Kehidupan Edo yang Menakjubkan

Đang tải thông tin quảng bá...

Kehidupan Edo yang Menakjubkan

GoodNovel Hoàn thành

Kakak iparku ingin punya anak, tapi belum bisa hamil. Aku ingin sekali membantu kakak iparku ....

Chương (1)

第1章

Bab 1 Pada pukul sebelas malam. Aku pergi lari malam di taman di bawah rumah kakakku. Tiba-tiba aku mendengar suara gemerisik seorang pria dan seorang wanita yang datang dari rerumputan. "Wiki, kamu sebenarnya mampu nggak? Kamu bilang kamu nggak terangsang kalau di rumah. Aku ikut ke sini bersamamu, kenapa kamu masih seperti ini?" Saat aku mendengarnya, bukankah ini suara anggun Kak Nia? Bukankah kakakku dan Kak Nia pergi makan malam? Kenapa muncul di taman, bahkan di rerumputan? Biarpun belum pernah punya pacar, aku sudah menonton banyak video instruksional, jadi aku langsung mengerti bahwa mereka sedang mencari sensasi. Nggak kuduga kakakku dan Kak Nia jago mainnya! Mereka ternyata melakukannya di taman ... ini seru sekali. Mau tak mau aku pun mendekat dan menguping. Kak Nia sangat cantik dan memiliki bodi yang super seksi. Mendengar rintihan Kak Nia adalah impianku. Aku berjingkat ke rumput dan diam-diam menjulurkan kepalaku. Kulihat Kak Nia duduk di atas kakakku. Walaupun punggungnya menghadap ke arahku, tapi lekuk punggungnya yang anggun terlihat begitu indah. Mulutku tiba-tiba terasa kering dan perutku di bagian bawah terasa panas. Menghadapi Kak Nia yang begitu memikat, kakakku sedikit kewalahan, "Nia, aku ... sepertinya masih belum bisa." Kak Nia dengan marah membentak kakakku, "Kamu payah. Umurmu baru tiga puluh lima tahun. Apa gunanya kamu?" "Biarpun nggak bisa mengeras, setidaknya kamu berikan aku sesuatu yang berguna, tapi itu pun kamu nggak bisa. Bagaimana aku bisa hamil kalau seperti ini?" "Kalau kamu tetap seperti ini, aku akan cari orang lain!" "Kamu mungkin nggak ingin menjadi seorang ayah, tapi aku ingin menjadi seorang ibu." Kak Nia dengan marah menarik celananya dan berjalan keluar. Aku sangat ketakutan sehingga aku berbalik dan lari. Tak lama setelah kembali ke kamar, kudengar Kak Nia kembali. Kak Nia membanting pintu hingga tertutup, itu membuatku takut. Aku diam-diam menepuk dadaku, aku sangat ketakutan. Aku tidak menyangka kalau kehidupan pernikahan kakakku dan Kak Nia begitu tidak harmonis. Konon wanita yang berusia tiga puluhan itu ibarat serigala dan harimau. Kak Nia terlihat seperti tipe wanita yang bergairah tinggi. Bagaimana kakakku bisa memuaskannya dengan tubuh kecilnya itu? Kalau itu aku, masih lumayan. Bah bah bah! Apa yang kupikirkan, Nia Gaori adalah kakak iparku, bagaimana aku bisa mengincarnya? Biarpun Wiki Cahyadi dan aku bukan saudara kandung, hubungan kami lebih dekat dibandingkan saudara kandung. Kalau bukan karena Wiki, aku tidak akan menjadi mahasiswa. Oleh karena itu, aku sama sekali tidak boleh mengincar Kak Nia. Saat aku sedang berpikir liar, samar-samar aku mendengar suara terengah-engah dari sebelah. Aku segera menempelkan telingaku ke dinding dan mendengarkan. Itu memang suara terengah-engah! Kak Nia ternyata .... Aku merasa panas dan tak tertahankan. Aku melakukan hal buruk secara diam-diam. Pada akhirnya, suara-suara di kedua sisi tembok saling tumpang tindih. Kecocokan spiritual seperti ini membuat aku sedikit berkhayal. Menurutku kalau aku berhubungan intim dengan Kak Nia maka pasti akan sangat harmonis. Tapi, hal ini tidak mungkin dilakukan. Ada kakakku yang menjadi penghalang antara aku dan Kak Nia. Tidak mungkin aku berbuat sesuatu yang bersalah pada kakakku. Aku melepas celana dalam yang kotor dan menaruhnya di kamar mandi di luar, aku akan mencucinya ketika bangun di pagi hari. Lalu aku tertidur. Aku tidur sampai sekitar jam sembilan keesokan harinya. Saat aku bangun, kakakku sudah berangkat kerja, hanya aku dan Kak Nia yang berada di rumah. Kak Nia sedang membuat sarapan. Kak Nia mengenakan piama tali ikat sutra, jadi sosok montoknya terlihat jelas di hadapanku. Apalagi kemontokan di bagian dada dia, itu membuatku merasa haus lagi. "Edo sudah bangun? Ayo mandi dan sarapan." Kak Nia melihatku dan berinisiatif menyambutku. Aku baru beberapa hari tinggal di sini, aku belum terlalu mengenal Kak Nia, jadi aku merasa agak canggung. Aku hanya berkata "oh" dengan ringan dan pergi ke kamar mandi. Saat mandi, tiba-tiba aku teringat sesuatu. Celana dalam yang aku ganti tadi malam ada di sini. Kak Nia bangun lebih awal dariku, jadi dia pasti sudah melihat celana itu 'kan? Aku segera melihat ke rak, tapi aku tercengang saat melihat celana dalamku hilang! Saat aku sedang melihat sekeliling, tiba-tiba terdengar suara Kak Nia dari belakangku, "Nggak usah cari, sudah kucuci." Aku langsung merasa malu. Celana dalam itu penuh dengan kotoran. Apa Kak Nia tidak melihatnya saat mencuci? Ini terlalu memalukan! Kak Nia malah menyilangkan tangan di dada dan menatapku sambil tersenyum, seolah tidak ada yang salah, "Edo, apa kamu mendengar sesuatu tadi malam?" Aku menggeleng-gelengkan kepala dengan panik, sampai mati pun aku tidak bisa mengakui kalau aku mendengar Kak Nia melakukan hal seperti itu sendirian. "Nggak, nggak ada, aku nggak mendengar apa pun." "Benarkah? Apakah kamu nggak mendengar suara-suara aneh datang dari kamarku?" Kak Nia sedang mengujiku. "Aku tidur sekitar jam sepuluh tadi malam, aku benar-benar nggak mendengar apa pun." Setelah mengatakan itu, aku lari. Entah apa yang terjadi, tapi saat diinterogasi Kak Nia, aku merasa sangat bersalah dan mataku tak bisa menahan diri untuk tidak tertuju pada dada Kak Nia. Ini seperti sihir. Aku sedang duduk di meja makan sambil makan. Sebenarnya aku tidak fokus, karena Kak Nia segera menghampiriku lagi dan duduk di sebelahku. Aku mempertanyakan apa yang ingin Kak Nia lakukan? Kami biasa duduk berhadapan saat makan, kenapa dia tiba-tiba duduk di sebelahku? Saat aku sedang berpikir liar, Kak Nia tiba-tiba menyentuh lembut lenganku dengan jarinya. Tiba-tiba aku merasa mati rasa di sekujur tubuh, seolah-olah aku tersengat listrik. Aku juga mendesah dalam hati, ternyata begini rasanya disentuh oleh seorang wanita. Sentuhan ini sangat luar biasa. "Edo, sepertinya kamu takut padaku, ya?" "Nggak, aku hanya kurang begitu mengenal Kak Nia, jadi aku sedikit berhati-hati." "Bukankah semua orang berubah dari nggak akrab satu sama lain menjadi akrab? Justru karena kita nggak akrab maka kita perlu lebih banyak berkomunikasi, agar kita bisa lebih cepat dan lebih dekat satu sama lain secara efektif." "Edo, tahukah kamu cara apa yang paling cepat dan efektif agar pria dan wanita bisa akrab satu sama lain?" Entah itu hanya imajinasiku, aku hanya merasa Kak Nia sedang memberi isyarat padaku? Aku sangat bingung sehingga aku bahkan tidak repot-repot makan. Aku merasa antusias sekaligus gugup. Apalagi aku ingin tahu apa yang dimaksud Kak Nia? Jadi aku memberanikan diri bertanya, "Kak Nia, apa itu?" "Menciptakan manusia!" Kak Nia menatapku dengan mata besarnya yang cerah dan berkata langsung. Aku langsung tersedak. Aku berpikir dalam hati, kenapa Kak Nia berkata seperti itu padaku? Dia adalah kakak iparku, aku tidak bisa melakukan ini padanya. Mungkinkah Kak Nia sedang mengincarku? Kakakku tidak mampu, jadi dia menaruh harapannya padaku? Tidak, tidak, aku tidak boleh bersalah pada kakakku. Aku segera menarik bangku ke samping dan berkata, "Kak Nia, jangan bercanda. Kalau orang lain mendengarnya, mereka akan salah paham." "Pfft." Kak Nia langsung tertawa saat melihat tatapanku, lalu berkata, "Kalau begitu katakan sejujurnya, apa kamu mendengar sesuatu tadi malam? Kalau kamu masih nggak mau mengatakan yang sebenarnya, aku akan berdiskusi mendalam denganmu." Aku ketakutan hingga hampir buang air kecil, aku berpikir ini tidak mungkin terjadi, jadi aku panik dan berkata, "Kak Nia, aku memang mendengar suara-suara tadi malam, tapi itu secara nggak sengaja." "Apakah itu eranganku, merdu nggak?" Aku tidak menyangka Kak Nia akan menanyakan hal ini. Aku tersipu malu hingga jantungku hampir copot. Aku benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Saat ini, ada ketukan di pintu di luar. Seolah-olah aku sudah menemukan penyelamat, aku segera berlari dan membuka pintu. Ketika aku membuka pintu, aku melihat seorang wanita jangkung dan ramping berdiri di depan pintu. Dia sangat cantik dan memiliki sosok yang berlekuk, seperti bintang wanita. Wanita itu menatapku, mengedipkan mata hitam besarnya dan bertanya, "Siapa kamu?" Aku juga bertanya-tanya, "Siapa kamu?" Bab 2 "Lina, kamu sudah sampai, ayo masuk, duduk dulu." Selagi aku bertanya-tanya, Kak Nia menghampiri dan berkata kepada wanita itu dengan sangat antusias. Wanita itu masuk ke dalam rumah atas ajakan Kak Nia. Kak Nia memperkenalkan kami satu sama lain. Ternyata wanita itu adalah sahabatnya yang bernama Lina Lasma yang tinggal di sebelah. "Lina, ini adik Wiki dari desa yang sama. Namanya Edo Didi. Dia baru tiba kemarin." Lina menatapku dengan heran, lalu berkata sambil tersenyum, "Aku nggak menyangka adiknya Wiki begitu muda dan tampan!" "Edo baru saja lulus kuliah, bagaimana mungkin nggak muda? Selain itu, dia bukan hanya muda, dia juga sangat kuat." Entah apakah itu hanya imajinasiku, aku merasa perkataan Kak Nia ada maksud lain dan matanya menatap bagian tertentu di tubuhku. Itu membuatku merasa sangat tidak nyaman. Lina menatapku dari atas ke bawah dan bertanya, "Nia, kalau begitu tukang pijat yang kamu bicarakan itu adikmu ini 'kan?" "Benar, itu Edo. Dia belajar ilmu pijat dari kakeknya selama beberapa tahun ketika kecil, tekniknya sangat bagus." Setelah Kak Nia selesai berbicara, dia menatapku lagi, "Tadi aku nggak sempat memberitahumu, jadi aku akan menjelaskannya padamu sekarang. Sahabatku menderita sakit punggung dan leher sepanjang tahun, kadang-kadang dada dan napas sesak. Dia ingin mencari dokter TCM untuk pemijatan." "Aku pikir kamu bisa pijat, jadi aku memintanya datang untuk coba." Ternyata begitu. Aku langsung setuju. Kak Wiki dan Kak Nia mengizinkanku tinggal di rumah mereka dan mengatakan mereka akan membantuku mengatur pekerjaan. Bukankah pantas kalau aku memberikan sedikit bantuan untuk mereka? Lina agak malu dan menarik Kak Nia ke samping, "Ini nggak pantas, adikmu masih sangat muda." "Apa salahnya dia muda? Bukankah muda itu bagus? Justru karena dia masih muda dan kuat maka dia bisa melayani wanita muda sepertimu dengan nyaman." "Apa yang kamu bicarakan? Aku bukan orang seperti itu." Lina tersipu. Kak Nia berkata sambil tersenyum, "Aku hanya bercanda, kamu sendiri yang berpikir aneh-aneh, apa kamu berpikir yang porno? Jujur saja, Johan belum kembali dalam setengah tahun, apa kamu sama sekali nggak mendambakannya?" "Kalau kamu bicara seperti ini lagi, aku akan pergi." Telinga Lina memerah. Kak Nia segera menggandeng lengan Lina dan berkata, "Baiklah baiklah, aku nggak akan tanya lagi, aku tahu kamu adalah wanita yang disiplin dan anggun. Tapi, biar kuberi tahu, teknik adikku sangat bagus, kamu coba saja dulu " "Lebih baik dipijat pria muda dan tampan daripada dipijat pria tua di luar." Lina merasa perkataan Kak Nia masuk akal, maka dia pun mengangguk. "Kalau begitu kamu temani aku, kalau nggak, aku akan merasa canggung." "Baiklah, kutemani." Mereka berdua "berbisik" sebentar, lalu mendatangiku. Lina meminta Kak Nia dipijat terlebih dahulu, dia ingin melihat hasilnya terlebih dahulu. Kak Nia tidak berkata apa-apa dan hanya berbaring di sofa. "Edo, ayo mulai." Aku mengambil bangku dan duduk di samping Kak Nia dan mulai memijat bahunya. Sosok Kak Nia sangat seksi dan montok, bokongnya yang bulat juga menungging. Itu membuatku ingin menepuknya. "Nia, bagaimana? Nyaman nggak?" tanya Lina penuh perhatian. "Tentu saja nyaman. Sudah lama aku nggak merasa senyaman ini," gumam Kak Nia membuat aku dan Lina tersipu malu. Aku pun merasa sedikit tidak nyaman di bagian bawah perutku. Lina juga sedikit canggung dan kakinya dijepit erat. "Oke, Lina, giliranmu." Kak Nia bangkit dari sofa dan menuangkan air untuk kami. Lina sedikit pemalu, jadi setelah berbaring, dia menutupi kakinya dengan selimut. Sangat disayangkan bahwa kaki indah seperti itu tertutupi. Tapi, betapa pun Lina menutupinya, itu tidak bisa menutupi bodi seksinya. Dia memiliki sosok yang ramping, tapi montok dan berisi, besar di bagian yang seharusnya dan ramping di bagian yang seharusnya, dengan wajah kekanak-kanakan dan berpayudara besar. Saat tanganku menyentuh bahunya, seluruh tubuhku menegang. Aku tidak berani memimpikan terjadi sesuatu dengan Kak Nia. Apakah aku tidak boleh memimpikan terjadi sesuatu dengan sahabatnya? Selain itu, kudengar dari Kak Nia, wanita ini pasti sangat kesepian karena suaminya lama tidak berada di rumah. "Kak Lina, nyaman nggak?" tanyaku ragu-ragu. Lina tidak menjawab, tapi berkata "hmm" dengan malu-malu. Aku melihatnya merespons dan menjadi lebih berani. "Ada satu teknik lagi yang bisa membuatmu lebih nyaman." Tanganku meluncur ke punggungnya perlahan. Tubuh Lina bergetar, "Apa yang kamu lakukan?" "Bukankah pinggangmu sakit? Biar kupijat pinggangmu." Lina tidak mengatakan apa-apa, itu berarti dia menyetujuinya. Setelah tanganku meluncur ke pinggangnya, aku mulai memijat pinggangnya. Pinggang Lina kecil sekali! Sungguh ramping. Tapi, pantatnya cukup besar, bulat dan montok, itu adalah pinggul yang bagus. Aku berkata pada Lina, "Kak Lina, sebenarnya nggak ada masalah besar dengan bahumu, tapi cukup banyak masalah dengan pinggangmu." "Ah, ada apa dengan pinggangku?" Lina bertanya dengan gelisah. Aku memijat pinggangnya dan berkata, "Kamu mengalami lemah ginjal. Kalau lemah ginjalnya serius, kamu akan mengalami sakit punggung." "Benarkah hanya laki-laki yang menderita lemah ginjal? Aku perempuan, apa aku juga menderita lemah ginjal" "Itu sebenarnya salah paham. Bukankah laki-laki dan perempuan punya dua ginjal?" "Kebanyakan orang hanya mengetahui bahwa pria akan menderita defisiensi ginjal kalau melakukan terlalu banyak hal seperti itu, tapi hanya sedikit orang yang mengetahui bahwa kekurangan energi dan darah pada wanita juga bisa menyebabkan defisiensi ginjal." "Lihat dirimu, wajahmu sedikit pucat. Ini tandanya energi dan darah nggak mencukupi. Kalau diabaikan dalam waktu lama, itu akan menimbulkan masalah lain." "Apa yang harus dilakukan?" Lina bertanya tanpa sadar. Aku tersenyum dan berkata, "Sebenarnya masalah kamu belum serius. Kalau aku memijatmu untuk kurun waktu tertentu, kondisi kamu akan membaik." "Oke, kalau begitu cepat pijat aku." "Oke, kalau begitu aku mulai." Aku menelusuri pinggang bawah Lina. Aku merasakan tubuh Lina menegang, tapi dia tidak berkata apa-apa. Hal ini membuatku semakin berani. Aku menyentuh pinggul Lina dan perlahan mengangkat selimut yang menutupi kakinya. Kaki mulus dan ramping itu, seperti batu putih, sungguh indah. Akhirnya aku memegang kaki Lina dan menekan titik akupunktur di telapak kakinya. Lina mau tidak mau mengerang. Wajahnya memerah. "Kak Lina, apa kamu baik-baik saja?" tanyaku khawatir. Napas Lina menjadi cepat, "Nggak apa-apa, Edo, lanjutkan saja." Aku terus menekan telapak kakinya. Di saat yang sama, mau tak mau aku mengintip ke balik roknya. Sayangnya, Lina selalu menyilangkan kaki sehingga aku tidak bisa melihat apa pun. Setelah ditekan sebentar, aku merasa ini kurang memuaskan, maka aku dengan berani berkata, "Kak Lina, bukankah dadamu dan napasmu sesak? Bagaimana kalau aku pijat juga." Saat aku mengatakan itu, tanpa sadar aku melihat ke arah dada Lina. Alangkah baiknya kalau aku bisa memijatnya nanti. Tadinya aku khawatir Lina akan menolak, tapi tak disangka Lina berkata, "Oke, oke." Tiba-tiba aku bersemangat dan menarik bangku ke depan, "Kak Lina, kamu berbaring terlentang saja, biar gampang pijatnya." Lina sangat patuh, dia berbalik dan berbaring di sofa. Biarpun payudaranya tidak sebesar milik Kak Nia, tapi payudaranya sangat montok. Aku belum pernah menyentuh seorang wanita sebelumnya, aku merasa sangat gugup saat ini. Aku hendak memulai ketika suara Kak Nia tiba-tiba terdengar, "Loh, perkembangan kalian sangat pesat." Bab 3 Aku segera berdiri seperti anak kecil yang berbuat jahat, "Kak ... Kak Nia, kenapa kamu ada di sini?" Lina pun merasa bersalah dan segera duduk di sofa. Wajah cantiknya semerah apel. "Nia, jangan terlalu banyak berpikir. Nggak terjadi apa-apa antara aku dan Edo. Aku hanya merasa dada dan napas sesak, jadi ingin dia pijat." Lina menjelaskan dengan rasa bersalah. Kak Nia tersenyum dan berkata, "Aku nggak bilang apa-apa tentang kalian. Kenapa kamu gugup sekali?" "Atau jangan-jangan kalian melakukan sesuatu yang buruk di belakangku?" Lina dan aku menggelengkan kepala pada saat bersamaan. Di saat yang sama, kami merasa panik. Aku ternyata menyentuh sahabat Kak Nia. Kalau Kak Nia mengetahui hal ini, dia pasti akan mengusirku. Tapi, Lina gelisah, dia berbohong bahwa ada urusan dan pergi dengan tergesa-gesa. Kulihat Kak Nia memandangi punggung Lina yang pergi dengan tertegun. Beberapa saat kemudian, Kak Nia menatapku dan berkata, "Edo, apa pendapatmu tentang sahabatku?" "Hah?" tanya Kak Nia tiba-tiba yang membuatku semakin panik. Aku tergagap, "Kak Lina lumayan bagus. Dia cantik, bodinya bagus dan sifatnya baik." "Kalau begitu, kalau aku memintamu untuk mengejarnya, apa kamu mau?" Perkataan Kak Nia sungguh mengagetkanku. Aku sangat panik sehingga aku tidak tahu harus berkata apa. Aku takut Kak Nia melihatku menyentuh sahabatnya barusan dan dengan sengaja mengujiku. Saat aku sedang gugup, Kak Nia tiba-tiba meraih tanganku dan menepuk punggung tanganku sebanyak dua kali, "Jangan gugup, katakan saja sejujurnya." "Kak Nia, tolong jangan mempersulitku. Kak Lina itu sahabatmu, beraninya aku?" "Kalau nggak berani, lalu kenapa bagian bawah tubuhmu keras sekali?" kata Kak Nia sambil menatap area itu. Aku segera membungkuk karena malu. "Hei, ukuran ini sangat besar." Entah itu hanya khayalanku saja, tapi kuperhatikan cara Kak Nia memandangku sepertinya sudah berubah. Kak Nia lalu berkata, "Aku serius, pergilah tidur dengan sahabatku, anggap saja itu membantu kakakmu." Aku jadi bingung. Apa hubungannya tidur dengan Lina dengan membantu kakakku? Kak Nia mengajakku duduk di sofa, lalu menjelaskan kepadaku, "Perusahaan kakakmu ada urusan bisnis dengan suami Lina. Suami Lina punya simpanan di luar. Dia meminta kakakmu membantu mencari seseorang untuk merayu istrinya. Dengan begitu, mereka bisa bercerai secepatnya." "Sekarang, apakah kamu mengerti?" Aku mengangguk berulang kali. Paham sih paham, tapi aku juga tidak mengerti, kenapa Lina begitu cantik, tapi suaminya masih berselingkuh di luar? Saat aku sedang berpikir liar, Kak Nia mencubit pahaku dan berkata, "Apa yang kamu pikirkan?" Aku mengerang kesakitan dan segera menggelengkan kepalaku, "Nggak ada apa-apa." "Ingat apa yang kubilang tadi pagi, barang milik pria itu harus digunakan pada tempat yang tepat." "Suami Lina sudah lebih dari setengah tahun nggak menyentuhnya. Kamu hanya perlu menggunakan sedikit trik untuk mendapatkannya." "Kamu belum pernah melakukannya dengan seorang wanita 'kan? Kali ini, ini adalah kesempatan." Aku tersipu dan merasa lebih tidak nyaman di area sana. Terutama karena kata-kata itu diucapkan Kak Nia kepadaku, yang membuatku malu dan canggung. Kalau itu orang lain, mungkin akan mendingan. Kak Nia melihatku duduk diam dan tiba-tiba duduk di sebelahku. Tiba-tiba, sebuah aroma menusuk hidungku. Apalagi aku dan Kak Nia belum pernah duduk sedekat ini, aku bisa merasakan suhu tubuhnya. Hal ini membuat jantungku berdetak lebih cepat dan aku merasa semakin panik. "Apakah kamu sedikit takut? Apa kamu nggak yakin?" tanya Kak Nia hati-hati. Aku mengangguk dengan kencang. Bukan takut, tapi sangat takut. Aku bahkan belum pernah punya pacar, sekarang aku diminta merayu seorang nyonya muda. Kak Nia meraih tanganku lagi dan nadanya menjadi lebih lembut dari sebelumnya, "Jangan takut, dia hanya seorang nyonya muda yang kesepian, pergi kejar dia dengan percaya diri." "Biar kuberi tahu, cara paling efektif untuk menghadapi nyonya muda yang kesepian adalah dengan membangkitkan hasrat mereka." "Ketika hasrat mereka terangsang, mereka akan lepas kendali." "Ketika saatnya tiba, kamu nggak perlu melakukan apa pun, semuanya akan beres." "Apakah kamu sudah mengerti?" Aku mengangguk tanpa sadar, tapi pikiranku sudah melayang jauh. Adegan yang aku dengar di pagi hari terus terlintas di benakku. Saat melihat Kak Nia pun, aku juga membayangkan betapa menawannya dadanya. Yang tak kusangka ternyata Kak Nia benar-benar memperhatikan mataku. "Apa milikku besar?" Kak Nia tiba-tiba bertanya padaku. Jantungku tiba-tiba hampir copot, mulutku kering dan tiba-tiba aku berkata, "Besar." "Mau sentuh?" Darahku semakin melonjak dan kepalaku berdengung. Tapi, aku tidak berani mengucapkan kata itu sama sekali. Kak Nia tiba-tiba mendekat dan menempelkan seluruh dadanya ke tubuhku. Aku merasa seperti menjadi orang bodoh dan pikiran aku menjadi kosong sama sekali. "Katakan saja kalau mau. Kenapa malu-malu? Ini adalah keinginan manusia yang paling primitif. Terkadang kamu harus melampiaskannya saat perlu melampiaskannya." Aku tidak bisa mengendalikannya lagi, jadi aku menggertakkan gigi dan langsung berkata, "Mau! Mau sekali!" "Hahaha, ini baru benar. Lakukan saja apa pun yang kamu pikirkan di dalam hati, jadi kamu nggak akan takut pada apa pun." "Tapi, kamu hanya bisa melakukannya pada Lina, bukan pada Kak Nia, paham?" Tiba-tiba aku merasakan frustrasi. Kupikir Kak Nia bersiap menyerahkan dirinya padaku. Ternyata dia hanya ingin mengajari aku cara melepaskan hasrat. Tapi, tak masalah. Kalau terjadi sesuatu antara aku dan Kak Nia, bagaimana aku bisa bertanggung jawab pada kakakku? Aku benar-benar tidak berani tinggal lebih lama lagi, jadi aku berbohong kalau aku sakit perut dan lari ke kamar mandi. Saat aku memijat Lina barusan, aku merasa sangat tidak nyaman, lalu Kak Nia menggodaku, sekarang selangkanganku hampir robek. Biarpun Kak Nia baru saja mengajariku di pagi hari bahwa masturbasi kecil itu menyenangkan, tapi masturbasi besar-besaran berbahaya bagi tubuh, tapi aku benar-benar tidak bisa mengendalikannya saat ini. Yang tidak aku duga adalah aku menemukan sebuah celana dalam wanita di rak handuk. Tak perlu diragukan lagi, celana dalam wanita ini pasti milik Kak Nia. Aku sangat dilema dan ragu-ragu. Aku tidak tahu apakah aku harus mengambil celana dalam itu? Saat aku memejamkan mata dan mencoba menenangkan diri, pemandangan pagi itu kembali muncul tak terkendali di benakku. Ada suara di hatiku yang terus berteriak, "Ini hanya membayangkan sedang melakukan hubungan seksual, bukan benar-benar dilakukan, jadi nggak masalah. Selain itu, kalau kamu melewatkan kesempatan sekali seumur hidup ini, akan sulit untuk menemukannya lagi di masa depan." Di bawah godaan suara setan, aku akhirnya tidak bisa mengendalikan diri dan mengambil celana dalam itu. Bab 4 Celana dalam ini lembut dan halus dan sepertinya masih ada sisa aroma Kak Nia di dalamnya. Merasakan pakaian dalam di tanganku, mau tak mau aku memikirkan tentang apa yang kudengar di pagi hari. Hal ini membuat aku semakin antusias dan bersemangat. Aku tidak bisa benar-benar terjadi apa-apa dengan Kak Nia, tapi aku bisa saja berfantasi dengan barangnya 'kan? Berpikir seperti ini, aku melepaskan ikat pinggangku dan memasukkan celana dalamku ke dalamnya. Tepat ketika aku hendak menggunakan kelima jariku untuk melampiaskan hasratku, tiba-tiba ada ketukan di pintu. Aku ketakutan sampai rohku hampir melayang dan aku hampir muncrat. Di rumah hanya ada dua orang, Kak Nia dan aku. Aku segera mengeluarkan celana dalam itu dan menaruhnya di rak handuk. Lalu berkata dengan perasaan bersalah, "Kak Nia, ada apa?" "Edo, apa kamu berbuat jahat di dalam sana?" tanya Kak Nia. "Hah? Aku, aku nggak." Aku merasa sangat bersalah. "Lalu kenapa suaramu bergetar?" Kak Nia membuatku takut hanya dengan satu kalimat. Aku merasa berkeringat dingin. Biarpun Kak Nia berpikiran terbuka, dia dengan jelas mengatakan kepadaku bahwa aku tidak boleh mengincar dia. Kalau dia mengetahui apa yang aku lakukan dengan celana dalamnya tadi, dia pasti akan beranggapan aku tidak patuh dan akan mengusir aku. Tapi, aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya, jadi aku hanya bisa berkata tanpa daya, "Benaran nggak, aku hanya sakit perut dan berkeringat ...." "Kenapa berkeringat? Apa kamu sakit?" Suara Kak Nia menjadi khawatir. Aku berkata, "Aku nggak tahu, aku hanya merasa nggak nyaman." "Buka pintunya, biar kulihat." "Ini, ini nggak pantas." "Apa yang nggak pantas? Kamu hanya anak kecil bagiku. Cepat buka pintunya." Aku merasa kecewa. Ternyata aku hanya anak kecil di mata Kak Nia. Pantas saja Kak Nia berpikiran terbuka di hadapanku. Mungkin dia tidak pernah berpikir untuk memintaku melakukan hal semacam itu. Aku membungkuk dan membuka pintu kamar mandi. Saat Kak Nia masuk, dia tidak langsung menatapku, melainkan melihat ke rak handuk. Aku panik, apakah Kak Nia menemukan sesuatu? Aku merasa sangat bersalah hingga tidak berani menatap mata Kak Nia. Sedangkan Kak Nia berjalan menuju rak handuk dan bertanya padaku sambil tersenyum, "Apakah kamu menyentuh celana dalamku?" "Nggak, nggak ada." Aku terus menggelengkan kepalaku. "Benaran nggak? Lalu kenapa wajahmu memerah? Katakan sejujurnya, apakah kamu tadi berencana melakukan sesuatu yang buruk dengan celana dalamku? Tapi, aku menyela kamu, kamu merasa bersalah dan takut, jadi nggak berani membiarkan aku masuk?" Aku sangat meragukan kalau Kak Nia itu waskita. Kenapa dia tahu semua yang aku lakukan dan pikirkan? Kak Nia menatapku dari atas ke bawah, saat melihat aku membungkuk dan tak berani berdiri tegak, kecurigaan di matanya semakin kentara. "Berdiri tegak." Kak Nia menatapku dan berkata. Aku tidak berani membangkang Kak Nia. Ketika aku berdiri tegak, bagian di bawah tubuhku yang memalukan langsung terlihat. Aku tahu, aku ketahuan oleh Kak Nia. Aku memejamkan mata, tidak berani menghadapi Kak Nia. Lalu, aku merasakan Kak Nia perlahan berjongkok di depanku. Jantungku hampir copot. Terutama karena aku tidak tahu apa yang ingin Kak Nia lakukan? Apalagi posisi Kak Nia yang berjongkok saat ini terlalu ambigu sehingga membuatku berpikir lebih jauh. Aku diam-diam membuka mataku. Aku melihat Kak Nia memandangi tempatku dengan tergila-gila dan dengan tulus menghela napas, "Alangkah baiknya kalau kakakmu bisa sekuat kamu!" Saat dia berbicara, ada hasrat tiada tara di matanya. Pikiranku kosong saat ini dan hatiku merasa tidak tenang. Aku sama sekali tidak tahu harus berkata apa. Kak Nia memandanginya sebentar, lalu bangkit kembali. Aku pun menutupinya dengan tanganku. "Simpan keinginanmu, agar kamu punya motivasi untuk menghadapi Lina." Ucap Kak Nia tiba-tiba menghampiriku, "Sebenarnya aku sengaja merangsangmu. Kak Nia tahu itu salah, tapi demi kakakmu, Kak Nia terpaksa melakukan ini." "Kamu terlalu pemalu, Kak Nia terpaksa mencari cara untuk membuka pikiranmu dulu." "Singkirkan tanganmu, Kak Nia adalah orang yang berpengalaman. Apa yang belum pernah Kak Nia lihat?" Aku berpikir dalam hati bahwa cara kamu membuka pikiranku begitu istimewa, rasanya bisa membunuhku seketika itu juga. "Keluarlah, aku akan menelepon Lina, kita pergi jalan-jalan, aku akan membantu mendekatkan kalian." "Mari kita lihat apakah dia akan mengizinkanmu pergi ke rumahnya pada siang hari ini, biar kita bisa menyelesaikan masalah ini secepat mungkin. Perusahaan kakakmu juga bisa pulih secepatnya." Setelah Kak Nia selesai berbicara, dia memutar pinggangnya dan pergi. Aku mengikutinya dengan patuh keluar dari kamar mandi, telapak tanganku sudah berkeringat. Kutahan. Digoda Kak Nia berulang kali, tapi belum bisa melampiaskannya, hasratku hampir meledak. Tapi, demi kakakku, aku hanya bisa menahannya untuk saat ini. Kak Nia duduk di sofa dan menghubungi nomor telepon Lina, ".... Nggak mau keluar? Kenapa? Nggak bisa, aku mau kamu menemaniku. Kalau kamu nggak pergi, aku akan meminta adikku untuk menggendongmu turun." "Hah? Apa aku keterlaluan? Aku memang keterlaluan. Apa yang bisa kamu lakukan padaku?" "Kalau begitu beres, kutunggu di pintu lima menit lagi." Kak Nia menutup panggilan teleponnya, lalu tersenyum dan berkata padaku, "Beres. Kamu ganti baju, nanti kamu bawa mobil." "Ingat, lihatlah lebih jauh, akan ada kejutan menunggumu." Aku berkata "Oh" dan pergi berganti pakaian. Aku sangat menantikannya dan penasaran dengan kejutan yang Kak Nia bicarakan? Segera, aku mengganti pakaianku. Aku dan Kak Nia menunggu di depan pintu sebentar, lalu Lina pun datang. Lina berganti gaun merah, yang membuat kulitnya terlihat lebih cerah. Apalagi gaun ini memiliki leher V yang memperlihatkan bagian dada Lina. Aku langsung tercengang. Di luar dugaan, bodi Lina ternyata lebih bagus dari yang aku bayangkan. Mata Lina sepertinya sengaja menghindariku, dia tidak mau menatap langsung ke arahku. Dia merangkul lengan Kak Nia dan berjalan lewat di depanku. Aku sangat bingung dan agak sedih. Saat aku memijatnya tadi, dia jelas-jelas berkesan baik terhadapku. Kenapa dia begitu dingin sekarang? Bahkan tidak menatapku. Apa aku bertindak keterlaluan? Membuatnya tidak senang? Kami turun dari lantai atas. Sepanjang proses, Lina berbincang dan tertawa dengan Kak Nia, tapi aku seperti udara. Awalnya aku sangat tertekan, tapi setelah masuk ke dalam mobil, tiba-tiba aku teringat perkataan Kak Nia yang memintaku untuk memperhatikan bagian belakang setelah masuk ke dalam mobil, ada kejutan yang menungguku. Aku penasaran apa kejutannya? Jadi aku terus melihat ke kaca spion. Kak Nia dan Lina sedang mengobrol dan tertawa, aku tidak melihat ada kejutan apa pun. "Kak Nia, kita mau ke mana?" Aku menanyakan arah dan sengaja menoleh ke belakang, tapi tetap tidak menemukan kejutan apa pun. Tapi, mataku dan mata Lina secara tidak sengaja bertatapan. Wajah Lina tiba-tiba memerah, lalu dia membuang muka dengan salah tingkah. Aku menangkap tatapan bingung, gelisah dan canggungnya. Jantungku pun "berdebar" satu kali. Aku curiga Lina tidak marah, tapi ragu-ragu dan bingung apakah dia harus bersikap ambigu padaku, jadi dia terus mengabaikanku. Aku sangat senang. Karena ini menunjukkan bahwa dia tertarik padaku. "Ke Wanda Plaza," ujar Kak Nia. Aku mengiyakan, lalu menggunakan ponsel untuk mencari rute, menyalakan mobil dan menuju ke Wanda Plaza. Sepanjang perjalanan aku masih sesekali melihat ke kaca spion. Aku hanya ingin tahu kejutan apa yang Kak Nia bicarakan. Saat mobil sampai di jalan yang padat, mobil melaju sangat lambat. Aku melihat ke kaca spion lagi. Ini pemandangan yang luar biasa, kebetulan aku melihat Lina melepas celana dalamnya. Bab 5 Setelah Lina melepas celana dalamnya, dia memasukkannya ke dalam tas dan melihat ke luar jendela seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi, wajahnya yang cantik memerah dan kakinya dijepit erat. Aku kebetulan bisa melihat penampilannya secara keseluruhan di kaca spion. Penampilannya yang pemalu dan gelisah itu terlalu menawan. Terutama di antara kedua kakinya, itu membuatku berfantasi. Kak Nia luar biasa, entah apa yang dia katakan dengan Lina hingga membuat Lina melakukan hal seperti itu. "Drrt drrt." Ponsel tiba-tiba bergetar. Aku membuka WhatsApp dan menemukan bahwa itu adalah pesan dari Kak Nia. Kak Nia, "Sudah lihat?" Aku malu dan bersemangat, juga tidak tahu harus berkata apa, jadi aku mengirim ekspresi tersenyum pada Kak Nia. Pesan Kak Nia segera terkirim, "Lina sedikit pemalu sepertimu, tapi aku akan membiarkan pikiran dia terbuka perlahan, kamu harus memanfaatkan kesempatan." Aku menjawab, "Oke." Aku sangat bersemangat, Kak Nia sangat mahir dalam membantu. Sesampainya di mal, Kak Nia selalu membantuku menciptakan kesempatan untuk dekat dengan Lina, tapi Lina selalu sengaja menghindariku sehingga membuatku sangat tidak berdaya. Saat istirahat, Lina pergi ke kamar mandi, Kak Nia memanfaatkan kesempatan itu untuk bertanya padaku, "Ada apa denganmu? Aku sudah menciptakan kesempatan untukmu, apa kamu nggak bisa memanfaatkan kesempatan itu untuk dekat dengannya?" "Kak Nia, bukannya aku nggak mau mendekatinya, tapi Kak Lina memang sengaja menghindariku. Aku jadi penasaran, apa dia tahu kalau aku punya berniat seperti itu padanya?" "Apa tindakanmu itu disebut mendekat? Sepertinya sia-sia aku mengajarimu pagi ini =. Ingat, kamu nggak boleh terlalu polos saat berhadapan dengan wanita." "Dia nggak membiarkanmu mendekat, jadi kamu nggak akan mendekat? Dia nggak membiarkanmu membantu membawa barang, apa kamu nggak bisa memaksa untuk membawa barang?" "Kamu laki-laki, kamu harus lebih proaktif, biarkan dia melihat sisi maskulinmu, lalu secara nggak sengaja menggodanya, maka hasratnya perlahan akan terkobar." "Kalau nggak, dengan temperamenmu yang lamban, butuh waktu bertahun-tahun dan berbulan-bulan untuk mendapatkannya." Aku memang agak kaku untuk soal ini. Ketika aku masih sekolah, aku hanya belajar dan tidak pernah mengejar seorang gadis. Aku bahkan tidak tahu bagaimana menghadapi nyonya muda yang dewasa. Aku mengangguk dengan setengah paham, "Aku mengerti, Kak Nia." Kak Nia tiba-tiba menghampiriku dan membantuku merapikan kerah bajuku. Aku mencium bau harum Kak Nia dan menatap wajahnya dari dekat, lalu detak jantungku semakin cepat. Kulit Kak Nia sangat bagus. Biarpun usianya sudah di atas 30 tahun, kulitnya sama bagusnya dengan gadis berusia delapan belas atau sembilan belas tahun. Apalagi dada Kak Nia sangat besar dan montok. Saat dia mendekat ke arahku, aku melihat dari sudut mataku bahwa dadanya hampir menyentuhku. Hal ini membuat aku semakin gelisah dan pemandangan yang aku intip di pagi hari mau tidak mau muncul di benakku. "Edo, apa kamu melihat sesuatu pagi ini?" Kak Nia tiba-tiba bertanya padaku. Aku sangat ketakutan hingga jantung aku berdetak kencang dan jantungku terasa seperti tercekat. "Nggak ada, Kak Nia, kenapa tiba-tiba bertanya seperti ini?" "Benaran nggak? Lalu kapan kamu meletakkan celana dalam yang kamu pakai di kamar mandi pagi ini?" Kak Nia tidak tinggi, hanya mencapai daguku. Dia menatapku, bibir merahnya yang indah sangat dekat denganku. Aku bisa merasakan napas Kak Nia yang menerpa leherku, terasa gatal dan mati rasa. Saking paniknya aku sampai tergagap, "Iya, aku letakkan tadi malam. Kak Nia, aku tahu apa yang kulakukan itu salah, aku nggak akan pernah melakukannya lagi." Kak Nia tertawa dan melepaskan kerah bajuku, "Aku nggak menyalahkanmu, aku hanya merasa reaksimu aneh hari ini. Kupikir kamu melihat sesuatu pagi ini." "Aku tidur sangat nyenyak di pagi hari dan baru bangun setelah jam sembilan. Kak Nia tahu itu 'kan?" Aku berbohong Kak Nia mengangguk, "Aku terlalu memikirkannya. Sebenarnya aku bisa memahaminya. Kamu adalah seorang mahasiswa yang baru lulus dan bahkan belum pernah punya pacar. Agak memalukan bagimu kalau aku tiba-tiba membicarakan hal seperti itu." "Apalagi apa yang kuucapkan padamu di pagi hari pasti akan membuatmu berpikiran liar. Jadi aku mengingatkanmu lagi bahwa aku adalah kakak iparmu dan aku saat ini adalah gurumu. Kamu nggak boleh mempunyai pemikiran lain tentang aku." "Paham?" Biarpun aku tahu bahwa tidak mungkin terjadi apa-apa antara aku dan Kak Nia, aku tetap merasa kecewa saat Kak Nia memberitahuku hal ini. Kak Nia melihat ke arah kamar mandi, lalu berkata kepadaku, "Kita akan pergi makan siang nanti, kamu manfaatkan waktu untuk membangkitkan hasrat Lina dan cobalah bantu dia antar barang ketika pulang nanti, biar kamu bisa pergi ke rumahnya." Aku tidak berbicara. Kak Nia memiringkan kepalanya dan menatapku lalu berkata, "Oh, apa kamu nggak bisa? Kalau memang nggak tahu caranya, cari film dan tonton." "Aku nggak begitu," kataku dengan suara yang sangat kecil sambil menundukkan kepala. Kak Nia jadi geli dengan kata-kataku, "Yang benar saja, bukankah semua pria suka menonton film seperti itu?" "Kak Nia, aku memang nggak pernah, aku nggak tahu harus cari di mana." "Oh, kalau begitu kamu memang anak baik." Kak Nia tersenyum lebar, di saat yang sama, dia menatapku dengan aneh. Dia mengeluarkan ponselnya dan mencari-cari sesuatu. Saat itu, Lina keluar dari kamar mandi. Kak Nia segera menyimpan ponselnya dan mengedipkan mata ke arahku. "Kak Lina, biar kubantu bawa barang-barangmu." Aku melihat ekspresi Kak Nia dan segera berjalan mendekat sambil berkata pada Lina. "Nggak usah, aku bawa saja sendiri." "Aku seorang pria dewasa, mana bisa membiarkan seorang wanita membawa barang? Berikan saja padaku." Dengan pengalaman yang Kak Nia ajarkan kepadaku, kali ini aku tidak peduli bagaimana sikap Lina dan langsung mengambil benda itu dari tangannya. Lina tersenyum dan mengangguk ke arahku, "Terima kasih." Aku merasa sangat bahagia. Kak Nia memang guruku. Pengalaman yang dia sampaikan kepadaku sungguh efektif. Aku membawa sendirian semua tas besar dan kecil lalu memasukkannya ke dalam mobil, sedangkan Kak Nia dan Lina pergi mencari tempat makan. Setelah menyimpan barang-barang, ponselku tiba-tiba bergetar dua kali. Aku mengeluarkannya, ternyata Kak Nia mengirimiku video seperti itu. Tiba-tiba aku merasa bersalah dan melihat sekeliling. Untungnya, tidak ada seorang pun di garasi saat ini. Kak Nia kemudian mengirimiku pesan lagi, "Tonton videonya dan pelajari. Nanti aku kasih tahu kalau makanannya sudah disajikan." Aku sangat gembira karena aku belum pernah melihat video seperti ini. Aku membuka pintu mobil dan masuk. Setelah memastikan tidak ada orang di sekitar, aku membuka video tersebut dengan tangan gemetar dan penuh semangat. Adegan dalam video tersebut begitu seru hingga aku merasa sangat tidak nyaman setelah menontonnya beberapa saat. Apalagi api yang dikobarkan Kak Nia pada pagi hari kini kembali berkobar. Mau tak mau aku melepaskan ikat pinggangku, bersiap untuk melampiaskannya sebelum naik ke atas. Tepat ketika aku sedang melampiaskan hasrat hingga lupa diri, aku secara tidak sengaja menemukan sesosok tubuh di luar jendela mobil. Saat aku melihat sosok itu dengan jelas, seluruh tubuhku mati rasa. Pasalnya sosok itu tak lain adalah sahabat Kak Nia, Lina. Saat aku menemukan Lina, Lina menatap lurus ke arahku dengan mata indahnya. Tapi, saat mata kami bertemu, Lina berbalik dan lari seperti kelinci yang ketakutan. Bab 6 "Ahhh ...." Awalnya, saat aku melampiaskannya sendiri, perasaannya tidak begitu kuat, mungkin perlu beberapa saat sebelum aku bisa melampiaskannya. Tapi, setelah melihat Lina memata-mataiku melakukan itu, entah kenapa aku menjadi terangsang, antusias dan bersemangat. Cairan pun segera disemprotkan. Karena aku melakukan hal semacam itu tanpa menutup-nutupi, pada dasarnya tidak mengotori celana, tapi membuat kursi pengemudi kotor. Di mana pun. Aku panik. Alangkah memalukannya kalau Kak Nia mengetahui hal tersebut. Ini adalah mobil favoritnya. Saat dia dan Kak Wiki mengantarku kemarin, dia tidak memperbolehkan Kak Wiki mengemudikan mobilnya. Kak Wiki mengatakan bahwa Kak Nia membeli mobil itu sendiri. Kak Nia sudah lama mengincarnya dan sangat menyayanginya. Aku segera mengambil tisu dari sisi penumpang dan membersihkannya. Tapi, masih ada bekasnya, aku tidak tahu apakah bisa kering setelah makan? Akan memalukan kalau meninggalkan jejak. Kak Nia menyuruhku belajar, tapi aku malah melakukan hal semacam ini di mobilnya. Kak Nia pasti akan marah. Setelah membersihkan mobil, aku membersihkan diriku juga. Tapi, aku duduk di dalam mobil dan tidak keluar dari mobil. Aku merasa nyaman, tapi bagaimana aku bisa tiba di sana? Apalagi bagaimana caranya menghadapi Lina? Memikirkan adegan di mana kami berdua saling memandang barusan, aku merasa sangat malu. Aku ternyata ketahuan melakukan hal semacam itu oleh Lina. Kurasa Lina pasti akan menganggap aku mesum. Dia sudah sengaja menjauhiku, setelah kejadian tadi, dia pasti akan mengadu pada Kak Nia. Kak Nia sudah membantuku tapi aku membuat kesalahan. Aku merasa sangat bersalah. Itu juga sangat memalukan. Aku sama sekali tidak berani naik sekarang. Setelah ragu-ragu beberapa saat, aku memutuskan untuk mengirim pesan WhatsApp kepada Kak Nia untuk menanyakannya. Aku ingin tahu kondisi Lina sekarang. Kak Nia segera membalasku, "Kak Lina bilang dia turun untuk mengambil sesuatu, tapi masih belum kembali. Aku malah ingin tanya kamu, apakah kamu melihatnya?" Saat melihat pesan dari Kak Nia, aku bingung dan penasaran. Lebih dari sepuluh menit sudah berlalu sejak itu. Secara logika, Lina seharusnya sudah kembali. Kalau dia tidak kembali mencari Kak Nia, ke mana dia pergi? Biarpun penasaran, aku tidak terlalu memikirkannya dan aku merasa sedikit beruntung. Lina belum kembali, jadi dia belum sempat menceritakan apa yang terjadi barusan pada Kak Nia. Kalau aku kembali dan mengaku pada Kak Nia sekarang, mungkin akan lebih baik. Jadi, setelah aku menanyakan alamat pada Kak Nia, aku pun bergegas ke sana. Kak Nia sedang duduk sendirian sambil bermain ponsel. Saat dia melihatku datang, dia tersenyum dan melambai padaku, "Edo, di sini." Aku menatap Kak Nia dan merasa tidak tenang. Biarpun aku datang ke sini untuk mengaku dan mendapat pengertian, aku merasa sangat tidak nyaman ketika memikirkan kemungkinan akan mengacaukan masalah ini. Aku duduk di hadapan Kak Nia, tapi aku tidak tahu harus berkata apa. "Ada apa? Kenapa wajahmu merah sekali? Ini pertama kalinya kamu menonton video seperti itu, apa kamu malu?" Kak Nia bertanya padaku sambil menatapku dengan sepasang matanya yang besar. Aku bisa merasakan wajahku sangat merah dan panas, bahkan telingaku terasa panas. Lagipula, aku malu membicarakan hal semacam ini dengan Kak Nia. Aku bahkan merasa semua orang di sekitarku memperhatikanku. Tapi, sebenarnya aku sudah mengintip dan tidak ada yang memperhatikan kami sama sekali. Aku hanya merasa bersalah karena menjadi pencuri. "Kak Nia, ada yang ingin kukatakan padamu." Aku ragu-ragu sejenak, tapi memutuskan untuk memberitahu Kak Nia apa yang baru saja terjadi. "Ada apa? Katakan saja. Kenapa kamu begitu sungkan pada Kak Nia?" ucap Kak Nia sambil menyesap tehnya. Aku melambaikan tanganku pada Kak Nia, menyuruhnya mendekat ke tengah meja. Kak Nia langsung menempelkan seluruh tubuh bagian atasnya ke atas meja. Gunung salju di bawah kerahnya tergencet di dekat meja, seolah-olah akan melompat kapan saja. Biarpun baru saja melampiaskan hasrat, jantungku masih berdebar kencang saat melihat pemandangan ini. Adegan yang kudengar di pagi hari muncul di benakku tanpa disadari. Mataku terpaku pada kerah baju Kak Nia. Aku tak berani menatap Kak Nia lagi. Aku berbaring di samping telinga Kak Nia dan memandang ke kejauhan. Dengan begini aku bisa merasa lebih tenang. "Kak Nia, aku baru saja menonton video yang kamu kirimkan padaku di dalam mobil. Aku nggak bisa menahannya, jadi aku melampiaskannya dengan tanganku." "Saat aku melakukannya, aku melihat Kak Lina berdiri di luar mobil." Aku tersipu dan menceritakan pada Kak Nia apa yang terjadi barusan. Setelah selesai berbicara, aku merasa sangat malu. Aku merasa malu pada Kak Nia. Tapi, Kak Nia bertanya dengan penuh semangat, "Lalu bagaimana? Bagaimana reaksi Lina?" Melihat Kak Nia tidak menyalahkanku, kegelisahanku berkurang. Aku berkata, "Saat aku melihat Kak Lina, dia menatap lurus ke arahku, tapi ketika dia menyadari bahwa aku melihatnya, dia segera berbalik dan lari." Kak Nia kembali bertanya, "Lalu?" "Itu saja. Setelah Kak Lina pergi, aku membersihkan diriku." "Kupikir dia akan datang untuk mengadu padamu, tapi dia belum muncul." "Kak Nia, katakan padaku, apakah Kak Lina menganggapku mesum?" Kak Nia mengerutkan kening dan berkata, "Sulit untuk mengatakan, Lina adalah wanita yang konservatif. Kalau dia melihatmu melakukan hal seperti itu sendirian di dalam mobil, kemungkinan besar dia nggak akan bisa menerimanya." "Tapi, Johan sudah meninggalkannya selama lebih dari setengah tahun. Aku nggak percaya dia nggak mendambakan sentuhan sama sekali." "Terlebih lagi, punyamu sangat besar, nggak ada wanita yang nggak akan terangsang saat melihatnya." Ucap Kak Nia sambil menjulurkan lehernya dan melihat ke bawah tubuhku. Tatapan agak aneh. Aku sungguh gatal dengan tindakan Kak Nia. Sekarang kami sedang membicarakan masalah serius, bukan sedang melatihku. Mata Kak Nia masih membara sekali sehingga mau tidak mau pikiranku melayang. Apalagi dia baru saja mengatakan adalah tidak ada wanita yang tidak terangsang saat melihatnya. Biarpun aku tak berani mengincar Kak Nia, aku tak ingin Kak Nia selalu memperlakukanku seperti anak kecil. Aku ingin membuktikan pada Kak Nia kalau aku sudah dewasa! Aku menatap tangan mulus Kak Nia dan ingin menyentuhnya. Setiap kali dia menggodaku, aku juga akan menggodanya. Tapi, bagaimanapun juga, aku tidak punya nyali. Saat itu ponsel Kak Nia berbunyi dan bergetar, "Lina, kamu dari mana saja?" "Sudah pulang? Kenapa kamu pulang sendirian?" Kak Nia melihatku, lalu dengan sengaja bertanya melalui telepon, "Apakah Edo mengganggumu? Kalau ada, katakan saja padaku, aku akan membantumu memberi dia pelajaran." Kak Nia memancing Lina untuk menceritakan kejadian barusan. Lina sangat konservatif dan tertutup. Sebenarnya sulit baginya untuk membuka mulut dan menceritakan apa yang baru saja terjadi. Jadi Kak Nia akan membimbingnya untuk membuka hatinya. Kak Nia sudah bilang, hanya kalau Lina menghadapi hal seperti ini dengan sangat tenang, peluangku akan lebih besar. Bab 7 "Baiklah, kalau begitu kamu istirahat." Kak Nia menutup panggilan teleponnya. Aku segera bertanya, "Apa yang Kak Lina katakan?" Kak Nia menghela napas dan berkata, "Lina nggak mau berkata apa pun. Dia hanya bilang dia nggak enak badan dan pulang istirahat dulu." Aku menghela napas lega dan berkata, "Untung saja." Kak Nia mengetuk keningku, "Apa yang untung saja?" Aku tidak mengerti jadi berkata, "Kak Lina nggak mengatakan apa-apa, jadi aku nggak begitu malu." "Kalau dia nggak bilang, lalu apakah yang terjadi barusan nggak terjadi?" "Biar kuberi tahu, semakin dia nggak membicarakannya, hal itu akan semakin tertanam dalam pikirannya." "Bahkan setiap kali bertemu denganmu, adegan kamu melakukan hal semacam itu di dalam mobil akan muncul di pikirannya." Tiba-tiba aku merasa perkataan Kak Nia masuk akal. Ini seperti tiba-tiba aku mendengar kakakku dan Kak Nia melakukan itu. Setiap kali Kak Nia melakukan tindakan ambigu ke arahku, mau tidak mau aku teringat membayangkan Kak Nia di ranjang. Aku segera bertanya pada Kak Nia, "Apa yang harus kulakukan?" Kak Nia berpikir sejenak dan berkata, "Lina sangat pendiam. Menurutku nggak mungkin dia mengatakan hal seperti itu." "Bagaimana mungkin seorang wanita mau membuka tubuhnya kalau dia bahkan nggak mau membuka mulutnya?" "Jadi, aku memutuskan untuk mencoba pendekatan lain." "Cara apa?" tanyaku. "Selangkah demi selangkah, bujuk dia perlahan." Kata Kak Nia sambil tersenyum. Aku tidak begitu mengerti. Tapi, Kak Nia melambaikan tangannya dan berkata, "Makan saja dulu, nanti aku akan mengajarimu pelan-pelan." Kak Nia memesan banyak hidangan sehingga membuatku kenyang. Dia juga mengatakan bahwa aku baru membuang banyak energi dan harus diisi ulang. "Aku mengirimi kamu videonya agar kamu bisa belajar, bukan untuk membiarkan kamu menyia-nyiakan alatmu itu." "Jangan lakukan itu sendirian lagi. Kalau kamu nggak bisa menahannya, Kak Nia akan membantumu, apa kamu dengar?" Aku langsung bersemangat dan ingin bertanya ada yang dia lakukan untuk membantuku? Tapi, aku merasa Kak Nia tidak mengatakannya dengan jelas dan mungkin dia hanya ingin memberi kejutan padaku, jadi aku tidak bertanya. Aku hanya berkata pelan, "Dengar." Kak Nia mengambil makanan untukku. Tapi, pikiranku tidak tertuju pada makanan sama sekali. Pikiranku dipenuhi dengan apa yang baru saja dikatakan Kak Nia. Setelah selesai makan, kami siap untuk pulang. Kali ini tanpa Lina, Kak Nia ingin menyetir sendiri. Aku merasa sangat bersalah dan takut Kak Nia melihat noda di kursi itu. Sayangnya, itu ditemukan oleh Kak Nia. "Dasar bocah, apakah kamu mengotori mobilku?" "Kak Nia, aku, aku nggak sengaja." Kak Nia tidak menyalahkanku, tapi bergumam pada dirinya, "Kakakmu nggak punya itu, tapi kamu membuang-buangnya ke mana-mana. Kalian benar-benar harus ditukar." "Masuk ke dalam mobil." Setengah jam kemudian, kami kembali ke rumah. Kak Nia memintaku istirahat. Aku sedang duduk di sofa sambil memainkan ponsel. Aku memang lelah, jadi aku kembali ke kamarku untuk beristirahat. Entah berapa lama aku tidur, tapi dalam keadaan linglung, aku mendengar suara "derit" papan tempat tidur. Aku mengucek mataku dan duduk. Aku mendengarkan dengan jelas, ternyata suara itu berasal dari kamar kakakku dan Kak Nia. Ada juga suara sayup-sayup kakakku "aduh". Mau tidak mau aku mendekatkan telingaku ke dinding, terutama karena aku ingin mendengar rintihan Kak Nia. Tapi, bunyi "berderak" itu berlangsung sebentar, lalu tiba-tiba berhenti lagi. Lalu aku mendengar suara Kak Nia yang sangat marah, "Inikah obat ajaib yang kamu katakan? Wiki, apakah kamu tertipu?" "Nggak mungkin. Kenapa begitu? Saat dulu aku mencobanya, sungguh luar biasa." "Coba? Di mana kamu mencobanya dan dengan siapa kamu mencobanya?" "Oh, aku membeli obat ini di jalan. Dengan siapa aku bisa mencobanya?" "Setelah meminum obat ini, aku merasa obat ini sangat ampuh, jadi aku pulang untuk mencobanya segera bersama kamu." "Siapa tahu ...." Mendengar kakakku dan Kak Nia kembali bertengkar, aku merasa prihatin pada kakakku. Dia baru berusia tiga puluhan dan sudah tidak mampu lagi. Kalau tidak, dia tidak akan membeli obat ajaib karena mempercayai kata-kata penipu. Kak Nia membanting pintu dan pergi ke dapur untuk memasak. Tak lama kemudian, kakakku pun pergi. Dia baru saja meninggalkan rumah. Sepertinya dia sangat terpukul. Aku harap aku bisa memberikan separuh tenagaku pada kakakku. Saat aku sedang berpikir liar, tiba-tiba ada ketukan di pintu. "Edo, kamu sudah bangun?" Aku segera berbaring dan pura-pura tidur. Melihat aku tidak membuka pintu, Kak Nia berinisiatif membuka pintu dan masuk. Tiba-tiba teringat olehku bahwa ketika aku hendak tidur, aku melepas baju dan celanaku, aku hanya memakai celana pendek. Aku bahkan tidak memakai selimut. Saat Kak Nia masuk, bukankah dia akan melihatku telanjang? Tapi, kalau sekarang aku menutupi diriku dengan selimut, Kak Nia akan mengetahui kalau aku berpura-pura. Aku hanya bisa terus berpura-pura. Kuharap Kak Nia melihatku seperti ini dan segera pergi. Tapi, aku mendengar Kak Nia berjalan menuju kepala tempat tidurku, lalu duduk di atas tempat tidurku. Jantungku hampir copot. Lalu jemari lembut Kak Nia menyentuh dadaku. Perlahan-lahan meluncur ke bawah dadaku dan meluncur ke arah tertentu. Seluruh tubuhku tegang dan darahku mendidih. Jari-jari Kak Nia lembut sekali. Yang paling penting adalah jari itu sepertinya sengaja menjelajahi suatu tempat di tubuhku. Perasaan diintip ini membuatku sangat bersemangat. Aku berharap Kak Nia terus mengeksplorasi. Akan lebih baik kalau dia melakukan sesuatu yang bahkan tidak bisa aku bayangkan. "Jangan berpura-pura, bangun." Saat aku sedang berkhayal, tiba-tiba Kak Nia mencubit pahaku. Rasa sakitnya sangat menyakitkan sehingga aku segera duduk. Aku pura-pura baru bangun tidur dan mengucek mataku, "Kak Nia, kenapa kamu ada di sini?" "Nggak ada kecap di rumah. Aku mau meminta kamu turun beli sebotol kecap." "Oh, baiklah, aku akan bangun sekarang." Kak Nia menatapku lurus, "Bangun, kenapa kamu nggak bangun?" "Kak Nia, aku, aku nggak memakai pakaian, silakan keluar dulu." "Aku sudah melihat proses perkembangan alatmu dari kecil menjadi besar. Apa lagi yang kamu sembunyikan? Kamu masih berakting di depanku." Akhirnya aku tahu kenapa Kak Nia tahu aku berpura-pura. Ternyata dia mengetahui proses reaksiku. Aku langsung merasa malu. Kupikir aku menyamar dengan baik, tapi reaksi tubuhku sudah mengkhianatiku. Kak Nia berinisiatif menyodorkan celanaku, lalu menatap langsung ke arahku dan bertanya, "Menurutmu, bagaimana aku membuat kakakmu sebaik kamu?" "Kak Nia, kakakku mungkin terlalu lelah akhir-akhir ini. Kenapa kamu nggak memberinya waktu untuk bersantai?" Aku ingin menyampaikan beberapa kata baik untuk Kak Wiki. Kak Nia mendengus, "Bukannya kakakmu akhir-akhir ini nggak mampu, tapi dia selalu saja nggak mampu." "Sejujurnya, dia bahkan nggak sebaik kamu." "Setiap kali dia masuk, aku nggak merasakan apa pun." Aku berpikir dalam hati, kakakku itu bukan tusuk gigi, bagaimana mungkin dia tidak merasakan apa-apa? Kak Nia menatapku dan berkata, "Bukan seperti kamu. Setiap kali aku melihat punyamu, aku teringat pada besi solder yang ditulis dalam novel roman." Kak Nia berkata dengan kedua mata tampak bersinar.