Istriku Dewi Perang yang Sakti

Đang tải thông tin quảng bá...

Istriku Dewi Perang yang Sakti

GoodNovel Hoàn thành
BeraniPria DominanDewasaPembalasan Dendam

Setelah mendekam di balik jeruji besi selama lima tahun, Dirga Maharaja berlatih keras dan mempelajari berbagai ilmu perang dan ilmu medis dari seorang ahli yang juga berada di penjara. Dirga berhasil...

Chương (1)

第1章

Bab 1 Petir di Siang Bolong Penjara Neraka. Tempat ini tidak dimiliki oleh negara mana pun, juga tidak di bawah kontrol pemerintahan negara mana pun. Tempat ini menampung orang-orang paling mengerikan dan paling kejam di dunia. Setiap narapidana di tempat ini bisa menggetarkan dunia! Namun, hingga saat ini, tidak ada negara yang berani menyentuh tempat ini! Bukan hanya karena orang-orang kejam yang ditahan di sini, tetapi juga karena seorang pemuda di sini, Dirga Maharaja! Pada saat ini, lebih dari seratus orang kejam sedang berlutut di depan Dirga. Mereka sangat hormat, bahkan tidak mau membubarkan diri! Semua itu tidak lain karena Dirga akan bebas hari ini. "Bos Dirga, inilah seluruh kekayaanku di Negara Kambaja. Jumlahnya nggak banyak, hanya 50 miliar Gulbi. Sebagai tanda penghargaan terdalamku atas dukungan Bos selama beberapa tahun ini. Semoga Bos bisa menerimanya." "Bos Dirga, ini 50% sahamku di Grup Bintang Lima, menurut harga saat ini sahamnya bernilai 100 miliar Gulbi!" "Bos Dirga, ini adalah kartu eksekutif VVIP yang diterbitkan oleh Keluarga Rothschild, hanya ada tiga di dunia. Fungsi kartu ini bisa melakukan tarikan besar sebanyak 50 miliar Gulbi di bank mana pun. Dengan kartu ini, Bos juga bisa mendapatkan pinjaman setiap kalinya sebanyak 10 miliar Gulbi dari lima konglomerat terbesar di dunia!" "Bos Dirga, aku hanya seorang gelandangan. Aku nggak punya apa-apa selain plakat Istana Raja Langit dan sepasang anak kembar perempuan ...." "Bos Dirga, aku akan mengeluarkan perintah pemanggilan pasukan pribadiku yang berjumlah 50 ribu orang di Negara Malaika ...." ... "Apa-apaan kalian ini? Tingkah kalian seolah aku mau merampok kalian saja!" "Kalian meremehkanku? Takut aku akan mati kelaparan saat aku bebas nanti?" "Ampun Bos, Bos Dirga tolong jangan marah!" Semua orang gemetaran sampai tersungkur ke lantai. "Baiklah, aku pergi dulu. Ingat, ya. Kalian harus bijak di sini, aku nggak mau membunuh siapa pun di antara kalian dengan tanganku sendiri!" Sshh! Semua orang sangat ketakutan. "Ampun Bos Dirga, Bos tenang saja. Kami pasti akan menjaga tempat ini untuk Bos Dirga dan Bos Besar!" Beberapa menit kemudian, di luar penjara. "Kenapa kalian kemari?" Begitu Dirga keluar dari gerbang penjara, tiga pria berjalan mendekatinya dan berlutut dengan satu lutut. "Guru, kami di sini datang untuk menjemput Guru dari penjara!" Dirga menatap ketiga orang yang berlutut di depannya dan sangat bingung! "Kalian ini, ya! Kalian yang satu komandan dari tiga pasukan Negara Naga, yang satu penguasa bangsawan Keluarga Sudarsa, yang satu orang terkaya di Negara Naga. Kalian bukan orang-orang sini. Kalau sampai ketahuan penjaga penjara, apa kalian nggak takut jadi bahan perbincangan panas!" "Cepat berdiri!" "Siap!" Mereka bertiga bangkit dan berdiri di depan Dirga dengan hormat! "Guru, ikutlah denganku. Aku akan memberikan posisi komandan tiga pasukan Negara Naga-ku untukmu!" "Sembarangan kamu! Guru pasti ikut denganku. Putri dari keluarga bangsawan Keluarga Sudarsa masih menunggu dinikahi Guru!" "Kalian berdua jangan bertengkar lagi. Aku yang paling banyak punya anak gadis. Guru, ikutlah denganku. Mulai sekarang, Guru akan menjadi penguasa Grup Harmadi!" Orang terkaya di Negara Naga menyerahkan surat transfer saham Grup Harmadi kepada Dirga. Dirga mengusap kedua pelipisnya, sakit sekali kepalanya. "Kalian bertiga bahkan bisa menjadi kakekku, apa-apaan ini? Ke depannya, aku hanya ingin berbakti kepada ibuku, membalas waktu yang terbuang dulu dengan istriku. Jangan ganggu aku lagi!" "Pergi, pergi kalian semua!" Setelah selesai bicara, Dirga segera melompat ke perahu dan pergi. Dia hanya ingin cepat-cepat pulang. Lima tahun yang lalu, dia tersandung masalah hukum setelah membunuh seorang anak orang kaya yang menganiaya istrinya di resepsi pernikahannya. Malam itu dia ditangkap dan masuk penjara. Saat di penjara, dia bertemu dengan seorang lelaki tua. Lelaki tua itu berkata bahwa Dirga memiliki bakat seorang genius dalam bela diri. Lelaki tua tersebut harus mengangkat Dirga sebagai muridnya! Waktu itu Dirga tidak banyak berpikir juga. Dia menganggap lelaki tua itu sebagai orang gila, lalu langsung setuju untuk menjadi muridnya! Namun, di kemudian waktu Dirga tahu bahwa dirinya salah besar. Setengah tahun kemudian, Guru membawanya kembali ke Penjara Neraka. Sampai saat itu, dia tidak tahu bahwa Guru sebenarnya adalah sipir Penjara Neraka, orang dengan kekuatan bela diri dan keterampilan medis terhebat di Negara Naga! Maka dari itu, dia mengikuti Guru dengan tekun untuk berlatih berbagai ilmu bela diri dan mempelajari keterampilan medis. Tiga tahun yang lalu, saat pergi, gurunya menyuruh Dirga untuk membantu Departemen Perang Negara Naga melawan musuh. Dirga menggunakan kekuatannya sendiri berhasil memukul mundur jutaan pasukan musuh dari perbatasan utara dan memenggal kepala lebih dari seratus dewa perang bintang sembilan dari pihak musuh! Hanya dengan satu pertempuran ini, presiden secara pribadi memanggilnya, memberinya gelar "Panglima Perang Neraka", menjadikannya orang pertama dalam sepuluh ribu tahun berdirinya Negara Naga! Hanya dengan satu anggukan, dia bisa langsung menjadi orang paling kuat dan kaya di dunia ini! Namun, saat ini Dirga hanya ingin pulang! Karena baru kemarin dia mendapatkan kabar, ternyata lima tahun yang lalu anak orang kaya yang menyiksa istrinya itu belum mati. Setelah langit gelap! Kota Langgara. Dirga tiba di sebuah kompleks perumahan mewah, dia memandangi gedung tinggi di depannya, dengan tak sabar dia memasuki lift. Dia segera sampai di pintu sebuah kamar di lantai tujuh, merasa sedikit bersemangat dan juga bersalah. Ini adalah kamar pengantinnya dengan istrinya, Melly Martino! Dirga mengulurkan tangan untuk mengetuk pintu, tetapi dia menemukan pintu tidak terkunci. Dari dalam terdengar suara wanita yang tidak asing di telinganya. "Kak Reno, kamu hebat sekali ...." 'Itu .... Bukannya itu suara Melly, istriku?' Siapa Kak Reno? Firasat buruk muncul hati Dirga. Dia pun mendorong pintu dengan keras dan bergegas masuk. Alhasil, dia terpaku di tempat saat melihat pemandangan di atas ranjang. Seperti petir di siang bolong! Seorang pria dan seorang wanita di tempat tidur, dalam keadaan telanjang .... Wanita itu adalah istrinya, Melly, sementara pria itu ternyata adalah anak orang kaya yang katanya sudah 'dibunuh' Dirga pada lima tahun yang lalu yaitu Reno Markus! "Sialan, siapa itu!" "Kak Reno, dia ... dia mirip Dirga?" "Hah? Sial, benar-benar Dirga!" Reno dan Melly mengenali Dirga! "Melly, katakan padaku, kenapa?" Api kemarahan di dalam hati Dirga membara berkobar-kobar, tatapannya seolah-olah membawa pisau! Melly meraih pakaiannya untuk menutupi tubuhnya, lalu dengan ekspresi acuh tak acuh berkata, "Kenapa apanya? Nggak ada kenapa. Dirga, toh kamu sudah lihat sendiri. Jadi, nggak ada yang perlu aku jelaskan lagi!" "Sayang, kamu harus mengatakan yang sebenarnya kepada Dirga, lupakan saja atau aku saja yang mengatakannya!" Reno menatap Dirga dengan ekspresi mengejek, "Dirga, kamu nggak lihat siapa dirimu? Kamu hanya seorang berandal rendahan. Apa kamu benar-benar berpikir kalau Lilly akan jatuh cinta padamu?" "Sebenarnya ya, semua permainan ini aku dan Lilly lakukan untukmu. Apa kamu tahu berapa harga rumah ini sekarang?" "Minimal 10 miliar!" Dirga tampaknya mengerti sesuatu. Dia menekan amarah di dalam hatinya dan menanyai Melly, "Katakan padaku, permainan apa?" "Dari dulu, aku selalu menjadi pacar Kak Reno!" "Dari dulu, aku itu pacar Kak Reno!" Setelah Melly selesai bicara, Reno melanjutkan dengan mengatakan, "Aku bisa bersaksi tentang ini. Bagaimana Dirga? Terkejut nggak?" "Semua kejadian ini sejak awal adalah permainan yang aku dan Lilly buat untukmu. Tujuannya tentu saja demi rumah ini, kalau nggak, kamu pikir kamu bisa 'membunuhku' begitu saja?" "Baiklah, aku dan Lilly sudah cukup baik kepadamu. Kami sudah mengatakan yang sebenarnya. Sekarang kamu bisa pergi!" "Oh ya, seminggu lagi, aku dan Lilly akan menikah di Hotel Richy. Nanti, aku bisa mengizinkanmu masuk dan makan gratis." Duar! Dirga seolah tersambar petir, dia tidak bisa menahan amarah di dalam hatinya lagi! "Plak! Plak!" Dirga menampar Melly dan Reno sampai tersungkur ke lantai. "Bajingan, kamu masih berani memukulku! Cari mati!" Reno sangat marah dan kaget, dia tidak menyangka Dirga masih berani memukulnya. "Memukulmu? Aku juga berani membunuh kalian berdua!" Dirga meraih leher Melly dan Reno lalu mengangkatnya. Dalam sekejap, mereka berdua tidak bisa bernapas dengan lancar, wajah mereka seketika pucat. Ada apa ini? Sejak kapan Dirga begitu kuat? Reno dan Melly panik, Mereka merasa mereka akan mati lemas. "Dirga, lepas ... lepaskan tanganmu. Apa kamu masih mau masuk penjara?" Kata-kata Melly melemahkan kekuatan di tangan Dirga seketika. Akhirnya Dirga pun melepaskan keduanya. Dia melirik Melly sekali lagi dan merasa muak. "Plak!" Dirga menampar wajah Melly dan meninju Reno sampai terjatuh. "Kalian pasangan sialan, aku akan selalu mengingat kalian!" "Melly, rumah ini waktu itu aku beli tunai, ternyata harganya sekarang mencapai 10 miliar. Kalau begitu, aku beri kalian waktu selama 3 hari untuk mengembalikan 10 miliar itu padaku. Kalau nggak, kalian akan menyesal sudah dilahirkan ke dunia ini!" Dirga pergi, dia tidak pernah membayangkan akhir yang seperti ini. Dia ingin membunuh Melly dan Reno, tapi itu terlalu mudah bagi mereka berdua. Dirga ingin membuat mereka berdua tidak punya apa-apa, agar keduanya menyesali semuanya! Dia tidak menginginkan rumah ini lagi, sudah kotor! Namun, uang itu harus kembali ke tangannya! Suasana hati Dirga sangat kacau. Saat itu sudah larut malam, semua angkutan umum untuk kembali ke rumah sudah tidak beroperasi. Setelah berpikir sejenak, dia memutuskan mencari bar untuk minum, lalu tidur nyenyak dan pulang besok pagi! Bab 2 Dewi Perang Angsa Putih Di dalam apartemen. Reno terus marah-marah. "Berengsek Dirga, mati saja kamu!" "Seharusnya aku membunuhmu lima tahun yang lalu!" "Sialan, kamu masih mau uang? Tunggu aku!" Sebagai tuan muda dari keluarga konglomerat kelas tiga, mana pernah Reno mengalami penghinaan seperti itu? Dia tidak bisa menahan emosi ini! "Kak Reno, kamu harus membunuh Dirga. Beraninya dia memukulmu! Cepat suruh anak buahmu bunuh dia!" Melly menggertakkan giginya, wajahnya sudah berdarah karena tamparan tadi. Keluarga Martino hanyalah keluarga kecil kelas sembilan di Kota Langgara, tetapi sejak dia menemani Reno, Keluarga Martino mendapatkan peluang luar biasa dan berkembang pesat dalam lima tahun terakhir. Sekarang Keluarga Martino hanya selangkah lagi dari menjadi keluarga konglomerat kelas tiga! Melly tidak akan pernah membiarkan dirinya dipermalukan, dia tidak akan memberi Dirga sepeser pun! "Sayang, kamu tenang saja. Mudah sekali untuk membunuh Dirga. Sekalipun dia nggak bisa dibunuh, antarkan saja dia ke gerbang kematian!" "Bukannya kamu tinggal di pinggiran kota? Waktu itu yang bertanggung jawab adalah Jager dan anak-anak buahnya. Sekarang aku telepon Jager, aku suruh dia lumpuhkan Dirga!" Tepat setelah Reno menelepon, telepon berdering lagi dan telepon itu dari ayahnya. Setelah selesai telepon, Reno bersemangat berkata kepada Melly, "Ayahku telepon. Pamanku sedang dalam perjalanan pulang. Paman bilang, Dewi Perang bintang tujuh, si Angsa Putih yang baru diangkat dari Departemen Perang tiga bulan yang lalu sudah dalam perjalanan ke Kota Langgara!" "Ayahku menyuruhku pulang besok pagi dan pergi bersama pamanku untuk menemui Dewi Perang Angsa Putih itu!" "Paman adalah seorang jenderal bintang sembilan, ini adalah kesempatanku untuk menaikkan derajat Keluarga Markus. Kalau aku bisa mendapatkan kesan baik dari Dewi Perang itu, mungkin Keluarga Markus bisa melompat ke keluarga kelas dua, bahkan menjadi keluarga kelas atas!" "Selain itu, pamanku sudah berjanji kepada ayahku bahwa dia secara pribadi akan meminta Dewi Perang Angsa Putih untuk menjadi saksi pernikahan kita!" Begitu mendengarnya, Melly langsung mencium Reno dengan penuh semangat. "Benarkah Kak Reno? Kakak baik sekali padaku. Ngomong-ngomong, Kak Reno, apa status Dewi Perang bintang tujuh yang bernama Angsa Putih itu lebih tinggi dari pamanmu?" "Tentu saja. Pamanku hanya seorang jenderal perang, tapi si Angsa Putih adalah dewa perang, bintang tujuh pula. Statusnya jelas jauh lebih tinggi dari pamanku!" Sshh! Melly langsung terkejut dengan kata-kata Reno. Pada saat yang sama, dia sangat antusias. Dia sangat senang karena dirinya sudah memilih Reno lima tahun yang lalu. "Kak Reno, huhuhu .... Kamu baik sekali padaku, aku akan melahirkan banyak anak untukmu!" Melly dengan antusias menangis dan memeluk Reno! ... Di bar. Dirga memesan sebuah ruang pribadi dan memesan semeja anggur. Setelah mabuk dalam alunan musik, dia pun tertidur di sofa. Dia baru saja tertidur kemudian dua wanita cantik membuka pintu. "Pria ini akhirnya ketemu, Jenderal. Apa Jenderal yakin dia tunangan yang belum pernah Jenderal temui itu?" "Kenapa dia seorang pecandu alkohol?" "Aisa, diam!" Wanita yang dipanggil sebagai jenderal itu memiringkan kucirannya lalu berdiri tegak. Seluruh tubuhnya memancarkan wibawa yang dingin dan tajam. Sepasang mata besar hitamnya bersinar dan dalam. Wajah cantiknya yang tanpa darah membuatnya terlihat seolah akan mati kapan saja. Namanya Zira Manggala, Dewi Perang bintang tujuh baru di Departemen Perang tiga bulan lalu, nama kodenya Angsa Putih! Zira terbatuk pelan dan menatap Dirga yang mabuk di sofa dan tidak bangun. Kemudian, Zira berkata dengan sungguh-sungguh, "Empat tahun yang lalu, aku pulang dan ayahku datang menjemputku di bandara. Dalam perjalanan, ayahku dan aku disergap lebih dari belasan kepala keluarga dari keluarga musuh. Kami terluka parah dan hidup kami dalam bahaya." "Kalau penyelamatku nggak kebetulan lewat untuk membantu, ayahku dan aku pasti sudah mati sejak lama." "Kemudian, penyelamatku itu juga membantuku dan Keluarga Manggala. Dia sudah begitu banyak membantu kami, tapi dia malah nggak pernah dapat imbalan apa pun. Sebagai imbalan atas kebaikannya, ayahku awalnya ingin menjodohkanku dengan anak buahnya, tapi ayahku justru mengatakan bahwa penyelamatku itu punya satu-satunya murid yang baik." "Jadi, ayahku setuju untuk memberikanku kepada satu-satunya muridnya, orang itu adalah Dirga!" "Cincin di tangan Dirga dan cincin di tanganku ini sepasang, nggak mungkin salah!" Zira mengambil cincin kuno dari sakunya dan meletakkannya di tangannya. Setelah mengucapkan begitu banyak kata dalam satu tarikan napas, wajahnya menjadi sedikit pucat hingga kesulitan bernapas. Namun, Aisa malah meragukan Dirga. "Jenderal, sudah zaman apa sekarang ini? Kenapa Paman masih percaya takhayul? Bukankah ini sama saja dengan menjadikan hidup Jenderal sebagai lelucon?" "Ya, aku akui bahwa gurunya Dirga memang menjadi penyelamat Keluarga Manggala. Tapi bukan berarti Jenderal harus menikah dengan Dirga, 'kan? Lihatlah Dirga ini, tukang mabuk, manusia biasa, tanpa kekuatan apa pun." "Dia benar-benar nggak pantas untuk Jenderal. Dia pernah masuk penjara dan diselingkuhi istrinya. Aku yakin sekali, gurunya pasti akan langsung menampar dan membunuh muridnya ini kalau dia melihatnya yang sekarang. Dia pasti akan menyesal menjadikan Dirga sebagai muridnya!" "Jenderal, kamu adalah Dewi Perang bintang tujuh yang terkenal. Pertempuran tiga bulan yang lalu, Jenderal bertarung sendirian melawan tiga dewa musuh di Negara Sutara, memenggal dua dari mereka dan melukai satu dengan serius!" "Tapi Jenderal juga membayar mahal dan menderita luka serius. Para dokter terkenal yang dipimpin oleh Dokter Ajaib Sean dari Ikatan Dokter Nasional berkumpul di Departemen Perang dan mengeluarkan perintah militer. Nggak peduli berapa pun harganya, mereka harus bisa menyembuhkan luka Jenderal!" "Tapi kenapa Jenderal nggak mematuhi pengaturan Departemen Perang, malah ke sini mencari Dirga?" "Jenderal, aku memohon padamu jangan marah. Ikuti aku pulang ke Departemen Perang untuk diobati oleh para Dokter Ajaib itu!" "Aku mohon Jenderal!" Aisa berlutut tepat di depan Zira dengan air mata mengalir. Uhuk! Zira terbatuk pelan lalu menyunggingkan bibirnya. Dia menepuk bahu Aisa dan berkata, "Aisa, itu nggak ada gunanya. Dokter Ajaib Sean memang sangat pintar. Tapi mereka nggak bisa menyembuhkan lukaku. Hanya penyelamatku yang bisa menyembuhkannya!" "Tapi aku harus pergi ke mana untuk mencari penyelamatku itu? Aku belum membalas budi apa pun kepadanya. Mana mungkin aku masih punya muka untuk mengecewakannya lagi? Hidupku singkat dan aku, Zira harus berguna untuk negara dan Keluarga Manggala. Sekarang aku sudah berjanji pada penyelamatku untuk menjadi istri Dirga, apa aku bisa mengingkarinya?" "Selama sisa hidupku, aku hanya ingin menjadi wanita biasa di sisi Dirga!" "Sekalipun dia adalah manusia biasa nggak berharga, aku akan menemaninya sampai dia bisa sukses dan mandiri. Ketika hari itu tiba, aku akan diam-diam meninggalkannya!" "Aisa, bawa dia pergi!" Setelah selesai bicara, wajah pucat Zira menunjukkan senyum yang belum pernah terlihat sebelumnya, kelembutannya sungguh luar biasa! ... Keesokan paginya, Dirga terbangun dalam keadaan kepala sakit seperti akan meledak. Hal pertama yang dia katakan ketika dia membuka matanya adalah mau minum air. Namun, dia tiba-tiba menyadari ada yang tidak beres. Karena dirinya bukan di bar! "Di mana ini?" Dirga mengusap kepalanya, melihat sekeliling dengan hampa dan segera mendapati dirinya terbaring di tempat tidur besar! Ini adalah kamar wanita! Pada saat ini. Pintu terbuka dengan mencicit. Zira datang dengan segelas air. "Sudah bangun, minum air nih!" Dirga langsung tertegun. "Ah, kamu, kamu, siapa kamu? Di mana aku?" "Jam berapa sekarang? Aku ingat aku minum tadi malam ...." Suara Dirga tiba-tiba berhenti, karena saat ini dia memperhatikan bahwa Zira hanya mengenakan piama tipis yang hampir transparan. Bentuk tubuhnya terlihat dan sangat menggoda! Eh? Luka wanita ini parah sekali, dia seorang petarung pula! Siapa dia sebenarnya? Bab 3 Tunangan Siapa dia sebenarnya? Meskipun pada saat itu Dirga terpaku oleh tubuh dan wajah Zira, Dirga langsung dapat mendiagnosis cedera Zira dan bisa melihat bahwa dia adalah seorang petarung! Tanpa menghiraukan tatapan Dirga, Zira mendekati tepi tempat tidur dan menyerahkan cangkir itu. Dirga mengambil gelas air dan meminumnya dengan cepat. Barulah Zira berkata dengan tenang, "Hai Dirga, aku Zira Manggala, tunanganmu!" "Apa? Tunanganku?" Dirga bingung, dia sama sekali tidak punya pikiran untuk mengagumi tubuh indah Zira. Tunanganku dari mana? Tepat ketika Dirga bingung harus apa, Zira tiba-tiba bersandar ke pelukannya dan berkata, "Aku ingin memberikan diriku kepadamu tadi malam, tapi kamu mabuk sekali. Sekarang kamu sudah bangun. Cuaca di luar cerah sekali, kita jangan lewatkan pagi yang indah ini!" Setelah itu, Zira mencium bibir Dirga. Dirga terkejut, tetapi sebagai Panglima Perang Neraka, kemampuannya untuk menahan nafsu tentu saja tidak buruk. Jadi, dia dengan cepat mengulurkan tangan dan meletakkan tangannya di bahu Zira untuk mendorongnya. "Nona Zira, apa yang kamu lakukan? Jangan gegabah, jangan asal ciuman!" "Apa kamu nggak merasa kalau kita perlu ngobrol baik-baik?" "Kamu bilang kamu tunanganku, tapi kenapa aku nggak ingat kalau kita sudah tunangan?" "Aku bukan orang sembarangan. Kalau begini, bukannya nggak adil juga buat kamu?" Zira sangat marah ketika mendengar kata-kata Dirga. "Apa maksudmu? Maksudmu aku wanita sembarangan?" "Oke, kalau begitu hari ini aku tunjukkan kesembaranganku padamu!" Zira langsung melangkah ke depan Dirga, meletakkan tangan di wajah Dirga dan menciumnya! Dia benar-benar marah. Zira seorang Dewi Perang Bintang Tujuh ditolak meskipun sudah mengambil inisiatif. Meski begitu, penilaian Dirga adalah Zira seorang wanita sembarangan! Wanita mana pun akan marah jika dikatai seperti itu! Dirga merasa mulutnya dipaksa buka dan arus listrik menyebar ke seluruh tubuhnya dalam sekejap. Ada saat ketika dia ingin berbalik dan menekan Zira di bawahnya, tetapi ketika dia memikirkan cedera Zira, dia langsung tenang dan mendorong wanita itu menjauh. Kemudian, Dirga berkata dengan cepat, "Nona Zira, jangan marah, kamu salah mengerti kata-kataku. Aku nggak bermaksud begitu!" "Selain itu, kamu terluka parah. Kalau kamu ingin sekali melakukan itu denganku, apa kamu nggak takut mati?" Zira sangat terkejut. "Kamu bisa melihat lukaku?" "Kamu asal ngomong, ya? Wajahmu pucat sekali, siapa pun bisa melihatnya." "Aku nggak percaya. Kalau begitu katakan padaku cedera macam apa yang aku derita!" Zira tiba-tiba penasaran dengan Dirga, tapi dia tidak memercayainya. Karena dirinya menderita luka dalam. Jangankan orang biasa, bahkan para dokter terkenal dari Ikatan Dokter Nasional saja dari awal tidak bisa melihatnya! Mungkinkah Dirga adalah makhluk asing? Sebelum datang ke sini, Zira sudah menyelidiki Dirga dan tahu bahwa Dirga sebelumnya berada di penjara. Saat tahu Dirga baru saja diselingkuhi istrinya, hal ini menunjukkan bahwa Dirga adalah pria gagal tak berguna! Bagaimanapun juga, Dirga adalah murid dari penyelamatnya, jadi Zira tetap menaruh sedikit harapan dari Dirga. Pada saat ini, Dirga berkata, "Cedera dalam, sistem meridian tubuhmu terputus dan ada gumpalan darah di paru-paru." "Pengobatan tradisional berfokus pada pemeriksaan melihat, memeriksa denyut nadi, mendengar, mengendus dan bertanya. Aku punya sedikit pengalaman selama itu berhubungan dengan pengobatan tradisional. Bakat medisku lumayan. Hanya dengan mengamati tubuh, wajah dan kontak fisik denganmu tadi, mudah sekali untuk mendiagnosis cedera dalammu!" Kata-kata Dirga sangat mengejutkan Zira! Zira bukan seorang dokter, dia tidak paham tentang ilmu medis. Namun, mana mungkin hal ini tidak mengejutkannya, Dirga membuat diagnosis yang akurat tentang luka dalamnya dalam waktu singkat, hanya berdasarkan mata telanjang dan kontak fisik pertama dengannya. Murid penyelamatnya itu benar-benar bukan orang sembarangan! Zira sangat penasaran pada Dirga dan ingin tahu apa lagi yang bisa dia lakukan! "Nona Zira, kita tenang dulu, oke? Pertama-tama, aku seorang dokter. Aku bisa menyembuhkan lukamu, hanya saja sedikit rumit." "Kalau kamu memercayaiku, aku bisa melakukan pengobatan akupunktur untukmu. Tentu saja, ini adalah proses yang panjang. Sebenarnya, aku rasa kita harus membahas pertanyaan pertamaku!" "Menurutmu?" Dirga mengatakan hal yang sama, Zira tidak lagi bersikeras melakukan itu dengannya. Zira bangkit dan meninggalkan Dirga, lalu duduk di samping dan berkata, "Ya, kalau kamu ada pertanyaan, kamu boleh tanya sekarang!" "Oke, kalau begitu aku akan langsung ke intinya. Nona Zira, kamu bilang kamu tunanganku. Apa kamu punya suratnya?" "Nggak, tapi aku punya cincin ini dan kamu punya juga. Cincin ini sepasang. Ini buktinya!" "Selain itu, kalau aku menyebut nama seseorang, kamu akan mengetahuinya!" "Rafan Shafik!" "Rafan Shafik? Kamu kenal guruku?" Dirga sudah lebih percaya begitu dia melihat cincin di tangan Zira dan mendengarnya menyebut nama gurunya juga. Pada saat ini, dia tiba-tiba teringat sesuatu. Ketika dia bertemu Guru di penjara lima tahun yang lalu, Guru mengatakan akan mencarikannya tujuh istri! Selain itu, ketika Guru meninggalkan Penjara Neraka, dia juga menyebutkan bahwa dia sudah menyiapkan tujuh pernikahan untuknya. Dia juga diberi cincin, yang dia kenakan di jari-jarinya. Dia juga mengatakan bahwa masing-masing dari tujuh tunangannya memiliki satu dan masing-masing adalah sepasang dengan dia! Hanya saja, di dalam hatinya hanya ada Melly. Dia tidak menganggap ucapan gurunya serius sama sekali! Namun, sekarang semuanya ternyata sungguhan! Kemudian, Zira menceritakan tentang bagaimana Rafan menyelamatkannya dan ayahnya empat tahun lalu, juga bagaimana ayahnya menjodohkannya dengan Dirga. Akhirnya, Dirga pun percaya sepenuhnya. "Oh ternyata begitu, aku nggak menyangka bisa begitu!" "Nona Zira, apa Nona bisa menghubungi guruku? Jangan salah paham, kamu itu wanita cantik, asalkan normal, pria mana pun nggak akan menolakmu. Kalau aku benar-benar menikahimu, aku akan memperlakukanmu dengan baik selama hidupku!" "Tapi ini terlalu mendadak, kamu sedang terluka parah. Lukamu pasti bisa sembuh lebih cepat kalau guruku yang mengobatimu!" Ucapan Dirga memang ada benarnya, dia sudah lama sekali tidak menghubungi gurunya itu. Dia juga sangat ingin bertemu gurunya, akan sangat bagus jika Zira bisa menghubunginya. "Nggak perlu menghubunginya lagi. Kamu adalah murid penyelamatku. Aku percaya keterampilan medismu! Aku sudah sangat berutang budi kepada penyelamatku. Bagaimana aku masih punya malu untuk mengecewakannya lagi!" "Selain itu, penyelamatku itu sudah lama meninggalkan Negara Naga. Kamu saja bahkan nggak bisa menghubunginya, kamu pikir aku bisa menghubunginya?" "Kamu nggak perlu khawatir. Pelan-pelan lukaku bisa sembuh. Bahkan untuk seumur hidup, aku bersedia memercayaimu!" "Eh ...." Dirga ragu-ragu, Zira terlalu sempurna dan cantik. Kebahagiaan ini datang terlalu tiba-tiba, Dirga merasa seperti sedang bermimpi. Dia takut tiba-tiba terbangun dari mimpi ini! "Aku nggak suka pria plin-plan. Mau berapa lama penyembuhannya, aku percaya kamu. Sekalipun kamu nggak bisa menyembuhkanku, aku nggak akan menyalahkan kamu dan nggak akan pergi meninggalkan kamu juga!" ujar Zira. Zira tentu berharap Dirga bisa menyembuhkan lukanya, tetapi dia berharap proses ini akan berlangsung seumur hidup. Dengan begitu, dia bisa tinggal bersama Dirga selamanya tanpa terpengaruh oleh masalah di rumah. "Oke, Nona Zira berbaring dulu. Aku harus membersihkan memar di paru-parumu dengan akupunktur dulu. Kamu harus melepas semua pakaianmu!" Dirga tidak ragu-ragu. Bahaya jika dia ragu-ragu, mungkin tak akan bisa mengontrol diri lagi. Wush. Zira sudah melepaskan baju tidurnya, tubuh indahnya yang menggemaskan tersaji di depan mata Dirga. Tiba-tiba, Dirga merasa pusing! Jangan sembarangan! Jangan sembarangan! Lagi pula, tadi peluk-peluk sudah, sentuh-sentuh juga sudah! Dirga berkata dalam hati untuk membuang pikiran-pikiran lain yang mengganggu di benaknya. Setelah itu, dia menusuk dada Zira dengan jarum perak di tangannya. Bab 4 Ibu Dipukuli "Mungkin sakit sedikit. Kamu tahan sebentar!" Jarum kedua ditusukkan. "Kemarilah, letakkan bantal di belakang dadamu di posisi ini. Dengan satu tusukan ini, gumpalan darah di paru-parumu akan dibersihkan sepenuhnya dalam waktu setengah jam!" Dirga berkata demikian sambil meraih bantal dan menyerahkannya kepada Zira. Setelah setengah jam, memar di paru-paru Zira benar-benar hilang. Ekspresi wajahnya langsung membaik, sosoknya pun makin cantik dan bergairah. "Sekarang aku perlu menusukkan jarum lagi dan melindungi sistem meridian tubuhmu terlebih dahulu. Ini adalah luka fatal. Selanjutnya, kamu harus membentuk kembali sistem meridian tubuhmu dan itu membutuhkan 16 jenis herbal langka. Selain itu, perlu direbus menjadi pil obat. Aku belum punya bahan-bahan itu sekarang, tapi aku jamin akan bisa membelinya dalam dua hari!" "Apa kamu benar-benar bisa membentuk kembali sistem meridian tubuhku?" Zira makin penasaran dengan Dirga sekarang, dia belum pernah mendengar tentang teknik pengobatan ini! "Tentu saja, hanya agak rumit saja." Tindakan pengobatan Dirga masih belum berhenti, tubuh Zira hampir penuh dengan jarum perak saat ini! Sepanjang proses ini, Zira berbaring dengan tenang sambil sesekali melirik Dirga. Jantungnya tiba-tiba menjadi sangat tenang. Sedikit demi sedikit memori perang dan membunuh itu hilang dari benaknya! Setelah beberapa tahun ini, dia tidak pernah merasa senyaman saat ini! Dia perlahan menutup matanya dan menikmati ketenangan yang langka ini! Tanpa sadar, satu jam berlalu. "Nona Zira, aku sudah melindungi sistem meridian tubuhmu dengan akupunktur. Sekarang kita mulai mencabut jarumnya, bagaimana perasaanmu sekarang?" Raut wajah Zira terlihat lebih baik dari sebelumnya, dia sudah merasa sangat beruntung. Namun, dalam hatinya justru tidak senang. Semua itu karena dia sudah sepenuhnya yakin bahwa Dirga dapat menyembuhkan luka dalamnya dalam waktu singkat. Saat itu terjadi, dia harus menghadapi rasa tersiksa di rumah! Dirga melihat ada yang salah dengan ekspresi Zira dan buru-buru berkata, "Nona Zira, kamu kenapa? Kenapa kelihatannya nggak senang sama sekali?" "Nggak apa-apa, aku merasa jauh lebih baik sekarang. Dirga, terima kasih banyak!" "Bicara apa kamu ini? Kamu 'kan tunanganku. Kenapa kamu mengatakan ini? Cederamu sangat serius, meskipun aku sudah membersihkan memar dari paru-parumu dan melindungi sistem meridian tubuhmu dengan akupunktur!" "Kamu nggak boleh melakukan olahraga berat, kamu harus lebih banyak beristirahat dan jangan terpancing emosi. Hari ini cukup sampai di sini dulu. Aku harus pulang untuk menemui ibuku dulu. Aku akan kembali besok untuk perawatanmu selanjutnya!" "Juga, aku sudah menyusun daftar resep untukmu. Aku pergi nanti, aku akan membelinya dan menyuruh seseorang untuk mengantarkannya kemari!" "Sebelum lukamu benar-benar sembuh, kamu harus makan dan minum obat sesuai dengan resep yang aku berikan!" Kata-kata Dirga menyentuh Zira dan menghangatkan hatinya. Ternyata seperti ini rasanya dipedulikan seseorang! Zira menatap Dirga dengan sedikit kelembutan di wajahnya dan berkata dengan lembut, "Terima kasih Dirga, tulis saja resep dan obatnya, aku akan menyuruh Aisa membelinya nanti!" "Ketika kondisi tubuhku lebih baik, aku akan pulang bersamamu untuk mengunjungi ibumu!" "Oke, kalau begitu ingat apa aku katakan tadi, istirahatlah dengan baik dan jaga suasana hatimu tetap bahagia!" Dirga dengan cepat menuliskan resep dan menyerahkannya kepada Zira. Saat hendak pergi, sebuah telepon dari nomor tidak dikenal pun datang. Dirga menjawab tanpa terlalu banyak berpikir. "Apa kamu anggota keluarga Tika Gabean?" Terdengar suara seorang wanita. "Ya, aku anaknya, Dirga. Ada apa dengan ibuku?" "Dia sekarat, cepat datang ke Rumah Sakit Rakyat Daerah!" Duar! Seperti petir di siang bolong, Dirga belum sempat menanyakan apa yang terjadi dan telepon itu sudah dimatikan. "Nona Zira, aku harus pergi dulu. Ibuku masuk rumah sakit. Aku harus pergi menemuinya!" Dirga segera pergi. Begitu dia pergi, Aisa datang ke kamar Zira. "Jenderal terlihat jauh lebih baik. Apa Jenderal tidur dengan Dirga tadi malam?" "Kenapa Jenderal nggak mau mendengar ucapanku, sekarang semuanya sudah terlambat!" Aisa mulai menangis tersedu-sedu. Sebenarnya, dia selalu ada di luar, tetapi tanpa izin Zira, dia tidak berani masuk. Dia juga tidak tahu bahwa Dirga sedang menyembuhkan Zira. "Jangan menangis. Ambil resep ini, ke depannya kamu harus memberiku obat dan makanan sesuai dengan resep-resep ini!" "Sekarang siapkan mobilnya. Ibu Dirga ada di rumah sakit. Aku harus memeriksanya!" "Cepat sedikit!" Zira khawatir, terdengar jelas dari nada bicaranya. Aisa langsung merasakan suhu di udara mendingin. Dia pun segera mengambil resep lalu lari keluar untuk menyiapkan mobil. ... Rumah Sakit Rakyat Daerah. Pada saat ini, Dirga sudah tiba di rumah sakit dan menanyakan lokasi ruang rawat ibunya di resepsionis. Setelah itu, dia segera pergi menuju ruang rawat tersebut. Namun, sekelompok orang berjaga di luar bangsal dan mengelilingi Dirga saat melihat kedatangannya! "Kamu anak Tika Gabean? Kamu datang tepat waktu, cepat berikan uangnya, 200 juta!" "Uang apa? Kalian siapa? Apa yang sudah kalian lakukan pada ibuku?" "Uang apa? Tentu saja, uang biaya perlindungan. Ibumu keras kepala sekali nggak mau bayar biaya perlindungan, jadi kami harus mematahkan kakinya." Duar! Kaki ibunya dipatahkan? "Plak! Plak!" "Plak!" Dirga menampar dengan beberapa tamparan berturut-turut, menampar semua orang sampai tersungkur lalu masuk ke ruang rawat. Dia melihat ibunya terbaring di tempat tidur berlumuran darah dan dalam keadaan pingsan! Dalam sekejap, Dirga merasa bersalah. Hatinya sangat tidak karuan! 'Sialan, aku seharusnya pulang tadi malam!' "Bu, maafkan Dirga!" Dirga menangis tersedu-sedu, tetapi dia segera tenang kembali. Dia memeriksa luka-luka ibunya dengan cermat, lalu menemukan bahwa selain kaki kirinya yang patah, bagian tubuh lainnya juga terluka! Dia segera menusukkan jarum ke tubuh ibunya, saat itu orang yang dibantingnya ke lantai di luar bergegas masuk! "Sialan, ibumu nggak mau bayar, kamu berani memukul kami juga?" "Apa kalian tahu siapa aku?" "Namaku Jager, orang di belakangku adalah Tuan Reno. Ibumu, seorang wanita tua bodoh berani-beraninya nggak bayar biaya perlindungan. Hanya patahkan satu kaki saja sudah bagus!" "Anaknya saja nggak mau gantikan ibunya bayar biaya perlindungan, kamu masih berani mukul kami?" "Kamu cari mati, ya?" "Kamu cari mati!" Dirga berteriak marah. DIa mengangkat kakinya dan menendang dengan keras beberapa kali. Semua orang seketika terpental ke lantai dan terluka parah! Dia sudah sangat baik, karena ini adalah rumah sakit, dia tidak ingin mulai membunuh dan tidak ingin membuat situasi terlalu berdarah. Jika bukan karena itu, satu tatapannya saja bisa memenggal kepala orang-orang ini. "Reno!" "Lagi-lagi kamu. Bagus sekali, ya. Aku akan mengambil nyawamu!" Sejak kecil, ayah tidak pernah pulang selama bertahun-tahun, Dirga dan ibunya hidup bergantung satu sama lain. Ibunya adalah orang paling penting di hidupnya. Siapa pun yang menyakitinya akan mati! Reno tidak akan pernah melepaskan orang-orang itu, dia akan menyiksanya sampai mati secara perlahan. "Sialan, anak ini cukup pandai berkelahi. Panggil Tuan Reno dan bawa seseorang untuk membunuhnya!" Jager dan yang lainnya terkulai lemas di lantai sambil meratap dan berteriak! Pada saat ini, Zira dan Aisa bergegas mendekat lalu segera menemukan ruang rawat ibu Dirga. "Kenapa kamu datang kemari?" Dirga terkejut melihat Zira. "Bagaimana luka Bibi?" Wajah Zira penuh kekhawatiran. "Kakinya patah, tapi aku akan menyembuhkannya. Nona Zira, kamu masih terluka dan sulit bergerak. Nona pulang saja untuk istirahat!" "Perawatanmu mungkin harus ditunda selama beberapa hari. Aku harus merawat ibuku dulu!" "Terima kasih sudah menjenguk ibuku!" Raut wajah Zira tampak tidak senang begitu mendengarnya! "Bicara apa kamu ini? Kamu adalah tunanganku, ibumu adalah calon ibu mertuaku. Sekalipun ibumu nggak terluka seperti ini, apa aku tetap nggak boleh datang menemuinya?" "Lakukan apa yang harus kamu lakukan dan serahkan sisanya padaku!" "Oh, ya. Orang-orang di luar kenapa?" Dirga tersentuh mendengar ucapan Zira. "Mereka memukuli ibuku, Nona Zira. Aku bisa mengatasinya sendiri, kenapa kamu nggak pulang saja dulu?" "Jangan basa-basi lagi, fokuslah menyembuhkan Bibi. Aisa dan aku menjaga bagian luar. Kalau ada apa-apa, kamu beri kode saja!" Nada bicara Zira jelas tegas sekali, dia pun segera keluar dari ruang rawat. Tepat di luar, Reno dan Melly muncul dengan beberapa pengawal. Bab 5 Usik Nona Zira Sedikit saja, Aku Lenyapkan Seluruh Keluargamu Reno dan Melly datang dengan beberapa pengawal. Melihat tragedi Jager dan yang lainnya, Reno tak bisa menahan emosi dan mulai memaki-maki. "Mengurus Dirga dan ibunya saja nggak bisa, apa gunanya aku pelihara kalian!" "Kalian semua nggak berguna!" "Bukan begitu, Tuan Reno, anak itu benar-benar pandai berkelahi. Tuan Reno, tolong bantu kami!" Jager merangkak ke kaki Reno dan menyeka sepatunya dengan lengan bajunya. Namun, fokus Reno sekarang sepenuhnya pada Zira dan Aisa. Dua wanita yang cantik dan elegan! Bila Melly dibandingkan dengan Zira dan Aisa, perbedaannya sangat jelas! Mereka bagaikan itik buruk rupa dan angsa putih yang cantik! Pikiran Reno seketika dipenuhi dengan pikiran jahat, matanya tertuju pada tubuh Zira. "Halo, dua wanita cantik, namaku Reno Markus, ini kartu namaku!" "Keluarga Markus adalah keluarga konglomerat kelas tiga di Kota Langgara. Ayahku adalah kepala keluarga, aku khawatir kamu belum tahu bahwa Dewi Perang Angsa Putih sudah tiba di Kota Langgara, ya?" "Aku lihat kalian berdua seperti bukan berasal dari Kota Langgara, tapi pasti pernah mendengar nama Dewi Perang Angsa Putih. Sejujurnya, Keluarga Markus adalah satu-satunya keluarga yang pendapatnya bisa diterima oleh Dewi Perang Angsa Putih." "Karena pamanku adalah jenderal bintang sembilan di Departemen Perang, inilah berita yang pamanku dapat dari Departemen Perang. Sekarang pamanku yang menemani Dewi Perang Angsa Putih, jadi aku dengan tulus mengundang kalian berdua ke kediaman Keluarga Markus sebagai tamu!" "Kalau kalian mau melihat aura pahlawan Dewi Perang Angsa Putih, itu soal gampang bagi pamanku!" Reno membagikan kartu namanya dengan sombong! Dalam hatinya Reno merasa senang, berpikir bahwa dua wanita cantik itu pasti tidak akan menolak berita yang begitu mengejutkan. Pada saat itu, ketika mereka tiba di Keluarga Markus, apa mereka masih bisa melarikan diri? Kecantikan yang luar biasa ini harus dinikmati oleh Reno! Melly menatap Reno, raut wajahnya bahkan terlihat kesal. "Kak Reno, kapan paman menemani Dewi Perang Angsa Putih? Bicara apa kamu ini?" Melly sangat tidak senang, karena tatapan Reno pada Zira membuatnya merasa sangat tidak nyaman. Hari ini, dia pulang bersama Reno sejak pagi dan bertemu dengan paman Reno. Namun, setelah bertanya, dia baru tahu bahwa pamannya hanya tahu Dewi Perang Angsa Putih sedang dalam perjalanan ke Kota Langgara. Sedangkan kapan dia akan tiba dan di mana, pamannya sama sekali tidak tahu. Sekarang, Keluarga Markus sedang secara diam-diam menggerakkan semua orang sekitar di seluruh kota untuk mencari tahu tentang berita Dewi Perang Angsa Putih. Dia dan Reno juga ditugaskan untuk menyelidiki sebuah daerah. Duar! Saat Reno mengatakan bahwa Zira akan datang ke Kota Langgara, Aisa tiba-tiba mengeluarkan aura yang dingin dan kejam! Sudah menjadi rahasia bahwa dia dan Zira datang ke Kota Langgara, bahkan di Departemen Perang, hal ini hanya diketahui oleh Komandan. Dari mana dia mendengar tentang jenderal perang bintang sembilan ini? Pada titik ini, Reno sudah mati di mata Aisa! Selama Zira memberi perintah, dia tidak akan ragu untuk membanting Reno ke lantai! "Hehe, Keluarga Markus itu apaan? Kalian memenuhi syarat untuk diterima pendapatnya oleh Dewi Perang Angsa Putih?" "Apa kamu tahu apa itu cari mati?" Aisa melangkah maju, tubuh Reno dan yang lainnya tanpa sadar gemetaran! Sial, bagaimana wanita ini bisa begitu mengintimidasi? Pada saat ini, Zira berbicara. "Reno, 'kan? Apa kamu yang menyuruh mereka untuk memukuli ibunya Pak Dirga?" Pada saat ini, Zira seperti ratu berkuasa yang menatap semua makhluk hidup. Kata-katanya menyiratkan niat membunuh. Dia selalu sangat tenang dan tidak ingin orang-orang luar mengetahui hubungannya dengan Dirga! Kalau tidak, ibunya akan segera tahu tentang Dirga, hal ini tentu akan berbahaya bagi Dirga dan ibunya! Namun, dia sudah memutuskan untuk menikahi Dirga. Ibu Dirga adalah calon ibu mertuanya. Kalau ibu mertuanya dipukuli, apakah Zira bisa diam saja? Sedangkan identitasnya akan segera ketahuan, dia sama sekali tidak peduli! "Pak Dirga? Dirga? Apa hubunganmu dengan Dirga?" "Kalian berdua bukan wanita yang dibungkus Dirga dari kelab malam, 'kan?" Sejak awal, Melly kesal melihat Zira dan Aisa, terutama Zira. Karena baik temperamen ataupun kecantikannya, semuanya kalah dari Zira! Ditambah cara Reno menatap Zira barusan, Reno terlihat begitu ingin memikat hati Zira. Melly sangat kesal melihatnya! "Berani sekali menghina atasanku, kotor sekali mulutmu!" "Plak!" Aisa menampar wajah Melly seperti kilat hingga merontokkan satu giginya! Melly langsung tercengang. Tepat ketika dia ingin menatap mata dingin Aisa, dia langsung ketakutan oleh aura pembunuh yang melintas dari matanya yang dingin! Dengan sedih, dia meminta bantuan Reno. "Kak Reno, dia, dia benar-benar berani memukulku. Cepat suruh pengawalmu lampiaskan emosiku!" Reno juga benar-benar ketakutan dengan aura Zira dan Aisa, tapi dia langsung tenang dan merasa senang. Karena sekarang dia punya alasan untuk memberikan tekanan pada Aisa dan Zira. "Aku benar-benar ingin berteman dengan kalian berdua. Tapi kalian malah memukul tunaganku. Masalah ini tentu saja besar, kalian hanya punya satu pilihan sekarang!" "Kalian berlutut meminta maaf pada tunanganku, lalu kalian temani aku minum!" "Kalau nggak begitu, aku jamin kalian berdua nggak akan bisa keluar dari rumah sakit ini hari ini!" Reno selesai bicara. Dia menoleh melemparkan tatapan ke pengawal di belakangnya. Tak lama kemudian beberapa pengawal mengelilingi Zira dan Aisa! "Kamu mengancamku?" Zira tidak marah, tetapi malah menatap Reno dengan konyol. Reno berkata dengan kesal, "Nona, kalau kamu masih bersikeras, aku pun nggak bisa berbuat apa-apa lagi. Begini saja, selama pamanku nggak ada, setengah Kota Langgara ini dikuasai oleh Keluarga Markus!" "Sekarang pamanku menemani Dewi Perang Angsa Putih, seluruh Kota Langgara bisa dikuasai oleh Keluarga Markus!" "Pamanmu Jenderal Bintang Sembilan? Dia sangat kuat?" Zira meledeknya. "Biasa saja, Keluarga Markus adalah keluarga konglomerat kelas tiga di Kota Langgara. Tapi kekuatan Keluarga Markus dalam bidang medis berada di tiga besar di Kota Langgara!" "Obat-obatan dari Keluarga Markus dipasok langsung ke Departemen Perang, Dewi Perang Angsa Putih sudah berjanji akan menjadi saksi pertunanganku enam hari lagi." "Apa kamu tahu apa artinya ini? Artinya, Keluarga Markus akan menjadi keluarga kelas dua atau bahkan nomor satu. Pamanku akan segera dipromosikan menjadi Raja Perang. Bukan nggak mungkin untuk dipromosikan menjadi Dewa Perang dalam waktu dua tahun." Pfftt! Aisa tidak bisa menahan tawa! "Apa yang kamu tertawakan?" Reno agak marah. "Aku ingat hal-hal menyenangkan. Aku bebas tertawa kalau aku mau, bukan?" Aisa menutup mulutnya dan tertawa! Wajah Reno langsung muram. "Hal menyenangkan apa? Aku sarankan kamu tahu diri dan meminta maaf kepada tunanganku sambil berlutut. Kalau nggak, jangan salahkan aku kalau main kasar!" Siapa sangka, setelah Reno selesai bicara, Aisa tertawa lagi dan berkata, "Kucingku lahiran!" Pfftt! Kali ini giliran Zira yang tertawa. Tawa ini mengejutkan semua orang! "Kenapa kamu tertawa lagi?" Reno kagum dengan tawa Zira, dia ingin marah tapi tidak bisa! "Kucingku lahiran juga!" Zira ikut-ikutan Aisa. Eh? Kenapa kata-katanya mirip sekali? Reno seketika sadar! "Kalian sedang mentertawakanku? Bagus sekali, kalian berdua cari gara-gara, ya!" "Habisi mereka, agak lembut sedikit!" Reno memerintahkan pengawal, tetapi pada saat ini suara Dirga datang dari ruang rawat. "Reno, kalau kamu berani mengusik Nona Zira, aku akan menghancurkan seluruh keluargamu!" Saat suara itu terdengar, Dirga keluar dari kamar sakit dengan aura yang mematikan. Dia datang ke depan Zira dan meraih tangan wanita itu, lalu melindungi Zira di belakangnya. Pada saat itu, Zira merasakan aliran hangat aneh yang belum pernah dia rasakan sebelumnya di hatinya. Dia sepenuhnya mengabaikan aura membunuh dari diri Dirga. Jadi, beginilah rasanya dilindungi oleh pasangan sendiri? Namun, Aisa saat ini merasakan bahaya yang belum pernah dia rasakan sebelumnya dari sosok Dirga! Bahaya parah! Bahaya ini membuatnya merasakan ketakutan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya! Aisa ketakutan sampai ke tulang-tulangnya! Bab 6 Aku Berani Membunuhmu, Mau Coba? Aisa ketakutan sampai ke tulang-tulangnya! Ada apa ini? Bagaimana Dirga si gelandangan ini membuatku sangat ketakutan? Aisa tanpa sadar gemetaran. Ilusi! Pasti ilusi! Niat membunuh yang terpancar dari Dirga berlalu begitu saja, sekarang Aisa tidak bisa merasakannya sama sekali. Saat ini, Zira hanya merasa terharu, terharu karena dilindungi oleh pasangannya sendiri. Selain itu, dia sama sekali tidak merasakan apa-apa! Pada saat ini, pengawal Reno mundur ke sisinya dan berbisik dengan suara gemetar, "Tuan, anak ini agak jahat. Takutnya dia seorang master!" "Plak!" Reno menampar wajah pengawal itu dan berkata dengan marah, "Apa kalian buta?" Setelah itu, Reno mengarahkan pandangannya pada Dirga. "Dirga, aku nggak menyangka kamu dan ibumu akan mengalami kehidupan yang sulit, senang sekali memukuli aku dan tunanganku tadi malam, 'kan?" "Kamu bisa bertarung, ya? Jangan bilang aku menggertakmu, lihat pengawal di belakangku?" "Salah satu dari mereka bisa satu lawan sepuluh. Kalau kamu paham, bersujudlah dan benturkan kepalamu tiga kali kepadaku dan Lilly. Bayar biaya perlindungan sebanyak 200 juta, biarkan mereka pergi dan minum denganku. Aku akan melepaskan kamu dan ibumu!" "Kalau kamu nggak mau, pengawalku akan membuatmu menyesal datang ke dunia ini!" Setelah selesai bicara, Reno mengarahkan pandangannya pada Zira dan Aisa lagi. Hasratnya sangat membuncah pada mereka berdua. Dirga berusaha sekuat tenaga untuk menahan amarah di dalam hatinya, dia berkata dengan nada datar, "Ini adalah rumah sakit, kalau ada apa-apa kita bisa bicara di bawah. Jangan khawatir, aku akan memenuhi semua permintaanmu hari ini!" Aisa mendengar dan mengutuk Dirga, "Dirga, kamu cari mati!" Namun, dia langsung terdiam lagi setelah menerima tatapan suram dari Zira. Zira menatap Dirga dan ekspresinya pun melunak. "Aku bisa menanganinya!" "Terima kasih, tapi nggak perlu. Aku, Dirga, nggak terbiasa membiarkan pasanganku sendiri untuk menggantikanku menghadapi masalah!" "Kamu dan Nona Aisa tolong jaga ibuku di ruang rawat, aku akan segera kembali!" Satu kalimat menghantam tali paling lembut di hati Zira, tanpa ragu dia berbalik dan menarik Aisa ke ruang rawat! "Jen .... Nona, Dirga dia ...." "Diam, aku percaya padanya!" Untuk pertama kalinya, Zira mengalami perasaan dipedulikan dan dirawat. Rasa ingin tahunya tentang Dirga dan kepercayaan padanya sudah mencapai puncaknya! Di luar ruang rawat. Raut wajah Dirga berubah suram dan suhu di udara turun menjadi beku! "Ayo, Tuan Reno, jangan khawatir. Keluarga Markus sangat kuat, dua wanita cantik itu nggak akan bisa kabur!" Setelah itu, Dirga pun melangkah pergi. Di sini adalah rumah sakit, tempat suci, dia tidak ingin membunuh di sini. "Huh, anggap saja kamu cukup tahu diri." Reno melihat Jager dan Dirga meninggalkan mereka di luar pintu ruang rawat. Kemudian, dia mengejar Dirga bersama Melly dan pengawal serta Jager dan yang lainnya! Segera semua orang berada di garasi parkir bawah tanah rumah sakit. "Dirga, aku nggak menyangka kamu cukup hebat. Diselingkuhi Lilly lalu secepat itu mendapatkan wanita cantik. Baiklah, silakan mulai penampilanmu!" Reno tampak percaya diri akan mengalahkan Dirga. "Reno, nggak seharusnya kamu membiarkan mereka menyakiti ibuku!" Setelah itu, Dirga langsung menendang kaki Reno dengan keras, lalu membanting para pengawal dan kaki Jager bersama-sama! Semua proses ini tidak sampai dua detik! Melly yang berada di samping sudah ketakutan sedari tadi, dia terjatuh ke tanah dengan lembuht! "Ah!" Reno dan yang lainnya teriak kesakitan! Pada saat ini, Dirga menginjak kaki Reno yang utuh dengan satu kaki. "Dirga, berengsek, kamu, apa kamu gila?" "Kamu berani mematahkan kakiku?! Tamat sudah kamu. Aku akan menghancurkan seluruh keluargamu!" "Krek!" Dirga menginjak keras dan suara patah tulang terdengar! "Ah! Ah! Ah!" Reno menyaksikan Dirga meremukkan lututnya kali ini! "Dirga, kamu, kamu tamat riwayatmu. Pamanku akan membunuh seluruh keluargamu!" "Tunggu saja aku!" "Plak! Plak!" Dirga menampar wajah Reno yang pucat beberapa kali dan mengucapkan kata demi kata, "Kalau kalian mematahkan satu kaki ibuku, aku akan mematahkan semua kakimu." "Hanya aku yang bisa membuatmu bisa berdiri kembali. Aku akan memberimu kesempatan untuk berdiri kembali. Dalam dua hari, siapkan 10 miliar untuk meminta maaf kepada ibuku!" "Kalau nggak, aku akan mengeluarkan Keluarga Markus dari Kota Langgara!" Dalam sekejap, Reno dan yang lainnya merasakan udara di sekitar mereka merosot ke titik beku, terutama Melly. Dia tidak menyangka Dirga yang telah berada di penjara selama lima tahun, menjadi begitu hebat dalam bertarung. "Dirga, kamu, kamu tamat sudah. Kamu tinggal tunggu mati saja! Beraninya kamu mematahkan kaki Kak Reno ...." "Plak!" Dirga menampar Melly hingga membuat tubuhnya terpental! "Kamu ... kamu berani menamparku?" "Plak!" Dirga menghampiri Melly dalam sekejap dan menginjak wajahnya! "Aku juga berani membunuhmu. Mau coba?" "Kamu!" Melly dibuat ketakutan oleh mata galak Dirga dan menelan kembali kata-kata itu. "Ingat, kamu dan Reno hanya punya dua hari. Kalau aku nggak lihat uang 10 miliar sebagai permintaan maaf dari kalian dalam dua hari, keluarga Martino dan Keluarga Markus akan menghilang dari Kota Langgara!" Dirga pun pergi. Dia dengan cepat kembali ke ruang rawat. Ibunya belum bangun, tetapi kaki dan tubuhnya yang patah sudah tidak fatal lagi. "Cepat sekali sudah kembali lagi? Mereka tidak mempersulitmu?" Aisa terkejut melihat Dirga kembali tanpa cedera. "Aku beralasan dengan mereka!" "Apa kamu pikir aku ini anak tiga tahun? Dirga, nggak disangka, kamu pengecut sekali? Beraninya kamu membiarkanku dan Nona pergi minum dengan si bodoh itu?" "Aku akan membunuhmu!" Aisa bergegas menghantam Dirga, tetapi dia terkejut dengan tatapan galak Zira. Begitu Zira ingin marah, dia dengan lembut meraih Dirga dan berkata, "Kenapa kamu nggak nurut lagi? Bukannya aku sudah bilang kamu jangan marah?" "Jangan marah-marah lagi, ya!" "Oke, aku akan mendengarkanmu, nggak akan marah, nggak akan!" Zira mengangguk patuh. Dirga bisa kembali dalam keadaan utuh, Zira percaya bahwa Dirga sudah menyelesaikan masalah ini secara menyeluruh. Dirga menatap Aisa dan berkata, "Nona Aisa, aku nggak tahu apa yang salah denganmu yang membuatmu memusuhiku. Aku nggak cukup kompeten. Aku bahkan nggak bisa melindungi ibuku sendiri. Aku masuk penjara dan diselingkuhi istriku sendiri setelah keluar dari penjara!" "Tapi, sekalipun aku nggak berguna, aku nggak akan mengandalkan Nona Zira dan kamu untuk bertahan hidup. Nona Zira terluka sekarang. Apa kamu tahu konsekuensi membuatnya marah?" "Karena kamu memanggilnya Nona, kamu harus memikirkan keselamatannya. Kalau kamu nggak suka padaku, kamu bisa menemuiku sendiri setelah Nona Zira sembuh!" Dirga tahu sejak awal, Aisa sangat memusuhinya. Dirga tidak pernah keberatan. Namun, tidak bisa dibiarkan jika Aisa sampai memengaruhi Zira! Saat ini, Aisa pun sadar dirinya sudah salah, dia pun buru-buru minta maaf kepada Zira. "Aisa, kamu minta maaf bukan kepadaku, tapi kepada Dirga." Aisa meminta maaf kepada Dirga meskipun dia enggan. Pada saat ini, Dirga bertanya dengan rasa ingin tahu, "Nona Zira, kalian berdua tentara, 'kan?" "Ya, Departemen Perang!" Zira dengan jujur mengakuinya. Apa pun yang Dirga ingin ketahui, Zira akan menjawabnya dengan jujur. Siapa sangka, Dirga justru berkata dengan wajah patah hati, "Nggak heran kamu terluka parah. Apa yang dilakukan bajingan-bajingan di Departemen Perang itu? Apa semua pria di Departemen Perang sudah mati?" "Bagaimana bisa sampai membuatmu begitu terluka parah!" "Nona Zira, terima kasih sudah datang menjenguk ibuku. Begini, kamu dan Nona Aisa pulang dulu. Kamu harus beristirahat dengan baik, makan dan minum obat sesuai dengan resep yang aku berikan padamu!" "Aku harus membawa ibuku pulang. Cedera ibuku akan memakan waktu sekitar empat hari untuk sembuh. Aku akan merawatmu ketika cedera ibuku sembuh!" "Beri tahu aku kalau selama beberapa hari ini kamu nggak enak badan." "Mari kita bertukar nomor ponsel!" Meskipun Dirga bukan dari Departemen Perang, dia tahu bahwa Departemen Perang memiliki aturan kerahasiaan yang ketat, jadi dia tidak bertanya lagi. Setelah bertukar kontak dengan Dirga, Zira dan Aisa meninggalkan rumah sakit. Bab 7 Murid Penyelamatku Tidak Mungkin Tidak Punya Kemampuan "Jenderal, Dirga benar-benar seorang dokter? Apa dia benar-benar bisa menyembuhkan cederamu?" "Selain itu, apa Jenderal hanya ingin memberitahunya bahwa Jenderal adalah Angsa Putih?" Begitu dia tiba di luar rumah sakit, Aisa tidak sabar untuk bertanya dan Zira sudah memberitahunya bahwa Dirga adalah seorang dokter dan sedang proses menyembuhkannya. "Aku yakin Dirga akan menyembuhkan lukaku, tapi kuharap nggak begitu cepat. Aku memang ingin memberitahunya identitas asliku barusan, tapi kamu tahu akhirnya nggak. Ekspresi Dirga tampak nggak tenang saat aku mengakui bahwa kita berdua adalah tentara dan berada di Departemen Perang!" Aisa baru ingat setelah mendengar ucapan Zira. "Dirga jauh lebih misterius dari yang kamu kira, murid penyelamatku nggak mungkin orang yang nggak punya kemampuan. Jadi, ingat apa yang aku katakan di ruang rawat, kamu jangan mencoba menyelidikinya!" lanjut Zira. "Siap!" Aisa setuju, lalu dia membuka pintu mobil untuk Zira. Telepon Zira berdering begitu dia masuk ke mobil. Ketika dia melihat nomor itu, dia mengerutkan kening dan memberi isyarat agar Aisa mengemudi. Setelah mobil menyala, dia menekan tombol angkat. ... Pada saat ini, Dirga sudah menyelesaikan prosedur operasi untuk ibunya. Dua jam kemudian, dia kembali ke rumah pinggiran kota sambil menggendong ibunya. Begitu dia memasuki rumah, dia melihat seorang pria paruh baya duduk di halaman sambil merokok. "Ayah sudah pulang?" Ayah Dirga bernama Arlan Maharaja. Dalam ingatan Dirga, ayahnya sudah bertahun-tahun tidak ada di rumah. Jika tidak salah ingat, ayahnya belum pulang ke rumah selama hampir delapan tahun. Ayah sangat sedikit berbicara, Dirga merasa asing dengannya. Entah apa yang dilakukan ayahnya di luar, Dirga dan ibunya tidak pernah bertanya juga. "Ya, Ayah pulang. Bagaimana kabar ibumu?" Arlan memadamkan rokok dan berdiri untuk menurunkan Tika dari punggung Dirga dan membawanya ke kamar tidur. "Bukan masalah besar. Sebentar lagi juga bangun. Ibu akan benar-benar sembuh setelah istirahat beberapa hari!" "Ayah, kali ini Ayah mau berapa lama di rumah?" "Ayah nggak akan pergi-pergi lagi!" "Kamu dan ibumu sudah mengalami kesulitan beberapa tahun terakhir ini, bukan?" Arlan menidurkan Tika, menutupinya dengan selimut dan menarik Dirga keluar. "Aku baik-baik saja, ibu yang sudah terlalu bekerja keras. Ayah, karena ayah nggak akan pergi lagi, aku mau buka klinik di kota. Aku seorang mahasiswa kedokteran dan secara akademis lumayan. Jadi, semoga Ayah bisa mendukungku!" Dirga tidak perlu bekerja sama sekali, uangnya tidak akan habis jika hanya dihabiskan untuk menghidupi dirinya dan orang tuanya selama masa hidup ini. Karena gurunya memberinya kartu bank sebelum pergi, deposit di kartu bank itu tak terhitung jumlah angkanya. Namun, Dirga adalah seorang dokter, dia suka menyelamatkan orang lain. Lebih penting lagi, sekarang dia memiliki Zira. Dia tahu bahwa Zira adalah seorang prajurit di Departemen Perang! Tanpa mengungkapkan status Panglima Perang Neraka, dia membutuhkan karier yang bagus, menjalankan klinik tidak diragukan lagi adalah pilihan yang terbaik untuknya. Arlan tidak berbicara, dia menyerahkan sebatang rokok pada Dirga. Pada akhirnya, dia berkata, "Ayah selalu mendukung apa yang akan kamu lakukan, kamu butuh uang?" "Nggak, aku masih punya uang sedikit!" "Kalau begitu, Ayah rawat Ibu di rumah. Aku akan mengurus plang klinik, sekalian membeli satu unit rumah!" "Oke!" Arlan duduk dan merokok, sementara Dirga segera meninggalkan rumah dan kembali ke kota. Rumah Sakit. "Sungguh berani. Berani mematahkan kaki anakku!" "Melly, siapa Dirga ini?" "Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi!" Di bangsal, ayah Reno, Romeo Markus, marah besar. Reno sudah pingsan di ranjang rumah sakit. Dokter terbaik di rumah sakit sudah datang untuk memeriksa luka-lukanya. Dokter langsung terus terang, Reno hanya bisa menggunakan kursi roda selama sisa hidupnya! Reno adalah putra satu-satunya, dia akan mewarisi posisi kepala keluarga di masa depan. Jika dia hanya bisa menggunakan kursi roda nantinya, bagaimana dia bisa mewarisi posisi kepala keluarga?! Melly sudah ketakutan, wajahnya saat ini sudah bengkak juga. Mata Dirga yang mengerikan masih terngiang-ngiang di pikirannya! Namun, sekarang dengan dukungan Keluarga Markus, dia kembali menghina Dirga dan berkata, "Paman Romeo, Dirga itu hanya gelandangan miskin!" "Lima tahun yang lalu, dia memukul Kak Reno sampai masuk penjara. Setelah keluar penjara, dia langsung menindasku juga. Dia memukulku dan Kak Reno tadi malam, aku nggak menyangka dia ada di sini hari ini ...." "Dia nggak hanya mematahkan kaki Kak Reno dan Jager, dia juga memeras Kak Reno dan aku sebesar 10 miliar!" "Huhuhu .... Paman Romeo, Paman harus membalaskan dendam Kak Reno. Kalau Kak Reno nggak bisa berdiri lagi, aku nggak mau hidup lagi ...." Untuk membuat kesan yang baik pada Romeo, Melly bahkan membenturkan kepalanya ke dinding. Akting bersikerasnya diterima oleh Romeo. Romeo pun menahannya tepat ketika kepalanya hendak membentur dinding. "Keterlaluan, sangat melanggar hukum! Apa Dirga menganggap Keluarga Markus ini keluarga sembarangan?" "Melly, aku selalu melihat cinta tulusmu untuk Reno. Jangan khawatir, aku nggak akan pernah membiarkan Dirga bebas!" "Paron!" Romeo sangat marah, segera kapten pengawal Keluarga Markus, Paron datang di belakangnya. "Pergi, bawa kaki dan tangan Dirga ke hadapanku!" "Jangan khawatir, Pak. aku pasti akan mematahkan kaki dan tangan anak itu, lalu membawanya kepadamu!" "Berani menyakiti Tuan Muda Keluarga Markus, dia sudah bosan hidup!" Paron adalah Seniman Bela Diri Tinggi Tingkat Puncak. Keberadaannya membuat Romeo merasa sangat tenang! Tak lama kemudian, Paron pun pergi. Kemudian, Reno meninggalkan rumah sakit. Romeo sama sekali tidak percaya meskipun dokter mengatakan bahwa Reno hanya akan menghabiskan sisa waktunya di kursi roda. Romeo sudah menelepon adik keduanya, Kevin Markus dan memintanya untuk memanggil dokter ajaib Kota Damon untuk datang ke Kota Langgara menyembuhkan kaki Reno. Seandainya Keluarga Markus tidak sedang mencari keberadaan Dewi Perang Angsa Putih, Romeo tidak akan melakukan aksi ini. Kalau bukan karena itu, dia pasti akan menemui Dirga secara pribadi untuk membunuhnya. ... Pada saat ini, Dirga datang ke sebuah perusahaan real estate untuk membeli rumah. Dia berencana untuk membeli rumah terlebih dahulu, kemudian pergi untuk membeli obat sekalian melihat-lihat plang untuk kliniknya. Namun, begitu dia memasuki pintu, dia melihat sekelompok orang di sekitarnya menangis dan berteriak. "Nenek, Nenek pasti baik-baik saja. Kalau sampai terjadi sesuatu pada Nenek apa yang harus aku katakan kepada ayahku?" "Ambulans kapan datangnya? Cepat tanyakan lagi ...." Ada apa? Dirga berjalan menuju kerumunan yang kacau. Di dekatnya, dia melihat seorang wanita tua yang tidak sadarkan diri terbaring di sofa. Dalam sekilas saja, dia bisa mendiagnosis penyebab koma wanita tua itu! Serangan jantung mendadak! Situasinya berbahaya, sekalipun ambulans itu datang sekarang, semuanya sudah terlambat. "Aku dokter. Aku bisa menyelamatkannya. Beri jalan!" Dokter berkewajiban menyelamatkan pasien. Dengan situasi yang berbahaya, Dirga tak memedulikan apa-apa lagi. Begitu orang-orang di depan minggir, dia melangkah maju ke wanita tua itu dan memasukkan beberapa jarum perak ke tubuhnya. Kemudian, dia mengulurkan tangan untuk menyandarkan punggung wanita tua itu dan menyuntikkan gelombang energi sejati ke tubuhnya. Segera, wanita tua yang sudah koma itu secara ajaib terbangun, dia merasakan energi sejati yang aneh berkeliaran di dalam tubuhnya. Kini tubuhnya terasa sangat segar. Dia terkejut. Sebelum dia bisa berbicara, dia mendengar Dirga berkata, "Minum obat ini dulu. Kamu sudah menderita penyakit jantung setidaknya selama 30 tahun. Barusan kamu koma mendadak. Minum obat ini, kemudian pergi ke rumah sakit untuk membeli beberapa obat untuk penyakit jantung. Ke depannya nggak akan kambuh-kambuh lagi!" "Tapi ke depannya, kamu harus perhatikan kondisi tubuh. Jangan sampai terpancing emosi!" Dirga berkata demikian lalu memasukkan pil ke mulut wanita tua itu. Kurang dari satu menit setelah dia menelannya, seluruh tubuhnya benar-benar pelih. "Nak, terima kasih ya. Aku memang sudah menderita penyakit jantung selama 30 tahun lebih, tapi sekarang aku merasa tubuhku lebih sehat dari sebelumnya!" "Terima kasih banyak. Perkenalkan diriku, namaku Mora Candra!" Mora mengungkapkan isi hatinya. Dia menatap Dirga di depannya, tapi hatinya benar-benar gelisah. Dirga benar-benar biasa-biasa saja. Namun, dia tidak melupakan energi sejati yang baru saja Dirga masukkan ke dalam tubuhnya. Jelas-jelas aku nggak merasakan aura petarung dari tubuhnya, tapi bagaimana bisa energi sejati yang dia masukkan ke dalam tubuhku begitu murni? Kenapa aku nggak bisa merasakan kultivasinya sepenuhnya?' 'Apa sebenarnya pil yang dia berikan padaku, bagaimana itu bisa memiliki efek magis seperti itu?' Hanya dalam beberapa detik, banyak tanda tanya melintas di benak Mora. Bab 8 Aku Menerima Permintaan Maafmu Banyak tanda tanya terlintas di benak Mora. "Dokter itu harus menyelamatkan nyawa pasien. Aku seorang dokter. Sudah menjadi tugasku menyembuhkan dan menyelamatkan orang sakit!" "Nenek Mora, sama-sama. Namaku Dirga!" Dirga menarik jarum perak dari tubuh Mora dan berkata kepadanya, "Nenek Mora, Nenek bisa berdiri dan bergerak sekarang!" Seorang gadis berumur 18 tahunan bergaun putih di sampingnya segera membantu Mora berdiri, lalu gadis dengan cemas bertanya, "Nenek, bagaimana perasaan Nenek sekarang?" "Membaik, Nenek merasa lebih baik sekarang!" "Benarkah? Baguslah, Nenek buat aku ketakutan tadi, huhuhu ...." Gadis itu mulai menangis, orang-orang di sebelahnya juga menghela napas dan berkata satu demi satu, "Bu Mora, syukurlah keadaan Ibu membaik!" "Ya, terima kasih atas perhatian kalian. Kembalilah ke posisi dan pekerjaan kalian masing-masing." "Lista, pergi dan tuliskan cek 200 miliar untuk dokter ajaib ini!" "Hah?" Lista Candra, cucu Mora tercengang. "Ah, apanya? Cepat!" "Nggak bisa, Nenek, jangan beri dia sebanyak itu. Nggak ada yang tahu kalau dia sudah menyembuhkan Nenek atau belum, nggak ada yang tahu apa yang diberikan dia pada Nenek tadi?" "Bagaimana kalau itu racun?" "Dik, kamu boleh meragukan keterampilan medisku, tapi kamu nggak boleh meragukan karakterku!" "Aku nggak ada masalah apa pun dengan nenekmu, aku baru saja menyelamatkannya. Apa sekarang kamu menuduhku meracuninya?" Dirga dalam suasana hati yang baik, tetapi dia sangat kesal saat diragukan oleh Lista! Siapa sangka, Lista malah membusungkan dada dan berkata dengan arogan, "Huh, aku nggak percaya kamu nggak tahu identitas nenekku. Seluruh Kota Langgara sangat ingin menjilat nenekku. Sekalipun aku salah memahamimu, kamu pasti punya niat tertentu!" "Tutup mulutmu!" Mora sangat marah dan hampir pingsan. Lista sangat ketakutan sampai buru-buru menepuk punggung neneknya. "Nenek, aku salah. Nenek jangan marah!" "Hehe, nenekmu punya cucu yang nggak punya otak seperti kamu, cepat atau lambat akan mati karena dibuat marah sama kamu!" "Kamu!" Kata-kata Dirga membuat Lista marah dan menggertakkan giginya, tetapi dia tidak berani berbicara lagi saat melihat wajah neneknya. "Uhuk!" Dokter, maafkan aku, cucuku terlalu aku manjakan dari kecil. Aku sangat berterima kasih padamu karena sudah menyelamatkan hidupku!" "Lista, cepat minta maaf ke Dokter dan tulis cek. Cepat!" Lista sangat enggan, tetapi dia tetap meminta maaf kepada Dirga dan pergi untuk mengisi cek. Dirga dengan cepat berkata, "Nenek Mora, aku nggak butuh uang. Aku ini seorang dokter. Sebenarnya aku kemari untuk beli rumah. Aku baru saja mendengar mereka memanggilmu Bu Direktur Mora. Lantas, apa perusahaan ini milikmu?" "Kalau demikian, apa Nenek bisa memberiku diskon?" Dirga bukan cari kesempatan dalam kesempitan, tetapi dia tahu betul bahwa real estat sangat menguntungkan. Tidak peduli bagaimana rumah itu didiskon, penjualnya tidak akan rugi! Mora tersenyum dan berkata, "Jadi, kamu di sini untuk beli rumah. Kamu benar. Perusahaan real estat ini benar-benar milik Keluarga Candra. Ada penyerahan properti baru hari ini, jadi aku menemani cucuku untuk memeriksanya. Eh, aku malah terkena serangan jantung!" "Dokter ajaib, begini saja, rumah ini gratis untukmu. Vila Pratama di Resort Genting kosong. Aku akan memberikannya kepadamu ditambah 200 miliar. Anggap sebagai hadiahmu karena menyelamatkan nyawaku!" Dirga mendengarkan dan dengan cepat menolak, "Nenek Mora, nggak perlu, beri aku diskon saja!" Mora tidak senang mendengarnya. "Apa? Apa menurutmu nyawaku nggak sebanding dengan vila dan uang 200 miliar?" "Eh .... Bukan, Nenek Mora, Nenek salah paham, itu ... baiklah, aku akan menerimanya!" Mora sudah bicara seperti itu, Dirga merasa Mora kesal jika ditolak. Jadi, dia buru-buru berkata, "Nenek Mora, panggil saja aku Dirga, aku nggak berani dipanggil Dokter Ajaib!" "Hahaha, oke, kalau begitu aku memanggilmu Dirga mulai sekarang. Kalau begini kita terlihat lebih akrab!" Pada saat ini, Lista menulis cek dan kembali. Dia seketika kesal setelah mendengar neneknya akan memberikan Vila Pratama di Resort Genting kepada Dirga. "Nenek, bagaimana kamu bisa memberinya Vila Pratama itu?" Dia hanya beruntung. Uang 200 miliar sudah cukup baginya!" "Sembarangan, apa ucapanmu itu sopan? Apa kamu mencoba membunuh Nenek dengan membuat Nenek kesal? Lantas, apa nyawa Nenek bernilai sebuah vila dan uang 200 miliar? Bawakan kunci Vila Pratama kepada Dirga!" Mora marah, Lista tidak berani berkata apa-apa lagi, dia langsung berlari keluar. Setelah kembali, kunci Vila Pratama dengan hormat diserahkan kepada Dirga. "Dokter Dirga, aku minta maaf. Aku nggak seharusnya bicara seperti itu, terima kasih sudah menyelamatkan nenekku!" Melihat Lista yang air matanya hampir jatuh, Dirga menerima permintaan maafnya. "Aku menerima permintaan maafmu. Aku menerima cek dan kuncinya. Jangan buat marah nenekmu lagi!" "Baik!" Lista menyeka hidungnya dan berdiri di samping neneknya. "Nenek Mora, terima kasih, aku pergi dulu!" Dirga hendak pergi, tetapi Mora berkata, "Dirga, aku harus berbicara dengan dua teman di Hotel Richy malam ini. Apa kamu punya waktu untuk makan bersama? Jangan salah paham, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih lagi!" Dirga sedikit mengerutkan kening, wanita tua itu sudah memberinya vila dan 200 miliar. Sekarang mengajaknya makan malam juga, sungguh terlampau sopan. "Nenek Mora, Nenek terlalu sungkan padaku. Malam ini aku harus pulang makan malam dengan orang tuaku!" "Jadi, mari kita makan malam bersama lain kali saja!" Ketika Mora mendengarnya, ada sedikit penyesalan dalam hatinya. Dia berhenti bersikeras! Dirga pun segera pergi. Begitu Dirga meninggalkan Mora, dia mulai menasihati Lista. "Kamu merasa tersakiti? Apa menurutmu menyakitkan kalau Nenek beri uang, vila dan juga mengajak Dirga makan malam? Menurutmu dia nggak pantas mendapatkannya?" "Nggak!" Lista dengan penuh semangat membela diri. "Nak, kamu sudah nggak punya ibu sejak kamu masih kecil. Nenek membesarkanmu dengan tangan Nenek sendiri. Nenek tahu persis apa yang kamu pikirkan sekarang. Nenek kecewa padamu hari ini, paham?" "Nenek, aku salah. Maafkan aku .... Huhu!" Lista mendengarkan dan berlutut ketakutan. Mora menghela napas, menariknya berdiri dan duduk di sofa. Setelah itu, Mora perlahan berkata, "Nak, Nenek melatihmu sebagai penerusku. Nenek sudah mengajarimu sejak kecil untuk melihat jangka panjang dalam segala hal yang kamu lakukan. Jangan remehkan siapa pun!" "Apa kamu tahu apa yang Dirga lakukan selain menusukkan jarum dan memberi Nenek obat?" "Dia memasukkan energi sejati ke dalam tubuh Nenek, tapi Nenek nggak bisa sepenuhnya merasakan aura petarungnya, apalagi mendeteksi kultivasinya!" "Berarti apa? Berarti alam kultivasinya sudah jauh melampaui alam kultivasi nenek saat ini. Alam kultivasinya sudah mencapai atau mungkin sudah melampaui monster-monster tua itu!" "Apa? Eh, bagaimana mungkin?" "Nenek, maksudmu dia? Bukankah alam kultivasinya ...." "Astaga!" "Bagaimana mungkin? Berapa umurnya?" "Nenek, mungkinkah Nenek salah lihat?" Lista sangat terkejut sampai kakinya terasa lemas. Dia juga seorang petarung. Dia tahu betapa menakutkannya monster-monster tua itu! Namun, dia tidak percaya bahwa Dirga akan sehebat yang dikatakan neneknya! Bab 9 Aku Tidak Akan Meladeni Sampah Kecuali Aku Tidak Tahan Lista tidak percaya Dirga sehebat yang dikatakan neneknya! Mora tidak bisa tenang saat ini, dia tidak takut pada siapa pun di Kota Langgara kecuali beberapa monster tua itu. Beberapa tahun yang lalu, dia memiliki keberuntungan untuk melawan salah satu monster tua. Akhirnya, dia tentu saja dikalahkan. Dia bisa merasakan fluktuasi aura monster itu dan tahu seberapa jauh perbedaan alam kultivasinya. Namun, tadi itu dia tidak bisa merasakan alam kultivasi Dirga. Dirga bagaikan lubang hitam yang tak terduga di matanya! "Di atas langit masih ada langit!" "Nak, kamu harus ingat kalau kamu nggak bisa melakukannya, bukan berarti orang lain nggak bisa melakukannya juga!" "Ingat, jangan menilai orang dari penampilannya. Nenek selalu menilai orang dengan akurat!" "Nenek memberimu misi. Temui Dirga dan berteman dengannya!" "Paham?" Nada bicara Mora terdengar santai, tapi tak perlu dipertanyakan lagi ketegasannya. Meskipun di hati Lista sangat enggan, dia hanya bisa pasrah mengiakan permintaan neneknya. ... Dirga sudah membeli plang toko saat ini, tepat ketika dia akan pergi, seorang pria menghalangi jalannya. Orang itu adalah kapten pengawal Keluarga Markus, Paron! "Nak, namaku Paron, kapten pengawal Keluarga Markus. Aku datang untuk mengambil kaki dan tanganmu atas perintah kepala Keluarga Markus. Aku nggak mungkin meladeni pecundang, biar aku sendiri yang melakukannya!" Paron berkata demikian sambil melempar belati ke arah Dirga. Dia sangat kecewa melihat Dirga! Karena dia tidak merasakan aura petarung dari sosok Dirga. Dia pikir bahwa Dirga itu seorang master, setidaknya harus membuat Paron mengeluarkan tenaga untuk mengalahkannya! Lagi pula, Dirga sudah mematahkan kaki Reno dan Jager. Namun, sekarang dia kehilangan nafsu untuk melakukan kekerasan saat dia melihat Dirga. "Gila!" Dirga bahkan tidak melirik Paron, dia langsung pergi melewatinya! "Nak, apa kamu nggak dengar ucapanku?" Dirga berhenti dan berkata kata demi kata, "Aku bisa mendengarmu dengan sangat jelas, aku akan memberikan kata-kata yang sama. Aku nggak akan melakukan apa pun dengan pecundang, kecuali aku nggak bisa tahan diri!" "Hahaha, bagus, bagus sekali!" "Nak, kamu sudah berhasil membuatku marah. Karena kamu memaksaku untuk melakukannya, aku akan memenuhi keinginanmu!" Paron berkata demikian sambil berjalan selangkah demi selangkah menuju Dirga. Dia sepenuhnya meremehkan Dirga. Di matanya, Dirga hanya seekor domba yang menunggu disembelih, dengan ekspresi meremehkan di wajahnya. Dirga agak mengerutkan kening, berpikir orang ini mungkin orang bodoh. "Dasar bodoh!" Dirga masih mengabaikan Paron dan berjalan mengelilinginya dengan jijik. Paron sangat marah, dia menghampiri Dirga, tangannya yang besar seperti kilat di bahunya! "Nak, kamu adalah pecundang paling mematikan yang pernah aku lihat!" "Sialan, kamu berani mengabaikanku?" Paron sangat marah! "Hidupmu kurang enak, hah?" Dirga menoleh dengan tatapan muram. Paron merasa suhu di sekitarnya seolah turun ke titik beku dalam sekejap. Ketakutan Dirga yang menusuk membuatnya gemetar dan mundur! "Apa kamu petarung?" "Kamu berada di alam kultivasi apa?" Paron merasa ngeri, ketakutan benar-benar menggerogoti tubuhnya. Namun, sampai saat ini dia masih tidak merasakan aura petarung Dirga! Tatapan mata Dirga barusan membuatnya merasa takut yang belum pernah dia rasakan sebelumnya! Dia merasa seperti pernah mati sekali! "Pulanglah dan beri tahu Keluarga Markus bahwa dalam dua hari, aku harus melihat Reno dan Melly berlutut di depan ibuku meminta maaf kepadanya, bawa uang 10 miliar juga!" "Pergi!" Setelah itu, Dirga pun pergi. Tidak sampai beberapa menit setelah dia pergi, Paron baru terbangun dari lamunannya. Saat ini, dia sudah basah oleh keringat dan tubuhnya masih gemetar. "Apa yang terjadi? Kenapa anak itu memiliki aura yang membunuh yang mengerikan barusan?" "Apa dia seorang petarung dan master juga?" "Nggak mungkin. Sama sekali nggak mungkin." "Aku nggak bisa merasakan aura petarung di tubuhnya!" "Sialan, sejak kapan aku pernah dipermalukan seperti tadi tadi!" maki Paron. Sebagai kapten tim pengawal Keluarga Markus, Paron tidak akan pernah membiarkan dirinya dipermalukan seperti itu. Dia langsung berdiri tegak dan bergegas mengejar Dirga. Tak lama kemudian, dia pun menyusul Dirga. "Nak, jangan banyak akting di depanku. Coba ambil nyawaku!" Paron tidak berani meremehkan Dirga lagi, tinjunya langsung mencapai sisi Dirga. Dirga mengangkat tangannya dan mengempaskannya! Detik berikutnya, dengan sekali klik, seluruh lengan Paron patah. Dia menjerit dan terbanting ke tanah dengan keras! "Mana mungkin?!" "Kamu .... Apa kamu petarung?" "Kamu menyembunyikan alam kultivasimu?" Paron terbaring di tanah dengan wajah kesakitan dan ketakutan! "Kamu pengawal Kapten Keluarga Markus? Dasar pecundang!" Dirga terlalu malas untuk melihat Paron dan berbalik untuk pergi. Setengah jam kemudian, dia kembali ke rumah. Begitu dia masuk, dia melihat ibunya, Tika sibuk di dapur. Pada saat itu, mata Dirga terasa lembap. "Ibu!" Tika yang sedang menggoreng ikan langsung mengabaikan masakannya. Dia berbalik dan menatap Dirga, air mata pun mengalir di matanya! "Bu, aku sudah pulang!" "Maafkan aku nggak bisa berbakti pada Ibu, membuat Ibu harus menderita sendirian!" Dirga berlutut, menyalahkan dirinya sendiri dan merasa bersalah. Dari masa kanak-kanak hingga dewasa, ayahnya jarang ada di rumah. Ibunya mengurus Dirga sendirian, utang budi Dirga pada ibunya sangatlah besar. "Yang penting kamu sudah pulang. Ibu akan menyiapkan makanan segera, semua itu makanan favoritmu!" Tika dengan cepat menarik Dirga untuk berdiri. Meskipun masih ada air mata di wajahnya, senyum bahagia sudah terpancar di seluruh wajahnya. "Hei, Bu, ayo masak bersama!" Dirga memeriksa luka ibunya dan melihat lukanya sudah pulih. Hal ini membuat Dirga agak sulit percaya! Namun, dia tidak terlalu memikirkannya. Kedamaian ibunya adalah keinginan terbesarnya, jadi dia buru-buru membantu ibunya untuk bekerja. Tak lama kemudian, beberapa hidangan disajikan ke meja. Mereka bertiga sekeluarga pun mulai makan! Dalam benak Dirga, hal seperti ini jarang terjadi. "Temani aku minum, ya?" "Itu wajib, Ayah. Duduklah. Aku akan mengambil anggurnya!" Dirga berdiri untuk mengambil anggur. Setelah makan, ayah dan anak itu minum anggur bagus yang sudah disimpan ibu selama bertahun-tahun. Kemudian, dia memberi tahu orang tuanya tentang dirinya sudah membeli plang kliniknya. Awalnya, dia ingin memberi tahu orang tuanya tentang Zira, tetapi dipikir-pikir saat ini belum waktunya! Soal Zira masih seperti mimpi di hidup Dirga. Dia takut tiba-tiba terbangun dari mimpi itu. "Nak, kamu sudah bebas dan ayahmu nggak akan pergi-pergi lagi juga. Apa pun yang kamu lakukan, Ibu selalu mendukungmu. Ibu hanya punya satu permintaan. Kamu jangan berhubungan dengan Melly lagi. Dia benar-benar nggak pantas untukmu!" Selama lima tahun terakhir, Tika sudah mengetahui keadaan Melly. Tika pernah mengunjungi Melly juga. Namun, setiap kedatangannya selalu dipermalukan oleh Melly dan Reno! "Bu, jangan khawatir, aku sudah tahu semua yang terjadi selama lima tahun aku pergi. Aku sudah nggak punya hubungan apa pun lagi dengan Melly, tapi rumah itu dibeli tunai olehku dan Ibu saat itu!" "Apartemen itu sekarang bernilai 10 miliar, uang itu pasti akan mereka kembalikan. Reno dan Melly harus datang minta maaf kepada Ibu!" "Bu, nggak usah pedulikan hal-hal ini lagi. Sekarang ayah dan aku sudah kembali. Aku nggak akan membiarkan siapa pun menindas Ibu lagi!" Dirga baru saja selesai berbicara, Arlan melanjutkan, "Bu, dengarkan Dirga. Dia sudah dewasa. Dia punya urusan sendiri. Kita berdua sudah tua. Nanti kita bantu dia di kliniknya!" Tika pun berhenti berkata-kata. Pada saat ini, hatinya akhirnya mantap, dia merasa keluarganya sudah lengkap lagi. Pada saat ini, telepon dari Zira masuk ke ponsel Dirga. Dirga pun berdiri dan berjalan ke luar pintu untuk menjawab telepon. "Dirga, apa kamu bisa kemari sekarang? Ada yang ingin kukatakan padamu!" "Oke!" Dirga menutup telepon dan meninggalkan rumah setelah pamitan pada orang tuanya. Bab 10 Melakukan Apa yang Harus Dilakukan Pasangan Dirga meninggalkan rumah setelah pamitan pada orang tuanya. Dalam waktu satu jam, dia sudah berada di luar kamar Zira. Aisa berdiri di luar pintu. Raut wajah Aisa sangat tidak karuan, alhasil Dirga pun khawatir dan buru-buru bertanya, "Apa yang terjadi pada Zizi?" Mendengar Dirga menyapa Zira dengan begitu intim, Aisa sangat kesal dalam hatinya. Namun, dia tidak berani tidak menghormati Dirga karena teringat perintah Zira sebelumnya kepadanya. Aisa pun segera melangkah maju untuk menemui Dirga dan berkata, "Hari ini, aku dan Nona sedang meninggalkan rumah sakit, Nona menerima sebuah telepon. Kemudian, suasana hati Nona pun menjadi buruk." "Dihibur bagaimanapun nggak bisa. Karena kamu sudah datang, kamu hibur Nona sana. Di hatinya saat ini hanya ada kamu, kamu jangan sampai mengecewakan dia, jangan kecewakan aku." "Aku mohon padamu!" Aisa hampir menangis, meskipun dia adalah bawahan Zira, Zira selalu memperlakukannya seperti adiknya sendiri. "Oke, serahkan padaku, kamu istirahat saja sana." Setelah menyuruh Aisa pergi, Dirga mengetuk pintu kamar Zira. Membentuk kembali sistem meridian tubuh Zira itu rumit, banyak ramuan yang belum ditemukan Dirga. Sedangkan seluruh proses pengobatannya pun akan sangat lama, dia awalnya berniat untuk tinggal di rumah bersama ibu dan ayahnya, kemudian baru mengobati Zira. Namun, setelah melihat kondisi Zira, dia memutuskan untuk segera mulai menyembuhkannya. Zira terlihat sangat pucat. "Dirga, kamu sudah datang. Kemarilah duduk di sini." Melihat Dirga masuk, Zira langsung merasa seperti orang yang berbeda, kesedihan di wajahnya tiba-tiba menghilang. Dengan nada lembut tapi dengan nada heran, dia menepuk sisi tempat tidur dan memberi isyarat agar Dirga duduk. Dirga tidak berani ragu-ragu. Dia langsung duduk di samping Zira, meraih tangannya dengan sigap dan meletakkannya di pangkuannya, lalu memeriksa denyut nadinya. Segera setelah itu, Dirga berkata dengan penuh kasih sayang dan juga kesal, "Zizi, bukankah aku sudah berpesan kepadamu untuk tetap tenang, jangan pernah marah atau kesal?" "Kenapa kamu nggak nurut? Napasmu masih belum stabil, sampai sudah berpengaruh ke sistem meridian tubuhmu!" "Berbaringlah, aku akan menusukkan jarum, aku harus membuat ulang sistem meridian tubuh untukmu besok!" Dirga berkata sambil perlahan menekan tubuh ramping Zira untuk membaringkannya, tetapi Zira malah langsung berbaring di pelukannya. "Kamu memanggilku Zizi? Aku suka sekali, panggil lagi!" "Panggil kepalamu, cepat berbaring!" Nada bicara Dirga sangat tegas, tapi dia tidak menyangka Zira akan berdiri dari pelukannya. Zira menarik piamanya lalu berbaring di atas tubuh Dirga. "Dirga, aku akan kembali ke Departemen Perang. Aku buru-buru. Tapi kamu tenang saja, aku akan segera kembali. Sekarang kita berdua punya hampir satu jam untuk melakukan apa yang seharusnya dilakukan sejak lama!" Zira bangkit, lalu langsung menekan Dirga ke tempat tidur. Tubuhnya yang indah tersaji di depan mata Dirga, hingga membuatnya pusing sejenak. "Zizi, kamu mau kembali ke Departemen Perang? Kondisi tubuhmu masih seperti ini dan kamu mau kembali, apa kamu nggak takut mati." "Kamu adalah pasienku sekarang, aku nggak akan membiarkanmu lepas dari pandanganku " "Berbaringlah. Aku akan menusukkan jarum untuk menstabilkan napasmu. Besok, aku akan menyiapkan semua ramuan yang diperlukan secepat mungkin. Cedera dalammu nggak bisa ditunda lagi!" Dirga tentu saja ingin menghabiskan malam bersama, tetapi dia tidak bisa. Dia segera mengambil baju tidur dan menutupi tubuh Zira, bersiap untuk menusukkan jarum. Namun, Zira berkata kepadanya dengan wajah manis, "Dirga, terima kasih. Aku yang paling paham dengan kondisiku sendiri. Aku akan mengobatinya ketika pulang nanti. Aku percaya, jarum yang kamu tusukkan sekarang nggak akan membuatku mati di Departemen Perang!" Zira berkata dengan tegas dan Dirga berhenti bersikeras. Dirga segera mulai menusukkan jarum padanya untuk menstabilkan napas di tubuhnya. Dalam waktu kurang dari setengah jam, proses menusukkan jarum selesai. Zira duduk dari tempat tidur, memegang wajah Dirga dan dengan lembut berkata, "Tunggu aku pulang." Setelah itu, dia bangun dari tempat tidur. Seluruh dirinya sepenuhnya pulih dan kembali menjadi Dewi Perang Bintang Tujuh! "Apa kamu yakin mau pergi?" Dirga tiba-tiba sedikit enggan karena hanya memiliki waktu bersama yang singkat. Saat ini, Dirga sadar bahwa posisi Zira di hatinya tidak bisa tergantikan. "Jangan khawatir, aku akan segera pulang. Ini perintah dari Komandan Departemen Perang. Aku harus mematuhinya!" Melihat pandangan Dirga yang khawatir dan enggan, Zira menjelaskan, "Jangan khawatir, Komandan bukan mengirimku ke medan perang lagi!" "Oke, tapi kamu harus nurut, jangan marah, jangan emosi!" "Aku akan menunggumu pulang, nggak peduli berapa lama pun itu!" Setelah itu, Dirga membuka pintu dan memanggil Aisa untuk memberitahukan sesuatu. Segera saja, Zira dan Aisa pergi. Begitu naik mobil, Aisa dengan tidak sabar bertanya, "Jenderal, kenapa Komandan Darsa buru-buru sekali memanggil Jenderal? Apa ada perang di Negara Sutara?" "Kamu terlalu banyak berpikir. Dalam pertempuran itu, kita sudah mengalahkan Negara Sutara. Mereka nggak akan pulih dalam 35 tahun!" "Kali ini, Komandan Darsa memanggilku kembali utamanya agar aku dirawat oleh Dokter Ajaib Sean. Tapi, aku sudah punya Dirga sekarang. Aku percaya Dirga bisa menyembuhkan cedera dalamku. Kali ini aku kembali karena aku meminta Komandan Darsa untuk menyerahkan rencana petarung super kepadaku untuk dilaksanakan!" "Rencana petarung super? Jenderal, kondisi tubuh Jenderal ...." "Apa Jenderal begitu memercayai Pak Dirga?" Aisa kaget dan antusias, tapi lebih mengkhawatirkan tubuh Zira. "Jangan khawatir, aku sangat yakin pada Dirga, aku bermaksud merekomendasikannya kepada Komandan Darsa! Dia adalah seorang dokter, seorang dokter ajaib yang sangat terampil. Rencana petarung super membutuhkan seorang genius seperti dia!" "Aku yakin, nggak butuh waktu lama, namanya akan terkenal di Departemen Perang!" "Fokus mengemudi sana. Dirga sudah mengobatiku dengan akupunktur. Aku nggak akan mati!" Keputusan Zira diputuskan hanya setelah menerima telepon dari Komandan Darsa. Dia harus melakukan yang terbaik untuk membantu Dirga dan menjadikannya orang hebat sesegera mungkin! Karena waktu yang diberikan ibu Zira pada Zira tidak banyak. Kalau ibunya sampai tahu hubungannya dengan Dirga. Nyawa Dirga dipertaruhkan! Zira tidak akan pernah membiarkan itu terjadi! Aisa tidak lagi mengingatkan Zira, karena dia sangat paham posisi Dirga saat ini di hati Zira. Satu-satunya harapannya sekarang adalah Dirga tidak mengecewakan Zira! ... Di dalam rumah. Dirga tidak tega dan khawatir saat melihat mobil Zira menghilang ke dalam kemacetan. Dia sangat ingin menelepon muridnya yang menjadi komandan di Departemen Perang untuk menanyakan situasi, sekaligus menyelidiki posisi Zira di Departemen Perang. Namun, dipikir-pikir agak kurang etis! "Biarlah, Zizi sudah kuterapi akupunktur, selama dia nggak berada di medan perang, nggak bertarung dengan orang-orang. Dia nggak akan berada dalam bahaya selama tiga bulan!" "Dia seorang prajurit, aku harus menghormatinya!" Dirga berkata demikian lalu pergi dan menghubungi seseorang. Ketika telepon berdering, telepon langsung diangkat. Suara yang sangat hormat terdengar di telinga Dirga. "Bos Dirga, akhirnya Bos meneleponku. Aku sudah menunggu telepon darimu, Bos. Katakan padaku, apa yang bisa aku lakukan untuk Bos?" "Dalam sehari, aku mau bahan obat yang aku mau sudah ada. Aku akan mempertimbangkan untuk mengajarimu akupunktur saat aku sudah selesai dengan ini!" Penelepon itu adalah seorang tahanan di Penjara Neraka, dia juga orang besar yang mengaku sebagai dokter ajaib, hanya dia yang bisa mendapatkan bahan obat yang dibutuhkan Dirga dalam waktu tercepat.