Đang tải thông tin quảng bá...
Hari-hari Dimanjakan Paman
Demi menyingkirkan pasangan kencan butanya yang jelek dan narsis, Pamela mencium seorang pria tampan yang lebih tua darinya. Karena ciuman itu, pria itu malah meminta pertanggung jawaban penuh Pamela....
Chương (1)
第1章
Bab 1
"Setelah menikah denganku, kamu nggak perlu kerja lagi. Kamu cuma perlu melayaniku dengan baik di rumah. Kamu harus melahirkan anak laki-laki yang lucu dalam waktu satu tahun! Ingat, aku nggak mau anak perempuan, karena anak perempuan hanya buang-buang uang saja!"
Pria itu berkata dengan nada meremehkan.
Pasangan kencan buta Pamela kali ini adalah seorang pria paruh baya berambut tipis dan perut buncit. Usianya hampir empat puluh tahun.
Ibu tirinya, Wulan Puspita, takut Pamela menikah dengan pria baik, jadi memaksanya untuk bertemu dengan pria yang sudah tua.
Heh!
Awalnya pria paruh baya itu sangat tidak senang karena dandanan Pamela yang sangat menor. Namun, ketika melihat Pamela memiliki tubuh langsing dan temperamen yang baik, dia pun merasa Pamela sangat menggoda dan nikmat ketika ditelanjangi.
Jadi, dia bertanya lagi, "Berapa tinggi badanmu?"
Pamela mengaduk kopi di cangkirnya dengan bosan, lalu menjawab lirih, "168 senti."
Setelah mendengarnya, pria itu sangat senang. "Ya, tinggi badanmu sangat cocok denganku yang tingginya hampir 180. Ini bisa dikatakan sebagai perbedaan tinggi badan yang paling menggemaskan! Kelak, kalau kita mau berciuman, kamu harus jinjit dulu. Tapi nggak masalah. Aku bisa membungkuk untuk memudahkanmu!"
Harus diketahui bahwa, 180 senti yang terlontar dari mulut pria jelek di depannya ini paling hanya sekitar 172 senti.
Mata Pamela yang dirias tebal berkedip beberapa kali. Dia memberikan jawaban menohok, "Pak, mungkin kamu nggak tahu berapa tinggi badan seorang pria agar wanitanya harus berjinjit saat berciuman."
Pria itu mengerutkan kening dengan tidak senang. "Apa maksudmu?"
Pada saat itu, seorang pria cuek yang tingginya begitu mendominasi berjalan masuk ke dalam kafe.
Begitu Pamela mengangkat kepala, dia melihat pria yang baru masuk ke kafe itu. Kedua matanya menyiratkan keceriaan. Dia berjalan mendekati pria itu.
"Hai, ganteng. Maaf ganggu sebentar. Bisa bantu aku menunjukkan kepadanya, apa yang disebut dengan perbedaan tinggi badan yang sesungguhnya?"
Kedua alis pria itu berkerut tajam.
Sebelum pria itu menolak, Pamela meraih dasinya dan menariknya ke bawah. Sementara dia sendiri berjinjit untuk mengecup bibir pria itu dengan akurasi yang mantap ....
"Sudah kamu lihat belum? Setidaknya kamu harus setinggi dia, baru pasanganmu perlu berjinjit ketika menciummu!"
"Kamu ...."
Pria itu merasa kesal sampai marah, lalu dia berdiri menujuk Pamela dengan marah.
"Wanita nggak tahu malu! Bisa-bisanya kamu asal menarik pria untuk berciuman! Tunggu saja, nanti aku pasti akan memberi tahu agen kencan buta tentang perilaku liarmu agar nama baikmu hancur di dunia kencan buta, dengan begitu kamu nggak bisa mendapat pasangan kencan lagi! Cieh!"
Pamela malah berharap seperti itu!
Setelah kejadian hari ini tersebar, lihat saja bagaimana ibu tirinya masih bisa mencarikan pasangan kencan aneh untuknya!
Pamela berdecak jengah. Setelah berhasil mengusir pria jelek itu, dia melambaikan tangan sebagai tanda terima kasih kepada pria yang sudah membantunya.
"Paman, terima kasih sudah membantuku. Kita akan bertemu lagi kapan-kapan, sampai jumpa!"
Setelah mengatakan itu, Pamela berbalik dan berjalan pergi dengan penuh gaya. Namun, tiba-tiba pergelangan tangannya ditarik oleh sebuah tangan besar yang dingin!
Suara rendah dan dingin pria itu terdengar di telinga Pamela.
"Menciumku secara paksa, lalu ingin pergi begitu saja?"
Pamela merasakan aura dingin yang mencekam, serta rasa tertekan yang kuat. Dia mendongakkan kepalanya, wajah tampan sedingin es pun muncul di depannya.
Sungguh wajah tampan yang sempurna!
Gaya rambut pria itu terlihat dewasa karena ditata rapi. Wajah gantengnya memiliki proporsi yang sangat pas, tapi dari alisnya terlihat rasa bahaya dan kejam.
Bahaya!
Tadi Pamela hanya ingin mengusir pasangan kencan butanya. Jadi, dia memilih pria tinggi yang dia lihat, bahkan tidak memperhatikan penampilan pria itu dengan rinci.
Sekarang, setelah melihat lebih dekat, Pamela merasa kalau pria ini benar-benar sangat tampan. Kesan pertama Pamela adalah pria ini bukan pria biasa.
Pamela mengernyit.
"Jadi, apa yang kamu inginkan?"
Pria itu menatap Pamela dengan tatapan muram, bibir tipisnya bergerak pelan, seperti akan mengatakan sesuatu.
Saat ini, orang berpakaian hitam yang menunggu di sisi pria itu baru selesai mengangkat telepon. Dia berjalan dengan ekspresi muram, lalu melaporkan, "Tuan, ada perubahan situasi! Penerbangan Nona Sophia terpaksa putar balik karena cuaca buruk. Jadi, Nona Sophia nggak bisa sampai hari ini, tapi pesta pertunangan tuan diadakan di hari ini, waktu juga sangat mepet. Apa yang harus kita lakukan sekarang?"
Alis pria itu makin berkerut saat mendengar ini.
Pesta pertunangan ini berkaitan dengan hidup kakeknya!
Kakek mendesaknya menikah karena marah dia masih sendirian di usia tiga puluh tahunan, ditambah beberapa saat ini penyakit jantung kakeknya kambuh dan perlu transplantasi, baru bisa menyelamatkan hidupnya.
Namun, kakeknya berkata dia tidak akan melakukan operasi kalau Agam tidak bertunangan di hari ini dan menikah dalam tiga hari!
Sophia merupakan wanita yang dicari Agam untuk memenuhi keinginan kakeknya, tapi Sophia malah tidak bisa tiba hari ini.
Saat ini, tangan Pamela masih ditarik erat oleh pria itu sehingga Pamela merasa tidak senang. "Hei, Paman, apa kamu masih ada hal lain? Kalau nggak ada, lepaskan tanganku!"
Agam menatap Pamela dengan lekat. Gurat kebingungan melintas di bagian bawah matanya yang sipit.
Tiba-tiba, Agam berbicara dengan seringai dingin, "Karena nona ini menawarkan diri, jadi dia akan menggantikan Sophia!"
Ervin Pradipta yang merupakan asisten khusus Agam terkejut. Dia melemparkan tatapan menyepelekan ke arah Pamela, lalu menatapnya dari atas ke bawah.
Riasan wajah yang sangat tebal, rambut yang berantakan, dandanannya seperti wanita murahan. Bagaimana mungkin wanita seperti ini layak berdiri di samping tuan mudanya?!
"Tuan muda, nona ini ...."
"Dia saja!"
Ervin tidak berani memiliki pendapat lain dan langsung menjawab, "Ya!"
Pamela berfirasat buruk. Dia bertanya dengan waspada, "Apa maksud dari aku saja? Paman, apa yang akan kamu lakukan padaku?!"
Pria itu meliriknya, lalu berkata dengan nada dingin.
"Aku ingin kamu ... bertanggung jawab!"
Bertanggung jawab?
Pamela memasang ekspresi jengah.
"Paman, kamu sudah gila, ya? Aku harus bertanggung jawab karena satu ciuman? Tadi adalah ciuman pertamaku, aku saja nggak minta paman buat bertanggung jawab!"
Alis tajam pria itu terangkat dengan penuh makna. "Ciuman pertama?"
Pamela menghela napas dengan sedih. "Ya! Ciuman pertama yang sudah aku jaga selama 20 tahun, hari ini aku malah memberikannya padamu secara cuma-cuma!"
Nyali wanita ini sungguh besar!
Raut wajah Agam kembali menjadi dingin. Dia berkata dengan suara lirih, "Kemarilah. Bawa dia pergi!"
Setelah itu, Pamela dibawa oleh beberapa pria berpakaian hitam dan dimasukkan ke dalam mobil mewah berwarna hitam ....
Kota Marila.
Manor Sinar Rembukan adalah sebuah manor kelas atas di negara ini.
Hari ini, Agam Dirgantara selaku tuan muda Keluarga Dirgantara yang merupakan keluarga kelas satu, mengadakan pesta pertunangan megah di manor ini. Pesta pertunangan ini dihadiri oleh orang terkenal yang tengah berbincang sambil memegang gelas anggur di tangan.
"Nggak tahu putri keluarga mana yang sangat beruntung karena bisa menjadi wanita Tuan Agam!"
"Dia pasti putri yang sempurna dari keluarga kaya! Mana ada wanita biasa yang bisa membuat Tuan Agam tertarik!"
"Lihat, Tuan Agam sudah datang! Gila, ganteng banget ...."
"Eh, apa wanita di samping Tuan Agam adalah tunangannya yang dibicarakan banyak orang? Kenapa dia terlihat agak ...."
Tidak sama seperti apa yang dibayangkan oleh orang-orang.
Di bawah perhatian banyak orang, Agam terlihat tengah menuntun seorang gadis yang ditarik secara paksa ke tengah perjamuan.
Pembawa acara dalam pertunangan ini melangkah maju, lalu memegang mikrofon dan mulai berbicara.
"Selamat malam, para hadirin sekalian. Selamat datang di acara pertunangan Tuan Agam Dirgantara!"
Pamela dipaksa untuk berdiri di atas panggung, tapi dalam hatinya penuh rasa tidak berdaya.
Ya. Pamela memang sudah memanfaatkan pria ini tanpa izin, Pamela juga mengakui ini kesalahannya, tapi pria ini bisa melapor polisi kalau Pamela sudah melecehkannya, Pamela juga bersedia menerima hukuman apa saja.
Namun, tak disangka pria ini begitu berengsek.
Dia membawanya kemari dengan paksa untuk diajak ... bertunangan!
Bab 2
Para tamu yang datang menunjukkan berbagai ekspresi, bahkan mengatai mereka ….
"Apa ini tunangan Tuan Agam? Kenapa pakaiannya terlihat seperti gadis menor di jalanan?!"
"Bukankah seharusnya tunangan Tuan Agam adalah seorang wanita yang lemah lembut dan cantik? Apa-apaan ini?"
"Ehem, selera Tuan Agam memang unik ...."
Pamela sengaja berdandan seperti gadis jalanan untuk menakuti pasangan kencannya.
Namun, Agam tampaknya tidak peduli kalau citra "tunangan" dia dicemooh oleh banyak orang.
Bisa dibilang, dia bahkan tidak peduli bahwa seleranya dipertanyakan orang-orang. Dia malah tampak seperti sedang menonton pertunjukan orang lain.
Di bawah tatapan para tamu, Pamela bertukar cincin pertunangan dengan Agam. Dia merasa seperti ada pisau tajam yang menusuk punggungnya.
Saat pembawa acara mengatakan pertunangan selesai.
Para tamu yang hadir merasa sulit untuk menghargai tunangan Tuan Agam, tetapi demi Tuan Agam, mereka tidak berani untuk tidak bertepuk tangan dan memberikan restu.
Seketika tepuk tangan pun terdengar keras.
Saat turun dari panggung pertunangan, Pamela hanya ingin pergi dan meninggalkan tempat yang penuh dengan masalah ini.
Namun, Pamela dikelilingi oleh tiga wanita berpakaian mewah, bahkan menghalangi jalannya.
"Kamu putri dari keluarga mana?"
"Kenapa kamu datang dengan pakaian murahan seperti ini?"
"Kamu pikir kamu pantas berdiri di samping Tuan Agam dengan penampilan seperti ini?"
Pamela langsung berbalik, tidak mau menghiraukan mereka.
Namun, para wanita itu menghentikannya lagi, tidak mau membiarkannya pergi.
Dia pun kehilangan kesabaran dan melirik sekilas ke arah gaun-gaun indah yang mereka pakai, lalu berkata, "Kalian yang berpakaian secantik ini memang pantas berdiri di samping Tuan Agam, tapi maukah Tuan Agam bersama dengan kalian?"
"Kamu ...."
Ketiga wanita itu adalah putri dari keluarga yang berkuasa di Kota Marila. Mana pernah mereka menerima makian seperti itu.
Mereka makin menghalangi Pamela, menuntutnya untuk meminta maaf.
Tidak jauh dari situ, Derry Kalingga selaku anak kedua dari Keluarga Kalingga menghampiri dan bersulang dengan Agam.
"Agam, dari mana kamu dapat wanita seperti itu? Kalau sampai membawanya menemui kakekmu, kakekmu akan marah besar."
Agam menjawab dengan santai, "Kakek hanya mau menantu wanita, jadi yang dipentingkan kakek adalah wanita."
Derry mencibir, "Di dunia ini ada banyak wanita, kenapa malah pilih wanita kayak dia?"
Agam melihat ke bawah, dia mengangkat gelasnya untuk meneguk anggur merah di dalamnya, tampaknya seperti menikmati sesuatu.
"Karena mulutnya cukup manis!"
Derry terdiam, lalu dia menatap temannya yang tak pernah mau mendekati wanita dengan kaget. Kemudian, Derry berkata, "Kenapa selama ini aku nggak sadar kalau seleramu nggak biasa!"
Huarz!
Segelas anggur disiramkan ke tubuh Pamela!
Derry melihat ke arah suara itu, lalu mengerutkan alis. "Tunanganmu sepertinya diganggu. Kamu nggak mau bantu?"
Agam menyipitkan matanya. "Nggak usah!"
Derry tidak mengerti maksud Agam. Tiba-tiba, dia melihat Pamela yang berada di sana menjambak rambut seorang wanita dengan satu tangan, lalu membenturkan kepalanyanya ke wanita lainnya dengan kuat. Benturan itu benar-benar sangat keras!
Kedua wanita itu jatuh karena pusing, sementara wanita satunya sudah ketakutan.
"Kamu ... kamu ... kamu ...."
Pamela tidak menunjukkan ekspresi apa pun, juga tidak mengatakan apa-apa, hanya melambaikan tangannya ke samping.
Wanita satu lagi segera mundur, juga tidak berani menghalangi jalan Pamela lagi.
Derry pun menyeringai.
"Sepertinya aku tahu kenapa kamu memilih wanita ini!"
Sorot mata Agam begitu dalam. Dia meminum anggurnya tanpa menimpali perkataan Derry.
Wanita itu bisa mendekatinya secepat kilat tanpa dia sadari, juga menariknya dengan satu tangan untuk menciumnya secara paksa.
Kekuatannya luar biasa dan nyalinya tidak kecil. Itu yang membuatnya berbeda.
"Ervin, bawa dia ganti pakaian."
"Baik, tuan muda!"
Pamela tidak ikut Ervin untuk mengganti pakaiannya, melainkan berjalan ke arah Agam sambil memelototinya dengan marah.
"Paman, kamu kolot sekali. Aku hanya menciummu sekali saja, tapi kamu malah meminta pertanggung jawab penuhku, konsekuensi ini sungguh besar. Bolehkah aku bertanggung jawab padamu dengan cara lain? Seperti kompensasi finansial?"
Mata indah Agam yang menatap Pamela tiba-tiba menyipit, membentuk senyuman yang tidak bisa dijelaskan. "Hmm? Menurutmu berapa harga yang pantas untuk sebuah ciuman?"
Pamela terlebih dahulu mengamati wajah pria itu, kemudian menatap serius bibir tipisnya yang begitu menawan, tampaknya sedang memperkirakan harganya.
"Aku nggak tahu. Lebih baik kamu katakan saja berapa harganya. Sepertinya kamu juga sudah nggak muda lagi, jadi seharusnya ini bukan ciuman pertamamu. Sebaiknya jangan minta kompensasi lebih dari empat ratus ribu, karena aku nggak punya uang lebih dari itu!"
"Kurang ajar!"
Empat ratus ribu?
Ervin merasa bahwa wanita ini benar-benar mencari mati.
Bertunangan dengan tuan muda adalah kehormatan dalam hidupnya. Beraninya dia meremehkan tuan muda?
Agam memberi isyarat pada anak buahnya untuk mundur dengan tangan, lalu jari-jari rampingnya menekan dagu Pamela.
Agam tidak memegang dengan kuat, tetapi pegangan ini penuh rasa bahaya.
"Gadis kecil, karena kamu sudah berani melecehkanku di depan umum, kamu harus menerima konsekuensinya dengan baik! Hmm?"
Pamela mengerutkan kening, otak pria ini memang sudah rusak.
Penampilannya hari ini sangat jelek, kenapa pria ini malah tidak mau melepaskannya?
Pamela menarik sudut mulutnya membentuk senyum tipis. Matanya berkilat, lalu berkata dengan nada ketus, "Baiklah! Kalau begitu, apa sekarang aku boleh ke toilet?"
Agam tidak berkata apa-apa, hanya melirik ke arah anak buahnya, lalu memberi isyarat untuk mengantarnya ke toilet.
Beberapa menit kemudian, Ervin menghampiri Agam dengan ekspresi serius.
"Tuan muda, Nona Alister melompat keluar dari jendela toilet dan melarikan diri. Aku sudah memerintahkan pengawal untuk mengejarnya."
Agam mengenakan setelan jas rapi, bersandar di sofa dengan malas dan santai. Dia bersikap seolah-olah sudah menebak hasil ini. Wajah tampannya yang dingin tidak menunjukkan perubahan apa pun. Dia mengguncang pelan gelas anggur merah di tangannya.
"Nggak perlu. Cari tahu alamat rumah wanita itu, lalu suruh orang untuk mengantar mahar padanya!"
"Baik!"
Derry sudah cukup melihat drama itu, jadi ingin menasihati temannya ini, "Agam, kamu benar-benar mau menikah dengan gadis kecil yang nggak bisa dikendalikan itu? Sebenarnya ...."
Agam menjawab dengan penuh makna, "Wanita seperti itulah yang cocok untuk posisi itu."
...
Hari sudah larut malam ketika Pamela pulang ke rumah.
Begitu masuk ke dalam rumah, ayahnya, Darius Alister, langsung menamparnya.
"Masih berani pulang?!"
Pamela melangkah mundur dengan gesit untuk menghindari tamparan itu.
Darius makin marah ketika tamparannya tidak menemui sasaran.
"Pamela, ibumu susah payah memilihkan pria baik-baik untukmu, kamu malah pergi kencan buta dengan pakaian seperti ini! Kamu juga menarik seorang pria dan menciumnya di depan umum. Harga diri Keluarga Alister hancur karena sikap liarmu! Kamu membuat ibumu disalahkan oleh agen kencan buta! Cepat berlutut dan minta maaf pada ibumu!"
Pamela memasukkan tangannya ke dalam saku jaketnya, lalu menimpali dengan tatapan dingin, "Dia bukan ibuku!"
Dia hanya seorang ibu tiri, ibu tiri yang mencoba segala cara untuk menikahkan dia secepat mungkin agar dia tidak mendapatkan kekayaan Keluarga Alister!
Wulan berkata dengan kebaikan palsu, "Darius, aku baik-baik saja. Jangan marah sama Pamela. Dia masih muda dan nggak tahu apa-apa. Itu semua salahku karena nggak bisa melakukan tugas seorang ibu sambung dengan baik ...."
Darius malah tidak tega kepada Wulan karena Wulan masih membela Pamela yang sudah berbuat salah.
Dia menoleh dan lanjut memarahi Pamela, "Anak nggak tahu bersyukur! Selama ini Wulan memperlakukanmu dengan baik, tapi kamu nggak mau memanggilnya ibu!"
Wulan menyeka air mata palsunya dan membujuk dengan ekspresi pasrah, "Darius, sudah, sudah! Nggak masalah kalau dia memanggilku Tante Wulan. Aku nggak keberatan, kok!"
Melihat akting Wulan, Pamela tidak terkejut.
Wanita tua yang sok baik ini memang paling pandai berakting sedih. Dia bermuka dua. Baik di depan, buruk dibelakang.
Selama ini, Darius sudah tertipu oleh kecantikannya, jadi dia tidak mengetahui sifat aslinya!
Sambil menyerahkan setumpuk informasi kepada Darius, Pamela berkata, "Ayah, ini informasi asli dari semua pasangan kencan buta yang Tante Wulan atur untukku. Ayah bisa lihat dulu. Kalau ada yang membuat ayah tertarik, aku akan menikah dengannya!"
Darius terkejut. Dia mengambil dokumen itu dan membacanya. Setelah itu, ekspresi wajahnya berubah menjadi muram.
Bab 3
Semua pria yang ada di dokumen itu berpenampilan jelek, usia mereka sekitar empat puluh tahun. Kebanyakan dari mereka tidak memiliki pekerjaan yang layak!
Darius memelototi Wulan. "Bahkan ada yang usianya hampir menyamaiku! Wulan, bagaimana bisa kamu mengenalkan pria-pria tua seperti itu pada Pamela!"
Wulan terlihat canggung, jelas-jelas dia sudah menyuruh orang untuk mengedit foto dan riwayat pria-pria itu.
Tak disangka Pamela si gadis sialan ini memiliki kemampuan untuk memeriksa informasi asli pria-pria itu!
Wulan langsung menunjukkan wajah sedih dan berkata, "Darius, aku nggak tahu kenapa bisa begini. Pria-pria yang aku pilihkan untuk Pamela adalah pria terbaik. Pihak agen kencan buta pasti sudah berbohong tentang informasi mereka!"
Pamela merasa lucu. "Tante Wulan, kamu bahkan nggak memverifikasi keaslian informasi pria itu, sudah bilang kalau mereka pria terbaik? Karena aku bukan putri kandungmu, jadi kamu nggak serius mengurus masalah pernikahanku? Ayah, kalau aku benar-benar menikah dengan pria tua seperti itu, apa ayah akan merasa bangga?"
Wulan segera menyusun kata-kata untuk menjelaskan, "Nggak, bukan begitu ...."
Namun, Darius tidak mau mendengarnya, dia melemparkan dokumen itu ke wajah Wulan dengan kecewa.
"Cukup! Mulai sekarang, pernikahan Pamela nggak perlu diurus kamu! Kartu kreditmu akan dihentikan dari bulan ini. Jangan sering keluar dan buang-buang uang. Tinggallah di rumah dan renungkan kesalahanmu!"
Wajah Wulan memucat. Dia segera berkata, "Darius, kamu benar-benar salah paham denganku ...."
Darius tidak lagi peduli padanya, dia menatap putri bungsunya dan berkata dengan rasa bersalah, "Pamela, akhir-akhir ini, kamu pasti sangat menderita karena bertemu banyak pria tua. Kelak , kamu nggak perlu pergi kencan buta."
Pamela tersenyum. "Terima kasih, ayah."
Setelah Darius naik ke lantai atas, Wulan memasang tampang galak dan menatap tajam ke arah Pamela!
Setelah Pamela merasakan tatapan marah Wulan, Pamela tetap berkata dengan tenang, "Oh ya, Tante Wulan, aku lupa bilang. Menurutku pria-pria terbaik yang tante pilih secara pribadi pasti akan jadi menantu yang tante sukai. Jadi, aku memberikan nomor pribadi Kak Jovita kepada pria-pria yang tante bilang terbaik itu. Semoga Kak Jovita bisa menjalin hubungan bahagia dengan mereka!"
Wulan mengertakkan gigi dan berkata dengan marah, "Apa? Ber ... beraninya kamu berbuat seperti itu?!"
Jovita adalah aktris populer. Mana mungkin pria rendahan itu pantas menghubungi Jovita!
Pamela tidak peduli lagi dengan Wulan. Dia menguap sambil naik ke lantai atas untuk tidur.
Wulan memaki Pamela dalam hati. Dia ingin kembali ke kamarnya untuk membujuk Darius agar tidak menghentikan kartu kreditnya, tetapi bel pintu malah berbunyi!
Siapa yang datang di waktu selarut ini?
Ketika membuka pintu, Wulan melihat seorang pria yang mengenakan jas, juga ada banyak pria berpakaian hitam di belakangnya. Mereka datang membawa banyak barang dengan berbondong-bondong.
Ketika ada banyak orang asing tiba-tiba datang di waktu selarut ini, Wulan menjadi waspada. Dia berkata, "Si ... siapa yang kalian cari?"
Ervin berkata, "Halo, Nyonya Alister. Kami kemari untuk mengantarkan mahar pada Nona Alister atas perintah tuan muda!"
"Mahar? Mahar apaan? Siapa tuan muda yang kalian maksud?"
"Tuan muda kami bernama Agam Dirgantara."
Mata Wulan terbelalak ketika pengunjung itu menyebutkan nama tuan mudanya dengan jelas.
"Agam ... Agam Dirgantara? Apa yang kalian maksud adalah Tuan Agam dari keluarga kelas satu Keluarga Dirgantara?"
Ervin menjawab, "Benar."
Wulan bertanya, "Maksud kalian, Tuan Agam tertarik dengan putriku?"
Ervin memasang raut wajah rumit. Setelah ragu-ragu sejenak, dia berkata, "Nggak masalah kalau nyonya ingin mengartikannya seperti itu."
Wulan berpikir bahwa putrinya, Jovita Alister adalah seorang aktris yang populer, cantik dan manis. Wajar saja jika seorang tuan muda dari keluarga yang berkuasa suka padanya.
Namun, identitas pelamar yang ingin melamar putrinya terlalu besar. Mereka bahkan datang dengan membawa mahar. Bukankah ini terlalu mendadak!
Melihat Wulan tidak memberikan jawaban dalam waktu yang lama, Ervin bertanya, "Apa Nyonya Alister nggak setuju dengan pernikahan ini?"
Wulan baru sadar dari lamunannya dan langsung menggelengkan kepalanya. Dia menjawab, "Bukan begitu. Hanya saja, sekarang putriku sedang nggak di rumah. Untuk hal sebesar ini, lebih baik menunggunya kembali sebelum ...."
Ervin menyela, "Nyonya Alister, putri nyonya sudah menerima cincin pertunangan dari tuan muda. Sekarang, nyonya hanya perlu menerima maharnya."
Apa?
Jovita sudah menerima cincin dari Tuan Agam? Kalau begitu, apa Wulan bisa mengartikan mereka berdua sudah menjalin hubungan yang lama?
Jovita ini benar-benar nakal, bisa-bisanya tidak memberi tahu mereka kalau dia mendapatkan pacar sebaik Tuan Agam!
Wulan tidak berani mengabaikan tamu terhormat ini, jadi dia buru-buru mempersilakan Ervin masuk.
Ervin tidak masuk, hanya memberi isyarat kepada anak buahnya untuk membawa masuk mahar ke dalam rumah.
"Tiga hari lagi, tuan muda akan datang untuk menikahi Nona Alister."
Wulan terkejut. "Hah? Tiga hari lagi? Bu ... bukankah itu terlalu terburu-buru?"
Ervin berkata, "Nyonya Alister, jangan khawatir. Tuan muda sudah menyiapkan semua yang dibutuhkan untuk pernikahan. Semuanya akan diadakan secara mewah. Nona Alister nggak akan dirugikan."
Semuanya serba mewah?
Tuan Agam benar-benar sangat royal kepada Jovita!
Ketika Jovita menikah dengan Agam, dia akan menjadi ibu mertua Tuan Agam. Dia tidak perlu khawatir tentang kekayaan dan kehormatannya.
Siapa pun yang bertemu dengannya akan bersikap hormat kepadanya.
Memikirkan hal ini sudah membuat hati Wulan sangat gembira.
"Baik! Tiga hari lagi, keluarga kami akan siap untuk mengantarkan putri kami untuk menikah!"
Ervin menganggukkan kepala, lalu pamit, "Kalau begitu aku pamit dulu. Sampai jumpa."
Darius keluar ketika mendengar keributan di luar. Dia bertanya, "Siapa? Apa ... apa-apaan ini?"
Hati Wulan berdebar-debar ketika dia menyentuh mahar mahal ini dan sangat menghargai semua mahar ini.
"Darius, ada kabar gembira. Tuan Agam dari Keluarga Dirgantara menyukai Jovita. Ini semua mahar dari Keluarga Dirgantara yang diberikan kepada Jovita. Semuanya sangat mahal!"
Darius menatap kosong ke arahnya, lalu bertanya, "Apa? Agam? Maksudmu Agam Dirgantara yang baru kembali dari luar negeri? Agam pimpinan Perusahaan Dirgantara?"
Wulan mengangguk berkali-kali, lalu menjawab, "Ya! Dia!"
Darius menutupi dadanya karena takut terkena serangan jantung akibat kaget.
"Astaga! Nggak disangka Jovita bisa disukai Tuan Agam!"
Wulan menjawab dan tidak bisa menyembunyikan rasa bangganya, "Lihat dulu Jovita anak siapa!"
"Wulan, kamu melahirkan anak yang punya masa depan cerah!"
"Cih, sekarang kamu memujiku? Barusan kamu bilang mau membekukan kartu kreditku!"
"Hei, itu karena barusan aku marah padamu. Pamela memang bukan putri kandungmu, tapi kamu nggak bisa minta dia pergi kencan buta dengan pria tua seperti itu!"
"Aku nggak sengaja. Pamela dibesarkan di pedesaan, jadi punya sifat liar dan temperamen yang buruk. Aku cuma mencarikan pasangan yang lebih tua darinya biar bisa mentolerirnya. Tapi, orang agen kencan buta malah membohongiku tentang informasi itu!"
"Wulan, aku yang salah. Aku yang salah karena sudah salah paham padamu!"
Setelah berhasil membujuk Darius dengan beberapa kalimat, Wulan menjadi sangat gembira.
Pamela si gadis tengik itu ingin bertarung dengannya?
Dia masih terlalu muda untuk bisa menang darinya!
Namun, Jovita akan segera menikah dengan Agam Dirgantara. Masa-masa indah mereka berdua akan segera tiba!
Siapa yang punya waktu untuk meladeni Pamela!
Keesokan paginya, Wulan menelepon putri kesayangannya, Jovita dan menyuruhnya untuk segera pulang.
Jovita menggerutu dengan tidak senang begitu memasuki rumah, "Bu, kenapa minta aku pulang cepat-cepat? Nanti sore, aku masih harus syuting!"
"Tentu saja ini tentang pernikahanmu dengan tuan muda Keluarga Dirgantara!"
"Pernikahan? Pernikahan apa? Aku nggak kenal tuan muda Keluarga Dirgantara!"
Melihat putrinya yang terlihat seperti tidak tahu tentang hal itu, hati Wulan menjadi dingin. Dia langsung menceritakan semua kejadian tentang ada banyak orang datang ke rumah dan ingin melamar putrinya.
"Jovita, bagaimana mungkin kamu nggak kenal tuan muda Keluarga Dirgantara? Bukankah kamu sudah menerima cincin pertunangan yang diberikan oleh tuan muda Keluarga Dirgantara?"
Bab 4
Selesai ibunya bicara, Jovita masih bingung.
"Cincin? Kapan aku pernah menerima ... oh, oh ya! Bu, aku ingat. Kemarin ada penggemar tanpa nama kasih cincin berlian yang dikirimkan melalui kurir! Aku takut media akan membesar-besarkannya kalau mereka melihatnya, jadi aku menyimpannya dan nggak bawa pulang cincinnya!"
Wulan sangat senang ketika mendengarnya.
"Kalau begitu, Tuan Agam pasti sudah menyukaimu sejak lama dan mengejarmu dengan mengatasnamakan penggemarmu! Ibu sudah mencari tahu dan orang yang kemarin datang untuk memberi mahar memang asisten pribadi Tuan Agam!"
"Jovita, Keluarga Dirgantara adalah keluarga hebat. Tuan Agam juga sangat tulus. Nggak salah kamu menikah dengannya!"
Tuan Agam ....
Jovita hanya tersipu malu hanya dengan memikirkannya.
Dia belum pernah bertemu dengan Tuan Agam, tapi dia pernah mendengar Agam Dirgantara yang berasal dari Keluarga Dirgantara yang hebat itu. Dia merupakan raja di dunia bisnis!
Dia tidak pernah menyangka kalau Tuan Agam adalah penggemar beratnya, juga ingin menjadi suaminya. Dia cukup gila karena sampai datang langsung ke rumah dan melamarnya. Ini semua karena pesonanya terlalu besar.
...
Sorenya.
Pamela kembali dari luar sambil memegang bingkai foto di tangannya. Dia masuk ke dalam rumah, mengganti sandalnya dan langsung naik ke atas.
Kebetulan Jovita sedang turun dan sengaja menghalanginya.
"Apa yang ada di tanganmu? Apa kamu mencuri perhiasan dari mahar milikku?"
Pamela menghentikan langkah kakinya dan berkata lirih, "Ini barang pribadiku."
"Cih, ngomong doang. Lepaskan dan biarkan aku melihatnya!" Jovita selalu tidak suka pada adiknya yang dibesarkan di desa. Dia merasa kalau keberadaan Pamela telah menjatuhkan Keluarga Alister, jadi dia tidak pernah menghormatinya.
Setelah itu, dia mengulurkan tangan dan merebut benda yang Pamela lindungi dalam pelukannya.
"Wah! Aku pikir harta karun macam apa. Ternyata foto ibumu yang wanita simpanan!"
Ibunya bukanlah seorang wanita simpanan!
Pamela mengulurkan tangan untuk mengambil bingkai itu, tapi Jovita sengaja menjatuhkan bingkai itu ke lantai.
"Ups! Maaf, tanganku licin!"
Melihat bingkai foto yang terinjak Jovita, mata Pamela memerah.
Itu adalah foto lama ibunya yang berhasil dia temukan di album foto lama Keluarga Alister. Hari ini, dia mengambilnya untuk memperbaiki dan memperbesar fotonya. Dia akan menaruhnya di kamar sebagai hiasan meja.
Pamela yang marah mencengkeram baju Jovita dan berkata dengan nada dingin, "Ambil foto itu!"
Jovita melawan tanpa takut, "Beraninya kamu menyentuhku? Biar kuberitahu! Aku akan segera menjadi nyonya muda Keluarga Dirgantara. Kalau kamu macam-macam denganku, Keluarga Dirgantara akan membuatmu menderita!"
Pamela terkejut. Tunggu, Keluarga Dirgantara?
Kemarin, pria yang telah menyeretnya secara paksa ke pesta pertunangan juga memiliki marga yang sama. Sekarang, dia bergidik ngeri saat mendengar marga Dirgantara.
"Maksudmu Keluarga Dirgantara selaku keluarga hebat itu?"
Jovita menjawab dengan bangga, "Benar sekali! Kenapa? Kamu takut? Tuan Agam dari Keluarga Dirgantara adalah penggemarku dan ingin melamarku. Barang-barang di sana itu adalah mahar yang diberikan Keluarga Dirgantara untukku. Lebih baik kamu nggak menyentuhnya. Kalau kamu membuatnya rusak, kamu pasti nggak mampu ganti rugi."
Pamela menoleh dan melihat mahar yang ditunjuk oleh Jovita. Dia tertegun, seakan-akan telah menduga sesuatu.
Apa dia gila?
Pria itu datang ke rumahnya untuk memberikan mahar!
Setelah memikirkannya, Pamela berkata pada Jovita dengan mata berbinar, "Kalau begitu, aku harus mengucapkan selamat padamu. Tapi, apa kamu pikir keluarga besar seperti Keluarga Dirgantara bisa menerima menantu seorang aktris yang memiliki banyak skandal? Apa kamu pikir mereka akan menjadikanmu sebagai nyonya muda mereka?"
Jovita yang tersindir langsung berteriak marah, "Kamu nggak perlu khawatir! Tuan Agam sangat mencintaiku, jadi dia akan melindungiku dengan baik!"
"Benarkah?"
Pamela tersenyum dan tidak berkata apa-apa.
Kemudian, Pamela mengambil foto ibunya dan menepuk-nepuk debu yang menempel di foto tersebut, dia berbalik dan naik ke atas.
Dia masih khawatir bagaimana caranya keluar dari masalah setelah terjebak dengan pria yang diciumnya kemarin. Karena Jovita sangat ingin menikah dengannya, masalah itu akan teratasi.
Jovita berdecak ketus mulai mengkhawatirkan sesuatu.
Kata-kata Pamela si gadis desa itu bukannya tidak masuk akal. Keluarga Dirgantara adalah keluarga hebat dan dia hanyalah seorang aktris yang tidak terlalu populer. Akan buruk jika anggota Keluarga Dirgantara mengetahui skandalnya, lalu memiliki kesan buruk terhadapnya.
Dengan pemikiran ini, Jovita memutuskan untuk segera keluar dari dunia hiburan ini!
Dibandingkan dengan menjadi nyonya muda Keluarga Dirgantara, hasil yang didapatkan dengan menjadi aktris tidak seberapa.
Jovita baru mau menelepon perusahaan untuk memberitahukan tentang pengunduran dirinya, tetapi tiba-tiba ponselnya berdering dulu.
Entah mengapa akhir-akhir ini dia mendapat begitu banyak telepon yang mengganggu. Awalnya dia tidak berniat mengangkatnya.
Namun, ketika melihat nama "pria pemberi uang" yang baru berhasil dia dekati, Jovita pun memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengannya, jadi Jovita mengangkat teleponnya.
"Sayang, kamu di mana? Aku kangen sekali padamu. Malam ini datang ke hotel, ya! Temani aku!"
Jovita berkata dengan jijik, "Jangan panggil aku sayang. Tua bangka yang nggak tahu jijik, bikin jijik saja!"
"Apa katamu? Aku menjijikkan? Kamu lupa seperti apa kamu memohon padaku agar kamu bisa menang Penghargaan Lotus untuk pemeran utama wanita berikutnya!"
Jovita tidak peduli. "Aku sudah keluar dari dunia hiburan! Aku nggak peduli lagi dengan pemeran utama Penghargaan Lotus atau apa pun itu. Kamu bisa kasih sama siapa pun yang kamu mau! Jangan menghubungiku lagi!"
Di ujung telepon, pria tua itu sangat marah hingga wajahnya berubah menjadi masam.
Dia sudah membelikan wanita ini cincin berlian dan mengirimnya melalui pengiriman kilat. Akan tetapi, wanita sialan ini malah memakinya setelah menerima cincin yang dia berikan!
Wanita tidak tahu diri! Jangan harap dia bisa berkecimpung di dunia hiburan lagi! Tunggu saja, dia akan diboikot!
...
Tiga hari kemudian.
Keluarga Alister mengadakan pesta pernikahan untuk putrinya. Teman-teman serta keluarga datang untuk memberi selamat.
Wulan sengaja meminta Darius untuk membuat pesta yang besar. Dia ingin menikahkan Jovita dengan mengadakan pesta yang meriah.
"Lihat, itu iring-iringan pengantin dari Keluarga Dirgantara! Megah sekali. Pantas mereka jadi keluarga hebat. Semua mobil yang datang sangat mewah dan edisi terbatas!"
"Aku cuma pernah melihat mobil itu di majalah. Harganya bisa beli sepuluh mobil Toyota!"
"Aku iri banget sama Kak Jovita. Dia bisa menikah sama orang hebat seperti Tuan Agam!"
Mendengar seruan dan sanjungan dari kerabat, serta teman-temannya, Jovita yang sudah mengenakan gaun pengantin merasa sangat puas. Dia bangga sekali.
Omong-omong, tidak ada yang melihat Pamela keluar. Mungkin dia sedang bersembunyi di suatu tempat karena iri padanya.
Cih, biarkan dia iri saja! Iri pun tidak akan membuat dia mendapatkan apa yang dia inginkan!
Jovita sudah tidak sabar untuk bertemu dengan calon suaminya. Kira-kira pria seperti apa Tuan Agam ini?
Dia pasti sangat tampan. Nanti, pria itu akan berlutut di hadapannya dan menyatakan cintanya di bawah tatapan iri semua tamu yang datang.
Iring-iringan mobil pengantin berhenti di depan kediaman Keluarga Alister.
Tubuh Agam yang tinggi dan tegap melangkah keluar dari mobil pengantin utama. Dia memancarkan kesan megah dan elegan.
Ervin memberi isyarat kepada para pengiring pengantin pria yang sudah mengenakan setelan jas untuk keluar dari mobil yang lain, lalu mengikuti tuan muda menuju gerbang kediaman Keluarga Alister.
Tiba-tiba, Agam sang mempelai pria menghentikan langkah kakinya dan mendongak ke atas. Matanya yang tajam memindai atap rumah Keluarga Alister!
Di balkon kecil tidak jauh di sana, seorang wanita yang mengenakan piama tengah berdiri di sisi pagar dan melihat iring-iringan yang datang.
Hanya menatap Agam sebentar saja, wanita itu lekas berbalik dan menghilang.
Pamela merasakan bahaya. Saat dia melihat iring-iringan dari balkon, dia melihat kalau Tuan Agam menemukan keberadaannya!
Namun, hari itu dia mengenakan riasan sangat tebal. Saat ini, dia sudah menghapus riasannya. Seharusnya Tuan Agam tidak bisa mengenalinya, 'kan?
Untuk berjaga-jaga, bukan ide yang baik untuk tinggal di rumah. Jadi, dia harus pergi.
Di lantai bawah, melihat Agam tiba-tiba berhenti, Ervin dibuat bingung. Dia menghampiri Agam, lalu berkata, "Tuan muda, rumah Keluarga Alister ada di depan. Kalau Tuan nggak masuk, tuan mungkin akan melewatkan waktu yang baik untuk melangsungkan pernikahan."
Bab 5
Agam mendongakkan kepalanya. Dia menyipitkan matanya untuk menatap tajam balkon kecil yang saat ini sudah kosong.
Setelah diam beberapa saat, dia memberi perintah dengan suara lirih, "Bawa mereka masuk dulu!"
Ah, ini ....
Ervin tercengang, tetapi dia tidak berani mempertanyakan perintah Agam. Jadi, dia melambaikan tangan kepada pengiring pengantin di belakangnya.
"Kalian ikut aku masuk dulu!"
Suasana berubah ramai saat rombongan pengiring pengantin dari Keluarga Dirgantara dihalangi oleh pengiring pengantin Keluarga Alister di pintu masuk untuk saling bertukar pantun.
Tidak ada yang menyadari kalau pengantin pria yang sebenarnya malah pergi ke pintu belakang kediaman Keluarga Alister.
Pintu belakang kediaman Keluarga Alister.
Seorang wanita menyelinap keluar dengan langkah santai tanpa memperhatikan sekitarnya, sambil menyenandungkan lagu pernikahan.
Baru melangkah beberapa langkah, bagian belakang kerah lehernya ditarik oleh sesuatu dan tubuhnya terangkat. Kakinya menjuntai di udara, seperti ayam yang mau disembelih.
"Mau lari?"
Suara pria itu sangat rendah dan magnetis, tetapi menyalurkan bahaya yang kuat saat terdengar di telinga.
Punggung Pamela tepat menghadap orang yang mengendap-endap ke arahnya. Dia langsung mengenali siapa pemilik suara itu. Dia adalah Agam!
Dengan pandangan sekilas dari jauh, Agam benar-benar telah mengenalinya!
Akan tetapi, semua itu tidak masalah. Pamela sudah menyiapkan rencana keduanya.
Pamela menoleh ke arah Agam yang berada di belakangnya dan berkata terbata-bata, "Pa ... Paman. Kamu ... siapa? Ke ... kenapa ... kamu menarikku?"
Melihat wanita itu menoleh kepadanya, Agam tertegun. Dia melihat wajah yang sangat jelek. Sontak, cengkeraman tangannya terlepas.
Wanita di depannya memiliki tahi lalat yang sangat besar di wajahnya. Alisnya dan bibirnya sangat tebal, bahkan matanya dirias dengan perona mata warna-warni.
Penampilan jeleknya sangat khas, bahkan jauh lebih jelek dan unik dari pemeran terjelek yang pernah muncul di film.
Pamela melihat bahwa ekspresi Agam berubah ketika melihat wajah jeleknya. Dalam hati, dia merasa senang!
Dia berpura-pura bodoh dan berkata, "Paman datang kemari untuk menjemput pengantin? Paman salah masuk. Paman harus lewat pintu depan. Pengantin paman sudah menunggu di dalam!"
Agam menyipitkan matanya dan menatap dingin pada wanita buruk rupa di depannya, hampir percaya dengan kebohongannya.
Sudut bibir tipis pria itu terangkat membentuk seringai, lalu berkata dengan pelan, "Benarkah? Tapi kenapa kamu pakai cincin tunangan milik Keluarga Dirgantara?"
Setelah mengatakan itu, Agam menarik tangan Pamela dan mengangkatnya. Dia mengamati cincin berlian di jari manisnya dengan tatapan dingin!
Pamela terdiam tidak tahu harus menjawab apa, "..."
Gawat! Semuanya benar-benar berakhir!
Bukannya dia ceroboh atau lupa melepasnya, tetapi cincin ini memang sudah melekat erat di tangannya. Dia tidak bisa melepaskannya bahkan setelah menggunakan sabun!
Mata tampan Agam menatapnya dengan dalam. Dia bisa melihat apa yang Pamela pikirkan dan kembali berbicara untuk menjawab keraguan di dalam benak Pamela.
"Nggak usah menyia-nyiakan tenagamu. Cincin itu terbuat dari platina yang dicampur dengan bahan khusus. Membutuhkan minyak esensial khusus untuk melumasinya biar bisa dilepas."
Pamela menggertakkan giginya karena marah. Benar-benar menyesatkan!
Baiklah! Karena tidak bisa mengelak, dia akan mengakuinya!
"Paman, terus terang saja. Aku tahu paman nggak benar-benar ingin menikah denganku. Paman cuma butuh istri di atas kertas untuk beberapa alasan, 'kan?"
Agam tidak menjawab, merasa kalau wanita ini cukup cerdas.
Pamela mengerucutkan bibirnya dan berkata, "Begini saja, kakakku yang bernama Jovita sangat bersedia menikah denganmu. Dia lebih cantik dariku, memiliki tubuh langsing. Paman nggak bakal rugi kalau menikah dengannya!"
Agam menyipitkan matanya. Gadis ini sepertinya benar-benar tidak ingin menikah dengannya.
Dia bahkan menghindarinya?
Gadis ini memberinya kesan menarik.
Selama ini, ketika para wanita melihat Agam, mereka akan melakukan semua yang mereka bisa untuk mendapatkan perhatian Agam dan menjadi wanitanya!
Namun, yang Agam inginkan adalah wanita yang tidak akan mengganggu dan merepotkannya.
Bibir tipis Agam terangkat membentuk seringai. Lalu, dia berkata, "Wanita yang akan aku nikahi adalah wanita yang di tangannya ada cincin ini."
Pamela mengerutkan kening, lalu menjawab, "Gampang kalau begitu. Ambilkan minyak esensial khusus yang kamu bilang itu. Aku akan mengeluarkannya dan mengembalikannya padamu. Kamu tinggal memakaikannya ke tangan Jovita!"
Agam menjawab, "Aku nggak punya."
"Kalau begitu pergi dan belilah!"
"Produknya sudah nggak dijual lagi. Nggak akan bisa kebeli!"
"Oh, begitu ...." Pamela menggertakkan giginya, lalu tersenyum. Dia menyentakkan tangannya ke atas untuk menunjuk ke belakang pria itu, "Paman, lihat! Ada sapi terbang!"
Wajah serius Agam tertarik sambil tersenyum.
Kekanak-kanakan.
Detik berikutnya, Pamela yang berniat melarikan diri tiba-tiba ditarik dari belakang oleh pria itu. Tubuhnya terangkat dan Agam membawanya pergi tanpa memedulikan posisi Pamela.
Pamela masih mengentakkan kakinya untuk melawan.
...
Di sisi lain, Ervin baru saja masuk ke ruang tamu Keluarga Alister dengan rombongan pengiring pengantin pria. Tiba-tiba, ponselnya berdering. Ternyata panggilan dari Agam.
Dia menghentikan langkah kakinya, menjawab telepon dengan hormat. Ekspresi Ervin terlihat serius. Setelah itu, dia berbalik diikuti oleh pengiring pengantin lainnya.
Melihat hal ini, Wulan yang sedang merasa bangga terkejut. Dia buru-buru mengejarnya dan bertanya padanya, "Permisi, Tuan Ervin. Pengantin wanita sedang menunggu di dalam. Kalian mau ke mana?"
Ervin menatap Wulan dan berkata, "Tuan muda sudah bertemu dengan pengantin wanita secara langsung."
Wulan bingung, "Sudah bertemu? Nggak mungkin! Jovita masih di dalam rumah!"
Ervin menjawab sambil mengerutkan kening, "Jovita? Nyonya, sepertinya nyonya salah paham. Nona Alister yang akan dinikahi tuan muda bukan bernama Jovita!"
Setelah mengatakan itu, Ervin dengan dinginnya melewati Wulan dan pergi bersama pengiring pengantin pria lainnya tanpa menoleh ke belakang.
Wulan tertegun di tempat, wajahnya pucat pasi.
Apa?
Pengantinnya salah?
Keluarga dan teman-teman yang hadir mulai mengatai mereka ....
Darius yang baru saja dikelilingi oleh sanak saudaranya dan disanjung oleh mereka, kini menjadi bahan olok-olok!
Darius kehilangan harga dirinya. Raut wajahnya benar-benar terlihat sangat masam. Begitu menoleh, dia melampiaskan kemarahannya pada Wulan yang telah memintanya untuk merayakan pernikahan ini secara besar-besaran.
"Wulan! Apa yang terjadi?! Bukankah kamu bilang kalau orang yang akan dinikahi Tuan Agam adalah Jovita?"
Wulan menjawab dengan polos, "Aku ... aku nggak tahu kenapa bisa seperti ini! Hari itu, ketika orang dari Keluarga Dirgantara datang untuk mengantarkan mahar, dia bilang mau menikahi putri kita. Dia bahkan mengirimkan maharnya ke rumah. Darius, bukankah kamu juga lihat sendiri?"
Darius langsung menampar Wulan dengan keras.
"Kamu mempersiapkan segalanya tanpa memastikan dulu. Harga diri Keluarga Alister sudah dipermalukan olehmu!"
Sementara Jovita yang tidak kunjung bertemu dengan mempelai prianya juga mendengar keributan di luar. Dia keluar dari kamarnya sambil menyeret gaun pengantinnya untuk menanyakan apa yang terjadi.
"Ayah ... Ibu! Apa yang kalian lakukan?! Di mana mempelai prianya? Mana Tuan Agam?"
"Jovita, orang-orang Tuan Agam mengatakan kalau ada kesalahan. Mereka sudah bertemu dengan pengantin wanita dan pergi begitu saja!"
Jovita terkejut. "Apa? Ibu, bagaimana bisa ada kesalahan untuk hal seperti ini? Bukankah Tuan Agam akan menikahiku?"
Wulan menutupi wajahnya yang terluka akibat tamparan Darius, lalu menjawab, "Jovita, jangan salahkan aku. Pikiran aku juga sedang kacau ...."
Mereka yang sejak awal tidak menyukai kelakuan jahat Wulan dan Jovian dari Keluarga Alister ini pun mulai mencibir.
"Jovita, masalahnya sudah begini. Jangan terlalu percaya diri. Kalau dipikir-pikir, kamu juga pasti tahu, bagaimana mungkin orang sehebat Tuan Agam bisa menikahi aktris yang banyak gosip sepertimu!"
"Aku juga penasaran, bagaimana mungkin kamu bisa menjalin hubungan dengan Keluarga Dirgantara yang merupakan keluarga terbaik itu. Ternyata itu hanya khayalanmu saja!"
"Jovita, sebaiknya kamu kembali syuting saja! Lagi pula, hanya di drama kamu bisa menikah dengan pria kaya yang kamu inginkan! Hahaha ...."
Jovita tidak tahan dengan cibiran memalukan dari kerabatnya. Dia memelototi Wulan dengan sinis, lalu menyembunyikan diri di kamarnya.
Dia sangat kesal! Dia sudah tidak punya keberanian untuk bertemu orang lain setelah ini!
Akan tetapi, kenapa bisa terjadi kesalahan seperti ini?
Bukankah Tuan Agam sudah memberinya cincin?
Tidak.
Dia tidak percaya, dia tidak percaya! Wanita mana yang dibawa pergi oleh Tuan Adam?
Siapa dia?
Apa dia juga bermarga Alister dan tinggal di sekitar sini?
Bab 6
Sinar matahari terbit mulai turun di ujung barat dan malam mulai menyelimuti bumi.
Keluarga Dirgantara.
Ranjang baru yang besar sudah tertata rapi di kamar pengantin yang tak kalah besarnya.
Setelah Pamela dibawa ke kediaman Keluarga Dirgantara, Agam menyerahkannya kepada beberapa pelayan dan memerintah beberapa pelayan itu.
"Bawa dia pergi untuk didandani!"
Para pelayan mengerumuninya, mulai dari membasuh dan merias wajahnya, lalu memakaikannya gaun pengantin dan menutup kepalanya dengan tudung pengantin berwarna putih.
Setelah kepalanya ditutup dengan tudung pengantin, Pamela hanya bisa melihat warna putih di depan matanya. Saat menunduk, Pamela akan melihat sepatu kulit yang indah dan mahal milik pria di depannya.
Nada rendah pria itu terdengar di telinganya, "Bersikap patuhlah. Aku nggak akan melakukan apa pun padamu."
Katanya seperti sedang menenangkannya, tetapi penuh dengan tekanan yang tak terlihat.
Pada saat ini, Pamela sudah tahu dengan jelas bahwa, melarikan diri pun tidak akan membuatnya lepas dari jerat pria ini.
Karena pria ini bisa menemukan rumahnya dengan tepat, jadi mau Pamela pergi ke mana pun juga bisa di temukannya!
Pamela menggertakkan giginya. "Baiklah, aku akan patuh. Lagian aku duluan yang mencari masalah, jadi aku harus menanggung konsekuensinya! Tapi, kamu harus memberitahuku kalau aku harus berapa lama bekerja sama denganmu? Tiba waktunya, kita akan berpisah dan nggak mengganggu satu sama lain!"
Agam juga tidak tertarik padanya, jadi dia menjawab dengan nada dingin, "Tiga bulan."
Agam juga tidak ingin ada hubungan lama dengan wanita ini. Waktu tiga bulan sudah cukup untuk kakek memulihkan kesehatannya setelah operasi.
"Baik, aku setuju!"
Pamela masih bisa menerima waktu yang tak lama ini, jadi dia berinisiatif menggenggam tangan Agam.
"Ayo, Paman. Ayo, kita pergi menikah!"
Agam tercengang sejenak, lalu pupil matanya bergerak dan melihat tangannya yang digenggam Pamela.
Agam tidak suka ada kontak fisik, tapi kali ini dia tidak merasa jijik dengan genggaman Pamela.
Tangan Pamela sangat kecil dan lembut.
...
Pesta pernikahan yang diadakan Keluarga Dirgantara bergaya tradisional.
Pamela yang patuh pun mengikuti Agam datang ke ruang perjamuan, lalu mengadakan upacara pernikahan tradisional yang sederhana.
Kemudian, Pamela di antar ke kamar yang bernuansa pengantin baru.
Ketika Agam masuk ke kamar pengantin itu, Pamela masih duduk di tepi ranjang dengan tegak.
Tudung pengantin putih di kepala Pamela belum dilepaskan, jadi adegan saat ini seperti pengantin zaman dulu yang menunggu suaminya datang ke kamar pengantin untuk melakukan hubungan intim.
Mata Agam terlihat cibiran, bahkan berkata dengan nada dingin, "Berdirilah, nggak usah berpura-pura lagi."
Pamela tidak bergerak.
Agam merasa aneh, dia pun berjalan ke sana untuk membuka tudung pengantin putih itu.
Di bawah pendar hangat lampu kamar, wajah yang seperti peri pun terlihat. Bulu matanya panjang dan lentik, dia juga terlihat patuh dan tenang, hanya saja ada air liur di sudut mulutnya, dia juga mencecap bibirnya ....
Dia tertidur dalam posisi duduk?
Mungkin karena menarik tudung pengantin putih itu, jadi kepalanya ikut terangkat sehingga Pamela yang tidur kehilangan keseimbangan dan jatuh ke samping.
Setelah melihat itu, Agam mengulurkan tangannya untuk menariknya secara refleks agar Pamela tidak jatuh ke lantai.
Pamela mengerutkan kening, tapi dia tidak bangun.
Melihat wanita itu jatuh ke pelukannya, Agam pun terkejut.
Agam pertama kali melihat wajah asli Pamela tanpa riasan, jadi wajar saja tatapan Agam yang dingin ada rasa kaget.
Saat Pamela tidak berdandan menor, dia memang cantik.
Mungkin karena Pamela mencium aroma asing mendekat, jadi dia segera membuka matanya, lalu mendapati dirinya dipeluk oleh pria dengan posisi wajah mereka yang sangat dekat.
Pamela segera melepaskannya, lalu berkata dengan kaget, "Paman, apa yang kamu lakukan? Aku peringatimu, kalau kita itu lawan jenis, jadi harus jaga jarak dan kita ini hanya nikah kontrak!"
Baru bangun, gadis ini sudah membalas kebaikannya dengan fitnahan!
Kalau tadi dia tidak mengulurkan tangannya untuk memapahnya, Pamela pasti jatuh ke lantai dengan wajah tersungkur ke bawah!
Agam menyipitkan matanya karena tidak senang. "Siapa yang bilang kalau aku hanya kontrak nikah denganmu?"
Alis Pamela berkerut. Dia menjawab dengan nada khawatir, "Paman, apa kamu mau mengingkari kesepakatan kita? Kita berdua sudah sepakat untuk mengakhiri hubungan ini setelah tiga bulan!"
Agam mengerutkan bibirnya, lalu berkata, "Aku memang berjanji padamu kalau hubungan ini akan berakhir setelah tiga bulan. Tapi, sepertinya aku nggak bilang kalau nggak akan terjadi apa-apa dalam waktu tiga bulan ini."
Selesai berbicara, Agam memegang erat dagu Pamela.
Jari-jari kasar Agam membuat Pamela merasa bahaya, bahkan ada aura yang mencekik ....
"Paman, kamu sebagai pria harus menepati janji, bagaimana kamu bisa mengingkari janji?!"
Pamela menatap wajah pria itu dengan tajam sambil menggelengkan kepalanya dengan kuat. Meskipun begitu, dia tetap tidak bisa melepaskan cengkeraman pria itu.
Agam membungkuk dan mendekat perlahan untuk menatapnya dari jarak dekat.
Setelah melihat ekspresi wajah Pamela yang mengernyit, dia baru melepaskan cengkeraman tangannya, lalu berkata dengan nada meremehkan, "Jangan terlalu percaya diri. Aku nggak tertarik sama gadis yang kurus kering sepertimu!"
Pamela merasa lega, tetapi juga sangat kesal dengan ucapan Agam.
"Oh, kalau begitu aku bisa tenang! Paman tua dan perkasa sepertimu bukan tipeku!"
Agam terdiam, "..."
Tua dan perkasa?
Pamela mengangkat tangannya untuk menyentuh dada Agam. "Paman, tolong minggir. Aku sudah ngantuk, aku mau mandi dulu, baru tidur!"
Agam menatapnya dari atas kepalanya dan tidak beranjak.
Pamela tidak bersikeras menyuruhnya minggir, melainkan melewati tempat lain.
Dia berjalan ke kamar mandi dengan tegak. Tak lama kemudian, terdengar suara air yang mengalir.
Selesai mandi dan keluar dari bak mandi, Pamela baru menyadari kalau dia tidak membawa baju ganti. Rasanya benar-benar sangat canggung!
Gaun pengantin yang dia pakai barusan sangat berat dan tidak nyaman.
Setelah berpikir sejenak, Pamela mengulurkan kepalanya dari kamar mandi untuk melihat ke luar.
Agam masih duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
Dia berbicara dengan tak berdaya, "Ehem. Paman, tolong kembalikan baju yang aku pakai ketika datang kemari hari ini!"
Agam menengadahkan kepalanya untuk melirik Pamela, lalu berkata, "Sudah dibuang."
Sudah dibuang?
Pamela mengertakkan gigi. "Kalau begitu, tolong pinjami pakaian bersih untuk aku dulu!"
Agam mengangkat alisnya, lalu menatapnya dengan mata yang menyipit. "Apa kamu meminta tolong dengan sikap seperti ini?"
"Memangnya sikap seperti apa yang harus aku tunjukkan?"
"Mohon padaku."
Pamela menutup pintu kamar mandi dengan keras.
Sudahlah, palingan dia pakai gaun pengantin tadi, tak nyaman ya tak nyaman!
Ketika Pamela bersiap memakai gaun pengantin sudah mendengar pintu kamar mandi diketuk.
Pamela membuka dikit pintu, lalu melihat Agam berdiri di sana, jadi dia bertanya dengan marah, "Ada apa?"
Melalui celah pintu itu bisa mencium aroma sabun dari kamar mandi.
Pamela di ambang pintu hanya mengenakan handuk. Bahu dan leher putihnya terlihat, beberapa helai rambut panjangnya yang basah terurai di tulang selangkanya. Sungguh memesona ....
Nafsu berahi Agam melonjak, pupil mata dan simpul di tenggorokan pun bergerak. Lalu, Agam memberi set piama pria pada Pamela.
Pamela terkejut. Ketika dia mau mengambil piama itu, pria itu malah mengangkat tinggi piama itu. "Kamu nggak mau bilang makasih, ya?"
"Paman, terima kasih ...."
Pamela tersenyum, lalu segera mengambil piama itu, juga melanjutkan perkataan yang belum selesai itu dengan kesal, selesai itu dengan kesal, "yang sebesar-besarnya!"
Selesai berbicara, Pamela membanting pintu lagi.
Ekspresi Agam menjadi masam. Kalau tadi dia terlambat menarik tangannya, lengannya pasti terjepit pintu.
Benar-benar gadis yang tak tahu terima kasih!
Piama pria itu terlalu besar di tubuh Pamela, jadi ketika pakai di tubuh seperti memakai karung besar.
Celana panjang yang besar itu juga terus melorot ketika dikenakan.
Bab 7
Agam sudah tidak berada di kamar ketika Pamela selesai memakai baju dan keluar dari kamar mandi.
Dia tidak terlalu peduli ke mana pria itu pergi. Toh, mereka berdua hanya hubungan kerja sama.
Ketika waktu tiga bulan habis, mereka akan berpisah dan tidak akan saling mengganggu satu sama lain.
Setelah mengunci pintu kamar, Pamela langsung tertidur.
Keesokan paginya.
Pamela dibangunkan oleh suara pelayan Keluarga Dirgantara yang mengetuk pintu kamarnya.
"Nona, tuan muda memintaku untuk membawakan pakaian untuk nona! Nona ...."
Suara itu sangat berisik.
Pamela belum tidur hingga puas. Namun, sebagai orang yang menumpang di rumah orang lain, dia tidak punya pilihan selain bangun.
Dia terpaksa harus bangun dan membuka pintu, lalu menerima baju yang dibawakan oleh pelayan itu.
Setelah mandi dan mengganti pakaiannya, Pamela keluar dari kamarnya untuk mencari makan. Tiba-tiba, sebuah baskom berisi air dingin dengan bau amis mengguyur tubuhnya!
Pada saat yang sama, suara ejekan dan cemoohan terdengar dari sekelilingnya.
Pandangannya kabur karena guyuran air kotor. Setelah air kotor itu menetes selesai dari kepalanya, dia baru melihat apa yang ada di depannya.
Di hadapannya ada seorang gadis asing seusianya yang berdandan cantik. Dia berjalan mondar-mandir dengan senyum menghina dan angkuh.
Beberapa pelayan Keluarga Dirgantara mengelilingi gadis itu seperti pengawal.
Salah satu pelayan memegang baskom kosong, tampaknya air kotor di dalam sudah disiram ke tubuh Pamela.
Pamela mengerutkan kening sambil menyeka bulu matanya yang basah. Dia menatap gadis asing itu dengan tenang, lalu bertanya, "Siapa kamu? Kenapa kamu menyiramku?"
Olivia memakai warna lipstik terbaru, lalu dia mendongak dengan sikap angkuh. "Aku adalah nona besar di keluarga ini, namaku Olivia Dirgantara. Agam adalah kakakku!"
Ternyata adiknya Agam!
Pamela mengerutkan alisnya sambil berkata, "Terus, kenapa kamu menyiramku?"
Olivia berdecak sinis, menatap Pamela dengan tatapan merendahkan.
"Air tadi memperingatkanmu untuk mengetahui posisimu sendiri! Jangan kira menikah dengan kakakku, kamu akan menjadi nyonya muda Keluarga Dirgantara. Kamu belum pantas!"
Pamela mengerutkan keningnya. "Bagaimanapun juga aku ini istri kakakmu, kakak iparmu! Nggak pantas kamu memperlakukanku seperti ini, 'kan?"
Olivia menjawab sambil tertawa, "Kakak ipar? Cih! Jangan merasa dirimu dihargai. Tadi malam, kakakku saja nggak tidur di kamarmu. Di malam pernikahan tidur sendirian, tapi masih berani menyebut dirimu sebagai istri kakakku!"
"Sekadar informasi, kakakku menikahimu cuma buat menghibur kakekku. Setelah kakekku sembuh, kamu harus segera keluar dari Keluarga Dirgantara!"
Pamela kehabisan kata-kata, "..."
Ternyata begitu. Pantas saja paman aneh itu buru-buru menikah.
Olivia memperingatkan lagi, "Jangan terobsesi untuk bergantung pada kakakku. Kakakku nggak akan pernah menyukai wanita sepertimu! Di sini statusmu bahkan lebih rendah dari pelayan, bisa di bilang panggilan 'nyonya muda' itu hanya panggilan saja, nggak ada artinya di Keluarga Dirgantara! Saat kakakku pergi, aku yang bertanggung jawab di rumah ini. Kamu harus mematuhi aturanku. Mengerti?"
Pamela mengangguk patuh. "Ya. Aku akan mengingatnya!"
Melihat Pamela terlihat seperti pengecut, hati Olivia sangat senang.
"Bagus kalau kamu sadar diri. Mulai sekarang, kamu jangan banyak tingkah. Ayo pergi. Aku ada janji manikur hari ini. Seharusnya orang manikurnya sudah mau sampai ...."
Saat mengatakan hal itu, Olivia siap untuk pergi dengan para pelayan di sekelilingnya.
"Tunggu dulu."
Namun, Pamela memanggilnya.
Olivia berhenti melangkah dan menoleh dengan tidak sabar, "Kenapa? Kamu mau protes?"
Pamela tersenyum. "Bukan. Hanya saja, Nona Olivia. Aku baru datang dan belum mengerti peraturan apa yang kamu bicarakan. Bisa jelaskan dulu? Aku ingin mengingatnya biar bisa mematuhi perintahmu dengan baik."
Olivia terdiam sejenak, lalu tertawa mengejek. "Wanita miskin sepertimu benar-benar cukup pandai mengamati kondisi saat ini! Baiklah, karena kamu yang minta, aku akan memberikan gambarannya! Dengar, selama kamu berada di sini, kamu jangan banyak bertingkah ...."
"Itu, tunggu sebentar ...."
Pamela terlihat bersungguh-sungguh meminta nasihat, "Nona Olivia, ingatanku nggak bagus. Tolong bicara perlahan denganku di kamar. Aku ingin mengambil pulpen dan kertas, biar bisa mencatatnya secara rinci."
"Sungguh merepotkan!"
Olivia memang merasa dia merepotkan, tetapi tidak melewatkan kesempatan ini untuk menetapkan aturan. Jadi, dia dengan enggan mengikuti Pamela ke dalam kamar.
Tak disangka, pintu kamar tiba-tiba tertutup rapat ketika Olivia masuk.
Pintu terkunci.
Beberapa pelayan yang tidak sempat mengikuti Olivia masuk ke dalam kamar pun mematung di depan pintu.
Mereka terdiam sejenak. Detik berikutnya, mereka mendengar jeritan Olivia yang menyedihkan dari dalam kamar dan buru-buru mengetuk pintu.
"Nona ... Nona ... Nona kenapa?!"
Begitu Olivia memasuki kamar, rambutnya ditarik oleh Pamela dan diseret ke kamar mandi.
Dia berteriak ngeri, "Ah! A ... apa yang kamu lakukan?! Lepaskan aku!"
Pamela menjambak rambut Olivia dengan satu tangan dan mengcengkeram pergelangan tangan Olivia yang lasak itu dengan tangan yang lain, lalu bertanya, "Katakan, air apa yang kamu siramkan padaku barusan?"
Pamela yang saat ini benar-benar sangat jahat, seolah-olah sikap patuh dan jujur yang baru saja dia tunjukkan hanyalah halusinasi.
Seketika, Olivia tidak bisa menahan rasa dingin di tulang punggungnya. "Itu ... itu air bekas cucian ikan di dapur!"
"Oh, begitu!"
Pamela mengatupkan bibirnya. Detik berikutnya, dia menekan kepala Olivia ke dalam kloset.
Olivia, "Ahhhh ... gluk ... gluk ... gluk ...."
Setelah 30 detik, Pamela menarik kepalanya, lalu dia bertanya dengan datar, "Bagaimana perasaan Nona Olivia?"
Wajah Olivia menjadi pucat. Dia berkata dengan marah, "Be ... beraninya kamu melakukan ini padaku?! Kamu ...."
Pamela masih berkata dengan wajah datar, "Kamu yang turun tangan dulu, aku hanya melawan. Kamu menyiramku dengan air kotor, aku membiarkanmu mencicipi air toilet. Ini cukup adil."
Wanita ini benar-benar gila!
Olivia berteriak dengan marah, "Ah! Aku adalah nona besar dari Keluarga Dirgantara! Kakakku sangat menyayangiku! Beraninya kamu melakukan ini padaku!"
Pamela tidak takut, hanya menjawab, "Aku nggak peduli apakah kamu nona besar Keluarga Dirgantara atau bukan. Kakakmu memintaku menikah dengannya untuk jadi nyonya muda, bukan untuk ditindas di Keluarga Dirgantara. Ingat, jangan pernah macam-macam denganku lagi!"
Setelah mengatakan itu, dia menekan kepala Olivia ke dalam kloset lagi.
Kemudian, Pamela melambaikan tangannya.
Olivia segera menengadahkan kepalanya dengan napasnya yang terengah-engah, Olivia juga menangis karena jijik.
Mana pernah dia mengalami penghinaan seperti ini? Dia berjongkok di depan kloset untuk muntah, lalu dia mengertakkan gigi sambil berkata, "Pamela, kamu ... tunggu saja! Aku akan membiarkan kakakku menceraikanmu!"
Pamela terkekeh. "Benarkah? Baguslah kalau begitu. Aku berterima kasih dulu pada Nona Olivia karena sudah membantu kami cerai!"
Melihat Pamela tidak khawatir atau takut sedikit pun, Olivia merasa seolah-olah ancamannya tidak berbobot. Bisa dibilang, dirinya terlihat lemah di depan Pamela.
Setelah menarik Olivia berdiri, Pamela juga menyeretnya keluar dari kamar.
Lalu Pamela segera melepaskan pakaiannya yang amis dan kotor, baru mandi.
Pamela tidak ada pakaian lagi, jadi dia hanya bisa keluar dengan berbalut handuk. Lalu, dia melihat ponsel yang berada di meja menyala.
Pamela berjalan ke sana untuk mengangkat telepon.
Suara rekan kerjanya, Vanda Waskita, terdengar sangat cemas, "Pamela, gawat! Cepat datang ke perusahaan. Sesuatu yang besar telah terjadi!"
Bab 8
Telepon ditutup dengan tergesa-gesa. Pamela hanya mendengar suara panggilan berakhir bahkan sebelum dia sempat bertanya.
Dia tidak punya pakaian lain yang bisa dikenakan. Membuka lemari pakaian, dia melihat bahwa lemari pakaian di depannya penuh dengan pakaian paman aneh.
Setelah mengambil kaos putih milik pria itu secara acak dan memakainya, Pamela bergegas keluar dari rumah.
Kaos pria itu cukup besar untuknya. Ujung kaos menjuntai sampai ke lutut, sehingga tidak akan terlihat aneh jika dipakai sebagai pakaian kasual yang kebesaran.
...
Perusahaan Quentin.
Pamela sedang absen dengan menempelkan sidik jarinya pada pemindai. Tiba-tiba, Vanda yang wajahnya penuh tekanan berlari menghampirinya.
"Pamela, akhirnya kamu datang juga! Pak Dikra minta kamu datang ke ruangannya. Siapkan mentalmu ...."
"Pak Dikra mencariku?"
Pamela jarang sekali melihat Vanda setegang ini. Jadi, dia bertanya, "Apa yang terjadi?"
Vanda melirik ke kiri dan ke kanan untuk memastikan tidak ada orang di sekitar sebelum dia menghampiri Pamela dan berbisik pelan kepadanya, "Hari ini semua komputer di perusahaan terserang virus. Sistem lumpuh total dan semua dokumen penting internal perusahaan hilang."
Pamela mengerutkan kening, lalu menimpali, "Apa hubungannya denganku? Kalau komputer rusak, mereka harus mencari teknisi untuk memperbaikinya."
Vanda berkata dengan khawatir, "Teknisi sudah mengatasinya! Intinya, Bianca melaporkan kepada Pak Dikra kalau kamu mengunduh permainan di komputer perusahaan, jadi semua komputer perusahaan terkena virus!"
"Selain itu, hari ini Pak Patra mengundang pimpinan tertinggi untuk memeriksa proyek baru perusahaan. PowerPoint presentasi proyek sudah dikerjakan dengan susah payah oleh departemen kami, tapi dokumennya nggak bisa ditemukan. Karena itu Pak Dikra sangat marah dan pasti akan melampiaskannya padamu!"
Bianca Phalosa?
Dia adalah orang yang memiliki koneksi di perusahaan!
Seperti Pamela, dia masih dalam masa magang.
Perusahaan Quentin adalah perusahaan yang masuk dalam daftar 500 perusahaan besar di negara ini. Setiap tahun ada banyak orang berprestasi yang mencoba bergabung dengan perusahaan.
Karena memiliki nilai yang sangat baik, Pamela mendapatkan surat rekomendasi dari dekan Universitas Padalamang untuk magang di sini. Sementara Bianca, kabarnya dia adalah kerabat dari manajer di sini, yaitu Pak Dikra!
Hanya ada satu tempat yang tersedia bagi para pemagang untuk bisa menjadi pegawai tetap di perusahaan ini. Orang yang paling memungkinkan untuk posisi ini antara Pamela dan Bianca.
Pamela mungkin tahu persis apa yang sedang terjadi.
...
Sebelum Pamela mengetuk pintu ruang kerja Pak Dikra, dia mendengar suara Bianca di dalam ruangan yang meminta manajernya itu untuk tenang.
"Jangan khawatir, Paman. Komputernya akan segera diperbaiki! Ini semua salah Pamela. Dia malah main game nggak jelas saat kerja ...."
Pak Dikra menggerutu kesal, "Di mana si Pamela sialan itu? Kenapa dia belum datang juga!"
Pamela mengetuk pintu dan mendorongnya hingga terbuka.
"Pak Dikra ingin bertemu dengan saya?"
Pak Dikra mengumpat begitu melihatnya, "Pamela, kamu masih berani datang rupanya! Ini hari kerja dan kamu datang ke kantor di jam segini? Kemarin juga kamu nggak masuk tanpa alasan. Apakah ini sikap kerjamu!"
Pamela masuk dan menjelaskan dengan sikap yang baik, "Maaf, Pak Dikra. Kemarin saya menikah dan pagi ini saya ada masalah, sehingga datang terlambat."
Pak Dikra menganggap alasan yang diberikan Pamela sangat menggelikan. "Menikah? Anggap saja kamu memang menikah. Tapi apa kamu nggak bisa ambil cuti? Kamu pikir perusahaan ini rumahmu? Datang kapan pun kamu mau, pulang kapan pun kamu mau dan main game kapan pun kamu mau!"
Pamela masih bersikap lembut, "Ini pertama kalinya saya menikah. Saya akan mengambil cuti lain kali."
Pak Dikra kehabisan kata-kata, "..."
Bianca benar-benar tidak sanggup untuk mendengarkan perdebatan keduanya lagi.
"Pamela, kamu benar-benar nggak tahu malu. Kamu bolos kerja, tapi masih berani menggunakan alasan menikah? Bikin alasan pun nggak becus!"
Saat itu, pintu ruang kantor terbuka.
Bos Perusahaan Quentin, Patra Rafandra datang bersama dengan seorang pria bertubuh tegap yang sudah berdiri di ambang pintu. Kebetulan keduanya mendengar jawaban Pamela atas dua pertanyaan Pak Dikra.
Agam menyipitkan matanya.
Pak Dikra berniat melanjutkan memarahi Pamela. Namun, melihat kedua orang yang berada di depan pintu, dia sangat ketakutan hingga berdiri dengan tergesa-gesa dan mengangguk untuk menyapa mereka.
"Eh, Pak Patra! Kapan Bapak dan Pak Agam tiba. Masuklah ...."
Bianca menoleh sekilas. Dia melihat pria tampan dan pendiam yang berdiri di samping Pak Patra, sontak matanya langsung melotot.
Pamela yang kurang tertarik, menoleh samar-samar ke belakang dan terkesiap di tempatnya.
Paman aneh?
Kenapa dia ada di mana-mana?!
Pak Patra bertanya dengan wajah serius, "Dikra, apa yang barusan kalian perdebatkan? Aku dengar sistem perusahaan lumpuh total, ada apa ini?"
Dengan keringat bercucuran, Pak Dikra menunjuk ke arah Pamela dan berkata, "Pak Patra, anak magang baru perusahaan bermain game selama jam kerja, menyebabkan sistem perusahaan terserang virus. Sekarang, bagian teknis sedang memperbaikinya ...."
Patra menjadi marah, "Apa? Kenapa mempekerjakan anak magang seperti itu! Kamu berniat menjadikannya karyawan tetap?"
Pak Dikra langsung menggeleng dan menjawab, "Bukan begitu! Pak Patra, saya akan memecatnya sekarang juga!"
Bibir Bianca sedikit tertarik menyunggingkan senyum tipis tanda kemenangan.
Tatapan dingin Agam menyapu sosok Pamela sekilas, sangat acuh.
Seolah tidak pernah mengenal satu sama lain, dia berbicara dengan dingin, "Pak Patra, sepertinya hari ini bukan waktu yang tepat untuk kedatangan saya. Kalau begitu, kita lakukan lain kali saja!"
"Pak Agam, maafkan saya karena sudah membuat Anda melihat lelucon semacam ini ...."
Patra menjadi sangat tidak berdaya. Entah berapa banyak usaha yang telah dia lakukan untuk mendatangkan orang penting seperti Agam kemari. Jadi, jika hari ini dia pergi begitu saja, akan lebih sulit lagi untuk membawanya ke sini di lain waktu!
Pada saat itu, Pamela melihat Vanda sedang menatap dengan gelisah ke arah pintu kantor.
Dia tiba-tiba teringat bahwa proyek baru ini adalah pertama kalinya Vanda memimpin tim sendirian. Jika proyek ini gagal, akan sulit baginya untuk mengambil peran besar di perusahaan.
Vanda selalu memperlakukan Pamela dengan baik selama masa magang.
"Pak Agam!" panggil Pamela tiba-tiba.
Agam yang sudah berbalik menghentikan langkah kakinya.
Pamela berjalan ke arahnya, "Pak Agam, saya tahu waktu Anda sangat berharga. Tapi, karena sudah datang kemari, akan sangat disayangkan kalau sampai melewatkan satu proyek yang bagus!"
Mata hitam Agam menatap dingin. Lalu, dia bertanya, "Sepertinya sekarang kalian nggak punya apa pun untuk diperlihatkan kepada saya."
Pamela meyakinkan, "Beri saya waktu sampai kopi Anda habis. Saya pasti akan menampilkan PowerPoint rencana proyek baru ini kepada Pak Agam untuk dipresentasikan!"
Patra dan Pak Dikra menatap Pamela dengan tatapan tidak percaya.
Bianca memutar bola matanya meremehkan. Teknisi profesional saja sampai kewalahan memperbaiki sistem yang rusak. Namun, Pamela bilang dia bisa memperbaikinya?
Membual bukanlah taktik yang bagus!
Sudah terpojok, dia masih mencoba untuk memperbaikinya?
Setelah hening selama beberapa detik, wajah tampan Agam ada gurat ketertarikan dalam tatapannya.
"Anak muda memang memiliki semangat yang menantang. Pak Patra, saya sudah datang dan kebetulan sedikit haus. Saya akan meminum secangkir kopi sebelum pergi!"
Patra kembali tersadar dari keterkejutannya dan segera memerintahkan, "Tunggu apa lagi? Cepat buatkan kopi untuk Pak Agam!"
"Baik!"
Bianca memanfaatkan kesempatan ini untuk bisa dekat dengan Agam, dengan sigap pergi membuatkan kopi.
Pamela kembali ke meja kerjanya dan mencolokkan sebuah USB ke colokan komputer.
Vanda merasa penasaran, jadi dia mendekat dan bertanya, "Pamela, apa yang kamu lakukan? Apa kamu benar-benar bisa memperbaiki komputer?"
Dengan ekspresi fokus, Pamela menggerakkan mouse di tangannya sambil menjawab, "Aku mencoba menginstal perangkat lunak antivirus!"
Vanda menghela napas dengan kecewa. "Ini ... Pamela, sepertinya percuma saja! Teknisi bilang sistem perusahaan diserang oleh peretas dengan tujuan tertentu. Perangkat lunak antivirus nggak akan ada gunanya!"
Pamela mendongak sedikit, lalu berkata sambil memberikan senyum tipis pada Vanda, "Coba saja dulu. Siapa tahu ada keajaiban!"
Bab 9
Vanda hanya merasa bahwa Pamela terlalu optimis, sementara dia sendiri telah kehilangan semua harapan.
Rencana proyek yang telah dipersiapkan selama sebulan akan dibatalkan begitu saja. Meskipun sangat tidak rela, tidak ada lagi yang bisa Vanda lakukan!
Sambil menghela napas dalam, Vanda berbalik ke arah dapur.
"Pamela, lanjutkan saja. Aku buatkan kopi biar lebih segar!"
"Ya, terima kasih!"
Pamela menjawab dengan samar. Pada saat yang sama, sebuah laman progres berwarna merah muncul di layar hitam komputernya.
Setelah laman muncul sepenuhnya, Pamela dengan cepat memecahkan kata sandinya.
Dia mengklik sebuah kotak dialog tersembunyi, menekan papan ketik dan mengetik beberapa kata untuk dikirim.
"Ada dendam apaan sih?!"
Pihak peretas terkejut dan membalas, "Kamu! Dewa macam apa kamu, sampai bisa melakukan serangan balik ke dalam sistem enkripsi level tertinggi Aliansi Apollo kami!"
Ujung jari Pamela mengetik ringan, "Nggak penting siapa aku. Intinya, kenapa kamu menyerang Perusahaan Quentin. Kalau ada perihal dendam, ya langsung saja cari orang yang melakukannya. Siapa pun yang memprovokasimu, cari dia dan selesaikan dengannya. Jangan hancurkan hasil jerih payah banyak orang yang tidak bersalah!"
Peretas itu tidak luluh begitu saja dan segera membalas.
Namun, dia berhasil dicegat oleh sistem pertahanan yang dipasang Pamela, yang telah disiapkan sejak awal.
Peretas itu tidak bisa menahan kekagumannya pada lawan misterius yang teknologinya lebih unggul daripada miliknya.
...
Ketika Vanda kembali dan membawa segelas kopi, komputer berhasil diperbaiki Pamela. Dokumen di dalamnya pun kembali.
"Beneran sudah diperbaiki! Pamela, kamu luar biasa! Bagaimana kamu bisa melakukannya?"
Pamela mengeluarkan USB dan memutarnya di ujung jari telunjuknya. Dia bersandar di kursinya dan menjawab sambil tersenyum, "Aku membeli perangkat lunak antivirus ini seharga 19,99 ribu di sebuah toko yang mengklaim kebal terhadap semua virus. Sepertinya memang benar! Aku akan memberikan ulasan positif setelah ini!"
Alis Vanda bertaut dan dia mengatakan, "Hah? Apa? Apa kamu benar-benar memperbaikinya cuma dengan perangkat lunak antivirus? Hmm, teknisi bilang aplikasi antivisur itu tak berguna, menurutku mereka yang nggak berguna!"
Pamela mengulurkan tangan untuk mengambil secangkir kopi dari tangan Vanda dan mengangkat dagunya, "Sudah. Cepat ambil salinan PowerPoint-nya. Presentasikan kepada Pak Patra dan yang lainnya!"
"Ya! Aku akan melakukannya! Pamela, aku mencintaimu!"
Vanda memberikan ciuman terima kasih kepada Pamela sebelum melanjutkan pekerjaannya.
Rekan-rekan kerja yang lainnya tiba-tiba mengerumuni Pamela dan meminta tautan antivirus yang dia miliki
Pamela meladeni mereka dengan malas, "Jangan khawatir. Nanti aku akan mengirimkannya ke grup!"
Dia menyesap kopi dari cangkirnya. Bulu matanya yang lentik terangkat saat dia melirik ke arah kantor Pak Patra.
Seharusnya paman aneh itu masih belum menghabiskan secangkir kopinya, 'kan?
...
Di dalam kantor.
Bianca membawakan Agam kopi, kemudian menggerakkan kakinya yang putih dalam berbagai posisi seksi.
Namun, dia tidak bisa menarik perhatian pria itu walaupun kakinya sudah terasa kram.
Vanda mengetuk pintu dengan lembut dan menjulurkan kepalanya untuk meminta instruksi, "Pak Patra, PowerPoint sudah siap. Rapat yang sudah dijadwalkan bisa dilanjutkan."
Patra yang menemani Agam minum kopi langsung berbinar. Dia menimpali sambil tersenyum, "Komputernya sudah diperbaiki?"
Vanda mengangguk mengiakan, "Ya, Pak Patra! Pamela sudah memperbaiki komputernya!"
"Wah, dia benar-benar hebat!"
Patra menjadi tenang. Dia berdiri dan memberi isyarat dengan sikap penuh hormat, "Pak Agam, materi rapat sudah siap. Mari ke ruang rapat dan penanggung jawab proyek akan memberikan penjelasan tentang proyek baru kita!"
Tangan Agam yang besar dan bertulang terlihat panjang dan ramping saat dia memegang cangkir kopinya.
Dia menyipitkan matanya dengan serius sebelum meletakkan cangkir kopinya dan berdiri dengan anggun. Sikapnya ini memberikan kesan seorang pria dewasa dengan pesona yang kuat dalam setiap gerakannya.
Bianca mengertakkan gigi dengan marah.
Pamela benaran berhasil memperbaikinya!
...
Lima belas menit kemudian, Agam keluar dari ruang rapat. Wajahnya yang tampan dan dalam tidak menunjukkan emosi apa pun.
Patra datang dan mengikutinya dengan sikap patuh.
Ketika melewati meja kerja Pamela, pria itu tiba-tiba menghentikan langkahnya, menatapnya dengan tatapan dingin. Bibir tipisnya tertarik ke atas membentuk seringai.
"Pak Patra, karena kemampuan berbakat pegawaimu, kalian berhasil membuatku menghabiskan waktu satu jam di sini!"
Patra menjadi canggung, lalu menjawab, "Eh, Pak Agam, saya benar-benar minta maaf."
Agam menyipitkan matanya, tidak menatap Pamela lagi dan berjalan menuju lift.
Pamela terkejut ketika Bianca datang dengan ekspresi sombong di wajahnya. "Pamela, kenapa memangnya kalau kamu bisa memperbaiki komputer? Pak Agam masih nggak tertarik dengan proyek bodoh kalian itu!"
Mengabaikan Bianca, Pamela menoleh ke arah Vanda yang baru saja kembali dari ruang rapat, lalu bertanya, "Vanda, apa yang terjadi?"
Vanda menundukkan kepalanya dan berkata dengan suara terisak, "Pamela, aku nggak tahu kenapa, tapi ada sejumlah kesalahan data utama di PowerPoint. Pak Agam mengatakan proposal kita sampah ...."
Alis Pamela berkerut tanda terkejut.
Pada saat itu, Patra yang telah mengantar Agam pergi, kembali dengan wajah tegas dan memberikan teguran keras, "Vanda, apa yang kamu lakukan? Kalau nggak mampu tanggung jawab sama proyek ini, lebih baik nggak usah kerjain!"
Vanda menunduk merasa bersalah. "Pak Patra, saya minta maaf! Saya ...."
Pamela melihat seringai kemenangan di wajah Bianca, tahu bahwa wanita itu telah berhasil melakukan ulah liciknya!
"Pak Patra, kesalahan PowerPoint tidak ada hubungannya dengan Vanda. Komputer sudah diperbaiki, tapi virus merusak sebagian dari data yang ada di dalamnya. Karena itulah data PowerPoint menjadi kacau. Saya membiarkan Vanda membawanya ke rapat tanpa memeriksanya. Ini salah saya dan saya akan mengundurkan diri!"
Patra mengerutkan kening pada Pamela.
Pak Dikra, yang berada di belakang Pak Patra tiba-tiba berkata, "Mengundurkan diri? Pamela, kamu dipecat. Kemasi barang-barangmu dan pergi dari sini sebelum kamu membuat Pak Patra marah!"
Saat Pamela menunggu lift, Vanda keluar untuk mengejarnya. Dia merasa bersalah kepada Pamela.
"Pamela, akulah yang harus keluar ...."
Pamela menggeleng pelan, lalu menjawab, "Itu bukan salahmu. Pak Dikra memang mau memecatku. Kamu nggak perlu terlibat dalam masalah ini."
Vanda marah, "Tapi kalau kamu pergi seperti ini, Bianca bisa jadi pegawai tetap. Kemampuannya berada di bawahmu dalam segala hal. Dia akan diuntungkan kalau seperti itu!"
Pamela mengangkat bahu dengan acuh tak acuh, melambaikan tangan ke arah Vanda dan berbalik untuk masuk ke dalam lift.
Pamela keluar dari lift tepat saat pintu sebelah terbuka.
Bianca melangkah keluar dari pintu sebelah, menggenggam sekotak perlengkapan kantor dan melemparkannya ke depan Pamela.
"Kamu lupa membuang sampahmu. Pak Dikra bilang kalau ruang kerjamu akan dikosongkan untuk dijadikan ruanganku!"
Pamela bersikap tenang dan membungkuk untuk mengambil barang-barangnya. Lalu, dia mengatakan, "Bianca, sebagai rekan kerja, aku ingin memberikan saran untukmu!"
Bianca bersedekap, berbicara setelah menggerakkan bahunya penuh kemenangan, "Apa? Katakan saja!"
Bibir Pamela tertarik dalam lengkungan samar. Dia mendekat ke telinganya dan berkata, "Kalau nggak punya kemampuan, kamu hanya akan tersingkir!"
Bianca terkejut, lalu menjawab, "Cih!"
Pamela sedang menakut-nakutinya?
...
Pamela berjalan keluar dari gedung perusahaan dengan membawa barang-barangnya. Tiba-tiba, sebuah mobil Maserati edisi terbatas berwarna hitam berhenti di sampingnya.
Ervin turun dari kursi samping kemudi, lalu mengatakan, "Nona Alister, tuan muda meminta nona untuk masuk."
Pamela tidak menanggapi dan mengambil jalan memutar.
Ervin mengangkat tangannya untuk menghentikannya, lalu mengatakan, "Nona Alister, tolong masuk ke dalam mobil!"
Mau bagaimana Pamela menghindar, juga tidak berhasil, ini membuat wajah kecil Pamela berubah muram. Dia dengan terpaksa masuk ke dalam mobil.
Kejadian ini kebetulan saja dilihat oleh Bianca. Dia awalnya melihat di pintu masuk perusahaan kalau ada Maserati edisi terbatas yang lewat. Jadi, dia keluar untuk melihat-lihat. Namun, dia tidak menyangka Pamela benar-benar masuk ke dalam mobil itu.
Mata Bianca melotot. Apa yang terjadi!
Itu adalah Maserati edisi terbatas. Bagaimana Pamela bisa masuk ke dalam mobil mewah seperti itu?
Apakah dia pantas diperlakukan begitu?
Bab 10
Bianca melihat Maserati mewah itu melaju dan hatinya merasa cemburu. Dia kembali ke kantor dan memberi tahu rekan-rekannya.
"Apa kalian tahu? Pantas saja Pamela pergi tanpa beban. Ternyata dia jadi simpanan orang kaya dan nggak peduli dengan pekerjaan ini!"
Menjadi simpanan?
Rekan-rekan kerja menjadi sangat ingin tahu apa yang sedang terjadi. Jadi, mereka mendekat dan menanyakan situasinya kepada Bianca.
Bianca melebih-lebihkan penjelasannya dengan mengatakan, "Aku berbaik hati mengantarkan barang Pamela yang ketinggalan. Tapi, aku malah melihatnya masuk ke mobil mewah edisi terbatas. Di dalam mobil itu ada pria tua dan Pamela langsung duduk di atas pangkuan pria itu begitu masuk ke dalam mobil. Gerak-gerik mereka sangat ambigu!"
"Pria tua? Berapa umurnya?"
Bianca menjawab, "Sekitar 60 tahun!"
"Ya ampun. 60 tahun itu seusia kakeknya! Aku nggak nyangka kelakuan Pamela akan semurah itu!"
"Ckck, jangan cuma menilai seseorang dari penampilannya!"
Vanda tidak tahan mendengar lebih lanjut isi pembicaraan mereka. Dia berdiri dan membalas dengan lantang, "Bianca, jangan bicara omong kosong! Pamela bukan orang seperti itu!"
Bianca mencibir, "Aku bicara omong kosong? Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri! Kalau nggak percaya, kamu bisa lihat rekaman kamera pengawas perusahaan untuk memastikan apakah Pamela masuk ke mobil Maserati edisi terbatas atau tidak di pintu masuk!"
Vanda terdiam karena jengkel. Bagaimana mungkin dia memiliki wewenang untuk memeriksa rekaman kamera pengawas perusahaan?
Jelas-jelas Bianca yang mencelakai Pamela. Dia juga sudah membuat Pamela dipecat dari perusahaan, tetapi masih ingin melabeli Pamela dengan penilaian buruk! Benar-benar kejam!
Karena tidak bisa mengalahkan Bianca, Vanda menahan emosinya dan duduk untuk melanjutkan pekerjaannya.
Namun pada saat itu, dia menemukan sesuatu di komputernya dan berkata, "Hei? Apa ini? Kenapa ada dokumen aneh di desktop komputerku?"
Seorang rekan kerja yang lain menimpali, "Di komputerku juga ada dokumen tambahan! Nggak tahu isinya apa!"
"Aneh! Di komputerku juga ada. Buka saja dan lihat isinya ...."
Setelah semua orang membuka dokumen itu dan melihatnya, area kantor menjadi hening.
Pandangan aneh, jijik dan mencemooh terus menerus dilayangkan ke arah Bianca.
Bianca merasa terganggu dengan tatapan dari rekan-rekannya. "Kenapa kalian menatapku seperti itu?"
Vanda berdiri dan berkata lebih tegas dari yang sebelumnya, "Bianca, ternyata orang yang bermain game di tempat kerja itu kamu sendiri. Kamu itu biang keladi yang membuat komputer perusahaan diretas!"
Bianca tertegun dan menjawab tanpa mau mengakuinya, "Vanda, jangan bicara omong kosong! Aku akan menuntutmu atas pencemaran nama baik kalau kamu bicara tanpa bukti!"
Vanda memegang bukti di tangannya dan berkata dengan wajah datar.
"Aku bicara omong kosong? Kamu menipu teman game-mu biar bisa dapat peralatan game, 'kan? Setelah dapat apa yang kamu mau, kamu memblokirnya! Kamu nggak sadar kalau dia peretas profesional dan langsung meretas komputermu. Bahkan sistem perusahaan juga ikut diretas!"
"Kamu malah menyalahkan Pamela. Bahkan PowerPoint yang salah dalam rapat hari ini diutak-atik olehmu saat aku nggak memperhatikan. Buktinya ada di komputer. Peretas sudah mengumpulkan semua perilaku burukmu ke dalam satu dokumen dan meninggalkannya di komputer. Kita punya salinannya!"
Apa?
Bianca menghadapi tatapan aneh dari rekan-rekannya dan merasa lemas.
Dia panik, kembali ke meja kerjanya dan melihat dokumen tambahan di desktop komputernya. Itu adalah tangkapan layar dari riwayat obrolan dengan teman game-nya, serta video pengawasan yang menunjukkan saat dia diam-diam mengutak-atik PowerPoint ....
Ba ... bagaimana ini bisa terjadi?!
Pak Patra keluar dari ruangannya dengan wajah muram. Dia berkata dengan marah, "Siapa yang bernama Bianca? Kenapa ada karyawan pembawa sial sepertinya di perusahaan. Suruh dia berkemas dan keluar!"
Wajah Bianca pucat bukan main. Jangan bilang dokumen itu juga muncul di komputer Pak Patra!
Pak Dikra mendengar teriakan marah Pak Patra juga bergegas keluar ruangannya dengan raut wajah yang terlihat sangat panik.
Ketika Bianca melihat Pak Dikra, dia segera berlari menghampiri untuk meminta bantuan, "Paman, tolong bantu aku ...."
Pak Dikra menatap Bianca dengan tatapan tajam, mendorongnya menjauh dan mengabaikannya. Dia ingin sekali menyingkirkan kerabat yang menghancurkan pekerjaannya saat ini juga!
Akhir dari masalah ini, semua gaji Bianca dipotong. Dia dipecat dan dibuang begitu saja.
Memang benar kalau orang jahat akan selalu mendapatkan balasannya.
Vanda sangat senang. Dia mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan ke Pamela.
...
Pada saat ini.
Di kursi belakang mobil Maserati edisi terbatas yang melaju perlahan.
Pamela duduk sangat dekat dengan pintu mobil sambil memegang barang-barang pribadinya.
Di sebelahnya duduk 'suami barunya', Agam. Namun, sejak Pamela masuk ke dalam mobil, Agam tidak mendongakkan kepalanya, bahkan tidak menoleh ke arahnya. Dia hanya menatap tajam ke arah ponselnya dengan ekspresi acuh tak acuh.
Ponsel Pamela berbunyi. Pamela meletakkan kotak di pelukannya dan mengeluarkan ponselnya.
Dia mendapat Line dari Vanda yang memberitahukan kalau Bianca sudah dipecat dan Pak Dikra ditegur keras oleh Pak Patra.
Pamela mengerutkan bibirnya, tidak terkejut.
Setelah peretas itu memberitahunya alasan menyerang sistem Perusahaan Quentin, dia hanya memberikan satu nasihat kepada peretas itu. Dia memberinya saran agar menyerang dengan tepat dan tidak mengorbankan orang yang tidak bersalah.
Bianca pantas mendapatkan balasan ini atas kesalahan yang dia lakukan.
Pamela tanpa sadar menyilangkan kakinya setelah membalas pesan Vanda. Kedua kakinya yang putih dan jenjang disilangkan.
Dia hanya mengenakan kaos besar milik Agam. Karena duduk, ujung kaos yang dia kenakan sedikit terangkat. Cahaya matahari masuk melalui jendela mobil, jatuh di kulitnya yang putih, membuatnya terlihat makin memesona. Bahkan pantulan dari kulitnya itu terlihat begitu memukau.
Seakan terkena pantulan silau cahaya itu, alis pria yang duduk di samping Pamela sedikit terangkat.
Garis pandangannya melirik ke kaki panjang dan ramping di sebelahnya. Kalau dibandingkan dengan kakinya, kaki Pamela benar-benar terlalu kecil dan kurus.
"Gadis kecil, apa ini cara kalian anak muda untuk mendapatkan perhatian seorang pria?"
Pamela menatap Agam dengan tatapan tidak mengerti, lalu bertanya, "Apa? Paman, aku bahkan nggak melakukan apa pun."
Agam meletakkan ponselnya, menatapnya dan menjawab, "Apa yang kamu pakai?"
Pamela menundukkan kepalanya dan baru menyadari akan hal ini. Dia menjawab, "Oh ... ini bajumu, Paman! Karena pakaian yang diberikan pelayan tadi pagi kotor dan nggak bisa dipakai lagi, aku terpaksa harus pakai bajumu!"
Pria itu menopang dahinya dengan satu tangan, menjawab dengan alis sedikit berkerut, "Sudah dapat izin dariku?"
Pamela mendelik, lalu menjawab kesal, "Apa aku harus meneleponmu dan minta izin untuk pakai satu pakaian di lemarimu? Kamu orang kaya, kenapa pelit sekali!"
Lagipula, dia tidak memiliki nomor telepon Agam. Bagaimana dia bisa meminta izinnya?
Urat nadi Agam terlihat menonjol di dahinya. Dia menjawab, "Apa katamu?"
Pamela tersenyum tipis, lalu menjawab, "Maksudku ... apa orang tua seperti Paman ingin melihat berita tentang istri barumu berjalan dengan baju tipis di jalanan setelah satu hari menikah?"
Agam kehabisan kata-kata, "..."
Orang tua? Apa dia sudah setua itu?
Mata hitam Agam sedikit menyipit, lalu dia menjawab, "Bagaimana kalau aku bilang aku nggak peduli?"
Pamela menggertakkan giginya geram, lalu menjawab, "Kalau begitu, aku akan melepaskannya dan mengembalikannya padamu sekarang juga. Lalu berjalan dengan baju tipis di luar!"
Bibir Agam terangkat membentuk seringai. Dia mencibir, "Baiklah. Kalau begitu lepaskan saja."
Pamela merasa tahun ini dirinya sungguh tak beruntung. Jika tidak, bagaimana mungkin dia bisa memprovokasi paman aneh yang sangat tidak bisa diajak bicara baik-baik itu!
Dia terdiam selama beberapa detik, baru menjawab, "Ya sudah, lepaskan saja. Apa susahnya!"