Đang tải thông tin quảng bá...
Pak Jihan Jangan Galau Lagi, Nona Wina Sudah Menikah
Wina Septa sudah menjadi kekasih rahasia Jihan Lionel selama lima tahun. Wina berpikir bahwa dia bisa meluluhkan hati Jihan selama menuruti semua permintaan Jihan. Akan tetapi, Wina tidak menyangka pa...
Chương (1)
第1章
Bab 1
Hari ini Jihan Lionel kembali dari luar negeri. Wina Septa, kekasih rahasia Jihan, langsung dibawa ke Rumah Mansion No. 8.
Seperti yang disepakati sebelumnya, Wina harus membersihkan dirinya terlebih dahulu agar tidak ada aroma parfum maupun bedak kosmetik.
Wina dengan ketat memenuhi semua kesukaan Jihan. Setelah membersihkan diri dan mengenakan piama sutra, Wina masuk ke kamar tidur di lantai dua.
Jihan sedang duduk di depan komputer melakukan pekerjaannya. Tidak ada emosi yang terlihat dari matanya ketika dia melihat Wina masuk.
"Kemari."
Nada suaranya juga terasa tidak ada emosi apa pun. Hal ini membuat Wina merasa sedikit menyedihkan.
Jihan dikenal sebagai orang yang tidak banyak bicara dan bertemperamen tidak stabil. Karena takut dia marah, Wina tidak berani berlama-lama dan langsung berjalan menghampirinya.
Sesampai di depan Jihan, pinggangnya langsung ditarik mendekat dan dagunya dicubit.
Jihan menunduk dan mencium bibir merah Wina. Selanjutnya, Jihan membuka paksa giginya dan mengisap aroma mulutnya dengan gila-gilaan.
Jihan selalu enggan berbicara dan tidak lembut padanya. Setiap melihat Wina, Jihan langsung bercinta dengannya tanpa melakukan banyak pemanasan.
Jihan terlihat mulia dan sempurna. Akan tetapi, ketika menyangkut hal di ranjang, sifatnya langsung berubah menjadi sangat agresif.
Jihan pergi ke luar negeri untuk urusan kerjaan dan tidak menyentuh seorang wanita selama tiga bulan. Hal ini membuat Wina tahu malam ini Jihan tidak mungkin akan melepaskan dirinya dengan mudah.
Seperti yang Wina duga, Jihan lebih gila dari biasanya.
Jihan bercinta dengannya berkali-kali di sofa dan ranjang.
Setelah Wina tertidur karena kelelahan, Jihan baru puas.
Saat Wina bangun, tidak ada orang di sampingnya, tetapi terdengar suara gemercik air dari kamar mandi.
Wina menoleh ke sana, terlihat bayangan tubuh terpantul di kaca buram kamar mandi.
Hal ini membuat Wina sedikit terkejut. Jihan selalu pergi setelah bercinta dengannya, tidak pernah menunggu dia bangun, tetapi kenapa kali ini berbeda?
Wina memaksakan diri untuk duduk di atas kasur, dia menunggu Jihan keluar dari kamar mandi dengan tenang.
Beberapa menit kemudian, suara air di kamar mandi tiba-tiba berhenti. Jihan keluar hanya dengan melilitkan handuk di area bawah tubuh.
Air di ujung rambut menetes ke kulit berwarna seperti madu. Dengan perlahan, mengalir ke otot-otot perut yang terlihat sangat memesona.
Dengan wajah yang sangat tampan dan simetris, lalu mata gelap dan tajam yang seakan-akan bisa menembus hati itu, Jihan terlihat sangat baik.
Namun, aura dingin yang terpancar dari tubuhnya membuat orang lain tidak berani mendekatinya.
Ketika melihat Wina sudah bangun, Jihan menatapnya dengan dingin.
"Mulai sekarang, kamu nggak perlu datang kemari lagi."
Mendengar itu, Wina tertegun sejenak. 'Apa maksudnya nggak perlu datang lagi?'
Jihan berbalik, mengambil sebuah dokumen dan menyerahkan kepada Wina. "Kontrak ini berakhir lebih awal," ujarnya.
Setelah melihat kontrak menjadi kekasih rahasia itu, Wina akhirnya mengerti bahwa Jihan ingin mengakhiri hubungan tersebut.
Ternyata Jihan tidak langsung pergi bukan karena ingin menunggu Wina bangun, melainkan karena ingin putus.
Wina sudah bersamanya selama lima tahun, dia tahu hari seperti ini akan tiba, tetapi dia tidak ingin berakhir seperti ini.
Tanpa alasan dan penjelasan apa pun, tetapi hanya sekadar pemberitahuan.
Menahan rasa sakit di hati, Wina perlahan menengadah, melihat Jihan yang sedang mengenakan pakaian dan berkata, "Masih sisa enam bulan lagi, apa nggak bisa tunggu sampai selesai?"
Wina diberi tahu oleh dokter bahwa dirinya masih ada tiga bulan untuk hidup. Oleh karena itu, dia ingin menemani Jihan sampai akhir hayatnya.
Jihan tidak menjawab dan hanya menatap Wina dengan dingin. Tidak terlihat sedikit pun ekspresi berat hati. Hal ini membuat Wina merasa seakan-akan dia didepak begitu sudah bosan dimainkan.
Melihat Jihan diam membisu, Wina pun langsung sadar diri.
Sudah lima tahun, tetapi dia tetap belum bisa meluluhkan hati Jihan. Oleh karena itu, dia harus berhenti bermimpi lagi.
Wina mengambil kontrak itu. Dengan pura-pura santai, dia tersenyum manis dan berkata, "Jangan serius begitu, aku bercanda doang."
"Aku sudah lama ingin putus darimu. Aku malah senang kamu minta kontraknya berakhir lebih awal," tambahnya.
Tangan Jihan berhenti membetulkan lengan bajunya, alis matanya sedikit terangkat dan matanya yang dingin itu menatap Wina.
Melihat tidak ada sedikit kesedihan, tetapi malah sedikit kegembiraan dan lega di wajah Wina, Jihan mengernyit dan bertanya dengan datar, "Kamu sudah lama ingin mengakhiri hubungan ini denganku?"
Wina pura-pura tidak peduli, mengangguk dan berkata, "Ya, aku sudah nggak muda lagi. Sudah waktunya untuk menikah dan punya anak. Aku nggak mungkin terus bersamamu tanpa status yang jelas, 'kan?"
Di kehidupan ini, menikah dan memiliki anak merupakan hal yang mustahil bagi Wina. Namun, dia harus terlihat punya harga diri di depan Jihan.
Memikirkan hal tersebut, Wina tersenyum dan bertanya kepada Jihan, "Sekarang kontrak sudah berakhir, berarti ke depannya aku boleh punya pacar, 'kan?"
Tidak ada emosi yang terlihat dari mata Jihan. Setelah melihat Wina beberapa saat, dia mengambil jam tangan Blancpain yang diletakkan di samping kasur, berbalik dan pergi.
"Terserah kamu," jawabnya singkat sebelum pergi.
Sambil melihat punggung yang semakin menjauh itu, senyuman Wina perlahan memudar.
Wina tahu Jihan paling benci orang lain menyentuh barang-barangnya. Melihat tidak ada reaksi dari Jihan ketika mendengar dirinya ingin punya pacar, Wina merasa sepertinya Jihan benar-benar sudah bosan dengan dirinya.
Bab 2
Setelah Jihan pergi, asisten pribadi Jihan, Daris Surya, masuk membawa obat.
Daris menyerahkan obat itu sambil berkata dengan hormat kepada Wina, "Nona Wina, ini obatnya."
Obat itu adalah obat pencegah kehamilan. Karena Jihan tidak mencintai Wina, tentu saja tidak akan mengizinkan Wina untuk punya anak.
Setiap kali selesai bercinta, Jihan akan mengirim Daris untuk mengantarkan obat. Dia juga memerintah Daris untuk langsung melihat Wina meminum obat tersebut.
Melihat obat itu, hati Wina terasa sakit lagi.
Entah karena gagal jantung atau karena kekejaman Jihan, Wina merasa dadanya sesak hingga sulit bernapas.
"Nona Wina ...."
Melihat Wina tidak merespons, Daris memanggil sekali lagi karena takut Wina akan menolak obat itu.
Wina melirik Daris sejenak, lalu mengambil, memasukkan obat itu ke dalam mulut dan langsung ditelan tanpa minum air.
Selanjutnya, Daris mengeluarkan sertifikat rumah dan cek dari tas. Diletakkannya kedua kertas itu di depan Wina.
"Nona Wina, ini adalah kompensasi yang diberikan oleh Pak Jihan. Selain sertifikat rumah dan mobil mewah, ada tambahan uang senilai 100 miliar untuk Anda. Mohon diterima."
Jihan sungguh bermurah hati.
Sayangnya, yang diinginkan Wina bukanlah uang.
Wina menatap Daris sambil tersenyum dan berkata, "Aku nggak ingin semua ini."
Daris tertegun sejenak, lalu bertanya dengan bingung, "Apa masih kurang?"
Mendengar kata-kata tersebut, Wina merasa sedih.
Wina merasa Daris saja mengira dia melakukannya demi uang apalagi Jihan.
Dia memberiku uang perpisahan sebanyak itu supaya kelak aku nggak mengganggunya hanya demi uang, 'kan?'
Wina hanya tersenyum pahit. Kemudian, dia mengeluarkan kartu hitam dari tas dan menyerahkannya kepada Daris. "Ini pemberiannya, tolong kembalikan padanya. Bilang padanya aku nggak pernah menggunakan isi kartu ini sepersen pun. Tentu saja, aku nggak akan memungut biaya perpisahan darinya."
Mendengar itu, Daris benar-benar tercengang. 'Selama lima tahun ini, Nona Wina nggak memakai uang Pak Jihan sepersen pun?'
Terlepas dari apakah Daris percaya atau tidak, Wina langsung meletakkan kartu hitam itu di atas tumpukan sertifikat rumah.
Setelah itu, Wina pun meninggalkan Rumah Mansion No. 8.
Musim hujan di Kota Aster membuat cuaca sedikit dingin.
Wina berjalan di jalanan perumahan.
Bayangan yang terpantul di tanah terlihat sangat kurus.
Wina mengencangkan jaketnya, memaksa dirinya yang mengenakan sepatu hak tinggi itu berjalan kembali ke apartemennya.
Setelah membuka pintu apartemen, Wina melihat isi ruangan yang mewah dan luasnya menempati area satu lantai gedung itu apartemen. Namun, tidak terasa kehangatan sama sekali sama seperti hati Jihan.
Wina duduk di sofa, termenung sejenak, lalu mulai mengemasi barang-barangnya.
Apartemen ini diberikan kepadanya oleh Jihan.
Karena Jihan tidak menginginkan dirinya lagi, Wina juga tidak akan menginginkan apa yang Jihan berikan padanya.
Wina membuka lemari, memindahkan semua pakaiannya ke dalam koper. Karena barang bawaannya tidak banyak, setelah selesai berkemas, Wina pun meninggalkan apartemen itu.
Setelah masuk ke dalam mobil, dia mengirim pesan ke Daris: "Pak Daris, ini kata santi Apartemen Mentari, 0826."
Melihat pesan itu, Daris langsung mengerti.
'Nona Wina bukan hanya nggak menggunakan uang dari Pak Jihan sepersen pun, tetapi juga nggak menginginkan apartemen pemberian Pak Jihan. Sungguh berbeda dengan lima tahun lalu. Ketika dia memohon kepada Pak Jihan untuk membeli tubuhnya semalam dengan bayaran 2 miliar.'
Setelah kembali ke perusahaan, Daris mengembalikan semua barang itu sebagaimana adanya dan menyampaikan pesan Wina kepada Jihan.
Jihan melirik benda-benda di atas mejanya tanpa ada perubahan emosi. Kemudian, pandangannya tertuju pada kartu hitam itu dan bertanya kepada Daris, "Apa isinya lebih 2 miliar?"
Daris segera mengangguk dan menjawab, "Benar."
Sebelum kembali ke perusahaan, Daris pergi ke bank untuk memeriksa nominal di kartu hitam itu.
Selain uang yang dikirim Jihan setiap bulan, ada tambahan 2 miliar. Jelas sekali, 2 miliar ini adalah uang yang dikembalikan Wina ketika menjual dirinya sendiri kepada Jihan.
Mendengar itu, Jihan mengernyit. Setelah termenung beberapa saat, dia mengulurkan tangan mengambil kartu hitam itu dan mematahkannya.
Kemudian, Jihan mendorong tumpukan sertifikat rumah itu ke arah Daris. "Bereskan semuanya dengan bersih," perintahnya dengan dingin.
Daris hendak mengatakan hal baik mengenai Wina, tetapi Jihan sudah menyalakan komputer dan mulai bekerja.
Melihat itu, Daris tidak berbicara. Dia mengambil barang-barang di meja dan keluar dari ruang kantor direktur.
Bab 3
Sambil membawa koper, Wina pergi ke rumah teman baiknya, Sara Utari.
Wina mengetuk pintu dengan pelan, lalu berdiri di samping dan menunggu dengan tenang.
Wina dan Sara sama-sama yatim piatu. Mereka tumbuh bersama di panti asuhan, jadi hubungan mereka bisa dianggap seperti saudara.
Ketika dijemput pergi oleh JIhan, Wina ingat Sara pernah bilang kepadanya, "Wina, kalau dia nggak menginginkanmu lagi, ingat untuk pulang ke sini."
Perkataan itulah yang membuat Wina berani untuk tidak menginginkan rumah Jihan.
Sara membuka pintu dengan cepat. Ketika melihat Wina yang datang, dia langsung tersenyum cerah.
"Wina, kenapa kamu ada di sini?"
Wina mengencangkan cengkeramannya pada gagang koper, lalu berkata dengan sedikit malu, "Sara, aku ke sini untuk numpang di tempatmu."
Ketika matanya tertuju ke koper Wina, senyuman Sara langsung menghilang dan bertanya, "Apa yang terjadi?"
Wina tersenyum, seakan-akan tidak terjadi apa-apa, lalu berkata, "Aku putus dengannya."
Sara tertegun sejenak dan menatap Wina yang memaksakan diri untuk tersenyum.
Wajah Wina yang kecil itu terlihat sangat kurus dan pucat. Rongga matanya juga cekung ke dalam. Tubuhnya kurus seakan-akan bisa diterpa terbang oleh angin dengan mudah.
Melihat kondisi Wina seperti itu, Sara tiba-tiba merasa sangat sedih.
Dia segera melangkah maju dan memeluk Wina erat-erat, lalu berkata, "Jangan sedih, masih ada aku di sini."
Mendengar itu, mata Wina langsung berkaca-kaca.
Wina memeluk kembali Sara, lalu menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut dan berkata, "Aku nggak apa-apa, jangan khawatir."
Sara tahu, Wina hanya berusaha menghibur dirinya sendiri. Karena dia bisa melihat betapa Wina menyukai Jihan.
Dalam lima tahun terakhir, Wina bekerja keras untuk mengembalikan uang 2 miliar itu ke Jihan. Dengan bodohnya, Wina berpikir bahwa hal ini bisa mengubah kesan Jihan terhadapnya. Namun, pada akhirnya, dia ditinggal pergi begitu saja oleh Jihan.
Sara tiba-tiba teringat lima tahun lalu, ketika gemuruh air hujan mengguyur malam ....
Jika Wina tidak menjual dirinya demi Ivan Senio, Wina tidak akan bertemu Jihan dan pasti akan hidup bahagia.
Sayang sekali semuanya tidak bisa terulang ....
Karena tidak ingin Sara ikut bersedih, Wina pun melepaskan pelukannya dengan lembut. Kemudian, dia tersenyum dan berkata dengan lembut, "Kamu nggak mau menerimaku, jadi biarin aku berdiri di luar pintu terus? Aku sudah hampir mati kedinginan, nih!"
Melihat Wina masih sekuat sebelumnya, Sara perlahan merasa lega.
Sara yakin Wina tidak akan terpuruk lama-lama karena ditelantarkan sudah menjadi hal yang biasa bagi anak-anak yatim piatu seperti mereka.
Selama hidup dengan baik, tidak akan ada kendala yang tidak dapat diatasi.
Memikirkan hal ini, Sara merasa sedikit lebih lega. Dia mengambil koper Wina dan menariknya masuk rumah sambil berkata, "Jangan pernah bilang numpang lagi. Ini juga rumahmu. Kamu bisa tinggal di sini selama yang kamu mau!"
Setelah itu, Sara mengambil satu set piama bersih dan menyerahkannya kepada Wina sambil berkata, "Kamu mandi dulu, aku buatkan makanan enak untukmu. Habis itu, kamu bisa tidur dengan nyenyak. Jangan mikir yang aneh-aneh lagi. Oke?"
Wina mengambil piamanya dan mengangguk patuh, "Oke."
Sara selalu seperti itu, dia memperlakukan Wina sangat baik. Bagaikan seberkas cahaya yang menghangatkan hidup Wina.
Sayangnya, Wina mengidap penyakit yang akan merenggut nyawanya, gagal jantung stadium akhir.
Jika Sara tahu bahwa Wina akan meninggalkan dunia ini, dia pasti akan menangis.
Wina tidak ingin Sara yang lembut dan baik hati itu menangis karena dirinya.
Sambil memandangi sosok yang sedang sibuk di dapur itu, Wina menghampirinya dan berkata, "Sara, aku ingin berhenti dari pekerjaanku."
Sara mengangguk setuju, "Memang sudah waktunya kamu istirahat. Beberapa tahun ini, demi menghasilkan banyak uang, kamu sudah bekerja sangat keras sampai nggak bisa jaga penampilanmu. Cepat berhenti dan istirahat dengan baik di rumah. Masalah mencari nafkah serahkan padaku!"
Mendengar itu, hati Wina terasa hangat. Setelah dengan lembut menjawab "Oke", dia berbalik dan pergi ke kamar mandi dengan air mata berlinang.
Wina merasa takdir tidak pernah memihaknya.
Karena ditakdirkan untuk berpisah, Wina ingin menghabiskan sisa tiga bulannya menemani Sara.
Keesokan pagi, Wina merias wajah untuk menutupi wajah pucatnya dengan tebal dan pergi ke kantor untuk mengundurkan diri.
Di Kantor. Ketika Wina hendak menyalakan komputer untuk menulis surat pengunduran diri, salah satu koleganya, Vivi Yuwana, menghampirinya.
"Wina, kamu sudah lihat emailmu?"
Wina menggelengkan kepala. Saat akhir pekan, dia dijemput oleh Jihan, jadi tidak punya waktu untuk mengecek email yang masuk.
Vivi buru-buru memberitahunya, "Kak Hani mengirimkan pengumuman bahwa hari ini putri direktur utama akan mengambil alih sebagai CEO."
Wina tidak memiliki kesan apa pun dan tidak tertarik sama sekali terhadap putri direktur utama itu. Selain itu dia mengundurkan diri, jadi tidak masalah siapa yang mengambil alih posisi itu.
Sebaliknya, Vivi sangat tertarik. Dengan ekspresi gosip, dia berkata, "Aku dengar dia baru saja kembali dari belajar di luar negeri. Meskipun memiliki gelar doktor di bidang administrasi bisnis, dia nggak ada sedikit pengalaman nyata. Baru masuk langsung menempati posisi CEO, apa dia nggak takut digosipkan orang-orang?"
Yuna Safira yang duduk di sebelah Vivi ikut mencibir, "Siapa yang berani menggosipkan dia? Dia adalah wanita pujaan hati seseorang di Keluarga Lionel."
Ketika mendengar kata "Lionel", jari telunjuk Wina pada tetikus berhenti.
Bab 4
"Apa? Apa?" tanya Vivi.
Vivi seperti sudah mendengar sebuah rahasia besar. Dia menarik Yuna dengan penuh semangat dan bertanya, "Bukannya seseorang di Keluarga Lionel itu nggak tertarik pada wanita? Dia punya wanita pujaan hati? Lalu, wanita itu adalah CEO baru kita?"
Yuna tersenyum sambil menepuk-nepuk tangan Vivi dan berkata, "Lihatlah dirimu, info seperti ini pun nggak tahu. Kelak gimana kamu bisa bertahan di kantor CEO?"
Vivi dengan cepat menarik lengan baju Yuna dan berkata dengan manja, "Mohon bimbingannya, Kak Yuna!"
Yuna merendahkan suaranya dan berkata, "Pak Jihan dan putrinya direktur utama kita sudah kenal sejak kecil. Menurut rumor lima tahun lalu, Pak Jihan melamar si putri ini. Tapi si putri menolaknya karena ingin melanjutkan studinya. Sejak itu, mereka berdua ada sedikit konflik. Mereka nggak saling kontak selama lima tahun. Begitu si putri kembali, Pak Jihan secara pribadi pergi ke bandara untuk menjemputnya. Hal ini cukup untuk menunjukkan bahwa Pak Jihan masih memiliki perasaan mendalam terhadap wanita yang akan menjadi CEO kita itu."
Vivi menutup mulut dengan tangan dan matanya terbuka lebar. Wajahnya terlihat sangat gembira dan berkata, "Astaga! Sungguh drama kecil yang romantis!"
Sebaliknya, ekspresi Wina menjadi pucat dan hatinya terasa pilu.
'Ternyata Jihan mengakhiri kontrak kekasih rahasia itu lebih awal karena wanita pujaan hatinya sudah kembali.'
'Tapi, kalau dia sudah ada wanita pujaan hati, kenapa lima tahun lalu dia membeli kenikmatan satu malam tanpa ragu?'
'Meskipun sudah bercinta denganku sekali, dia tetap memaksaku untuk menandatangani kontrak itu.'
'Setiap kali menyentuhku, dia menjadi sangat gila hingga sulit mengendalikan dirinya sendiri.'
Wina sedikit tidak memercayai hal tersebut. Tepat ketika Wina hendak bertanya kepada Yuna dari mana dia mendengar gosip itu, dia melihat lift khusus CEO tiba-tiba terbuka.
Hani Vesha, asisten khusus direktur utama dan beberapa kepala departemen keluar lebih dahulu.
Mereka membungkuk dan memberi isyarat silakan kepada orang-orang di dalam sambil berkata, "Pak Jihan, Bu Winata, kantor CEO ada di sini, silakan masuk."
Begitu selesai berbicara, seorang pria yang mengenakan setelah mahal dan memancarkan aura dingin berjalan keluar dari lift.
Wajahnya sangat simetris dan tampan. Penampilan dan postur tubuhnya sangat memukau.
Bagaikan seorang bangsawan yang keluar dari lukisan. Perpaduan antara keanggunan dan ketidakpedulian membuat orang-orang tidak berani menatap langsung ke arahnya.
Hanya sekilas, Wina langsung mengenali Jihan. Hatinya tiba-tiba berdegap kencang. 'Kenapa dia bisa datang ke Perusahaan Krisan?' pikirnya dalam hati.
Tepat saat itu, dia melihat Jihan berbalik sedikit dan mengulurkan tangannya ke arah lift.
Segera, sebuah tangan putih halus bak susu diletakkan di telapak tangan Jihan.
Jihan mengerahkan sedikit tenaga, menggenggam tangan itu dan menarik wanita itu keluar.
Ketika Wina melihat wajah wanita itu, dia langsung mengerti alasan Jihan bersedia membeli kenikmatan satu malam dengannya.
Ternyata ada sedikit kemiripan antara Wina dan wanita pujaan hati Jihan, yaitu bagian antara alis dan mata mereka.
Hanya kemiripan itu sudah cukup bagi Wina untuk menyadari kenyataan yang pahit ini.
Sebelumnya, Wina mengira Jihan menyukai dirinya. Akan tetapi, dia tidak menyangka Jihan hanya menggunakan dirinya sebagai pengganti.
Wina merasa dadanya tiba-tiba sakit tanpa alasan. Kemudian, rasa sakit yang hebat itu membuat wajahnya menjadi pucat.
Melihat ini, Vivi segera bertanya dengan prihatin, "Wina, kamu kenapa? Kamu nggak enak badan?"
Wina menggelengkan kepalanya dengan lembut. Ketika Vivi ingin mengatakan sesuatu lagi, Hani dan yang lainnya berjalan ke arah mereka.
Wina dengan cepat menunduk, tidak berani melihat mereka. Namun, tangannya yang di atas keyboard tidak bisa berhenti gemetar.
Hani memperkenalkan mereka satu per satu, "Ini adalah kantor CEO, di dalam ada asisten CEO. Ke depannya, Bu Winata bisa cari mereka kalau membutuhkan sesuatu."
Winata mengangguk, lalu memandang semua orang dan berkata dengan lembut, "Selamat pagi semuanya, aku CEO baru kalian. Namaku Winata Nizari."
'Winata Nizari ....'
Mendengar nama itu, wajah Wina semakin pucat.
Adegan Jihan menggendongnya di tempat tidur dan menjeratnya gila-gilaan terus terlintas di benak Wina.
Saat itu, Jihan selalu memanggil Wina di telinganya dengan penuh hasrat.
Sekarang, Wina baru sadar bahwa yang sebenarnya ingin dipanggil Jihan bukanlah Wina, melainkan Winata ....
Wina mengepalkan tangannya. Kuku jari yang panjang itu menusuk dagingnya, tetapi Wina tidak merasakan sakit.
Perasaan setelah mengetahui dirinya dipermainkan lalu dicampakkan itu membuat matanya memerah.
Wina merasa dirinya sangat bodoh. Dia jatuh cinta pada Jihan karena merasakan kehangatan yang diperlihatkan Jihan sesekali.
Bab 5
Winata memperkenalkan diri dan mengucapkan beberapa kata, lalu mengikuti Hani ke ruang kantor CEO sambil mengait lengan Jihan.
Vivi terus melihat mereka berdua dengan ekspresi iri di wajahnya dan berkata, "Hari ini pertama dia menjabat, Pak Jihan secara pribadi mengantarnya. Apakah ini yang dinamakan keromantisan antara bos dan istri manisnya?"
Yuna meletakkan tangannya di bahu Vivi dan berkata, "Kamu nggak ngerti. Setelah kembali, dia langsung jadi CEO. Para pemegang saham perusahaan ini pasti nggak akan senang. Jadi, hari pertama menjabat, Pak Jihan secara pribadi mengantarnya hanya untuk memberi tahu para pemegang saham itu bahwa Keluarga Lionel mendukungnya di belakang!"
Vivi meletakkan tangan kecilnya di dagu dan terlihat sangat iri sambil berkata, "Ternyata ingin membantu 'istri' kecilnya, ya. Pak Jihan sungguh penyayang."
Yuna juga merasa iri dan berkata, "Kalau dia bukan putri direktur utama, mana mungkin pria berkuasa di Kota Aster tertarik padanya."
Vivi menggelengkan kepalanya karena tidak setuju. "Bu Winata sangat baik, berpendidikan tinggi dan cantik. Ngomong soal wajah ...." Vivi menoleh ke Wina dan lanjut berkata, "Menurutku, Wina mirip dengan CEO baru kita, 'kan?"
Yuna juga ikut menoleh dan berkata, "Eh, benar juga. Sekilas terlihat agak mirip, tapi menurutku Wina lebih baik!"
"Kalian jangan asal bicara," ujar Wina dengan wajah pucat. Dia lalu bangkit dan pergi ke toilet.
Melihat Wina yang berjalan pergi itu, Vivi sedikit khawatir dan bertanya, "Wina kenapa?"
"Mungkin cemburu karena wajahnya mirip dengan CEO itu, tapi kehidupan mereka berbeda!" cibir Yuna.
Vivi tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia tahu Yuna selalu bermuka dua, jadi dia merasa lebih baik tidak mengatakan apa pun lagi padanya.
Di toilet. Wina segera mengeluarkan obat jantungnya untuk menekan rasa sakit. Dia menelan obat itu tanpa minum air.
Setelah menenangkan diri cukup lama, dia menyalakan keran, membilas wajahnya dengan air dingin, lalu menatap dirinya di cermin.
Dia disiksa oleh penyakit, wajahnya pucat, tubuhnya sakit-sakitan dan lemah. Sedangkan Winata ....
Saat Wina termenung, terdengar pintu toilet dibuka dan Winata yang mengenakan hak tinggi itu berjalan masuk.
Wajahnya halus dan lembut, putih dan kemerahan, seluruh tubuhnya memancarkan kemuliaan dan keanggunan. Selain itu, dia juga berpendidikan tinggi. Kecantikan dan kecerdasan itu tidak akan pernah bisa ditandingi oleh Wina.
Ketika mata mereka saling bertemu, Wina tiba-tiba merasa sedikit rendah diri. Wina dengan cepat menundukkan kepalanya, mengambil tisu secara buru-buru, lalu berbalik dan hendak pergi.
"Tunggu sebentar."
Winata tiba-tiba menghentikannya.
Jantung Wina langsung berdebar kencang dan dia membeku di tempat seolah-olah telah melakukan kesalahan.
Jelas-jelas dia hanya korban yang dijadikan sebagai pengganti. Jelas-jelas dia tidak berbuat apa-apa, tetapi dia tetap merasa malu di hadapan Winata.
Winata menghampiri Wina dan tersenyum lembut sambil berkata padanya, "Kamu adalah asisten yang di kantor CEO, 'kan?"
Wina menekan kekacauan di hatinya. Sambil menunduk, dia mengangguk ke Winata dan menjawab, "Ya."
Winata melihat jam tangannya, lalu berkata kepada Wina, "Tiga puluh menit lagi aku akan mengadakan rapat umum bersama pemegang saham. Bisa tolong buatkan aku kopi dan antarkan ke kantor CEO?"
Wina tahu Jihan masih berada di ruang kantor CEO dan ingin menolak, tetapi dia belum mengundurkan diri, jadi masih harus melakukan apa yang diperintahkan atasannya.
Wina tidak punya pilihan selain menganggukkan kepala dan setuju. Dia berpikir, dia akan membuatkan kopi itu, lalu meminta Vivi atau yang lainnya untuk mengantar kopi itu ke Winata.
Setelah berterima kasih, Winata berjalan keluar dengan ekspresi dan aura seperti seorang CEO.
Kepercayaan diri dan kecantikan Winata sangat kontras dengan Wina.
Wina yang sedang sakit itu seperti versi palsu Winata. Hal ini membuat Wina merasa dirinya tidak berharga.
Wina diam ditempat, linglung sejenak. Setelah menenangkan diri, dia keluar dari toilet dan langsung menuju ke pantri kantor.
Setelah membuatkan kopi untuk Winata sesuai selera direktur utama, Wina hendak meminta Vivi dan yang lainnya untuk membantu mengantarkan kopi ke kantor CEO.
Namun, mereka semua sudah dipanggil untuk membereskan ruang rapat. Oleh karena itu, Wina harus mengantarkan kopi tersebut sendiri.
"Masuk," ujar Winata dengan lembut dari dalam.
Wina tahu bahwa dia akan canggung ketika masuk ke dalam.
Setelah mempersiapkan diri dan mengumpulkan keberanian, Wina akhirnya membuka pintu dan berjalan masuk.
Saat pintu terbuka, dia melihat Winata duduk di pangkuan Jihan.
Meskipun Wina sudah siap secara mental, ketika melihat pemandangan itu, tangannya yang memegang kopi itu mendadak gemetar sejenak.
Wina yang takut ketahuan segera menunduk. Dia pura-pura tidak peduli dan berkata, "Bu Winata, kopi Anda sudah siap."
Winata terlihat sedikit malu, lalu berkata pada Wina, "Taruh saja di sana."
Wina mengangguk, meletakkan kopi di meja, lalu berbalik dan berjalan keluar tanpa melihat ke arah Jihan sama sekali.
Setelah meninggalkan kantor CEO, kaki Wina terasa lemas. Dia berpegangan pada dinding untuk mendapatkan sedikit keseimbangan.
Posisi itu adalah posisi favorit Jihan. Wina juga pernah duduk di pangkuan Jihan.
Meskipun sekarang mereka tidak melakukan apa pun, pikiran Wina dipenuhi dengan gambaran mereka berdua saling menggosok telinga.
'Posisi yang digunakan padaku, mungkin juga akan digunakan pada Winata.'
'Salah, lebih tepatnya, posisi yang digunakan padaku, Jihan pasti sudah pernah menggunakannya pada Winata.'
'Aku hanya dianggap sebagai pengganti saja ....'
Bab 6
Sambil menahan rasa sakit jantungnya, Wina berjalan kembali ke tempat kerjanya.
Wina ingin segera mengundurkan diri. Dia tidak ingin di sisa waktunya, setiap hari melihat dua orang itu bermesraan.
Selain itu, dia juga takut tidak kuat menahan diri untuk bertanya pada Jihan mengapa dirinya dijadikan sebagai pengganti.
Setelah menulis surat permohonan pengunduran diri, Wina menemui Hani yang merupakan kepala asisten untuk meminta persetujuan.
Hani tidak memiliki kesan yang baik terhadap Wina. Oleh karena itu, setelah mengetahui Wina ingin mengundurkan diri, dia hanya berbasa-basi sebentar, lalu menyetujui hal tersebut.
Proses pengunduran diri memakan waktu satu bulan, jadi Wina tidak bisa langsung pergi begitu saja. Wina pun mengambil cuti tahunan setengah bulan terlebih dahulu.
Wina sudah bekerja di Perusahaan Krisan selama lima tahun dan memiliki cuti tahunan 15 hari. Mengambil semua masa cutinya sebelum mengundurkan diri merupakan hal yang normal.
Melihat Wina begitu ingin mengambil cuti itu, Hani melirik sinis sejenak dan berkata, "Aku bisa mengizinkan cutimu, tapi setelah kembali kamu harus selesaikan semua penyerahan pekerjaanmu."
"Baik," jawab Wina lalu mengambil tas dan meninggalkan Perusahaan Krisan.
Ketika bergegas keluar dari perusahaan, Wina bertemu dengan Emil Rinos, CEO dari Grup Rinos.
Emil adalah pria mesum yang terkenal di Kota Aster. Dia mempermainkan wanita dengan sangat kejam.
Ketika melihat Emil berjalan ke arahnya sambil tersenyum, Wina sangat ketakutan sampai berbalik dan berlari masuk kembali.
Namun, Emil berlari dengan cepat, lalu meraih tangan Wina dan menariknya ke dalam pelukannya. "Mau ke mana?" tanya Emil.
Setelah mengatakan itu, Emil dengan sengaja menundukkan kepala untuk mendekatkan wajahnya, lalu meniup telinga Wina.
Embusan napas yang terasa hangat itu membuat sekujur tubuh Wina merinding.
Wina mati-matian mendorong Emil menjauh, tetapi pinggangnya dipeluk dengan kuat oleh Emil sampai tidak bisa bergerak.
"Kamu wangi sekali ...."
Setelah mengisap rambut Wina, Emil hendak menyentuh payudara Wina.
Wina langsung menghentikan tangan Emil dan berkata dengan dingin, "Pak Emil, tolong jaga sikapmu."
Emil menggigit daun telinga Wina dan berkata, "Sikap apa?"
Suara Emil tidak jelek, tetapi apa yang dia katakan sangat menjijikan sehingga Wina sangat tidak suka padanya.
Wina memiringkan kepalanya, matanya menunjukkan rasa jijik yang ekstrem, tetapi Emil tidak keberatan sama sekali.
Karena semakin seorang wanita menolaknya, semakin besar pula keinginan dia untuk menaklukkan wanita tersebut. Hal ini akan memberinya kesenangan terbesar.
Emil mengangkat dagu Wina dengan satu tangan dan membelai pipinya berkali-kali dengan jari-jari tangan lain.
Wina menghempaskan tangan itu dan berkata dengan marah, "Pak Emil, aku dan kamu nggak akrab, jadi tolong jaga sikapmu."
Wina menjadi sasaran Emil sebulan lalu ketika Wina pergi mengirim dokumen ke Grup Rinos.
Sejak itu, Emil sering datang ke perusahaan untuk melecehkannya dengan alasan membicarakan bisnis.
Setiap kali bertemu dengan Wina, Emil akan melecehkannya dengan menyentuh atau menggodanya dengan kata-kata.
Sebelumnya, Wina masih membutuhkan pekerjaan, jadi tidak berani menyinggung perasaan dan selalu menoleransi Emil.
Namun, sekarang, Wina sudah mengundurkan diri dari Perusahaan Krisan, jadi dia tidak takut lagi pada Emil.
Wina tidak menyangka setelah memperlakukan Emil dengan dingin, Emil tidak kesal malah mencubit wajahnya dengan penuh kasih.
"Tidurlah denganku, setelah itu kita langsung akrab."
Wina merasa Emil sangat muka tebal. Sambil menahan rasa jijik, Wina mendorong tubuh Emil yang menempel padanya.
Melihat Wina semakin menolak, Emil semakin bersemangat. Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak mencium wajah Wina.
Sentuhan dingin itu hampir membuat Wina merasa mual dan ingin muntah.
Ketika dia hendak mendorong Emil menjauh, terdengar suara pria tua dari belakang.
"Jihan?"
Mendengar nama itu, Wina seketika membeku di tempat.
Wina yang masih dipeluk oleh Emil perlahan menoleh ke arah suara itu, lalu menatap Jihan yang berdiri di pintu masuk lift.
Karena sedikit jauh, Wina tidak bisa melihat ekspresi Jihan dengan jelas. Akan tetapi, ada sejenak dia merasa mata pria itu menatap ke arahnya. Aura dingin yang terpancar dari mata itu seakan-akan bisa menelannya.
Begitu masuk ke perusahaan, Haris Nizari, yang merupakan direktur utama Perusahaan Krisan, segera menghampiri para pemegang saham dan bertanya, "Jihan, hari ini tumben ada waktu datang kemari?"
Pada saat itulah, Jihan menarik pandangannya dan menoleh ke Haris sambil menjawab, "Aku mengantar Winata kemari."
Haris langsung mengerti bahwa Jihan datang untuk mendukung putrinya. Sambil mengangguk puas, dia berkata, "Terima kasih sudah repot-repot. Winata baru pulang dari luar negeri, dia langsung merepotkanmu."
Jihan tidak menunjukkan emosi, sudut bibirnya hanya terangkat sedikit dan berkata dengan sopan, "Aku kembali ke Grup Lionel dulu."
Haris buru-buru berkata, "Iya, pekerjaanmu jangan sampai tertunda. Dalam beberapa hari, aku dan Winata akan mengunjungi rumah Keluarga Lionel secara resmi."
Jihan hanya mengangguk, lalu berjalan pergi.
Sekelompok pengawal mengikuti Jihan. Dengan cepat kelompok pengawal itu terbagi menjadi dua tim untuk melindunginya.
Ketika melewati Wina, Jihan sama sekali tidak melihat ke arahnya.
'Benar, tadi pasti salah lihat. Jihan sama sekali nggak peduli padaku, jadi mana mungkin dia menatapku,' pikir Wina.
Bab 7
Setelah Jihan pergi, Emil baru menyadari bahwa dia adalah putra kedua dari Keluarga Lionel. Emil langsung melepaskan Wina dan mengejar Jihan untuk menyapa.
Akan tetapi, Jihan langsung masuk dan menutup pintu mobil dengan keras. kemudian, belasan mobil mewah yang berhenti di luar itu melaju pergi.
Pengejaran yang sia-sia. Emil hendak kembali mencari Wina, tetapi dia melihat Wina sudah melarikan diri dengan masuk ke dalam lift.
Emil menyentuh bibirnya yang baru mencium wajah Wina itu. Matanya memancarkan kegembiraan bagaikan serigala yang ingin menangkap mangsa.
"Jovin, selidiki alamatnya," perintah Emil.
"Ya," jawab Jovin Liman yang mengikuti di belakangnya.
Setelah sampai di rumah, Wina meletakkan tas, duduk di sofa dan termenung.
Dia terbangun dari lamunannya ketika ponselnya berdering.
Setelah mengeluarkan ponsel dari tas, Wina mengernyit ketika melihat nama panggilan di layar ponselnya itu.
'Kenapa Daris meneleponku?'
Wina ragu-ragu sejenak, lalu mengangkat panggilan itu, "Pak Daris, ada apa?"
Terdengar suara Daris dari ujung sana, "Nona Wina, tadi saat saya membersihkan apartemen, saya menemukan barang-barang Anda tertinggal di sini. Kapan Anda punya waktu mengambilnya?"
Wina mengira Jihan ingin menjelaskan sesuatu padanya. Dia tidak menyangka hanya masalah barang tertinggal. Hal ini membuat hatinya tiba-tiba terasa pilu.
"Pak Daris, tolong bantu buang saja."
Setelah mengatakan itu, Wina langsung mematikan panggilan itu tanpa menunggu balasan.
Kemudian, semua nomor kontak Daris dan Jihan dihapus bersih olehnya.
Kemarin, Wina masih berkhayal Jihan akan menghubunginya sehingga enggan menghapus nomor kontaknya.
Sekarang, Wina sudah mengetahui semua kebenaran, jadi dia sudah menyerah sepenuhnya.
Setelah mematikan ponsel, Wina berbaring di sofa dan tertidur.
Tidak tahu berapa lama Wina tertidur, tetapi ketukan pintu membangunkannya.
Akhir-akhir ini, karena Sara bekerja sif malam dan pulang larut malam, dia meninggalkan kunci rumah pada Wina.
Ketika mendengar ketukan pintu, Wina mengira Sara sudah pulang kerja, jadi dia segera bangkit untuk membukakan pintu.
Akan tetapi, setelah membuka pintu, yang ada di depan pintu bukanlah Sara, melainkan Emil.
Melihat wajah menjijikan itu, raut wajah Wina seketika menjadi pucat.
Wina buru-buru ingin menutup pintu, tetapi Emil mengulurkan tangannya dan mendorong pintu itu hingga terbuka lebar.
Ketakutan terhadap tindakan itu, Wina pun mundur selangkah.
"Pak Emil, apa yang ingin kamu lakukan?"
Wina tidak menyangka pria mesum itu menemukan tempat tinggalnya.
Melihat Wina seperti kelinci kecil yang ketakutan, Emil langsung merasa sangat menarik.
Emil meletakkan tanganya di pintu, memiringkan kepala sambil menatap Wina dan berkata, "Kenapa takut begitu? aku nggak akan makan kamu."
Mata hitam bercampur sedikit abu yang sedang menatap Wina itu memancarkan kesenangan seakan-akan sedang menangkap mangsa.
"Nona Wina, kamu nggak mempersilakan tamu masuk dan duduk?"
Emil bertanya dengan sopan, tetapi Wina ketakutan saat mendengar itu.
Dia tahu persis siapa Emil dan apa yang akan dia lakukan. Oleh karena itu, bagaimana mungkin dia membiarkan Emil masuk.
Wina berkata dengan ketus, "Maaf, ini rumah temanku, jadi nggak pantas membiarkanmu masuk."
Selesai mengatakan itu, Wina ingin menutup pintu dengan cepat. Akan tetapi, Emil langsung melangkah masuk dan menutup pintu itu pada saat yang sama.
Wina sama sekali tidak punya kesempatan untuk melarikan diri. Sekarang, ekspresinya berubah menjadi masam.
"Pak Emil, apa sebenarnya maumu?"
"Mau menidurimu."
Saat mengatakan itu, mata Emil langsung tertuju pada dadanya Wina. Dia sama sekali tidak menyembunyikan tujuannya.
Sebelum Wina pergi tidur, dia sudah mengganti pakaiannya dengan piama yang berkerah rendah.
Emil lebih tinggi dari Wina, jadi dia bisa melihat dengan saksama dari atas hingga bawah.
Melihat tatapan Emil itu, Wina segera menarik dua sisi piama luar untuk menutupi dadanya. Namun, karena tarikannya terlalu kuat, bagian yang menggembung itu tercetak sepenuhnya.
Meskipun terlihat pucat pasi, Wina tetap membuat orang terpikat padanya. Wina memiliki wajah yang lembut mulus, mata yang jernih seperti air, payudara yang montok, pinggang yang ramping serta paha yang putih.
Tubuh seseksi itu membuat darah pria dengan mudah mendidih hanya dengan sekali lihat.
Emil terpikat pada penampilan Wina ketika Wina datang mengantarkan dokumen. Pada saat itu, dia ingin segera 'melahap' Wina.
Sekarang Wina berdiri di depannya dengan piama tipis, jadi mana mungkin Emil bisa menahan diri.
Hasrat yang memenuhi sekujur tubuh membuat Emil kehilangan akal sehat dan mendorong Wina ke dinding.
"Aku akan beri kamu 2 miliar untuk bercinta denganku satu malam."
Wina sangat ketakutan hingga seluruh tubuhnya gemetar. Dia menggunakan kedua tangannya untuk menekan dada Emil agar tidak semakin mendekat.
"Pergi! Aku bukan wanita jalang!"
Wina baru saja keluar dari kehidupan dipelihara oleh orang lain. Dia tidak menyangka seseorang akan membeli tubuhnya dengan uang secepat ini. Dia merasa hal ini sungguh konyol.
"Sepuluh miliar ditambah dengan satu vila."
"Kamu beri aku 200 miliar pun, aku nggak mau. Sebaiknya kamu lepaskan aku atau aku akan panggil polisi!"
"Coba saja. Kita lihat siapa yang berani menangkapku!"
Emil sama sekali tidak takut, dia terus mencium wajah Wina secara paksa.
Wina berusaha semampunya untuk mengelak, tetapi Emil berhasil mencium keningnya.
Sentuhan dingin itu terasa seperti dijilat ular dan membuat Wina sangat mual.
Bab 8
Emil tidak memedulikan perasaan Wina dan langsung menanggalkan piamanya.
Ketika tangan dingin dan menjijikan itu menyentuh punggung bawahnya, Wina sangat ketakutan hingga berteriak.
"Emil!"
Suara pekikan itu sangat mengganggu. Namun, tangan Emil hanya berhenti sejenak, dia lanjut menarik celana dalam Wina.
Wina serasa ingin membunuhnya pun mengancam, "Emil, kalau hari ini kamu berani menodaiku, besok aku akan pergi ke pengadilan untuk menuntutmu!"
Tangan Emil berhenti lagi. Dia seperti mendengar sebuah lelucon sampai tidak bisa menahan diri untuk mencibir, "Aku nggak takut polisi, apa akan mungkin takut kamu menuntutku?"
Wina mengepalkan tangannya dan menggertakkan gigi, lalu berkata, "Aku tahu Keluarga Rinos punya latar belakang yang kuat, tapi sekarang zaman media. Kalau menggunakan kekuatanmu untuk menyelesaikan masalah, aku akan langsung melapor perbuatanmu ke media massa!"
Emil hanya mengangkat alisnya dan terlihat tidak peduli, lalu berkata, "Oke, kamu bisa mengekspos perbuatanku di media. Lagi pula, sudah lama nggak ada berita heboh mengenai diriku."
Perkataan Emil memperjelas bahwa dirinya tidak takut. Hal ini membuat Wina merasakan ketidakberdayaan yang mendalam. Pria di depannya ini bukan pria mesum biasa, tetapi seorang anak kaya dan memiliki kekuatan. Emil pasti bisa melenyapkan berita itu dengan cepat. Tidak ada gunanya Wina bersikeras melawan langsung Emil.
Kerasionalan Wina berangsur-angsur kembali. Dia mulai berpikir ketika berhadapan dengan orang seperti Emil, dia tidak boleh melawan secara paksa. Dia tidak memiliki kekuatan dan juga latar belakang yang kuat. Oleh sebab itu, jika ingin menyelamatkan diri, dia harus belajar untuk pura-pura berdamai dengan Emil.
Setelah berpikir seperti itu, Wina langsung berkata dengan lembut, "Pak Emil, aku nggak ada maksud menuntut ataupun mengancammu. Aku hanya nggak bisa melakukan hubungan fisik dengan orang yang nggak kucintai."
Mendengar itu, ekspresi Emil sedikit melembut. Namun, tidak berarti dia akan melepaskan mangsa yang sudah di depan matanya.
Emil menundukkan kepala, mencium tulang selangka Wina dengan kuat. "Tapi, aku tetap ingin menikmatimu, gimana dong?"
Wina merasa sangat mual, tetapi harus menahan diri. "Kalau begitu, beri aku waktu untuk beradaptasi dulu. Saat aku jatuh cinta padamu, semua akan terjadi secara alami. Kalau kamu melakukannya sekarang, hanya akan membuatku jijik."
Emil terlihat tidak peduli dan berkata, "Aku nggak peduli hal itu, yang penting aku merasa nikmat saja."
Sikap Emil yang tidak tahu malu itu membuat ekspresi Wina sedikit membeku.
Wina menahan dirinya yang ingin menampar wajah Emil. Dia lanjut membujuk Emil, "Pak Emil, aku dengar kalau dua orang yang sedang jatuh cinta melakukan hal itu, pengalaman yang dirasakan akan lebih baik daripada saat dipaksa. Apa kamu nggak ingin mencobanya?"
Emil bukanlah orang bodoh, tentu saja dia tahu bahwa Wina berbicara lembut seperti itu hanya untuk melarikan diri.
Emil mengira Wina adalah tipe wanita berbadan seksi, tetapi tidak punya otak. Dia tidak menyangka Wina cukup pintar. Emil merasa tertarik ketika melihat Wina langsung mengubah strategi begitu mengetahui ancaman tidak berguna.
Emil memiringkan kepala sambil menatap Wina sejenak. Dia tidak membongkar niat Wina dan berkata, "Melakukan secara paksa atau nggak, rasanya kurang lebih sama saja."
Perkataan yang memalukan itu tidak sepantasnya diucapkan secara terang-terangan. Emil tidak tahu malu, tetapi Wina masih tahu malu. Wina tetap sabar dan masih mencoba membujuk Emil, "Jauh berbeda. Hanya dua orang yang saling mencintai yang bisa merasakan perasaan itu."
Emil menunduk, mendekati wajah Wina dan berkata, "Apa kamu pernah mengalaminya?"
Ekspresi Wina sedikit membeku. Gambaran Jihan menggendongnya terlintas di benaknya dan membuat hatinya tiba-tiba terasa sakit.
'Apa reaksi Jihan kalau tahu aku ditindas oleh pria mesum ini?'
'Apa dia akan marah, cemburu atau ....'
Wina berkhayal tentang ribuan reaksi Jihan, tetapi ada sebuah suara di benaknya yang mengatakan Jihan tidak akan mungkin seperti itu.
Melihat Wina terdiam, Emil pun mencibir, "Kamu ingin aku tunggu sampai kamu jatuh cinta padaku baru bercinta denganmu? Kamu hanya bisa berkhayal saja."
Emil selalu menangkap mangsa untuk memuaskan hasratnya. Dia tidak punya waktu bermain cinta-cintaan dengan wanita-wanita yang membosankan dan merepotkan.
Wina sedikit frustrasi, tetapi melihat nafsu di mata Emil tidak sekuat sebelumnya, Wina mengumpulkan keberanian untuk melanjutkan bujukan lembutnya, "Pak Emil, beri aku waktu tiga bulan. Saat aku jatuh cinta padamu, aku akan rela tidur denganmu. Oke?"
"Nggak," tolak Emil tanpa ragu-ragu. "Tiga bulan terlalu lama, aku nggak bisa tunggu selama itu," ujarnya.
Meskipun Emil menolak, perkataannya menunjukkan masih bisa bernegosiasi. Wina dengan cepat bertanya, "Kalau dua bulan?"
Melihat mata Wina yang tiba-tiba berbinar itu, Emil tidak bisa menahan diri untuk tidak mencubit wajah Wina. "Aku bisa tunggu kamu selama tiga hari," ujar Emil.
Emil ingin langsung melakukannya, tetapi apa yang dikatakan Wina benar. Jika bercinta secara paksa, pengalaman yang dirasakan memang tidak terlalu bagus. Paling-paling hanya terasa menegangkan. Selain itu, butuh banyak usaha jika ingin menikmati lebih lama.
Oleh karena itu, Emil membiarkan Wina terbiasa terlebih dahulu. Bagaimanapun, dia hanya perlu menunggu beberapa hari dan bisa memanfaatkan waktu ini untuk menyiapkan lebih banyak alat.
Selain itu, Emil merasa wanita pintar dan cantik seperti Wina sebaiknya diikat di ranjang dan dimainkan perlahan-lahan, agar lebih terasa sensual dan menggairahkan.
Bab 9
Wina berencana mengundurkan waktu sampai tiga bulan karena pada saat itu dia sudah tidak berada di dunia. Keinginan Emil untuk menidurinya pun akan menjadi sia-sia.
Namun, Emil malah memperpendek waktunya menjadi tiga hari. Wina sulit menerima hal ini.
Saat Wina hendak mengatakan sesuatu, Emil tiba-tiba melepaskannya.
Setelah mendapatkan kebebasan itu, Wina menelan kembali apa yang ingin dia katakan. Dia berpikir setidaknya malam ini sudah terlepas dari niat jahat Emil.
"Sayang." Emil membungkuk dan mencium pipi Wina, lalu lanjut berkata, "Kalau begitu, hari ini aku pulang dulu. Tiga hari lagi, aku akan datang menjemputmu."
Sambil menutupi pipi yang dicium Emil itu, Wina sebenarnya merasa sangat merasa mual. Namun, di depan Emil, Wina menahan dirinya dan mengangguk patuh.
Melihat sikap Wina yang sangat patuh itu, Emil pun melepaskannya dan berjalan ke arah pintu.
Begitu tiba di depan pintu, langkah Emil tiba-tiba berhenti.
"Oh ya!" seru Emil sambil berbalik dan menatap Wina. "Sayang, nama teman baikmu Sara Utari, 'kan?" tanya Emil sambil tersenyum penuh arti.
Mendengar itu, ekspresi Wina yang masih pura-pura tenang seketika berubah menjadi masam.
'Ternyata dia tahu tentang Sara. Sepertinya dia sudah menyelidiki semuanya.'
Wina merasa sangat tidak nyaman setelah mengetahui informasi mengenai dirinya sudah diselidiki secara menyeluruh.
"Ada apa?" tanya Wina dengan ekspresi datar.
Emil tersenyum kecil dan berkata, "Nggak apa-apa, aku hanya ingin mengingatkanmu untuk menungguku di rumah dan jangan berkeliaran."
Meskipun tidak secara terang-terangan, Wina tahu Emil sedang mengancamnya.
Jika dia melarikan diri, Sara akan terjerat ke masalah ini.
Perasaan tak berdaya yang tak dapat dihindari ini membuat Wina merasa sedikit putus asa. Kepalan tangannya pun terlepas.
"Jangan sentuh dia. Aku akan menunggumu di rumah."
Emil memberikan ciuman terbang dan berkata, "Sayang, kamu manis sekali."
'Menjijikkan!'
Setelah Emil pergi, Wina menutup pintu dengan keras dan menguncinya, lalu segera masuk ke kamar mandi.
Setelah mengisi air, Wina masuk ke bak mandi. Dia mengambil sabun mandi, lalu menggosok dengan sekuat tenaga area di mana Emil mencium dan menyentuhnya.
Meskipun kulitnya sudah memerah dan mengelupas, Wina masih merasa jijik.
Dia terus membersihkan diri sampai rasa mualnya perlahan-lahan menghilang dan baru menjadi tenang.
Emil menggunakan Sara sebagai ancaman, jadi Wina tidak bisa melarikan diri. Jika tidak segera mencari jalan keluar lain, setelah tiga hari, dia pasti dimain Emil habis-habisan.
Wina keluar dari bak mandi dan melilitkan badannya dengan handuk. Dia kembali ke kamar, mengambil ponsel dan ingin menghubungi polisi.
Akan tetapi, teringat dengan latar belakang yang dimiliki Emil, Wina hanya bisa menggertakkan gigi dan menahan diri.
Wina bisa saja melawan Emil secara langsung karena hidupnya tidak akan lama lagi. Akan tetapi, Sara akan segera menikah, jadi Wina tidak ingin melibatkan Sara dengan bertindak gegabah.
Wina mematung di tempat dan berpikir cukup lama. Kemudian, dia membuka daftar kontak dan menemukan nomor yang sudah dia blokir.
Melihat nama yang tertera itu, jantung Wina tidak bisa berhenti berdetak.
'Dia satu-satunya orang yang dapat bersaing dengan Emil. Tapi, dia sudah nggak menginginkanku lagi. Kalau aku meneleponnya, apa akan diangkat?'
Wina bimbang untuk waktu yang lama. Pada akhirnya, dia tidak berani menelepon orang itu.
Wina sangat mengenal sifat Jihan. Jihan tidak akan pernah melihat kembali pada apa pun yang sudah bosan dimainkannya.
Oleh sebab itu, Wina merasa jika dia menelepon Jihan untuk minta bantuan, bisa saja akan dikira dia masih ingin mengganggu Jihan.
'Aku sudah memilih untuk pergi, lebih baik jangan ganggu dia lagi ....'
Beberapa hari ini, Wina pergi menduplikasi kunci rumah dan pergi ke rumah sakit untuk membeli beberapa obat.
Dokter yang mengobatinya menyarankan agar dia dirawat di rumah sakit dan menunggu donor jantung yang cocok, tetapi Wina menolak.
Penyakit jantung Wina bersifat bawaan dan kondisinya dapat dikontrol dengan pengobatan jangka panjang.
Namun, lima tahun lalu, karena ditendang dua kali dengan keras, kondisinya menunjukkan tanda-tanda penurunan.
Setahun ini, meskipun sudah diinfus dan makan banyak obat, kondisi penyakitnya sudah di luar kendali.
Wina tahu, hari-harinya sudah tidak banyak, jadi dia tidak banyak berharap bisa menemukan donor jantung yang cocok.
Setelah memakan segenggam obat-obatan, Wina memasukkan semprotan merica dan tongkat listrik kecil yang dia beli sebelumnya ke dalam tas.
Karena tidak punya cara lain, Wina hanya bisa melawan Emil sekuat tenaga. Hasil terburuk paling nyawanya menghilang. Namun, dia juga tidak akan membiarkan Emil hidup.
Bab 10
Setelah melakukan cukup banyak persiapan, Wina masuk ke sebuah mobil Maybach. Dia dijemput oleh asisten Emil yang bernama Jovin.
Wina mengira Jovin akan langsung mengantarnya ke rumah Emil. Dia tidak menyangka Jovin membawanya ke mal dan masuk ke salon.
Rambut Wina yang sepanjang pinggang itu ditata ke atas. Sanggul modern. Wajahnya dirias dengan tipis, tetapi sangat indah. Tubuhnya mengenakan gaun malam mahal yang seakan disiapkan khusus untuknya. Sangat sempurna. Selain itu, lehernya mengenakan kalung berlian seharga puluhan miliar. Semua ini membuat sosok Wina tampak elegan.
Ketika becermin, Wina merasa sangat aneh. Yang dipantulkan cermin itu seperti bukan dirinya, melainkan seperti Winata.
Jika Jihan melihat dirinya seperti ini, Jihan mungkin akan mengira dia sengaja meniru Winata.
Memikirkan hal itu, Wina hanya bisa mentertawakan dirinya sendiri.
Setelah transformasi selesai, Jovin segera mengantar Wina ke sebuah bar.
Bar yang didatangi Wina ini merupakan bar termahal di Kota Aster. Hanya orang-orang yang sangat kaya dan terhormat sering mengunjungi bar tersebut.
Bar tersebut sangat menjaga privasi para pelanggan yang datang. Tidak ada kamera pengawas sama sekali. Kalaupun ada, akan sulit untuk mendapatkannya.
Alasan itulah yang membuat banyak anak dari keluarga kaya raya suka melakukan hal-hal mesum di bar itu.
Emil memilih tempat seperti itu sudah pasti ingin menikmati Wina tanpa ampun.
Memikirkan dia akan dipaksa bercinta, detak jantung Wina saat ini melonjak secepat lift yang dia naiki.
Saat hampir tiba di lantai atas, Wina baru menenangkan diri. Dia meremas tas di tangan, mengikuti Jovin keluar dari lift dan berjalan ke sebuah ruangan VIP.
Jovin mengeluarkan sebuah kartu VIP. Setelah digesek, pintu otomatis mewah itu perlahan terbuka.
Begitu pintu terbuka, nuansa lampu remang-remang dan musik klasik barat masuk ke mata dan telinga Wina.
Hal tersebut mengejutkan Wina. Menurutnya, Emil seharusnya lebih suka tempat yang seperti kelab. Namun, dekorasi di ruangan itu berbeda, terlihat sangat mewah. Alunan musiknya bahkan tidak memekakkan telinga seperti di kelab. Sebaliknya, sangat nyaman di telinga.
Ketika Wina berdiri di depan pintu dan melihat sekeliling, sebuah tangan besar dan kuat tiba-tiba meraih pinggangnya.
Emil memeluk, menundukkan kepala dan mencium pipi Wina. "Sayang, hari ini kamu cantik sekali," ujarnya.
Mendengar itu, Wina sangat ingin muntah. Dia menoleh untuk menghindari sentuhan Emil, tetapi tatapannya tanpa sengaja tertuju pada pria yang duduk di area sofa.
Pria itu mengenakan kemeja putih. Bagian kerah yang sedikit terbuka itu memperlihatkan tulang selangka yang memikat.
Lengan kemejanya digulung sampai melewati siku. Jari-jari yang panjang itu sedang memegang gelas anggur.
Anggur merah di dalam gelas itu semerah darah karena pengaruh ruangan cahaya yang remang-remang. Bagaikan anggur merah itu, mata pria yang sedang menatap Wina begitu merah dan tajam seakan-akan bisa menembus orang.
Wina tidak menyangka Jihan juga berada di sini. Dia sedikit terkejut.
Awalnya, dia mengira Jihan dan Emil tidak berada di kalangan yang sama.
Keluarga Lionel termasuk dalam keluarga konglomerat dan menguasai jalur penting ekonomi se-Asia. Sedangkan Keluarga Rinos hanyalah keluarga berpengaruh di Kota Aster. Jika dibandingkan dengan Keluarga Lionel, bisa dikatakan mereka masih bukan apa-apa.
Oleh karena itu, Wina tidak menyangka dua orang dari latar belakang yang sangat berbeda itu bisa kumpul bersama di tempat hiburan semacam ini.
Wina tiba-tiba merasa beruntung karena hari itu dia tidak jadi menelepon Jihan. Kalau tidak, dia tidak hanya akan malu, tetapi juga harus menghadapi penolakan Jihan yang kejam.
'Mana mungkin Jihan akan menyinggung perasaan sahabatnya hanya demiku?'
'Tapi ... kenapa dia menatapku seperti itu?'
'Apa dia marah karena melihat aku dicium pria lain?'
Tepat ketika pikiran Wina sedang melayang-layang, Jihan tiba-tiba mengalihkan pandangannya. Seakan-akan tatapan Jihan sebelumnya hanyalah pandangan biasa.
Melihat itu, hati Wina seperti tersengat sesuatu. Perih. Wina pun berpikir dalam hati, 'Ya, mana mungkin orang sedingin Jihan peduli aku dicium pria lain atau tidak.'
Selanjutnya, Wina juga mengalihkan pandangannya. Dia berkonsentrasi menangani Emil, "Pak Emil, kenapa kamu bawa aku ke tempat seperti ini?"
Sambil mencubit wajah Wina dengan penuh kasih, Emil berkata, "Aku kenalin kamu sama beberapa temanku dulu. Habis itu, kita baru pergi melakukan sesuatu yang menarik."
Mendengar itu, ekspresi Wina seketika berubah. Wina berpikir tampaknya dia harus segera menemukan cara untuk melarikan diri.
Ketika sedang memikirkan cara menghadapi Emil, Wina tiba-tiba didorong maju oleh Emil ke depan Jihan.