Đang tải thông tin quảng bá...
Istri Lugu Presdir Dingin
Dunia Nia hancur berantakan setelah keberadaan janin di rahimnya diketahui orang di sekitarnya. Saat dia begitu terdesak, seorang wanita yang pernah ditolongnya, menawarkan bantuan dengan dua syarat: ...
Chương (1)
第1章
Bab 1
"Aku hamil anakmu, Reza."
Nia datang menemui pria ini setelah menemukan ada kehidupan baru dalam rahimnya. Tanpa sadar, Nia menunduk. Bahkan, tangannya bergetar menanti reaksi dari sahabat sejak SMA, sekaligus pria yang dicintainya ini.
"Apa kau yakin itu anakku? Kita hanya melakukan sekali dan aku dalam keadaan mabuk," kata Reza datar.
Deg!
"Lagi pula ... jika pun memang benar anakku, tidak mungkin aku bertanggung jawab," ucap Reza sebelum kembali berkata," kau tahu kan aku begitu mencintai Raya? Sebentar lagi, kami juga akan menikah."
Rententan kalimat dari pria itu membuat hati Nia berdenyut nyeri. Pria itu benar-benar menolaknya tanpa berpikir dua kali. Bahkan, Reza seakan meragukan dirinya, seakan dia wanita murahan.
Sungguh, Nia begitu kecewa. Namun, dia tidak dapat berbuat apa-apa. Ini semua karena kebodohannya! Begitu mudah dirinya menemani Reza yang sedang hancur saat dicampakkan Raya, hingga merenggut kesucian, bahkan menghadirkan janin tak bersalah ini.
"Ta--tapi--" ucap Nia terbata-bata, berusaha untuk membela diri.
Namun, belum sempat berbicara, ucapannya telah dipotong Reza dengan cepat, "--Gugurkan saja dan kita lupakan semuanya. Kamu tetap dapat menjadi temanku dan Raya."
"Tapi, ini anakmu. Apa kau tega membunuhnya?" Setelah mengumpulkan keberaniannya, Nia akhirnya bisa mengeluarkan isi pikirannya. Namun, tanpa dia sadari lelehan air mata telah luruh di pipinya.
Sayangnya, Reza tidak tersentuh sama sekali. Pria itu justru memutar bola matanya malas melihat Nia yang bersikukuh. "Terserah, kau. Yang jelas, dia bukan anakku! Sekarang, keluar atau kupanggil satpam!"
Tangan Nia mengepal. Namun, dia tahu bahwa dia tidak bisa apa-apa. Dengan lesu, Nia keluar dari ruangan Reza dan kembali ke rumahnya. Sungguh! Dia bingung bagaimana kelanjutan janin dan hidupnya nanti. Sayangnya, sesampainya di rumah, ada hal yang lebih mengerikan.
Nia begitu terkejut melihat laporan kehamilannya ada di tangan Anwar, Bapaknya. Belum sempat memproses semuanya, Anwar kini telah datang menghampiri Nia.
Plak!
Tamparan keras dilayangkan Anwar pada Nia. Wajah pria itu mengerut merah. "Apa ini, Nia? Siapa Ayah anak di kandunganmu?"
Tubuh Nia bergetar hebat. Seumur hidupnya, Anwar tidak pernah memarahinya. Dia adalah Bapak yang benar-benar penyayang dan selalu memberikan yang terbaik untuk Nia. Kali ini, Nia tersadar bahwa dia sudah sangat mengecewakan Bapaknya.
"Siapa Ayahnya?" tanya Anwar lagi.
Nia pun menggeleng. Dia tidak ingin menyebutkan nama laki-laki brengsek yang tidak mau bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri. Mengenang wajah Reza sungguh membuat dada begitu sesak, hingga matanya memerah karena hampir menangis.
"Jawab! Siapa laki-laki itu?" Anwar menjadi tidak sabar melihat respons dari putrinya itu.
Sayangnya, meski sudah ditanya berulang kali, Nia masih memilih untuk bungkam seribu bahasa.
Melihat itu, Anwar hilang kesabaran. Pria itu benar-benar hancur mengetahui perbuatan memalukan yang sudah dilakukan oleh putrinya sampai harus mengandung diluar nikah.
Kini, bahkan putrinya itu tidak berani memberikan satu nama yang harus bertanggung jawab? Suara Anwar seketika berubah menjadi datar, "Jawab atau kau bukan anakku lagi."
Mendengar ancaman Anwar, Nia menangis. Dia tidak ingin dibenci oleh Bapaknya, apalagi sampai tidak dianggap anak lagi. Namun, Nia tidak bisa mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
Sungguh, Nia tidak pernah menyerahkan diri pada Reza begitu saja! Lelaki itulah yang mabuk dan merenggut kesuciannya secara paksa sampai dia bisa hamil saat ini. Kejadian itu benar-benar di luar dugaannya. Nia sudah menolak, tetapi kekuatan pria itu lebih besar. Tapi, siapa yang akan percaya padanya? Semua orang pasti akan langsung menyalahkan dirinya.
Hanya saja, wajah kecewa Anwar begitu menusuk hati Nia. Akhirnya, dengan bibir bergetar dan air mata berlinang, Nia menyebutkan nama Ayah dari janinnya, "Reza...."
Anwar terdiam mendengar nama yang disebutkan oleh Nia. Pria itu lalu memegang dadanya yang terasa nyeri dan sesak. Anwar tahu benar bahwa Reza adalah orang berada yang tidak sebanding dengan mereka.
"Nia, kenapa harus dia? Berapa kali bapak katakan padamu? Jangan berhubungan dengan orang kaya! Kita ini orang miskin. Bapakmu ini hanya pedagang ikan di pasar!"
Air mata Nia semakin membanjir pipi, rasa sakit ini sungguh begitu luar biasa.
"Dia harus bertanggung jawab!" Dengan cepat, Anwar menyeret Nia ke rumah Reza untuk menemui kedua orang tua Reza dan meminta pertanggungjawaban atas janin di rahim putrinya.
*****
Di depan pintu gerbang tinggi ini, keduanya berdiri. Bapaknya menghadap rumah besar di hadapannya dengan tatapan sulit diartikan.
Kemudian, pria itu melihat Nia yang berdiri di sampingnya. Hatinya begitu gundah memikirkan nasib anaknya setelah ini.
Sesaat kemudian, dia pun menarik paksa tangan anaknya untuk masuk ke sana dan disambut oleh tatapan meremehkan dari Liana, Ibu Reza.
"Siapa kalian?" Liana menatap penampilan dua orang asing yang memasuki rumahnya.
Seiring dengan itu, Reza yang kembali dari kantor juga berdiri di ambang pintu dan mendapati Nia dan Bapaknya berada di rumahnya.
"Saya, ingin meminta pertanggungjawaban. Anak saya hamil. Dan, Reza adalah Ayahnya," papar Anwar dengan perasaan penuh luka.
Anwar yang miskin harta, tetapi tidak dengan harga diri. Namun, kali ini harga dirinya sudah diinjak-injak karena kelakuan putri yang disayanginya. Namun, tidak apa. Saat ini, mengesampingkan perasaan hancurnya, Anwar rela ke sini demi anaknya mendapatkan pertanggungjawaban.
Liana terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh pria asing di hadapannya, kemudian melihat seorang wanita yang tidak lain adalah putri dari pria itu.
"Reza?" Liana seakan membutuhkan jawaban dari putranya, "apa mungkin kamu mau tidur dengan gembel ini?"
Menatap Nia saja, dirinya jijik. Apalagi masuk ke dalam keluarganya? Rasanya sangat mustahil sekali! Belum lagi, Liana sudah memiliki calon menantu yang luar biasa dan dari kalangan berada. Mungkinkah harus berganti dengan wanita miskin di hadapannya ini?
Tidak!
Liana tidak akan mau menikahkan putranya dengan Nia.
Untungnya, jawaban putranya sesuai dengan harapan. "Tidak! Aku bukan Ayahnya. Lagi pula, kau siapa?"
Reza benar-benar terlihat tidak pernah mengenali Nia, sehingga Nia pun tersentak.
"Nia, katakan! Apa benar lelaki ini Ayahnya?" Anwar pun kembali bertanya pada Nia, dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Nia.
"Heh! Kalau bicara, jangan asal! Kami bisa melaporkan ini pada polisi, ya. Kalian ini orang miskin, tapi berani-beraninya memfitnah anak saya!" sergah Liana penuh kemarahan.
"Reza, katakan pada Ibumu bahwa ini benar anakmu." Kini, Nia yang sedari tadi diam saja, akhirnya berbicara dan memohon pada lelaki yang sudah menabur benih di rahimnya itu.
"Nyonya, ini memang anak Reza," terang Nia lagi sebab Reza hanya diam, seakan tidak mengakui.
Liana pun maju selangkah dan melayangkan tangannya pada wajah mulus Nia, hingga tubuh kecilnya terlempar ke samping seiring dengan layangan tangan yang begitu kuat tepat mendarat di pipinya.
"Lancang sekali kau berbicara!" seru Liana semakin bertambah emosi.
"Reza?" Nia menatap Reza berharap memberinya sedikit saja bekas kasih.
"Aku, sudah mempunyai calon istri. Raya adalah wanita yang aku cintai. Kau ini siapa?" Reza mengangkat bahunya seakan tidak perduli sama sekali.
Nia mengusap wajahnya mendengar jawaban Reza yang lagi-lagi membuatnya terluka.
"Kau itu siapa?" tanya Reza lagi. Kini, pria itu tersenyum miring menatap penampilan Nia.
Sendal jepit, dengan rok span berpadu kaos oblong. Satu lagi yang ingin membuat Reza tertawa, rambutnya yang dikepang. Memang ini zaman apa?
"Kau itu bukan levelku!" Reza tertawa terbahak-bahak meremehkan Nia.
Nia kehabisan kata-kata untuk berbicara lebih jauh lagi. Semua begitu mengejutkan. Hari ini, dia benar-benar melihat wajah asli pria yang dicintainya.
Jangankan untuk bertanggung jawab, mengakui saja tidak. Yang ada, hanya hinaan yang diterima oleh Nia. Gadis lugu itu tidak menyangka bisa menjadi korban kebejatan seorang pria yang tidak bertanggung jawab.
Kini Bapaknya sendiri mungkin sudah menganggapnya sebagai wanita murahan.
Ini begitu menyakitkan. Nia begitu terluka, tertusuk dalam jantung tanpa darah itu jauh lebih menyakitkan. Sakit di wajahnya tidak sebanding dengan sakit di hatinya.
Tak lama, Reza bahkan segera berlalu pergi meninggalkan ketiganya, sebelum berkata, "Usir saja mereka, Ma."
Bab 2
"Kau dengar sendiri, kan? Pergi dari rumah kami! Dasar, kalian pemulung gila! Anakku Reza yang tampan dan kaya raya itu, tidak akan sudi tidur dengan putri gembel milikmu! Banyak wanita di luaran sana yang lebih baik dan rela memberikan dirinya. Lalu, kenapa harus putrimu?" Liana pun mengerakkan kipas di tangannya, seakan tidak peduli pada lelaki yang mengharapkan tangung jawab atas anaknya.
Merasa tidak dihargai, Anwar pun masih mencoba untuk membela putrinya. Sekalipun sudah membuatnya kecewa, tapi rasa cinta seorang Ayah tidak akan mungkin berubah walaupun secuil.
"Mohon maaf Nyonya, kami memang orang miskin --"
"--Bagus kalau sadar." Liana tersenyum miring menatap sendal jepit milik Anwar.
Anwar tahu Liana dan Reza tidak menghargai dirinya dan anaknya yang mengharapkan pertanggung jawaban. Tetapi, dirinya masih sangat berharap jika hati Liana maupun Reza bisa terbuka.
Apa jadinya jika putrinya mengandung tanpa seorang suami, bagaimana nantinya nasib janin itu setelah lahir tanpa seorang Ayah?
"Nyonya, saya yakin jika janin yang ada di rahim putri saya adalah cucu Anda. Saya mohon. Jika kalian mau, silakan melakukan tes DNA setelah bayinya lahir." Anwar berbicara dengan nada suara rendah, berharap hati Liana terketuk dan bisa membuat Reza menikahi Nia.
Sekalipun itu adalah hinaan untuk dirinya dan juga putrinya, tidak apa. Meski nantinya Nia dinikahi pun, rasanya sudah begitu terhina. Namun, itu lebih baik dari pada putrinya dihina orang-orang karena hamil tanpa suami.
"Hey! Jangan lagi mengatakan bahwa anakmu ini dihamili anakku! Sadarlah! Lihat tadi sikapnya? Melihat anakmu saja, dia jijik. Mana mungkin menyentuh? Kalian ini dua gembel yang entah dari mana, tapi ingin kaya dengan cara instan. Dasar, Licik!"
Tidak ada rasakasihan, apa lagi pertanggung jawaban. Liana tidak mungkin mau menikahkan putranya dengan Nia.
"Satpam! Seret mereka keluar dari rumah ini! Jangan pernah membiarkan dua gembel menjijikan ini, menginjakkan kaki di rumah ini!"
Anwar pun diseret paksa, kemudian dilemparkan ke tengah jalanan.
Dengan mata kepalanya, Nia menyaksikan jika Anwar diperlukan layaknya seekor binatang. Bahkan, binatang bisa jadi lebih mulia daripada perlakuan mereka yang kaya terhadap orang miskin.
Di sini Nia tahu alasan dari Bapaknya yang selalu mengingatkan nya untuk tidak berteman apa lagi berpacaran dengan orang kaya. Namun, semua terlambat.
Sesaat kemudian, giliran Nia di seret paksa oleh satpam.
Dari ujung matanya, Nia dapat melihat ada mobil yang melaju dari arah barat, sedangkan Anwar masih berada di tengah jalan. Kakinya yang terbentur pada batu membuatnya sulit untuk bergerak.
"Bapak!" teriak Nia saat melihat mobil sport mewah yang begitu kencang.
"Aaaaaa!" Anwar akhirnya berteriak dengan kencang saat menyadari situasinya.
Tabrakan pun tidak bisa dihindari, kaki Anwar terhantam ban mobil di depannya.
Liana juga ikut menyaksikan semua itu dengan jelas dari ambang pintu.
Sesaat kemudian, pemilik mobil pun turun. Ternyata, itu adalah Chandra Winata, ayah dari Reza.
"Mampus!" Liana berseru dan tersenyum puas melihat penderita Anwar yang sudah lancang menghinanya.
"Mama, kenal mereka?" Chandra pun bertanya langsung kepada istrinya.
"Dia ini gembel yang ngaku-ngaku sedang mengandung anak dari Reza, Pa," jelas Liana pada suaminya.
Chandra pun menatap pakaian lusuh Anwar, berlanjut seorang wanita yang tengah menangis memeluk Ayahnya.
"Cih! Orang susah! Kalau begitu, menyingkirlah kalian!" sergah Chandra Winata penuh kebencian. Tadinya, dia ingin meminta maaf pada orang yang dtabraknya. Namun, ternyata dia adalah orang gila yang bermimpi untuk menipu keluarga mereka.
"Terakhir kali, kami peringatkan, ya! Jangan pernah datang ke sini! Apalagi, Reza akan menikahi calon istrinya yang jauh darimu! Raya adalah calon menantu kami, anak pengusaha tambang batubara. Kau siapa? Berkacalah!" Puas menghina Nia, Liana pun berlalu pergi bersama dengan suaminya. Mereka masuk ke dalam rumah tanpa peduli pada lelaki yang tengah menahan sakit akibat tabrakan yang dilakukan oleh Chandra.
"Bapak!!!" Nia menjerit sambil memeluk Anwar, berharap ada yang bisa menolongnya. Hingga, tanpa sengaja, mata Nia menatap ke arah balkon. Reza ada di sana,
tersenyum miring dan bahkan meludah. Menunjukan betapa dirinya sangat jijik pada Nia.
Anwar pun memegang dadanya, merasa sesak.
"Bapak!!!!" Nia kembali menangis melihat kondisi Anwar.
Melihat ada taxi yang lewat, Nia segera menghentikannya dan membawa Anwar menuju puskesmas terdekat. Salah satu kaki Anwar pun diperban.
Keduanya lalu kembali pulang ke rumah dengan keadaan yang begitu memperhatikan, ditambah perasaan yang campur aduk.
Bukan pertanggungjawaban yang didapat, melainkan hinaan. Bahkan, kaki Anwar kini pincang dan dadanya begitu sesak. Pria tua itu berusaha untuk tetap kuat.
"Bagaimana, Pak? Apa mereka mau bertanggungjawab?"
Dengan mata sembab, Farah, Ibu dari Nia yang menunggu di rumah dengan cemas, langsung bertanya pada Nia dan Anwar.
Sesaat kemudian, Farah menyadari suaminya yang pulang dipapah oleh Nia dengan perban di kaki.
"Tunggu! Bapak, kenapa begini?" Panik, Farah pun membantu suaminya untuk duduk di kursi reot di ruang tamu.
"Maaf, Pak! Maaf, Bu!" Nia bersimpuh di hadapan Bapaknya, tertunduk dengan perasaan penuh rasa bersalah.
Anwar masih saja tidak putus asa. Baginya, Reza harus bertanggung jawab atas anaknya. Tiba-tiba, dia teringat nama seseorang yang disebutkan oleh keluarga kaya itu dengan bangganya.
"Apa Raya yang dimaksud oleh mereka tadi adalah Raya sahabatmu?"
Nia pun mengangguk sebagai jawaban.
"Telepon Raya! Mintalah padanya untuk menggagalkan pernikahannya!" papar Anwar.
Deg!
Nia tersentak mendengar keinginan Anwar, seketika mendongkak menatap wajah Anwar. Meyakinkan dirinya bahwa apa yang didengar barusan rusaklah salah.
"Kenapa?" tanya Anwar.
"Enggak Pak, Raya sama Nia bersahabat!" Pada dasarnya, Nia memiliki hati yang baik, sehingga tidak akan bisa menyakiti orang di sekitarnya. Meskipun Raya tidak terlalu mencintai Reza seperti dirinya, tetapi Nia tidak ingin menghancurkan acara penting di hidupnya itu.
"Nia--" Tangan Anwar memegang dadanya yang terasa sakit. "Kenapa kau masih saja memikirkan orang lain?"
"Bapak, bapak kenapa?" Farah panik melihat keadaan suaminya.
Berkali-kali, pria itu mengambil udara dari mulut untuk bernapas.
"BAPAK!" Nia menangis, menjerit sekencang mungkin menyaksikan itu semua.
Tak lama, Anwar pun jatuh.
Bab 3
Ayahnya telah tiada.
Hati Nia masih begitu sesak menatap pusara sang Bapak.
Nia pun memeluk Farah, berusaha menguatkan perasaan sang Ibu walaupun hanya hancur lebur tanpa sisa.
"Kenapa Bapak pergi? Bagaimana dengan kami?" Sebagai seorang istri, pastinya Farah begitu hancur kehilangan suaminya untuk selamanya.
Dengan langkah yang berat, Nia berusaha menuntun Ibunya ke rumah.
Ketika mereka sudah sampai, Nia langsung berlutut di depan Farah. "Maaf, Bu. Maafkan, aku!"
Farah hanya terdiam menatapnya. Kini, dia hanya memiliki Nia dalam hidupnya. Haruskah dia menyalahkan putrinya ini?
Saat masih berpikir, tiba-tiba seorang perempuan masuk ke rumah mereka tanpa permisi dan berkata, "Kamu wanita murahan! Kenapa kamu menemui Reza dan Ibunya? Jangan coba-coba mengganggu pernikahan kami, ya!"
Raya datang menemui Nia langsung ke rumahnya. Perempuan itu terlihat tidak peduli bahwa mereka sedang berduka karena kehilangan Anwar.
"Raya, bisakah bicara baik-baik? Kamu duduk dulu," Nia pun berniat untuk memegang tangan Raya, tapi ditepis begitu saja.
Raya benar-benar tidak ingin disentuh sama sekali.
"Aku tidak bisa berbasa-basi! Sekarang aku tahu, kamu bersahabat denganku hanya karena kami orang kaya! Sayangnya, kau itu sudah ditakdirkan menjadi gembel, tidak usah bermimpi menjadi tuan putri!" Dengan kasar, Raya pun mendorong Nia.
Tubuh Nia pun kehilangan keseimbangan, hampir saja terjatuh pada sandaran kursi.
Beruntung, Farah menahan tubuh anaknya secepat mungkin.
Nia pun mengeluarkan keringat dingin, entah apa yang terjadi jika saja perutnya mengenai benda keras tersebut.
"Raya, kalian sudah berteman lama. Bukankah bisa menyelesaikan permasalahan ini dengan cara baik-baik dan kepala dingin?" Farah pun mencoba menengahi perdebatan, tidak ingin menjadi tontonan warga yang mendatangi kediamannya dalam suasana duka ini.
Mendengar perkataan Farah, bukannya menjadi lebih baik, Raya justru menunjuk wajah Farah dengan tangan kirinya. "Hey, kamu! Ajarkan anakmu sopan santun, ya! Ajarkan dia menjadi wanita berharga! Jangan murahan!"
Perkataan Raya membuat Farah merasa kehilangan oksigen, mendadak kepalanya terasa sakit.
Semua terjadi begitu cepat. Tekanan darah tinggi pun menyerangnya, sehingga Farah terjatuh di lantai.
"Ibu!" teriak Nia.
Mendengar teriakan putrinya, Farah memegangi kepalanya, tetap berusaha sadar. Sayup-sayup dia mendengar Nia juga menjerit minta tolong.
"Raya, tolong bantu aku! Beri aku dan ibu tumpangan ke rumah sakit," pinta Nia dengan memohon.
Sayangnya, kebencian terhadap Nia sudah pada puncaknya. Raya tidak akan pernah mau menolong Nia.
"Ck, acting!" ejek Raya.
Raya bahkan yakin jika Farah tengah bersandiwara. Oleh sebab itu, segera Raya pergi. Dia juga tidak ingin disalahkan nantinya.
"RAYA!" Nia berteriak, berharap Raya yang sudah menyalakan mesin mobilnya bisa berubah pikiran lalu mengantarkan Farah menuju rumah sakit agar mendapatkan pertolongan secepat mungkin.
Nia sungguh takut kehilangan Farah. Baru saja, dia kehilangan Anwar yang membuat dunia seakan hancur. Apa mungkin harus kehilangan Farah juga?
Tidak, Nia tidak bisa!
Melihat Nia yang menjerit, warga sekitar pun berkumpul, hingga akhirnya memberikan pertolongan dan membawa Farah menuju rumah sakit.
******
"Ada masalah serius. Pasien mengalami masalah pada jantung karena tekanan darahnya begitu tinggi. Dia harus melakukan pencangkokan jantung secepat mungkin untuk menyelamatkan nyawa pasien," jelas sang dokter.
Angin terasa berhembus kencang, tubuh Nia mendadak menggigil mengetahui keadaan sang Ibu.
Kepergian sang Ayah benar-benar membuat Farah menjadi lemah. Dan, Nia adalah penyebab utamanya.
"Berapa biayanya, Dok?" tanya Nia berusaha tetap kuat.
"Anda bisa bicarakan pada bagian administrasi, saya permisi."
Setelah dokter itu berlalu, kaki Nia terasa lemas dengan hati yang penuh luka. Dia bahkan terduduk di lantai tanpa peduli keadaan sekitarnya.
Sungguh, dia menyesal karena naif dan percaya pada Reza dan Raya.
Dua sahabat yang dia kasihi sepenuh hati, ternyata adalah sumber penderitaannya. Saat Nia sibuk memikirkan perasaan mereka, keduanya bahkan tidak peduli sama sekali.
Mereka menunjukkan wajah asli mereka yang ternyata memandang harta dalam pertemanan.
Tangan Nia mengepal. Buku-buku jarinya bahkan memutih.
Seketika dia menyadari sesuatu. Saat ini, penyesalan pun sudah tidak berguna. Dia harus segera menemukan cara untuk menyelamatkan Ibunya.
Nia pun melangkah dan bertanya pada pihak administrasi. Namun, kakinya melemas mendengar pernyataan selanjutnya, “Harganya 100 juta dan harus dibayarkan segera.”
Nia begitu stress memikirkan nominal rupiah tersebut.
Tapi apa yang bisa dilakukannya saat ini, dari mana Nia bisa mendapatkan uang yang banyak? Bahkan, rumah yang mereka tempati saja masih mengontrak dan bukanlah peninggalan Bapaknya.
Nia memang memiliki satu sepeda motor, tapi berapa harganya?
Tidak! Nia tidak mau kehilangan ibu. Dirinya akan menjadi sebatang kara jika ditinggalkan oleh Farah juga.
Sampai di sini, Nia kembali menjernihkan pikiran walaupun sebenarnya sudah begitu buntu.
Dengan segera, Nia mengambil ponselnya, masih berharap Raya mau membantunya.
Sayangnya tidak, bahkan Raya dan Reza sudah memblokir nomor ponselnya.
"Apa yang aku harapkan?" Kepingan ingatan saat-saat Nia menolong Reza dan Raya pun terulang kembali. Saat-saat Reza terpuruk karena Raya meninggalkan tanpa alasan.
Datang dan pergi dengan sesukanya.
"Aku mencintainya Nia, aku sangat mencintainya," Reza memeluk Nia, meminta sedikit kehangatan agar dapat tenang dalam perasaan yang penuh kerinduan.
Sebagai seorang sahabat yang berhati tulus, Nia pun memberikan pundaknya, berharap Reza bisa segera pulih kembali seperti sedia kala.
Nia memberikan pundaknya untuk Reza bersandar, hingga pria yang tengah terpuruk karena ditinggalkan oleh kekasihnya tersebut bisa bangkit kembali.
Begitu pun dengan Raya. Saat dirinya ingin kembali pada Reza, Nia yang dijadikan alat. Sahabatnya itu memohon pada Nia untuk menolongnya--menjadi perantara antara dirinya dan Reza.
Namun, Nia terlupakan setelah keduanya bersatu kembali.
Mereka bahkan bersamaan menghina dirinya, mengkhianati persahabatan tulus ketiganya.
Nia kembali memejamkan mata. Dia tidak ingin mengingat setiap masa sakit itu, masa-masa bersama yang dipenuhi dengan ketulusan hatinya.
Ketika mereka terluka, Nia ada di sisi mereka. Saat Nia terluka?
Jangan ditanya! Mereka tidak ada. Hanya dirinya sendiri yang Nia punya.
Sudah cukup jelas jika Raya dan Reza adalah manusia berhati iblis.
"Aku tidak akan pernah memaafkan kalian," lirih Nia.
Bab 4
“Harganya 100 juta dan harus dibayarkan paling lambat besok.”
Suara petugas administrasi terngiang-ngiang di kepala Nia.
"Apa yang harus kulakukan?” Sisa-sisa penyesalan kini begitu terasa, cinta yang tulus ternyata tidak ada harganya.
Ketika semua terbalas dengan sakit hati dan air mata, terpuruk sendiri tanpa ada yang peduli pada keadaannya.
Di tengah keterpurukannya Nia merasa haus, mungkin dengan meneguk mineral dan memakan makan bisa sedikit membantu.
Sebab, dirinya harus sehat disaat ini. Tidak ada yang dapat membantu ibunya selain dirinya sendiri.
Nia kemudian memutuskan ke kantin.
Saat sedang duduk, Nia menemukan Bunga yang hampir terpeleset di depan mejanya. Seketika perempuan paruh baya itu tersadar bahwa Nia adalah orang yang pernah membantunya.
“Kamu Nia kan yang pernah menolong saya saat kejambretan di Pasar Lama?”
Nia lalu teringat pernah menolong Ibu ini. Kejadian di mana wanita itu dijambret seakan terputar di kepalanya. Sungguh hebat perempuan ini mampu mengingatnya.
Nia pun mengangguk.
"Kita duduk dulu ya, Bu. Waktu itu kita belum sempat kenalan juga."
Nia membantu wanita itu untuk duduk di kursi dan memberikan air mineral agar membuat wanita itu merasa lebih baik--setelah hampir terjatuh.
"Terima kasih banyak, ya. Sudah dua kali kamu menolong saya. Perkenalkan, nama saya Bunga." Dia tersenyum sambil mengulurkan tangannya pada Nia.
Nia pun membalasnya. "Nama saya, Nia, Bu."
"Ya, saya sudah tahu. Nama yang bagus."
Nia pun membalas dengan senyuman. Namun, wajahnya menyimpan keresahan tidak dapat ditutupi.
"Kamu sedang apa di sini. Ada yang sakit?"
"Iya, Bu. Ibu saya sedang sakit. Kalau Ibu?" Nia bertanya kembali. Tapi percayalah, itu hanya basa basi saja. Pikirannya sedang terkuras habis memikirkan nominal rupiah yang cukup banyak baginya demi pengobatan sang Ibu.
"Saya sedang mengantarkan cucu saya. Dia terkena leukemia dan hari ini jadwal kemoterapi." Terlihat jelas Bunga membayangkan wajah pucat cucunya, "Dia masih sangat kecil, usianya masih 10 Tahun. Tapi, penyakit yang dideritanya begitu hebat."
Tak lama, Bunga menarik napas berat. Perempuan itu sepertinya sangat berharap agar sang cucu bisa segera pulih.
Nia pun mengangguk mengerti. "Betul, Bu! Melihat orang yang kita sayangi sakit itu, sangat menyakitkan. Terlebih, kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk mereka."
Tanpa sadar, Nia pun menitikan air mata.
Dengan cepat, Bunga dapat menyimpulkan bahwa Nia juga sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.
"Maaf ya, Bu. Saya jadi curhat." Nia kembali menata senyum, merasa malu karena menunjukkan kesedihannya pada orang yang baru dikenalnya itu.
Namun, Bunga sudah terlanjur penasaran, sehingga mencoba untuk bertanya, "Sepertinya kamu sedang dalam masalah, ya? Kamu bisa cerita pada saya. Tidak apa-apa."
Nia pun menatap Bunga lebih dalam. Dirinya menggeleng dan merasa malu untuk menceritakan masalahnya. Namun, Nia lagi-lagi menitihkan air mata, membayangkan wajah Farah yang pucat dan harus segera mendapatkan pertolongan.
Sayang, semua terhalang biaya.
Bunga memberikan tisu pada Nia untuk menghapus air mata yang terus turun begitu saja.
"Maaf ya, Bu. Saya tidak tahu kenapa air mata ini terus saja tumpah," tutur Nia di sela-sela mengusap air mata yang menetes tanpa hentinya.
"Cerita ke saya saja. Siapa tahu, kamu bisa lebih lega."
Setelah menimbang, akhirnya Nia pun mengatakan bahwa ibunya membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Kemudian, Bunga bertanya berapa jumlah biaya yang dibutuhkan.
Nia kembali terdiam tanpa ingin mengatakan. Lagi-lagi, Bunga pun membujuknya, hingga akhirnya mengatakan jumlah uang yang dibutuhkannya.
"Seratus juta, Bu."
"Hmm... 100 juta, ya?" kata Bunga seakan menggantung, "Baiklah! Kalau kamu mau, saya bisa melunasi semuanya."
Mendengar itu, Nia begitu terkejut. Wajah Nia yang tertunduk pun kini menatap Bunga, bingung.
Apakah telinganya tidak salah mendengar?
Apakah terlalu stres membuat pendengarannya pun jadi terganggu?
"Saya serius." Bunga kembali bersuara agar Nia tidak kebingungan.
Kali ini, Nia yakin telinganya benar-benar tidak rusak.
Bunga benar-benar mengatakan bersedia?
"Bu! Ibu, serius?" tanya Nia dengan suara terbata-bata, masih tidak percaya bahwa Bunga bersedia membantunya.
"Iya. Sampai Ibumu benar-benar pulih," tegas Bunga kembali.
Nia pun segera bangkit dari duduknya dan bersimpuh di kaki Bunga, sehingga Bunga terkejut melihatnya. "Apa yang kamu lakukan? Bangun!" Bunga benar-benar tidak menyukai apa yang dilakukan oleh Nia.
"Duduk, Nia!" perintah Bunga.
"Terima kasih, Bu!" Cepat-cepat Nia mengusap air matanya dan kembali duduk.
"Tapi, saya punya syarat."
"Apapun syaratnya, saya siap. Bu." Nia menjawab dengan yakin tanpa keraguan.
Kesehatan ibunya jauh lebih penting daripada dirinya sendiri, tidak perduli harus berkorban apa.
Jika Farah saja bisa berkorban nyawa untuk melahirkannya, maka, kenapa Nia tidak mau berkorban nyawa untuk Farah?
“Baiklah. Aku akan segera mengurus operasi Ibumu.”
"Ya, Bu. Apapun syarat dari Ibu, semuanya akan saya lakukan, Bu. Sekali lagi, terima kasih atas bantuannya."
"Tidak usah mengucapkan terima kasih berlebihan. Lagipula, ini ada harganya."
Nia pun mengangguk cepat, dirinya hanya membayangkan sebentar lagi ibunya akan tertolong.
Mata indah Ibunya akan terbuka kembali. Sungguh, tidak ada yang lebih indah selain wanita yang dipanggil Ibu.
"Kamu benar-benar tidak mau mengetahui syaratnya? Atau, mungkin kamu ingin bernegosiasi terlebih dahulu?" Bunga pun ingin memastikan bahwa Nia benar-benar siap dengan syarat yang diajukannya.
"Bu Bunga, Ibu saya harus segera mendapatkan penanganan. Apapun syaratnya, tidak akan saya tolak." Nia meyakinkan Bunga bahwa dirinya benar-benar membutuhkan uang demi kesembuhan Ibunya.
"Yakin tidak mau mendengarkan syaratnya?" Bunga pun mengulang pertanyaannya, memberi Nia kesempatan terakhir untuk berpikir.
Nia menggeleng cepat. Dirinya benar-benar yakin, tanpa ada keraguan sedikit pun.
"Baiklah. Kalau begitu, saya akan segera urus pengobatan ibumu"
Kesepakatan antara keduanya pun terjadi. Terlihat Bunga kini melangkah menuju bagian Administrasi diikuti oleh Nia.
Bab 5
“Operasi berjalan lancar. Kita hanya perlu menunggu Nyonya Farah sadar untuk pemeriksaan lebih lanjut.”
Tak lama setelah pengumuman dari tim medis, Nia kembali didatangi dan ditagih Bunga untuk menepati janji untuk mengikuti syarat perempuan tua itu.
Namun, Nia tidak menyangka bahwa dirinya harus menjadi Istri untuk anaknya yang Duda beranak satu. Bahkan, semua keperluan pernikahan telah disiapkan oleh Bunga di rumah sakit!
Bagaimana perempuan itu dapat melakukannya?
Saat sedangmenunggu pengantinnya, Nia tiba-tiba terkejut setelah melihat siapa yang menikahinya.
“Pak Dion?” ucap Nia tanpa sadar.
Pria berwajah tampan di hadapannya adalah Dion Abraham Winata, paman dari Reza. Tunggu! Bagaimana mungkin ini terjadi?
“Bapak, yakin menikahi saya?” Mengingat betapa hinanya Nia dan keluarga di mata keluarga Reza, bukankah seharusnya Pak Dion juga sama?
“Menurutmu?” jawab pria itu datar, tidak peduli dengan kegundahan hati Nia.
*****
Pernikahan mendadak itu segera dilaksanakan di rumah sakit meski Farah masih terbaring lemah. Nia begitu syok dengan semua ini.
Dion yang begitu dingin, ternyata menuruti perkataan Bunga. Berbanding terbalik dengan anak Dion yang awalnya tidak menerima pernikahan ini.
“Dila cuma mau Mami Dila saja!”
Melihat itu, Bunga menggelengkan kepalanya dan menekan Nia untuk mendekati cucunya. Dia juga menyuruh Nia untuk bersiap ke kediaman Winata.
“Bersiaplah kalian bertiga harus satu mobil!”
Mata Nia membulat, terkejut.
"Satu mobil, Bu?" tanya Nia kembali dengan suara bergetar.
Tidak ada keberanian untuk itu. Terlebih, wajah lelaki itu sangatlah datar.
Sesaat Nia kembali mengingat kejadian beberapa waktu lalu.
Nia memasuki lobby kantor dengan terburu-buru, melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Sekalipun mengenal baik Reza yang menjadi Manager, tapi Nia tidak pernah memanfaatkan kedekatan mereka. Terburu-buru, Nia sampai menabrak dada seseorang.
Brak!!!
"Aduh....." Nia terjatuh dan meringis. Nia mendongkak menatap pria tersebut lalu, bangun dengan sendirinya. Meneguk saliva dengan pahit setelah mengetahui siapa orang yang barusan ditabraknya.
Nia tidak tahu apakah dirinya masih bisa bertahan menjadi OG setelah ini karena yang ditabraknya adalah Dion Abraham Winata!
Meski Nia tidak tahu pasti tentang pria tersebut karena dia hanyalah karyawan rendah, tetapi dari gosip yang beredar, tidak ada satu pun karyawan yang berani menatap pria dingin tersebut!
Presiden direktur itu bagaikan lemari es.
"Saya minta maaf, Pak," ujar Nia dengan perasaan takut, mengingat Dion adalah orang yang memiliki kekuasaan besar.
Sudah pasti Nia hanya abu baginya. Apalagi, wajah Dion yang dingin membuatnya merasa tidak baik-baik saja.
"Nia, kamu baik-baik saja?" tanya Bunga yang membuat lamunan Nia buyar seketika.
Nia pun mengangguk, seakan dirinya baik-baik saja.
Namun, otaknya masih terus berpikir. Apa jadinya setelah ini? Nia kini sudah menikah dengan anggota keluarga Reza. Kemudian, Nia mencoba beralih menatap Bunga yang berdiri di samping Dion.
Nia tidak pernah tahu ternyata Bunga adalah ibu dari Dion. Mungkinkah, wanita menutupi siapa dirinya sebenarnya sejak awal?
Jadi, Nia benar-benar tidak tahu sama sekali. Lihatlah! Bahkan, Bunga begitu sederhana dengan pakaian biasa saat ini.
Jangan lupakan juga jika Bunga suka berbelanja di pasar--tempat pertemuan pertama Nia dengannya dulu.
Mungkin, jarang sekali, bahkan tidak ada orang "berada" mau melakukan tersebut.
'Kacau.' Nia pun membatin, merasa hari-harinya kini penuh dengan kejutan yang begitu luar biasa.
Dion adalah adik dari Ayah kandung Reza, yang berarti Nia akan menjadi tante dari Reza?
Tunggu, janinnya? Nia baru sadar dirinya yang tengah hamil dan malah menikah dengan seorang pria yang jelas bukan Ayah janinnya tersebut.
Oh tidak! Apa yang akan terjadi ke depannya setelah ini semua?
Kenapa Nia lupa? Seharusnya, dia mengatakan dari awal pada Bunga tentang keadaannya.
Perasaan Nia benar-benar campur aduk. Menjelaskan pun, sudah tidak mungkin. Tetapi, Nia juga takut dianggap sebagai seorang penipu.
"Kamu harus bisa mengambil hati cucu saya, membuatnya merasa memiliki Ibu. Paham?" Wajah Bunga begitu serius, sehingga Nia pun cepat-cepat mengangguk.
Nia kemudian mencoba mendekati Dila walaupun bibir anak itu terlihat mengerucut. Gadis kecil itu terang-terangan menunjukkan bahwa kehadiran Nia benar-benar tidak diharapkannya sama sekali.
"Dila," Nia pun sedikit ragu, sebab Dila langsung memunggunginya.
"Nggak, mau!" seru Dila.
"Dila!" Kini Bunga yang berbicara. Wanita itu mengerti keinginan cucunya, tapi apa daya?
Tampaknya, semua yang diinginkan oleh Dila mungkin bisa tercapai dengan menghadirkan seorang ibu pengganti.
"Nggak mau! Maminya Dila bukan dia!" seru Dila menolak dengan nyaring.
Nia melihat Dion yang tidak bergeming. Pria itu tidak melirik Nia sama sekali. Mungkin juga, dia tidak mengetahui wajah wanita yang sudah dinikahinya seperti apa. Nia tidak tahu.
Baru beberapa saat Nia melihat Dion, ternyata Dila sudah berlari secepat mungkin walaupun sebenarnya tenaganya tidak seberapa.
"Dion, kejar Dila!" Bunga panik melihat cucunya yang berlari begitu kencang, kemudian melihat Nia, "susul Dion, pulanglah bersama ke rumah!"
Nia mengangguk lemah. Dengan langkah kaki yang tidak pasti, Nia pun terus melangkah menyusul Dion yang mengejar Dila.
Ketika Dion berhasil membujuk putrinya untuk masuk ke dalam mobil, Nia tertegun. Perempuan itu berada di dekat mobil sambil meremas bajunya.
"Apa yang kau lakukan? Cepat naik!" titah Dion dengan wajah penuh amarah setelah membuka kaca mobilnya. Dila telah duduk di depan--bersampingan dengan Dion.
"Iya, Tuan!" Dengan cepat, Nia pun memasuki mobil. Duduk di jok belakang dalam diam, memikirkan apa yang harus dia lakukan selanjutnya.
Bab 6
Nia telah sampai di rumah besar milik Dion. Rasanya, kenangan menyakitkan saat dirinya dan mendiang sang Bapak masih jelas berputar di memorinya.
Tapi apa daya, Nia tidak dapat menghindari pernikahan ini demi Ibunya.
Tunggu! Ke mana orang-orang itu? Apakah mereka tidak tinggal di sini lagi?
"Dila duduk di kursi roda saja, nggak boleh kecapean. Biar cepat sembuh." Ucapan Dion menyadarkan Nia dari lamunannya. Dengan cepat, pria dingin itu mengangkat Dila agar duduk di kursi roda.
Sementara itu, Dila hanya diam saja dengan bibir mengerucut.
Dirinya ingin Mami kandungnya yang memberikan perhatian padanya. Sayangnya, saat duduk di kursi roda sepeda ini pun wanita yang melahirkannya tersebut tidak kunjung kembali. Dila pun hanya tertunduk sedih.
Melihat itu, Nia pun mulai mencoba untuk mendekati Dila agar hati anak itu bisa luluh.
"Begini saja, aku akan buatkan nasi goreng. Ada telur mata gajahnya juga," kata Nia berusaha terlihat lucu.
Benar saja, Dila langsung meliriknya sekilas dan mengoreksi, "Telur mata sapi!"
"Oh iya, aku lupa. Kamu pintar sekali ternyata," Nia tertawa kecil, kemudian berpamitan menuju dapur
Setelah berhasil memasak nasi goreng dan juga telur, Nia pun tersenyum puas melihat hasil kerjanya.
Nia kembali ke kamar Dila, membujuk anak sambungnya itu untuk makan.
Walaupun begitu sulit, tapi Nia tidak menyerah sedikitpun.
"Dila, suka makan apa?" Nia pun duduk di lantai dengan bersila. Sedangkan Dila berada di atas kursi roda, memandang ke luar melalui balkon kamarnya.
Dila tidaklah tertarik sama sekali, sehingga lebih memilih diam.
"Tadi, aku sudah membuatkan ini untukmu. Padahal, ini sangat enak sekali. Aku yakin nasi goreng ini pasti sebentar lagi akan berair." Nia mendengus, seakan begitu putus asa.
Dila pun merasa bingung, kemudian bertanya langsung, "Kenapa bisa?"
"Karena, kalau dia tidak dimakan, akan menangis. Kasihan sekali. Oh ya, apa kamu mau mendengarkan sebuah cerita?"
"Apa?" Suara dan tingkah Nia akhirnya berhasil menarik rasa penasaran sang gadis kecil.
Melihat itu, Nia tersenyum. "Jadi begini, suatu hari pernah ada seekor kucing. Kucing tersebut tidak memiliki Ibu, kasihan sekali." Nia pun sejenak berhenti berbicara, matanya menatap wajah Dila.
"Setelah itu?" tanya Dila masih menunggu.
"Dia terus mencari ibunya, bahkan sampai ke dalam hutan dan lupa jalan pulang. Terus, dia lapar. Dia melihat ada buah berwarna merah. Tidak tahu itu buah apa. Langsung saja di makan dan........" Nia sengaja menjeda ceritanya, agar Dila penasaran.
Benar saja Dila langsung bertanya, sebab sudah tidak sabar mendengar kelanjutannya. "Terus?"
Nia kembali tersenyum. "Dan akhirnya......Tunggu dulu, sudah sampai mana tadi?" Nia berpura-pura lupa, agar bisa lebih banyak berkomunikasi dengan Dila.
"Sampai dimakan!"
"Oh iya, kamu benar! Langsung dimakan dan akhirnya dia merasa pedas. Huh, hah, huh, hah, dengan tangannya yang mengipas mulut. Karena kamu tahu apa yang dia makan?"
"Cabe!" tebak Dila sambil tertawa terbahak-bahak.
"Tet!" Nia pun bersuara seakan sedang berada dalam permainan yang ada di televisi, "Benar! Kamu pintar sekali, terus perutnya sakit dan dia buang air besar, brettt......begitu suaranya." Nia pun memberikan ibu jarinya atas kepintaran Dila.
Dila pun merasa bangga sebab Nia mengatakan dirinya pintar.
"Bau tidak?" tanya Dila antusias.
"Bau sekali, sampai-sampai aku mencari sesuatu untuk menutup hidungku."
"Oh." Dila pun mengangguk.
"Sekarang, kamu mau makan, nggak? Karena, dia akan menangis kalau tidak dimakan. Lagian, kamu mau kalau nasi nanti tidak ada lagi? Lalu, kelaparan seperti kucing itu dan harus makan cabe?"
Dila pun menggeleng cepat, akhirnya menerima suapan demi suapan dari Nia.
Sampai tiba-tiba Dila merasa ada yang aneh, kemudian membuka mulutnya dan mengambil sesuatu dari dalam mulutnya.
"Gigi kamu copot?" tanya Nia. Kemudian, tanpa rasa jijik, Nia mengambilnya dari tangan Dila.
Dila pun mengangguk.
"Coba tersenyum."
Dila pun tersenyum dengan gigi bagian depannya yang sudah tidak ada.
"Lihat ini, kamu sangat lucu sekali!" Nia menarik kursi roda Dila ke arah cermin, "Coba buka mulut mulutnya."
Dila pun membukanya dan melihat giginya yang sudah tidak ada satu.
"Ahahahha!" Keduanya tertawa terbahak-bahak melihat gigi Dila dari pantulan cermin.
"Aku sudah ompong," kata gadis kecil itu.
"Iya, tapi kamu lucu, aku sangat gemas melihatnya!" Nia merasa lega karena Dila ternyata bisa diajak berkomunikasi.
Di sisi lain, Dion ternyata telah berdiri di ambang pintu kamar yang terbuka, menyaksikan putrinya yang sedang makan. Bahkan, mendengarkan cerita kucing, hingga akhirnya Dila makan, kemudian giginya copot.
Gelak tawa yang menggema seakan menjadi sebuah penghibur bagi putrinya yang biasanya terus saja murung.
"Papi!" seru Dila saat tanpa sengaja memutar leher melihat Dion.
Nia pun seketika tersadar ada orang lainnya selain mereka berdua. Nia pun berpindah tempat, berdiri di sudut ruangan dengan diam.
Dion berjalan mendekati putrinya, kemudian setengah berjongkok.
"Apa kesayangan Papi sedang bahagia?" Dion pun menggendong Dila. Walaupun anaknya itu sudah cukup besar, tapi tetap saja Dion memperlakukannya seperti anak bayi.
"Iya, bercerita tentang kucing yang kelaparan, nyasar ke hutan. Terus kepedasan dan dianya mules karena sakit perut. Papi tahu dia makan apa? Dia makan cabe!" Dila bertanya pada Dion, tapi dia yang kemudian menjawab dengan tidak sabaran.
Dion pun tersenyum dan mencium pipi Dila kembali. Sejak terkena leukimia, Dila tidak cerewet seperti ini.
Sampai-sampai, Dion pun begitu terharu melihat putrinya.
"Papi, gigi Dila juga copot. Lihat ini!" Dengan cerewetnya, Dila terus saja mengoceh--menunjukan giginya yang sudah ompong.
Dion mencium pipi putrinya. Sungguh lama sekali dia tidak mendengar suara ocehan begitu panjang lebar diiringi tawa menggema.
Hingga akhirnya, Dila pun tertidur pulas. Hari ini terlalu banyak hal yang dilalui oleh Dila hingga senyum dan tawa yang lama hilang perlahan kembali.
"Terima kasih."
Langkah kaki Nia yang hampir keluar dari kamar Dila pun terhenti saat mendengar ucapan Dion barusan.
Nia pun berbalik dan mengangguk.
"Kamu bisa istirahat di sini. Saya permisi dulu." Dion pun keluar dari kamar tersebut agar Nia bisa tidur bersama dengan Dila.
Hati Dion menghangat saat melihat senyum Dila, anaknya. Dan, itu karena Nia--istri pilihan sang Ibu.
Bab 7
Hari-hari berlalu begitu cepat. Nia semakin dekat dengan Dila.
Segalanya dilakukan bersama. Mulai dari terbangun saat pagi, sampai akan tertidur lagi. Bahkan, Dila tidak mau tidur tanpa Nia.
"Mami!" Dila berseru dengan bahagia saat dirinya baru saja pulang sekolah.
Setelah lama tidak pernah ke sekolah, akhirnya hari ini dia kembali menduduki kursinya.
Dila sudah rindu akan suasana belajarnya--rindu pada teman-temannya. Begitupun sebaliknya. Semua guru sudah mengerti dengan keadaan Dila, sehingga tidak dipaksakan untuk pergi ke sekolah. Bahkan, pulang lebih awal daripada teman-temannya.
Adalagi yang lebih membahagiakan. Ini adalah pertama kalinya Dila memanggil Nia dengan sebutan Mami.
Dion yang berada dibelakang tubuh mungilnya saja terkejut mendengarnya.
"Dila sudah pulang sekolah, ya? Pasti lelah, ayo kita minum dulu." Nia pun mengambil mineral, sedangkan Dila menunggu di ruang tamu sambil duduk di sofa.
Meneguk mineral yang dibawakan oleh Dila, kemudian dengan antusias menunjukan bukunya. Bercerita banyak tentang hari pertamanya ini memasuki sekolah.
"Dila juga gambar." Dila menunjukan buku gambarnya. Ada tiga orang di sana, sedangkan anak kecil di tengah-tengah.
"Ini Mama. Ini Dila, terus ... ini Papi." Dila pun menjelaskan pada Nia maksud dari gambarnya tersebut.
"Wah, bagus sekali. Anak pintar, kalau begitu Sekarang waktunya ganti seragam. Kemudian makan, minum obat dan........" Nia pun tersenyum pada Dila.
"Tidur!" seru Dila, mengerti dengan maksud Maminya itu.
"Anak pintar!" Nia menarik kedua pipi Dila dengan gemas, namun penuh kasih sayang.
"Hehe," Dila pun tersenyum bahkan gigi ompong nya terlihat jelas.
Dion merasa terharu melihat kedekatan antara Dila dan Nia. Namun, dia masih saja mempertahankan wajah datarnya.
"Dila mau tidur sama Mami, sama Papi juga," kata Dila.
Seketika, Nia tercengang mendengar permintaan Dila. Anehnya, Dion malah tersenyum dan menyetujuinya tanpa banyak menimbang.
Nia semakin terkejut, tapi dirinya merasa seperti benar-benar memiliki keluarga yang bahagia.
Ketiganya tidur bersama, di atas ranjang milik Dila.
Hingga akhirnya Dila benar-benar terlelap, bahkan Nia pun ikut terlelap.
Mungkin, karena pelukan Dila begitu menghangatkan.
Beberapa saat kemudian, Nia pun terjaga. Dia tersadar ternyata ikut tertidur.
Dengan perlahan, Nia melepaskan tangan Dila yang melingkar di lehernya. Setelah berhasil, Nia pun turun dari ranjang.
Mata Nia juga menyadari bahwa tidak ada Dion di sana, mungkin sejak tadi sudah pergi.
Terlalu lelap hingga tidak menyadari sama sekali.
Banyak pekerjaan yang menunggu Nia, sehingga dengan cepat menuju dapur.
"Tuan Dion, belum makan siang 'kan?" Nia berbicara sendiri sebab semua tugas itu sudah diberikan kepadanya oleh Bunga.
Nia pun bergegas menuju dapur. Namun, tiba-tiba dia terkejut melihat seseorang yang cukup membuat jantungnya berdegup kencang.
Reza! Dari mana pria itu datang?
"Apa yang kau lakukan di rumah ini?" Reza tiba-tiba muncul di hadapan Nia.
Seketika hati Nia berdenyut nyeri. Perlahan, dia mencoba menatap mata Reza.
Di sisi lain, Reza terkejut melihat keberadaan Nia di rumah keluarganya. Seketika, pikiran buruk tentang Nia pun mulai muncul di kepalanya.
Berikut dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi selanjutnya.
"Jawab aku!" Reza tak dapat menahan amarahnya, menatap wajah Nia sungguh membuat amarahnya membuncah.
"Ak....Aku-"
"--Apa kau belum menggugurkan janin itu?" tanya Reza lagi.
Nia meremas perutnya sambil terus menatap tajam Reza, lelaki tidak bertanggung jawab itu tampaknya merasa terganggu dengan kehadirannya.
Kalau saja bisa menghindar, Nia pun lebih memilih untuk pergi. Tapi tidak bisa, karena ikatan perjanjian dengan Bunga membuatnya tidak bisa keluar dari keluarga tersebut.
Padahal, dirinya tidak sanggup menjalani hari-harinya jika terus melihat orang-orang yang sudah tega padanya.
Nia kini menyadari bahwa persahabatan mereka tidaklah tulus seperti apa yang Nia pikirkan selama ini.
"Bukankah aku sudah memberikanmu uang?" tanya Reza lagi, kesal karena yakin, sepertinya janin itu benar masih ada.
"Sayang, apa yang kamu lakukan di sini?" Raya belum melihat siapa wanita yang kini berdiri di depan suaminya, sehingga masih terlihat santai.
"Lihat dia!" Reza pun menunjuk Nia.
Raya mengikuti arah yang ditunjuk Reza dan terkejut, seakan ada bom waktu yang akan meledak seketika itu juga.
Keduanya begitu bingung. Mengapa ada Nia di rumah tersebut?
"Reza, jangan bilang kamu yang bawa dia ke sini. Atau kamu mau menikahinya?" tebak Raya penuh kemarahan.
"Cuihhhh!" Reza pun meludah, seakan merasakan jijik. "Aku tidak sudi untuk itu!" kata Reza menatap tajam Nia, "Kamu ngapain di rumah ini? Dasar tidak tahu malu!"
Nia tidak tahu harus mengatakan dirinya sebagai apa di sini. Apakah dia istri atau hanya sekedar pembantu untuk Dion?
Namun, diamnya Nia justry membuat amarah Reza semakin membuncah.
Pria itu mencengkram erat leher Nia, dan membawanya pada dinding.
Nia tidak bisa bergerak. Tangannya memegang tangan Reza dan ingin dilepaskan.
Apalagi, perlahan, Nia mulai merasa sulit untuk bernapas.
Sampai tiba-tiba, ada yang menepis tangan Reza, hingga terlepas dari leher Nia.
"Uhuk-uhuk...." Nia terbatuk-batuk setelahnya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Dion dengan wajah dinginnya menatap Reza--membuat keponakannya itu terkejut dan ketakutan.
"Aku hanya melakukan apa yang seharusnya ku lakukan, Om tidak lihat wanita asing yang memasuki rumah kita!" Reza pun kembali melayangkan tatapan tajam pada Nia.
"Dia istriku!"
Pernyataan tegas itu meninggalkan keheningan di antara mereka berempat.