pasien, kondisi di dalamnya kotor dan berantakan, berbaunya pun tidak sedap. Begitu memasuki pintu, Xavier langsung melihat ayahnya.
Ayahnya terbaring di ranjang paling sudut, badannya kurus kerempeng, wajahnya pun pucat pasi.
Pria tua itu kepalanya terbalut perban, lengannya pun ikut diperban.
"Ayah!"
Xavier dengan cepat berjalan ke samping ranjang itu dan memanggil sang ayah.
Sang ayah yang sedang terbaring di tempat tidur pun membuka matanya. Setelah melihat jelas kalau itu adalah putranya Xavier, matanya yang semula terlihat suram pun menampakkan secercah harapan.
"Nak, kamu ‘kah itu?"
“Ini aku, anakmu sudah kembali,” kata Xavier sambil berlutut di depan ranjang rumah sakit, matanya merah.
Ivander Morris, Ayah Xavier tampak begitu emosional saat melihat putranya yang telah menghilang selama lima tahun itu kembali. Dia bahkan tidak bisa berkata apa-apa untuk waktu yang lama, hanya menepuk bahu Xavier dengan telapak tangannya yang lebar itu.
Ini adalah satu-satunya cara seorang ayah mengungkapkan perasaannya.
Melihat suami dan putranya, Elena hampir menangis dan buru-buru berkata, "Ivander, ayo makan dulu!"
“Baik!” Ivander sedang dalam suasana hati yang baik, dia berjuang untuk duduk dari ranjang rumah sakit.
Elena buru-buru membantunya, lalu membuka rantangan dan menyuapi suaminya.
Ketika Xavier melihat pemandangan ini, dia menyeka air matanya dan diam-diam berjalan keluar dari bangsal.
Dia langsung pergi ke ruang praktek dokter, saat dia hendak mengetuk pintu, dia bertemu dengan seorang perawat.
Perawat bertanya dengan ragu, "Dokter Wales sedang rapat. Apa yang bisa saya lakukan untuk Anda?"
Xavier berhenti mengetuk pintu dan berkata, "Begini, saya ingin bertanya tentang kondisi pasien bernama Ivander di Bangsal 3, ranjang nomor 6."
Perawat menatap Xavier dan bertanya, “Apa hubungan Anda dengannya?”
"Dia ayahku."
Begitu Xavier mengatakan ini, dia melihat ekspresi memuakan muncul di mata perawat itu, lalu mendengar perawat itu berkata dengan marah, "Haha, ternyata kamu ini anaknya yang tidak berbakti itu! Sekarang kamu sudah tahu datang memedulikan orang tua mu? Kenapa kamu tidak berani keluar saat istrimu menindas ayahmu?"
Xavier memandang perawat itu dengan lesu berkata, "Apakah kamu salah orang? Aku belum menikah!"
"Belum menikah? Lantas siapa Alicia Wynora?" kata perawat itu langsung.
Setelah Xavier mendengar nama Alicia, dia tahu kalau perawat itu tidak salah orang tersebut. Namun, kenapa perawat itu mengatakan kalau Alicia menindas ayahnya?
Dia mempunyai sepuluh ribu pertanyaan di benaknya, sedangkan perawat ini sepertinya mengetahui banyak hal.
Memikirkan hal ini, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak meraih lengan perawat dan menyeretnya ke koridor.
“Lepaskan!” Perawat itu menatap Xavier dengan muak lagi.
Xavier memandang perawat itu dengan nada meminta maaf dan berkata, "Maaf, aku ingin tahu apa yang terjadi, kamu bilang Alicia menindas ayahku?"
“Haha, tidak bisakah kamu menanyakan istrimu saja?” kata perawat itu dengan marah.
Dia telah bekerja di rumah sakit ini selama enam tahun. Dia telah bertemu dengan banyak pasien, tetapi belum pernah melihat orang seperti putra dan menantu Ivander yang suka-suka memukuli ayah sendiri. Jadi ketika dia mendengar Xavier adalah putra Ivander, dia tidak ingin bersikap segan sama sekali.
Xavier tersenyum canggung dan berkata, "Mungkin kamu salah paham padaku. Aku belum menikah, tetapi Alicia yang kamu sebutkan itu, memang tunanganku. Hanya saja, selama lima tahun terakhir ini, aku berada di luar kota. Aku sama sekali tidak tahu hal apa pun yang terjadi di rumah. Jadi kalau kamu tahu, tolong beri tahu aku."
Perawat yang bernama Mery Clint itu kebingungan melihat ketulusan Xavier, dia pun bertanya, "Apakah kamu benar-benar tidak tahu apa yang dilakukan Alicia terhadap ayahmu?"
“Yah, begitu aku kembali, aku hanya tahu kalau ayahku sedang dirawat di rumah sakit, jadi aku tidak tahu apa yang sedang terjadi,” kata Xavier dengan tulus. Pada saat yang sama, dia menatap Mery dengan penuh harap, ingin Mery menceritakan semua hal yang dia ketahui.
"Hei ...." Mery menghela napas dan berkata, "Pantas saja, aku bertanya kenapa putra mereka tidak datang, setiap kali dia dirawat di rumah sakit. rupanya sedang keluar kota."
Untuk sementara, Mery pun percaya pada Xavier.
Akan tetapi Xavier mendengar sesuatu yang salah dalam kata-kata Mery, "Maksudmu setiap kali dia dirawat di rumah sakit? Artinya ini bukan pertama kali ayahku dirawat di rumah sakit?"
Melihat emosi rumit di mata Xavier, Mery pun berkata, "Benar. Alicia, tunanganmu itu benar-benar bukan manusia yang beraklak baik. Dia mendatangi pasangan tua ini setiap bulan untuk meminta uang. Jika mereka tidak memberi uang, dia akan menangis dan membuat onar."
Setelah mengatakan ini, Mery menutup mulutnya lagi.
Xavier bertanya dengan cemas, "Teruslah berbicara."
Mery ragu-ragu sejenak dan akhirnya berkata, "Selama ini, tunanganmu selalu meminta uang pada orang tuamu. Jika orang tuamu tidak memberikan uang padanya, dia akan mencari seseorang untuk memukuli orang tuamu."
“Jadi kali ini, luka-luka di tubuh ayahku, juga dia yang menyuruh seseorang untuk memukuli ayahku?”
Bab 4 Hanya Ada Dendam dan Kebencian
Ketika Xavier mengatakan ini, tubuh Xavier dipenuhi dengan niat membunuh yang dingin dan nadanya bertambah serius.
Atmosfer di sekeliling tiba-tiba menurun.
Mery tidak melihat sesuatu yang aneh pada Xavier. Dia hanya merasakan hawa dingin di koridor itu. Dia tidak tahan dan bergidik sebelum berkata, "Ya, semua orang di rumah sakit kami sudah tahu masalah ini."
Mendengar ini, Xavier sangat marah.
Dia tidak pernah menyangka kalau Alicia begitu keji dan kejam.
Dulu, dia adalah tokoh terkemuka di Kota Merkuri, dia menolak semua wanita yang mengejarnya dan memilih Alicia sebagai tunangannya.
Tanpa disangka, selama lima tahun dia menghilang, Alicia memperlakukan orang tuanya seperti ini!
"Kenapa dia mengirim orang untuk memukuli ayahku? Apakah hanya karena uang?" Xavier tidak dapat menahan diri untuk tidak bertanya, "Apakah uang yang kutinggalkan untuknya tidak cukup pakai? "
Mery melihat ekspresi sedih Xavier dan menyadari kalau tadi sudah salah paham padanya. Xavier mungkin benar-benar tidak mengetahui apa-apa. Memikirkan hal ini, Mery berkata, "Kali ini, tampaknya karena rumahmu akan digusur, Alicia memaksa orang tuamu untuk menghancurkan rumah tersebut dan menyerahkan semua uang tersebut padanya. Orang tuamu menolak, jadi dia mencari beberapa preman setempat datang mencari ayahmu dan memukulinya."
Setelah jeda, Mery melanjutkan, "Ohya, kemarin Alicia juga membawa sekelompok orang untuk membuat masalah di bangsal. Dia juga mengancam ayahmu, mengatakan kalau rumah itu tidak dibongkar, dia akan membuat pasangan tua itu hidup sengsara, lebih buruk dari pada mati."
Setelah mendengar kata-kata ini, Xavier menekan kemarahan di dalam hatinya dan berkata pada Mery, "Terima kasih telah memberitahuku semua ini."
Setelah mengatakan ini, dia pun segera pergi.
Mery berteriak dari belakang, "Tunggu sebentar."
Xavier berhenti, berbalik dengan bingung, memandang Mery dan bertanya, "Apakah masih ada hal lain?"
Mery tersenyum canggung dan kemudian berkata dengan cemas, "Jangan impulsif!"
"Kamu tidak bisa menyinggung mereka."
Xavier merasakan kehangatan di hatinya, mengetahui kalau Mery adalah wanita yang baik hati, dia tersenyum ramah, melambaikan tangannya dan berbalik untuk pergi.
Dia tidak punya rencana untuk segera menyelesaikan masalah dengan Alicia. Yang paling penting sekarang adalah melihat bagaimana keadaan ayahnya.
Di koridor, Mery memandang punggung Xavier dengan aneh dan tanpa sadar mengerutkan kening.
Selama ini, dia selalu mengira kalau putra dan menantu perempuan Ivander, Alicia Wynora bekerja sama untuk menghadapi orang tuanya. Sekarang tampaknya semua orang telah salah paham ....
···
Setelah kembali ke bangsal, ayah Xavier sudah tertidur sehabis makan, ibunya sedang membersihkan rantangan dan alat makan. Kemudian membawa rantangan itu ke ruang pantry untuk disiram dengan air panas.
Xavier memanfaatkan kesempatan ini untuk memeriksa kondisi ayahnya.
Semakin dia memeriksanya, semakin merasa ketakutan.
Apa sih yang telah ayah alami selama lima tahun terakhir ini!
Ada lebih dari enam belas bekas luka di tubuhnya dan tulangnya sudah patah lebih dari lima kali.
Hal yang paling membuat Xavier paling ... paling ... paling kesal adalah ayahnya sudah kehilangan salah satu organ ginjal! !
Apa yang sebenarnya telah terjadi?
Xavier ingin bertanya sampai sejelas-jelasnya, tetapi melihat ekspresi lelah di wajah ibunya setelah kembali ke bangsal, membuat Xavier tidak bisa bertanya sepatah kata pun.
Xavier tahu persis, kalaupun dia bertanya, kedua orang tuanya pasti tidak akan memberitahunya.
Dia juga tahu, pasti Alicia yang melakukan semua ini.
Saat ini, api yang membara di hatinya sudah mencapai ubun-ubun!
"Alicia, aku akan membuatmu merasakan semua penderitaan orang tuaku!!"
"Aku, Xavier Morris, bukan manusia kalau tidak membalas dendam ini!"
Pembuluh darah di tangan Xavier muncul.
Dia membenci Alicia, juga membenci dirinya sendiri, dia bahkan lebih membenci dalang yang telah menjebaknya lima tahun lalu.
Kalau bukan karena dia telah dijebak, bagaimana mungkin dia bisa pergi selama lima tahun! Membuat orang tuanya hidup menderita!
Sang ibu sepertinya menyadari ada yang tidak beres. Dia memandang Xavier dengan cemas dan bertanya, "Nak, ada apa denganmu? Apakah kamu lelah? Kalau tidak, kamu pulang saja dan istirahat dulu. Cukup aku sendirian saja yang menemani ayahmu di sini."
Xavier segera menenangkan emosinya, sambil tersenyum dan berkata, "Bu, aku baik-baik saja."
“Benarkah?” tanya Elena yang masih merasa cemas.
Xavier mengangguk dan berkata, "Bu, aku baik-baik saja, tapi aku masih ada beberapa hal yang harus diselesaikan. Aku harus keluar sebentar. Nanti aku akan datang menggantikanmu."
Mendengar putranya masih ada urusan, Elena segera berkata, "Jika masih ada urusan, cepatlah pergi urus. Jangan mencemaskan masalah di sini. Selain itu, ayahmu punya banyak hal yang harus dilakukan dan kamu tidak tahu bagaimana cara merawatnya. Aku saja yang merawatnya sendirian."
Karena itu, Elena pun mendorong Xavier keluar dari pintu bangsal.
Ketika dia keluar dari bangsal, ibunya mengeluarkan saputangan lusuh dari sakunya. Setelah dibuka, ada setumpuk uang lusuh. Pecahan terbesar hanya selembar uang seratus ribu, sisanya uang lembaran dua puluh ribu, sepuluh ribu, dua ribu, bahkan uang seribu-seribu dan lima ratus.
Sang ibu menghitung uang di saputangan itu dan menyerahkan pada Xavier sambil berkata, "Ambillah uang ini buat kamu pakai dulu. Jika tidak cukup, mintalah lagi nanti."
Setelah mengatakan ini, ibuku mau tidak mau memberikan semua uangnya pada Xavier.
Mata Xavier tiba-tiba menjadi lembab.
Dia adalah panglima Besar jabatan tertinggi di Pluno dan dia juga satu-satunya orang di Darsia ini yang menerima Medali Negarawan Terbaik Tiada Tara. Namun kini, ayahnya malah terbaring di ranjang rumah sakit dengan luka serius, sedangkan ibunya sendiri, bahkan uang yang dimiliki tidak sampai empat ratus ribu.
Memikirkan hal ini, Xavier semakin merasa bersalah.
Betapa banyak penderitaan yang telah mereka derita dalam lima tahun terakhir!
Xavier buru-buru melambaikan tangannya dan berkata, "Bu, aku punya uang."
Setelah mengatakan itu, dia pun langsung kabur meninggalkan bangsal.
Suasana hati Xavier terasa hancur, dia tidak ingin ibunya melihat air matanya lagi.
Naik lift turun ke lantai satu.
Segera setelah keluar dari lift, Xavier melihat ambulan yang diparkir di depan pintu, sekelompok orang bergegas mendorong tandu.
Meski terbaring di atas tandu, sosok tubuh yang langsing, kaki jejang dan wajah cantik wanita itu masih terlihat memukau.
Di seluruh Darsia ini, bisa dibilang termasuk wanita tercantik.
Saat tandu itu melewatinya, Xavier melihat kalau wanita yang terbaring di tandu rumah sakit itu dalam kondisi kritis.
Jika pertolongan diberikan tepat waktu, wanita ini mungkin masih ada harapan hidup, tetapi bila terlambat sedikit saja, nyawa pasti tidak tertolong.
Dengan jiwa mulia seorang dokter yang terpanggil untuk menolong orang sakit.
Xavier pun mengikuti tandu itu secara tak sadar.
Tiba di depan pintu ruang gawat darurat.
Perawat yang mendorong tandu berteriak, "Di mana dokter Gomez? Apakah dokter Gomez ada di sini?"
Perawat di pintu ruang gawat darurat berkata, "Dokter Gomez cuti, hari ini dokter Walles yang bertugas."
Perawat yang mendorong tandu semakin cemas.
"Panggil dokter Gomez secepatnya! Minta dia segera datang ke rumah sakit! Kondisi pasien ini sangat serius. Hanya dokter Gomez di rumah sakit kita saja yang bisa menyelamatkannya."
Situasi di sini tiba-tiba terasa mencekam, membuat banyak dokter dan perawat di rumah sakit itu merasa cemas.
Bahkan Mery, yang baru saja memberi tahu Xavier banyak hal, juga bergegas datang kemari.
Ada orang yang menelepon dokter Gomez.
Ada beberapa tenaga medis dibawah bimbingan dokter yang sedang bertugas, melakukan tindakan penyelamatan.
Namun wanita di atas tandu itu tampak pucat dan napasnya semakin lemah.
Para dokter yang bertugas itu tidak mampu mendeteksi penyakitnya, mereka tidak berdaya menghadapinya.
Mereka hanya bisa berteriak dengan cemas, "Tanyakan pada dokter Gomez, berapa lama lagi waktu yang dibutuhkan sebelum dia tiba!"
Seorang perawat menjawab dengan cemas, "Ini akan memakan waktu setengah jam!"
Wajah dokter yang bertugas langsung berubah drastis, "Sudah terlambat! Dalam setengah jam, wanita ini pasti akan mati! Apa yang harus aku lakukan?"
Dia tahu betul identitas pasien ini. Jika pasien wanita ini meninggal di ruang gawat darurat hari ini, semua orang yang ada di ruang ini, tidak akan bisa mangkir dari tanggung jawab ini.
"Bagaimana ini?"
"Apa yang harus dilakukan?"
“Apakah benar-benar sudah tidak ada yang bisa kita lakukan?”
"Apakah kita hanya bisa menyaksikan pasien ini meninggal begitu saja?"
Tepat saat semua orang sedang panik.
Seberkas suara tenang tiba-tiba terdengar.
"Aku yang akan menyelamatkannya."
Orang yang berbicara itu tidak lain adalah Xavier.
Dia berjalan melewati kerumunan orang-orang dan masuk ke ruang gawat darurat.
Para dokter dan perawat di ruang gawat darurat memandang Xavier dengan pandangan yang aneh.
"Bisakah kamu menyelamatkannya?"
“Siapa kamu? Apakah kamu seorang dokter?”
Xavier tidak menjawab, dia malah bertanya, "Maaf, apakah kalian sudah mengetahui penyebab penyakitnya?"
"Coba bilang, apakah kalian mampu menyelamatkannya?"
"Coba bilang, bisakah dia bertahan setengah jam dengan kondisinya sekarang?"
Ketiga pertanyaan ini membuat para dokter dan perawat terdiam.
Ya, mereka tidak dapat menemukan penyebabnya, mereka tidak tahu rencana penyelamatan seperti apa yang harus mereka gunakan. Apalagi, yang terpenting adalah pernapasan pasien ini semakin lemah, pandangan matanya semakin kabur, pasien wanita ini bisa kehilangan nyawanya kapan saja.
Tepat ketika para dokter dan perawat ragu-ragu, Xavier berkata lagi, "Menyelamatkan nyawa dan menyembuhkan orang yang terluka adalah tanggung jawab seorang dokter. Karena kalian tidak dapat menyelamatkan pasien ini, kenapa tidak membiarkan aku mencoba menyelamatkannya?"
Setelah mengatakan ini, Xavier berjalan ke sisi ranjang tandu itu.
Para dokter dan perawat saling memandang dan menyingkir secara sadar.
Xavier menatap wanita di atas tandu dan melihat bibirnya berubah ungu, yang jelas ini merupakan gejala keracunan.
Dia meletakkan tangannya di pergelangan tangan wanita itu untuk merasakan denyut nadinya.
Alis Xavier berkerut semakin erat, dia telah menentukan penyebab penyakitnya.
Wanita ini seharusnya sudah lama mengonsumsi sejenis racun yang tidak langsung bereaksi setelah dikonsumsi. Dia keracunan kronik, sekarang toksisitas racunnya sudah mencapai titik kronis, bisa dikatakan kalau wanita ini sekarang berada dalam bahaya.
Jika tidak berhati-hati, dia bisa mati.
Detik berikutnya, Xavier mengeluarkan kotak jarum akupunktur dari kantongnya dan berkata pada para dokter dan perawat, "Kalian semua silakan minggir dulu."
Para dokter dan perawat hanya bisa memilih untuk mempercayai Xavier saat ini, jadi mereka keluar dari ruang gawat darurat dengan senang hati.
Setelah dokter dan perawat pergi, Xavier memandangi wanita cantik ini.
Meski sudah terbiasa melihat wanita cantik, pada saat seperti ini dia harus akui, kecantikan wanita ini bagaikan dewi atau malaikat yang ada di langit.
Xavier menggelengkan kepala, membuka atasan wanita itu dan membuka kancing pakaian dalamnya.
Wanita ini memiliki postur tubuh yang tinggi, perut rata, tangan yang lembut dan kulit yang mulus.
Kulit tubuhnya sangat putih, seputih perut ikan.
Di balik bra itu, menjulang dua gundukan gunung yang tinggi.
Pemandangan ini membuat Xavier terpesona.
Hanya sekali pandang saja, membuat jantung Xavier berdetak lebih kencang.
"Tidak sopan, jangan dilihat lekat-lekat!"
Suara hati Xavier berbicara dengan ketus pada dirinya sendiri, dia pun mengalihkan pandangannya.
Kemudian, dia memegang ujung jarum perak di tangannya dan dengan cepat menusukkan jarum akupunktur itu ke titik nadi akupunktur.
Wanita di ranjang rumah sakit itu mendengkus sejenak, lalu tidak ada gerakan apapun lagi.
Teknik Xavier sangat terampil, tanpa kebimbangan apa pun, dia langsung menusukkan tiga belas jarum dalam waktu kurang dari satu menit.
Wanita di atas tandu itu, wajahnya berubah dari putih menjadi merah, warna bibirnya kembali normal dan pandangan matanya pun berangsur-angsur menjadi lebih jelas.
Detik berikutnya, wanita itu sudah membuka matanya.
Saat wanita itu masih sedikit kebingungan, tiba-tiba menemukan atasan yang dipakainya telah terangkat, kulit badannya pun terpapar dengan ada seorang pria asing berdiri di sampingnya.
Hal ini membuat wanita itu malu sekaligus marah, dia buru-buru menurunkan pakaiannya dan berteriak dengan marah, "Hei bajingan, apa yang telah kamu lakukan padaku?"
Setelah Xavier memasukkan jarum ke dalam kotak jarum akupunktur, dia berkata dengan tenang, "Aku baru saja mengobatimu."
“Mengobati?" Wanita di tempat tidur itu mendengkus dingin, "Mengobati hipoglikemia, apa perlu sampai melepaskan pakaian segala? Aku rasa kamu hanya memakai alasan mengobatiku untuk melakukan hal tidak senonoh, ‘kan!"
Graciela Martinez sangat marah!
Baru saja pulang kerja, dia sudah mengalami gejala hipoglikemia. Sekujur tubuhnya terasa sangat lemah dan kesulitan bernapas. Dia kemudian menelepon nomor darurat. Namun, dia tidak pernah menyangka kalau dia malah dilecehkan di rumah sakit!
Xavier tidak menyangka akan disalahpahami dan dia pun mencoba untuk menjelaskan, "Kamu bukan menderita hipoglikemia, tetapi keracunan kronik. Aku rasa, mungkin kamu telah mengonsumsi sejenis racun kronik dalam waktu yang lama."
Graciela sangat murka hingga menertawakannya, "Haha ... keracunan? Kenapa kamu tidak mengumbar kebohongan lain?"
Dia sama sekali tidak percaya dengan apa yang dikatakan pria di depannya ini.
Sebagai putri tertua dari keluarga Martinez, dengan kecantikan yang dia miliki dan kecantikannya ini mampu memikat hati semua orang. Apalagi setiap hari makanan yang dia konsumsi, biasanya memang ada petugas khusus yang bertanggung jawab, bagaimana mungkin dirinya bisa keracunan!
Brengsek!
Bajingan ini pasti sedang membohongi dirinya.
Ketika Graciela memikirkan hal ini, wajahnya penuh dengan rasa malu sekaligus marah, air matanya hampir menetes keluar.
Tepat ketika dia hendak mengungkap kebohongan Xavier, dia menemukan kalau Xavier membuka pintu ruang gawat darurat itu sendiri dan tampaknya ingin pergi.
Graciela buru-buru menghentikannya, "Kamu tidak boleh pergi, sebelum menjelaskan masalah ini!"
Ketika Xavier mendengar ucapan Graciela, dia pun mempercepat melangkahnya!
Lagi pula, nanti saat ada dokter lewat yang menjelaskan, semua kesalahpahaman ini akan teratasi secara sendirinya, Xavier tidak perlu repot-repot menjelaskannya.
Setelah Xavier pergi, sekelompok orang berkerumun masuk ke ruang gawat darurat, termasuk dokter dan perawat, termasuk anggota keluarga Martinez yang bergegas datang ke rumah sakit.
Tak lama kemudian, mereka pun langsung mengetahui kalau Graciela tidak menderita hipoglikemia, melainkan keracunan.
Setelah mengetahui berita tersebut, Tuan Besar Louis Martinez sangat marah.
“Bagaimanapun caranya, apa pun yang terjadi, harus temukan orang yang telah menaruh meracun itu!” titah Tuan Besar.
Pengawal pribadi keluarga Martinez pun segera bergerak dan mulai menyelidiki.
Kemudian, Tuan Besar Martinez mengirim seseorang untuk mengundang Ricky Gonzales, seorang dokter genius terkenal di Kota Merkuri.
Dokter Gonzales bergegas datang. Setelah memeriksa tubuh Graciela, dia memastikan kalau Graciela telah diracuni dan itu adalah racun kronik yang sangat mematikan.
Di saat yang sama, dia juga sangat terkejut.
Menurut logikanya, dilihat dari racun yang ada di tubuh Graciela, hari ini saat racun itu bereaksi, wanita ini pasti mati. Akan tetapi sampai sekarang Graciela masih hidup dan bergerak dengan lincah, penampilannya tidak terlihat seperti orang yang keracunan.
Ketika dokter genius mengutarakan permasalahan ini, Graciela bertanya dengan ragu-ragu, "Tadi ada seseorang yang membantuku menusukkan beberapa jarum akupunktur. Apakah ini efek dari tusukan akupunktur itu?"
“Membantumu menusukkan jarum akupunktur?” Dokter Gonzales memandang Graciela dengan hati-hati dan berkata, “Bisakah kamu menunjukkan padaku di mana orang itu menusukkan jarum akupunktur?”
Graciela menunjuk posisi jarum dengan tangannya.
Wajah dokter Gonzales menjadi semakin serius setelah Graciela menunjukkan semua posisinya, dokter genius itu tiba-tiba menjadi begitu histeria dan berkata dengan punuh semangat, "Ini teknik akupunktur Fuxi!"
"Ini adalah teknik akupunktur Fuxi!"
“Ternyata memang ada orang di dunia ini yang masih menguasai teknik kuno itu!!”
Detik berikutnya, Dokter Gonzales memandang Graciela dengan serius dan bertanya, "Nona Martinez, bisakah kamu memberitahuku siapa orang yang telah memberimu tusukan akupunktur?"
Melihat Dokter Gonzales begitu bersemangat, Graciela merasa sedikit malu.
Graciela tidak tahu siapa pria tadi ... dia bahkan mengutuk seluruh keluarganya.
Dia hanya tahu ... tadi ... dia sepertinya telah salah paham pada pria itu ....
···
Pada saat yang sama.
Xavier datang ke kediaman keluarga Wynora.
Rumah keluarga Wynora terang benderang dan tampak sangat ramai, seolah-olah mereka sedang merayakan suatu momen bahagia.
Xavier langsung masuk dan menuju ke ruang tamu.
Dia melihat ruangan itu sedang mengadakan jamuan makan dan semua orang seperti sedang merayakan sesuatu.
Dia melirik ke sekeliling ruangan dan melihat Alicia di tengah kerumunan orang.
Dia masih sama persis seperti lima tahun lalu, masih penuh pesona.
Alicia tampak berjalan di antara kerumunan sambil memegang segelas anggur, wajahnya tampak berseri-seri dan tersenyum gembira.
Tak perlu dikatakan lagi, acara yang membahagiakan ini pasti ada hubungannya dengan Alicia.
Xavier berdiri di depan pintu ruang tamu dan melihat Alicia menikmati kehidupan yang baik di sini sementara ayah Xavier masih terbaring di rumah sakit, Xavier tidak bisa menahan diri untuk tidak berteriak marah, "Alicia!"
Suara ini seperti suara gemuruh mengelegar.
Semua orang di ruang tamu itu terkejut ketakutan.
Semua orang memandang ke arah Xavier, tetapi tidak mengenalinya.
Hanya Alicia, sekilas mata dia langsung mengenali kalau orang yang datang adalah Xavier.
Dia bertanya dengan ekspresi yang agak tidak wajar di wajahnya, "Kamu ... kenapa ... kenapa kamu bisa kembali?"
Xavier memandang wanita berhati kejam ini dengan acuh tak acuh dan mengucapkan kata demi kata.
"Aku datang untuk memutuskan pertunangan kita!"
"Mulai hari ini, antara kamu dan aku, hanya ada dendam dan kebencian!"
Bab 5 Orang-Orang yang Memandang Rendah Dirinya
"Memutuskan pertunangan???"
"Ahahaha!!"
Alicia tiba-tiba tertawa.
“Xavier, kamu benar-benar naif sekali!!”
"Pertunangan kita telah dibatalkan, sejak kamu menghilang lima tahun lalu."
"Kamu datang ke sini untuk memutuskan pertunangan denganku sekarang? Ahaha ...."
Alicia tertawa terbahak-bahak, bahkan terpingkal-pingkal karena menurutnya perkataan Xavier sangat lucu dan sebagian lagi karena dia ingin melepaskan kegelisahan di hatinya. Tidak peduli seberapa keras dia menggaruk kulit kepalanya, dia tidak pernah mengiria kalau Xavier bisa kembali dalam keadaan hidup.
Jangan-jangan kejadian lima tahun lalu sudah terungkap?
Xavier berkata tanpa ekspresi, "Kalau sudah dibatalkan lima tahun lalu, lalu kenapa kamu masih meminta uang pada orang tuaku setiap bulan?"
Alicia berkata dengan percaya diri mengatakan, "Bagaimana kalau kamu mencari tahu dulu seluk beluk permasalahan ini! Aku tidak meminta uang pada orang tuamu, tetapi mereka yang memohon padaku dan berinisiatif memberiku uang!"
“Benarkah?” tanya Xavier dengan mata menyipit, aura pembunuh sudah muncul di hatinya.
Xavier tidak menyangka meskipun dia sudah kembali, Alicia masih berani berbicara tanpa malu-malu!
Alicia bertanya balik, "Kenapa? Tidak percaya padaku? Kenapa kamu tidak bertanya pada orang tuamu, apakah mereka pernah memohon padaku, mau memberiku uang."
Melihat Alicia mengatakan secara rasional, dalam sesaat Xavier sulit membedakan kebenaran dan kebohongan.
Alicia melanjutkan, "Aku tahu kamu tidak mengetahui alasannya. Sejujurnya, orang tuamu demi mahar pertunangan ini, memberiku dua puluh juta setiap bulan. Jika bukan karena kasihan melihat pasangan jompo itu, aku juga tidak menginginkan uang ini!!”
Setelah mengatakan ini, Alicia merangkul kedua tangan di depan dada, memasang tampang menyedihkan dan kasihan.
Xavier melihat sosok ini malah merasa jijik. Dia tidak menyangka lima tahun lalu, dia menolak begitu banyak orang dan memilih wanita ini, ternyata wanita ini begitu munafik dan keji.
“Lalu menurut apa yang kamu katakan, merobohkan rumah itu juga inisiatif orang tuaku sendiri??" tanya Xavier memandang Alicia sambil bercanda. Dia ingin melihat bagaimana Alicia akan membela diri.
Alicia segera bertanya, “Memang begitu, ‘kan?”
Alicia masih menunjukkan sikap rasional, seperti memang begitu kenyataannya! !
Nada suaranya mengungkapkan rasa tidak bersalahnya.
“Rumah bobrokmu itu, siapa sih yang menginginkannya. Jika bukan karena orang tuamu itu yang memohon padaku, mau memberikannya padaku, aku bahkan tidak ingin melihatnya sama sekali.”
Xavier, "..."
Dia benar-benar tidak menyangka kalau Alicia yang lima tahun lalu berperilaku baik, yang begitu baik hati, begitu lemah lembut itu, bisa berubah menjadi orang yang begitu mata duitan.
“Kamu benar-benar tidak tahu malu!” Xavier tidak bisa menahan diri untuk tidak berteriak marah.
Alicia yang pada awalnya masih begitu bangga, begitu dimarahi Xavier, langsung kehilangan muka, dia menjadi marah dan berkata, "Aku tidak tahu malu? Aku hanya mengambil kembali apa yang menjadi milikku saja."
Setelah mengatakan ini, Alicia menarik napas dalam-dalam, lalu berteriak pada para pelayan keluarga Wynora, "Hari ini kita mengadakan acara yang bahagia ini, jangan sampai dia memengaruhi suasana hati semua orang, usir dia!!"
Xavier memandang Alicia yang terlihat asing ini, ada perasaan yang tak terlukiskan di dalam hatinya, waktu telah berlalu, banyak hal yang ikut berubah termasuk orangnya.
Gadis yang pernah dia sukai ini pun telah berubah.
Pandangan mata Xavier menyapu ke para pelayan keluarga Wynora dan akhirnya tertuju pada Alicia.
"Aku bisa berjalan sendiri!"
“Hanya ada satu hal terakhir yang ingin kukatakan padamu.”
"Jika kamu tidak ingin orang lain tahu, maka kamu sendiri jangan melakukan apa pun!"
"Selama lima tahun ini, bagaimana kamu menghina orang tuaku, aku pasti akan melakukan hal yang sama terhadapmu!"
"Aku akan membuatmu menyesali pilihanmu!"
Setelah mengatakan ini, Xavier berbalik dan bersiap untuk pergi.
Akan tetapi malah terdengar ledakan tawa dari belakangnya.
Xavier berhenti dan melihat ke belakang.
Dia melihat semua orang di ruang tamu itu tertawa.
Terutama ibunya Alicia, Christina Lawrence, dia yang tertawa paling keras dan hampir menitikkan air mata ketika dia tertawa, “Lima tahun kamu menghilang, perusahaanmu pun sudah tidak ada, sekarang orang tuamu masih terbaring di rumah sakit dan rumahmu telah dibongkar setengah. Rumahmu pun hanya tinggal tembok saja, tidak memiliki apa-apa. Orang miskin sepertimu, apa yang harus disesali Alicia kami ini?"
Setelah Christina mengatakan ini dengan arogan, dia melihat Xavier dari atas sampai ke bawah dan mengeluarkan suara berdecak "tsk, tsk". Kamu berusia dua puluh tahunan, mengenakan pakaian yang begitu lusuh. Aku rasa pakaian yang kamu pakai ini, nilainya masih tidak sebanding dengan nilai sepatu yang aku pakai ini, deh!”
“Melihat betapa miskinnya kamu, aku rasa lima tahun ini, kamu tidak menghasilkan uang, ‘kan!”
"Pantas saja orang tuamu mengganggu Alicia setiap hari. Mereka mungkin takut kalau saat kamu kembali, kamu tidak bisa punya uang, tidak bisa menikah dan punya istri, ‘kan!"
Setelah mengatakan ini, Christina tertawa sepuasnya.
Semua orang di ruang tamu itu juga ikut tertawa.
"Hanya orang buta saja yang mau menikah dengannya, ‘kan? Haha ...."
“Bagaimanapun, aku tidak akan membiarkan putriku menikah dengan sampah semacam ini!” kata anggota keluarga Wynora lainnya di ruang tamu.
Wajah Xavier tampak pucat, dia tidak menyangka kalau mereka ini memandang rendah dirinya, hanya karena pakaian yang dia pakai. Mereka langsung menolak dirinya dan menganggap dia miskin.
Kalau saja mereka tahu, Xavier adalah Panglima Besar Pluno, yang juga pernah dianugerahi Medali Negarawan Terbaik Tiada Tara yang memimpin jutaan pasukan, apakah mungkin Xavier bisa tidak punya uang?
Saking banyak uang yang dia miliki, dia sendiri pun tidak tahu bagaimana menghitungnya lagi!
Dia sendiri bahkan tidak mengetahui aset apa saja yang dimilikinya.
Dia hanya ingat, anak buahnya pernah melaporkan padanya, sepertinya dia memiliki beberapa bank dan beberapa perusahaan multinasional yang beroperasi di luar negeri.
Namun dia belum mengetahui secara pasti berapa jumlah asetnya. Bagaimanapun, dia tidak pernah memedulikan hal-hal ini. Dia hanya samar-samar ingat kalau dia sekarang bisa menyebut dirinya sebagai "sultan".
Tepat ketika dia hendak memberi pelajaran beberapa anggota keluarga Wynora yang meremehkan dirinya, tiba-tiba terdengar langkah kaki tergesa-gesa di luar pintu.
Seorang wanita secantik dewi, berjalan masuk dengan sepatu hak tinggi.
“Siapa bilang tidak ada yang bersedia menikah dengannya?
"Aku bersedia menikah dengannya sih!!"
Bab 6 Membuat Seluruh Penduduk Kota Ini Menjunjungmu
Pengunjung itu tak lain adalah Graciela Martinez, dengan sosok langsing dan cantik, dia muncul begitu saja di depan pintu dan langsung mengejutkan seluruh tamu yang hadir di ruangan itu.
Setelah Graciela mengetahui kalau dirinya telah salah paham terhadap Xavier, dia menggunakan koneksinya untuk mendapatkan akses kamera CCTV di sepanjang jalan dan kemudian dia pun datang kemari.
Tanpa diduga, begitu memasuki pintu, dia langsung mendengar Xavier ditertawakan.
Keterampilan medis Xavier tiada tandingannya dan teknik akupunktur Fuxi pun dikuasainya dan diterapkan dengan mudah.
Mereka, kenapa mereka berani menertawakannya.
Xavier tercengang, tidak menyangka kalau wanita yang dia selamatkan tadi, akan muncul di rumah keluarga Wynora.
Mata Graciela tampak arogan dan percaya diri.
Karismanya sangat kuat.
Seluruh tubuh memancarkan cahaya yang menyilaukan mata dan bersinar gemerlap.
Kemudian, dia berjalan lurus dan mencubit pinggang Xavier dengan keras.
Wanita itu langsung memeluk lengan Xavier dan memukul bahunya dengan tangannya yang mulus itu, "Suamiku, kamu jahat deh! Kamu bahkan belum check out dari hotel, kamu langsung pergi begitu saja."
Demikian pula orang-orang di keluarga Wynora juga ikut tercengang. Semua orang memandang ke arah Graciela, bertanya-tanya siapa sebenarnya wanita ini.
Alicia memandang Graciela dari atas ke bawah.
Wanita ini mengenakan mantel kerah bateau hitam modis dengan rok panjang berbentuk V.
Kaki halus dan mulus di balik rok panjang itu terlihat sangat ramping.
Wanita mana pun akan kehilangan kepercayaan diri dengan kehadiran Graciela.
Alicia pun terlihat biasa saja, bila dibandingkan dengan kecantikan Graciela.
Perasaan cemburu pun muncul secara spontan.
Alicia mengangkat alisnya, menatap Graciela dan bertanya dengan nada yang tidak bersahabat, "Wanita gila dari mana ini?"
Graciela tidak melihat ke arah Alicia, dia bagaikan istri yang patuh bersandar di depan Xavier dan berkata dengan wajah yang bahagia, "Aku ini ... sekarang adalah wanitanya."
Wajah Alicia tiba-tiba menjadi gelap.
Dia tidak menyangka kalau Xavier akan menemukan seorang wanita secepat itu.
Apalagi wanita ini juga sangat cantik.
Dengan ekspresi jijik di wajahnya, Alicia berkata, "Cih, hanya wanita binal saja yang akan asal mencari pasangan sembarangan. Bagi seorang wanita, kriteria terpenting dalam memilih pria adalah melihat masa depannya."
“Contohnya aku, pacarku adalah seorang supervisor di anak perusahaan Martinez Grup, dengan gaji tahunan dua miliar. Jika aku menikah dengannya, aku tidak perlu khawatir tentang sandang dan pangan selama sisa hidupku. Ini barulah pilihan terbaik bagi seorang wanita."
Graciela masih tidak melihat ke arah Alicia, tapi berkata dengan tenang, "Uang? Aku punya uang kok .... Standar yang aku pakai dalam memilih pria adalah menjalani hidup ini dengan baik, itu saja sudah cukup."
Setelah Graciela selesai berbicara, dia pun tidak bisa menahan diri untuk tidak melihat pria di samping Alicia dan berkata dengan sangat jijik, "Dia ... tidak memenuhi syarat. Sekali lihat saja sudah tahu, pinggangnya lemah."
“Sedangkan Xavier.”
"Hari ini aku beri tahu, yah. Pria ini ibarat ikan bersisik emas yang ada di kolam, saat badai datang, ikan ini akan berubah menjadi naga yang terbang di langit. Semua kesulitan yang Xavier alami hanya sementara saja. Saat badai berlalu, dia akan menjadi pria hebat."
"Dan aku adalah badai itu. Dalam waktu kurang dari sebulan, kalian semua harus berlutut dan memohon padanya."
Kemudian, Graciela menarik lengan Xavier dan berkata, "Suamiku, ayo kita pulang! Aku sudah mengantuk."
Suara Graciela saat menyebut "suamiku" terdengar begitu lembut, membuat jantung Xavier berdebar kencang.
Wajahnya pun merona merah hingga ke bagian lehernya.
Untungnya saat itu sudah malam dan tidak ada yang bisa melihatnya.
Dia berkata dengan tegas dan tenang, "Oke, yuk ... kita pergi."
Keduanya berpegangan tangan dan berjalan keluar dari ruang tamu berdampingan.
Ketika dia sampai di pintu, Xavier berhenti, membelakangi pintu ruang tamu dan berkata, "Alicia, kita akan perhitungkan utangmu di lain hari!"
Setelah mengatakan ini, Xavier meninggalkan kediaman keluarga Wynora tanpa menoleh ke belakang.
···
Setelah keluar dari pintu, Graciela berkata, "Kamu masih tidak melepaskanku, apa kamu benar-benar ingin aku menikah denganmu?"
Xavier tersenyum malu-malu dan buru-buru melepaskan tangannya.
"Terima kasih telah membantuku."
Graciela melambaikan tangannya dengan acuh tak acuh dan berkata, "Kamu menyelamatkanku, aku seharusnya berhutang budi padamu. Tapi kamu melepas pakaianku dan melihat semuanya, jadi sudah impas."
“Sekarang aku membantumu lagi, jadi kamu yang berhutang padaku.”
Setelah mengatakan itu, dia berjalan menuju mobil sport merah yang diparkir di depan pintu.
Wajah Xavier menjadi gelap dan berkata, "Sudah impas? Aku tidak melihat apa pun."
Waktu itu, demi menyelamatkan nyawa orang, Xavier hampir menutup sebelah matanya.
Apalagi Graciela masih mengenakan bra.
Meskipun postur tubuhnya tampak sangat bagus dan ukuran bagian tubuh atasnya pun indah, tetapi bagian paling menarik dari Graciela, Xavier sedikitpun belum melihatnya.
Graciela membuka pintu mobil, mengangkat roknya, memperlihatkan kakinya yang jejang dan indah dan bertanya, "Bagaimana kalau aku memberikan kesempatan sekali lagi padamu?"
Xavier, "..."
Wanita ini sengaja menggoda Xavier.
Saat Xavier hendak pergi, Graciela mengemudikan mobil sampai di depan Xavier dan berkata, "Masuk ke mobil, aku akan mengantarmu pulang!"
Xavier juga tidak sungkan lagi, dia langsung duduk di jok samping pengemudi, kemudian setelah memberi tahu Graciela alamat rumahnya, mereka tidak berbicara lagi dan suasananya agak canggung.
Xavier tidak mengatakan apa-apa, karena dia sedang menebak tujuan Graciela mendatanginya.
Graciela tidak berbicara karena dia tidak tahu harus bagaimana memulai pembicaraan.
Seperti ini, dalam suasana yang aneh, Graciela mengemudikan mobil hingga ke depan pintu rumah Xavier.
Begitu dia memarkir mobil, Graciela melihat rumah Xavier. Atap rumah itu telah dibongkar orang. Dia bertanya dengan bingung, "Apa yang terjadi dengan rumahmu? Kenapa kondisinya setengah dibongkar? Bagaimana kamu bisa tinggal di sini?"
Xavier menggelengkan kepalanya dan berkata, "Aku juga tidak terlalu jelas. Sepertinya sih itu dibongkar paksa seseorang."
Graciela mengangguk, sambil berpikir hendak memarahi orang-orang yang menghancurkannya.
Tiba-tiba, dia teringat kalau perusahaan real estate miliknya baru saja membeli sebidang tanah dan lokasinya sepertinya berada di sini dan perusahaan mereka juga yang bertanggung jawab atas pekerjaan pembongkaran tersebut. Jangan-jangan orang yang membongkarnya adalah karyawan perusahaannya sendiri??
Memikirkan hal ini, Graciela merasa sedikit malu.
Saat ini, Xavier berinisiatif untuk berbicara.
“Kamu mencariku karena racun di tubuhmu itu, ‘kan?”
Graciela mengangguk dan berkata dengan malu-malu, "Ya, aku salah paham saat kita berada di rumah sakit."
Tepat setelah mengatakan ini, Graciela memikirkan kejadian ketika dia membuka matanya dan wajahnya agak memerah.
Untungnya, Xavier tidak melihatnya.
“Tidak apa-apa.” Xavier melambaikan tangannya dan berkata, “Racun di tubuhmu itu karena konsumsi jangka panjang dan seiring dengan berjalannya waktu, racun ini telah mengikis organ dalammu.”
Graciela mengangguk sambil berpikir.
Ketika dia berada di rumah sakit tadi, dokter Gonzales sudah memberitahunya kalau racunnya sudah sangat parah sehingga dia tidak mampu menyembuhkannya, satu-satunya orang di dunia ini yang dapat menyembuhkannya adalah orang yang dapat menusukkan jarum akupunktur "Ketiga belas Jarum Fuxi".
Jadi Xavier adalah orang itu.
Apalagi saat di rumah sakit, Xavier hanya membantunya menekan racun itu sementara waktu saja, tetapi racun itu masih dapat bereaksi kapan saja.
Kali ini, Graciela cukup beruntung bisa bertemu Xavier. Lain kali, dia mungkin tidak seberuntung itu.
Ini juga alasan kenapa Graciela menggunakan kekuatan keluarganya, berpacu dengan waktu untuk mencari dan menemukan Xavier.
Sambil menggelengkan kepalanya, Graciela tersadar dari lamunannya dan bertanya dengan suara rendah, "Bisakah kamu menetralisir racun ini?"
Xavier mengangguk dan berkata, "Racun ini memang bisa dinetralisir sih, tapi prosesnya panjang dan memakan waktu lama."
"Selain itu, kamu juga tahu ‘kan untuk menetralisir racun ini, kamu harus ditusuk dengan jarum akupunktur. Untuk menusuk jarum ini, kamu harus mau bekerja sama ...."
Rona merah yang tak terlihat muncul di wajah Graciela.
Dia tahu apa yang dimaksud Xavier.
Apalah artinya telanjang jika dibandingkan dengan nyawanya ini.
Setelah hening beberapa saat, Graciela pun berkata, “Aku tahu kamu menghilang selama lima tahun dan baru saja kembali ke Kota Merkuri. Lagi pula kamu belum memiliki pekerjaan.”
"Begini saja. Aku akan mempekerjakanmu sebagai asisten pribadiku, kamu katakan saja berapa gaji yang kamu mau."
“Asalkan kamu bisa menyembuhkan penyakitku, aku akan lakukan apa saja yang kamu mau. Dalam sebulan, aku bisa membuat seluruh penduduk kota ini menjunjungmu.”
Bab 7 Sudah Mendapat Pekerjaan
"..."
Xavier tertegun sejenak.
Membiarkan dia, sang dewa perang Panglima Besar Pluno, untuk menjadi asisten pribadimu???
Ini ....
Bukankah ini terlalu berlebihan?
Kalau saja para tentara musuh yang tewas di Pluno itu mengetahui Panglima Besar Pluno yang mereka takuti itu kini malah menjadi asisten pribadi seseorang, senyuman mereka pasti akan sangat aneh deh??
Memikirkan hal ini, Xavier tidak bisa menahan tawa.
Namun, dia tidak langsung menolak, tetapi malah berkata dengan penuh minat, "Aku akan membantumu menetralisir racun, tetapi hal satunya lagi, aku harus mempertimbangkanya lagi!"
Bukannya dia menganggap pekerjaan ini tidak bagus, tetapi dia baru saja kembali dan masih banyak hal yang perlu dia lakukan sendiri, dia tidak tahu apakah dia memiliki cukup waktu atau tidak.
Graciela juga tahu kalau hal semacam ini tidak dapat dipaksakan. Dengan keterampilan medis Xavier, walau dia baru saja kembali ke Kota Merkuri, dia tidak akan mengalami masalah soal bertahan hidup.
Memikirkan hal ini, Graciela merasa sedikit tertekan, tetapi dia tetap meninggalkan informasi kontaknya dan berkata, "Kalau kamu sudah memikirkannya dengan seksama, kamu bisa menelepon aku kapan saja atau langsung datang ke Venus Grup untuk mencari aku."
“Baik!” Xavier mengangguk, menuliskan informasi kontak Graciela, dan juga memberi tahu Graciela informasi kontaknya sendiri.
Setelah Graciela menuliskannya, dia awalnya ingin mengatakan sesuatu, tapi dia berhenti.
Sambil menggelengkan kepalanya, dia menyalakan mobil.
Xavier memandang Graciela yang tiba-tiba kehilangan minat dan berkata, "Oh ya, kamu harus berhati-hati dengan pola makanmu dan berhenti mengonsumsi racun kronik. Jika tidak, meskipun aku memiliki keterampilan medis yang hebat, aku tidak akan bisa menyelamatkanmu."
Graciela memejamkan mata besarnya dengan penuh semangat, menatap Xavier dan berkata, "Jika kamu benar-benar mengkhawatirkanku, jadilah asisten pribadiku."
Xavier, "..."
Melihat keheningan Xavier, Graciela mengeluarkan "senandung", merentangkan kaki putih rampingnya, dan matanya menakjubkan.
“Kenapa, apa aku kurang cantik? Apa uang yang kuberikan padamu tidak cukup?”
Apa ini sedang merayuku!!
Xavier berpikir dalam hati, ‘Putih sekali!’
Dia segera mengalihkan pandangannya.
Segera, Graciela menghentikan gerakannya lagi dan berkata dengan nada yang nakal dan bangga, "Apa yang kamu lihat? Hanya melihatnya saja ... apa gunanya dan kamu tidak bisa menikmatinya, ‘kan. La la la ...."
Xavier, "..."
Setelah menggoda Xavier, Graciela menyalakan mobil dan bergegas pergi.
Dari kecepatan mobilnya bisa dilihat ketidakstabilan emosi Glaciela.
Dia memutar musiknya sampai yang paling keras dan tidak bisa menahan diri untuk tidak bergumam, "Sialan! Kamu benar-benar menolakku!! Namun, aku juga dapat melihat kalau kamu sebenarnya ingin! Orang yang aku targetkan, tidak mungkin bisa kabur. Xavier, kamu bersedia atau tidak! Kamu pasti akan menjadi Sultan kota ini."
Saat bergumam, Graciela memikirkan kejadian di ruang gawat darurat lagi, dia tersipu malu dan menepuk kepalanya sendiri dengan keras, lalu berkonsentrasi untuk mengemudi.
Di sisi lain, setelah Graciela pergi, Xavier membuka pintu kayu yang sudah bobrok itu.
Kembali ke rumah.
Melihat rumahnya yang porak-polanda, Xavier merasa bersalah.
“Ayah dan Ibu, anakmu tidak berbakti, telah membuat kalian menderita selama lima tahun.”
"Tapi, jangan khawatir. Mulai sekarang, anakmu tidak akan membiarkan kalian menderita lagi."
Setelah hening beberapa saat, dia berjalan ke dapur yang terbuat dari batu bata ringan dan membuatkan makanan cemilan malam untuk orang tuanya.
Kemudian dia mendatangi rumah sakit lagi sambil membawa rantangan yang berisi makanan itu.
Kedua orang tuanya sedang mengobrol di bangsal, ketika mereka melihat putra mereka datang membawa makanan cemilan malam, air mata memenuhi mata mereka.
“Sudah lima tahun tidak bertemu, putraku telah dewasa dan sudah tahu cara merawat orang.”
Menyantap cemilan malam yang dibuat oleh putra mereka, kedua orang ini dipenuhi dengan luapan emosi.
Setelah cemilan malam.
Sang ayah bertanya, "Nak, ke mana saja kamu selama ini? Kenapa kamu tidak menelepon orang tuamu? Kamu tidak tahu betapa ibumu sangat merindukanmu."
Sang ibu tidak dapat menahan diri untuk menyeka air matanya dan berkata, "Anakku telah kembali, kenapa kamu membicarakan hal ini .... Dasar!"
Xavier tahu kalau ketidakhadirannya selama lima tahun telah membuat kedua orang tuanya sedih, jadi dia buru-buru menjelaskan, "Ayah, Bu, bukan aku tidak ingin menghubungi kalian, tetapi anakmu telah mendaftar ikut militer di luar negeri. Persyaratannya sangat ketat. Aku benar-benar tidak bisa menghubungi kalian.”
Mendengar penjelasan putranya, kedua orang tua itu pun merasa lega, ternyata putranya telah menjadi tentara.
Senang rasanya menjadi tentara dan mengabdi pada negara Anda.
Pria mana yang tidak bermimpi menjadi tentara ketika masih muda?
Setelah menghela napas dengan penuh emosi, ayah Xavier bertanya lagi, "Apakah kamu akan kembali kali ini untuk menjenguk keluarga atau sudah pensiun dari tugas militer?"
“Pensiun,” kata Xavier sedikit berbohong.
Faktanya, masa lima tahun telah tiba dan dia sangat merindukan kedua orang tuanya, jadi dia bergegas kembali secepatnya. Adapun Pluno, dia masih menjadi Panglima Besar di sana, tetapi sekarang setelah perang mereda, dia telah menyerahkan masalah tersebut pada para bawahannya.
Sang ayah mengangguk, lalu terdiam beberapa saat, lalu bertanya lagi, "Apa rencanamu jika kamu kembali kali ini? Pekerjaan apa yang akan kamu lakukan?"
Sang ibu yang berada di sampingnya juga berkata, "Kenapa kamu tidak pergi dan meminta pada atasanmu, membiarkan anak kita mengambil alih pekerjaanmu? Lagi pula, anak kita sudah dewasa. Sekarang dia kembali, jika dia tidak memiliki pekerjaan tetap, bagaimana dia akan menikahi kelak?"
Hal ini adalah hal yang paling dikhawatirkan ibunya, Elena, terutama ketika dia melihat semua tetangganya sudah memiliki cucu, kedua orang tua itu pun iri melihatnya.
Mereka pun berharap agar putra mereka segera menikah dan memberikan cucu yang gemuk, agar mereka juga bisa menikmati kebahagiaan.
Bagaimana mungkin Xavier tidak tahu apa yang dipikirkan orang tuanya, dan buru-buru melambaikan tangannya dan berkata, "Tidak, aku sudah mendapatkan pekerjaan."
Ibu Elena berkata dengan heran, "Kamu sudah dapat pekerjaan? Pekerjaan apa?"
Xavier berkata, "Venus Grup, aku bisa pergi kerja kapan saja."
Dia mengatakan ini hanya karena tidak ingin orang tuanya mengkhawatirkan urusannya sendiri.
Ivander dan Elena saling bertukar pandangan, setelah mendengar nama perusahaan, rumah mereka dibongkar paksa oleh perusahaan ini.
Mereka tidak menyangka putranya akan bekerja di sana.
Saat Elena hendak berbicara, Ivander menyela dan berkata, "Venus Grup tidak buruk. Ini juga merupakan perusahaan besar di Kota Merkuri. Setelah kamu kerja di sana, kamu harus bekerja keras."
Xavier mengangguk dan berkata, "Ayah dan Ibu, jangan khawatir, aku pasti akan bekerja keras untuk membuat hidup kalian menjadi lebih baik dan lebih baik lagi."
Mendengarkan perkataan putra mereka yang masuk akal, pasangan tua itu pun tersenyum bahagia.
Setelah mereka bertiga mengobrol selama satu jam, sang ibu bersikeras untuk membiarkan Xavier pulang untuk beristirahat, sementara dia tinggal bersama ayah Xavier di rumah sakit.
Tidak dapat mengabaikan perintah ibunya, Xavier tidak punya pilihan selain meninggalkan rumah sakit.
Setelah Xavier pergi, Elena menepuk Ivander dan berkata, "Venus Grup ini yang mengirim orang untuk menghancurkan rumah kita dan melukaimu. Kenapa kamu tidak mengizinkan aku memberi tahu putra kita? Apakah kamu masih ingin putra kita bekerja di perusahaan seperti itu?”
Ivander menghela napas dan berkata, "Putraku akhirnya kembali dan mendapat pekerjaan. Sebagai orang tua, kita tidak dapat melakukan apa pun untuk membantu anak-anak kita. Satu-satunya hal yang dapat kami lakukan adalah tidak mengganggu pekerjaan putra kita dan tidak menghambatnya."
“Jadi, lupakan saja urusan keluarga kita. Selama kita bisa mendapat kompensasi, jangan beri tahu anak kita. Biarkan dia bekerja keras.”
"Sekarang, yang terpenting adalah membiarkan putra kita mendapatkan pekerjaan yang layak, lalu pergi ke Keluarga Wynora dan bertanya pada Alicia bagaimana keinginannya. Jika dia masih bersedia menikah dengan putra kita, alangkah bagusnya," kata Ivander dengan penuh harap.
Elena mengangguk dan berkata, "Besok aku akan meluangkan waktu pergi ke Keluarga Wynora dan menanyakan Alicia. Selama bertahun-tahun, kami telah memberinya banyak mahar ...."
Bab 8 Aku Akan Membeli Satu Unit
Keesokan pagi,
Xavier bangun pagi-pagi dan keluar.
Dia harus cepat-cepat membeli rumah.
Setelah tidur di rumah sepanjang malam kemarin, dia menyadari bagaimana kehidupan orang tuanya selama beberapa tahun terakhir ini.
Semalam, hujan tiba-tiba turun dengan deras. Di luar rumah hujan deras, sedangkan di dalam rumah hujan gerimis. Angin dingin menderu-deru, rumah itu bahkan tidak memiliki kemampuan perlindungan paling dasar untuk berlindung dari terpaan angin dan hujan.
Karena sekarang dia sudah kembali, bagaimana dia bisa tega membiarkan orang tuanya tinggal di sini, sudah waktunya bagi kedua orang tuanya untuk menikmati hidup dan bersenang-senang.
Dia memeriksa ponselnya dan menemukan kalau hanya ada satu kompleks perumahan yang menyediakan rumah siap tinggal bernama "Galaxy Permai".
Komplek perumahan ini adalah yang terbaik di Kota Merkuri, harga rumahnya hampir menyamai harga rumah-rumah di kota-kota besar. Orang-orang yang tinggal di dalamnya adalah orang-orang kaya atau berpangkat. Inilah sebabnya kenapa masih ada rumah yang tersedia padahal sudah setengah tahun perumahan itu siap dibangun dan diserah-terimakan.
Setelah naik taksi, Xavier mendatangi bagian pemasaran perumahan Galaxy Permai.
Memasuki ruang pemasaran, seorang staf pemasaran berparas cantik menyambutnya.
Dia pertama-tama mengajak Xavier untuk mendaftar di lobby, lalu membawa Xavier ke maket perumahan berupa miniatur rumah-rumah dan mulai menjelaskan pada Xavier.
Xavier tidak tahu apa-apa tentang membeli rumah, dan sekarang pun tidak ada masalah, jadi mendengarkan penjelasan penjualan dengan senang hati.
Setelah menjelaskan letak geografis dan fasilitas lingkungan masyarakat.
Xavier bertanya dengan penuh minat, "Apakah ada rumah contoh? Bawa aku pergi melihatnya."
Dia cukup puas dengan perumahan ini, lagi pula komplek perumahan ini dibangun sebagai komplek perumahan kelas atas dan lokasinya juga sangat strategis, yang terpenting dekorasinya bagus dan bisa langsung pindah masuk hanya dengan membawa koper saja.
Penjual mungkin juga memperhatikan kalau Xavier tertarik, dia berkata dengan antusias, "Ada rumah contoh, aku akan mengajakmu melihatnya sekarang."
Setelah mengatakan itu, dia membawa Xavier ke ruang model.
Begitu sampai di depan pintu rumah contoh, langsung terlihat ada banyak orang di dalamnya. Staf pemasaran rumah tersebut menjelaskan, "Ada banyak orang yang melihat rumah akhir-akhir ini, jadi anda jangan mempermasalahkannya. Anda bisa masuk untuk melihatnya sekarang atau bisa masuk dan melihatnya nanti, setelah mereka pergi."
Xavier mengerti, dia mengangguk dan berkata, "Aku akan masuk dulu dan melihat-lihat."
Karena itu, dia masuk ke rumah contoh.
Begitu melangkah masuk, dia pun tercengang.
Dunia ini begitu sempit, dia tidak menyangka akan bertemu Alicia di sini.
Alicia terlihat mengenakan pakaian mewah, bersama seorang pria, ikut di belakang staf pemasaran rumah tersebut, mendengarkan penjelasan dari staf pemasaran tersebut.
Alicia segera menemukan Xavier juga berada di sana.
Ada kesan jijik yang melintas di wajahnya, Alicia berkata dengan marah, "Xavier, kamu bahkan membuntutiku???"
Itulah reaksi pertama Alicia.
“Sinting!” Xavier malas berbicara dengan Alicia dan hanya melirik ke rumah contoh.
Saat ini, pria di sebelah Alicia bertanya, "Siapa orang ini? Apa kalian saling mengenalnya?"
Alicia memegang lengan orang di sebelahnya dan berkata, "Hanya seorang pecundang yang dulu mengejarku saja."
Pria di sebelah Alicia mengangguk dan melihat ke arah Xavier. Dia melihat pria ini mengenakan pakaian compang-camping dan terlihat seperti seseorang dari masyarakat kelas bawah. Hal ini membuat kepercayaan dirinya mencapai titik ekstrim.
Jika dia bisa menunjukkan kemampuannya di depan Alicia saat ini, wanita ini pasti akan berusaha keras melayaninya di malam hari.
Memikirkan hal ini, Johnny Walles berjalan ke arah Xavier dan berkata, "Alicia adalah wanitaku sekarang. Aku tidak peduli seberapa besar kamu menyukainya. Aku harap kamu menjauh darinya! Jika tidak, jangan salahkan aku bila bersikap kasar padamu!"
Xavier hanya merasa pria ini merusak suasana hatinya.
Dia menatap Johnny dan berkata dengan tenang, "Sudah kubilang, aku tidak membuntutinya, aku datang untuk melihat rumah!!"
Alicia tiba-tiba merasa senang.
"Ahaha ... kamu datang untuk melihat rumah?"
"Ini adalah komplek perumahan terbaik di Kota Merkuri. Tahukah kamu berapa biaya semeter persegi?"
“Memangnya kamu mampu membelinya?”
Alicia sama sekali tidak mempercayai penjelasan Xavier, bagaimana mungkin orang miskin seperti dia bisa mampu membeli rumah di sini.
Xavier berkata dengan marah, "Kamu tidak usah peduli apakah aku mampu membelinya atau tidak!"
Alicia melotot dan berkata, "Aku akan segera menjadi pemilik tempat ini, jadi tentu saja aku berhak mengurusmu!"
Setelah selesai berbicara, dia berkata kepada staf pemasaran di sebelahnya, "Galaxy Permai adalah komplek perumahan kelas atas di Kota Merkuri. Berdasarkan ini, aku dan tunanganku datang ke sini untuk membeli rumah buat menikah, tetapi sekarang kalian malah membiarkan orang yang dapat menurunkan integritas sosial seperti dia ini masuk, maka aku harus mempertimbangkan lagi apakah akan membeli rumah di sini atau tidak."
Setelah mengatakan ini, Alicia keluar dari rumah contoh dengan marah.
Ketika staf pemasaran itu melihat adegan ini, dia buru-buru berkata, "Nona Wynora, jangan marah, aku akan mengusirnya sekarang!"
Saat itu Alicia baru berhenti melangkahkan kakinya.
Staf pemasaran yang bertanggung jawab melayani Alicia menghampiri Xavier dan bertanya, "Tuan, maaf, apakah Anda datang ke sini untuk membeli rumah? Jika bukan, silakan segera pergi. Rumah di Galaxy Permai kita ini bukan siapa pun mampu membelinya.”
Sebagai seorang staf pemasaran, dia tidak seharusnya mengatakan ucapan seperti ini.
Namun dengan pengalaman kerjanya selama bertahun-tahun, melihat sekilas saja dia sudah tahu kalau Alicia dan Johnny adalah dua orang yang benar-benar datang untuk membeli rumah. Sedangkan pria di depannya ini mengenakan pakaian yang di jual di kaki lima, tangannya sangat kasar. Lihat saja sudah tahu kalau dia itu kuli pekerja kasar. Orang-orang seperti ini tidak akan mampu membeli rumah di Galaxy Permai.
Xavier menahan diri berulang kali, tetapi dia tidak menyangka kalau mereka malah semakin menjadi-jadi.
Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak mengerutkan kening dan mendengkus, "Siapa bilang aku tidak mampu membeli?"
Momentum agung terpancar dari tubuhnya.
Ini adalah aura jahat yang telah dia latih dari mengalahkan jutaan pasukan setelah pertempuran panjang dan berjalan keluar dari tumpukan mayat dan lautan darah.
Staf pemasaran yang bertanggung jawab melayani Alicia langsung merasa gemetar dan kedinginan.
Dia membuka mulutnya, tetapi tidak ada kata-kata yang terucap keluar.
Melihat penjual itu tidak berani berkata apa-apa, Alicia mendengkus dingin dan berkata dengan nada menghina, “Kamu mampu membeli rumah di sini? Berhentilah membual! Memalukan! Kalau kamu mampu membeli rumah di sini, aku akan bersujud padamu.”
Ketika dia mengatakan ini, lubang hidung Alicia pun terangkat ke atas, dengan sangat percaya diri.
Berdasarkan apa yang dia ketahui tentang Xavier dan orang tuanya, keluarga mereka tidak memiliki kemampuan membeli rumah di sini. Bahkan mahar yang sebesar enam ratus juta saja, setelah di cicil selama lima tahun, mereka hanya mampu memberikan setengahnya saja!
Xavier menatap Alicia dan berkata, "Apa urusanmu aku mampu membeli atau tidak, lagi pula aku sudah tidak berencana membeli rumah di sini."
Setelah mengatakan ini, dia berjalan kembali ke bagian pemasaran.
Dia awalnya menyukai rumah di sini, tetapi setelah melihat kualitas staf pemasaran dan keagresifan Alicia, dia benar-benar kehilangan minat terhadap rumah di sini.
Sambil menggelengkan kepalanya, dia hendak meninggalkan bagian pemasaran.
Suara sarkarsme Alicia terdengar dari belakangnya.
"Cih, kalau tidak mampu, katakan saja kamu tidak mampu, buat apa kamu berpura-pura!"
Xavier berhenti.
Dia menatap Alicia dengan tajam dan berkata, "Kalau begitu aku akan membeli satu unit, agar kamu melihatnya!"
Alicia benar-benar membangkitkan kemarahan Xavier.
Bagaimanapun juga, bagi Xavier membeli rumah di sini sama seperti membeli mainan.
Ketika Alicia mendengar ini, dia tertawa terbahak-bahak, "Kalau begitu, buktikan kamu beli satu unit, biarkan aku menyaksikannya!"
Setelah mengatakan itu, Alicia berdiri di bagian pemasaran dan berteriak, "Ayo lihat, ada orang miskin di sini yang ingin membeli rumah kalian."
Saat berteriak, dia tidak bisa menahan tawa.
Semua orang di bagian pemasaran rumah melihat ke arah mereka dengan bingung.
Segera, sekelompok orang berkumpul di sekitar mereka.
Namun, tidak ada yang memerhatikan saat ini, sebuah mobil sport berwarna merah diparkir di depan pintu bagian pemasaran rumah.
Seorang wanita yang mengenakan jaket panjang setengah lutut dengan dua baris resleting, slim-fit, kerah polo, keluar dari mobil.
Matanya yang cerah dan giginya yang putih, serta sosok rampingnya bersinar di bawah sinar matahari.
Wanita ini tidak lain adalah Graciela.
Dia melihat sekilas Xavier di tengah kerumunan.
Melihat Xavier berdiri dengan tenang di antara kerumunan penonton, wajahnya tenang.
Orang yang berada di pintu, buru-buru menyambutnya.
Rasanya seperti takut kehilangan satu detik pun.
“Bu Graciela.”
Graciela mengerutkan kening tanpa sadar.
"Apa yang terjadi di dalam?"
Bab 9 Rumah Unit Nomor Satu
Orang yang keluar menyambut Graciela adalah manajer pemasaran, Pak Thomas Walles, dia berkata dengan canggung, "Sepertinya itu dua orang pembeli rumah yang sedang bertengkar."
Dia mendengar beberapa kata ketika berjalan keluar tadi, tetapi tidak mengerti cerita spesifiknya.
Graciela menunjuk ke arah Alicia dan Johnny dan bertanya, "Apa yang dilakukan kedua orang ini?"
Pak Thomas menyeka keringat di kepalanya dan berkata, "Orang itu bernama Johnny Walles. Dia adalah manajer kecil dari anak perusahaan Venus Grup kami. Sepertinya dia datang ke sini hari ini untuk membeli rumah buat menikah."
Graciela berkata dengan dingin, "Hapus tunjangan karyawannya untuk membeli rumah."
Pak Thomas tahu kalau Bu Graciela, sang CEO sedang marah, tentu saja dia tidak berani mengatakan apa pun. Dia mengangguk dan berkata, "Baik."
Graciela menunjuk ke arah Xavier lagi dan berkata, "Apa kamu sudah melihat orang ini?"
“Saya sudah melihatnya, Bu,” jawab Pak Thomas dengan hati-hati.
"Dia adalah tamu terhormat Venus Grup kita. Kamu melihatnya, seperti melihat aku. Kamu mengerti?"
"Mengerti! Bu," kata Pak Thomas menyeka keringat di kepalanya.
Graciela kembali ke mobil, membuka jendela dan berkata, "Vila terbaik kita di Galaxy Permai belum terjual, ‘kan?"
Pak Thomas mengangguk dan berkata, "Belum."
Graciela mengenakan kacamata hitamnya dan berkata, "Berikan dia kuncinya, lalu bantu dia ajukan akta rumahnya."
Pak Thomas terkejut dan berkata, "Memberikan secara gratis???"
Graciela mengerutkan kening.
"Lakukan saja perintahku. Apa yang tidak pantas ditanya, jangan tanya."
Suaranya sangat dingin dan wibawanya sangat tinggi, benar-benar berbeda karakternya saat di depan Xavier, seperti dua orang yang berbeda.
Pak Thomas bergidik.
Sebenarnya, dia sudah menyesalinya setelah bertanya tadi. Sekarang melihat ketidaksenangan Bu Graciela, dia buru-buru menundukkan kepalanya dan berkata, "Bu, jangan khawatir, aku pasti akan menyelesaikan ini."
“Hmm, pergilah.” Graciela menutup jendela mobil.
Kemudian, dia menyalakan mobil dan meninggalkan departemen pemasaran Galaxy Permai.
Kemarin setelah mengetahui rumah Xavier dibongkar oleh karyawan perusahaannya. Graciela merasa bersalah. Dia bangun pagi-pagi sekali dan datang ke Galaxy Permai khusus untuk memberi Xavier sebuah rumah. Tanpa diduga, dia kebetulan melihat Xavier juga berada di sini.
Ini bagus. Dia tidak perlu khawatir. Dia cukup meminta manajer melakukan untuknya.
Memikirkan hal ini, dia bersenandung gembira, berpangku tangan di depan dadanya.
Matanya yang indah penuh dengan sosok Xavier.
Memanjakannya seperti ini, tanpa perlu disebutkan lagi.
Graciela hanya ingin Xavier sebagai prianya, walau itu hanya tampak luarnya saja, dia tetap ingin "prianya" itu tampak begitu mulia.
Bukan karena hal lain, karena dia adalah Graciela Martinez, ratu di dunia bisnis yang sesungguhnya dan Nona Besar di keluarga Martinez.
Di sisi lain, setelah Graciela pergi, saraf tegang Pak Thomas baru benar-benar rileks. Dia menghela napas lega dan kemudian berjalan masuk ke departemen pemasaran.
Di departemen pemasaran sudah terjadi keributan besar.
Xavier awalnya berencana membeli apartemen tiga kamar tidur, yang cukup untuk dirinya dan kedua orang tuanya.
Alicia berkata kepada tunangannya, "Kak Johnny, tidak peduli unit mana yang dia beli, ayo beli yang lebih besar darinya."
Johnny berkata dengan bangga, "Tentu saja."
Lagi pula, dia bisa menikmati tunjangan karyawan dan mendapatkan diskon sebesar 30%. Dengan uang tunai yang ada di tangannya, cukup untuk membayar uang muka apartemen empat kamar tidur.
Setelah memilih apartemen tiga kamar tidur, Xavier berkata, "Hitung harga rumah ini untuk saya."
Staf pemasaran itu mengangguk dan mengeluarkan selembar kertas untuk membuat perhitungan.
Alicia berteriak dari samping, "Hitung harga rumah empat kamar tidur ini untukku."
Setelah berteriak, dia menatap Xavier dengan penuh kemenangan.
“Belum terlambat bagimu untuk menyesalinya sekarang. Jangan menunggu sampai tiba waktunya membayar uang muka, kamu malah tidak sanggup membayarnya.”
Xavier tidak marah tetapi tersenyum dan berkata, "Maaf, aku akan membayar penuh."
Alicia tertegun sejenak dan kemudian berkata, "Untuk apa kamu berlagak!"
Johnny juga mencibir, "Orang miskin yang mengejarmu ini, terlalu pintar berlagak hebat!"
Saat ini, Pak Thomas datang dengan membawa kunci.
Dia berjalan ke arah Xavier dan yang lainnya, meletakkan kunci di depan Xavier dan berkata, "Halo, Tuan Morris, ini adalah kunci rumah di unit nomor 1, Blok A, Galaxy Permai."
“Karena Anda adalah tamu terhormat di Galaxy Permai, rumah ini diberikan pada Anda. Anda bisa pindah masuk kapan saja.”
Begitu kata-kata itu keluar.
Semua orang terkejut.
"Bagaimana bisa?"
"Menyerahkan rumah di unit nomor 1, Blok A??"
"Rumah ini bernilai puluhan milliar!!"
Terutama Alicia, dia memandang Pak Thomas dengan tidak percaya dan berkata, "Itu adalah bangunan termahal di Galaxy Permai, kamu mau memberikannya kepada orang miskin ini?? Dia bahkan tidak mampu membayar uang muka!!"
Unit No. 1 di Blok A adalah vila tiga lantai, bangunan termahal di komplek Galaxy Permai. Sejak mulai dipasarkan sudah menarik perhatian banyak orang, tetapi pada akhirnya semua orang pun menyerah karena harganya.
Sekarang, Pak Thomas mau memberikan vila ini kepada Xavier??? Kenyataan ini membuat orang sulit menerimanya.
Pak Thomas melirik Alicia dan berkata, "Tuan Morris adalah tamu terhormat kita di Galaxy Permai. Jangankan hanya memberinya sebuah vila, memberinya seluruh rumah di Galaxy Permai pun, memangnya kenapa?"
Alicia masih berkata dengan tidak percaya, "Kamu tidak salah orang, ‘kan? Dia hanya orang miskin saja!!"
Bahkan wajah Johnny pun terlihat sangat jelek dan berkata, "Sejauh yang aku tahu, Venus Grup tidak memiliki riwayat memberikan rumah pada seseorang!"
Pak Thomas berkata dengan tenang, "Maaf, sekarang sudah ada!"
"..."
Johnny dan Alicia ingin mengatakan sesuatu yang lain, tetapi Pak Thomas memandang mereka dengan dingin dan berkata, "Apakah kalian masih ingin membeli rumah? Jika tidak ingin membeli rumah, silakan keluar!"
Thomas telah mengetahui situasinya ketika dia pergi mengambil kunci. Setelah mengetahui bahwa Johnny dan Alicia sengaja membuat masalah dan mencoba mengusir tamu terhormat yang melihat rumah, dia sudah kehilangan niat baiknya terhadap mereka.
Jangankan dia tamu terhormat di Galaxy Permai. Sekalipun dia hanya orang biasa yang datang untuk melihat rumah, dia tidak boleh mengusir orang dengan cara seperti itu. Ini adalah kualitas profesional yang paling mendasar.
Alicia mengerling matanya dan berkata, "Beli, tentu saja beli."
Pak Thomas mengangguk dan berkata pada staf pemasaran, "Bantu mereka menghitung harga."
Johnny menambahkan, "Aku memiliki tunjangan karyawan dalam membeli rumah, jadi ketika kamu menghitungnya, jangan lupa hitung diskonnya."
Saat penjual hendak mengangguk, Pak Thomas berkata, "Hitung menurut harga normal. Dia tidak memiliki tunjangan pembelian rumah bagi karyawan."
Mendengar hal tersebut, Johnny berkata dengan marah, "Aku adalah karyawan Venus Grup, kenapa aku tidak dapat menikmati tunjangan membeli rumah??"
Pak Thomas mencibir, "Kamu sekarang adalah karyawan Venus Grup. Tapi beberapa hari lagi, kamu mungkin bukan. Singkatnya, tunjangan pembelian rumah karyawan kamu telah dihapus. Jika kamu ingin membeli rumah ini, kamu bisa beli dengan harga normal. Kalau tidak beli, silakan keluar saja!”
Ketika Johnny mendengar ini, ekspresinya sangat suram.
Dia tidak tahu bagaimana dirinya bisa kehilangan tunjangan karyawan untuk membeli rumah.
Dia berkata dengan marah, "Aku bawahan Pak Carl yang sedang naik daun. Aku bahkan makan malam dengan CEO beberapa hari yang lalu. Apakah kamu yakin aku tidak mendapat tunjangan karyawan?"
Pak Thomas berkata tanpa mengangkat kelopak matanya, "Aku tidak peduli siapa yang kamu kenal, singkatnya, namamu tidak ada dalam daftar kesejahteraan internal di Galaxy Permai."
“Kalaupun CEO sendiri yang datang, pun percuma saja.”
Kalimat ini benar-benar membuat Johnny marah. Dia mencibir dan berkata, "Oke, oke! Seorang manajer pemasaran kecil, demi seorang pria miskin, mempelakukan aku demikian. Tunggu saja dan tunggu sampai aku melapor ke CEO. Kita lihat, bagaimana dia akan menghadapimu nanti!"
Ada ancaman dalam kata-katanya.
Pak Thomas berkata tanpa bergeming, "Silakan saja."
Pada saat yang sama, Pak Thomas diam-diam berpikir dalam hati, ‘Haha... kalau aku beri tahu kamu CEO sendirilah yang menghapus hak tunjangan karyawanmu? Kamu kenal CEO? Apakah kamu tahu nama lengkap CEO, Bu Garciela Martinez? Masih berpura-pura di sini."
Saat ini, semua orang di departemen pemasaran sedang menonton.
Alicia merasa sedikit tidak nyaman dilihati, dia berkata dengan tidak sabar, "Kalau tidak ada tunjangan karyawan, ya tidak ada tunjangan. Lagi pula kita tidak kekurangan uang. Ayo, hitung harganya!"
Namun, Johnny dengan marah menarik pakaian Alicia dan berkata, "Hitung apaan, rumah ini tidak jadi beli, ayo kita lihat di komplek lain saja."
Alicia berkata dengan heran, "Tidak jadi beli? Bukankah kita sudah setuju untuk membeli rumah di sini?"
Alicia sangat marah.
Hari ini jika tidak membeli rumah di sini, benar-benar memalukan.
Apalagi di sekitar mereka ada begitu banyak orang yang menonton.
Tidak butuh waktu lama, beritanya pasti akan menyebar ke seluruh Kota Merkuri.
Johnny berkata dengan wajah tak tahu malu, "Awalnya aku mengira ini adalah perumahan yang dibangun anak perusahaan kami. Sebagai karyawan, aku harus mendukung perkembangan perusahaan, tetapi ternyata perusahaan bahkan tidak memberikan tunjangan pembelian rumah padaku, jadi ya sudahlah, aku pun tidak membeli rumah di sini."
Setelah mengatakan itu, Johnny menarik Alicia untuk meninggalkan departemen pemasaran.
Meskipun dia mengatakan demikian, sebenarnya uangnya tidak cukup ....
Tanpa tunjangan karyawan, uang muka untuk rumah tiga kamar tidur saja tidak cukup, apalagi rumah dengan empat kamar tidur! Biar tahu saja, harga rumah di Galaxy Permai ini sangatlah mahal!!
Saat dia menarik Alicia pergi, Xavier berdiri di depan mereka dan berkata sambil bercanda, "Bukankah kamu mengatakan selama aku mampu membeli rumah di sini, kamu akan bersujud dengan kepalamu menyentuh tanah?"
“Tadi semua orang mendengar ini masih di sini. Kamu tidak bermaksud mengingkari janjimu, ‘kan?”
"Berlututlah!"
Bab 10 Ke Rumah Baru Kita
Semua orang memandang mereka.
Wajah Alicia merah padam.
Dia mengertakkan gigi dan berkata, "Xavier, jangan terlalu keterlaluan!!"
Xavier bertanya, "Apakah terlalu keterlaluan? Terhadap binatang sepertimu, keterlaluan sedikit, memangnya kenapa?"
Alicia tersedak oleh kata-kata Xavier.
Akan tetapi dia masih memelototi Xavier dan berkata dengan marah, "Minggir!"
Xavier bergeming!
Alicia merasa sangat marah saat melihat kerumunan orang menunjuk ke arahnya.
Sekarang bukan waktunya berdebat dengan Xavier, dia menekan amarah di hatinya, langsung melewati Xavier dan segera meninggalkan departemen pemasaran.
Saat Johnny hendak melarikan diri, Xavier menjentikkan jarinya.
Piang.
Johnny berlutut di tanah dan membenturkan kepalanya dengan keras.
Kepalanya bahkan berdarah.
Pada saat yang sama, para penonton di sekeliling pun tertawa.
“Hahaha, sembah sujud ini sudah memenuhi standar.”
“Hahaha, postur berlututnya juga lumayan.”
“Haha, membuatku geli setengah mati. Ternyata mereka berdua tidak mampu membeli rumah di sini.”
Alicia sangat marah hingga seluruh tubuhnya gemetar dan dadanya bergetar.
Johnny menatap Xavier dengan getir.
Setelah mereka kabur, massa pun bubar, tetapi mereka masih membicarakan apa yang baru saja terjadi.
Pak Thomas pun mendatangi Xavier dan berkata, "Tuan Morris, aku minta maaf karena telah memberikan pengalaman buruk pada Anda."
Pak Thomas membungkuk dalam-dalam, kemudian berkata, "Saya telah memecat staf pemasaran yang ingin mengusir Anda. Kualitas profesionalnya terlalu buruk, dia tidak cocok bekerja di industri jasa kami ini."
“Jika Anda memiliki permintaan atau saran, silakan beri tahu kami. Saya hanya berharap Anda bisa merasa nyaman.”
Melihat Pak Thomas tulus, Xavier tidak menyalahkannya.
Dia melambaikan tangannya, mengangkat kunci dan bertanya, "Apakah kamu yakin rumah ini untukku?"
“Tentu saja.” Pak Thomas mengangguk dan bertanya, “Apakah perlu mengantar Anda pergi melihat rumah?”
“Tidak perlu.” Xavier melambaikan tangannya lagi.
Setelah keluar dari bagian pemasaran rumah, Xavier kembali ke rumah sakit.
Sesampai di rumah sakit, orang tua Xavier sedang makan siang.
Ketika mereka melihat Xavier masuk, mereka panik dan menutup rantangan mereka.
Xavier berkata dengan bingung, "Makan, kenapa kalian tidak jadi makan?"
Ibu Elena menyeka mulutnya dan berkata, "Kami sudah kenyang."
Lalu dia bertanya, "Apakah kamu sudah makan?"
Xavier menggelengkan kepalanya dan berkata, "Belum."
"Lalu kamu ingin makan apa? Ibu akan memasakkanmu sesuatu, ketika sampai di rumah."
“Aku tidak lapar sekarang, kita bicarakan lagi saat aku lapar,” kata Xavier dan duduk di tempat tidur.
Matanya tertuju pada rantang makan siang di atas meja tempat tidur, Xavier mengambilnya dan berkata, "Apa yang kalian makan? Coba aku intip."
“Bukan apa-apa, kamu tidak perlu melihat,” sang ibu buru-buru menghentikan putranya.
Namun terlambat, Xavier sudah membuka rantang makan siangnya.
Ivander dan Elena menghela napas tanpa daya.
Setelah membuka rantang makan siang itu, Xavier tercengang.
Hanya ada sedikit acar di rantang makan siang dan setengah roti kukus yang sudah basi dan ada spora hijau di atasnya.
Matanya langsung memerah.
Ternyata ini yang dimakan kedua orang tuanya saat Xavier pergi ....
"Apakah kalian bisa makan kenyang? Apakah ini ... bergizi?" tanya Xavier sambil menahan air mata.
Ini yang dimakan ayah saat dirawat di rumah sakit, kalau di rumah makanannya pasti lebih buruk lagi.
Semakin dia memikirkannya, semakin sedih hatinya.
Semakin masam, semakin merasa bersalah.
Kedua orang tuanya saling memandang dan Elena berkata, "Roti kukus yang saya kukus sendiri, bagaimana mungkin tidak bergizi? Ayahmu sudah makan dua."
Ivander berkata, "Itu hanya disimpan kelamaan, sehingga tumbuh sedikit jamur saja. Sobek saja kulitnya. Tidak jadi masalah."
Melihat sikap optimis dan kepuasan di hati kedua orangtuanya, Xavier semakin merasa dirinya tidak berbakti.
Dia berusaha keras mengendalikan emosinya, mengeluarkan kartu bank dari sakunya dan berkata, "Ayah dan Ibu, anakmu sekarang sudah kembali dan sudah mendapatkan pekerjaan. Kalian berdua, tolong berhenti berhemat."
Setelah mengatakan itu, dia menyerahkan kartu bank tersebut pada orang tuanya dan berkata, "Ini adalah uang pensiunku. Silakan gunakan saja. Kata sandinya adalah hari ulang tahun Anda."
Sang ibu mengambil kartu bank itu dan melihatnya dengan hati-hati dan berkata, "Nak, jangan khawatir, kamu meninggalkan uang ini pada Ibu. Ibu tidak akan menyentuh satu sen pun. Uang ini akan dipakai untuk kamu gunakan ketika kamu menikah."
Setelah mengatakan itu, dia menyimpan kartu banknya.
Xavier berkata tanpa daya, "Berhemat adalah suatu kebajikan, itu benar. Tapi jika kondisi memungkinkan, kualitas hidup juga perlu ditingkatkan. Selama tidak disia-siakan, tidak apa-apa. Jangan menyimpannya untuk aku. Sekarang, anakmu bisa mendapatkan lebih banyak uang di masa depan!"
“Jangan khawatir, dalam satu bulan, aku akan menjadi yang teratas di kota ini.”
Elena mengangguk dengan acuh tak acuh dan berkata, "Ibu tahu."
Xavier menghela napas tak berdaya. Dia tahu akan sulit mengubah kebiasaan konsumsi pasangan tua itu untuk sementara waktu, jadi dia hanya bisa memberi orang tuanya lebih banyak uang di masa depan. Setelah mereka memiliki rasa aman, mereka seharusnya bisa mempelakukan diri mereka lebih baik.
Saat ini, Mery datang ke bangsal dan berkata, "Paman Morris, kamu sudah bisa pulang."
Setelah mendengar ini, Ivander duduk dari tempat tidur.
"Sudah bisa keluar rumah sakit? Bagus sekali." Setelah mengatakan itu, Ivander memakai sepatunya dan bersiap untuk pergi.
Xavier berjalan ke arah Mery dan bertanya, “Cedera ayahku tidak serius?”
Mery mengangkat kepalanya dan melirik ke arah Xavier, bertanya-tanya, "Bukankah kamu sendiri seorang dokter? Apakah kamu tidak membantu ayahmu memeriksa lukanya?"
Xavier menggelengkan kepalanya dan berkata, "Tidak, aku tidak sanggup."
Dia benar-benar tidak tega melihat luka ayahnya.
Xavier hanya melihat sekilas dan merasa lega mengetahui nyawa ayahnya tidak dalam bahaya. Sedangkan luka di tubuh Ivander, meski sudah biasa melihat luka di medan perang, dia tetap tidak tega melihat luka di tubuh ayahnya.
Hanya karena Ivander adalah ayahnya dan orang yang paling dia sayangi.
Mery mengangguk sambil berpikir dan berkata, "Aku memeriksanya pagi ini dan lukanya sudah kering, jadi tidak ada yang serius. Hanya ada plester di lengannya. Datang kembali sebulan kemudian untuk melepasnya."
Xavier mengangguk dan berkata, "Oke, aku mengerti, terima kasih!"
Mery tersenyum dan berkata, "Sama-sama."
Awalnya, Mery ingin mengatakan sesuatu, tetapi ada panggilan dari ruang perawat, dia pun pergi dengan tergesa-gesa.
Setelah Mery pergi, Xavier pun turun ke lantai bawah untuk mengurus prosedur keluar rumah sakit dan kemudian membawa kedua orang tuanya bersiap untuk pergi.
Sambil menunggu lift, dia melihat Mery berlari mendekatinya.
Berlari ke arah Xavier, Mery berhenti. Setelah menarik napas beberapa kali, dia mengumpulkan keberanian untuk berkata, "Pak Morris, bisakah kamu meninggalkan informasi kontakmu?"
“Tentu saja,” Xavier mengangguk.
Dia sangat berkesan dengan Mery. Kesan baik ini karena Mery telah merawat kedua orang tuanya di rumah sakit, jadi dia dengan senang hati memberi tahu informasi kontaknya.
Setelah Mery mengingatnya, dia langsung kabur.
Tidak ada yang memerhatikan kalau wajah Mery memerah sampai ke lehernya.
Sejak dia menyaksikan Xavier menyelamatkan pasien yang keracunan kemarin, dia menjadi penasaran terhadap Xavier.
Penampilan Xavier yang percaya diri dan tenang masih melekat di benak Mery.
Inilah sebabnya dia mengumpulkan keberanian untuk meminta informasi kontaknya.
Di pihak Xavier, saat mereka bertiga sekeluarga naik lift, Elena berkata, "Mery adalah wanita yang baik. Saat kami dirawat di rumah sakit, dia merawat kami dengan baik."
Berbicara tentang ini, Elena menghela napas, "Jika kamu dan Alicia tidak bertunangan, sebenarnya cukup pantas untuk menikahi Mery. Dia baik hati, kepribadiannya baik dan memiliki pekerjaan yang sangat bagus."
"..."
Xavier tampak malu.
Untungnya, ibunya tidak melanjutkan.
Setelah meninggalkan rumah sakit.
Orang tuanya berencana untuk naik bus pulang.
Akan tetapi Xavier berkata, "Ayah, Bu, kita tidak akan kembali ke desa. Ayo naik taksi dan pergi ke tempat lain."
Elena bertanya dengan ragu, "Jika tidak pulang, ke mana kita akan pergi?"
"Ke rumah baru kita."