Nyonya Tak Bucin Lagi

Đang tải thông tin quảng bá...

Nyonya Tak Bucin Lagi

GoodNovel Hoàn thành
CantikEmosionalPria DominanKaya

Grace Wijaya terlahir kembali. Di kehidupan sebelumnya, Grace mencintai William Sanjaya selama delapan tahun, alhasil yang didapatkan Grace adalah selembar surat cerai dan mati mengenaskan di rumah sa...

Chương (1)

第1章

Bab 0001 "Kalau mau mati, tusuk saja dirimu, kenapa harus melompat dari gedung," kata pria itu dengan sikap yang dingin. "Aku mau tusuk ...." Tiba-tiba, Grace Wijaya merasa ada yang salah dengan perkataan William Sanjaya. Kapan dirinya melompat dari gedung? "Nyonya akhirnya sadar juga." Pada saat ini, pelayan Bibi Sinta menghampirinya dengan membawa air serta obat. "Kepala Nyonya sakit? Kata dokter Nyonya mengalami gejala gegar otak ringan dan sudah meresepkan obat untuk Nyonya. Nyonya mau minum sekarang saja?" Grace tidak menjawab pertanyaan dari Bibi Sinta karena baru sadar bahwa dirinya terbaring di kamar tidur yang besar. Dilihat dari tata letak dan dekorasi rumah, sepertinya ini adalah rumah Keluarga Sanjaya di masa lalu. Sejak masuk rumah sakit jiwa, Grace tidak kembali ke sini selama lebih dari dua tahun. Mungkinkah dia dibawa pulang oleh William? Ada yang salah! Pisau itu menusuk jantungnya. Kalaupun tidak mati, pastinya akan masuk ruang operasi. Grace dengan cepat menundukkan kepalanya untuk memeriksa dan melihat bahwa kondisi dadanya masih utuh. Kepala serta pergelangan tangannya dibalut dengan kain kasa medis. William mengerutkan kening dan begitu kesal melihat ekspresi Grace yang berubah dari kesakitan menjadi terkejut. "Kalau mau melompat dari gedung, pilihlah tempat yang lebih tinggi. Cuma lantai dua, nggak akan mati!" Setelah berbicara dengan sikap yang dingin, William segera melangkahkan kakinya untuk pergi. Grace mengabaikan William dan terus memeriksa tubuhnya. Dia sudah berada di rumah sakit jiwa selama lebih dari dua tahun dan kondisinya menjadi semakin lemah. Namun, sekarang kulitnya cerah dan halus, bahkan tubuhnya terlihat montok. Tidak ada bekas luka atau lebam di badan dan lengan yang disebabkan oleh perawat. "Nyonya, Tuan hanya emosi saja jadi mengatakan hal yang seperti itu." Bibi Sinta mengira Grace sedih, jadi menghiburnya dengan hati-hati, "Nggak ada dendam antara pasangan suami istri, nanti juga Nyonya dan Tuan ...." "Bibi Sinta, hari ini hari apa?" Grace sangat terkejut hingga dengan bersemangat menyela kata-kata Bibi Sinta. Bibi Sinta memandangnya sejenak lalu menjawab, "Hari ini adalah hari ulang tahun Nona Bella Darmian. Kabarnya Tuan pergi untuk merayakan ulang tahunnya, jadi Nyonya meneleponnya untuk pulang ...." Bibi Sinta salah paham, tapi Grace tidak punya waktu untuk menjelaskan. Grace segera melihat sekeliling dan mengambil ponsel yang diletakkan di samping tempat tidur .... Waktu di ponselnya menunjukkan tiga tahun lalu! Tiba-tiba, Grace teringat sesuatu. Grace melepaskan selimutnya dan melompat dari tempat tidur, bergegas menuju ruang khusus untuk bunga. Ruang bunga memang berantakan, hanya tersisa ranting-ranting patah dari berbagai bunga berharga .... Tiga tahun lalu, saat mendengar bahwa William akan merayakan ulang tahun Bella dan membelikan bunga untuk Bella, Grace kehilangan kesabaran dan menghancurkan semuanya. Pecahan kaca melukai pergelangan tangannya, Grace mengabaikan rasa sakit itu dan melompat dari balkon lantai dua. Meskipun terhalang oleh semak-semak hijau dan lengan serta kakinya tidak patah, tapi kepalanya membentur tepi hamparan bunga lalu pingsan di tempat .... Jadi, dia kembali ke tiga tahun lalu? "Nyonya kenapa mau pergi ke ruang bunga lagi? Lantainya penuh pecahan keramik. Tolong jangan lakukan hal bodoh lagi!" Bibi Sinta takut Grace akan terus menimbulkan masalah, jadi mengejarnya dan mencoba membujuknya, "Tuan peduli padamu. Begitu mendengar Nyonya terluka, Tuan William langsung pulang!" Mendengar nada gugup Bibi Sinta, Grace mengangkat kepalanya. Bukan hanya William yang tinggi dan tampan, tapi Bella yang cantik dan berpakaian indah juga datang ke arahnya. Mereka berdiri berdampingan di depannya seperti sepasang dinding yang menghadap ke arahnya. Bab 0002 "Grace, cukup! Mau sampai kapan kamu buat masalah seperti ini!" ujar William dengan galak. Grace hanya tersenyum. Jelas bahwa dia adalah istrinya, tapi sikap William terhadapnya tidak sebaik sikap orang luar. "William, jangan terlalu jahat pada Grace." Grace hendak berbicara, tapi Bella berbicara lebih dulu. Bella menjelaskan kepadanya, "Grace, bukan William yang sengaja datang merayakan ulang tahunku, tapi ayahku yang mengundangnya ke rumah kami untuk makan bersama karena mereka sudah lama nggak bertemu." "Nggak disangka kamu salah paham dan terluka seperti ini. Aku merasa nggak enak hati, jadi aku datang ke sini untuk menjelaskannya padamu. Jangan marah pada William. Ini semua salahku." Bella berbicara dengan lembut, tersenyum lembut dan meminta maaf dengan tulus. Grace teringat tiga tahun lalu, Bella juga datang ke rumah dan memberikan penjelasan yang sama. Namun, semua itu terjadi di kamar tidur. Setelah mendengar perkataan Bella dan melihat mereka berdiri bersama dengan sangat cocok, pikirannya tiba-tiba menjadi panas. Grace berteriak pada Bella dan memukulnya dengan vas di meja samping tempat tidur. Kepala Bella berlumuran darah dan pingsan. William marah besar lalu membawa Bella ke rumah sakit dan merawatnya selama beberapa hari. Sejak itu, hubungan mereka menjadi semakin dekat .... Beberapa tahun yang lalu Grace akan marah mendengar perkataannya, tapi sekarang hatinya benar-benar tenang. Grace bahkan tersenyum acuh tak acuh. "Terima kasih Nona Bella sudah menjelaskannya, tapi aku nggak marah." "Bukankah ayahmu mengundang William makan bersama? Kalian cepat pergi saja, jangan biarkan ayahmu menunggu!" Bella agak terkejut, jelas tidak menyangka reaksi Grace akan seperti itu. William juga mengerutkan kening. Apa maksud sikap Grace ini? Bahkan tidak menangis setelah dimarahi olehnya, malah sengaja menyuruhnya serta Bella pergi? Jelas-jelas dua jam lalu, Grace melompat dari gedung karena gagal memaksanya pulang. Hehe, sengaja tarik ulur seperti ini! William mengerti maksud Grace, lalu berkata pada Bella, "Karena Grace bilang begitu, ayo kita pergi saja." Setelah mengatakan itu, William pergi tanpa menoleh ke belakang. Bella ragu-ragu sejenak, lalu berkata pada Grace, "Jaga dirimu baik-baik" Setelah itu Bella mengejar William. Bibi Sinta sangat khawatir saat melihat ini. "Nyonya, kalaupun sudah marah besar, jangan biarkan Tuan dan Nona Bella pergi ...." "Aku nggak marah," ucap Grace dengan tenang. Setelah kembali ke tiga tahun yang lalu, Grace sudah memutuskan. Jadi, Grace tidak akan mengulangi kesalahan yang sama seperti sebelumnya. Tidak akan lagi terobsesi dengan William dan tidak akan lagi menunggu tanggapannya. William mau bersama siapa mau melakukan apa itu tidak akan ada hubungan dengannya. Mulai sekarang, dia hanya ingin hidup untuk dirinya sendiri dan orang yang dicintainya! "Bi Sinta, aku lapar sekali. Tolong buatkan aku makanan yang enak," pinta Grace. Grace sudah dirawat di rumah sakit jiwa selama lebih dari dua tahun. Selain minum obat, Grace hanya bisa minum semangkuk bubur setiap hari, bahkan menderita kanker perut karena kelaparan. Saat ini Grace sedang mendambakan makanan lezat untuk menenangkan perutnya. Bibi Sinta agak terkejut. "Tentu saja, saya akan segera memasak." "Aku ikut!" Grace dan Bibi Sinta pergi ke dapur. Tidak ada yang melihat William berdiri tidak jauh dari situ dan kembali dengan kesal. William ingin melakukan serangan balik. Jika melihat sikap Grace yang semakin gila, William kebetulan bisa memberinya pelajaran. Ternyata, Grace tidak membuat masalah dan bahkan menawarkan diri untuk makan? Tiba-tiba menjadi tidak normal, Grace pasti merencanakan beberapa trik baru! William merasa bosan dan berbalik untuk pergi lagi. ... Setelah makan enak, Grace menepuk perutnya dengan puas. Senang sekali rasanya kenyang! Selain tidak pernah makan enak di rumah sakit jiwa, Grace hanya berani makan setengah porsi di Keluarga Sanjaya. Karena Grace ingin mempertahankan sosok sempurna agar William menyukainya. "Kak William, tinggiku 16cm dan berat 90kg. Di internet banyak yang bilang ini berat badan dan tinggi badan standar para model!" Rasa puas dirinya hanya membuat sikap William menjadi semakin dingin. "Apa hubungannya denganku!" Ya, apa hubungannya dengan William? Demi seorang pria, Grace bahkan tidak berani makan sebanyak yang dirinya sendiri mau. Benar-benar konyol. Untungnya, Grace meninggal dan melihat semuanya dengan jelas. Mulai sekarang, Grace bisa makan apa pun yang dirinya suka dan sebanyak mungkin, tidak akan pernah memperlakukan dirinya dengan buruk lagi! Setelah kembali ke kamar, Grace menelepon kakeknya. Bab 0003 Di kehidupan sebelumnya, Grace bahkan tidak melihat kematian kakeknya untuk terakhir kalinya. Kali ini, dia harus menemani dengan baik dan tidak mengecewakannya lagi. Karena masih terluka, Grace tidak berani menemui kakeknya untuk saat ini. Hanya bisa menahan kegembiraan di hati dan membuat janji untuk kembali menemuinya dalam beberapa hari. Setelah menutup telepon, Grace duduk di teras dan mengingat kehidupan masa lalunya. Saat berumur delapan belas tahun, Grace jatuh cinta pada William yang sudah menyelamatkannya. Semua gadis cukup berani untuk menggunakan semua metode dalam mengejar cinta, tapi tetap saja tidak bisa menggerakkan hati William. Saat lulus kuliah, Nyonya Tamara mengetahui apa yang Grace pikirkan dan berusaha sebaik mungkin untuk mengatur agar William menikah dengan Grace. Sejak saat itu, Grace menjadi Nyonya Sanjaya. Meski tahu William membencinya, tapi Grace tetap berusaha membuat William terkesan padanya. Baru setengah tahun setelah pernikahannya, Bella kembali dari luar negeri untuk bergabung dengan perusahaan William. Kasih sayang yang luar biasa di antara mereka membuatnya takut kehilangan William. Grace menjadi gugup dan terus membuat masalah, menginginkan kepastian dari William. Namun, semua ini tidak ada gunanya, karena kejadian melompat dari gedung ini membuat hubungan antara William dan Bella menjadi semakin dalam. William pun jarang pulang ke rumah. Dalam keputusasaan, Grace berencana melakukan upaya terakhir yaitu dengan meminta Nyonya Tamara membantunya menciptakan kesempatan baginya untuk pergi ke luar negeri dan berduaan dengan William. Tak disangka, menjelang berangkat ke luar negeri, Bella terlibat kasus perampokan dan pembakaran, hingga nyaris kehilangan nyawanya. Setelah pelaku tertangkap, pelaku mengaku bahwa Grace yang menyuruhnya. Kejadian ini benar-benar membuat marah William. Entah bagaimana Grace menjelaskannya, Wiliam tetap akan mengirimkannya masuk penjara. Setelah bantuan kakeknya dan Nyonya Tamara, William baru menghilangkan keinginannya untuk menjebloskan Grace masuk penjara. Namun William memutuskan untuk mengirimnya ke rumah sakit jiwa untuk "perawatan" dengan alasan masalah mental. Perawatan ini berlangsung selama lebih dari dua tahun .... Grace menangis memikirkan semua hal di kehidupan masa lalunya. Distorsi, kecemburuan, kegilaan dan rasa sakit itu semua berasal dari obsesinya terhadap William. Obsesi ini menghancurkan hidupnya. Tuhan tidak tahan lagi dengan kebodohannya, jadi memberinya kesempatan untuk memulai kembali ke masa lalu. Hubungan antara William dan Bella belum mencapai tahap yang kuat. Grace juga belum jatuh ke dalam kegilaan, hal-hal yang membuatnya kehilangan akal sehat belum pernah terjadi. Selama menjauh dari mereka, Grace tidak akan berakhir di rumah sakit jiwa atau terkena kanker! Grace bisa memulai hidupnya lagi! ... Tiga hari kemudian, setelah Grace pulih dan menyesuaikan diri, luka akibat melompat dari gedung hampir sembuh. Keadaan psikologis dan mentalnya juga telah sepenuhnya stabil. William dan Bella pergi hari itu dan tidak pernah bertemu lagi. Tanpa diduga, Bella tidak terluka dalam kehidupan ini dan William tetap tidak pulang. Tentu saja Grace tidak akan peduli. Grace sudah memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengan William .... Mengakhiri pernikahan yang salah ini. Mulai sekarang, mereka akan kembali ke jalannya masing-masing dan akan menjalani kehidupan yang aman. Grace segera menelepon William. Telepon berdering lama sekali, tapi tidak ada yang menjawab. Hampir lupa bahwa William hampir tidak menjawab panggilan teleponnya karena takut diganggu olehnya. Grace mengirimkan pesan untuk William. "Sekarang kamu ada waktu? Bawa dokumen untuk urus perceraian di Kantor Catatan Sipil." Setelah lama menunggu, Grace belum juga mendapatkan jawaban dari William. Grace mengirimkannya lagi setelah berpikir kemungkinan William belum membacanya. Pesan darinya seolah-olah tenggelam di dalam laut. Grace berpikir sejenak dan memutuskan untuk pergi ke Perusahaan Sanjaya untuk menemuinya secara langsung. Petugas resepsionis perusahaan tentu saja mengenal Grace. Setelah menikah dengan Wellian, Grace khawatir ada wanita yang tertarik pada William, jadi datang ke sini untuk menyatakan kedaulatannya dengan cara yang menonjol. Mengenai kedatangannya, resepsionis tersenyum sedikit menghina dan berkata, "Maaf, harus ada janji dulu untuk bisa menemui CEO kami." Semua orang tahu bahwa William tidak suka padanya. Grace tidak peduli dengan sikap resepsionis itu, mengeluarkan tas yang berisi dokumen dan berkata, "Tolong berikan ini pada William." Setelah meletakkan tas dokumennya, Grace segera pergi. Namun, saat Grace baru mengambil dua langkah, resepsionis itu berkata, "Mungkin surat cinta lagi, memalukan sekali!" Setelah itu, tas dokumennya dibuang ke tempat sampah. Bab 0004 Grace berbalik lalu teriak, "Siapa yang menyuruhmu membuangnya? Ambil!" Petugas resepsionis tidak takut padanya. "Nggak perlu repot-repot seperti ini, CEO kami nggak akan melihatnya. Setiap saat kamu mengirimkannya, beliau akan menyuruh kami membuangnya!" Dulu, Grace khawatir William bekerja terlalu keras, jadi bersusah payah memberinya makanan, pakaian untuk menghilangkan stres. Grace juga menulis kepadanya seperti tokoh utama dalam novel dan mengungkapkan perasaannya yang tulus. Ternyata begitulah cara William menyikapi kekhawatirannya. Bahkan petugas resepsionis berani membuang barang-barangnya sesuka hati! Grace menatap dingin ke arah petugas resepsionis. "Entah William melihatnya atau nggak, kamu nggak punya hak untuk membuang barang! Ambil!" Petugas resepsionis itu mengerutkan bibirnya dan berkata, "Ya, akan aku ambil. Kamu hanya pura-pura menjadi istri CEO, tapi ternyata dicampakkan." "Kamu ...." "Apa yang terjadi?" Grace baru saja ingin menyuruh pihak lain meminta maaf, tiba-tiba suara pria yang serius terdengar. Grace menoleh dan melihat bahwa orang yang berbicara adalah asisten William, Antony Zulaiman. Orang yang berdiri di samping Antony adalah William yang mengenakan setelan jas hitam. William bertubuh tinggi dan tampan. Meski berwajah dingin tapi tetap memiliki pesona maskulin. Dulu, ketika Grace melihatnya, jantungnya akan berdetak lebih cepat, wajahnya akan memerah dan akan dengan malu-malu memanggilnya, tapi sekarang Grace sama sekali tidak ingin mengatakan sesuatu padanya. "Nyonya," sapa Antony dengan sopan. Grace tidak begitu puas seperti sebelumnya. Dari awal sampai akhir, dia bukanlah istri yang diakui William. Kata "Nyonya" hanyalah untuk basa-basi. "Apa yang terjadi?" Antony tidak tahu apa yang dipikirkan Grace, jadi bertanya lagi ke petugas resepsionis. Petugas resepsionis itu melirik ke arah William dan menjawab dengan sedih, "Pak William bilang nggak akan menerima sesuatu dari Nyonya, tapi Nyonya terus memaksaku untuk memberikannya pada Pak William. Aku nggak berani melanggar peraturan, jadi ...." Setelah mendengar ini, William mengerutkan kening dan bertanya pada Grace, "Siapa yang menyuruhmu menindas orang lain di sini!" Grace menyatakan kejadian yang sebenarnya terjadi. "Aku nggak menindasnya, juga nggak memaksanya. Dia melemparkan barang-barang aku, jadi aku ...." "Cukup!" William menyela dengan kesal, "Masih saja cari-cari alasan! Grace, kamu benar-benar keji!" Tanpa mengetahui apa yang terjadi, William langsung memarahinya. Pantas saja petugas resepsionis berani menuduhnya. Dalam benak William, Grace selalu bersikap jahat. Grace tidak repot-repot menjelaskannya dan hanya tersenyum dengan acuh tak acuh. "Sebentar lagi kamu nggak perlu menahannya lagi." Grace mengambil tas dokumen itu dan berkata, "Aku sudah membuat perjanjian perceraian. Sebelum Kantor Catatan Sipil tutup, lebih baik lakukan dulu saja." Setelah mendengar ini, Antony dengan tenang melambaikan tangan pada petugas resepsionis dan mengambil beberapa langkah. "Aku sudah menelepon bahkan mengirimkan pesan, tapi nggak ada jawaban, jadi aku datang ke perusahaan." Setelah mengatakan ini, Grace menyerahkan tas dokumen itu pada William. William tidak mengambilnya dan berkata, "Grace, baru beberapa hari saja kamu sudah nggak sabar. Sekarang mau ganti cara untuk buat masalah lagi?" Grace masih tersenyum tipis. "Percuma aku menjelaskannya lagi, kamu juga nggak akan percaya. Cara terbaik adalah pergi ke Kantor Catatan Sipil sekarang." Melihat senyum acuh tak acuh Grace yang belum pernah dilihat sebelumnya dan tatapan matanya yang terlihat tanpa dasar William sedikit mengerutkan kening. Grace tanpa malu-malu mengejarnya selama bertahun-tahun, bahkan mencoba segala cara untuk menikah dengannya. Sekarang Grace mau menceraikannya? Benar-benar lelucon! Mungkin Grace mendengar tentang metode ini di suatu tempat dan menggunakannya untuk menarik perhatiannya! "Kamu buru-buru sekali ke Kantor Catatan Sipil, apa nanti akan ada drama di sana?" William mencibir. "Grace, apa kamu nggak punya pekerjaan lain selain menggangguku setiap hari?" Apa yang dulunya merupakan cinta sepenuh hati dari Grace, ternyata hanya sebuah keterpaksaan dan keterikatan di mata William. Grace sekali lagi senang karena sudah sadar sepenuhnya. Grace mengeluarkan surat perjanjian cerai dari tas dokumen dan berkata, "Kamu bisa menandatanganinya sekarang. Ini akan selalu membuktikan bahwa aku nggak akan mengganggumu lagi." Melihat surat perjanjian cerai di hadapannya, kesabaran William habis dalam sekejap. Grace bersikeras untuk bercerai, William tentu saja akan menuruti kemauannya! Bab 0005 "Ambilkan pena!" "Pak William, Pak Zanu dan yang lainnya masih menunggumu menandatangani kontrak. Waktu hampir habis." Antony mendekat dan mengingatkan dengan suara yang lirih. Ini adalah kerja sama penting yang telah lama dibicarakan oleh Perusahaan Sanjaya dan hampir ditunda oleh Grace! William mengabaikan Grace dan buru-buru keluar dari gerbang bersama Antony. "William!" teriak Grace sambil mengejarnya. "Jauhkan dia dariku!" Dengan mengikuti perintah William, beberapa pengawal mengepung Grace. Grace tahu bahwa William adalah seorang yang gila kerja dan mungkin tidak akan punya waktu untuk bercerai dengannya karena jadwalnya yang padat hari ini. Grace hanya bisa berkata dengan lantang, "Besok pagi jam sembilan, kita bertemu di Kantor Catatan Sipil saja!" William masuk ke dalam mobil yang telah menunggunya dan pergi dengan acuh tak acuh. William akan pergi atau tidak? Pasti akan pergi. William berharap bisa menyingkirkannya secepat mungkin. Grace merasa lega. Setelah kembali ke vila, Grace masuk ke email yang sudah lama tidak dibuka. Di dalamnya ada beberapa tawaran pekerjaan dari bank investasi. Alih-alih langsung menghapusnya seperti sebelumnya, kali ini Grace membukanya satu per satu. Penawaran ini sudah berakhir. Di antaranya adalah bank investasi yang sangat terkenal sehingga banyak yang ingin bergabung. Grace malah melewatkannya hanya demi menjadi wanita milik William! Rugi sekali! Grace harus membuat rencana yang baik dalam hidup ini dan tidak lagi melakukan hubungan dengan pria bajingan itu. Tujuan utamanya adalah menjalani kehidupan yang baik. Setelah mengirimkan beberapa resume miliknya, Grace merasa sedikit santai begitu memikirkan besok dirinya akan menceraikan William. Setelah mematikan komputer, Grace mulai mengemasi barang-barangnya. Dengan begitu, Grace bisa langsung pergi begitu surat cerai berhasil dibuat. Saat sedang berkemas, Bibi Sinta masuk. "Nyonya, untuk apa berkemas? Nyonya mau berlibur?" Bibi Sinta adalah pelayan sementara yang diundang oleh William. Demi mencegah para pelayan melaporkan situasi mereka pada Nyonya Tamara, William tidak mengizinkan pelayan dari kediaman lama datang ke sana. Meskipun Grace pemarah dan selalu membuat masalah di kehidupan sebelumnya, tapi Bibi Sinta tetap bertanggung jawab atas tugasnya. Hanya saja sahabatnya mengatakan bahwa Bibi Sinta disuap oleh Bella, tapi Grace mempercayainya dan selalu mempersulit Bibi Sinta. "Bi Sinta, besok aku akan pindah." Grace meminta maaf, "Saat menjagaku, kamu selalu menderita, jadi mohon jangan dimasukkan ke dalam hati." Bibi Sinta terkejut. Nyonya sering kali merasa kesal, curiga dan mudah tersinggung, tapi sekarang dengan tenang akan meminta maaf padanya? Sepertinya Nyonya sudah banyak berubah sejak melompat dari gedung dan sadar hari itu! "Jangan begitu, Nyonya. Saya nggak apa-apa, tapi kenapa Nyonya mau pindah?" Grace mengatakan yang sebenarnya, "Aku berencana menceraikan William, besok kita akan melakukannya." Bibi Sinta terkejut lagi! Meski baru kurang dari setahun merawat Nyonya, tapi dia bisa melihat dengan jelas perasaan Nyonya pada Tuan William! Nyonya akan selalu memutar otak setiap hari untuk menyenangkan suaminya. Tuan William suka melukis, jadi Nyonya akan memenuhi rumahnya dengan lukisan-lukisan terkenal. Tuan William suka baca buku, jadi Nyonya meletakkan buku di lantai atas, bawah dan bahkan di taman. Segala sesuatu mengenai makanan, pakaian dan penggunaan bergantung pada kesukaan Tuan William. Sekarang, Nyonya ingin bercerai dengan Tuan William? "Nyonya, bukankah Nyonya sangat mencintai Pak William? Kenapa tiba-tiba ingin bercerai?" Bibi Sinta benar-benar bingung. Grace tersenyum dan berkata, "Cinta bisa hilang kapan saja, jadi lebih baik melepaskan satu sama lain." Bibi Sinta masih saja terkejut lalu hendak memberikan nasihat tapi tiba-tiba melihat William di koridor di luar pintu. "Tuan sudah pulang. Tuan sudah makan? Saya akan buatkan makanan." William berkata dengan pelan, "Nggak perlu, aku hanya pulang untuk mengambil beberapa dokumen." Setelah berbicara, William hendak berjalan ke ruang kerja tapi Grace menghentikannya. "Tunggu sebentar." Bibi Sinta buru-buru berkata, "Tuan, Nyonya, kalian ngobrol dulu. Saya akan turun." Setelah Bibi Sinta pergi, William berkata pada Grace dengan wajah acuh tak acuh, "Aku sibuk sekali, sebaiknya kamu mengatakan sesuatu yang serius." "Jangan khawatir, aku juga sangat sibuk dan nggak ada waktu untuk bicara omong kosong denganmu." Grace memegang surat perjanjian perceraian dari meja yang penuh dengan barang-barang lalu berjalan ke arah William. "Aku beri waktu sebentar untuk menandatangani perjanjian ini, jadi kita bisa langsung ke sana dan mengambil surat perceraian besok." William melirik ke arah Grace. Saat naik ke atas, dia mendengar Bibi Sinta bertanya pada Grace alasan mereka bercerai. Awalnya, dia tidak percaya Grace akan menceraikannya. Namun, William mendengar Grace mengatakan bahwa cintanya sudah hilang dengan nada suaranya sangat santai dan tidak terdengar seperti sedang berpura-pura. Grace yang memegang surat perjanjian perceraian saat ini, terlihat sangat tenang dan polos. Pakaiannya yang longgar dan kasual, benar-benar berbeda dari citra sempurna yang dimiliki Grace sebelumnya. Apa Grace sudah sadar? William menerima surat perjanjian perceraian dengan ragu-ragu. Isinya sangat sederhana. Isi utamanya adalah Grace tidak menginginkan apa pun setelah perceraian. Ada tanda tangannya yang indah di bawah. "Kalau nggak ada masalah, tanda tangani saja," desak Grace. William menatapnya lagi. "Apa kamu benar-benar ingin bercerai?" "Tentu saja, lebih cepat lebih baik!" Grace bertanya, "Kamu punya pena? Kalau nggak ada, aku akan mengambilkannya!" William tidak mengangguk dengan tergesa-gesa, tapi mengembalikan surat perjanjian perceraian itu pada Grace. "Apa maksudmu? Ada masalah?" Bab 0006 "Keluarga Sanjaya nggak miskin hingga membuatmu pergi tanpa membawa harta sama sekali." Ketika Grace tampak curiga, William berkata dengan tenang, "Aku akan meminta Antony untuk membuat rancangan surat perjanjian perceraian baru dan memberimu sejumlah kompensasi." "Nggak perlu." Grace menolak, "Aku menikah denganmu bukan karena uangmu." Grace tidak kekurangan uang. Belum lagi kakeknya meninggalkan saham untuknya. Selain itu, Grace bisa mendapatkan uang dengan kemampuannya sendiri. Grace bersikeras untuk menikah William hanya karena cinta. "Kamu menikah denganku karena apa sudah nggak ada hubungannya denganku," kata William dengan nada menolak. "Tapi demi martabat satu sama lain, surat perjanjian perceraian akan ditentukan kembali seperti yang aku katakan." "Oh, jadi takut kamu akan malu karena mantan istrimu bercerai tanpa membawa harta sama sekali." Grace berhenti berdebat. "Kalau begitu terserahmu." "Sampai jumpa di Kantor Catatan Sipil besok." Setelah mengatakan itu, Grace melangkah mundur, menutup pintu dan melanjutkan mengemas barang-barangnya. William di luar pintu kembali mengerutkan kening. Apa Grace menghentikannya hanya karena ingin bercerai? Setelah masalahnya selesai, Grace menutup pintu dengan gembira tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dulu, setiap kali William pulang, Grace akan seperti burung pipit, berkicau di sekelilingnya. Sering kali menemaninya jalan-jalan sambil menikmati bunga di taman. Grace juga suka mencari berbagai alasan untuk bersamanya saat sedang mengurus urusan resmi. Jika Grace bisa tenang seperti ini selalu, William tidak akan kesal saat pulang ke rumah. Namun, tidak peduli apa yang direncanakan Grace, selama benar-benar setuju untuk bercerai besok, satu hal yang menyebalkan bagi William akan berkurang. ... "Kak William, aku ingin bertemu Kakek. Aku hanya perlu keluar sehari! Aku bersumpah, aku nggak akan pernah merusak pernikahanmu dengan Bella! Kalau kamu nggak percaya, aku bisa membuktikannya sekarang!" "Grace, kamu benar-benar keras kepala! Kalau kamu ingin mati, matilah. Aku nggak akan membiarkanmu punya kesempatan lagi untuk menyakiti Bella!" "Cusshh!" Dengan ekspresi jijik dingin William, Grace menusukkan pisau tajam ke dalam hatinya. Darah hangat mengalir keluar dari tubuhnya dan perlahan berubah menjadi dingin .... "Ah!" Grace menjerit dan duduk dari tempat tidur. Melihat lingkungan yang aneh tapi familiar di sekitarnya, Grace menghela napas lega. Beberapa hari setelah kembali ke masa lalu, Grace masih terus bermimpi tentang kehidupan masa lalunya. Keputusasaan yang menyakitkan sebelum kematian terlalu menyesakkan. Entah apa pun alasannya, Grace tidak ingin menjalani kehidupan lamanya lagi! Setelah memikirkannya, Grace bangkit dari tempat tidur, berdandan sedikit lalu pergi ke Kantor Catatan Sipil. Saat itu belum pukul sembilan, Kantor Catatan Sipil belum buka dan William belum juga datang. Di luar Kantor Catatan Sipil, banyak pemuda dan pemudi yang menunggu untuk menikah. Melihat ekspresi bahagia mereka, Grace teringat saat menikah dengan William. Saat itu, Grace sangat bersemangat dan datang ke sini pagi-pagi sekali untuk mengantri. Meski harus menunggu hingga tengah hari karena William datang terlambat. Meski ekspresi William sangat dingin. Namun, Grace tetap bahagia. Grace pikir akan memasuki pernikahan yang bahagia mulai sekarang. Tanpa diduga, itulah awal dari kehidupan tragisnya .... William sedang duduk di dalam mobil, matanya yang gelap menatap ke depan dengan tenang. William masih tidak percaya bahwa Grace akan menceraikannya. Bagaimanapun, William sering melihat banyak trik yang dilakukan Grace. Agar tidak tertipu, William mengirim seseorang untuk memeriksa sekeliling dan situasi di dalam. Orang-orang juga memeriksa keberadaan Grace dalam beberapa hari terakhir. Hasilnya, bawahannya datang untuk melaporkan bahwa tidak ada kelainan di ruangan itu serta Grace. Melihat sikap dan raut wajah Grace yang acuh tak acuh, William merasa agak kesal di hatinya. Namun, itu hanya sekejap. Hal yang paling William benci dalam hidupnya adalah seseorang yang mencoba mengendalikan dan mengancamnya. Grace memanfaatkan kedua hal ini. Grace yang membuat masalah dengan mengandalkan perceraian ini! Saat ini sudah saatnya Kantor Catatan Sipil buka. Grace menundukkan kepalanya dan mengirim pesan lalu masuk ke dalam. Di ponsel tertulis. "Aku sudah sampai, kamu cepat datang ke sini." William mengambil surat perjanjian cerai yang dicetak oleh Antony dan keluar dari mobil. "Pak William." Begitu duduk, Grace mendengar sapaan sopan dari petugas. Cepat sekali? Di luar dugaan, William yang terlambat menghadiri pernikahan, akan sangat tepat waktu dan dapat dipercaya dalam urusan perceraian. Grace mengangkat kepalanya dan melihat William yang tinggi dan tampan telah tiba. William mengenakan kemeja ungu tua bermotif gelap, dengan fitur wajah tampan dan temperamen luar biasa. Di bawah sorotan lampu yang menyala-nyala di atas kepalanya, seluruh tubuhnya ditutupi lapisan cahaya tipis, membuatnya seperti tidak tersentuh oleh dunia fana. Meskipun sudah tidak menyukainya, Grace tetap harus mengakui bahwa William terlihat sempurna. Dulu, Grace memang terobsesi dengannya, sebagian karena ketampanannya. William mengerutkan kening dan berkata, "Sudah puas melihatnya?" Awalnya berpikir Grace sudah berubah, tapi masih menatapnya secara langsung! Grace menjelaskan, "Sudah bawa surat perjanjian perceraiannya, 'kan? Aku mau tanda tangan." William mengerutkan kening lagi dan memberikan surat itu padanya. Petugas sedang menunggu di luar pintu. Grace mengambil surat perjanjian itu dan melihatnya sekilas dengan santai. William memberinya tunjangan sebanyak 20 miliar. Meskipun jumlah ini hanya merupakan hal kecil dari kekayaan William, tapi William cukup baik bisa memberikan ini padanya. Bagaimanapun, William terpaksa menikah dan sangat membencinya. William memperingatkan dengan sikap yang dingin. "Setelah perceraian, jaga ucapanmu. Kalau kamu menggunakan ini untuk membuat keributan besar, aku nggak akan sungkan lagi." Bab 0007 Kapan William bersikap lemah lembut padanya? Grace menganggap semua ini benar-benar konyol. William masih tidak mempercayainya. William menganggap Grace akan menggunakan perceraian untuk merusak reputasinya. Perceraian setelah satu tahun menikah bukanlah hal yang mulia, jadi Grace tidak akan mempublikasikannya dengan terang-terangan. "Aku berjanji tidak akan menyebutkannya sepatah kata pun. Kalau kamu khawatir, kamu bisa menambahkan ini ke dalam perjanjian perceraian." William melihat ejekan di bibir Grace dan merasa sangat kesal. "Jangan tunda-tunda, cepat tanda tangan!" Grace mengatakan ini seolah-oalah sengaja mengulur waktu. Grace terlalu malas untuk berdebat dengan William, jadi langsung mengambil pena dan tanda tangan tanpa ragu-ragu. "Giliranmu!" Grace melemparkan pena serta surat perjanjian perceraian ke depan William. Sudah menyuruh orang untuk mencetak dokumennya, kenapa tidak tanda tangan dulu? Benar-benar merepotkan! William merasakan lirikan mata kesal dari Grace. William mencoba menahan diri untuk tidak marah. Lagi pula sebentar lagi mereka tidak akan berhubungan, jadi lebih baik menahannya selama beberapa menit saja. Setelah mengambil pena, William hendak menandatangani tapi ponselnya tiba-tiba berdering. Ternyata yang menelepon adalah Bibi Linda, pengasuh yang khusus untuk merawat neneknya. Begitu menerima telepon, suara cemas dari Bibi Linda terdengar. "Tuan, Nyonya tiba-tiba pingsan! Saya sudah memanggil dokter, cepat kemari!" Setelah mendengar ini, William buru-buru berdiri dan segera keluar! "Kamu mau ke mana?" Grace berteriak, "Tanda tangan dulu!" William tiba-tiba teringat sesuatu dan menatap Grace dengan wajah dingin .... "Apa ini perbuatanmu?" Grace bingung. "Apa yang kulakukan? Siapa yang menelepon tadi?" Grace sengaja duduk jauh dari William, jadi hanya tahu bahwa orang di ujung telepon sedang terburu-buru dan tidak mendengar dengan jelas apa yang terjadi. Melihat ekspresi Grace yang sepertinya tidak berpura-pura, William tidak punya waktu untuk menyelidikinya lebih jauh. "Grace, sebaiknya kamu jangan bercanda tentang nyawa Nenek!" Setelah mengatakan itu, William segera pergi. Grace tahu dari reaksi dan kata-katanya bahwa ini tentang Nenek Tamara. Grace segera meneleponnya. Setelah mendengar Bibi Linda bilang bahwa Nenek pingsan, Grace buru-buru pergi dari Kantor Catatan Sipil. Nenek Tamara selalu baik padanya. Nenek Tamara bukan hanya mengizinkannya menikah dengan William, tapi juga membantunya melampiaskan amarahnya saat Grace dianiaya. Alasan kenapa dia bisa mempertahankan pernikahannya dengan William adalah karena dukungan Nenek Tamara. Hanya saja di kehidupan sebelumnya, Grace terlalu mengecewakan Nenek Tamara. Setelah masuk rumah sakit jiwa, Grace mendengar bahwa neneknya kurang sehat, sehingga tidak lagi punya tenaga untuk mencampuri urusannya. Meskipun tidak lagi menjadi istri cucunya dalam kehidupan ini, tapi Grace tidak akan pernah melupakan kebaikan Nenek Tamara padanya. William tidak lagi berada di tempat parkir di luar, jadi Grace tidak punya pilihan selain naik taksi dan bergegas ke kediaman Keluarga Sanjaya secepat mungkin. Setelah ke ruang tamu, tidak ada dokter yang seperti dibayangkan, bahkan tidak ada pelayan yang sedang cemas. Nyonya Tamara sedang duduk di kursi utama, tidak terlihat sedang sakit dan menatap ke arah William dengan marah. "Kamu hebat sekali, berani-beraninya bercerai dengan Grace di belakangku!" "Nenek, Grace ...." William baru saja membuka mulut untuk berbicara, tapi Nyonya Tamara memukulnya dengan tongkat! "Kamu masih ingin berdalih? Grace sangat mencintaimu, mana mungkin bisa mengajukan perceraian! Apa kamu ingin membuatku mati?" Nyonya Tamara begitu marah hingga batuk beberapa kali. "Nenek!" Grace buru-buru berlari ke arahnya. Nyonya Tamara sedikit senang melihatnya. "Grace datang tepat pada waktunya, beri tahu Nenek kalau bocah ini yang memaksamu bercerai!" Grace melirik ke arah William, tatapan matanya sudah dipenuhi rasa dingin. Jika Nyonya Tamara tidak ada di sana, William pasti sudah langsung membunuhnya! "Kenapa melihat Grace saja?" Nyonya Tamara memukul William lagi dan berkata pada Grace, "Jangan takut, Grace. Katakan yang sebenarnya. Nenek akan membelamu!" Hati Grace merasa hangat. Grace memegang tangan Nenek dan berkata dengan lembut, "Nenek, bukan William yang ingin bercerai, aku sendiri yang ingin bercerai." Nyonya Tamara menepuk punggung tangannya dengan nyaman. "Grace, beritahu Nenek apa yang kamu derita. William akan meminta maaf atau Nenek bisa memukulnya! Hanya saja, jangan bercanda tentang perceraian." Nenek masih tidak percaya padanya. Grace sedikit tidak berdaya. "Nenek, aku tahu Nenek merasa kasihan padaku, tapi aku nggak bercanda." "Aku nggak gegabah, aku sudah memikirkannya dengan jelas. Aku ingin bercerai." Melihat ekspresi tegas Grace, ekspresi Nyonya Tamara menjadi sedikit lebih serius. "Grace, ikut Nenek pergi ke ruang meditasi." ... Setengah jam kemudian, Grace membantu Nyonya Tamara kembali ke ruang tamu dengan mata merah. Nyonya Tamara menatap William dengan marah. "Bawa kembali Grace!" "Kalau kalian bercerai di belakangku, aku akan beri kalian pelajaran!" William sepertinya tidak terkejut dengan hasil ini, mencibir dan berdiri untuk pergi. "Dasar bocah tengil!" Nyonya Tamara mengumpat sambil memegang tangan Grace dengan sedih. "Grace, ingat apa yang kamu janjikan pada Nenek." "Nenek harus berjanji nggak akan menghentikanku menceraikan William setelah ulang tahun Nenek bulan depan." "Bagaimana kalau William jatuh cinta padamu?" tanya Nyonya Tamara. Bab 0008 Grace tertawa dalam hatinya. Di kehidupan sebelumnya, Grace menunggu selama delapan tahun, tapi pada akhirnya hanya mendapat surat cerai dan kabar bahwa William sudah menikah lagi dengan Bella. Bagaimana William bisa jatuh cinta padanya hanya dalam beberapa hari. "Nenek bilang kalau William mengetahui kebaikanmu dan jatuh cinta padamu, apa kamu masih ingin bercerai?" tanya Nyonya Tamara lagi. Grace mengangguk tegas di depan mata neneknya yang penuh harap. "Ya." Entah apa yang terjadi dalam hidup ini, dia tidak ingin berhubungan dengan William. Dia sudah cukup merasakan sakitnya cinta. Dia ingin menjauh dari William dan memulai hidup baru! ... Setelah berjalan keluar dari rumah, Grace melihat William dengan wajah dingin di dalam mobil. Kehebohan dari perceraian ini sudah terjadi, tapi masih saja gagal bercerai. Menurut William, ini adalah sandiwara antara Grace dan neneknya. Saat masuk ke dalam mobil pasti akan dipermalukan dan ditanyai oleh William. Jadi Grace mengabaikannya dan berencana naik taksi dan pergi sendiri. "Naik!" William melihat niatnya dan memberikan perintah. "Terima kasih, kita nggak satu jalan." Grace juga merasa kesal. Gagal bercerai membuat suasana hatinya menjadi buruk, kenapa harus rela menerima emosi dari William? "Grace!" Ada peringatan dalam nada bicara William. "Kenapa teriak? Kalau kamu bisa, cepat urus masalah perceraian sekarang!" ujar Grace. Ini adalah pertama kalinya dia berbicara kepada William dengan nada seperti ini dan juga pertama kalinya mengkritik William seperti ini. Kemarahan di wajah William meningkat dengan kecepatan yang terlihat dengan mata telanjang. William mencibir. "Bagus sekali!" Grace bahkan tidak memikirkan apa yang dimaksud dengan "bagus sekali", lalu melihat William keluar dari mobil. Saat hendak melarikan diri, dia ditangkap oleh William! "Lepaskan aku!" Grace menjadi cemas, berbalik dan menggigit lengannya. William kesakitan tapi tidak membuang tangannya. Sebaliknya, melemparkan Grace ke dalam mobil seperti seekor ayam. "Jalan!" William memerintahkan Antony. Mobil sudah menyala, Grace tidak dapat melarikan diri lagi. Grace segera mengeluarkan ponselnya dan menyalakan kamera pada William. Grace memeringatkan, "Kalau kamu berani memukul aku, aku akan segera lapor polisi!" "Lapor polisi?" William sepertinya mendengar sesuatu yang konyol dan mendesak ke arahnya. Tubuh tinggi itu mendekat seperti gunung, Grace tiba-tiba merasakan tekanan lalu menarik lagi tangannya yang sedang memegang ponsel. "A-apa yang ingin kamu lakukan?" "Bukankah kamu hebat? Kenapa kamu gugup!" William mengangkat pergelangan tangannya sambil tersenyum dingin, memperlihatkan sederet bekas gigi yang dalam di atasnya. "Mulutmu kejam sekali. Kalaupun aku memukulmu, itu bisa dianggap pembelaan diri." Setelah melihat keadaan ini, Grace menjadi tenang. Entah seberapa besar William membencinya di kehidupan sebelumnya, William tidak pernah memukulnya. William juga bukan tipe pria yang suka memukul wanita. Saat ini, William sangat dekat dengannya, aroma wangi masuk ke hidungnya. Grace merasa tidak nyaman, jadi mengerutkan kening dan mendorongnya menjauh! William tidak siap dan didorong ke belakang hingga hampir menabrak jendela mobil. "Grace, apa kamu sudah kecanduan?" ujar William dengan marah. Grace menjawab tanpa basa-basi, "Kamu lemah sekali hingga bisa jatuh hanya dengan satu dorongan. Kenapa menyalahkanku?" William tersedak. Grace tidak pernah sekeras ini di depannya dan tidak pernah mengucapkan kata-kata sarkastik seperti itu. Sekarang Grace di depannya ini benar-benar berbeda. "Baiklah, Grace." William marah besar dan tertawa. "Kamu sudah punya otak? Kamu tahu bahwa masalah hari ini nggak bisa dijelaskan, jadi kamu belajar mengalihkan perhatian?" "Apa yang harus aku jelaskan!" Grace tidak terlalu menyukai nada bicara William. "Aku lebih ingin bercerai daripada kamu! Neneklah yang bersikeras membuatku menunggu sampai ulang tahunnya!" Sebelum menikah dengan William, Grace bersumpah kepada Nenek Tamara bahwa akan menjadi Nyonya Sanjaya yang baik, berpegang pada pernikahan ini dan bekerja keras untuk membuat William jatuh cinta padanya. Sekarang baru satu tahun berlalu, Grace hampir mengingkari janjinya pada Nenek Tamara. Jadi di ruangan meditasi, setelah neneknya berulang kali menegaskan tekadnya untuk bercerai, Nenek Tamara dengan sedih tidak ingin berpisah dengan istri cucunya saat berulang tahun dan meminta Grace untuk menunda sampai ulang tahunnya, mau tidak mau Grace menyetujuinya. "Grace, apa kamu nggak merasa bersalah mengatakan hal ini?" William mencibir. "Kalau kamu benar-benar ingin bercerai, kenapa membawa masalah ini ke Nenek?" "Nggak! Aku nggak tahu bagaimana Nenek bisa tahu!" "Kalau kamu nggak tahu, lalu siapa yang tahu? Mana mungkin aku mengatakan hal ini pada Nenek." Melihat ekspresi William yang sinis, Grace tiba-tiba tidak ingin berdebat. "William, sekarang pergi ke Kantor Catatan Sipil saja!" Grace berkata dengan tenang, "Aku akan merahasiakannya pada Nenek untuk saat ini dan menunggu sampai ulang tahunnya selesai baru mengumumkannya." "Sudahlah, jangan bersandiwara lagi!" William kehilangan kesabarannya. "Jangan bilang kamu nggak tahu. Nenek sudah mengirim seseorang ke Kantor Urusan Sipil untuk mengambil surat perjanjian perceraian kita." "Pura-pura ke sana agar aku dimarahi oleh Nenek lagi!" Grace agak terkejut saat mendengar ini. Grace tidak menyangka neneknya akan bergerak secepat itu. Nenek bisa meminta orang untuk mengambil surat cerai mereka, mungkin akan mengatur agar orang-orang mengawasi pergerakan mereka. Perceraian rahasia tampaknya tidak bisa dilakukan. Grace tidak lagi mendesak, "Kalau begitu, kita bertoleransi satu sama lain selama beberapa hari lagi. Setelah ulang tahun Nenek, aku berjanji akan segera menceraikanmu!" William mendengus dan masih hendak berbicara, tapi teleponnya tiba-tiba berdering. Bab 0009 Begitu telepon masuk, ekspresi William melembut secara signifikan lalu segera membuka layar ponsel. "William, rapat Perusahaan Investasi Balka sebentar lagi akan dilaksanakan. Bisa sampai di sini berapa lama?" Suasana di dalam mobil menjadi sunyi, suara lembut Bella menembus telinga Grace melalui ponsel William kata demi kata. William baru-baru ini mengakuisisi Perusahaan Investasi Balka, dengan Bella sebagai direkturnya. Di kehidupan sebelumnya, Bella membuat rapor yang indah di Perusahaan Investasi Balka dan dipanggil "Ratu" oleh rekan-rekannya. Saat itu Grace tidak rela dan ingin masuk ke Perusahaan Sanjaya untuk membuktikan kemampuannya. Namun, Grace diejek oleh William. "Kamu mau bekerja? Apa kamu tahu cara bertahan hidup di tempat kerja? Berapa banyak waktu dan energi yang Bella curahkan untuk mendapatkan pengakuan dari dewan direksi, tapi kamu bilang bisa melakukannya hanya dengan ambisi saja?" "Grace, latar belakang Bella kalah denganmu, tapi Bella termotivasi, pekerja keras dan berpendidikan tinggi! Nggak seperti kamu, yang nggak bisa berbuat apa-apa selain menindas orang lain setiap hari!" ... "Oke, sudah begini saja." William menutup telepon. Grace juga terbebas dari ingatannya. Wajah William di kehidupan sebelumnya tumpang tindih dengan wajah di depannya, Grace tiba-tiba merasa udara di dalam mobil menjadi lebih tipis. "Pak Antony, tolong menepi, aku ingin keluar." "Nyonya, di sini susah untuk dapat taksi. Kenapa nggak pergi ke perusahaan bersama Pak William dan aku akan mengantarkan Nyonya pulang?" "Nggak perlu, turunkan aku di sini saja." Grace tidak ingin tinggal bersama William lebih lama lagi. Antony tidak segera menghentikan mobilnya, tapi melihat ke arah William di kaca spion untuk menunggu instruksinya. Melihat ekspresi Grace yang sudah tidak tahan lagi, William menjadi marah. "Hentikan mobilnya, biarkan dia keluar!" Antony melakukan apa yang diperintahkan dan menepikan mobilnya. Grace keluar dari mobil tanpa ragu-ragu dan menutup pintu. "Grace, kalau kamu berani memasukkan Nenek ke dalam masalah kita, aku nggak akan pernah memaafkanmu!" Grace berpura-pura tidak mendengar peringatan William dan berjalan maju tanpa menoleh ke belakang. William emosi, berbalik dan berkata dengan marah pada Antony, "Kenapa nggak pergi? Mau menunggu di sini sampai malam?" Antony terdiam. Grace menggunakan ponselnya untuk memesan mobil. Meskipun tarifnya dinaikkan karena jarak yang jauh, tapi suasana hatinya menjadi baik. Grace membawa mobilnya ke rumah sakit terlebih dahulu dan menjalani pemeriksaan fisik lengkap di sana, dengan fokus pemeriksaan pada perutnya. Menderita kanker lambung sangatlah menyakitkan, Grace harus menjaga tubuhnya dengan baik dalam hidup ini untuk menghilangkan kemungkinan terjadinya kanker. Butuh beberapa hari hingga hasil tesnya tersedia, jadi Grace kembali ke Vila Bonavida. Beberapa barang bawaan yang dia kemasi tadi malam sudah diatur ulang oleh Bibi Sinta. "Nyonya, apa hari ini Tuan akan pulang? Barang-barang ini mau dikembalikan saja?" tanya Bibi Sinta dengan hati-hati. Grace tertegun. Jadi di mata Bibi Sinta, saat dirinya mengemasi tasnya dan ingin bercerai kemarin, apa itu karena tahu William akan pulang dan dengan sengaja melakukan hal itu padanya? Sambil terdiam, Grace juga mengesampingkan kecurigaan Bibi Sinta yang memberi tahu neneknya. Siapa yang banyak bicara? Benar-benar ingin sekali memukulinya. Sebentar lagi dia sudah bisa menarik garis dari William! Grace berjanji pada Nenek Tamara untuk tidak pindah dari Vila Bonavida sebelum perceraian dan hanya bisa terus tinggal di sini untuk saat ini. ... Setelah bangun keesokan harinya, Grace memutuskan untuk melatih keterampilan mengemudinya. Grace mendapatkan SIM saat lulus SMA. Grace tidak pernah menyentuh mobil selama beberapa tahun dan masih belum terbiasa. Untuk memudahkan masuk dan keluar nantinya, Grace harus bisa mengemudi. Ada mobil Maserati di pojok garasi pemberian kakeknya saat mereka menikah, tapi Grace enggan mengendarainya sendiri. Dengan kemampuan mengemudinya, akan celaka jika menabrak orang lain. Jadi Grace secara acak memilih mobil William, mengendarai berdasarkan ingatannya dan keluar dari garasi. Setelah akhirnya sampai di jalan raya, Grace tidak berani pergi ke kawasan perkotaan yang padat, melainkan melaju perlahan di jalan yang relatif sepi. Saat keluar lagi di sore hari, Grace merasa tangannya telah pulih dengan baik dan kecepatannya lebih cepat daripada di pagi hari. Ada persimpangan di depan. Saat Grace hendak berbelok, tapi ada seekor anak anjing yang melompat keluar. Grace terkejut dan memutar kemudi dengan tajam. Mobil Grace pun bertabrakan dengan mobil yang datang dari jalan utama. Melihat cat mengkilap dan logo mobil pihak lain yang memesona, Grace mengerutkan kening. Ternyata Grace menabrak mobil mewah. Untungnya, Grace tidak mengendarai mobilnya sendiri. Jika tidak, maka mobilnya yang akan rusak. Pengemudi mobil di depan sudah keluar dan Grace juga segera keluar dari mobil. "Maaf, aku yang nggak hati-hati ...." Pihak lain mengabaikan permintaan maafnya dan dengan cermat mengambil foto untuk identifikasi dan menelepon polisi, seolah-olah pernah melalui proses ini berkali-kali. "Kenapa lambat sekali?" Suara yang sedikit tidak sabar terdengar dari dalam mobil. "Maaf, Tuan Muda Reza, sebentar lagi selesai." Sopir itu menjawab dengan ketakutan dan berkata kepada Grace, "Berikan SIM kamu untuk aku foto dan tinggalkan nomor teleponmu. Seorang pengacara akan menindaklanjutinya nanti." Apakah orang-orang kaya saat ini begitu memperhatikan efisiensi dalam menghadapi kecelakaan lalu lintas? Grace mengeluarkan SIM dari mobilnya dan menyerahkannya. "Pemilik mobil, William. Ini bukan mobilmu?" "Milik suamiku, ini nomor teleponku." Grace menyerahkan catatan dengan nomor teleponnya tertulis di sana. "Aku akan memberimu kartu nama pengacara. Dia ...." "Tunggu sebentar." Grace hendak mengambil kartu nama itu, tapi pintu belakang mobil terbuka dan ada seorang pria yang turun. Bab 0010 Pria itu terlihat tampan dan jahat, mengenakan setelan jas kasual berwarna putih. Pakaian seperti ini akan menjadi jelek bagi orang biasa, tapi saat pria ini memakainya, ada aura yang begitu hebat. Seperti monster. Grace memiliki firasat samar bahwa dirinya pernah melihat orang ini di suatu tempat, tapi tidak dapat mengingatnya. "Tuan Muda Reza," panggil sopir itu dengan gugup. Pria bernama Tuan Muda Reza itu memandang ke arah Grace. "Aku minta maaf karena menyia-nyiakan waktumu. Aku akan bertanggung jawab penuh." Grace meminta maaf dengan tulus. Setelah mendengar ini, pria itu tertawa jahat. "Selain biaya perbaikan mobil, ada juga kerusakan mental dan kerugian dari waktu untuk bekerja. Ada kontrak seharga puluhan triliun yang menunggu untuk aku tandatangani. Kamu harus bertanggung jawab atas semua penundaan yang disebabkan olehmu." Setelah mendengar pria ini memeras. Grace juga tersenyum ringan. "Tuan, kamu terlihat tampan dan kaya, tapi ternyata suka memeras." Tak heran jika sang pengemudi begitu piawai mengambil foto mobil serta SIM. Pria itu tidak marah, tapi wajahnya masih terlihat jahat. "Jangan ikut campur. Kalau kamu nggak mampu membayarnya, biarlah pemilik mobil yang membayar." Sekarang Grace menyadari bahwa pria ini sengaja ingin menyerang William. Pada saat yang sama, sebuah ide muncul di benaknya dan ingat identitas pria itu ... Reza Mantovani! Pesaing bisnis terbesar William. Dalam kehidupan sebelumnya, Grace tidak melakukan kontak langsung dengan Reza. Namun, saat berada di rumah sakit jiwa, Grace melihatnya di berita keuangan. Saat itu, kekayaan bersih Reza hampir menyamai kekayaan William. Perusahaan investasi yang Reza dirikan menjadi yang kedua setelah Perusahaan Sanjaya. "Pak William, istrimu mengendarai mobilmu dan menabrak seseorang. Pak William, bagaimana ini?" Grace masih mengingat kejadian di kehidupan sebelumnya, tapi Reza sudah menghubungi nomor William. "Bilang pada suamimu." Reza menyerahkan ponselnya. "..." Grace mengambilnya dan mendekatnya untuk berbisik, "Halo." "Kamu pergi sendiri?" Meskipun William tidak sabar, nada suaranya tidak terdengar kesal. "Ya." "Kamu baik-baik saja?" "Ya." "Di sana saja, jangan bergerak." Setelah mengatakan itu, William menutup telepon. "Aku dengar Pak William menikah dengan seorang istri yang cantik dan menawan. Saat aku melihatnya hari ini, memang benar semua hal itu!" puji Reza. Semuanya salah. William menikah dengannya bahkan tanpa mengadakan pesta pernikahan, tidak ada yang tahu bahwa William sudah menikah kecuali beberapa orang dekat. Grace tersenyum sopan. "Aku sudah lama dengar bahwa Tuan Muda Reza pandai menghasilkan uang. Saat aku melihatnya hari ini, aku sangat mengaguminya." Saat berbicara, Grace menggunakan ponsel Reza untuk menghubungi nomornya sendiri. "Kalau ada kesempatan tolong ajarkan aku cara menghasilkan uang. Aku harap Tuan Muda Reza nggak pelit berbagi ilmu." Grace mengembalikan ponselnya padanya. Reza mengangkat alis tampannya dengan penuh minat. "Baiklah." Segera, polisi lalu lintas dan pengacara Reza tiba. Mobil Maybach yang sering digunakan William juga melaju ke sini. Grace agak terkejut saat melihat William turun dari kursi belakang. Untuk masalah sepele seperti itu, sungguh luar biasa bisa mengirim Antony untuk menanganinya, tapi kali ini William benar-benar datang secara langsung? Antony sedang bernegosiasi dengan pengacara dan polisi lalu lintas. Saat itu juga, William berjalan ke arahnya dan Reza. William mengenakan kemeja hitam, yang membuat wajahnya tampak seperti sebuah permata. Sosok tinggi dan kaki panjang dalam setelan jas memberinya aura bangsawan. Beberapa saat yang lalu, Grace berpikir bahwa Reza adalah monster yang tak tertandingi, tapi sekarang ketika melihat William, Grace merasa bahwa William lebih baik. "Pak William, sudah lama nggak bertemu." Reza mengulurkan tangannya dengan sopan. William mengabaikannya, tapi melirik ke arah Grace. "Apa yang terjadi?" "Awalnya hanya kecelakaan lalu lintas biasa, tapi dia ingin memerasmu." Grace menunjuk ke arah Reza dan menyerahkan tanggung jawab kepadanya tanpa beban apa pun. "Kata-kata Nyonya salah ... aku yang rugi banyak." Reza tidak marah dan berkata kepada William dengan nada provokasi, "Pak William, aku dengar Perusahaan Investasi Balka ingin menginvestasi Proyek Makala, aku akan membantumu mendapatkan proyek itu, anggap saja hadiah pertemuan pertamaku untukmu." William tersenyum lalu berkata, "Apa kamu layak?" "Pak William, kita bertaruh saja. Kalau aku memenangkan proyek ini, kamu harus memberiku tanah di Kota Amari." William mencibir lagi. "Ambisimu besar juga." Reza juga tersenyum. "Kuanggap Pak William sudah setuju." William mengabaikannya dan berkata pada Grace, "Masuk ke mobil." Setelah mengatakan itu, William berjalan menuju mobil Maybach miliknya. Meskipun tidak ingin pergi bersama William, tapi Grace menabrakkan mobilnya, bahkan William datang sendiri untuk membantunya, jadi Grace harus menunjukkan sikap yang baik. Jadi Grace masuk ke mobilnya. Saat berjalan menuju mobil dan hendak membuka pintu kursi belakang, suara dingin William terdengar. "Kamu anggap aku sebagai sopir?" Grace yang duduk di kursi penumpang tertegun. Di dalam mobil, William tampak kesal. Dulu, Grace akan mengucapkan terima kasih dengan terharu dan menjelaskan keseluruhan cerita secara detail. Sekarang Grace tidak merasa ada yang perlu dikatakan dan hanya bermain-main dengan ponselnya. Keduanya tetap diam. Tiba-tiba, sebuah mobil yang melaju di belakang membunyikan klakson dan menyalakan lampunya. Grace melirik ke kaca spion dan melihat Reza mengikutinya dengan mobil mewah yang penyok. William juga melihatnya, tidak mempercepat atau memperlambat mobilnya dan melaju dengan kecepatan normal. Di lampu merah di depan, Reza memarkir mobil di sebelah Grace. Reza melambaikan tangannya ke arah Grace, menandakan bahwa dirinya ingin mengatakan sesuatu. Grace menurunkan jendela dengan bingung.