Đang tải thông tin quảng bá...
Dikejar Lagi oleh Istri CEOku
Mereka telah menikah selama tiga tahun, tetapi ketika wanita itu menjadi sukses, istrinya itu malah membencinya dengan alasan dia malas dan tidak berguna. Akhirnya, gugatan cerai pun diajukan. Tak sed...
Chương (1)
第1章
Bab 1
Di dalam ruang kantor presdir Grup Pesona.
"Luther, ini adalah perjanjian cerai yang disiapkan Bu Ariana. Silakan ditandatangani," ujar Julie selaku sekretaris Ariana. Kemudian, Julie yang mengenakan seragam kantor sedang meletakkan secarik kertas A4 di atas meja.
Di seberangnya, duduk seorang pria tampan yang mengenakan pakaian sederhana.
"Cerai? Apa maksudnya?" tanya Luther Bennett dengan bingung.
"Luther, kamu masih tidak mengerti? Pernikahanmu dengan Bu Ariana sudah di ujung tanduk. Kalian tidak lagi sejalur. Keberadaanmu hanya suatu penghalang bagi Bu Ariana," jawab Julie tanpa rasa kasihan.
"Penghalang?" Luther mengernyit sembari bertanya, "Jadi, aku hanya penghalang di matanya?"
Ketika keduanya menikah, Keluarga Warsono sedang berada di posisi yang tidak menguntungkan, bahkan memiliki banyak utang.
Luther yang telah membantu Keluarga Warsono melewati kesulitan tersebut. Siapa sangka, setelah kaya raya, Ariana malah ingin mencampakkannya.
"Kamu boleh berpikir begitu," ujar Julie sambil menengadah dan menunjuk majalah di atas meja. Terlihat pula sosok wanita yang sangat cantik di sampul majalah yang indah itu.
"Luther, lihat judul majalah itu. Hanya dalam 3 tahun, kekayaan Bu Ariana sudah menembus triliunan. Dia bukan hanya mencetak rekor, tapi juga menjadi presdir wanita cantik yang paling berkuasa di Jiloam."
"Dengan kecantikan dan kemampuannya, dia ditakdirkan untuk berada di puncak dan dihormati orang-orang. Sementara itu, kamu hanya orang biasa yang tidak berguna. Kamu tidak cocok dengannya. Aku berharap kamu bisa sadar diri," jelas Julie.
Ketika melihat Luther hanya diam, Julie mengernyit dan melanjutkan, "Aku tahu kamu tidak bisa menerima semua ini, tapi faktanya seperti itu. Kamu memang pernah membantu Bu Ariana. Tapi, selama 3 tahun ini, dia sudah melunasi semua utangnya kepadamu. Sekarang, justru kamu yang berutang padanya."
"Memangnya kalian pikir pernikahan hanya sebuah transaksi?" Luther menarik napas dalam-dalam, lalu berusaha menahan amarahnya dan berkata, "Kalau mau bercerai, suruh Ariana berbicara langsung kepadaku."
"Bu Ariana sangat sibuk. Masalah sepele seperti ini tidak perlu merepotkannya," timpal Julie.
"Masalah sepele?" Luther termangu sejenak sebelum tersenyum mengejek diri sendiri. Kemudian, dia melanjutkan, "Masa? Apa perceraian adalah masalah sepele baginya? Dia bahkan tidak punya waktu untuk mengobrol sebentar denganku? Sekarang statusnya benar-benar terhormat, ya!"
"Luther, masalah sudah seperti ini. Kamu tidak perlu bertele-tele lagi." Julie mendorong surat perjanjian itu sambil menambahkan, "Asalkan kamu menandatanganinya, kamu bukan hanya akan mendapatkan mobil dan rumah, tapi juga uang kompensasi sebesar 16 miliar. Jumlah uang ini tidak akan bisa kamu dapatkan seumur hidup!"
"Jumlahnya cukup banyak, sayangnya ... aku tidak butuh. Boleh saja kalau ingin bercerai, tapi suruh dia hadapi aku. Kalau tidak, aku tidak akan menandatanganinya," kata Luther dengan dingin.
"Luther, jangan keterlaluan!" Julie menggebrak meja, lalu menegur, "Jangan salahkan aku tidak memperingatkanmu. Dengan kekuasaan dan status Bu Ariana, mudah saja baginya untuk bercerai darimu. Tapi, dia masih menghargaimu sehingga menjaga harga dirimu. Sebaiknya, kamu jangan menantangnya."
"Harga diri?" Luther merasa sangat konyol.
Ariana bahkan tidak datang saat ingin bercerai dengannya. Lantas, bagaimana dia menjaga harga diri Luther? Selain itu, kalau wanita ini memang menghargainya, mana mungkin dia akan mengancamnya?
"Menurutku, masalah ini tidak perlu dibahas lagi," ujar Luther yang malas berbicara panjang lebar lagi. Dia pun bangkit dan bersiap-siap untuk pergi.
"Luther, kamu ini!" Tepat ketika Julie hendak mengamuk, seorang wanita cantik bertubuh seksi yang mengenakan terusan hitam mendorong pintu dan masuk.
Wanita berkulit putih ini terlihat sangat sempurna. Apalagi postur tubuhnya yang tiada tandingannya. Ditambah dengan auranya yang dingin, wanita ini bak bidadari yang turun dari kayangan. Benar-benar menawan!
"Akhirnya kamu datang juga," kata Luther dengan perasaan campur aduk saat melihat wanita cantik di depannya.
Selama pernikahan 3 tahun ini, mereka berdua selalu menghormati satu sama lain. Namun, mereka malah sampai di tahap ini sekarang.
Luther bahkan tidak tahu kesalahan apa yang telah dibuatnya.
"Maaf, aku ada urusan, jadi terlambat," ujar Ariana dengan tidak acuh sambil duduk.
"Bu Ariana benar-benar sibuk, sampai-sampai harus mengutus orang untuk membahas perceraian," sindir Luther.
Begitu mendengarnya, Ariana tak kuasa mengernyit. Namun, dia sama sekali tidak menjelaskan dan langsung menyahut, "Langsung saja bahas perceraian ini. Aku tidak mau bertele-tele. Anggap saja aku yang salah kali ini dan kita berpisah baik-baik. Setelah bercerai, rumah dan mobil akan menjadi milikmu. Aku juga akan memberimu kompensasi 16 miliar. Bagaimana?"
Selesai berbicara, Ariana meletakkan sebuah kartu di atas meja.
"Kamu kira hubungan bisa diukur dengan uang?" tanya Luther dengan sinis.
"Terlalu sedikit? Oke. Katakan saja keinginanmu, aku akan berusaha memenuhinya," sahut Ariana dengan ekspresi datar.
"Sepertinya, kamu nggak ngerti maksudku. Biar kutanya, apakah uang dan kekuasaan begitu penting?" tanya Luther dengan bingung.
Ariana berjalan ke depan jendela, lalu memandang seluruh kota dan menjawab dengan tegas, "Bagiku sangat penting."
"Uang yang kamu dapatkan sekarang sudah cukup untuk dihabiskan selama sisa hidupmu. Apa kamu masih perlu bekerja keras begini?" tanya Luther lagi.
"Luther, inilah perbedaan kita. Kamu tidak akan mengerti apa yang kuinginkan," jawab Ariana sembari menggeleng dengan kecewa.
Perbedaan mereka berdua bukan hanya terletak di status, tetapi juga pemikiran dan keinginan. Yang paling parah adalah Ariana tidak bisa melihat harapan pada Luther.
"Benar, mana mungkin aku tahu apa yang kamu pikirkan?" Luther terkekeh-kekeh untuk mengejek diri sendiri, lalu meneruskan, "Aku hanya bisa memasak untukmu saat kamu lapar, memberimu pakaian saat kamu kedinginan, dan membawamu ke rumah sakit saat kamu sakit."
"Tidak ada gunanya lagi membahas itu," timpal Ariana dengan tatapan yang tampak rumit. Namun, tatapannya segera menjadi tegas kembali.
"Benar juga." Luther mengangguk dan berkata, "Aku dengar kamu sangat dekat dengan Tuan Muda Keluarga Yohan belakangan ini. Apa semua ini karena dia?"
Ariana ingin membantah. Namun, setelah dipikir-pikir, dia memilih untuk mengangguk dan menyahut, "Kamu boleh berpikiran seperti itu."
"Oke. Kalau begitu, aku doakan kalian bahagia," ujar Luther seraya tersenyum tipis. Kemudian, dia pun menandatangani perjanjian perceraian tersebut. Dia tidak merasa ragu, yang ada hanya kekecewaan.
Ironisnya, hari ini adalah ulang tahun pernikahan mereka. Pernikahan dan perceraian terjadi pada tanggal dan bulan yang sama, benar-benar konyol!
"Aku nggak perlu uang dan lainnya, tapi kamu harus mengembalikan liontin giok itu. Benda itu adalah peninggalan ibuku, bukti bahwa kamu adalah menantu Keluarga Bennett," kata Luther sambil menunjuk kerah baju Ariana.
"Oke." Ariana mengangguk, lalu menyerahkan liontin giok tersebut.
"Mulai hari ini, kita berdua nggak saling berutang budi!" ujar Luther. Setelah mengenakan liontin giok tersebut, dia pun bangkit dan pergi.
Saat ini, sorot mata Luther tidak lagi terlihat lembut, melainkan sangat dingin.
"Julie, apa yang kulakukan ini benar?" tanya Ariana dengan tatapan agak rumit.
Meskipun Ariana yang mengusulkan untuk bercerai, dia malah tidak merasa senang.
"Tentu saja benar." Julie mengangguk dengan kuat, lalu menjelaskan, "Bu Ariana punya hak untuk mengejar kebahagiaan. Luther yang sekarang tidak pantas untukmu lagi. Dia hanya akan mengganggumu. Bagaimanapun, Bu Ariana ditakdirkan untuk menjadi wanita paling berkuasa di Jiloam!"
Ariana tidak mengatakan apa pun. Dia hanya merasa sedih saat melihat sosok belakang Luther yang terlihat kesepian, seolah-olah barang berharga miliknya telah menghilang ....
Bab 2
Di dalam lift, Luther menatap liontin giok di dadanya. Tatapannya tampak sangat sedih sekarang.
Meskipun sudah menduga bahwa hal seperti ini akan terjadi, dia tetap tidak bisa berlapang dada saat perceraian ini benar-benar terjadi.
Awalnya, Luther mengira bahwa kebahagiaan itu sangat sederhana. Hanya perlu makan kenyang, melewati kehidupan yang santai, dan merasa gembira.
Dia pun baru mengerti bahwa kehidupan biasa ternyata juga merupakan suatu dosa.
Luther sudah hidup dengan nyaman selama 3 tahun ini. Sekarang, sudah saatnya dia bangkit.
Kring kring kring ....
Tepat ketika Luther sedang bengong, ponselnya tiba-tiba berdering.
Terdengar suara yang familier saat dia menjawab panggilan tersebut. "Tuan Luther, aku Eril Wirawan dari Kamar Dagang Jiloam. Dengar-dengar, hari ini adalah ulang tahun pernikahanmu dengan Nona Ariana. Aku sudah menyediakan hadiah spesial untuk kalian. Kapan Tuan Luther punya waktu?"
"Terima kasih atas niat baikmu. Tapi, Pak Eril tidak perlu repot-repot lagi lain kali," sahut Luther dengan tidak acuh.
"Hm?" Eril tertegun sesaat mendengarnya. Dia samar-samar bisa merasa ada yang tidak beres.
"Pak Eril, apa masih ada urusan lain?" tanya Luther.
"Ehem .... Ya, aku ingin meminta bantuan Tuan Luther." Setelah berdeham dengan canggung, Eril pun menjelaskan, "Begini, temanku terjangkit penyakit aneh belakangan ini. Dia sudah mencari banyak dokter, tapi tidak sembuh. Aku berharap Tuan Luther bisa membantunya."
"Pak Eril, kamu seharusnya tahu aturanku," timpal Luther.
"Tentu saja. Kalau tidak sanggup menunjukkan ketulusanku, aku juga tidak berani mengganggu Tuan Luther. Kebetulan sekali, temanku itu memiliki Rumput Hati Naga yang kamu inginkan. Asalkan Tuan Luther membantu, dia akan membayarnya dengan herbal langka itu," jelas Luther.
"Serius?" tanya Luther yang terkejut.
"Ya!" sahut Eril.
"Oke. Kalau begitu, aku akan pergi ke sana." Luther langsung menyetujuinya.
Luther sama sekali tidak tertarik dengan uang ataupun perhiasan. Namun, ada beberapa herbal langka yang sangat dia inginkan. Bagaimanapun, dia memerlukannya untuk menyelamatkan orang.
"Terima kasih, Tuan Luther. Aku akan menyuruh orang untuk menjemputmu!" seru Eril yang tersenyum lega.
Sebagai salah satu dari Tiga Bos Besar di Jiloam dan ketua kamar dagang yang memimpin puluhan ribu orang, Eril justru bersikap sangat hati-hati di hadapan Luther.
"Keberuntunganku cukup bagus. Aku menemukan herbal langka lagi. Masih ada 5 yang belum ditemukan, tapi seharusnya masih sempat," gumam Luther.
Kini, suasana hatinya yang barusan begitu buruk menjadi jauh lebih baik.
Ting tong! Pintu lift akhirnya terbuka.
Begitu Luther melangkah keluar dari pintu masuk perusahaan, dia melihat dua sosok yang familier menghampirinya.
Mereka adalah Helen Giandra dan Keenan Warsono, ibu dan adiknya Ariana.
"Ibu, Keenan, kenapa kalian kemari?" sapa Luther terlebih dahulu.
"Kamu sudah bercerai dengan Ariana?" tanya Helen langsung.
"Ya." Luther memaksakan senyuman sambil berkata, "Ini bukan kesalahan Ariana, tapi kesalahanku. Ibu jangan menyalahkannya."
Luther hanya ingin keduanya berpisah secara baik-baik. Namun, Helen malah mendengkus dingin dan menimpali, "Tentu saja kesalahanmu. Aku tahu betul karakter putriku. Kalau kamu nggak berbuat salah, mana mungkin dia bercerai darimu?"
"Hah?" Luther tidak bisa bereaksi untuk sesaat. Apakah ini yang dinamakan orang jahat mengadu duluan?
"Ibu, kamu seharusnya tahu apa saja yang kulakukan selama 3 tahun ini. Aku yakin nggak melakukan kesalahan apa pun," ujar Luther.
"Huh! Hanya kamu sendiri yang tahu itu. Pokoknya, putriku sudah pasti nggak salah. Lihatlah dirimu sendiri, apa kamu pantas untuk putriku?" maki Helen sembari mencebik.
"Ibu, ucapanmu ini agak keterlaluan," kata Luther sambil mengernyit.
Kalau bukan karena bantuannya, mana mungkin Keluarga Warsono bisa memiliki pencapaian hari ini?
"Keterlaluan? Kenapa? Memangnya yang kubilang barusan bukan fakta?" sahut Helen sembari melipat lengannya di depan dada.
"Sudahlah, Ibu. Jangan berbasa-basi dengannya lagi!" Keenan tiba-tiba maju, lalu membentak, "Hei, aku malas mengurus perceraianmu dengan kakakku. Tapi, kamu harus menyerahkan uang itu!"
"Uang apa?" tanya Luther dengan bingung.
"Jangan pura-pura bodoh. Aku tahu kakakku memberimu 16 miliar sebagai kompensasi!" seru Keenan dengan dingin.
"Benar. Itu adalah uang putriku. Atas dasar apa kamu mengambilnya? Cepat serahkan!" perintah Helen sambil mengulurkan tangannya.
"Aku tidak mengambil sepeser pun darinya," bantah Luther.
"Omong kosong! Siapa yang bisa menolak uang 16 miliar? Kamu kira kami ini bodoh?" Keenan sama sekali tidak percaya.
"Kalau kamu tahu diri, cepat serahkan uang itu. Kalau nggak, jangan salahkan aku bertindak lancang!" ancam Helen.
"Kalau kalian nggak percaya, telepon saja Ariana." Luther malas menjelaskan kepada mereka.
"Kenapa? Kamu mau menakuti kami? Tidak peduli siapa yang memohon belas kasihan untukmu hari ini, kamu tetap nggak boleh mengambil sepeser pun dari putriku!" teriak Helen dengan galak.
"Ibu, kita geledah saja dia!" Keenan sudah tidak sabar sehingga langsung memeriksa kantong celana Luther.
Helen pun tidak mau kalah. Dia mulai memeriksa saku baju Luther.
"Ibu, apa kalian harus begini?" tanya Luther seraya mengerutkan dahinya.
Dia benar-benar tidak menduga bahwa Keluarga Warsono akan begitu menyudutkannya, padahal dia baru menandatangani perjanjian perceraian. Mereka benar-benar tidak menjaga harga dirinya.
"Cih, siapa ibumu? Jangan sembarangan memanggil. Memangnya siapa kamu? Kamu nggak pantas menjadi anggota keluarga kami!" bentak Helen dengan ekspresi jijik sambil terus menggeledah.
Setelah memeriksa beberapa saat, keduanya sama sekali tidak menemukan apa pun.
"Aneh, apa bocah ini benar-benar nggak mengambil uangnya?" tanya Keenan yang merasa enggan.
Kemudian, dia tidak sengaja melihat liontin giok di dada Luther. Dia pun langsung menariknya.
"Bukannya ini liontin giok antik yang dipakai kakakku? Kenapa kamu yang pakai? Kamu mencurinya, ya?" tanya Keenan dengan curiga.
"Ini adalah warisan turun-temurun Keluarga Bennett. Kembalikan kepadaku!" teriak Luther dengan murung. Dia memang tidak menginginkan sepeser uang pun, tetapi barang peninggalan ibunya harus diambil kembali.
"Warisan keluarga? Itu artinya, barang ini sangat mahal dong?" kata Keenan dengan mata berbinar-binar.
"Luther, kamu makan gratis selama 3 tahun ini. Anggap saja liontin giok ini adalah bunga yang harus kamu bayar. Ayo, kita pergi!" ujar Helen setelah memberi isyarat mata kepada Keenan. Kemudian, dia hendak membawa putranya pergi dari sana.
"Berhenti!" Luther sontak meraih tangan Keenan, lalu memerintahkan dengan murung, "Kembalikan liontin giokku!"
"Aduh, sakit! Cepat lepaskan tanganmu!" Keenan merasa pergelangan tangannya akan patah.
"Kembalikan kepadaku sekarang juga!" perintah Luther dengan tegas.
"Berengsek. Aku lebih baik membuangnya daripada memberikannya kepadamu!" sahut Keenan yang juga marah saat melihat tangannya tidak bisa terlepas dari cengkeraman Luther. Kemudian, dia langsung membanting liontin giok tersebut ke tanah.
Prang! Terdengar bunyi yang sangat nyaring. Liontin giok itu hancur berkeping-keping.
Melihat ini, wajah Luther langsung pucat bak disambar petir. Liontin itu adalah satu-satunya benda peninggalan ibunya, juga kenang-kenangan yang dia miliki.
"Kamu berani menyerangku? Siapa takut denganmu?" Keenan mengempaskan tangannya dan masih memaki.
Saat ini, Luther mengepalkan tangannya dengan erat hingga terdengar bunyi tulang yang nyaring. Matanya yang dingin bahkan sudah memerah sekarang.
"Berengsek!" Luther akhirnya tidak tahan lagi. Dia langsung menghajar wajah Keenan.
Pukulan ini pun membuat Keenan berputar dua kali sebelum akhirnya terjatuh ke tanah. Dia merasa sangat pusing sampai tidak bisa berdiri.
"Kurang ajar! Kalau ibumu nggak mengajarimu sopan santun, aku yang akan mengajarimu sekarang!" hardik Luther sembari menjambak rambut Keenan untuk mengangkatnya dari tanah.
Saat berikutnya, terdengar suara tamparan yang sangat nyaring dan tanpa henti. Luther menampar Keenan dengan kejam.
Plak plak plak plak .... Diiringi dengan suara nyaring ini, wajah Keenan pun terlihat babak belur dan mulutnya berdarah. Dia tampak sangat menyedihkan.
"Berani sekali kamu menampar putraku!" seru Helen seraya maju untuk membantu putranya.
"Minggir!" Luther menoleh dan memelototi Helen. Tatapannya yang mengerikan itu seketika membuat Helen ketakutan hingga tidak berani bergerak.
Bab 3
Hanya satu kata dari Luther sudah membuat Helen terperangah di tempatnya. Dia sungguh tidak menyangka bahwa Luther yang biasanya terlihat lembut akan begitu menyeramkan saat murka. Sorot matanya itu seolah-olah menyiratkan akan melahap Helen hidup-hidup.
"Tolong, ada pembunuh! Ada yang mau membunuh putraku!" teriak Helen dengan lantang setelah tersadar kembali.
Dalam sekejap, sekelompok satpam dari Grup Pesona berbondong-bondong menghampiri tempat kejadian.
"Nyonya Helen, apa yang terjadi?" tanya salah satu satpam yang jelas mengenal Helen. Dia langsung menyatakan sikapnya begitu datang.
"Doni, cepat tangkap dia. Berani sekali dia memukul putraku! Aku mau dia menerima ganjarannya!" teriak Helen yang pura-pura memberanikan diri.
"Berengsek! Berani sekali kamu membuat keributan di pintu masuk Grup Pesona! Kamu sudah bosan hidup, ya!" seru satpam yang memimpin. Begitu dia melambaikan tangannya, sekelompok bawahan bergegas menghentikan Luther.
Bagaimanapun, ini adalah kesempatan untuk memenangkan hati ibunya presdir.
Asalkan kinerja mereka baik, mereka mungkin akan mendapatkan promosi dan naik gaji. Dengan demikian, mereka bisa menikahi wanita kaya yang cantik dan mencapai kesuksesan.
"Kenapa diam saja? Cepat hajar dia!" perintah kepala satpam itu.
Tepat ketika dia hendak turun tangan, tiba-tiba terdengar teriakan yang lantang. "Jangan coba-coba!"
Terlihat seorang wanita cantik bertubuh montok yang mengenakan gaun berwarna perak menghampiri. Dia membawa beberapa pengawal dan berjalan masuk dengan sombong.
Wanita ini memiliki bibir yang ranum dan wajah yang sangat enak dipandang. Setiap gerakannya tampak sangat menggoda dan memikat.
"Cantik sekali!" Para satpam itu mengamatinya. Jantung mereka seketika berdebar-debar. Wanita di hadapan mereka ini benar-benar memesona.
"Tuan Luther, kamu baik-baik saja?" Wanita itu sama sekali tidak memedulikan tatapan penuh hasrat di sekitarnya. Sebaliknya, dia langsung menghampiri Luther.
"Ya. Siapa kamu?" tanya Luther sambil memicingkan matanya. Kemarahan di dalam hatinya perlahan-lahan mereda.
"Halo, aku Bianca Caonata. Aku datang sesuai instruksi Pak Eril," jawab wanita itu seraya tersenyum.
Begitu ucapan ini dilontarkan, para satpam itu langsung heboh.
"Bianca Caonata? Apa dia Nona Keluarga Caonata yang terhormat itu?"
"Astaga, kenapa nona besar seperti dia datang kemari?"
Semuanya saling bertatapan dan merasa sangat terkejut.
Mereka tahu bahwa reputasi wanita bernama Bianca ini sangat besar. Selain memiliki latar belakang yang hebat, kaya raya, dan cantik, wanita ini juga sangat terampil.
Ketika berusia 22 tahun, Bianca sudah mengambil alih seluruh Grup Caonata. Hanya dalam 5 tahun, dia sudah membangun kerajaan bisnis yang besar dan menjadi Ratu Bisnis yang terkenal di Jiloam!
"Rupanya kamu," ujar Luther yang mengerti sambil mengangguk.
Dia tentu pernah mendengar nama Bianca. Hanya saja, dia tidak menduga bahwa wanita ini memiliki hubungan dengan Eril.
"Tuan Luther, istirahatlah di mobil. Aku akan mengurus para sampah ini untukmu," kata Bianca seraya membunyikan jemarinya.
Kemudian, 4 pengawal berjas mengeluarkan tongkat mereka dengan serempak dan mulai mendekati.
Meskipun hanya 4 orang, karisma mereka membuat para satpam itu ketakutan hingga mundur satu per satu. Mereka sama sekali tidak berani mendekat.
Patut diketahui bahwa pengawal Keluarga Caonata adalah petarung elite yang dipilih dengan cermat.
"Tuan Luther, silakan," ujar Bianca sambil tersenyum dan mempersilakan saat melihat tidak ada yang berani bergerak.
Luther tidak mengatakan apa pun. Setelah memungut pecahan liontin gioknya, dia baru mengikuti Bianca naik mobil dan pergi.
Tidak ada seorang pun yang berani menghentikan mereka.
"Hei, apa-apaan kalian? Kenapa kalian membiarkan mereka pergi begitu saja?" maki Helen setelah bereaksi kembali.
"Nyonya Helen, mereka berasal dari Keluarga Caonata. Kami tidak berani menyinggung mereka," kata kepala satpam itu dengan getir.
Status yang dimiliki Bianca sangatlah tinggi. Meskipun dibayar, mereka tetap tidak berani mengusik Bianca sembarangan.
"Dasar nggak berguna! Kalian nggak berani menyinggung Keluarga Caonata, jadi berani menyinggung putriku?" bentak Helen dengan kesal.
Para satpam itu pun saling bertatapan dan tidak berani berbicara lagi.
"Ada apa?" tanya Ariana dan sekretarisnya sambil berjalan keluar. Mereka turun karena mendengar keributan di bawah.
"Putriku, akhirnya kamu datang juga. Lihatlah, adikmu dipukul sampai terluka begini!" Helen mulai menangis dan mengadu saat melihat Ariana. Penampilannya yang begitu sedih terlihat seperti dia yang dihajar barusan.
"Siapa yang melakukannya?" tanya Ariana dengan dingin saat melihat Keenan yang babak belur.
"Siapa lagi kalau bukan Luther yang nggak tahu terima kasih itu! Kami kebetulan bertemu di pintu masuk. Melihat liontin gioknya jatuh, adikmu ingin memungutnya dan mengembalikan kepadanya. Tapi, dia malah memfitnah adikmu mencuri barangnya. Setelah berdebat, dia pun menghajar adikmu!" ujar Helen yang membumbui ceritanya.
Kemudian, dia menghela napas dan berkata, "Kasihan sekali Keenan. Dia hanya ingin membantu, tapi malah dihajar sampai wajahnya hancur. Luther itu memang kurang ajar!"
Selesai berkata, Helen kembali menangis tersedu-sedu.
"Luther? Dia sangat baik, kenapa tiba-tiba main tangan? Apa kalian mengganggunya?" tanya Ariana sambil mengernyit.
"Apa maksudmu? Kamu nggak percaya ibumu, tapi percaya pada pria yang nggak tahu terima kasih itu?" sahut Helen dengan geram.
"Aku hanya ingin memperjelas masalah ini," balas Ariana.
Ariana sangat memahami karakter Luther setelah menikah 3 tahun dengannya. Pria ini sangat murah hati dan tidak akan marah tanpa alasan. Jadi, Luther seharusnya tidak akan menggunakan kekerasan hanya karena masalah sepele.
"Adikmu sudah dihajar begini, apa masih kurang jelas? Kalau kamu nggak percaya, tanya saja para satpam ini. Mereka melihat semuanya dengan jelas," kata Helen yang menoleh untuk memberi isyarat mata.
"Bu Ariana, yang dikatakan Nyonya Helen benar. Bocah itu yang mengamuk dan main tangan. Kalau kami terlambat selangkah, mungkin ibu Anda akan terluka," jelas si kepala satpam yang memahami maksud Helen.
"Kamu sudah dengar, 'kan? Mana mungkin aku memfitnah pria yang nggak tahu terima kasih itu!" Kemudian, Helen melanjutkan, "Sudah berapa kali kubilang, Luther itu bukan pria baik. Dia bermuka dua! Kalian baru bercerai, tapi dia sudah menunjukkan sifat aslinya. Dia bukan hanya memukul adikmu, tapi mencari wanita lain di luar! Pria seperti ini benar-benar berengsek!"
Ariana mengerutkan dahinya saat mendengar perkataan ini. Jelas, dia mulai merasa kurang yakin.
'Apa mungkin ini kesalahan Luther? Luther mungkin kesal karena baru bercerai, jadi memukul Keenan untuk balas dendam? Kalau benar seperti itu, aku sudah salah menilainya selama ini!' batin Ariana.
Bab 4
"Ibu, kamu bawa Keenan ke rumah sakit dulu. Biar aku yang urus masalah ini." Ariana membuat keputusan setelah berpikir beberapa saat.
"Ariana, kamu harus membela adikmu. Jangan biarkan bajingan itu begitu saja!" kata Helen dengan galak.
"Tenang saja, aku tahu apa yang harus dilakukan," ujar Ariana sembari mengangguk. Kemudian, dia memerintahkan 2 orang satpam untuk mengantar Helen dan Keenan ke rumah sakit.
"Julie, apa pendapatmu tentang ini?" tanya Ariana sambil menggosok pelipisnya. Dia merasa agak pusing.
"Bu Ariana, masalah ini sudah sangat jelas. Luther yang memukul adikmu. Selain itu, para satpam juga melihatnya tadi. Mereka tidak mungkin berbohong," jawab Julie.
"Tapi, ibuku itu ...." Ariana hendak mengatakan sesuatu. Dia tahu betul bagaimana karakter ibu dan adiknya yang tidak masuk akal itu.
"Bagaimanapun, Luther sudah salah karena memukul orang! Kalaupun ada kesalahpahaman, mereka bisa membahasnya dengan kepala dingin. Apalagi, Keenan adalah adik Bu Ariana. Dia sama sekali tidak memikirkan perasaanmu. Hal ini sudah cukup untuk membuktikan karakternya yang buruk!" jelas Julie dengan sungguh-sungguh.
Ariana mengerutkan dahinya. Keraguan dalam hatinya menjadi makin mendalam.
Benar. Meskipun ibu dan adiknya bersikap kasar, Luther tidak seharusnya main tangan. Dia tidak boleh menghajar adiknya sampai babak belur begitu.
Ariana sungguh menyesal karena merasa bersalah padanya barusan. Sepertinya, bercerai dengan Luther adalah pilihan paling bijaksana sekarang.
"Bu Ariana, masalah ini tidak boleh dibiarkan begitu saja, harus diusut sampai tuntas. Luther harus menanggung konsekuensi karena berani memukul orang!" kata Julie dengan dingin.
Ariana sudah sangat kesal sejak tadi. Begitu mendengar ucapan ini, amarah pun seketika berkecamuk di hatinya.
Dia segera mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Luther.
Saat ini, Luther yang berada di dalam Bentley berwarna silver melihat nama penelepon di ponselnya. Dia tak kuasa mengernyit.
Pada akhirnya, dia tetap memilih untuk menjawab panggilan tersebut.
"Luther, aku butuh penjelasan," ujar Ariana dengan tegas.
"Penjelasan apa?" tanya Luther.
"Kamu yang memukul adikku, 'kan?" balas Ariana.
"Ya, tapi ...." Luther hendak menjelaskan.
Sebelum Luther menyelesaikan perkataannya, Ariana sudah menyela, "Ternyata memang kamu. Aku benar-benar tidak sangka. Kamu ingin membalas dendam kepada keluargaku karena aku minta cerai?"
Luther hanya bisa tertegun saat mendengar ucapan Ariana. Dia tidak menduga bahwa wanita ini akan langsung menyudutkannya, bahkan tidak menanyakan alasan kepadanya.
Apakah hubungan suami istri selama 3 tahun ini tidak didasari atas sedikit pun kepercayaan? Orang asing sekalipun tidak akan seperti ini.
"Ariana, apa aku begitu menyedihkan di matamu? Kamu hanya tahu aku memukul adikmu, tapi nggak pernah memikirkan alasannya?" timpal Luther dengan murung.
"Tidak peduli apa pun alasannya, kamu tidak boleh memukul orang!" bentak Ariana.
Luther pun tersenyum menghina mendengar ini. Dia benar-benar kecewa pada Ariana sekarang.
Kebenaran tidak lagi penting. Sikap wanita ini jelas-jelas menyatakan bahwa adiknya lebih penting.
"Luther, karena kita pernah menjadi suami istri, aku akan memberimu kesempatan. Segera pergi ke rumah sakit untuk minta maaf. Aku akan anggap masalah ini tidak terjadi. Kalau tidak ...," kata Ariana.
"Gimana kalau aku menolak? Kamu mau lapor polisi atau menyuruh orang menyerangku?" timpal Luther dengan nada menyindir.
"Luther, kamu benar-benar ingin menghancurkan hubungan baik kita?" bentak Ariana.
"Heh! Memangnya di antara kita masih punya hubungan baik? Lagi pula, aku yang memukul Keenan. Bu Ariana, silakan kalau kamu ingin membalas dendam kepadaku," sahut Luther.
"Kamu ...." Ariana masih hendak memaki, tetapi Luther sudah mengakhiri panggilannya. Dia pun kesal hingga hampir membanting ponselnya.
Ariana bisa mencapai posisi sekarang karena selalu mengatur emosinya dengan baik. Namun, dia benar-benar murka sekarang.
"Bu Ariana, Luther ini memang tak tahu terima kasih. Apa kita perlu mencari orang untuk memberinya pelajaran?" tanya Julie.
"Tidak perlu. Anggap aja aku tidak berutang budi padanya lagi," jawab Ariana setelah menarik napas dalam-dalam dan mengendalikan amarahnya.
"Tapi ...." Julie masih ingin berbicara, tetapi Ariana mengangkat tangan untuk menghentikan. Dia berkata, "Jangan dibahas lagi. Sekarang, yang paling penting adalah pesta amal Keluarga Caonata."
"Pesta amal? Apa ini berhubungan dengan kemitraan?" tanya Julie.
"Ya. Aku baru dapat kabar, Keluarga Caonata memasukkan Grup Pesona ke daftar kandidat. Asalkan menampilkan yang terbaik, kita mungkin akan menjadi mitra baru mereka," jelas Ariana.
"Bagus sekali, aku akan segera buat persiapan!" seru Julie.
....
Setelah mengakhiri panggilan, Luther yang menaiki mobil Bianca akhirnya tiba di Rumah Sakit Honne.
Sesudah turun dari mobil, keduanya berjalan dengan cepat dan akhirnya tiba di bangsal VIP.
Saat ini, seorang pria tua beruban dan bertubuh kurus sedang berbaring di ranjang pasien. Wajahnya yang tua tampak pucat dan lesu, bibirnya agak ungu, bahkan napasnya lemah. Dia seperti akan mati kapan saja.
Di sekitarnya, berdiri beberapa dokter terkenal. Dari raut wajah mereka yang serius, bisa dilihat bahwa kondisi pasien ini sangat buruk.
"Kak, kamu akhirnya pulang. Para dokter di sini nggak berguna, mereka nggak bisa apa-apa!" teriak seorang gadis cantik berkuncir kuda seraya menghampiri. Dia adalah Nona Kedua Keluarga Caonata yang bernama Belinda.
"Bu Bianca, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Bilas lambung, dialisis, perfusi, dan memberi begitu banyak obat. Kami sudah melakukan semua yang kami bisa, tapi masih tidak bisa mengobati akar penyakitnya," kata seorang dokter dengan tidak berdaya.
"Kalau kalian tidak bisa, biarkan Tuan Luther yang mengobatinya," sahut Bianca dengan tidak acuh.
"Tuan Luther?" Semua orang seketika termangu mendengarnya. Kemudian, mereka menatap Luther yang berdiri di samping dengan ekspresi aneh.
Pria di hadapan mereka ini terlalu muda. Dia tidak terlihat seperti seorang dokter profesional yang hebat.
"Kak, kamu nggak bercanda? Ini Tuan Luther? Usianya sepertinya hampir sama denganku. Apa dia sanggup?" tanya Belinda dengan heran.
"Jangan menilai seseorang dari penampilannya. Pak Eril yang memperkenalkannya, aku yakin dia cukup hebat," balas Bianca.
Sejujurnya, Bianca juga kurang yakin. Namun, dia merasa Luther pasti memiliki kemampuan karena bisa direkomendasikan oleh Eril.
"Apa mungkin Pak Eril ditipu?" Belinda tetap merasa curiga. Kemudian, dia bertanya, "Hei, apa kamu benar-benar bisa ilmu medis?"
"Ya, sedikit," jawab Eril.
"Sedikit?" Belinda mencebik, lalu berkata dengan nada menghina, "Semua dokter yang bisa memasuki bangsal ini adalah profesor terkenal di Jiloam. Mereka saja nggak berdaya, tapi kamu masih berani turun tangan?"
"Belinda, jangan kurang ajar begini!" tegur Bianca.
"Kak, sepertinya dia nggak bisa dipercaya. Aku khawatir, gimana kalau Kakek mati karenanya?" tanya Belinda.
"Omong kosong apa yang kamu katakan?" tegur Bianca seraya mengernyit.
"Pokoknya, aku nggak percaya. Kecuali, dia bisa membuktikannya kepadaku!" seru Belinda sembari mendongak.
"Bukti apa yang kamu mau?" tanya Luther dengan nada datar.
"Coba kamu lihat, penyakit apa yang kuderita. Kalau benar, aku akan memercayaimu," jawab Belinda.
"Kamu yakin?" tanya Luther lagi.
"Kenapa? Kamu takut? Kalau nggak punya kemampuan, silakan pulang sekarang juga. Jangan buang-buang waktu kami!" hardik Belinda seraya tersenyum sinis.
"Keluarkan lidahmu," perintah Luther sambil mengangkat tangannya.
Belinda pun menurutinya dengan patuh. Selesai memeriksa, Luther berkata dengan terus terang, "Panas dalam, gangguan sistem endokrin, mens tidak lancar, dan sering sakit kepala. Selain itu, kamu salah makan sehingga ada masalah dengan sistem pencernaanmu. Siang hari ini, kamu sudah berak 6 kali."
"Oh, kamu juga menderita penyakit ambeien," tambah Luther.
Begitu mendengarnya, ekspresi Belinda langsung membeku.
Bab 5
"Ba ... bagaimana kamu tahu?" tanya Belinda seraya membelalakkan matanya. Wajahnya sampai memerah. Selain merasa canggung, dia lebih merasa terkejut.
Belinda tidak menyangka bahwa Luther bisa menyebutkannya dengan begitu akurat. Pria ini sampai tahu dia sering sakit kepala, mens tidak lancar, bahkan diare yang sedang dideritanya.
Apakah dia benar-benar begitu hebat atau ini hanya siasat untuk mengelabui mereka semua?
"Pengobatan tradisional mementingkan 4 hal, yaitu mengamati rona wajah pasien, mendengar suara dan napas pasien, menanyakan gejala pasien, dan memeriksa denyut nadi pasien. Dengan ini, kami sudah bisa mendiagnosis," jelas Luther dengan tidak acuh.
"Belinda, gimana? Kamu sudah percaya, 'kan?" tanya Bianca sembari tersenyum.
Pada saat yang sama, dia juga merasa lega karena sudah melihat kemampuan yang dimiliki Luther.
"Huh! Dia hanya beruntung, apa yang hebat!" seru Belinda yang masih merasa enggan.
"Tuan Luther, gadis ini memang keras kepala. Tolong jangan tersinggung," kata Bianca dengan nada meminta maaf.
"Bukan masalah. Biar aku obati pasien dulu," sahut Luther yang sama sekali tidak peduli.
Kemudian, dia berjalan ke hadapan pria tua itu. Setelah memeriksa dengan cermat, dia kira-kira sudah memiliki diagnosis.
Jelas, pria tua ini keracunan. Bahkan, racun yang menginfeksi tubuhnya bukanlah racun biasa.
Untung saja, Luther menemukannya dengan cepat sehingga masih terselamatkan. Jika ditunda selama 2 hari lagi, pria tua ini pasti akan mati.
"Nona Bianca, bantu aku beli 1 set jarum perak," kata Luther.
"Oke." Bianca memberi isyarat tangan, lalu salah satu pengawalnya langsung mengambil tindakan.
Dalam waktu kurang dari 5 menit, pengawal itu sudah kembali dengan membawa 1 set jarum perak.
"Terima kasih." Luther mengangguk, lalu membuka pakaian pria tua itu.
Luther menjulurkan jari tengahnya dan mengetuk perut pria tua itu untuk memastikan tidak ada yang salah. Sesudahnya, dia baru mengeluarkan jarum perak dan mulai menancapkan satu per satu.
Tenaga yang dikerahkannya sangat kecil, tetapi jarum yang ditancapkan sangat akurat. Orang biasa tidak akan bisa merasakan sakit sedikit pun.
'Teknik jarum yang luar biasa!' puji Bianca dalam hati setelah melihatnya.
Meskipun tidak menguasai keterampilan medis, dia mengenal beberapa dokter genius dalam negeri yang terkenal.
Menurut Bianca, pencapaian teknik jarum para dokter tua itu masih jauh dari Luther. Teknik jarum ini benar-benar terampil dan akurat.
Selain bakat, seseorang harus berlatih keras selama bertahun-tahun untuk menguasai teknik jarum seperti ini.
Seketika, Bianca menjadi penasaran dengan identitas Luther.
"Fiuh ...." Luther menghela napas panjang setelah menancapkan jarum ke-16.
Meskipun sudah lama tidak menggunakan jarum perak, dia masih bisa mempraktikkannya dengan lancar.
"Hei, sudah selesai? Kenapa nggak ada perubahan apa-apa?" tanya Belinda dengan curiga.
"Ada racun di tubuh kakekmu. Racun itu nggak bisa dinetralkan dengan mudah. Butuh 2 jam kalau ingin melihat hasil yang jelas. Selama 2 jam ini, jarum perak nggak boleh dicabut atau akibatnya akan sangat buruk," ujar Luther untuk memperingatkan.
"Cih! Siapa yang tahu kamu serius atau hanya menipu kami?" balas Belinda dengan cemberut.
"Belinda!" tegur Bianca seraya memelototinya.
"Aku mau ke toilet dulu. Kalian jaga pasien baik-baik," pesan Luther. Kemudian, dia langsung keluar dari bangsal.
Begitu Luther keluar, sekelompok dokter berjas putih langsung masuk dengan panik. Mereka adalah dokter elite rumah sakit ini.
Salah satu pria yang memimpin adalah seorang pria paruh baya berkepala botak.
"Siapa kalian?" tanya Belinda sambil melipat lengan di depan dadanya.
"Namaku Tobi, aku adalah direktur rumah sakit ini sekaligus profesor akademi kedokteran. Aku mendapat perintah dari Pak Andre untuk mengobati Tuan Jericho," jawab pria paruh baya itu untuk memperkenalkan diri.
"Wah, kamu Profesor Tobi yang terkenal itu? Dokter paling hebat yang diakui seluruh Jiloam?" tanya Belinda dengan terkejut dan gembira.
"Pujian Nona berlebihan, aku tidak berani mengaku sebagai dokter terhebat," sahut Tobi dengan angkuh.
"Profesor Tobi, kamu datang tepat waktu. Bantu aku periksa kondisi kakekku!" Belinda buru-buru membuka jalan.
Dibandingkan dengan Luther yang masih begitu muda, dia tentu lebih memercayai profesor rumah sakit.
"Ya, biar kuperiksa dulu." Tobi mengangguk. Begitu tiba di depan ranjang pasien dan melihat, dia sontak mengernyit dan memaki, "Siapa yang menancapkan jarum ini? Sembarangan sekali!"
Setelah mengatakan itu, Tobi hendak mencabut semua jarum tersebut.
"Sebentar!" Bianca bergegas menghentikan saat melihat situasi ini.
"Kenapa?" tanya Tobi dengan kesal.
"Profesor Tobi, aku sudah menyuruh orang untuk mengobati kakekku. Dokter itu mengatakan kakekku keracunan dan jarum perak tidak boleh dicabut untuk sementara waktu ini. Kalau tidak, kondisinya akan sangat berbahaya," jawab Bianca.
"Omong kosong!" Tobi mendengkus dingin, lalu membantah, "Kalau jarum perak saja bisa menyembuhkan pasien, untuk apa kami belajar ilmu medis di luar negeri?"
"Benar." Belinda turut menyahut, "Kak, Luther itu baru berusia 20-an tahun, memangnya dia bisa sehebat apa? Kamu nggak mungkin memercayainya, 'kan?"
"Kalau begitu, kenapa dia bisa tahu kamu sakit kepala dan sakit perut?" tanya Bianca balik.
"Dia ... dia hanya mengelabui kita semua!" jawab Belinda yang tetap bersikap keras kepala.
"Nona Bianca, dokter terbaik di Jiloam sudah berada di rumah sakit kami. Aku tidak tahu siapa yang kamu undang barusan. Tapi, menurutku dia hanya berpura-pura hebat."
"Masa tim profesional rumah sakit kami kalah dengan seorang dokter biasa?"
Beberapa dokter berbicara untuk membela Tobi.
Melihat situasi ini, Tobi berkata dengan sungguh-sungguh, "Aku tahu kamu mencemaskan Tuan Jericho. Tapi, kamu tidak boleh sembarangan mencari dokter. Kalau tidak, situasi pasien akan menjadi sangat berbahaya."
"Benar. Profesor Tobi sudah menyelamatkan begitu banyak pasien kritis. Tuan Jericho pasti selamat kalau diobatinya," ujar beberapa dokter yang berada di belakang.
Ketika melihat Tobi yang begitu percaya diri, keyakinan Bianca pun mulai goyah.
Meskipun demikian, dia tetap bersikeras. "Sebaiknya, kita tunggu Tuan Luther kembali."
"Kak, apa lagi yang harus ditunggu? Mungkin, dia sudah kabur karena ketakutan!" timpal Belinda.
"Nona Bianca, aku sangat sibuk. Aku tidak punya waktu untuk berlama-lama di sini. Biar kuperjelas, kalau terjadi sesuatu pada Tuan Jericho, aku yang akan bertanggung jawab!" Selesai berkata, Tobi langsung mencabut semua jarum perak.
Begitu jarum perak tersebut dicabut, sesuatu pun langsung terjadi. Tubuh Jericho yang awalnya tenang tiba-tiba mulai mengejang.
Kemudian, wajahnya segera menjadi gelap. Mulut dan hidungnya juga terus mengeluarkan darah.
Dua mesin yang berada di sisi tempat tidur bahkan mengeluarkan sirene yang nyaring.
"Kenapa bisa begini?" Tobi terperanjat melihatnya. Dia tidak menduga akan separah ini.
"Profesor Tobi, apa yang terjadi?" tanya Bianca sambil mengerutkan dahinya.
"Aneh sekali, dia jelas baik-baik saja barusan." Tobi mulai merasa gelisah sekarang.
"Pak Tobi, kondisi pasien kritis. Dia harus segera mendapatkan pertolongan pertama!" teriak seorang dokter dengan panik.
"Cepat, bersiap-siap untuk pertolongan pertama!" Tobi tidak berani bertele-tele. Dia segera memerintahkan dokter lain untuk melakukan berbagai tindakan penyelamatan.
Sesudah melakukan berbagai tindakan, kondisi Jericho bukan hanya tidak membaik, bahkan tanda-tanda vitalnya terus menurun dengan tidak terkendali.
Tobi mulai panik sekarang. Dia terus menyeka keringat di wajahnya.
"Sepertinya, Tuan Jericho tidak bisa diselamatkan lagi ...," kata Tobi dengan ragu.
"Apa?" Kedua bersaudara itu pun terkejut setelah mendengarnya.
Bab 6
"Dasar nggak berguna!" Bianca sontak murka. Dia mendorong Tobi, lalu membentak, "Aku suruh jangan cabut, tapi kamu memaksa. Sekarang, kamu hanya bisa memberiku hasil seperti ini?"
"Ini bukan salahku. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin!" Tobi menggeleng dan mulai melemparkan tanggung jawab. "Oh, ini pasti kesalahan dokter itu. Dia yang sembarangan menancap jarum untuk mencelakai Tuan Jericho!"
Bianca langsung menampar Tobi. Kemudian, dia memaki, "Dasar rendahan! Kamu sudah salah, tapi masih menyalahkan orang lain? Biar kuperingatkan, kalau terjadi sesuatu pada kakekku, aku akan mengulitimu hidup-hidup!"
Begitu ucapan ini dilontarkan, wajah Tobi langsung tampak pucat pasi.
Dengan kemampuan Keluarga Caonata, mudah saja bagi Bianca untuk melenyapkan mereka dari dunia ini.
"Apa yang terjadi?" tanya Luther yang memasuki bangsal.
Begitu melihat wajah Jericho yang menghitam serta mulut dan hidungnya berdarah, Luther langsung mengernyit.
"Bukannya sudah kubilang jangan cabut jarumnya? Kenapa kalian nggak mendengarkannya?" tanya Luther dengan kesal.
"Tuan Luther, tadi ...." Sebelum Bianca sempat menjelaskan, Tobi sudah meraih kerah baju Luther dan menghardik, "Rupanya kamu yang menancap jarum-jarum itu? Gara-gara kamu, kondisi Tuan Jericho menjadi makin kritis. Bagaimana kamu akan bertanggung jawab sekarang?"
Tobi tentu tidak akan melepaskan kambing hitamnya ini.
"Sepertinya, kamu yang mencabut jarum-jarumku?" tanya Luther sembari mengangkat alisnya.
"Kenapa memangnya?" sahut Tobi.
"Nggak apa-apa. Aku hanya penasaran, bagaimana orang bodoh yang suka melempar tanggung jawab dan tidak tahu malu sepertimu ini bisa menjadi dokter?" timpal Luther.
"Kamu!" Tobi benar-benar murka.
"Diam!" Bianca langsung mendorong Tobi. Kemudian, dia bergegas membawa Luther ke sisi ranjang pasien dan berkata, "Tuan Luther, tolong selamatkan kakekku dulu, kondisinya kritis."
"Nona Bianca, bocah ini hanya penipu. Mana mungkin dia punya kemampuan? Jangan sampai kamu tertipu!" seru Tobi dengan geram.
"Kalau dia nggak bisa, kamu saja yang turun tangan," ucap Bianca sembari melirik dengan sinis.
"Aku ...." Tobi seketika kehabisan kata-kata.
Kalau punya cara untuk menyelamatkan Jericho, dia pasti sudah bertindak sejak tadi. Mana mungkin menunggu sampai sekarang?
Ketika Luther hendak mengambil tindakan, Tobi tiba-tiba mengancam, "Bocah, aku akan memperingatkanmu dulu. Status Tuan Jericho sangat mulia. Kalau sampai terjadi sesuatu padanya, kamu pasti akan mati!"
"Kalau begitu, aku nggak akan mengobatinya lagi. Kamu saja yang atasi kekacauan ini," ujar Luther yang langsung berbalik pergi. Dia malas berbasa-basi dengan orang ini.
"Berengsek! Siapa suruh kamu bicara?" Bianca benar-benar gusar dibuatnya. Dia langsung menampar Tobi dengan kuat.
Tobi sampai terhuyung-huyung dan hampir terjatuh di lantai.
Ketika menatap wajah Tobi yang bengkak, Luther hanya memasang ekspresi datar. Nyatanya, dia merasa sangat senang!
"Tuan Luther, tolong selamatkan kakekku. Keluarga Caonata akan sangat berterima kasih padamu," mohon Bianca sambil mengubah ekspresinya lagi.
"Ini agak repot. Sekarang, sumber racunnya terstimulasi sehingga menjadi makin ganas. Pengobatan nggak bisa hanya melewati akupunktur lagi karena hasilnya akan kurang signifikan. Aku masih butuh beberapa barang untuk menuntun racunnya keluar," jelas Luther.
"Tuan Luther, katakan saja. Aku akan mencarikannya untukmu," sahut Bianca.
"Aku butuh 3 ekor ulat, 3 ekor laba-laba, dan 3 ekor kecoak. Kemudian, tumis sampai keluar aromanya dan segel di dalam toples," pesan Luther.
"Eh, untuk apa barang-barang ini? Menjijikkan sekali!" kata Belinda yang merasa geli mendengarnya.
"Jangan bicara omong kosong, cepat lakukan!" perintah Bianca sembari memelototi adiknya.
Lantaran tidak berdaya, Belinda hanya bisa membawa para pengawal dan mulai mencari di sekitar.
Tidak sampai setengah jam, sebuah toples yang berisikan serangga tumis dibawa ke dalam bangsal.
"Nona Bianca, setelah aku menancapkan jarum nanti, buka toplesnya dan letakkan di antara mulut dan hidung kakekmu," pesan Luther.
"Oke." Bianca mengangguk.
"Aku akan mulai." Luther mengeluarkan jarum perak, lalu menarik napas dalam-dalam.
Kemudian, dia mengerahkan energi internal dalam pusat energinya saat menancapkan jarum di perut bagian bawah Jericho.
Seiring dengan jentikan jari Luther, jarum mulai berputar dengan liar. Aliran udara berwarna perak yang tak kasatmata memasuki tubuh Jericho dengan cepat.
Luther tidak merasa ragu sedikit pun. Dia lanjut menancapkan jarum.
Tidak berselang lama, dia mendaratkan 3 jarum secara berturut-turut lagi. Sangat gesit dan akurat!
Teknik jarumnya ini dimulai dari perut bagian bawah, lalu perlahan-lahan naik ke tubuh bagian atas.
Setiap kali Luther menancapkan jarumnya, tubuh Jericho akan berkedut, seolah-olah ada sesuatu di dalamnya.
"Sok misterius. Ini bukan menusuk titik akupunktur dengan jarum perak. Trik murahan ini nggak ada apa-apanya!" ejek Tobi seraya mencebik.
"Benar, apa hebatnya pengobatan tradisional? Pengobatan barat jelas-jelas lebih hebat. Aku ingin lihat bagaimana dia mempermalukan diri sendiri nanti."
Beberapa dokter terkenal di dalam bangsal mulai bergosip. Mereka yang mempelajari pengobatan barat sangat meremehkan pengobatan tradisional.
"Fiuh ...." Ketika Luther menancapkan jarum terakhirnya, dia sudah bercucuran keringat.
Teknik jarum yang digunakannya barusan bukanlah teknik jarum biasa. Itu adalah Teknik Jarum Gaib yang sudah lama hilang.
Teknik Jarum Gaib mampu menghidupkan kembali orang yang telah mati. Hanya saja, teknik ini membutuhkan energi internal sebagai fondasinya.
Selain itu, energi internal yang perlu dihabiskan sangat banyak. Luther tidak akan menggunakannya jika bukan dalam situasi mendesak.
"Nona Bianca, buka toplesnya," perintah Luther.
Bianca tidak bertele-tele. Dia bergegas membuka toples berisi serangga tersebut.
Dalam sekejap, sebuah bau yang aneh memenuhi seluruh bangsal.
Sebagian besar aroma ini tentu dihirup oleh Jericho.
"Benar-benar sok misterius!" Tobi mendengkus dingin, lalu berkata, "Kamu kira orang yang sudah mati bisa hidup kembali dengan cara ini?"
"Kalau kamu nggak sanggup, belum tentu orang lain juga begitu," sahut Luther dengan tidak acuh.
"Huh! Kalau kamu memang hebat, aku akan memakan serangga itu hari ini!" teriak Tobi.
Begitu dia selesai berbicara, Jericho yang sedari tadi tidak sadarkan diri tiba-tiba membuka mulutnya.
Kemudian, seekor serangga hitam yang memiliki puluhan kaki merangkak keluar karena tertarik oleh aroma tersebut.
Setelah mondar-mandir beberapa detik, serangga itu masuk ke toples dan mulai menggerogoti serangga di dalamnya.
"Lipan? Itu lipan?"
"Astaga, kenapa ada lipan di tubuh Tuan Jericho?"
"Huek! Menjijikkan sekali!"
Begitu melihat dengan saksama, ekspresi sekelompok orang itu sontak berubah drastis. Terutama Belinda yang langsung muntah di tempat.
Pemandangan ini sungguh mengerikan. Siapa sangka, seekor lipan akan keluar dari mulut manusia?
"Uhuk uhuk uhuk ...." Terdengar suara batuk seseorang.
Jericho yang tidak sadarkan diri sejak tadi akhirnya membuka matanya!
Bab 7
"Su ... sudah siuman?" Semua orang terkesiap melihat Jericho yang tiba-tiba sadarkan diri.
Apalagi saat melihat monitor ICU yang menunjukkan bahwa tanda-tanda vitalnya telah normal kembali, mereka semua hanya bisa terdiam.
Tanpa diduga, penyakit aneh yang membuat seluruh tim medis profesional tak berdaya justru berhasil disembuhkan oleh seorang pemuda.
Kejadian ini benar-benar di luar nalar!
"Syukurlah! Kakek akhirnya siuman!" seru Belinda sambil menangis bahagia saat melihat raut wajah Jericho kembali normal.
Bianca yang merasa sangat gelisah juga akhirnya merasa tenang sekarang. Dia membungkuk memberi hormat seraya berkata, "Terima kasih banyak, Tuan Luther. Mulai sekarang, kamu akan menjadi tamu terhormat Keluarga Caonata."
"Sama-sama, Nona Bianca. Ini bukan masalah besar," sahut Luther sembari tersenyum tipis.
Perkataan yang rendah hati ini justru terdengar menusuk telinga untuk Tobi.
Mereka susah payah mengobati Jericho, tetapi Luther malah mengatakan bukan masalah besar? Bocah ini jelas-jelas sedang menghina mereka!
"Hei, ada apa dengan lipan itu? Kenapa bisa ada lipan di tubuh kakekku?" tanya Belinda tiba-tiba.
"Ini bukan lipan biasa, tapi serangga beracun!" Selesai mengatakan ini, Luther menatap Jericho sambil bertanya, "Apa Tuan pergi ke luar kota belakangan ini dan salah mengonsumsi makanan?"
"Ya. Beberapa hari lalu, aku pergi ke ibu kota provinsi untuk menghadiri pesta. Aku juga minum bir," jawab Jericho seraya mengangguk.
"Kalau aku nggak salah, kamu seharusnya diracuni orang," kata Luther. Perkataannya ini mengejutkan semua orang.
"Diracuni?" tanya Jericho dengan heran.
Orang lainnya pun saling bertatapan. Mereka tampak tercengang.
Bagaimanapun, masalah ini terdengar sangat misterius.
"Jangan bicara omong kosong. Diracuni apanya? Benar-benar nggak masuk akal. Kalau menurutku, Tuan Jericho pasti nggak sengaja makan telur lipan," sela Tobi.
"Profesor Tobi, apakah telur lipan biasa bisa bertahan hidup di tubuh manusia? Nggak masalah kalau kamu nggak mengerti, tapi jangan menunjukkan kebodohanmu di sini," timpal Luther dengan tidak acuh.
"Kamu ...." Tobi ingin menyangkal, tetapi Bianca sudah memelototinya. Dia pun ketakutan hingga tidak berani berbicara.
"Terima kasih, Tuan Luther. Aku akan menyelidiki masalah ini nanti," ujar Bianca dengan serius.
Bianca pernah mendengar cara meracuni orang dengan serangga, tetapi tidak pernah melihatnya dengan mata kepala sendiri. Dia bahkan tidak menyangka kakeknya akan mengalami hal seperti ini.
Tidak peduli siapa yang melakukannya, dia pasti akan membuat orang itu mendapatkan ganjarannya!
"Serangga beracun sudah keluar dari tubuh kakekmu, tapi sisa racunnya belum ternetralisasi. Beli obat sesuai resepku ini. Setelah mengonsumsi 3 sampai 5 hari, kakekmu akan sembuh," kata Luther sambil menyerahkan resep obat.
"Terima kasih, Tuan Luther." Bianca segera mengambilnya.
"Oke. Kalau nggak ada urusan lain lagi, aku pamit dulu," ujar Luther.
"Aku akan mengantarmu keluar." Bianca mengulurkan tangan untuk mempersilakan.
"Kak, gimana dengan toples serangga ini?" tanya Belinda tiba-tiba.
"Profesor Tobi bilang ingin memakannya barusan. Turuti saja keinginannya." Bianca pun menatap para pengawal dan memerintahkan dengan dingin, "Kalian awasi dia makan. Jangan biarkan dia pergi sebelum makan habis!"
"Hah?" Raut wajah Tobi seketika memucat setelah mendengarnya.
....
Saat ini, di dalam bangsal lain rumah sakit.
"Ibu, berani sekali bajingan itu memukulku! Kamu harus memberinya pelajaran!" teriak Keenan yang berbaring di ranjang pasien sambil menangis tanpa henti. Perban tebal melilit kepalanya sehingga hanya memperlihatkan mata, mulut, dan hidungnya.
"Putraku, kamu tenang saja. Ibu pasti akan membalaskan dendammu!" Helen merasa sangat sedih melihat kondisi putranya.
"Bibi Helen, besar sekali nyali si Luther. Dia berani bermain tangan dengan kalian?" Pria tampan berjas yang berdiri di samping tiba-tiba bersuara.
Orang ini tidak lain adalah Tuan Muda Kedua Keluarga Yohan yang bernama Wandy. Dia juga pria yang sangat tergila-gila pada Ariana.
"Wandy, kamu nggak melihat gimana bocah itu menggila hari ini. Dia menahan putraku, lalu terus menghajarnya. Aku sampai nggak bisa menghentikannya," jelas Helen dengan geram.
"Oh? Rupanya dia begitu menakutkan?" Wandy melanjutkan dengan kesal, "Bibi Helen, aku mengenal beberapa teman. Gimana kalau aku membantumu melampiaskan kekesalanmu ini?"
"Oke, ide yang sangat bagus!" Helen tampak berseri-seri.
"Kak Wandy, kamu harus menyuruh mereka menghajarnya sampai sekarat. Kalau bisa, buat dia cacat!" teriak Keenan.
"Bukan masalah. Aku jamin dia hanya bisa berbaring di ranjang selama sisa hidupnya!" kata Wandy sambil tersenyum kejam.
Wandy sudah lama membenci Luther. Atas dasar apa bajingan miskin seperti dia menikahi seorang presdir cantik?
Kali ini, dia akan memanfaatkan kesempatan ini dengan baik untuk menginjak-injak harga diri Luther!
"Keenan, gimana cederamu?" Saat ini, Ariana yang mengenakan terusan hitam tiba-tiba memasuki bangsal.
Baik postur tubuhnya yang seksi ataupun parasnya yang cantik langsung membuat mata Wandy penuh dengan antusiasme.
"Kak, akhirnya kamu datang. Lihat, aku sampai begini karena dipukul bajingan itu!" Keenan bergegas duduk di ranjang, lalu menunjuk wajahnya yang dililit dengan perban.
"Aku sudah tahu masalahnya. Luther juga sudah telepon minta maaf. Lupakan saja masalah ini," hibur Ariana.
"Lupakan?" Keenan seketika meninggikan suaranya. "Kak, kamu nggak bercanda? Aku sampai babak belur begini, tapi dia hanya minta maaf? Apa kamu nggak menganggapku sebagai adikmu?"
"Memangnya apa maumu?" tanya Ariana.
"Aku mau dia berlutut dan bersujud minta maaf!" jawab Keenan.
"Dia kakak iparmu, tidak usah memperbesar masalah ini," ujar Ariana.
"Kakak ipar apanya! Aku tahu kalian sudah bercerai!" sahut Keenan.
"Kita tetap harus memikirkan hubungan sebelumnya. Lagi pula, kamu juga salah," kata Ariana.
"Kak, kenapa kamu malah membantu orang luar? Apa salahku? Aku hanya menghancurkan liontin gioknya, memangnya apa hebatnya liontin itu?" teriak Keenan dengan kesal.
"Apa katamu? Liontin giok?" tanya Ariana sambil mengernyit.
"Liontin giok yang selalu kamu pakai. Dia bilang itu warisan keluarganya. Kalau menurutku, itu hanya sampah nggak berguna!" hina Keenan seraya mencebik.
"Kamu menghancurkan liontin giok itu?" tanya Ariana.
"Ya, siapa suruh bajingan itu nggak tahu diri! Aku menyukai liontin giok itu, tapi dia malah menolak memberikannya. Jadi, aku hancurkan saja langsung!" jelas Keenan tanpa merasa bersalah.
"Kamu memang pantas dipukul!" Ariana sangat marah setelah mendengar jawaban ini.
Dia akhirnya mengerti alasan Luther memukul adiknya ini. Ternyata, Keenan gagal merebut liontin giok tersebut sehingga sengaja menghancurkannya.
Orang lain tidak tahu seberapa pentingnya liontin giok tersebut, tetapi Ariana tahu betul apa makna benda itu bagi Luther.
Liontin itu bukan hanya warisan keluarga, tetapi juga satu-satunya benda peninggalan ibu Luther. Itu adalah kenang-kenangan sekaligus bentuk kasih sayang dari ibunya.
Ketika bercerai, Luther tidak menginginkan apa pun dari Ariana, kecuali liontin giok tersebut. Hal ini cukup untuk membuktikan betapa berharganya liontin itu di hati Luther.
"Kak, itu hanya liontin jelek, kenapa kamu memarahiku?" tanya Keenan dengan jengkel.
"Benar. Masa liontin jelek itu lebih berharga dari nyawa adikmu?" Helen juga merasa tidak puas.
"Aku akan memperhitungkan masalah ini dengan kalian nanti!" timpal Ariana. Dia terlalu malas untuk menjelaskan sehingga langsung pergi dengan marah.
Adiknya ini bersikap tidak masuk akal, sedangkan ibunya memutarbalikkan fakta dan memfitnah Luther.
Ariana telah bersikap gegabah sebelumnya. Ucapannya barusan telah menyakiti hati Luther.
Setelah dipikir-pikir sekarang, dia pun merasa sangat menyesal.
Jika Luther tidak marah besar, mana mungkin dia menggunakan kekerasan?
Ariana benar-benar sudah salah menyalahkannya ....
Bab 8
Saat ini, di dalam mobil Bentley berwarna perak yang sedang melaju.
"Tuan Luther, terima kasih banyak. Ini adalah kartu naga Keluarga Caonata, tolong diterima," ujar Bianca sambil mengeluarkan sebuah kartu hitam dengan sisi yang terbuat dari emas.
Setelah menyodorkannya, dia menjelaskan, "Dengan kartu ini, kamu akan menjadi tamu terhormat Keluarga Caonata. Kamu bisa menikmati pelayanan terbaik dari semua bisnis milik Keluarga Caonata."
"Nona Bianca, bukan ini yang kubutuhkan," sahut Luther sambil menggeleng.
"Tuan Luther, tenang saja. Ini hanya bentuk terima kasih dariku. Rumput Hati Naga yang dikatakan Pak Eril akan dikirim ke rumahmu besok," balas Bianca sembari tersenyum.
"Nona Bianca benar-benar lugas. Baiklah, terima kasih kalau begitu." Luther tersenyum dan menerima kartu naga tersebut.
Barang yang diberikan oleh Bianca sudah pasti bukan barang biasa.
Ketika keduanya masih mengobrol, sopir sontak menginjak rem dan menghentikan mobil di pinggir jalan.
"Bu Bianca, maaf sekali. Mereka memaksaku untuk melakukan ini!" Selesai melontarkan kalimat ini, sopir itu langsung turun dari mobil dan kabur.
Pada saat yang sama, terlihat 2 mobil van berwarna hitam tiba-tiba melaju kemari dengan kecepatan tinggi.
Kedua mobil ini berhenti di depan dan belakang Bentley untuk menghalangi jalan.
Begitu pintu mobil dibuka, belasan preman yang memakai penutup wajah dan memegang tongkat bergegas turun dengan galak.
Yang memimpin adalah seorang pria botak bertubuh gendut.
"Nona Bianca, bosku ingin bertemu denganmu. Tolong ikut dengan kami," kata pria botak itu setelah melompat ke atas mobil. Dia bahkan memegang pisau di tangannya.
Bianca sama sekali tidak panik. Sebaliknya, dia justru tampak teguh dan tak kenal takut.
"Kalau pengawalmu ada di sini, kami tentu nggak berani. Sayangnya, mereka semua sedang menjaga Tuan Jericho di rumah sakit. Hanya ada seorang pecundang yang mengikutimu. Mana mungkin kami melewatkan kesempatan emas ini?" lanjut pria botak itu sembari menyeringai.
"Sepertinya, kalian cukup cerdas karena bisa menyuap sopirku. Tapi, aku sangat penasaran, siapa bos kalian?" tanya Bianca dengan tidak acuh.
"Kamu akan tahu setelah sampai nanti. Cepat turun!" desak pria botak itu.
"Huh! Kamu nggak berhak menyuruhku turun dari mobil!" Bianca menentang dengan berani.
"Kalau kamu begitu nggak tahu diri, jangan salahkan kami bertindak lancang!" ancam pria botak itu. Kemudian, dia melambaikan tangan untuk meminta palu besar dari anak buahnya.
Tepat ketika pria botak ini hendak menghancurkan jendela mobil, Luther tiba-tiba turun dari mobil.
"Nona Bianca, piaraanmu ini benar-benar pengecut. Aku belum mulai, tapi dia sudah ketakutan sampai pipis di celana. Masa kamu menyukai pria seperti ini?" ejek pria botak itu sambil tersenyum.
Bianca mengernyit tanpa mengatakan apa pun. Dia hanya mengulurkan tangan ke dalam tasnya.
"Kuberi kalian 5 detik, cepat pergi dari sini!" perintah Luther dengan dingin.
"Bocah, kamu tahu apa yang kamu katakan? Sok pahlawan! Kamu sudah bosan hidup, ya?" maki pria botak itu.
Begitu ucapan tersebut dilontarkan, terdengar suara pukulan yang nyaring. Luther telah melayangkan pukulan ke wajah pria botak itu.
Tenaga yang dikerahkannya sangat besar, sampai membuat wajah pria botak itu miring. Tubuhnya bahkan terhuyung-huyung dan tidak bisa berdiri dengan stabil.
"Berengsek, berani sekali dia menyerang! Ayo, bunuh dia!" Preman lainnya langsung menerjang saat melihat kejadian ini.
Luther sama sekali tidak takut. Dia maju selangkah untuk berhadapan dengan para preman itu.
Sosoknya sangat gesit, bagaikan hantu yang terus bergerak di antara kerumunan. Setiap kali mendekati seseorang, Luther pasti akan melayangkan pukulannya.
Plak plak plak ....
Seiring dengan suara yang nyaring ini, para preman bertubuh kekar itu dijatuhkan satu per satu oleh Luther hanya dalam waktu singkat.
Satu preman hanya mendapatkan satu pukulan. Proses ini pun berlangsung dengan sangat cepat.
Saat ini, si pria botak yang baru tersadar dari keterkejutannya benar-benar ketakutan. Dia sungguh tidak menduga bahwa pemuda yang dianggapnya pecundang ini ternyata begitu kuat.
Saudara-saudaranya yang begitu ganas itu bahkan tidak punya kesempatan untuk menyentuh Luther.
"Menarik juga," ujar Bianca seraya menyunggingkan senyuman. Matanya tampak berbinar-binar.
Seketika, dia meletakkan kembali pistol kecil yang disembunyikan di dalam tasnya.
Bianca awalnya mengira Luther akan disiksa oleh para preman ini. Siapa sangka, ternyata Luther begitu hebat.
Pemuda ini berhasil menjatuhkan sekelompok preman kekar dengan enteng. Kemampuan bertarung Luther ini sudah pasti di atas para pengawalnya.
Bukan hanya menguasai keterampilan medis, tetapi Luther juga tampan dan pintar bertarung. Benar-benar pria berkelas!
Ketika melihat Luther mendekatinya selangkah demi selangkah, pria botak itu pun panik. Dia berteriak, "Ja ... jangan mendekat! Jangan macam-macam denganku! Kalau kamu berani menyentuhku .... Argh!"
Sebelum selesai berbicara, Luther sudah meninju perutnya. Dia kesakitan hingga berlutut di tanah dan memuntahkan makanannya.
"Nona Bianca, silakan." Luther langsung berdiri di samping setelah memberi pelajaran kepada si pria botak.
"Terima kasih." Bianca mengangguk sambil menghampiri. Dia menatap pria botak itu dengan tatapan merendahkan, lalu bertanya, "Siapa bos kalian?"
"A ... aku ...." Pria botak itu terbata-bata.
"Nggak mau kasih tahu?" Bianca terkekeh-kekeh, lalu memungut sebilah pisau dan menodongkannya ke leher si pria botak. Kemudian, dia melanjutkan dengan sinis, "Kalau begitu, aku akan mencincangmu dengan pisau ini."
Selesai mengatakannya, Bianca pun mengangkat pisaunya dan hendak menebas kepala si pria botak.
"Ja ... jangan! Aku ... akan memberitahumu. Tuan Adi ... Tuan Adi Devano dari Grup Prosper!" jawab si pria botak yang akhirnya mengaku kalah.
Nyawanya sudah terancam, mana sempat dia memedulikan kesetiaannya lagi sekarang.
"Rupanya dia ...." Bianca terkekeh-kekeh dengan sinis, lalu memerintah, "Pulang dan beri tahu bosmu bahwa aku akan mengingat masalah hari ini. Kalau sudah senggang, aku akan mencarinya sendiri. Sekarang, bawa orang-orangmu dan pergi dari sini!"
"Ba ... baik!" Pria botak itu ketakutan hingga pipis di celana. Kemudian, dia buru-buru membawa para bawahannya pergi.
"Nona Bianca, kakekmu diracuni, lalu kamu bertemu dengan masalah seperti ini. Keduanya pasti saling berkaitan. Sepertinya, Tuan Adi ini bukan orang biasa," ujar Luther untuk memperingatkan.
"Adi hanya anjing gila, aku nggak takut. Tapi, masih ada seseorang di belakangnya. Supaya nggak membuat lawan berwaspada, aku akan membiarkannya dulu beberapa hari. Ketika saatnya tiba, aku akan menghancurkan mereka semua!" sahut Bianca sambil memicingkan matanya.
Bianca memilih untuk diam sementara waktu ini. Namun, begitu beraksi, dia akan langsung memberi pukulan yang fatal untuk lawannya!
"Baguslah kalau begitu." Luther menganggukkan kepalanya. Dia tidak tertarik untuk ikut campur dalam perselisihan seperti ini.
"Tuan Luther, kamu benar-benar tamu terhormat Keluarga Caonata. Kamu menolongku dan kakekku, entah bagaimana aku harus berterima kasih," kata Bianca dengan mata berbinar-binar.
"Hanya bantuan kecil, nggak masalah," timpal Luther.
"Ini adalah utang budi yang sangat besar, aku harus membalas kebaikanmu." Setelah terdiam sejenak, Bianca tiba-tiba tersenyum centil dan berkata, "Demi menunjukkan ketulusanku, gimana kalau ... aku menikah denganmu?"
Bab 9
"Hah?" Ekspresi Luther sontak membeku.
Dia tidak menyangka bahwa Bianca akan mengatakan hal semacam ini.
Wanita di depannya ini tidak seperti Ariana yang terlihat dingin dan angkuh.
Bianca sangatlah cantik dan memesona, bahkan senyumannya begitu memikat.
Dengan kata lain, Bianca bisa disebut sebagai wanita penggoda yang mampu menaklukkan hampir semua pria.
"Hahaha. Aku hanya bercanda, kenapa kamu terkejut begitu?" Bianca tergelak hingga payudaranya bergetar tanpa henti. Pemandangan ini sangat berdampak besar bagi seorang pria.
Melihat ini, Luther pun buru-buru mengalihkan pandangannya. Wanita ini terlalu menggoda. Makin dilihat akan makin terpikat.
"Tuan Luther, sepertinya aku butuh bantuanmu lagi," ujar Bianca yang ekspresinya perlahan-lahan menjadi serius.
"Ada masalah apa?" Luther tertegun mendengarnya.
"Kamu juga tahu, para pengawalku sedang berjaga di rumah sakit, nggak ada yang bisa melindungiku. Sekarang, aku sedang dalam bahaya karena diincar seseorang. Jadi, aku berharap Tuan Luther bisa melindungiku selama 24 jam," pinta Bianca.
"Melindungimu?" Luther mengangkat alisnya, lalu bertanya, "Nona Bianca, bukankah lebih bagus jika kamu mencari tempat yang aman untuk berlindung?"
"Tuan Luther, malam ini akan diadakan pesta amal yang sangat penting untuk Keluarga Caonata. Sebagai penyelenggara, aku tentu harus hadir. Kalau sampai ada yang membuat onar, wanita lemah sepertiku nggak akan bisa melawan. Demi Rumput Hati Naga itu, kamu pasti nggak ingin melihatku celaka, 'kan?" kata Bianca sambil mengejapkan matanya dengan kasihan.
"Ini ...." Luther ragu-ragu sesaat, lalu akhirnya menyetujuinya, "Baiklah."
Meskipun agak merepotkan, dia hanya bisa mengiakan permintaan Bianca demi Rumput Hati Naga.
Bagaimanapun, Luther tidak berharap terjadi sesuatu yang di luar dugaannya.
"Terima kasih, Tuan Luther," ujar Bianca seraya menyunggingkan senyuman yang penuh arti.
Faktanya, dia merasa tertarik pada Luther dan hanya menggunakan hal ini sebagai alasan.
....
Sore harinya, di Gedung Phoenix.
Sebagai hotel bergaya tradisional yang terkenal di Jiloam, Gedung Phoenix ini sangatlah luas. Begitu dilihat, tampak luarnya benar-benar mirip dengan sebuah istana.
Gedung ini dikelilingi oleh tembok yang sangat tinggi, bahkan bagian dalamnya sangat megah. Ada taman, hutan bambu, kilang anggur, juga danau buatan di sini. Semuanya serbaada! Seluruh gedung ini benar-benar indah dan klasik.
Saat ini, di pintu masuk Gedung Phoenix.
Sebuah mobil Mercedes-Benz berwarna hitam perlahan-lahan berhenti.
Begitu pintu mobil dibuka, seorang wanita cantik bergaun hitam pun turun. Wanita ini memiliki kulit yang sangat putih, kaki yang ramping, dan fitur wajah yang sangat sempurna.
Ditambah dengan auranya yang begitu dingin, sosoknya langsung tampak menonjol saat berada di antara kerumunan. Dia pun menjadi pusat perhatian semua orang.
"Cantik sekali, artis dari mana ini?"
"Tsk tsk, wajah dan bodinya benar-benar sempurna!"
"Eh, bukannya dia Bu Ariana dari Grup Pesona? Dia adalah salah satu dari Empat Wanita Cantik yang diakui seluruh Jiloam!"
Banyak tamu yang berada di pintu masuk mulai bergosip. Mereka semua sangat takjub dengan paras Ariana yang begitu cantik.
Namun, tidak ada yang berani mendekatinya karena kesenjangan status.
"Ternyata, Gedung Phoenix ini begitu indah? Benar-benar menakjubkan!" puji Julie yang mengikuti Ariana turun dari mobil.
"Keluarga Caonata selalu mengadakan acara di Gedung Phoenix ini, tentu saja bukan gedung biasa. Orang biasa tidak akan bisa masuk," ujar Ariana sambil melirik ke sekeliling.
Meskipun memiliki selera yang sangat tinggi, Ariana tetap mengakui bahwa tempat ini benar-benar indah.
"Ariana, kamu sudah sampai?" sapa seorang pemuda berjas dan berkacamata yang menghampiri tiba-tiba.
Orang ini tidak lain adalah Wandy, Tuan Muda Kedua Keluarga Yohan.
"Ternyata Tuan Muda Wandy. Kamu juga tertarik dengan pesta amal ini?" tanya Ariana dengan tidak acuh.
"Aku tentu nggak tertarik dengan pesta amal biasa. Tapi, pesta amal kali ini diselenggarakan Keluarga Caonata, mana mungkin aku nggak menjaga martabat mereka?" sahut Wandy sembari tersenyum.
Keluarga Caonata adalah salah satu dari Tiga Bos Besar di Jiloam. Mereka adalah keluarga yang sangat kaya dan mulia. Kekuasaan dan pengaruh yang mereka miliki benar-benar tak tertandingi.
Jangankan pesta amal ini, kalaupun mereka membuang setumpuk kotoran, pasti akan ada banyak orang yang berebutan untuk mengambilnya.
"Tuan Muda, sepertinya kamu punya maksud lain?" tanya Julie seraya menyipitkan mata.
"Ya, menghadiri pesta amal ini hanya alasan. Tujuan utamaku adalah membantu kalian," sahut Wandy sambil tersenyum.
"Membantu kami?" tanya Julie yang tidak mengerti.
"Dengar-dengar, Grup Pesona ada di daftar kandidat Keluarga Caonata. Tapi, kalian masih cukup jauh untuk menjadi mitra Keluarga Caonata. Jadi, aku ingin membantu kalian supaya bisa mendapatkan kesempatan ini," jelas Wandy dengan yakin.
"Baguslah! Terima kasih, Tuan Muda Wandy!" Julie tampak berseri-seri.
Jika mereka benar-benar menjadi mitra Keluarga Caonata, bukan hanya Grup Pesona yang akan makin sukses, tapi statusnya sebagai sekretaris presdir juga akan meningkat.
"Sama-sama. Ini nggak ada apa-apanya kalau dibandingkan hubunganku dengan Ariana," sahut Wandy dengan nada bicara agak misterius.
"Benar, kalian adalah keluarga," tambah Julie.
Ketika kedua orang ini mengobrol, Ariana yang berdiri di samping seolah-olah tidak mendengarnya.
Hal ini karena dia terus menatap ke kejauhan.
Di sana, terlihat sebuah mobil mewah berhenti. Sebuah sosok yang familier berdiri di samping mobil tersebut.
"Lu ... Luther?" Ariana akhirnya mengenalinya setelah melihat dengan saksama.
Sejak kebenaran terungkap, Ariana terus merasa bersalah terhadap Luther. Lantaran bertemu sekarang, dia seharusnya menjelaskan kesalahpahaman ini.
Setelah memikirkannya, dia pun bergegas menghampiri Luther.
"Luther ...." Ariana hendak berbicara, tetapi tiba-tiba termangu di tempat.
Dia baru menyadari bahwa ada seorang wanita yang sangat cantik berdiri di samping Luther.
Wanita ini mengenakan gaun tradisional berwarna merah yang sangat pas badan.
Pinggangnya yang ramping dan bokongnya yang sintal terpampang dengan sangat jelas. Wajahnya juga sangat menawan, bahkan auranya begitu anggun dan mulia.
Penampilannya ini benar-benar terlihat seperti seorang penguasa wanita. Siapa pun yang melihatnya akan merasa sangat tertekan!
Bab 10
Ketika melihat Ariana menghampirinya, Luther tertegun sejenak. Namun, ekspresinya seketika menjadi dingin saat berkata, "Rupanya Bu Ariana, apa ada yang bisa kubantu?"
"Aku kebetulan melihatmu, jadi datang untuk menyapa," balas Ariana. Dia membatalkan niatnya untuk memberi penjelasan kepada Luther.
Sebelumnya, Ariana mendengar ibunya mengatakan Luther telah memiliki kekasih baru. Dia awalnya masih tidak mengerti.
Tanpa diduga, ternyata ucapan ibunya benar.
Meskipun keduanya telah bercerai, Ariana tetap merasa tidak nyaman saat melihat mantan suaminya ini begitu cepat memiliki kekasih baru.
Ini adalah perasaan jengkel yang sangat aneh.
"Tuan Luther, ini temanmu?" tanya Bianca sambil mengamati Ariana.
Intuisi wanita memberi tahu Bianca bahwa wanita di depannya ini memiliki permusuhan dengannya.
"Mantan istriku," jawab Luther.
"Oh?" Bianca mengangkat alisnya, lalu menyunggingkan senyuman dan memperkenalkan diri, "Halo, aku dari Keluarga Caonata. Senang bertemu denganmu."
Bianca mengulurkan tangannya dengan murah hati. Namun, dagunya yang sedikit terangkat membuat pihak lawan merasa agak tertekan.
"Halo." Ariana merespons dengan sopan.
Meskipun selalu dipenuhi kepercayaan diri, harus diakui bahwa wanita di depannya ini benar-benar cantik.
Baik postur tubuh, paras, ataupun karisma, Bianca tidak kalah sedikit pun darinya. Bahkan, beberapa aspek yang dimiliki Bianca lebih unggul darinya.
Pria mana pun pasti akan menyukai wanita seperti ini, 'kan?
"Luther, kenapa aku tidak pernah melihat temanmu ini?" tanya Ariana dengan penasaran.
"Memangnya kamu pernah peduli pada hal ini?" balas Luther dengan tidak acuh.
Satu kalimat dari Luther ini membuat Ariana kehabisan kata-kata.
Dia tidak menduga bahwa Luther akan begitu blak-blakan, bahkan menyindirnya.
Suasana seketika menjadi tegang karena kejadian ini.
"Luther, aku ingin mengobrol denganmu sebentar," kata Ariana lagi setelah terdiam beberapa saat.
"Apa yang perlu dibahas?" tanya Luther dengan ekspresi datar.
"Di sini kurang pantas, ikut aku," sahut Ariana. Setelah itu, dia langsung berjalan ke suatu tempat sendirian.
Ketika melihat Luther tidak mengikutinya, dia sontak berhenti dan mengerutkan dahinya.
"Katakan saja di sini. Jangan sampai ada yang salah paham," ujar Luther.
"Apa harus begini?" tanya Ariana sambil mengernyit lagi.
Dia berniat untuk berdamai dengan Luther, tetapi Luther sama sekali tidak menjaga harga dirinya.
Bahkan, Luther melawannya sampai seperti ini, seolah-olah tidak menghargainya.
"Bu Ariana, kita sudah bercerai. Statusmu sangat mulia, tidak seharusnya berteman dengan orang sepertiku. Jangan sampai kamu malu sendiri nanti," kata Luther.
"Aku tidak mengerti kenapa kamu bersikap begitu?" Raut wajah Ariana mulai menjadi muram.
"Kamu masih bertanya? Memangnya ini bukan pilihanmu sendiri?" tanya Luther sembari mendongak dengan perlahan.
"Aku ...." Ariana tidak bisa berkata-kata.
Benar, Ariana yang mengusulkan perceraian ini. Apa gunanya mengatakan semua ini lagi? Lantas, kenapa dia malah merasa enggan sekarang?
Terutama saat melihat Luther bersama dengan wanita lain, kenapa dia malah merasa kesal? Apalagi, perasaan ini menjadi makin kuat sekarang.
"Luther, aku tahu kamu membenciku, tapi aku tidak bersalah. Selain itu, aku sudah memberimu kesempatan!" Nada bicara Ariana perlahan-lahan menjadi dingin.
Pada dasarnya, dia memang orang yang angkuh. Dia sudah menurunkan harga dirinya untuk menyapa Luther. Namun, pria ini malah mengabaikannya.
"Jadi, aku yang salah?" Luther merasa sangat konyol.
"Aku tidak ingin memperdebatkan hal ini. Kalau kamu menghormatiku, seharusnya kamu membawa wanita itu bertemu denganku," ujar Ariana dengan murung.
"Menghormati?" Luther seketika tergelak. "Gimana dengan Wandy? Kita belum bercerai, tapi kalian terus bersama. Kamu masih membahas masalah menghormati sekarang?"
"Percaya atau tidak, aku hanya berteman dengannya," timpal Ariana sembari menengadah.
"Masa?" Terlihat ejekan di sorot mata Luther. Dia menunjuk Wandy yang sedang menghampiri sambil bertanya, "Ini yang namanya hanya berteman? Hehe. Aku sudah mengerti sekarang."
Kedua orang ini jelas-jelas berselingkuh di belakangnya. Hari ini, mereka bahkan menghadiri pesta bersama. Namun, Ariana malah mengatakan mereka hanya berteman? Konyol sekali!
"Hm?" Ariana mengernyit tanpa menjelaskan apa pun lagi.
Pertama, dia tidak perlu memberi penjelasan kepada mantan suaminya. Kedua, Luther juga tidak akan percaya padanya.
"Ariana, kita sedang mengobrol barusan, kenapa kamu tiba-tiba kemari?" tanya Wandy yang mendekat sambil tersenyum.
Begitu melihat Bianca yang begitu memesona, Wandy langsung terpana. Sorot matanya pun dipenuhi hasrat. Hal ini menyebabkan napasnya seketika memburu.
Cantik! Benar-benar cantik! Dia tidak pernah melihat wanita yang begitu berkelas seperti Bianca.
Jika Ariana adalah air yang dingin, Bianca ini adalah api yang membara!
Wanita ini hanya berdiri diam, tetapi penampilannya sudah begitu memikat hati. Benar-benar wanita yang sangat menggoda!
Setelah menatap beberapa saat, Wandy mengalihkan pandangannya dengan tenang.
Wandy tahu betul bahwa dia tidak boleh terlalu memperlihatkan antusiasmenya saat berhadapan dengan wanita secantik ini. Bagaimanapun, kesan pertama sangatlah penting.
"Luther, kenapa kamu di sini?" tanya Wandy sembari mengerutkan dahinya.
Apalagi saat melihat Luther yang begitu mesra dengan Bianca, dia pun merasa sangat iri.
'Sial! Apa hebatnya bocah ini? Dia baru bercerai dengan Ariana, tapi sudah mendapatkan wanita yang begitu berkelas? Apa ini yang namanya rezeki?' maki Luther dalam hatinya.
"Kenapa aku nggak boleh di sini?" tanya Luther balik.
"Kata Ariana, kamu hanya petugas kebersihan di Grup Pesona. Kamu nggak berhak masuk ke Gedung Phoenix. Apa kamu ingin diam-diam masuk?" balas Wandy sambil memicingkan matanya.
"Itu bukan urusanmu," sahut Luther dengan tidak acuh.
"Huh! Sepertinya, tebakanku benar." Wandy tersenyum sinis, lalu menatap Bianca dan berkata, "Nona, sepertinya kamu tertipu. Pria di sampingmu ini bukan anak orang kaya, melainkan hanya orang rendahan dari kalangan bawah. Dia nggak cocok denganmu yang begitu cantik."
Menurut Wandy, Luther pasti menipu wanita ini. Jika tidak, mana mungkin wanita secantik ini bersedia menemaninya?
"Kenapa memangnya? Yang penting aku suka," balas Bianca sembari tersenyum tipis.
"Nona, dengan paras dan karismamu ini, kamu bisa menikah dengan keluarga kaya. Untuk apa kamu menyusahkan diri sendiri?" Wandy benar-benar heran.
"Apa hebatnya keluarga kaya? Di mataku, Luther baru pria paling hebat!" Bianca langsung merangkul lengan Luther.
"Hebat?" Wandy tertawa mencibir, lalu meneruskan, "Dia nggak punya uang, kekuasaan, ataupun kemampuan. Hebat dari mana?"
"Setidaknya, dia lebih tampan darimu!" sahut Bianca tanpa menjaga harga diri Wandy.
"Apa gunanya tampan? Dia cuma pecundang yang dinafkahi wanita!" Wajah Wandy menjadi murung. Dia memperingatkan, "Nona, kalau kamu terus terobsesi begini, kamu pasti akan menyesal setelah dia mengambil keuntungan darimu!"
Bianca terkekeh-kekeh dan menimpali, "Aku justru berharap begitu. Takutnya. Luther yang nggak ingin melakukannya."
Perkataan yang begitu terang-terangan ini bukan hanya membuat Ariana dan lainnya mengernyit, tetapi Luther juga tidak tahan lagi.
Wanita ini benar-benar menggoda saat bersikap centil seperti ini!