Đang tải thông tin quảng bá...
Istri Gelap Tuan Arrogant
Kinanti tidak pernah menyangka untuk menjadi istri gelap sang majikan. Padahal, Adam sudah memiliki istri yang sangat dicintai. Lantas bagaimana jika Adam tahu Kinanti tengah mengandung benihnya? Baga...
Chương (1)
第1章
Bab 1
"Kinanti, tolong antarkan jas ini ke kamar Adam," titah seorang wanita paruh baya.
Dengan langkah kaki yang pasti, Kinanti mengerjakan apa yang diperintahkan oleh majikannya: berjalan menuju kamar Adam, calon pengantin yang akan menikah esok hari.
Tangan Kinanti bergerak mengetuk pintu kamar.
Akan tetapi, tidak ada sambutan suara dari dalam sana. Pintu yang setengah terbuka membuat Kinanti yakin tidak ada orang di dalam kamar. Dengan perlahan, ia mendorong pintu kamar semakin terbuka lebar.
Kepalanya terlebih dahulu menelusup masuk. Setelah merasa aman, barulah kakinya melangkahkan kakinya dengan sangat berhati-hati.
Ia takut sang pemilik kamar tiba-tiba muncul dan melihat dirinya masuk tanpa izin sebelumnya. Setelah meletakkan jas pengantin yang dibawa ke sofa, tubuh tinggi semampai itu berbalik. Namun, Kinanti terkejut karena ternyata majikannya ada di belakangnya. Dari mana munculnya Adam? Dan, sejak kapan Adam ada di dalam kamar juga?
Bibir Kinanti ingin mengucapkan kalimat, tetapi dalam sekejap Adam membawanya menuju ranjang.
Kepalanya menggeleng dengan peluh yang semakin meluncur, tanpa ba-bi-bu tubuhnya seketika di tindih.
"Tuan jangan!!!" seru Kinanti dengan berderai air mata.
Adam bagaikan seorang pria tuli, bahkan sama sekali tidak peduli akan teriakan Kinanti yang begitu kencang.
Mahkota yang sudah di jaga oleh Kinanti selama 24 Tahun lamanya, lenyap seketika. Cakaran yang diciptakan kuku Kinanti pada punggung Adam sama sekali tidak berpengaruh, apa lagi membuat Adam tersadar atas apa yang kini tengah terjadi.
Kinanti meremas sprei dengan sekuat tenaga, rasa sakit pada tubuhnya seiring dengan sakit hati yang kini semakin terasa.
----
Pagi harinya seorang pria bertubuh kekar merasa terusik saat cahaya matahari menyentuh wajahnya.
Ia mengerjapkan mata perlahan lalu duduk dengan kepala yang terasa berat dan tidak nyaman.
Mata yang terbuka dengan perlahan menangkap ranjang yang berantakan, dengan rasa penasaran tangannya bergerak menyingkirkan selimut tebal menutupi pinggangnya.
Adam terbelalak melihat diri tanpa sehelai benangpun, pakaian miliknya berceceran di lantai. Otaknya berusaha mengingat apa yang sebenarnya telah terjadi padanya.
Tetapi, ada hal yang semakin membuat Adam kebingungan. Netra nya menangkap secercah noda merah pada sprei.
"Darah?"
Sambil berusaha mengumpulkan kepingan-kepingan ingatan yang menghilang.
Tadi malam saat keluar dari rumah Zidan, Adam terus memegang kepalanya yang terasa pusing. Semakin lama rasa pusing tersebut berubah menjadi rasa panas, bahkan konsentrasi saat mengemudikan mobil juga mulai menghilang.
Ia ingat melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, bahkan banyak pengguna jalanan lainnya yang marah padanya. Sampai akhirnya Adam memarkirkan mobil dengan asal, turun dan berjalan sambil berlenggok-lenggok merasakan tubuhnya semakin tidak terkendali.
Ia menaiki anak tangga dengan gelagat aneh yang semakin menjalar pada tubuh, kemudian langsung masuk kedalam kamar dan menutup pintu dengan rapat.
Lampu yang redup tapi masih bisa melihat seorang wanita yang tengah berdiri sambil meletakan sesuatu.
"Renata."
Gelap mata dan tubuh yang tidak terkendali membuat Adam tidak melihat dengan baik siapa wanita yang kini tengah menunggunya. Bahkan sama sekali belum tersadar ada kehadiran dirinya.
Adam yakin, hanya Renata yang berani masuk ke dalam kamarnya malam hari begini. Mungkin juga Renata ingin memberikan sebuah kejutan sebelum malam pertama mereka esok hari pikir Adam.
Besok pagi mereka akan menikah. Perasaan aneh itu semakin menjalar dengan menguasai diri.
Adam merasa tidak ada salahnya melakukan hubungan malam ini juga sebab esok hari Renata sudah sepenuhnya menjadi miliknya.
"Sayang."
Adam langsung membawa wanita di hadapannya, mengangkatnya menuju ranjang lalu menindihnya dengan cepat.
Tok tok tok.
Belum selesai Adam mengingat semuanya, tiba-tiba terdengar Suara ketukan pintu membuat Adam tersadar dari lamunannya, dengan secepat mungkin Adam membereskan pakaian yang berantakan. Lalu melilitkan handuk pada pinggang.
"Ma?"
Adam melihat Sarah, ibunya, masuk ke dalam kamarnya tanpa menunggu jawaban Adam, mungkin karena dari tadi tidak mendengar jawaban darinya.
"Mama pikir kamu masih tidur karena tidak ada jawaban. Jadi, Mama langsung masuk saja," jelas Sarah.
Adam mengangguk mengerti, tetapi perhatiannya juga masih tertuju pada secercah noda merah pada sprei nya.
"Kamu baik-baik saja?" Sarah menepuk pundak putra nya. Sepertinya Sarah dapat melihat raut cemas pada wajah anak bungsunya.
Adam lagi-lagi hanya mengangguk lemah, seakan mengerti dengan apa yang di katakan oleh Sarah.
"Kamu mandi gih. 30 menit lagi acara akan di mulai."
Setelah Sarah keluar dari kamar, Adam langsung mengguyur tubuh di bawah shower. Merasakan ada sensasi perih pada punggungnya. Tetapi, Adam sama sekali tidak peduli.
Selesai memakai pakaian pengantin, Adam segera keluar dari kamar. Tetapi, tanpa sengaja Adam berpapasan dengan Kinanti.
Dengan mata sembab dan raut wajah pucat, Kinanti menatap Adam. Sedetik kemudian, Kinanti masuk ke dalam kamar Adam untuk mempersiapkan malam pertama Adam dan Renata sebagai pengantin baru.
Akad nikah diselenggarakan dengan sangat baik tanpa ada kendala sedikitpun. Adam dan Renata saling bertukar cincin dan juga saling tersenyum pada kamera digital yang siap mengabadikan momen kebahagiaan keduanya.
Adam dan Renata kini sudah resmi menjadi pasangan suami istri. Mulai saat ini juga Renata akan tinggal di kediaman keluarga besar Adam Agatha Sanjaya, seorang dokter OGBYN dengan karir yang begitu cemerlang.
Namun, sampai akad nikah selesai, Adam masih memikirkan kejadian malam kemarin. Sampai akhirnya, Adam memutuskan untuk melihat rekaman CCTV yang terpasang di depan pintu kamar.
Rekaman mulai menyala, memperlihatkan seorang wanita masuk ke dalam kamar Adam membawa jas pengantin. Namun, sebelum wanita itu keluar. Adam juga masuk.
Cukup lama menunggu sampai akhirnya wanita yang sebelumnya masuk mulai keluar dengan wajah dan pakaian yang berantakan. Wanita itu menangis dengan terus meremas baju yang ia kenakan.
"Kinanti."
Adam mengusap wajahnya sampai beberapa kali, sambil berharap jika noda darah pada sprei bukan milik Kinanti.
"Kinanti atau Renata?"
Adam masih merasa semalam ia tidur bersama Renata, akan tetapi rekaman Cctv menunjukan sebaliknya. Renata tidak tampak sama sekali memasuki kamarnya dalam rekaman CCTV, yang ada hanya Kinanti, perawat yang mengasuh dua keponakannya.
Adam menyandarkan tubuh pada sofa kemudian menarik napas dengan berat sambil berdebat dengan pikirannya yang tengah kacau.
-----
Sedangkan di dalam kamar lainnya, seorang wanita berusaha membalut lukanya dengan sekuat tenaga. Tetap tenang dan sabar walaupun hatinya sangat terluka.
Hati terasa remuk, mengingat kejadian malam kejam yang tidak berbelas kasih. Air mata Kinanti tidak berhenti, terus menerus membasahi pipi.
Ia duduk di lantai sambil bersandar pada ranjang yang berada di belakangnya.
Bayang-bayang rasa perih bercampur luka masih sangat membekas di hati, ingatan kepiluan itu tidak bisa hilang. Walaupun sudah berusaha menghilangkan ingatan itu dengan susah payah.
Bab 2
Tidak peduli dengan malam yang semakin gelap, Adam keluar dari kamar meninggalkan Renata yang terlelap.
Suasana sudah sunyi dan hening, sesekali dentingan jam yang berbunyi. Kaki Adam melangkah pasti menuju kamar Kinanti.
Adam terbiasa dibesarkan dengan rasa tanggung jawab. Kali ini pun sama, walaupun terasa begitu sulit. Tetapi paling tidak ia ingin bertemu langsung dengan Kinanti untuk bertanya apakah benar wanita yang memasuki kamarnya malam itu Kinanti bukan Renata.
"Kinanti!"
Adam langsung masuk tanpa mengetuk pintu, matanya menyapu ruangan dengan ukuran tidak terlalu luas. Tidak ada orang, kamar itu tampaknya kosong.
"Cari Kinanti Tuan?"
Adam tersentak karena suara Mbok Sum yang menghampiri tiba-tiba, namun wajah Adam masih terlihat tenang.
"Di mana Kinanti Mbok?"
"Lho, tadi ada."
Mbok Sum langsung masuk, memanggil nama orang yang dicari Adam. Namun nihil, Kinanti tidak terlihat sama sekali.
"Apa Tuan membutuhkan sesuatu?"
Mbok Sum keluar dari kamar Kinanti untuk menemui majikannya yang sebelumnya menunggu di luar. Tetapi, saat ini Adam sudah tidak berada di sana.
"Tadi?" Mbok Sum menggaruk kepalanya dengan kebingungan.
Tidak ingin diam saja, Adam memutuskan untuk mencari keberadaan Kinanti. Dengan setengah berlari, Adam menuju garasi dan menyalakan mesin mobilnya dengan terburu-buru.
Ia melajukan mobilnya di tengah hujan deras yang terus turun bersama dengan gemuruh yang bersahutan-sahutan.
"Kinanti!"
Adam mendadak menghentikan laju mobilnya, matanya tertuju pada wanita yang tengah berdiri di tengah jalanan. Tubuhnya basah, kedua tangannya membentang di sampingnya.
Apa yang tengah di lakukan wanita Itu?
Mengambil jalan pintas?
Lama Kinanti menutup mata, menantikan mobil yang melaju untuk menabraknya. Akan tetapi mobil itu malah berhenti, Kinanti membuka mata, raut wajahnya kecewa.
"Apa yang kau lakukan?"
Adam menghampiri Kinanti, keduanya basah di bawah guyuran air hujan yang semakin deras.
Dunia seperti berputar semakin kencang, tatapan mata keduanya bertemu namun tidak ada yang berucap, larut dalam gejolak pikiran masing-masing.
Ingatan mengenai malam kemarin masih terasa perih untuk Kinanti. Tersadar dari lamunannya, Kinanti sudah berada di dalam mobil.
Lama keduanya terdiam, Adam akhirnya menyalakan mesin mobilnya karena merasa tidak tepat jika bertanya saat ini juga pada Kinanti. Akhirnya, Adam menatap Kinanti yang duduk di sampingnya.
Adam kembali menarik napas, membulatkan tekad untuk bertanya. Bagaimana pun semua harus jelas tanpa ada yang akhirnya merasa tersiksa karena keadaan.
"Saya ingin bertanya," Adam menepikan mobilnya, lalu menatap Kinanti yang duduk di sampingnya.
Adam terus menatap wajah Kinanti, tampaknya kali ini Adam dapat menyimpulkan sendiri.
Kinanti hanya diam, pandangannya terlihat kosong.
"Kinanti," Adam berusaha untuk berbicara pada wanita yang hanya diam dengan tubuhnya yang basah.
Perlahan Kinanti memutar leher, menatap manik mata Adam yang juga tengah menatap dirinya. Tetapi dada terasa sesak, bibir bergetar hebat dengan air mata yang kembali meluncur tanpa permisi.
Apa yang harus Adam tanyakan, tampaknya raut wajah pilu Kinanti sudah menjelaskan segalanya.
"Apa malam kemarin kita-" leher Adam bagaikan tercekik, terlalu sulit untuk mengutarakan pertanyaan yang membuat Kinanti kembali terluka. Tetapi, Adam juga butuh jawaban pasti dari bibir Kinanti.
Kinanti menggigit kuku-kuku jari, menahan isak tangis kepiluan dengan sekuat tenaga.
Tidak perlu lagi bertanya, Adam sudah sangat yakin jika Kinanti adalah orangnya. Selain Kinanti tidak ada lagi wanita yang masuk ke kamarnya saat malam itu, bahkan Renata sekalipun.
"Maaf."
Andai satu kata itu bisa mengembalikan segalanya, tidak akan ada luka sedalam ini.
Kinanti terdiam, menatap keluar. Air matanya terus mengalir tanpa ada henti.
Kedua tangannya saling meremas meluapkan rasa sakit yang tidak terobati. Luka yang di torehkan Adam begitu dalam, berjuta kata maaf pun tidak akan mampu mengobati luka yang begitu perih.
"Tolong jangan mengakhiri hidup, saya bersalah. Kalau kau mengakhiri hidup mu, saya adalah orang yang paling bersalah," kata Adam penuh penyesalan.
Rasa bersalah Adam semakin terasa, tangisan pilu terdengar nyaring di telinga Adam.
"Saya tidak tahu, bagaimana harus bertanggungjawab. Saya sudah menikah, bahkan baru saja pagi tadi," tutur Adam dengan ragu.
Tidak mungkin menikahi Kinanti, saat ini Adam sudah memiliki seorang istri yang sangat di cintai. Tidak perduli apakah salah atau benar, akan tetapi cinta Adam pada Renata juga tidak mudah untuk digoyahkan.
"Saya sangat mencintai istri saya." imbuh Adam dengan pasti, bahkan selalu menekankan setiap kata. Karena, memang cintanya sangat besar pada Renata.
Kinanti mengangguk, tangannya menyekat sisa-sisa air mata yang tidak pernah bisa kering pada wajah. Mencoba menerima semua kepahitan dengan suka cita, berusaha merelakan apa yang sudah hilang.
"Kau ingin kembali ke rumah?" tanya Adam.
Kinanti mengangguk, walaupun Adam sudah menyakiti paling tidak saat ini Adam masih memiliki hati nurani mengakui segala kesalahannya.
Adam mengambil jas putih yang selalu tersedia di mobilnya, kemudian memakaikan pada Kinanti. Berharap sedikit mengurangi rasa dingin yang tengah di rasakan.
Tubuh Adam yang masih condong pada Kinanti tidak lantas menjauh, jemari tangan nya mengusap air mata wanita rapuh yang tengah menahan sesak di dada.
Menyisir beberapa helai rambut yang menutupi wajahnya, menatap dengan jelas bertapa rapunya wanita yang bekerja sebagai pengasuh bagi dua keponakan nya dalam jarak yang cukup dekat.
Perlahan Adam menarik Kinanti kedalam pelukannya, berharap agar perasaan Kinanti sedikit bisa lebih baik.
Tetapi, yang terjadi justru sebaliknya. Tangis Kinanti kembali pecah begitu saja, tidak terbendung walaupun dengan sejuta cara.
Tangan Adam mengusap punggung Kinanti, dengan perasaan bersalah yang semakin dalam. Sampai akhirnya Kinanti menjauh, Adam pun mulai duduk di kursinya dengan benar.
Menatap arah depan, jendela mobil yang di tetesi air hujan. Bayangan wajah Renata juga tiba-tiba melintas dengan begitu saja, Adam bukan hanya menyakiti satu wanita. Tetapi dua wanita dalam waktu yang sama, hanya saja bedanya Renata tidak tahu akan semua ini.
Adam membali melakukan mobilnya, tanpa satu patah kata pun. Melihat tubuh basah Kinanti, Adam juga takut jika nanti malah Kinanti kayu sakit.
Sampai di rumah Adam menepikan mobilnya, lalu menatap Kinanti yang hanya diam sambil menatap kedepan. Tanpaknya Kinanti belum tersadar jika mobil Adam sudah terparkir di depan rumah.
"Kinanti," panggil Adam.
Kinanti masih diam, tidak ada rasa dingin, rasa kantuk, yang ada hanya rasa sakit.
"Kinanti," Adam menepuk pundak Kinanti.
Seketika itu pula Kinanti tersadar dari lamunannya, ia mulai melihat sekelilingnya dan perlahan turun dari mobil Adam tanpa satu patah katapun.
Kaki Kinanti terus melangkah masuk, jas putih Adam masih melekat di tubuhnya. Tanpaknya Kinanti tidak menyadari hal itu.
Renata yang terbangun merasa bingung, karena tidak ada Adam di sampingnya. Lalu kakinya melangkah menuju balkon dan melihat Kinanti yang keluar dari mobil milik Adam.
Bab 3
Setelah Kinanti masuk, Adam juga ikut masuk. Dengan tubuh basah ia segera menaiki anak tangga menuju kamarnya yang berada di lantai dua.
Saat turun dari mobil Adam sudah melihat Renata yang menatap dirinya dari balkon. Akan tetapi ia berpura-pura tidak tahu.
Jadi Adam pun sudah mempersiapkan jawaban saat nanti di suguhkan pertanyaan-pertanyaan oleh Renata. Walaupun Adam terlalu takut untuk berbohong.
Berdiri di depan pintu kamar, menghirup udara dengan sebanyak-banyaknya. Menghembuskan dengan perlahan, lalu tangan bergerak memegang gagang pintu. Memutarnya lalu mendorong dengan perlahan.
"Dari mana?"
Adam masih berada di ambang pintu, tetapi Renata sudah menyuguhkan pertanyaan padanya.
Mata Renata menatap baju Adam yang basah kuyup. Tetapi, Renata lebih penasaran mengapa Kinanti bisa bersama dengan Adam.
"Sudah pukul 02:30, kau dari mana? Lalu kenapa kau bisa bersama Kinanti?" tanya Renata dengan penuh intimidasi.
"Suami mu ini seorang dokter sayang, ada pasien yang membutuhkan pertolongan di rumah sakit. Tadinya aku mau membangunkan mu. Tapi kau sangat lelap," jelas Adam dengan memberi alibi, bahkan memasang wajah santai seolah tidak ada yang terjadi.
"Lalu Kinanti?"
"Saat aku pulang dari rumah sakit, aku melihatnya berada di tengah jalan kehujanan. Aku tidak bertanya kenapa, hanya saja aku punya rasa kemanusiaan dan mengajaknya pulang," jawab Adam, berbohong untuk kedua kalinya.
Renata terdiam sambil menatap Adam, mencoba mencari kebohongan di raut wajah Adam.
Akan tetapi, Renata yakin jika suaminya tidak berbohong. Seketika amarahnya menghilang lalu memberikan senyuman pada Adam.
"Ya udah, kamu ganti bajunya. Abis itu kita tidur, aku pengen di peluk."
Adam mengangguk. Lalu, segera mengganti pakaiannya. Setelah itu menemani Renata hingga kembali terlelap.
Satu jam sudah berlalu, Renata sudah kembali terlelap dalam dekapan Adam.
Sedangkan Adam masih belum bisa terlelap, entah mengapa ia masih sangat kasihan pada keadaan Kinanti yang begitu terpukul dengan kejadian malam itu.
Melepas pelukan Renata dengan perlahan, lalu turun dari ranjang dan menuju kamar Kinanti yang cukup berdekatan dengan dapur.
Adam langsung memutar gagang pintu, tanpa meminta izin dari Kinanti.
Matanya melihat Kinanti duduk di sudut kamar dengan pakaian basah yang masih belum di ganti. Bahkan tanpa tahu keberadaan Adam yang sudah masuk lalu menutup pintu kembali.
Tepukan pada pundaknya membuat Kinanti seketika tersadar, ternyata ada Adam yang berjongkok di sampingnya. Seketika Kinanti menatap pintu yang sudah tertutup kembali.
Kapan Adam masuk, apakah sudah lama? Kinanti cukup terkejut.
"Kenapa belum mengganti pakaian, kau bisa sakit," kata Adam.
"Sakit?" tanya Kinanti dengan senyum getir.
Kinanti ingin berteriak sekencang-kencangnya, Adam mengatakan sakit. Bukankah Kinanti memang sudah merasakan sakit.
Raut wajah Adam tampak bersedih, mengerti dengan pertanyaan Kinanti, "Aku mohon, ganti pakaian mu. Atau aku yang akan menggantikannya."
Tidak ada niatan untuk mengeluarkan kalimat ancaman, akan tetapi itu cara agar Kinanti mau mengganti pakaian basahnya. Jujur saja Adam tidak tega melihat Kinanti terus dalam keterpurukan.
Tetapi, Renata masih terlalu berkuasa dalam hatinya. Bahkan untuk menyakiti hati Renata sedikit saja Adam tidak memiliki keberanian.
Kinanti langsung berdiri, dan berjalan menuju almari. Memakai piama di dalam kamar mandi. Saat Kinanti kembali ia melihat sudah ada secangkir teh hangat yang di letakkan di atas meja.
Meneguk dengan perlahan dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
----
Pagi hari ini Kinanti merasa tidak baik-baik saja, tubuhnya menggigil dengan hebat. Sesekali terdengar suara bersin yang juga menimpali, suhu tubuhnya sangat panas. Sedangkan ia merasa kedinginan.
Dua anak kecil langsung berlari menuju kamar Kinanti, tidak biasanya Kinanti tidak membangunkan dan mengurus keperluan mereka setiap paginya.
"Mbak Kinan!!!!" seru Derren dan Davina yang langsung masuk ke kamar pengasuh mereka.
Kinanti berusaha membuka matanya, tetapi ia terlalu lelah dan juga lemah.
"Mbak Kinan sakit?" tanya Davina.
Kinanti hanya bisa mengangguk, sulit sekali bibirnya untuk berkata-kata.
"Davina, Derren!!!"
Seorang wanita juga menyusul kedua anaknya, Hanna Kakak sulung dari Adam. Tetapi ia juga melihat Kinanti yang terbaring di atas ranjang dengan tubuh menggigil.
"Kamu sakit?" tanya Hanna sambil menyusul kedua anaknya masuk kedalam kamar Kinanti.
"Bu, Kinan-"
"Kamu istirahat saja, biar Davina sama Derren sama saya dulu," ujar Hanna dengan cepat.
Hanna mengajak kedua anaknya untuk membiarkan Kinanti beristirahat, lalu membawanya menuju meja makan dan Hanna sendiri yang akan menyuapi kedua anaknya di pagi ini.
"Ayah Adam!!!"
Davina langsung duduk di kursi meja makan, begitu pula dengan Derren.
"Selamat pagi anak Ayah," Adam tersenyum pada kedua keponakan nya. Begitu juga dengan Renata yang duduk di samping Adam.
"Ayo mau sarapan pakai lauk apa?" tanya Hanna sambil mengisi piring dengan nasi goreng.
"Telor Ma," jawab Davina, sedangkan Derren juga mengangguk setuju.
"Tumben Kakak yang menyuapi Derren dan Davina?" tanya Adam bingung. Sebab itu adalah tugas Kinanti.
Hanna mulai menyuapi anak-anak dengan bergantian, setelah itu ia menatap Adam yang duduk saling berhadapan dengan nya.
"Kinan sakit Dam."
"Sakit?"
Adam sudah menduganya, karena tubuh Kinanti semalam kehujanan.
"Kamu kenapa sih?"
Renata merasa Adam sangat berlebihan, Kinanti hanya seorang pembantu. Lalu kenapa Adam harus peduli.
"Sayang, aku ini seorang dokter. Tolong mengerti."
"Kalau gitu kamu periksa, wajahnya pucat sekali," pinta Hanna.
"Sayang, apa harus kamu?" Renata sangat tidak suka, tetapi lagi-lagi Adam mengingatkan akan profesi nya sebagai seorang dokter.
Adam langsung menuju kamar Kinanti, bersama dengan Renata yang tidak ingin Adam dan Kinanti hanya berdua saja di dalam kamar.
Adam mulai memeriksa keadaan Kinanti, lalu meminta Mbok Sum untuk membuatkan bubur beserta segelas teh hangat.
"Kinan, ayo sarapan dulu," Mbok Sum membantu Kinanti untuk duduk, walaupun cukup kesulitan.
Tangan Adam sangat gatal sekali, ingin rasanya membantu Kinanti untuk duduk. Akan tetapi Renata terus memeluk lengannya, tatapan Renata yang dingin juga membuat Adam tidak memiliki keberanian.
"Apa kau tidak memiliki orang tua yang bisa di hubungi, mengingat kau sedang sakit," ujar Adam.
"Kamu apasih sayang, udahlah ayo keluar!" Renata langsung menarik Adam untuk keluar, menurutnya Adam sangat berlebihan.
"Sayang, Kinanti sedang sakit. Kenapa kau begitu," tolak Adam secara halus, sebab Adam masih ingin berada di kamar Kinanti.
"Apasih, peduli amat. Dia bukan siapa-siapa! Cuman pembantu!" papar Renata menekankan kata pembantu.
Kinanti hanya memejamkan mata, berusaha menelan bubur yang di suapi oleh Mbok Sum. Sambil menguatkan hati mendengar kata-kata Renata.
Andai saja Renata tahu apa yang sudah di lakukan Adam padanya, mungkin Renata tidak akan pernah mengeluarkan kalimat tersebut. Tetapi Kinanti tidak setega itu, hati wanita itu begitu baik seperti wajahnya yang sangat cantik.
Bab 4
"Bagaimana keadaan mu?"
Kinanti tersentak tak kala suara berat dan tertahan seorang pria menyapa nya. Sejenak Kinanti menghentikan pekerjaannya yang tengah menggoreng telur untuk majikan kecil yang bernama Davina.
Lalu memutar tubuhnya untuk melihat siapa pria yang berada di belakang nya.
"Tuan berbicara dengan saya?"
"Bagaimana keadaan mu sekarang?"
Adam tidak ingin menjawab pertanyaan Kinanti. Sebab, Adam tidak suka bertanya dan di jawab dengan pertanyaan kembali.
"Saya baik Tuan," jawab Kinanti dengan menundukkan kepalanya.
Sejak berada di rumah sakit, Adam selalu memikirkan Kinanti. Hingga sore hari saat setelah sampai di rumah Adam langsung menuju dapur untuk mencari keberadaan Kinanti.
Adam berjalan satu langkah, hingga keduanya cukup berdekatan. Tangan Adam bergerak memegang dahi Kinanti, kemudian mengangguk.
Kinanti terkejut saat Adam memegang dahinya, dan menurutnya itu cukup berlebihan.
"Apa kau bisa menutupi apa yang sudah terjadi di antara kita?"
Adam tidak bisa tenang, takut jika Kinanti memberitahukan pada Renata ataupun anggota keluarga lainnya tentang apa yang sudah terjadi di antara mereka.
Saat ini mungkin Adam terlalu egois, tetapi bagaimana pun Renata baru kemarin menjadi istri nya dan Adam tidak tega menyakiti hati wanita yang sangat di cintai nya.
Kinanti mengangguk lemah, Adam memikirkan perasaan Renata tetapi tidak dengan perasaan nya.
"Saya sangat mencintai nya," lanjut Adam berusaha agar Kinanti setuju dengan permintaan nya, "Atau aku bisa memberi mu sejumlah uang, sesuai yang kau mau."
Kinanti mendadak gagu, "Uang?"
Adam mengangguk, meyakini jika Kinanti setuju dengan tawaran nya.
Kinanti mangguk-mangguk, malang sekali nasib wanita itu. Mungkin menurut Adam uang bisa membeli harga diri nya.
"Saya akan menutup mulut saya, tidak usah khawatir," jawab Kinanti dengan yakin.
Adam mengangguk, "Terima kasih."
Adam berlalu pergi, melangkahkan meninggalkan dapur.
"Uang?" Kinanti tersenyum getir, tampaknya menurut orang kaya seperti Adam harga diri adalah uang.
-----
Hari-hari terus berlalu, Kinanti tidak lagi larut dalam luka yang tidak berkesinambungan.
Semua telah direlakan tanpa ada sisa-sisa benci sedikit pun, dan hal yang paling membuat Kinanti semakin kuat adalah Ilham kekasihnya tetap mau menerima walaupun semua sudah Kinanti katakan tentang kemalangan nya.
Walaupun pada hakekatnya Kinanti tetap tidak menyebut nama orang yang sudah menodainya, dan hal menariknya kata maaf di iringi dengan tawaran rupiah.
"Mbak Kinan," Davina sudah sangat kesal pada Kinanti.
Sudah beberapa hari ini Kinanti terus saja muntah-muntah, dengan tubuh lelah dan juga merasa pusing.
"Maaf ya, Mbak Kinan masuk angin," jawab Kinanti tidak enak hati.
Davina mengangguk, walaupun cukup membuat kesal. Duduk di kursi meja makan dengan manis, sambil menunggu Kinanti menyuapinya kembali. Tapi, lagi-lagi Kinanti mendadak bangun dari duduknya berlari menuju wastafel.
Davina menopang kepalanya menggunakan tangan pada meja, perut yang sudah lapar membuatnya kesal pada Kinanti.
"Kamu kenapa?" tanya Adam yang baru saja ikut bergabung di meja makan.
Tangan Adam menarik kursi untuk Renata, setelah itu melakukan hal yang sama dan duduk manis berhadapan dengan Davina.
"Mbak Kinan bikin kesel, dari kemarin terus aja muntah-muntah Vina lapar Yah," kata Davina dengan raut wajah kesal.
"Dari kemarin?"
"Vina, pagi ini Mbok Sum saja yang suapin ya," Mbok Sum yang mendengar keluhan Davina segera mengambil alih pekerjaan Kinanti.
Davina mengangguk karena sudah sangat lapar.
"Mbok Sum," Adam sedikit ragu untuk bertanya, tetapi cukup penasaran juga dengan kata-kata Davina, "Apa Kinanti sakit?"
"Sayang!" Renata sangat tidak suka, bagai manapun Adam adalah suaminya. Tidak akan ada wanita yang rela melihat suaminya memberikan perhatian pada wanita lain.
Adam mengelus kepala Renata, "Sayang, aku ini seorang dokter dan siapapun yang sakit aku harus menolong," jelas Adam.
Renata mendesis berulangkali Adam meyakinkan dengan profesi nya tapi, sampai saat ini juga Renata tidak bisa terima akan perhatian Adam pada Kinanti yang cukup berlebihan.
Adam tidak lagi bertanya perihal Kinanti di hadapan Renata, tetapi apa yang di katakan oleh Davina masih mengganggu pikirannya.
Selesai sarapan pagi, Adam mengantarkan Renata ke rumah kedua orang tuanya kemudian berjanji akan menjemputnya nanti malam.
Adam tidak lantas menuju rumah sakit tempatnya bekerja, akan tetapi Adam memutar balik arah dan kembali ke rumah.
Melihat Mbok Sum yang tengah menyapu halaman, Adam seketika turun dari mobil dan mendekati Mbok Sum.
"Mbok Sum, apa Kinanti di dalam?"
Mbok Sum cukup terkejut, Adam datang lalu bertanya dengan tiba-tiba.
"Kenapa menanyakan Kinanti?" tanya Sarah.
Kali ini Adam yang terkejut melihat Sarah berdiri di hadapannya, apa yang akan Adam katakan untuk bisa lolos dari pertanyaan Sarah.
"Kinanti?" tanya Adam kembali seolah tidak mengerti.
Sarah malah bingung, merasa tidak salah mendengar.
"Adam nanya Davina Ma," kata Adam sambil melebarkan mata memberi kode pada Mbok Sum.
Mbok Sum hanya mengangguk dalam kebingungannya, dan berusaha membenarkan apa yang di katakan oleh Adam.
"Bukanya tadi kamu nanyak Kinanti? Kinanti sedang mengantar Derren dan Davina ke sekolah," Sarah benar-benar bingung.
"Mbok, tadi saya bertanya tentang Davina kan?" Adam terus menatap Mbok Sum, berharap bisa di ajak kerjasama.
"I-iya Bu Sarah, tadi Tuan Adam nanyak Davina," Mbok Sum sebenarnya tidak ingin berbohong, tetapi karena takut pada Adam terpaksa dilakukan.
Sarah mengangguk, lalu pergi karena merasa salah mendengar.
Tidak berselang lama, sebuah mobil Alphard berwarna putih terparkir. Seorang wanita turun dengan tergopoh-gopoh.
"Kinanti?" panggil Mbok Sum.
Kinanti tidak perduli, terus berlari masuk fokus hanya segera menuju kamar mandi.
"Mbok Sum apa dia sering muntah-muntah?" Adam ingin segera mendapatkan jawaban, karena sejak padi tadi belum ada jawaban yang pasti.
"Iya Tuan, dari kemarin juga. Seperti orang hamil saja," jawab Mbok Sum asal.
Blush!
Seketika wajah Adam memerah, jantung mulai berdetak kencang karena takut apa yang di katakan oleh Mbok Sum benar.
"Tuan!" Mbok Sum sudah memanggil Adam beberapa kali tapi malah diam seakan hanyut dalam pikiran.
Adam tersadar tetapi tidak perduli sama sekali, hingga tiba-tiba terdengar suara teriakan Sarah dari dalam sana.
"Aaaaaaa!"
Adam seketika berlari masuk, melihat Sarah yang berteriak dengan Kinanti yang tergeletak di dapur.
"Kinanti!" Sarah menepuk pipi Kinanti hingga berulangkali.
Terbaring di atas sofa, tubuh lemah dengan wajah pucat masih belum sadarkan diri.
"Adam Kinanti kenapa?" tanya Sarah panik.
"Em," Adam hanya diam, bahkan semakin aneh saat selesai memeriksa keadaan Kinanti.
"Adam," Sarah menggerakkan lengan Adam, telinganya sudah tidak sabar mendengarkan penjelasan Adam.
"Tidak ada apa-apa, hanya masuk angin," jawab Adam dengan suara kecil, jari-jemarinya memijat dahi yang terasa mendadak pusing sambil menatap tubuh lemah Kinanti yang masih terbaring di atas sofa.
Bab 5
Setelah tersadar dari pingsannya Kinanti duduk di kursi taman yang terletak di bagian belakang rumah, sesekali tangannya memijat kepalanya yang masih terasa sedikit pusing.
"Kinan!"
Renata memanggil, hingga membuat Kinanti tersadar dari lamunan panjangnya.
"Iya Bu Renata." Dengan sigap Kinanti bangun dari duduknya, menatap Renata yang kini berdiri di hadapan nya.
"Buatkan saya makanan, saya sedang lapar!"
Kenapa harus Kinanti, bukankah ada ART lainnya?
Kinanti Anastasia seorang perawat cantik yang bekerja merawat dua bocah kecil keluarga Sanjaya, namun anehnya Renata malah memerintah nya untuk memasak.
Sedangkan tugas Kinanti hanya mengurusi kebutuhan dua bocah lucu.
Tidak ingin berdebat, kaki Kinanti segera berjalan kearah dapur.
"Mbak Kinan, masak apa?" sepulang sekolah Davina langsung mencari Kinanti di dapur, kali ini pun sama.
"Eh, Vina, Mbak Kinan masak makanan buat Tante Renata."
"Mbak Kinan, buatin Vina telur mata keranjang dong!" celetuk Davina, tetapi maksudnya adalah telur mata sapi.
Kinanti tersenyum, sejenak menjauh dari pekerjaannya lalu berjongkok menatap Davina.
"Mata sapi cantik," Kinanti menarik hidung Davina dengan gemas.
Davina cengengesan tidak jelas, karena memang ia sangat menyukai Kinanti.
Makanan tersusun rapi di atas meja makan, Adam dan Renata siap menikmatinya.
"Hey, mau kemana?"
Kinanti urung untuk melangkah pergi, dengan perasaan tidak karuan Kinanti tetap berusaha berdiri di tempatnya. Memandang kemesraan Adam dan Renata sudah menjadi hal yang biasa.
Tidak bermaksud cemburu. Akan tetapi perasaan Kinanti saat ini sangat tidak karuan, kadang ingin marah tanpa ada alasan yang jelas. Bahkan kadang ingin menangis, pernah juga Kinanti tertawa tanpa sebab jelas.
"Buatkan jus jeruk!" Renata masih cukup kesal pada Kinanti yang terus di khawatirkan Adam seperti pagi tadi, dan saat ini Renata ingin melepaskan dengan memerintahkan Kinanti sesukanya.
Kinanti masih mengangguk, kemudian membuatkan apa yang diperintahkan oleh Renata.
"Mbak Kinan!!!"
Suara teriakan Davina seakan membuat satu isi rumah terkejut, dengan langkah cepat Adam, Renata, Sarah, serta Kakak sulung Adam bernama Hanna langsung berlari menuju dapur.
"Mbak Kinan!!!"
Kinanti terkulai di lantai tidak sadarkan diri untuk yang kedua kalinya pada hari yang sama, hingga Davina berteriak histeris.
Dengan cepat tubuh Kinanti di angkat menuju sofa.
Adam terdiam, hasil pemeriksaan masih saja sama. Kinanti memang tengah mengandung.
"Sayang!" pekik Renata kesal, karena Adam hanya diam larut dalam pikirannya.
Adam seketika tersadar, berulang kali hanya bisa meneguk saliva yang terasa pahit. Apa yang akan terjadi jika semua anggota keluarga tahu tentang kemalangan nya.
Apa itu anak ku?
Apa yang harus ku lakukan?
Kepala Adam penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak memiliki jawaban.
Mata Kinanti mulai bergerak, sesaat kemudian mata itu terbuka melihat banyak orang di sekelilingnya dengan kebingungan.
"Mbak Kinan enggak papa kan?" terlihat raut wajah panik Davina, gadis kecil yang di asuh Kinanti dari semenjak kecil.
Kinanti menggeleng, sambil mendudukkan tubuhnya.
"Kamu istirahat di kamar dulu," ujar Sarah.
Kinanti mengangguk, dengan perlahan bangun lalu berjalan menuju kamar. Belum satu menit pun pintu kamar Kinanti tertutup tetapi sudah terbuka kembali.
Seorang pria dengan tubuh jangkung tiba-tiba masuk tanpa ijin, memutar kunci dengan secepat mungkin.
"Itu anak siapa?"
Suara serak dan tertahan itu terdengar begitu dingin.
Kinanti terdiam tanpaknya Adam sudah tahu tentang kehamilan yang sengaja di tutupi begitu rapat.
Kinanti juga begitu shock saat melihat dua garis meras yang muncul, saat pagi tadi mencoba alat uji kehamilan.
Tapi saat ini Kinanti bagai di tikam ribuan belati, tubuh lelah nya langsung duduk di atas lantai. Sakitnya, tiada banding. Perihnya jangan ditanya lagi, luka ini sangat menyakitkan.
"Saya tidak semurahan itu Tuan, saya akan pergi. Anda tidak perlu takut!" Jawab Kinanti dengan menguatkan perasaan yang sakit, pertanyaan Adam sangat tajam melebihi tajamnya belati.
Dengan cepat Kinanti menuju Almari, menyambar baju yang terlipat dengan rapi dan memasukannya kedalam Tas.
Setelah selesai Kinanti langsung melengos pergi, meninggalkan Adam yang masih berdiri mematung di tempatnya.
------
Di ruang keluarga Sarah dan juga kedua cucunya tengah menonton televisi, akan tetapi tiba-tiba di kejutkan dengan kedatangan Kinanti sambil membawa tas cukup besar.
"Saya mohon Bu, saya pulang hanya beberapa waktu sampai saya sembuh. Setelah sembuh saya akan kembali, saya rindu ibu saya."
"Mbak Kinan, Davi enggak mau di tinggal," rengek Davina.
"Davi sayang sama Mbak Kinan?"
Davina mengangguk, pipi gembul nya sangat menggemaskan.
Kinanti berjongkok di hadapan Davina, agar tinggi mereka sejajar.
"Mbak Kinan lagi sakit, nanti kalau Mbak Kinan sudah baikan pasti Mbak Kinan balik lagi."
"Janji ya Mbak Kinan."
Kinanti mengangguk lemah, hatinya terasa sakit harus berjauhan dengan dua anak majikannya yang sangat menyayangi dirinya.
-----
Rumah sederhana, tempat dimana Kinanti di besarkan. Terletak di pinggir kota, masih saja sama semenjak satu tahun lalu mengunjungi Ibunya.
Sebenarnya Kinanti ragu untuk pulang ke rumah itu, semenjak kedua orang tuanya bercerai. Kasih sayang Ibunya pun tidak lagi ada, apa lagi Ayah tiri Kinanti yang tidak suka pada dirinya.
"Akhirnya kau kembali, setelah sekian purnama." Lihatlah wanita paruh baya itu, Fatimah wanita yang melahirkan Kinanti terlihat tidak perduli pada dirinya.
"Ibu apa kabar?"
Kinanti tetap berusaha menghormati Fatimah, sekalipun tidak sebaliknya.
"Baik."
Kinanti berjalan menuju kamar lama miliknya, akan tetapi kamar itu sudah di berpindah menjadi milik adik tirinya. Putri.
"Ngapain Lo!" tidak ada raut wajah bahagia saat melihat kedatangan Kinanti, bahkan hanya terlihat raut wajah kebencian yang ada.
Kinanti hanya diam dengan tangannya meletakan tas besar berisi pakaian. Kemudian mengambil handuk dan pergi menuju kamar mandi yang terletak di dapur, rumah sederhana itu memang hanya memiliki satu kamar mandi saja.
Sehingga siapa saja yang ingin mandi harus bergantian.
"Kinanti!!!"
Wajah marah Fatimah terlihat jelas, tangannya memegang alat tes kehamilan yang ia temukan tergeletak di lantai kamar mandi. Fatimah yakin itu milik Kinanti, sebab setelah Kinanti menggunakan kamar mandi Fatimah lah yang masuk.
"Dasar murahan, kau hamil anak siapa!!!!"
Fatimah langsung menarik handuk yang menutupi rambut Kinanti.
"Sakit Bu," rintih Kinanti dengan air mata yang terus mengalir.
"Jalang sialan! Keluar dari rumah ku. Jangan sampai tetangga di sini tahu kau hamil tanpa suami!"
Fatimah berapi-api, tangannya menyeret Kinanti keluar dari dalam rumah. Di susul dengan pakaian yang di lemparkan pada wajah Kinanti.
"Pergi dan jangan kembali lagi ke rumah ini jalang!"
Teriak Fatimah tanpa ampun.
"Bu."
"Pergi! Kau sangat memang jalang. Pantas saja kau kembali ke rumah ini, dasar anak pembawa sial!"
Bab 6
"Pergi dari sini Jalang, jangan pernah kembali. Memalukan!"
Suara pintu di banting dengan kencang membuat Kinanti tersentak.
Tidak ada kasih sayang sedikitpun untuk dirinya. Bahkan Ibu kandung terasa seperti Ibu tiri.
Bahkan pergi ke rumah Rahmat juga sama saja.
Ibu tirinya tidak menyukai Kinanti.
Tangan yang bergetar memungut beberapa helai pakaian yang berserakan di teras, dengan berderai air mata memasukan pakaiannya kedalam tas dan membawanya pergi.
Dunia seakan begitu kejam, tak berbelas kasih padanya walaupun hanya secuil saja.
Seorang pria berdiri di samping mobilnya sambil melihat seorang wanita yang di usir oleh wanita paruh baya. Bahkan Adam sendiri tidak tahu siapa wanita Tersebut.
Beberapa saat lalu Kinanti pergi dari kediaman Adam, dan saat itu juga Adam mengikuti dengan diam-diam.
Saat Kinanti masuk ke sebuah rumah sederhana sebenarnya Adam ingin pergi tetapi, entah kenapa ia merasa bersalah atas pertanyaan yang meragukan anak di dalam rahim Kinanti.
Hingga Adam lebih memilih terus berdiam diri di sisi jalanan sambil berdebat dengan perasaan.
Namun, saat akan pergi tiba-tiba netra nya melihat Kinanti yang di usir keluar.
Malang sekali nasib wanita itu, sudah di perkosa, lalu hamil, dan sekarang di usir oleh Ibu kandung nya sendiri.
Mata Adam melihat Kinanti berjalan di sisi jalan sambil memeluk tas besar berisi pakaian, dengan langkah kaki yang lebar Adam langsung mendekat.
"Ayo."
Lengan Kinanti di tarik tiba-tiba oleh Adam, tanpa banyak bicara memasukan tubuh lemah Kinanti kedalam mobil.
"Ada apa lagi?!" Geram Kinanti sambil terisak
penuh pilu begitu dalam.
Pertemuan dengan Adam adalah suatu musibah yang membuat hidupnya hancur tanpa sisa.
Adam diam sambil melajukan mobilnya. Membawa Kinanti kesebuah Apartemen miliknya.
"Kenapa kau membawa ku kemari?!"
Kinanti menggerakkan lengannya, karena Adam terus membawanya masuk ke dalam Apartemen.
Adam bahkan tidak perduli, langkah kaki begitu pasti membawa Kinanti menunju Apartemen yang sudah cukup lama tidak di tempati semenjak kembali berkumpul bersama keluarga.
"Apa mau mu? Apa belum cukup kau menghancurkan hidup ku!!!" teriak Kinanti penuh kemarahan.
Pintu tertutup rapat, Adam membiarkan Kinanti berteriak sepuasnya di depan wajahnya. Mengerti dengan perasaan Kinanti saat ini,
menjadi dokter Obgyn membuat Adam sangat tahu tentang wanita tengah berbadan dua.
Lelah dengan menangis dan berteriak, Kinanti terjatuh tidak sadarkan diri. Dengan cepat Adam menangkap tubuh lemah Kinanti, membaringkannya pada ranjang dengan ukuran cukup besar.
Setelah memeriksa keadaan janin Kinanti, Adam duduk di sofa dengan memijat dahi yang terasa ingin pecah. Melihat keadaan Kinanti begitu memprihatinkan, dengan keadaan janin yang begitu lemah.
Adam tidak mungkin membiarkan anaknya menderita karena dirinya.
"Kita akan menikah," ujar Adam yang tahu Kinanti sudah sadarkan diri.
Berbaring di atas ranjang, sambil menatap arah lainnya. Tangan meremas sprei dengan Isak tangis yang tertahan.
"Di mana Ayah mu, saya akan menemuinya dan meminta untuk menikahkan kita?"
Keputusan yang paling tepat saat ini adalah menikahi Kinanti, walaupun hanya menikah siri dan juga menutupi dari keluarga besarnya. T
Terutama dari Renata.
Namun masih lebih baik, mengingat untuk hari ini saja entah sudah berapa kali Kinanti terjatuh pingsan karena terlalu stres dan kelelahan.
Kinanti menggeleng, menggigit erat bibir bawah agar menahan Isak tangis yang akan pecah.
Adam terdiam, tidak ada yang bisa di katakan. Pikirannya juga sedang kacau, tapi Adam tidak ingin egois kepada janin tidak berdosa yang dikandung Kinanti.
"Kita akan bercerai setelah anak itu lahir, kalau kau tidak mau memberikannya pada saya. Kau boleh membawanya," jelas Adam.
Walaupun terdengar sulit dan egois. Tetapi Adam juga tidak bisa jika meninggalkan Renata demi Kinanti.
-----
Perjalanan menuju kediaman Rahmat sedikit jauh, walaupun begitu Adam tetap melanjutkan perjalanan.
Sulit bagi Kinanti untuk menikah dengan Adam, mengingat Adam sudah memiliki istri. Apa lagi Sarah pasti sangat kecewa jika tahu Kinanti menjadi orang ketiga bagi rumah tangga Adam.
Akan tetapi, Kinanti juga tidak ingin egois dengan janin yang kini di kandungnya. Setiap kali menolak pernikahan, Adam selalu meyakinkan nya kembali.
Rumah sederhana dengan penerangan lampu yang cukup redup terlihat jelas, Adam turun terlebih dahulu dan membukakan pintu untuk Kinanti.
Adam mengangguk dengan raut wajah memohon, setelah itu barulah Kinanti bersedia untuk ikut turun.
Pintu di buka oleh seorang wanita dengan daster kuning, juga masker wajah berwarna putih memenuhi wajahnya.
"Ada apa?"
Lastri terang-terangan menunjukan wajah sinis pada Kinanti.
Kemudian menatap pria tampan yang berdiri di belakang Kinanti. Lastri menatap penampilan Adam terlihat seperti bukan orang sembarang, kemudian matanya melihat mobil mewah berwarna hitam terparkir di halaman.
"Kinanti." Rahmat baru saja pulang dari masjid, bibirnya tersenyum saat melihat Kinanti mengunjunginya.
"Ayah," Kinanti tersenyum dan langsung memeluk Rahmat.
Bab 7
Rahmat sangat menyayangi Kinanti, sekalipun sudah bercerai dari Fatimah. Hanya saja Kinanti tidak bisa tinggal bersama dengannya karena, Lastri tidak menyukai Kinanti.
Rahmat mempersilahkan Kinanti dan Adam masuk, duduk di kursi kayu yang terlihat begitu kusam. Tetapi, bersih karena rajin di bersihkan.
"Saya Adam Pak." Adam mulai mengutarakan maksud dan tujuannya menemui Rahmat, "Saya datang ke sini, ingin meminta Bapak untuk menikahkan kami," jelas Adam sambil melihat mata Kinanti yang berkaca-kaca menahan sesak di dada.
Lastri terlihat tidak suka, bahkan untuk air putih saja tidak ada terhidang.
"Saya terserah kepada Kinan saja," Rahmat menatap wajah Kinanti yang menahan air mata, tanpaknya Rahmat tahu putrinya tidak baik-baik saja.
"Saya ingin Bapak menikahkan kami saat ini juga," kata Adam lagi.
Rahmat cukup shock, kemudian ia beralih menatap Kinanti penuh tanya.
"Hay, kenapa harus buru-buru. Apa sudah apa-apa?" tanya Lastri dengan sinis.
"Ibu," Rahmat menegur istrinya, tapi Lastri membalas dengan tatapan sinis.
"Kalau tidak apa-apa, kenapa harus buru-buru?" Mata Lastri melebar dan menatap perut Kinanti yang masih rata. Tetapi pikirannya sudah jauh kemana-mana.
Yakin jika Kinanti adalah wanita nakal, bahkan dengan berani menggoda pria yang sudah beristri.
Adam menarik napas panjang, berpikir wajar jika Kinanti begitu tertekan melihat tidak ada yang peduli pada nasib malangnya.
Lagi-lagi Adam semakin yakin dengan keputusan untuk menikahi Kinanti.
"Iya, saya sudah mempunyai istri. Akan tetapi kami juga harus menikah," ujar Adam dengan tegas, bagaimana pun ia harus bertanggung jawab atas janin yang ada di rahim Kinanti.
"Waw!!!" Lastri berseru, seakan menatap Kinanti dengan rendah.
Ternyata apa yang barusan di pikirkan sangatlah benar, anak tirinya memang wanita liar.
Rahmat tidak memiliki alasan untuk tidak menikahkan Kinanti, entah mengapa Rahmat dapat melihat ketulusan pada Adam mungkin setelah menikahkan keduanya Kinanti bisa merasakan sedikit kebahagiaan.
Walaupun terasa berat, mengingat Kinanti akan menjadi istri kedua.
Setelah sepakat, akhirnya pernikahan benar di lakukan malam itu juga.
Tidak ada gaun, tidak ada cincin, tidak ada pesta seperti apa yang di impian Kinanti sejak kecil, menjadi seorang Cinderella menaiki kereta kuda dengan pangeran impian.
Air mata jatuh begitu saja, untuk kali ini tidak dapat menyembuhkan rasa pilu seperti biasanya.
"Saya terima nikahnya, Kinanti Anastasia binti Rahmat dengan mahar tersebut di bayar tunai!"
Kinanti Anastasia, kini sudah menjadi istri siri dari Adam Agatha Sanjaya lebih tepatnya terpaksa menjadi istri kedua.
Keduanya hanya diam seakan terasa asing sambil menahan perasaan tidak karuan, sakit, perih dan pedih tercampur menjadi satu.
Di teguk paksa bagai racun, tetapi entah sampai kapan bisa terus menahan siksaan.
Pernikahan siri, dengan saksi beberapa tetangga saja tanpa ada pihak keluarga Adam.
Sampai akhirnya malam semakin larut, ponsel Adam terus berdering seorang istri tengah merindukan suaminya yang belum kembali sampai saat ini juga.
Adam memilih mendiamkan, tidak menjawab karena Rahmat duduk saling berhadapan dengan nya.
"Saya harus kembali ke kota malam ini juga, tetapi-" Adam diam sejenak sambil menatap Kinanti, "Tetapi, Kinanti akan saya tinggalkan di sini dulu, nanti saya akan kembali untuk menjemputnya," lanjut Adam kembali menatap Rahmat.
"Hem!" ejek Lastri dengan wajah sinis, sangat tidak suka pada Kinanti.
Adam mengambil dompet pada saku celana, lalu mengambil lembaran rupiah dan memberikannya pada Lastri, "Ini Bu mung-"
Dalam sekejap Lastri langsung mengambil alih uang tersebut, menghitung dengan bahagia.
Rahmat menggeleng dan merasa malu.
"Sebulan juga tidak apa kalau kau mau di sini," Lastri terlihat bahagia, apa lagi dengan uang yang mungkin sampai lima juga di tangannya.
Tidak bisa berbuat apapun, bertanya sekalipun Kinanti tidak memiliki keberanian padahal Adam kini sudah sah menjadi suaminya.
Duduk di atas kursi kayu dengan air mata yang terus menemaninya tanpa bisa berbicara.
"Saya akan menjemput mu, tunggu dalam beberapa hari ini," pamit Adam.
Tidak mengangguk, tidak menggeleng, apa lagi bersuara. Kinanti hanya terdiam mencari kekuatan agar tetap bertahan hidup demi nyawa yang tumbuh di rahinnya.
Bab 8
Kinanti tidak tahu dimana letak kesalahan nya sehingga saat ini bisa terjebak dalam situasi yang begitu menyulitkan.
Terkadang bingung akan takdir yang seakan mempermainkan bertanya-tanya mengapa harus ia yang berada di posisi ini, bahkan tidak jarang Kinanti iri melihat kebahagiaan orang-orang di luar sana.
Mengapa tidak bisa seperti mereka, jalan terjal yang di lalui terasa begitu sulit. Kadang kala pernah berpikir untuk mengakhiri hidup demi mengakhiri takdir.
Tapi tidak. Kinanti masih berusaha untuk bertahan berdiri tegak dan meyakinkan diri akan ada secercah kebahagian setelah kesakitan.
"Sudah satu minggu kau berada di rumah ku! Mana suami mu itu? Apa jangan-jangan kau cuman di nikahi lalu, di buang seperti sampah!"
Mata Lastri seakan menatap remeh, tapi sejenak Kinanti juga membenarkan apa yang dikatakan oleh Ibu tirinya.
Menuangkan air pada gelas dan meneguk dengan perlahan, sekalipun hati terasa gundah harus berusaha terlihat tegar.
"Sejak kapan aku menjadi lemah, bangkin Kinanti. Ini hanya bagian kecil dari hidup mu. Bukankah kau terbiasa di terjang gelombang, terombang-ambing tanpa arah, lalu apa mungkin kau lemah saat ini." Dalam hati Kinanti terus berusaha untuk menyemangati diri, demi janin yang kini tumbuh di rahinnya.
Suara ketukan pintu membuat Kinanti tersadar, Lastri berjalan cepat ke arah pintu.
Seorang pria datang dengan membawa buah tangan, bibir Lastri tersenyum lebar.
"Adam kau datang?" Sambutan terlihat begitu hangat, apa lagi saat mata Lastri menatap banyak barang yang di bawa Adam.
"Ini Bu ada-"
Masih seperti kemarin, Lastri langsung mengambil alih tanpa merasa sungkan sedikitpun.
"Nak Adam sudah lama sampai?"
Rahmat mendengar dari kamar ada suara pria, hingga keluar dan melihat menantunya Adam.
"Duduk."
"Terimakasih."
Mata Adam melirik Kinanti yang duduk di kursi meja makan sederhana, diam tanpa kata apa lagi tersenyum.
Tidak ingin terus menjadi pusat perhatian Adam, Kinanti kemih memilih bangun dari duduknya melangkah menuju kamar, mencoba untuk tetap berpikir positif.
Tanpa di duga Adam juga menyusul masuk kedalam kamar. Kamar dengan ukuran 3×4, bahkan hanya bernapas juga sangat sulit.
Keduanya hanya diam, hening tanpa ada suara untuk memecahkan keheningan. Mengingat keduanya tidak pernah saling bertutur sapa, ataupun saling menegur satu sama lainnya selama Kinanti menjadi pengasuh dua keponakan Adam.
"Kita akan ke kota, bereskan semua barang-barang mu."
Kinanti hanya diam, berdiri di depan jendela menatap keluar.
"Cepat, saya tidak punya banyak waktu!" Adam menatap jam yang melingkar di pergelangan tangan, kemudian kembali menatap Kinanti.
"Kalau Anda tidak ingin ke rumah ini tidak usah Tuan!" Mata yang berkaca-kaca seakan menggambarkan perasaan Kinanti, tidakkah Adam tahu bertapa Kinanti sangat menderita dengan posisi nya saat ini.
"Maaf."
Tidak pernah terbesit menjadi istri kedua di benaknya Kinanti sangat terluka tetapi, keadaan masih saja memaksa.
Sekalipun air mata terus bercucuran Kinanti tetap mengemasi pakaian untuk di bawa kemana pun kaki melangkah.
Sepanjang perjalanan menuju kota, Kinanti dan Adam hanya diam tanpa berbicara. Sesekali hanya terdengar suara deru mesin dan beberapa mobil yang juga melintas. Hingga keduanya sampai pada rumah yang di tuju, Adam memberhentikan mobilnya lalu melirik Kinanti yang duduk di sampingnya.
"Turun."
Sebuah rumah sederhana tetapi masih lebih baik jika di bandingkan dengan rumah kedua orang tuanya, Kinanti menatap sekitarnya dengan tas di tangan. Melangkah masuk tanpa tahu apa tujuan Adam membawanya ke rumah itu.
"Mulai saat ini kau tinggal di sini, aku akan menjenguk mu setiap harinya. Jarak dari rumah sakit kesini hanya memerlukan waktu lima menit." Papar Adam.
Kinanti tertegun, kalimat mengatakan "akan menjenguk" seakan membuat nya tersenyum getir.
"Aku ini istri atau tetangga? Sungguh miris." Batin Kinanti.
Lagi-lagi hanya bisa diam sambil mengusap dada.
Adam pergi begitu saja, Kinanti terdiam sambil menitihkan air mata. Menunduk sambil memeluk perut yang masih rata menatap Adam dari pintu yang terbuka hingga menghilang setelah masuk ke dalam mobil nya.
"Kita berjuang bersama."
Kinanti berbicara pada janinnya, seakan kini menemukan alasan untuk tetap berdiri dengan tegak.
Tidak memakan apapun dari semenjak pagi tadi membuat perut Kinanti terasa lapar, mata Kinanti menatap jam dinding ternyata waktu sudah hampir sore.
Mencari dapur dan melihat apa saja yang bisa di makan, tidak ada bahan makana sama sekali. Kinanti mendesus meresapi rasa lapar yang seakan semakin menyiksa.
Cukup jauh Kinanti berjalan, sampai akhirnya netral nya menatap penjual nasi goreng di pinggir jalan. Ulu hati terasa semakin perih dengan cepat menyebrang jalan raya tanpa melihat kanan atupun kiri.
"Aaaaaaa!!!!"
Teriak Kinanti saat sebuah mobil hampir saja menghantam, lama terdiam merasakan tidak ada yang terasa hingga dengan perlahan mulai membuka mata.
Bab 9
"Mbak Kinan!!!" Seru Davina, bocah berusia 5 Tahun yang selama ini di asuh Kinanti, "Vina kangen Mbak Kinan," tuturnya lagi.
Davina terus memeluk Kinanti, begitu juga dengan sebaliknya.
Kinanti tersenyum getir alasan Adam buru-buru pulang adalah pergi bersama Renata. Sekaligus istri sahnya.
Miris.
Wanita ssexy berstatus istri di samping Adam seakan kesal pada Kinanti raut wajahnya seakan menunjukkan bertapa Kinanti terlalu menyita waktunya.
"Vina, cepat masuk ke dalam mobil!" titah Renata.
Davina terdiam sambil menatap Kinanti, tanpaknya bocah lucu tersebut tidak ingin berjauhan lagi dengan pengasuh nya. Kinanti.
"Vina, jangan membuang-buang waktu!"
"Mbak Kinan balik ke rumah ya, Vina kangen," rengek bocah itu seakan tidak perduli pada Renata.
Kinanti terdiam, perlahan tangannya bergerak mengelus rambut hitam panjang milik bocah yang terasa berat melepaskan diri dari pelukan Kinanti.
"Besok Mbak Kinan ke rumah."
Bujuk Kinanti, tetapi bocah itu terus menolak.
"Vina!" panggil Renata lagi.
"Davina, kita pulang ya," suara datar Adam seakan ikut berusaha membujuk Davina untuk pulang segera.
"Mbak Kinan ikut ya."
"Kinanti, bisakah kau ikut?"
Kinanti sedikit tersentak saat Adam menawarkan untuk ikut, dalam hati tidak ingin kembali ke rumah keluarga Adam. Tapi lagi-lagi wajah polos Davina membuat Kinanti luluh.
"Ye!!!" Davina berseru dengan suara keras.
Tetapi tiba-tiba kaki Kinant tersandung, dengan cepat Adam menangkap tubuh Kinanti.
"Sayang!"
Istri mana yang tidak kesal saat melihat suaminya memeluk wanita lain di hadapannya, begitu juga dengan Renata.
Renata tahu jika Adam hanya berusaha untuk menolong Kinanti yang hampir saja terjatuh, akan tetapi batin Renata tetap saja tidak bisa menerima apa yang baru saja dilakukan oleh Adam.
"Nggak usah mikir aneh-aneh!" sergah Renata, "Vina, ayo naik lagi ke mobil," Renata membuka pintu mobil dan membawa Davina untuk masuk kembali.
Tatapan Renata masih saja menatap Kinanti dengan mematikan, sebagai seorang istri tentu saja akan terus menjaga suaminya. Apa lagi sekarang pelakor sedang marak-maraknya.
"Vina, Mbak Kinan nanti nyusul ya," kata Kinanti pada bocah kecil yang menatapnya dari kaca mobil yang terbuka.
Davina menggeleng, bahkan menangis dengan keras. Karena kasihan akhirnya Kinanti ikut naik ke dalam mobil.
***
"Oma!!!" seru Davina sambil berlari masuk kedalam rumah.
"Cucu Oma dari mana?"
Sarah menciumi pipi gembul cucunya dengan penuh kasih sayang.
Davina menatap ke luar, begitu juga dengan Sarah yang mengikuti arah pandang Davina.
"Ada Mbak Kinan Oma," seru Davina dengan bahagia.
"Oh...ya?"
"Iya."
Raut wajah Davina terus bersinar, sedangkan Sarah juga tersenyum lembut pada Kinanti.
"Syukurlah kalau kamu kembali lagi, Derren sama Davina nakal nya minta ampun. Setelah kamu pulang kampung," kata Sarah mengutarakan keluhannya pada saat Kinanti pergi.
Kinanti mengangguk lemah, bahkan bingung dengan situasi sulit yang tengah ia hadapi.
"Tas kamu dimana?"
Sarah baru menyadari, Kinanti tidak membawa tas besar yang selalu ia gunakan untuk membawa pakaian.
"Em," dengan tangan yang saling meremas Kinanti berusaha untuk mencari alasan.
"Tadi Kinanti kecopetan Ma," timpal Adam dengan cepat.
Adam tahu tidak baik berbohong, beruntung Renata langsung menuju kamar tapi apa jadinya kalau Sarah tahu sebenarnya Kinanti tinggal di dalam rumah yang baru saja ia beli. Lalu bertemu dengan Davina tanpa sengaja.
Sarah mengangguk, perasaan nya mulai iba menatap Kinanti.
Malam semakin larut, entah mengapa tiba-tiba ada suara ketukan pintu. Turun dari atas ranjang, memutar anak kunci, lalu membuka pintu.
"Bikinin nasi goreng, saya lapar!" titah Renata tiba-tiba.
Kinanti mengangguk, menuruti perintah majikan sekalipun sebenarnya mata Kinanti sangat mengantuk.
"Jangan kamu menganggap bahwa suami saya suka sama kamu?"
Kinanti lagi-lagi mengangguk, sambil membuatkan nasi goreng untuk Renata sesekali terdengar suara benda yang berbenturan.
Menyajikan dibatas meja makan, satu piring nasi goreng dengan telur setengah matang. Membuat rasa lapar Renata semakin menjadi-jadi.
"Sayang kamu di sini," Adam tidak melihat istrinya di sampingnya saat terbangun, dan dengan cepat ia mencari Renata ke dapur.
Mata Adam juga melihat ada sepiring nasi goreng yang cukup lezat.
"Ini nasi goreng siapa?" tunjuk Adam pada sepiring nasi goreng, sambil menunggu jawaban Renata.
"Punya aku sayang, makan yuk. Suapin aku."
"Nyonya, Saya boleh kembali ke kamar?" tanya Kinanti dengan hati-hati.
"Buatkan teh hangat!"
"Sayang sini aku suapin," tawar Adam sambil mengambil alih sendok yang di pegang Renata.
Renata tersenyum lembut lalu membuka mulut menerima suapan dari Adam.
Hati sebenarnya sudah tidak sanggup, tetapi tidak ingin terlihat rapuh. Tangan Kinanti meletakan secangkir teh hangat pada meja makan, sambil menyaksikan Adam dan Renata yang begitu mesra.
Bab 10
Lalu bagaimana dengan status istri yang di berikan Adam padanya?
"Kamu kuat Kinanti, demi anak mu." Batin Kinanti.
Langkah kaki Kinanti terasa berat menutup pintu dengan pelan dan bersandar pada daun pintu.
Air mata yang dari tadi tertahan kini lepas dengan begitu saja, bayang-bayang menikah dengan seseorang yang akan membahagiakan nya kini pupus sudah.
Kinanti tidak ingin menangis, akan tetapi ada perasaan lega setelah nya dan membuatnya semakin kuat dalam menghadapi segalanya. Sehingga setiap ingin menangis Kinanti melepaskan dengan sejadi-jadinya.
Ponsel Kinanti berdering seseorang di seberang sana menghubunginya, dengan cepat menghampiri lalu menyambar ponsel yang tergeletak asal di atas ranjang.
"Berdehem beberapa kali agar suara kembali menjadi normal.
"Halo," tangan Kinanti mendekatkan ponsel pada telinganya.
Mendengarkan apa yang akan di katakan oleh kekasihnya yang menghubungi
dirinya. Bibir Kinanti bergetar, menahan isak tangis.
"Kinanti, kamu kemana saja. Berhari-hari aku menghubungi kamu, tidak satu kali pun kamu menjawab panggilan ku?" Cecer Ilhan dengan pertanyaan yang seakan membuat perasaan Kinanti begitu remuk.
"Maaf ya Mas, Kinanti lagi sibuk banget," bohong Kinanti.
Entah dengan cara apa Kinanti menjelaskan pada Ilham, kekasih yang sudah mencintainya selama ini. Bahkan keduanya sudah berpacaran sejak kuliah.
"Besok kita ketemu, Mas kangen," pinta Ilham.
"Iya," Kinanti mengangguk.
Tidak ada alasan untuk menolak bertemu dengan Ilham, lagi pula pernikahan nya dengan Adam hanya menunggu waktu saja.
Bukan maksud membohongi Ilham. Akan ada masanya menjelaskan semuanya tapi tidak saat ini.
***
Morning sickness yang di alami oleh Kinanti cukup membuatnya tidak nyaman, apa lagi saat sedang menyuapi Derren dan Davina sarapan.
Kinanti dengan terpaksa harus memakai masker, demi mengurangi rasa mual yang berlebihan.
"Mbak Kinan, pakek masker itu pas keluar rumah!" Ujar Davina.
"Kamu sakit Kinanti?" Tanya Hanna.
Kinanti mengangguk, "Saya sedang flu Bu," kata Kinanti memberi alibi.
Semua kembali hening, sesekali hanya terdengar suara sendok yang beradu dengan piring. Duduk di kursi meja makan dengan menikmati sarapan pagi.
Jika sebelum di nikahi Adam, Kinanti hanya biasa saja melihat kemerahan keduanya tetapi, berbeda dengan sekarang.
Sekarang ada perasaan aneh, ingin marah, menangis tapi tidak bisa melakukan apa-apa tidak berhak menutut walaupun hanya sedikit kasih sayang dari Adam.
Impian ingin di manja di saat sedang mengandung harus di kubur Kinanti dalam-dalam.
"Mbak Kinan, Vina udah kenyang."
"Derren juga udah kenyang Mbak Kinan."
Kinanti mengangguk lembut lalu memberikan mineral pada Davina dan Derren.
"Seger!!!!"
"Ayo berangkat sekolah."
Derren dan Davina mencium punggung tangan semua anggota keluarga yang duduk di kursi meja makan seperti biasa, setelah itu barulah keduanya berangkat bersekolah.
Selepas mengantarkan kedua majikannya bersekolah Kinanti meminta supir menurunkan dirinya di pinggir jalan, setelah supir mobil pergi Kinanti berjalan menuju taman mencari Ilham yang sudah menunggunya.
"Kinanti," Ilham langsung memeluk Kinanti.
Rasa rindu yang di rasa sudah sampai pada puncaknya, sehingga meluapkan dengan pelukan yang mungkin bisa mengobati sedikit saja kerinduannya.
"Mas Rindu," tutur Ilham semakin memperkuat dekapannya.
Kinanti tersenyum, tidak di pungkiri bahwa rasa cinta pada Ilham juga teramat besar.
Lantas apa mungkin bisa bersama?
Apa mungkin cinta Ilham masih besar setelah tahu kehamilannya?
Ilham membawa Kinanti untuk duduk di kursi, tangan keduanya tidak pernah lepas saling menggenggam.
"Kamu kemana saja?"
Belum puas dengan jawaban Kinanti, Ilham masih membutuhkan jawaban yang lebih tepat sehingga pertanyaan itulah yang terus berulang kali ia utarakan.
"Nanti Kinanti cerita ya Mas, Kinanti janji. Tolong," satu butir air mata jatuh tanpa bisa di tahan, lehernya bagai tercekat saat ini.
"Hey," Ilman panik, jari-jemarinya mengusap sisa-sisa air mata pada pipi Kinanti, "Kamu ada masalah?"
Kinanti tertunduk, tangannya terus menggenggam tangan Ilman begitu erat.
Ilham tidak kuasa melihat kesedihan Kinanti, dengan cepat tangan Ilham menarik Kinanti kembali kedalam pelukannya.
Sebuah mobil berhenti di sisi jalanan, kaca mobil nya terbuka dan melihat istri gelap nya tengah berpelukan dengan seorang pria.
"Apa yang di lakukan oleh wanita itu?!"