Mual! Wajahku Merona Dimanjakan Bos yang Agresif

Đang tải thông tin quảng bá...

Mual! Wajahku Merona Dimanjakan Bos yang Agresif

GoodNovel Hoàn thành
CantikEmosionalPria DominanKaya

Selama pembentukan tim perusahaan, Liana mabuk dan masuk ke tenda yang salah, tanpa sengaja dia tidur dengan bosnya. Setelah terbangun, dia melihat wajah tampan bosnya itu. Liana segera memeluk pakaia...

Chương (1)

第1章

Bab 1 "Em ...." Ciuman pria itu bertubi tubi menghujani tubuh Liana, dia seperti perahu yang terombang ambing di lautan, mengambang dan akhirnya tenggelam mengikuti irama ombak. Entah sudah berapa lama, angin dan hujan akhirnya telah berhenti. Liana meringkuk dalam pelukan hangat pria itu dan tertidur lelap .... Keesokan paginya, saat Liana membalikkan badan, jari-jarinya merasakan sentuhan asing, tangannya menyentuh sesuatu yang hangat dan sentuhan asing itu mengejutkannya. Dia perlahan membuka matanya dan wajah tampan terpantul di pupil matanya. "Hah? Bos?" Liana tertegun sejenak, kemudian teringat rentetan kilas balik kejadian gila tadi malam. Matanya langsung membelalak dan dia langsung terduduk tegak. Tetapi, karena gerakannya yang terlalu keras, suatu bagian ditubuhnya terasa sangat sakit dan rasa sakit itu langsung membuatnya berkeringat dingin. Dia seperti boneka bongkar pasang, yang di bongkar dan dipasang kembali. Setiap dia bergerak, sekujur tubuhnya terasa sakit. Namun, pada saat ini, pemandangan di dalam tenda yang luas, selimut yang berantakan dan Yohan yang telanjang dengan selimut tipis yang menutupi pinggangnya membuatnya terkejut melebihi keterkejutannya akan rasa sakit di tubuhnya. Sepasang kaki panjang saling tumpang tindih dan goresan halus terlihat samar-samar di sisi punggungnya. "Hah!" Liana yang duduk di sana seolah disambar petir. Saat itu, dia merasa dunia telah runtuh. Jadi, kemarin malam itu bukan mimpi? Dia, seorang pegawai magang yang baru bergabung dengan perusahaan setengah bulan ... tidur dengan bosnya! Saat Liana dalam keadaan bingung, Yohan menggerakkan tangannya seperti akan bangun. Liana yang terkejut, ketakutan setengah mati, dia buru-buru mengenakan pakaiannya dan langsung kabur dari sana. Dia bahkan tidak memperhatikan untaian gelang manik-manik miliknya yang tertinggal di samping bantal .... Di luar masih gelap, api unggun sisa tadi malam juga sudah padam dan hanya menyisakan asap abu-abu yang menguap ke langit. Puluhan tenda berdiri dengan tenang di sekelilingnya. Liana berjalan melewati rerumputan dengan bertelanjang kaki dan dengan cepat masuk ke dalam tenda berwarna merah muda. Helena yang terbangun, berbalik dan menatap Liana yang baru saja berbaring di dalam tenda. Liana terkejut sampai berhenti bernapas. Namun, Helena hanya menatapnya dan memejamkan mata kembali sambil bertanya dengan santai, "Dari mana kamu pagi-pagi buta begini?" "Aku ...." Jantung Liana serasa mau copot dan dia segera berpikir cepat, "Aku baru kembali dari toilet." Helena tidak bertanya lagi dan tak lama kemudian terdengar suara napas berat. Liana diam-diam menghela napas lega, tetapi jantungnya masih berdebar kencang. Dia menatap atap tenda, matanya sakit dan bengkak, dia tidak menutup matanya sampai suasana di luar menjadi terang. Hampir semua orang terbangun, tetapi Liana masih tetap berada di dalam tenda. Tawa rekan-rekannya terdengar dari luar. Tetapi, Liana malah menggulung dirinya di dalam selimut dan hanya kepalanya yang terlihat, tatapannya juga tampak linglung. Helena membuka retsleting tenda dan menunduk di depan pintu tenda. Dia bertanya pada Liana, "Liana, ayo bangun! Ayo sarapan, setelah itu kita akan pergi mendaki." Ini adalah perkemahan tim yang diselenggarakan oleh perusahaan. Ada puluhan orang dalam satu tim dan mereka akan tinggal di pegunungan yang indah selama tiga sampai lima hari. Kemarin adalah hari pertama mereka, semua orang kelelahan setelah perjalanan jauh dan mendirikan tenda. Setelah itu, mereka minum-minum di malam harinya. Pada awalnya, Liana menolak untuk minum, tetapi dia anak baru di perusahaan, jadi dia harus minum beberapa gelas agar bisa berbaur dengan rekan-rekannya. Tidak disangka, beberapa gelas minuman ini telah menyebabkan suatu masalah. Dia juga tidak tahu bagaimana itu terjadi. Dia mabuk dan masuk ke dalam tenda yang salah dan secara tidak sengaja tidur dengan Yohan. Memikirkan hal ini, kepala Liana mulai sakit lagi. "Liana? Liana?" Helena berteriak beberapa kali tapi tidak ada jawaban. Akhirnya dia melepas sepatunya dan berjalan masuk, "Liana, kamu kenapa?" Liana mendengus, dia ingin menangis dan suaranya teredam, "Aku nggak apa-apa." Helena mengulurkan tangan dan menyentuh kepalanya, "Astaga, kamu demam?" "Aku nggak apa-apa." Liana menggigit bibirnya, menahan untuk tidak meneteskan air mata dan berkata dengan suara pelan, "Aku akan istirahat sebentar. Kalian pergilah mendaki dan nggak perlu mengkhawatirkanku." Helena merasa khawatir, jadi dia mengambil dua obat demam dan membantu Liana meminum obat itu sebelum pergi mendaki bersama semua orang. Saat mendengar keadaan di luar sudah sepi, Liana baru mulai menangis karena sudah tidak bisa menahannya. Tubuhnya terasa sangat tidak nyaman. Jejak kenikmatan tadi malam masih tersisa. Entah itu karena napasnya yang terlalu cepat, tetapi setiap kali dia menarik atau membuang napas, dia mencium bau Yohan. Ditambah lagi dengan keadaannya yang sedang demam, Liana merasa seperti bebek panggang. Dia merasa sangat tidak nyaman hingga dia ingin mati. .... Di saat yang sama, tim pendakian sudah berkumpul di kaki gunung. Saat Yohan keluar dari mobil, mata gadis-gadis langsung tertuju padanya. "Wow, Pak Yohan ganteng banget!" "Biasanya cuma bisa lihat Pak Yohan pakai setelan jas, nggak disangka dia ganteng banget kalau pakai pakaian kasual!" "Kakak-kakak, air liur kalian sudah hampir menetes." "Hahaha, hari ini aku beruntung karena bisa melihat hal indah yang mungkin mustahil untuk dilihat." Yohan berdiri di sana, auranya terpancar. Mata gelap di bawah kacamata hitam melihat ke arah kerumunan dan bertanya dengan suara dingin, "Apa kalian semua tidur nyenyak tadi malam?" Semua orang serempak menjawab, "Ya." Yohan mengerutkan kening, sedikit memiringkan kepalanya dan memberi isyarat kepada asistennya Hasan Hakaman. Hasan mengerti isyarat tersebut dan berkata dengan serius, "Apa ada yang memasuki tenda Pak Yohan tadi malam?" Semua orang saling memandang dan menggelengkan kepala. Mereka semua itu adalah karyawannya, meski ada beberapa tim asisten yang menginginkan bos, tetapi mereka tidak berani bercanda tentang karier mereka. Memasuki tenda bos? Siapa yang berani melakukannya? Melihat tidak ada yang mengakuinya, alis Yohan semakin menegang. Dia mengangkat satu tangan dengan gelang yang dirangkai dengan manik-manik giok putih tergantung di jarinya, "Punya siapa ini?" Semua orang masih menggelengkan kepala, berkata kalau mereka belum pernah melihat gelang itu sebelumnya. "Kalau ada yang tahu punya siapa gelang ini, tolong beri tahu aku." Yohan berkata dengan sungguh-sungguh, kemudian menambahkan di akhir, "Akan aku beri hadiah." "Selain itu ...." Setelah jeda, dia menambahkan, "Bonus akhir tahun akan berlipat ganda." Begitu dia selesai bicara, semua orang langsung jadi heboh. "Dobel?" "Tahun lalu, aku dapat bonus akhir tahun 200 juta. Kalau dobel? Itu berarti 400 juta? Wow, keren banget!" "Punya siapa gelang itu?" "Kelihatannya seperti barang biasa, tapi apa itu sangat berharga?" "Helena, apa kamu tahu?" "Ha?" Helena tiba-tiba tersadar, ekspresinya sedikit misterius, "Aku nggak tahu ...." "Oke, sekarang kita mulai absen dulu." Hasan mulai menyebutkan nama mereka. Saat sampai pada nama 'Liana', tidak ada jawaban sama sekali. "Dimana Liana?" tanya Hasan. Helena berdiri dan berkata, "Liana sakit, dia ada di dalam tenda." "Sakit?" Hasan agak bimbang dan menatap Yohan. Yohan sedang duduk di dalam mobil hitam, memainkan untaian manik-manik di tangannya, tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan. Hasan tidak berani mengganggunya, setelah selesai mengabsen dia berkata, "Kalau begitu ayo berangkat." Hasan menutup buku catatannya, berjalan ke arah mobil dan berkata, "Pak Yohan, apa Anda mau pergi bersama dengan mereka?" Yohan tampak murung dan sepertinya tidak terlalu tertarik. Dia terus menatap untaian manik-manik di tangannya. Setelah diam beberapa saat, dia berkata, "Aku nggak ikut. Kamu bisa memimpin tim." "Baik, Pak Yohan." "Helena, kamu lihat apa?" Widia menarik Helena, "Ayo cepat naik. Ada bonus untuk sepuluh pendaki pertama." "Ya." Helena mengangguk, tetapi dia masih menoleh melihat ke belakang. Dia melihat sebuah mobil hitam melaju di jalan pegunungan yang hijau dan berkelok-kelok menuju ke lokasi perkemahan. Helena tiba-tiba berbalik dan berkata kepada Hasan, "Asisten Hasan, aku khawatir pada Liana, aku nggak akan ikut naik. Aku akan kembali dan menjaga Liana." "Oke." Bab 2 Setelah tidur beberapa saat, Liana merasa tenggorokannya sangat kering. Dia merangkak keluar tenda dengan grogi dan tiba-tiba sepasang sepatu kets pria muncul di depannya. Dia mendongak ke atas dan dia bisa melihat sepasang kaki yang ramping dan lurus. Matahari menembus awan dan bersinar terang. Liana melihat wajah Yohan dengan jelas dan dia sangat terkejut. "Pak ... Pak Yohan?" Bukannya dia pergi naik gunung? Yohan berjongkok di depannya, memandangi pipinya yang memerah karena demam dan berkata dengan sangat serius, "Ada yang ingin aku tanyakan padamu." Jantung Liana berdetak kencang dan dia menjilat bibirnya yang kering. Jantungnya berdebar seperti drum. "Ka ... katakan saja Pak." "Apa kamu melihat seseorang memasuki tendaku tadi malam?" Saat Yohan menanyakan itu, dia menatap langsung ke arah mata Liana. Tekanan Yohan begitu kuat hingga tidak bisa dihindari, seperti ada tangan tak kasat mata yang menggapai jantung dan menghancurkannya. Mata Liana mengelak dan bulu matanya bergetar. "Tidak ... saya tidak melihatnya." "Kenapa kamu gemetar?" Yohan menyadari sesuatu yang aneh pada dirinya. Tidak hanya suaranya yang bergetar, tetapi tubuhnya juga gemetar hebat. Dia sangat kurus, ditambah Yohan memandangnya, aku rasa dia akan gemetar sampai mati. Ada lusinan asisten di kantornya yang bertanggung jawab di berbagai bidang. Liana adalah pegawai magang baru. Yohan agak terkesan dengannya karena dia sangat pemalu. Yohan ingat saat wawancara pertama, ketika dia mengajukan pertanyaan, Liana sangat gugup sampai-sampai dia tidak berani menatapnya dan Liana hanya menundukkan kepalanya sepanjang waktu. "Aku ... aku kedinginan." Liana makin gemetar. "Dingin?" Yohan mengerutkan kening, "Apa kamu demam? Kenapa bisa kedinginan?" Saat dia berbicara, dia mengulurkan tangan dan meletakkan jari dinginnya di dahi Liana. Sesaat kemudian, dia mengerutkan keningnya, "Apa yang terjadi? Panas sekali!" "Pak Yohan, saya baik-baik saja ...." Liana menggigil hebat dan merasa sangat tidak nyaman. Dia ingin berdiri, tetapi sekarang dia tidak bisa mengumpulkan tenaga sama sekali. Dia hanya bisa meringkuk dengan lemah di atas rumput, dia merasa kesadarannya semakin kabur.... "Liana?" Yohan merasakan ada yang tidak beres dan mencoba membangunkannya. Pada awalnya, Liana masih bisa merespons secara samar dua kali, tetapi kemudian dia jatuh pingsan. Tanpa ragu Yohan membungkuk dan mengangkat Liana dari tanah, Dia terlihat sangat kurus dan dia tampak tidak berbobot dalam pelukannya. Yohan menunduk untuk melihatnya, tetapi tidak sengaja dia melihat sekilas tanda merah di lehernya dan matanya tiba-tiba menyipit. "Pak Yohan!" Sebuah suara terdengar memecah kesunyian. Helena kembali ke sana sambil berlari, rambutnya acak-acakan dan dia terengah-engah. Yohan berkata, "Kenapa kamu kembali?" Helena melirik Liana yang ada dipelukannya, menarik napas dan berkata, "Aku ... aku mengkhawatirkan Liana dan kembali untuk menjaganya. Dia kenapa?" "Dia demam tinggi hingga pingsan." Yohan berkata sambil meletakkan Liana di kursi belakang mobil. Dia mengatakannya sambil masuk ke dalam mobil. "Pak Yohan ...." Helena meraih pintu mobil dengan cemas dan memohon, "Apa saya boleh ikut?" Yohan menatapnya dengan sedikit tatapan tajam di matanya. Helena menjelaskan, "Aku adalah rekan kerja Liana dan kami sama-sama perempuan. Tolong biarkan saya ikut, mungkin nanti saya bisa membantu." Yohan berpikir itu ada benarnya juga, jadi dia mengiakan. .... Saat mereka tiba di rumah sakit, mereka menjalankan prosedur rawat inap untuk Liana dan memberinya infus. Saat Helena pergi merebus air, dia kembali dan melihat Yohan berdiri di ujung tempat tidur. Tatapan Yohan tertuju pada Liana yang sedang tidur, tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan. "Pak Yohan." Helena menuangkan segelas air untuknya, "Silakan minum airnya." "Terima kasih." Yohan mengambil gelas air dan menaruh gelas itu di sampingnya, "Siapa namamu?" Helena tertegun sejenak, tapi kemudian dia berpikir bahwa di antara puluhan asistennya, satu-satunya yang bisa mengikutinya kemana-mana seperti bayangan adalah Hasan. Kemampuan kerja Helena biasa saja dan dia juga jarang menonjol. Wajar kalau dia tidak bisa dipanggil dengan namanya. "Helena Darwojo. Helena dari kata Helen yang berarti cahaya atau cerah ...." "Asisten Helena, aku butuh bantuanmu untuk memastikan sesuatu." "...." Kilatan kekecewaan melintas di mata Helena, tetapi dia masih mempertahankan senyumnya dan berkata, "Apa itu Pak?" Yohan menjelaskan beberapa patah kata dan berjalan keluar dari bangsal. Helena menggigit bibirnya dan berjalan selangkah demi selangkah ke samping tempat tidur Liana. Melihat Liana yang masih pingsan, emosi di matanya sangat rumit. Memikirkan penjelasan Yohan, dia mengerucutkan bibirnya dan mengulurkan tangan untuk membuka kancing kemeja Liana. Satu kancing, dua kancing .... Saat semua kancingnya terbuka, Helena melihat tanda di tubuh Liana dan segera menutup mulutnya karena terkejut. .... "Pak Yohan, Anda dimana?" Setelah Hasan membawa rekan-rekannya kembali ke lokasi perkemahan, dia tidak menemukan Yohan dan segera menelepon untuk memastikannya. Yohan berkata, "Liana pingsan, aku mengantarnya ke rumah sakit." "Pegawai magang Liana?" Hasan agak terkejut, dia terkejut bukan karena Pak Yohan secara pribadi mengantar Liana ke rumah sakit, tetapi karena dia mengingat nama pegawai magangnya. Perlu diketahui kalau ada puluhan orang di tim asisten Pak Yohan. Dia tidak ingat siapa mereka semua kecuali Hasan. Namun, dia ingat nama Liana dan itu sangat menakjubkan. "Ya." Yohan mengangkat pergelangan tangannya, melihat jamnya, lalu berkata, "Kalian bersenang-senanglah di sana dan semua bonus akan dibagikan setelah perkemahan selesai." Dia menutup telepon setelah memberi penjelasan singkat itu. Saat itu, pintu bangsal terbuka dan Helena keluar. Yohan menatapnya, "Bagaimana?" Helena membalas tatapannya dengan tenang, "Saya sudah melihatnya, tubuh Liana sangat bersih, tidak ada apa-apa di tubuhnya. Tanda di lehernya yang Anda lihat pasti ... itu ulah pacarnya." "Pacar?" Yohan agak mengernyit, tetapi tidak berkata apa-apa lagi. Helena berkata, "Apa Anda mau masuk dan menemuinya? Dia mungkin akan segera bangun." "Enggak perlu." Ekspresi Yohan kembali seperti biasanya. "Masih ada yang harus aku urus, aku pergi dulu. Jangan lupa hubungi keluarganya saat dia bangun nanti." "Baik, Pak Yohan. Jangan khawatir tentang itu." Setelah melihat Yohan pergi, Helena segera berbalik dan memasuki bangsal. Liana sudah bangun, matanya terbuka, tetapi dia sangat lemah. Helena berjalan mendekat dan duduk di samping ranjang rumah sakit, "Liana, kamu sudah bangun? Bagaimana perasaanmu? Apa kamu merasa baikan?" Liana mengangguk. "Apa aku ada di rumah sakit?" "Ya." Helena memberikannya segelas air dan berkata sambil tersenyum, "Pak Yohan yang mengantarmu, dia bahkan memelukmu." "Uhuk ...." Liana tersedak sebelum bisa menelan seteguk air pun. "Pak Yohan?" "Ya." Helena bertanya dengan penasaran, "Liana, apa Pak Yohan menyukaimu? Sudah satu tahun aku bekerja di perusahaan, hanya satu kali aku melihatnya memeluk perempuan." Wajah Liana terasa panas. "Nggak mungkin." "Kenapa? Kamu cantik, muda dan punya penampilan yang bagus. Banyak bos menyukai gadis muda yang polos. Liana, kalau kamu nggak punya pacar, mungkin kamu bisa serius mempertimbangkan Pak Yohan. Pak Yohan nggak terlalu buruk ...." "Aku punya pacar." Liana menyela perkataan Helena. Kemudian, Helena berhenti bicara, "Benarkah?" Liana menggigit bibirnya. "Ya." Bab 3 Demam Liana berkurang setelah menghabiskan empat botol infus. Tetapi, dokter mengatakan kalau dia mengalami infeksi bakteri dan masih terdapat peradangan di sekujur tubuhnya. Meski demamnya sudah sembuh, untuk sementara dia tetap perlu dirawat di rumah sakit selama dua hari lagi dan minum obat anti inflamasi selama dua hari. Sore harinya, Linda buru-buru membuka pintu dan masuk, "Liana, kamu nggak apa-apa, 'kan?" Melihat kakaknya yang datang, matanya terasa perih, "Aku nggak apa-apa kok kak." "Syukurlah. Kenapa bisa separah ini?" Linda sangat sedih melihat adiknya yang sakit. Keduanya kehilangan orang tua mereka saat mereka masih kecil. Linda berusia tujuh tahun lebih tua dari Liana. Dia telah merawat adiknya selama bertahun-tahun baik sebagai saudara maupun ibu. Liana tidak mau kakaknya khawatir, jadi dia menahan air matanya dan berkata, "Mungkin karena terkena angin malam jadi aku demam. Nggak apa-apa, sekarang aku sudah membaik." Linda merasa agak lega setelah melihat Liana kembali bersemangat. Helena menoleh ke samping dan berkata, "Siapa kamu?" "Halo, aku Helena rekan kerja Liana." Linda langsung dengan sopan mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Helena. "Oh, apa kamu yang mengantar adikku ke rumah sakit?" "Bukan." Helena menggelengkan kepalanya, "Bos kami yang mengantar Liana ke rumah sakit. Aku cuma menemaninya selama satu hari." "Terima kasih banyak. Liana sangat tertutup. Dia beruntung memiliki rekan kerja yang baik sepertimu." "Sama-sama." Helena sekilas melihat jam dan berpikir kalau Yohan tidak akan datang, jadi dia mengambil tas di sofa dan berkata, "Karena kakak sudah ada di sini, aku serahkan Liana pada kakak. Aku pulang dulu." Linda mengantar Helena keluar. Saat Linda kembali ke kamar, dia berkata pada Liana, "Rekan kerjamu sangat baik. Apa dia teman barumu?" Liana menggelengkan kepalanya, "Kami biasanya nggak saling bicara saat di perusahaan." Helena memang biasanya sangat ramah, tetapi dia paling dekat dengan Widia saat di departemen. Liana adalah orang yang membosankan, dia hanya menundukkan kepala saat bekerja di perusahaan dan tidak pernah bersosialisasi. Sebenarnya ini agak aneh, kenapa hari ini Helena sangat ramah kepadaku? "Kalau begitu, dia memang baik, mau menemanimu di sini sepanjang hari." "Ya." Liana berpikir, suatu saat nanti, dia pasti akan membalas budi pada Helena. Linda berkata kalau rumah sakit terlalu berisik, lebih baik pulang dan istirahat di rumah. Liana tidak merasa kalau di rumah sakit berisik, tetapi tanpa kakaknya, dia merasa kurang nyaman, jadi dia setuju. Saat mereka berdua keluar dari rumah sakit, angin sejuk bertiup dari luar pintu. Liana merasakan ada sesuatu yang ditaruh di bahunya, ternyata kakaknya mengenakan jaket di tubuhnya. Jelas kalau kakaknya mengenakan pakaian tipis, tapi kakaknya tetap melindunginya, Liana mengerucutkan bibirnya dan dengan cepat masuk ke dalam taksi. Saat mereka berada di dalam mobil, Candra, suami kakaknya menelepon dan mengatakan kalau dia akan menghadiri pesta malam ini dan akan pulang larut malam, jadi mereka tidak perlu menunggunya makan. Linda memberikan beberapa instruksi, tetapi suaminya berkata dengan terburu-buru dan menutup telepon. Liana memegang tangan Linda dan berkata, "Kakak, aku ingin makan mie masakanmu malam ini." Linda tersenyum. "Oke, kakak akan masakkan untukmu." "Ya." Saat mereka sampai di rumah, Linda membantu Liana masuk ke kamar, meletakkan bantal di punggungnya, menuangkan secangkir air hangat dan menyentuh dahinya dengan gelisah. "Kamu tunggu di sini sebentar, Kakak akan masak mie untukmu. Kalau butuh sesuatu, panggil saja kakak." Liana mengangguk setuju. "Ya." Linda mengenakan celemek dan pergi ke dapur untuk memasak mie. Mendengarkan keributan di dapur, Liana mengangkat selimut dan turun dari tempat tidur, lalu pergi ke kamar kakaknya. Dia membuka laci samping tempat tidur kakaknya dan dengan mudah menemukan pil KB di dalamnya. Dengan cepat dia melihat petunjuk di kotak pil, mengambil dua pil dan menelannya. Setelah makan malam, Liana pergi mandi. Saat dia melepas pakaiannya, dia berdiri di depan cermin dan melihat jejak di tubuhnya. Kegilaan kemarin malam muncul di benaknya dan dia masih merasa ketakutan. Mungkin karena dia terlalu banyak tidur di siang hari, atau mungkin karena merasa tidak nyaman, Liana tidak bisa tidur nyenyak di malam hari. Saat dia sedang bimbang, dia mendengar suara pertengkaran di luar. Dia mengusap pelipisnya dan berdiri, kemudian membuka pintu sedikit. Lampu di ruang tamu menyala dan ada dasi, sepatu dan kaus kaki pria berserakan di lantai. Candra sedang berbaring di sofa dan berbau alkohol. Linda sedang membereskannya dan berkata, "Aku sudah bilang jangan minum terlalu banyak. Lihat dirimu, kamu minum seperti ini, kamu akan sakit kepala lagi besok ...." "Bla, bla, bla, kamu cuma tahu bla, bla, bla. Apa menurutmu aku juga mau minum seperti ini? Ini semua juga aku lakukan untukmu, untuk keluarga ini dan untuk adik perempuanmu itu. Kalau nggak, kenapa aku harus selelah ini?" Linda sangat kesal. "Jangan salahkan Liana, salahkan saja aku." "Kenapa?" Suara Candra agak meninggi, "Dia makan, minum dan tinggal ditempatku, kenapa aku nggak boleh berkata apa-apa? Mereka yang tahu bilang kalau dia adalah adikmu, tapi mereka yang nggak tahu berpikir kalau dia adalah majikan kita!" "Liana sudah dapat kerja dan dia telah membayar biaya hidupnya sejak tahun pertamanya, kenapa dia harus makan dan minum punyamu?" Linda membela adiknya. Candra menunjuknya, "Oke! Kalau kamu bisa menyuruhnya pindah besok. Aku sangat muak melihatnya!" "Liana itu adikku, dia satu-satunya saudaraku. Dia belum lulus kuliah dan baru saja mendapatkan pekerjaan. Apa maksudmu mau mengusirnya?" Candra menjelaskan semuanya, seperti orang pelit, "Ini rumahku. Aku membeli rumah ini dengan uang dan akulah yang membayar cicilannya setiap bulan. Aku yang punya keputusan di sini, kalau aku suruh dia keluar, dia harus keluar!" "Kamu ...." Linda sangat marah sampai menangis. Kemudian, Candra tertidur dalam keadaan mabuk. Setelah beberapa saat, Linda menyeka air matanya dan memanggil Candra lagi, "Oke! Cepat mandi dan tidurlah di kamar." Liana diam-diam menutup pintu dan berbaring di tempat tidur lagi. Tetapi matanya terbuka lebar, dia melewatkan malam itu hanya dengan membolak balikkan badannya dan tidak bisa tidur. Keesokan paginya, dia bangun pagi-pagi sekali untuk membuat sarapan, meninggalkan amplop dan catatan untuk kakaknya. Dia meninggalkan rumah kakaknya dengan membawa kopernya. Liana ikut bertanggung jawab atas alasan kakaknya menikah dengan Candra. Kakaknya selalu mengatakan kalau mereka berdua adalah perempuan dan sangat menderita, dia ingin ada laki-laki di dalam keluarga mereka, agar tidak ada yang berani menindas mereka. Kakaknya tidak punya kualifikasi akademis dan tidak bisa menghasilkan banyak uang. Keinginan membeli rumah adalah mimpi yang mustahil. Candra lulus dari universitas biasa dan sekarang bekerja di sebuah perusahaan. Awalnya dia cukup baik, tetapi mungkin karena dia berada di bawah banyak tekanan, jadi dia selalu pulang dalam keadaan mabuk dan bertengkar dengan kakaknya begitu sampai di rumah. Karena ada Liana, Linda selalu mengalah dari suaminya dan harus bersabar serta menahannya sendiri. Liana tahu kalau kakaknya mencintai kakak iparnya. Tidak ada cinta yang bisa mengalahkan kebutuhan sehari-hari dan dia tidak ingin menjadi beban bagi kakak dan iparnya. Dia mengambil inisiatif untuk pindah dan berharap keadaan mereka berdua akan lebih baik. Lift berhenti sejenak di lantai 8. Saat pintu terbuka, Liana berhadapan dengan orang yang berdiri di luar dan tangannya yang memegang gagang koper langsung mengepal. Bab 4 Sebelumnya, Liana tidak pernah menyangka kalau kejadian pacar yang selingkuh dengan sahabatnya akan menimpa dirinya. Dia selalu berpikir kalau itu adalah kejadian absurd yang ditulis oleh seorang penulis skenario. Baru setelah itu benar-benar terjadi padanya, Liana akhirnya memahami pepatah yang mengatakan, 'Tanpa ada kejadian dari kehidupan, tidak akan ada seni'. Dia masih ingat betapa mendalam keterkejutan dan perasaan terkhianatinya saat membuka pintu asrama sekolah hari itu dan melihat Hamdan serta Winda sedang bersama. Salah satunya adalah sahabatnya dan yang lainnya adalah orang yang paling dia andalkan selain kakaknya. Tetapi, mereka menggunakan cara yang paling kotor dan paling tajam untuk menyakiti hati Liana. "Liana?" Winda tertegun sejenak. Liana sudah mengalihkan pandangannya dan menyeret kopernya ke dalam. Dia tidak berniat menyapa mereka. Bagaimanapun, masa lalu telah berlalu. Dia dan Hamdan sudah putus dan persahabatannya dengan Winda juga telah berakhir. Mulai sekarang, dia tidak ingin berurusan dengan kedua orang ini lagi. Winda meraih lengan Hamdan dan berjalan masuk, lalu pintu lift tertutup. Winda menoleh ke arah Liana dan berkata, "Kudengar kamu mendapatkan pekerjaan. Apa kamu akan melakukan perjalanan bisnis?" Liana menunduk dan mengiakan. Dia menganggap itu sudah selesai. Setelah Winda melihat ini, dia tidak berkata apa-apa lagi. Saat lift sampai dilantai satu, Liana menarik koper dan berjalan keluar. Tanpa diduga, dia melakukan kesalahan dengan tergesa-gesa dan salah satu roda koper tersangkut di celah. Liana menariknya dengan kuat dua kali, wajahnya sudah memerah, tetapi kopernya sama sekali tidak bergerak. Tepat saat dia tidak tahu harus berbuat apa, Hamdan mengulurkan tangannya dan mendorong koper dengan pelan, akhirnya roda koper itu keluar. "Terima kasih." Liana mengucapkan terima kasih dengan pelan dan pergi karena malu. Pintu lift tertutup kembali dan berlanjut turun ke bawah. Winda melirik Hamdan dan berkata dengan intonasi yang tidak jelas, "Sepertinya Liana sudah banyak berubah dan aku rasa dia masih marah pada kita. Menurutmu, apa aku harus menemuinya dan meminta maaf padanya?" "Apa itu perlu?" Hamdan berkata dengan tenang, "Sudah terjadi seperti ini, apa gunanya minta maaf?" Winda mengerucutkan bibirnya dan berkata dengan sedih, "Hamdan, apa kamu menyalahkanku?" Hamdan hanya diam. Winda melepaskan tangannya dari lengan Hamdan dan berkata, "Hamdan, kalau kamu nggak bisa melepaskan Liana, aku akan menjelaskan masalah kita padanya. Ini awalnya memang salahku dan aku akan bertanggung jawab. Liana orang yang baik, dia pasti bisa memaafkanmu ...." Pintu lift terbuka dan tempat parkir bawah tanah di lantai dua terang benderang. Winda berlari keluar lift sambil menangis dan dihadang oleh sebuah mobil yang melaju kencang dengan klaksonnya yang berbunyi keras, Winda berdiri di tengah jalan seolah dia kehilangan kemampuan untuk bereaksi, mengangkat tangannya untuk menutupi matanya, tapi lupa menghindarinya. Untungnya, Hamdan datang dengan cepat dan mengulurkan tangan untuk menariknya tepat waktu. Rem mobil hampir berasap, melewati mereka berdua dan berhenti dengan suara melengking. Pengemudi itu mengeluarkan kepalanya keluar jendela mengutuk beberapa kata, kemudian dia pergi. "Kamu mau mati?" Hamdan memegang pergelangan tangan Winda, dia berkata dengan suara yang bergetar. Adegan tadi terlalu mendebarkan, kalau dia terlambat satu detik saja, Winda mungkin sudah mati. Winda juga sangat ketakutan hingga wajahnya menjadi pucat. Air matanya terus mengalir, dia menangis sampai gemetar dan melemparkan dirinya ke pelukan Hamdan. Dia tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Hamdan menghela napas, lalu mengulurkan tangannya untuk memeluknya dan dengan lembut menghiburnya. "Sudah, jangan menangis lagi ...." .... Liana naik taksi kembali ke asrama sekolah. Ini adalah satu-satunya tempat dia bisa tinggal setelah keluar dari rumah kakaknya. Awalnya, asrama itu untuk empat orang, karena ini adalah akhir semester tahun terakhir, setelah mendapatkan pekerjaan mereka semua pindah satu per satu. Liana biasanya tidak tinggal di sini, tetapi tokonya belum dipindahkan. Sebelum kejadian perselingkuhan itu, Winda tinggal sendirian di sini. Karena keluarganya tinggal di luar kota dan dia juga belum mendapatkan pekerjaan magang. Saat Liana datang malam itu, dia mendengar dari teman-teman sekelasnya kalau ada pemadaman listrik di asrama. Dia khawatir Winda akan takut sendirian, jadi dia datang untuk menemaninya. Tetapi, saat membuka pintu dia malah melihat pemandangan itu .... Sekarang Winda tidak tinggal di sini lagi. Kudengar Hamdan menyewakan rumah untuknya di luar. Liana sangat sibuk sejak dia bergabung dengan Perusahaan Lewis. Dia bangun pagi dan pulang larut malam. Dia sangat terkejut karena melihat mereka berdua di lingkungan tempat tinggal kakaknya hari ini. Tidak disangka, rumah yang disewakan Hamdan untuk Winda ternyata ada di komplek kakaknya dan juga di gedung yang sama. Entah itu hanya kebetulan atau memang disengaja, Liana sudah tidak mau memikirkannya lagi. Sekarang dia merasa kalau pindah adalah hal yang benar. Ada banyak peluang untuk bertemu seseorang dan itu tidak bisa dihindari. Singkatnya, dia hanya merasa tidak nyaman. Setelah membereskan tempat tidur, ponsel Liana berdering. Itu adalah telepon dari kakaknya. Suaranya terdengar sedikit menangis saat dia berbicara, "Liana, kamu kenapa? Kamu baik-baik saja, 'kan? Kenapa nggak pamitan padaku? Kamu dimana? Aku akan datang menjemputmu." Liana bersandar di tempat tidur, "Kak, aku pindah lagi ke asrama sekolah. Saat lulus masa magang nanti, aku bisa mendaftar di asrama karyawan di perusahaan ...." "Ada tempat di rumah, kenapa tinggal di asrama karyawan? Tunggu aku, kakak akan segera datang menjemputmu ...." "Kak!" Liana berteriak dengan sungguh-sungguh. Linda langsung terdiam. Liana menahan semua emosi sedihnya, menatap ke langit-langit dan berpura-pura santai. "Kakak, aku sudah dewasa. Aku nggak mau jadi bebanmu lagi dan aku juga ingin jadi sandaranmu." Linda duduk di kursi ruang tamu, memegang ponsel dan air mata terus mengalir. Dia menyeka air matanya dan berkata, "Aku nggak perlu bergantung padamu. Aku cuma butuh kamu di sisiku. Nggak peduli berapa umurmu, kamu akan selalu jadi adikku." "Kak, terima kasih. Tapi kali ini aku benar-benar ingin bisa mandiri. Kak, kamu akan mendukungku, 'kan?" Suara Linda terdengar serak, "Bagaimana kalau aku nggak mendukungmu? Apa kamu akan langsung pulang?" "Nggak." Liana tersenyum, air mata mengalir tanpa suara, "Saat tumbuh dewasa, apa pun yang aku lakukan, kakakku akan mendukungku. Dia adalah kakak perempuan terbaik di dunia." Linda tidak berbicara untuk waktu yang lama. Meski dia telah mencoba yang terbaik untuk menahan diri, Liana masih mendengar isak tangisnya. "Kak, saat aku menghasilkan banyak uang nanti, aku akan membelikanmu rumah besar dan membukakan toko untukmu. Kamu dan kakak ipar nggak perlu bekerja terlalu keras lagi." Barulah saat itu Linda tertawa dan berkata, "Kamu ini! Aku nggak mau rumah besar atau toko. Kakak iparmu dan aku cuma orang biasa dan kami nggak berharap untuk berumur panjang. Liana, kamu cuma perlu ingat ini, kakak nggak mau apa pun, kakak cuma mau kamu baik-baik saja. Selama kamu bahagia, aku lebih puas dari apa pun." "Ya." Liana mengangguk dalam, "Kak, aku pasti bisa melakukannya!" Setelah menutup telepon, Liana menangis untuk beberapa saat. Tok, tok, tok .... Tiba-tiba ada suara ketukan di pintu. Liana menyeka air matanya dan pergi untuk membuka pintu. Saat pintu terbuka, ternyata hari sudah berganti malam dan wajah tampan Yohan membesar di depannya .... Bab 5 "Hah ...." Liana menjerit dan terbangun dari mimpinya. Saat membuka mata, dia mendapati dirinya terbaring di ranjang rumah sakit. Siang, malam dan Yohan tadi semuanya telah lenyap. Wanita tua di ranjang rumah sakit sebelah yang baru datang bertanya sambil tersenyum, "Gadis kecil, apa kamu bermimpi buruk? Aku lihat saat kamu tertidur, kamu memegang erat sprei dengan kedua tanganmu. Kamu mimpi apa?" Saat dia masih kecil, Liana mendengar kalau dia mengalami mimpi buruk dan menceritakannya, mimpi itu tidak akan terjadi. Saat wanita tua itu bertanya, dia langsung menjawab dengan lancar, "Bosku." Wanita tua itu tertegun, menggelengkan kepalanya dan mendesah, "Bosmu pasti sangat menakutkan." Segera setelah dia selesai berbicara, pintu bangsal dibuka dari luar dan sesosok tubuh kurus dan tinggi muncul. Awalnya Liana mau bangun dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi. Dia masih memakai sandal di satu kaki dan hampir tergelincir dari ranjang rumah sakit saat melihat orang itu datang. Yohan mengenakan kemeja putih dengan kerah agak terbuka dan celana panjang hitam yang membuat kakinya terlihat ramping. Dia membawa termos di satu tangan dan jas hitam di tangan lainnya. Ke mana pun dia pergi, sosoknya sangat luar biasa. Mereka berdua saling bertatapan. Dia langsung mengencangkan jari-jarinya yang ada di samping tempat tidur. Namun, Yohan berjalan melewatinya dan langsung berjalan ke tempat tidur wanita tua di sebelahnya, menundukkan kepalanya, lalu berkata, "Nenek." Liana mendongak karena terkejut dan melihat wanita tua itu membelai kepala Yohan dengan penuh kasih sayang. Pak Yohan, yang biasanya begitu agung di perusahaan, bertingkah seperti cucu di depan wanita tua itu ... Hah ini gawat, dia cucu dari wanita tua itu. Liana yang masih terkejut melihat Yohan membuka tutup termos, mengambil sup dan memberikannya kepada wanita tua itu. Tidak di sangka, CEO berwajah dingin itu juga memiliki sisi hangat dan Liana tidak bisa menahan diri untuk tidak terlihat tercengang. Namun, wanita tua itu melambaikan tangannya berulang kali, "Aku baru saja makan apel, aku masih kenyang." Wanita tua itu berbalik dan melihat Liana, lalu berkata, "Nak, kamu belum makan, 'kan? Kebetulan cucuku membuat sup iga. Apa kamu mau mencobanya?" Yohan juga ikut menoleh. Liana yang sangat ketakutan melambaikan tangannya berulang kali, "Nggak, nggak, nggak perlu, saya nggak lapar ...." Namun, wanita tua itu sangat ramah, "Aku belum memakannya sedikit pun. Apa kamu nggak suka berbagi makanan dengan orang tua?" "Bukan begitu." "Baguslah kalau begitu." Wajah wanita tua itu berubah dengan sangat cepat dan dia mengulurkan tangan untuk mendorong Yohan, "Cepat ke sana. Kasihan gadis kecil itu, dari tadi aku nggak melihat satu pun keluarganya datang. Omong-omong, dia baru saja mengalami mimpi buruk, dia bermimpi tentang bosnya. Gadis kecil itu sangat ketakutan, kurasa bosnya bukan orang baik ...." Liana mencoba menghentikannya beberapa kali tetapi tidak bisa menyelanya. Orang tua itu terus membicarakan segalanya! Yohan mengangkat alisnya dan menatap Liana, "Benarkah? Hal buruk apa yang kamu lakukan sampai membuatmu takut pada bosmu?" Liana terdiam. Dia merasa meski punya sepuluh ribu mulut, dia tidak akan bisa menjelaskannya. Yohan terus menatapnya, seolah ingin melihat pori-pori di wajahnya. "Saya ... saya mau ke kamar mandi dulu, kalian ngobrol saja." Liana melarikan diri dan bersembunyi di kamar mandi. Plak! Yohan menerima pukulan keras di punggung tangannya dan wanita tua itu memarahinya, "Lihat, kamu membuat gadis itu ketakutan." Yohan tersenyum tak berdaya, "Nenek, apa aku begitu menakutkan?" Dia biasanya agak ketat dalam bekerja, tetapi Liana tidak akan ketakutan sampai segitunya, bukan? "Ya!" Wanita tua itu memandangnya dengan hati-hati, "Nggak terlihat menakutkan, tapi kamu selalu memasang wajah dingin yang membuat orang takut. Gadis kecil itu pemalu, tapi menurutku dia cukup baik dan nggak sombong atau sok. Dia sangat sopan. Aku sangat menyukainya ...." "Hentikan!" Yohan menyela perkataan wanita tua itu dengan sakit kepala, "Dia sudah punya pacar. Nenek, tolong jangan membuat keputusan sembarangan." Wanita tua itu tidak memercayainya, "Dia punya pacar? Bagaimana kamu tahu?" "Karena dia adalah karyawanku." "Hah?" .... Saat Liana keluar dari kamar mandi, di ruangan itu cuma ada Yohan. Begitu dia keluar, pandangan Yohan langsung tertuju padanya. Liana melangkahkan kaki dan bergerak kembali ke samping tempat tidur dengan gugup. Masih ada jarum yang tertancap di punggung tangannya dan dia memegang botol infus itu tinggi-tinggi dengan tangannya yang lain, dia berjinjit ingin menggantung botol infus, tetapi karena tinggi badannya dan pergerakan yang terbatas, dia tetap gagal meski beberapa kali mencobanya. "Berikan padaku." Suara laki-laki yang dalam terdengar di telinganya. Liana berbalik dengan gugup dan aroma dingin yang menyegarkan mengalir ke hidungnya. Pada saat yang sama, botol infus itu jatuh ke jari Yohan dan dia menggantungnya dengan mudah. "Terima kasih, Pak Yohan." Liana menundukkan kepalanya dan tidak berani melakukan kontak mata dengannya. Setelah dia duduk di ranjang rumah sakit, Yohan membawa termos dan meletakkannya di meja samping tempat tidurnya, "Ini untukmu." Liana sangat terkejut. Dia mengangkat kepalanya dan meliriknya. Saat mereka saling bertatapan, dia dengan cepat menurunkan pandangannya dan pipinya memerah. Yohan menganggap itu lucu. Dia telah melihat banyak gadis, tetapi Liana adalah gadis pemalu pertama yang dia temui. Dia seperti putri malu, wajahnya akan memerah setiap kali dia menyentuhnya dan itu cukup menarik. Takut dia akan terlalu memikirkannya, Yohan menambahkan, "Nenek yang memberikannya untukmu." "Ya. Saya akan berterima kasih pada nenek secara langsung nanti," kata Liana. Yohan berdiri di samping tempat tidur sebentar, "Ada satu hal lagi yang ingin kutanyakan padamu." "Silakan tanyakan saja." Dia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya dan menyerahkan padanya, "Apa kamu pernah melihat ini?" Liana sangat terkejut, itu adalah gelang manik-manik miliknya! Kenapa bisa ada di tangan Yohan? Yohan mengamati ekspresinya, "Apa kamu pernah melihatnya sebelumnya?" Liana tersadar dan menggelengkan kepalanya, "Tidak ... saya tidak pernah melihat itu sebelumnya." Mata Yohan berkilat kecewa, "Apa kamu yakin tidak pernah melihat ini sebelumnya?" "Ya." Liana sangat gugup hingga jari-jarinya serasa hampir mau patah, "Saya tidak pernah melihatnya sebelumnya." "Oke." Yohan mengambil kembali untaian manik-manik itu. Perasaan Liana sangat kacau, dia tidak menyangka dia telah meninggalkan sesuatu di tempat Yohan. Liana selalu sakit saat dia masih kecil. Kakaknya mendaki sampai ke puncak gunung selangkah demi selangkah, menaiki 999 anak tangga dan pergi ke kuil untuk meminta gelang manik-manik itu. Dia telah memakainya selama bertahun-tahun, tapi selalu menyembunyikannya di balik lengan bajunya. Oleh karena itu, cuma beberapa orang terdekat di sekitarnya yang tahu, tidak ada orang lain yang tahu kalau dia memiliki gelang manik-manik itu. Dia tidak punya teman di perusahaan, dia penyendiri dan tidak ada yang tahu tentangnya. Jadi, dia tidak perlu khawatir kalau Yohan akan mengetahuinya. Tetapi, yang dia khawatirkan adalah bagaimana cara mendapatkan gelang itu kembali? Sore harinya, Helena mengiriminya beberapa pesan dan menanyakan kabarnya. Karena dasar sopan santun, dia membalasnya. Dia dan Helena benar-benar tidak akrab satu sama lain, jadi setelah mengobrol dua atau tiga kata, sudah tidak ada topik yang dibahas lagi. Tetapi, Helena mengirim pesan lain saat ini. "Liana, apa bos ke rumah sakit?" Dia juga anggota tim asisten Yohan. Liana juga tidak yakin kenapa dia mencari Yohan, jadi dia dengan jujur menjawab, "Dia datang tadi siang." Detik berikutnya, Helena langsung meneleponnya. Bab 6 "Halo, Liana, apa kamu sudah baikan?" Begitu panggilan tersambung, Helena bertanya dengan penuh perhatian. Liana mengangguk, "Ya, sudah baikan." "Apa sekarang kamu masih demam? Kamu sudah makan siang? Kamu lapar nggak? Mau aku pesankan makanan? Atau aku bisa membawakanmu apa pun yang mau kamu makan." Menghadapi kekhawatiran dari Helena, Liana merasa agak bingung dan tidak mengerti. Mereka tidak akrab satu sama lain, tetapi kenapa Helena tiba-tiba sangat mengkhawatirkannya? Namun, dia baik, Liana tidak mungkin mengabaikannya, jadi dia menjawab pertanyaannya satu per satu, "Aku sudah nggak demam. Aku sudah makan siang dan aku nggak lapar. Kalau aku lapar, aku bisa memesan makanan sendiri. Helena, terima kasih sudah perhatian padaku." "Oh ...." Helena merenung sejenak, "Kalau begitu ... apa bos masih ada di sana?" "Dia sudah pergi." "Oh ... apa bos secara khusus menjengukmu?" "Nggak." Liana tidak bicara tentang fakta kalau nenek Yohan juga dirawat di rumah sakit ini. Bagaimanapun, Yohan adalah bosnya. Kalau dia terlalu banyak membicarakannya dan mengatakan hal yang salah, itu akan berdampak langsung pada pekerjaannya. Helena bingung, "Kalau begitu, kenapa bos pergi ke rumah sakit?" "Sepertinya ... dia menjenguk temannya." Liana berkata dengan samar. "Ada teman bos yang dirawat di rumah sakit?" Pertanyaan Helena terus berdatangan. Liana mengerucutkan bibirnya dan berkata, "Aku nggak tahu detailnya." "Oh." Nada bicara Helena tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya, kemudian dia berkata, "Malam ini aku ada waktu luang, kamu mau makan apa? Nanti aku bawakan untukmu." "Nggak perlu. Aku nggak tinggal di rumah sakit malam ini." Liana tidak bisa menahan keramahannya, jadi dia menolak. "Oh , oke. Beristirahatlah, jangan khawatirkan pekerjaanmu, aku akan membantumu mengurusnya." "Ya, terima kasih Helena." "Sama-sama, kita kan rekan kerja. Kalau begitu istirahatlah, aku nggak akan mengganggumu lagi." "Ya." Setelah menutup telepon, Helena bersandar di kursinya, mengerutkan kening sambil berpikir. Widia menggeser kursinya dan berkata, "Sejak kapan kamu jadi akrab dengan pegawai magang itu? Bahkan mau mengantarkan makanan untuknya?" Helena melambaikan tangannya, "Itu karena aku merasa kasihan padanya." "Kasihan apanya?" Widia tidak setuju, "Aku sudah sering melihat banyak pemula seperti dia di tempat kerja. Dia menggunakan usia mudanya sebagai tameng dan berpura-pura menjadi lemah serta menyedihkan di perusahaan hanya untuk memenangkan simpati semua orang. Sehingga dia bisa memberinya bantuan di tempat kerja. Dengan kata lain, kamu bukan siapa-siapa di mataku." Helena hanya tersenyum, tetapi dia memikirkan apa dia harus pergi ke rumah sakit malam ini. .... Sudah lewat jam lima sore saat Liana selesai menggantungkan infus. Pada awalnya dia akan kembali ke asrama sekolah, tetapi melihat nenek Yohan yang kesepian, dia ingin tinggal bersamanya lebih lama dan menunggu Yohan datang sebelum pergi. Setelah beberapa saat, pintu bangsal terbuka dan Linda masuk membawa kotak makanan. "Kakak? Kenapa kakak datang ke sini?" Liana berdiri untuk menyambutnya. Linda meletakkan payung di tangannya di sudut dan berkata sambil tersenyum, "Aku membawakanmu makan malam. Kamu pasti lapar, 'kan?" Kotak makanan dibuka dan kotak itu berisi makanan favorit Liana. "Kak, aku bisa mengatasinya sendiri." Jalan dari rumah ke rumah sakit agak jauh. Liana tidak tega melihat kakaknya berlarian kesana kemari. Dia juga lebih khawatir kalau kakaknya akan bertengkar lagi dengan kakak iparnya. Linda mengerti apa yang dia pikirkan, jadi dia menepuk punggung tangannya dengan nyaman dan berkata, "Kakak iparmu ada acara malam ini. Hari ini hujan, jadi aku juga nggak bisa buka toko. Aku bingung di rumah sendirian. Lebih baik aku datang ke rumah sakit untuk menemanimu." Liana mengangguk patuh. "Ya." Dia mengambil dua tisu dan menyeka tetesan air hujan di bahu Linda. "Bagus sekali." Mata Nenek Nia basah dan dia mengangkat tangannya untuk menyeka air matanya. "Aku juga punya kakak, tapi dia kurang beruntung dan meninggal lebih dulu. Melihat kalian berdua seperti melihat kami di masa lalu. Kalau kakakku masih hidup, dia pasti akan datang menjengukku ...." Kata-kata ini membuat kedua kakak beradik itu merasa tidak enak. Linda berkata, "Nenek, orang yang sudah tiada akan mengawasi kita di langit. Jangan terlalu sedih. Kalau kakak Anda tahu kalau Anda sedih karenanya, dia juga akan sedih." "Ya." Nenek Nia tersenyum canggung dan berkata, "Perkataanku nenek tua sepertiku pasti membuat kalian merasa nggak nyaman. "Tidak apa-apa." Linda berkata, "Tidak peduli berapa usia kita, kita semua punya orang yang paling kita sayangi. Selain merindukan orang yang telah meninggal, yang lebih penting bagi kita adalah menghargai masa kini." Nenek Nia mengangguk berulang kali, "Kamu benar." Linda mengeluarkan sedikit nasi dan berkata, "Nenek, Anda pasti belum makan, 'kan? Apa Anda ingin mencoba masakanku?" Mata Nenek Nia berbinar, "Oke. Kebetulan aku juga lapar." Mereka bertiga duduk mengelilingi tempat tidur untuk makan bersama. .... Gedung Perusahaan Lewis. Helena selesai mengetik kata terakhir dan menyimpan formulirnya. Saat dia melihat ke atas, dia melihat Yohan berjalan keluar dari kantor. Helena segera mematikan komputer dan mengejarnya. Di luar sedang hujan deras. Saat Helena keluar, dia melihat Yohan berdiri di depan pintu menunggu mobil. Dia berjalan mendekat dan berkata, "Pak Yohan, apa Anda juga baru pulang kerja?" Yohan menoleh dan menatapnya dengan ekspresi tenang, "Ya." Helena menatap pemandangan hujan dengan ekspresi cemas di wajahnya, "Bagaimana ini, aku harus lembur dan aku lupa mengantarkan makanan untuk Liana." Mendengar itu, Yohan menoleh ke arahnya lagi, "Apa katamu?" "Aku berjanji menjenguk Liana malam ini dan membawakannya makan malam, tetapi aku sangat sibuk sampai-sampai aku lupa." Helena memegang ponselnya, "Hujan sangat deras, pasti susah cari taksi." Yohan bertanya, "Apa kamu mau pergi ke rumah sakit?" "Ya." Saat ini, sopir sudah melaju dan berhenti di depan mereka berdua. Yohan berkata, "Masuklah, kebetulan aku juga akan pergi ke sana." Tanpa ragu Helena langsung masuk ke dalam mobil. .... Dia mendorong pintu bangsal hingga terbuka, tetapi suasana di dalam sangat sunyi. Di bawah cahaya redup, Nenek Nia bersandar di tempat tidur dan Liana berbaring di ranjang sampingnya, keduanya tertidur pulas. Suara TV yang pelan dan suara rintik hujan di luar jendela seperti musik pengantar tidur yang menenangkan. "Liana ...." Begitu Helena berbicara, Yohan mengangkat tangannya. Dia tidak masuk, tetapi keluar dari bangsal dan menutup pintu dengan lembut. Helena berdiri di belakangnya dan memandangnya dengan bingung, "Pak Yohan?" "Sudah lama tidak tidur senyenyak itu. Jangan membangunkannya." Meski sudah keluar dari bangsal, suara Yohan masih sangat lembut dan pelan, seolah-olah dia takut kalau menaikkan volume suaranya dia akan membangunkan orang-orang yang sedang tidur nyenyak di kamar. Helena terkejut. Hanya dalam satu hari, Pak Yohan begitu peduli pada Liana? Apa mungkin dia mengetahui rahasianya? Setelah memikirkannya lagi, dia merasa ada yang tidak beres. Kalau Pak Yohan sudah tahu kebenarannya, dia juga akan tahu kebohongannya. Pak Yohan paling benci dibohongi, jadi bagaimana dia bisa acuh dan membawanya ke rumah sakit bersamanya? Helena tidak bisa memahaminya. Yohan mengambil kotak makanan dari tangannya dan berkata, "Pulanglah dulu, aku yang akan memberikan ini pada Liana" Helena tidak punya pilihan selain mengangguk, "Kalau begitu ... maaf karena merepotkan Anda." Bab 7 Yohan pergi ke kantor dokter dan menanyakan hasil tes neneknya lebih dulu. Saat dia kembali ke bangsal, Liana sudah bangun dan membungkuk untuk menyelimuti nenek itu. Liana berbalik saat mendengar suara gerakan itu, dia berbalik, matanya masih terlihat seperti baru bangun dari tidur. "Pak Yohan." Suara gadis itu lembut dan mendengarkannya di malam yang gelap ini benar-benar membuat hatinya menjadi nyaman. Yohan agak mengangguk, "Terima kasih sudah merawat nenekku." Yohan tahu alasan kenapa dia tidak pergi. Nenek tidak pernah memuji orang lain dengan mudah, itu menunjukkan kalau Liana memang punya kualitas yang sangat baik. "Anda tidak perlu berterima kasih, Saya tidak melakukan apa-apa. Selain itu ... saya juga makan sup iga Anda untuk makan siang." Seperti kata pepatah, 'kamu harus membalas kebaikan seseorang'. Aku memakan sup iganya tadi siang dan membantu merawat neneknya bukan hal uang serius. Yohan meliriknya dan bertanya, "Bagaimana rasanya?" "Hah?" Liana tidak menyangka dia akan menanyakan hal ini. Dia tertegun sejenak dan berkata dengan agak malu, "Cukup enak, tapi agak hambar." "Ya." Yohan juga tidak marah. Dia menerima pendapatnya dengan tenang dan menjelaskan, "Nenek nggak boleh makan makanan yang terlalu asin, jadi aku cuma menambahkan sedikit garam." Liana agak terkejut. "Anda sendiri yang membuat sup iga itu?" Sebelum Yohan sempat menjawab, suara Nenek Nia terdengar, "Dia yang membuat sup itu. Nggak cuma bisa memasak sup, dia juga bisa memasak masakan lain, mencuci pakaian, mengganti bola lampu dan memperbaiki peralatan ... Kalau kamu punya waktu, datanglah ke rumah. Cobalah masakannya." Liana berbalik. Dia melihat Nenek Nia yang baru saja memejamkan mata dan tertidur lelap, sekarang membuka matanya dan menatap mereka berdua sambil tersenyum. Mendengar itu, Liana tidak bisa menahan diri untuk memujinya, "Pak Yohan benar-benar hebat." Dia telah melihat banyak bos besar di tempat kerja dalam kehidupan ini. Tetapi jelas kalau Yohan bukanlah orang seperti itu. Dia sangat mandiri, dia sangat berbeda dengan orang kaya lainnya. Yohan tidak menjawab dan hanya membuka kotak makanan untuk Nenek Nia. Nenek Nia melambaikan tangannya, "Aku sudah makan malam." "Sudah makan?" Yohan agak terkejut. Nenek lebih pemilih darinya dan tidak pernah makan sembarangan di luar. Nenek Nia tersenyum dan berkata, "Kakak Liana datang untuk mengantarkan makan malam dan aku makan bersama mereka." Yohan menyimpan lagi kotak makanannya, "Kalau begitu, biarkan aku membasuh wajah Nenek." "Nggak perlu, Liana sudah melakukannya untukku, dia juga merendam kakiku. Aku nggak butuh itu lagi." Yohan hanya terdiam. Liana mengambil tasnya dan berkata, "Pak Yohan, ini sudah larut, jadi saya pulang dulu. Selamat tinggal, Nenek Nia." "Iya, selamat tinggal." Nenek tersenyum dan melambai kepadanya. Begitu Liana pergi, Yohan tersenyum dan berkata, "Sepertinya Nenek sangat menyukai gadis itu?" "Aku sangat menyukainya. Bagaimana denganmu? Apa kamu menyukainya?" Karena tidak ada orang lain, ucapan nenek menjadi lebih lugas. "Aku sudah membantumu menanyakannya. Dia putus dengan pacarnya dan dia masih lajang sekarang. Kalau kamu menyukainya, kamu harus segera mengungkapkannya." Yohan tampak tidak berdaya. .... Liana sedang berdiri di bawah atap rumah sakit, menunggu bus. Tiba-tiba, hembusan angin bertiup dan hujan dingin mengguyur wajahnya. Tanpa sadar dia mengangkat tangannya untuk menghalangi air hujan, tetapi ditarik oleh sebuah tangan. Aroma dingin dari tubuh pria itu mengenai hidungnya dan Liana menatap kosong ke arah orang yang muncul di depannya, "Pak Yohan?" Yohan memegangi pergelangan tangannya. Kulit tangannya lebih lembut dari yang dia bayangkan. Entah kenapa, dia ingin meremasnya dengan kuat. Dia menekan dorongan hati dan berbisik, "Kenapa kamu tersipu setiap kali melihatku?" Mendengar kata-kata itu, Liana merasa wajahnya panas dan merasa malu, "Tidak ... tidak, aku cuma ... cuma ...." Setelah beberapa saat, dia tidak mengatakan alasannya. Yohan tidak menyela, dia hanya menatapnya dengan tenang, menatap pipinya yang kemerahan, dia merasa itu sangat menarik. Saat angin sepoi-sepoi bertiup, dia mencium aroma unik tubuh Liana dan matanya tiba-tiba menyipit. Dia mengerahkan sedikit kekuatan dan menarik Liana ke pelukannya. Sebelum Liana sempat bereaksi, dia memiringkan kepalanya untuk mengendus lehernya. "Pak Yohan!" Liana berseru dengan mata terbelalak. Dia merasakan hawa dingin di lehernya dan ujung hidung Yohan dengan lembut menyentuh lehernya, meninggalkan jejak yang ambigu. Liana sangat panik sehingga dia mendorong Yohan menjauh dan berlari ke tengah hujan dengan tergesa-gesa .... .... Sudah empat puluh menit berlalu setelah dia sampai di asrama. Liana basah kuyup. Saat dia menyeret tubuhnya yang basah dan mengeluarkan kunci, dia melihat sesosok tubuh berdiri di depan pintu asrama. Kaki Liana jadi lemas dan dia terpaku di sana seolah tidak berani bergerak maju. Yohan mematikan puntung rokoknya dan berjalan ke arahnya. Sosok tinggi itu perlahan mendekat, Liana ingin berlari, tetapi kakinya sangat berat, dia tidak bisa bergerak. Dia hanya bisa menyaksikan tanpa daya saat Yohan mulai mendekat dan dia berseru dengan suara keras "Pak Yohan." Seluruh tubuh Liana basah, hujan terus menetes ke rambut dan bajunya, lalu menetes ke lantai. Lingkaran di bawah matanya berwarna merah. Entah itu karena kedinginan atau apa, sekarang dia agak gemetar. "Kenapa kamu lari?" Kemarahan Yohan menghilang tanpa bekas begitu dia membuka mulutnya. Gadis kecil yang begitu lemah benar-benar membuatnya tidak bisa marah, dia hanya ingin memeluknya dan merawatnya dengan baik. Berpikir bahwa perilakunya sebelumnya di pintu masuk rumah sakit membuatnya takut, Yohan juga merasa sedikit bersalah, "Maaf, aku agak berlebihan. Aku nggak bermaksud apa-apa, aku cuma mencium bau parfum di tubuhmu ... Katakan padaku, apa malam itu kamu yang masuk ke tendaku?" Matanya bersemangat seolah-olah ada api yang menyala, meski Liana basah kuyup saat ini, dia seolah bisa membakarnya dalam sekejap. Liana menggelengkan kepalanya dan melangkah mundur, "Saya ... tidak mengerti apa yang Anda bicarakan." Yohan mengulurkan tangan dan meraih pergelangan tangannya, mengendalikannya dengan kuat untuk mencegahnya mundur. Dia menatap matanya dan bertanya, "Apa kamu yang masuk ke dalam tendaku saat kita sedang berkemah?" "Bukan saya ...." Liana membantahnya. Yohan terdiam beberapa saat, jakunnya berguling, "Apa kamu bisa membuktikannya padaku?" Liana membuka matanya lebar-lebar, pupil matanya berkedip-kedip dan butuh waktu lama baginya untuk mengeluarkan satu kata, "Ya!" .... Begitu pintu asrama ditutup, ruangan menjadi gelap gulita. Plak. Liana menyalakan lampu di atas meja dan area sekitarnya menjadi lebih terang. Dia perlahan membalikkan punggungnya dan membuka kancing kancingnya satu per satu. Yohan berdiri di belakang pintu, menatap punggungnya. Ada banyak jejak pada tubuh wanita malam itu, jejak yang ditinggalkannya saat dia sedang dalam kegembiraan yang luar biasa. Yohan ingat kalau dia tidak lembut dan dia juga meninggalkan jejak pada wanita itu. Kalau benar Liana adalah wanita itu, pasti akan ada bekas di tubuhnya! Bab 8 Saat kemejanya dilepas, punggung putih mulus Liana terlihat di mata Yohan. Ada sedikit kekecewaan di matanya dan dia membuang muka, meminta maaf dengan suara yang dalam, "Maafkan aku." Liana menarik sprei di tempat tidur dan membungkus badannya, dengan air mata terhina. "Pak Yohan, apa ini sudah membuktikannya?" Yohan membuka mulutnya, tetapi merasa apa pun yang dia katakan saat ini terlalu jahat. Saat pergi, dia melirik ke arah lantai dua. Masih ada cahaya redup di jendela. Ekspresi lemah Liana muncul di benaknya. Dia bertanya-tanya apakah dia sedang menutupi wajahnya dan menangis saat ini? Yohan mengambil ponsel dan menelepon Hasan, "Bantu aku menyiapkan hadiah. Yang paling indah untuk seorang gadis." .... Begitu Yohan pergi, Liana mengunci pintu dan membawa piyama bersih ke kamar mandi. Setelah melepas jaketnya, bekas di dadanya sedikit memudar, tetapi tetap saja mengejutkan. Tidak banyak bekas luka di punggungnya. Dia mengoleskan salep jadi luka dipunggungnya sudah sembuh, Yohan tidak akan menyadari itu. Meski begitu, Liana masih ketakutan sampai berkeringat dingin. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya setelah Yohan mengetahuinya. Yang dia tahu hanyalah Perusahaan Lewis dengan tegas melarang hubungan apa pun antar pegawai. Dia telah berjuang keras untuk mendapatkan pekerjaan ini dan dia tidak bisa kehilangannya begitu saja. Oleh karena itu, dia harus menjaga rahasia ini, meski dia harus mati, Yohan tidak boleh tahu tentang hal ini! Setelah mandi sebentar, dia naik ke tempat tidur dan tertidur. Keesokan paginya, Liana membeli dua sarapan dan membawakan satu untuk Nenek Nia. Saat baru menggantung infus, pintu bangsal dibuka. Dia mengira itu adalah Yohan, jadi dia berpura-pura memainkan ponselnya dengan kepala tertunduk. "Nenek." Sebuah suara yang agak familiar terdengar. Liana mendongak kaget dan yang dilihatnya memang Hamdan. Yohan dan Hamdan. Keduanya bermarga Lewis. Ternyata mereka satu keluarga? Hamdan menoleh, seolah dia menyadari tatapannya. Liana tidak punya waktu untuk menghindarinya dan akhirnya mereka saling bertatapan. Nenek Nia memperkenalkan sambil tersenyum, "Ini Liana. Liana ini cucuku yang lain, Hamdan Lewis." Mengenai perkenalan mereka berdua, Nenek sangat singkat dan langsung pada sasaran. Liana menghela napas. Hampir saja, dia mengira kalau Nenek Nia akan memberitahu Hamdan kalau dia adalah karyawan Yohan. "Halo, aku Liana." Hamdan menatapnya dengan sedikit kehangatan di matanya. Liana hanya mengangguk sopan, lalu kembali menatap ponselnya. Saat Hamdan melihat itu, sesuatu yang aneh terlintas di pikirannya, tetapi dia tidak mengatakan apa pun. Setelah beberapa saat, staf medis datang menjemput Nenek Nia untuk diperiksa. Hamdan tidak ikut pergi, dia duduk di sudut bangsal dan mengirimkan pesan kepada seseorang. Liana lelah bermain dengan ponselnya, dia mematikan layar dan berencana untuk beristirahat. Saat dia mengangkat kepalanya, dia bertemu dengan tatapan Hamdan. Pada saat ini, Liana memiliki kilatan ilusi di dalam hatinya, seolah-olah dia telah lama menatapnya seperti ini. Liana hendak membuang muka, tetapi Hamdan berkata, "Bukannya kamu sedang dalam perjalanan bisnis? Kenapa kamu di rumah sakit?" Liana mengerucutkan bibirnya dan mengangkat ponselnya lagi. Namun, kali ini tidak setelah itu ponselnya diambil dari tangannya. Liana mengangkat kepalanya dan menatap Hamdan yang berdiri di samping ranjangnya, "Ada urusan apa?" Hamdan memandangnya, "Kenapa kamu nggak menjawab pertanyaanku?" Liana menggigit bibirnya dan bertanya, "Kenapa aku harus menjawab pertanyaanmu? Atas dasar apa kamu berbicara denganku sekarang?" Hamdan terdiam beberapa detik, "Apa kamu menyalahkanku?" "Kamu terlalu memikirkannya, kita sudah putus," kata Liana lembut. "Kita putus, tapi aku juga berhak menjelaskannya, 'kan?" Liana tidak mengatakan apa pun. Hamdan melanjutkan, "Antara aku dan Winda itu cuma kesalahan." Liana masih diam. Hamdan melihat ke atas kepalanya dan berkata, "Aku tahu kamu pasti berpikir aku mengabaikan tanggung jawabku saat mengatakan ini. Tapi Liana, percaya atau tidak, itu cuma sekali saja. Setelah itu, aku nggak pernah menyentuh Winda lagi." "Aku juga menyesali apa yang terjadi malam itu, tapi itu sudah terjadi. Satu-satunya hal yang bisa aku lakukan adalah putus denganmu. Aku bertanggung jawab pada Winda dan kamu. Apa kamu mengerti?" Mendengarkan kata-kata ini, Liana merasa seolah-olah seseorang sedang memotong jantungnya dengan pisau. Dia bilang dia tidak peduli dan semuanya sudah berakhir, tapi masih ada rintangan di hatinya. Bagaimanapun, dia sangat menyukai Hamdan dan saat mereka pacaran juga dengan tujuan untuk menikah. Awalnya dia berpikir bahwa saat dia resmi menjadi karyawan tetap dan pekerjaannya stabil, dia akan mengambil inisiatif untuk membicarakan pernikahan dengan Hamdan, tetapi dia tidak menyangka hal seperti itu akan terjadi. Hidung Liana jadi masam dan air mata jatuh ke selimut. "Liana, maafkan aku ...." Hamdan mengulurkan tangannya dan dengan lembut meletakkan telapak tangannya di atas kepala Liana. Pada saat ini, pintu bangsal terbuka dan Yohan muncul di pintu. "Kak." Hamdan langsung menarik tangannya dan pada saat yang sama mundur dua langkah untuk menjauhkan dirinya dari Liana. Yohan melirik Liana, kemudian menatap Hamdan. "Kenapa kamu ada di sini?" "Aku dengar Nenek sakit, ibu menyuruhku untuk menjenguknya." Hamdan menjelaskannya. "Apa kamu sudah bertemu Nenek?" Yohan terlihat dingin dan tidak terlalu antusias dengan adiknya ini. "Ya." Yohan masuk dan meletakkan barang-barang di tangannya. Melihat Hamdan yang masih berdiri di sana, ada sedikit ketidaksabaran di wajahnya, "Kenapa masih di sini?" Hamdan mengerutkan keningnya, "Ayah tidak ada di Kota Rogasa akhir-akhir ini. Ibu bilang kalau kamu nggak bisa menjaganya, kamu bisa membawa Nenek pulang dan ibu yang akan menjaganya ...." "Nggak perlu." Yohan langsung menyela, "Nggak boleh ada yang berani mencampuri urusan tentang Nenek." Bangsal itu dipenuhi hawa permusuhan yang tak terlihat. Akhirnya, Hamdan membuang muka dan berkata dengan tenang, "Kalau begitu aku pergi dulu." .... Setelah Hamdan pergi, Liana baru mengangkat kepalanya untuk melihat Yohan. Dia mungkin sedang dalam suasana hati yang buruk, alisnya berkerut dan wajahnya sedikit lebih dingin dari biasanya saat ada di perusahaan. Yohan menoleh ke arahnya dan bertanya, "Kamu kenal dia?" Liana tanpa sadar ingin menyangkalnya, tetapi merasa kalau Yohan telah mengetahui semuanya, jadi dia mengangguk. Dia tidak menanyakan pertanyaan lebih lanjut, berjalan mendekat dan meletakkan tas yang dia bawa di depan Liana, "Ini untukmu." Setelah beberapa saat, dia menambahkan, "Kompensasi." Kompensasi untuk tadi malam. Wajah Liana memerah. Dia menggelengkan kepalanya dan berkata, "Tidak perlu." Dia cuma melihat bagian belakangnya saja, dibandingkan dengan memakai bikini di pantai itu tidak ada apa-apanya. Hanya saja Liana pemalu dan dia merasa bersalah, jadi dia bereaksi sedikit terlalu keras "Perlu!" Suara Yohan sangat tenang, takut menakutinya lagi, "Kalau kamu nggak mau menerimanya, aku akan merasa nggak nyaman." Liana ingin mengatakan sesuatu yang lain, tetapi Nenek Nia sudah kembali dan di dorong masuk oleh staf medis. .... Liana menjalani rawat inap rumah sakit selama tiga hari dan menjalani prosedur pemulangan pada hari keempat. Dokter meresepkan beberapa obat untuk dibawa pulang dan memberinya beberapa nasihat. Saat mengucapkan selamat tinggal pada Nenek Nia, wanita tua itu memegang tangannya dengan enggan, yang membuat mata Liana memerah. Melihat ini, Yohan berkata, "Dia adalah karyawan perusahaanku. Kalau Nenek ingin bertemu dengannya, pergi saja ke perusahaan untuk menemuinya." "Benarkah?" "Tentu saja." Dengan jaminan Yohan, akhirnya Nenek Nia pun rela melepaskannya. Hari sudah sore saat dia meninggalkan rumah sakit. Yohan memberinya libur tambahan setengah hari dan memintanya untuk istirahat yang cukup sebelum berangkat bekerja di perusahaan besok. Begitu Liana kembali ke asrama, dia melihat Winda. Bab 9 Liana membuka pintu dan melihat Winda berdiri di samping tempat tidurnya, memegang syal yang diberikan oleh Yohan di tangannya. "Liana?" Melihat Liana sudah pulang, Winda buru-buru memasukkan barang-barang itu kembali ke dalam tas dan menarik tangan Liana, "Liana, kapan kamu kembali ke asrama? Kenapa kamu nggak memberitahuku?" Liana menarik tangannya dan berjalan tepat di depannya, "Bukannya kamu sudah pindah?" "Ya, aku kembali untuk mengambil sesuatu." Winda menghampiri dan menunjuk ke tas bermerek di lemari, "Liana, apa syal itu punyamu?" "Ya." Liana menatapnya dengan tatapan dingin dan cuek, "Emang kenapa?" "Nggak kenapa-kenapa." Senyuman Winda terlihat palsu, "Syal ini adalah edisi terbatas yang baru dirilis LV bulan lalu. Harganya sangat mahal dan sulit didapat. Aku cuma mau tanya, bagaimana kamu mendapatkannya? Aku juga mau beli itu." Liana melihat tas itu dan melihat logo mereknya. Itu hadiah dari Yohan. Dia tidak berniat menerimanya dan dia juga tidak melihat dengan teliti saat menerimanya. Tidak disangka, ternyata benda itu sangat mahal. "Itu hadiah dari teman." Liana berkata dengan santai, "Aku juga nggak tahu jelasnya." "Teman yang mana?" Winda bertanya, tapi ada lebih banyak rasa tidak percaya di matanya. Dia telah berteman baik dengan Liana selama bertahun-tahun dan dia paling tahu betapa bersihnya lingkaran teman Liana. Selain dia dan Hamdan, Liana tidak punya teman lain. Liana berkata dengan santai, "Kamu nggak kenal dia." Winda ingin menanyakan sesuatu lagi, tetapi ponselnya berdering saat itu. Setelah melihat penelepon, Winda tidak ragu-ragu menjawab panggilan itu di depan Liana, "Halo, Hamdan ... oke, aku di asrama. Ya. Siang ini aku mau makanan Perancis yang kita kunjungi terakhir kali ... oke, aku akan menemuimu nanti." Setelah menutup telepon, Winda berkata kepada Liana, "Liana, istirahatlah, aku pergi dulu." Liana bahkan tidak menanggapinya. Dia duduk di tempat tidur dan membuka laptopnya. Saat itu, Winda cuma mengerutkan bibir, berbalik dan meninggalkan asrama. .... Restoran Perancis. Winda memesan beberapa hidangan dan menyerahkan menunya kepada Hamdan. Hamdan melihat dan membatalkan beberapa hidangan, "Kenapa pesan banyak banget, emang kamu bisa menghabiskannya?" "Nggak masalah kalau nggak habis. Pokoknya aku bisa mencicipinya," kata Winda acuh tak acuh dan menambahkan foie gras yang mahal. Hamdan meliriknya, "Sebelumnya, aku rasa kamu nggak seboros ini." Dulu, saat masih pacaran dengan Liana, dia sesekali mengajak Winda makan malam. Saat itu, Winda selalu sangat pendiam dan menahan diri lebih dari Liana. Belakangan, Hamdan mengetahui kalau hal itu disebabkan oleh latar belakang keluarga Winda yang miskin dan harga diri yang rendah. Salah satu hal yang paling membuatnya terkesan adalah suatu saat ketika mereka bertiga selesai makan dan pergi, Winda kembali ke ruangan itu dan meminta pelayan untuk mengemas sisa makanan. Saat itu Winda benar-benar berbeda dengan yang sedang menyantap makanan Perancis di hadapannya sekarang. Melihat ekspresi Hamdan, Winda menutup menu dan berkata, "Apa aku memesan terlalu banyak dan kamu nggak setuju?" "Bukan begitu." Keluarga Hamdan kaya dan kedua orang tuanya adalah profesor di universitas, jadi mereka tidak peduli dengan sedikit uang ini. Setelah Winda berkencan dengannya, dia selalu membawanya ke tempat-tempat mewah seperti ini. Dia tidak berpikir ada yang salah sebelumnya. Mungkin karena dia melihat Liana di rumah sakit hari ini, kemudian dia menyadari kalau selama ini, dia dan Winda sudah berubah, tapi Liana masih sama seperti dulu. "Hamdan? Ada apa denganmu?" Winda mengangkat tangannya dan melambai di depan matanya, "Apa kamu ada masalah? Kenapa nggak fokus malam ini?" Hamdan tersadar dan berkata, "Nggak apa-apa." Winda sedang memotong foie gras, dia berpura-pura tidak tahu dan berkata, "Liana pindah kembali ke asrama sekolah." Hamdan menghentikan gerakan pisau dan garpunya sejenak, lalu berkata dengan tenang, "Benarkah?" "Tadi sore, aku bertemu dengannya saat aku kembali ke asrama untuk mengambil barang. Aku melihat dia memegang tas LV yang berisi syal yang sangat aku inginkan. Liana mengatakan itu hadiah dari seorang teman. Aku bertanya padanya teman yang mana. Tapi dia nggak menjelaskannya." Saat Winda mengatakan ini, dia melihat ke arah Hamdan. Hamdan mengerutkan kening, "Benarkah?" Winda memegangi dagunya dan berkata dengan polos, "Kupikir kamu diam-diam membelikan untuknya." "Aku?" Hamdan menggelengkan kepalanya, "Bukan aku." "Aku tahu itu bukan kamu. Meski kamu yang memberikannya, aku juga nggak akan marah. Siapa yang menyuruhku untuk meminta maaf padanya? Kalau memberi syal bisa menyelesaikan kebencian di hati Liana, aku juga bersedia. Hanya saja ... Liana kan nggak punya teman lain selain kita. Lagipula, bahkan teman biasa pun tidak akan memberikan barang semahal itu, 'kan? Hamdan meletakkan pisau dan garpunya, "Aku mau ke kamar mandi sebentar." Kata-kata Winda membuatnya merasa tidak nyaman. Hamdan pergi ke kamar mandi untuk merokok dan menenangkan diri. Setelah merokok, dia sepertinya mengingat sesuatu dan merogoh sakunya. Dia menyadari kalau ponselnya tertinggal di meja makan. Winda langsung mengambil ponselnya, membuka layar dan membuka beberapa aplikasi belanja luar negeri. Sejujurnya, dia masih tidak percaya kalau ada orang lain yang memberi hadiah semahal itu pada Liana selain Hamdan. Namun, setelah mencari-cari, dia hanya menemukan pesanan syal Hamdan sebelumnya. Ekspresi Winda berubah setelah mengklik dan melihatnya. Dia sangat menginginkan syal itu dan dia menyukainya pada pandangan pertama saat produk baru dirilis. Butuh waktu lama membuat Hamdan setuju untuk membelinya. Tepat saat dia berharap untuk memamerkan apa yang dia terima, Hamdan mengatakan kepadanya kalau dia tidak bisa mendapatkannya. Namun, sekarang dia mengetahui faktanya, bukan karena dia tidak mendapatkannya, tetapi ternyata dia membatalkan pesanannya. Kenapa dia membatalkan pesanannya? Jawabannya sederhana, Hamdan tidak mau memberikannya! Dua menit kemudian, Hamdan kembali ke meja makan. Dia melihat ponselnya masih dalam posisi semula, seolah belum disentuh. Winda menyerahkan potongan foie gras, wajahnya penuh sanjungan, "Hamdan, aku sudah memotongnya untukmu, kamu bisa mencobanya." "Terima kasih." .... Keesokan paginya, Liana naik kereta bawah tanah untuk pergi ke bekerja. Sebelum rekan-rekan departemennya tiba, dia membawa tas yang diberikan oleh Yohan dan diam-diam memasuki kantor CEO. Tirai di kantor tertutup rapat dan sunyi. Liana masuk dan langsung menuju meja Yohan. Dia tidak memperhatikan kalau ada seseorang yang duduk di sofa di sebelah kiri. Saat dia menaruh tasnya dan hendak kembali, dia menoleh dan menatap mata orang di sofa itu. "Pak Yohan!" Pertanyaan: Bagaimana rasanya tertangkap basah sebagai pencuri? Jawab: Itu sangat memalukan. Yohan sedang duduk di sofa hitam, dengan kerah kemeja terbuka dan kaki panjangnya sedikit ditekuk. Tetapi alisnya terangkat dan dia tampak dalam suasana hati yang baik. Dia menatap Liana dengan sedikit lucu, "Aku berpikir keamanan perusahaan sangatlah ketat, bagaimana mungkin ada pencuri yang bisa masuk? Setelah aku perhatikan baik-baik, ternyata itu kamu Liana?" Bab 10 Nada bicara Yohan agak malas, itu mungkin karena dia baru saja bangun. Tetapi, nada suara saat memanggil nama Liana agak meninggi dan ada sedikit kasih sayang yang tidak bisa dijelaskan. Mendengar itu, Liana tersipu dan menjelaskan, "Saya cuma mau mengembalikan apa yang Anda berikan padaku." Yohan melirik tas di atas meja, "Kamu nggak suka?" "Bukan." Liana menggelengkan kepalanya, "Saya tidak bisa menerima barang yang sangat berharga itu dan saya tidak punya alasan untuk menerimanya." "Itu bukan barang yang berharga, itu cuma sedikit niat baikku." Yohan berkata, "Atau katakan saja apa yang kamu suka? Aku akan menyuruh Hasan membelinya, atau kamu bisa memilihnya sendiri." Dia ingin menebus kesalahannya dan dia sangat tulus. "Pak Yohan, sebenarnya saya tidak menganggap serius kejadian malam itu dan saya tidak akan mengingatnya setelah itu berlalu. Kalau Anda memberi saya sesuatu, Anda akan mengingatkan saya pada hal itu sepanjang waktu." Yang dikatakan Liana adalah jujur. Yang lalu biarlah berlalu. Dia tidak akan mengungkitnya lagi. Kalau dia tidak mengatakannya tidak akan ada masalah yang muncul. Tetapi, sepertinya dia tidak bisa menerima hadiah yang diberikan Yohan. Perkataannya cukup masuk akal, Yohan akhirnya mengangguk, "Oke. Aku nggak akan memaksamu." "Terima kasih Pak Yohan." Liana berbalik dan ingin pergi, tetapi Yohan menghentikannya lagi, "Bisakah kamu membuatkanku secangkir kopi?" Sebagai anggota asisten departemennya, Liana secara alami bisa menangani masalah kecil ini, "Baik. Mohon tunggu sebentar." Saat dia menunggu kopi dibuat, Yohan memejamkan mata dan sepertinya dia tertidur di atas sofa. "Pak Yohan?" Liana memanggil dengan lembut, tetapi dia tidak menjawab. Liana membungkuk dan meletakkan cangkir di atas meja karena tidak ingin mengganggunya, tetapi saat dia mau meletakkannya Yohan tiba-tiba meraih pergelangan tangannya. "Ah!" seru Liana, cangkir di tangannya tidak stabil dan kopinya tumpah. Yohan refleks dan melepaskannya sambil mengusap alisnya, "Maafkan aku ...." Dia hanya bermimpi tentang malam itu, kebetulan Liana datang. Aroma samar di tubuhnya membuatnya kesal, jadi dia tanpa sadar mengulurkan tangan dan menggenggamnya. "Apa kamu baik-baik saja?" Yohan merasa lebih bersalah karena melihat tangan Liana yang memerah. Dia tahu itu gadis yang pemalu tapi sepertinya dia selalu membuatnya takut tanpa sengaja. Karena melihat kalau dia tidak sengaja melakukannya, Liana menyembunyikan tangannya di belakang punggungnya dan berkata, "Tidak apa-apa. Kalau tidak ada pekerjaan lain, saya akan keluar dulu." "Ya." Yohan akhirnya melepaskannya. Liana bergegas keluar dan kebetulan bertemu dua orang pegawai lain. "Liana?" Mata Widia membelalak karena terkejut, "Kenapa kamu keluar dari kantor Pak Yohan?" Helena menatapnya dengan kebingungan di wajahnya. Liana tidak mau menjelaskan, jadi dia pergi, tapi Widia menangkapnya, "Jangan pergi dulu! Apa kamu tahu kalau perusahaan punya peraturan kalau pegawai magang nggak boleh masuk ke kantor CEO? Terlebih lagi, nggak ada yang datang sepagi ini, kamu keluar dengan panik, apa kamu mencuri sesuatu?" Saat dia mengatakan itu, Widia memperhatikan tangan kiri Liana tersembunyi di belakang punggungnya dan segera menuduh Liana telah mencuri sesuatu. Dia berkata dengan tegas, "Apa yang ada di tanganmu? Keluarkan!" Saat ini, Hasan datang dari lift bersama dengan beberapa orang, "Ada apa? Kenapa berisik sekali?" Widia menunjuk ke arah Liana dan berkata dengan keras, "Asisten Hasan, aku baru saja melihat Liana keluar dari kantor CEO. Sepertinya dia telah mencuri sesuatu!" Mata semua orang tertuju pada Liana. "Aku nggak mencuri apa pun!" Liana membela diri. "Terus kenapa kamu menyembunyikan tangan kirimu di belakang punggung?" Wajah Widia penuh dengan penghinaan. Dia sudah lama tidak menyukai Liana, "Kalau begitu, ulurkan tanganmu dan biarkan semua orang melihatnya, berani nggak? Melihat situasi ini, Liana tidak punya pilihan selain mengeluarkan tangan kirinya. Tangannya kosong, dia tidak membawa apa pun, hanya punggung tangannya yang merah karena terbakar. Widia berkata, "Kamu pasti sudah menyembunyikannya, 'kan? Kalau begitu biarkan kami menggeledahmu." Wajah Liana memerah karena cemas, "Aku nggak mencuri apa pun, kenapa harus menggeledahku?" "Karena kamu mencurigakan. Karena kamu nakal dan menyelinap ke kantor CEO! Kalau kamu nggak membiarkan kami menggeledahmu, itu berarti kamu menyembunyikan sesuatu!" Widia begitu sombong hingga dia hampir menunjuk ke hidung Liana dan menyuruhnya keluar. Helena berdiri di samping dan hanya terdiam. Orang-orang lain biasanya ikut bermain dengan Widia, tetapi sekarang mereka semua cuma menonton dengan sikap pengamat. Hasan ragu-ragu dan berkata, "Liana, perusahaan menetapkan kalau pegawai magang nggak boleh masuk ke kantor CEO. Apa kamu tahu itu?" "Aku tahu." Liana mengangguk. Dia cuma mau mengembalikan hadiah dari Yohan dan tidak ingin melakukan hal lain. Selain itu, kalau tidak dikembalikan seperti ini, apa dia mau mengembalikan barang tersebut kepada Yohan di depan semua orang? Lalu, bagaimana pendapat orang lain tentangnya dan mereka bisa saja salah paham dengan Yohan. Widia menangkap kata-kata itu dan mulai membangun momentum, "Apa semua orang mendengarnya? Dia dengan sengaja melakukan pelanggaran! Menurutku, dia pasti baru saja mencuri sesuatu, mungkin dia adalah mata-mata yang dikirim oleh pesaing. Asisten Hasan, kamu harus menggeledahnya, selidiki baik-baik orang ini!" Hasan tidak akan memercayai perkataan Widia. Dia mengenal banyak orang dan merasa bahwa Liana tidak terlihat seperti mata-mata. Tetapi, di depan semua orang, dia harus adil, "Liana, apa ada yang perlu kamu jelaskan?" Liana ragu-ragu sejenak dan menggelengkan kepalanya. Dia tidak bisa menjelaskan apa-apa. "Terus, apa yang kamu lakukan di kantor CEO?" Liana masih menggelengkan kepalanya. "Kalau begitu, apa ada yang bisa membuktikan kalau kamu nggak mencuri apa pun?" Hasan ingin membantunya. Pelanggarannya terhadap peraturan hanyalah masalah kecil, tetapi dituduh mencuri adalah masalah serius. Liana tahu betul posisinya di perusahaan. Bahkan karyawan tetap pun bisa melakukan apa pun yang dia minta, apalagi dia hanya karyawan magang. Apa dia masih mengharapkan Yohan untuk membantunya menjelaskan? Dia menutup matanya, "Tidak ada ...." Sebelum dia selesai berbicara, pintu kantor terbuka dan suara Yohan terdengar, "Aku akan membantunya membuktikannya, apa itu cukup?" Semua orang menoleh dan menatap ke arah Yohan. Liana juga mengangkat kepalanya karena terkejut dan melihat pria yang berjalan ke arahnya. Dia tidak tahu apa yang dia rasakan saat ini, tetapi dia merasa semua kegelisahannya hilang dengan kemunculan Yohan. "Pak Yohan?" Widia adalah orang yang paling terkejut, "Apakah Anda ada di dalam kantor?" Yohan meliriknya, "Aku selalu ada di sana. Aku mengizinkan Liana masuk kantor dan aku juga bisa membuktikan kalau dia tidak mencuri apa pun dari perusahaan. Apa itu cukup?" Tak ada suara apa pun. Semua menjadi hening. Sangat jarang Yohan melindungi orang seperti ini. Widia tidak puas, "Pak Yohan, saya tidak ingin Anda terlalu berat sebelah! Liana adalah seorang pegawai magang. Peraturan dan regulasi perusahaan tertulis dengan jelas kalau pegawai magang tidak diperbolehkan memasuki kantor CEO. Dia melanggar peraturan ...." Helena memandang Yohan, bertanya-tanya bagaimana dia akan menanganinya. Lagi pula, peraturan dan ketentuan perusahaan bukanlah hiasan. Kalau tidak bisa menangani masalah ini dengan baik, dia tidak akan bisa meyakinkan karyawan lain. Secara logika, Liana tidak akan bisa lepas dari hukuman ini. "Siapa bilang dia pegawai magang?" Dalam keheningan, Yohan berkata dengan lembut, "Hasan, tolong umumkan, mulai hari ini dan seterusnya, Liana telah resmi menjadi karyawan tetap." Semua orang terdiam. Widia bertanya-tanya.