Đang tải thông tin quảng bá...
Menantu Pahlawan Negara
Di malam pernikahan, dia dipaksa keluarganya untuk pergi ke medan perang, serta meninggalkan istrinya sendiri. Setelah tiga tahun perang berdarah, pria itu akhirnya kembali dengan prestasi besar. Namu...
Chương (1)
第1章
Bab 1 Mandi
"Sayang, ini terakhir kali aku memandikanmu ...."
"Kita sudah menikah tiga tahun, tapi kita masih belum pernah bercinta ...."
"Sebelum bercerai, aku ingin memberikan malam pertamaku kepadamu ...."
Ardika Mahasura duduk di dalam bak mandi, Luna Basagita yang bertubuh seksi sedang duduk di belakangnya. Kedua tangannya yang putih mulus itu sedang menggosok tubuh Ardika.
Ketika air membasahi tubuh mereka, aroma yang harum pun memenuhi udara.
Luna mengoleskan sabun mandi ke tubuh yang kekar itu, ketika kedua tangannya melewati otot perut Ardika, wajah Luna langsung merona.
Namun, ketika melihat wajah Ardika, rasa sedih membuat air mata Luna ikut terjatuh.
Saat ini, Ardika sedang memiringkan kepalanya. Wajah yang tampan itu terlihat bengong, air liur juga menetes dari sudut mulutnya. Dia benar-benar seorang idiot.
"Sayang, apa yang terjadi selama tiga tahun ini? Kenapa kamu menjadi seperti ini?" ucap Luna sambil terisak.
Tiga tahun lalu, Ardika tiba-tiba menghilang di malam pertama mereka.
Dalam satu malam, kabar tentang pengantin pria yang melarikan diri pun tersebar. Hal itu membuat Keluarga Basagita menjadi bahan tertawaan di seluruh Kota Banyuli.
Tuan Besar Basagita menyuruh Luna untuk bercerai, tetapi Luna bersikeras untuk menunggu Ardika. Dia percaya Ardika yang pergi tanpa pamit itu punya alasan sendiri. Luna juga percaya bahwa Ardika akan kembali.
Disertai amarah yang besar, Tuan Besar Basagita pun mengambil semua sumber daya Luna, kemudian mengusir Luna sekeluarga dari posisi inti Grup Agung Makmur.
Di suatu hari tiga bulan lalu, Ardika yang sudah menjadi idiot dibuang oleh seseorang di depan pintu rumah Luna. Pada saat itu, Ardika tidak ingat apa pun lagi dan tidak bisa berbicara. Dia hanya bisa meneteskan air liur dengan ekspresi bodoh.
Luna yang tak berdaya pun membawa Ardika ke rumah sakit. Dia terus menemani Ardika setiap hari, sambil berharap Ardika bisa sembuh.
Ketika hal itu tersebar, harga diri Keluarga Basagita makin terpuruk. Tuan Besar Basagita menggunakan segala cara untuk memaksa Luna bercerai. Hal itu membuat Luna tak berdaya.
"Ardika, aku benar-benar ... nggak sanggup lagi."
"Kami sudah diusir dari rumah milik Keluarga Basagita, sekarang hanya bisa tinggal di rumah kontrakan ...."
"Modal perusahaan juga sudah ditarik, kondisi keuangan perusahaan makin buruk ...."
"Kalau aku nggak bercerai denganmu, Kakek akan memutuskan semua pemasukan keluarga kami ...."
"Sampai saat itu, aku bahkan nggak sanggup membayar biaya pengobatanmu lagi ...."
"Tapi, sebelum bercerai, aku ingin memberikan malam pertamaku kepadamu."
Dengan wajah merona, Luna menyandarkan kepalanya di bahu Ardika. Jemarinya mengikuti otot perut Ardika, lalu perlahan turun ke bawah ....
Saat ini, ponsel Luna tiba-tiba berdering.
"Luna, di mana kamu?" Suara ibunya Luna terdengar dari ujung telepon.
"Bu, aku ... aku sedang sibuk di luar," ucap Luna yang berbohong.
"Masih berani menipuku! Aku sudah mendengar suara air! Kamu pasti sedang memandikan si idiot itu, 'kan?" teriak ibunya yang kesal dengan keras. "Anakku, kenapa kamu masih nggak mau melepaskannya? Ada begitu banyak anak orang kaya yang mengejarmu, memangnya nggak ada yang kamu suka?"
"Tony Susanto, Tuan Muda dari Keluarga Susanto. Dia adalah pewaris takhta keluarga kelas atas di Kota Banyuli. Dia juga tinggi dan tampan, kenapa kamu menolaknya?"
"Bu ... cukup," jawab Luna dengan nada tak berdaya sambil mengernyit.
"Dikasih tahu malah melawan, benar-benar kurang ajar kamu!" ucap ibunya dengan kesal. "Cepat pulang sekarang juga! Kalau aku nggak melihatmu dalam setengah jam, aku akan mematahkan kakimu. Besok ulang tahun kakekmu yang ke-70. Cepat siapkan hadiah, kalau kakekmu senang, mungkin saja kita nggak perlu hidup menderita lagi."
Setelah itu, telepon pun dimatikan.
Mata Luna tampak merah. Ulang tahun kakeknya memang hal yang membahagiakan, tapi dari mana mereka punya uang untuk membeli hadiah?
"Ardika, aku pergi dulu ...." Luna tidak bisa berlama-lama karena sudah didesak oleh ibunya, dia khawatir ibunya akan datang membuat masalah di rumah sakit.
Ketika Luna pergi, Ardika yang memiringkan kepala tiba-tiba bergetar. Kedua matanya terbelalak, napasnya makin terengah-engah dan keringat dingin terus bercucuran.
"Kenapa aku bisa di sini?"
Duar!
Detik selanjutnya, rasa sakit yang hebat menyerang kepalanya. Semua ingatan memasuki benaknya seperti air banjir.
...
"Ardika, keluarga kita memerlukan seorang keturunan langsung untuk pergi ke medan perang. Tapi, nyawa adikmu terlalu berharga, sedangkan nyawa pecundang sepertimu nggak ada artinya, jadi kamu paling cocok bertaruh nyawa di medan perang."
"Pergilah ke medan perang, mungkin saja kamu bisa bertahan hidup. Kalau kamu berani menolak, kamu dan keluarga istrimu akan terbunuh."
...
"Dewa Perang, setelah tiga tahun perang berdarah, musuh akhirnya mundur, kita menang!"
"Dewa Perang hebat! Dewa Perang hebat!"
...
"Kakakku yang baik, terima kasih sudah menggantikanku untuk menjadi prajurit di medan perang selama tiga tahun. Tapi, harusnya kamu mati di medan perang saja, kenapa harus kembali?"
"Jadinya aku harus meracunimu. Jangan salahkan aku! Kalau kamu cacat, aku baru bisa menjadi pewaris nomor satu di Keluarga Mahasura."
"Tenang saja, aku nggak akan membunuhmu. Aku malah akan mengembalikanmu ke istrimu, biar kamu bisa hidup seperti seekor anjing ... hahaha ...."
...
Awalnya, Ardika Mahasura adalah Tuan Muda Pertama dari Keluarga Mahasura yang merupakan keluarga kelas atas di Provinsi Denpapan. Delapan belas tahun yang lalu, konflik internal keluarga membuat Ardika diusir dari keluarga dan terdampar di Kota Banyuli.
Ardika bekerja keras selama bertahun-tahun di Kota Banyuli. Namun, di hari pernikahan, Keluarga Mahasura justru mendatanginya dan memaksa dia pergi ke medan perang.
Selama tiga tahun, Ardika membuat prestasi selangkah demi selangkah, lalu berhasil menjadi seorang Dewa Perang.
Sayangnya, air susu dibalas air tuba. Ketika pulang, Ardika tidak menyangka akan diracuni oleh adik sepupunya. Walaupun Ardika berhasil mempertahankan nyawanya dengan tubuh yang kuat, hal itu juga membuat kerusakan di otaknya dan membuat dia menjadi idiot.
Sampai hari ini, Ardika berhasil sadar karena rangsangan dari Luna.
Sekarang, Ardika mengepalkan kedua tangannya, kukunya sudah menusuk ke dalam daging. Luka yang menganga pun meneteskan darah merah.
"Keluarga Mahasura! Adik sepupu! Kalian hebat!"
"Sudah saatnya kita menghitung utang selama bertahun-tahun ini!"
"Sayangnya, identitas diriku sebagai Dewa Perang dirahasiakan, sehingga kalian tidak tahu. Kalau tidak, kalian pasti akan membunuhku."
Setelah beberapa saat, Ardika akhirnya menenangkan diri. Hatinya pun mulai dipenuhi oleh rasa sedih dan perasaan bersalah.
Luna Basagita.
Kalau bukan karena dirinya, Luna bahkan tidak perlu hidup menderita.
Namun, Luna tidak pernah membencinya, bahkan tidak meninggalkan Ardika.
Istri yang begitu baik membuat Ardika sangat bersyukur.
Huh ....
Setelah mengembuskan napas panjang, kesadaran Ardika mulai jernih kembali.
"Karena aku sudah pulih, istriku, kamu tidak perlu hidup menderita lagi."
"Aku bersumpah, aku pasti akan menjadikanmu wanita paling bahagia di dunia."
Sambil berpikir, Ardika mengeluarkan sebuah ponsel dari laci, kemudian menelepon sebuah nomor rahasia yang ada di ingatannya.
"Halo."
Telepon tersambung dengan cepat, sebuah suara yang dalam terdengar dari ujung telepon.
"Draco, ini aku."
Suara Ardika bercampur dengan sedikit perasaan rindu.
Draco Sutopo, dia merupakan salah satu dari delapan jenderal besar di bawah kepemimpinan Ardika dan juga merupakan bawahan yang paling dipercayai.
Bab 2 Kue Seharga Seratus Ribu
Suara keras terdengar dari ujung telepon, seolah-olah ada meja dan kursi yang terbalik.
Draco pun menjawab dengan nada gemetar, "Bos, ini benar-benar kamu? Ke mana saja kamu?"
"Selama ini, bos nggak ada kabar sama sekali. Teman-teman juga sangat panik."
"Tapi, identitasmu sangat rahasia. Tanpa perintah, kami nggak berani pergi mencarimu."
Sambil menghela napas, Ardika lalu menjawab, "Aku bertemu beberapa orang licik. Nggak masalah, sekarang aku sudah pulih."
"Ada orang yang ingin mencelakakanmu? Siapa? Bos, berikan perintah! Aku akan bawa teman-teman untuk meratakan mereka," bentak Draco.
"Nggak perlu," jawab Ardika dengan ekspresi dingin. Terkait masalah Keluarga Mahasura, dia tidak ingin menggunakan bantuan dari luar. Semua ini harus diselesaikan oleh Ardika sendiri.
"Ada satu hal yang perlu kamu lakukan."
"Malam ini, segera bawa Grup Angkasa Sura ke Kota Banyuli."
"Selain itu, umumkan bahwa kita akan berinvestasi 20 triliun di Kota Banyuli."
Selama tiga tahun bergabung dengan militer, Ardika tidak hanya memimpin bawahan untuk berperang. Dia juga membangun sebuah kerajaan bisnis di luar negeri yang bernama Grup Angkasa Sura!
Dia akan menggunakan Grup Angkasa Sura untuk membantu Luna.
"Siap!" jawab Draco tanpa ragu. "Bos, aku akan segera datang ke Kota Banyuli. Ketika kamu menghilang, ada orang-orang yang mulai bergerak di luar sana maupun di dalam. Aku harus melaporkan beberapa hal kepadamu langsung."
"Baik."
...
Grup Angkasa Sura masuk ke Kota Banyuli dengan kehebohan besar.
Malam itu, seperti ledakan bom yang besar, kabar tersebut langsung tersebar di seluruh Kota Banyuli.
Semua orang tahu bahwa hal itu akan mengubah situasi kekuatan keluarga besar di Kota Banyuli.
Grup Angkasa Sura merupakan perusahaan pemodal kelas atas yang memiliki modal investasi dalam jumlah besar. Mereka berfokus pada bisnis investasi.
Kalau salah satu keluarga di Kota Banyuli berhasil bekerja sama dengan Grup Angkasa Sura, kekuatan keluarga tersebut pasti akan meroket dan menduduki puncak Kota Banyuli.
Keesokan harinya, Ardika meninggalkan rumah sakit dan pergi ke kediaman Keluarga Basagita.
Vila Keluarga Basagita.
Hari ini Tuan Besar Basagita berulang tahun yang ke-70, suasana seluruh vila Keluarga Basagita tampak sangat bahagia dan juga meriah.
"Wulan Basagita, memberikan hadiah satu vas seharga 1,2 miliar."
"Wisnu Basagita, memberikan hadiah satu patung emas seharga 800 juta."
Melihat satu per satu orang yang datang memberi hadiah, Tuan Besar Basagita yang duduk di kursi utama menunjukkan ekspresi gembira.
Suasana di dalam vila begitu bahagia, tetapi pada saat ini ....
"Luna Basagita, memberikan hadiah kue buatan sendiri seharga ... seratus ribu."
Semua orang tertegun secara serentak, mereka pun menatap Luna yang membawa kue dengan ekspresi aneh.
"Memalukan! Kamu membawa hadiah seperti itu untukku?"
Ekspresi Tuan Besar Basagita sangat masam.
"Kakek, aku ...."
Luna menundukkan kepalanya, ketika ingin menjelaskan, kakak sepupu yang bernama Wulan pun memotongnya dengan ekspresi sinis, "Luna, hari ini ulang tahun Kakek yang ke-70. Hadiah yang kami berikan bernilai ratusan juta sampai miliaran. Kenapa kamu malah membawa kue busuk seperti itu? Kenapa ada cucu pelit sepertimu?"
Hubungan Wulan selalu tidak baik dengan Luna, dia juga iri karena Luna lebih cantik darinya.
Luna merasa sangat sedih. Dia menundukkan kepalanya sambil menjelaskan, "Kakak, aku juga nggak ingin memberikan satu kue saja. Tapi sekarang, keluarga kami terlilit utang, perusahaan juga hampir bangkrut. Jadi ...."
"Kenapa? Berlagak miskin lagi? Memangnya miskin itu bisa dijadikan alasan?"
Plak!
Sambil mendengkus dingin, Wulan mengangkat tangan kanannya dan menjatuhkan kue tersebut ke lantai.
"Anjing saja nggak mau makan kue busuk seperti itu. Aku nggak tahu kenapa kamu berani memberikan hadiah seperti itu kepada Kakek."
Melihat kue yang jatuh berantakan tersebut, mata Luna mulai memerah.
Luna menghabiskan waktu sepanjang malam untuk membuat kue tersebut, itu adalah niat yang tulus. Siapa sangka, keluarganya malah tidak menghargainya.
Saat ini, kakaknya Wulan yang bernama Wisnu berjalan mendekat sambil menatap Luna dengan jijik.
"Luna, jangan-jangan kamu hanya ingin memberikan hadiah murah, lalu datang makan enak, ya?"
"Bagaimanapun, Kakek menyiapkan banyak makanan enak dan mahal di ulang tahun kali ini. Kalian sekeluarga pasti nggak pernah melihatnya, 'kan?"
Seketika, semua orang tertawa terbahak-bahak.
"Benar kata Wisnu. Sepertinya kalian sekeluarga datang untuk makan gratis."
"Tapi, kalian tentu saja nggak berhak makan makanan enak dan mahal ini."
"Suruh bagian dapur masak mi untuk mereka saja."
"Jangan meninggikan mereka. Mereka hanya perlu makan makanan sisa semalam saja. Bagi mereka, makanan sisaan semalam sudah termasuk makanan enak."
Tuan Besar Basagita juga ikut tertawa. Dia lalu berkata dengan ekspresi lebih tenang, "Masak mi saja buat mereka, lagi pula masakan sisa itu buat anjing."
"Kakek memang baik hati. Luna, cepat ucapkan terima kasih sama Kakek," ucap Wulan dengan tatapan sinis.
Luna menggigit bibirnya dengan mata merah, dia juga tidak menjawab.
"Sudah, bentar lagi kita akan mulai makan. Wulan, cepat atur orang-orang untuk duduk."
Tuan Besar Basagita tidak peduli dengan reaksi Luna, melainkan memberikan perintah sambil melambaikan tangannya.
Setelah mendapat perintah dari Tuan Besar Basagita, Wulan segera berdiri dan berkata, "Bagi keluarga yang berkontribusi 20 miliar ke atas, duduk di meja utama."
"Keluarga yang berkontribusi 10 miliar ke atas, duduk di baris pertama."
"Keluarga yang berkontribusi 2 miliar ...."
...
Tak lama kemudian, semua orang sudah duduk.
Hanya Luna sekeluarga yang berdiri dengan ekspresi canggung.
Luna lalu bertanya dengan wajah merah, "Wulan, kami duduk di mana?"
Wulan menjawab dengan sinis, "Duduk di mana? Bukannya ada kursi dan meja lipat di pojokan? Kalian duduk saja di sana. Aku akan menyajikan tiga mangkuk mi untuk kalian nanti."
Tindakannya benar-benar sangat merendahkan. Sambil menahan air mata, Luna berkata, "Kita adalah keluarga, kenapa kamu sengaja memperlakukan kami seperti itu?"
Wulan menjawab dengan ekspresi sinis, "Kenapa? Nggak terima? Semua kursi di sini hanya untuk orang-orang yang berkontribusi. Makin besar kontribusi yang diberikan, tempat duduknya makin bagus. Begitu juga sebaliknya."
Pada saat ini, terdengar suara dari depan pintu, "Kalau begitu, orang yang berkontribusi 20 triliun duduk di mana?"
Berkontribusi 20 triliun?
Siapa yang punya nyali untuk berkata seperti itu?
Semua orang melihat ke sumber suara, lalu menyadari kehadiran Ardika di depan pintu.
Seketika, semua orang tertawa terbahak-bahak.
"Aku kira siapa, ternyata Ardika si idiot!"
"Memangnya dia tahu 20 triliun itu berapa angka nolnya? Sepertinya dia bahkan nggak bisa berhitung dengan benar."
Sambil menepuk pegangan kursi, Tuan Besar Basagita berkata, "Kalau kamu bisa berkontribusi 20 triliun, aku bahkan berani memberikan kursi ini kepadamu."
"Sayangnya, seorang idiot sepertimu bahkan nggak bisa mengeluarkan satu perak pun."
Ucapan itu membuat semua orang kembali tertawa.
Wulan pun ikut mengoceh dengan ekspresi jijik, "Luna, beraninya kamu membawa si idiot itu ke kediaman Keluarga Basagita? Memangnya kamu nggak malu, ya?"
Luna sekeluarga benar-benar ingin mencari tempat untuk bersembunyi.
"Dasar idiot, kenapa kamu datang ke sini? Cepat pergi!" Ibu mertuanya yang bernama Desi Liwanto mengangkat tangan untuk menampar Ardika, tetapi Ardika berhasil menghindarinya.
Semua orang tertegun, lalu menatap Ardika dengan ekspresi aneh.
Biasanya si idiot ini selalu dipukul, apa yang terjadi hari ini?
Apakah dia sudah sembuh?
Bab 3 Calon Pewaris
"Ardika, jangan-jangan ... kamu sudah pulih?"
Melihat tatapan Ardika yang jernih, Luna menutup mulutnya dengan tangan dan tampak tidak percaya.
"Ya, aku sudah pulih, sayang."
Ardika menatap ke arah Luna, dia yang begitu tegas dalam medan perang, ternyata bisa merasa sedih juga.
Seketika, air mata mengenang di mata Luna. Rasa bahagia membuatnya ikut menangis.
Ardika langsung memeluk Luna. Beberapa tahun ini, Luna sudah menderita.
"Huh! Memangnya kenapa kalau sudah pulih?"
Wulan berkata dengan sinis, "Dia tetap saja seorang pecundang."
Sambil berkata, Wulan kembali duduk di kursinya. Sambil menunjuk kursi lipat di pojokan, dia pun berkata, "Duduk sana! Berkontribusi 20 triliun? Jangan membuatku tertawa."
Ketika Ardika yang mengernyit ingin berkata, Luna segera menghentikannya dan menariknya untuk duduk.
Mereka berempat duduk di kursi lipat yang ada di pojokan. Melihat makanan yang mahal dan enak di meja lain, di atas meja mereka hanya ada empat mangkuk mi.
Melihat suasana yang begitu hidup dan ramai, Tuan Besar Basagita merasa bangga.
"Semuanya tenang dulu, aku ingin mengumumkan sesuatu."
Setelah mendengarnya, semua orang segera meletakkan alat makan.
Sambil mengangguk puas, Tuan Besar Basagita lalu berkata, "Semalam, seharusnya kalian sudah mendengar kabar bahwa Grup Angkasa Sura datang ke kota ini."
"Grup Angkasa Sura merupakan perusahaan permodalan kelas dunia yang sangat besar. Kali ini, kedatangan mereka di Kota Banyuli akan memberikan perubahan kekuatan para keluarga besar di kota ini. Ini juga kesempatan bagi Keluarga Basagita."
"Meskipun Keluarga Basagita termasuk keluarga kelas dua yang tampak hebat, kita tetap saja mudah dilewati oleh keluarga lain."
"Jadi, Grup Angkasa Sura merupakan pihak yang perlu kita gandeng."
"Walaupun mendapatkan sedikit investasi saja, Keluarga Basagita juga bisa naik kelas dan hidup dengan kemewahan."
Tuan Besar Basagita makin bersemangat, dia lalu melanjutkan dengan wajah merah, "Aku umumkan bahwa siapa pun anggota Keluarga Basagita yang bisa mendapatkan investasi dari Grup Angkasa Sura, akan diberi saham perusahaan 10 persen, serta ...."
"Jabatan manajer umum grup kita!"
Duar!
Pengumuman yang sangat penting ini menggemparkan semua orang.
"Saham perusahaan 10 persen merupakan uang yang sangat banyak. Dengan uang sebanyak itu, kita bisa berfoya-foya."
"Terutama jabatan manajer umum yang berada di atas semua orang."
"Tapi, sepertinya sangat sulit. Aku dengar bahwa banyak keluarga yang berbaris di depan kantor Grup Angkasa Sura ...."
Ketika semua orang sedang berdiskusi, Wulan tiba-tiba berdiri.
"Kakek, tenang saja. Aku pasti akan mendapatkan investasi itu. Aku sudah meminta bantuan Tuan Muda David untuk menyerahkan proposal, sepertinya kita akan segera mendapat kabar."
Ucapan itu mengejutkan semua orang.
Punya kenalan yang hebat memang berbeda.
Tuan Muda David yang disebut oleh Wulan adalah pacarnya. David Buana, Tuan Muda Pertama dari Keluarga Buana yang merupakan keluarga kelas atas di Kota Banyuli.
Dengan bantuan David, bukankah mendapatkan investasi adalah hal yang mudah?
"Bagus, bagus, bagus! Kamu memang cucu paling hebat. Tiga hari lagi kamu akan ulang tahun, kakek pasti akan merayakannya dengan meriah,"
Tuan Besar Basagita berkata dengan gembira, "Kalau Wulan bisa mendapatkan investasi dari Grup Angkasa Sura, kamu akan menjadi pewaris keluarga."
Ucapan itu membuat ekspresi Luna sekeluarga berubah.
Sebagai sesama anggota Keluarga Basagita, Luna yang merupakan keluarga dari istri kedua sangat sensitif terhadap posisi pewaris.
Sebagai keluarga dari istri pertama, Wulan sekeluarga selalu bersikap buruk terhadap Luna dan keluarganya. Kalau Tuan Besar meninggal dan Wulan menjadi kepala keluarga, kehidupan Luna dan keluarganya akan makin menderita.
Melihat ekspresi ayah dan ibu mertua yang pucat, Ardika pun berkata, "Kakek, kalau Luna bisa mendapatkan investasi, dia juga bisa menjadi pewaris keluarga, ya?"
Suasana menjadi hening.
Pfft!
Wisnu yang berada tidak jauh tidak bisa menahan tawanya, dia pun berkata, "Ardika, penyakitmu kambuh lagi? Apa yang bisa diandalkan Luna untuk mendapatkan investasi? Mengandalkan idiot sepertimu?"
"Makan saja mi di depanmu! Mungkin setelah ini, kalian sekeluarga harus kelaparan."
Wulan mengangkat kepalanya, lalu berkata dengan nada merendahkan, "Kamu baru saja pulih, jadi mungkin nggak tahu. Luna memiliki utang yang besar, dia sudah coba meminjam uang ke mana-mana. Hanya saja nggak tahu apakah dia sempat menjual dirinya atau nggak."
"Oh ya, tiga hari lagi adalah ulang tahun Luna. Melihat tampang kalian yang miskin itu, sebaiknya kalian pungut saja kue di lantai untuk dimakan tiga hari lagi."
Semua orang tertawa terbahak-bahak, tatapan mereka terhadap Luna dan Ardika dipenuhi oleh ekspresi hina.
Penghinaan seperti itu membuat Luna menangis. Dia berkata sambil tersedak, "Wulan, di mana hati nuranimu? Padahal kamu yang merebut perusahaanku, lalu ditukar dengan perusahaan yang penuh utang itu. Semua utangku saat ini karena kamu ...."
Wulan segera memotongnya, "Luna, jangan asal omong! Aku akan menamparmu. Kamu sendiri yang nggak berguna, tapi masih berani menyalahkanku?"
Perseteruan mereka membuat suasana di dalam vila menegang.
"Cukup, cukup."
Tuan Besar Basagita melambaikan tangannya untuk merelai. Dia pun berkata kepada Ardika, "Ardika, kalau Luna bisa mendapatkan investasi dari Grup Angkasa Sura, aku akan membayar semua utang perusahaan Luna, kemudian mengembalikan semua bonus selama beberapa tahun ini."
Setelah mendengarnya, Desi dan suaminya tampak senang.
Sejak Ardika menghilang di malam pertama pernikahan, Tuan Besar Basagita terus menahan bonus mereka. Kalau dijumlahkan, totalnya mencapai miliaran.
Kalau bisa mendapatkannya, kehidupan mereka pasti akan berubah.
Lalu, sebelum ekspresi bahagia di wajah mereka menghilang, Tuan Besar Basagita segera menambahkan, "Tapi ada satu syarat, Luna harus menagih utang ke Kak Herkules."
Desi dan suaminya langsung tertegun.
Banyak orang yang ikut terkejut.
Herkules merupakan bos preman di Kota Banyuli. Sebelumnya, anggota Keluarga Basagita yang pergi menagih utang dihajar sampai setengah mati.
Persyaratan Tuan Besar sama saja mempersulit Luna.
Desi yang panik pun berkata, "Nggak bisa, Ayah! Menagih utang ke Kak Herkules sama saja bertaruh nyawa."
"Bagaimana kalau sampai Luna kenapa-napa ketika menagih utang?"
Wulan yang melihatnya segera berkata, "Bibi, nggak usah pergi juga nggak masalah. Hanya saja, kalian sekeluarga nggak akan bisa bangkit lagi."
Setelah mendengarnya, ekspresi Luna sekeluarga menjadi pucat.
Seketika, Luna mulai ragu.
Pada saat ini, Ardika menggenggam erat tangan Luna, lalu berbisik di telinganya, "Sayang, setujui saja."
Apa?
Luna mengira dia salah dengar.
Sambil mengernyit, Luna berkata dengan nada rendah, "Ardika, apa yang kamu katakan? Orang itu adalah Kak Herkules, kita nggak mungkin bisa menagih utangnya."
Ardika justru berkata dengan percaya diri, "Sayang, percayalah padaku. Setujui saja. Aku akan membantumu menagih utangnya."
Bab 4 Herkules
Melihat Ardika yang percaya diri, Luna pun merasa ragu. Setelah memikirkan kondisi keluarganya sekarang, dia pun menggertakkan gigi, lalu berdiri dan berkata, "Kakek, aku akan pergi menagih utang."
"Kamu! Kamu sudah gila, ya? Kalau sampai wajahmu rusak karena dipukul Kak Herkules, Tuan Muda Tony pasti akan meninggalkanmu."
Desi langsung panik.
Semua orang terkejut, bahkan Tuan Besar Basagita juga tidak menyangka Luna akan menyetujuinya.
Wisnu dan yang lain hanya mendengkus dingin.
Wisnu tiba-tiba mengeluarkan sepuluh ribu dari sakunya, lalu dilemparkan ke kaki Luna sambil berkata, "Melihat keberanianmu itu, aku kasih sepuluh ribu untuk naik transportasi umum."
Wulan juga menyilangkan tangannya di dada, lalu mengangkat alisnya sambil berkata, "Kamu sendiri yang mau pergi, ya? Kalau dihajar sampai lumpuh, jangan bilang Keluarga Basagita yang memaksamu."
Ardika melirik beberapa orang itu dengan tatapan dingin. Dia tidak ingin memedulikan orang-orang tidak penting ini.
Ardika langsung berdiri, kemudian menarik Luna dan berjalan keluar dari vila.
Pada saat ini, Desi dan suaminya benar-benar panik. Desi berkata, "Sekarang, kita hanya bisa meminta bantuan Tuan Muda Tony, dia selalu menyukai Luna ...."
...
Kawasan penjualan mobil.
Sambil membawa dua kantong buah yang baru dibeli, Luna terus mengingatkan Ardika, "Nanti, kamu jangan banyak bicara, jangan sampai Kak Herkules marah, mengerti?"
Setelah mendengarnya, Ardika pun mengangguk. Luna pun merasa lebih tenang.
Ketika mereka ingin mengetuk pintu ruangan kantor Herkules, dari belakang terdengar suara klakson yang keras.
Mereka melihat sebuah mobil Porsche merah muda berhenti di samping. Ketika kaca mobil diturunkan, wajah Wulan yang kejam itu pun terlihat.
"Oi, kalian ternyata berani datang menagih utang, ya? Aku kira kalian hanya membual."
"Wulan, kenapa kamu datang?" tanya Luna dengan kesal sambil mengernyit.
"Tentu saja datang beli mobil. Memangnya aku sama seperti kalian yang bodoh ini, datang menagih utang dan dihajar?"
Wulan yang memakai kacamata hitam berkata dengan nada sombong, "Setelah kalian pergi, kakek langsung membagikan bonus kepada semua orang. Keluarga kami mendapatkan 4 miliar tahun ini. Dengan uang itu, aku tentu saja harus membeli mobil mewah sebagai hadiah ulang tahun. Nggak seperti kamu, setiap ulang tahun bahkan nggak sanggup makan enak."
Setelah mendengarnya, Luna sedikit gemetar. Dia juga mengepalkan tangannya.
Ardika pun tersenyum sinis dan berkata, "Wulan, 4 miliar saja, apa yang perlu dibanggakan? Grup Angkasa Sura paling benci orang sepertimu yang berlagak sombong karena sedikit uang. Kamu nggak perlu memikirkan masalah investasi lagi."
"Kamu!"
Wulan yang kesal pun mendengkus dingin, lalu berkata, "Dasar idiot! Sekarang kamu jadi jago omong, semoga nanti kamu tetap berani ketika sedang menagih utang."
Selesai bicara, Wulan yang kesal pun turun dari mobil, lalu masuk ke dalam ruangan.
Luna dan Ardika juga ikut masuk.
Begitu masuk, mereka melihat ruangan yang luas. Di dalamnya, seorang pria berkalung emas sedang menggendong seorang sales cantik sambil meraba tubuhnya. Bekas luka di wajah pria itu terlihat menakutkan.
Melihat ada yang masuk, Herkules langsung berkata dengan wajah masam, "Sialan dari mana ini? Cepat keluar! Jangan ganggu kesenanganku."
Setiap orang memiliki reputasi sendiri.
Ucapan Herkules membuat Wulan berkeringat dingin, dia pun berkata dengan gagap, "Kak ... Kak Hercules, saya Wulan. Tuan Muda David merekomendasikan saya untuk datang beli mobil."
Setelah mendengarnya, Herkules pun mengangkat alisnya dan tersenyum. Dia lalu berkata, "Ternyata Nona Wulan, silakan duduk."
Sebelumnya, David memang sempat meneleponnya. Keluarga Buana merupakan keluarga kelas atas, jadi Herkules juga harus menghormati ucapannya.
Herkules akan melayani langsung setiap pembeli mobil mewah, itu juga merupakan salah satu cara dia berteman dengan para keluarga kaya.
"Siapa dua orang itu?" tanya Herkules yang bingung ketika menyadari dua orang di depan pintu.
Melihat perubahan sikap Herkules yang drastis, Wulan merasa senang. Seolah-olah ingin mencari pujian, Wulan pun berkata, "Kak Herkules, Anda masih ingat utang Keluarga Basagita, 'kan? Dua orang pecundang itu datang untuk menagih utang."
"Tapi, Anda tenang saja. Hal ini nggak ada hubungannya dengan saya, saya hanya datang untuk membeli mobil."
"Ternyata begitu."
Setelah mendengarnya, Herkules pun mengangguk. Sambil bersandar ke belakang, Herkules menatap Luna dan Ardika dengan matanya yang menyeramkan itu. Dia lalu berkata, "Ternyata ada orang yang berani menagih utang di kompleks penjualan mobil ini, sepertinya sudah bosan hidup."
Merasakan sapuan dingin dari tatapan Herkules, Luna tanpa sadar mundur ke belakang. Dia lalu berkata, "Kak Herkules, Anda adalah orang yang pengertian, kami benar-benar membutuhkan uang sekarang ...."
"Kalau nggak, kami nggak bisa hidup lagi."
"Huh! Terus apa hubungannya denganku?"
Setelah mendengkus dingin, Herkules pun berkata dengan sinis, "Di kompleks penjualan mobil ini, siapa pun yang datang, kalau aku nggak mau bayar, memangnya kamu bisa apa?"
Luna tersenyum getir, tatapannya dipenuhi oleh kekecewaan.
Saat ini, Ardika pun berkata dengan suara yang dalam, "Sejak kapan seorang Herkules berkuasa di kompleks penjualan mobil ini?"
Nama lengkap pria itu adalah Herkules Dienga. Dia sempat terkejut setelah mendengar ucapan Ardika.
Sambil mendengkus dingin, dia pun berkata dengan kesal, "Nak, kamu tahu apa yang kamu katakan?"
Wulan juga segera memarahi Ardika, "Dasar idiot! Kompleks penjualan mobil ini tentu saja dikuasai oleh Herkules! Cepat berlutut dan minta maaf kepada Kak Herkules."
Wajah Luna sudah pucat. Dia menarik lengan baju Ardika dengan panik dan menyuruhnya untuk diam.
Lalu, Ardika malah tidak takut dan melanjutkan, "Memangnya aku salah? Kompleks penjualan mobil ini adalah bisnis milik John Dienga, 'kan? Kamu hanyalah seekor anjing penjaga."
Dalam perjalanan kemari, informasi tentang Herkules sudah dikirim ke ponselnya Ardika. Herkules hanyalah anak buah John, John sendiri pernah menjadi prajurit di bawah Draco.
Setelah mendengarnya, urat nadi di kening Herkules tampak menonjol, tapi dia tetap berusaha menahan amarah di hatinya. Herkules lalu mengernyit sambil bertanya, "Kamu kenal dengan Tuan John?"
"Nggak kenal," jawab Ardika dengan nada datar. John masih tidak pantas berkenalan dengan Ardika.
"Nggak kenal?" Ekspresi kejam terbesit di wajah Herkules, dia pun berteriak, "Nak, kamu mempermainkanku, ya?"
Pada saat ini, Wulan mengingatkan dengan niat jahat, "Kak Herkules, mana mungkin dia kenal dengan Tuan John. Namanya Ardika Mahasura, dia hanyalah seorang menantu pecundang di Keluarga Basagita."
Menantu pecundang?
Herkules tertegun sejenak sambil membelalakkan kedua matanya.
Detik selanjutnya, Herkules yang seolah-olah menerima penghinaan besar langsung marah.
Suara bunyi tulang pun terdengar ketika Herkules mengepalkan tangannya. Dia menatap Ardika dengan tatapan yang menyeramkan.
"Bagus! Bagus! Bagus!"
Sambil menggertakkan gigi, Herkules berkata, "Sudah lama tidak ada berani mempermainkanku!"
Melihat Herkules marah, Wulan diam-diam menutup mulut sambil tersenyum. Dia berpikir dalam hati, 'Dasar idiot! Mati saja kamu!'
"Kak Herkules, Kak Herkules, sabar dulu ...."
Luna yang panik juga tidak berdaya, dia pun mencoba membujuk, "Ardika hanya salah omong, tolong jangan masukkan ke dalam hati ...."
Sayangnya, Herkules tidak mau mendengarnya. Setelah dia melambaikan tangannya, belasan preman segera masuk ke dalam ruangan.
Satu per satu tampak besar dengan ekspresi garang.
Luna yang ketakutan hampir tidak bisa berdiri, untung saja Ardika berhasil memapahnya.
"Herkules, kamu sudah membuat istriku takut."
Aura membunuh muncul di antara alis Ardika.
Lalu, Herkules sama sekali tidak menyadarinya. Dia masih berkata dengan kesal, "Memangnya kenapa kalau ketakutan? Berani mempermainkan diriku, hari ini kalian jangan harap bisa pergi dari sini."
Herkules menatap Ardika dengan ekspresi garang, belasan preman juga sedang menunggu perintah dari Herkules.
Pada saat ini, ponsel Herkules tiba-tiba berdering.
Setelah melihatnya, ekspresi Herkules langsung berubah. Dia segera berjalan menjauh, lalu mengangkat teleponnya seperti seekor anjing yang penurut.
"Tuan John, kenapa Anda menelepon saya?"
"Apakah ada sepasang pria dan wanita yang datang menagih utang kepadamu? Salah satunya bernama Ardika?"
Bab 5 Ketakutan
Bernama Ardika?
Sambil melirik Ardika, Herkules menjawab dengan bingung, "Ada seseorang yang bernama Ardika Mahasura, saya sedang bersiap untuk menghajarnya."
Dari ujung telepon tiba-tiba terdengar suara keras.
Herkules buru-buru bertanya, "Tuan John, Anda kenapa?"
Detik selanjutnya, teriakan penuh amarah memasuki telinga Herkules.
"Kenapa denganku? Bajingan kamu! Kamu ingin aku mati, ya?"
"Aku kasih tahu! Kamu harus menuruti semua permintaannya, kamu harus melayaninya seperti seorang bos, mengerti?"
Herkules tertegun. Selama bertahun-tahun, dia tidak pernah melihat John kehilangan kontrol diri seperti sekarang.
Herkules lalu bertanya, "Tuan John, sepertinya Anda salah. Dia hanyalah seorang menantu pecundang dari Keluarga Basagita."
"Herkules, kamu ingin mati, ya? Di matanya, kamu dan aku hanyalah rumput liar yang tak berguna. Dia bisa membunuh kita dengan mudah."
"Tuan John ... ini ...."
Setelah mendengarnya, Herkules mulai berkeringat dingin.
"Aku ingatkan terakhir kali, dia adalah sosok yang bahkan nggak berani aku tatap secara langsung. Jaga dirimu!"
Setelah itu, telepon pun dimatikan.
Herkules langsung bengong. Setelah sadar kembali, dia baru menyadari bahwa seluruh tubuhnya basah oleh keringat dingin. Kedua kakinya juga tanpa sadar ikut gemetar.
Melihat Herkules yang terdiam dan tidak bereaksi, Wulan segera maju dan bertanya, "Kak Herkules, Anda kenapa? Cepat berikan perintah untuk membereskan dua orang pecundang itu."
"Membereskan mereka? Sialan kamu!"
Terdengar teriakan penuh amarah.
Plak!
Herkules tiba-tiba menampar Wulan.
Tamparan yang tiba-tiba itu membuat semua orang bengong.
Wulan yang ditampar pun mundur beberapa langkah, wajah yang cantik itu langsung bengkak.
Sambil menutupi wajahnya, Wulan pun berkata dengan tak berdaya, "Kak Herkules ... saya datang membeli mobil, seharusnya Anda memukul mereka."
"Wanita jalang sepertimu memang pantas ditampar! Kalau bukan karena menghormati Keluarga Buana, hari ini aku pasti akan menamparmu sampai mati. Cepat pergi dari sini!"
Wulan yang menutupi wajahnya tidak berani bersuara, dia juga tidak berani marah. Dia hanya bisa menatap Luna dan Ardika dengan kesal, kemudian berlari keluar.
Ketika melewati Ardika, dia tidak lupa mengingatkan, "Dasar idiot! Tunggu saja kamu!"
Menurut Wulan, dia ditampar karena ulah Ardika.
Luna tanpa sadar menarik lengan Ardika sambil mundur, dia lalu berbisik, "Ardika, ayo kita pergi ...."
Sebelum Ardika sempat bereaksi, Herkules sudah berjalan ke arah mereka dengan cepat.
Luna makin ketakutan.
Siapa sangka, Herkules malah membungkukkan diri sampai 90 derajat. Dia lalu berkata dengan nada gemetar, "Tuan Ardika, Nona Luna, saya sudah berbuat salah. Mohon maaf, tolong jangan masukkan ke dalam hati ...."
Eh?
Luna langsung bengong. Kenapa Herkules seolah-oleh berubah menjadi orang lain setelah menerima telepon?
"Utang Keluarga Basagita sudah bisa dibayar, 'kan?" Ardika sama sekali tidak merasa aneh dengan sikap Herkules, hal itu membuktikan bahwa Draco sudah melakukan tugasnya dengan baik.
Herkules terus mengangguk sambil menjawab, "Bisa, bisa, bisa .... Aku akan segera mengurusnya ...."
Setelah mereka keluar dari kompleks penjualan mobil, Luna memegang sebuah kertas cek dengan ekspresi kebingungan.
Dari waktu ke waktu, dia terus melirik ke arah Ardika. Apakah semua ini berkata Ardika?
Pada saat yang sama, di salah satu vila Kota Banyuli.
John yang merupakan seorang bos preman besar sedang berlutut di lantai dengan ekspresi ketakutan. Di hadapannya, duduk seorang pria jangkung berseragam militer.
Draco berkata dengan tenang, "John, kamu nggak bodoh. Kalau terjadi sesuatu dengan bosku, kamu pasti sudah masuk penjara."
"Terima kasih atas pengampunan Komandan."
Setelah berhasil bertahan hidup, tekanan yang dirasakan John pun berkurang. Dia menundukkan kepala dan memohon, "Saya nggak tahu beliau datang ke Kota Banyuli, bahkan bawahan saya hampir saja melawannya. Apakah saya bisa menjamu beliau sebagai permohonan maaf?"
"Aku akan menanyakannya."
"Terima kasih, Komandan!"
...
Kompleks Anggrek merupakan kompleks tua berusia puluhan tahun di Kota Banyuli, Luna sekeluarga tinggal di tempat ini.
Setelah Luna dan Ardika pulang, hari sudah malam.
Melihat kemunculan Luna dan Ardika, Desi dan suaminya yang sudah menunggu di depan pintu masuk kompleks segera mendekati mereka. Desi lalu berkata, "Luna, kamu nggak apa-apa, 'kan? Kak Herkules nggak memukulmu, 'kan?"
"Bu, aku baik-baik saja. Untung saja ada Ardika, aku berhasil menagih utangnya," ucap Luna sambil melirik ke arah Ardika.
"Apaan Ardika? Memangnya kamu percaya pecundang seperti dia punya kemampuan seperti itu?"
Desi menatap Ardika dengan hina, lalu lanjut menjelaskan, "Kalau bukan karena kami meminta bantuan kepada Tuan Muda Tony, mana mungkin kamu bisa mendapatkan uangnya?"
Mereka berhasil karena bantuan Tony?
Setelah mendengarnya, Luna pun tertegun.
Ardika juga menyipitkan matanya dengan tenang.
Ini bukan pertama kali dia mendengar nama Tony.
"Luna, kali ini kamu harus berterima kasih kepada Tuan Muda Tony. Awalnya, aku hanya mencoba meminta bantuannya, siapa sangka dia langsung menyetujuinya."
"Tuan Muda Tony mengajak kita makan malam. Kali ini, kamu nggak boleh menolaknya."
Luna segera menolak dan berkata, "Bu, aku boleh nggak usah pergi? Hari ini Ardika baru pulih, bukankah kita harus merayakannya?"
Desi memelototinya dan berkata, "Si idiot ini pulih, kenapa harus dirayakan? Tuan Muda Tony sudah membantu kita, hari ini kamu harus ikut dengan kami."
Ayahnya yang bernama Jacky Basagita juga mengangguk dan berkata, "Benar kata ibumu. Hari ini kamu harus pergi."
Luna melihat ke arah Ardika dengan ekspresi kesulitan sambil berkata, "Kalau kita pergi makan, bagaimana dengan Ardika?"
"Buat apa kamu urusi dia?" Sambil berbicara, Desi terus mendorong Luna untuk naik ke atas. "Cepat ganti baju dan dandan yang cantik, ya?"
Luna terus menoleh ke belakang sambil berjalan maju. Ardika juga mengernyit.
"Ardika, kenapa dengan tampangmu itu? Cepat pergi sana! Kamu nggak diterima di rumah kami," ucap Jacky dengan kesal setelah melihatnya.
Pada saat ini, sebuah mobil Land Rover berhenti di bawah rumah Luna.
Seorang wanita yang menawan turun dari mobil.
Dia adalah Tina Dienga, sahabat baik Luna.
"Paman, Bibi, mana Luna? Tuan Muda Tony memintaku untuk datang menjemput kalian."
Tina tiba-tiba melihat Ardika, lalu berkata dengan kaget, "Ardika? Kenapa si idiot ini kabur dari rumah sakit?"
Desi segera menarik Tina dan menjelaskannya.
Tina baru mengerti dan menatap Ardika dengan hina.
Tiga tahun yang lalu, Ardika pergi tanpa pamit dari acara pernikahannya. Hal itu membuat sahabat baiknya menjadi bahan tertawaan. Setelah itu, dia menjadi seorang idiot dan membuat Luna sekeluarga ikut menderita. Jadi, Tina sangat merendahkan suaminya Luna yang idiot ini.
"Ardika, kalau kamu sudah pulih, kenapa masih berada di sisi Luna? Kalau kamu seorang pria, cepat menjauh darinya. Jangan menghalangi Luna untuk mengejar kebahagiannya."
"Tuan Muda Tony adalah anak dari Grup Susanto Raya. Ayahnya, Budi Susanto, merupakan Ketua Asosiasi Bahan Bangunan yang menguasai seluruh bisnis konstruksi di Kota Banyuli. Dia bisa memberikan kemewahan kepada Luna."
"Bagaimana denganmu? Selain memberikan penderitaan dan penghinaan kepada Luna, kamu bisa apa lagi?"
Setelah mendengarnya, Desi dan suaminya juga ikut mengangguk setuju.
Ardika lalu berkata, "Tina, hal yang bisa aku berikan kepada Luna bukanlah sesuatu yang bisa dibayangkan oleh orang awam seperti kalian."
Bab 6 Restoran Gatotkaca
"Ck." Saking marahnya, Tina pun tersenyum dan berkata, "Kalau begitu, aku ingin melihatnya. Nggak perlu yang terlalu jauh, apakah kamu tahu hari ini Tuan Muda Tony mengajak mereka makan di mana?"
"Lantai tiga Restoran Gatotkaca! Tempat yang selamanya nggak mungkin dimasuki oleh pecundang sepertimu."
Ketika mendengarnya, kedua mata Desi tampak berbinar. Dia lalu berkata, "Lantai tiga Restoran Gatotkaca? Tempat itu hanya bisa dipesan oleh anggota emas."
Di Kota Banyuli, Restoran Gatotkaca termasuk restoran kelas atas. Orang yang menghabiskan puluhan miliar baru bisa mendapatkan kartu anggota emas. Di Keluarga Basagita, hanya Tuan Besar Basagita seorang yang memiliki kartu anggota emas.
Adapun lantai tiga ke atas, biaya yang perlu dihabiskan oleh anggota bahkan lebih mengejutkan.
Tina menoleh ke arah Ardika, lalu tersenyum sambil berkata, "Ardika, itulah perbedaan antara kamu dan Tuan Muda Tony. Aku nggak tahu kenapa kamu masih percaya diri untuk berada di sisi Luna."
"Tina, nggak usah pedulikan pecundang ini. Luna sudah turun, ayo kita berangkat. Jangan sampai Tuan Muda Tony menunggu terlalu lama."
Desi bahkan tidak melihat Ardika sama sekali.
Mobil Land Rover pun pergi menjauh. Pada saat ini, ponsel Ardika tiba-tiba berbunyi.
"Bos, John mengadakan jamuan permintaan maaf di Hall Raja lantai sembilan Restoran Gatotkaca, apakah Anda ingin ikut ...."
"Suruh dia kirim mobil untuk menjemputku."
...
Pintu masuk Restoran Gatotkaca.
Ketika mobil Land Rover berhenti, Tony yang sudah menunggu di depan pintu segera mendekat.
Tony mengenakan jas putih yang mewah dan memegang satu buket mawar merah. Dia membuka pintu mobil untuk Luna, lalu berkata sambil tersenyum, "Luna, hari ini kamu cantik sekali."
Luna pun berusaha tersenyum.
Tina menyenggol pinggang Luna sambil mengeluh, "Tuan Muda Tony sedang berbicara denganmu, kamu bisu, ya?"
"Bukan ..." ucap Luna dengan nada rendah sambil memiringkan tubuhnya. "Aku hanya khawatir Ardika nggak bisa makan malam ...."
"Kamu masih saja mengkhawatirkan si idiot itu, benar-benar nggak belajar dari pengalaman," keluh Tina dengan kesal.
Wah!
Entah siapa yang tiba-tiba bersorak.
Tidak jauh dari sana, sebuah mobil Lincoln berwarna putih melaju kemari.
Empat angka delapan di plat kendaraan juga sangat menarik perhatian.
Ketika Tony mengalihkan pandangannya ke sana, dia pun berseru kaget, "Bukankah itu mobil Tuan John? Dia juga datang makan ke Restoran Gatotkaca, ya?"
John? Bos preman yang berkuasa di seluruh Kota Banyuli.
Desi dan suaminya juga ikut menoleh ke arah tersebut.
Pada saat ini, pintu mobil Lincoln pun terbuka. Seorang anak muda turun dari mobil, kemudian mengikuti pelayan berjalan ke arah lift.
Luna menatap punggung anak muda itu dengan bengong sambil bergumam, "Orang itu, rasanya mirip dengan Ardika?"
"Ardika?"
Tina tertegun sejenak, lalu berkata dengan nada bercanda, "Luna, kamu pasti salah lihat. Pecundang seperti Ardika nggak mungkin bisa naik mobil Lincoln ke Restoran Gatotkaca."
Setelah mendengarnya, Luna pun mengangguk.
Seharusnya dia salah lihat.
Mereka mengikuti Tony datang ke Hall Rembulan di lantai tiga.
"Wah, bahkan lantai tiga juga semewah ini."
"Aku penasaran seberapa mewah lantai atas, apalagi Hall Raja yang legendaris di lantai sembilan itu. Mungkin saja istana raja juga kalah."
Perhatian Desi teralihkan oleh desain interior yang begitu mewah. Dari waktu ke waktu, dia terus menyentuh berbagai barang.
Tony sangat puas dengan reaksi Desi dan lainnya. Dia lalu berkata, "Paman, Bibi, ayo pesan makanan dulu."
"Betul, betul, betul. Ayo pesan makanan."
Setelah duduk, mereka menatap menu yang mahal itu dengan ragu.
Ini bukan makanan lagi, melainkan emas.
Tony justru tampak tenang. Selesai memesan makanan, dia juga menambahkan dua botol Romanee-Conti dengan tahun terbaik.
Tina termasuk orang yang mengerti tentang anggur, dia pun berkata, "Tuan Muda Tony, hari ini kamu sudah menghabiskan banyak uang. Harga dua botol Romanee-Conti dengan tahun terbaik paling nggak sekitar 60 sampai 80 juta."
Tony berkata sambil tersenyum, "Puluhan juta saja, nggak masalah. Hari ini aku mengajak Paman dan Bibi makan, jadi aku harus menunjukkan ketulusan hatiku."
Seketika, Desi dan suaminya dibuat kagum oleh sikap Tony. Tuan Muda Tony memang berbeda, dia berbeda jauh dengan pecundang Ardika itu.
Di luar ruangan, Ardika sedang berjalan di lorong.
Saat melewati belokan, seorang pramusaji yang membawa dua botol anggur tersandung dan hampir terjatuh. Untungnya, Ardika muncul dan memapahnya tepat waktu.
"Kamu nggak apa-apa?"
"Nggak apa-apa ...." Pramusaji wanita tersebut tampat ketakutan. Kalau dua botol anggur itu sampai terjatuh, dia harus ganti rugi dengan gaji selama satu tahun.
"Kakimu sedikit keseleo, bagaimana kalau aku yang bantu antar saja?"
Pramusaji wanita itu mencoba menggerakkan pergelangan kakinya, ternyata memang terasa sedikit sakit. Dia pun mengangguk dan berkata, "Terima kasih, Tuan ...."
Di dalam ruangan, selain Luna yang tampak tidak fokus, mereka yang lain mengobrol dengan gembira.
Setelah melirik Luna, Desi pun mendekat dan berbisik, "Kenapa kamu diam saja? Nanti saat anggurnya datang, kamu harus bersulang dengan Tuan Muda Tony, mengerti?"
"Bu ... aku nggak mau minum alkohol," ucap Luna dengan tak berdaya.
"Tetap saja harus minum!"
Pada saat ini, pintu ruangan pun terbuka.
"Halo, anggur kalian sudah datang."
"Ardika?" seru Tina dengan kaget. Dia kebetulan duduk di seberang pintu masuk
Semua orang ikut menoleh ke belakang dengan kaget.
"Dasar belatung! Beraninya kamu mengikuti kami kemari? Siapa yang membiarkanmu masuk?" ucap Desi dengan marah.
Selesai berbicara, dia langsung menoleh ke arah Tony. Desi khawatir kedatangan Ardika akan membuat Tony marah.
Tina juga berkata dengan sinis, "Ardika, nyalimu besar juga. Kamu nggak bisa masuk ke Restoran Gatotkaca tanpa kartu anggota. Jangan-jangan kamu menyelinap masuk dengan menyamar sebagai pramusaji, ya?"
Ardika menggelengkan kepalanya dan menjawab, "Ada yang mengundangku."
Luna menatap Ardika dengan bingung.
Tina lalu berkata dengan kesal, "Siapa yang akan mengundang seorang pecundang untuk makan di Restoran Gatotkaca? Ardika, jangan-jangan kamu belum sembuh, ya?"
Tony memperhatikan menantu idiot yang terkenal di Kota Banyuli ini dari atas ke bawah, dia sepertinya tidak menganggap Ardika sama sekali.
Tony pun melambaikan tangannya dan berkata, "Cukup, kami nggak peduli bagaimana kamu bisa masuk. Letakkan dua botol anggur di tanganmu itu, lalu keluar dari sini."
"Anggur semahal itu dipegang oleh seorang idiot, bagaimana kami bisa meminumnya nanti?"
"Betul!"
Desi langsung merebut dua botol anggur itu, lalu berkata dengan masam, "Cepat keluar!"
Walaupun tidak diterima di sini, Ardika tetap menoleh ke arah Luna dan berkata, "Sayang, bosnya Kak Herkules mempersiapkan jamuan di Hall Raja lantai sembilan untuk permintaan maaf. Kamu mau ikut ke atas?"
Ucapan itu membuat suasana ruangan menjadi hening.
Bab 7 Ingin Bertemu Orang Penting
"Bukankah bosnya Kak Herkules itu Tuan John?"
Tina tidak bisa menahan tawanya, lalu berkata, "Ardika, apakah kamu tahu siapa Tuan John? Dia adalah orang penting yang sangat berkuasa. Seorang bos preman yang bahkan harus dihormati oleh Ayahku. Beraninya kamu bilang Tuan John datang meminta maaf? Kamu ingin mati, ya?"
"Tina, kalau kamu nggak percaya, kamu boleh ikut ke atas," jawab Ardika dengan santai. Namun, Tina malah memelototinya.
Setelah sadar kembali dari keterkejutan, Tony pun berkata sambil tersenyum, "Aku rasa dia melihat mobil Tuan John di depan pintu, jadi sengaja berkata seperti itu. Untung saja nggak ada orang luar di sini. Kalau sampai Tuan John mendengar ucapannya, kita semua akan mati."
Semua orang langsung terkejut.
"Aku benar-benar nggak tahan lagi!" bentak Desi dengan kesal sambil menepuk meja. "Tiap hari hanya bisa bersikap bodoh seperti itu, memalukan saja! Cepat pergi, kalau nggak, aku akan menghajarmu."
"Ardika, kamu pergi dulu .... Aku akan pulang setelah makan."
Luna juga merasa sangat malu, dia buru-buru mendorong Ardika keluar.
Ardika berkata dengan tak berdaya, "Baiklah. Sayang, kamu jangan minum terlalu banyak. Aku akan datang menjemputmu nanti."
Setelah Ardika pergi, suasana ruangan menjadi lebih tenang.
Setelah minum beberapa gelas air, Desi pun berhasil menahan amarah dalam hati.
Tony sama sekali tidak peduli. Kalau Ardika bersikap makin gila, kemungkinan dia mendapatkan Luna akan makin tinggi. Dia tentu saja berharap Ardika bisa bersikap bodoh setiap hari.
...
"Tuan John, hari ini siapa yang Anda undang?"
"Selain menjamunya di Hall Raja, Anda bahkan mengajak kami untuk datang menemani. Bukankah ini terlalu meriah?"
Lantai sembilan, di depan lift Hall Raja berdiri beberapa pria dan wanita paruh baya yang sedang bertanya kepada John.
Kalau ada yang melihat mereka, pasti langsung kenal.
Pemimpin Biro Pembangunan Kota Provinsi, Irwan Citora. Pemimpin Bank Banyuli, Calvin Rewind. Direktur Utama Grup Permata Buana, Bella Dewanto ....
Beberapa orang tersebut adalah orang-orang penting yang bisa menggemparkan Kota Banyuli.
Tuan John berkata dengan nada dingin, "Identitasnya sangat rahasia. Mengundang kalian datang untuk menghidupkan suasana dan juga kehormatan bagi kalian. Aku mengajak kalian karena hubungan kita yang baik."
"Pokoknya, ingat ucapanku, jangan sampai menyinggungnya."
Identitasnya sangat rahasia?
Beberapa bos besar yang sudah berpengalaman dengan berbagai situasi, mulai merasa tegang.
"Bagaimana kita menyapanya?"
"Menyapanya?"
Setelah berpikir sejenak, Tuan John pun berkata, "Panggil saja Tuan Ardika."
"Ting!"
Pintu lift terbuka dan wajah Ardika pun terlihat.
Irwan dan yang lain terkejut. Mereka tidak menyangka orang penting ini masih sangat muda.
"Tuan Ardika sudah datang!"
Tuan John segera maju ke depan, kemudian mengulurkan tangan untuk menahan pintu lift dan membiarkan Ardika berjalan keluar.
"Halo Tuan Ardika!"
Beberapa orang penting tersebut langsung menenangkan diri, kemudian maju ke depan untuk menyapa Ardika.
Kemudian, mereka juga memberikan kartu nama kepada Ardika.
Setelah sampai di meja makan, Pemimpin Bank Banyuli, Calvin, segera memberikan sebuah kotak hadiah kecil mewah yang sudah disiapkan sebelumnya.
"Tuan Ardika, ini adalah hadiah kecil yang kami siapkan untuk Anda."
"Di dalam kotak ada sebuah kartu hitam Bank Banyuli. Mulai sekarang, Anda adalah tamu VIP dari bank kami."
"Kalian terlalu sungkan."
Ardika pun menyimpannya, lalu melambaikan tangan sambil berkata, "Karena kita datang makan, jadi santai saja. Kalian nggak perlu terlalu sopan."
Mereka pun mulai makan dan minum, kemudian mengobrol dengan santai.
Setelah selesai, Ardika pun berdiri dan berkata, "Hari ini sampai di sini saja. Aku harus turun ke bawah untuk menjemput istriku."
Setelah mengantar Ardika pergi, John segera memberi perintah kepada anak buahnya, "Coba periksa Nona Luna ada di ruangan mana, lalu bayar tagihan mereka."
Perjamuan makan di Hall Rembulan masih berlanjut.
Tony sempat keluar beberapa saat. Ketika kembali, dia membawa beberapa anak muda.
Pemuda yang berada di depan tampak tampan dan bersemangat.
"Aku perkenalkan dulu, orang ini adalah Axel Citora, anaknya Irwan Citora yang merupakan Pemimpin Biro Pembangunan Kota Provinsi."
Tony memperkenalkan anak muda tersebut dengan sopan.
Seketika, semua orang di dalam ruangan pun berdiri untuk menunjukkan rasa hormat.
"Tony, kamu bahkan kenal dengan anak hebat seperti Tuan Muda Axel."
Desi tersenyum sampai kedua matanya menyipit. Meskipun belum selesai makan, panggilan Desi terhadap Tony sudah menjadi lebih akrab.
Tony pun tersenyum dan berkata, "Tuan Muda Axel ingin berkenalan dengan Tina. Mendengar Tina sedang makan dengan kita, dia pun sengaja datang untuk bersulang."
Tina pun tertegun sejenak. Dia menyadari dari awal masuk, Axel terus menatap dirinya.
Tina sudah sering melihat tatapan seperti itu. Dia pun mengulurkan tangannya sambil berkata, "Kalau Tuan Muda Axel ingin berkenalan denganku, telepon saja. Nggak usah datang langsung."
"Aku sering mendengar bahwa Nona Tina adalah wanita yang terkenal cantik di Kota Banyuli, jadi aku ingin bertemu."
Setelah mendengarnya, wajah Tina pun merona.
Tatapan Axel makin bersemangat, tapi dia tahu tidak boleh buru-buru. Jadi, Axel pun melambaikan tangannya dan berkata, "Baiklah, sebenarnya aku datang bersama ayahku. Hari ini, Tuan John membuat perjamuan di Hall Raja untuk menjamu satu orang penting, dia menyuruh ayahku datang menemaninya. Aku datang untuk melihatnya."
"Tapi, ternyata Tuan John bilang kalau anak muda nggak berhak naik."
Meskipun menunjukkan ekspresi tak berdaya, tatapan Axel menunjukkan kebanggaan yang tidak bisa disembunyikan.
Dia memang tidak bertemu orang penting tersebut, tapi ayah mereka sudah sempat bertemu dengannya. Di seluruh Kota Banyuli, hanya beberapa orang yang berhak bertemu dengannya.
Semua orang pun tertegun.
Desi dan yang lain teringat ucapan Ardika sebelumnya. Apakah Ardika adalah orang penting tersebut?
Setelah beberapa saat, mereka pun diam-diam menggelengkan kepala. Seorang idiot yang baru pulih tidak mungkin menjadi orang penting.
Tina juga bertanya dengan kaget, "Orang penting yang bisa dijamu oleh Tuan John di Hall Raja pasti sangat hebat."
Axel berkata dengan bangga, "Identitas orang itu bahkan nggak diketahui oleh Ayahku. Dia hanya tahu bahwa orang penting itu memiliki hubungan dengan Komandan Draco yang baru datang."
Ketika mendengarnya, semua orang di Hall Rembulan menarik napas dalam-dalam.
Belakangan ini, ada dua hal besar yang terjadi di Kota Banyuli. Hal pertama yaitu kedatangan Grup Angkasa Sura di Kota Banyuli. Lalu, hal kedua adalah Komandan baru departemen perang Kota Banyuli yang bernama Draco Sutopo datang menjabat.
Orang penting itu ternyata memiliki hubungan dengan Draco, benar-benar hebat.
Melihat Tina mendengar dengan saksama, Axel berkata sambil tersenyum, "Setelah perjamuan di Hall Raja selesai, aku akan membawa kalian untuk bertemu dengannya pas beliau turun."
"Baik, baik!"
Semua orang menjadi penuh semangat.
Bab 8 Memukul Tuan Muda Axel
Tina tampak berseri-seri, dia juga ingin melihat orang penting tersebut.
"Luna, ayo kita tunggu di depan pintu lift," ajak Tina sambil menarik baju Luna.
"Nggak usah, aku akan pulang bersama Ardika ...."
Setelah minum satu gelas anggur, wajah Luna yang sedikit mabuk tampak kemerahan.
Tina pun menasihatinya dengan kesal, "Aduh, kenapa kamu terus memikirkan Ardika si idiot itu? Kali ini adalah kesempatan yang sangat langka. Kalau kita bisa meninggalkan kesan baik untuk orang penting itu, utang keluarga kalian nggak perlu dikhawatirkan lagi, 'kan?"
"Hmm ... baiklah."
Tak lama kemudian, Axel mengangkat panggilan telepon.
Semua orang langsung menahan napas.
Apakah orang penting tersebut akan turun?
Setelah beberapa saat, Axel pun meletakkan ponselnya dengan ekspresi tak berdaya. Dia lalu berkata, "Ayahku baru saja meneleponku, dia bilang perjamuannya sudah selesai dan orang penting tersebut sudah pergi lebih awal."
"Aduh, kita kurang beruntung, nggak bisa bertemu orang penting itu ...."
Semua orang merasa menyesal.
"Sayang, kamu sudah selesai makan?"
Saat ini, Ardika tiba-tiba berjalan masuk.
"Ardika, kamu masih berani datang? Pergi sana!"
Melihat kedatangan Ardika, Tina yang masih tenggelam dalam penyesalan pun marah dan menamparnya.
"Plak!"
Ardika langsung menggenggam pergelangan tangannya dan berkata, "Tina, aku tahu kamu galak. Untungnya kamu adalah sahabatnya Luna, jangan ulangi lagi."
"Dasar pecundang! Beraninya kamu berbicara seperti itu denganku?" bentak Tina dengan kesal.
Axel langsung memukul meja dan berdiri. Dia lalu berkata, "Dasar bocah! Lepaskan tanganmu. Kamu seharusnya merasa terhormat karena dipukul oleh Nona Tina."
"Siapa kamu?" tanya Ardika dengan nada dingin.
"Dia adalah anaknya Direktur Irwan. Cepat turunkan tanganmu!"
"Anaknya Irwan?" Setelah meliriknya, Ardika lalu berkata dengan sinis, "Ayahmu bahkan nggak berani berbicara seperti itu denganku."
"Cari mati!"
Setelah tertegun sejenak, Axel langsung marah. Dia berjalan ke arah Ardika dengan cepat, kemudian mengangkat tangannya untuk menampar Ardika.
"Plak!"
Ardika melepaskan Tina, kemudian menampar Axel dengan keras.
"Ah ...."
Axel langsung terpental, darah pun muncrat dari hidung dan mulutnya.
Wajahnya bengkak!
"Shh!"
Semua orang yang berada di Hall Rembulan terkejut.
Beraninya Ardika memukul anaknya Irwan?
Tony langsung berdiri dan berteriak dengan kesal, "Ardika, kamu cari mati! Kamu nggak hanya mencelakakan dirimu, tapi juga mencelakakan Luna dan keluarganya."
Wajah Luna dan keluarganya langsung pucat.
Di dalam Hall Rembulan, hanya Ardika yang tampak santai.
"Sayang, nggak usah takut. Anak orang kaya yang sombong memang pantas dipukul. Nggak apa-apa."
Semua orang mengira Ardika sedang membual.
"Tuan Muda Axel, kamu nggak apa-apa?"
Tony dan Tina segera membantu Axel untuk berdiri.
"Minggir!"
Axel mendorong mereka dengan kesal. Kali ini, dia benar-benar marah.
Sejak kecil sampai dewasa, semua orang selalu bersikap hormat kepadanya. Bahkan ayahnya juga tidak pernah menamparnya.
"Nak, kamu berani juga! Hari ini, kamu nggak akan bisa keluar dari tempat ini dengan baik."
Sambil memelototi Ardika, Axel mengeluarkan ponsel untuk menelepon Irwan.
"Ayah, seseorang memukulku di Restoran Gatotkaca. Tolong bawa orang kemari, aku ingin membunuh pecundang ini."
"Apa! Aku akan segera membawa orang ke sana."
Semua orang bisa mendengar amarah dari suara Irwan di ujung telepon.
"Ardika, kamu benar-benar bajingan! Belatung sialan!"
Desi berteriak dengan penuh amarah. Orang itu adalah direktur pemerintahan, orang yang tidak bisa disinggung oleh Keluarga Basagita.
"Tuan Muda Axel, Ardika nggak sengaja, mohon maafkan dia."
Wajah Luna sangat pucat. Tanpa sadar, dia ingin berlutut, tetapi dihentikan oleh Ardika. Ardika lalu berkata, "Nggak apa-apa, Sayang. Orang yang harusnya khawatir adalah dia."
Gila! Sudah gila!
Sampai saat ini, Ardika masih berani berkata sombong.
Desi tiba-tiba merasa pusing dan jatuh lemas di kursi.
"Siapa yang berani memukul anakku?"
Tak lama kemudian, Irwan sudah muncul di Hall Rembulan dengan wajah kesal. Di belakangnya juga ikut sekelompok pria kekar.
"Ayah, bocah itu! Dia adalah menantu idiot dari keluarga kelas dua."
Axel menunjuk Ardika sambil berkata, "Aku hanya memarahinya, tapi dia bahkan bilang kalau Ayah juga nggak pantas berbicara dengannya."
Semua orang menatap Ardika dengan tatapan putus asa, karena ekspresi Irwan terlihat sangat marah.
"Bagus, bagus, bagus! Sudah lama tidak ada yang berani berbicara seperti itu kepadaku."
Sambil memaksakan senyuman, Irwan pun mengalihkan pandangannya ke arah Ardika.
Kemudian, dia pun tercengang di tempat.
"Tuan, Tuan, Tuan ...."
Bulu kuduk Irwan langsung berdiri, dia juga tidak bisa berbicara dengan benar.
"Plak!"
Tiba-tiba, Irwan menoleh ke belakang dan menampar anaknya hingga terjatuh ke lantai.
"Dasar anak sialan! Siapa yang ingin kamu bunuh? Kamu sudah hebat, ya?"
"Beraninya kamu membuat masalah di Restoran Gatotkaca? Kamu ingin mati, ya? Sini, biar aku hajar sampai mati saja."
Irwan langsung menghajar Axel dengan keras, dia tidak memberi pengampunan meskipun Axel adalah anaknya. Axel hanya bisa menjerit kesakitan.
Semua orang langsung tertegun.
Apa yang terjadi? Bukankah Ardika yang seharusnya dipukul?
"Berdiri! Minta maaf!"
Irwan menarik rambut Axel dan memaksanya berdiri.
Dia menekan kepala Axel dan memaksanya minta maaf kepada Ardika.
Ardika juga malas berdebat, dia hanya melambaikan tangannya dengan santai. Irwan akhirnya bisa merasa lebih tenang, dia segera menarik anaknya untuk pergi dari sana.
Setelah beberapa saat, Hall Rembulan masih saja hening.
Semua orang menatap Ardika dengan bengong.
Setelah itu, Tony pun tersenyum dan berkata, "Orang yang menjadi direktur memang berbeda. Tata kramanya sangat ketat."
Oh ya?
Semua orang masih bingung, mereka merasa masalah ini sangat aneh.
Luna dan keluarganya juga merasa terselamatkan.
"Ardika, kali ini kamu beruntung. Tapi, jangan mengira dirimu hebat."
Tony menatap Ardika dengan tatapan merendahkan, "Kalau hari ini aku nggak membantu Luna menagih utangnya, apakah kamu tahu bagaimana kehidupan Luna dan keluarganya nanti?"
"Kamu bilang kamu yang menagih utangnya?"
Tatapan Ardika menjadi dingin.
"Kalau nggak, memangnya pecundang sepertimu bisa?"
Desi menarik Tony dan berkata, "Tony, jangan pedulikan dia. Ayo kita bayar dan pergi dari sini. Melihatnya saja membuatku kehilangan nafsu makan."
Tony menekan bel untuk memanggil pramusaji.
"Tuan Muda Tony, Tuan John sudah bayar."
Setelah tertegun sejenak, Tony pun tertawa terbahak-bahak sambil berkata, "Ardika, apakah kamu masih berani meragukan bahwa aku yang membantu Luna menagih utang?"
"Kak Herkules adalah anak buahnya Tuan John. Tuan John pasti tahu hubunganku dengan Kak Herkules baik, jadi dia membayar tagihannya."
Tony benar-benar sangat bangga.
Desi juga tersenyum lebar dan berkata, "Tuan John bahkan membayar tagihannya, Tony benar-benar hebat. Kalau Luna bisa menikah denganmu, dia nggak akan dirundung orang lain lagi."
Luna langsung mengenyit.
Melihat sahabat baiknya diam saja, Tina pun berkata, "Tuan Muda Tony, tiga hari lagi adalah ulang tahun Luna, bukankah kamu harus menyiapkan sesuatu."
"Tentu saja harus ...."
Ketika Tony baru berbicara, Ardika langsung memotongnya, "Tina, istriku ulang tahun, aku pasti akan merayakannya dengan meriah, orang lain nggak usah ikut campur."
"Tapi, karena kamu adalah sahabatnya Luna, kamu boleh datang. Tony, kamu juga boleh datang melihatnya."
Bab 9 Keluarga Basagita yang Tidak Tahu Malu
Tina juga mendengkus dingin.
Tony yang menyipitkan matanya tiba-tiba mengangguk, lalu berkata dengan nada bercanda, "Ardika, boleh juga. Kamu yang rayakan saja, biar aku bisa melihatnya."
Tony malas berdebat dengan seorang pecundang.
Lagi pula dengan keuangannya, selama Tony mau, dia bisa membuat Luna hidup mewah setiap hari.
Kali ini, dia akan membiarkan Ardika mengacaukannya.
Tanpa kekurangan yang ditunjukkan oleh si pecundang, kehebatan Tony tentu saja tidak terlihat, 'kan?
Desi langsung mengabaikan Ardika, dia lalu bertanya, "Tony, apakah kamu bisa mengundang Kak Herkules ke pesta ulang tahun Luna? Kami harus berterima kasih kepadanya karena sudah membayar utang."
Senyuman di wajah Tony langsung menghilang.
Hari ini, dia sempat menelepon Herkules. Setelah memarahinya, Herkules langsung menutup telepon dengan kesal. Siapa sangka ternyata Herkules malah membayar utangnya, hal itu sudah cukup mengejutkan Tony.
Mengundang Herkules ke ulang tahun Luna?
Tony tidak percaya dia punya kehormatan sebesar itu.
Namun, ketika melihat Ardika yang tersenyum tipis, dia pun memberanikan diri dan berkata, "Bibi, tenang saja. Aku akan menelepon Kak Herkules, dia pasti akan menyetujuinya."
Selesai bicara, dia pun mengeluarkan ponsel, lalu menekan nomornya dengan perasaan tegang.
"Halo, Kak Herkules. Tiga hari lagi, Nona Luna ulang tahun, apakah Anda bisa datang?"
"Hahaha .... Nona Luna mengundangku ke pesta ulang tahunnya? Aku pasti akan datang."
"Terima kasih Kak Herkules!"
Tony merasa sangat senang.
Ketika berjalan keluar dari Restoran Gatotkaca, Desi sudah memeluk lengan Tony. Dia sudah mengakui Tony sebagai menantunya.
Ardika yang berada di belakang mendapat telepon dari Herkules.
"Tuan Ardika, Tony menelepon saya untuk mengundang saya ke pesta ulang tahun Nona Luna, saya sudah menyetujuinya. Tapi, saya merasa ada yang aneh, kenapa dia yang undang?"
"Jadi, saya menelepon untuk bertanya tentang maksud Tuan Ardika ...."
Ardika tersenyum dan menjawab, "Kamu datang saja. Dia bilang kalau kamu membayar utang karena menghormatinya."
"Apa! Memangnya siapa Tony!" bentak Herkules dengan kesal. "Tuan Ardika, Anda tenang saja. Di pesta ulang tahun Nona Luna nanti, saya akan memberinya pelajaran."
"Luna, kamu nggak suka dengan Tuan Muda Tony, ya? Aku kasih tahu, dia sudah berkorban banyak untukmu ...."
Tina yang duduk di mobil Land Rover sedang memasang sabuk pengaman, tapi tiba-tiba pintu mobil terbuka.
Ketika dia menoleh ke arah pintu, kedua matanya memancarkan amarah yang besar. Dia pun berkata, "Ardika, siapa yang suruh kamu masuk ke mobilku? Turun sana. Kalau nggak sanggup beli mobil, jalan kaki saja."
"Tina, antar dia saja," ucap Luna yang duduk di samping mobil pengemudi.
"Pfft! Mengesalkan! Aku harus cuci mobil lagi nanti ...."
Tina menjalankan mobilnya dengan kesal.
Demi menghalangi mereka untuk bicara, Tina sengaja menyalakan radio dan mengeraskan suaranya.
"Para pendengar yang setia, saatnya waktu berbagi."
"Belakangan ini, kalian pasti sudah mendengar bahwa ratu perhiasaan Kota Banyuli, Bella Dewanto, mengeluarkan 60 miliar untuk membeli kalung bernama Hati Peri, 'kan?"
"Besok, Kalung Hati Peri akan dipamerkan di toko perhiasaan milik Grup Permata Buana dengan kuota yang terbatas."
Kedua mata dua orang wanita yang duduk di dalam mobil ikut berbinar.
Mereka sudah melihat foto Kalung Hati Peri di berita.
Tidak ada wanita yang bisa menahan godaan dari Hati Peri.
"Ardika, kamu bilang ingin mengadakan pesta ulang tahun untuk Luna, kamu sudah menyiapkan hadiah ulang tahun?"
Tina berkata dengan ekspresi menyindir, "Jangan sampai kamu memberikan hadiah satu kantong makanan ringan. Memalukan saja!"
"Menurutku, hadiah Hati Peri nggak buruk, betul Luna?"
Luna tertegun sejenak, dia lalu berkata, "Tina, apa yang kamu katakan? Tony saja nggak sanggup membelinya, Ardika mana punya uang ...."
Ardika pun berpikir dalam hati, 'Hati Peri, ya? Sepertinya cocok dijadikan hadiah ulang tahun.'
Dia mengeluarkan tiga kartu nama dari sakunya, kemudian melihat kartu nama Bella, lalu mengirimkan pesan singkat kepadanya.
"Aku akan membeli Hati Peri ...."
...
Malam hari, Vila Keluarga Basagita.
Hari ini, Wulan yang ditampar tidak bisa makan dan tidur. Jadi, dia pun datang ke vila untuk mengadu.
Dengan wajah yang bengkak, dia pun menjelaskan semua yang terjadi di kompleks penjualan mobil dengan tambahan bumbu-bumbu lain. Setelah mendengarnya, Tuan Besar Basagita pun mengenyit.
Ketika melihat ekspresi kakeknya, Wulan pun berkata dengan ekspresi yang lebih sedih, "Kakek, Ardika si idiot itu sengaja menyebut nama Tuan John dan membuat Kak Herkules marah. Karena itu, aku malah ditampar oleh Kak Herkules. Bukan itu saja, Kak Herkules juga bilang nggak akan melepaskan Keluarga Basagita ...."
Setelah mendengarnya, Wisnu yang pucat ikut berkata, "Mereka memang pantas dihajar, tapi kenapa harus menyeret Keluarga Basagita? Tuan John yang berada di belakang Kak Herkules adalah bos preman yang sebenarnya. Kalau sampai keluarga kita menjadi target, Keluarga Basagita pasti akan hancur ...."
Banyak anggota Keluarga Basagita yang ketakutan ketika mendengar nama Tuan John.
Tuan Besar Basagita juga mulai ketakutan, apakah Keluarga Basagita akan terkena bencana?
Saat ini, dua sosok berjalan masuk ke dalam vila.
Melihat Luna dan Ardika berjalan masuk, banyak orang yang mulai memarahi mereka.
"Dasar pecundang! Beraninya kalian kembali setelah membuat masalah besar?"
"Dasar pecundang! Kalau bukan kalian, Kak Herkules dan Tuan John tidak akan marah dengan Keluarga Basagita."
"Eh? Kenapa kalian baik-baik saja?"
Wulan saja sudah ditampar, kenapa mereka baik-baik saja?
Banyak yang merasa bingung. Tidak seharusnya seperti itu, bukankah mereka seharusnya dihajar sampai lumpuh?
Tuan Besar Basagita tidak memedulikan hal itu, dia langsung memukul meja dan berkata, "Luna! Apakah kamu masih menghormati kakekmu ini?"
"Aku menyuruhmu pergi menagih utang, tapi kamu malah membawa Ardika untuk bertengkar dengan Kak Herkules. Selain membuat Wulan ditampar, Keluarga Basagita juga akan terkena bencana besar. Kamu senang sekarang?"
Keluarga Basagita akan terkena bencana?
Ketika masuk ke dalam vila, Luna sudah mendengar ucapan itu. Dia tampak sedikit bingung. Sebaliknya, Ardika melirik Wulan, lalu tersenyum dingin karena sudah tahu.
Ardika lalu berkata, "Kakek, Wulan memang pantas ditampar. Tapi, Kakek tenang saja, Keluarga Basagita tetap baik-baik saja."
Wulan yang kesal langsung membentak, "Dasar idiot! Beraninya kamu bicara seperti itu? Awalnya, Kak Herkules menganggapku sebagai tamu VIP. Kalau bukan karena kamu yang membuatnya marah, aku nggak mungkin ditampar! Kak Herkules juga nggak mungkin marah dengan Keluarga Basagita."
Napas Tuan Besar Basagita juga mulai terengah-engah. Dia menunjuk Ardika dan berkata, "Keluarga Basagita akan dihancurkan oleh idiot seperti kamu. Lihat saja tampangmu itu, kamu masih bersikap santai. Siapa yang memberimu keberanian untuk berkata seperti itu?"
"Karena kami sudah mendapatkan utangnya. Kalau Kak Herkules benar-benar marah, mana mungkin dia membayar utangnya?" Sambil berkata, Ardika menoleh ke arah Luna dan melanjutkan, "Sayang, tunjukkan buktinya kepada Kakek."
Bab 10 Hadiah Ulang Tahun
Apa?
Utangnya sudah dibayar?
Mana mungkin? Bukankah Herkules sudah marah?
Wulan dan yang lainnya langsung bengong, bahkan Tuan Besar Basagita juga tertegun. Dia menggaruk telinga sambil bertanya, "Kalian ... kalian benar-benar berhasil mendapatkan uangnya?"
Sambil mengangguk, Luna segera memberikan buktinya dengan hormat.
"Kakek, ini ceknya, Kakek lihat dulu."
Setelah melihatnya beberapa kali, Tuan Besar Basagita pun menghela napas lega. Dia lalu mengangguk dan berkata, "Ini memang cek milik perusahaan Herkules."
Ekspresi tegang di wajah setiap anggota Keluarga Basagita pun menjadi lebih lega.
Kalau bisa mendapatkan uangnya, hal itu membuktikan bahwa Herkules tidak marah. Keluarga Basagita juga akan baik-baik saja.
"Huh! Kalian kira utangnya dibayar gara-gara kalian? Jangan mimpi!" Saat ini, Wulan tiba-tiba maju ke depan dan berkata, "Kalau bukan karena aku dipukul oleh Kak Herkules, mana mungkin kalian bisa mendapatkan uangnya?"
"Pasti karena Kak Herkules ingin meminta maaf kepadaku, jadi dia pun membayar utangnya."
Setelah mendengarnya, banyak anggota Keluarga Basagita yang mengangguk setuju.
Ketika datang membeli mobil, Wulan dipukul tanpa alasan yang jelas. Demi menunjukkan permintaan maaf, Herkules pun membayar utangnya. Penjelasan ini memang masuk akal.
Pada saat ini, Luna mulai panik. Wulan sudah memutarbalikkan fakta, Luna hanya bisa berharap kepada Tuan Besar Basagita.
Kemudian, dia melihat Tuan Besar Basagita terdiam sejenak, lalu berkata, "Wulan benar! Dialah yang berjasa mendapatkan utangnya, bukan Luna."
Luna yang panik pun bertanya, "Kakek, bagaimana dengan bonusnya?"
Luna sudah tidak peduli siapa yang mendapatkan uangnya kembali, dia hanya ingin mengambil kembali bonus yang sudah ditahan selama bertahun-tahun.
"Kalau Wulan yang mendapatkan uangnya, semua bonus keluarga kalian akan menjadi milik Wulan."
Apa?
Setelah mendengarnya, seolah-olah tersambar petir, Luna bahkan tidak bisa berdiri dengan benar.
Ekspresi Ardika juga sangat masam.
Sikap Keluarga Basagita yang tidak tahu malu jauh melebihi ekspetasinya.
Wulan tampak sangat senang setelah menerima cek yang diberikan oleh kakeknya.
Satu tamparan ditukar dengan uang miliaran, Wulan sama sekali tidak rugi.
"Terima kasih Kakek! Dengan uang ini, aku sudah punya uang yang cukup untuk membeli Hati Peri."
Awalnya, Wulan ingin membeli mobil mewah sebagai hadiah ulang tahun. Sekarang, dengan tambahan uang ini, dia bisa membeli hadiah yang lebih mahal lagi.
Tuan Besar Basagita melambaikan tangannya dan bertanya, "Tiga hari lagi adalah ulang tahunmu, kamu sudah pesan tempat? Apakah perlu kakek meminjamkan kartu anggota emas Restoran Gatotkaca untuk mengadakan pesta di lantai tiga?"
"Terima kasih, Kakek, tapi nggak perlu. Tuan Muda David punya kartu anggota platinum. Dia sudah memesan lantai enam untukku."
Setelah mendengarnya, Tuan Besar Basagita tampak sedikit canggung, tapi dia juga tidak berkata apa-apa. Dia pun menyuruh pembantu untuk memapahnya masuk ke kamar tidur.
Sebaliknya, anggota Keluarga Basagita yang lain tampak sangat iri.
Selain Hati Peri, dia juga mengadakan pesta di lantai enam Restoran Gatotkaca. Pesta ulang tahun yang sangat meriah.
Luna sama sekali tidak peduli dengan hal itu, dia terlihat lemas.
Melihat kondisi Luna, Wulan pun menyindirnya, "Luna, kamu sudah pesan tempat pesta ulang tahun? Sudah beli hadiah ulang tahun?" Mendengarnya, Luna menggigit bibir dan menahan diri agar tidak menangis.
Tanpa belas kasihan, Wulan lanjut menyindirnya, "Sudah, jangan sok sedih. Semua orang tahu kalian miskin. Kalau kamu mau berlutut di depanku, aku bisa meminjamkan Hati Peri kepadamu beberapa hari, mau?"
Ardika yang berdiri di samping langsung menatap Wulan dengan tatapan tajam. Dia lalu berkata, "Hati Peri bukanlah sesuatu yang bisa dipakai oleh orang kampung sepertimu."
"Dasar idiot! Nggak usah sok keras! Kenapa? Aku nggak pantas? Memangnya Luna yang nggak sanggup beli kue ulang tahun itu pantas? Benar-benar konyol!"
Wulan memelototinya dan menghina Ardika. Lalu, Ardika hanya mengangguk dan berkata, "Betul katamu! Hanya Luna yang berhak memakai Hati Peri."
Wulan mendengkus dingin, lalu ingin lanjut menyindirnya.
Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki yang buru-buru.
Sekelompok pria berbaju hitam mengantar sebuah kotak perhiasan sambil berlari masuk ke dalam vila.
"Hati Peri sudah tiba, silakan diterima!"
Hati Peri?
Anggota Keluarga Basagita tidak mengerti. Wulan masih belum membelinya, kenapa sudah diantar?
Ardika tidak menyangka Bella bertindak dengan cepat, dia pun berkata kepada Luna, "Sayang, hadiah ulang tahunmu sudah tiba."
Setelah mendengarnya, semua orang saling memandang.
Ardika si idiot ini membeli Hati Peri?
Hati Peri seharga 60 miliar?
Wulan juga terkejut.
"Tidak mungkin! Dari mana si idiot ini punya uang untuk membeli Hati Peri?"
Melihat Luna memakai Hati Peri lebih menyakitkan daripada membunuh Wulan langsung.
Luna juga terkejut. Dia pun berkata dengan bingung, "Ardika, ini ...."
"Sayang, aku membelinya untukmu. Aku akan menjelaskannya nanti," ucap Ardika sambil tersenyum kepada Luna.
Luna menerima kotak itu dengan ekspresi bingung. Sebagai seorang wanita, siapa yang tidak suka dengan perhiasan mahal?
Apalagi sebagai hadiah ulang tahun, Luna merasa sangat bahagia.
Pada saat ini, ponsel Wulan tiba-tiba berdering.
Suara David terdengar dari ujung telepon.
"Sayang, kamu sudah menerima hadiah dariku? Suka nggak?"
Hadiah?
Wulan langsung berteriak, dia lalu merebut kotak perhiasan dari tangan Luna sambil berteriak ke arah ponselnya, "Suka, suka. David, aku benar-benar sangat mencintaimu. Kenapa kamu tahu aku ingin Hati Peri?"
Hati Peri?
David yang berada di ujung telepon langsung bengong. Bukankah dia hanya mengirimkan uang ke rekening Wulan? Kenapa berubah jadi Hati Peri?
Namun, David tidak menyangkalnya dan menjawab, "Baguslah kalau suka."
Setelah berbicara sebentar, telepon pun terputus.
Semua anggota Keluarga Basagita pun sadar.
"Ternyata Tuan Muda David yang membeli Hati Peri untuk Wulan, mengagetkan saja."
"Betul. Hampir saja direbut."
"Ya, melihat si idiot itu berkata dengan percaya diri, aku hampir saja percaya."
Wulan memeluk kotak perhiasan itu dengan erat, lalu berkata dengan bangga, "Ini adalah hadiah ulang tahun yang diberikan oleh Tuan Muda David, beraninya seorang idiot merebut hadiahku? Cari mati, ya?"
Luna yang terkejut pun menunjukkan ekspresi kecewa.
Ardika juga mengernyit dan berkata, "Wulan, ini bukan milikmu."